Showing posts with label Lifestyle. Show all posts
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts

In Lifestyle

Pola Hidup Sehat: Formula Realistis Pekerja Kantoran

Pola hidup sehat

Di tengah ritme kerja yang padat dan tuntutan hidup yang terus bergerak cepat, saya akhirnya menemukan satu formula sederhana yang bisa saya jalani tanpa drama: pola hidup sehat yang realistis, terukur, dan konsisten. Bukan yang terlihat sempurna di luar, tapi yang benar-benar bisa saya lakukan setiap hari. Dari situlah rutinitas ini terbentuk—pelan, sadar, dan penuh komitmen.

Healthy Habit untuk Pekerja Sibuk: Jogging Pagi, IF, dan Tidur Disiplin

pola hidup sehat buat saya dulu terdengar seperti sesuatu yang ribet, mahal, dan butuh waktu luang yang banyak. Padahal saya pekerja kantoran yang jam kerjanya padat, target numpuk, dan kadang pulang sudah capek duluan. Tapi justru karena rutinitas itulah saya sadar, kalau saya gak mengatur diri sendiri, siapa lagi?

Oh ya, perjalanan saya membangun kebiasaan sehat ini juga penuh trial and error, bukan langsung sempurna sejak hari pertama. Ada fase malas, ada fase over semangat, ada juga fase ingin menyerah. Hihihihi… manusiawi banget kan.

Kalau saya sih akhirnya memilih satu prinsip sederhana: bikin pola hidup sehat yang realistis, bukan yang cuma kelihatan keren di media sosial. Buat saya, healthy habit itu harus bisa dijalani dalam jangka panjang. Bukan sekadar seminggu rajin, lalu hilang.


Pilar 1: Bangun Pagi & Tidur Terjadwal dalam Pola Hidup Sehat

Banyak orang fokus ke olahraga dan makanan, tapi lupa bahwa fondasi pola hidup sehat adalah tidur.

Kenapa tidur jam 21.30 itu krusial

Saya sengaja “memaksa” diri tidur jam 21.30. Awalnya berat banget, karena godaan scrolling itu luar biasa. Tapi saya sadar, kalau mau bangun pagi dengan segar, ya harus kompromi dengan waktu istirahat.

Oh ya, saya juga sadar kualitas tidur sangat memengaruhi metabolisme dan hormon lapar. Kalau tidur kurang, besoknya pasti craving gula naik. Jadi buat saya, tidur cepat itu bukan hukuman, tapi investasi.

Target bangun jam 3 pagi

Jam 3 pagi alarm berbunyi. Kadang masih gelap, kadang masih dingin, dan kadang saya ingin tarik selimut lagi. Tapi di momen itulah disiplin diuji.

Kalau saya sih biasanya langsung duduk, minum air putih, dan gak kasih waktu buat otak bernegosiasi. Karena kalau kebanyakan mikir, pasti kalah.

Hubungan kualitas tidur & metabolisme

Sejak konsisten tidur teratur, saya merasa energi lebih stabil. Badan lebih ringan. Fokus lebih tajam. Ternyata contoh kebiasaan sehat sehari hari seperti tidur cukup itu efeknya luar biasa.

pola hidup sehat itu bukan cuma soal keringat, tapi juga soal istirahat yang cukup.

Saya & suami jogging pagi bersama anabul
Saya & suami jogging pagi bersama anabul (Doc. Riana Dewie)


Pilar 2: Jogging Pagi Bersama Anabul (05.00–06.30)

Bagian ini favorit saya. Jam 5 pagi sampai 6.30 adalah waktu sakral buat saya dan anabul.

Awali dengan pemanasan atau cardio singkat

Sebelum lari, saya selalu awali dengan pemanasan. Kadang stretching ringan, kadang cardio sebentar seperti jumping jack. Biar otot gak kaget.

Oh ya, tubuh kita itu butuh adaptasi, jadi jangan langsung gas penuh. Saya pernah cedera ringan karena terlalu semangat di awal, dan itu bikin kapok.

90 menit gerak aktif untuk stamina

Total sekitar 90 menit saya bergerak. Gak selalu lari cepat, kadang kombinasi jalan cepat dan jogging santai. Yang penting konsisten.

Buat saya, kebiasaan sehat seperti ini bikin stamina meningkat signifikan. Naik tangga kantor pun gak ngos-ngosan lagi. Hahahaha… dulu sih beda cerita.

Manfaat mental health dari olahraga pagi

Udara pagi itu beda. Lebih sejuk, lebih tenang, dan belum banyak polusi. Di momen itu, pikiran terasa lebih jernih.

Saya merasa olahraga pagi membantu mengurangi stres kerja. Mood jadi lebih stabil. Ini bagian dari pola hidup sehat yang sering diremehkan, padahal efeknya nyata banget.

Bonding time dengan anabul sebagai terapi alami

Jogging bareng anabul itu bukan cuma olahraga, tapi juga terapi. Melihat dia berlari dengan semangat bikin hati hangat.

Kalau saya sih merasa ini salah satu contoh kebiasaan sehat sehari hari yang berdampak emosional. Hubungan kami jadi lebih dekat. Rasanya seperti recharge energi sebelum masuk dunia kerja.


Pilar 3: Pola Makan Terstruktur dengan IF untuk Pola Hidup Sehat

Setelah olahraga dan kerja, bagian berikutnya adalah makan. Saya memilih metode intermittent fasting 16:8.

Skema IF 16:8 versi saya

Saya puasa dari jam 20.00 malam sampai jam 12.00 siang keesokan harinya. Jadi jendela makan hanya 8 jam.

Oh ya, awalnya lapar banget sih di pagi hari. Tapi setelah beberapa minggu, tubuh mulai terbiasa. Sekarang malah terasa ringan.

Sebagai Mindful Lifestyle Blogger dalam perjalanan pribadi saya, saya belajar bahwa kebiasaan sehat itu butuh kesadaran, bukan paksaan berlebihan.

Buah potong menjadi menu favorit
Buah potong menjadi menu favorit (doc. Riana Dewie)


Buka puasa jam 12 siang dengan buah praktis

Jam 12 siang saya biasanya buka dengan potongan buah dari minimarket. Praktis, cepat, dan segar.

Kalau saya sih lebih suka pepaya atau semangka. Simpel tapi cukup buat mengisi energi awal. Ini bagian dari pola hidup sehat yang mudah diterapkan pekerja kantoran.

Buah membantu pencernaan lebih siap sebelum makan berat.

Kenapa makan malam dibatasi jam 20.00

Saya membatasi makan malam maksimal jam 20.00. Bukan karena tren, tapi karena saya ingin tubuh punya waktu istirahat.

Makan terlalu malam bikin tidur kurang nyenyak. Dan itu mengganggu siklus healthy habit yang sudah saya bangun.

Konsistensi puasa sampai siang berikutnya

Kuncinya di konsistensi. Kalau hari ini longgar, besok juga pasti ikut longgar.

pola hidup sehat bukan tentang sempurna, tapi tentang menjaga ritme. Sedikit demi sedikit, tubuh belajar beradaptasi.


Dampak yang Saya Rasakan Setelah Konsisten dengan Pola Hidup Sehat

Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas ini, saya mulai merasakan perubahan signifikan.

  • Energi lebih stabil.
  • Berat badan lebih terkontrol.
  • Fokus kerja meningkat.
  • Mood lebih stabil.

Oh ya, saya juga merasa lebih percaya diri. Bukan karena angka timbangan saja, tapi karena berhasil menepati komitmen pada diri sendiri.

Pola hidup sehat ini membuat saya sadar bahwa healthy habit gak harus mahal. Gak perlu alat gym canggih atau makanan super mahal. Cukup disiplin waktu, olahraga rutin, dan pola makan terstruktur.

Sekarang, jam 21.30 adalah alarm alami untuk tidur. Jam 3 pagi bukan lagi musuh. Jogging pagi bersama anabul jadi momen yang selalu saya tunggu. Dan IF sudah seperti bagian dari identitas saya.

Kalau dipikir-pikir, kebiasaan sehat ini sebenarnya sederhana. Tapi efeknya menyentuh banyak aspek hidup saya: fisik, mental, bahkan relasi.

Saya yang mengusahakan untuk selalu sehat
Saya yang mengusahakan untuk selalu sehat (doc. Riana Dewie)


Di akhir perjalanan kecil ini, saya belajar satu hal penting: pola hidup sehat adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Bukan tentang siapa paling kuat, tapi siapa paling konsisten.

Dan buat saya pribadi, perjalanan ini masih panjang. Masih akan ada hari malas, hari capek, hari ingin rebahan saja. 

Apalagi di satu tahun terakhir ini, ritme jogging saya agak berubah karena seringnya menemani orang tua opname untuk perawatan. Jadi, saya tetap mengusahakan olahraga walau hanya dari rumah. 

Walau begitu, saya selalu ingat alasan awal memulai. Karena pada akhirnya, healthy habit bukan gaya hidup mahal, tapi pola yang konsisten. Dan pola hidup sehat ini sudah menjadi bagian dari Family & Personal Journey saya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Lifestyle

Jein Marlinda: Perempuan di Balik Manisnya Gula Semut Molomamua

Jein Marlinda

Di balik rasa manis yang kita nikmati dari sebutir gula semut, ada cerita perjuangan yang nggak kalah manisnya. Salah satunya datang dari Jein Marlinda, perempuan tangguh asal Desa Molomamua, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Ia adalah Ketua UMKM Gula Semut Molomamua yang bekerja sama dengan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Lauje.  

Jein dan kelompoknya mengubah potensi nira aren di desa terpencil menjadi sumber penghidupan. Dengan ketekunan dan semangat gotong royong, mereka membuktikan bahwa produk lokal bisa punya nilai ekonomi tinggi sekaligus menjaga kelestarian alam.  

Dari Nira Aren Jadi Harapan Baru

Sebelum Jein memulai usahanya, masyarakat Molomamua hanya memanfaatkan nira aren untuk kebutuhan sendiri. Banyak warga belum tahu kalau cairan manis itu bisa diolah menjadi gula semut bernilai jual tinggi. Melihat potensi tersebut, Jein tergerak untuk belajar cara pengolahan nira menjadi gula semut.  

Berawal dari pelatihan sederhana, Jein kemudian mengajak masyarakat Suku Lauje untuk ikut serta. Suku ini termasuk dalam Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang kehidupannya masih sangat sederhana dan terisolasi. Melalui pendekatan penuh empati, Jein mengajarkan cara penyadapan nira yang ramah lingkungan, pengeringan alami tanpa bahan kimia, hingga pengemasan yang menarik.

Sinergi dengan Komunitas Adat Suku Lauje

Bersama Suku Lauje, Jein membangun sistem kerja yang adil dan berkelanjutan. Setiap keluarga diberi kesempatan mengelola pohon aren di sekitar hutan, sementara kelompok UMKM bertugas mengolah hasilnya. Hasil penjualan dibagi secara proporsional agar semua pihak merasakan manfaatnya.  

Bagi masyarakat adat, program ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga pelestarian tradisi. Pohon aren punya makna penting dalam kehidupan mereka. Dengan menjaga pohon ini tetap lestari, mereka juga menjaga warisan leluhur.

Tantangan yang Nggak Kecil

Perjalanan Jein nggak selalu manis seperti produk yang ia hasilkan. Tantangan terbesar datang dari akses transportasi dan permodalan. Letak Desa Molomamua yang jauh dari pusat kota membuat biaya distribusi tinggi.  

Namun, berkat kerja keras dan komitmen, produk Gula Semut Molomamua kini sudah menembus pasar regional, bahkan mulai dilirik pembeli dari luar provinsi. Jein juga aktif mengikuti pelatihan dan pameran UMKM agar produknya semakin dikenal.

Dukungan Astra dan Penghargaan SATU Indonesia Awards

Perjuangan Jein Marlinda dalam memberdayakan masyarakat adat dan menciptakan ekonomi berkelanjutan membuatnya terpilih sebagai salah satu penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2024.  

Astra melihat bahwa program Jein bukan hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian komunitas terpencil tanpa merusak lingkungan. Dengan dukungan ini, UMKM Gula Semut Molomamua makin berkembang, mulai dari peralatan produksi yang lebih efisien hingga pelatihan manajemen usaha.

Dampak Nyata untuk Masyarakat

Kini, lebih dari 40 keluarga Suku Lauje sudah terlibat dalam pengolahan gula semut. Pendapatan mereka meningkat, dan anak-anak bisa melanjutkan sekolah tanpa kekurangan. Desa Molomamua pun dikenal sebagai penghasil gula semut berkualitas tinggi.  

Jein merasa bangga karena kerja kerasnya bisa membuka peluang bagi perempuan di daerah terpencil untuk mandiri. Ia juga menginspirasi banyak anak muda agar mau kembali ke desa dan mengembangkan potensi lokal.

Pelestarian Alam dan Kearifan Lokal

Selain memberdayakan ekonomi, Jein juga menanamkan kesadaran lingkungan. Ia mengajak masyarakat agar nggak menebang pohon aren secara sembarangan. Pohon yang sehat menghasilkan nira berkualitas dan bisa disadap selama puluhan tahun.  

Melalui prinsip sustainability, Jein menegaskan bahwa bisnis lokal bisa berjalan seiring dengan kelestarian alam. Inilah bentuk nyata dari ekonomi hijau berbasis komunitas adat.

Harapan ke Depan

Jein berharap Gula Semut Molomamua bisa terus berkembang hingga menembus pasar nasional. Ia juga ingin menjadikan Molomamua sebagai contoh sukses pemberdayaan berbasis kearifan lokal.  

Menurutnya, perempuan desa punya peran besar dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan alam. Dengan kerja keras, semangat gotong royong, dan dukungan semua pihak, cita-cita itu bukan hal yang mustahil.

#APA2025-KSB




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Lifestyle

Mengenal Mediakomen, Layanan Jasa Komentar Media Sosial

 

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti kelas online tentang digital marketing melalui Instagram melalui sebuah platform pelatihan. Seneng sekali karena selain mendapatkan tambahan ilmu dan skill akhirnya semua pertanyaan saya tentang Instagram terjawab. Melalui pelatihan ini saya mendapat tips mengembangkan akun media sosial dengan Instagram sebagai fokusnya, di kelas ini saya mulai berkenalan dengan Engangement Rate (selanjutnya disingkat ER). Indikator ER yang tinggi salah satunya adalah dengan banyaknya interaksi pada akun kita salah satunya melalui komentar. Lalu bagaimana cara mendapatkan komentar yang tepat? Layanan komentar mediakomen.com sepertinya cukup memahami pentingnya ER dan bagaimana algoritma tiap-tiap media sosisal bekerja. Tentu saja kita yang awam dengan dunia digital marketing apalagi dengan jumlah followers  yang masih sedikit akan sangat sulit untuk membuat ER akun media sosial tinggi . Instagram misalnya ditentukan oleh like, comment, share, repost , view (untuk postingan video/reels). 

Sebelum ngobrol tentang pentingnya ER lebih dalam perlu disadari bahwa media sosial saat ini tidak lagi digunakan untuk pribadi, kalau sebelumnya orang yang menjadi followers di media sosial kita hanya orang-orang yang kita kenal  sekarang tidak. Akun yang berisi konten-konten yang menarik bukan tidak mungkin memikat orang-orang yang tidak kita kenal untuk mengikuti akun media sosial kita. Dalam kelas digital marketing yang saya ikuti misalnya pemilik akun Instagram dituntut konsisten dalam memposting dan membuat konten yang beragam. Dengan konten yang beragam tentu akan menarik para followers untuk melakukan interaksi, misalnya dengan memberikan like, menuliskan komen atau membagikan postingan kita ke orang lain.

Lambat laun media sosial berkembang dari akun yang bersifat pribadi ke akun publik yang bisa diakses siapa saja. Di Instagram sendiri ada 2 tipe pengaturan yaitu IG personal dan IG bisnis, singkatnya akun IG bisnis memungkinkan kita mengetahui insight IG misalnya kapan atau jam berapa followers kita aktif di IG. Mengapa ini penting? Dengan mengetahui kapan waktu followers kita online di IG, kita menjadi tahu waktu yang tepat untuk memosting konten sehingga konten kita akan terlihat oleh banyak orang dan akan lebih banyak mendapatkan like, komen, share. Banyaknya interaksi ini menyebabkan ER pun akan ikut tinggi. Semakin tinggi ER sebuah media sosial maka produk/jasa yang ditawarkan juga makin tinggi. Perubahan inilah yang kemudian menjadikan akun media sosial menjadi media promosi/marketing atau berbisnis. 


Sebuah toko oleh-oleh yang biasanya ramai saat musim liburan harus bertahan sekuat tenaga di masa pandemi ini, tetapi berkat bantuan promosi melalui instagram toko tersebut melayani pembeli secara online ke berbagai tempat. Orang-orang tertarik setelah membaca beberapa komen dan promosi yang ada di feed IG toko tersebut. Tidak hanya pada Instagram, ulasan pada Gmaps juga berperan penting dalam meningkatkan bisnis kita. Warung mie ayam Pak Supri misalnya dulu tidak dikenal orang, tetapi setelah warung tersebut ada di Gmaps/Google My Business  dan mendapatkan banyak ulasan dari orang-orang yang telah merasakan kelezatannya, kini warung tersebut menjadi ramai. Testimoni yang dibaca di kolom komentar membawa dampak positif bagi peningkatan sebuah bisnis.

Lain lagi dengan playstore, sebuah aplikasi yang mendapat kepercayaan biasanya dilihat melalui seberapa tinggi ratingnya. Aplikasi dengan rating tinggi ditambah komen yang positif cenderung banyak dipilih orang untuk diinstal. Seperti halnya rating dan komen, pada YouTube like, comment dan share menjadi faktor dalam menentukan engagement. Dengan banyaknya interaksi ini pada video yang kita upload maka ERnya semakin tinggi. Jadi seberapa penting ER untuk akun bisnis kita? Instagram, Youtube, Gmaps dan Playstore membutuhkan ER yang bagus untuk meningkatkan performa bisnis kita. Konsisten dan membuat konten yang bagus harus berbanding lurus dengan interaksi (like, comment, share, repost) di dalamnya. Salah satu upayanya adalah dengan memaksimalkan support dari teman/kenalan atau saudara atau memilih menggunakan layanan komentar mediakomen.com 

Perkembangan dunia digital yang semakin luas sudah menjadi peluang bisnis tidak hanya Instagram tapi juga YouTube, Gmaps dan Playstore.  Dengan latar belakang itulah mediakomen hadir menjadi solusi dan jembatan yang membantu mengembangkan usaha/bisnisnya. Mediakomen.com sebagai penyedia layanan komentar media sosial seperti Youtube, komentar Instagram, rating dan review Google Maps/Google My Bussiness, rating dan review Playstore memiliki tujuan meningkatkan ER Dalam memberikan jasa mediakomen.com memiliki komentator-komentator yang sudah diverifikasi  sehingga memudahkan para advertiser mendapatkan layanan komentar yang tepat/terpercaya. Komentar yang positif akan membuat interaksi yang baik dengan followers lain sehingga nilai ER akan meningkat. (dian)

*sumber foto pixabay

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Lifestyle

Beli Rumah Atau Sewa? Mana yang Lebih Baik Untuk Saat Ini

 

“Beli rumah sekarang, harganya lagi turun", ujar salah seorang teman. Kemudian dia menyebutkan beberapa nama daerah di Jogja. Suaranya perlahan terdengar semakin pelan lalu menghilang, saya larut dalam pikiran saya sendiri sambil menatap ke arah luar dari kaca mobil penumpang di bagian belakang. Teringat kata-kata ibu ketika saya diangkat menjadi pegawai tetap, “Belilah rumah”. Entah mengapa rasanya masih terlalu berat dan saya pikir waktunya belum tepat. Lagipula saya belum menemukan lokasi yang cocok untuk tempat tinggal.

Obrolan dalam perjalanan pulang siang tadi ternyata mengusik benak saya. Dalam hitungan detik saya sudah berada di sebuah laman situs jual beli rumah . Fokus saya tertuju pada beberapa lokasi di Jogja yang disebutkan oleh teman saya tadi. Daerah yang biasanya harganya sangat tinggi sekarang ada yang ditawarkan dengan harga tiga ratus jutaan, padahal jaraknya tidak terlalu jauh dengan kota. Kesempatan nih, apalagi jika dibeli dengan cara nyicil, wah impian rumah idaman segera terwujud. Eh, sebelum mengambil keputusan ada baiknya mempertimbangkan beberapa hal.

Kapan waktu yang tepat untuk beli rumah.

Sebenarnya tidak ada waktu yang benar-benar tepat. Setiap orang memiliki kesiapan dan kesempatan yang berbeda karena kondisi keuangan juga berbeda. Membeli rumah rumah secara tunai memang lebih menguntungkan. Entah untuk tempat tinggal atau disewakan, rumah juga salah satu bentuk investasi masa depan yang dipilih kebanyakan orang. Nilai jual dari tahun ke tahun yang cenderung naik menjadi alasan utama. Intinya jangan memaksakan kalau memang duit/gaji kamu belum cukup, apalagi kalau harus membeli rumah secara kredit. Perencanaan dan perhitungannya harus lebih teliti.

Sebelum mengambil kredit rumah, pastikan pekerjaan yang sedang kamu jalani saat ini aman setidaknya sampai saat jatuh tempo. Biasanya pihak bank menetapkan ketentuan minimal rasio gaji, misalnya nih rasionya 35% dan gaji kamu per bulan tiga juta rupiah itu artinya kamu harus “hidup” dengan pendapatan kira-kira satu juta rupiah tiap bulannya. Sanggup?  Apabila kamu merasa memiliki penghasilan yang pas-pasan berasal dari satu sumber saja, alangkah baiknya mulailah mencari pekerjaan tambahan atau bisnis sampingan.

Selain faktor keuangan, lokasi kerap dijadikan pertimbangan kedua. Perusahaan tempat kita bekerja menempatkan kita di satu kota untuk waktu yang lama atau tidak ada mutasi sama sekali untuk jabatan kita. Kalau sering pindah tugas, sebaiknya ditunda dulu sampai kita menetap di suatu daerah. Kemudian barulah mencari lokasi yang strategis dan aman, misalnya dekat kota, dekat tempat kerja, dekat akses publik, tidak banjir. Rumah itu pulung (keberuntungan) kata orang Jawa. Nah kalau dua hal ini dirasa cocok, barangkali saat ini adalah saat yang tepat buat kamu untuk membeli rumah.


Sewa rumah, kenapa tidak?

Dalam sebuah unggahan video obrolan Luna Maya dengan Sophia Latjuba beberapa minggu yang lalu di salah satu channel Youtube, Sophia Latjuba mengaku tidak memiliki rumah sendiri. Selama ini dia memilih untuk menyewa rumah sebagai tempat tinggal, alasannya harga jual rumah di Jakarta setinggi langit. Terdorong oleh rasa penasaran untuk membuktikan omongan mbak Sophia, saya pun langsung browsing di situs properti. Yah, kalau harganya segitu mau secapek apapun kerja juga nggak bakal terbeli oleh kita yang cuman punya gaji UMR. Menurut Sophia Latjuba, menetap di satu tempat itu untuk waktu yang lama terasa membosankan dan juga biaya perawatan rumah yang tidak sedikit. Meskipun pindah-pindah rumah tentu membawa kerepotan tersendiri, lama-lama sudah terbiasa. Sependapat dengan Sophia, konon katanya, generasi milenial yang ingin hidup mandiri juga lebih memilih sewa rumah ketimbang berinvestasi membeli rumah.

Di masa pandemi ini membuat keputusan untuk beli rumah atau sewa sepertinya terasa mudah. Tanpa perlu hitung menghitung pendapatan dan pengeluran yang ribet, menyewa rumah menjadi pilihan yang tepat. Kita bisa lebih leluasa mengatur keuangan kita tanpa terbebani tagihan setiap bulan. Atau setidaknya kita punya tabungan yang cukup banyak untuk bertahan dari situasi pandemi yang entah kapan berakhir. Nanti, jika kondisinya sudah lebih baik, siapa tahu kita bisa membeli rumah impian kita. Namun jika kamu sudah menyiapkan dana untuk membeli rumah, lebih baik beli rumah sekarang aja mumpung harga lagi turun. (dian)

*sumber foto pixabay.com


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments