Ada satu jenis perjalanan yang paling saya suka: perjalanan yang awalnya cuma “coba-coba”, tetapi ternyata malah jadi cerita seru untuk dibawa pulang.
Begitulah awal mula saya melakukan Jogja ke Madiun naik kereta murah kali ini. Saya diajak teman yang memang suka traveling. Katanya, ada beberapa tempat di Madiun yang cukup asyik untuk didatangi. Kebetulan jadwal saya sedang agak longgar.
Sebenarnya masih ada pekerjaan, sih. Hahaha. Tapi beberapa pekerjaan bisa disambi dan saya juga sudah mendapat izin dari partner untuk off pada hari Senin. Ya sudah, daripada kesempatan lewat begitu saja, langsung gass!
Tahu gak, ini juga menjadi pengalaman pertama saya pergi ke Madiun. Jadi, selain ingin jalan-jalan, saya sekaligus penasaran seperti apa rasanya melakukan perjalanan dari Jogja ke Madiun dengan transportasi umum.
Rute Jogja-Madiun yang Saya Pilih
Untuk perjalanan ini, saya dan seorang teman memilih rute yang menurut kami cukup praktis dan hemat: Stasiun Lempuyangan – Stasiun Solo Balapan – Stasiun Madiun.
Dari Lempuyangan, kami naik KRL Jogja-Solo pukul 07.10 dan tiba di Solo Balapan sekitar pukul 08.16. Setelah transit sebentar, perjalanan dilanjutkan dengan KA Bias pukul 08.45 menuju Madiun.
Kalau dibuat singkat, begini rutenya:
Lempuyangan → KRL Jogja-Solo → Solo Balapan → KA Bias → Madiun
Rute ini menarik karena kami gak perlu mencari kendaraan pribadi atau bus. Cukup memanfaatkan transportasi umum dan menyesuaikan jadwal kereta.
Oh ya, perjalanan Jogja Madiun naik kereta ini juga saya pilih karena ingin mencoba pengalaman baru. Biasanya kalau bepergian, saya lebih banyak memikirkan destinasi. Kali ini perjalanan menuju destinasi justru ingin saya nikmati juga.
Berangkat dari Stasiun Lempuyangan dengan KRL
Pagi-Pagi Sudah di Lempuyangan
Kereta dijadwalkan berangkat pukul 07.10. Maka, pagi itu saya berangkat menuju Stasiun Lempuyangan dengan semangat jalan-jalan.
Masalahnya, saya sempat lupa satu hal penting: hari itu hari Senin!
Jalanan pagi cukup padat karena orang-orang sedang berangkat kerja dan anak sekolah juga mulai beraktivitas. Untungnya saya masih punya spare time, jadi gak sampai panik mengejar kereta.
Sesampainya di Stasiun Lempuyangan, saya masih sempat duduk-duduk sambil menunggu teman datang.
Buat saya, momen menunggu seperti ini justru bagian kecil yang menyenangkan. Belum sampai tujuan, tetapi rasanya sudah mulai liburan.
Naik KRL Menuju Solo Balapan
Begitu naik KRL, suasananya cukup ramai. Bahkan bisa dibilang full banget. Kursi hampir gak ada yang kosong sepanjang perjalanan.
Ya, wajar juga. Kami berangkat pada jam orang-orang menuju tempat kerja. Jadi, perjalanan KRL Commuter Line pagi itu memang cukup padat.
Saya sih santai saja. Hihihihi. Namanya juga berbagi gerbong dengan mereka yang sedang berjuang berangkat kerja naik kereta.
Menariknya, meskipun harus berdiri, saya gak merasa terlalu capek. Saya justru menikmati perjalanan sambil melihat suasana dari dalam kereta.
Ada alasan lain kenapa perjalanan ini terasa cukup berarti buat saya. Beberapa waktu terakhir, saya memang sedang membutuhkan jeda dari rutinitas. Penat pekerjaan bercampur dengan kesedihan setelah ibu saya berpulang beberapa bulan lalu.
Jadi, perjalanan sederhana menuju Madiun ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengambil napas sebentar. Gak perlu perjalanan mewah. Cukup duduk atau berdiri di kereta, ngobrol dengan teman, melihat pemandangan, lalu membiarkan kepala sedikit lebih tenang.
Tanpa terasa, KRL sampai di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul 08.16.
Transit Solo, Lanjut KA Bias ke Madiun
Cuma Punya Waktu Sekitar 30 Menit
Dari Solo Balapan, kami masih punya waktu sekitar 30 menit sebelum KA Bias berangkat pukul 08.45.
Waktu transit ini menurut saya cukup. Bisa turun dari KRL, mencari kereta berikutnya, sekaligus jepret-jepret suasana stasiun dan selfie sebentar.
Tahu gak, ini justru pertama kalinya saya naik kereta bandara. Lucunya, kereta bandara dari Jogja menuju YIA saja sampai sekarang belum kesampaian saya coba.
Malah perjalanan menuju Madiun yang membuat saya duluan mencoba pengalaman ini.
Oh ya, buat yang mencari cara ke Madiun dari Jogja naik kereta, bagian transit ini memang perlu diperhatikan. Jangan hanya melihat harga tiket, tetapi cek juga jadwal kereta dan waktu perpindahannya.
Naik KA Bias Menuju Madiun
Pukul 08.45, kami melanjutkan perjalanan dengan KA Bias Solo Madiun.
Keretanya cukup nyaman untuk menikmati perjalanan. Saya bisa duduk sambil melihat pemandangan luar dengan cukup syahdu.
Sayangnya, ada satu hal yang sedikit mengganggu: kaca jendelanya agak buram. Jadi, niat mengambil foto pemandangan dari dalam kereta harus sedikit dikurangi karena hasilnya kurang estetik.
Buat KAI, tolong dong pelapis kacanya diganti yang baru biar fotonya makin cakep. Hahahaha.
Tapi di luar urusan foto, perjalanan menggunakan kereta Bias ke Madiun ini tetap menyenangkan. Saya bisa duduk, menikmati perjalanan, dan sesekali melihat perubahan pemandangan dari Solo menuju Jawa Timur.
Tiba di Stasiun Madiun
Sekitar pukul 10.40, akhirnya kami tiba di Stasiun Madiun.
Rasanya cepat banget!
Perjalanan sekitar dua jam dari Solo bahkan gak sempat saya gunakan untuk tidur. Rasanya sayang kalau melewatkan suasana perjalanan begitu saja.
Tiba di Madiun sekitar pukul 10.40 juga menjadi keuntungan tersendiri. Hari masih panjang dan kami masih punya banyak waktu untuk menjelajah.
Petualangan one day trip Madiun pun resmi dimulai.
Berapa Biaya Perjalanan Jogja-Madiun?
Nah, ini bagian yang mungkin paling menarik buat pemburu kereta murah Jogja Madiun.
Untuk perjalanan berangkat, biaya yang kami keluarkan cukup terjangkau.
Dari Lempuyangan ke Solo Balapan, tarif KRL sekitar Rp8.000. Kemudian dari Solo Balapan menuju Madiun menggunakan KA Bias sekitar Rp40.000-an.
Jadi total perjalanan berangkat kurang lebih:
Rp8.000 + Rp40.000 = Rp48.000-an.
Artinya, dengan biaya sekitar Rp48 ribu, saya sudah bisa melakukan perjalanan dari Jogja sampai Madiun.
Untuk pulang-pergi, sebenarnya bisa saja menggunakan rute yang sama sehingga total biaya transportasi utama masih di bawah Rp100 ribu, tergantung tarif tiket yang didapat.
Namun, kami memilih KA Kahuripan untuk perjalanan pulang. Alasannya supaya bisa mendapatkan jadwal paling malam, sekitar pukul 20.45, dan tiba di Lempuyangan sekitar pukul 23.45.
Dengan begitu, waktu eksplorasi di Madiun bisa lebih maksimal. Gak perlu buru-buru meninggalkan kota pada sore hari.
Tahu gak, buat konsep perjalanan hemat seperti ini, selisih beberapa jam ternyata cukup berharga karena bisa membuat itinerary Madiun jauh lebih leluasa.
Apakah Rute Jogja-Madiun Ini Worth It?
Jawaban saya: worth it banget!
Buat yang ingin mencoba perjalanan hemat, rute KRL Jogja Solo lanjut KA Bias bisa menjadi pilihan menarik.
Biayanya relatif murah, perjalanan cukup nyaman, dan transit di Solo juga gak terlalu lama.
Saya sih justru menikmati bagian transitnya karena perjalanan terasa seperti punya dua babak: dari Jogja menuju Solo, kemudian Solo menuju Madiun.
Tentu saja, sebelum berangkat tetap perlu mengecek jadwal kereta, tiket, tarif terbaru, dan waktu tempuh. Jadwal perjalanan kereta bisa berubah, jadi jangan hanya mengandalkan pengalaman perjalanan saya.
Tips Naik Kereta dari Jogja ke Madiun
Datang lebih awal ke Stasiun Lempuyangan, terutama jika berangkat pada jam sibuk.
Cek jadwal KRL dan KA Bias sebelum berangkat.
Perhatikan waktu transit di Stasiun Solo Balapan.
Jangan terlalu santai saat transit meskipun punya waktu sekitar 30 menit.
Simpan tiket dan bukti pembayaran dengan baik.
Buat itinerary sebelum tiba di Madiun agar waktu one day trip lebih efektif.
Hitung juga biaya transportasi lokal, makan, tiket masuk, dan perjalanan pulang.
Untuk perjalanan hemat, manfaatkan kombinasi transportasi umum dan jalan kaki jika jaraknya memungkinkan.
Dari Madiun, Mau ke Mana Saja?
Sesampainya di Madiun, konsep kami memang sederhana: backpacker-an versi santai.
Kami sengaja memilih lokasi yang gak terlalu jauh dari Stasiun Madiun. Kalau jaraknya dekat, ya jalan kaki. Kalau agak jauh, baru deh boleh naik ojol. Hihihihi.
Beberapa tempat yang sudah masuk dalam rencana kami adalah Gereja Santo Cornelius dan Gua Maria, yang membuat saya penasaran karena katanya lokasinya menarik dan cukup dekat dengan stasiun.
Setelah itu ada toko oleh-oleh Mirasa dan Sandy yang kabarnya cukup legendaris, kemudian Pahlawan Street Center (PSC), Alun-Alun Madiun, dan tentunya mencari coffee shop di sekitar area tersebut.
Oh ya, semuanya adalah tempat baru bagi saya. Jadi, perjalanan ini benar-benar seperti membuka halaman baru tentang Madiun.
Dan ternyata, masing-masing tempat punya cerita yang cukup menarik untuk diceritakan.
Penutup
Perjalanan Lempuyangan ke Madiun naik kereta ini awalnya cuma berangkat dari ajakan teman. Gak ada persiapan yang terlalu ribet, apalagi rencana liburan mewah.
Namun, justru perjalanan spontan seperti ini yang membuat saya bisa menikmati satu hari dengan cara berbeda.
Dari KRL yang penuh pada Senin pagi, transit sebentar di Solo, mencoba KA Bias untuk pertama kalinya, sampai akhirnya tiba di Madiun dengan budget perjalanan yang cukup ramah di kantong.
Dan yang paling bikin penasaran tentu bukan cuma perjalanan keretanya.
Setelah turun di Stasiun Madiun, kami masih punya waktu sampai malam untuk berburu tempat menarik, kuliner, oleh-oleh, suasana kota, sampai tempat ngopi.
***
Jadi, seperti apa sih Gereja Santo Cornelius dan Gua Maria yang katanya menarik itu? Benarkah oleh-oleh Mirasa dan Sandy memang se-legendaris yang diceritakan? Dan apakah semua tempat tadi berhasil kami datangi dalam satu hari?
Cerita lengkapnya saya lanjutkan di part berikutnya. Jangan sampai ketinggalan, karena perjalanan Madiun ini ternyata punya lebih banyak kejutan daripada yang saya bayangkan. Wkwkwkwk....

















.png)