Dulu, saya mengira ruang tunggu rumah sakit hanyalah tempat singgah. Tempat orang-orang duduk sambil menunggu nomor antrean dipanggil, lalu pulang setelah urusannya selesai.
Tahu gak, saya sama sekali gak menyangka kalau tempat yang terlihat biasa itu justru akan menjadi bagian dari kehidupan saya selama hampir dua tahun.
Sampai sekarang pun, setiap kali melihat deretan kursi panjang di ruang tunggu rumah sakit, ingatan saya langsung melayang pada begitu banyak momen yang pernah saya lalui bersama Ibu.
Dari Ruang Tunggu, Saya Belajar Banyak Hal
Semua bermula ketika Ibu divonis menderita kanker usus besar stadium 4. Rasanya seperti dunia berhenti beberapa saat. Kaget, sedih, takut, semuanya bercampur menjadi satu.
Namun setelah mencoba menerima kenyataan, kami sepakat untuk fokus menjalani setiap proses pengobatan sebaik mungkin.
Sejak saat itu, rumah sakit bukan lagi tempat yang sesekali kami datangi, melainkan menjadi bagian dari rutinitas hidup.
Hampir setiap minggu kami bolak-balik ke rumah sakit. Sekitar jam 12 siang saya sudah bersiap berangkat agar semua proses administrasi bisa selesai lebih awal.
Setibanya di sana, kami mengambil nomor antrean, mengurus BPJS, menuju laboratorium sesuai arahan dokter, lalu kembali lagi ke ruang tunggu poliklinik.
Dokter biasanya baru mulai praktik sekitar jam 3 atau jam 4 sore. Artinya, masih ada waktu berjam-jam yang harus kami habiskan sambil menunggu giliran dipanggil.
Rutinitas itu belum termasuk jadwal kemoterapi setiap dua minggu sekali yang mengharuskan Ibu menjalani rawat inap selama beberapa hari.
Ada kalanya kadar hemoglobin beliau menurun sehingga harus menjalani transfusi darah dari pagi sampai siang. Dalam seminggu, kami bisa datang ke rumah sakit sampai tiga kali.
Melelahkan? Jujur saja, iya. Tapi saat itu kami sama-sama percaya bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari ikhtiar untuk sembuh.
Oh ya, kami punya cara sendiri supaya waktu menunggu gak terasa membosankan. Sesekali saya membeli kopi atau es krim di kantin rumah sakit, sementara Ibu hampir selalu menitip manisan kolang-kaling kesukaannya.
Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari cerita keluarga, rencana sederhana setelah kontrol selesai, sampai hal-hal receh yang kadang membuat kami tertawa.
Saya sih percaya, suasana hati yang baik juga menjadi penyemangat untuk menjalani proses pengobatan yang panjang.
Hihihihi... kadang kami malah lupa kalau sebenarnya sedang menunggu giliran bertemu dokter.
Perjalanan yang Tak Pernah Terasa Biasa Lagi
Ada tempat yang dulu selalu ingin saya tinggalkan lebih cepat. Namun sekarang, tempat itu justru paling sering saya rindukan.
Ruang tunggu rumah sakit menjadi saksi begitu banyak cerita yang mungkin gak akan pernah saya lupakan. Di sanalah saya belajar bersabar ketika nomor antrean berjalan sangat pelan.
Di sanalah saya melihat Ibu sesekali memejamkan mata di sofa panjang sambil mengumpulkan tenaga sebelum bertemu dokter.
Kami juga sering mengobrol dengan pasien lain yang sama-sama sedang berjuang untuk sembuh. Rasanya seperti saling menguatkan, meski sebelumnya kami gak saling mengenal.
Saat itu, saya menganggap semua ini hanyalah rutinitas yang suatu hari pasti akan berakhir. Yang ada di pikiran saya hanyalah mendampingi Ibu sebaik mungkin hingga beliau kembali sehat.
Saya gak pernah menyadari bahwa ruang tunggu rumah sakit ternyata sedang mengajarkan banyak hal kepada saya, termasuk tentang pentingnya menghargai setiap momen kecil yang sering kali terasa sepele.
Dan tanpa saya sadari, di tempat itulah saya mulai merasakan tanda-tanda awal gejala mata kering yang kemudian membuat saya lebih peduli terhadap kesehatan mata.
Ketika Mata Mulai Terasa Sepet, Perih, dan Lelah
Tubuh memang bisa beradaptasi dengan rutinitas. Namun, mata sering kali memberi tanda lebih dulu ketika mulai lelah.
Ada satu hal yang dulu sering saya abaikan. Fokus saya selalu tertuju pada kondisi Ibu, jadwal kontrol, hasil laboratorium, atau nomor antrean yang rasanya lama sekali bergerak.
Sementara itu, saya sendiri jarang memperhatikan kondisi tubuh, termasuk kesehatan mata.
Tahu gak, ruang tunggu rumah sakit ternyata punya tantangan tersendiri. Hampir sepanjang hari kami berada di ruangan ber-AC. Supaya gak kedinginan, saya selalu membawa jaket dari rumah.
Aktivitas di Depan Layar
Di sisi lain, mata juga terus bekerja tanpa saya sadari. Sesekali saya melihat monitor antrean untuk memastikan nomor kami belum terlewat.
Setelah itu, saya harus mengurus administrasi melalui mesin anjungan dengan layar yang cukup terang. Belum selesai sampai di situ, pekerjaan sebagai blogger juga tetap berjalan.
Mau gak mau, saya membuka ponsel untuk membalas email, berdiskusi dengan klien, mengecek revisi artikel, bahkan sesekali menyelesaikan pekerjaan sambil menunggu giliran.
Rutinitas itu berlangsung selama berjam-jam. Saya terlalu lama menatap layar, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, dan sering kali kurang berkedip karena terlalu fokus bekerja.
Awalnya saya mengira kondisi itu biasa saja. Namun lama-kelamaan mata mulai terasa sepet. Setelah beberapa saat, muncul rasa perih yang membuat mata terasa gak nyaman.
Menjelang sore, mata juga mulai terasa lelah, apalagi ketika masih harus membaca hasil pemeriksaan atau kembali melihat layar ponsel.
Oh ya, saya sempat mengira semua itu hanya karena kurang tidur atau kelelahan menemani Ibu.
Padahal setelah mencari informasi dari beberapa sumber tepercaya, saya baru memahami bahwa kondisi tersebut merupakan gejala mata kering yang bisa dipicu oleh berbagai faktor.
Ternyata Mata jadi Kering
Terlalu lama berada di ruangan ber-AC, terlalu lama menatap layar, hingga kurang berkedip saat sedang fokus bekerja ternyata menjadi beberapa penyebab mata kering yang sering gak disadari.
Jujur, saya sempat merasa kesal. Sebel gak, sih? Antrean dokter masih panjang, pekerjaan belum selesai, sementara mata justru terasa makin gak nyaman.
Rasanya ingin memejamkan mata sebentar, tetapi saya tetap harus sigap ketika nomor antrean dipanggil atau saat Ibu membutuhkan bantuan untuk berpindah ke ruang pemeriksaan.
Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa mata sepet, mata perih, dan mata lelah bukan sekadar keluhan ringan yang bisa diabaikan.
Hal Sederhana yang Membuat Saya Tetap Nyaman Mendampingi Ibu
Menjaga orang yang kita sayangi juga berarti jangan lupa menjaga diri sendiri.
Saya akhirnya meluangkan waktu untuk mencari tahu kenapa mata saya sering terasa sepet, perih, dan lelah setelah seharian berada di rumah sakit.
Dari beberapa referensi yang saya baca, saya baru memahami bahwa gejala mata kering dapat terjadi ketika produksi air mata berkurang atau penguapannya terjadi terlalu cepat.
Aktivitas seperti terlalu lama berada di ruangan ber-AC, terlalu lama menatap layar, hingga kurang berkedip ternyata menjadi beberapa penyebab yang sering gak disadari.
Tahu gak, sejak saat itu saya mulai mengubah beberapa kebiasaan kecil.
Saya berusaha mengistirahatkan mata di sela-sela aktivitas, mengalihkan pandangan sesaat dari layar ponsel, memperbanyak minum air putih, dan mengingatkan diri sendiri agar lebih sering berkedip.
Memang terdengar sederhana, tetapi saya merasa kebiasaan-kebiasaan itu cukup membantu menjaga mata tetap nyaman selama mendampingi Ibu.
Karena kontrol ke rumah sakit sudah menjadi rutinitas, saya juga selalu memastikan semua perlengkapan penting sudah masuk ke dalam tas sebelum berangkat.
5 Barang yang Gak Pernah Absen di Dalam Tas Saat Menemani Ibu Kontrol
Map berisi dokumen medis. Mulai dari hasil laboratorium, surat rujukan, hingga resep obat agar mudah dicari ketika dibutuhkan.
Dompet berisi kartu BPJS dan identitas. Karena dua benda ini wajib dibawa setiap kali kontrol.
Charger dan power bank. Mengingat saya sering menyelesaikan pekerjaan sekaligus memantau nomor antrean melalui ponsel, juga hasil cek laboratorium.
Botol minum dan camilan. Termasuk sesekali membeli kopi atau mencarikan manisan kolang-kaling favorit Ibu agar suasana menunggu terasa lebih menyenangkan.
INSTO DRY EYES. Satu benda yang akhirnya menjadi salah satu perlengkapan wajib setelah saya beberapa kali mengalami gejala mata kering selama berada di rumah sakit.
Awalnya saya mengenal INSTO DRY EYES saat mencari informasi tentang cara mengatasi mata kering.
Setelah membaca penjelasannya, saya mengetahui bahwa tetes mata ini dapat membantu memberikan kelembapan pada mata yang kering sehingga membantu meredakan gejala mata kering.
Karena merasa aktivitas saya memang cukup berisiko membuat mata cepat lelah, akhirnya saya memutuskan untuk selalu membawanya.
Oh ya, saya juga menyukai ukuran botolnya yang praktis sehingga mudah disimpan di dalam tas tanpa memakan banyak tempat.
Bersama map hasil pemeriksaan, charger, dompet, dan barang-barang lainnya, INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit.
Setiap kali mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah setelah terlalu lama melihat monitor antrean maupun menatap layar ponsel, saya menggunakan INSTO DRY EYES sesuai petunjuk penggunaan.
Mata terasa lebih segar & nyaman sehingga saya tetap bisa fokus mendampingi Ibu, mengurus administrasi, maupun menyelesaikan pekerjaan yang memang gak bisa ditunda.
Saya sih sekarang percaya bahwa menjaga kesehatan mata bukan hanya soal kenyamanan diri sendiri.
Mata yang nyaman membantu saya tetap produktif, tetap fokus, dan yang paling penting, bisa hadir sepenuhnya untuk menemani orang yang saya sayangi di setiap proses pengobatan yang kami jalani bersama.
Tak Ada Perjalanan yang Benar-Benar Sia-Sia
Beberapa kenangan memang gak bisa diulang, tetapi pelajarannya akan selalu saya bawa.
Ada satu hari ketika saya kembali memasuki parkiran bawah tanah rumah sakit yang begitu akrab. Langkah kaki saya masih terasa otomatis.
Rasanya seperti sebentar lagi saya akan mengambil kursi roda, membantu Ibu turun dari mobil, lalu berjalan menuju ruang administrasi seperti biasanya.
Namun beberapa detik kemudian saya tersadar.
Kali ini saya datang bukan untuk menemani Ibu kontrol.
Saya datang untuk mengurus beberapa berkas setelah Ibu berpulang ke rumah Tuhan pada 3 Juli 2026.
Jujur, rasanya campur aduk. Lorong yang sama, lift yang sama, ruang tunggu yang sama, bahkan aroma khas rumah sakit itu masih sama. Bedanya, kini saya berjalan sendirian.
Tiba-tiba semua kenangan bermunculan begitu saja.
Mendorong kursi roda naik turun lift, membawa beberapa tas sekaligus, membantu memindahkan Ibu saat kondisi tubuhnya sedang drop, sampai sesekali salah mengarahkan kursi roda dan malah menabrak sudut dinding.
Hihihihi... mengingatnya sekarang justru membuat saya tersenyum. Hal-hal sederhana seperti itulah yang paling saya rindukan.
Tahu gak, selama hampir dua tahun saya selalu menganggap rutinitas itu melelahkan.
Berangkat siang, pulang malam, menunggu antrean panjang, berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, bahkan kembali lagi beberapa hari kemudian.
Saya sering berharap semua proses itu segera selesai karena artinya kondisi Ibu sudah membaik.
Nyatanya, yang berakhir justru rutinitas itu.
Ternyata Saya Merindukan Momen itu....
Kini saya merindukan hal-hal yang dulu terasa biasa.
Duduk berdampingan di ruang tunggu, mendengar Ibu bertanya nomor antrean sudah sampai mana, membeli kopi sambil menunggu giliran, atau mencarikan manisan kolang-kaling kesukaannya.
Momen-momen sederhana itulah yang sekarang menjadi kenangan paling berharga.
Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa mendampingi orang yang kita sayangi juga berarti tetap menjaga diri sendiri.
Mata yang sehat membuat saya bisa tetap fokus, nyaman, dan sigap menemani setiap proses pengobatan. Karena itulah, sampai sekarang saya masih menyediakan INSTO DRY EYES di dalam tas.
Benda kecil itu mengingatkan saya pada perjalanan panjang yang pernah kami lalui bersama.
Ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah akibat terlalu lama berada di ruangan ber-AC maupun terlalu lama menatap layar, saya menggunakan INSTO DRY EYES sesuai petunjuk penggunaan untuk membantu meredakan gejala mata kering agar aktivitas tetap berjalan dengan nyaman.
Bagi saya, #InstoDryEyes, #BebasMataKering, dan #MataSePeLeJanganSepelein menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mata juga berarti menjaga setiap momen berharga bersama orang-orang yang kita sayangi.
Karena pada akhirnya, bukan hanya perjalanan yang akan kita kenang, tetapi juga setiap tatapan, senyuman, dan kebersamaan yang pernah kita miliki.
Jadi, jangan sampai gejala mata kering yang terlihat sepele justru mengganggu kesempatan kita untuk hadir sepenuhnya di sisi mereka.
***
Kalau hari ini kamu masih memiliki kesempatan menemani orang tua, pasangan, anak, atau sahabat menjalani momen penting dalam hidupnya, nikmatilah setiap detiknya.
Menjaga kesehatan mata mungkin terdengar sederhana, tetapi dari pengalaman saya, hal sederhana itu bisa membantu kita menikmati setiap pelukan, senyuman, dan percakapan yang suatu hari nanti akan berubah menjadi kenangan yang paling dirindukan.





















.png)