Kehilangan seseorang yang kita sayangi memang bukan hal yang mudah.
Bahkan, saya sendiri sedang belajar menemukan cara mengatasi kesedihan setelah ibu saya berpulang pada awal Juli 2026, usai hampir dua tahun berjuang melawan penyakitnya.
Rasanya masih seperti mimpi, karena setiap sudut rumah seolah menyimpan begitu banyak kenangan tentang beliau.
Tahu gak, dua momen yang paling membekas di hati saya bukan hanya saat ibu mengembuskan napas terakhir. Justru jauh sebelum itu.
Yang pertama, ketika dokter menyampaikan vonis penyakit ibu untuk pertama kalinya. Saat itulah rasanya dunia seperti berhenti beberapa detik.
Saya masih ingat bagaimana keluarga berusaha tetap kuat, meski dalam hati semua sedang ketakutan.
Momen kedua terjadi setelah ibu menjalani operasi. Dokter memanggil saya sebagai perwakilan keluarga untuk berbicara di luar ruang tindakan.
Beliau menjelaskan bahwa kondisi ibu bisa saja mengalami penurunan kesadaran sewaktu-waktu, sehingga keluarga diminta bersiap apabila suatu hari terjadi hal yang gak diinginkan.
Jujur, saya masih mengingat percakapan itu dengan sangat jelas hingga sekarang.
Mungkin bagi pembaca yang pernah kehilangan orang tua atau orang tercinta, perasaan ini akan terasa begitu dekat. Sedih, takut, marah, kecewa, bingung, semua bercampur menjadi satu.
Saya pun sempat bertanya dalam hati, kenapa harus secepat ini? Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa hidup memang selalu berjalan berdampingan dengan perpisahan.
Oh ya, tulisan ini bukan bermaksud mengajarkan bagaimana seseorang harus berduka. Setiap orang memiliki proses berduka yang sehat dengan caranya masing-masing.
Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi sekaligus menjadi ruang kecil untuk melepaskan emosi yang selama ini saya simpan.
Hihihihi... ternyata menulis memang masih menjadi terapi terbaik buat saya.
Ditinggal Ibu adalah Hal yang Paling Saya Takutkan
Sejak dulu saya sih sering membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari harus hidup tanpa ibu.
Nyatanya, ketika hari itu benar-benar datang, rasanya tetap jauh lebih berat daripada yang pernah saya bayangkan.
Saya percaya, hampir semua orang akan mengalami fase kehilangan orang tua ataupun orang-orang yang disayang. Saat itu terjadi, berbagai emosi datang bergantian.
Ada sedih, marah, kecewa, merasa gak siap, bahkan ada rasa bersalah karena merasa masih banyak hal yang belum sempat dilakukan bersama mereka.
Namun, di tengah semua perasaan itu, saya juga belajar menerima bahwa kematian adalah bagian dari takdir Tuhan. Semua sudah tertulis jauh sebelum saya lahir ke dunia.
Kesadaran inilah yang perlahan membantu saya dalam cara menghadapi rasa kehilangan dan mengatasi rasa kehilangan, meski prosesnya tentu gak bisa instan.
Semua kenangan indah bersama ibu kini menjadi bekal yang saya simpan erat di hati.
Saat rindu datang, saya memilih mengenangnya lewat doa dan rasa syukur karena pernah memiliki sosok ibu yang begitu luar biasa.
Bagi saya, itu menjadi salah satu langkah kecil dalam cara menenangkan hati di tengah duka yang masih terasa.
Tahu gak, saya juga merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang saling menguatkan. Kami berbagi tugas, saling menemani, bahkan saling mengingatkan untuk makan dan beristirahat.
Dukungan keluarga seperti ini benar-benar membantu menjaga kesehatan mental agar tetap kuat menjalani hari demi hari.
Kini, yang bisa kami lakukan hanyalah terus mengirimkan doa.
Semoga ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan semoga kami yang masih hidup diberi kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dengan penuh makna.
Pada akhirnya, cinta kepada seseorang gak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah menjadi rindu yang belajar hidup berdampingan dengan waktu.
10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif
Banyak teman mengingatkan bahwa saya gak perlu berpura-pura kuat atau menyembunyikan kesedihan. Menangis itu wajar, diam sejenak juga wajar.
Yang penting, jangan memendam semua emosi sendirian hingga berubah menjadi beban yang semakin berat.
Mereka bilang, perlahan saya perlu kembali melakukan aktivitas positif saat berduka agar pikiran memiliki ruang untuk bernapas. Saya setuju.
Bukan berarti melupakan ibu, melainkan memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk menjalani proses pemulihan emosi secara sehat.
Nah, berikut beberapa aktivitas sederhana yang cukup membantu saya melewati hari-hari setelah kehilangan ibu.
1. Mendengarkan Musik yang Happy
Banyak orang bilang saat sedang sedih sebaiknya jangan terus-terusan mendengarkan lagu mellow. Saya sih setuju.
Bukannya dilarang, tapi kalau setiap hari playlist-nya lagu galau, suasana hati bisa ikut tenggelam.
Makanya sekarang saya lebih sering memutar lagu-lagu bertempo cepat, ceria, atau musik yang membuat semangat kembali muncul. Anehnya, suasana hati memang sedikit demi sedikit ikut berubah.
Pikiran jadi lebih ringan, tubuh juga terasa ingin bergerak mengikuti irama. Wkwkwkwk... kadang saya malah tanpa sadar ikut bersenandung sendiri di rumah.
Menurut saya, ini menjadi salah satu tips mengatasi kesedihan yang paling sederhana karena bisa dilakukan kapan saja.
Musik memang gak menghapus rasa kehilangan, tetapi setidaknya memberi jeda agar pikiran gak terus berada dalam kesedihan.
2. Journaling
Menulis sudah menjadi hobi saya sejak lama. Jadi saat kehilangan ibu, saya kembali membuka komputer dan mulai menuangkan semua isi hati yang sulit diucapkan secara langsung.
Oh ya, menulis di sini gak harus membuat artikel seperti yang sedang saya lakukan.
Kamu juga bisa membuat catatan harian, menulis surat untuk orang tercinta yang telah berpulang, atau sekadar mencurahkan apa yang sedang dirasakan hari itu.
Tanpa disadari, journaling membantu saya mengenali emosi sendiri. Saat pikiran terasa penuh, tulisan justru membuat semuanya terasa lebih lega.
Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari cara mengelola kesedihan sekaligus self healing yang cukup efektif untuk saya.
Kadang setelah selesai menulis, saya membaca kembali tulisan tersebut beberapa hari kemudian.
Dari sana saya sadar bahwa perlahan saya mulai belajar menerima kehilangan, meskipun rasa rindunya tentu masih ada.
3. Wisata Alam
Saat hati terasa sesak, saya lebih memilih pergi ke tempat yang tenang daripada berada di keramaian.
Gunung, pantai, danau, hutan pinus, atau tempat doa dan ziarah selalu berhasil membuat pikiran terasa lebih damai.
Melihat pepohonan yang hijau, mendengar suara ombak, atau sekadar menikmati udara segar membuat saya lebih mudah mempraktikkan mindfulness, yaitu menikmati momen saat ini tanpa terlalu larut memikirkan masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan.
Buat saya, wisata alam bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah bentuk aktivitas untuk healing yang membuat tubuh dan pikiran sama-sama beristirahat.
Bahkan berjalan santai beberapa puluh menit sudah termasuk olahraga ringan yang baik untuk membantu mengurangi stres.
Saya juga jadi teringat bahwa banyak tulisan inspiratif di bunda belajar yang mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan tetap kuat menghadapi berbagai fase kehidupan.
Rasanya, belajar dari pengalaman orang lain juga bisa menjadi penyemangat tersendiri.
Tahu gak, saya hampir selalu pulang dengan perasaan yang lebih tenang setiap selesai menikmati alam. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena hati terasa punya ruang untuk bernapas lagi.
4. Meet Up dengan Bestie
Dulu saya termasuk orang yang lebih suka menyimpan masalah sendiri. Namun setelah mengalami kehilangan ini, saya sadar bahwa kehadiran teman terdekat adalah anugerah yang luar biasa.
Beberapa sahabat bahkan langsung berkata, "Kalau butuh teman cerita atau sekadar ngopi, kabari ya." Kalimat sederhana itu ternyata sangat berarti.
Kami gak selalu membahas kesedihan. Kadang hanya ngobrol tentang pekerjaan, kuliner baru, rencana liburan, atau hal-hal receh yang membuat suasana kembali hangat.
Justru obrolan ringan seperti itu membantu saya cara agar tidak larut dalam duka.
Saya percaya, dukungan dari keluarga maupun sahabat menjadi bagian penting dalam cara bangkit setelah kehilangan orang tercinta. Kita gak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ada kalanya hati memang membutuhkan pelukan, tawa, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
5. Tetap Menjalani Rutinitas Harian
Jujur, ini menjadi salah satu hal yang paling sulit saya lakukan. Rasanya ingin diam di rumah, rebahan seharian, lalu membiarkan waktu berjalan begitu saja.
Namun saya sadar, terlalu lama berhenti justru membuat pikiran semakin dipenuhi rasa kehilangan.
Sedikit demi sedikit saya mencoba kembali ke rutinitas. Mulai dari bekerja, menulis artikel, membalas chat, hingga mengerjakan hal-hal kecil yang sebelumnya terasa biasa saja.
Aktivitas ini membantu saya kembali produktif tanpa harus memaksa diri terlihat baik-baik saja.
Oh ya, saya juga belajar bahwa proses ini gak perlu terburu-buru. Ada hari ketika semangat datang, ada juga hari ketika saya masih ingin menangis. Semuanya tetap bagian dari proses berduka yang sehat.
6. Berdoa dan Mendekatkan Diri kepada Tuhan
Bagi saya pribadi, doa menjadi tempat terbaik untuk mencurahkan semua isi hati. Saat rasanya sudah gak sanggup bercerita kepada siapa pun, saya memilih berbicara kepada Tuhan.
Saya percaya, ibu kini sudah berada dalam kasih Tuhan yang jauh lebih indah daripada kehidupan di dunia. Keyakinan itu membuat hati saya perlahan menjadi lebih tenang.
Berdoa juga membantu saya mengelola emosi. Bukan berarti rasa sedih langsung hilang, tetapi saya merasa selalu punya tempat untuk kembali ketika hati sedang rapuh.
Bahkan sesekali saya memilih datang ke tempat doa atau ziarah hanya untuk duduk beberapa saat menikmati suasana yang hening.
Saya sih percaya, setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan selalu membawa kekuatan baru, meski jawabannya gak selalu datang secepat yang kita harapkan.
7. Mencoba Hobi Baru
Selain menulis, saya mulai mencoba mengisi waktu dengan berbagai aktivitas yang sebelumnya jarang dilakukan.
Misalnya memasak resep baru, merapikan koleksi barang, berkebun kecil-kecilan, atau belajar keterampilan yang sudah lama ingin saya coba.
Tahu gak, saat otak fokus mempelajari sesuatu yang baru, ruang untuk terus memikirkan kesedihan jadi sedikit berkurang.
Bukan karena melupakan orang yang kita sayangi, tetapi karena pikiran sedang diberi kesempatan beristirahat.
Memiliki hobi baru juga membuat saya lebih bersemangat menjalani hari. Rasanya selalu ada hal yang ditunggu setiap bangun pagi.
Menurut saya, ini menjadi salah satu kegiatan untuk mengurangi rasa sedih yang cukup efektif.
8. Berolahraga Ringan
Saya bukan tipe yang rajin olahraga berat. Namun akhir-akhir ini saya mulai rutin berjalan kaki di pagi atau sore hari selama 20–30 menit.
Ternyata tubuh yang bergerak membuat pikiran ikut terasa lebih segar. Napas menjadi lebih teratur, badan lebih ringan, dan tidur pun terasa lebih nyenyak.
Olahraga ringan juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental saat berduka. Gak harus langsung lari maraton atau pergi ke gym setiap hari.
Jalan santai, bersepeda, yoga, atau peregangan ringan di rumah pun sudah sangat membantu.
Oh ya, jangan lupa tetap mendengarkan kondisi tubuh sendiri. Saat sedang lelah secara fisik maupun emosional, beristirahat juga merupakan bentuk mencintai diri sendiri.
Saya merasa, menerima bahwa diri ini sedang berduka justru menjadi langkah awal untuk benar-benar pulih.
9. Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga
Setelah ibu berpulang, saya justru semakin menyadari betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga. Kami jadi lebih sering makan bersama, mengobrol, mengenang cerita-cerita lucu tentang ibu, sampai sesekali tertawa bersama.
Lucunya, saat mengenang kenangan yang sama, ada saja cerita yang sebelumnya belum pernah saya dengar.
Dari situ saya sadar bahwa seseorang yang kita cintai akan selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang menyayanginya.
Saya sih merasa, saling menguatkan seperti ini jauh lebih menenangkan daripada memendam semua perasaan sendirian.
Dukungan keluarga benar-benar menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menghadapi masa kehilangan.
10. Memberi Waktu untuk Diri Sendiri
Selama dua tahun terakhir, fokus saya banyak tertuju pada kesehatan ibu.
Setelah semuanya selesai, saya baru menyadari bahwa diri saya juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan emosi.
Sesekali saya memilih menikmati secangkir kopi, membaca buku, menonton film favorit, atau sekadar duduk di teras rumah tanpa melakukan apa pun.
Aktivitas sederhana seperti ini ternyata membuat hati terasa lebih lega.
Tahu gak, proses pulih dari kehilangan bukan perlombaan. Gak ada ukuran kapan seseorang harus kembali tersenyum atau terlihat kuat.
Setiap orang memiliki ritmenya masing-masing, dan itu sangat wajar.
Yang terpenting, jangan menutup diri dari bantuan orang lain apabila memang membutuhkannya.
Bercerita kepada keluarga, sahabat, atau tenaga profesional bukan berarti kita lemah. Justru itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Kehilangan orang yang kita sayangi memang akan meninggalkan luka, bahkan mungkin tak pernah benar-benar hilang.
Namun saya percaya, sedih bukanlah tempat untuk menetap, melainkan fase yang perlu dijalani dengan penuh kasih kepada diri sendiri.
Semoga 10 cara mengatasi kesedihan ini bisa menjadi teman kecil bagi siapa pun yang sedang berduka.
Tetaplah melangkah, terus berdoa, dan jangan ragu mencari dukungan agar kesehatan mental tetap terjaga.
Siapa tahu, pengalaman ini juga bisa menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup maupun perjalanan parenting kita kelak.














.png)