Turun dari kereta sekitar pukul 10.40 di Stasiun Madiun, saya dan seorang teman langsung punya misi sederhana: jalan-jalan tanpa ribet, gak menghabiskan banyak uang, dan sebisa mungkin memilih destinasi yang masih berada di sekitar pusat kota.
Inilah versi kami melakukan backpacker Madiun, cuma berdua dengan modal itinerary sederhana dan kaki yang siap diajak jalan.
Tahu gak, saya justru suka konsep perjalanan seperti ini. Gak perlu buru-buru menyewa kendaraan seharian atau membuat itinerary yang terlalu padat.
Ada tempat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sementara lokasi yang agak jauh tinggal pesan ojek online. Praktis!
Karena sebelumnya kami sudah menempuh perjalanan dari Jogja menggunakan kereta, sesampainya di Madiun kami pun langsung memulai eksplor kota. Target pertama? Cari oleh-oleh!
Turun di Stasiun Madiun, Jalan-Jalan Hemat Pun Dimulai
Tiba Sekitar Pukul 10.40
Siang itu cuaca Madiun cukup cerah dan lumayan terik. Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang saat itu justru terasa gak terlalu ramai.
Area perkantoran dan sekolah juga terlihat cukup lengang karena kami datang di jam ketika aktivitas utama masyarakat sedang berlangsung di tempat masing-masing.
Saya sudah mengantisipasi cuaca dengan memakai baju panjang dan topi. Lumayanlah, daripada baru setengah perjalanan sudah berubah menjadi manusia gosong, wkwkwkwk....
Oh ya, saya suka banget dengan tata kota di Madiun ini karena cukup bersih dan di sepanjang jalan, tersedia bangku yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun yang melewatinya. Jadi kalau kami kecapekan, langsung deh duduk sejenak untuk beristirahat.
Buat saya, suasana seperti ini justru menyenangkan. Kami bisa melihat wajah pusat Kota Madiun secara lebih santai, bukan sekadar datang untuk mengejar satu destinasi lalu pulang.
Backpacker Versi Kami: Dekat Jalan, Jauh Sedikit Naik Ojol
Konsep perjalanan kami sebenarnya sederhana. Kalau tempatnya masih memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki, ya jalan kaki. Kalau jaraknya cukup jauh atau cuaca mulai bikin lelah, tinggal mengandalkan ojek online.
Inilah salah satu cara kami menjalankan backpacker ke Madiun. Gak harus selalu identik dengan ransel besar, tidur di penginapan murah, atau berjalan puluhan kilometer.
Menurut saya, backpacker lebih kepada cara mengatur perjalanan supaya tetap fleksibel dan sesuai kebutuhan.
Tahu gak, konsep seperti ini juga membuat kita lebih mudah menemukan tempat-tempat menarik di luar destinasi yang biasanya muncul di daftar wisata populer.
Dari Oleh-Oleh sampai Gudeg Jogja, Begini Cara Kami Eksplor Madiun
Mampir ke Roti Sandy
Karena tujuan berikutnya adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius, teman saya mengajak mampir sebentar ke Toko Oleh-oleh Roti Sandy. Katanya, toko ini termasuk toko oleh-oleh yang cukup legendaris di Madiun.
Namanya juga toko oleh-oleh Madiun, isinya tentu bikin mata gampang jelalatan. Ada berbagai makanan dan jajanan yang bisa dibawa pulang. Namun, saya dan teman justru langsung terpikat pada satu makanan: bolen pisang.
Kami akhirnya membeli satu kotak bolen. Untuk rasa cokelat harganya Rp60.000, sedangkan keju Rp65.000. Karena saya mengambil rasa mix, harganya menjadi Rp62.500.
Oh ya, kalau kamu sedang mencari oleh-oleh Madiun yang praktis dibawa, bolen seperti ini lumayan menarik karena bisa langsung masuk tas tanpa terlalu merepotkan perjalanan.
Oleh-Oleh Dulu, Makannya Belakangan
Awalnya saya sempat berpikir, “Apa gak berat ya membawa oleh-oleh dari awal perjalanan?”
Namanya juga baru turun dari stasiun, sementara itinerary Madiun sehari kami masih panjang. Tapi karena setelah itu kami gak akan melewati toko ini lagi, akhirnya saya ikut membeli.
Lagipula, suami saya di rumah ternyata suka banget bolen pisang. Jadi anggap saja sekalian menjalankan tugas sebagai istri yang pulang membawa buah tangan. Hihihihi....
Setelah urusan oleh-oleh beres, kami lanjut ke agenda berikutnya. Dan bagian ini mungkin agak berbeda dari konsep wisata kuliner pada umumnya.
Kok Malah Makan Gudeg di Madiun?
Nah, ini yang bikin saya sendiri ngakak. Setiap pergi ke luar kota, saya dan teman memang terbiasa membawa bekal dari rumah. Jadi untuk makan siang, kami justru membuka bekal nasi gudeg yang dibawa dari Jogja.
Tujuannya simpel: gak perlu pusing mencari makanan ketika perut sudah mulai lapar. Selain lebih praktis, tentu saja bisa menghemat budget trip.
Padahal, sepanjang perjalanan kami sempat melihat berbagai kuliner Madiun yang menggoda. Salah satunya rujak cingur. Sempat kepikiran mau beli, tetapi takut bekal gudeg malah gak dimakan.
Ya sudah, akhirnya rujak cingur cuma dilewati dengan tatapan penuh harapan. Wkwkwkwk....
Kalau saya sih, strategi membawa bekal seperti ini cocok banget buat kamu yang ingin mencoba wisata hemat Madiun. Uang yang biasanya habis untuk makan siang bisa dialihkan ke jajanan atau aktivitas lain.
Menepi Sejenak di Gua Maria, Lalu Berburu Foto di PSC
Mencari Suasana Hening di Tengah Perjalanan
Salah satu tempat yang sudah saya masukkan ke daftar sejak browsing di Google sebelum berangkat adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius.
Awalnya saya sempat merasa gerejanya seperti tutup. Kami pun sempat bingung harus masuk dari mana. Ternyata ada pintu lain yang terbuka dan akhirnya kami diarahkan menuju area Gua Maria.
Suasananya terasa berbeda dari perjalanan kami sebelumnya. Setelah berjalan di tengah cuaca siang yang cukup terik, berada di tempat yang lebih tenang tentu memberi kesempatan untuk berhenti sejenak.
Buat saya, tempat seperti Gua Maria Gereja Santo Cornelius bukan sekadar destinasi wisata religi Madiun. Ada suasana hening yang membuat perjalanan terasa lebih lengkap.
Tahu gak, saya memang suka menyisipkan tempat-tempat seperti ini ketika bepergian. Bukan hanya soal foto atau destinasi, tetapi juga memberi ruang untuk menenangkan diri di tengah perjalanan.
Informasi lebih lengkap tentang Gua Maria dan Gereja Santo Cornelius Madiun ini akan saya tulis di artikel khusus, ya.
Sampailah Kami di Pahlawan Street Center (PSC)
Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Pahlawan Street Center atau PSC Madiun.
Saya baru tahu kalau kawasan ini ternyata termasuk salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi ketika eksplor Madiun.
PSC merupakan kawasan wisata kota modern yang dikembangkan sebagai ruang publik dengan jalur pedestrian, aktivitas sosial, wisata, hingga area UMKM dan belanja.
Pemerintah Kota Madiun juga menjadikan kawasan ini sebagai salah satu ikon wisata kota.
Jalanannya tertata, pedestrian cukup nyaman, dan ada berbagai spot yang bisa dijadikan tempat foto. Beberapa ikon tematik bahkan membuat suasana kawasan ini terasa unik.
Siang itu PSC justru relatif sepi. Maklum, matahari sedang semangat-semangatnya menyinari Madiun. Aktivitas biasanya terasa lebih hidup menjelang sore sampai malam, ketika udara mulai bersahabat.
Foto-Foto Dulu, Namanya Juga Traveling
Sebenarnya PSC ini memang masuk daftar tujuan kami untuk sore hari. Namun karena kebetulan sudah melewati kawasan tersebut, kami tentu gak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Saya pun langsung mengambil beberapa foto dengan berbagai pose.
Namanya juga jalan-jalan, masa pulang cuma membawa oleh-oleh? Foto wajib ada dong!
Menurut saya sih, kawasan seperti PSC cocok untuk kamu yang suka mencari tempat foto di Madiun tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Jalan-jalan santai, melihat suasana kota, kemudian menemukan spot foto yang menarik. Ini sudah cukup untuk membuat one day trip Madiun terasa menyenangkan.
Rute Backpacker Madiun Kami, Masih Ada Lanjutan!
Setelah PSC, perjalanan kami sebenarnya belum selesai. Justru dari sinilah agenda backpacker Madiun kami semakin panjang.
Rute yang kami susun kurang lebih seperti ini:
Stasiun Madiun → Toko Oleh-oleh Sandy → makan bekal gudeg → Gua Maria/Gereja Santo Cornelius → Pahlawan Street Center → Alun-Alun Madiun → coffee shop → Toko Oleh-oleh Mirasa → makan malam → PSC lagi → Stasiun Madiun.
Tahu gak, itinerary Madiun 1 hari seperti ini ternyata cukup memungkinkan dilakukan tanpa kendaraan pribadi, asalkan pintar mengatur jarak dan waktu.
Beberapa lokasi bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sedangkan destinasi yang lebih jauh tinggal menggunakan transportasi online.
Jadi buat kamu yang sedang mencari wisata Madiun dekat Stasiun Madiun, konsep seperti ini bisa menjadi salah satu inspirasi. Gak harus mengunjungi semua tempat wisata sekaligus.
Yang penting rute perjalanan masuk akal, waktu gak terlalu mepet, dan badan masih sanggup diajak keliling.
Saya sendiri menikmati banget perjalanan ini. Ada rasa puas ketika satu per satu tempat berhasil didatangi dengan cara yang sederhana.
Dan ternyata, Madiun backpacker versi saya gak selalu harus mahal. Dengan perencanaan sederhana, bekal dari rumah, jalan kaki, dan sesekali naik ojol, kita tetap bisa menikmati suasana kota.
***
Perjalanan setelah PSC masih membawa kami ke beberapa tempat menarik lainnya. Ada Alun-Alun Madiun, coffee shop, berburu oleh-oleh lagi, makan malam, sampai kembali ke PSC ketika suasananya mulai berubah lebih ramai.
Jadi, cerita backpacker Madiun ini belum selesai.
Tunggu tulisan saya selanjutnya karena saya akan lanjutkan rute berikutnya dalam perjalanan sehari penuh ini.
Buat saya, trip seperti ini cukup worth it: hemat, santai, dapat banyak cerita, dan yang paling penting, bisa menikmati Madiun dengan cara sendiri.





















.png)