Saya awalnya mengira Ndalem Mangkubumen hanya akan menjadi salah satu titik singgah dalam Walking Tour kawasan Keraton Yogyakarta. Ternyata, setelah datang langsung, tempat ini justru membuat saya ingin tahu lebih banyak.
Kegiatan yang diadakan oleh komunitas Sumbu Filosofi ini membawa saya menyusuri beberapa tempat bersejarah, mulai dari Ndalem Mangkubumen, Pasar Ngasem, Kampung Wisata Taman Sari, hingga ditutup dengan ngeteh di Patehan.
Nah, kali ini saya mau cerita dulu tentang satu tempat yang punya lapisan sejarah cukup menarik: Ndalem Mangkubumen Yogyakarta.
Tahu gak, bangunan yang dari luar terlihat seperti kompleks dalem bangsawan ini ternyata pernah disiapkan sebagai kediaman Putra Mahkota.
Bahkan, orang yang menempatinya pada awalnya kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.
Jadi, kunjungan ke sini bukan cuma soal melihat bangunan tua. Ada cerita keluarga keraton, calon raja, abdi dalem, pemerintahan, pendidikan, perjuangan, sampai kegiatan budaya yang masih berlangsung hingga sekarang.
Ndalem Mangkubumen Yogyakarta Ternyata Bukan Sekadar Rumah Pangeran
Salah satu temuan menarik dari kunjungan saya adalah soal sejarah awal bangunan ini.
Ndalem Mangkubumen dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI sebagai tempat tinggal Pangeran Adipati Anom atau Putra Mahkota.
Sosok yang menempatinya adalah GPH Hangabehi, putra Sultan HB VI yang dipersiapkan sebagai calon raja. Ia kemudian naik takhta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 1877.
Oh ya, dari sini saya baru ngeh bahwa istilah “rumah pangeran” sebenarnya kurang menggambarkan fungsi awal Ndalem Mangkubumen.
Kompleks ini dirancang untuk seseorang yang sedang dipersiapkan menjadi calon raja.
Setelah GPH Hangabehi naik takhta, kompleks tersebut kemudian ditempati adiknya, KGPAA Mangkubumi.
Dari sinilah nama Ndalem Mangkubumen semakin dikenal. Pangeran Mangkubumi tinggal di sana sampai wafat pada 1918, kemudian diteruskan oleh GPH Buminoto.
Ada pula cerita Pangeran Juminah, putra Sultan Hamengku Buwono VII, yang pernah ditetapkan sebagai Putra Mahkota tetapi kemudian batal menjadi Sultan karena kondisi kesehatannya.
Saya sih merasa bagian ini yang membuat sejarah Ndalem Mangkubumen jadi lebih menarik.
Ada pergantian penghuni, perubahan status, dan hubungan keluarga yang memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan bisa mengikuti dinamika keluarga kerajaan.
Melihat Ndalem sebagai Rumah Sekaligus Pusat Kehidupan
Saat berada di dalam kompleks, saya mulai melihat bahwa Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta punya tata ruang yang jauh lebih kompleks daripada rumah biasa.
Karena sejak awal berkaitan dengan calon raja, bangunan Ndalem Mangkubumen memiliki susunan ruang yang menyerupai kompleks keraton.
Bahkan dalam kajian arsitektur, kompleks ini sering disebut sebagai Keraton Alit atau “keraton kecil”.
Regol Cemeng dan Gedhong Inggil
Regol Cemeng menjadi salah satu akses penting menuju kawasan dalam kompleks. Sementara Gedhong Inggil berkaitan dengan ruang kerja Putra Mahkota atau Adipati.
Jadi, di dalam sebuah kompleks hunian bangsawan, ada ruang yang memang berkaitan dengan urusan pemerintahan. Putra Mahkota bukan hanya tinggal di sini, tetapi juga menjalankan tugas dan aktivitas yang berkaitan dengan kedudukannya.
Gandok dan ruang keluarga
Ada pula gandok yang berkaitan dengan ruang hunian keluarga. Bagian ini digunakan untuk kebutuhan istri dan anak-anak.
Sementara itu, terdapat ruang makan atau getri yang mendukung aktivitas keluarga sehari-hari.
Susunan semacam ini memperlihatkan bahwa kehidupan keluarga keraton memiliki pembagian ruang yang cukup jelas antara area publik, pekerjaan, dan kehidupan domestik.
Tahu gak, konsep seperti ini juga berkaitan dengan keberadaan para abdi dalem di sekitar kediaman bangsawan.
Mereka dapat tinggal di kawasan magersari, yaitu tempat tinggal yang diberikan berdasarkan hak pakai atau hak guna tertentu sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi, kedekatan rumah abdi dalem dengan rumah pangeran bukan sekadar kebetulan.
Para abdi dalem yang memiliki tugas dekat dengan keluarga pangeran memang membutuhkan akses yang relatif dekat.
Sementara itu, kelompok yang bertugas di luar kawasan inti Njeron Benteng juga memiliki wilayah masing-masing, seperti prajurit Patangpuluhan dan Mantrijeron.
Dari Kediaman Pangeran hingga Tempat Perjuangan dan Kampus
Nah, bagian ini menurut saya justru membuat perjalanan Ndalem Mangkubumen semakin panjang.
Bangunan ini ternyata gak berhenti sebagai kediaman keluarga keraton. Dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, kompleks ini juga pernah menjadi bagian dari cerita perjuangan Indonesia.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, Jenderal Soedirman pernah tinggal di Ndalem Mangkubumen.
Atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kompleks tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sementara. Keluarga Jenderal Soedirman juga kemudian tinggal di sana hingga situasi perang berakhir.
Dari tempat tinggal keluarga bangsawan, Ndalem Mangkubumen kemudian memasuki babak baru sebagai ruang pendidikan.
Pada 1952 hingga 1982, kompleks ini digunakan oleh Fakultas Kedokteran UGM.
Bayangkan saja, ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan keluarga keraton kemudian dipenuhi aktivitas mahasiswa dan dunia akademik.
Setelah itu, sejak 1983, Ndalem Mangkubumen digunakan oleh Universitas Widya Mataram.
Oh ya, ada satu hal yang membuat saya semakin melihat bangunan ini sebagai ruang yang terus beradaptasi.
Meski fungsinya berubah, karakter arsitektur Jawa dan struktur kompleksnya masih menjadi bagian penting dari identitas Ndalem Mangkubumen.
Pendapa, pringgitan, dalem ageng, Bangsal Prabayeksa, hingga Sriwedari bukan sekadar nama ruangan. Masing-masing memiliki fungsi dan posisi dalam tata ruang tradisional yang membentuk keseluruhan kompleks.
Hihihihi.... jadi rasanya seperti membaca sejarah Yogyakarta melalui denah sebuah rumah.
Ndalem Mangkubumen Sekarang, Ketika Sejarah Kembali Dipakai
Kalau datang sekarang, Ndalem Mangkubumen Jogja gak hanya menarik karena masa lalunya.
Kompleks ini juga masih berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Statusnya sebagai cagar budaya nasional membuat keberadaannya punya nilai penting dalam pelestarian sejarah Yogyakarta.
Salah satu perkembangan menarik adalah pemanfaatan kembali Ndalem Mangkubumen untuk kegiatan budaya Keraton Yogyakarta.
Dalam pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal, misalnya, Pendapa Ndalem Mangkubumen menjadi salah satu tempat yang digunakan dalam rangkaian kegiatan pembagian pareden atau gunungan.
Halaman kompleks yang tampak tenang dalam keseharian bisa berubah menjadi ruang berlangsungnya tradisi keraton.
Tahu gak, buat saya bagian ini justru menjadi alasan kenapa wisata budaya Ndalem Mangkubumen menarik untuk dikunjungi.
Kita gak hanya melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah ruang bersejarah masih punya fungsi dalam kehidupan budaya sekarang.
Saya juga jadi memahami bahwa event Ndalem Mangkubumen bukan sekadar kegiatan yang kebetulan mengambil lokasi di bangunan tua.
Ada hubungan antara ruang, tradisi, keluarga keraton, abdi dalem, dan pelestarian budaya yang terus berjalan.
Wkwkwkwk.... ternyata satu titik dalam Walking Tour bisa membuka cerita sepanjang itu.
Dari kunjungan ini, saya melihat Ndalem Mangkubumen bukan cuma sebagai bangunan cagar budaya.
Di balik temboknya ada perjalanan keluarga kerajaan, kisah Putra Mahkota, kehidupan para abdi dalem, jejak perjuangan Jenderal Soedirman, sejarah pendidikan, hingga tradisi keraton yang masih hidup.
Oh ya, perjalanan Walking Tour saya sebenarnya masih berlanjut ke Pasar Ngasem, Kampung Wisata Taman Sari, lalu menikmati teh di Patehan (tunggu artikel saya lainnya ya.....).
Tapi Ndalem Mangkubumen menjadi salah satu titik yang paling membuat saya berhenti sejenak dan berpikir tentang betapa panjangnya perjalanan sebuah tempat.





















.png)