In Wellness

5 Menu Sehat Tanpa Nasi agar Badan Lebih Fit

Inspirasi meal prep menu sehat tanpa nasi dengan real food

Dulu saya gak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjalani menu sehat tanpa nasi. Jujur aja, sejak kecil saya selalu diajarkan kalau makan itu ya harus ada nasi. 

Rasanya seperti ada yang kurang kalau di piring cuma ada lauk dan sayur. Bahkan, sepiring nasi hangat sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarga saya selama bertahun-tahun.

Tahu gak, kebiasaan itu ternyata terus saya bawa sampai dewasa. Mau makan apa pun, ujung-ujungnya tetap mencari nasi. 

Waktu itu saya memang belum terlalu memikirkan soal pola makan sehat, karena merasa badan saya masih baik-baik saja. Padahal, usia terus bertambah dan aktivitas juga makin padat.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai sadar kalau menjaga kesehatan ternyata sama pentingnya dengan mengejar pekerjaan atau hobi. 

Saya ingin punya tubuh lebih fit, tidur lebih nyaman, dan tetap bisa aktif sampai usia lanjut nanti. Saya sih percaya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Oh ya, perjalanan ini sama sekali bukan karena saya membenci nasi, ya. Saya hanya ingin mencoba mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. 

Target saya sederhana, yaitu menemukan menu sehat sehari-hari yang tetap enak, mengenyangkan, sekaligus mendukung healthy lifestyle tanpa terasa menyiksa.

Awalnya saya juga sempat ragu. Apa saya bakal kuat? Apa nanti gampang lapar? Wkwkwkwk... pertanyaan seperti itu terus muncul di kepala. 

Namun rasa penasaran akhirnya lebih besar daripada rasa takut untuk mencoba.

Saya Mulai dengan Intermittent Fasting

Belakangan ini makin banyak orang mulai peduli dengan kesehatan, termasuk soal pola makan. 

Saya merasa cukup beruntung karena pada November 2023, seorang teman mengenalkan saya pada metode intermittent fasting. Dari situlah perjalanan saya menuju hidup sehat benar-benar dimulai.

Sebelum benar-benar menjalankan intermittent fasting, saya lebih dulu mengubah kebiasaan sarapan. 

Selama bulan Desember, nasi perlahan saya ganti dengan buah-buahan yang saya beli di minimarket setiap pagi. 

Tujuannya sederhana, supaya lambung gak langsung kaget saat nanti mulai menjalani pola puasa. Selain itu, buah juga mengandung serat yang membantu saya merasa kenyang lebih lama.

Memasuki Januari 2024, saya akhirnya memberanikan diri mencoba jendela makan 16:8. 

Artinya, saya berpuasa selama 16 jam dan makan dalam rentang waktu 8 jam, biasanya mulai pukul 12 siang sampai 8 malam.

Seminggu setelahnya, saya menambahkan olahraga ringan ke rutinitas harian. Saya memakai dua dumbbell masing-masing 4 kilogram untuk latihan beban sederhana di rumah. 

Sesekali saya juga mengikuti video kardio dari YouTube, lalu jogging saat ada waktu luang. Saya sih gak pernah memaksakan diri harus olahraga berat setiap hari. Yang penting badan tetap aktif bergerak.

Perubahan itu ternyata membawa hasil yang cukup mengejutkan. Sekitar enam bulan kemudian, berat badan saya turun dari 80 kilogram menjadi 67 kilogram. 

Saya benar-benar senang melihat hasilnya. Energi terasa lebih stabil, napas saat beraktivitas juga lebih ringan, dan saya mulai menikmati pola hidup sehat yang baru.

Namun, perjalanan saya ternyata belum selesai. Berat badan sempat bertahan cukup lama di angka 67 kilogram. 

Lalu memasuki tahun kedua, tanpa saya sadari angkanya naik lagi menjadi sekitar 72 kilogram. 

Saya pun mulai bertanya dalam hati, apa yang perlu saya ubah supaya bisa kembali mencapai berat badan ideal tanpa harus menjalani menu diet sehat yang terlalu ketat?

Kenapa Saya Memilih Menu Sehat Tanpa Nasi?

Jujur saja, kenaikan berat badan itu membuat saya kembali mengevaluasi kebiasaan makan sehari-hari. 

Bukan berarti metode intermittent fasting yang saya jalani gagal, tetapi saya merasa masih ada yang perlu diperbaiki. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menaikkan level IF menjadi jendela makan 22:2, yaitu 22 jam berpuasa dan hanya 2 jam untuk makan.

Kebetulan, saat itu bertepatan dengan masa Prapaskah tahun 2026. Selama 40 hari saya sekalian menjadikan momen tersebut sebagai latihan mengendalikan diri. 

Awalnya memang berat sih. Apalagi ketika melihat orang lain menikmati camilan atau minuman manis di depan mata. Hihihihi... godaannya memang nyata!

Tahu gak, selain mengurangi jam makan, saya juga sekalian mengurangi makanan berbahan tepung dan minuman yang mengandung gula tambahan

Memang gak bisa langsung 100% karena saya juga manusia biasa. Mungkin porsinya sekitar 80%, tapi buat saya itu sudah menjadi langkah besar menuju konsisten menjalani gaya hidup sehat.

Di titik itulah saya mulai menyadari bahwa nasi sebenarnya bukan satu-satunya sumber karbohidrat. 

Saya perlahan menggantinya dengan kentang atau ubi yang mengandung karbohidrat kompleks sehingga energi terasa lebih stabil. 

Untuk memenuhi kebutuhan protein, saya lebih sering memilih dada ayam, telur, tahu, tempe, atau sesekali ikan. 

Sayuran hijau pun hampir selalu hadir di piring makan saya karena kaya serat dan membuat kenyang lebih lama.

Oh ya, saya termasuk orang yang gampang bosan, tapi juga males bikin menu yang ribet. Jadi bahan makanan di rumah hampir selalu itu-itu saja. 

Bedanya, saya mengolahnya menjadi berbagai menu rendah kalori agar rasanya tetap berbeda setiap hari. Kadang dibuat sup, ditumis, dipanggang, atau cukup direbus dengan bumbu sederhana.

Saya juga mulai mengenal konsep real food, yaitu memilih bahan makanan yang minim proses dibanding makanan instan. 

Lama-lama saya merasa tubuh lebih nyaman. Saya gak lagi terlalu sering merasa ngantuk setelah makan, dan kebutuhan kalori harian terasa lebih mudah dikontrol tanpa harus menghitung secara detail.

Yang menarik, perubahan ini juga membuat saya lebih rajin melakukan meal prep sederhana. 

Saya biasanya menyiapkan ayam rebus, telur, atau sayuran dalam jumlah lebih banyak untuk stok beberapa hari. 

Jadi saat jam makan tiba, saya tinggal mengombinasikannya sesuai selera. Cara ini cukup membantu supaya saya gak tergoda membeli makanan cepat saji.

Hasilnya benar-benar terasa. Tubuh menjadi lebih ringan, metabolisme terasa lebih baik, dan saya gak lagi bergantung pada nasi di setiap waktu makan. 

Saya pun mulai percaya bahwa menjalani menu sehat tanpa nasi bukan soal pantangan, melainkan soal menemukan kebiasaan baru yang lebih cocok dengan kebutuhan tubuh.

Menu Sehat Tanpa Nasi Favorit yang Tetap Mengenyangkan

Setelah cukup lama menjalani pola makan ini, saya akhirnya menemukan beberapa menu yang paling sering muncul di meja makan. 

Bahannya sederhana, mudah dicari, dan yang paling penting tetap enak. Buat saya, makanan sehat gak harus mahal atau terlihat mewah. 

Yang penting gizinya seimbang, mengandung protein, serat, serta lemak sehat dalam porsi yang pas.

Oh ya, saya memang bukan chef ataupun ahli gizi. Saya hanya berbagi pengalaman pribadi tentang menu yang selama ini cocok di tubuh saya. 

Bahkan sebagai seorang food blogger, saya tetap percaya bahwa makanan rumahan sering kali jauh lebih nikmat dibanding menu yang terlalu rumit.

1. Sup Telur Ayam

Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein
Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein (dpc. Riana Dewie)

Ini menu yang paling sering saya masak karena praktis. Bumbunya seperti sup pada umumnya, hanya terdiri dari bawang putih, bawang merah, merica, garam, dan sedikit kaldu. 

Untuk isiannya saya memilih ayam fillet, telur, wortel, kentang, kembang kol, daun bawang, lalu ditambah bawang bombai supaya aromanya makin sedap.

Menurut saya sih, menu ini sudah lengkap. Ada protein dari ayam dan telur, ada serat dari sayuran, serta karbohidrat kompleks dari kentang. 

Semangkuk sup hangat seperti ini sudah cukup membuat saya kenyang lebih lama.

2. Telur Dadar Sambal Terasi

Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus
Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus (doc. Riana Dewie)

Menu ini biasanya saya buat saat sedang ingin makan yang gurih. 

Telur saya goreng menggunakan sedikit olive oil, lalu ditemani ayam berbumbu bawang putih, garam, dan daun jeruk. Sebagai pelengkap, saya selalu menambahkan sambal terasi favorit.

Karena sedang menjalani menu sehat tanpa nasi, sumber karbohidrat saya ganti dengan kentang rebus. Rasanya tetap nikmat, bahkan lama-lama lidah saya mulai terbiasa. 

Saya jadi sadar kalau ternyata yang paling dicari sering kali bukan nasinya, melainkan lauk dan sambalnya.

3. Sayur Asem Daging

Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat
Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat (doc. Riana Dewie)

Siapa bilang sayur asem hanya cocok dimakan bersama nasi? Saya justru sering menikmatinya tanpa nasi sama sekali. 

Isinya hampir sama dengan sup, hanya kuahnya dibuat menjadi sayur asem khas Bandung yang segar.

Perpaduan kuah asam dengan potongan daging sapi atau ayam benar-benar bikin selera makan meningkat. Apalagi kalau ditemani sambal terasi, wah... rasanya susah ditolak.

4. Chicken Steak Mashed Potato

Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)
Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)

Kalau sedang punya waktu lebih, saya biasanya membuat menu ini. 

Memang agak lebih effort karena harus mengupas kentang, merebusnya hingga empuk, lalu menghaluskannya bersama susu dan sedikit taburan keju.

Sementara itu, ayam fillet saya marinasi menggunakan saus black pepper, saus barbeque, kecap asin, sedikit kecap manis, minyak ikan, serta bawang putih. 

Setelah didiamkan beberapa saat, ayam tinggal dipanggang di teflon sampai matang.

Buat saya, menu seperti ini tetap masuk kategori makanan sehat rendah kalori karena proses memasaknya minim minyak. Rasanya pun gak kalah dengan steak yang dijual di restoran.

5. Telur Sayur Black Pepper

Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)
Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)

Nah, ini salah satu menu favorit saya sampai sekarang. Hampir semua bahannya cukup direbus atau dikukus, mulai dari telur, wortel, brokoli, jagung muda, hingga ayam fillet.

Rahasia kelezatannya justru ada di sausnya. 

Saya menumis bawang putih dan bawang bombai, lalu menambahkan campuran saus black pepper, sedikit kecap, garam, serta gula secukupnya sebagai penyeimbang rasa. 

Setelah matang, saus tinggal disiramkan ke atas semua bahan.

Sekilas tampilannya memang mirip siomay, hanya saja cita rasanya berbeda. 

Menurut saya sih, menu ini paling pas disantap saat cuaca dingin karena hangat, mengenyangkan, dan tetap terasa ringan di perut.

Makan tanpa nasi ternyata gak semenakutkan yang saya bayangkan dulu. Justru saya jadi lebih kreatif mencoba berbagai kombinasi menu dari bahan yang sama. 

Nah, dari lima menu tadi, kira-kira kamu paling penasaran mau coba yang mana? Hehehe.... 😉

Ternyata Hidup Sehat Gak Sesulit yang Dibayangkan

Setelah menjalani semua proses ini, saya baru benar-benar memahami bahwa perubahan gak selalu harus dilakukan secara ekstrem. 

Yang paling penting justru membangun kebiasaan kecil yang bisa dijalani setiap hari. 

Bagi saya, hidup sehat bukan soal mengejar angka di timbangan, melainkan bagaimana tubuh terasa lebih nyaman saat beraktivitas.

Tahu gak, perubahan pertama yang paling saya rasakan justru bukan berat badan. Saya jadi lebih mudah bangun pagi, tidur terasa lebih nyenyak, dan energi lebih stabil sepanjang hari. 

Aktivitas bekerja pun terasa lebih ringan karena tubuh gak gampang lemas setelah makan.

Selain itu, saya juga merasa lebih mudah mengontrol rasa lapar. 

Mungkin karena tubuh sudah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, ditambah pilihan makanan tinggi protein, serat, dan lemak sehat yang membuat saya kenyang lebih lama. 

Defisit kalori pun akhirnya berjalan lebih alami tanpa perlu menyiksa diri atau menghitung setiap suapan makanan.

Oh ya, saya tetap punya cheating day, lho di hari Minggu. Sesekali saya menikmati makanan favorit tanpa rasa bersalah. Bedanya, sekarang saya gak lagi berlebihan. 

Keesokan harinya saya cukup kembali menjalankan intermittent fasting 22:2 seperti biasa. Menurut saya, keseimbangan jauh lebih penting daripada pantangan yang terlalu ketat.

Hasilnya benar-benar membuat saya bersyukur. Pada Februari 2026 berat badan saya masih berada di angka 72 kilogram. Empat bulan kemudian, angkanya turun menjadi sekitar 59 kilogram. 

Buat saya, pencapaian ini bukan semata-mata karena berhenti makan nasi, tetapi karena saya mulai lebih menghargai tubuh sendiri dan menjaga pola makan dengan lebih bijak.

Sekarang saya masih sangat jarang makan nasi. Kalaupun sedang ingin, biasanya hanya satu atau dua kali dalam seminggu dengan porsi secukupnya. 

Selebihnya, saya lebih nyaman mengonsumsi kentang, ubi, sayuran, ayam, telur, tahu, atau tempe sebagai menu sehat sehari-hari. 

Ternyata tubuh saya bisa beradaptasi dengan baik, bahkan terasa jauh lebih fit dibanding beberapa tahun lalu.

Saya juga belajar bahwa perjalanan setiap orang pasti berbeda. Apa yang berhasil pada saya belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain. 

Karena itu, saya selalu menyarankan untuk menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan tubuh masing-masing dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu.

***

Nah, itulah cerita perjalanan saya menjalani menu sehat tanpa nasi. Semoga pengalaman sederhana ini bisa menjadi inspirasi buat kamu yang ingin memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani. 

Siapa tahu, langkah kecil hari ini justru menjadi awal perubahan besar di masa depan. 

Kalau kamu punya menu andalan atau cerita menarik seputar kuliner sehat, boleh banget berbagi di kolom komentar. Saya senang sekali membaca pengalamanmu! 😊






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Pertama Kali Membuat Gerabah di Borobudur, Pulangnya Bawa Karya Buatan Sendiri!

Membuat gerabah di Borobudur menggunakan pottery wheel di Gerabah Arum Art.

Kalau ngomongin soal membuat gerabah di Borobudur, saya jadi teringat dua pengalaman yang sampai sekarang masih membekas di ingatan. 

Menariknya, keduanya sama-sama mempertemukan saya dengan tanah liat, tetapi menghadirkan cerita yang benar-benar berbeda. 

Kalau saya sih, setiap pengalaman baru selalu punya cerita yang layak dikenang.

Pengalaman pertama terjadi saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2009. Waktu itu saya ditempatkan di rumah seorang pelaku UMKM gerabah di kawasan Pundong, Bantul. 

Selama hampir satu bulan tinggal bersama keluarga tersebut, saya melihat langsung bagaimana tanah liat diolah menjadi berbagai kerajinan tradisional yang memiliki nilai seni tinggi. 

Mulai dari proses membentuk, menjemur, membakar, hingga akhirnya siap dipasarkan.

Oh ya, dari pengalaman KKN itulah saya mulai sadar kalau sebuah gerabah ternyata gak lahir begitu saja. 

Ada proses panjang, ketelatenan, dan kesabaran yang luar biasa di balik setiap karya yang terlihat sederhana.

Pengalaman kedua baru saja saya rasakan ketika berkunjung ke Gerabah Arum Art, sebuah workshop gerabah Borobudur yang cukup populer di kawasan wisata sekitar Candi Borobudur. 

Awalnya saya mengira tempat ini hanya menjual aneka gerabah seperti toko pada umumnya. Ternyata dugaan saya meleset jauh.

Di sini saya gak cuma melihat berbagai koleksi gerabah yang unik, tetapi juga diajak mencoba belajar membuat gerabah secara langsung. 

Bahkan hasil karya itu nantinya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Wah, pengalaman seperti ini jelas bikin saya penasaran.

Kenapa Memilih Mencoba Workshop Gerabah di Borobudur?

Semua berawal dari rekomendasi seorang teman yang mengatakan kalau ada sebuah pottery workshop Borobudur dengan koleksi gerabah yang sangat lengkap. 

Katanya, pengunjung bisa melihat proses produksinya sekaligus mencoba membuat gerabah sendiri. 

Mendengar cerita itu, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di kawasan Borobudur.

Gerabah Arum Art sendiri merupakan salah satu sentra kerajinan gerabah yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan dikelola oleh Pak Supoyo bersama tim pengrajinnya. 

Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur.
Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Berawal dari usaha keluarga, kini tempat ini berkembang menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Produk-produknya bahkan telah dipasarkan hingga berbagai negara, sehingga kualitas hasil karya para pengrajin gerabah di sini memang gak perlu diragukan lagi.

Oh ya, yang membuat saya langsung nyaman justru bukan hanya koleksi gerabahnya, melainkan sambutan ramah dari para staf yang berjaga. 

Baru beberapa langkah masuk saja, saya sudah disapa dengan senyum hangat dan dipersilakan berkeliling area workshop sambil melihat proses pembuatannya.

Saya pun mulai berjalan menyusuri setiap sudut ruang pamer. Rasanya mata ini gak berhenti dibuat kagum melihat begitu banyak hasil kerajinan handmade yang tertata rapi. 

Ada vas bunga dengan berbagai ukuran, pot tanaman, asbak, teko, tempat lilin, lampu tidur, hingga aneka dekorasi rumah yang estetik.

Yang paling menarik perhatian saya tentu saja miniatur stupa yang bentuknya sangat mirip dengan stupa di Candi Borobudur. 

Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade.
Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade (doc. Riana Dewie)


Detailnya benar-benar rapi dan artistik sehingga cocok dijadikan pajangan maupun oleh-oleh Borobudur.

Kalau dihitung-hitung, koleksi produknya mungkin mencapai ratusan jenis. Wah, lengkap juga ya! 

Saya bahkan sempat beberapa kali berhenti hanya untuk mengamati detail ukiran dan finishing setiap gerabah. 

Masing-masing memiliki karakter yang berbeda sehingga rasanya sayang kalau cuma dilihat sekilas.

Oh ya, kalau berkunjung ke sini, jangan buru-buru pulang. 

Luangkan waktu untuk mengelilingi workshop karena hampir setiap sudutnya menyimpan karya-karya yang menarik untuk difoto sekaligus dipelajari. 

Rasanya seperti sedang menikmati galeri seni yang penuh cerita.

Pengalaman Pertama Membuat Gerabah dengan Pottery Wheel

Setelah puas berkeliling melihat area workshop, tiba-tiba salah seorang pramuniaga menghampiri saya sambil tersenyum. 

Beliau menawarkan apakah saya ingin mencoba membuat gerabah sendiri menggunakan pottery wheel. Mendengar tawaran itu, saya jelas langsung mengangguk. 

Kesempatan seperti ini rasanya sayang kalau dilewatkan, apalagi seumur hidup saya memang belum pernah mencobanya. Hahahaha....

Pottery wheel merupakan alat berbentuk meja putar yang digunakan untuk membentuk tanah liat menjadi berbagai macam gerabah. Cara kerjanya cukup sederhana. 

Meja akan berputar dengan kecepatan tertentu, kemudian kedua tangan kita bertugas membentuk tanah liat sedikit demi sedikit hingga menjadi vas, mangkuk, gelas, atau bentuk lainnya. 

Meski terdengar mudah, kenyataannya alat ini membutuhkan keseimbangan, ketelitian, dan kontrol tangan yang baik.

Saya pun duduk di depan pottery wheel dengan perasaan campur aduk antara antusias dan penasaran. Sebelum praktik, salah satu instruktur memberikan contoh terlebih dahulu. 

Tanah liat yang awalnya hanya berupa gumpalan perlahan berubah menjadi bentuk silinder yang tinggi dan rapi. Gerakannya terlihat begitu halus seolah semuanya berjalan otomatis.

"Oh, ternyata gampang," pikir saya saat itu.

Sayangnya, pikiran tersebut cuma bertahan beberapa detik saja.

Membuat gerabah dengan Pottery wheel
Membuat gerabah dengan Pottery wheel (doc. Riana Dewie)


Ternyata Gak Semudah yang Dibayangkan

Begitu giliran saya dimulai, kedua tangan langsung menyentuh tanah liat yang terus berputar. Awalnya masih terlihat normal. 

Namun semakin lama, bentuk gerabah yang saya buat justru mulai bergoyang ke kanan dan kiri. Bukannya bertambah tinggi, hasilnya malah mleyot dan semakin miring.

Instruktur yang mendampingi beberapa kali membantu membenarkan posisi tangan saya. Sesaat bentuknya memang kembali rapi. 

Tapi begitu saya mencoba melanjutkan sendiri, eh... miring lagi. Hihihihi....

Beberapa pengunjung yang berada di sekitar workshop ikut memperhatikan proses tersebut. 

Ada yang tersenyum, ada pula yang tertawa kecil melihat bentuk gerabah saya yang benar-benar di luar ekspektasi. 

Kalau saya sih langsung ikut tertawa juga. Mau bagaimana lagi, namanya juga pengalaman pertama.

Oh ya, ternyata posisi jari menjadi salah satu kunci penting saat membentuk gerabah. Tekanan yang terlalu kuat atau terlalu lemah bisa langsung mengubah bentuk tanah liat dalam hitungan detik. 

Pantas saja para pengrajin bisa menghasilkan karya yang begitu presisi. Di balik hasil yang indah, ada latihan bertahun-tahun yang mungkin gak pernah kita bayangkan.

Meski hasilnya jauh dari kata sempurna, saya justru menikmati setiap prosesnya. Tangan penuh tanah liat, sesekali salah menekan, lalu mencoba memperbaikinya lagi. 

Aktivitas sederhana ini ternyata mampu membuat saya fokus sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan. Rasanya seperti melupakan sejenak segala kesibukan di luar sana.

Di momen itulah saya mulai memahami kenapa workshop seperti ini menjadi salah satu aktivitas seru di Borobudur yang banyak diminati wisatawan. 

Bukan semata-mata karena ingin menghasilkan gerabah yang bagus, melainkan karena proses belajar dan pengalaman yang diperoleh benar-benar menyenangkan.

Dibimbing Langsung oleh Pak Supoyo

Saat saya masih sibuk berjuang menyelamatkan gerabah yang sudah telanjur miring, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami. 

Beliau menyapa dengan ramah, lalu ikut memberikan arahan bagaimana cara memosisikan tangan agar tanah liat tetap stabil di tengah putaran.

Belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah Pak Supoyo, pendiri sekaligus pemilik Gerabah Arum Art.

Oh ya, yang membuat saya terkesan bukan hanya karena beliau mau turun langsung membimbing pengunjung, tetapi juga kesederhanaan dan keramahannya saat berbagi cerita. 

Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur.
Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Sambil sesekali membantu membentuk gerabah saya, beliau menceritakan bagaimana usaha ini dirintis dari skala kecil hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu sentra gerabah di kawasan Borobudur.

Beliau juga bercerita bahwa mempertahankan kualitas menjadi hal yang paling penting. 

Sebab, setiap gerabah yang dihasilkan membawa nama para perajin sekaligus budaya lokal yang sudah diwariskan secara turun-temurun. 

Mendengar cerita itu, saya semakin menghargai setiap proses panjang di balik sebuah karya gerabah yang selama ini mungkin sering saya anggap biasa saja.

Berkeliling Workshop Gerabah Arum Art

Selesai mencoba membuat gerabah, saya kembali diajak berkeliling ke area showroom. Jujur saja, rasanya seperti masuk ke dunia yang dipenuhi karya seni dari tanah liat. 

Hampir di setiap sudut ruangan terdapat berbagai gerabah dengan bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbeda-beda. 

Kalau diperhatikan satu per satu, jumlahnya bisa mencapai sekitar 200 jenis. Saya sampai bingung harus mulai melihat dari mana dulu.

Koleksi Gerabah yang Lucu dan Unik

Salah satu produk yang paling mencuri perhatian saya adalah miniatur stupa yang desainnya terinspirasi dari Candi Borobudur. 

Bentuknya simpel, tetapi detailnya sangat rapi sehingga cocok dijadikan dekorasi rumah maupun hadiah untuk keluarga dan teman.

Selain itu, ada juga berbagai vas bunga dengan desain modern, pot tanaman, lampu tidur bernuansa etnik, asbak, teko, mug, tempat lilin, hingga aneka hiasan meja yang estetik. 

Menariknya lagi, beberapa produk memadukan sentuhan tradisional dengan desain yang lebih kekinian sehingga cocok untuk berbagai konsep interior rumah.

Oh ya, saya sempat bertanya produk apa yang paling banyak diminati pengunjung. Ternyata vas bunga dan dekorasi rumah menjadi dua kategori yang paling laris. 

Alasannya sederhana, desainnya unik, mudah dipadukan dengan berbagai ruangan, dan memiliki kesan handmade yang membuat setiap produknya terasa lebih istimewa.

Saya juga memperhatikan proses finishing beberapa gerabah yang sedang dikerjakan para perajin. 

Mulai dari penghalusan permukaan, pewarnaan, hingga proses pembakaran dilakukan dengan teliti agar menghasilkan kualitas terbaik. 

Dari situ saya semakin paham kalau sebuah gerabah yang tampak sederhana ternyata melewati tahapan yang cukup panjang sebelum akhirnya dipajang di showroom.

Kalau saya sih, tempat seperti ini bukan sekadar toko kerajinan. 

Saya justru menganggapnya sebagai ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana kreativitas, budaya, dan kerja keras berpadu menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai seni.

Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat.
Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat (doc. Riana Dewie)


Belanja Oleh-Oleh Handmade

Rasanya kurang lengkap kalau sudah datang ke Gerabah Arum Art tetapi pulang dengan tangan kosong. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya saya memilih beberapa gerabah untuk dibawa pulang.

Pilihan saya jatuh pada sebuah vas bunga dengan desain minimalis, miniatur stupa khas Borobudur, serta lampu tidur yang menurut saya cantik banget saat dinyalakan. 

Warnanya hangat dan motifnya sederhana, sehingga cocok dijadikan dekorasi di rumah.

Yang paling spesial tentu saja bukan barang-barang yang saya beli, melainkan satu gerabah hasil karya saya sendiri. 

Meski bentuknya masih jauh dari sempurna, gerabah itu akhirnya sudah selesai diproses dan bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Oh ya, menurut saya justru di situlah letak keistimewaannya. Saya gak hanya membawa pulang oleh-oleh khas Borobudur, tetapi juga membawa pulang pengalaman yang saya buat dengan kedua tangan sendiri. 

Rasanya tentu berbeda dibanding membeli suvenir yang sudah jadi.

Di perjalanan pulang, saya beberapa kali membuka kotak berisi gerabah buatan saya. 

Bentuknya memang masih miring dan gak simetris, tetapi setiap melihatnya saya langsung teringat momen seru saat duduk di depan pottery wheel, tertawa bersama para pengunjung lain, hingga mendapatkan bimbingan langsung dari Pak Supoyo. 

Kenangan seperti itu rasanya sulit digantikan oleh apa pun.

Gerabah Miring Ini Justru Jadi Oleh-Oleh Paling Berkesan

Kalau dilihat-lihat lagi, gerabah buatan saya memang jauh dari kata sempurna. Bentuknya sedikit miring, ukurannya juga gak benar-benar simetris. 

Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu istimewa. Setiap lekukan yang kurang presisi menjadi pengingat bahwa saya pernah mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Saya jadi belajar bahwa sebuah hasil gak selalu harus sempurna untuk bisa memiliki nilai. Sama seperti hidup, setiap proses pasti memiliki tantangan. 

Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art
Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art (doc. Riana Dewie)


Kadang kita berhasil, kadang juga melenceng dari rencana. Namun selama terus belajar dan mau mencoba lagi, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Oh ya, pengalaman ini juga membuat saya semakin menghargai para pengrajin gerabah. Selama ini saya mungkin hanya melihat hasil akhirnya yang cantik dan rapi. 

Padahal, di balik setiap karya terdapat latihan, ketelatenan, kesabaran, bahkan pengalaman bertahun-tahun hingga akhirnya menghasilkan gerabah berkualitas.

Kalau saya sih, workshop seperti ini layak menjadi salah satu destinasi saat berkunjung ke kawasan Borobudur. 

Selain menikmati kemegahan candi, kita juga bisa mengenal budaya lokal melalui aktivitas yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan. 

Inilah salah satu bentuk wisata edukasi yang menurut saya cocok untuk semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Saya pun pulang dengan membawa lebih dari sekadar beberapa buah gerabah. 

Ada pengalaman baru, cerita seru, tawa bersama orang-orang yang baru saya kenal, hingga pelajaran hidup yang mungkin akan terus saya ingat.

***

Kapan-kapan saya ingin kembali lagi ke Gerabah Arum Art. Siapa tahu kesempatan berikutnya hasil gerabah saya bisa lebih bagus. Atau... jangan-jangan malah semakin miring? Hahahaha....

Ah, memang ya, selalu ada pelajaran hidup dari setiap perjalanan yang saya lakukan. 

Dan bagi saya, membuat gerabah di Borobudur bukan sekadar mencoba membentuk tanah liat, tetapi juga belajar bahwa sebuah proses selalu lebih berharga daripada sekadar mengejar hasil akhirnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Mengupas Sejarah Candi Pawon, Penghubung Borobudur dan Mendut

Candi Pawon di Magelang penghubung Borobudur dan Candi Mendut.

Candi Pawon menjadi salah satu destinasi yang paling membuat saya takjub saat menjelajahi kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. 

Jujur saja, sebelumnya saya lebih sering mendengar tentang megahnya Borobudur dibanding candi kecil yang satu ini. 

Sampai akhirnya, dalam perjalanan bersama teman-teman dari Sound of Borobudur menaiki VW warna-warni, saya mendapat kesempatan mengunjungi beberapa destinasi menarik di sekitarnya. 

Salah satunya adalah wisata Candi Pawon yang ternyata menyimpan cerita luar biasa. Hihihihi... kadang destinasi yang awalnya gak masuk daftar prioritas justru meninggalkan kesan paling dalam, ya.

Apa sih yang membuat candi ini begitu spesial? Benarkah sejarah Candi Pawon memiliki hubungan erat dengan Borobudur dan Candi Mendut? 

Lalu, apakah kisah yang tersimpan di balik bangunan kuno ini masih relevan dengan kehidupan kita sekarang? Yuk, ikuti cerita saya sampai selesai!

Candi Pawon, Candi Kecil dengan Cerita Besar

Pawon Luwak Coffee
Pawon Luwak Coffee (doc. Riana Dewie)

Saya ingat betul, sepulang dari menikmati secangkir kopi di Pawon Luwak Coffee, rombongan kami diajak menuju Candi Pawon yang lokasinya ternyata gak begitu jauh. 

Oh ya, kalau saya sih justru senang saat diajak mampir ke destinasi yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi, karena selalu ada cerita baru yang bisa dibawa pulang.

Saat itu suasananya terasa adem. Seingat saya, sebelumnya sempat turun hujan sehingga udara di sekitar candi terasa begitu sejuk. 

Pepohonan yang mengelilingi area candi membuat suasananya semakin nyaman, seolah mengajak setiap pengunjung untuk berjalan lebih pelan dan menikmati setiap sudutnya.

Selama ini banyak wisatawan langsung menuju Borobudur, padahal Candi Pawon sering kali terlewat begitu saja. 

Padahal ukurannya yang mungil sama sekali gak mengurangi nilai sejarah maupun pesonanya. 

Justru di balik bangunan sederhana inilah saya mulai menyadari bahwa sebuah warisan budaya gak selalu harus megah untuk mampu meninggalkan kesan yang mendalam. 

Dari sinilah rasa penasaran saya tentang sejarah Candi Pawon semakin besar.

Sejarah Candi Pawon, Penghubung Borobudur dan Mendut

Dibangun pada Masa Wangsa Syailendra

Suasana wisata Candi Pawon yang teduh di Magelang.
Suasana wisata Candi Pawon yang teduh di Magelang (doc. Riana Dewie)

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab setelah mendengarkan penjelasan dari salah satu pemandu yang berjaga di area candi. 

Ternyata, sejarah Candi Pawon diperkirakan bermula pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, saat Wangsa Syailendra berkuasa di Pulau Jawa. 

Dinasti ini dikenal sebagai pendukung berkembangnya ajaran Buddha Mahayana sekaligus membangun sejumlah candi Buddha yang kini menjadi warisan budaya Indonesia.

Oh ya, kalau diamati lebih dekat, arsitektur candi ini memang memiliki ciri khas yang berbeda. 

Meski ukurannya jauh lebih kecil dibanding Borobudur, detail ukiran pada dinding dan bentuk bangunannya menunjukkan kualitas pengerjaan yang sangat tinggi. 

Para ahli pun memperkirakan Candi Pawon dibangun pada masa Raja Indra atau Samaratungga, meski hingga kini belum ditemukan prasasti yang secara tegas menyebutkan waktu pembangunannya.

Mengapa Disebut Penghubung Borobudur dan Mendut?

Nah, bagian ini yang paling membuat saya penasaran. Kok bisa Candi Pawon disebut sebagai penghubung Borobudur dan Candi Mendut? 

Setelah mendengarkan penjelasan sang pemandu, saya baru memahami bahwa ketiga candi tersebut berada pada satu garis lurus yang membentang dari timur ke barat. 

Susunan ini diyakini bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari konsep spiritual yang telah dirancang sejak masa pembangunannya.

Dalam tradisi umat Buddha, jalur ini dipercaya menjadi rute prosesi menuju pencerahan. Perjalanan dimulai dari Candi Mendut, kemudian singgah di Candi Pawon, lalu berakhir di Borobudur. 

Hingga sekarang, rangkaian tersebut masih digunakan dalam prosesi Hari Raya Waisak. 

Karena itulah Candi Pawon memiliki peran penting sebagai bagian dari jalur Waisak, bukan sekadar bangunan pelengkap di antara dua candi besar.

Oh ya, saya sih langsung membayangkan perjalanan itu seperti proses kehidupan manusia. Sebelum mencapai tujuan yang besar, selalu ada tahap demi tahap yang perlu dilewati dengan sabar. 

Hahahaha... ternyata sebuah bangunan kuno saja bisa membuat saya merenung cukup lama tentang arti sebuah proses.

Keunikan Candi Pawon yang Menarik untuk Dijelajahi

1. Relief Kalpataru, Simbol Pohon Kehidupan

Semakin lama mengelilingi Candi Pawon, semakin banyak detail yang membuat saya berhenti sejenak. Salah satunya adalah relief Kalpataru yang dikenal sebagai simbol pohon kehidupan. 

Dalam ajaran Buddha, Kalpataru melambangkan kemakmuran, harapan, dan keseimbangan hidup. Gak heran kalau relief ini menjadi salah satu ornamen yang paling menarik perhatian para pengunjung.

Detail ukiran dinding Candi Pawon di kawasan Borobudur.
Detail ukiran dinding Candi Pawon di kawasan Borobudur (doc. Riana Dewie)
.

Oh ya, saya sih paling suka menikmati ukiran-ukiran seperti ini tanpa terburu-buru. Walaupun panitia travel sudah bilang klalau harus buru-buru agar tidak kemalaman ke destinasi berikutnya. hehehe.... 

Saya betah di sini karena bagi saya pribadi setiap relief seolah memiliki cerita yang menunggu untuk dipahami, bukan sekadar menjadi hiasan dinding candi.

2. Ukurannya Tidak Besar, tetapi Sarat Makna

Meski berukuran lebih kecil dibanding Borobudur maupun Candi Mendut, Candi Pawon tetap memancarkan pesona yang khas. 

Menurut saya, bentuk bangunannya tampak proporsional dengan atap bertingkat yang menyerupai stupa. Ornamen dan ukirannya pun dibuat begitu detail, memperlihatkan indahnya arsitektur candi pada masa itu. 

Justru karena ukurannya yang lebih mungil, saya bisa menikmati setiap sudut bangunan dengan lebih leluasa tanpa merasa terburu-buru.

Jam Kunjungan, Harga Tiket, dan Lokasi Candi Pawon

Lokasi Candi Pawon berada di Jalan Raya Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Letaknya hanya sekitar 1,5 kilometer dari Borobudur sehingga sangat mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi wisata.

Dari informasi yangs aya dengar dari penjaga, jam buka Candi Pawon umumnya mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB setiap hari. 

Sementara itu, harga tiket Candi Pawon biasanya sudah menjadi satu paket dengan tiket kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, sehingga sebaiknya cek kembali informasi terbaru sebelum berkunjung karena kebijakan tiket dapat berubah sewaktu-waktu.

Jam Kunjung Candi Pawon
Jam Kunjung Candi Pawon (doc. Riana Dewie)

Oh ya, kalau ingin menikmati suasana yang lebih nyaman, saya sih menyarankan datang pada pagi atau sore hari. Selain udaranya lebih sejuk, cahaya matahari juga lebih bersahabat untuk berfoto. 

Sebisa mungkin hindari waktu menjelang tengah hari karena cuacanya bisa terasa cukup terik, apalagi saat musim kemarau. Pokoknya jangan lupa pakai sunscreen & topi deh, biar kamu tetap aman. Hihihi... 

Alasan Mengapa Candi Pawon Layak Masuk Bucket List Wisata

Kalau ditanya kenapa wisata Candi Pawon layak dikunjungi, jawaban saya cukup sederhana. 

Lokasinya sangat dekat dengan Borobudur, suasananya lebih tenang, kaya nilai sejarah, sekaligus menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual umat Buddha. 

Ditambah lagi, area candinya cukup asri sehingga cocok untuk menikmati wisata budaya sambil mencari suasana yang lebih rileks.

Saat berada di sana, saya sampai memutari hampir setiap sisi candi. Saya benar-benar kepo, apa sih yang membedakan Candi Pawon dengan candi-candi lain di kawasan Borobudur? 

Ternyata jawabannya bukan semata-mata karena bentuk bangunannya, melainkan karena fungsinya dalam satu kesatuan dengan Candi Mendut dan Borobudur. 

Candi ini diyakini menjadi tempat persinggahan dalam prosesi keagamaan sekaligus simbol tahapan sebelum mencapai tujuan akhir. 

Menurut saya, justru peran itulah yang membuat Candi Pawon terasa begitu istimewa.

Filosofi Kehidupan yang Bisa Dipetik dari Sejarah Candi Pawon

Ada banyak pelajaran yang saya bawa pulang setelah mengunjungi tempat ini. Yang pertama, saya belajar bahwa sesuatu yang ukurannya kecil bukan berarti perannya kecil. 

Candi Pawon membuktikan bahwa setiap bagian memiliki arti dalam sebuah perjalanan besar.

Oh ya, saya juga jadi teringat bahwa hidup sering kali membuat kita terlalu fokus pada tujuan akhir, padahal proses adalah bagian yang sama pentingnya. 

Sama seperti perjalanan dari Candi Mendut menuju Candi Pawon lalu berakhir di Borobudur, setiap langkah memiliki makna yang gak bisa dilewati begitu saja.

Pelajaran berikutnya adalah tentang fondasi. Meski telah berdiri lebih dari seribu tahun, bangunan ini tetap kokoh dan terus dijaga. Keren banget ya? 

Menurut saya sih, ini menjadi pengingat bahwa kehidupan yang dibangun di atas nilai, karakter, dan ketekunan akan lebih mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.

Menikmati keindahan jalan area Borobudur dengan VW
Menikmati keindahan jalan area Borobudur dengan VW (doc. Riana Dewie)

Terakhir, saya justru menemukan makna dari suasana yang tenang. Di tengah aktivitas yang serba cepat, sesekali kita memang perlu berhenti, menikmati keheningan, lalu mendengarkan isi hati sendiri.

Dan berwisata heritage di kawasan Candi Borobudur ini menurut saya adalah keputusan yang tepat untuk menenangkan diri :)

***

Pada akhirnya, Candi Pawon bukan hanya tentang bangunan kuno yang berdiri di Kabupaten Magelang. 

Lebih dari itu, candi ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu terdiri dari langkah-langkah kecil yang saling melengkapi. 

Mungkin itulah alasan mengapa Candi Pawon tetap memiliki tempat istimewa di antara Borobudur dan Candi Mendut hingga sekarang. 

Dan bagi saya, pengalaman singkat berkunjung ke sana justru meninggalkan refleksi yang akan saya ingat dalam waktu lama, yaitu tentang  menikmati proses dan fondasi hidup yang harus dikuatkan dari waktu ke waktu. 

Jadi, kapan kamu mampir ke sini juga? 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Review Joffi Ramen Pakualaman, Ramen Halal dengan Bangunan Vintage Nyaman

Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan heritage bergaya vintage di Jalan Sultan Agung Yogyakarta

Kalau kamu sedang mencari ramen enak di Jogja dengan suasana yang beda dari kebanyakan restoran, Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar kunjunganmu. 

Saya sendiri sudah tiga kali datang ke sini. Pertama bersama teman-teman blogger yang memang hobi berburu kuliner, kedua saat meeting santai dengan teman, lalu yang terakhir datang bersama keluarga. 

Menariknya, datang di hari dan jam yang berbeda ternyata cukup berpengaruh terhadap jumlah pengunjung. Kalau saya sih, justru paling menikmati suasana saat weekday karena terasa lebih santai. 

Satu hal yang langsung membuat saya jatuh hati adalah bangunannya. Beneran, saya memang termasuk penikmat bangunan tua, rumah bergaya kolonial, sampai dekorasi vintage yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Jadi, baca review ini sampai selesai ya. Siapa tahu bisa jadi referensi buat kamu yang sedang mencari ramen halal Jogja dengan harga ramah di kantong.

Lokasi Joffi Ramen Pakualaman

Joffi Ramen Pakualaman beralamat di Jalan Sultan Agung No. 69, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis karena berada di kawasan yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. 

Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa menit berkendara, begitu juga jika datang dari kawasan Malioboro.

Buat yang belum pernah ke sini, patokannya juga cukup mudah. Restoran ini berada di Jalan Sultan Agung, masih satu jalur menuju kawasan Pakualaman. 

Lokasinya berada dekat Pura Pakualaman, berseberangan dengan Pasar Sentul, dan hanya beberapa langkah dari Toko Intisari Sultan Agung. 

Jadi, meski baru pertama kali datang, kamu gak akan kesulitan menemukannya.

Area sekitarnya juga cukup nyaman karena dipenuhi berbagai bangunan lama yang masih terawat. 

Nuansa kuliner Pakualaman memang terasa berbeda dibanding kawasan lain di Jogja. 

Di sini kamu bisa menemukan perpaduan antara bangunan bersejarah, tempat makan kekinian, hingga deretan usaha lokal yang sudah berdiri sejak lama.

Restoran ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.  

Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman
Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman (doc. Riana Dewie)


Berdasarkan pengalaman saya, suasana pada malam hari saat weekday memang cukup ramai, tetapi bangkunya masih banyak yang kosong sehingga tetap nyaman untuk ngobrol. 

Sementara saat Minggu siang, pengunjungnya jauh lebih padat. Banyak keluarga, mahasiswa, anak sekolah, hingga pasangan yang datang untuk makan bersama. 

Oh ya, kalau ingin suasana lebih tenang untuk ngobrol atau bekerja ringan, saya menyarankan datang sebelum jam makan siang atau setelah pukul dua siang.

Dengan rating sekitar 4,7 dari 5, gak heran kalau Joffi Ramen Sultan Agung menjadi salah satu rekomendasi tempat makan Jepang Jogja yang cukup populer. 

Selain lokasinya strategis, akses menuju restoran ini juga mudah, area parkirnya lega, dan cocok dijadikan tempat singgah setelah berkeliling kawasan Pakualaman.

Bangunan Heritage yang Langsung Mencuri Perhatian

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai dari Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya justru bukan makanannya terlebih dahulu, melainkan bangunannya.

Ya, nuansa bangunan heritage di sini benar-benar terasa begitu kuat. Restoran ini menempati sebuah rumah bergaya kolonial yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Perpaduan interior vintage dengan sentuhan industrial juga berhasil menciptakan suasana yang hangat sekaligus modern. Menurut saya, konsep seperti ini justru membuat restoran terasa lebih hidup.

Detail bangunan yang membuat betah

Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta
Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Ada beberapa detail yang menurut saya menjadi daya tarik utama restoran ini.
- Fasad klasik dengan nuansa heritage yang masih dipertahankan.
- Pintu dan jendela kayu berukuran besar khas rumah kolonial.
- Langit-langit tinggi sehingga ruangan terasa lega.
- Perpaduan dekorasi klasik dan elemen industrial yang selaras.
- Area duduk indoor maupun outdoor yang sama-sama nyaman.
- Banyak sudut dengan pencahayaan alami yang cantik untuk berfoto.
- Cocok dijadikan tempat nongkrong, meeting santai, hingga work from café ringan.

Kalau saya sih, restoran yang punya karakter seperti ini selalu meninggalkan kesan lebih mendalam dibanding tempat makan dengan desain yang seragam. 

Rasanya seperti sedang menikmati semangkuk ramen di sebuah rumah tua yang disulap menjadi restoran modern tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Oh ya, buat kamu yang suka berburu foto, jangan buru-buru langsung memesan makanan. Luangkan waktu sebentar untuk menikmati setiap sudut bangunannya. 

Percaya deh, hampir setiap sisi restoran ini punya daya tarik tersendiri dan terasa begitu fotogenik.

Menu Joffi Ramen dan Kisaran Harga

Selain konsep bangunannya yang menarik, alasan saya kembali lagi ke Joffi Ramen Pakualaman tentu karena pilihan menunya cukup beragam. 

Menariknya lagi, harga yang ditawarkan juga masih ramah di kantong. 

Jadi, menurut saya restoran ini cocok untuk mahasiswa, pekerja kantoran, sampai keluarga yang ingin menikmati ramen murah Jogja tanpa harus menguras dompet.

Joffi mengusung konsep 100% ramen halal Jogja, sehingga seluruh menunya menggunakan bahan yang halal. 

Kuahnya memakai kaldu ayam maupun sapi, bukan tonkotsu, sehingga lebih mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia.

Pilihan Joffi Ramen menu juga cukup lengkap. Mulai dari ramen berkuah, ramen tanpa kuah, aneka camilan, rice box, sampai dessert tersedia di sini.

Pilihan menu favorit di Joffi Ramen

Kalau masih bingung mau pesan apa, berikut beberapa menu yang cukup populer.

  • 🍜 Ramen Mala

  • 🍜 Ramen Miso

  • 🍜 Shoyu Ramen

  • 🍜 Curry Ramen

  • 🍜 Dry Ramen

  • 🍗 Chicken Rice Box

  • 🥟 Dimsum Platter

  • 🍤 Agemono

  • 🍰 Japanese Cheesecake

  • 🥤 Aneka kopi, teh, serta minuman segar

Selain menu utama, saya juga suka karena pilihan camilannya lumayan banyak. Jadi kalau datang untuk nongkrong sore sambil ngobrol panjang, tetap ada banyak pilihan selain ramen.

Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial
Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial dipadukan dengan vibes Jepang (doc. Riana Dewie)


Kisaran harga Joffi Ramen

Kalau bicara soal harga Joffi Ramen, menurut saya masih tergolong bersahabat. Bahkan beberapa menu dibanderol mulai belasan ribu rupiah.

MenuKisaran Harga
Original RamenRp13.900–Rp18.000
Signature RamenRp20.000–Rp30.000
DimsumRp10.000–Rp20.000
AgemonoRp12.000–Rp22.000
Chicken Rice BoxRp20.000–Rp30.000
Japanese CheesecakeMulai Rp9.500
MinumanRp5.000–Rp18.000

Melihat harga tersebut, saya rasa restoran ini memang cukup ramah untuk berbagai kalangan. 

Mau datang sendirian, bersama pasangan, teman kantor, maupun keluarga tetap terasa nyaman. Tinggal menyesuaikan saja dengan budget yang dimiliki.

Review Rasa Menu yang Dicoba

Karena sudah tiga kali datang, saya akhirnya punya kesempatan mencoba beberapa menu yang berbeda. Menurut saya, masing-masing punya karakter rasa sendiri sehingga gak terasa membosankan.

Kunjungan pertama: Curry Ramen yang ringan di lidah

Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Saat pertama kali datang bersama teman-teman blogger, saya memesan Curry Ramen. Waktu itu saya sengaja memilih menu yang aman karena baru pertama kali mencoba ramen di sini.

Kuah karinya cukup ringan, gurih, dan punya tekstur yang creamy tanpa terasa berlebihan. Aroma rempahnya juga masih bersahabat sehingga tetap cocok untuk lidah Indonesia.

Sebagai pelengkap, saya memesan Corn Ribs. Dari dulu saya memang penggemar camilan satu ini. Jagung manis yang dipotong memanjang lalu dibumbui gurih memang selalu berhasil jadi teman makan yang menyenangkan. 

Kalau saya sih, Corn Ribs di Joffi termasuk salah satu side dish yang layak dicoba.

Kunjungan kedua: Ramen Mala yang bikin nagih

Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Kunjungan berikutnya terasa lebih seru karena saya memutuskan mencoba Ramen Mala.

Sejujurnya, saya memang gampang tergoda melihat kuah merah yang menggoda selera. Sebagai penyuka makanan pedas, menu ini langsung menarik perhatian saya sejak pertama membuka daftar menu.

Dan ternyata pilihan saya gak salah.

Rasa pedasnya cukup terasa, tetapi masih nyaman dinikmati. Sensasi mala yang khas juga muncul tanpa membuat lidah terasa mati rasa berlebihan. 

Bahkan saya menikmati semangkuk ramen ini tanpa perlu menambahkan chilli oil lagi karena menurut saya tingkat kepedasannya sudah pas.

Oh ya, buat kamu yang suka pedas, menu ini wajib masuk daftar pesanan. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang menyebut Joffi sebagai ramen viral Jogja.

Kunjungan ketiga: Dry Ramen yang berbeda

Nah, saat datang bersama keluarga, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Dry Ramen Katsu.

Berbeda dengan ramen berkuah, menu ini disajikan tanpa kuah sehingga cita rasanya lebih fokus pada bumbu yang melapisi mie. 

Tekstur mie kenyal berpadu dengan potongan chicken katsu yang renyah di luar namun tetap lembut di dalam.

Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)


Menu ini cocok buat kamu yang kurang suka makanan berkuah atau ingin mencoba sensasi ramen dengan karakter rasa yang berbeda.

Secara keseluruhan, menurut saya karakter rasa ramen di Joffi memang dibuat lebih ramah untuk lidah Indonesia. Kuahnya gurih, creamy, porsinya mengenyangkan, dan tetap terasa ringan dinikmati.

Mungkin bagi pencinta ramen Jepang yang autentik akan menemukan perbedaan dibanding ramen berbasis tonkotsu. Namun justru di situlah kelebihan Joffi. 

Konsep restoran Jepang Jogja ini berhasil menghadirkan cita rasa yang familiar tanpa kehilangan identitas sebagai restoran ramen.

Spot Instagramable Favorit

Kalau ada satu hal lagi yang membuat saya berkali-kali kembali ke Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya adalah banyaknya sudut yang cantik untuk difoto. 

Bukan sekadar tempat instagramable, tetapi setiap sudutnya terasa punya karakter. 

Buat saya yang memang menyukai bangunan lawas dan suasana klasik, rasanya ingin berhenti di hampir setiap sudut untuk mengambil gambar.

Sudut favorit yang wajib kamu abadikan

Beberapa spot yang paling saya sukai antara lain:

  • Teras depan rumah heritage dengan fasad klasik yang ikonik.

  • Pintu kayu berukuran besar yang memberi kesan elegan.

  • Area indoor dengan pencahayaan hangat dan interior vintage yang nyaman.

  • Jendela besar bergaya kolonial yang membuat foto terlihat lebih estetik.

  • Area outdoor belakang yang menurut saya gak kalah menarik. Ada sepeda klasik, ornamen khas Jepang, tanaman hijau, serta bangunan bergaya Jepang yang membuat suasananya terasa berbeda.

  • Semangkuk ramen dengan latar bangunan heritage. Percaya deh, hasil fotonya langsung terlihat lebih menarik tanpa perlu banyak edit.

Kalau saya sih, area outdoor belakang menjadi spot favorit. Suasananya lebih tenang dan punya kombinasi unsur Jepang serta bangunan heritage yang unik. 

Area outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetikArea outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetik (doc. Riana Dewie)


Cocok buat kamu yang suka membuat konten kuliner maupun travel.

Oh ya, usahakan datang saat pagi menjelang siang atau sore hari kalau ingin mendapatkan pencahayaan alami yang cantik. Hasil fotonya biasanya jauh lebih maksimal dibanding malam hari.

Fasilitas dan Suasana

Selain makanan dan desain bangunannya, fasilitas yang tersedia juga membuat saya merasa nyaman berlama-lama di sini.

Beberapa fasilitas yang bisa kamu nikmati antara lain:

  • Area parkir yang cukup luas untuk mobil maupun motor.

  • Pilihan tempat duduk indoor dan outdoor.

  • Kapasitas bangku yang banyak sehingga cocok untuk rombongan.

  • Suasana cozy untuk ngobrol santai.

  • Cocok dijadikan tempat meeting informal.

  • Nyaman untuk work from café ringan.

  • Pelayanan yang ramah dan cepat.

  • Proses penyajian makanan relatif gak terlalu lama.

  • Pilihan menu sangat beragam.

  • Harga makanan mulai sekitar Rp9 ribuan sehingga bisa disesuaikan dengan budget.

  • Toilet yang bersih.

  • Musala untuk pengunjung.

  • Pembayaran non-tunai tersedia.

  • Lokasi mudah dijangkau dari pusat Kota Yogyakarta.

Yang saya perhatikan selama tiga kali berkunjung, suasananya memang berbeda tergantung waktu datang.

Saat saya datang pada malam hari di weekday, restoran cukup ramai, tetapi belum sampai penuh. Saya masih bebas memilih tempat duduk dan suasananya terasa lebih santai.

Sebaliknya, saat datang pada Minggu siang bersama keluarga, kondisinya jauh lebih ramai. 

Banyak keluarga yang makan bersama, anak-anak sekolah yang sedang janjian, pasangan muda, hingga rombongan teman. Menurut saya ini wajar karena bertepatan dengan hari libur dan jam makan siang.

Worth It atau Tidak?

Kalau ditanya apakah Joffi Ramen Pakualaman layak dikunjungi, jawaban saya tentu worth it.

Alasannya bukan hanya karena makanannya enak. Saya justru melihat restoran ini menawarkan paket yang lengkap.

Pertama, pilihan menu sangat beragam sehingga pengunjung punya banyak opsi.

Kedua, harga makanannya masih bersahabat sehingga cocok untuk berbagai kalangan.

Ketiga, konsep bangunan heritage yang dipadukan dengan sentuhan Jepang membuat pengalaman makan terasa berbeda dibanding restoran ramen lainnya.

Keempat, lokasinya strategis di kawasan Pakualaman sehingga mudah dijangkau.

Terakhir, suasananya nyaman untuk berbagai aktivitas. Mau datang bersama keluarga, teman, pasangan, bahkan sendirian pun tetap terasa menyenangkan.

FAQ

Apakah Joffi Ramen Pakualaman halal?

Ya. Joffi mengusung konsep 100% halal, sehingga cocok bagi pengunjung yang mencari ramen halal di Jogja.

Berapa harga Joffi Ramen?

Harga menu cukup terjangkau, mulai sekitar Rp13 ribuan untuk ramen original, sedangkan menu lain berkisar Rp20–30 ribuan. Side dish dan dessert bahkan tersedia mulai sekitar Rp9 ribuan.

Apakah cocok untuk work from café?

Cocok. Suasananya nyaman, tempat duduk cukup banyak, dan relatif tenang jika datang di luar jam makan siang.

Menu apa yang paling saya rekomendasikan?

Kalau suka pedas, saya merekomendasikan 

Ramen Mala. Sementara bagi yang ingin rasa lebih ringan, Curry Ramen juga layak dicoba.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung?

Kalau ingin suasana lebih santai, datanglah pada weekday di luar jam makan siang. Namun kalau ingin merasakan suasana yang lebih hidup, akhir pekan bisa menjadi pilihan.

Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang
Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang (doc. Riana Dewie)


Lebih dari Semangkuk Ramen

Menurut saya, Joffi Ramen Pakualaman berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati semangkuk ramen. 

Konsep ramen halal Jogja dipadukan dengan bangunan heritage, dekorasi klasik, dan suasana yang nyaman membuat restoran ini punya karakter yang sulit dilupakan.

Jadi, kalau sedang mencari tempat makan Jepang Jogja, tempat nongkrong Pakualaman, atau sekadar ingin menikmati review ramen Jogja yang benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi, saya rasa Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar tujuanmu.

Selamat menikmati semangkuk ramen hangat sambil merasakan suasana heritage yang khas. Siapa tahu, setelah sekali datang, kamu juga akan ingin kembali lagi seperti saya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments