Setelah berjalan melewati beberapa sudut bersejarah dalam Walking Tour, akhirnya perjalanan kami sampai di Patehan.
Menariknya, pemberhentian terakhir ini bukan berupa bangunan yang harus kami amati atau cerita sejarah yang harus kami simak, melainkan sebuah jamuan teh.
Saat hendak masuk ke kawasan Patehan, kami sudah disambut alunan gamelan. Rasanya seperti tamu kerajaan yang hendak mampir ke sebuah tempat penting.
Nuansanya benar-benar membawa saya ke suasana Jawa zaman dulu.
Tahu gak, sebagai orang Jogja, alunan gamelan itu sekilas mengingatkan saya pada musik yang biasa terdengar saat pertemuan dua calon mempelai dalam adat pernikahan Jawa.
Ada rasa syahdu yang langsung membuat suasana berubah.
Di tempat ini, kami kemudian duduk dan menikmati teh khas keraton. Namun, ternyata kegiatan sederhana seperti minum teh bisa menjadi pengalaman wisata budaya yang cukup berkesan.
Bukan cuma soal rasa tehnya, tetapi juga bagaimana teh tersebut disajikan dan bagaimana seorang tamu seharusnya menerimanya.
Sampai di Patehan, Walking Tour Ditutup dengan Secangkir Teh
Patehan Yogyakarta memiliki suasana yang menurut saya berbeda dari beberapa titik yang kami lewati sebelumnya.
Tempatnya adem dan tenang. Begitu masuk, saya langsung membayangkan seperti berada di bagian depan keraton atau sebuah bangsal dengan suasana Jawa yang kental.
Arsitekturnya pun mendukung kesan tersebut. Interior dan perabot yang digunakan mayoritas bernuansa Jawa, dengan material kayu yang membuat suasana terasa hangat.
Ditambah alunan musik Jawa yang terdengar di sekitar area, pengalaman Walking Tour Patehan ini terasa seperti membawa kami mundur sejenak ke masa lalu.
Oh ya, pemberhentian ini sebenarnya menjadi penutup yang cukup manis setelah kami melintasi beberapa lokasi menarik, mulai dari Ndalem Mangkubumen, Pasar Ngasem, hingga Kampung Wisata Taman Sari.
Setelah cukup banyak berjalan kaki, akhirnya kami bisa "beristirahat" sambil menyeruput teh khas keraton. Saya sih langsung merasa suasananya berubah.
Dari yang sebelumnya aktif berpindah tempat dan mendengarkan cerita, kini kami duduk tenang sebagai tamu yang siap menerima jamuan.
Sebelum proses penyajian teh dimulai, pihak Patehan memberikan edukasi mengenai tahapan penyajiannya.
Nah, dari sinilah saya baru menyadari bahwa kegiatan ngeteh tradisional di Patehan ternyata punya aturan dan tata krama tersendiri.
Dari Berjalan Kaki, Lalu Duduk Menikmati Jamuan
Yang menarik perhatian saya pertama kali justru bukan tehnya, tetapi cara para Abdi Dalem membawa dan menyajikan jamuan.
Mereka berjalan dengan posisi jongkok ketika menuju meja tamu. Baik Abdi Dalem perempuan maupun laki-laki melakukan prosesi tersebut dengan sikap tenang dan penuh perhatian.
Sesampainya di meja, Abdi Dalem perempuan kemudian menuangkan air teh dari teko ke dalam gelas. Setelah itu, teh diberikan kepada tamu menggunakan tangan kanan sambil tersenyum.
Saya sempat memperhatikan gerakan tersebut cukup lama. Rasanya sederhana, tetapi ada kesan hormat yang begitu kuat.
Cara Menerima Teh yang Mengajarkan Tata Krama Jawa
Bagian paling menarik dari pengalaman ngeteh di Patehan adalah ketika kami diajarkan cara menerima teh.
Teh diberikan menggunakan tangan kanan. Saat menerimanya, posisi tubuh sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang memberikan jamuan.
Tahu gak, gerakan kecil seperti membungkukkan badan ternyata bisa menjadi bahasa tersendiri dalam budaya Jawa.
Kita gak perlu mengucapkan kalimat panjang untuk menunjukkan rasa hormat. Sikap tubuh pun bisa menyampaikan pesan yang sama.
Inilah salah satu hal yang membuat budaya Jawa menarik. Tata krama atau unggah-ungguh gak hanya terlihat dari pilihan kata ketika berbicara, tetapi juga dari cara seseorang bersikap kepada orang lain.
Kenapa Harus Menggunakan Tangan Kanan?
Dalam jamuan yang saya ikuti, penggunaan tangan kanan menjadi bagian dari tata cara menerima teh. Tangan kanan digunakan untuk menerima pemberian sebagai bentuk sopan santun kepada orang yang menyajikannya.
Saya sih jadi teringat kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang sebenarnya sudah kita lakukan secara spontan, tetapi jarang kita berhenti sebentar untuk memahami nilai di baliknya.
Cara menerima teh tersebut juga mengajarkan bahwa menjadi tamu bukan sekadar datang, duduk, lalu menikmati hidangan.
Ada etika bertamu yang perlu diperhatikan, terutama ketika kita berada di lingkungan yang menjunjung tradisi.
Sedikit Membungkuk, Sederhana tapi Penuh Makna
Selain tangan kanan, posisi tubuh juga menjadi bagian penting. Setelah memberikan teh, Abdi Dalem kemudian meninggalkan meja dengan berjalan jongkok mundur.
Setelah cukup jauh dari tamu, barulah mereka berbalik dan berjalan seperti biasa.
Oh ya, bagian ini menurut saya justru sangat menarik. Gerakannya memang pelan dan sederhana, tetapi menunjukkan sikap hormat yang konsisten dari awal sampai akhir proses penyajian.
Cara tersebut memperlihatkan bagaimana sopan santun dalam budaya Jawa bisa diwujudkan melalui gestur. Bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi bagian dari cara menghargai tuan rumah maupun tamu.
Bukan Sekadar Minum Teh, tetapi Belajar Menjadi Tamu
Patehan bukan hanya menawarkan pengalaman minum teh. Dari jamuan ini, saya justru belajar kembali tentang budaya menjamu tamu.
Tahu gak, dalam tradisi Jawa, keramahan sering kali hadir melalui hal-hal sederhana. Menyediakan minuman, menyambut tamu dengan sikap hormat, kemudian memberikan jamuan dengan penuh perhatian bisa menjadi bentuk penghargaan yang terasa hangat.
Dan tentu saja, kami gak hanya mendapatkan teh.
Ada makanan khas berupa apem yang rasanya legit dan manis. Ukurannya juga cukup jumbo dibandingkan apem yang biasa saya temui.
Yang paling menyenangkan, apem tersebut disajikan dalam kondisi masih hangat, seperti fresh from the oven.
Begitu mencicipinya, saya langsung lahap. Hihihihi.... Mungkin karena setelah cukup lama berjalan kaki, makanan hangat memang terasa semakin nikmat.
Bagi saya, jamuan seperti ini membuat suasana menjadi lebih akrab. Kami bukan sekadar peserta Walking Tour yang datang untuk melihat-lihat, tetapi benar-benar ditempatkan sebagai tamu yang dihormati.
Tradisi Menjamu Tamu yang Terasa Hangat
Patehan sendiri berkaitan dengan tradisi penyajian teh di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Tradisi tersebut dilakukan oleh Abdi Dalem dan secara turun-temurun menjadi bagian dari budaya keraton. Dalam sejarahnya, Patehan berkaitan dengan penyajian minuman teh untuk keluarga raja.
Prosesi penyajian juga memiliki perangkat khusus yang disebut Rampadan, berupa seperangkat perlengkapan untuk menyajikan teh seperti teko, cangkir, cawan, dan sendok. Ada aturan mengenai penataan serta urutan penyajiannya.
Tahu gak, menurut informasi yang diberikan dalam materi Patehan, tradisi ini pada masa lalu bahkan dilakukan sebagai bagian dari rutinitas keraton.
Seiring perubahan zaman, pelaksanaannya pun mengalami perubahan dan kini lebih banyak hadir dalam momen tertentu serta dikemas sebagai pengalaman wisata budaya.
Ketika Budaya Gak Cuma Dilihat, tapi Dialami
Sebelum sampai Patehan, kami sudah melihat bangunan, kampung, dan berbagai cerita tentang sejarah Yogyakarta. Namun, di tempat ini kami mendapatkan pengalaman yang berbeda.
Kami gak hanya melihat tradisi Jawa dari jauh. Kami ikut duduk, menerima teh, mencicipi apem, dan belajar bagaimana bersikap sebagai tamu.
Itulah yang membuat wisata budaya Patehan terasa lebih hidup. Budaya gak selalu harus ditemukan dalam benda kuno atau bangunan bersejarah.
Kadang, budaya hadir melalui sebuah gestur kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran.
Secangkir Teh yang Menjadi Penutup Walking Tour
Buat saya, ngeteh di Patehan Yogyakarta menjadi penutup yang pas untuk perjalanan Walking Tour Keraton Yogyakarta kali ini.
Dari Ndalem Mangkubumen, kami mendapatkan cerita tentang ruang dan kehidupan keluarga kerajaan. Di Pasar Ngasem, kami melihat bagaimana sebuah kawasan berubah mengikuti zaman.
Di Kampung Wisata Taman Sari, kami menemukan sisi lain kehidupan masyarakat di kawasan Njeron Benteng.
Kemudian semuanya ditutup dengan secangkir teh.
Sederhana memang. Tapi justru dari hal sederhana itu saya mendapatkan pelajaran tentang tata krama menerima teh, unggah-ungguh Jawa, sopan santun, dan budaya menjamu tamu.
Saya sih merasa pengalaman seperti ini yang membuat wisata budaya Yogyakarta terasa berbeda. Kita datang sebagai wisatawan, tetapi pulang membawa pengalaman yang bisa diceritakan kembali.
Oh ya, mungkin setelah membaca artikel ini kamu akan lebih memperhatikan cara seseorang memberikan atau menerima secangkir teh.
Sebab di balik gerakan tangan kanan dan sedikit membungkukkan badan, ada nilai penghormatan yang sudah lama menjadi bagian dari budaya Jawa.
***
Secangkir teh mungkin habis dalam beberapa tegukan. Tetapi cara teh itu diberikan dan diterima justru meninggalkan cerita yang lebih panjang.
Terimakasih untuk komunitas Sumbu Filosofi dan tim dari Kampung Wisata Taman Sari yogyakarta yang telah mengajak saya jalan-jalan di tempat yang bersejarah ini. Memberi pengalaman asyik & tentunya menambah wawasan saya tentang cerita kerajaan di masa lalu.
Jadi, saat berkunjung ke Jogja, jangan cuma mengejar tempat foto. Sesekali cobalah mencari pengalaman wisata budaya yang membuat kita bisa berinteraksi langsung dengan tradisi masyarakat.
Karena terkadang, kita justru paling mudah memahami budaya ketika duduk di dalamnya, menjadi tamu, lalu menikmati jamuan dengan penuh rasa hormat.









.png)