In Personal Notes

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace: Belajar Kitab Suci

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace

Aktivitas saya belakangan ini cukup padat dengan kerjaan. Rasanya waktu untuk sekadar refreshing atau healing jadi makin tipis. 

Tahu gak, sebenarnya saya sudah cukup lama gak punya agenda nonton yang benar-benar santai tanpa memikirkan pekerjaan.

Tanggal 24 September 2026 kemarin, saya baru saja sampai Jogja setelah perjalanan pulang dari Jakarta. 

Sebelumnya saya mengantar teman-teman atlet senam mengikuti Lomba Senam Perwosi 2026. Sampai Jogja dini hari, saya memilih istirahat seharian karena badan memang butuh diajak kompromi.

Hari sebelumnya, dua teman tiba-tiba mengajak saya nonton. Saya bahkan gak tahu sinopsisnya, belum melihat trailernya, dan gak punya ekspektasi apa-apa. Saya langsung bilang, “OK.” Saya pikir, sekalian refreshing lah.

Akhirnya di Kamis Sore itu saya bergegas ke XXI Jogja City Mall. Seperti biasa, saya telat sekitar lima menit dan dua teman saya sudah duduk manis di kursi deretan B. Hahaha.

Ternyata film yang kami tonton adalah Film Daniel and the Fiery Furnace. Awalnya saya mengira ini hanya akan menjadi tontonan film rohani biasa. Eh, setelah selesai menonton, saya malah jadi penasaran lagi dengan kisah Nabi Daniel.

Tahu gak, salah satu hal yang saya rasakan justru sederhana: membaca Kitab Suci kadang membuat saya harus membayangkan sendiri bagaimana suasana, tokoh, tempat, sampai konflik yang sedang terjadi. Lewat film, semuanya terasa lebih hidup.

Film Daniel and the Fiery Furnace Bercerita tentang Apa?

Poster Film Daniel and the Fiery Furnace
Poster Film Daniel and the Fiery Furnace (20thecountdown.com)

Jadi, film Daniel and the Fiery Furnace tentang apa? Film ini merupakan drama Alkitab berlatar pembuangan bangsa Yahudi ke Babilonia. 

Daniel diperankan Mena Massoud, sementara Raja Nebukadnezar diperankan Elijah Alexander. Ceritanya membawa penonton mengikuti perjalanan Daniel dan teman-temannya ketika mereka harus mempertahankan iman di tengah kekuasaan kerajaan Babilonia.

Daniel digambarkan sebagai sosok yang tetap memegang keyakinannya kepada Tuhan meskipun berada di lingkungan yang berbeda. 

Film kemudian membawa kita pada konflik ketika Raja Nebukadnezar mengeluarkan perintah penyembahan terhadap patung emas. 

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk gak tunduk pada perintah tersebut dan akhirnya menghadapi hukuman dilempar ke dalam tungku api.

Kalau ada yang bertanya Daniel and the Fiery Furnace bercerita tentang apa, jawaban sederhananya adalah tentang iman, keberanian, kesetiaan, dan pilihan untuk tetap berpegang kepada Tuhan ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace
Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace (doc. Riana Dewie)


Film tentang Nabi Daniel ini juga menarik karena gak hanya berhenti pada satu peristiwa. Perjalanan Daniel sebagai seorang pemuda Yahudi di Babilonia ikut menjadi bagian penting dari cerita.

Oh ya, ada juga tokoh Yeremia yang menjadi salah satu highlight dalam film. Roberto Zenca memerankan Jeremiah, dan situs resmi film bahkan menyebut perjalanan Daniel dan Jeremiah sebagai bagian dari materi pendalaman cerita. 

Jadi, karakter Jeremiah dalam film ini ikut memberi warna pada perjalanan Daniel dalam memperjuangkan imannya.

Buat saya, kehadiran karakter-karakter tersebut membuat kisah yang sebelumnya hanya saya kenal sebagai cerita Alkitab terasa lebih punya wajah.

Nabi Daniel dan Iman yang Gak Gampang Goyah

Bagian yang paling mudah ditangkap dari kisah Nabi Daniel dalam film adalah soal kesetiaan kepada Tuhan.

Daniel berada di tempat asing. Ia hidup di tengah budaya dan kekuasaan yang berbeda dengan keyakinannya. Namun, keadaan tersebut gak membuatnya begitu saja meninggalkan iman kepada Tuhan.

Nabi Daniel mempertahankan iman kepada Tuhan
Nabi Daniel mempertahankan iman kepada Tuhan (IG @menamassoud)


Berani Mempertahankan Iman

Salah satu pelajaran dari kisah Nabi Daniel adalah keberanian mempertahankan iman ketika ada tekanan. 

Dalam cerita tentang tungku api, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak menyembah patung emas yang dibuat Raja Nebukadnezar. Mereka memilih tetap setia kepada Tuhan meskipun konsekuensinya sangat berat.

Tahu gak, justru bagian seperti ini yang menurut saya lebih gampang direnungkan setelah melihat visualisasinya. Kita bisa melihat ekspresi ketakutan, suasana kerajaan, kobaran api, sampai keputusan para tokohnya.

Iman Bukan Sekadar Kata

Dari kisah Nabi Daniel dalam Alkitab, saya menangkap bahwa iman bukan cuma soal berkata percaya kepada Tuhan. Ada saat ketika keyakinan itu harus dibuktikan lewat pilihan.

Buat saya sih, bagian ini cukup relatable. Bentuk “tungku api” dalam kehidupan sekarang mungkin berbeda. 

Bisa berupa tekanan pekerjaan, masalah keluarga, keputusan sulit, atau situasi ketika kita harus memilih antara mengikuti keadaan dan tetap memegang prinsip.

Kenapa Belajar Kitab Suci Lewat Film Terasa Lebih Mudah?

Nah, ini justru alasan utama kenapa saya merasa film Alkitab seperti Daniel and the Fiery Furnace menarik untuk dibahas.

Bukan berarti film menggantikan Kitab Suci. Justru sebaliknya, film bisa menjadi pintu masuk untuk membuat seseorang lebih penasaran dan kemudian membaca sumber aslinya.

Visual Membantu Otak Membayangkan Cerita

Ketika membaca Kitab Daniel, kita perlu membangun gambaran sendiri mengenai tokoh, tempat, pakaian, suasana kerajaan, hingga kondisi ketika para tokoh menghadapi ancaman.

Lewat film, visualisasi cerita Alkitab tersebut sudah tersedia. Kita tinggal mengikuti alurnya.

Tahu gak, buat saya cara seperti ini terasa lebih mudah untuk memahami kisah dalam Alkitab. Setelah melihat adegannya, beberapa bagian cerita jadi lebih gampang diingat.

Film Alkitab tentang Nabi Daniel dan teman-temannya
Film Alkitab tentang Nabi Daniel dan teman-temannya (doc. Riana Dewie)


Cerita Jadi Terasa Lebih Dekat

Film juga membuat cerita yang sudah sangat lama terasa lebih dekat dengan kehidupan kita. Ada karakter yang harus memilih, ada rasa takut, ada tekanan, ada persahabatan, dan tentu saja ada iman kepada Tuhan.

Kalau saya sih, pendekatan visual seperti ini cocok untuk orang yang selama ini merasa membaca Kitab Suci cukup berat. Bukan karena Kitab Sucinya kurang menarik, tetapi karena setiap orang punya cara berbeda dalam memahami sebuah cerita.

Tentu tetap ada batasnya. Film adalah karya visual yang mengadaptasi kisah Kitab Suci, sehingga kita tetap perlu membaca Kitab Suci untuk memahami konteksnya secara lebih utuh.

Setelah Nonton Film Daniel, Saya Jadi Penasaran Buka Kitab Suci

Salah satu hal yang saya suka dari film ini justru efek setelah menontonnya.

Saya jadi ingin membaca lagi Kitab Daniel. Bukan karena merasa sudah memahami semuanya setelah menonton film, tetapi justru karena muncul rasa penasaran.

Hihihihi.... ternyata cara saya belajar bisa sesederhana itu: nonton dulu, penasaran, kemudian membaca.

Buat saya, film rohani tentang Nabi Daniel ini akhirnya bukan sekadar tontonan. Ia menjadi semacam jembatan untuk kembali melihat kisah Alkitab dengan perspektif yang lebih hidup.

Tahu gak, saya malah merasa pengalaman ini mengingatkan bahwa belajar Kitab Suci gak selalu harus dimulai dengan cara yang terasa serius atau berat. 

Kadang kita bisa memulainya dari sebuah film, kemudian perlahan mencari tahu kisah aslinya.

Pada akhirnya, saya gak ingin menjadikan film ini sebagai pengganti Kitab Suci. Justru saya ingin menjadikannya sebagai pengingat untuk lebih mengenal kisah-kisah iman yang selama ini mungkin hanya saya baca sekilas.

Wkwkwkwk.... niat awalnya cuma diajak nonton dadakan untuk refreshing, pulangnya malah membawa PR baru: pengin buka Kitab Daniel lagi.

Pengalaman belajar Kitab Suci lewat Film Daniel and the Fiery Furnace
Pengalaman belajar Kitab Suci lewat Film Daniel and the Fiery Furnace (doc. Riana Dewie)


Kadang kita cuma butuh satu cerita yang divisualisasikan untuk membuat kita berkata, “Oh, ternyata kisahnya seperti ini.”

Cukup menarik dan semoga pengalaman sederhana ini juga menguatkan iman saya kepada Tuhan yang saya imani dari dulu. Thank you untuk filmnya. Saya jadi lebih mudah memahami isi Kitab Suci tentang Nabi Daniel.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Pahlawan Street Center Madiun: Jelajah Spot dan Fasilitasnya

Pahlawan Street Center Madiun malam hari dengan lampu gemerlap

Setelah siangnya sempat mampir sebentar, malamnya saya dan teman kembali lagi ke Pahlawan Street Center Madiun. Ternyata suasananya beda banget! 

Kalau siang terasa cukup panas, malam hari justru berubah menjadi kawasan yang lebih hidup dengan lampu gemerlap di berbagai sudut.

Tahu gak, saya malah merasa PSC Madiun malam hari seperti ruang keluarga besar di tengah kota. 

Ada anak muda yang ngobrol, keluarga yang jalan-jalan, orang yang sekadar duduk santai, sampai beberapa orang yang terlihat selonjoran bahkan tiduran di lantai salah satu spot. Wkwkwkwk....

Tempat ini memang bukan sekadar kawasan untuk foto-foto. Ada pedestrian, taman, area duduk, landmark, kuliner, sampai ruang terbuka publik yang bisa dipakai untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.

Oh ya, yang paling menarik buat saya adalah kita bisa menikmati banyak hal dalam satu kawasan. Jadi gak perlu berpindah-pindah tempat untuk sekadar jalan santai, foto, nongkrong, atau mencari jajanan.

PSC Madiun, Ruang Kota yang Jadi Tempat Wisata

Pahlawan Street Center Madiun berada di kawasan Jalan Pahlawan dan dikembangkan sebagai ruang publik sekaligus destinasi wisata kota. 

Konsepnya cukup menarik karena jalan perkotaan dibuat lebih ramah untuk pejalan kaki dengan berbagai fasilitas dan spot yang bisa dinikmati masyarakat.

Di kawasan ini ada pedestrian yang luas, taman, area duduk, berbagai replika landmark dunia, serta aktivitas kuliner dan UMKM. 

Patung Merlion sebagai spot foto PSC Madiun
Patung Merlion sebagai spot foto PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi, fungsi PSC sebenarnya lumayan lengkap. Mau jalan kaki boleh, mau duduk santai juga bisa, mau foto-foto apalagi.

Tahu gak, salah satu hal yang saya suka dari tempat seperti ini adalah kita gak harus punya agenda khusus. Datang saja, keliling sebentar, lalu lihat apa yang menarik.

Kalau saya sih lebih nyaman datang malam hari. Udara sudah jauh lebih sejuk dibanding siang, sehingga jalan kaki jadi terasa lebih menyenangkan. Ditambah lampu malam yang membuat berbagai bangunan dan landmark terlihat lebih hidup.

Jelajah Spot dan Fasilitas di Pahlawan Street Center

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling seru. Apa saja sih yang bisa dinikmati di Pahlawan Street Center Madiun?

1. Miniatur Ikon Dunia

Salah satu daya tarik utama PSC adalah keberadaan miniatur ikon dunia. 

Beberapa landmark yang bisa ditemukan antara lain Patung Merlion, Menara Eiffel, Big Ben, Patung Liberty, replika Ka'bah, hingga kincir angin bergaya Belanda.

Jadi, belum sempat jalan-jalan ke luar negeri? Ya minimal foto dulu di sini. Hihihihi....

Miniatur Menara Eiffel di Pahlawan Street Center Madiun
Miniatur Menara Eiffel di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Menara Eiffel misalnya. Saya beberapa kali mengambil foto dengan latar belakang Eiffel dan memang hasilnya cukup estetik. Rasanya seperti sedang berada di suatu tempat di Eropa, walaupun sebenarnya masih di Madiun.

Ada juga Big Ben yang semakin menarik ketika lampu malam mulai menyala. Sementara replika Patung Liberty dan Merlion bisa menjadi alternatif spot foto bagi pengunjung yang ingin membuat dokumentasi perjalanan.

Yang cukup unik buat saya justru replika Ka'bah. Saya sempat mengira bagian dalamnya kosong. Ternyata ketika datang sekitar waktu Maghrib, ada orang-orang yang sedang shalat di dalamnya.

Replika Ka'bah di Pahlawan Street Center Madiun
Replika Ka'bah di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Artinya, beberapa spot di PSC bukan cuma menarik secara visual, tetapi juga punya fungsi tertentu bagi pengunjung.

Tahu gak, konsep miniatur seperti ini juga membuat jalan-jalan di PSC terasa seperti city walk sambil “keliling dunia” dalam satu kawasan.

2. Pedestrian untuk Jalan Santai

Setelah puas berburu foto, tinggal lanjut jalan kaki.

Pedestrian PSC menjadi salah satu fasilitas yang membuat kawasan ini terasa berbeda dari jalan kota biasa. Area pejalan kaki cukup luas sehingga pengunjung bisa berjalan santai sambil melihat aktivitas di sekitar.

Mau ngobrol dengan teman, menikmati suasana kota, atau sekadar melihat-lihat orang yang lalu-lalang, semuanya bisa dilakukan tanpa harus punya tujuan tertentu.

Buat saya sih, bagian seperti ini justru penting. Tempat wisata gak selalu harus punya wahana besar. Trotoar yang nyaman dan ruang untuk berjalan santai juga bisa membuat orang betah.

3. Taman dan Area Duduk

Selain pedestrian, ada pula area taman seperti Taman Sumber Wangi dan Taman Sumber Umis yang menjadi bagian dari kawasan PSC.

Di beberapa titik tersedia bangku, area duduk, serta ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat.

Taman untuk duduk di kawasan PSC Madiun
Taman untuk duduk di kawasan PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi setelah muter-muter dan kaki mulai pegal, gak perlu buru-buru pulang. Duduk dulu sambil menikmati suasana malam.

Oh ya, saya melihat sendiri ada pengunjung yang benar-benar memanfaatkan area tersebut untuk bersantai. Ada yang ngobrol, bermain dengan anak, sampai sekadar duduk menikmati malam.

Rasanya seperti punya ruang terbuka gratis di tengah kota yang bisa digunakan siapa saja.

4. Lampu Malam dan Spot Foto

Begitu malam datang, salah satu perubahan paling terasa adalah pencahayaan.

Lampu jalan dan lampu hias membuat suasana PSC menjadi lebih hangat dan hidup. Landmark yang pada siang hari terlihat biasa saja bisa terasa lebih menarik ketika dipadukan dengan pencahayaan malam.

Buat penggemar foto, ini tentu menjadi keuntungan tersendiri. Mau foto keluarga, foto bersama teman, atau sekadar mencari spot foto PSC Madiun untuk koleksi pribadi, pilihannya cukup banyak.

Tahu gak, menurut saya justru suasana malam inilah yang membuat PSC punya daya tarik tersendiri. Bukan cuma karena lampunya, tetapi karena pengunjung juga mulai ramai dan suasana kota terasa lebih hidup.

5. Kuliner dan UMKM

Sudah jalan kaki, sudah foto-foto, tentu perut lama-lama ikut protes.

Di sekitar Pahlawan Street Center juga terdapat aktivitas kuliner dan UMKM yang bisa menjadi pelengkap wisata. Ada makanan, minuman, jajanan, hingga street food yang bisa dinikmati setelah berkeliling.

Deretan penjual UMKM di Pahlawan Street Center Madiun
Deretan penjual UMKM di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi konsepnya cukup sederhana: jalan-jalan, menemukan sesuatu yang menarik, foto, duduk sebentar, lalu cari makanan.

Kalau saya sih suka model wisata seperti ini karena gak terlalu ribet. Gak harus membuat itinerary superpadat untuk menikmati satu kawasan.

Kenapa PSC Menarik Dinikmati Malam Hari?

Ada alasan kenapa saya merasa Pahlawan Street Center Madiun lebih seru ketika dikunjungi malam hari.

Pertama, udara tentu lebih nyaman untuk berjalan kaki. Kedua, lampu malam membuat berbagai landmark terlihat lebih menarik. Ketiga, aktivitas pengunjung juga terasa lebih ramai.

Suasana malam Pahlawan Street Center Madiun
Suasana malam Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Kawasan ini bisa dinikmati berbagai kalangan. Keluarga bisa mengajak anak jalan-jalan, anak muda bisa nongkrong dan berburu foto, sementara wisatawan seperti saya bisa menikmati suasana kota sambil mencari cerita baru.

Bahkan buat yang sedang mencari wisata murah Madiun, PSC bisa menjadi pilihan karena aktivitas utamanya berupa menikmati ruang publik, berjalan kaki, foto-foto, dan melihat suasana kota.

Oh ya, gak harus datang dengan rombongan besar juga. Datang berdua seperti saya pun tetap bisa menikmati kawasan ini dengan santai.

Menutup Perjalanan Madiun di PSC

Gak rugi banget saya kembali ke Pahlawan Street Center Madiun malam itu. Setelah sebelumnya cuma mampir sebentar pada siang hari, kunjungan kedua justru membuat saya lebih bisa melihat berbagai fasilitas yang tersedia.

PSC ternyata bukan cuma tempat foto dengan miniatur ikon dunia. Ada pedestrian untuk jalan santai, taman untuk duduk, area publik untuk berkumpul, pencahayaan malam yang cantik, serta kuliner yang bisa melengkapi perjalanan.

Dan akhirnya, saya menemukan cerita final dari perjalanan satu hari saya di Madiun.

Tahu gak, dari beberapa cerita yang sudah saya bagikan sejak awal perjalanan, ternyata satu hari di Madiun bisa menghasilkan beberapa part artikel. Semoga kamu gak bosen ya membaca cerita saya. Hehehe.

Saya duduk santai di area publik PSC Madiun malam hari
Saya duduk santai di area publik PSC Madiun malam hari (doc. Riana Dewie)


First impression saya terhadap kota ini juga cukup menyenangkan. Kotanya terasa tenang, gak terlalu berisik, harga makanan masih cukup terjangkau, dan ternyata banyak tempat yang bisa didatangi backpacker seperti saya.

Satu hari memang terasa singkat. Tapi dari Stasiun Madiun, tempat religi, pusat kota, kedai kopi, sampai PSC malam hari, semuanya meninggalkan cerita masing-masing.

Nah, setelah Madiun, next dolan ke mana lagi ya supaya bisa nulis banyak part seperti ini?

Hihihi.... tunggu kejutannya ya.... Bye!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Alun-Alun Madiun Malam Hari: 5 Hal yang Bisa Dilakukan

Alun-Alun Madiun Malam Hari dengan lampu warna-warni

Dari Kopi Kakak, saya dan teman jalan saya melanjutkan perjalanan ke alun-alun Madiun. Waktu sudah mulai petang, sekitar pukul 17.30. 

Langit perlahan berubah warna, sementara aktivitas di pusat kota mulai terasa lebih ramai. Begitu mendekati kawasan alun-alun, beberapa pedagang sudah mulai menyiapkan dagangan dan lampu-lampu mulai menyala.

Tahu gak, suasana seperti ini justru bikin saya penasaran untuk turun dan melihat-lihat. Awalnya kami cuma ingin jalan sebentar, tetapi ternyata Alun-Alun Madiun Malam Hari punya cukup banyak aktivitas untuk dilakukan.

Dari Sore ke Malam, Alun-Alun Mulai Ramai

Ada suasana yang berbeda ketika sore bergeser menjadi malam di kawasan alun-alun. Masyarakat mulai berdatangan, anak-anak bermain, beberapa orang duduk santai, sementara pedagang kaki lima mulai menghidupkan suasana dengan lapak masing-masing.

Di tengah ruang terbuka publik Kota Madiun ini, aktivitas malam berjalan dengan santai. Ada yang datang bersama keluarga, bertemu teman, mencari makanan, atau sekadar ingin menghabiskan waktu tanpa agenda khusus.

Oh ya, saya justru suka suasana seperti ini karena gak perlu memikirkan harus pergi ke mana lagi. Cukup datang, jalan kaki, melihat-lihat sekitar, lalu sesekali berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik.

Buat saya, kawasan ini bisa menjadi salah satu pilihan wisata malam di Madiun, terutama buat yang ingin jalan-jalan dengan suasana santai dan biaya yang relatif terjangkau.

5 Hal yang Bisa Dilakukan di Alun-Alun Madiun

Lantas, ada apa di Alun-Alun Madiun ketika malam? Ternyata jawabannya lumayan banyak. Bukan cuma duduk di pinggir alun-alun, tetapi ada beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan.

1. Foto-Foto di Miniatur Monas dan Landmark

Miniatur Monas Madiun sebagai spot foto malam
Miniatur Monas Madiun sebagai spot foto malam (doc. Riana Dewie)

Salah satu daya tarik yang mudah ditemukan adalah berbagai landmark dan miniatur yang bisa menjadi latar foto. Ada miniatur Monas Madiun, termasuk landmark lain seperti miniatur Merlion dan miniatur Eiffel yang memperkaya tampilan kawasan.

Banyak orang memanfaatkan area ini untuk berfoto. Ada yang datang bersama pacar, keluarga, sahabat, sampai sekadar mengambil foto sendiri.

Saat malam, lampu hias membuat suasananya terasa lebih menarik. Jadi, buat pemburu spot foto Alun-Alun Madiun, kawasan ini bisa menjadi tempat yang cukup menyenangkan untuk dieksplorasi.

Saya sendiri gak terlalu punya agenda khusus untuk berburu foto malam itu. Namun, melihat orang-orang sibuk mencari sudut foto masing-masing, rasanya ikut ingin mengabadikan beberapa momen. Wkwkwkwk....

2. Menikmati Wahana Permainan Anak

Buat yang membawa anak, pilihan aktivitasnya juga cukup beragam. Di kawasan alun-alun terdapat berbagai wahana anak Alun-Alun Madiun yang bisa membuat si kecil betah bermain.

Permainan anak di kawasan Alun-Alun MadiunPermainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun (doc. Riana Dewie)

Ada aktivitas seperti melukis, bermain pasir, hingga permainan memancing ikan di air. Anak-anak juga bisa menikmati berbagai wahana bermain yang tersedia sesuai kondisi dan pilihan yang ada saat berkunjung.

Oh ya, aktivitas seperti ini membuat alun-alun terasa lebih dari sekadar tempat nongkrong. Ada ruang untuk anak bermain, sementara orang tua bisa mendampingi atau duduk santai di sekitar area.

Buat keluarga yang mencari wisata keluarga Madiun dengan aktivitas sederhana, tempat bermain seperti ini bisa menjadi alternatif. Apalagi jika ingin mencari wisata murah Madiun tanpa harus masuk ke tempat wisata dengan tiket mahal.

Wahana melukis anak di Alun-alun Madiun
Wahana melukis anak di Alun-alun Madiun (doc. Riana Dewie)


3. Berburu Street Food dan Jajanan Malam

Nah, bagian ini tentu gak boleh dilewatkan kalau sedang jalan-jalan malam: jajan!

Di sekitar kawasan alun-alun, pedagang kaki lima mulai bermunculan ketika sore menuju malam. Pilihannya bisa berupa makanan ringan, makanan berat, minuman, hingga jajanan yang cocok disantap sambil duduk santai.

Malam itu saya sendiri sempat jajan bakso pentol, gorengan, nasi dengan lauk, sampai saren. Jadi, urusan perut cukup aman setelah berkeliling kawasan alun-alun.

Tahu gak, salah satu hal yang saya suka dari jajan malam adalah kita bisa mencicipi beberapa makanan dalam satu perjalanan tanpa harus duduk lama di restoran.

Street food Alun-Alun Madiun pada malam hari
Street food Alun-Alun Madiun pada malam hari (doc. Riana Dewie)


Buat yang memang datang dengan tujuan kulineran, kuliner malam Alun-Alun Madiun bisa menjadi bagian yang menarik untuk dicoba. Apalagi pilihan street food Alun-Alun Madiun biasanya terasa lebih santai dan dekat dengan suasana warga setempat.

Kalau saya sih, jajan seperti ini justru terasa pas untuk menutup perjalanan sore menuju malam. Harganya relatif bersahabat dan pilihannya bisa disesuaikan dengan isi dompet.

4. Jalan Santai Mengelilingi Alun-Alun

Ini aktivitas yang saya lakukan malam itu: touring kecil-kecilan di area alun-alun.

Bukan touring menggunakan kendaraan, tentunya. Saya berjalan mengelilingi kawasan sambil menikmati suasana malam dan melihat aktivitas orang-orang yang sedang berkumpul.

Aktivitas pengunjung di Alun-Alun Madiun malam
Aktivitas pengunjung di Alun-Alun Madiun malam (doc. Riana Dewie)


Jalan santai seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari sini kita bisa melihat lebih banyak sisi alun-alun, mulai dari area landmark, tempat bermain, pedagang, sampai masyarakat yang sedang menikmati waktu luang.

Buat yang sedang mencari tempat jalan-jalan malam di Madiun, aktivitas ini bisa dilakukan tanpa persiapan khusus. Tinggal datang dengan pakaian nyaman, lalu berjalan sesuai keinginan.

5. Nongkrong dan Menikmati Suasana Kota

Setelah cukup berkeliling, saya dan teman sesekali berhenti di pinggiran rumput alun-alun.

Kebetulan saat itu suasananya gak terlalu ramai, jadi kami bisa duduk santai sambil menikmati situasi sekitar. Lampu warna-warni terlihat dari kejauhan, orang-orang masih berlalu-lalang, dan aktivitas pedagang tetap berjalan.

Tahu gak, bagian seperti ini kadang justru menjadi momen paling menyenangkan dalam perjalanan. Gak ada agenda, gak ada target tempat yang harus dikunjungi. Cukup duduk dan ngobrol.

Kalau kamu sedang mencari tempat nongkrong di Madiun malam hari, alun-alun bisa menjadi salah satu pilihan yang sederhana. Apalagi untuk sekadar bertemu teman atau menikmati suasana pusat Kota Madiun.

Permainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun
Permainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun (doc. Riana Dewie)


Malam Hari, Waktu yang Pas untuk Menikmati Madiun

Lebih Santai, Lebih Adem

Madiun pada siang hari bisa terasa cukup panas untuk aktivitas luar ruangan. Karena itu, datang menjelang malam terasa lebih nyaman untuk jalan kaki dan menikmati kawasan alun-alun.

Lampu mulai menyala, udara terasa lebih bersahabat, dan aktivitas warga perlahan semakin ramai. Suasana malamnya juga membuat kegiatan sederhana seperti duduk, jalan santai, atau jajan terasa lebih menyenangkan.

Oh ya, bukan berarti harus datang larut malam. Menjelang malam seperti ketika saya datang sekitar pukul 17.30 saja, suasana kawasan sudah mulai berubah dan semakin hidup.

Cocok untuk Teman dan Keluarga

Hal menarik lainnya adalah alun-alun bisa dinikmati oleh berbagai kelompok. Datang bersama teman bisa jalan-jalan dan nongkrong. Bersama keluarga bisa menemani anak bermain. Sementara pencinta kuliner dapat berburu jajanan kaki lima di sekitar kawasan.

Aktivitasnya memang sederhana, tetapi pilihannya cukup fleksibel.

Kalau saya sih, tempat seperti ini cocok dimasukkan ke itinerary perjalanan ketika ingin menyisakan waktu untuk menikmati kota tanpa terburu-buru.

Satu Alun-Alun, Banyak Cara Menikmatinya

Pada akhirnya, malam itu saya datang ke alun-alun tanpa rencana yang terlalu rumit. Setelah ngopi dari Kopi Kakak, kami hanya ingin melihat suasana. Namun, ternyata ada banyak hal kecil yang bisa dinikmati.

Mulai dari melihat miniatur Monas, mencari spot foto, menemani anak bermain, berburu jajanan, jalan santai, sampai duduk di pinggir rumput sambil menikmati keramaian.

Hihihihi.... ternyata jalan-jalan malam gak harus selalu punya daftar destinasi yang panjang.

Suasana Alun-Alun Kota Madiun malam hari
Suasana Alun-Alun Kota Madiun malam hari (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, justru tempat sederhana seperti alun-alun bisa memberi kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah kota menikmati malamnya. 

Ada warga yang datang untuk berkumpul, anak-anak yang sibuk bermain, pedagang yang mencari rezeki, dan pengunjung yang sekadar ingin melepas penat.

Buat saya yang sedang melakukan perjalanan backpacker di Madiun, Alun-Alun Kota Madiun malam hari menjadi salah satu persinggahan yang cukup menyenangkan.

Satu tempat, tetapi banyak cara untuk menikmatinya. Dan mungkin, itu juga yang membuat Alun-Alun Madiun malam layak dimasukkan dalam daftar tujuan saat ingin mencari aktivitas malam yang santai, murah, dan gak ribet.

Setelah ini akan ada cerita saya lagi, mungkin cerita terakhir selama saya jalan-jalan ke Madiun. Yap, tentang asyiknya mengunjungi Pahlawan Street Center (PSC) kota Madiun. Penasaran dengan keseruannya? Tunggu cerita saya berikutnya ya :)



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Iseng Cari Tempat Ngopi, Malah Menemukan Kopi Kakak Madiun

Kopi Kakak Madiun di depan Alun-Alun Madiun

Halo, saya lanjut cerita tentang sehari backpacker-an di Madiun, ya. Ini sudah artikel keempat dan semoga kamu gak bosan mengikuti perjalanan saya. Hahaha...

Tahu gak, hari itu Madiun panas banget. Serius. Tapi saya justru happy karena mendatangi kota yang belum banyak saya jelajahi memang selalu menyenangkan. 

Ada rasa kepo setiap kali berpindah tempat: nanti destinasinya gimana, asyik gak ya, makanannya enak gak ya, dan masih banyak pertanyaan receh lainnya.

Setelah dari beberapa destinasi sebelumnya, perjalanan masih berlanjut. Badan mulai minta istirahat dan saya kepikiran mencari minuman yang seger-seger. 

Teman saya kemudian membuka Google dan mencari tempat ngopi yang masih satu arah dengan rute kami. Gak perlu yang terlalu fancy. Yang penting ada tempat duduk, bisa minum, dan sekalian mengisi tenaga.

Lalu muncullah nama Kopi Kakak Madiun.

Lokasinya pas banget karena berada di kawasan Alun-Alun Madiun. Jadi, tanpa mengubah rute perjalanan, kami bisa mampir sebentar.

Ternyata keputusan spontan itu malah membawa kami ke tempat yang cukup menarik.

Awalnya Cuma Iseng Cari Tempat Ngopi

Ketemu 'Kopi Kakak' dari Google

Plang nama Kopi Kakak Madiun
Plang nama Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)

Awalnya teman saya yang sibuk mencari warung atau tempat ngopi di area yang akan kami lewati. Saya sih gak punya ekspektasi apa-apa. Targetnya sederhana: ngadem sambil ngecas badan dan HP. Hahahah.

Tahu gak, justru tempat yang dicari tanpa persiapan seperti ini kadang malah menghasilkan cerita yang lebih seru.

Sambil membuka HP, teman saya memimpin perjalanan. Tiba-tiba dia teriak, “Eh, ini kafenya!”

Saya yang berada di belakang langsung memperhatikan bangunan di depan kami.

Lho?

Kok bentuknya seperti bangunan vintage?

Awalnya saya malah bingung karena visual bangunannya terasa seperti perpaduan gaya kolonial dan Tionghoa. Bukan model coffee shop modern yang biasanya langsung kelihatan dari luar.

Setelah melihat papan nama Kopi Kakak, barulah kami yakin. Nah, ini toh tempat yang tadi dicari!

Ternyata Lokasinya Gak Jauh dari Rute Kami

Salah satu alasan kami akhirnya mampir tentu karena lokasinya strategis. Kopi Kakak berada di Jalan Kolonel Marhadi, tepat di kawasan depan Alun-Alun Madiun.

Buat yang sedang mencari tempat ngopi di Madiun sambil jalan-jalan di pusat kota, posisi seperti ini cukup menguntungkan.

Kami bisa berhenti sebentar tanpa harus memutar jauh. Setelah selesai ngopi pun masih bisa melanjutkan perjalanan ke kawasan alun-alun.

Jadi, konsep backpacker hemat waktu tetap jalan.

Kopi Kakak Madiun dan Bangunan Vintage yang Bikin Penasaran

Suasana outdoor Kopi Kakak Madiun
Suasana outdoor Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)

Begitu masuk, perhatian saya bukan cuma tertuju pada kopi.

Bangunannya justru bikin penasaran.

Kopi Kakak memanfaatkan kawasan Rumah Kapitan Cina, sebuah bangunan bersejarah di Jalan Kolonel Marhadi. 

Bangunan tersebut dikenal sebagai kediaman Kapitan Njoo Swie Lian dan tercatat sebagai salah satu bangunan bersejarah Kota Madiun.

Pada 2019, bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya dan kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi usaha Kopi Kakak. 

Sumber penelitian juga mencatat bahwa penggunaan sebagai coffee shop dimulai pada 2019 dengan struktur bangunan lama tetap dipertahankan.

Oh ya, ini yang membuat saya merasa ngopi di sini agak berbeda. Kita bukan cuma duduk di sebuah kafe kekinian, tetapi juga berada di lingkungan bangunan yang punya cerita panjang tentang sejarah Kota Madiun.

Bangunan Rumah Kapitan Cina Madiun
Bangunan Rumah Kapitan Cina Madiun (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Kafe di Depan Alun-Alun

Posisinya yang berada di kawasan Alun-Alun Madiun membuat suasana Kopi Kakak juga menarik untuk diamati.

Sore itu kami bisa melihat aktivitas di sekitar alun-alun mulai berubah. Pedagang kaki lima berdatangan, lalu lampu-lampu temaram perlahan menyala. Tanda bahwa siang mulai bergeser menuju senja.

Oh ya, dari tempat seperti ini saya jadi bisa menikmati dua suasana sekaligus: duduk santai di area kafe, sementara kehidupan kota tetap bergerak di luar.

Buat saya sih, ini salah satu daya tarik tempat nongkrong di Madiun. Gak perlu buru-buru pergi karena setelah ngopi masih banyak yang bisa dieksplorasi di sekitar pusat kota.

Kamu Bisa Ngapain Aja di Tempat Ngopi Ini?

Tentu saja yang utama adalah ngopi. Kopi Kakak menyediakan berbagai pilihan menu minuman dan makanan untuk menemani waktu nongkrong.

Selain itu, suasana bangunan tua dan area hijaunya juga membuat tempat ini menarik sebagai spot foto. Nuansa vintage dan classic terasa lebih kuat dibandingkan kafe modern pada umumnya.

Tahu gak, bangunan seperti ini justru bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk orang yang suka fotografi atau sekadar mencari latar foto yang berbeda.

Tempatnya juga cocok untuk ngobrol bersama teman maupun keluarga. Bahkan dari berbagai sumber, kawasan ini pernah digunakan untuk kegiatan dan acara tertentu, sehingga fungsinya gak hanya sebagai tempat minum kopi.

Jadi, kalau kamu mencari cafe vintage Madiun atau cafe unik di Madiun, Kopi Kakak bisa masuk daftar pencarian.

Duduk, Ngopi, dan Menikmati Suasana Kota Madiun

Pelanggan mengantre beli kopi di Kopi Kakak Madiun
Pelanggan mengantre beli kopi di Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)

Setelah keliling Madiun sejak siang, akhirnya kami bisa duduk santai.

Angin bergerak pelan. Area hijau di sekitar kafe membuat suasananya terasa lebih sejuk. Kebetulan saat kami datang, pengunjung gak terlalu banyak. Mungkin karena kami datang Senin siang menjelang sore, saat sebagian orang masih sibuk bekerja.

Saya memilih duduk di area outdoor. Kebetulan ada tempat untuk mengecas HP, jadi ya sudah, lengkap sudah paket istirahatnya: badan ngadem, HP ikut recovery. Hihihihi....

Untuk minuman, saya lupa persis namanya. Yang saya ingat, saya pilih menu ice lychee tea dan teman saya semacam Thai tea gitu. Kenapa gak ngopi? Kebetulan saya pribadi gak terlalu suka kopi karena takut gak bsia tidur nyenyak. Hihihi.....

Minuman Thai Tea di Kopi Kakak Madiun
Minuman Thai Tea di Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)


Harganya juga masih bersahabat. Saya membayar sekitar belasan ribu rupiah untuk minuman tersebut. Buat perjalanan backpacker, nominal seperti ini masih cukup aman di kantong.

Tapi yang paling menarik justru obrolannya.

Kami duduk cukup lama sambil saling berbagi cerita tentang kehidupan. Mulai dari pekerjaan, keluarga, keyakinan, iman, sampai hal-hal random yang biasanya muncul ketika dua orang sedang ngobrol santai.

Sih, durasi ngopi kami di sini malah menjadi salah satu yang paling panjang dibandingkan tempat lain selama perjalanan Madiun.

Mungkin karena tempatnya nyaman. Mungkin juga karena memang sedang sama-sama butuh jeda.

Justru Bangunannya yang Bikin Betah

Awalnya cuma mau mencari kopi.

Eh, malah betah.

Bangunan tua, taman, suasana outdoor, ditambah obrolan panjang membuat waktu berjalan tanpa terasa. Ada sensasi tersendiri ketika bisa menikmati minuman di tempat yang punya cerita sejarah.

Dan tentu saja, kalau sudah menemukan latar yang menarik, sesi foto biasanya gak boleh dilewatkan. Wkwkwkwk....

Kopi Kakak akhirnya bukan sekadar tempat mampir untuk mengisi tenaga, tetapi menjadi salah satu unexpected stop yang justru saya ingat dari perjalanan satu hari di Madiun.

Tempat nongkrong vintage di pusat Kota MadiunTempat nongkrong vintage di pusat Kota Madiun (doc. Riana Dewie)


Dari Kopi Kakak, Saya Melanjutkan Jalan-Jalan Madiun

Setelah puas duduk dan ngobrol, perjalanan kami belum selesai.

Kami kemudian melanjutkan jalan-jalan tipis ke Alun-Alun Madiun. Di sana mulai banyak pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai jajanan street food. Harganya cukup terjangkau dan pilihannya juga lumayan banyak.

Tahu gak, area alun-alun ternyata gak cuma menarik untuk duduk-duduk. Buat yang membawa anak-anak pun ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sekitar kawasan ini.

Dari sini saya makin merasa bahwa mencari tempat ngopi yang satu arah dengan rute perjalanan ternyata bisa menjadi strategi sederhana untuk menikmati kota tanpa membuang waktu.

Kita bisa istirahat, makan atau minum, foto-foto, lalu lanjut eksplorasi.

Sih, perjalanan sehari memang gak harus dipenuhi destinasi yang padat. Kadang jeda satu atau dua jam justru membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.

Ternyata Tempat Spontan Bisa Jadi Cerita

Perjalanan Madiun saya kali ini memang banyak diisi destinasi yang awalnya gak semuanya masuk rencana.

Kopi Kakak salah satunya.

Kami cuma mencari tempat ngopi melalui Google karena kebetulan searah. Ternyata yang ditemukan bukan cuma coffee shop, tetapi juga bangunan tua dengan cerita sejarah di tengah kawasan pusat Kota Madiun.

Dari pengalaman ini, saya jadi semakin percaya bahwa itinerary boleh dibuat rapi, tetapi tetap sisakan sedikit ruang untuk spontanitas.

Asalkan gak membuat kita ketinggalan kereta pulang, tentunya. Hahaha!

Suasana sore di Kopi Kakak Madiun
Suasana sore di Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)


Perjalanan Madiun Belum Selesai

Dan setelah Kopi Kakak, petualangan kami masih berlanjut.

Masih ada Alun-Alun Madiun, jajanan kaki lima, Toko Oleh-oleh Mirasa, makan malam, sampai kembali lagi ke Pahlawan Street Center sebelum akhirnya menuju Stasiun Madiun.

Oh ya, bagaimana sih keseruan suasana Alun-Alun Madiun saat sore sampai malam?

Tunggu cerita saya berikutnya, ya.

Karena ternyata, satu hari di Madiun masih bisa menghasilkan banyak cerita.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Dari Hiruk Pikuk Kota, Saya Menepi di Gua Maria Madiun

Gua Maria Madiun di Gereja Santo Cornelius

Di tengah teriknya matahari Madiun, saya dan seorang teman yang sedang menjalani one day trip akhirnya memutuskan untuk menepi sejenak. 

Jalanan memang gak terlalu ramai, tetapi aktivitas lalu lintas tetap berjalan seperti biasa. Kami baru saja menyelesaikan beberapa rute perjalanan, dan rasanya memang butuh jeda.

Tujuan kami kali ini bukan tempat makan, bukan pula tempat foto. Kami ingin mencari tempat untuk berdoa. 

Dari hasil browsing sebelum berangkat, pilihan kami jatuh pada Gua Maria Madiun yang berada di kompleks Gereja Santo Cornelius.

Tahu gak, saya justru gak menyangka bakal menemukan tempat doa secantik ini di tengah perjalanan singkat ke Madiun.

Dari Ramainya Kota, Saya Mencari Gua Maria

Tempat yang Saya Cari Sebelum Berangkat

Gereja Santo Cornelius Madiun dari bagian luar
Gereja Santo Cornelius Madiun dari bagian luar (doc. Riana Dewie)

Sebenarnya, Gereja Santo Cornelius sudah masuk dalam daftar tujuan kami sebelum berangkat. Katanya, ada Gua Maria yang cukup cantik di dalam kompleks gereja. Penasaran dong, seperti apa tempatnya?

Awalnya kami memang sempat browsing beberapa Gua Maria di Madiun. Namun, ketika melihat jaraknya dari pusat kota, perjalanan menuju beberapa lokasi terasa cukup memakan waktu. 

Sementara waktu kami terbatas karena memang ingin melakukan eksplor Madiun dalam satu hari.

Akhirnya kami mencari gereja Katolik yang lebih dekat dengan Stasiun Madiun. Dari pencarian itulah kami menemukan Gereja Santo Cornelius Madiun.

Saya sih awalnya gak punya ekspektasi terlalu tinggi. Namanya juga menemukan tempat dari pencarian Google secara spontan. 

Yang penting ada tempat untuk berdoa dan lokasinya masih masuk dalam rute wisata Madiun dekat Stasiun.

Ternyata, justru di sinilah kejutan kecil perjalanan kami dimulai.

Sempat Mengira Gerejanya Tutup

Kompleks Gereja Santo Cornelius di pusat Kota Madiun
Kompleks Gereja Santo Cornelius di pusat Kota Madiun (doc. Riana Dewie)

Saat tiba, kami sempat bingung. Pintu gerbang yang kami kira sebagai akses utama ternyata dalam kondisi digembok.

“Wah, jangan-jangan gerejanya memang gak dibuka di luar jam misa?” pikir saya.

Kami kemudian berjalan memutari pagar dari sisi lain. Di sana terlihat seorang petugas keamanan dan bapak pengelola taman yang sedang menyiram rumput. 

Setelah bertanya kepada petugas keamanan, barulah kami mendapatkan informasi bahwa ada akses menuju area Gua Maria Diberkati.

Oh ya, ternyata mencari pintu masuknya menjadi bagian kecil dari cerita perjalanan kami hari itu. Untung kami gak langsung menyerah dan pergi.

Kami pun diarahkan menuju bagian dalam kompleks. Dan begitu melihat area Gua Maria, ekspresi kami langsung berubah.

Menemukan Gua Maria Santo Cornelius yang Teduh

Gua Maria yang Cantik di Tengah Kota

Suasana teduh Gua Maria Santo Cornelius Madiun
Suasana teduh Gua Maria Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)

Sampai di Gua Maria Santo Cornelius, saya dan teman langsung kegirangan. Rasanya senang sekali menemukan tempat seperti ini setelah sebelumnya hanya melihat informasinya dari internet.

Gua Maria ini cukup luas dan terasa nyaman bagi para pendoa maupun peziarah. Dari luar saja sudah terlihat tanaman hijau yang cukup lebat. Begitu masuk lebih dalam, suasananya terasa berbeda dari jalanan kota yang panas tadi.

Yang paling saya ingat adalah hawa sejuk dan suara percikan air.

Tahu gak, suara air kecil seperti itu ternyata bisa membuat suasana doa terasa jauh lebih tenang. Ditambah area yang dipenuhi tanaman hijau, tempat ini terasa seperti punya ruangnya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota.

Saya juga suka dengan suasananya yang gak berlebihan. Ada kesan teduh yang membuat orang datang bukan sekadar untuk melihat-lihat, tetapi memang ingin duduk dan berdiam diri.

Bagi yang sedang mencari tempat doa di Madiun atau tempat ziarah Katolik di Madiun, Gua Maria ini menurut saya cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar.

Saatnya Berdoa dan Menepi Sejenak

Tempat doa di Madiun untuk peziarah Katolik
Tempat doa di Madiun untuk peziarah Katolik (doc. Riana Dewie)

Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun mulai berdoa.

Saya pribadi merasa nyaman karena suasananya adem dan hening. Letak Gua Maria berada cukup jauh dari pintu gerbang sehingga suara kendaraan dari luar gak terlalu terasa.

Di tengah itinerary yang lumayan padat, momen seperti ini justru terasa penting. Bukan untuk mengejar destinasi berikutnya, melainkan benar-benar berhenti sebentar.

Saya pun merasa beruntung bisa sampai ke Gua Maria Santo Cornelius Madiun.

Tahu gak, mungkin kalau saya gak melakukan perjalanan ke Madiun hari itu, saya juga gak akan pernah tahu bahwa ada Gua Maria secantik ini di kompleks Gereja Santo Cornelius.

Dan bagi saya, pengalaman seperti inilah yang sering membuat perjalanan terasa lebih berwarna.

Gereja Santo Cornelius, Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Sedikit Mengenal Sejarah Gereja Santo Cornelius

Selain menjadi tempat ibadah, Gereja Santo Cornelius juga memiliki sejarah panjang dalam perkembangan umat Katolik di Madiun.

Menurut informasi resmi Keuskupan Surabaya, Paroki Santo Cornelius Madiun merupakan paroki tertua kedua di Keuskupan Surabaya setelah Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. 

Perjalanan sejarahnya berkaitan dengan perkembangan Gereja Ambarawa pada abad ke-19.

Salah satu sudut Gereja Santo Cornelius Madiun berdesain vintage
Salah satu sudut Gereja Santo Cornelius Madiun berdesain vintage (doc. Riana Dewie)


Pada 28 Juli 1897, Pastor Cornelis Stiphout, SJ dipindahkan ke Madiun. Setelah itu, Madiun berkembang menjadi stasi yang terpisah dari Stasi Ambarawa.

Gereja Katolik di Madiun kemudian dibangun pada 12 Maret 1899 di sebelah barat pastoran. Namun, seiring bertambahnya umat, bangunan tersebut akhirnya gak lagi mampu menampung kebutuhan jemaat.

Pembangunan gereja baru dimulai pada 1937. Setahun kemudian, tepatnya 19 Juni 1938, gereja tersebut diberkati oleh Mgr. Th. Backere, CM dengan nama pelindung Santo Cornelius. Bangunan inilah yang masih digunakan hingga sekarang.

Ada Kisah Panjang di Balik Bangunan Ini

Lokasi Gereja Santo Cornelius berada di Jl. A. Yani No. 3, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

Kawasan ini juga berada di pusat kota dan termasuk lingkungan yang memiliki sejumlah bangunan bersejarah. 

Pemerintah Kota Madiun bahkan memasukkan Gereja Santo Cornelius dalam rencana pengembangan paket wisata heritage bersama beberapa bangunan bersejarah lainnya di kawasan tersebut.

Oh ya, keberadaan gereja ini juga membuat perjalanan ke Gua Maria terasa punya cerita yang lebih lengkap. 

Suasana di Kompleks Gereja Santo Cornelius
Suasana di Kompleks Gereja Santo Cornelius (doc. Riana Dewie)


Kita bukan cuma datang ke sebuah ruang doa, tetapi juga berada di kawasan yang menyimpan jejak sejarah panjang Kota Madiun.

Buat saya sih, ini menarik. Satu lokasi bisa punya dua sisi: menjadi tempat ibadah sekaligus bagian dari sejarah kota.

Pulang Membawa Ketenangan dari Gua Maria Madiun

Bukan Sekadar Singgah Saat Jalan-Jalan

Saya rasa, dalam setiap perjalanan kita memang membutuhkan waktu untuk berhenti.

Bukan selalu berhenti karena capek. Kadang kita perlu berhenti supaya bisa mendengar diri sendiri, mengucap syukur, atau sekadar menikmati suasana tanpa harus memikirkan destinasi berikutnya.

Di Gua Maria ini, saya gak hanya menemukan ruang yang sejuk untuk beristirahat dari panasnya Madiun. Saya juga menemukan ruang untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam suasana yang begitu khusyuk.

Buat saya, doa di Gua Maria hari itu menjadi bentuk rasa syukur karena masih diberi napas dan kesempatan menikmati begitu banyak hal dalam hidup.

Tahu gak, perjalanan yang awalnya hanya ingin jalan-jalan hemat ternyata bisa memberi pengalaman yang jauh lebih dalam dari sekadar daftar tempat yang berhasil kami datangi.

Itulah kenapa wisata religi Madiun menurut saya layak punya tempat tersendiri dalam itinerary. 

Apalagi buat kamu yang sedang menjalani backpacker Madiun, perjalanan seperti ini gak harus dibuat rumit. Sisihkan saja sedikit waktu untuk menepi.

Kapel Adorasi di Gereja Santo Cornelius Madiun
Kapel Adorasi di Gereja Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)


Setelah Berdoa, Perjalanan Berlanjut Lagi

Usai dari Gua Maria, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih ada beberapa tempat yang masuk dalam rute wisata kami hari itu.

Oh ya, kami juga sempat mampir ke sebuah coffee shop yang konsepnya vintage banget. Tempatnya punya suasana yang cukup berbeda dari kafe-kafe yang selama ini saya jelajahi.

Setelah itu masih ada beberapa kejutan lain yang menunggu. Namanya juga jalan-jalan di Madiun, masa selesai hanya karena sudah menemukan satu tempat yang tenang?

Saya sih menikmati banget perjalanan hari itu. Dari panasnya jalanan, mencari pintu masuk gereja, menemukan Gua Maria yang cantik, berdoa, lalu kembali melanjutkan petualangan.

Hihihihi.... ternyata one day trip Madiun bisa punya cerita sebanyak itu.

Tunggu tulisan saya setelah ini ya. Karena perjalanan kami belum selesai, dan masih ada tempat-tempat menarik lain yang akan saya ceritakan. :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Backpacker Madiun: Eksplor Kota dari Stasiun, Modal Hemat!

Backpacker Madiun mulai perjalanan dari Stasiun Madiun

Turun dari kereta sekitar pukul 10.40 di Stasiun Madiun, saya dan seorang teman langsung punya misi sederhana: jalan-jalan tanpa ribet, gak menghabiskan banyak uang, dan sebisa mungkin memilih destinasi yang masih berada di sekitar pusat kota. 

Inilah versi kami melakukan backpacker Madiun, cuma berdua dengan modal itinerary sederhana dan kaki yang siap diajak jalan.

Tahu gak, saya justru suka konsep perjalanan seperti ini. Gak perlu buru-buru menyewa kendaraan seharian atau membuat itinerary yang terlalu padat. 

Ada tempat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sementara lokasi yang agak jauh tinggal pesan ojek online. Praktis!

Karena sebelumnya kami sudah menempuh perjalanan dari Jogja menggunakan kereta, sesampainya di Madiun kami pun langsung memulai eksplor kota. Target pertama? Cari oleh-oleh!

Turun di Stasiun Madiun, Jalan-Jalan Hemat Pun Dimulai

Tiba Sekitar Pukul 10.40

Siang itu cuaca Madiun cukup cerah dan lumayan terik. Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang saat itu justru terasa gak terlalu ramai. 

Area perkantoran dan sekolah juga terlihat cukup lengang karena kami datang di jam ketika aktivitas utama masyarakat sedang berlangsung di tempat masing-masing.

Saya sudah mengantisipasi cuaca dengan memakai baju panjang dan topi. Lumayanlah, daripada baru setengah perjalanan sudah berubah menjadi manusia gosong, wkwkwkwk....

Oh ya, saya suka banget dengan tata kota di Madiun ini karena cukup bersih dan di sepanjang jalan, tersedia bangku yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun yang melewatinya. Jadi kalau kami kecapekan, langsung deh duduk sejenak untuk beristirahat. 

Bangku untuk duduk para pejalan kaki
Bangku untuk duduk para pejalan kaki (doc. Riana Dewie)


Buat saya, suasana seperti ini justru menyenangkan. Kami bisa melihat wajah pusat Kota Madiun secara lebih santai, bukan sekadar datang untuk mengejar satu destinasi lalu pulang.

Backpacker Versi Kami: Dekat Jalan, Jauh Sedikit Naik Ojol

Konsep perjalanan kami sebenarnya sederhana. Kalau tempatnya masih memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki, ya jalan kaki. Kalau jaraknya cukup jauh atau cuaca mulai bikin lelah, tinggal mengandalkan ojek online.

Inilah salah satu cara kami menjalankan backpacker ke Madiun. Gak harus selalu identik dengan ransel besar, tidur di penginapan murah, atau berjalan puluhan kilometer. 

Menurut saya, backpacker lebih kepada cara mengatur perjalanan supaya tetap fleksibel dan sesuai kebutuhan.

Tahu gak, konsep seperti ini juga membuat kita lebih mudah menemukan tempat-tempat menarik di luar destinasi yang biasanya muncul di daftar wisata populer.

Dari Oleh-Oleh sampai Gudeg Jogja, Begini Cara Kami Eksplor Madiun

Mampir ke Roti Sandy

Roti Sandy Madiun
Roti Sandy Madiun (doc. Riana Dewie)

Karena tujuan berikutnya adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius, teman saya mengajak mampir sebentar ke Toko Oleh-oleh Roti Sandy. Katanya, toko ini termasuk toko oleh-oleh yang cukup legendaris di Madiun.

Namanya juga toko oleh-oleh Madiun, isinya tentu bikin mata gampang jelalatan. Ada berbagai makanan dan jajanan yang bisa dibawa pulang. Namun, saya dan teman justru langsung terpikat pada satu makanan: bolen pisang.

Kami akhirnya membeli satu kotak bolen. Untuk rasa cokelat harganya Rp60.000, sedangkan keju Rp65.000. Karena saya mengambil rasa mix, harganya menjadi Rp62.500.

Bolen pisang di Roti Sandy Madiun
Bolen pisang di Roti Sandy Madiun (doc. Riana Dewie)


Oh ya, kalau kamu sedang mencari oleh-oleh Madiun yang praktis dibawa, bolen seperti ini lumayan menarik karena bisa langsung masuk tas tanpa terlalu merepotkan perjalanan.

Oleh-Oleh Dulu, Makannya Belakangan

Awalnya saya sempat berpikir, “Apa gak berat ya membawa oleh-oleh dari awal perjalanan?”

Namanya juga baru turun dari stasiun, sementara itinerary Madiun sehari kami masih panjang. Tapi karena setelah itu kami gak akan melewati toko ini lagi, akhirnya saya ikut membeli.

Lagipula, suami saya di rumah ternyata suka banget bolen pisang. Jadi anggap saja sekalian menjalankan tugas sebagai istri yang pulang membawa buah tangan. Hihihihi....

Setelah urusan oleh-oleh beres, kami lanjut ke agenda berikutnya. Dan bagian ini mungkin agak berbeda dari konsep wisata kuliner pada umumnya.

Kok Malah Makan Gudeg di Madiun?

Nah, ini yang bikin saya sendiri ngakak. Setiap pergi ke luar kota, saya dan teman memang terbiasa membawa bekal dari rumah. Jadi untuk makan siang, kami justru membuka bekal nasi gudeg yang dibawa dari Jogja.

Bekal gudeg Jogja untuk perjalanan backpacker Madiun
Bekal gudeg Jogja untuk perjalanan backpacker Madiun (doc. Riana Dewie)


Tujuannya simpel: gak perlu pusing mencari makanan ketika perut sudah mulai lapar. Selain lebih praktis, tentu saja bisa menghemat budget trip.

Padahal, sepanjang perjalanan kami sempat melihat berbagai kuliner Madiun yang menggoda. Salah satunya rujak cingur. Sempat kepikiran mau beli, tetapi takut bekal gudeg malah gak dimakan.

Ya sudah, akhirnya rujak cingur cuma dilewati dengan tatapan penuh harapan. Wkwkwkwk....

Kalau saya sih, strategi membawa bekal seperti ini cocok banget buat kamu yang ingin mencoba wisata hemat Madiun. Uang yang biasanya habis untuk makan siang bisa dialihkan ke jajanan atau aktivitas lain.

Menepi Sejenak di Gua Maria, Lalu Berburu Foto di PSC

Mencari Suasana Hening di Tengah Perjalanan

Salah satu tempat yang sudah saya masukkan ke daftar sejak browsing di Google sebelum berangkat adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius.

Awalnya saya sempat merasa gerejanya seperti tutup. Kami pun sempat bingung harus masuk dari mana. Ternyata ada pintu lain yang terbuka dan akhirnya kami diarahkan menuju area Gua Maria.

Suasananya terasa berbeda dari perjalanan kami sebelumnya. Setelah berjalan di tengah cuaca siang yang cukup terik, berada di tempat yang lebih tenang tentu memberi kesempatan untuk berhenti sejenak.

Gereja Santo Cornelius Madiun
Gereja Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)


Buat saya, tempat seperti Gua Maria Gereja Santo Cornelius bukan sekadar destinasi wisata religi Madiun. Ada suasana hening yang membuat perjalanan terasa lebih lengkap.

Tahu gak, saya memang suka menyisipkan tempat-tempat seperti ini ketika bepergian. Bukan hanya soal foto atau destinasi, tetapi juga memberi ruang untuk menenangkan diri di tengah perjalanan.

Informasi lebih lengkap tentang Gua Maria dan Gereja Santo Cornelius Madiun ini akan saya tulis di artikel khusus, ya.

Area dekat Pahlawan Street Center Madiun atau PSC Madiun
Area dekat Pahlawan Street Center Madiun atau PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Sampailah Kami di Pahlawan Street Center (PSC)

Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Pahlawan Street Center atau PSC Madiun.

Saya baru tahu kalau kawasan ini ternyata termasuk salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi ketika eksplor Madiun. 

PSC merupakan kawasan wisata kota modern yang dikembangkan sebagai ruang publik dengan jalur pedestrian, aktivitas sosial, wisata, hingga area UMKM dan belanja. 

Pemerintah Kota Madiun juga menjadikan kawasan ini sebagai salah satu ikon wisata kota.

Jalanannya tertata, pedestrian cukup nyaman, dan ada berbagai spot yang bisa dijadikan tempat foto. Beberapa ikon tematik bahkan membuat suasana kawasan ini terasa unik.

Siang itu PSC justru relatif sepi. Maklum, matahari sedang semangat-semangatnya menyinari Madiun. Aktivitas biasanya terasa lebih hidup menjelang sore sampai malam, ketika udara mulai bersahabat.

Foto-Foto Dulu, Namanya Juga Traveling

Salah satu Spot foto di Pahlawan Street Center Madiun
Salah satu Spot foto di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)

Sebenarnya PSC ini memang masuk daftar tujuan kami untuk sore hari. Namun karena kebetulan sudah melewati kawasan tersebut, kami tentu gak mau menyia-nyiakan kesempatan.

Saya pun langsung mengambil beberapa foto dengan berbagai pose.

Namanya juga jalan-jalan, masa pulang cuma membawa oleh-oleh? Foto wajib ada dong!

Menurut saya sih, kawasan seperti PSC cocok untuk kamu yang suka mencari tempat foto di Madiun tanpa harus mengeluarkan biaya besar. 

Jalan-jalan santai, melihat suasana kota, kemudian menemukan spot foto yang menarik. Ini sudah cukup untuk membuat one day trip Madiun terasa menyenangkan.

Rute Backpacker Madiun Kami, Masih Ada Lanjutan!

Setelah PSC, perjalanan kami sebenarnya belum selesai. Justru dari sinilah agenda backpacker Madiun kami semakin panjang.

Rute yang kami susun kurang lebih seperti ini:

Stasiun Madiun → Toko Oleh-oleh Sandy → makan bekal gudeg → Gua Maria/Gereja Santo Cornelius → Pahlawan Street Center → Alun-Alun Madiun → coffee shop → Toko Oleh-oleh Mirasa → makan malam → PSC lagi → Stasiun Madiun.

Tahu gak, itinerary Madiun 1 hari seperti ini ternyata cukup memungkinkan dilakukan tanpa kendaraan pribadi, asalkan pintar mengatur jarak dan waktu. 

Beberapa lokasi bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sedangkan destinasi yang lebih jauh tinggal menggunakan transportasi online.

Kami Jalan kaki di kawasan wisata Madiun dekat Stasiun Madiun
Kami Jalan kaki di kawasan wisata Madiun dekat Stasiun Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi buat kamu yang sedang mencari wisata Madiun dekat Stasiun Madiun, konsep seperti ini bisa menjadi salah satu inspirasi. Gak harus mengunjungi semua tempat wisata sekaligus. 

Yang penting rute perjalanan masuk akal, waktu gak terlalu mepet, dan badan masih sanggup diajak keliling.

Saya sendiri menikmati banget perjalanan ini. Ada rasa puas ketika satu per satu tempat berhasil didatangi dengan cara yang sederhana.

Dan ternyata, Madiun backpacker versi saya gak selalu harus mahal. Dengan perencanaan sederhana, bekal dari rumah, jalan kaki, dan sesekali naik ojol, kita tetap bisa menikmati suasana kota.

***

Perjalanan setelah PSC masih membawa kami ke beberapa tempat menarik lainnya. Ada Alun-Alun Madiun, coffee shop, berburu oleh-oleh lagi, makan malam, sampai kembali ke PSC ketika suasananya mulai berubah lebih ramai.

Jadi, cerita backpacker Madiun ini belum selesai.

Tunggu tulisan saya selanjutnya karena saya akan lanjutkan rute berikutnya dalam perjalanan sehari penuh ini. 

Buat saya, trip seperti ini cukup worth it: hemat, santai, dapat banyak cerita, dan yang paling penting, bisa menikmati Madiun dengan cara sendiri.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments