In Destinations

Gua Maria Metes Bantul: Tempat Ziarah Tenang dan Sejuk di Yogyakarta

Gua Maria Metes Bantul

Saya mengenal Gua Maria Metes Bantul baru sekitar dua tahun terakhir. Sebelumnya, saya cuma sering lihat story Instagram teman-teman yang lagi ziarah di sana. 

Dalam hati saya sempat mikir, “Kok ada tempat doa sejuk banget kayak gini?” Eh ternyata, kata mereka, lokasinya gak jauh dari rumah. Hihihihi… saya langsung penasaran dong.

Oh ya, saya sendiri memang tipe orang yang kalau lagi capek atau pikiran penuh, lebih suka cari tempat yang tenang dibanding tempat ramai. Karena jujur aja, tempat yang hening tuh bisa bikin hati jauh lebih lega.

Akhirnya saya coba datang ke sana, dan ternyata benar, suasananya tuh beda. Adem, tenang, dan bikin saya betah berlama-lama. Tempat ini berada di Bantul, Yogyakarta, dan cocok banget buat kamu yang lagi cari tempat refleksi diri.

Akses jalan masuk menuju Gua Maria Metes
Akses jalan masuk menuju Gua Maria Metes (doc. Riana Dewie)


Mengenal Gua Maria Metes, Tempat Doa yang Penuh Kedamaian

Dan betul, setelah saya cek map, ternyata Gua Maria Metes Bantul ini gak jauh dari rumah saya. Bahkan cuma sekitar 25 menit perjalanan. Kalau dipikir-pikir, ini justru gua Maria terdekat yang pernah saya tahu sih.

Oh ya, yang menarik dari tempat ini adalah suasananya yang masih alami dan belum terlalu ramai, jadi terasa seperti hidden gem Bantul.

Lokasi dan Akses Menuju Gua Maria Metes

Untuk lokasi Gua Maria Metes Bantul, alamatnya berada di: Metes, Argorejo, Kec. Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Akses Gua Maria Metes dari Yogyakarta cukup mudah, sekitar 20–30 menit perjalanan. Rute ke Gua Maria Metes Bantul bisa diikuti lewat Google Maps, dan jalannya bisa dilalui motor maupun mobil.

Oh ya, kalau saya sih lebih nyaman pakai motor karena jalannya ada beberapa bagian yang agak sempit.

Sejarah Singkat Gua Maria Metes

Berdasarkan sejarah Gua Maria Metes, tempat ini dulunya merupakan area hutan alami. Lalu perlahan dikembangkan menjadi taman doa oleh masyarakat sekitar.

Pembangunannya dilakukan bertahap, dari sederhana hingga menjadi tempat ziarah yang nyaman seperti sekarang. Fungsinya sebagai tempat ziarah Katolik di Yogyakarta sekaligus ruang refleksi diri dan doa.

Gua Maria Metes
Gua Maria Metes (doc. Riana Dewie)


Daya Tarik Gua Maria Metes yang Bikin Hati Adem

Suasana Alam yang Sejuk dan Asri

Begitu sampai, saya langsung merasakan udara yang segar. Pepohonan rindang dan suasana alami bikin tempat ini terasa damai.

Oh ya, di sini juga ada aliran air seperti air terjun kecil. Saat musim hujan, airnya mengalir deras. Tapi saat kemarau, memang gak ada air. Walaupun begitu, tetap terasa sejuk sih.

Tempat ini dulunya seperti hutan, lalu dikembangkan jadi taman doa yang tetap mempertahankan nuansa alaminya.

Spot Doa dan Refleksi yang Hening

Patung Bunda Maria dengan para malaikatnya yang "mengintip"
Patung Bunda Maria dengan para malaikatnya yang "mengintip" (doc. Riana Dewie)

Di area utama terdapat gua dengan patung Bunda Maria. Tersedia juga tempat duduk untuk berdoa.

Yang unik, patung Bunda Maria di sini dikelilingi malaikat-malaikat kecil yang seolah “mengintip”. Simbol ini menggambarkan kesakralan dan ketenangan.

Oh ya, saya sempat duduk cukup lama di sini, dan rasanya hati jadi lebih ringan.

Nuansa Spiritual yang Kuat dan Menenangkan

Sebagai gua Maria tempat doa umat Katolik, tempat ini punya suasana yang sangat mendukung untuk doa rosario di gua Maria, meditasi, atau refleksi diri.

Tersedia gazebo untuk beristirahat dan air minum bagi pengunjung.

Kalau saya sih biasanya datang tanpa rencana, duduk saja, dan menikmati suasana. Hahahaha… sederhana tapi bermakna.

Menikmati Suasana Gua Maria Metes
Menikmati Suasana Gua Maria Metes (doc. Riana Dewie)


Fasilitas dan Informasi Penting untuk Pengunjung

Fasilitas yang Tersedia

Fasilitas Gua Maria Metes cukup sederhana namun memadai. Area parkir tersedia untuk motor dan mobil.

- Parkir mobil tersedia dekat pintu masuk (kapasitas terbatas)
- Parkir motor lebih fleksibel dan luas
- Akses jalan kaki dari parkiran ke gua cukup dekat

Oh ya, biaya parkir biasanya sukarela atau donasi. Kisaran motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000.

Jam Buka dan Tiket Masuk

Jam buka Gua Maria Metes adalah 24 jam setiap hari.

Tiket masuk Gua Maria Metes Bantul gratis. Tidak ada biaya resmi, hanya donasi sukarela untuk perawatan.

Oh ya, waktu terbaik berkunjung sih pagi atau sore hari karena lebih adem.


Tips Berkunjung ke Gua Maria Metes Biar Lebih Nyaman

Waktu Terbaik untuk Datang

Pagi dan sore adalah waktu terbaik karena suasana lebih sejuk. Malam hari juga cocok untuk doa yang lebih hening.

Etika Saat Berkunjung ke Tempat Ziarah

Karena ini wisata religi di Bantul, penting untuk menjaga ketenangan, berpakaian sopan, dan menghormati pengunjung lain.

Menjaga Ketenangan selama ziarah di Gua Maria Metes  (doc. Riana Dewie)


Persiapan Sebelum Berangkat

Bawa air minum, gunakan alas kaki nyaman, dan siapkan diri untuk berjalan sedikit.

Oh ya, jangan lupa bawa hati yang tenang juga ya.

Setiap kali datang ke Gua Maria Metes Bantul, saya selalu merasa lebih adem dan seperti di-reset kembali.

Tempat ini bukan sekadar wisata spiritual Jogja, tapi juga ruang untuk menemukan diri sendiri.

Saya sudah, kamu kapan?


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Bangun Pagi dengan Kabut: Balkondes Ngargogondo Borobudur

Balkondes Ngargogondo Borobudur

Malam sudah turun sepenuhnya saat saya tiba di kawasan Ngargogondo, tak jauh dari Candi Borobudur. 

Jalanan mulai sepi, hanya suara angin yang sesekali menyapu pepohonan dan menciptakan suasana yang entah kenapa terasa sedikit… misterius. 

Udara dingin langsung menyambut begitu saya turun dari mobil yang membawa saya dan kawan-kawan. Bukan sekadar sejuk biasa, tapi dingin yang pelan-pelan merayap dan bikin merinding halus.

Oh ya, ini adalah pengalaman pertama saya menginap di Balkondes Ngargogondo Borobudur, jadi wajar kalau rasa penasaran bercampur sedikit deg-degan. 

Mau tahu suasana penginapan ini? Kayaknya kamu wajib baca ini sampai selesai deh!


Pengalaman Pertama Tiba di The Gade Village Balkondes Ngargogondo

Brrrrr.... dingin poll, sumpah. Kayaknya ini adalah satu-satunya tempat penginapan terdingin yang pernah saya datangi. 

Di tengah temaram lampu desa, saya mulai bertanya-tanya dalam hati: seperti apa ya kamar yang akan saya tempati nanti? Apakah hangat dan nyaman, atau justru dingin menusuk seperti udara di luar?

Pendopo saat pertama kali kami datang di The Gade Village
Pendopo saat pertama kali kami disapa ramah di The Gade Village (doc. Riana Dewie)

Saya bahkan belum tahu akan dapat kamar di bagian mana, dekat area utama atau justru agak tersembunyi. 

Semua terasa samar, penuh rasa penasaran yang bercampur dengan sedikit ketegangan, seolah malam itu sengaja menyimpan cerita yang belum siap diungkap. 

Kalau saya sih jujur agak overthinking di awal, hahahaha....

Akses Lokasi yang Mudah dari Kawasan Candi Borobudur

Untuk menuju The Gade Village Balkondes Ngargogondo, aksesnya cukup mudah dari kawasan Candi Borobudur. Perjalanan hanya sekitar 10–15 menit menggunakan kendaraan. 

Rutenya melewati jalan desa yang cukup mulus, dengan pemandangan sawah di kanan kiri. Meski malam hari terasa agak sepi, tapi arah jalannya jelas dan mudah diikuti melalui Google Maps. 

Ini jadi salah satu keunggulan sebagai penginapan dekat Candi Borobudur yang praktis dijangkau.

Proses Check-in dan Sambutan Hangat

Oh ya, meskipun suasananya dingin dan agak misterius, para staf di sini justru menyambut dengan hangat dan ramah. 

Mereka menjelaskan detail lokasi kamar, fasilitas, hingga area sekitar dengan sangat jelas. Bahkan kami diantar langsung ke kamar masing-masing. 

Pelayanannya sih menurut saya cukup memuaskan untuk ukuran homestay desa.


Suasana Menginap di Tengah Alam yang Menenangkan

Balkondes Ngargogondo “The Gade Village” merupakan salah satu balai ekonomi desa dengan konsep penginapan suasana desa Borobudur yang kental dengan nuansa alam.

Ruangan dipenuhi dengan pernak-pernik kayu
Ruangan dipenuhi dengan pernak-pernik kayu (doc. Riana Dewie)

Desain Interior Bernuansa Alam dan Kayu

Yang bikin saya kagum, ruang tidurnya benar-benar dipercantik dengan desain kayu dan anyaman bambu. Nuansanya rustic modern, hangat, natural, dan ramah lingkungan. 

Elemen kayu ini memberikan kesan nyaman sekaligus estetik. Cocok banget buat yang suka penginapan bernuansa tradisional.

Dikelilingi Sawah dan Gunung yang Menyejukkan Mata

Ini enak banget sih. Begitu bangun tidur, saya keluar dari kamar dan langsung disambut suasana pagi berkabut. 

Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin, dengan latar pegunungan yang bikin hati adem. Duduk santai di teras sambil ngobrol dengan teman di kamar sebelah jadi momen sederhana tapi berkesan. 

Rasanya seperti tinggal di desa sendiri, dikelilingi sawah hijau dan udara segar khas pedesaan.

Oh ya, momen bangun pagi dengan kabut ini jadi highlight favorit saya selama di sini.

Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin
Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin (doc. Riana Dewie)


Malam Hari yang Tenang, Jauh dari Kebisingan Kota

Kalau ditanya senyaman apa suasana malam di sana? Sunyi banget. Gak ada suara kendaraan, hanya jangkrik yang menemani. 

Buat yang penakut mungkin agak deg-degan, apalagi satu kamar untuk satu orang. Tapi saya sih justru merasa nyaman. Mungkin karena suasana alamnya positif dan bikin hati lebih tenang.


Cerita 4 Hari Menginap: Mencari Pengalaman Baru

Selama pengalaman menginap 4 hari di sini, banyak aktivitas menarik yang kami lakukan. Mulai dari wisata kuliner, budaya, hingga eksplorasi alam. 

Kawasan Borobudur memang kaya akan sejarah dan budaya, jadi setiap hari selalu ada cerita baru.

Menjelajah Desa dan Interaksi dengan Warga Lokal

Kami sempat mengunjungi pusat gerabah dan berkeliling desa menggunakan mobil VW warna-warni yang lucu banget. Sesekali berhenti di tengah sawah untuk foto-foto, lalu lanjut ke tempat kuliner khas Jawa.

Oh ya, kami juga sempat ke tempat produksi kopi luwak dan bisa berinteraksi langsung dengan luwaknya, seru banget, hihihihi.... Pengalaman seperti ini jarang saya temui di kota.

Ini luwaknya, cakep kan?
Ini luwaknya, cakep kan? (doc. Riana Dewie)


Fasilitas dan Kenyamanan di The Gade Village Balkondes

Kamar dengan Nuansa Tradisional yang Nyaman

Kamar di sini cukup nyaman dengan fasilitas dasar seperti AC, TV, dan kamar mandi air panas. Meski sederhana, tapi bersih dan rapi.

Area Terbuka untuk Bersantai dan Healing

Area luar penginapan luas dan asri, cocok untuk duduk santai atau sekadar menikmati pemandangan gunung dari penginapan.

Area luar penginapan luas dan asri
Area luar penginapan luas dan asri (doc. Riana Dewie)


Fasilitas Pendukung yang Cukup Lengkap

Tersedia area parkir, ruang makan, dan sarapan sederhana. Untuk ukuran homestay di Borobudur view gunung, fasilitas ini sudah cukup memadai.

Harga Worth It

Oh ya, untuk harga Balkondes Ngargogondo, kisarannya sekitar Rp400.000 – Rp500.000 per malam. Dengan harga tersebut, kamu sudah mendapatkan fasilitas lengkap, suasana desa, serta view pegunungan Menoreh. 

Menurut saya sih ini termasuk Balkondes terbaik di Borobudur dengan harga yang masih terjangkau.


Kenapa Balkondes Ngargogondo Cocok untuk Healing?

Jauh dari Hiruk Pikuk Kota

Lokasinya yang berada di desa membuat suasana benar-benar tenang. Cocok untuk kamu yang ingin kabur sejenak dari rutinitas kota.

Suasana Alam yang Membantu Recharge Energi

Udara segar, kabut pagi, dan suasana alami benar-benar membantu recharge energi. Ini adalah definisi healing di alam terbuka yang sesungguhnya.

Cocok untuk Staycation atau Quality Time

Tempat ini ideal untuk staycation di desa wisata, work from anywhere, atau sekadar menikmati waktu bersama diri sendiri.

Balkondes Ngargogondo The Gade Village
Balkondes Ngargogondo The Gade Village (doc. Riana Dewie)

Pengalaman Sederhana yang Sulit Dilupakan

Refleksi dari 4 hari ini benar-benar menyenangkan. Saya merasa lebih fresh dan punya energi baru setelah menikmati suasana sejuk dan asri di sini. 

Interaksi dengan alam dan warga lokal memberikan pengalaman yang berbeda dari biasanya.

Oh ya, kalau kamu sedang mencari penginapan dengan suasana alam di Borobudur, saya sangat merekomendasikan The Gade Village Balkondes Ngargogondo. 

Tempat ini bukan hanya soal menginap, tapi juga soal merasakan hidup yang lebih sederhana dan tenang.

menikmati suasana sejuk dan asri
Menikmati suasana sejuk dan asri (doc. Riana Dewie)


Saatnya perpisahan pun tiba, meski jujur kami gak ingin pulang. 

Ada rasa ingin mengulang lagi semua momen ini. Ah, kapan ya bisa ke sini lagi? Semoga suatu saat nanti, di waktu yang tepat 😊



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Enam Langit by Plataran Borobudur: Pengalaman Sarapan dengan View Gunung

pemandangan sunrise di Enam Langit by Plataran Borobudur dari atas bukit

Kira-kira di bulan Juni 2021, saya berkesempatan datang ke Enam Langit by Plataran Borobudur saat mengikuti event Konferensi Sound of Borobudur. Dari sekian banyak venue yang kami kunjungi selama 5 hari, tempat ini jadi salah satu yang paling membekas.

Awalnya, saya pikir ini cuma tempat biasa dengan pemandangan hijau khas perbukitan. Tapi begitu sampai… wah, ternyata luar biasa. Banyak spot estetik yang bikin saya benar-benar speechless.

Oh ya, jujur saja saya gak berekspektasi tinggi sebelumnya, tapi ternyata justru itu yang bikin pengalaman ini terasa lebih spesial.

Kalau kamu penasaran seperti apa rasanya sarapan dengan pemandangan gunung dari atas bukit, yuk ikuti cerita saya ini…


Pengalaman Pertama ke Enam Langit Saat Subuh

Perjalanan dimulai sangat pagi, bahkan bisa dibilang masih gelap gulita. Saya dan rombongan yang menginap di The Gade Village sudah bersiap sejak sebelum jam 4 pagi.

Oh ya, mandi pagi di udara dingin kaki perbukitan Menoreh itu pengalaman tersendiri sih—antara segar dan menggigil jadi satu.

Sekitar jam 4.15, kami berangkat menggunakan mini bus. Jalan menuju lokasi ternyata cukup menanjak dan berliku. Sepanjang perjalanan, suasana masih sepi, hanya lampu kendaraan yang menemani.

Sampai di Enam Langit by Plataran Borobudur masih gelap
Sampai di Enam Langit by Plataran Borobudur masih gelap (doc. Riana Dewie)

Sesampainya di Enam Langit by Plataran sekitar pukul 5 kurang, suasana masih gelap. Udara dingin langsung menyambut, dan tempatnya terasa tenang banget.

Awalnya memang belum terlihat apa-apa. Tapi perlahan… langit mulai berubah warna.

Dan saat cahaya mulai muncul, satu hal yang langsung terlintas di kepala saya: “Ini sih bukan tempat biasa…”


Menikmati Sarapan dengan View Gunung yang Memukau

Momen Sunrise yang Bikin Speechless

Perubahan langit dari gelap ke terang benar-benar magis. Gunung-gunung mulai terlihat satu per satu, menciptakan view alam Borobudur dari atas yang luar biasa indah.

Saya yang biasanya gak terlalu suka live, tiba-tiba langsung buka Instagram dan mulai siaran. Dan lucunya, banyak teman yang langsung join dan bertanya, “Kamu lagi di mana? Kok bagus banget?”

Dengan bangga saya jawab dong… hihihihi… jarang-jarang bisa pamer view seperti ini.

Oh ya, momen menikmati sunrise dari ketinggian seperti ini benar-benar bikin saya sadar kalau Indonesia punya banyak hidden gem dekat Borobudur yang luar biasa.

spot foto terbaik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan latar gunung dan langit
Spot foto terbaik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan latar gunung dan langit (doc. Riana Dewie)


Suasana Sarapan yang Tenang dan Eksklusif

Setelah matahari mulai naik, suasana jadi makin hangat tapi tetap sejuk. Tempat ini punya ambience yang tenang, nyaman, dan terasa premium.

Selain view gunung yang menjulang, saya juga sempat melihat kolam renang di depan resto yang terlihat segar banget.

Kalau saya sih, rasanya pengin sekalian nginep dan menikmati semua fasilitasnya.

Sarapan dengan pemandangan gunung seperti ini jelas bukan pengalaman biasa. Ini lebih ke pengalaman makan di atas bukit yang lengkap; view, udara, dan suasana semuanya menyatu.

Oh ya, hampir setiap sudut di sini juga cocok banget buat spot foto instagramable di Borobudur.

Dan tentu saja… makanan saya foto dulu sebelum dimakan. Itu wajib sih. Hahahaha…


Menu dan Harga Enam Langit by Plataran

Pilihan Menu Sarapan yang Disajikan

menu sarapan estetik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan konsep picnic breakfast
Menu sarapan estetik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan konsep picnic breakfast (doc. Riana Dewie)

Menu di sini disajikan dalam bentuk paket, bukan à la carte. Konsepnya lebih ke picnic breakfast yang estetik.

Isi menunya cukup lengkap, mulai dari hidangan utama seperti nasi goreng, ayam, atau sate, hingga pendamping seperti telur, sambal, dan buah. Ada juga minuman hangat dan jus segar.

Menunya kombinasi antara tradisional Indonesia dan internasional, jadi cocok untuk berbagai selera.

Dari segi rasa, menurut saya enak dan cukup berkelas. Tapi yang paling menonjol tetap pengalaman makan dengan panorama pegunungan.

Plating-nya juga cantik banget: rapi, estetik, dan Instagramable. Vibes-nya seperti fine dining tapi di alam terbuka.

Harga dan Sistem Reservasi

Untuk harga Enam Langit Borobudur, memang tergolong premium.

Kisaran paket sarapan sekitar Rp300.000 – Rp500.000 per orang, sudah termasuk makanan, minuman, dan akses view eksklusif.

Oh ya, harga ini bisa berubah tergantung hari dan paket yang dipilih.

Reservasi di sini wajib, karena kapasitas terbatas dan banyak yang datang khusus untuk sunrise di Enam Langit Borobudur.

Tanpa booking, kemungkinan besar kamu gak akan dapat tempat.

- Booking minimal H-3
- Pilih slot sunrise
- Minta spot outdoor
- Datang tepat waktu

Kalau saya sih, lebih baik effort di awal daripada menyesal karena gak dapat view terbaik.


suasana sarapan di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan panorama pegunungan
Suasana sarapan di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan panorama pegunungan (doc. Riana dewie)


Lokasi, Akses, dan Tips Berkunjung

Lokasi Enam Langit di Area Borobudur

Lokasi Enam Langit Borobudur berada di kawasan perbukitan Menoreh, tepatnya di Desa Candirejo.

Dari Candi Borobudur, jaraknya sekitar 15–20 menit berkendara.

Akses menuju lokasi memang menanjak, tapi justru itu yang membuat tempat ini terasa eksklusif.

View yang ditawarkan bukan hanya satu gunung, tapi beberapa sekaligus. Inilah yang membuatnya jadi restoran dengan view gunung di Borobudur yang unik.


Worth It Gak Sarapan di Enam Langit?

Kalau ditanya worth it atau gak?

Jawaban saya: worth it.

Dari awal datang sampai selesai, yang saya rasakan bukan sekadar sarapan, tapi sebuah pengalaman.

Mulai dari perjalanan subuh, suasana pagi yang tenang dan sejuk, sampai menikmati makanan dengan view terbaik, semuanya terasa spesial.

Oh ya, ada satu momen di mana saya cuma diam, pegang secangkir teh hangat, dan menikmati pemandangan tanpa gangguan. Dan itu rasanya priceless.

Kelebihan
- View alam yang luar biasa
- Suasana tenang dan eksklusif
- Konsep makan yang unik

Kekurangan
- Harga cukup tinggi
- Akses jalan menanjak

pemandangan sunrise di Enam Langit by Plataran Borobudur dari atas bukit
Saya berfoto saat menunggu sunrise di Enam Langit by Plataran Borobudur (doc. Riana dewie)


Pada akhirnya, saya sadar… yang saya bayar bukan cuma makanan.

Melainkan pengalaman sarapan di atas awan yang gak bisa saya dapatkan di tempat lain.

Dan buat saya pribadi, itu sangat layak untuk dicoba, ya minimal sekali seumur hidup.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Ciri Khas Pasar Beringharjo Jogja yang Bikin Kangen

ciri khas Pasar Beringharjo Jogja dengan suasana ramai pengunjung di area dalam pasar

Kalau ngomongin ciri khas Pasar Beringharjo Jogja, saya langsung kebayang suasana ramai, jajanan tradisional, dan deretan batik warna-warni yang bikin mata segar. 

Pasar Beringharjo memang selalu punya tempat spesial di hati saya sih, apalagi sejak kecil sudah sering diajak ke sana.

Oh ya, kemarin saya tiba-tiba kangen dengan salah satu tempat belanja ikonik di kota saya sendiri. Tepatnya di salah satu sudut Malioboro yang cukup ikonik dan jadi tujuan wisata belanja di Pasar Beringharjo.

Ya, Beringharjo memang selalu bikin rindu. Rindu akan suasana, jajanan, kerumunan orang-orangnya... dannnn yang pasti, harganya yang masuk kantong. 

Ikut saya jalan-jalan yuk, siapa tahu kamu juga jadi kangen hihihihi....


Sekilas Tentang Pasar Beringharjo Jogja

Lokasi Strategis di Kawasan Malioboro

Letaknya yang berada di kawasan Malioboro membuat Pasar Beringharjo selalu jadi magnet wisatawan. Mau jalan-jalan santai, cari oleh-oleh khas Jogja murah, atau sekadar kulineran, semuanya ada di sini.

Tiap ada teman main ke Jogja, pasti yang dibahas tentang Malioboro. Entah pingin jalan-jalan, belanja, bahkan cari penginapan pun yang dekat Malioboro.

Oh ya, daya magnet Malioboro memang cukup kuat untuk menarik perhatian wisatawan, baik lokal maupun asing. Jadi gak heran kalau area ini selalu hidup dari pagi sampai malam.

ciri khas Pasar Beringharjo Jogja sebagai pusat batik murah di kawasan Malioboro
Ciri khas Pasar Beringharjo Jogja sebagai pusat batik murah di kawasan Malioboro (doc. Riana Dewie)

Pasar Tradisional yang Tetap Eksis di Tengah Modernisasi

Di tengah banyaknya mall modern, Pasar Beringharjo tetap punya tempat tersendiri. Kalau mall lebih rapi dan ber-AC, pasar tradisional seperti ini justru menawarkan pengalaman belanja yang lebih “hidup”.

Di sini, kita bisa merasakan langsung keunikan Pasar Beringharjo, mulai dari interaksi pedagang hingga suasana ramai pasar tradisional yang khas. Nilai historis dan budaya juga masih terasa kuat.


Surga Batik dengan Harga Beragam

Batik Tulis, Cap, hingga Printing

Di sini ada berbagai jenis batik, mulai dari batik tulis yang dibuat manual, batik cap dengan pola tertentu, hingga batik printing yang lebih terjangkau.

Semua lengkap! Mau cari batik formal buat kerja, kondangan, atau batik santai buat anak muda, semuanya ada. Bahkan daster, babydoll, sampai baju balita juga tersedia.

Oh ya, kalau saya sih paling suka lihat-lihat motifnya dulu sebelum beli, karena tiap toko punya ciri khas masing-masing.

Gak heran kalau Beringharjo dikenal sebagai pusat batik Jogja Malioboro.

ciri khas Pasar Beringharjo Jogja sebagai pasar tradisional legendaris yang selalu ramai
Ciri khas Pasar Beringharjo Jogja sebagai pasar tradisional legendaris yang selalu ramai (doc. Riana Dewie)

Tips Berburu Batik Murah di Beringharjo

Jujur, saya bukan orang yang pandai menawar. Tapi biasanya saya coba turunin harga sekitar 25% dari harga awal.

Kalau berhasil ya syukur, kalau gak ya gak apa-apa. Saya biasanya lanjut cari di penjual lain. Karena pesaingnya banyak, kita sebagai pembeli punya banyak pilihan.

Oh ya, pengalaman belanja di Beringharjo memang seru banget. Kadang capek, tapi puas karena bisa dapat barang bagus dengan harga miring. Hahahaha....


Jajanan Tradisional yang Bikin Nostalgia

Aneka Jajanan Khas Jogja yang Legendaris

Di luar pasar, terutama di pinggiran gerbang samping, banyak banget jajanan tradisional Pasar Beringharjo yang menggoda.
- Sate kere
- Dawet ayu
- Bakwan Kawi
- Cilok
- Kue leker
- Bakso tusuk
- Sate ayam
dll

ciri khas Pasar Beringharjo Jogja dengan jajanan tradisional khas yang menggugah selera
Ciri khas Pasar Beringharjo Jogja dengan jajanan tradisional khas yang menggugah selera (doc. Riana Dewie)

Kuliner khas Jogja di pasar ini memang gak pernah gagal bikin lapar mata. Apalagi harganya ramah di kantong.

Sensasi Jajan di Tengah Keramaian Pasar

Satu hal yang kadang bikin sebel adalah antriannya panjang. Tapi gak apa-apa sih, karena semua terbayar dengan rasa jajanan yang enak.

Oh ya, sensasi makan di tengah keramaian itu justru jadi pengalaman yang gak bisa dilupakan. Suasana hangat dan ramai bikin semuanya terasa lebih hidup.


Andong dan Becak, Transportasi Ikonik Jogja

Andong, Simbol Wisata Tradisional Jogja

Andong Malioboro Jogja adalah salah satu ikon yang sering saya lihat di sekitar pasar.

Dulu waktu kecil, saya pernah naik andong saat diajak orang tua ke Gembiraloka. Rasanya seru banget!

Walaupun sekarang saya kadang merasa kasihan melihat kuda-kudanya kalau terlihat lelah, saya berharap para pemiliknya bisa merawat dengan baik.

Becak, Transportasi Santai Menyusuri Malioboro

Selain andong, becak wisata Jogja juga sering terlihat berjejer di sekitar Beringharjo.

Saya beberapa kali naik becak saat mengantar saudara keliling Jogja. Bahkan dulu waktu SMP, saya juga sering naik becak kalau gak dijemput.

Jogja memang se-asyik ini sih. Banyak kenangan yang tersimpan dari kecil sampai sekarang.

ciri khas Pasar Beringharjo Jogja dengan andong dan becak di sekitar area Malioboro
Ciri khas Pasar Beringharjo Jogja dengan andong dan becak di sekitar area Malioboro (doc. Riana Dewie)

Suasana Ramai yang Jadi Daya Tarik Utama

Pedestrian Malioboro yang sekarang makin rapi bikin suasana jalan-jalan jadi lebih nyaman.

Di depan Beringharjo, langkah kaki rasanya ingin cepat-cepat masuk untuk mulai berburu barang.

Ramai yang Justru Bikin Kangen

Begitu masuk ke dalam, suasana ramai langsung terasa. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

Oh ya, suasana ramai ini yang bikin saya selalu kangen untuk kembali lagi.

Interaksi Hangat antara Pedagang dan Pembeli

Salah satu hal yang paling saya suka adalah interaksi antara pedagang dan pembeli. Hangat, santai, dan kadang penuh canda.

Pasar Beringharjo identik dengan apa saja? Jawabannya jelas: kehangatan, keramaian, dan pengalaman yang gak bisa ditemukan di tempat lain.

***

Pokoknya pasar tradisional legendaris Jogja ini memang gak bakal hilang dari ingatan saya. Semoga eksistensinya selalu terjaga dan terus jadi tempat untuk melepas rindu akan Jogja ❤️



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Pictniq Land Jogja Malam Hari: Wisata Estetik dengan Suasana Romantis

Pictniq Land Jogja malam hari dengan lampu estetik

Kalau kamu lagi cari wisata malam di Jogja yang estetik dan beda dari yang lain, saya punya satu rekomendasi yang wajib banget masuk list: Pictniq Land Jogja. Tempat ini memang lagi naik daun sebagai tempat nongkrong malam Jogja aesthetic yang cocok buat healing tipis-tipis.

Tempat wisata hits di area Patuk, Gunungkidul ini pada awal berdiri memang se-viral itu. Dulu saya lihat video orang-orang saat matahari masih cerah. Tapi saat saya kesana di sore jelang malam, ternyata suasananya gak kalah cantik. Mau tahu cerita saat saya piknik kesana?

Oh ya, jujur aja saya awalnya gak berekspektasi tinggi karena biasanya tempat viral itu suka overhype. Tapi yang satu ini beda sih.


Pertama Kali ke Pictniq Land Jogja di Malam Hari

Awalnya saya dan keluarga datang ke sini saat sore menjelang malam, dan jujur, suasananya langsung bikin jatuh hati. Suasana malam Pictniq Land Jogja benar-benar terasa hidup dengan lampu-lampu estetik yang menyala perlahan.

Udara sejuk khas Gunungkidul, ditambah pemandangan malam Gunungkidul dari ketinggian, bikin tempat ini terasa seperti tempat healing di Jogja malam hari yang tenang sekaligus romantis. Gak heran kalau sekarang jadi salah satu spot favorit buat pasangan atau keluarga.

Oh ya, kalau saya sih paling suka momen saat langit mulai gelap tapi lampu-lampu belum semuanya menyala; itu vibes-nya dapet banget!

spot foto Pictniq Land malam aesthetic
Spot foto Pictniq Land malam aesthetic (doc. Riana Dewie)


Kesan Pertama Saat Sampai di Pictniq Land

  • Luas
    Saya lihat lahannya begitu luas, mulai dari area parkir sampai ke berbagai spot foto. Gak terasa sempit walaupun pengunjung ramai.

  • Megah
    Kesan pertama saya: “Wow, bagus…!” Serius, desain tempatnya dibuat modern tapi tetap menyatu dengan alam.

  • Fasilitas lengkap
    Di sini sudah tersedia area parkir luas, toilet bersih, mushola, tempat makan, hingga area duduk santai. Bahkan ada beberapa spot untuk tempat dinner romantis Jogja outdoor juga.

Hihihihi… saya sampai bingung mau foto di mana dulu karena hampir semua sudutnya menarik!


Daya Tarik Pictniq Land Jogja Saat Malam Hari

Lampu Estetik yang Bikin Suasana Makin Cantik

Salah satu daya tarik utama tentu saja lampu estetik Jogja malam yang jadi ciri khas tempat ini. Lampu-lampu gantung, dekorasi LED, sampai instalasi cahaya dibuat dengan konsep yang Instagramable banget.

Oh ya, lampu-lampu ini gak cuma cantik buat dilihat, tapi juga bikin suasana jadi lebih hangat dan nyaman.

View Malam Gunungkidul yang Menenangkan

pemandangan malam Gunungkidul dari Pictniq Land
Pemandangan malam Gunungkidul dari Pictniq Land (doc. Riana Dewie)

Dari ketinggian, kamu bisa melihat city light Jogja yang kelap-kelip. Ini yang bikin banyak orang menyebut tempat ini sebagai hidden gem Gunungkidul malam.

Kalau saya sih, bagian ini yang paling bikin betah. Duduk santai sambil lihat lampu kota dari jauh rasanya damai banget.

Spot Foto Instagramable di Pictniq Land

- Area lampu gantung – cocok untuk foto romantis dan aesthetic.
- Jembatan kayu dengan lampu – nuansa hangat dan dreamy.
- Area dome – spot santai dengan desain unik.
- View deck – latar city light yang cantik.
- Area piknik outdoor – konsep santai ala piknik kekinian.
- Menara ala Eropa (Mirip Eiffel mini)
- Bangunan kastil Eropa  
- Spot ala Santorini/Mediterania
- Jembatan kayu ala pedesaan Eropa

Oh ya, kalau kamu datang agak sore, kamu bisa dapat dua suasana sekaligus: sunset dan malam hari. Worth it banget!


Informasi Penting Sebelum ke Pictniq Land Jogja

Lokasi Pictniq Land Gunungkidul

Lokasinya ada di kawasan Patuk dan cukup mudah dijangkau dari pusat kota Jogja. Akses jalannya sudah bagus walaupun sedikit menanjak.

Harga Tiket Masuk Pictniq Land

Untuk harga tiket Pictniq Land Jogja, masih tergolong terjangkau, yaitu 

1. Weekday Pagi: Rp30.000 - Rp35.000
2. Weekend/Libur Pagi: Rp35.000 - Rp50.000
Menurut saya sih worth it dengan fasilitas yang didapat.

Jam Buka & Waktu Terbaik Berkunjung

Untuk jam buka Pictniq Land Jogja, umumnya dari siang hingga malam. Waktu terbaik datang sekitar pukul 17.00–18.30.

Oh ya, jangan terlalu malam kalau mau foto maksimal karena beberapa spot bisa lebih ramai.

pemandangan malam Gunungkidul dari Pictniq Land
Pemandangan malam Gunungkidul dari Pictniq Land (doc. Riana Dewie)


Tips Berkunjung ke Pictniq Land Jogja Malam Hari

Datang Saat Cuaca Cerah

Cuaca cerah bikin view lebih maksimal dan foto jadi lebih bagus.

Pilih Outfit yang Nyaman & Estetik

Pilih warna outfit yang cocok dengan lighting biar hasil foto makin menarik.

Datang Bareng Teman atau Pasangan

Tempat ini cocok untuk wisata romantis Gunungkidul malam atau sekadar nongkrong santai.

Oh ya, saya sempat lihat banyak yang foto prewedding juga di sini; berarti memang seindah itu!

tempat nongkrong malam Jogja aesthetic di Pictniq Land
Tempat nongkrong malam Jogja aesthetic di Pictniq Land (doc. Riana Dewie)


Worth It Gak ke Pictniq Land Jogja Malam Hari?

Menurut saya, dengan harga tiket segitu, Pictniq Land Jogja malam hari cukup worth it ya. Apalagi tempat ini terus melakukan inovasi dan menambah spot baru.

Yang saya suka, tempat ini bukan cuma sekadar wisata Jogja kekinian Instagramable, tapi juga punya suasana yang bikin hati tenang.

Hahahaha… saya aja sampai pengen balik lagi ke sini suatu hari nanti!

Jadi, kalau kamu lagi di Jogja dan bingung cari tempat malam yang beda, coba deh mampir ke sini. Siapa tahu kamu juga bakal jatuh hati seperti saya :)




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wisata Sejarah

Wisata Keraton Jogja: Nonton Wayang Wong dan Jelajah Area Tersembunyi

Tarian Klasik Keraton Jogja

Sabtu, 28 Maret 2026 jadi hari yang cukup spontan buat saya. Tiba-tiba aja diajak adek untuk ikut wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton. 

Jujur, walau saya tinggal di Jogja, saya termasuk jarang banget ke sini. Mungkin baru sekitar tiga kali dalam 10 tahun terakhir. Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya saya yang tinggal dekat justru jarang menikmati wisata budaya Keraton Jogja ini, sih?

Oh ya, saya sendiri memang lagi pengen cari suasana liburan yang beda; yang gak cuma foto-foto cantik, tapi juga punya cerita. 

Dan ternyata, pilihan wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton ini benar-benar membuka pengalaman baru yang gak saya duga sebelumnya.


Alasan Saya Memilih Keraton Jogja

Menurut saya, wisata budaya itu punya daya tarik tersendiri. Gak cuma soal jalan-jalan, tapi juga belajar dan merasakan langsung nilai-nilai yang sudah ada sejak lama. 

Di tengah banyaknya tempat hits di Jogja, wisata sejarah Jogja seperti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat justru terasa lebih “hidup”.

wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton di area dalam keraton
Antrean tiket wisata Keraton Jogja (doc. Riana Dewie)

Suasana keraton waktu itu cukup ramai. Area parkiran mobil juga lumayan penuh. Yang unik, parkiran ini dihiasi pedagang jajanan yang sifatnya “nomaden”. 

Mereka jualan di sela-sela mobil, dan kalau ada kendaraan datang, langsung geser dengan cepat. Hmmmm, sigap juga ya tapi lucu hihihihi....

Oh ya, dari awal masuk saja saya sudah merasakan aura berbeda. Ada nuansa tenang tapi tetap ramai, khas tempat yang menyimpan sejarah Keraton Jogja yang panjang.


Menyaksikan Wayang Wong di Keraton Jogja yang Penuh Magis

Pengunjung memenuhi area panggung pertunjukan seni tari klasik
Pengunjung memenuhi area panggung pertunjukan seni tari klasik (doc. Riana Dewie)

Salah satu highlight dari wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton ini tentu saja pertunjukan wayang wong Keraton Yogyakarta. Ternyata, jadwal wayang wong keraton itu berbeda-beda setiap minggu. 

Waktu saya datang, kebetulan sedang ada Pentas Paket Wisata Srimanganti tanggal 24–29 Maret 2026, mulai pukul 09.00–11.00 WIB. Syaratnya hanya membeli tiket masuk ke Keraton Jogja. 

Harga tiketnya juga cukup ramah di kantong. Untuk domestik hanya sekitar 15 ribu, dan mancanegara 25 ribu. Murah banget untuk sebuah pertunjukan budaya Jogja yang autentik seperti ini, sih.

Para penabuh gamelan di Keraton Yogyakarta
Para penabuh gamelan di Keraton Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Suasana Pertunjukan yang Bikin Merinding

Begitu pertunjukan dimulai, suara gamelan langsung mengalun pelan. Rasanya seperti ditarik masuk ke dunia lain. Kostum para penari terlihat detail dan megah, dengan jumlah penari yang cukup banyak dari dua sisi panggung.

Aura sakralnya terasa banget. Saya bahkan sempat merinding karena suasananya begitu khidmat. Ini bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman nonton wayang wong di Keraton Jogja yang benar-benar berkesan.

penari wayang wong dengan kostum tradisional di Keraton Jogja
Penari wayang wong dengan kostum tradisional di Keraton Jogja (doc. Riana Dewie)

Cerita Wayang Wong yang Sarat Makna

Pertunjukan kemarin dibawakan oleh UKM Swagayugama UGM dengan lakon “Suprabawati Boyong”. Ceritanya menggambarkan perjalanan hidup seorang perempuan yang memasuki fase baru, seperti pernikahan.

Maknanya cukup dalam, tapi tetap mudah dipahami. Intinya tentang kesetiaan, perubahan hidup, dan keikhlasan dalam menjalani peran baru. 

Saya sih melihatnya sebagai pengingat bahwa hidup itu memang penuh transisi, dan kita harus menjalaninya dengan hati yang lapang.

Oh ya, gerakan tari yang lembut dan terkontrol juga menggambarkan kehalusan budi perempuan Jawa. Cantik banget dilihat, tapi juga penuh filosofi.

First Impression Saya Selama Menonton

suasana panggung pertunjukan budaya Jogja di dalam keraton
Suasana panggung pertunjukan budaya Jogja di dalam keraton (doc. Riana Dewie)

Jujur, saya gak menyangka akan menikmati pertunjukan ini sedalam itu. Awalnya saya kira bakal bosan, tapi ternyata malah betah sampai selesai.

Hal yang paling berkesan adalah bagaimana pertunjukan ini mampu menyampaikan emosi tanpa banyak dialog. Semuanya lewat gerakan dan ekspresi. Unik banget, sih.


Setelah Pertunjukan: Menyusuri Area Belakang Keraton

Selesai pertunjukan, saya gak langsung pulang. Justru bagian ini yang jadi favorit saya dalam wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton, yaitu menjelajahi area belakang Keraton Jogja.

Sudut Keraton yang Jarang Disorot Wisatawan

area belakang Keraton Jogja yang tenang dan penuh nuansa sejarah
Area belakang Keraton Jogja yang tenang dan penuh nuansa sejarah (doc. Riana Dewie)

Area belakang keraton terasa jauh lebih tenang. Gak seramai bagian depan. Bangunannya masih sangat klasik, dengan nuansa yang terasa “hidup”.

Ini seperti menemukan spot tersembunyi di Keraton Jogja yang jarang diketahui banyak orang. Bahkan bisa dibilang ini termasuk tempat tersembunyi di Jogja yang underrated.

Ada beberapa pintu yang akan masuk ke ruang tertentu dimana ini boleh dimasuki oleh pengunjung. Ada ruang yang memberi informasi tentang peralatan makan keluarga kerajaan dari waktu ke waktu. 

peralatan makan keluarga kerajaan
Peralatan makan keluarga kerajaan dari waktu ke waktu (doc. Riana Dewie)

Ada pula informasi tentang peta kerajaan dan bagian-bagian pentingnya. Aneka lampu hias di setiap jamannya juga motif tegel (lantai) juga masuk di salah satu ruang galeri yang cukup padat informasinya. 

Masih ada banyak edukasi lainnya yang cukup menarik dan membuat saya betah banget berlama-lama di sana. Hehehe.... 

Suasana yang Berbeda dari Area Depan

Kalau depan terasa ramai dan turistik, bagian belakang justru lebih adem dan reflektif. Saya sempat duduk sebentar, menikmati suasana.

Oh ya, di sini saya benar-benar merasa lebih dekat dengan sejarah dan budaya. 

Spot Menarik yang Bisa Dinikmati

Banyak spot foto di Keraton Jogja yang bisa dimanfaatkan, terutama di sudut unik Keraton Jogja bagian dalam. Detail arsitekturnya cantik banget.

Saya berfoto di depan salah satu bangunan Keraton Jogja
Saya berfoto di depan salah satu bangunan Keraton Jogja (doc. Riana Dewie)

Gak heran sih saya senang mendokumentasikan pose-pose sederhana saya selama menjelajah setiap area Keraton. 

Saya juga suka menikmati suasananya sambil jalan santai. Setelah ambil foto, saya lanjutkan touring area ini biar bisa merasakan vibes-nya. Hahahaha....


Tips Liburan ke Keraton Jogja Biar Lebih Maksimal

Buat kamu yang mau coba wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton, ini beberapa tips dari saya:

1. Datang saat ada pertunjukan biar lebih berkesan
2. Pilih waktu pagi supaya lebih nyaman
3. Jaga etika selama di area keraton
4. Luangkan waktu untuk keliling Keraton Jogja bagian dalam

Oh ya, jangan cuma datang lalu foto dan pulang. Coba deh nikmati setiap sudutnya, karena di sanalah letak pengalaman sebenarnya.


Pengalaman yang Lebih dari Sekadar Wisata

Saya memakai gelang saat masuk di area Keraton Jogja
Saya memakai gelang saat masuk di area Keraton Jogja (doc. Riana Dewie)

Berkunjung ke keraton Jogja memang asyik. Saya jadi bisa melihat langsung peninggalan budaya yang begitu apik dan megah. Dari pertunjukan hingga sudut tersembunyi, semuanya terasa berkesan.

Keraton bukan cuma tempat wisata, tapi juga cara melestarikan seni dan budaya Jawa yang masih kuat di bawah naungan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Oh ya, buat saya pribadi, wisata Keraton Jogja nonton wayang wong dan jelajah keraton ini jadi pengalaman yang gak cuma menyenangkan, tapi juga membuka perspektif baru.

Yuk, jangan lupa mampir ke Keraton Jogja saat kamu liburan ke Jogja. Selain merasakan wisata edukasi, kamu juga bisa mengintip kehidupan ala kerajaan yang masih berjalan hingga sekarang.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Traditions

Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran: Gak Sekadar Tabur Bunga

Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran

Tradisi ziarah kubur saat lebaran selalu jadi momen yang saya tunggu setiap tahun. 

Bukan cuma soal berziarah ke makam atau sekadar tabur bunga di kuburan, tapi ada rasa hangat yang muncul setiap kali kaki ini melangkah ke tempat peristirahatan terakhir orang-orang tercinta. 

Tradisi lebaran di Indonesia ziarah kubur memang sudah melekat kuat, bahkan sejak saya kecil.

Oh ya, saya tumbuh di lingkungan yang masih sangat menjaga tradisi ini, jadi nyekar saat lebaran itu rasanya seperti bagian wajib dari hari raya. Bahkan kalau gak dilakukan, kayak merasa ada yang kurang.


Tradisi Ziarah Kubur Saat Lebaran yang Sudah Turun-Temurun

Tradisi ziarah kubur saat lebaran sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga di Indonesia. Biasanya dilakukan setelah salat Id atau bahkan sebelum Lebaran, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. 

Kegiatan seperti membersihkan makam keluarga, berdoa, hingga tabur bunga di makam jadi ritual yang penuh makna.

Perjalanan mudik saya melewati sawah-sawah hijau
Perjalanan mudik saya melewati sawah-sawah hijau (doc. Riana Dewie)

Mudik saya setiap tahunnya lumayan dekat. Jogja-Klaten biasanya hanya sekitar 60 menit perjalanan. Sejak kecil, saat orang-orang sibuk salat Ied, keluarga saya (kristiani) justru memanfaatkan waktu untuk berziarah ke makam leluhur, saudara, dan orang-orang yang pernah dekat dalam hidup kami.

Oh ya, perjalanan ini selalu terasa berbeda karena jalanan cenderung sepi, apalagi bertepatan dengan waktu salat Id. Nah, setelah ziarah di Jogja, kendaraan kami melaju ke Klaten. 

Sebelum sampai rumah nenek, ada dua makam yang harus kami datangi untuk tabur bunga. Tradisi ziarah kubur saat lebaran ini benar-benar jadi rutinitas tahunan yang gak pernah terlewatkan.

Sekarang, kami masih melakukannya, meskipun kondisi kesehatan orang tua membuat mereka harus tinggal di rumah. Tapi kalau saya sih tetap merasa penting menjaga tradisi ini, karena di situlah letak nilai kebersamaannya.


Makna Ziarah Kubur: Lebih dari Sekadar Datang ke Makam

Mengirim Doa untuk yang Telah Tiada

Salah satu makna nyekar saat lebaran yang paling utama adalah mengirim doa. Tradisi ziarah kubur saat lebaran bukan hanya ritual, tapi juga bentuk kasih sayang yang terus hidup meskipun orangnya sudah tiada. Ada keyakinan bahwa pahala mendoakan orang meninggal akan sampai kepada mereka.

Oh ya, momen ini juga sering bikin saya merasa lebih dekat secara spiritual dengan orang tua atau keluarga yang sudah pergi. Rasanya hangat sekaligus haru, hihihihi....

Salah satu tempat ziarah saya di Jogja
Salah satu tempat ziarah saya di Jogja (doc. Riana Dewie)


Mengingat Kehidupan dan Kematian

Kenapa orang nyekar saat lebaran? Salah satunya karena ini jadi pengingat bahwa hidup itu sementara. Ketika berdiri di depan makam, kita seperti diajak merenung tentang kehidupan yang sedang dijalani.

Tradisi ziarah kubur saat lebaran mengajarkan saya untuk lebih menghargai waktu. Kalau dipikir-pikir sih, momen ini sederhana, tapi efeknya dalam banget.

Menguatkan Ikatan Keluarga

Momen nyekar bersama keluarga juga jadi bagian yang gak kalah penting. Berkumpul, berdoa bersama, lalu berbagi cerita tentang masa lalu menciptakan ikatan emosional yang kuat.

Tradisi keluarga saat hari raya seperti ini sering jadi pengingat bahwa hubungan antaranggota keluarga harus terus dijaga, bahkan lintas generasi.


Tradisi Nyekar di Berbagai Daerah Indonesia

Nyekar dalam Budaya Jawa

Di Jawa, istilah “nyekar” sudah sangat akrab. Filosofi tabur bunga di makam melambangkan penghormatan dan doa yang tulus. Bunga dianggap sebagai simbol keharuman doa yang dikirimkan kepada yang telah tiada.

Oh ya, keluarga saya sendiri masih menjalankan tradisi ini dengan cukup konsisten, termasuk membawa bunga dan membersihkan area makam.

Tradisi Nyadran dan Ziarah Menjelang Lebaran

Selain saat Lebaran, ada juga tradisi nyadran yang dilakukan sebelum Ramadan atau menjelang Idul Fitri. Biasanya dilakukan bersama warga sekitar dengan suasana gotong royong.

Keluarga saya biasa nyekar sebelum nyadran dan juga saat lebaran. Jadi tradisi ziarah kubur saat lebaran terasa semakin lengkap.

Perbedaan Tradisi di Daerah Lain

Di beberapa daerah lain, tradisi ini bisa berbeda. Ada yang melakukannya setelah Lebaran, ada juga yang lebih sederhana tanpa tabur bunga di kuburan.

Namun inti dari semuanya tetap sama: mengenang keluarga yang telah tiada dan menjaga hubungan batin dengan mereka.


Nyekar di Era Sekarang: Antara Tradisi dan Makna Personal

Di era sekarang, tradisi ziarah kubur saat lebaran tetap relevan, meskipun gaya hidup sudah banyak berubah. Orang kota mungkin lebih sibuk, tapi momen nyekar tetap dicari.

Oh ya, bagi saya pribadi, nyekar bukan sekadar tradisi, tapi juga momen untuk melepas rindu. Ada perasaan tenang setelah berdoa di makam, seperti selesai “bertemu” meskipun dalam cara yang berbeda.

Bahkan sekarang, banyak yang menjadikan nyekar sebagai bagian dari healing. Duduk sejenak, merenung, dan mengingat perjalanan hidup.

Saya berfoto di area Makam Semangkak, Klaten
Saya berfoto di area Makam Semangkak, Klaten (doc. Riana Dewie)

Kalau saya sih melihatnya sebagai ruang refleksi. Tradisi ziarah kubur saat lebaran jadi pengingat bahwa hidup harus dijalani dengan lebih bermakna.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang refleksi, blog tehokti juga sering bercerita tentang banyak momen kecil yang menemani perjalanan hidup, hal-hal sederhana yang justru punya arti besar.


Nyekar, Tradisi Sederhana yang Penuh Arti

Tradisi ziarah kubur saat lebaran bukan hanya soal datang ke makam, tapi tentang makna yang dibawa di dalamnya. Dari doa, refleksi, hingga kebersamaan keluarga, semuanya menyatu dalam satu momen sederhana.

Hahahaha.... kalau dipikir-pikir, tradisi ini memang terlihat biasa, tapi justru di situlah letak keindahannya.

Tradisi ziarah kubur saat lebaran mengajarkan kita untuk gak melupakan asal-usul, menghargai waktu, dan menjaga hubungan dengan orang-orang tercinta, bahkan setelah mereka tiada.

Oh ya, semoga kita semua bisa terus menjaga tradisi ini dengan cara kita masing-masing, ya. Karena pada akhirnya, nyekar bukan sekadar ritual, tapi bentuk cinta yang gak pernah benar-benar hilang.

Dan kalau kamu ingin membaca cerita serupa, mungkin bisa intip juga lewat akun Instagram indungbageur, siapa tahu banyak cerita hangat keluarga yang menarik & inspiratif. 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments