In Growth & Productivity

Saya Suka Menulis, Tapi Tidak Hobi Membaca Buku. Apakah Bisa?

pengalaman pribadi suka menulis tapi tidak hobi membaca buku

Ngomong-ngomong tentang baca buku, sepertinya circle pertemanan saya sekitar 75% pada suka membaca buku deh. 

Saya berarti termasuk minoritas. Kok bisa? Iya, karena jujur dari dulu saya gak terlalu suka membaca buku, apalagi yang tebal. 

Jadi, selama ini saya lebih menikmati menulis, sedangkan membaca sering bikin kepala mendadak penuh. 

Tahu gak, saya sempat berpikir apakah orang yang suka menulis tapi tidak hobi membaca buku masih punya peluang untuk berkembang sebagai penulis.

Mengapa Saya Lebih Betah Menulis daripada Membaca Buku

Ada cerita lucu ketika saya masih bekerja di kantor lama. Pak Boss suka banget membelikan buku-buku keluaran terbaru untuk saya baca. 

Katanya sih, supaya wawasan saya bertambah dan kemampuan menulis saya juga ikut berkembang.

Oh ya, suatu hari beliau mau memberikan buku baru lagi, lalu tiba-tiba bertanya, “Lho, kok yang kemarin masih plastikan begini?” 

Saya langsung jawab jujur, “Maaf Pak, saya gak terlalu suka baca buku. Nanti saya usahakan baca dikit-dikit deh, Pak.”

Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli
Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli (doc. Riana Dewie)

Boss saya cuma nyengir sambil tertawa kecil. Mungkin beliau juga bingung, ini orang kerjaannya menulis, tapi kok gak suka membaca buku. 

Referensinya dari mana? Wkwkwkwk... sampai sekarang saya masih ingat ekspresi beliau waktu itu.

Nah, beberapa alasan saya kurang betah membaca buku sebenarnya cukup sederhana.

1. Mata Cepat Perih

Saya punya kecenderungan, membaca buku lebih dari lima menit bikin mata terasa pedas atau perih. Apalagi jika warna kertasnya putih bersih. 

Kalau kertasnya agak krem atau buram, biasanya mata saya lebih nyaman. Tahu gak, hal kecil seperti warna kertas ternyata cukup berpengaruh buat saya.

mencoba beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih
Beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih (doc. Riana Dewie)


2. Sulit Fokus Membaca Lama

Saya gak tahu kenapa, tapi saya memang kurang bisa fokus membaca dalam waktu lama. 

Mungkin karakter saya agak “kemrungsung”, atau memang gak betah melihat puluhan lembar halaman yang terasa menunggu untuk diselesaikan.

3. Gampang Bosan

Beberapa cerita di buku kadang terasa berjalan pelan. Teman-teman saya sih bisa menghabiskan buku tebal dalam satu atau dua hari. 

Saya? Baru beberapa halaman saja sudah mulai melirik hal lain. Hihihihi...

Tetapi anehnya, begitu mulai menulis, waktu terasa cepat berlalu. Saya bisa duduk berjam-jam di depan laptop tanpa merasa terbebani. 

Nah, di situlah saya mulai sadar bahwa hubungan membaca dan menulis mungkin gak selalu sesederhana “penulis harus suka membaca buku”.

Saya senang datang di Pameran Buku
Saya senang datang di Pameran Buku (doc. Riana Dewie)


Apakah Penulis Harus Hobi Membaca?

Nah, pertanyaan ini sering muncul di kepala saya. Penulis itu harus senang membaca gak sih? Jujur, saya juga masih terus mencari jawabannya.

Di satu sisi, saya paham bahwa membaca memang penting. Banyak orang mengatakan bahwa manfaat membaca untuk menulis itu besar: kosakata bertambah, gaya bahasa lebih kaya, wawasan lebih luas, dan ide tulisan jadi lebih beragam.

Oh ya, saya juga gak mau munafik. Saya tahu membaca bisa membantu saya belajar menulis dengan lebih baik. 

Hanya saja, bentuk membaca yang cocok buat saya ternyata bukan duduk lama dengan satu buku tebal.

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, jawabannya mungkin “iya”, tetapi bentuk membacanya bisa berbeda-beda. 

Ada yang menikmati novel beratus-ratus halaman, ada juga yang lebih nyaman membaca artikel, blog, berita, atau tulisan pendek.

Di bagian berikutnya, saya akan cerita bahwa sebenarnya saya tetap membaca setiap hari, hanya saja bukan dalam bentuk buku tebal yang harus diselesaikan dari halaman pertama sampai terakhir.

Mengapa Membaca Penting bagi Penulis

Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS
Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS (doc. Riana Dewie)

Saya akhirnya menyadari bahwa membaca memang punya banyak manfaat. 

Bukan semata-mata supaya terlihat rajin, tetapi karena dari sanalah kita bisa menemukan kosakata baru, sudut pandang berbeda, sampai referensi yang mungkin sebelumnya gak pernah terpikirkan. 

Semua itu bisa menjadi bekal saat proses storytelling maupun menyusun sebuah artikel.

Oh ya, membaca juga gak selalu harus berasal dari buku. Sekarang ada banyak media digital yang praktis dan lebih sesuai dengan kebiasaan saya. 

Saya sering membaca artikel, blog, berita, bahkan hasil riset sederhana di internet untuk menambah wawasan. 

Cara ini justru terasa lebih nyaman daripada memaksakan diri menamatkan buku yang membuat saya kehilangan fokus.

Namun, Tidak Semua Orang Belajar dengan Cara yang Sama

Tahu gak, semakin bertambah usia saya justru semakin percaya bahwa setiap orang punya gaya belajar yang berbeda. 

Ada yang cepat memahami sesuatu lewat membaca buku, ada yang lebih mudah lewat video, diskusi, observasi, atau langsung mencoba sendiri.

Saya sih termasuk tipe yang lebih cepat menangkap informasi dari tulisan yang ringkas dan langsung ke inti pembahasan. 

Setelah itu, biasanya saya mengolahnya lagi menjadi sudut pandang sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Buat saya, proses itu terasa lebih menyenangkan sekaligus memancing kreativitas.

Bukan berarti saya anti buku ya. Saya tetap menghargai orang-orang yang punya kebiasaan membaca luar biasa. 

Bahkan kadang saya iri melihat teman yang bisa santai menikmati novel setebal ratusan halaman dalam hitungan hari. 

Saya? Baru beberapa bab saja sudah mulai mencari camilan atau membuka hal lain di laptop. Hihihihi...

Yang paling penting, saya merasa proses belajar gak harus selalu sama. 

Tujuannya tetap sama, yaitu terus berkembang dan menemukan inspirasi menulis dari berbagai sumber yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Saya Tetap Membaca, Hanya Bukan Buku Tebal

Meski sering bilang gak hobi membaca buku, sebenarnya saya tetap membaca setiap hari. Bedanya, bacaan yang saya pilih lebih banyak berasal dari media digital. 

Mulai dari artikel, berita, jurnal, blog, media sosial, komentar orang, sampai hasil riset Google. Semua itu tetap menjadi sumber referensi yang membantu saya memahami banyak hal.

Bagi saya yang dulu cukup sering ikut lomba menulis, sudah pasti saya membutuhkan bahan sebelum mulai mengetik. 

Jadi, saya tetap membaca, hanya saja dalam bentuk yang lebih ringkas, sederhana, dan langsung menuju inti pembahasan. 

Cara seperti ini justru membuat saya lebih mudah menyerap informasi tanpa merasa terbebani.

Setelah lebih dari 500 kata artikel ini, saya jadi teringat bahwa sesekali saya juga menikmati membaca book review

Lucunya, saya sering lebih tertarik membaca ulasan sebuah buku daripada langsung membaca bukunya. 

Dari sana saya bisa mengetahui isi, sudut pandang penulis, bahkan memutuskan apakah buku tersebut memang cocok untuk saya atau cukup sampai membaca ulasannya saja.

Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review
Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review. hihihi (doc. Riana Dewie)

Tahu gak, kebiasaan itu justru sering membantu saya menemukan ide tulisan baru. 

Saat membaca sebuah artikel atau blog, saya langsung berpi

kir, "Wah, topik ini bisa dibahas dari sudut pandang yang berbeda." 

Akhirnya satu bacaan pendek bisa berkembang menjadi beberapa ide tulisan sekaligus.

Saya sih percaya bahwa membaca gak selalu diukur dari tebalnya buku yang berhasil diselesaikan. 

Yang lebih penting adalah apakah bacaan tersebut benar-benar menambah wawasan, memancing rasa ingin tahu, dan membuat kita terus belajar.

Jadi, saat ada yang bertanya apakah saya membaca setiap hari, jawabannya tetap "iya". Hanya medianya saja yang berbeda.

Yang Membuat Tulisan Berkembang Bukan Hanya Banyak Membaca

Setelah menjalani hobi menulis selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa kemampuan menulis juga dibentuk oleh banyak hal selain membaca. 

Saya belajar dari rutinitas menulis, menerima masukan dari pembaca, mengamati kejadian di sekitar, serta terus menjaga rasa ingin tahu. 

Semua pengalaman itu ikut membentuk gaya bahasa saya sedikit demi sedikit.

Oh ya, saya juga cukup sering mengikuti lomba menulis. Memang sih, saya gak selalu menang. 

Mungkin hanya sekitar 30% dari total lomba yang saya ikuti berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan. 

Namun, saya tetap menikmati prosesnya. Setiap lomba membuat saya belajar menyusun ide, mengatur alur tulisan, dan berani mencoba tema yang sebelumnya belum pernah saya bahas. 

Rasanya selalu ada harapan setiap kali menunggu pengumuman pemenang.

***

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, membaca dan menulis memang saling melengkapi. 

Namun, prosesnya gak harus dimulai dengan memaksa diri membaca buku berjam-jam. Temukan saja cara belajar yang paling nyaman. 

Siapa tahu, seperti saya, kamu lebih menikmati bacaan digital, lalu perlahan mulai berani mencoba buku-buku yang sesuai minat.

Pada akhirnya, setiap penulis punya perjalanan yang berbeda. Saya masih ingin belajar, memperkaya literasi, dan sesekali menantang diri untuk lebih akrab dengan buku. 

Semoga suatu hari nanti saya bisa berkata, "Ternyata membaca buku juga menyenangkan." 

Sampai saat itu tiba, saya akan terus menulis, terus belajar, dan terus mencari inspirasi, bahkan saat sedang travelling sekalipun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life Tips

10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif

Menjalani rutinitas harian sebagai cara mengatasi kesedihan.

Kehilangan seseorang yang kita sayangi memang bukan hal yang mudah. 

Bahkan, saya sendiri sedang belajar menemukan cara mengatasi kesedihan setelah ibu saya berpulang pada awal Juli 2026, usai hampir dua tahun berjuang melawan penyakitnya. 

Rasanya masih seperti mimpi, karena setiap sudut rumah seolah menyimpan begitu banyak kenangan tentang beliau.

Tahu gak, dua momen yang paling membekas di hati saya bukan hanya saat ibu mengembuskan napas terakhir. Justru jauh sebelum itu. 

Yang pertama, ketika dokter menyampaikan vonis penyakit ibu untuk pertama kalinya. Saat itulah rasanya dunia seperti berhenti beberapa detik. 

Saya masih ingat bagaimana keluarga berusaha tetap kuat, meski dalam hati semua sedang ketakutan.

Momen kedua terjadi setelah ibu menjalani operasi. Dokter memanggil saya sebagai perwakilan keluarga untuk berbicara di luar ruang tindakan. 

Beliau menjelaskan bahwa kondisi ibu bisa saja mengalami penurunan kesadaran sewaktu-waktu, sehingga keluarga diminta bersiap apabila suatu hari terjadi hal yang gak diinginkan. 

Jujur, saya masih mengingat percakapan itu dengan sangat jelas hingga sekarang.

Mungkin bagi pembaca yang pernah kehilangan orang tua atau orang tercinta, perasaan ini akan terasa begitu dekat. Sedih, takut, marah, kecewa, bingung, semua bercampur menjadi satu. 

Saya pun sempat bertanya dalam hati, kenapa harus secepat ini? Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa hidup memang selalu berjalan berdampingan dengan perpisahan.

Oh ya, tulisan ini bukan bermaksud mengajarkan bagaimana seseorang harus berduka. Setiap orang memiliki proses berduka yang sehat dengan caranya masing-masing. 

Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi sekaligus menjadi ruang kecil untuk melepaskan emosi yang selama ini saya simpan. 

Hihihihi... ternyata menulis memang masih menjadi terapi terbaik buat saya.

Ditinggal Ibu adalah Hal yang Paling Saya Takutkan

Sejak dulu saya sih sering membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari harus hidup tanpa ibu. 

Nyatanya, ketika hari itu benar-benar datang, rasanya tetap jauh lebih berat daripada yang pernah saya bayangkan.

Saya percaya, hampir semua orang akan mengalami fase kehilangan orang tua ataupun orang-orang yang disayang. Saat itu terjadi, berbagai emosi datang bergantian. 

Ada sedih, marah, kecewa, merasa gak siap, bahkan ada rasa bersalah karena merasa masih banyak hal yang belum sempat dilakukan bersama mereka.

Namun, di tengah semua perasaan itu, saya juga belajar menerima bahwa kematian adalah bagian dari takdir Tuhan. Semua sudah tertulis jauh sebelum saya lahir ke dunia. 

Kesadaran inilah yang perlahan membantu saya dalam cara menghadapi rasa kehilangan dan mengatasi rasa kehilangan, meski prosesnya tentu gak bisa instan.

Semua kenangan indah bersama ibu kini menjadi bekal yang saya simpan erat di hati. 

Saat rindu datang, saya memilih mengenangnya lewat doa dan rasa syukur karena pernah memiliki sosok ibu yang begitu luar biasa. 

Bagi saya, itu menjadi salah satu langkah kecil dalam cara menenangkan hati di tengah duka yang masih terasa.

Tahu gak, saya juga merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang saling menguatkan. Kami berbagi tugas, saling menemani, bahkan saling mengingatkan untuk makan dan beristirahat. 

Dukungan keluarga seperti ini benar-benar membantu menjaga kesehatan mental agar tetap kuat menjalani hari demi hari.

Kini, yang bisa kami lakukan hanyalah terus mengirimkan doa. 

Semoga ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan semoga kami yang masih hidup diberi kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dengan penuh makna. 

Pada akhirnya, cinta kepada seseorang gak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah menjadi rindu yang belajar hidup berdampingan dengan waktu.

Berdoa untuk menenangkan hati setelah kehilangan orang tercinta.
Berdoa untuk menenangkan hati setelah kehilangan orang tercinta (doc. Riana Dewie)

10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif

Banyak teman mengingatkan bahwa saya gak perlu berpura-pura kuat atau menyembunyikan kesedihan. Menangis itu wajar, diam sejenak juga wajar. 

Yang penting, jangan memendam semua emosi sendirian hingga berubah menjadi beban yang semakin berat.

Mereka bilang, perlahan saya perlu kembali melakukan aktivitas positif saat berduka agar pikiran memiliki ruang untuk bernapas. Saya setuju. 

Bukan berarti melupakan ibu, melainkan memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk menjalani proses pemulihan emosi secara sehat.

Nah, berikut beberapa aktivitas sederhana yang cukup membantu saya melewati hari-hari setelah kehilangan ibu. 

1. Mendengarkan Musik yang Happy

Banyak orang bilang saat sedang sedih sebaiknya jangan terus-terusan mendengarkan lagu mellow. Saya sih setuju. 

Bukannya dilarang, tapi kalau setiap hari playlist-nya lagu galau, suasana hati bisa ikut tenggelam.

Makanya sekarang saya lebih sering memutar lagu-lagu bertempo cepat, ceria, atau musik yang membuat semangat kembali muncul. Anehnya, suasana hati memang sedikit demi sedikit ikut berubah. 

Pikiran jadi lebih ringan, tubuh juga terasa ingin bergerak mengikuti irama. Wkwkwkwk... kadang saya malah tanpa sadar ikut bersenandung sendiri di rumah.

Menurut saya, ini menjadi salah satu tips mengatasi kesedihan yang paling sederhana karena bisa dilakukan kapan saja. 

Musik memang gak menghapus rasa kehilangan, tetapi setidaknya memberi jeda agar pikiran gak terus berada dalam kesedihan.

2. Journaling

Menulis sudah menjadi hobi saya sejak lama. Jadi saat kehilangan ibu, saya kembali membuka komputer dan mulai menuangkan semua isi hati yang sulit diucapkan secara langsung.

Oh ya, menulis di sini gak harus membuat artikel seperti yang sedang saya lakukan. 

Kamu juga bisa membuat catatan harian, menulis surat untuk orang tercinta yang telah berpulang, atau sekadar mencurahkan apa yang sedang dirasakan hari itu.

Tanpa disadari, journaling membantu saya mengenali emosi sendiri. Saat pikiran terasa penuh, tulisan justru membuat semuanya terasa lebih lega. 

Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari cara mengelola kesedihan sekaligus self healing yang cukup efektif untuk saya.

Kadang setelah selesai menulis, saya membaca kembali tulisan tersebut beberapa hari kemudian. 

Dari sana saya sadar bahwa perlahan saya mulai belajar menerima kehilangan, meskipun rasa rindunya tentu masih ada.

3. Wisata Alam

Saat hati terasa sesak, saya lebih memilih pergi ke tempat yang tenang daripada berada di keramaian. 

Gunung, pantai, danau, hutan pinus, atau tempat doa dan ziarah selalu berhasil membuat pikiran terasa lebih damai.

Wisata alam sebagai aktivitas positif untuk mengatasi kesedihan.
Wisata alam sebagai aktivitas positif untuk mengatasi kesedihan (doc. Riana Dewie)

Melihat pepohonan yang hijau, mendengar suara ombak, atau sekadar menikmati udara segar membuat saya lebih mudah mempraktikkan mindfulness, yaitu menikmati momen saat ini tanpa terlalu larut memikirkan masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan.

Buat saya, wisata alam bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah bentuk aktivitas untuk healing yang membuat tubuh dan pikiran sama-sama beristirahat. 

Bahkan berjalan santai beberapa puluh menit sudah termasuk olahraga ringan yang baik untuk membantu mengurangi stres.

Saya juga jadi teringat bahwa banyak tulisan inspiratif di bunda belajar yang mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan tetap kuat menghadapi berbagai fase kehidupan. 

Rasanya, belajar dari pengalaman orang lain juga bisa menjadi penyemangat tersendiri.

Tahu gak, saya hampir selalu pulang dengan perasaan yang lebih tenang setiap selesai menikmati alam. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena hati terasa punya ruang untuk bernapas lagi.

4. Meet Up dengan Bestie

Dulu saya termasuk orang yang lebih suka menyimpan masalah sendiri. Namun setelah mengalami kehilangan ini, saya sadar bahwa kehadiran teman terdekat adalah anugerah yang luar biasa.

Beberapa sahabat bahkan langsung berkata, "Kalau butuh teman cerita atau sekadar ngopi, kabari ya." Kalimat sederhana itu ternyata sangat berarti.

Kami gak selalu membahas kesedihan. Kadang hanya ngobrol tentang pekerjaan, kuliner baru, rencana liburan, atau hal-hal receh yang membuat suasana kembali hangat. 

Justru obrolan ringan seperti itu membantu saya cara agar tidak larut dalam duka.

Bertemu sahabat membantu mengurangi kesedihan saat berduka.
Bertemu sahabat sambil ngopi membantu mengurangi kesedihan saat berduka (doc. Riana Dewie)

Saya percaya, dukungan dari keluarga maupun sahabat menjadi bagian penting dalam cara bangkit setelah kehilangan orang tercinta. Kita gak harus menghadapi semuanya sendirian. 

Ada kalanya hati memang membutuhkan pelukan, tawa, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

5. Tetap Menjalani Rutinitas Harian

Jujur, ini menjadi salah satu hal yang paling sulit saya lakukan. Rasanya ingin diam di rumah, rebahan seharian, lalu membiarkan waktu berjalan begitu saja. 

Namun saya sadar, terlalu lama berhenti justru membuat pikiran semakin dipenuhi rasa kehilangan.

Sedikit demi sedikit saya mencoba kembali ke rutinitas. Mulai dari bekerja, menulis artikel, membalas chat, hingga mengerjakan hal-hal kecil yang sebelumnya terasa biasa saja. 

Aktivitas ini membantu saya kembali produktif tanpa harus memaksa diri terlihat baik-baik saja.

Oh ya, saya juga belajar bahwa proses ini gak perlu terburu-buru. Ada hari ketika semangat datang, ada juga hari ketika saya masih ingin menangis. Semuanya tetap bagian dari proses berduka yang sehat.

6. Berdoa dan Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Bagi saya pribadi, doa menjadi tempat terbaik untuk mencurahkan semua isi hati. Saat rasanya sudah gak sanggup bercerita kepada siapa pun, saya memilih berbicara kepada Tuhan.

Saya percaya, ibu kini sudah berada dalam kasih Tuhan yang jauh lebih indah daripada kehidupan di dunia. Keyakinan itu membuat hati saya perlahan menjadi lebih tenang.

Berdoa juga membantu saya mengelola emosi. Bukan berarti rasa sedih langsung hilang, tetapi saya merasa selalu punya tempat untuk kembali ketika hati sedang rapuh. 

Bahkan sesekali saya memilih datang ke tempat doa atau ziarah hanya untuk duduk beberapa saat menikmati suasana yang hening.

Saya sih percaya, setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan selalu membawa kekuatan baru, meski jawabannya gak selalu datang secepat yang kita harapkan.

7. Mencoba Hobi Baru

Selain menulis, saya mulai mencoba mengisi waktu dengan berbagai aktivitas yang sebelumnya jarang dilakukan. 

Misalnya memasak resep baru, merapikan koleksi barang, berkebun kecil-kecilan, atau belajar keterampilan yang sudah lama ingin saya coba.

Tahu gak, saat otak fokus mempelajari sesuatu yang baru, ruang untuk terus memikirkan kesedihan jadi sedikit berkurang. 

Bukan karena melupakan orang yang kita sayangi, tetapi karena pikiran sedang diberi kesempatan beristirahat.

Memiliki hobi baru juga membuat saya lebih bersemangat menjalani hari. Rasanya selalu ada hal yang ditunggu setiap bangun pagi. 

Menurut saya, ini menjadi salah satu kegiatan untuk mengurangi rasa sedih yang cukup efektif.

8. Berolahraga Ringan

Saya bukan tipe yang rajin olahraga berat. Namun akhir-akhir ini saya mulai rutin berjalan kaki di pagi atau sore hari selama 20–30 menit.

Ternyata tubuh yang bergerak membuat pikiran ikut terasa lebih segar. Napas menjadi lebih teratur, badan lebih ringan, dan tidur pun terasa lebih nyenyak.

Olahraga ringan juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental saat berduka. Gak harus langsung lari maraton atau pergi ke gym setiap hari. 

Jalan santai, bersepeda, yoga, atau peregangan ringan di rumah pun sudah sangat membantu.

Oh ya, jangan lupa tetap mendengarkan kondisi tubuh sendiri. Saat sedang lelah secara fisik maupun emosional, beristirahat juga merupakan bentuk mencintai diri sendiri. 

Saya merasa, menerima bahwa diri ini sedang berduka justru menjadi langkah awal untuk benar-benar pulih.

9. Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga

Kebersamaan keluarga membantu menghadapi rasa kehilangan.
Kebersamaan keluarga membantu menghadapi rasa kehilangan (doc. Riana Dewie)

Setelah ibu berpulang, saya justru semakin menyadari betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga. Kami jadi lebih sering makan bersama, mengobrol, mengenang cerita-cerita lucu tentang ibu, sampai sesekali tertawa bersama.

Lucunya, saat mengenang kenangan yang sama, ada saja cerita yang sebelumnya belum pernah saya dengar. 

Dari situ saya sadar bahwa seseorang yang kita cintai akan selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang menyayanginya.

Saya sih merasa, saling menguatkan seperti ini jauh lebih menenangkan daripada memendam semua perasaan sendirian. 

Dukungan keluarga benar-benar menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menghadapi masa kehilangan.

10. Memberi Waktu untuk Diri Sendiri

Selama dua tahun terakhir, fokus saya banyak tertuju pada kesehatan ibu. 

Setelah semuanya selesai, saya baru menyadari bahwa diri saya juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan emosi.

Sesekali saya memilih menikmati secangkir kopi, membaca buku, menonton film favorit, atau sekadar duduk di teras rumah tanpa melakukan apa pun. 

Aktivitas sederhana seperti ini ternyata membuat hati terasa lebih lega.

Tahu gak, proses pulih dari kehilangan bukan perlombaan. Gak ada ukuran kapan seseorang harus kembali tersenyum atau terlihat kuat. 

Setiap orang memiliki ritmenya masing-masing, dan itu sangat wajar.

Yang terpenting, jangan menutup diri dari bantuan orang lain apabila memang membutuhkannya. 

Bercerita kepada keluarga, sahabat, atau tenaga profesional bukan berarti kita lemah. Justru itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Me time menjadi salah satu cara mengatasi kesedihan secara sehat.
Me time menjadi salah satu cara mengatasi kesedihan secara sehat (doc. Riana Dewie)

***

Kehilangan orang yang kita sayangi memang akan meninggalkan luka, bahkan mungkin tak pernah benar-benar hilang. 

Namun saya percaya, sedih bukanlah tempat untuk menetap, melainkan fase yang perlu dijalani dengan penuh kasih kepada diri sendiri. 

Semoga 10 cara mengatasi kesedihan ini bisa menjadi teman kecil bagi siapa pun yang sedang berduka. 

Tetaplah melangkah, terus berdoa, dan jangan ragu mencari dukungan agar kesehatan mental tetap terjaga. 

Siapa tahu, pengalaman ini juga bisa menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup maupun perjalanan parenting kita kelak.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wellness

5 Menu Sehat Tanpa Nasi agar Badan Lebih Fit

Inspirasi meal prep menu sehat tanpa nasi dengan real food

Dulu saya gak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjalani menu sehat tanpa nasi. Jujur aja, sejak kecil saya selalu diajarkan kalau makan itu ya harus ada nasi. 

Rasanya seperti ada yang kurang kalau di piring cuma ada lauk dan sayur. Bahkan, sepiring nasi hangat sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarga saya selama bertahun-tahun.

Tahu gak, kebiasaan itu ternyata terus saya bawa sampai dewasa. Mau makan apa pun, ujung-ujungnya tetap mencari nasi. 

Waktu itu saya memang belum terlalu memikirkan soal pola makan sehat, karena merasa badan saya masih baik-baik saja. Padahal, usia terus bertambah dan aktivitas juga makin padat.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai sadar kalau menjaga kesehatan ternyata sama pentingnya dengan mengejar pekerjaan atau hobi. 

Saya ingin punya tubuh lebih fit, tidur lebih nyaman, dan tetap bisa aktif sampai usia lanjut nanti. Saya sih percaya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Oh ya, perjalanan ini sama sekali bukan karena saya membenci nasi, ya. Saya hanya ingin mencoba mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. 

Target saya sederhana, yaitu menemukan menu sehat sehari-hari yang tetap enak, mengenyangkan, sekaligus mendukung healthy lifestyle tanpa terasa menyiksa.

Awalnya saya juga sempat ragu. Apa saya bakal kuat? Apa nanti gampang lapar? Wkwkwkwk... pertanyaan seperti itu terus muncul di kepala. 

Namun rasa penasaran akhirnya lebih besar daripada rasa takut untuk mencoba.

Saya Mulai dengan Intermittent Fasting

Belakangan ini makin banyak orang mulai peduli dengan kesehatan, termasuk soal pola makan. 

Saya merasa cukup beruntung karena pada November 2023, seorang teman mengenalkan saya pada metode intermittent fasting. Dari situlah perjalanan saya menuju hidup sehat benar-benar dimulai.

Sebelum benar-benar menjalankan intermittent fasting, saya lebih dulu mengubah kebiasaan sarapan. 

Selama bulan Desember, nasi perlahan saya ganti dengan buah-buahan yang saya beli di minimarket setiap pagi. 

Tujuannya sederhana, supaya lambung gak langsung kaget saat nanti mulai menjalani pola puasa. Selain itu, buah juga mengandung serat yang membantu saya merasa kenyang lebih lama.

Memasuki Januari 2024, saya akhirnya memberanikan diri mencoba jendela makan 16:8. 

Artinya, saya berpuasa selama 16 jam dan makan dalam rentang waktu 8 jam, biasanya mulai pukul 12 siang sampai 8 malam.

Seminggu setelahnya, saya menambahkan olahraga ringan ke rutinitas harian. Saya memakai dua dumbbell masing-masing 4 kilogram untuk latihan beban sederhana di rumah. 

Sesekali saya juga mengikuti video kardio dari YouTube, lalu jogging saat ada waktu luang. Saya sih gak pernah memaksakan diri harus olahraga berat setiap hari. Yang penting badan tetap aktif bergerak.

Olahraga dari rumah agak badan tetap fit
Olahraga dari rumah agak badan tetap fit (doc.Riana Dewie)


Perubahan itu ternyata membawa hasil yang cukup mengejutkan. Sekitar enam bulan kemudian, berat badan saya turun dari 80 kilogram menjadi 67 kilogram. 

Saya benar-benar senang melihat hasilnya. Energi terasa lebih stabil, napas saat beraktivitas juga lebih ringan, dan saya mulai menikmati pola hidup sehat yang baru.

Namun, perjalanan saya ternyata belum selesai. Berat badan sempat bertahan cukup lama di angka 67 kilogram. 

Lalu memasuki tahun kedua, tanpa saya sadari angkanya naik lagi menjadi sekitar 72 kilogram. 

Saya pun mulai bertanya dalam hati, apa yang perlu saya ubah supaya bisa kembali mencapai berat badan ideal tanpa harus menjalani menu diet sehat yang terlalu ketat?

Kenapa Saya Memilih Menu Sehat Tanpa Nasi?

Jujur saja, kenaikan berat badan itu membuat saya kembali mengevaluasi kebiasaan makan sehari-hari. 

Bukan berarti metode intermittent fasting yang saya jalani gagal, tetapi saya merasa masih ada yang perlu diperbaiki. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menaikkan level IF menjadi jendela makan 22:2, yaitu 22 jam berpuasa dan hanya 2 jam untuk makan.

Kebetulan, saat itu bertepatan dengan masa Prapaskah tahun 2026. Selama 40 hari saya sekalian menjadikan momen tersebut sebagai latihan mengendalikan diri. 

Awalnya memang berat sih. Apalagi ketika melihat orang lain menikmati camilan atau minuman manis di depan mata. Hihihihi... godaannya memang nyata!

Tahu gak, selain mengurangi jam makan, saya juga sekalian mengurangi makanan berbahan tepung dan minuman yang mengandung gula tambahan

Memang gak bisa langsung 100% karena saya juga manusia biasa yang masih gampang tergoda makanan enak. Mungkin porsinya sekitar 80%, tapi buat saya itu sudah menjadi langkah besar menuju konsisten menjalani gaya hidup sehat.

Di titik itulah saya mulai menyadari bahwa nasi sebenarnya bukan satu-satunya sumber karbohidrat. 

Saya perlahan menggantinya dengan kentang atau ubi yang mengandung karbohidrat kompleks sehingga energi terasa lebih stabil. 

Untuk memenuhi kebutuhan protein, saya lebih sering memilih dada ayam, telur, tahu, tempe, atau sesekali ikan. 

Sayuran hijau pun hampir selalu hadir di piring makan saya karena kaya serat dan membuat kenyang lebih lama.

Oh ya, saya termasuk orang yang gampang bosan, tapi juga males bikin menu yang ribet. Jadi bahan makanan di rumah hampir selalu itu-itu saja. 

Bedanya, saya mengolahnya menjadi berbagai menu rendah kalori agar rasanya tetap berbeda setiap hari. Kadang dibuat sup, ditumis, dipanggang, atau cukup direbus dengan bumbu sederhana.

Saya juga mulai mengenal konsep real food, yaitu memilih bahan makanan yang minim proses dibanding makanan instan. 

Lama-lama saya merasa tubuh lebih nyaman. Saya gak lagi terlalu sering merasa ngantuk setelah makan, dan kebutuhan kalori harian terasa lebih mudah dikontrol tanpa harus menghitung secara detail.

Yang menarik, perubahan ini juga membuat saya lebih rajin melakukan meal prep sederhana. 

Saya biasanya menyiapkan ayam rebus, telur, atau sayuran dalam jumlah lebih banyak untuk stok beberapa hari. 

Jadi saat jam makan tiba, saya tinggal mengombinasikannya sesuai selera. Cara ini cukup membantu supaya saya gak tergoda membeli makanan cepat saji.

Hasilnya benar-benar terasa. Tubuh menjadi lebih ringan, metabolisme terasa lebih baik, dan saya gak lagi bergantung pada nasi di setiap waktu makan. 

Saya pun mulai percaya bahwa menjalani menu sehat tanpa nasi bukan soal pantangan, melainkan soal menemukan kebiasaan baru yang lebih cocok dengan kebutuhan tubuh.

Menu Sehat Tanpa Nasi Favorit yang Tetap Mengenyangkan

Setelah cukup lama menjalani pola makan ini, saya akhirnya menemukan beberapa menu yang paling sering muncul di meja makan. 

Bahannya sederhana, mudah dicari, dan yang paling penting tetap enak. Buat saya, makanan sehat gak harus mahal atau terlihat mewah. 

Yang penting gizinya seimbang, mengandung protein, serat, serta lemak sehat dalam porsi yang pas.

Oh ya, saya memang bukan chef ataupun ahli gizi. Saya hanya berbagi pengalaman pribadi tentang menu yang selama ini cocok di tubuh saya. 

Bahkan sebagai seorang food blogger, saya tetap percaya bahwa makanan rumahan sering kali jauh lebih nikmat dibanding menu yang terlalu rumit.

1. Sup Telur Ayam

Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein
Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein (dpc. Riana Dewie)

Ini menu yang paling sering saya masak karena praktis. Bumbunya seperti sup pada umumnya, hanya terdiri dari bawang putih, bawang merah, merica, garam, dan sedikit kaldu. 

Untuk isiannya saya memilih ayam fillet, telur, wortel, kentang, kembang kol, daun bawang, lalu ditambah bawang bombai supaya aromanya makin sedap.

Menurut saya sih, menu ini sudah lengkap. Ada protein dari ayam dan telur, ada serat dari sayuran, serta karbohidrat kompleks dari kentang. 

Semangkuk sup hangat seperti ini sudah cukup membuat saya kenyang lebih lama.

2. Telur Dadar Sambal Terasi

Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus
Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus (doc. Riana Dewie)

Menu ini biasanya saya buat saat sedang ingin makan yang gurih. 

Telur saya goreng menggunakan sedikit olive oil, lalu ditemani ayam berbumbu bawang putih, garam, dan daun jeruk. Sebagai pelengkap, saya selalu menambahkan sambal terasi favorit.

Karena sedang menjalani menu sehat tanpa nasi, sumber karbohidrat saya ganti dengan kentang rebus. Rasanya tetap nikmat, bahkan lama-lama lidah saya mulai terbiasa. 

Saya jadi sadar kalau ternyata yang paling dicari sering kali bukan nasinya, melainkan lauk dan sambalnya.

3. Sayur Asem Daging

Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat
Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat (doc. Riana Dewie)

Siapa bilang sayur asem hanya cocok dimakan bersama nasi? Saya justru sering menikmatinya tanpa nasi sama sekali. 

Isinya hampir sama dengan sup, hanya kuahnya dibuat menjadi sayur asem khas Bandung yang segar.

Perpaduan kuah asam dengan potongan daging sapi atau ayam benar-benar bikin selera makan meningkat. Apalagi kalau ditemani sambal terasi, wah... rasanya susah ditolak.

4. Chicken Steak Mashed Potato

Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)
Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)

Kalau sedang punya waktu lebih, saya biasanya membuat menu ini. 

Memang agak lebih effort karena harus mengupas kentang, merebusnya hingga empuk, lalu menghaluskannya bersama susu dan sedikit taburan keju.

Sementara itu, ayam fillet saya marinasi menggunakan saus black pepper, saus barbeque, kecap asin, sedikit kecap manis, minyak ikan, serta bawang putih. 

Setelah didiamkan beberapa saat, ayam tinggal dipanggang di teflon sampai matang.

Buat saya, menu seperti ini tetap masuk kategori makanan sehat rendah kalori karena proses memasaknya minim minyak. Rasanya pun gak kalah dengan steak yang dijual di restoran.

5. Telur Sayur Black Pepper

Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)
Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)

Nah, ini salah satu menu favorit saya sampai sekarang. Hampir semua bahannya cukup direbus atau dikukus, mulai dari telur, wortel, brokoli, jagung muda, hingga ayam fillet.

Rahasia kelezatannya justru ada di sausnya. 

Saya menumis bawang putih dan bawang bombai, lalu menambahkan campuran saus black pepper, sedikit kecap, garam, serta gula secukupnya sebagai penyeimbang rasa. 

Setelah matang, saus tinggal disiramkan ke atas semua bahan.

Sekilas tampilannya memang mirip siomay, hanya saja cita rasanya berbeda. 

Menurut saya sih, menu ini paling pas disantap saat cuaca dingin karena hangat, mengenyangkan, dan tetap terasa ringan di perut.

Makan tanpa nasi ternyata gak semenakutkan yang saya bayangkan dulu. Justru saya jadi lebih kreatif mencoba berbagai kombinasi menu dari bahan yang sama. 

Nah, dari lima menu tadi, kira-kira kamu paling penasaran mau coba yang mana? Hehehe.... 😉

Ternyata Hidup Sehat Gak Sesulit yang Dibayangkan

Setelah menjalani semua proses ini, saya baru benar-benar memahami bahwa perubahan gak selalu harus dilakukan secara ekstrem. 

Yang paling penting justru membangun kebiasaan kecil yang bisa dijalani setiap hari. 

Bagi saya, hidup sehat bukan soal mengejar angka di timbangan, melainkan bagaimana tubuh terasa lebih nyaman saat beraktivitas.

Tahu gak, perubahan pertama yang paling saya rasakan justru bukan berat badan. Saya jadi lebih mudah bangun pagi, tidur terasa lebih nyenyak, dan energi lebih stabil sepanjang hari. 

Aktivitas bekerja pun terasa lebih ringan karena tubuh gak gampang lemas setelah makan.

Selain itu, saya juga merasa lebih mudah mengontrol rasa lapar. 

Mungkin karena tubuh sudah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, ditambah pilihan makanan tinggi protein, serat, dan lemak sehat yang membuat saya kenyang lebih lama. 

Defisit kalori pun akhirnya berjalan lebih alami tanpa perlu menyiksa diri atau menghitung setiap suapan makanan.

Oh ya, saya tetap punya cheating day, lho di hari Minggu. Sesekali saya menikmati makanan favorit tanpa rasa bersalah. Bedanya, sekarang saya gak lagi berlebihan. 

Keesokan harinya saya cukup kembali menjalankan intermittent fasting 22:2 seperti biasa. Menurut saya, keseimbangan jauh lebih penting daripada pantangan yang terlalu ketat.

Hasilnya benar-benar membuat saya bersyukur. Pada Februari 2026 berat badan saya masih berada di angka 72 kilogram. Empat bulan kemudian, angkanya turun menjadi sekitar 59 kilogram (hingga sekarang). 

Saya memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani
Saya memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani (doc. Riana Dewie)


Buat saya, pencapaian ini bukan semata-mata karena berhenti makan nasi, tetapi karena saya mulai lebih menghargai tubuh sendiri dan menjaga pola makan dengan lebih bijak.

Sekarang saya masih sangat jarang makan nasi. Kalaupun sedang ingin, biasanya hanya satu atau dua kali dalam seminggu dengan porsi secukupnya. 

Selebihnya, saya lebih nyaman mengonsumsi kentang, ubi, sayuran, ayam, telur, tahu, atau tempe sebagai menu sehat sehari-hari. 

Ternyata tubuh saya bisa beradaptasi dengan baik, bahkan terasa jauh lebih fit dibanding beberapa tahun lalu.

Saya juga belajar bahwa perjalanan setiap orang pasti berbeda. Apa yang berhasil pada saya belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain. 

Karena itu, saya selalu menyarankan untuk menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan tubuh masing-masing dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu.

***

Nah, itulah cerita perjalanan saya menjalani menu sehat tanpa nasi. Semoga pengalaman sederhana ini bisa menjadi inspirasi buat kamu yang ingin memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani. 

Siapa tahu, langkah kecil hari ini justru menjadi awal perubahan besar di masa depan. 

Kalau kamu punya menu andalan atau cerita menarik seputar kuliner sehat, boleh banget berbagi di kolom komentar, ya....😊






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Pertama Kali Membuat Gerabah di Borobudur, Pulangnya Bawa Karya Buatan Sendiri!

Membuat gerabah di Borobudur menggunakan pottery wheel di Gerabah Arum Art.

Kalau ngomongin soal membuat gerabah di Borobudur, saya jadi teringat dua pengalaman yang sampai sekarang masih membekas di ingatan. 

Menariknya, keduanya sama-sama mempertemukan saya dengan tanah liat, tetapi menghadirkan cerita yang benar-benar berbeda. 

Kalau saya sih, setiap pengalaman baru selalu punya cerita yang layak dikenang.

Pengalaman pertama terjadi saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2009. Waktu itu saya ditempatkan di rumah seorang pelaku UMKM gerabah di kawasan Pundong, Bantul. 

Selama hampir satu bulan tinggal bersama keluarga tersebut, saya melihat langsung bagaimana tanah liat diolah menjadi berbagai kerajinan tradisional yang memiliki nilai seni tinggi. 

Mulai dari proses membentuk, menjemur, membakar, hingga akhirnya siap dipasarkan.

Oh ya, dari pengalaman KKN itulah saya mulai sadar kalau sebuah gerabah ternyata gak lahir begitu saja. 

Ada proses panjang, ketelatenan, dan kesabaran yang luar biasa di balik setiap karya yang terlihat sederhana.

Pengalaman kedua baru saja saya rasakan ketika berkunjung ke Gerabah Arum Art, sebuah workshop gerabah Borobudur yang cukup populer di kawasan wisata sekitar Candi Borobudur. 

Awalnya saya mengira tempat ini hanya menjual aneka gerabah seperti toko pada umumnya. Ternyata dugaan saya meleset jauh.

Di sini saya gak cuma melihat berbagai koleksi gerabah yang unik, tetapi juga diajak mencoba belajar membuat gerabah secara langsung. 

Bahkan hasil karya itu nantinya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Wah, pengalaman seperti ini jelas bikin saya penasaran.

Kenapa Memilih Mencoba Workshop Gerabah di Borobudur?

Semua berawal dari rekomendasi seorang teman yang mengatakan kalau ada sebuah pottery workshop Borobudur dengan koleksi gerabah yang sangat lengkap. 

Katanya, pengunjung bisa melihat proses produksinya sekaligus mencoba membuat gerabah sendiri. 

Mendengar cerita itu, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di kawasan Borobudur.

Gerabah Arum Art sendiri merupakan salah satu sentra kerajinan gerabah yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan dikelola oleh Pak Supoyo bersama tim pengrajinnya. 

Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur.
Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Berawal dari usaha keluarga, kini tempat ini berkembang menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Produk-produknya bahkan telah dipasarkan hingga berbagai negara, sehingga kualitas hasil karya para pengrajin gerabah di sini memang gak perlu diragukan lagi.

Oh ya, yang membuat saya langsung nyaman justru bukan hanya koleksi gerabahnya, melainkan sambutan ramah dari para staf yang berjaga. 

Baru beberapa langkah masuk saja, saya sudah disapa dengan senyum hangat dan dipersilakan berkeliling area workshop sambil melihat proses pembuatannya.

Saya pun mulai berjalan menyusuri setiap sudut ruang pamer. Rasanya mata ini gak berhenti dibuat kagum melihat begitu banyak hasil kerajinan handmade yang tertata rapi. 

Ada vas bunga dengan berbagai ukuran, pot tanaman, asbak, teko, tempat lilin, lampu tidur, hingga aneka dekorasi rumah yang estetik.

Yang paling menarik perhatian saya tentu saja miniatur stupa yang bentuknya sangat mirip dengan stupa di Candi Borobudur. 

Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade.
Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade (doc. Riana Dewie)


Detailnya benar-benar rapi dan artistik sehingga cocok dijadikan pajangan maupun oleh-oleh Borobudur.

Kalau dihitung-hitung, koleksi produknya mungkin mencapai ratusan jenis. Wah, lengkap juga ya! 

Saya bahkan sempat beberapa kali berhenti hanya untuk mengamati detail ukiran dan finishing setiap gerabah. 

Masing-masing memiliki karakter yang berbeda sehingga rasanya sayang kalau cuma dilihat sekilas.

Oh ya, kalau berkunjung ke sini, jangan buru-buru pulang. 

Luangkan waktu untuk mengelilingi workshop karena hampir setiap sudutnya menyimpan karya-karya yang menarik untuk difoto sekaligus dipelajari. 

Rasanya seperti sedang menikmati galeri seni yang penuh cerita.

Pengalaman Pertama Membuat Gerabah dengan Pottery Wheel

Setelah puas berkeliling melihat area workshop, tiba-tiba salah seorang pramuniaga menghampiri saya sambil tersenyum. 

Beliau menawarkan apakah saya ingin mencoba membuat gerabah sendiri menggunakan pottery wheel. Mendengar tawaran itu, saya jelas langsung mengangguk. 

Kesempatan seperti ini rasanya sayang kalau dilewatkan, apalagi seumur hidup saya memang belum pernah mencobanya. Hahahaha....

Pottery wheel merupakan alat berbentuk meja putar yang digunakan untuk membentuk tanah liat menjadi berbagai macam gerabah. Cara kerjanya cukup sederhana. 

Meja akan berputar dengan kecepatan tertentu, kemudian kedua tangan kita bertugas membentuk tanah liat sedikit demi sedikit hingga menjadi vas, mangkuk, gelas, atau bentuk lainnya. 

Meski terdengar mudah, kenyataannya alat ini membutuhkan keseimbangan, ketelitian, dan kontrol tangan yang baik.

Saya pun duduk di depan pottery wheel dengan perasaan campur aduk antara antusias dan penasaran. Sebelum praktik, salah satu instruktur memberikan contoh terlebih dahulu. 

Tanah liat yang awalnya hanya berupa gumpalan perlahan berubah menjadi bentuk silinder yang tinggi dan rapi. Gerakannya terlihat begitu halus seolah semuanya berjalan otomatis.

"Oh, ternyata gampang," pikir saya saat itu.

Sayangnya, pikiran tersebut cuma bertahan beberapa detik saja.

Membuat gerabah dengan Pottery wheel
Membuat gerabah dengan Pottery wheel (doc. Riana Dewie)


Ternyata Gak Semudah yang Dibayangkan

Begitu giliran saya dimulai, kedua tangan langsung menyentuh tanah liat yang terus berputar. Awalnya masih terlihat normal. 

Namun semakin lama, bentuk gerabah yang saya buat justru mulai bergoyang ke kanan dan kiri. Bukannya bertambah tinggi, hasilnya malah mleyot dan semakin miring.

Instruktur yang mendampingi beberapa kali membantu membenarkan posisi tangan saya. Sesaat bentuknya memang kembali rapi. 

Tapi begitu saya mencoba melanjutkan sendiri, eh... miring lagi. Hihihihi....

Beberapa pengunjung yang berada di sekitar workshop ikut memperhatikan proses tersebut. 

Ada yang tersenyum, ada pula yang tertawa kecil melihat bentuk gerabah saya yang benar-benar di luar ekspektasi. 

Kalau saya sih langsung ikut tertawa juga. Mau bagaimana lagi, namanya juga pengalaman pertama.

Oh ya, ternyata posisi jari menjadi salah satu kunci penting saat membentuk gerabah. Tekanan yang terlalu kuat atau terlalu lemah bisa langsung mengubah bentuk tanah liat dalam hitungan detik. 

Pantas saja para pengrajin bisa menghasilkan karya yang begitu presisi. Di balik hasil yang indah, ada latihan bertahun-tahun yang mungkin gak pernah kita bayangkan.

Meski hasilnya jauh dari kata sempurna, saya justru menikmati setiap prosesnya. Tangan penuh tanah liat, sesekali salah menekan, lalu mencoba memperbaikinya lagi. 

Aktivitas sederhana ini ternyata mampu membuat saya fokus sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan. Rasanya seperti melupakan sejenak segala kesibukan di luar sana.

Di momen itulah saya mulai memahami kenapa workshop seperti ini menjadi salah satu aktivitas seru di Borobudur yang banyak diminati wisatawan. 

Bukan semata-mata karena ingin menghasilkan gerabah yang bagus, melainkan karena proses belajar dan pengalaman yang diperoleh benar-benar menyenangkan.

Dibimbing Langsung oleh Pak Supoyo

Saat saya masih sibuk berjuang menyelamatkan gerabah yang sudah telanjur miring, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami. 

Beliau menyapa dengan ramah, lalu ikut memberikan arahan bagaimana cara memosisikan tangan agar tanah liat tetap stabil di tengah putaran.

Belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah Pak Supoyo, pendiri sekaligus pemilik Gerabah Arum Art.

Oh ya, yang membuat saya terkesan bukan hanya karena beliau mau turun langsung membimbing pengunjung, tetapi juga kesederhanaan dan keramahannya saat berbagi cerita. 

Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur.
Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Sambil sesekali membantu membentuk gerabah saya, beliau menceritakan bagaimana usaha ini dirintis dari skala kecil hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu sentra gerabah di kawasan Borobudur.

Beliau juga bercerita bahwa mempertahankan kualitas menjadi hal yang paling penting. 

Sebab, setiap gerabah yang dihasilkan membawa nama para perajin sekaligus budaya lokal yang sudah diwariskan secara turun-temurun. 

Mendengar cerita itu, saya semakin menghargai setiap proses panjang di balik sebuah karya gerabah yang selama ini mungkin sering saya anggap biasa saja.

Berkeliling Workshop Gerabah Arum Art

Selesai mencoba membuat gerabah, saya kembali diajak berkeliling ke area showroom. Jujur saja, rasanya seperti masuk ke dunia yang dipenuhi karya seni dari tanah liat. 

Hampir di setiap sudut ruangan terdapat berbagai gerabah dengan bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbeda-beda. 

Kalau diperhatikan satu per satu, jumlahnya bisa mencapai sekitar 200 jenis. Saya sampai bingung harus mulai melihat dari mana dulu.

Koleksi Gerabah yang Lucu dan Unik

Salah satu produk yang paling mencuri perhatian saya adalah miniatur stupa yang desainnya terinspirasi dari Candi Borobudur. 

Bentuknya simpel, tetapi detailnya sangat rapi sehingga cocok dijadikan dekorasi rumah maupun hadiah untuk keluarga dan teman.

Selain itu, ada juga berbagai vas bunga dengan desain modern, pot tanaman, lampu tidur bernuansa etnik, asbak, teko, mug, tempat lilin, hingga aneka hiasan meja yang estetik. 

Menariknya lagi, beberapa produk memadukan sentuhan tradisional dengan desain yang lebih kekinian sehingga cocok untuk berbagai konsep interior rumah.

Oh ya, saya sempat bertanya produk apa yang paling banyak diminati pengunjung. Ternyata vas bunga dan dekorasi rumah menjadi dua kategori yang paling laris. 

Alasannya sederhana, desainnya unik, mudah dipadukan dengan berbagai ruangan, dan memiliki kesan handmade yang membuat setiap produknya terasa lebih istimewa.

Saya juga memperhatikan proses finishing beberapa gerabah yang sedang dikerjakan para perajin. 

Mulai dari penghalusan permukaan, pewarnaan, hingga proses pembakaran dilakukan dengan teliti agar menghasilkan kualitas terbaik. 

Dari situ saya semakin paham kalau sebuah gerabah yang tampak sederhana ternyata melewati tahapan yang cukup panjang sebelum akhirnya dipajang di showroom.

Kalau saya sih, tempat seperti ini bukan sekadar toko kerajinan. 

Saya justru menganggapnya sebagai ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana kreativitas, budaya, dan kerja keras berpadu menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai seni.

Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat.
Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat (doc. Riana Dewie)


Belanja Oleh-Oleh Handmade

Rasanya kurang lengkap kalau sudah datang ke Gerabah Arum Art tetapi pulang dengan tangan kosong. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya saya memilih beberapa gerabah untuk dibawa pulang.

Pilihan saya jatuh pada sebuah vas bunga dengan desain minimalis, miniatur stupa khas Borobudur, serta lampu tidur yang menurut saya cantik banget saat dinyalakan. 

Warnanya hangat dan motifnya sederhana, sehingga cocok dijadikan dekorasi di rumah.

Yang paling spesial tentu saja bukan barang-barang yang saya beli, melainkan satu gerabah hasil karya saya sendiri. 

Meski bentuknya masih jauh dari sempurna, gerabah itu akhirnya sudah selesai diproses dan bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Oh ya, menurut saya justru di situlah letak keistimewaannya. Saya gak hanya membawa pulang oleh-oleh khas Borobudur, tetapi juga membawa pulang pengalaman yang saya buat dengan kedua tangan sendiri. 

Rasanya tentu berbeda dibanding membeli suvenir yang sudah jadi.

Di perjalanan pulang, saya beberapa kali membuka kotak berisi gerabah buatan saya. 

Bentuknya memang masih miring dan gak simetris, tetapi setiap melihatnya saya langsung teringat momen seru saat duduk di depan pottery wheel, tertawa bersama para pengunjung lain, hingga mendapatkan bimbingan langsung dari Pak Supoyo. 

Kenangan seperti itu rasanya sulit digantikan oleh apa pun.

Gerabah Miring Ini Justru Jadi Oleh-Oleh Paling Berkesan

Kalau dilihat-lihat lagi, gerabah buatan saya memang jauh dari kata sempurna. Bentuknya sedikit miring, ukurannya juga gak benar-benar simetris. 

Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu istimewa. Setiap lekukan yang kurang presisi menjadi pengingat bahwa saya pernah mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Saya jadi belajar bahwa sebuah hasil gak selalu harus sempurna untuk bisa memiliki nilai. Sama seperti hidup, setiap proses pasti memiliki tantangan. 

Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art
Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art (doc. Riana Dewie)


Kadang kita berhasil, kadang juga melenceng dari rencana. Namun selama terus belajar dan mau mencoba lagi, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Oh ya, pengalaman ini juga membuat saya semakin menghargai para pengrajin gerabah. Selama ini saya mungkin hanya melihat hasil akhirnya yang cantik dan rapi. 

Padahal, di balik setiap karya terdapat latihan, ketelatenan, kesabaran, bahkan pengalaman bertahun-tahun hingga akhirnya menghasilkan gerabah berkualitas.

Kalau saya sih, workshop seperti ini layak menjadi salah satu destinasi saat berkunjung ke kawasan Borobudur. 

Selain menikmati kemegahan candi, kita juga bisa mengenal budaya lokal melalui aktivitas yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan. 

Inilah salah satu bentuk wisata edukasi yang menurut saya cocok untuk semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Saya pun pulang dengan membawa lebih dari sekadar beberapa buah gerabah. 

Ada pengalaman baru, cerita seru, tawa bersama orang-orang yang baru saya kenal, hingga pelajaran hidup yang mungkin akan terus saya ingat.

***

Kapan-kapan saya ingin kembali lagi ke Gerabah Arum Art. Siapa tahu kesempatan berikutnya hasil gerabah saya bisa lebih bagus. Atau... jangan-jangan malah semakin miring? Hahahaha....

Ah, memang ya, selalu ada pelajaran hidup dari setiap perjalanan yang saya lakukan. 

Dan bagi saya, membuat gerabah di Borobudur bukan sekadar mencoba membentuk tanah liat, tetapi juga belajar bahwa sebuah proses selalu lebih berharga daripada sekadar mengejar hasil akhirnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments