In Destinations

Mengupas Sejarah Candi Pawon, Penghubung Borobudur dan Mendut

Candi Pawon di Magelang penghubung Borobudur dan Candi Mendut.

Candi Pawon menjadi salah satu destinasi yang paling membuat saya takjub saat menjelajahi kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. 

Jujur saja, sebelumnya saya lebih sering mendengar tentang megahnya Borobudur dibanding candi kecil yang satu ini. 

Sampai akhirnya, dalam perjalanan bersama teman-teman dari Sound of Borobudur menaiki VW warna-warni, saya mendapat kesempatan mengunjungi beberapa destinasi menarik di sekitarnya. 

Salah satunya adalah wisata Candi Pawon yang ternyata menyimpan cerita luar biasa. Hihihihi... kadang destinasi yang awalnya gak masuk daftar prioritas justru meninggalkan kesan paling dalam, ya.

Apa sih yang membuat candi ini begitu spesial? Benarkah sejarah Candi Pawon memiliki hubungan erat dengan Borobudur dan Candi Mendut? 

Lalu, apakah kisah yang tersimpan di balik bangunan kuno ini masih relevan dengan kehidupan kita sekarang? Yuk, ikuti cerita saya sampai selesai!

Candi Pawon, Candi Kecil dengan Cerita Besar

Pawon Luwak Coffee
Pawon Luwak Coffee (doc. Riana Dewie)

Saya ingat betul, sepulang dari menikmati secangkir kopi di Pawon Luwak Coffee, rombongan kami diajak menuju Candi Pawon yang lokasinya ternyata gak begitu jauh. 

Oh ya, kalau saya sih justru senang saat diajak mampir ke destinasi yang sebelumnya belum pernah saya kunjungi, karena selalu ada cerita baru yang bisa dibawa pulang.

Saat itu suasananya terasa adem. Seingat saya, sebelumnya sempat turun hujan sehingga udara di sekitar candi terasa begitu sejuk. 

Pepohonan yang mengelilingi area candi membuat suasananya semakin nyaman, seolah mengajak setiap pengunjung untuk berjalan lebih pelan dan menikmati setiap sudutnya.

Selama ini banyak wisatawan langsung menuju Borobudur, padahal Candi Pawon sering kali terlewat begitu saja. 

Padahal ukurannya yang mungil sama sekali gak mengurangi nilai sejarah maupun pesonanya. 

Justru di balik bangunan sederhana inilah saya mulai menyadari bahwa sebuah warisan budaya gak selalu harus megah untuk mampu meninggalkan kesan yang mendalam. 

Dari sinilah rasa penasaran saya tentang sejarah Candi Pawon semakin besar.

Sejarah Candi Pawon, Penghubung Borobudur dan Mendut

Dibangun pada Masa Wangsa Syailendra

Suasana wisata Candi Pawon yang teduh di Magelang.
Suasana wisata Candi Pawon yang teduh di Magelang (doc. Riana Dewie)

Rasa penasaran saya akhirnya terjawab setelah mendengarkan penjelasan dari salah satu pemandu yang berjaga di area candi. 

Ternyata, sejarah Candi Pawon diperkirakan bermula pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, saat Wangsa Syailendra berkuasa di Pulau Jawa. 

Dinasti ini dikenal sebagai pendukung berkembangnya ajaran Buddha Mahayana sekaligus membangun sejumlah candi Buddha yang kini menjadi warisan budaya Indonesia.

Oh ya, kalau diamati lebih dekat, arsitektur candi ini memang memiliki ciri khas yang berbeda. 

Meski ukurannya jauh lebih kecil dibanding Borobudur, detail ukiran pada dinding dan bentuk bangunannya menunjukkan kualitas pengerjaan yang sangat tinggi. 

Para ahli pun memperkirakan Candi Pawon dibangun pada masa Raja Indra atau Samaratungga, meski hingga kini belum ditemukan prasasti yang secara tegas menyebutkan waktu pembangunannya.

Mengapa Disebut Penghubung Borobudur dan Mendut?

Nah, bagian ini yang paling membuat saya penasaran. Kok bisa Candi Pawon disebut sebagai penghubung Borobudur dan Candi Mendut? 

Setelah mendengarkan penjelasan sang pemandu, saya baru memahami bahwa ketiga candi tersebut berada pada satu garis lurus yang membentang dari timur ke barat. 

Susunan ini diyakini bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari konsep spiritual yang telah dirancang sejak masa pembangunannya.

Dalam tradisi umat Buddha, jalur ini dipercaya menjadi rute prosesi menuju pencerahan. Perjalanan dimulai dari Candi Mendut, kemudian singgah di Candi Pawon, lalu berakhir di Borobudur. 

Hingga sekarang, rangkaian tersebut masih digunakan dalam prosesi Hari Raya Waisak. 

Karena itulah Candi Pawon memiliki peran penting sebagai bagian dari jalur Waisak, bukan sekadar bangunan pelengkap di antara dua candi besar.

Oh ya, saya sih langsung membayangkan perjalanan itu seperti proses kehidupan manusia. Sebelum mencapai tujuan yang besar, selalu ada tahap demi tahap yang perlu dilewati dengan sabar. 

Hahahaha... ternyata sebuah bangunan kuno saja bisa membuat saya merenung cukup lama tentang arti sebuah proses.

Keunikan Candi Pawon yang Menarik untuk Dijelajahi

1. Relief Kalpataru, Simbol Pohon Kehidupan

Semakin lama mengelilingi Candi Pawon, semakin banyak detail yang membuat saya berhenti sejenak. Salah satunya adalah relief Kalpataru yang dikenal sebagai simbol pohon kehidupan. 

Dalam ajaran Buddha, Kalpataru melambangkan kemakmuran, harapan, dan keseimbangan hidup. Gak heran kalau relief ini menjadi salah satu ornamen yang paling menarik perhatian para pengunjung.

Detail ukiran dinding Candi Pawon di kawasan Borobudur.
Detail ukiran dinding Candi Pawon di kawasan Borobudur (doc. Riana Dewie)
.

Oh ya, saya sih paling suka menikmati ukiran-ukiran seperti ini tanpa terburu-buru. Walaupun panitia travel sudah bilang klalau harus buru-buru agar tidak kemalaman ke destinasi berikutnya. hehehe.... 

Saya betah di sini karena bagi saya pribadi setiap relief seolah memiliki cerita yang menunggu untuk dipahami, bukan sekadar menjadi hiasan dinding candi.

2. Ukurannya Tidak Besar, tetapi Sarat Makna

Meski berukuran lebih kecil dibanding Borobudur maupun Candi Mendut, Candi Pawon tetap memancarkan pesona yang khas. 

Menurut saya, bentuk bangunannya tampak proporsional dengan atap bertingkat yang menyerupai stupa. Ornamen dan ukirannya pun dibuat begitu detail, memperlihatkan indahnya arsitektur candi pada masa itu. 

Justru karena ukurannya yang lebih mungil, saya bisa menikmati setiap sudut bangunan dengan lebih leluasa tanpa merasa terburu-buru.

Jam Kunjungan, Harga Tiket, dan Lokasi Candi Pawon

Lokasi Candi Pawon berada di Jalan Raya Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Letaknya hanya sekitar 1,5 kilometer dari Borobudur sehingga sangat mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi wisata.

Dari informasi yangs aya dengar dari penjaga, jam buka Candi Pawon umumnya mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB setiap hari. 

Sementara itu, harga tiket Candi Pawon biasanya sudah menjadi satu paket dengan tiket kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, sehingga sebaiknya cek kembali informasi terbaru sebelum berkunjung karena kebijakan tiket dapat berubah sewaktu-waktu.

Jam Kunjung Candi Pawon
Jam Kunjung Candi Pawon (doc. Riana Dewie)

Oh ya, kalau ingin menikmati suasana yang lebih nyaman, saya sih menyarankan datang pada pagi atau sore hari. Selain udaranya lebih sejuk, cahaya matahari juga lebih bersahabat untuk berfoto. 

Sebisa mungkin hindari waktu menjelang tengah hari karena cuacanya bisa terasa cukup terik, apalagi saat musim kemarau. Pokoknya jangan lupa pakai sunscreen & topi deh, biar kamu tetap aman. Hihihi... 

Alasan Mengapa Candi Pawon Layak Masuk Bucket List Wisata

Kalau ditanya kenapa wisata Candi Pawon layak dikunjungi, jawaban saya cukup sederhana. 

Lokasinya sangat dekat dengan Borobudur, suasananya lebih tenang, kaya nilai sejarah, sekaligus menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual umat Buddha. 

Ditambah lagi, area candinya cukup asri sehingga cocok untuk menikmati wisata budaya sambil mencari suasana yang lebih rileks.

Saat berada di sana, saya sampai memutari hampir setiap sisi candi. Saya benar-benar kepo, apa sih yang membedakan Candi Pawon dengan candi-candi lain di kawasan Borobudur? 

Ternyata jawabannya bukan semata-mata karena bentuk bangunannya, melainkan karena fungsinya dalam satu kesatuan dengan Candi Mendut dan Borobudur. 

Candi ini diyakini menjadi tempat persinggahan dalam prosesi keagamaan sekaligus simbol tahapan sebelum mencapai tujuan akhir. 

Menurut saya, justru peran itulah yang membuat Candi Pawon terasa begitu istimewa.

Filosofi Kehidupan yang Bisa Dipetik dari Sejarah Candi Pawon

Ada banyak pelajaran yang saya bawa pulang setelah mengunjungi tempat ini. Yang pertama, saya belajar bahwa sesuatu yang ukurannya kecil bukan berarti perannya kecil. 

Candi Pawon membuktikan bahwa setiap bagian memiliki arti dalam sebuah perjalanan besar.

Oh ya, saya juga jadi teringat bahwa hidup sering kali membuat kita terlalu fokus pada tujuan akhir, padahal proses adalah bagian yang sama pentingnya. 

Sama seperti perjalanan dari Candi Mendut menuju Candi Pawon lalu berakhir di Borobudur, setiap langkah memiliki makna yang gak bisa dilewati begitu saja.

Pelajaran berikutnya adalah tentang fondasi. Meski telah berdiri lebih dari seribu tahun, bangunan ini tetap kokoh dan terus dijaga. Keren banget ya? 

Menurut saya sih, ini menjadi pengingat bahwa kehidupan yang dibangun di atas nilai, karakter, dan ketekunan akan lebih mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.

Menikmati keindahan jalan area Borobudur dengan VW
Menikmati keindahan jalan area Borobudur dengan VW (doc. Riana Dewie)

Terakhir, saya justru menemukan makna dari suasana yang tenang. Di tengah aktivitas yang serba cepat, sesekali kita memang perlu berhenti, menikmati keheningan, lalu mendengarkan isi hati sendiri.

Dan berwisata heritage di kawasan Candi Borobudur ini menurut saya adalah keputusan yang tepat untuk menenangkan diri :)

***

Pada akhirnya, Candi Pawon bukan hanya tentang bangunan kuno yang berdiri di Kabupaten Magelang. 

Lebih dari itu, candi ini mengajarkan bahwa setiap perjalanan besar selalu terdiri dari langkah-langkah kecil yang saling melengkapi. 

Mungkin itulah alasan mengapa Candi Pawon tetap memiliki tempat istimewa di antara Borobudur dan Candi Mendut hingga sekarang. 

Dan bagi saya, pengalaman singkat berkunjung ke sana justru meninggalkan refleksi yang akan saya ingat dalam waktu lama, yaitu tentang  menikmati proses dan fondasi hidup yang harus dikuatkan dari waktu ke waktu. 

Jadi, kapan kamu mampir ke sini juga? 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Review Joffi Ramen Pakualaman, Ramen Halal dengan Bangunan Vintage Nyaman

Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan heritage bergaya vintage di Jalan Sultan Agung Yogyakarta

Kalau kamu sedang mencari ramen enak di Jogja dengan suasana yang beda dari kebanyakan restoran, Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar kunjunganmu. 

Saya sendiri sudah tiga kali datang ke sini. Pertama bersama teman-teman blogger yang memang hobi berburu kuliner, kedua saat meeting santai dengan teman, lalu yang terakhir datang bersama keluarga. 

Menariknya, datang di hari dan jam yang berbeda ternyata cukup berpengaruh terhadap jumlah pengunjung. Kalau saya sih, justru paling menikmati suasana saat weekday karena terasa lebih santai. 

Satu hal yang langsung membuat saya jatuh hati adalah bangunannya. Beneran, saya memang termasuk penikmat bangunan tua, rumah bergaya kolonial, sampai dekorasi vintage yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Jadi, baca review ini sampai selesai ya. Siapa tahu bisa jadi referensi buat kamu yang sedang mencari ramen halal Jogja dengan harga ramah di kantong.

Lokasi Joffi Ramen Pakualaman

Joffi Ramen Pakualaman beralamat di Jalan Sultan Agung No. 69, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis karena berada di kawasan yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. 

Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa menit berkendara, begitu juga jika datang dari kawasan Malioboro.

Buat yang belum pernah ke sini, patokannya juga cukup mudah. Restoran ini berada di Jalan Sultan Agung, masih satu jalur menuju kawasan Pakualaman. 

Lokasinya berada dekat Pura Pakualaman, berseberangan dengan Pasar Sentul, dan hanya beberapa langkah dari Toko Intisari Sultan Agung. 

Jadi, meski baru pertama kali datang, kamu gak akan kesulitan menemukannya.

Area sekitarnya juga cukup nyaman karena dipenuhi berbagai bangunan lama yang masih terawat. 

Nuansa kuliner Pakualaman memang terasa berbeda dibanding kawasan lain di Jogja. 

Di sini kamu bisa menemukan perpaduan antara bangunan bersejarah, tempat makan kekinian, hingga deretan usaha lokal yang sudah berdiri sejak lama.

Restoran ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.  

Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman
Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman (doc. Riana Dewie)


Berdasarkan pengalaman saya, suasana pada malam hari saat weekday memang cukup ramai, tetapi bangkunya masih banyak yang kosong sehingga tetap nyaman untuk ngobrol. 

Sementara saat Minggu siang, pengunjungnya jauh lebih padat. Banyak keluarga, mahasiswa, anak sekolah, hingga pasangan yang datang untuk makan bersama. 

Oh ya, kalau ingin suasana lebih tenang untuk ngobrol atau bekerja ringan, saya menyarankan datang sebelum jam makan siang atau setelah pukul dua siang.

Dengan rating sekitar 4,7 dari 5, gak heran kalau Joffi Ramen Sultan Agung menjadi salah satu rekomendasi tempat makan Jepang Jogja yang cukup populer. 

Selain lokasinya strategis, akses menuju restoran ini juga mudah, area parkirnya lega, dan cocok dijadikan tempat singgah setelah berkeliling kawasan Pakualaman.

Bangunan Heritage yang Langsung Mencuri Perhatian

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai dari Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya justru bukan makanannya terlebih dahulu, melainkan bangunannya.

Ya, nuansa bangunan heritage di sini benar-benar terasa begitu kuat. Restoran ini menempati sebuah rumah bergaya kolonial yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Perpaduan interior vintage dengan sentuhan industrial juga berhasil menciptakan suasana yang hangat sekaligus modern. Menurut saya, konsep seperti ini justru membuat restoran terasa lebih hidup.

Detail bangunan yang membuat betah

Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta
Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Ada beberapa detail yang menurut saya menjadi daya tarik utama restoran ini.
- Fasad klasik dengan nuansa heritage yang masih dipertahankan.
- Pintu dan jendela kayu berukuran besar khas rumah kolonial.
- Langit-langit tinggi sehingga ruangan terasa lega.
- Perpaduan dekorasi klasik dan elemen industrial yang selaras.
- Area duduk indoor maupun outdoor yang sama-sama nyaman.
- Banyak sudut dengan pencahayaan alami yang cantik untuk berfoto.
- Cocok dijadikan tempat nongkrong, meeting santai, hingga work from café ringan.

Kalau saya sih, restoran yang punya karakter seperti ini selalu meninggalkan kesan lebih mendalam dibanding tempat makan dengan desain yang seragam. 

Rasanya seperti sedang menikmati semangkuk ramen di sebuah rumah tua yang disulap menjadi restoran modern tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Oh ya, buat kamu yang suka berburu foto, jangan buru-buru langsung memesan makanan. Luangkan waktu sebentar untuk menikmati setiap sudut bangunannya. 

Percaya deh, hampir setiap sisi restoran ini punya daya tarik tersendiri dan terasa begitu fotogenik.

Menu Joffi Ramen dan Kisaran Harga

Selain konsep bangunannya yang menarik, alasan saya kembali lagi ke Joffi Ramen Pakualaman tentu karena pilihan menunya cukup beragam. 

Menariknya lagi, harga yang ditawarkan juga masih ramah di kantong. 

Jadi, menurut saya restoran ini cocok untuk mahasiswa, pekerja kantoran, sampai keluarga yang ingin menikmati ramen murah Jogja tanpa harus menguras dompet.

Joffi mengusung konsep 100% ramen halal Jogja, sehingga seluruh menunya menggunakan bahan yang halal. 

Kuahnya memakai kaldu ayam maupun sapi, bukan tonkotsu, sehingga lebih mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia.

Pilihan Joffi Ramen menu juga cukup lengkap. Mulai dari ramen berkuah, ramen tanpa kuah, aneka camilan, rice box, sampai dessert tersedia di sini.

Pilihan menu favorit di Joffi Ramen

Kalau masih bingung mau pesan apa, berikut beberapa menu yang cukup populer.

  • 🍜 Ramen Mala

  • 🍜 Ramen Miso

  • 🍜 Shoyu Ramen

  • 🍜 Curry Ramen

  • 🍜 Dry Ramen

  • 🍗 Chicken Rice Box

  • 🥟 Dimsum Platter

  • 🍤 Agemono

  • 🍰 Japanese Cheesecake

  • 🥤 Aneka kopi, teh, serta minuman segar

Selain menu utama, saya juga suka karena pilihan camilannya lumayan banyak. Jadi kalau datang untuk nongkrong sore sambil ngobrol panjang, tetap ada banyak pilihan selain ramen.

Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial
Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial dipadukan dengan vibes Jepang (doc. Riana Dewie)


Kisaran harga Joffi Ramen

Kalau bicara soal harga Joffi Ramen, menurut saya masih tergolong bersahabat. Bahkan beberapa menu dibanderol mulai belasan ribu rupiah.

MenuKisaran Harga
Original RamenRp13.900–Rp18.000
Signature RamenRp20.000–Rp30.000
DimsumRp10.000–Rp20.000
AgemonoRp12.000–Rp22.000
Chicken Rice BoxRp20.000–Rp30.000
Japanese CheesecakeMulai Rp9.500
MinumanRp5.000–Rp18.000

Melihat harga tersebut, saya rasa restoran ini memang cukup ramah untuk berbagai kalangan. 

Mau datang sendirian, bersama pasangan, teman kantor, maupun keluarga tetap terasa nyaman. Tinggal menyesuaikan saja dengan budget yang dimiliki.

Review Rasa Menu yang Dicoba

Karena sudah tiga kali datang, saya akhirnya punya kesempatan mencoba beberapa menu yang berbeda. Menurut saya, masing-masing punya karakter rasa sendiri sehingga gak terasa membosankan.

Kunjungan pertama: Curry Ramen yang ringan di lidah

Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Saat pertama kali datang bersama teman-teman blogger, saya memesan Curry Ramen. Waktu itu saya sengaja memilih menu yang aman karena baru pertama kali mencoba ramen di sini.

Kuah karinya cukup ringan, gurih, dan punya tekstur yang creamy tanpa terasa berlebihan. Aroma rempahnya juga masih bersahabat sehingga tetap cocok untuk lidah Indonesia.

Sebagai pelengkap, saya memesan Corn Ribs. Dari dulu saya memang penggemar camilan satu ini. Jagung manis yang dipotong memanjang lalu dibumbui gurih memang selalu berhasil jadi teman makan yang menyenangkan. 

Kalau saya sih, Corn Ribs di Joffi termasuk salah satu side dish yang layak dicoba.

Kunjungan kedua: Ramen Mala yang bikin nagih

Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Kunjungan berikutnya terasa lebih seru karena saya memutuskan mencoba Ramen Mala.

Sejujurnya, saya memang gampang tergoda melihat kuah merah yang menggoda selera. Sebagai penyuka makanan pedas, menu ini langsung menarik perhatian saya sejak pertama membuka daftar menu.

Dan ternyata pilihan saya gak salah.

Rasa pedasnya cukup terasa, tetapi masih nyaman dinikmati. Sensasi mala yang khas juga muncul tanpa membuat lidah terasa mati rasa berlebihan. 

Bahkan saya menikmati semangkuk ramen ini tanpa perlu menambahkan chilli oil lagi karena menurut saya tingkat kepedasannya sudah pas.

Oh ya, buat kamu yang suka pedas, menu ini wajib masuk daftar pesanan. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang menyebut Joffi sebagai ramen viral Jogja.

Kunjungan ketiga: Dry Ramen yang berbeda

Nah, saat datang bersama keluarga, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Dry Ramen Katsu.

Berbeda dengan ramen berkuah, menu ini disajikan tanpa kuah sehingga cita rasanya lebih fokus pada bumbu yang melapisi mie. 

Tekstur mie kenyal berpadu dengan potongan chicken katsu yang renyah di luar namun tetap lembut di dalam.

Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)


Menu ini cocok buat kamu yang kurang suka makanan berkuah atau ingin mencoba sensasi ramen dengan karakter rasa yang berbeda.

Secara keseluruhan, menurut saya karakter rasa ramen di Joffi memang dibuat lebih ramah untuk lidah Indonesia. Kuahnya gurih, creamy, porsinya mengenyangkan, dan tetap terasa ringan dinikmati.

Mungkin bagi pencinta ramen Jepang yang autentik akan menemukan perbedaan dibanding ramen berbasis tonkotsu. Namun justru di situlah kelebihan Joffi. 

Konsep restoran Jepang Jogja ini berhasil menghadirkan cita rasa yang familiar tanpa kehilangan identitas sebagai restoran ramen.

Spot Instagramable Favorit

Kalau ada satu hal lagi yang membuat saya berkali-kali kembali ke Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya adalah banyaknya sudut yang cantik untuk difoto. 

Bukan sekadar tempat instagramable, tetapi setiap sudutnya terasa punya karakter. 

Buat saya yang memang menyukai bangunan lawas dan suasana klasik, rasanya ingin berhenti di hampir setiap sudut untuk mengambil gambar.

Sudut favorit yang wajib kamu abadikan

Beberapa spot yang paling saya sukai antara lain:

  • Teras depan rumah heritage dengan fasad klasik yang ikonik.

  • Pintu kayu berukuran besar yang memberi kesan elegan.

  • Area indoor dengan pencahayaan hangat dan interior vintage yang nyaman.

  • Jendela besar bergaya kolonial yang membuat foto terlihat lebih estetik.

  • Area outdoor belakang yang menurut saya gak kalah menarik. Ada sepeda klasik, ornamen khas Jepang, tanaman hijau, serta bangunan bergaya Jepang yang membuat suasananya terasa berbeda.

  • Semangkuk ramen dengan latar bangunan heritage. Percaya deh, hasil fotonya langsung terlihat lebih menarik tanpa perlu banyak edit.

Kalau saya sih, area outdoor belakang menjadi spot favorit. Suasananya lebih tenang dan punya kombinasi unsur Jepang serta bangunan heritage yang unik. 

Area outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetikArea outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetik (doc. Riana Dewie)


Cocok buat kamu yang suka membuat konten kuliner maupun travel.

Oh ya, usahakan datang saat pagi menjelang siang atau sore hari kalau ingin mendapatkan pencahayaan alami yang cantik. Hasil fotonya biasanya jauh lebih maksimal dibanding malam hari.

Fasilitas dan Suasana

Selain makanan dan desain bangunannya, fasilitas yang tersedia juga membuat saya merasa nyaman berlama-lama di sini.

Beberapa fasilitas yang bisa kamu nikmati antara lain:

  • Area parkir yang cukup luas untuk mobil maupun motor.

  • Pilihan tempat duduk indoor dan outdoor.

  • Kapasitas bangku yang banyak sehingga cocok untuk rombongan.

  • Suasana cozy untuk ngobrol santai.

  • Cocok dijadikan tempat meeting informal.

  • Nyaman untuk work from café ringan.

  • Pelayanan yang ramah dan cepat.

  • Proses penyajian makanan relatif gak terlalu lama.

  • Pilihan menu sangat beragam.

  • Harga makanan mulai sekitar Rp9 ribuan sehingga bisa disesuaikan dengan budget.

  • Toilet yang bersih.

  • Musala untuk pengunjung.

  • Pembayaran non-tunai tersedia.

  • Lokasi mudah dijangkau dari pusat Kota Yogyakarta.

Yang saya perhatikan selama tiga kali berkunjung, suasananya memang berbeda tergantung waktu datang.

Saat saya datang pada malam hari di weekday, restoran cukup ramai, tetapi belum sampai penuh. Saya masih bebas memilih tempat duduk dan suasananya terasa lebih santai.

Sebaliknya, saat datang pada Minggu siang bersama keluarga, kondisinya jauh lebih ramai. 

Banyak keluarga yang makan bersama, anak-anak sekolah yang sedang janjian, pasangan muda, hingga rombongan teman. Menurut saya ini wajar karena bertepatan dengan hari libur dan jam makan siang.

Worth It atau Tidak?

Kalau ditanya apakah Joffi Ramen Pakualaman layak dikunjungi, jawaban saya tentu worth it.

Alasannya bukan hanya karena makanannya enak. Saya justru melihat restoran ini menawarkan paket yang lengkap.

Pertama, pilihan menu sangat beragam sehingga pengunjung punya banyak opsi.

Kedua, harga makanannya masih bersahabat sehingga cocok untuk berbagai kalangan.

Ketiga, konsep bangunan heritage yang dipadukan dengan sentuhan Jepang membuat pengalaman makan terasa berbeda dibanding restoran ramen lainnya.

Keempat, lokasinya strategis di kawasan Pakualaman sehingga mudah dijangkau.

Terakhir, suasananya nyaman untuk berbagai aktivitas. Mau datang bersama keluarga, teman, pasangan, bahkan sendirian pun tetap terasa menyenangkan.

FAQ

Apakah Joffi Ramen Pakualaman halal?

Ya. Joffi mengusung konsep 100% halal, sehingga cocok bagi pengunjung yang mencari ramen halal di Jogja.

Berapa harga Joffi Ramen?

Harga menu cukup terjangkau, mulai sekitar Rp13 ribuan untuk ramen original, sedangkan menu lain berkisar Rp20–30 ribuan. Side dish dan dessert bahkan tersedia mulai sekitar Rp9 ribuan.

Apakah cocok untuk work from café?

Cocok. Suasananya nyaman, tempat duduk cukup banyak, dan relatif tenang jika datang di luar jam makan siang.

Menu apa yang paling saya rekomendasikan?

Kalau suka pedas, saya merekomendasikan 

Ramen Mala. Sementara bagi yang ingin rasa lebih ringan, Curry Ramen juga layak dicoba.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung?

Kalau ingin suasana lebih santai, datanglah pada weekday di luar jam makan siang. Namun kalau ingin merasakan suasana yang lebih hidup, akhir pekan bisa menjadi pilihan.

Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang
Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang (doc. Riana Dewie)


Lebih dari Semangkuk Ramen

Menurut saya, Joffi Ramen Pakualaman berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati semangkuk ramen. 

Konsep ramen halal Jogja dipadukan dengan bangunan heritage, dekorasi klasik, dan suasana yang nyaman membuat restoran ini punya karakter yang sulit dilupakan.

Jadi, kalau sedang mencari tempat makan Jepang Jogja, tempat nongkrong Pakualaman, atau sekadar ingin menikmati review ramen Jogja yang benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi, saya rasa Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar tujuanmu.

Selamat menikmati semangkuk ramen hangat sambil merasakan suasana heritage yang khas. Siapa tahu, setelah sekali datang, kamu juga akan ingin kembali lagi seperti saya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Traditions

Taman Memorial Delingan, Tempat Peristirahatan yang Hijau, Nyaman, dan Terawat

Taman Memorial Delingan Karanganyar dengan area hijau dan makam tertata rapi

Jujur saja, selama ini bayangan saya tentang makam selalu identik dengan suasana yang sakral, sunyi, bahkan sedikit menyeramkan. 

Karena itulah, saat pertama kali berkunjung ke Taman Memorial Delingan, pandangan saya langsung berubah. 

Tempat ini justru menghadirkan suasana yang begitu tenang, hijau, dan terasa nyaman, jauh dari kesan angker yang sering melekat pada sebuah area pemakaman.

Semua bermula sekitar tahun lalu ketika keluarga besar mengadakan doa 1.000 hari berpulangnya om saya di Solo. 

Saat prosesi pemakaman dulu saya memang gak ikut hadir. Jadi, momen doa 1.000 hari inilah yang menjadi kesempatan pertama saya mengunjungi makam Taman Memorial Delingan

Oh ya, awalnya saya mengira tempatnya akan sama seperti kompleks makam pada umumnya. Ternyata dugaan saya meleset jauh.

Begitu memasuki kawasan ini, mata saya langsung disambut area hijau, pepohonan yang tertata rapi, serta udara segar khas Karanganyar. 

Rasanya lebih mirip sedang berjalan di sebuah taman daripada berada di area peristirahatan terakhir. 

Kalau saya sih, suasana seperti ini justru membuat proses ziarah terasa lebih damai dan penuh penghormatan. 

Hihihihi... saya bahkan sempat berkata dalam hati, "Kok bisa ya ada makam seindah ini?"

Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman sekaligus memberikan sedikit edukasi. 

Siapa tahu suatu hari nanti teman-teman membutuhkan informasi mengenai pemakaman modern di Karanganyar atau sedang mencari referensi tempat pemakaman keluarga yang nyaman. 

Semoga artikel ini bisa menjadi salah satu gambaran sebelum berkunjung langsung.

Misa 1000 Hari di Gua Maria Mojosongo Solo
Misa 1000 Hari di Gua Maria Mojosongo Solo (doc. Riana Dewie)


Perjalanan Menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar

Perjalanan saya dimulai sekitar pukul 09.00 pagi dari Yogyakarta. Tujuan pertama adalah mengikuti misa doa 1.000 hari di Gua Maria Mojosongo, Solo. 

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, keluarga besar melanjutkan perjalanan menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar yang berjarak kurang lebih satu jam dari lokasi misa. 

Rutenya relatif mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus dan lalu lintas yang saat itu cukup lancar.

Sepanjang perjalanan, saya justru menikmati pemandangan khas Karanganyar yang selalu bikin rindu. Rasanya seperti sedang mini traveling karena sudah cukup lama saya gak melewati daerah ini. 

Perjalanan menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar
Perjalanan menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar (doc. Riana Dewie)


Di beberapa titik, saya bahkan teringat kawasan wisata dan kebun teh yang dulu sempat viral. 

Oh ya, perjalanan menuju lokasi juga terasa menyenangkan karena udaranya semakin sejuk ketika mendekati kawasan Delingan.


Sesampainya di Taman Memorial Delingan, Saya Langsung Takjub

Begitu mobil memasuki kawasan Taman Memorial Delingan, kesan pertama yang muncul di benak saya adalah, "Ini benar-benar area pemakaman?" 

Soalnya, suasananya jauh berbeda dari makam-makam yang pernah saya datangi sebelumnya. 

Hamparan rumput hijau yang terawat, pepohonan rindang dan sejuk, serta lingkungan bersih membuat tempat ini terasa begitu menenangkan.

Area ziarah keluarga yang nyaman di makam Taman Memorial Delingan Solo
Area ziarah keluarga yang nyaman di makam Taman Memorial Delingan Solo (doc. Riana Dewie)


Oh ya, saya baru menyadari kalau konsep yang diusung memang pemakaman bernuansa taman. Jadi, hampir di setiap sudutnya terlihat desain lanskap yang tertata rapi. 

Alih-alih menghadirkan kesan suram, kawasan ini justru menghadirkan suasana damai yang membuat keluarga bisa berziarah dengan lebih nyaman.

Hal lain yang saya sukai adalah akses di dalam kawasan makam. 

Jalan kendaraan sudah diaspal dengan baik dan mengikuti kontur perbukitan, sehingga memudahkan pengunjung menuju blok makam tanpa harus berjalan terlalu jauh. 

Saat mencari makam om saya pun prosesnya cukup mudah. Tinggal mengikuti jalur yang tersedia, kami sudah sampai di lokasi tujuan. 

Kalau saya sih, konsep seperti ini sangat membantu, terutama bagi keluarga yang membawa orang tua atau lansia.

Saya juga melihat hampir seluruh makam tertata rapi dengan ukuran yang seragam sesuai kawasannya. 

Di sekelilingnya terdapat pepohonan yang tertata, taman-taman kecil, serta penghijauan yang membuat udara terasa lebih segar. 

Rasanya benar-benar seperti berada di sebuah taman yang nyaman untuk melakukan refleksi dan mengenang orang-orang tercinta.

Suasana pemakaman bernuansa taman di Taman Memorial Delingan yang rindang dan sejuk
Suasana pemakaman bernuansa taman di Taman Memorial Delingan yang rindang dan sejuk (doc. Riana Dewie)


Yang paling membekas bagi saya justru suasananya. Tempat ini sama sekali gak terkesan angker. Sebaliknya, saya justru merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. 

Mungkin karena lingkungan yang asri, mungkin juga karena perawatan rutin yang terlihat sangat baik di setiap sudut kawasan. 

Hahahaha... bahkan kalau hanya melihat foto-fotonya tanpa diberi tahu, mungkin banyak orang akan mengira ini adalah taman kota, bukan kompleks pemakaman.

Pengalaman itu membuat saya memahami kenapa kini semakin banyak keluarga memilih kompleks pemakaman modern seperti ini. 

Selain menjadi tempat ziarah yang nyaman, kawasan ini juga memberikan rasa tenang bagi keluarga yang datang untuk mendoakan orang yang mereka cintai.

Pemandangan pemakaman hijau dengan pepohonan tertata di Taman Memorial Delingan
Pemandangan pemakaman hijau dengan pepohonan tertata di Taman Memorial Delingan (doc. Riana Dewie)


5 Hal yang Wajib Kamu Tahu Tentang Taman Memorial Delingan

Setelah melihat langsung suasananya, saya jadi penasaran untuk mencari tahu lebih jauh mengenai Taman Memorial Delingan

Ternyata ada beberapa fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.

1. Lokasinya Strategis dan Mudah Dijangkau

Taman Memorial Delingan berada di kawasan Delingan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 

Lokasinya relatif dekat dari pusat Kota Solo sehingga sering disebut juga sebagai salah satu taman memorial Solo atau pemakaman dekat Solo yang cukup dikenal masyarakat. 

Akses jalannya sudah baik dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dengan nyaman.

Oh ya, menurut saya lokasi ini menjadi salah satu nilai plus tersendiri. Saat keluarga ingin berziarah, perjalanan menuju lokasi terasa cukup nyaman dan gak melelahkan.

2. Tersedia Beberapa Grade atau Kelas Makam

Seperti halnya banyak pemakaman premium lainnya, makam Taman Memorial Delingan juga memiliki beberapa pilihan area atau grade. 

Perbedaan ini biasanya dipengaruhi oleh posisi lahan, luas kavling, pemandangan sekitar, hingga ukuran kijing atau penanda makam.

Karena itulah, harga yang ditawarkan bisa berbeda antara satu area dengan area lainnya. Kalau saya sih, hal ini cukup wajar karena kebutuhan dan kemampuan setiap keluarga memang berbeda-beda.

Kompleks pemakaman premium dengan suasana damai di Taman Memorial Delingan
Kompleks pemakaman premium dengan suasana damai di Taman Memorial Delingan (doc. Riana Dewie)


3. Perluasan Area Terus Dilakukan

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah luasnya kawasan makam ini. 

Bahkan dari beberapa informasi yang saya peroleh, pengembangan area masih terus dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kompleks pemakaman modern yang nyaman dan terawat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa cukup banyak keluarga yang memilih tempat pemakaman keluarga ini sebagai area peristirahatan terakhir orang-orang tercinta. 

Selain luas, banyak kavling yang memiliki ukuran cukup lega sehingga memberikan kesan eksklusif dan lapang.

4. Kisaran Biaya Menyesuaikan Tipe dan Lokasi

Untuk urusan biaya, nominalnya tentu bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan pengelola. 

Namun secara umum, sistem yang digunakan hampir sama dengan berbagai taman memorial di Jawa Tengah, yaitu berdasarkan tipe lahan, ukuran kavling, dan posisi lokasi makam.

Dari berbagai referensi pemakaman modern di Indonesia, harga kavling makam biasanya dimulai dari puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah untuk area yang lebih eksklusif. 

Karena itu, saya menyarankan teman-teman untuk menghubungi pihak pengelola secara langsung apabila membutuhkan informasi harga terbaru dan paling akurat.

5. Fasilitas yang Membuat Ziarah Lebih Nyaman

Inilah bagian yang menurut saya paling terasa saat berkunjung. Beberapa keunggulan yang langsung terlihat antara lain:

- Jalan internal yang sudah baik.
- Area parkir yang memadai.
- Lingkungan yang bersih dan terawat.
- Banyak area teduh dengan pepohonan rindang.
- Suasana tenang untuk berdoa dan melakukan refleksi.
- Perawatan kawasan yang dilakukan secara berkala.

Oh ya, faktor inilah yang membuat kawasan ini terasa sebagai pemakaman asri sekaligus makam keluarga yang nyaman

Bagi keluarga yang rutin berziarah, keberadaan fasilitas seperti ini tentu memberikan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dibanding area makam konvensional.

Pemakaman asri di Karanganyar dengan konsep taman dan udara segar
Pemakaman asri di Karanganyar dengan konsep taman dan udara segar (doc. Riana Dewie)


Memberikan yang Terbaik untuk Mereka yang Berpulang

Setelah berkunjung ke Taman Memorial Delingan, saya pulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. 

Saya jadi menyadari bahwa bentuk kasih sayang kepada orang-orang tercinta ternyata bisa diwujudkan dengan banyak cara, termasuk memilih area peristirahatan terakhir yang nyaman, terawat, dan penuh penghormatan.

Oh ya, tentu saja setiap keluarga memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. 

Ada yang memilih pemakaman sederhana, ada juga yang lebih nyaman dengan konsep pemakaman hijau seperti ini. 

Menurut saya, gak ada yang paling benar atau paling baik. Semuanya kembali lagi pada keyakinan, kebutuhan, dan kemampuan finansial masing-masing.

Yang perlu diingat, biaya di kompleks pemakaman modern memang relatif lebih tinggi dibanding pemakaman umum. 

Selain biaya pembelian lahan, biasanya juga ada komponen perawatan kawasan agar lingkungan alami, taman, dan fasilitas tetap terjaga dengan baik. 

Karena itu, sebaiknya sesuaikan dengan anggaran keluarga supaya gak menjadi beban di kemudian hari.

Bukan tentang Kemewahan, tapi Kedamaian

Kalau saya sih, hal yang paling berkesan dari kunjungan ini bukanlah kemewahan makamnya, melainkan suasana damai yang saya rasakan. 

Berziarah menjadi lebih nyaman, teduh, dan memberi ruang untuk mengenang orang yang sudah berpulang tanpa diselimuti kesan suram. 

Pengalaman ini benar-benar mengubah stigma saya tentang sebuah kawasan pemakaman.

Jadi, kalau suatu hari nanti kamu sedang mencari referensi lokasi pemakaman Karanganyar, atau sekadar ingin mengetahui seperti apa konsep Taman Memorial Delingan, menurut saya tempat ini layak untuk dikunjungi. 

Makam keluarga yang nyaman dengan lingkungan bersih di Taman Memorial Delingan
Makam keluarga yang nyaman dengan lingkungan bersih di Taman Memorial Delingan (doc. Riana Dewie)


Selain menambah wawasan, kamu juga bisa melihat langsung bagaimana sebuah pelayanan pemakaman dapat dipadukan dengan konsep taman yang asri dan menenangkan.

Siapa tahu, kunjungan singkat ini justru membuatmu memiliki pandangan baru, seperti yang saya alami. 

Karena pada akhirnya, menghormati mereka yang telah berpulang bukan hanya tentang doa yang kita panjatkan, tetapi juga tentang bagaimana kita terus menjaga kenangan dan memberikan penghormatan terakhir dengan cara terbaik yang kita mampu.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Sehari Berziarah ke Makam Romo Sanjoyo, Sekalian Jelajahi Wisata Magelang

Makam Romo Sanjoyo di kompleks Kerkhof Muntilan Magelang.

Kalau ditanya destinasi yang sering saya kunjungi bersama keluarga untuk mencari ketenangan, jawabannya pasti makam Romo Sanjoyo di Muntilan, Magelang. 

Tempat ini memang bukan objek wisata yang ramai seperti Candi Borobudur, tetapi justru suasananya yang tenang membuat saya selalu ingin kembali. 

Apalagi kalau pikiran lagi penuh dengan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari, rasanya menyempatkan diri berziarah ke sini selalu membawa perasaan lebih damai.

Ide untuk berziarah biasanya memang dadakan. Di tengah kesibukan masing-masing, saya dan suami kadang tiba-tiba sepakat, "Yuk, ke Muntilan." 

Kalau cuma berdua, kami lebih sering naik motor karena perjalanan terasa lebih praktis dan cepat. 

Namun kalau ada orang tua atau anggota keluarga lain yang ikut, kami memilih naik mobil supaya lebih nyaman.

Sejak kecil saya memang sudah dikenalkan orang tua dengan tempat ini. Beberapa kali kami singgah untuk berdoa sebelum atau sesudah bepergian ke Magelang. 

Yang paling saya ingat sampai sekarang adalah suasananya yang adem, rindang, dan bikin hati terasa lebih tenang. 

Oh ya, dulu saya mengira tempat ini hanya berupa kompleks makam biasa. Setelah dewasa dan beberapa kali datang lagi, saya baru sadar ternyata banyak cerita sejarah dan nilai rohani yang membuat tempat ini begitu istimewa.

Lalu, sebenarnya apa saja yang bisa ditemukan saat berziarah ke sini? Bagaimana rute menuju Makam Romo Sanjoyo dari Jogja? 

Dan kalau sudah sampai Muntilan, tempat wisata apa saja yang menarik untuk dikunjungi? Tenang, saya akan berbagi pengalaman sekaligus panduannya sampai selesai.

Jadi, baca artikel ini sampai akhir ya!


Mengenal Sosok Romo Sanjoyo

Sebelum datang, menurut saya menarik juga kalau kita mengenal sedikit sosok yang dimakamkan di sini. Dengan begitu, ziarah yang dilakukan terasa lebih bermakna daripada sekadar datang, berdoa, lalu pulang.

Romo Sanjoyo merupakan salah satu imam Katolik yang berjasa dalam perkembangan Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa. 

Nama beliau cukup dikenal oleh banyak umat Katolik karena dedikasinya dalam pelayanan dan pendampingan umat.

Romo Sanjoyo
Romo Sanjoyo (sumber: harianmerapi.com)


Makam beliau berada di kompleks Kerkhof Muntilan, sebuah kompleks pemakaman yang juga menjadi tempat peristirahatan beberapa tokoh Gereja Katolik lainnya. 

Kawasan ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi Magelang sekaligus tempat ziarah Katolik dekat Jogja yang cukup populer.

Yang membuat saya senang, area makamnya benar-benar dirawat dengan baik. Pepohonan yang rindang membuat udara terasa sejuk hampir sepanjang hari. 

Jadi meskipun datang saat siang, suasananya tetap nyaman untuk berdoa maupun duduk sejenak melakukan refleksi diri.

Banyak Didatangi Peziarah dari Berbagai Kota

Oh ya, banyak peziarah yang datang bukan hanya karena memiliki intensi doa tertentu. 

Ada juga yang sekadar ingin mencari ketenangan, bersyukur atas berkat yang diterima, atau mengambil waktu hening di tengah aktivitas yang padat.

Selain makam Romo Sanjoyo, di kompleks ini juga terdapat Makam Romo Van Lith beserta beberapa makam para romo di Muntilan yang memiliki peran penting dalam perkembangan iman Katolik di Indonesia. 

Karena itulah kawasan ini sering menjadi tujuan ziarah Katolik Jawa Tengah, baik secara pribadi maupun rombongan.

Bagi saya pribadi, mengetahui sedikit tentang sejarah Romo Sanjoyo membuat setiap kunjungan terasa berbeda. 

Saya jadi lebih menghargai perjalanan para imam yang telah mengabdikan hidupnya bagi pelayanan umat.

Suasana teduh di makam Romo Sanjoyo sebagai tempat ziarah Katolik dekat Jogja.
Suasana teduh di makam Romo Sanjoyo sebagai tempat ziarah Katolik dekat Jogja (doc. Riana Dewie)


Rute Perjalanan dari Jogja ke Makam Romo Sanjoyo

Salah satu alasan saya cukup sering datang ke sini adalah karena lokasinya relatif dekat dari Yogyakarta. 

Jadi, kalau sedang ingin melakukan perjalanan sehari dari Jogja, destinasi ini cocok sekali dimasukkan ke dalam daftar.

Naik Kendaraan Pribadi

Menurut saya, menggunakan kendaraan pribadi merupakan pilihan paling praktis. 

Dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan menuju lokasi Makam Romo Sanjoyo biasanya memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Rute yang biasa saya ambil adalah melewati Jalan Magelang menuju Muntilan. Jalannya lebar, mudah diikuti melalui aplikasi navigasi, dan banyak pilihan tempat makan maupun SPBU di sepanjang perjalanan.

Oh ya, kalau berangkat pagi sekitar pukul tujuh atau delapan, udara masih cukup sejuk sehingga perjalanan terasa lebih menyenangkan. 

Pemandangan sawah dan Gunung Merapi di beberapa titik juga menjadi bonus yang bikin perjalanan gak terasa membosankan.

Hahahaha... kadang niat awal cuma ziarah, pulangnya malah mampir kuliner.

Naik Bus Umum

Buat yang gak membawa kendaraan pribadi, cara ke Makam Romo Sanjoyo juga cukup mudah menggunakan bus jurusan Yogyakarta-Magelang.

Turunlah di kawasan Muntilan, kemudian perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan ojek atau layanan transportasi daring menuju kompleks Kerkhof. 

Jaraknya relatif dekat sehingga biaya tambahan juga masih cukup terjangkau.

Pilihan ini cocok untuk peziarah dari luar kota yang ingin melakukan wisata rohani Katolik Magelang tanpa harus menyewa kendaraan.

Estimasi Waktu dan Biaya

Kalau berangkat dari Jogja menggunakan kendaraan pribadi, estimasi waktu perjalanan sekitar 60–90 menit.

Untuk motor, biaya bensin pulang-pergi biasanya sekitar Rp50.000 - Rp70.000, tergantung jenis kendaraan dan kondisi jalan. 

Kalau menggunakan mobil tentu sedikit lebih besar, tetapi tetap tergolong ekonomis untuk perjalanan keluarga.

Sementara bila menggunakan bus umum, biaya perjalanan juga relatif ramah di kantong. Tinggal menambahkan ongkos ojek menuju kompleks makam.

Bagian depan makam Romo Sanjoyo Muntilan Magelang.
Bagian depan makam Romo Sanjoyo Muntilan Magelang (sumber: Google Reviews)


Apa yang Bisa Dilakukan Saat Berziarah?

Banyak orang mengira berziarah ke makam hanya sebentar, lalu selesai. Padahal menurut saya, ada banyak hal yang bisa dilakukan selama berada di kompleks Kerkhof Muntilan. 

Karena suasananya benar-benar tenang, saya biasanya memilih menikmati setiap sudutnya tanpa terburu-buru.

1. Berdoa Secara Pribadi

Tentu saja tujuan utama datang ke sini adalah berdoa. Setiap orang punya intensi yang berbeda-beda. Ada yang mendoakan keluarga, memohon kelancaran pekerjaan, mengucap syukur, hingga menyerahkan pergumulan hidup kepada Tuhan.

Oh ya, saya juga sering melihat para peziarah Katolik datang membawa buku doa atau rosario. Ada yang berdoa secara pribadi, ada pula yang datang bersama rombongan dan mengadakan doa novena sesuai intensi masing-masing.

2. Mengunjungi Makam Romo Van Lith

Kalau sudah berada di kompleks ini, jangan langsung pulang. Luangkan waktu untuk mengunjungi Makam Romo Van Lith yang lokasinya masih berada di kawasan yang sama.

Nama Romo Van Lith tentu sudah sangat dikenal dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Indonesia. Beliau memiliki jasa besar dalam dunia pendidikan sekaligus penyebaran iman Katolik, khususnya di wilayah Jawa.

3. Berjalan Mengelilingi Kompleks Kerkhof

Selain berdoa, saya juga suka berjalan santai mengelilingi area Kerkhof Muntilan.

Kompleks ini bersih, rapi, dan dipenuhi pepohonan besar yang membuat suasana semakin teduh. Di beberapa sudut terdapat kapel sederhana yang sering dimanfaatkan umat untuk berdoa. Ada pula area yang biasa digunakan rombongan untuk berkumpul sebelum atau sesudah ziarah.

Yang menarik, kawasan ini juga menjadi bagian dari wisata sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Banyak tokoh penting yang dimakamkan di sini sehingga setiap sudutnya menyimpan cerita tersendiri.

Kalau suka fotografi, tempat ini juga cukup menarik. Tentu saja tetap menjaga sikap hormat karena ini merupakan kawasan pemakaman dan tempat doa.

4. Menikmati Suasana Hening untuk Refleksi

Inilah bagian favorit saya.

Kadang saya gak langsung pulang setelah selesai berdoa. Saya memilih duduk di bawah pohon sambil menikmati udara segar beberapa menit. Rasanya seperti memberi waktu kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat.

Di zaman sekarang yang serba cepat, menemukan tempat hening seperti ini menurut saya cukup sulit. Karena itu saya selalu menikmati setiap kesempatan saat berada di sini.


Fasilitas yang Tersedia

Walaupun merupakan kawasan ziarah, fasilitas di sekitar lokasi Makam Romo Sanjoyo menurut saya sudah cukup memadai.

Area parkir tersedia untuk motor maupun mobil sehingga peziarah gak perlu khawatir mencari tempat parkir. Jalur menuju makam juga cukup nyaman dilalui berbagai usia.

Di sekitar kawasan Muntilan juga terdapat warung makan, minimarket, toilet umum, hingga SPBU. Jadi kalau ingin melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, semuanya sudah cukup mudah dijangkau.

Tidak jauh dari kawasan ini juga terdapat Gereja Santo Antonius Muntilan yang sering dikunjungi umat sebelum atau sesudah berziarah. 

Selain itu, kawasan Seminari Mertoyudan yang terkenal sebagai tempat pendidikan calon imam juga berada di wilayah Muntilan sehingga sering menjadi bagian dari rangkaian wisata rohani bagi banyak umat.

Kalau sudah jauh-jauh datang ke Muntilan, menurut saya sayang sekali kalau langsung pulang. 

Masih banyak destinasi menarik yang bisa dikunjungi dalam satu hari. Kamu bisa mampir ke Candi Mendut, Candi Borobudur, Gereja Ayam Bukit Rhema, Punthuk Setumbu, Svargabumi Borobudur dsb. 

Menurut saya, kombinasi ziarah di makam Romo Sanjoyo lalu dilanjutkan menjelajahi berbagai destinasi ini membuat satu hari di Magelang terasa sangat berkesan. 

Kita bisa mendapatkan ketenangan batin sekaligus menikmati keindahan alam dan kekayaan sejarah yang dimiliki daerah ini.

Tempat ziarah dan doa Romo Sanjoyo Muntilan
Tempat ziarah dan doa Romo Sanjoyo Muntilan (doc. Riana Dewie)


Tips Agar Ziarah Lebih Nyaman

Setelah beberapa kali berkunjung ke makam Romo Sanjoyo, saya punya beberapa tips sederhana yang mungkin bisa membantu, terutama kalau ini adalah pengalaman ziarah pertama. Tipsnya memang sederhana, tetapi cukup berpengaruh supaya perjalanan terasa lebih nyaman dan berkesan.

1. Datang pada Pagi Hari

Kalau memungkinkan, usahakan berangkat pagi dari Jogja. Selain udara masih segar, suasana di kompleks Kerkhof Muntilan juga relatif lebih tenang. Saya biasanya berangkat sekitar pukul 07.00 sehingga sebelum siang sudah sampai di lokasi.

Oh ya, kalau datang lebih pagi, kita juga punya waktu lebih leluasa untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata di sekitar Magelang tanpa terburu-buru.

2. Gunakan Pakaian yang Sopan dan Nyaman

Karena ini merupakan tempat ziarah dan tempat berdoa, sebaiknya gunakan pakaian yang sopan serta nyaman dipakai berjalan kaki.

Saya biasanya memilih pakaian berbahan adem karena cuaca Magelang kadang cukup hangat menjelang siang. 

3. Jaga Ketenangan Selama Berada di Area Makam

Meski banyak peziarah datang bersama keluarga atau rombongan, tetap usahakan menjaga suara agar gak terlalu keras.

Menurut saya, saling menghormati sesama pengunjung merupakan bagian dari pengalaman wisata rohani itu sendiri. Dengan suasana yang tenang, semua orang bisa berdoa dan melakukan refleksi tanpa terganggu.

4. Siapkan Air Minum dan Kamera

Kalau ingin melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi wisata seperti Candi Borobudur, Punthuk Setumbu, atau Svargabumi Borobudur, sebaiknya siapkan air minum sejak awal.

Saya juga hampir selalu membawa kamera atau menggunakan kamera ponsel. 

Bukan untuk berfoto di area makam secara berlebihan, tetapi lebih untuk mengabadikan perjalanan menuju berbagai tempat menarik di Magelang. 


Penutup

Buat saya, perjalanan ke makam Romo Sanjoyo selalu lebih dari sekadar perjalanan biasa. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan setiap kali memasuki kawasan Kerkhof Muntilan. 

Dalam satu hari, saya bisa berdoa dengan lebih khusyuk, mengenang perjalanan para tokoh Gereja seperti Romo Van Lith, menikmati suasana teduh di kawasan Muntilan

Kamu juga bis amelanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi menarik seperti Candi Mendut, Candi Borobudur, Gereja Ayam, hingga Punthuk Setumbu.

Kalau saya sih, perpaduan antara perjalanan spiritual, wisata sejarah, dan wisata alam seperti ini memang sulit ditemukan di tempat lain. 

Rasanya pulang bukan hanya membawa foto-foto baru, tetapi juga hati yang jauh lebih tenang.

Selamat berziarah, semoga perjalananmu lancar, doa-doamu membawa ketenangan, dan kamu juga sempat menikmati indahnya Magelang dalam satu perjalanan yang penuh makna.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments