In travelling

Wisata Religi Jogja: Pengalaman Spiritual di Candi Ganjuran

Wisata Religi Jogja

Pengalaman wisata religi jogja di Gereja Ganjuran, tempat doa yang tenang dengan nuansa budaya Jawa, refleksi iman, dan rasa syukur mendalam.

Karena kebetulan saya mengimani Katolik, kali ini saya ingin berbagi pengalaman pribadi saat berdoa di Candi Ganjuran atau yang lebih dikenal sebagai Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, salah satu destinasi wisata religi jogja yang selalu bikin hati adem.

Oh ya, sejak awal saya menulis, saya memang suka mengaitkan perjalanan dengan cerita personal, karena buat saya perjalanan rohani itu gak pernah benar-benar netral. Ada emosi, ada harapan, ada rasa syukur yang kadang tumpah begitu saja. 

Kalau dipikir-pikir, pengalaman spiritual memang gak bisa dilepaskan dari fase hidup yang sedang kita jalani sih. Hahahaha… kadang saya sendiri baru sadar betapa capeknya hidup setelah duduk diam dan menyalakan lilin doa.

Rutin Ziarah Sejak Dulu

Ziarah sudah jadi bagian hidup saya sejak jaman pacaran sampai sekarang. Saya tipe yang kalau lagi penuh pikiran, lebih memilih diam dan berdoa daripada cerita ke banyak orang. Kebetulan juga, dari dulu saya sering dapat pasangan seiman (Katolik), jadi sefrekuensi kalau ingin doa bareng atau sekadar mampir ke gua Maria terdekat. Aktivitas sederhana, tapi maknanya dalam.

Saya setelah doa di depan Candi Ganjuran

Saya setelah doa di depan Candi Ganjuran (doc. Riana Dewie)

Oh ya, belum lama ini saya menyelesaikan ziarah ke sembilan gua Maria dalam satu hari. Mulai subuh sampai malam, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan niat dan doa yang sama. Capek? Jelas. Tapi hati rasanya penuh. Dalam perjalanan itu, Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran tetap jadi titik favorit saya dalam rangkaian wisata religi jogja yang saya jalani.

Biasanya saya datang ke Ganjuran malam hari. Setelah aktivitas selesai atau pulang kerja, suasananya jauh lebih tenang. Hawa sejuk, lilin-lilin kecil yang menyala, dan langkah kaki peziarah yang pelan bikin suasana doa terasa hangat. Kalau saya sih lebih suka suasana malam karena lebih khusyuk, lebih sunyi, dan pikiran lebih gampang fokus.

Wisata Religi Jogja di Gereja Ganjuran

Tapi ternyata, doa di siang hari pun gak kalah khusyuk. Awal Februari 2026 lalu, saya datang ke Gereja Ganjuran di siang hari. Cuacanya cerah, tapi gak terlalu panas. Langit biru, angin sepoi-sepoi, dan suasana yang tetap hening membuat pengalaman wisata religi jogja ini terasa berbeda.

Oh ya, saya justru merasa siang hari memberi ruang refleksi yang lebih luas. Kita bisa melihat detail arsitektur, pepohonan hijau di sekitar kompleks, dan wajah-wajah peziarah yang datang dengan niat masing-masing. Rasa syukur saya rasanya gak pernah berhenti, apalagi saat menyadari Tuhan masih memberi rejeki yang cukup dan umur yang baik sampai hari ini.

Kompleks Candi Ganjuran
Kompleks Candi Ganjuran Bantul (Doc. Riana Dewie)

Di tengah rutinitas hidup yang kadang melelahkan, wisata religi seperti ini jadi pengingat bahwa hidup gak cuma soal target dan pencapaian. Ada ruang untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan mengucap terima kasih. Gereja Ganjuran, dalam konteks wisata religi jogja, bukan sekadar destinasi, tapi tempat pulang bagi banyak orang.

Titik-Titik Doa di Kawasan Candi Ganjuran

Di kompleks Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, ada beberapa titik doa yang bisa dikunjungi. Setiap titik punya suasana dan energi yang berbeda, tapi semuanya sama-sama menenangkan.

Titik Doa Utama di Gereja Ganjuran

1. Candi Hati Kudus Tuhan Yesus

Patung Yesus yang berada di dalam candi menjadi pusat doa utama. Banyak peziarah duduk diam, menyalakan lilin, dan memanjatkan doa pribadi.

2. Ruang Adorasi

Ruang ini terasa sangat hening. Cocok untuk refleksi pribadi, terutama kalau ingin benar-benar menyendiri.

3. Gua Maria

Gua Maria yang asri dengan pepohonan rindang di sekitarnya menjadikannya lokasi ideal untuk berdevosi dan menenangkan diri.

4. Jalan Salib Pendek

Ada jalur jalan salib yang bisa digunakan untuk berdoa, baik sendiri maupun bersama keluarga atau komunitas.

Oh ya, setiap titik doa ini memberi pengalaman yang berbeda, tergantung kondisi batin kita saat datang. Kadang saya duduk lama di satu titik, kadang berpindah pelan sambil merenung. Wisata religi jogja di Candi Ganjuran memang memberi kebebasan untuk berdoa dengan cara masing-masing.

Air suci untuk membersihkan diri
Air suci untuk membersihkan diri (Doc. Riana Dewie)


Akulturasi Budaya yang Unik di Candi Ganjuran

Salah satu hal yang membuat Candi Ganjuran istimewa adalah akulturasi budayanya. Gereja ini menjadi simbol pertemuan iman Katolik dengan budaya Jawa yang begitu kental. Bentuk candinya mengadopsi arsitektur Hindu-Jawa, sementara fungsinya tetap sebagai tempat devosi umat Katolik.

Patung Yesus digambarkan mengenakan busana khas Jawa, dengan sentuhan batik dan ekspresi wajah yang membumi. Relief jalan salib pun memiliki estetika lokal yang halus. Bahkan dalam beberapa perayaan liturgi, digunakan iringan gamelan dan bahasa Jawa. Buat saya, ini bukan sekadar estetika, tapi bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.

Oh ya, di kawasan ini juga terdapat mata air Tirta Perwitasari yang sering dikaitkan dengan tradisi ziarah. Banyak peziarah mengambil airnya dengan penuh hormat. Akulturasi seperti ini membuat wisata religi jogja di Gereja Ganjuran terasa inklusif dan membumi, gak terlepas dari akar budaya masyarakatnya.

Manfaat Melakukan Wisata Religi
Melakukan wisata religi, termasuk wisata religi jogja, punya banyak manfaat yang sering baru kita rasakan setelah menjalaninya.
1. Menjaga kesehatan mental
Berdoa dan refleksi membantu menenangkan pikiran yang penat oleh rutinitas.
2. Memperdalam iman
Mengunjungi tempat suci memberi ruang untuk memperkuat hubungan spiritual.
3. Belajar bersyukur
Dalam doa, kita belajar melihat hidup dari sisi yang lebih jernih.
4. Mengenal budaya lokal
Seperti di Candi Ganjuran, kita belajar tentang akulturasi iman dan budaya.
5. Mengisi ulang energi batin
Pulang dari wisata religi biasanya hati terasa lebih ringan, sih.


Gereja Ganjuran
Gereja Ganjuran (Doc. Riana Dewie)

Oh ya, manfaat ini gak selalu langsung terasa. Kadang baru muncul beberapa hari setelahnya, saat kita kembali ke rutinitas dan menyadari hati lebih tenang. Hihihihi… saya sendiri sering kangen suasana Ganjuran setelah pulang.

***

Cara berdoa setiap orang memang berbeda, sesuai iman dan kepercayaannya masing-masing. Tapi saya percaya, sekecil apa pun lantunan doa kita, Tuhan akan selalu mendengarnya. Doa di Gereja Ganjuran selalu memberi rasa yang berbeda buat saya: tenang, hangat, dan penuh makna. 

Dalam konteks wisata religi jogja, tempat ini bukan cuma destinasi, tapi ruang untuk berdamai dengan diri sendiri dan kehidupan. 


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In travelling

Pesona Hutan Pinus Kalilo, Healing Adem di Kulon Progo

Hutan Pinus Kalilo


Liburan Bingung Mau ke Mana, Pikiran Ikut Penuh

Pesona hutan pinus selalu punya daya tarik sendiri buat orang-orang yang lagi pengin berhenti sebentar dari rutinitas, termasuk saya. Di satu masa libur, yang harusnya santai, kepala malah penuh pikiran, hahahaha…. Kerjaan numpuk, notifikasi bunyi terus, badan di rumah tapi pikiran ke mana-mana.

Mumpung lagi libur, saya pengin melepas penat tanpa ribet. Gak perlu jauh-jauh, gak harus mahal, yang penting suasananya beda. Oh ya, sekalian juga ngajak adek-adek jalan, biar liburannya gak cuma rebahan sambil scroll layar.

Kalau saya sih percaya, liburan kecil tetap penting buat menjaga kewarasan. Kadang kita cuma butuh ganti udara, bukan ganti negara. Apalagi kalau sudah ngomongin pesona hutan pinus yang katanya bisa bikin pikiran lebih tenang.

Oh ya, jujur aja, awalnya saya gak punya ekspektasi besar. Yang penting keluar rumah dulu, duduk di tempat adem, dan membiarkan kepala sedikit lebih ringan.

Jalan menuju Hutan Pinus Kalilo
Jalan menuju Hutan Pinus Kalilo (doc. Ariyanti)


Awalnya Cuma Cari Kuliner, Eh Jalannya Kok Familiar

Rencana awal kami sebenarnya sederhana: cari kuliner. Tapi di perjalanan, saya ngerasa jalurnya kok gak asing. Kami melewati Kopi Ampirono, lanjut ke arah Gua Kiskendo, dan sejalan dengan Gua Maria Lawangsih, tempat saya dan keluarga sering berziarah.

Di titik itu saya senyum sendiri. Kadang hidup memang lucu sih, niatnya ke satu tujuan, eh malah diarahkan ke hal lain. Hihihihi…. Tapi justru di situ rasanya perjalanan jadi lebih bermakna.

Oh ya, sepanjang jalan suasana mulai berubah. Rumah makin jarang, pepohonan makin rapat, udara pelan-pelan terasa lebih sejuk. Tanpa sadar, rasa capek di kepala mulai turun.

Pesona hutan pinus seolah sudah terasa bahkan sebelum benar-benar sampai lokasi. Dan menurut saya, bagian perjalanan ini justru jadi pembuka healing yang pelan-pelan.

Melewati Area Hutan Pinus yang Bikin Adem

Banyak Destinasi Pinus di Sepanjang Jalan

Sepanjang perjalanan menuju lokasi, ada beberapa destinasi hutan pinus yang kelihatan menarik. Arsitekturnya unik, spot fotonya estetik, dan suasananya ramah buat keluarga. Tapi ternyata tempat tujuan kami masih sekitar 3 km lagi.

Awalnya saya kira sudah dekat, ternyata masih harus lanjut. Tapi gak masalah sih. Selama jalannya masih cantik dan udaranya bersih, perjalanan terasa ringan.

Akhirnya Sampai di Hutan Pinus Kalilo

Begitu sampai di Hutan Pinus Kalilo, rasa lelah langsung kebayar. Pohon pinusnya tinggi dan rindang, udaranya super sejuk dan bersih. Saya tarik napas panjang, rasanya dada ikut lega.

Hutan pinus Yogyakarta memang punya karakter yang khas. Sunyinya pas, gak bikin horor, tapi menenangkan. Pesona hutan pinus di Kalilo ini terasa alami dan gak dibuat-buat.

Oh ya, di momen ini saya sempat diam sebentar, menikmati suara angin dan gesekan daun pinus. Kadang kita cuma perlu berhenti, tanpa harus mikir apa-apa.

Hutan Pinus Kalilo
Hutan Pinus Kalilo (Doc. Ariyanti)


Bisa Dolan Sekalian Healing di Alam

Beneran seneng bisa menghirup udara segar di Hutan Pinus Kalilo. Ada area gratis dan ada juga area berbayar, tapi tenang, tiketnya ramah di kantong, sekitar Rp5.000 saja.

Menurut saya sih, harga segitu tergolong murah banget jika dibandingkan sama suasana yang didapat. Di sini juga ada resto dan area yang dikenal sebagai Kafe Pinus Menoreh. Makanannya cukup enak dan menggoda, plus tempatnya estetik banget buat foto.

Oh ya, soal kuliner dan kafenya nanti bakal saya bahas lebih detail di artikel selanjutnya. Soalnya memang asyik ibikin cerita sendiri. Hihihi....

Banyak pengunjung datang bareng keluarga, pasangan, sahabat, bahkan ada juga yang sendirian. Healing di hutan memang fleksibel, tergantung kebutuhan masing-masing.

Manfaat Healing di Hutan Pinus untuk Tubuh dan Pikiran

    Kenapa Banyak Orang Betah Berlama-lama

    1. Pikiran Lebih Tenang

    Suasana sunyi dan udara sejuk membantu otak lebih rileks. Duduk di antara pohon pinus bikin pikiran gak lompat ke mana-mana.

    2. Badan Lebih Rileks

    Udara bersih kawasan perbukitan Menoreh bikin napas lebih lega. Ada juga yang percaya memeluk pohon pinus bagus buat energi tubuh, dan jujur, pas dicoba rasanya nyaman.

    3. Cocok untuk Healing dan Camping

    Area ini sering dipakai buat healing di hutan, camping ringan, atau sekadar duduk santai menikmati alam.

    ***

    Oh ya, biar gak bingung, Hutan Pinus Kalilo beralamat di Dusun Kalilo, Desa Tlogoguwo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Lokasinya ada di perbukitan Menoreh dengan waktu tempuh sekitar 30–40 menit dari pusat Kota Purworejo.

    Kawasannya masuk Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Katerban, KPH Kedu Selatan. Akses jalannya menanjak dan berkelok, jadi disarankan kendaraan dalam kondisi prima. Daya tariknya antara lain Puncak Titanic, jembatan layang, spot foto, dan area camping.

    Pesona Hutan Pinus Kalilo

    Pesona Hutan Pinus Kalilo (Doc. Pribadi)

    Kalau saya sih, pulang dari sini rasanya lebih ringan. Pesona hutan pinus memang sederhana, tapi efeknya panjang. Dan jujur, tempat seperti ini bikin saya pengin balik lagi.

    Oh ya, buat kamu yang lagi butuh ruang bernapas, pesona hutan pinus di Kalilo ini layak masuk daftar. Gak ribet, gak mahal, tapi mampu memberi jeda yang tulus.



    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments

    In Teknologi

    Apakah AI Berbahaya atau Justru Dibutuhkan Manusia?

    Apakah AI Berbahaya

    Sebagai seorang content writer, pertanyaan apakah AI berbahaya jujur sering muncul di kepala saya akhir-akhir ini. Apalagi sejak AI makin sering dipakai di dunia kerja kreatif, termasuk menulis. Saya sendiri pernah menggunakan AI dalam pekerjaan, terutama untuk mencari referensi ide atau melihat sudut pandang awal sebuah topik. 

    Tapi sampai sekarang, satu hal yang saya pegang: pengembangan kerangka dan isi tetap saya kerjakan sendiri agar otak tetap terasah. Oh ya, saya percaya teknologi itu netral, yang bikin berbahaya atau gak justru cara manusianya memakai.

    Kalau saya sih melihat AI itu seperti pisau dapur, bisa sangat membantu tapi juga bisa melukai kalau dipakai sembarangan.

    Apakah AI Berbahaya Jika Digunakan dalam Pekerjaan Konten?

    Di dunia kepenulisan, diskusi soal apakah AI berbahaya sering mengarah ke satu ketakutan: penulis akan tergantikan. Kekhawatiran ini wajar, apalagi ketika AI bisa menghasilkan teks dalam hitungan detik. Tapi dari pengalaman saya, AI lebih cocok disebut alat bantu daripada pengganti.

    Saya menggunakan AI untuk memantik ide awal, bukan untuk menelan mentah-mentah hasilnya. Di titik ini, saya justru merasa AI membantu mempercepat proses berpikir, bukan mematikan kreativitas. Yang jadi masalah adalah ketika manusia berhenti berpikir dan sepenuhnya bergantung pada mesin.

    Pengalaman Saya Menggunakan AI untuk Cari Referensi Ide

    Saya pernah stuck saat menulis artikel panjang dan butuh sudut pandang baru. AI saya gunakan untuk memetakan ide kasar, lalu selebihnya saya kembangkan sendiri. Kerangka tulisan, alur emosi, hingga gaya bahasa tetap saya olah manual. Jujur saja, bagian itu yang paling saya nikmati sih, karena di sanalah otak dipaksa bekerja.

    Oh ya, kalau semua diserahkan ke AI, lama-lama kemampuan analisis kita bisa tumpul tanpa sadar.

    Apakah AI Menggantikan Manusia atau Justru Membantu?

    Pertanyaan lanjutan yang sering muncul adalah apakah AI menggantikan manusia di dunia kerja. Banyak yang menyebut AI sebagai ancaman karena dianggap sebagai ai pengganti kerja manusia. Tapi menurut saya, konteksnya gak sesederhana itu.

    AI memang bisa mengambil alih tugas-tugas repetitif. Namun, pekerjaan yang melibatkan empati, pengalaman, dan konteks manusia masih sulit digantikan. Sebagai content writer, saya menyadari bahwa tulisan yang punya rasa biasanya lahir dari pengalaman hidup, bukan sekadar data.

    AI Pengganti Kerja Manusia, Benarkah Begitu?

    Kalau dilihat sepintas, AI memang terlihat seperti AI pengganti kerja manusia. Tapi ketika ditelusuri lebih dalam, AI tetap butuh manusia sebagai pengarah. Tanpa prompt yang tepat, hasilnya juga sering melenceng. Di sinilah peran manusia masih sangat krusial.

    Oh ya, saya sering tertawa kecil sendiri saat hasil AI terasa kaku dan datar, hihihihi… Rasanya seperti membaca tulisan tanpa emosi.

    Apakah AI Berbahaya untuk Dunia Kreatif?

    Masuk ke dunia kreatif, pertanyaan apakah AI berbahaya jadi makin sensitif. Menulis bukan cuma soal rangkaian kata, tapi juga soal sudut pandang, emosi, dan keberanian mengambil sikap. AI bisa meniru struktur, tapi belum tentu bisa menghadirkan kejujuran.

    Saya pribadi merasa dunia kreatif justru menantang kita untuk naik level. Bukan bersaing dengan AI, tapi menguatkan sisi manusiawi yang gak dimiliki mesin.

    Content Writer Masih Dibutuhkan Gak, Sih?

    Pertanyaan ini sering saya dengar, bahkan dari sesama penulis. Jawaban saya sederhana: masih. Content writer yang mampu berpikir kritis, memahami audiens, dan menyampaikan pesan dengan empati tetap dibutuhkan. AI boleh membantu teknis, tapi ruh tulisan tetap berasal dari manusia.

    Seperti tulisan mbak Dian Kusumawardani yang banyak menulis tentang travelling & kuliner dengan gayanya yang masih hangat & menarik hingga saat ini. Kalau saya sih percaya, pembaca bisa merasakan mana tulisan yang “hidup” dan mana yang sekadar hasil mesin. 

    Apakah AI Berbahaya Jika Otak Manusia Jadi Malas Berpikir?

    Di titik ini, saya mulai melihat potensi bahaya yang sebenarnya. Apakah AI berbahaya? Bisa iya, kalau manusia berhenti berpikir. Ketika semua diserahkan ke AI, proses belajar dan refleksi bisa hilang pelan-pelan.

    Itulah kenapa saya memilih tetap menyusun kerangka sendiri. Proses berpikir itulah yang menjaga saya tetap tajam sebagai penulis.

    Oh ya, menjaga otak tetap aktif itu sama pentingnya dengan menjaga produktivitas kerja.

    Peran SEO Content Writer di Era AI

    Sebagai SEO Content Writer, tantangannya kini bukan cuma soal keyword, tapi juga soal kualitas. AI bisa membantu riset kata kunci, tapi menyusun strategi konten yang relevan dan berkelanjutan tetap butuh manusia. Di sinilah perpaduan antara logika, empati, dan pengalaman bekerja.

    Kadang saya suka mikir, AI ini canggih banget hahahaha… tapi tetap saja, sentuhan manusia gak tergantikan.

    Oh ya, di era sekarang, manusia seharusnya jadi pengendali teknologi, bukan sebaliknya.

    AI Cerminan Cara Kita Berpikir?

    Di akhir tulisan ini, saya kembali ke pertanyaan awal: apakah ai berbahaya? Bagi saya, jawabannya tergantung pada cara kita menggunakan. AI bisa jadi alat bantu yang luar biasa, atau justru jadi jebakan yang bikin manusia malas berpikir.

    Sebagai SEO Content Writer, saya memilih jalan tengah: memanfaatkan AI secukupnya, tapi tetap mengasah otak dan nurani. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, manusialah yang menentukan arahnya.

    Oh ya, selama kita masih mau berpikir, belajar, dan bertanggung jawab, AI gak akan pernah sepenuhnya menggantikan manusia. Semangat ya!

    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments

    In travelling

    Mudik Pakai Motor: Lebaran, Keluarga, dan Cerita Saya

    mudik pakai motor

    Mudik pakai motor selalu jadi topik yang hangat setiap menjelang Lebaran. Di keluarga besar saya, obrolan tentang mudik hampir gak pernah terlewat, apalagi saat Ramadhan mulai terasa di udara. Meski saya non muslim, suasana menjelang Lebaran justru menjadi salah satu momen yang paling saya tunggu setiap tahunnya.

    Saya lahir dan tumbuh di keluarga yang bisa dibilang cukup unik. Keluarga besar ibu saya semuanya muslim, sementara saya & keluarga non muslim. Itu sebabnya, setiap tahun saya terbiasa merayakan dua hari raya: Natal dan Idul Fitri. Dua momen yang berbeda secara keyakinan, tapi sama-sama hangat dalam makna. Keduanya selalu tentang pulang, keluarga, dan kebersamaan.

    Dan di setiap Idul Fitri, satu hal yang selalu hadir sebagai cerita adalah mudik pakai motor.


    Saya, Dua Hari Raya, dan Mudik Lebaran

    Sejak kecil, saya sudah akrab dengan suasana Lebaran. Meski gak ikut menjalankan puasa, saya ikut merasakan ritmenya. Bangun lebih pagi karena sahur, menunggu azan magrib bersama, huting takjil sampai obrolan santai menjelang berbuka. Ramadhan di rumah selalu penuh cerita, dan ujung dari semua cerita itu adalah mudik Lebaran.

    Bagi saya, Lebaran bukan sekadar hari raya keagamaan. Lebaran adalah momen pulang. Momen di mana saya bisa bertemu kembali dengan banyak saudara yang jarang ditemui. Ada om, tante, sepupu, bahkan keponakan yang biasanya hanya bertukar kabar lewat pesan singkat.

    Itulah kenapa mudik selalu terasa spesial. Dan di tengah euforia itulah, kisah mudik pakai motor hampir selalu muncul, seolah menjadi cerita wajib setiap tahun.


    Mudik Pakai Motor dalam Cerita Keluarga Saya

    Kalau bicara soal mudik di keluarga kami, pilihannya biasanya terbagi dua: naik mobil atau mudik pakai motor. Saya sendiri lebih sering mudik naik mobil. Faktor jarak, kenyamanan, dan kondisi jadi pertimbangan utama.

    Namun beberapa saudara saya justru setia memilih mudik pakai motor. Alasannya beragam, ada yang karena lebih fleksibel, lebih hemat, dan ada juga yang memang sudah terbiasa sejak dulu. Dari cerita mereka, mudik pakai motor itu capek, tapi selalu meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.

    Setiap kumpul keluarga, cerita mudik pakai motor selalu muncul dengan versinya masing-masing. Ada yang bercerita berangkat setelah sahur, ada yang terjebak macet berjam-jam, ada juga yang kehujanan di tengah perjalanan. Anehnya, cerita-cerita itu selalu disampaikan dengan senyum dan tawa.

    Mudik Pakai Motor Versi Saudara Saya, Katanya "Simple"!

    Saya ingin jujur sejak awal. Cerita mudik pakai motor di tulisan ini bukan pengalaman pribadi saya secara langsung. Ini adalah cerita dari sudut pandang saya sebagai pendengar, pengamat, dan bagian dari keluarga yang selalu menyimak kisah-kisah itu setiap Lebaran.

    Saya melihat sendiri bagaimana saudara-saudara saya mempersiapkan perjalanan. Mengecek motor, menyiapkan jas hujan, menyusun rute, dan mengatur waktu berangkat. Ada keseriusan di sana, karena mudik pakai motor memang bukan perjalanan biasa.

    Saya juga sering teringat tulisan-tulisan dari mbak Dian Restu Agustina, salah satu blogger yang aktif menulis tentang Lebaran dan mudik hampir setiap tahunnya. Dari tulisannya, saya belajar bahwa mudik selalu punya sisi emosional yang kuat. Cerita tentang berkendara di Tol Trans Jawa, lelah di jalan, rindu yang ditahan, hingga lega saat akhirnya sampai rumah, terasa sangat dekat dengan kisah saudara-saudara saya.


    Cerita Seru Mudik Pakai Motor Setiap Lebaran

    Dari semua cerita yang saya dengar, mudik pakai motor selalu punya warna tersendiri. Ada cerita sahur di SPBU karena berangkat terlalu pagi. Ada juga cerita buka puasa di pinggir jalan dengan menu sederhana, tapi rasanya jadi istimewa karena dimakan setelah perjalanan panjang.

    Beberapa saudara saya juga sering bercerita tentang solidaritas di jalan. Saling menyapa sesama pemudik motor, saling membantu saat ada yang mogok, atau berbagi informasi jalur alternatif. Dari sana saya melihat bahwa mudik pakai motor bukan cuma soal kendaraan, tapi juga soal rasa kebersamaan.

    Mudik Pakai Motor dan Rindu yang Terbayar

    Semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas ketika mereka akhirnya tiba di kampung halaman. Disambut keluarga, mencium tangan orang tua, dan berkumpul di satu meja besar saat Lebaran. Di momen itu, saya selalu melihat wajah-wajah lega dan bahagia.

    Bagi saya, melihat saudara-saudara saya pulang dengan selamat setelah mudik pakai motor adalah kebahagiaan tersendiri. Rindu yang selama ini tertahan akhirnya menemukan jalannya untuk pulang.


    Tips Mudik Pakai Motor agar Mudik Aman Sampai Tujuan

    Dari cerita dan pengalaman saudara-saudara saya, ada beberapa tips mudik pakai motor yang selalu mereka pegang. Tips sederhana, tapi sangat menentukan apakah perjalanan bisa berjalan nyaman dan mudik aman sampai tujuan.

    1. Pastikan Motor Siap

    pastikan kondisi motor benar-benar siap sebelum berangkat. Rem, ban, lampu, rantai, dan oli wajib dicek. Beberapa saudara saya bahkan melakukan servis ringan beberapa hari sebelumnya agar mudik pakai motor berjalan lebih tenang.

    2. Kondisi Tubuh Sehat

    Mudik pakai motor saat puasa jelas menguras tenaga. Kalau lelah, berhenti dan istirahat. Prinsip yang selalu mereka pegang sederhana: lebih baik sampai sedikit lebih lama, asal mudik aman sampai tujuan.

    3. Bawa Perlengkapan biar Aman

    Atur waktu perjalanan dengan bijak dan lengkapi perlengkapan keselamatan. Banyak pemudik motor memilih berangkat dini hari atau malam hari untuk menghindari panas dan kemacetan. Helm standar, jaket, sarung tangan, dan jas hujan bukan pelengkap, tapi kebutuhan.


    Lebaran, Mudik, dan Arti Keluarga bagi Saya

    Sebagai non muslim, saya sering ditanya kenapa begitu menantikan Lebaran. Jawaban saya selalu sama: karena Lebaran adalah tentang keluarga. Tentang pulang, berkumpul, dan merayakan kebersamaan tanpa melihat perbedaan.

    Mudik pakai motor mungkin bukan pilihan saya secara pribadi, tapi cerita-ceritanya selalu menjadi bagian penting dari Lebaran keluarga kami. Dari sana saya belajar bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk pulang, dengan cerita dan perjuangannya masing-masing.

    Pada akhirnya, baik mudik naik mobil, mudik pakai motor, atau mengikuti perkembangan zaman seperti mudik pakai mobil listrik, tujuan kami tetap sama: pulang ke rumah dan merayakan kebersamaan.



    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments

    In travelling

    Cara Menjadi Traveler Lewat Cerita Teman-Teman Saya

    Cara menjadi traveler

    Cara menjadi traveler sering terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Jujur saja, saya sendiri bukan traveler. Saya gak terbiasa berpindah kota tiap bulan, gak hafal bandara, dan gak punya kebiasaan menyusun itinerary detail. 

    Tapi justru karena posisi saya sebagai orang biasa, topik cara menjadi traveler terasa menarik untuk dibahas. Semua ini saya pahami dari cerita teman-teman saya yang menjalani hidup sebagai traveler, baik yang sekadar hobi maupun yang menjadikannya bagian dari gaya hidup.

    Dari obrolan santai, chat panjang tengah malam, sampai cerita capek setelah perjalanan jauh, saya mulai mengerti bahwa cara menjadi traveler itu gak sesempit yang sering kita bayangkan.


    Cara Menjadi Traveler Itu Tentang Keberanian

    Cerita Teman-Teman yang Berani Melangkah

    Hampir semua teman saya yang aktif traveling punya satu kesamaan: mereka berani mulai. Bukan karena segalanya sudah siap, tapi karena mereka mau melangkah meski banyak keraguan. Dari cerita mereka, cara menjadi traveler sering dimulai dari keputusan kecil, seperti ikut trip murah, menerima ajakan mendadak, atau nekat pergi sendiri ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

    Saya sering mendengar kalimat, “Awalnya cuma coba-coba, lama-lama ketagihan.” Dari situ saya sadar bahwa cara menjadi traveler gak selalu soal rencana besar, tapi tentang keberanian mengambil langkah pertama.

    Hal yang Paling Sering Saya Dengar dari Traveler

    Menariknya, cerita yang paling sering saya dengar justru bukan soal foto indah atau destinasi populer. Yang sering muncul adalah cerita nyasar, kelelahan, salah jadwal, sampai penginapan yang gak sesuai ekspektasi. Tapi anehnya, semua itu selalu diceritakan sambil tertawa.

    Dari situ saya belajar, cara menjadi traveler juga berarti siap menghadapi hal-hal gak terduga. Traveling bukan cuma soal menikmati yang indah, tapi juga menerima proses yang kadang melelahkan.


    Cara Menjadi Traveler Pemula Menurut Pengalaman Mereka

    Awalnya Sama-Sama Bingung

    Kalau kamu merasa bingung mau mulai dari mana, sebenarnya itu wajar. Dari cerita teman-teman saya, hampir semua traveler pernah berada di fase tersebut. Cara menjadi traveler pemula memang penuh tanda tanya. Mau ke mana dulu? Aman gak? Harus bawa apa saja?

    Salah satu teman saya pernah bilang, “Gak ada traveler yang langsung jago.” Kalimat sederhana itu bikin saya sadar bahwa cara menjadi traveler pemula gak menuntut kesempurnaan, tapi keberanian untuk belajar sambil jalan.

    Cara Menjadi Traveller dengan Gaya Masing-Masing

    Hal menarik lainnya adalah gak ada satu pola baku dalam cara menjadi traveller. Ada teman saya yang suka jalan santai dengan ransel, ada juga yang lebih nyaman dengan koper dan jadwal rapi. Ada yang menikmati solo trip, ada pula yang merasa lebih aman traveling rame-rame.

    Dari semua cerita itu, saya melihat bahwa cara menjadi traveler sangat personal. Gak perlu memaksakan diri mengikuti gaya orang lain, cukup temukan pola yang paling sesuai dengan diri sendiri.


    Cara Menjadi Traveler dan Cerita yang Menginspirasi

    Traveler sebagai Pencerita

    Banyak teman saya yang akhirnya dikenal bukan karena sering pergi jauh, tapi karena cara mereka bercerita. Ada yang menulis blog, ada yang aktif di media sosial, dan ada pula yang sekadar berbagi lewat obrolan. Dari sinilah saya mengenal sosok-sosok seperti Travel Blogger Balikpapan yang konsisten membagikan pengalaman dengan sudut pandang jujur dan membumi.

    Dari mereka, saya belajar bahwa cara menjadi traveler juga berkaitan dengan bagaimana pengalaman itu dibagikan. Cerita membuat perjalanan menjadi lebih hidup dan bermakna.

    Traveling sebagai Bagian dari Lifestyle

    Traveling sering bersinggungan dengan banyak aspek kehidupan lain. Mulai dari cara berpakaian, cara merawat diri, sampai cara melihat hidup. Beberapa teman saya bahkan mengaitkan perjalanan dengan dunia beauty dan self-care. Di titik ini, saya paham kenapa istilah "beauty blogger", diantaranya Beauty Blogger Balikpapan yang satu ini bisa berjalan beriringan dengan dunia traveling.

    Perjalanan bukan cuma soal tempat, tapi juga tentang bagaimana seseorang merawat dirinya sendiri, baik secara fisik maupun emosional.


    Cara Menjadi Traveler dari Kacamata Saya

    Sebagai orang yang bukan traveler, saya justru menikmati peran sebagai pendengar. Dari cerita-cerita itulah, cara menjadi traveler terasa lebih realistis. Bukan soal siapa yang paling sering jalan-jalan, tapi siapa yang berani membuka diri pada pengalaman baru.

    Saya belajar bahwa cara menjadi traveler gak selalu berarti harus sering pergi jauh. Kadang, cukup dengan membuka pikiran dan mendengarkan cerita orang lain, sudut pandang kita sudah ikut berjalan ke banyak tempat.


    Penutup

    Dari semua cerita yang saya dengar, satu hal yang paling terasa adalah ini: cara menjadi traveler bukan tentang menjadi orang lain, tapi tentang menemukan sudut pandang baru lewat perjalanan. Saya mungkin bukan traveler, tapi cerita teman-teman saya cukup untuk membuat saya memahami esensinya.
    Dan siapa tahu, suatu hari nanti saya ikut melangkah. Karena pada akhirnya, cara menjadi traveler selalu dimulai dari rasa ingin tahu dan keberanian kecil untuk mencoba.

    Kalau kamu juga sering menikmati cerita perjalanan orang lain, mungkin sekarang saatnya mulai lebih peka dengan pengalaman di sekitar. Entah itu lewat membaca, menulis, atau sekadar berbagi obrolan ringan. Siapa tahu, dari situ kamu menemukan versi cara menjadi traveler yang paling sesuai dengan hidupmu sendiri.

    Cerita-cerita ini juga membuat saya semakin menghargai peran para traveler yang mampu merangkai perjalanan menjadi kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Asyik ya, kamu berminat jadi traveler juga? 



    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments

    In Pendidikan

    Darsimah Siahaan: Mendidik Anak Desa dengan Alam Leuser

    Darsimah Siahaan
    Saya pertama kali mendengar nama Darsimah Siahaan ketika membaca kisah tentang Sekolah Alam Leuser, sebuah sekolah yang berdiri di kaki Gunung Leuser. Di tempat yang dikelilingi hutan lebat dan sungai jernih, Darsimah membangun ruang belajar yang berbeda: hutan jadi kelas, sungai jadi laboratorium, dan kearifan lokal jadi kurikulum hidup.


    Dari Hutan ke Ruang Belajar

    Beliau bukan sekadar guru, tapi penjaga harapan anak-anak di pelosok Langkat. Ketika banyak anak harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk belajar, Darsimah memilih membawa sekolah itu ke tengah kehidupan mereka. Sekolah Alam Leuser menjadi tempat di mana alam bukan latar belakang semata, melainkan sumber pengetahuan yang hidup dan nyata.

    "Saya ingin anak-anak di sini nggak cuma pintar baca tulis, tapi juga paham pentingnya alam," itulah pesan yang sering ia sampaikan. Menurut saya, kalimat itu sederhana tapi berdampak besar—karena dari kesadaran seperti itu lah kelak lahir generasi yang menjaga, bukan merusak.


    Inspirasi dari Alam, untuk Anak Negeri

    Darsimah menyadari bahwa pendidikan di desa harus relevan dengan konteksnya. Di Leuser, pelajaran tentang alam sama pentingnya dengan pelajaran akademik. Maka metode belajar di Sekolah Alam Leuser menggabungkan kurikulum nasional dengan praktik langsung: menanam pohon, mengenal spesies lokal, memantau sungai, atau menghitung hasil panen sambil belajar matematika.

    Saya suka bagaimana anak-anak dilibatkan dalam kegiatan nyata—mereka belajar bertanggung jawab lewat kebun, beternak kecil-kecilan, dan pengelolaan sampah organik. Lewat cara ini, pengetahuan akademis jadi lebih bermakna karena selalu terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari.


    Mengubah Tantangan Jadi Peluang

    Membangun sekolah di wilayah pedalaman jelas penuh tantangan: akses sulit, fasilitas minim, dan sinyal yang sering nggak stabil. Namun Darsimah memandang keterbatasan sebagai pemicu kreativitas. Dinding kelas terbuat dari bambu, meja dibuat bersama orang tua murid, dan metode pembelajaran disesuaikan kondisi lokal—semua berlandaskan gotong royong.

    Dan kerja keras itu pun berbuah manis. Pada tahun 2024, Darsimah Siahaan dinobatkan sebagai pemenang SATU Indonesia Awards kategori Pendidikan dari Astra, pengakuan atas upayanya memadukan pendidikan dan konservasi di Leuser.

    Sekolah Alam Leuser: Kurikulum Hidup

    Sekolah ini mengintegrasikan materi nasional dengan pengalaman lapangan. Mata pelajaran sains dikaitkan langsung dengan flora dan fauna lokal; matematika dipraktikkan lewat kegiatan bertanam; bahasa diajarkan dengan menulis cerita rakyat dan dokumentasi pengalaman. Cara ini menumbuhkan kebanggaan anak terhadap tanah kelahiran sambil menanamkan kecakapan hidup.

    Di samping itu, proyek-proyek lingkungan seperti program penanaman pohon, pengolahan sampah, dan pemantauan kualitas air membentuk literasi konservasi yang penting bagi masa depan kawasan Leuser.


    Jejak Kecil, Dampak Besar

    Perubahan yang ditimbulkan Darsimah tampak nyata: anak-anak lebih percaya diri, masyarakat ikut terlibat, dan sejumlah lulusan memilih kembali mengabdi sebagai guru. Pemerintah daerah dan organisasi non-profit pun mulai memberi dukungan, dari bahan ajar sampai bantuan teknis.

    Bagi Darsimah, penghargaan dan bantuan itu bukan tujuan akhir. Ia paling bahagia melihat anak-anaknya tumbuh percaya diri, peduli, dan berani bermimpi—itulah ukuran kesuksesan yang ia pegang erat.


    Harapan untuk Masa Depan

    Saat saya membaca kisahnya, saya teringat banyak guru di pelosok yang berjuang dalam diam. Darsimah mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan cuma mentransfer pengetahuan, tapi membentuk karakter dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

    Jika model Sekolah Alam Leuser bisa direplikasi di wilayah lain, saya percaya akan lahir banyak generasi yang tumbuh selaras dengan alam—bukan mengurasnya. Dari sekolah bambu di Leuser, kita melihat bukti bahwa pendidikan yang sederhana sekaligus kontekstual bisa mencetak perubahan besar.


    #APA2025-KSB

    Sumber foto: Darsimah Siahaan (sumber: https://blogger.googleusercontent.com)

    Referensi:

    • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/08/29/sekolah-alam-leuser-pendidikan-berbasis-alam-dengan-kurikulum-nasional
    • https://www.keliling.my.id/2025/10/sekolah-alam-leuser.html
    • https://vervalyayasan.data.kemdikbud.go.id
    • https://mongabay.co.id/2025/04/21/perempuan-perawat-hutan-tanam-asa-di-tengah-rimba



    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments

    In Lifestyle

    Jein Marlinda: Perempuan di Balik Manisnya Gula Semut Molomamua

    Jein Marlinda

    Di balik rasa manis yang kita nikmati dari sebutir gula semut, ada cerita perjuangan yang nggak kalah manisnya. Salah satunya datang dari Jein Marlinda, perempuan tangguh asal Desa Molomamua, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Ia adalah Ketua UMKM Gula Semut Molomamua yang bekerja sama dengan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Lauje.  

    Jein dan kelompoknya mengubah potensi nira aren di desa terpencil menjadi sumber penghidupan. Dengan ketekunan dan semangat gotong royong, mereka membuktikan bahwa produk lokal bisa punya nilai ekonomi tinggi sekaligus menjaga kelestarian alam.  

    Dari Nira Aren Jadi Harapan Baru

    Sebelum Jein memulai usahanya, masyarakat Molomamua hanya memanfaatkan nira aren untuk kebutuhan sendiri. Banyak warga belum tahu kalau cairan manis itu bisa diolah menjadi gula semut bernilai jual tinggi. Melihat potensi tersebut, Jein tergerak untuk belajar cara pengolahan nira menjadi gula semut.  

    Berawal dari pelatihan sederhana, Jein kemudian mengajak masyarakat Suku Lauje untuk ikut serta. Suku ini termasuk dalam Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang kehidupannya masih sangat sederhana dan terisolasi. Melalui pendekatan penuh empati, Jein mengajarkan cara penyadapan nira yang ramah lingkungan, pengeringan alami tanpa bahan kimia, hingga pengemasan yang menarik.

    Sinergi dengan Komunitas Adat Suku Lauje

    Bersama Suku Lauje, Jein membangun sistem kerja yang adil dan berkelanjutan. Setiap keluarga diberi kesempatan mengelola pohon aren di sekitar hutan, sementara kelompok UMKM bertugas mengolah hasilnya. Hasil penjualan dibagi secara proporsional agar semua pihak merasakan manfaatnya.  

    Bagi masyarakat adat, program ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga pelestarian tradisi. Pohon aren punya makna penting dalam kehidupan mereka. Dengan menjaga pohon ini tetap lestari, mereka juga menjaga warisan leluhur.

    Tantangan yang Nggak Kecil

    Perjalanan Jein nggak selalu manis seperti produk yang ia hasilkan. Tantangan terbesar datang dari akses transportasi dan permodalan. Letak Desa Molomamua yang jauh dari pusat kota membuat biaya distribusi tinggi.  

    Namun, berkat kerja keras dan komitmen, produk Gula Semut Molomamua kini sudah menembus pasar regional, bahkan mulai dilirik pembeli dari luar provinsi. Jein juga aktif mengikuti pelatihan dan pameran UMKM agar produknya semakin dikenal.

    Dukungan Astra dan Penghargaan SATU Indonesia Awards

    Perjuangan Jein Marlinda dalam memberdayakan masyarakat adat dan menciptakan ekonomi berkelanjutan membuatnya terpilih sebagai salah satu penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2024.  

    Astra melihat bahwa program Jein bukan hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian komunitas terpencil tanpa merusak lingkungan. Dengan dukungan ini, UMKM Gula Semut Molomamua makin berkembang, mulai dari peralatan produksi yang lebih efisien hingga pelatihan manajemen usaha.

    Dampak Nyata untuk Masyarakat

    Kini, lebih dari 40 keluarga Suku Lauje sudah terlibat dalam pengolahan gula semut. Pendapatan mereka meningkat, dan anak-anak bisa melanjutkan sekolah tanpa kekurangan. Desa Molomamua pun dikenal sebagai penghasil gula semut berkualitas tinggi.  

    Jein merasa bangga karena kerja kerasnya bisa membuka peluang bagi perempuan di daerah terpencil untuk mandiri. Ia juga menginspirasi banyak anak muda agar mau kembali ke desa dan mengembangkan potensi lokal.

    Pelestarian Alam dan Kearifan Lokal

    Selain memberdayakan ekonomi, Jein juga menanamkan kesadaran lingkungan. Ia mengajak masyarakat agar nggak menebang pohon aren secara sembarangan. Pohon yang sehat menghasilkan nira berkualitas dan bisa disadap selama puluhan tahun.  

    Melalui prinsip sustainability, Jein menegaskan bahwa bisnis lokal bisa berjalan seiring dengan kelestarian alam. Inilah bentuk nyata dari ekonomi hijau berbasis komunitas adat.

    Harapan ke Depan

    Jein berharap Gula Semut Molomamua bisa terus berkembang hingga menembus pasar nasional. Ia juga ingin menjadikan Molomamua sebagai contoh sukses pemberdayaan berbasis kearifan lokal.  

    Menurutnya, perempuan desa punya peran besar dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan alam. Dengan kerja keras, semangat gotong royong, dan dukungan semua pihak, cita-cita itu bukan hal yang mustahil.

    #APA2025-KSB




    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments

    In health

    Review Jujur Insto Dry Eyes Kemasan Baru: Nyaman di Mata dan di Tas!

     

    Review jujur Insto Dry Eyes

    Kalau kamu sehari-hari kerjanya di depan laptop, scrolling HP sambil nunggu jadwal meeting, atau bahkan maraton drama Korea berjam-jam, pasti pernah ngerasain yang namanya mata kering.

    Rasanya tuh nggak enak—perih, berair, dan bikin fokus jadi buyar. Saya juga ngalamin itu, apalagi pas kerjaan lagi padat dan harus ngebut nulis atau ngedit konten dari pagi sampai malam.

    Selama ini, Insto Dry Eyes selalu jadi penyelamat saya. Tapi beberapa waktu lalu, pas lagi mampir ke apotek, saya lihat penampilannya beda. “Eh, Insto Dry Eyes sekarang ganti kemasan, ya?” pikir saya.

    Karena penasaran, akhirnya saya beli dan cobain sendiri. Nah, kali ini saya mau cerita pengalaman pakai Insto Dry Eyes versi kemasan baru—nyaman di mata, dan ternyata lebih praktis juga dibawa ke mana-mana!

     

    Kenalan Lagi Yuk Sama Insto Dry Eyes

    Insto Dry Eyes ini adalah obat tetes mata yang fungsinya buat melembapkan mata kering. Biasanya saya pakai pas mata mulai terasa nggak nyaman setelah lama lihat layar. Efeknya cepat dan nggak bikin perih, jadi saya nggak ragu pakai kapan aja, entah itu pas kerja di rumah, atau lagi nunggu boarding di bandara.

    Satu hal yang saya suka dari Insto Dry Eyes: ukurannya mini dan gampang banget dibawa ke mana-mana. Jadi, meskipun tas lagi penuh dengan printilan, botol kecil Insto ini tetap bisa nyelip di antara pouch makeup atau dompet kecil.

     

    Kemasan Baru: Lebih Modern dan Lebih Praktis

    Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling bikin penasaran: kemasan barunya kayak gimana sih?

    Pertama kali lihat di rak apotek, saya langsung notice kalau desainnya lebih modern. Warnanya tetap identik dengan versi sebelumnya, tapi tampilannya lebih clean dan kelihatan stylish.

    Botolnya juga terasa lebih ergonomis—lebih enak digenggam, dan bagian tutupnya sekarang terasa lebih rapat, jadi nggak khawatir bocor pas ditaruh di dalam tas.

    Saya pribadi suka banget sama kemasan barunya ini. Selain tampil beda, ternyata juga makin cocok sama gaya hidup kita yang serba praktis. Bawa #InstoDryEyes sekarang nggak cuma soal fungsi, tapi juga gaya. Iya, tampilannya beneran lebih kece!

     

    Gimana Hasilnya di Mata?

    Setelah pakai beberapa kali, saya bisa bilang kalau performanya masih sama bagusnya kayak versi sebelumnya. Tetap nyaman di mata, nggak ada rasa pedih, dan efek lembapnya cukup bertahan lama.

    Biasanya saya pakai pas mata udah mulai “protes”—biasanya setelah 4–5 jam duduk depan laptop. Sekali dua tetes, mata langsung terasa lebih segar dan fokus balik lagi.

    Hal lain yang saya perhatikan, tutup botolnya sekarang lebih kuat. Ini penting banget sih buat saya yang kadang suka asal lempar botol ke dalam tas. Nggak perlu lagi khawatir bocor atau ketumpahan ke barang lain.

     

    Cocok Buat Siapa Aja?

    Menurut saya, Insto Dry Eyes kemasan baru ini cocok banget buat kamu yang punya aktivitas tinggi dan sering berada di lingkungan ber-AC atau depan layar. Misalnya:

    ·         Kamu yang kerja di kantor dan sering lembur

    ·         Mahasiswa yang kuliah online dan maraton jurnal

    ·         Content creator yang banyak ngedit video

    ·         Atau bahkan kamu yang suka traveling dan butuh mata tetap segar sepanjang perjalanan

    Insto ini juga cocok buat pemakai lensa kontak, karena kadang lensa bisa bikin mata cepat kering. Karena #MataKeringJanganSepelein jadi bisa banget kamu masukin ke dalam tas sebagai “first aid” buat mata lelah.

     

    Insto Dry Eyes

    Buat Saya sih Berguna Banget!

    Dari segi isi, Insto Dry Eyes tetap jadi andalan buat atasi mata kering. Tapi sekarang tampilannya makin keren, lebih praktis dibawa, dan pastinya tetap efektif. Buat kamu yang selama ini udah cocok sama Insto, versi barunya ini pasti bakal kamu suka juga. Dan buat kamu yang belum pernah coba, sekarang mungkin saat yang pas buat mulai.

    Sebagai pekerja kreatif, saya tahu banget gimana rasanya harus bolak-balik antara laptop dan aktivitas di lapangan. Kadang pagi udah harus standby di depan layar untuk brainstorming atau revisi desain, lalu siangnya pindah ke lokasi buat photoshoot atau meeting klien.

    Aktivitas yang padat dan berpindah-pindah ini bikin mata saya sering terasa lelah—apalagi kalau dari luar yang panas langsung masuk ruangan ber-AC. Nah, Insto Dry Eyes jadi penyelamat banget di situasi kayak gini.

    Cukup bawa satu botol kecil di tas, saya bisa tetesin Insto Dry Eyes kapan aja mata mulai terasa kering. Rasanya adem, nggak perih, dan bikin mata langsung lebih segar. Ini penting banget biar saya tetap bisa kerja maksimal, tanpa harus terganggu sama mata yang terasa panas atau berair.

    Jadi buat kamu yang juga aktif di dunia kreatif, cobain deh—Insto Dry Eyes ini beneran praktis dan efektif! Kalau kamu udah cobain juga, yuk share pengalamanmu. Apakah kamu juga ngerasa kemasan barunya bikin makin betah bawa ke mana-mana?

     

    Read More

    Share Tweet Pin It +1

    0 Comments