Halo, saya lanjut cerita tentang sehari backpacker-an di Madiun, ya. Ini sudah artikel keempat dan semoga kamu gak bosan mengikuti perjalanan saya. Hahaha...
Tahu gak, hari itu Madiun panas banget. Serius. Tapi saya justru happy karena mendatangi kota yang belum banyak saya jelajahi memang selalu menyenangkan.
Ada rasa kepo setiap kali berpindah tempat: nanti destinasinya gimana, asyik gak ya, makanannya enak gak ya, dan masih banyak pertanyaan receh lainnya.
Setelah dari beberapa destinasi sebelumnya, perjalanan masih berlanjut. Badan mulai minta istirahat dan saya kepikiran mencari kopi.
Saya sebenarnya gak terlalu sering ngopi karena takut malah gak bisa tidur, ahahaha. Tapi karena sedang traveling, boleh lah sekali-sekali ngadem sambil menikmati suasana.
Teman saya kemudian membuka Google dan mencari tempat ngopi yang masih satu arah dengan rute kami. Gak perlu yang terlalu fancy. Yang penting ada tempat duduk, bisa minum, dan sekalian mengisi tenaga.
Lalu muncullah nama Kopi Kakak Madiun.
Lokasinya pas banget karena berada di kawasan Alun-Alun Madiun. Jadi, tanpa mengubah rute perjalanan, kami bisa mampir sebentar.
Ternyata keputusan spontan itu malah membawa kami ke tempat yang cukup menarik.
Awalnya Cuma Iseng Cari Tempat Ngopi
Ketemu 'Kopi Kakak' dari Google
Awalnya teman saya yang sibuk mencari warung atau tempat ngopi di area yang akan kami lewati. Saya sih gak punya ekspektasi apa-apa. Targetnya sederhana: ngadem sambil ngecas badan dan HP. Hahahah.
Tahu gak, justru tempat yang dicari tanpa persiapan seperti ini kadang malah menghasilkan cerita yang lebih seru.
Sambil membuka HP, teman saya memimpin perjalanan. Tiba-tiba dia teriak, “Eh, ini kafenya!”
Saya yang berada di belakang langsung memperhatikan bangunan di depan kami.
Lho?
Kok bentuknya seperti bangunan vintage?
Awalnya saya malah bingung karena visual bangunannya terasa seperti perpaduan gaya kolonial dan Tionghoa. Bukan model coffee shop modern yang biasanya langsung kelihatan dari luar.
Setelah melihat papan nama Kopi Kakak, barulah kami yakin. Nah, ini toh tempat yang tadi dicari!
Ternyata Lokasinya Gak Jauh dari Rute Kami
Salah satu alasan kami akhirnya mampir tentu karena lokasinya strategis. Kopi Kakak berada di Jalan Kolonel Marhadi, tepat di kawasan depan Alun-Alun Madiun.
Buat yang sedang mencari tempat ngopi di Madiun sambil jalan-jalan di pusat kota, posisi seperti ini cukup menguntungkan.
Kami bisa berhenti sebentar tanpa harus memutar jauh. Setelah selesai ngopi pun masih bisa melanjutkan perjalanan ke kawasan alun-alun.
Jadi, konsep backpacker hemat waktu tetap jalan.
Kopi Kakak Madiun dan Bangunan Vintage yang Bikin Penasaran
Begitu masuk, perhatian saya bukan cuma tertuju pada kopi.
Bangunannya justru bikin penasaran.
Kopi Kakak memanfaatkan kawasan Rumah Kapitan Cina, sebuah bangunan bersejarah di Jalan Kolonel Marhadi.
Bangunan tersebut dikenal sebagai kediaman Kapitan Njoo Swie Lian dan tercatat sebagai salah satu bangunan bersejarah Kota Madiun.
Pada 2019, bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya dan kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi usaha Kopi Kakak.
Sumber penelitian juga mencatat bahwa penggunaan sebagai coffee shop dimulai pada 2019 dengan struktur bangunan lama tetap dipertahankan.
Oh ya, ini yang membuat saya merasa ngopi di sini agak berbeda. Kita bukan cuma duduk di sebuah kafe kekinian, tetapi juga berada di lingkungan bangunan yang punya cerita panjang tentang sejarah Kota Madiun.
Bukan Sekadar Kafe di Depan Alun-Alun
Posisinya yang berada di kawasan Alun-Alun Madiun membuat suasana Kopi Kakak juga menarik untuk diamati.
Sore itu kami bisa melihat aktivitas di sekitar alun-alun mulai berubah. Pedagang kaki lima berdatangan, lalu lampu-lampu temaram perlahan menyala. Tanda bahwa siang mulai bergeser menuju senja.
Oh ya, dari tempat seperti ini saya jadi bisa menikmati dua suasana sekaligus: duduk santai di area kafe, sementara kehidupan kota tetap bergerak di luar.
Buat saya sih, ini salah satu daya tarik tempat nongkrong di Madiun. Gak perlu buru-buru pergi karena setelah ngopi masih banyak yang bisa dieksplorasi di sekitar pusat kota.
Kamu Bisa Ngapain Aja di Tempat Ngopi Ini?
Tentu saja yang utama adalah ngopi. Kopi Kakak menyediakan berbagai pilihan menu minuman dan makanan untuk menemani waktu nongkrong.
Selain itu, suasana bangunan tua dan area hijaunya juga membuat tempat ini menarik sebagai spot foto. Nuansa vintage dan classic terasa lebih kuat dibandingkan kafe modern pada umumnya.
Tahu gak, bangunan seperti ini justru bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk orang yang suka fotografi atau sekadar mencari latar foto yang berbeda.
Tempatnya juga cocok untuk ngobrol bersama teman maupun keluarga. Bahkan dari berbagai sumber, kawasan ini pernah digunakan untuk kegiatan dan acara tertentu, sehingga fungsinya gak hanya sebagai tempat minum kopi.
Jadi, kalau kamu mencari cafe vintage Madiun atau cafe unik di Madiun, Kopi Kakak bisa masuk daftar pencarian.
Duduk, Ngopi, dan Menikmati Suasana Kota Madiun
Setelah keliling Madiun sejak siang, akhirnya kami bisa duduk santai.
Angin bergerak pelan. Area hijau di sekitar kafe membuat suasananya terasa lebih sejuk. Kebetulan saat kami datang, pengunjung gak terlalu banyak. Mungkin karena kami datang Senin siang menjelang sore, saat sebagian orang masih sibuk bekerja.
Saya memilih duduk di area outdoor. Kebetulan ada tempat untuk mengecas HP, jadi ya sudah, lengkap sudah paket istirahatnya: badan ngadem, HP ikut recovery. Hihihihi....
Untuk minuman, saya lupa persis namanya. Yang saya ingat semacam minuman sea salt, rasanya gurih, creamy, dan gak terlalu manis.
Harganya juga masih bersahabat. Saya membayar sekitar belasan ribu rupiah untuk minuman tersebut. Buat perjalanan backpacker, nominal seperti ini masih cukup aman di kantong.
Tapi yang paling menarik justru obrolannya.
Kami duduk cukup lama sambil saling berbagi cerita tentang kehidupan. Mulai dari pekerjaan, keluarga, keyakinan, iman, sampai hal-hal random yang biasanya muncul ketika dua orang sedang ngobrol santai.
Sih, durasi ngopi kami di sini malah menjadi salah satu yang paling panjang dibandingkan tempat lain selama perjalanan Madiun.
Mungkin karena tempatnya nyaman. Mungkin juga karena memang sedang sama-sama butuh jeda.
Justru Bangunannya yang Bikin Betah
Awalnya cuma mau mencari kopi.
Eh, malah betah.
Bangunan tua, taman, suasana outdoor, ditambah obrolan panjang membuat waktu berjalan tanpa terasa. Ada sensasi tersendiri ketika bisa menikmati minuman di tempat yang punya cerita sejarah.
Dan tentu saja, kalau sudah menemukan latar yang menarik, sesi foto biasanya gak boleh dilewatkan. Wkwkwkwk....
Kopi Kakak akhirnya bukan sekadar tempat mampir untuk mengisi tenaga, tetapi menjadi salah satu unexpected stop yang justru saya ingat dari perjalanan satu hari di Madiun.
Dari Kopi Kakak, Saya Melanjutkan Jalan-Jalan Madiun
Setelah puas duduk dan ngobrol, perjalanan kami belum selesai.
Kami kemudian melanjutkan jalan-jalan tipis ke Alun-Alun Madiun. Di sana mulai banyak pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai jajanan street food. Harganya cukup terjangkau dan pilihannya juga lumayan banyak.
Tahu gak, area alun-alun ternyata gak cuma menarik untuk duduk-duduk. Buat yang membawa anak-anak pun ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sekitar kawasan ini.
Dari sini saya makin merasa bahwa mencari tempat ngopi yang satu arah dengan rute perjalanan ternyata bisa menjadi strategi sederhana untuk menikmati kota tanpa membuang waktu.
Kita bisa istirahat, makan atau minum, foto-foto, lalu lanjut eksplorasi.
Sih, perjalanan sehari memang gak harus dipenuhi destinasi yang padat. Kadang jeda satu atau dua jam justru membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.
Ternyata Tempat Spontan Bisa Jadi Cerita
Perjalanan Madiun saya kali ini memang banyak diisi destinasi yang awalnya gak semuanya masuk rencana.
Kopi Kakak salah satunya.
Kami cuma mencari tempat ngopi melalui Google karena kebetulan searah. Ternyata yang ditemukan bukan cuma coffee shop, tetapi juga bangunan tua dengan cerita sejarah di tengah kawasan pusat Kota Madiun.
Dari pengalaman ini, saya jadi semakin percaya bahwa itinerary boleh dibuat rapi, tetapi tetap sisakan sedikit ruang untuk spontanitas.
Asalkan gak membuat kita ketinggalan kereta pulang, tentunya. Hahaha!
Perjalanan Madiun Belum Selesai
Dan setelah Kopi Kakak, petualangan kami masih berlanjut.
Masih ada Alun-Alun Madiun, jajanan kaki lima, Toko Oleh-oleh Mirasa, makan malam, sampai kembali lagi ke Pahlawan Street Center sebelum akhirnya menuju Stasiun Madiun.
Oh ya, bagaimana sih keseruan suasana Alun-Alun Madiun saat sore sampai malam?
Tunggu cerita saya berikutnya, ya.
Karena ternyata, satu hari di Madiun masih bisa menghasilkan banyak cerita.

























.png)