In Destinations

Candi Plaosan Jogja: Cantik, Sepi, dan Instagramable!

Spot foto Candi Plaosan yang estetik dan Instagramable

Seorang teman tiba-tiba chat, “mbak, anterin ke Candi Plaosan yuk? Cuma deket Candi Prambanan kok...”. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya bilang, gasss! 

Hahahaha… kadang keputusan spontan justru jadi pengalaman paling berkesan, ya gak sih?

Kalau kamu lagi cari tempat wisata adem, gak terlalu rame, tapi tetap estetik buat foto-foto, Candi Plaosan bisa jadi jawaban yang pas. 

Oh ya, saya sendiri awalnya juga gak terlalu berekspektasi tinggi, tapi ternyata tempat ini punya vibes yang beda banget dari candi lainnya.


Sekilas Tentang Candi Plaosan

Candi Plaosan Jogja sebenarnya berada di wilayah Klaten, tepatnya di perbatasan Jogja dan Jawa Tengah. Lokasinya strategis banget, jadi sering masuk list wisata dekat Candi Prambanan.

Candi ini merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno, dan punya cerita romantis antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani. 

Saya sih selalu suka kalau wisata sejarah punya cerita cinta di baliknya, rasanya jadi lebih hidup.

Suasana sepi di wisata Candi Plaosan Klaten yang tenang dan nyaman
Suasana sepi di wisata Candi Plaosan Klaten yang tenang dan nyaman (doc. Riana Dewie)

Oh ya, sejarah Candi Plaosan Jogja juga menunjukkan perpaduan budaya Hindu dan Buddha. Hal ini terlihat dari arsitektur dan ornamen yang unik.

Candi ini dikenal sebagai candi kembar di Klaten, karena terdiri dari dua bagian utama: Candi Plaosan Lor dan Kidul. Dua kompleks ini punya kemiripan yang langsung terasa begitu kamu datang.


Daya Tarik Candi Plaosan yang Bikin Kamu Betah

Arsitektur Candi yang Unik dan Simetris

Begitu sampai, saya langsung terpesona dengan bentuk Candi Plaosan Lor dan Kidul yang simetris. Detail relief dan stupa di sini juga masih terlihat jelas.

Oh ya, saya sempat berhenti cukup lama cuma buat memperhatikan ukiran di dindingnya. Arsitektur candi Buddha Indonesia di sini benar-benar detail dan menarik.

Vibes-nya klasik tapi tetap estetik, cocok banget buat kamu yang suka wisata sejarah sekaligus foto-foto.

Candi Plaosan Kidul
Candi Plaosan Kidul (doc. Riana Dewie)


Suasana Sepi yang Bikin Lebih Nikmat

Kalau dibandingkan dengan candi populer lainnya, suasana di wisata Candi Plaosan ini jauh lebih tenang. Gak ada desak-desakan, jadi kamu bisa menikmati setiap sudutnya dengan santai.

Saya sih paling suka bagian ini, karena bisa benar-benar healing tanpa distraksi. Asyik banget gak perlu rebutan spot foto dengan pengunjung lain.

Oh ya, suasana seperti ini jarang banget ditemukan di destinasi wisata yang dekat dengan Jogja.

Spot Foto Instagramable di Setiap Sudut

Buat kamu yang cari spot foto Candi Plaosan, ini surganya! Area rumput yang luas dengan background candi kembar bikin hasil foto terlihat estetik banget.

Bahkan tanpa masuk ke dalam area candi pun, kamu sudah bisa memotret dari luar dengan angle yang bagus. Jadi fleksibel banget, apalagi kalau kamu punya banyak destinasi dalam satu hari.

Oh ya, tempat ini juga sering dijadikan tempat prewedding di Jogja karena suasananya yang tenang dan romantis.

Candi Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor (doc. Riana Dewie)


Lokasi, Rute, dan Akses ke Candi Plaosan

Lokasi Candi Plaosan Klaten ada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan. Dari Jogja, jaraknya sekitar 30 menit saja.

Saya waktu itu berangkat dari area Malioboro naik motor, dan perjalanan terasa cukup santai. Kalau kamu cari rute ke Candi Plaosan dari Jogja, tinggal arahkan saja ke Prambanan lalu lanjut ke arah timur.

Oh ya, akses ke sini cukup mudah. Kamu bisa pakai motor, mobil, atau transport online. Saya sih lebih nyaman pakai motor karena lebih fleksibel.


Tiket Masuk dan Jam Buka Terbaru

Untuk tiket masuk Candi Plaosan, harganya masih terjangkau, biasanya di kisaran Rp10.000 – Rp15.000 per orang.

Jam buka Candi Plaosan umumnya dari pagi hingga sore hari. Jadi kamu punya waktu cukup panjang untuk eksplor.

Fasilitasnya juga sudah cukup lengkap, mulai dari area parkir, toilet, sampai warung kecil.

Oh ya, kalau kamu mau hasil foto maksimal, datang pagi atau sore hari. Cahaya mataharinya lebih lembut dan bikin foto makin estetik, hihihihi…

Pemandangan Candi Plaosan Kidul dari luar area
Pemandangan Candi Plaosan Kidul dari luar area (doc. Riana Dewie)


Tips Berkunjung ke Candi Plaosan Biar Makin Seru

Datang di Waktu yang Tepat

Golden hour adalah waktu terbaik untuk menikmati suasana sekaligus berburu foto.

Pakai Outfit yang Nyaman & Estetik

Saya biasanya pakai outfit warna cerah biar kontras dengan warna candi. Hasilnya jadi lebih hidup.

Tetap Jaga Kebersihan & Kelestarian

Karena ini termasuk peninggalan sejarah, penting banget buat kita ikut menjaganya. Oh ya, sekecil apa pun tindakan kita tetap berpengaruh.


Kamu Harus Mampir!

Candi Plaosan Jogja dengan latar langit biru cerah
Candi Plaosan Jogja dengan latar langit biru cerah (doc. Riana Dewie)

Setelah dari sini, saya baru sadar kalau Candi Plaosan adalah hidden gem wisata Jogja yang underrated.

Tempatnya tenang, estetik, dan punya nilai sejarah tinggi. Cocok banget buat kamu yang bosan dengan destinasi mainstream.

Oh ya, kalau kamu lagi eksplor wisata sejarah di Jogja dan sekitarnya, tempat ini wajib masuk list kamu.

Jadi, kapan kamu mau ke sini?



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Tips

Itinerary Jogja 3 Hari 2 Malam Low Budget, Liburan Hemat Seru!


Keraton Jogja - itinerary Jogja 3 Hari 2 Malam

Saya sebagai orang Jogja sering banget dapat pertanyaan dari teman luar kota soal itinerary Jogja 3 hari low budget

Banyak yang mikir liburan ke sini pasti mahal, padahal kalau tahu triknya, kamu bisa jalan-jalan puas tanpa bikin dompet tipis.

Oh ya, saya sendiri sudah cukup sering nemenin teman yang backpacker ke Jogja 3 hari, jadi itinerary ini benar-benar realistis dan bisa kamu tiru tanpa ribet.

Kalau kamu lagi cari itinerary Jogja 3 hari 2 malam low budget, santai aja, saya bakal kasih rute yang nyaman, hemat, tapi tetap dapet pengalaman wisata hits Jogja.


Hari Pertama: Jelajah Ikon Jogja yang Dekat & Murah

Hari pertama, saya sarankan kamu fokus ke area kota dulu biar gak capek. Banyak kok tempat wisata dekat Malioboro yang bisa kamu explore.

Jalan Santai di Malioboro

Mulai dari kawasan Malioboro, ikon Jogja yang selalu ramai. Kamu bisa jalan santai, foto-foto, atau sekadar menikmati suasana khas kota ini.

Kalau saya sih, bagian paling seru itu lihat aktivitas jalanan yang hidup banget.

Oh ya, supaya hemat, kamu bisa pakai transportasi Trans Jogja yang murah dan cukup nyaman.

Malioboro Yogyakarta
Malioboro Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Wisata Budaya Jogja

Lanjut ke wisata budaya Jogja seperti keraton atau taman sari. Tiket masuknya ramah di kantong, cocok buat konsep wisata Jogja murah 2026.

Kalau kamu suka foto, spot di sini juga instagramable banget.

Kuliner Malam Murah Meriah

Malamnya, jangan lewatkan street food Jogja. Kamu wajib coba angkringan Jogja yang terkenal murah.

Hihihihi… makan nasi kucing hangat sambil ngobrol santai itu vibes-nya Jogja banget.

Angkringan Jogja
Angkringan Jogja (doc. Riana Dewie)


Hari Kedua: Alam & Hidden Gem Jogja

Hari kedua waktunya eksplor tempat yang lebih jauh tapi tetap masuk kategori low budget.

Sunrise di Bukit Panguk Kediwung

Pagi-pagi banget, kamu bisa berburu sunrise di Bukit Panguk Kediwung. View-nya keren dan tiketnya murah.

Oh ya, ini salah satu spot favorit saya kalau lagi butuh suasana tenang.

Berburu Hidden Gem Jogja Murah

Setelah itu, lanjut ke beberapa hidden gem Jogja murah yang belum terlalu ramai.

Biasanya kamu butuh kendaraan, jadi opsi terbaik adalah sewa motor Jogja murah.

Kalau kamu tipe yang suka eksplor, ini sih bakal jadi pengalaman seru.

Main ke Pantai Selatan

Sore hari, arahkan perjalanan ke pantai selatan Jogja. Banyak pilihan pantai dengan tiket masuk terjangkau.

Oh ya, jangan lupa bawa air minum sendiri biar lebih hemat.

Pantai Selatan yang indah
Pantai Selatan yang indah (doc. Riana Dewie)


Hari Ketiga: Santai & Oleh-Oleh

Hari terakhir, waktunya santai sebelum pulang.

Wisata Gratis di Jogja

Kamu bisa cari wisata gratis di Jogja seperti taman kota atau sekadar jalan santai menikmati suasana.

Oh ya, Jogja itu gak melulu soal tempat wisata mahal, justru banyak yang gratis tapi berkesan.

Belanja Oleh-Oleh

Sebelum pulang, jangan lupa mampir ke pusat oleh-oleh.

Setelah lebih dari setengah perjalanan ini, itinerary ini bisa jadi tempat berbagi ide buat kamu yang ingin liburan hemat tapi tetap seru.


Estimasi Biaya Liburan ke Jogja 3 Hari

Biar makin kebayang, ini estimasi biaya liburan ke Jogja 3 hari:

- Penginapan murah di Jogja: Rp100.000 – Rp200.000/malam
- Tempat makan murah di Jogja: Rp20.000 – Rp50.000
- Transportasi murah di Jogja: Rp10.000 – Rp50.000
- Tiket wisata: Rp5.000 – Rp20.000

Totalnya sekitar Rp500.000 – Rp900.000 untuk 3 hari.

Hahahaha… murah banget kan kalau dibanding liburan ke kota lain?

Oh ya, biaya ini bisa lebih hemat lagi kalau kamu pergi bareng teman.


Tips Liburan Hemat di Jogja

- Pilih penginapan murah di Jogja dekat pusat kota
- Gunakan transportasi Trans Jogja
- Susun itinerary Malioboro 3 hari biar efisien
- Cari rekomendasi tempat wisata Jogja murah
- Atur budget harian

Kalau saya sih, yang penting kamu gak terlalu memaksakan banyak destinasi dalam sehari.

Salah satu sudut Malioboro
Salah satu sudut Malioboro (doc. Riana Dewie)

Dengan konsep itinerary backpacker Indonesia seperti ini, kamu tetap bisa menikmati semua tanpa harus boros.

Akhirnya, dari pengalaman saya sebagai orang Jogja, liburan hemat itu bukan soal mengurangi keseruan, tapi soal pintar mengatur perjalanan. 

Siapa tahu, pengalaman ini juga bisa jadi inspirasi kamu untuk bikin konten atau bahkan masuk ke dunia bisnis dan wirausaha di bidang travel.






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Kuliner Jogja: Sate Kere Bu Sum Beringharjo yang Melegenda

Sate Kere Bu Sum Beringharjo

Kalau lagi jalan-jalan ke Jogja, rasanya gak lengkap kalau belum menyusuri kawasan legendaris seperti Pasar Beringharjo. 

Tempat ini bukan cuma terkenal sebagai pusat batik dan oleh-oleh, tapi juga jadi spot kuliner tradisional yang selalu berhasil bikin kangen.

Di antara banyak pilihan makanan, ada satu yang cukup unik dan punya cerita menarik, yaitu sate kere Bu Sum. 

Namanya mungkin terdengar sederhana, bahkan sedikit “nyeleneh”, tapi justru di situlah daya tariknya. Kuliner ini membuktikan kalau rasa enak gak harus selalu mahal.

Apa Sih Sate Kere Itu?

Sebelum jauh membahas warung Bu Sum, kita kenalan dulu dengan istilah “sate kere”. Dalam bahasa Jawa, kata “kere” berarti miskin atau sederhana. 

Dulu, makanan ini memang identik dengan masyarakat yang ingin tetap menikmati sate, tapi dengan bahan yang lebih terjangkau.

Alih-alih menggunakan daging sapi premium, sate kere biasanya dibuat dari gajih (lemak sapi) atau bagian jeroan tertentu. Meski begitu, jangan salah.... soal rasa, sate ini tetap punya karakter kuat yang khas banget.

Justru karena kesederhanaannya, sate kere jadi bukti kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan seadanya menjadi makanan yang lezat. 

Dan sekarang, statusnya malah naik kelas jadi kuliner legendaris yang banyak diburu wisatawan.

Lorong Warung Bu Sum Beringharjo
Lorong Warung Bu Sum Beringharjo (doc. Riana Dewie)


Warung Bu Sum: Dari Sederhana Jadi Legendaris

Di antara banyak penjual sate kere di Jogja, nama Bu Sum termasuk yang paling dikenal. Warung ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan tetap eksis sampai sekarang. 

Bahkan, banyak orang yang sengaja datang ke Beringharjo hanya untuk mencicipi sate ini.

Lokasinya yang berada di sekitar pasar membuat warung ini selalu ramai, terutama di pagi hari. Banyak pengunjung yang menjadikan sate kere Bu Sum sebagai menu sarapan sebelum melanjutkan aktivitas keliling Jogja.

Meski tempatnya sederhana, suasana yang ditawarkan justru terasa hangat dan autentik. Kamu bisa merasakan langsung kehidupan khas Jogja yang santai, ramah, dan penuh kehangatan.

Kenapa Sate Kere Bu Sum Selalu Dicari?

Ada beberapa alasan kenapa kuliner ini tetap bertahan dan bahkan makin populer dari waktu ke waktu.

1. Rasa yang Konsisten dari Dulu

Salah satu kekuatan utama sate kere Bu Sum adalah cita rasanya yang tetap terjaga. Bumbu yang digunakan meresap sempurna, menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit smoky dari proses pembakaran.

2. Harga yang Bersahabat

Sesuai dengan konsep awalnya, sate kere tetap dikenal sebagai makanan yang ramah di kantong. Ini jadi alasan kenapa semua kalangan bisa menikmatinya, mulai dari warga lokal sampai wisatawan.

Harga bersahabat, rasa nikmat
Harga bersahabat, rasa nikmat (doc. Riana Dewie)

3. Pengalaman Makan yang Autentik

Makan di sini bukan cuma soal kenyang, tapi juga pengalaman. Suasana pasar, aroma sate yang dibakar, hingga interaksi dengan penjual membuat semuanya terasa lebih hidup.

4. Porsi yang Pas untuk Semua

Porsi sate kere biasanya tidak terlalu besar, tapi cukup memuaskan. Cocok banget buat kamu yang ingin kulineran tanpa merasa terlalu kenyang, apalagi kalau masih mau lanjut coba makanan lain.

Sensasi Rasa yang Bikin Balik Lagi

Begitu sate mulai dibakar, aroma khasnya langsung tercium dan bikin perut otomatis lapar. Proses pembakaran dengan arang membuat cita rasa sate jadi lebih autentik dibandingkan metode modern.

Tekstur gajih yang lembut berpadu dengan bumbu yang meresap menciptakan sensasi unik di setiap gigitan. Ada rasa gurih yang dominan, tapi tetap seimbang dengan sentuhan manis dari bumbu kecap.

Biasanya, sate ini disajikan bersama lontong atau nasi, lengkap dengan sambal dan pelengkap sederhana lainnya. Kombinasi ini bikin rasanya makin lengkap dan nikmat.

Lebih dari Sekadar Kuliner

Sate kere Bu Sum bukan cuma soal makanan, tapi juga tentang cerita. Kuliner ini lahir dari keterbatasan, tapi justru berkembang jadi sesuatu yang istimewa.

Di balik setiap tusuk sate, ada nilai budaya, sejarah, dan kreativitas masyarakat lokal. Ini yang membuat sate kere punya makna lebih dibanding sekadar hidangan biasa.

Bahkan, banyak orang yang merasa pengalaman makan sate kere di Beringharjo memberikan kesan tersendiri. Ada nuansa nostalgia, kesederhanaan, dan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Nuansa nostalgia & kebersamaan
Nuansa nostalgia & kebersamaan (doc. Riana Dewie)


Tips Kalau Mau Coba Sate Kere Bu Sum

1. Datang Lebih Pagi

Karena cukup populer, sate kere Bu Sum sering cepat habis. Jadi, sebaiknya datang di pagi hari agar tidak kehabisan.

2. Siapkan Uang Tunai

Seperti kebanyakan warung tradisional, pembayaran biasanya masih menggunakan uang tunai. Jadi, pastikan kamu sudah siap sebelum datang.

3. Jangan Ragu Tanya Menu

Kalau baru pertama kali datang, gak ada salahnya bertanya ke penjual tentang pilihan menu yang tersedia. Mereka biasanya ramah dan siap membantu.

4. Nikmati Suasananya

Jangan buru-buru. Luangkan waktu untuk menikmati suasana sekitar agar pengalaman kuliner kamu terasa lebih lengkap.
***
Nah, seenak ini ternyata Sate Kere Bu Sum. Pokoknya gak rugi jajan di sini, aneka sate menunggumu sampai kamu kenyang maksimal. Hihihi ... Yuk mampir kalau kamu pas liburan ke Jogja :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Situs Brongsongan Borobudur: Jejak Sejarah Tersembunyi

situs brongsongan borobudur tampak depan

Kalau bicara soal Borobudur, kebanyakan orang pasti langsung kepikiran candi megah yang mendunia. Tapi jujur aja, saya sih justru makin penasaran sama tempat-tempat yang jarang dilirik di sekitarnya. 

Nah, salah satunya adalah Situs Brongsongan Borobudur, sebuah cagar budaya yang masih tersembunyi dan belum banyak diketahui wisatawan.

Oh ya, pertama kali saya dengar tentang tempat ini dari obrolan santai dengan beberapa teman yang suka traveling, dan sejak itu rasanya pengin banget eksplor sendiri. 

Ternyata, situs ini punya cerita sejarah yang cukup dalam, tapi suasananya tetap tenang dan jauh dari keramaian. Buat saya, ini sih definisi hidden gem yang sesungguhnya. 

Karena beneran, letaknya tuh jauh ke dalam desa, dan kamu harus jalan kaki melewati kebun dan sawah-sawah. 

Ini bukan cuma soal sejarah, tapi juga pengalaman personal saat mengunjungi tempat yang terasa “berbeda”. Hihihihi… kadang justru tempat seperti ini yang bikin perjalanan jadi lebih berkesan.

Ya, saya beruntung karena akhirnya bisa menjejakkan kaki di tempat bersejarah ini bersama teman-teman lainnya. 

peninggalan sejarah di brongsongan
Peninggalan sejarah di Brongsongan (doc. Riana Dewie)


Mengenal Situs Brongsongan Borobudur Lebih Dekat

Apa Itu Situs Brongsongan?

Situs Brongsongan merupakan salah satu situs bersejarah di Magelang yang masuk dalam kawasan wisata Borobudur. 

Menurut saya, tempat ini termasuk dalam kategori situs purbakala Indonesia yang menyimpan peninggalan kerajaan kuno, meskipun bentuknya gak semegah candi utama.

Secara fisik, situs ini terdiri dari susunan batu dan struktur kuno yang diduga merupakan bagian dari bangunan masa lampau. Look-nya masih sederhana banget!

Kalau diperhatikan lebih dekat, kita bisa melihat pola batu yang khas dan nuansa arkeologi Jawa Tengah yang cukup kuat.

Oh ya, walaupun terlihat sederhana, nilai sejarah situs ini justru tinggi banget. Ini sih yang bikin saya makin penasaran setiap melihat detail kecil di sana.

wisata sejarah borobudur selain candi
Wisata sejarah borobudur selain candi (doc. Riana Dewie)


Lokasi dan Letak Geografis

Lokasi situs Brongsongan Magelang berada gak jauh dari kawasan utama Borobudur. Aksesnya cukup mudah, meskipun memang belum terlalu ramai dikunjungi wisatawan.

Lingkungan sekitarnya masih asri, dengan suasana desa yang tenang dan alami. Buat saya sih, ini justru jadi nilai plus karena kita bisa menikmati suasana tanpa hiruk pikuk.

Sebagai salah satu cagar budaya di sekitar Borobudur, tempat ini cocok banget buat yang ingin eksplor destinasi wisata sejarah Jogja-Magelang yang lebih santai.

Jalan menuju Situs Brongsongan
Jalan menuju Situs Brongsongan (doc. Riana Dewie)


Sejarah dan Asal Usul Situs Brongsongan

Jejak Sejarah yang Tersisa

Kalau ngomongin sejarah situs Brongsongan, si pemandu wisata menginformasikan bahwa tempat ini merupakan bagian dari peninggalan kerajaan kuno pada masa Hindu-Buddha. 

Hal ini terlihat dari struktur batu dan pola bangunan yang mirip dengan situs lain di kawasan Borobudur.

Sejarah Borobudur sendiri memang gak bisa dipisahkan dari keberadaan situs-situs kecil di sekitarnya. memang relate banget ya!

Jadi, kemungkinan besar Situs Brongsongan Borobudur ini punya peran sebagai bagian dari kompleks atau jaringan peradaban masa lalu.

Oh ya, saya sempat mikir, sebenarnya situs Brongsongan Borobudur ada apa saja sih? Ternyata bukan cuma batu biasa, tapi juga jejak kehidupan masa lampau yang masih tersisa sampai sekarang.

Penemuan dan Penelitian Arkeologi

Dalam dunia arkeologi Jawa Tengah, situs seperti ini biasanya ditemukan melalui penelitian bertahap. Situs Brongsongan sendiri sudah mulai dikenal dan diteliti oleh pihak terkait, meskipun belum sepopuler situs lain.

Peran pemerintah dan arkeolog penting banget dalam menjaga pelestarian cagar budaya seperti ini. Hahahaha… pernah gak sih kepikiran, kalau gak ada mereka, mungkin situs seperti ini sudah hilang ditelan zaman.

Menariknya, masih ada beberapa bagian yang belum sepenuhnya terungkap. Ini sih yang bikin sejarah lengkap situs Brongsongan Magelang jadi terasa penuh misteri.

Salah satu arca menarik di Situs Brongsongan
Salah satu arca menarik di Situs Brongsongan (doc. Riana Dewie)


Daya Tarik Situs Brongsongan yang Jarang Diketahui

Suasana Tenang dan Anti-Mainstream

Salah satu daya tarik situs Brongsongan yang saya suka adalah suasananya yang tenang. Gak banyak wisatawan yang datang, jadi saya pribadi bisa menikmati tempat ini dengan lebih santai.

Oh ya, menurut saya sih ini cocok banget buat yang suka eksplor tempat wisata tersembunyi di Borobudur tanpa keramaian.

Nilai Edukasi dan Sejarah

Selain itu, situs ini juga punya nilai edukasi yang tinggi. Saya sih jadi bisa langsung belajar tentang peninggalan sejarah di Brongsongan tanpa harus membaca buku tebal.

Ini termasuk wisata edukasi Magelang yang cocok untuk semua usia. Apalagi kalau kamu tertarik dengan sejarah dan arkeologi, tempat ini pasti menarik.

Arca lainnya yang bernilai sejarah tinggi
Arca lainnya yang bernilai sejarah tinggi (doc. Riana Dewie)


Spot Foto Unik Bernuansa Klasik

Jangan salah, meskipun sederhana, situs ini punya spot foto yang estetik. Nuansa batu kuno dan lingkungan alami menciptakan suasana klasik yang unik.

Oh ya, buat kamu yang suka fotografi, ini sih bisa jadi tempat eksplor yang menarik banget.

Sebagai wisata sejarah Borobudur selain candi, tempat ini benar-benar menawarkan pengalaman berbeda.


Akses, Tips Berkunjung, dan Pentingnya Pelestarian

Cara Menuju Situs Brongsongan

Cara menuju situs Brongsongan dari Candi Borobudur sebenarnya cukup mudah. Jaraknya gak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau ojek lokal.

Akses menuju situs Brongsongan ini memang belum terlalu ramai, tapi justru itu yang bikin pengalaman jadi lebih seru.

Tips Berkunjung Agar Lebih Maksimal

- Datang pagi atau sore biar gak terlalu panas. Kemarin say kesana pas panas-panasnya, sekitar jam 10 pagi. 
- Pakai alas kaki yang nyaman. Saran saya pakai sepatu kets yaa karena harus berjalan jauh dari tempat parkir kendaraan. 
- Jaga kebersihan dan sikap selama di lokasi. 

Oh ya, hal kecil seperti ini penting banget sih supaya pengalaman tetap nyaman.

suasana lokasi situs brongsongan borobudur
Suasana lokasi situs Brongsongan Borobudur (doc. Riana Dewie)


Pentingnya Menjaga Cagar Budaya

Sebagai warisan budaya Indonesia, situs ini perlu dijaga bersama. Pelestarian cagar budaya bukan cuma tugas pemerintah, tapi juga kita sebagai pengunjung.

Oh ya, saya pribadi selalu berusaha gak merusak atau mengambil apapun dari lokasi. Karena kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?

***

Situs Brongsongan Borobudur mungkin memang belum sepopuler destinasi lain di kawasan Borobudur. 

Tempat ini menawarkan pengalaman yang lebih tenang, lebih personal, dan tentunya lebih bermakna.

Sebagai informasi, foto-foto situs ini saya capture di tahun 2021. Jadi, saat artikel ini dibaca, mohon maklum jika kemungkinan sudah ada pemugaran dan situasinya berbeda. 

Buat saya, mengunjungi situs seperti ini bukan cuma soal jalan-jalan, tapi juga tentang memahami sejarah dan menghargai warisan budaya. 

Jadi, kalau kamu bosan dengan wisata yang itu-itu aja, mungkin ini saatnya mencoba sesuatu yang berbeda. Ya, itung-itung ikut melestarikan salah satu cagar budaya di Indonesia. 

Oh ya, siapa tahu dari kunjungan sederhana ini, kamu malah menemukan cerita yang gak terlupakan. 😊



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal Notes

Dari Seekor Burung Pelikan di Gembiraloka, Saya Belajar Tentang Kasih Tanpa Pamrih

Makna Burung Pelikan


Hari itu cuaca cerah banget, badan juga lagi enak dan segar. Saya memang lagi pengen healing ringan sambil lihat pepohonan hijau, danau, dan hewan-hewan lucu. 

Kebetulan juga lagi libur, jadi rasanya pas banget buat keluar sebentar dari rutinitas.

Oh ya, saya sengaja pilih datang di hari kerja biar suasananya gak terlalu ramai. 

Dan ternyata bener sih, pas sampai sana suasananya cukup lengang, jadi rasanya lebih tenang dan benar-benar bisa menikmati setiap sudutnya.

Saya jalan santai, lihat satu per satu hewan yang ada di sana. Kadang saya ajak “ngobrol”, kadang cuma diam sambil memperhatikan gerak-geriknya. 

Hihihihi… mungkin terdengar aneh, tapi menurut saya itu cara sederhana buat merasa lebih dekat dengan alam.

Pertemuan Tak Terduga di Gembira Loka Zoo

Sampai akhirnya saya melihat burung pelikan di Gembira Loka Zoo. Kesan pertama saya? Lucu… tapi juga unik dan sedikit aneh.

Paruhnya besar banget, dengan kantong di bawahnya yang terlihat seperti tas kecil. Cara berdirinya tenang, jalannya pelan, dan ekspresinya seperti “diam tapi penuh cerita”. Ada rasa damai yang aneh waktu saya melihatnya.

Oh ya, dari situ saya mulai sadar, mungkin ini bukan sekadar burung biasa. Awalnya saya cuma menganggapnya lucu, tapi ternyata ada makna burung pelikan yang jauh lebih dalam…


Keunikan Burung Pelikan yang Bikin Saya Terpikat

Di Gembira Loka Zoo sendiri ada banyak banget hewan. Saya mencoba berinteraksi dengan beberapa yang bisa saya jangkau. Ada yang saya panggil, saya ajak ngobrol, bahkan saya foto-foto juga.

Kalau saya sih kadang berpikir, mereka itu seperti hidup di satu tempat dalam waktu lama. Mungkin ada rasa jenuh, walaupun mereka gak bisa mengungkapkan. Jadi, saya mencoba hadir sebentar buat “menyapa” mereka.

Burung Pelikan warna pink
Burung Pelikan warna pink (doc. Riana Dewie)

Nah, waktu sampai di area pelikan, saya melihat beberapa jenis dengan warna bulu yang berbeda. Ada yang putih bersih, ada yang agak gelap, bahkan ada yang sedikit bernuansa pink. Menurut saya, ini salah satu keunikan burung pelikan yang bikin mereka terlihat elegan sekaligus menarik.

Ciri-Ciri Burung Pelikan yang Ikonik

Salah satu ciri-ciri burung pelikan yang paling mencolok tentu saja paruhnya yang besar dengan kantong di bawahnya. Selain itu, tubuhnya juga cukup besar, tapi gerakannya tetap kalem.

Warna bulunya pun beragam. Yang putih terlihat bersih dan anggun, yang gelap terlihat lebih tegas, sementara yang pink memberi kesan unik dan berbeda.

Oh ya, dari segi penampilan saja, sebenarnya sudah bisa terlihat kalau burung ini punya karakter yang “tenang tapi kuat”.

Perilaku Burung Pelikan yang Menenangkan

Kalau diperhatikan lebih lama, perilaku burung pelikan ini cenderung diam dan mengamati. Mereka gak banyak bergerak, tapi setiap gerakannya terasa terukur.

Mereka juga terlihat gak agresif. Justru ada kesan sabar dan santai. Kadang mereka berdiri berdekatan, seolah menikmati kebersamaan.

Kalau saya sih merasa, melihat mereka itu seperti diingatkan untuk gak selalu terburu-buru dalam hidup.

Burung pelikan cenderung diam dan mengamati
Burung pelikan cenderung diam dan mengamati (doc. Riana Dewie)


Cara Makan yang Unik

Salah satu fakta burung pelikan yang menarik adalah cara makannya. Mereka menggunakan kantong di paruhnya untuk menangkap ikan, lalu menyimpannya sebelum dimakan.

Dari sini saya mulai berpikir, mungkin ini juga bisa jadi simbol. Menyimpan, lalu memberi. Ada proses yang tenang di dalamnya.

Dan dari situlah saya mulai memahami arti burung pelikan lebih dalam…


Filosofi Burung Pelikan: Simbol Kasih Tanpa Pamrih

Banyak yang bertanya, sebenarnya pelikan simbol apa sih?

Ternyata dalam beberapa budaya, simbol burung pelikan sering dikaitkan dengan pengorbanan dan kasih sayang.

Simbol Pengorbanan

Pelikan dikenal sebagai simbol pengorbanan. Ada cerita yang menggambarkan bahwa pelikan rela memberi untuk anaknya tanpa pamrih.

Oh ya, walaupun ini lebih ke simbolik, tapi maknanya terasa dekat banget dengan kehidupan manusia.

Memberi tanpa banyak bicara. Memberi tanpa berharap balasan. Itu yang bikin saya cukup tersentuh saat memikirkan hal ini.

Burung Pelikan simbol kasih sayang yang tulus
Burung Pelikan simbol kasih sayang yang tulus (doc. Riana Dewie)

Kasih Sayang yang Tulus

Makna lain dari makna burung pelikan adalah tentang kasih sayang yang tulus, atau istilahnya unconditional love.

Ini mengingatkan saya pada orang tua, atau siapa pun yang pernah memberi tanpa syarat.

Hahahaha… kadang kita baru sadar betapa berharganya itu setelah kita sendiri merasakannya.

Kesabaran dalam Kehidupan

Pelikan juga mengajarkan kesabaran. Mereka menunggu saat yang tepat untuk menangkap makanan.

Ini seperti pengingat bahwa gak semua hal harus dilakukan dengan cepat. Ada waktunya kita harus diam, menunggu, dan percaya pada proses.


Refleksi Sederhana yang Saya Bawa Pulang

Tentang Memberi Tanpa Pamrih

Saya jadi berpikir, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali memberi dengan harapan tertentu.

Padahal, mungkin yang lebih indah adalah memberi dengan tulus. Tanpa pamrih. Tanpa hitungan.

Oh ya, ini juga jadi pengingat kecil buat saya pribadi untuk lebih ikhlas dalam melakukan sesuatu.

Tentang Melihat Makna dari Hal Sederhana

Kadang kita mencari makna kehidupan di tempat yang jauh, padahal bisa jadi jawabannya ada di hal-hal sederhana.

Seperti bertemu burung pelikan lucu di kebun binatang.

Bahkan dari sana, kita bisa mendapatkan pelajaran hidup dari hewan dan memahami filosofi kehidupan dari alam.

Filosofi Kehidupan dari alam
Filosofi Kehidupan dari alam (doc. Riana Dewie)


Pelajaran yang Masih Saya Ingat Sampai Sekarang

Setelah pulang, saya masih kepikiran pengalaman itu. Bahkan sebagai seorang yang aktif menulis seperti blogger Surabaya, saya merasa pengalaman ini layak dibagikan dalam tulisan. 

Oh ya, sejak saat itu saya mulai percaya bahwa alam selalu punya cara sederhana untuk mengajarkan hal besar.

Dan mungkin, lain kali kalau saya kembali, saya ingin merasakan lagi momen itu… atau bahkan mencoba memberi makan hewan dengan cara yang lebih sadar dan penuh rasa. 

Eh, tapi gak boleh ding yaa ngasih makan hewan di kebun binatang :(







Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Gua Maria Metes Bantul: Tempat Ziarah Tenang dan Sejuk di Yogyakarta

Gua Maria Metes Bantul

Saya mengenal Gua Maria Metes Bantul baru sekitar dua tahun terakhir. Sebelumnya, saya cuma sering lihat story Instagram teman-teman yang lagi ziarah di sana. 

Dalam hati saya sempat mikir, “Kok ada tempat doa sejuk banget kayak gini?” Eh ternyata, kata mereka, lokasinya gak jauh dari rumah. Hihihihi… saya langsung penasaran dong.

Oh ya, saya sendiri memang tipe orang yang kalau lagi capek atau pikiran penuh, lebih suka cari tempat yang tenang dibanding tempat ramai. Karena jujur aja, tempat yang hening tuh bisa bikin hati jauh lebih lega.

Akhirnya saya coba datang ke sana, dan ternyata benar, suasananya tuh beda. Adem, tenang, dan bikin saya betah berlama-lama. Tempat ini berada di Bantul, Yogyakarta, dan cocok banget buat kamu yang lagi cari tempat refleksi diri.

Akses jalan masuk menuju Gua Maria Metes
Akses jalan masuk menuju Gua Maria Metes (doc. Riana Dewie)


Mengenal Gua Maria Metes, Tempat Doa yang Penuh Kedamaian

Dan betul, setelah saya cek map, ternyata Gua Maria Metes Bantul ini gak jauh dari rumah saya. Bahkan cuma sekitar 25 menit perjalanan. Kalau dipikir-pikir, ini justru gua Maria terdekat yang pernah saya tahu sih.

Oh ya, yang menarik dari tempat ini adalah suasananya yang masih alami dan belum terlalu ramai, jadi terasa seperti hidden gem Bantul.

Lokasi dan Akses Menuju Gua Maria Metes

Untuk lokasi Gua Maria Metes Bantul, alamatnya berada di: Metes, Argorejo, Kec. Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Akses Gua Maria Metes dari Yogyakarta cukup mudah, sekitar 20–30 menit perjalanan. Rute ke Gua Maria Metes Bantul bisa diikuti lewat Google Maps, dan jalannya bisa dilalui motor maupun mobil.

Oh ya, kalau saya sih lebih nyaman pakai motor karena jalannya ada beberapa bagian yang agak sempit.

Sejarah Singkat Gua Maria Metes

Berdasarkan sejarah Gua Maria Metes, tempat ini dulunya merupakan area hutan alami. Lalu perlahan dikembangkan menjadi taman doa oleh masyarakat sekitar.

Pembangunannya dilakukan bertahap, dari sederhana hingga menjadi tempat ziarah yang nyaman seperti sekarang. Fungsinya sebagai tempat ziarah Katolik di Yogyakarta sekaligus ruang refleksi diri dan doa.

Gua Maria Metes
Gua Maria Metes (doc. Riana Dewie)


Daya Tarik Gua Maria Metes yang Bikin Hati Adem

Suasana Alam yang Sejuk dan Asri

Begitu sampai, saya langsung merasakan udara yang segar. Pepohonan rindang dan suasana alami bikin tempat ini terasa damai.

Oh ya, di sini juga ada aliran air seperti air terjun kecil. Saat musim hujan, airnya mengalir deras. Tapi saat kemarau, memang gak ada air. Walaupun begitu, tetap terasa sejuk sih.

Tempat ini dulunya seperti hutan, lalu dikembangkan jadi taman doa yang tetap mempertahankan nuansa alaminya.

Spot Doa dan Refleksi yang Hening

Patung Bunda Maria dengan para malaikatnya yang "mengintip"
Patung Bunda Maria dengan para malaikatnya yang "mengintip" (doc. Riana Dewie)

Di area utama terdapat gua dengan patung Bunda Maria. Tersedia juga tempat duduk untuk berdoa.

Yang unik, patung Bunda Maria di sini dikelilingi malaikat-malaikat kecil yang seolah “mengintip”. Simbol ini menggambarkan kesakralan dan ketenangan.

Oh ya, saya sempat duduk cukup lama di sini, dan rasanya hati jadi lebih ringan.

Nuansa Spiritual yang Kuat dan Menenangkan

Sebagai gua Maria tempat doa umat Katolik, tempat ini punya suasana yang sangat mendukung untuk doa rosario di gua Maria, meditasi, atau refleksi diri.

Tersedia gazebo untuk beristirahat dan air minum bagi pengunjung.

Kalau saya sih biasanya datang tanpa rencana, duduk saja, dan menikmati suasana. Hahahaha… sederhana tapi bermakna.

Menikmati Suasana Gua Maria Metes
Menikmati Suasana Gua Maria Metes (doc. Riana Dewie)


Fasilitas dan Informasi Penting untuk Pengunjung

Fasilitas yang Tersedia

Fasilitas Gua Maria Metes cukup sederhana namun memadai. Area parkir tersedia untuk motor dan mobil.

- Parkir mobil tersedia dekat pintu masuk (kapasitas terbatas)
- Parkir motor lebih fleksibel dan luas
- Akses jalan kaki dari parkiran ke gua cukup dekat

Oh ya, biaya parkir biasanya sukarela atau donasi. Kisaran motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000.

Jam Buka dan Tiket Masuk

Jam buka Gua Maria Metes adalah 24 jam setiap hari.

Tiket masuk Gua Maria Metes Bantul gratis. Tidak ada biaya resmi, hanya donasi sukarela untuk perawatan.

Oh ya, waktu terbaik berkunjung sih pagi atau sore hari karena lebih adem.


Tips Berkunjung ke Gua Maria Metes Biar Lebih Nyaman

Waktu Terbaik untuk Datang

Pagi dan sore adalah waktu terbaik karena suasana lebih sejuk. Malam hari juga cocok untuk doa yang lebih hening.

Etika Saat Berkunjung ke Tempat Ziarah

Karena ini wisata religi di Bantul, penting untuk menjaga ketenangan, berpakaian sopan, dan menghormati pengunjung lain.

Menjaga Ketenangan selama ziarah di Gua Maria Metes  (doc. Riana Dewie)


Persiapan Sebelum Berangkat

Bawa air minum, gunakan alas kaki nyaman, dan siapkan diri untuk berjalan sedikit.

Oh ya, jangan lupa bawa hati yang tenang juga ya.

Setiap kali datang ke Gua Maria Metes Bantul, saya selalu merasa lebih adem dan seperti di-reset kembali.

Tempat ini bukan sekadar wisata spiritual Jogja, tapi juga ruang untuk menemukan diri sendiri.

Saya sudah, kamu kapan?


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Bangun Pagi dengan Kabut: Balkondes Ngargogondo Borobudur

Balkondes Ngargogondo Borobudur

Malam sudah turun sepenuhnya saat saya tiba di kawasan Ngargogondo, tak jauh dari Candi Borobudur. 

Jalanan mulai sepi, hanya suara angin yang sesekali menyapu pepohonan dan menciptakan suasana yang entah kenapa terasa sedikit… misterius. 

Udara dingin langsung menyambut begitu saya turun dari mobil yang membawa saya dan kawan-kawan. Bukan sekadar sejuk biasa, tapi dingin yang pelan-pelan merayap dan bikin merinding halus.

Oh ya, ini adalah pengalaman pertama saya menginap di Balkondes Ngargogondo Borobudur, jadi wajar kalau rasa penasaran bercampur sedikit deg-degan. 

Mau tahu suasana penginapan ini? Kayaknya kamu wajib baca ini sampai selesai deh!


Pengalaman Pertama Tiba di The Gade Village Balkondes Ngargogondo

Brrrrr.... dingin poll, sumpah. Kayaknya ini adalah satu-satunya tempat penginapan terdingin yang pernah saya datangi. 

Di tengah temaram lampu desa, saya mulai bertanya-tanya dalam hati: seperti apa ya kamar yang akan saya tempati nanti? Apakah hangat dan nyaman, atau justru dingin menusuk seperti udara di luar?

Pendopo saat pertama kali kami datang di The Gade Village
Pendopo saat pertama kali kami disapa ramah di The Gade Village (doc. Riana Dewie)

Saya bahkan belum tahu akan dapat kamar di bagian mana, dekat area utama atau justru agak tersembunyi. 

Semua terasa samar, penuh rasa penasaran yang bercampur dengan sedikit ketegangan, seolah malam itu sengaja menyimpan cerita yang belum siap diungkap. 

Kalau saya sih jujur agak overthinking di awal, hahahaha....

Akses Lokasi yang Mudah dari Kawasan Candi Borobudur

Untuk menuju The Gade Village Balkondes Ngargogondo, aksesnya cukup mudah dari kawasan Candi Borobudur. Perjalanan hanya sekitar 10–15 menit menggunakan kendaraan. 

Rutenya melewati jalan desa yang cukup mulus, dengan pemandangan sawah di kanan kiri. Meski malam hari terasa agak sepi, tapi arah jalannya jelas dan mudah diikuti melalui Google Maps. 

Ini jadi salah satu keunggulan sebagai penginapan dekat Candi Borobudur yang praktis dijangkau.

Proses Check-in dan Sambutan Hangat

Oh ya, meskipun suasananya dingin dan agak misterius, para staf di sini justru menyambut dengan hangat dan ramah. 

Mereka menjelaskan detail lokasi kamar, fasilitas, hingga area sekitar dengan sangat jelas. Bahkan kami diantar langsung ke kamar masing-masing. 

Pelayanannya sih menurut saya cukup memuaskan untuk ukuran homestay desa.


Suasana Menginap di Tengah Alam yang Menenangkan

Balkondes Ngargogondo “The Gade Village” merupakan salah satu balai ekonomi desa dengan konsep penginapan suasana desa Borobudur yang kental dengan nuansa alam.

Ruangan dipenuhi dengan pernak-pernik kayu
Ruangan dipenuhi dengan pernak-pernik kayu (doc. Riana Dewie)

Desain Interior Bernuansa Alam dan Kayu

Yang bikin saya kagum, ruang tidurnya benar-benar dipercantik dengan desain kayu dan anyaman bambu. Nuansanya rustic modern, hangat, natural, dan ramah lingkungan. 

Elemen kayu ini memberikan kesan nyaman sekaligus estetik. Cocok banget buat yang suka penginapan bernuansa tradisional.

Dikelilingi Sawah dan Gunung yang Menyejukkan Mata

Ini enak banget sih. Begitu bangun tidur, saya keluar dari kamar dan langsung disambut suasana pagi berkabut. 

Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin, dengan latar pegunungan yang bikin hati adem. Duduk santai di teras sambil ngobrol dengan teman di kamar sebelah jadi momen sederhana tapi berkesan. 

Rasanya seperti tinggal di desa sendiri, dikelilingi sawah hijau dan udara segar khas pedesaan.

Oh ya, momen bangun pagi dengan kabut ini jadi highlight favorit saya selama di sini.

Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin
Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin (doc. Riana Dewie)


Malam Hari yang Tenang, Jauh dari Kebisingan Kota

Kalau ditanya senyaman apa suasana malam di sana? Sunyi banget. Gak ada suara kendaraan, hanya jangkrik yang menemani. 

Buat yang penakut mungkin agak deg-degan, apalagi satu kamar untuk satu orang. Tapi saya sih justru merasa nyaman. Mungkin karena suasana alamnya positif dan bikin hati lebih tenang.


Cerita 4 Hari Menginap: Mencari Pengalaman Baru

Selama pengalaman menginap 4 hari di sini, banyak aktivitas menarik yang kami lakukan. Mulai dari wisata kuliner, budaya, hingga eksplorasi alam. 

Kawasan Borobudur memang kaya akan sejarah dan budaya, jadi setiap hari selalu ada cerita baru.

Menjelajah Desa dan Interaksi dengan Warga Lokal

Kami sempat mengunjungi pusat gerabah dan berkeliling desa menggunakan mobil VW warna-warni yang lucu banget. Sesekali berhenti di tengah sawah untuk foto-foto, lalu lanjut ke tempat kuliner khas Jawa.

Oh ya, kami juga sempat ke tempat produksi kopi luwak dan bisa berinteraksi langsung dengan luwaknya, seru banget, hihihihi.... Pengalaman seperti ini jarang saya temui di kota.

Ini luwaknya, cakep kan?
Ini luwaknya, cakep kan? (doc. Riana Dewie)


Fasilitas dan Kenyamanan di The Gade Village Balkondes

Kamar dengan Nuansa Tradisional yang Nyaman

Kamar di sini cukup nyaman dengan fasilitas dasar seperti AC, TV, dan kamar mandi air panas. Meski sederhana, tapi bersih dan rapi.

Area Terbuka untuk Bersantai dan Healing

Area luar penginapan luas dan asri, cocok untuk duduk santai atau sekadar menikmati pemandangan gunung dari penginapan.

Area luar penginapan luas dan asri
Area luar penginapan luas dan asri (doc. Riana Dewie)


Fasilitas Pendukung yang Cukup Lengkap

Tersedia area parkir, ruang makan, dan sarapan sederhana. Untuk ukuran homestay di Borobudur view gunung, fasilitas ini sudah cukup memadai.

Harga Worth It

Oh ya, untuk harga Balkondes Ngargogondo, kisarannya sekitar Rp400.000 – Rp500.000 per malam. Dengan harga tersebut, kamu sudah mendapatkan fasilitas lengkap, suasana desa, serta view pegunungan Menoreh. 

Menurut saya sih ini termasuk Balkondes terbaik di Borobudur dengan harga yang masih terjangkau.


Kenapa Balkondes Ngargogondo Cocok untuk Healing?

Jauh dari Hiruk Pikuk Kota

Lokasinya yang berada di desa membuat suasana benar-benar tenang. Cocok untuk kamu yang ingin kabur sejenak dari rutinitas kota.

Suasana Alam yang Membantu Recharge Energi

Udara segar, kabut pagi, dan suasana alami benar-benar membantu recharge energi. Ini adalah definisi healing di alam terbuka yang sesungguhnya.

Cocok untuk Staycation atau Quality Time

Tempat ini ideal untuk staycation di desa wisata, work from anywhere, atau sekadar menikmati waktu bersama diri sendiri.

Balkondes Ngargogondo The Gade Village
Balkondes Ngargogondo The Gade Village (doc. Riana Dewie)

Pengalaman Sederhana yang Sulit Dilupakan

Refleksi dari 4 hari ini benar-benar menyenangkan. Saya merasa lebih fresh dan punya energi baru setelah menikmati suasana sejuk dan asri di sini. 

Interaksi dengan alam dan warga lokal memberikan pengalaman yang berbeda dari biasanya.

Oh ya, kalau kamu sedang mencari penginapan dengan suasana alam di Borobudur, saya sangat merekomendasikan The Gade Village Balkondes Ngargogondo. 

Tempat ini bukan hanya soal menginap, tapi juga soal merasakan hidup yang lebih sederhana dan tenang.

menikmati suasana sejuk dan asri
Menikmati suasana sejuk dan asri (doc. Riana Dewie)


Saatnya perpisahan pun tiba, meski jujur kami gak ingin pulang. 

Ada rasa ingin mengulang lagi semua momen ini. Ah, kapan ya bisa ke sini lagi? Semoga suatu saat nanti, di waktu yang tepat 😊



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Enam Langit by Plataran Borobudur: Pengalaman Sarapan dengan View Gunung

pemandangan sunrise di Enam Langit by Plataran Borobudur dari atas bukit

Kira-kira di bulan Juni 2021, saya berkesempatan datang ke Enam Langit by Plataran Borobudur saat mengikuti event Konferensi Sound of Borobudur. Dari sekian banyak venue yang kami kunjungi selama 5 hari, tempat ini jadi salah satu yang paling membekas.

Awalnya, saya pikir ini cuma tempat biasa dengan pemandangan hijau khas perbukitan. Tapi begitu sampai… wah, ternyata luar biasa. Banyak spot estetik yang bikin saya benar-benar speechless.

Oh ya, jujur saja saya gak berekspektasi tinggi sebelumnya, tapi ternyata justru itu yang bikin pengalaman ini terasa lebih spesial.

Kalau kamu penasaran seperti apa rasanya sarapan dengan pemandangan gunung dari atas bukit, yuk ikuti cerita saya ini…


Pengalaman Pertama ke Enam Langit Saat Subuh

Perjalanan dimulai sangat pagi, bahkan bisa dibilang masih gelap gulita. Saya dan rombongan yang menginap di The Gade Village sudah bersiap sejak sebelum jam 4 pagi.

Oh ya, mandi pagi di udara dingin kaki perbukitan Menoreh itu pengalaman tersendiri sih—antara segar dan menggigil jadi satu.

Sekitar jam 4.15, kami berangkat menggunakan mini bus. Jalan menuju lokasi ternyata cukup menanjak dan berliku. Sepanjang perjalanan, suasana masih sepi, hanya lampu kendaraan yang menemani.

Sampai di Enam Langit by Plataran Borobudur masih gelap
Sampai di Enam Langit by Plataran Borobudur masih gelap (doc. Riana Dewie)

Sesampainya di Enam Langit by Plataran sekitar pukul 5 kurang, suasana masih gelap. Udara dingin langsung menyambut, dan tempatnya terasa tenang banget.

Awalnya memang belum terlihat apa-apa. Tapi perlahan… langit mulai berubah warna.

Dan saat cahaya mulai muncul, satu hal yang langsung terlintas di kepala saya: “Ini sih bukan tempat biasa…”


Menikmati Sarapan dengan View Gunung yang Memukau

Momen Sunrise yang Bikin Speechless

Perubahan langit dari gelap ke terang benar-benar magis. Gunung-gunung mulai terlihat satu per satu, menciptakan view alam Borobudur dari atas yang luar biasa indah.

Saya yang biasanya gak terlalu suka live, tiba-tiba langsung buka Instagram dan mulai siaran. Dan lucunya, banyak teman yang langsung join dan bertanya, “Kamu lagi di mana? Kok bagus banget?”

Dengan bangga saya jawab dong… hihihihi… jarang-jarang bisa pamer view seperti ini.

Oh ya, momen menikmati sunrise dari ketinggian seperti ini benar-benar bikin saya sadar kalau Indonesia punya banyak hidden gem dekat Borobudur yang luar biasa.

spot foto terbaik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan latar gunung dan langit
Spot foto terbaik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan latar gunung dan langit (doc. Riana Dewie)


Suasana Sarapan yang Tenang dan Eksklusif

Setelah matahari mulai naik, suasana jadi makin hangat tapi tetap sejuk. Tempat ini punya ambience yang tenang, nyaman, dan terasa premium.

Selain view gunung yang menjulang, saya juga sempat melihat kolam renang di depan resto yang terlihat segar banget.

Kalau saya sih, rasanya pengin sekalian nginep dan menikmati semua fasilitasnya.

Sarapan dengan pemandangan gunung seperti ini jelas bukan pengalaman biasa. Ini lebih ke pengalaman makan di atas bukit yang lengkap; view, udara, dan suasana semuanya menyatu.

Oh ya, hampir setiap sudut di sini juga cocok banget buat spot foto instagramable di Borobudur.

Dan tentu saja… makanan saya foto dulu sebelum dimakan. Itu wajib sih. Hahahaha…


Menu dan Harga Enam Langit by Plataran

Pilihan Menu Sarapan yang Disajikan

menu sarapan estetik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan konsep picnic breakfast
Menu sarapan estetik di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan konsep picnic breakfast (doc. Riana Dewie)

Menu di sini disajikan dalam bentuk paket, bukan à la carte. Konsepnya lebih ke picnic breakfast yang estetik.

Isi menunya cukup lengkap, mulai dari hidangan utama seperti nasi goreng, ayam, atau sate, hingga pendamping seperti telur, sambal, dan buah. Ada juga minuman hangat dan jus segar.

Menunya kombinasi antara tradisional Indonesia dan internasional, jadi cocok untuk berbagai selera.

Dari segi rasa, menurut saya enak dan cukup berkelas. Tapi yang paling menonjol tetap pengalaman makan dengan panorama pegunungan.

Plating-nya juga cantik banget: rapi, estetik, dan Instagramable. Vibes-nya seperti fine dining tapi di alam terbuka.

Harga dan Sistem Reservasi

Untuk harga Enam Langit Borobudur, memang tergolong premium.

Kisaran paket sarapan sekitar Rp300.000 – Rp500.000 per orang, sudah termasuk makanan, minuman, dan akses view eksklusif.

Oh ya, harga ini bisa berubah tergantung hari dan paket yang dipilih.

Reservasi di sini wajib, karena kapasitas terbatas dan banyak yang datang khusus untuk sunrise di Enam Langit Borobudur.

Tanpa booking, kemungkinan besar kamu gak akan dapat tempat.

- Booking minimal H-3
- Pilih slot sunrise
- Minta spot outdoor
- Datang tepat waktu

Kalau saya sih, lebih baik effort di awal daripada menyesal karena gak dapat view terbaik.


suasana sarapan di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan panorama pegunungan
Suasana sarapan di Enam Langit by Plataran Borobudur dengan panorama pegunungan (doc. Riana dewie)


Lokasi, Akses, dan Tips Berkunjung

Lokasi Enam Langit di Area Borobudur

Lokasi Enam Langit Borobudur berada di kawasan perbukitan Menoreh, tepatnya di Desa Candirejo.

Dari Candi Borobudur, jaraknya sekitar 15–20 menit berkendara.

Akses menuju lokasi memang menanjak, tapi justru itu yang membuat tempat ini terasa eksklusif.

View yang ditawarkan bukan hanya satu gunung, tapi beberapa sekaligus. Inilah yang membuatnya jadi restoran dengan view gunung di Borobudur yang unik.


Worth It Gak Sarapan di Enam Langit?

Kalau ditanya worth it atau gak?

Jawaban saya: worth it.

Dari awal datang sampai selesai, yang saya rasakan bukan sekadar sarapan, tapi sebuah pengalaman.

Mulai dari perjalanan subuh, suasana pagi yang tenang dan sejuk, sampai menikmati makanan dengan view terbaik, semuanya terasa spesial.

Oh ya, ada satu momen di mana saya cuma diam, pegang secangkir teh hangat, dan menikmati pemandangan tanpa gangguan. Dan itu rasanya priceless.

Kelebihan
- View alam yang luar biasa
- Suasana tenang dan eksklusif
- Konsep makan yang unik

Kekurangan
- Harga cukup tinggi
- Akses jalan menanjak

pemandangan sunrise di Enam Langit by Plataran Borobudur dari atas bukit
Saya berfoto saat menunggu sunrise di Enam Langit by Plataran Borobudur (doc. Riana dewie)


Pada akhirnya, saya sadar… yang saya bayar bukan cuma makanan.

Melainkan pengalaman sarapan di atas awan yang gak bisa saya dapatkan di tempat lain.

Dan buat saya pribadi, itu sangat layak untuk dicoba, ya minimal sekali seumur hidup.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments