In Stay & Hotels

Menginap di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang, Nyaman dan Ramah di Kantong

Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang dengan suasana asri di lereng Gunung Merapi

Menghabiskan waktu di kawasan Kaliurang memang selalu punya cerita tersendiri buat saya. Hampir setiap tahun, om saya mengajak keluarga besar untuk menginap di villa sekitar Kaliurang. 

Kadang momen itu berlangsung saat libur Lebaran, kadang juga ketika menyambut pergantian tahun. 

Dari sekian banyak penginapan yang pernah saya singgahi, Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang menjadi salah satu tempat yang paling berkesan.

Tahu gak, yang membuat saya selalu ingin kembali bukan karena bangunannya yang mewah, melainkan suasananya yang benar-benar bikin rileks. 

Begitu memasuki area wisma, udara sejuk langsung terasa menyapa. 

Pepohonan rindang di sekelilingnya membuat suasana asri semakin terasa, seolah mengajak saya untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat.

Buat saya sih, menginap itu gak melulu soal kamar yang modern. Lingkungan yang tenang, udara segar, dan tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama keluarga justru jauh lebih berharga. 

Wkwkwkwk... rasanya baru beberapa jam tiba saja, badan sudah terasa lebih ringan karena jauh dari hiruk pikuk kota.

Sebagai salah satu pilihan penginapan murah di Kaliurang, Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang menawarkan suasana yang cocok untuk liburan hemat tanpa mengurangi kenyamanan. 

Lokasinya berada di kawasan lereng Gunung Merapi yang terkenal memiliki udara segar hampir sepanjang hari. 

Gak heran kalau banyak rombongan keluarga, komunitas, hingga instansi memilih tempat ini sebagai lokasi menginap.

Lokasi Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang yang Strategis

Salah satu alasan saya menyukai wisma di Kaliurang ini adalah lokasinya yang mudah dijangkau. 

Dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar satu jam, tergantung kondisi lalu lintas. 

Jalannya juga sudah bagus sehingga nyaman dilalui kendaraan pribadi maupun bus rombongan.

Oh ya, posisi wisma ini juga cukup dekat dengan berbagai destinasi wisata Kaliurang yang populer. 

Jadi setelah beristirahat semalaman, saya dan keluarga biasanya langsung melanjutkan perjalanan tanpa harus berkendara terlalu jauh.

Dekat Berbagai Tempat Wisata Favorit

Beberapa destinasi yang bisa dikunjungi dari area Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang antara lain:

  • Museum Ullen Sentalu

  • Lava Tour Merapi

  • Merapi Park

  • The Lost World Castle

  • Bukit Klangon

  • Tlogo Putri

  • Kaliurang Park

Keberadaan tempat-tempat wisata tersebut tentu menjadi nilai tambah, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan sekaligus menjelajahi berbagai destinasi menarik dalam satu perjalanan.

Area depan Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang
Area depan Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang (doc. Riana Dewie) 


Cocok untuk Liburan Keluarga Maupun Rombongan

Menurut saya, lokasi ini juga pas dijadikan penginapan keluarga Kaliurang maupun penginapan rombongan Kaliurang. 

Selain aksesnya mudah, suasananya juga relatif tenang sehingga cocok untuk menikmati waktu bersama orang-orang terdekat.

Hihihihi... biasanya setelah selesai jalan-jalan, kami lebih memilih duduk santai di area luar sambil menikmati dinginnya udara malam daripada kembali keluar mencari keramaian. 

Rasanya sederhana, tetapi justru momen seperti inilah yang sering paling diingat.

Suasana Wisma yang Sejuk, Asri, dan Bikin Betah

Begitu memasuki area Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang, kesan pertama yang saya rasakan adalah suasananya yang adem. 

Berada di kawasan lereng Gunung Merapi membuat udara sejuk seolah menjadi "bonus" yang bisa dinikmati setiap saat. 

Apalagi saat pagi dan malam hari, hawa dinginnya benar-benar terasa, bahkan sesekali membuat saya buru-buru mencari jaket.

Tahu gak, momen favorit saya justru saat bangun pagi. Membuka pintu kamar lalu menghirup udara segar sambil melihat pepohonan rindang rasanya menyenangkan banget.

Perapian di area dalam Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang
Perapian di area dalam Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang (doc. Riana Dewie)


Suasana seperti ini memang sulit ditemukan ketika tinggal di perkotaan yang lebih padat dan ramai.

Area wisma juga dipenuhi tanaman hijau yang membuat lingkungan terlihat terawat. Burung-burung yang berkicau sejak pagi semakin menambah kesan alami. 

Bagi saya, tempat seperti ini cocok dijadikan lokasi healing singkat saat ingin melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Arsitektur yang Sederhana, tetapi Tetap Nyaman

Dari sisi bangunan, Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang memang gak mengusung konsep hotel modern. Justru desainnya terasa lebih hangat dengan nuansa khas villa pegunungan. 

Bagian eksterior didominasi bangunan bergaya sederhana yang berpadu dengan halaman luas dan pepohonan di sekitarnya.

Interior kamarnya juga dibuat fungsional. Perabot yang tersedia memang gak berlebihan, tetapi sudah cukup memenuhi kebutuhan tamu untuk beristirahat. 

Penataan ruangnya terasa lega sehingga tetap nyaman digunakan bersama keluarga.

Menurut saya sih, kesederhanaan inilah yang justru menjadi daya tariknya. Fokus utama tempat ini bukan menghadirkan kemewahan, melainkan memberikan suasana menginap yang tenang dan nyaman.

Kamar yang Nyaman untuk Istirahat Bersama Keluarga

Salah satu hal yang saya suka adalah jumlah kamarnya cukup banyak, sehingga cocok untuk rombongan. 

Saat keluarga besar berkumpul, pembagian kamar pun menjadi lebih mudah tanpa harus mencari penginapan tambahan.

Meski begitu, ada cerita yang hampir selalu terulang setiap kali kami menginap. 

Bukannya tidur di kamar masing-masing, beberapa anggota keluarga malah memilih menggelar kasur atau rebahan di depan televisi hingga pagi. 

Keluarga berkumpul di ruang keluarga Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang
Keluarga berkumpul di ruang keluarga Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang (doc. Riana Dewie)


Obrolan yang awalnya cuma sebentar sering kali berlanjut sampai larut malam karena asyik bercanda bersama. Momen seperti ini justru membuat suasana liburan terasa semakin hangat.

Kondisi kamar menurut saya juga cukup nyaman untuk beristirahat setelah seharian berkeliling menikmati wisata Kaliurang. 

Tempat tidurnya membuat badan bisa rileks, sementara udara alami dari luar membantu suasana tidur menjadi lebih nyaman tanpa perlu pendingin ruangan.

Oh ya, karena suhu malam di Kaliurang bisa cukup dingin, saya biasanya membawa jaket atau selimut tambahan, terutama jika menginap saat musim hujan atau akhir tahun. 

Dengan begitu, waktu istirahat pun terasa lebih maksimal sebelum kembali melanjutkan aktivitas keesokan harinya.

Selain cocok untuk keluarga, suasana kamar yang nyaman juga mendukung kegiatan seperti family gathering, reuni, hingga outing kantor. 

Setelah seharian beraktivitas, semua peserta bisa berkumpul kembali untuk beristirahat dalam suasana yang tenang dan jauh dari kebisingan kota.

Fasilitas Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang yang Cukup Lengkap

Meski mengusung konsep penginapan yang sederhana, fasilitas di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang menurut saya sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan selama menginap. 

Inilah yang membuat pengalaman bermalam di sini tetap terasa nyaman, baik untuk keluarga maupun rombongan.

Beberapa fasilitas yang bisa dinikmati antara lain:

1. Kamar yang Bersih dan Nyaman

Hal pertama yang saya perhatikan tentu kebersihan kamarnya. Kondisinya cukup rapi sehingga terasa nyaman untuk beristirahat. 

Tempat tidur yang tersedia juga pas digunakan setelah seharian berkeliling menikmati wisata Kaliurang.

2. Kamar Mandi di Setiap Kamar

Setiap kamar telah dilengkapi kamar mandi sehingga tamu gak perlu berbagi dengan penghuni kamar lain. 

Fasilitas ini tentu membuat aktivitas menjadi lebih praktis, apalagi saat menginap bersama keluarga besar.

Area parkir luas di Wisma Balai Inap Karyawan KaliurangArea parkir luas di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang (doc. Riana Dewie)


3. Area Parkir yang Luas

Salah satu nilai plusnya adalah area parkir luas. 

Bagi rombongan yang datang menggunakan beberapa mobil, bahkan bus pariwisata, area parkir seperti ini tentu sangat membantu sehingga kendaraan bisa diparkir dengan lebih nyaman.

4. Halaman yang Lapang

Di bagian depan maupun sekitar bangunan terdapat halaman luas yang sering dimanfaatkan untuk berkumpul. 

Anak-anak bisa bermain dengan leluasa, sedangkan orang dewasa biasanya memilih duduk santai sambil menikmati udara pegunungan.

5. Ruang Berkumpul

Karena sering digunakan sebagai lokasi menginap bersama, tersedia area yang nyaman untuk bercengkerama. 

Saat malam hari, suasana menjadi semakin hangat karena semua orang bisa duduk bersama, mengobrol, atau menikmati camilan yang dibawa dari rumah.

6. Lingkungan yang Tenang

Bagi saya, fasilitas terbaik justru bukan sesuatu yang bisa disentuh, melainkan suasana di sekitarnya. 

Lingkungan yang tenang, jauh dari kebisingan kendaraan, membuat waktu istirahat terasa lebih berkualitas.

Tahu gak, suasana malam di sini terdengar begitu damai. Sesekali hanya terdengar suara serangga dan semilir angin yang melewati pepohonan. 

Buat saya sih, hal sederhana seperti ini justru menjadi kemewahan yang sulit ditemukan di tengah padatnya perkotaan.

Perlu diketahui juga bahwa tarif menginap di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang tergolong ramah di kantong. 

Saya sengaja gak mencantumkan nominal karena tarif dapat berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan pengelola. 

Jadi, sebelum berkunjung sebaiknya menghubungi pihak pengelola untuk memperoleh informasi terbaru mengenai harga maupun ketersediaan kamar.

Keluarga kami menikmati udara segar di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang
Keluarga kami menikmati udara segar di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang (doc. Riana Dewie)


Siapa Saja yang Cocok Menginap di Sini?

Menurut saya, Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang termasuk penginapan yang fleksibel karena dapat digunakan oleh berbagai kalangan.

Beberapa di antaranya yaitu:

  • Keluarga yang ingin menikmati liburan hemat di kawasan pegunungan.

  • Komunitas yang mengadakan acara kebersamaan atau kegiatan akhir pekan.

  • Instansi yang menyelenggarakan outing kantor atau pelatihan.

  • Rombongan wisata dari sekolah maupun organisasi.

  • Teman-teman yang ingin staycation dengan suasana tenang dan udara sejuk.

Oh ya, saya juga sering melihat tempat seperti ini dipilih sebagai lokasi family gathering. Selain kapasitasnya cukup besar, suasana yang asri membuat kegiatan bersama terasa lebih santai. 

Jadi, gak hanya sekadar menginap, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan.

Menikmati Pagi yang Segar dan Menjelajahi Wisata Kaliurang

Salah satu momen yang paling saya tunggu setiap menginap di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang adalah suasana paginya. 

Udara yang berasal dari kawasan lereng Gunung Merapi terasa begitu segar. Bahkan tanpa pendingin ruangan pun, hawa sejuknya sudah cukup membuat tubuh terasa rileks.

Saya biasanya menyempatkan diri berjalan santai mengelilingi area wisma. Pepohonan rindang di sekitar penginapan membuat udara terasa semakin bersih. 

Sesekali terlihat kabut tipis yang masih menyelimuti kawasan Kaliurang, menciptakan pemandangan yang menenangkan. 

Aktivitas sederhana seperti ini ternyata ampuh mengembalikan energi sebelum memulai hari.

Kalau saya sih, liburan memang gak harus selalu dipenuhi jadwal yang padat. 

Duduk santai menikmati secangkir kopi sambil menghirup udara pagi sudah menjadi cara sederhana untuk menikmati suasana pegunungan.

Setelah sarapan, perjalanan bisa dilanjutkan menuju berbagai wisata Kaliurang yang lokasinya cukup dekat dari wisma. Beberapa tempat yang layak masuk daftar kunjungan antara lain:

  • Museum Ullen Sentalu
  • Lava Tour Merapi
  • Merapi Park
  • The Lost World Castle
  • Bukit Klangon
  • Tlogo Putri
  • Stonehenge Merapi
  • Kaliurang Park

Karena jaraknya relatif dekat, waktu liburan pun menjadi lebih efisien. Kita gak perlu menghabiskan banyak waktu di perjalanan sehingga bisa menikmati lebih banyak destinasi dalam sehari.

Penutup

Menginap di Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang memberikan pengalaman yang menurut saya selalu menyenangkan. 

Tempat ini memang bukan penginapan mewah dengan berbagai fasilitas premium. Namun justru di situlah daya tariknya. 

Suasana asri, udara sejuk, lingkungan yang tenang, serta harga yang ramah di kantong membuat saya selalu menikmati waktu bersama keluarga di sini.

Penginapan murah di Kaliurang yang cocok untuk keluarga dan komunitas
Penginapan murah di Kaliurang yang cocok untuk keluarga dan komunitas (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, sampai sekarang setiap om mengajak liburan ke Kaliurang, saya masih berharap salah satu pilihan menginapnya adalah wisma ini. 

Rasanya seperti kembali ke tempat yang sudah menyimpan banyak kenangan hangat bersama keluarga.

Bagi kamu yang sedang mencari penginapan dekat Merapi, penginapan dekat wisata Kaliurang, atau tempat yang cocok untuk keluarga, komunitas, hingga rombongan, Wisma Balai Inap Karyawan Kaliurang bisa menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan. 

Selain nyaman untuk beristirahat, suasananya juga mendukung siapa saja yang ingin menikmati healing, staycation, maupun liburan hemat di kawasan Kaliurang. 

Hihihihi... siapa tahu setelah sekali menginap, kamu juga jadi ingin kembali lagi seperti saya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Gunung Purba Nglanggeran, Tempat Latihan Mendaki yang Cocok untuk Pemula

Gunung Purba Nglanggeran

Pernah kepikiran ingin naik gunung, tapi masih ragu karena belum punya pengalaman? Saya juga pernah berada di posisi itu. 

Rasanya ingin mencoba sensasi mendaki, tetapi masih mencari tempat latihan mendaki yang medannya bersahabat. 

Tahu gak, memilih gunung pertama ternyata cukup penting supaya pengalaman hiking pertama terasa menyenangkan, bukan malah bikin kapok.

Saya akan bercerita tentang pengalaman asyik mendaki Gunung Purba Nglanggeran. Siap ikutan?

Guyuran Hujan saat Perjalanan Menuju Gunung Purba Nglanggeran

Pagi itu cuaca di Yogyakarta terlihat cerah berawan. Udara terasa sejuk dan cukup nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan. 

Saya bersama tiga saudara pun sepakat berangkat menggunakan dua motor menuju kawasan Gunung Purba Nglanggeran, salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Gunungkidul.

Namun sekitar pukul 10.45, suasana berubah drastis. Langit mendadak gelap disertai hembusan angin yang cukup kencang. "Wah, jangan-jangan gagal deh rencana hari ini," pikir saya saat itu. 

Meski begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan. Benar saja, sepanjang jalan kami diguyur hujan deras hampir satu jam. 

Jas hujan memang membantu, tapi pakaian kami tetap basah kuyup. Wkwkwkwk... benar-benar pembukaan perjalanan yang gak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Sesampainya di lokasi, rasa lelah selama perjalanan perlahan terbayar. Gunung yang berdiri gagah di depan mata seolah menyambut kedatangan kami. 

Karena jalur pendakiannya membutuhkan waktu lebih lama dibanding destinasi lain di kawasan tersebut, kami memutuskan untuk memulai petualangan dari sini terlebih dahulu.

Oh ya, alasan saya memilih gunung untuk pemula di Jogja ini bukan tanpa sebab. 

Kami bersiap mendaki Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan
Kami bersiap mendaki Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan (doc. Riana Dewie)


Selain jalurnya cukup jelas, durasi pendakiannya juga relatif singkat sehingga cocok bagi siapa saja yang ingin mencoba hiking tanpa harus memiliki pengalaman mendaki gunung tinggi. 

Saya sih langsung penasaran, apakah perjuangan menuju puncaknya benar-benar akan seindah cerita banyak orang.

Pengalaman Mendaki Gunung Purba Nglanggeran, Capek tapi Menyenangkan

Tepat pukul 12.00, kami akhirnya tiba di kawasan wisata Gunung Purba Nglanggeran. Rasanya lega sekali setelah hampir satu jam berkendara sambil diguyur hujan deras. 

Sebelum memulai pendakian, kami berganti pakaian dan sandal karena semuanya sudah basah kuyup. Saya sendiri tetap memilih memakai sepatu yang masih basah. 

Agak gak nyaman memang, tetapi saya merasa sepatu akan lebih aman dibanding sandal saat melewati jalur menanjak.

Beli Tiket Masuk 

Sebelum masuk ke area pendakian, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. 

Per tahun 2026, harga tiket Gunung Purba Nglanggeran berkisar Rp25.000 per orang untuk wisatawan domestik (saya sudah agak lama kesana, jadi dulu harganya lebih murah). 

Setelah itu, kami menghangatkan badan dengan menikmati semangkuk mi goreng dan segelas teh panas di warung sekitar loket. 

Hihihihi... ternyata makanan hangat setelah kehujanan memang terasa jauh lebih nikmat.

Sekitar pukul 13.30, petualangan kami pun dimulai. Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang awalnya terlihat biasa saja perlahan berubah menjadi lebih menantang. 

Bekas hujan membuat tanah berubah menjadi lumpur yang lengket di alas kaki. Hampir setiap langkah terasa lebih berat karena sepatu maupun sandal dipenuhi tanah basah.

Sepatu penuh lumpur di jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran
Sepatu penuh lumpur di jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


Beberapa Pos untuk Pendaki

Oh ya, sepanjang perjalanan tersedia beberapa pos yang menjadi penanda sejauh mana pendaki telah berjalan. Pos demi pos kami lewati dengan hati-hati sambil sesekali berhenti mengatur napas. 

Selain jalur berbatu, terdapat pula beberapa tangga kayu yang mengharuskan pendaki bergantian saat melintas. 

Di beberapa titik bahkan kami harus memanjat batu berukuran cukup besar sebelum bisa melanjutkan perjalanan. 

Inilah bagian dari jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang menurut saya paling menantang.

Suasana jalur hiking Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan.
Suasana jalur hiking Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan (doc. Riana Dewie)


Bayangan saya sebelumnya, pengalaman mendaki Gunung Purba akan dipenuhi jalur tanah yang mudah dilewati. Nyatanya, kondisi setelah hujan membuat tingkat kesulitannya meningkat. 

Meski begitu, justru di situlah letak serunya. 

Perjalanan ini mengajarkan saya untuk melangkah lebih pelan, menjaga keseimbangan, dan saling menunggu teman agar semua bisa tiba di puncak dengan selamat.

Kenapa Saya Memilih Gunung Purba Nglanggeran untuk Latihan Mendaki?

Jujur saja, ini bukan pertama kalinya saya berwisata ke kawasan Nglanggeran. 

Namun untuk urusan mendaki Gunung Purba Nglanggeran, pengalaman ini menjadi sesuatu yang benar-benar saya nantikan. 

Trek berbatu menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran.
Trek berbatu menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


1. Ramah untuk Pemula

Tujuan saya sederhana, yaitu mencari gunung yang ramah untuk pemula, tetapi tetap memberikan sensasi petualangan yang seru.

Tahu gak, Gunung Api Purba Nglanggeran berada di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Lokasinya hanya sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta sehingga cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. 

Faktor inilah yang membuatnya sering menjadi pilihan wisatawan maupun komunitas pecinta alam.

2. Trek Pendakian Pendek

Alasan lain saya memilih tempat ini karena trek pendakiannya relatif pendek dibanding gunung-gunung lain di Yogyakarta. 

Meski begitu, jalurnya tetap menghadirkan tantangan berupa tanjakan, jalan berbatu, hingga beberapa titik sempit yang membuat perjalanan terasa lebih seru. 

Bagi saya sih, tantangan seperti ini justru pas sebagai latihan sebelum mencoba pendakian dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang ramah untuk pendaki pemula.
Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang ramah untuk pendaki pemula (doc. Riana Dewie)


3. Jalur Pendakian sudah Tertata 

Sebagai pendaki pemula, saya juga merasa lebih tenang karena jalur pendakian sudah tertata dengan cukup baik. 

Penunjuk arah tersedia di beberapa titik sehingga pengunjung gak perlu khawatir tersesat selama mengikuti rute yang telah disediakan. 

Selain itu, perjalanan menuju puncak juga gak membutuhkan perlengkapan pendakian khusus seperti carrier berukuran besar atau peralatan berkemah.

Oh ya, sebelum berangkat saya sempat membayangkan jalurnya akan didominasi tanah kering dengan tanjakan yang masih bersahabat. 

Kenyataannya nanti justru berbeda, apalagi setelah hujan deras mengguyur kawasan ini sejak siang. 

Meski begitu, rasa penasaran untuk menaklukkan gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung untuk pemula di Jogja ini sama sekali gak berkurang. 

Justru saya semakin bersemangat ingin membuktikan sendiri seperti apa pengalaman mendakinya.

Panorama dari Puncak Gunung Purba Nglanggeran yang Bikin Lelah Terbayar

Semakin mendekati puncak, suasana berubah menjadi lebih teduh. Jalur dikelilingi pepohonan tinggi yang membuat udara terasa semakin sejuk. 

Tahu gak, bagian ini menjadi favorit saya karena suasananya benar-benar seperti memasuki hutan kecil yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Kami juga melewati beberapa tanjakan alami yang cukup licin akibat hujan. Untungnya semua bisa dilewati dengan hati-hati. 

Meski membutuhkan tenaga ekstra, rasa lelah perlahan menghilang ketika cahaya dari area terbuka mulai terlihat di depan.

Begitu tiba di puncak, saya langsung terpukau. Hamparan panorama perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang. 

Panorama hijau dari puncak Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul.Panorama hijau dari puncak Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul (doc. Riana Dewie)


Dari atas terlihat sawah, jalan raya, permukiman warga, hingga menara pemancar yang berdiri menjulang di kejauhan. 

Angin berembus cukup kencang, tetapi justru membuat suasana terasa semakin segar. 

Pemandangan dari puncak inilah yang menurut saya menjadi hadiah terbaik setelah melewati perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Saya dan sepupu pun beristirahat sambil mengabadikan momen dengan berbagai pose. Bagi saya sih, setiap sudut di atas memiliki daya tarik tersendiri untuk difoto. 

Gak heran bila banyak wisatawan menjadikan view Gunung Purba Nglanggeran sebagai salah satu spot favorit saat menikmati wisata alam Gunungkidul. 

Jika cuaca sedang cerah, kawasan ini juga menjadi lokasi yang menarik untuk menikmati matahari terbit maupun matahari terbenam.

Tips Mendaki Gunung Purba Nglanggeran untuk Pemula

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal sederhana yang bisa membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

  • Gunakan sepatu dengan sol yang mencengkeram, terutama saat musim hujan. Jalur bisa menjadi cukup licin.

  • Datanglah pada pagi atau sore hari agar cuaca lebih bersahabat dan sinar matahari gak terlalu terik.

  • Selalu membawa air minum secukupnya supaya tubuh tetap terhidrasi selama pendakian.

  • Jangan terburu-buru mencapai puncak. Nikmati saja setiap langkah dan berhentilah sejenak jika mulai merasa lelah.

  • Gunakan tas yang ringan dengan barang seperlunya agar perjalanan terasa lebih nyaman.

  • Tetap menjaga kebersihan kawasan dengan membawa kembali sampah pribadi.

  • Oh ya, siapkan kondisi fisik secukupnya sebelum berangkat. Meski termasuk hiking pemula, jalurnya tetap memiliki tanjakan dan bebatuan yang membutuhkan keseimbangan tubuh.

Bagi saya sih, tips mendaki Gunung Purba yang paling penting adalah menikmati prosesnya. Gak perlu terburu-buru atau membandingkan diri dengan pendaki lain. 

Justru di setiap langkah itulah kita bisa menikmati suasana alam yang masih asri sekaligus menjadikan pendakian sebagai salah satu aktivitas outdoor di Jogja yang menyenangkan.

Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran.Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran.
Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


Penutup

Perjalanan mendaki Gunung Purba Nglanggeran menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. 

Meski sempat diterpa hujan deras, melewati jalur berlumpur, hingga beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga, semuanya terbayar lunas ketika berhasil menikmati panorama indah dari puncaknya.

Tahu gak, sering kali rasa takut hanya muncul sebelum kita mencoba. Setelah benar-benar menjalaninya, ternyata pendakian ini masih sangat bersahabat bagi pemula. 

Itulah mengapa saya merasa Gunung Purba Nglanggeran layak menjadi gunung pertama bagi siapa saja yang ingin mulai mengenal dunia hiking.

Jadi, buat kamu yang masih ragu mencoba mendaki, gak perlu khawatir. Medannya relatif mudah diikuti, jalurnya jelas, dan hampir selalu ada pendaki lain yang berjalan bersama. 

Siapkan fisik secukupnya, gunakan perlengkapan yang nyaman, lalu nikmati setiap langkah menuju puncak. 

Siapa tahu, pengalaman pertama ini justru menjadi awal munculnya hobi baru menjelajahi keindahan alam Indonesia.

FAQ Seputar Gunung Purba Nglanggeran

Berapa lama mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Rata-rata waktu yang dibutuhkan sekitar 45–90 menit menuju puncak, tergantung kondisi fisik, cuaca, dan frekuensi beristirahat selama perjalanan.

Apakah Gunung Purba Nglanggeran cocok untuk pemula?

Ya. Jalurnya cukup jelas, durasi pendakiannya relatif singkat, dan gak membutuhkan perlengkapan khusus sehingga cocok untuk pendaki pemula.

Apakah anak-anak bisa mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Bisa, dengan pendampingan orang dewasa. Tetap perhatikan kondisi cuaca dan pilih waktu pendakian saat jalur gak licin.

Kapan waktu terbaik mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Musim kemarau atau saat cuaca cerah menjadi waktu terbaik karena jalur lebih aman. Datang pagi atau sore juga membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

Berapa harga tiket masuk Gunung Purba Nglanggeran?

Harga tiket dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola. Sebaiknya cek informasi terbaru sebelum berkunjung agar memperoleh tarif dan jam operasional yang paling akurat.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Argo Loro Boyolali, Cafe View Gunung yang Wajib Dikunjungi!

Suasana sejuk di Argo Loro Boyolali dengan kabut pegunungan

Bisa membayangkan gimana rasanya ngopi di atas gunung sambil ditemani udara yang dingin dan hamparan hijau sejauh mata memandang? 

Jujur aja, sebelumnya sih saya juga gak kebayang sama sekali. Waktu itu adik saya cuma mengirimkan beberapa foto Argo Loro Boyolali sambil bilang, "Kita ke sini, yuk!" 

Kesan pertama saya cuma satu, estetik juga ya. Ternyata setelah sampai di sana, ekspektasi saya langsung terlampaui. 

Tahu gak, tempat ini benar-benar menyuguhkan suasana yang bikin napas terasa lebih lega sejak pertama turun dari kendaraan.

Argo Loro Boyolali, Tempat Ngopi dengan Panorama Dua Gunung

Perjalanan menuju Argo Loro Boyolali diawali dari Jogja. Sebelum menuju kawasan Selo, kami lebih dulu mampir ke Klaten untuk berziarah ke makam nenek. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Boyolali dengan jalur yang semakin menanjak. Di tengah perjalanan sempat turun hujan cukup deras. 

Untungnya, hujan gak berlangsung lama sehingga perjalanan tetap terasa menyenangkan.

Oh ya, justru setelah hujan reda, pemandangan di sepanjang jalan berubah semakin cantik. 

Pengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro BoyolaliPengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Pepohonan terlihat lebih segar, dedaunan tampak basah mengilap, dan udara sejuk pegunungan langsung menyambut begitu kami memasuki kawasan wisata Selo Boyolali. 

Saya sampai auto menggigil karena anginnya lumayan menusuk, padahal masih sore hari.

Sesampainya di lokasi, saya baru memahami kenapa Argo Loro Selo begitu ramai diperbincangkan. Area kafenya ternyata terdiri dari beberapa bangunan dengan konsep yang berbeda. 

Kami pun memilih duduk di area utama yang belakangan ini sering muncul di media sosial karena desainnya yang modern dan menyatu dengan alam.

Mengusung konsep coffee between the mountains, Argo Loro Kopi Boyolali benar-benar berada di posisi yang memanjakan mata. 

Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali
Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali (doc. Riana Dewie)


Dari area luar kafe, saya bisa menikmati panorama Gunung Merapi dan panorama Gunung Merbabu sekaligus. Rasanya hampir setiap sudut layak dijadikan tempat berfoto. 

Serius deh, latar gunung yang megah dipadukan udara segar sukses membuat pikiran terasa jauh lebih ringan. Hihihihi... rasanya kerjaan dan berbagai beban mendadak ikut tertinggal entah di mana.

Suasana yang Bikin Betah Berlama-lama

Begitu masuk ke area utama, saya langsung paham kenapa cafe di Selo Boyolali ini selalu ramai pengunjung. 

Bangunannya didominasi material kayu dan kaca, jadi tetap terasa hangat meski udara di luar cukup dingin. Area outdoor-nya juga luas, cocok buat menikmati pemandangan tanpa ada yang menghalangi.

Tahu gak, saya beberapa kali cuma duduk diam sambil menikmati kabut pegunungan yang sesekali datang menyelimuti lereng. 

Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari
Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari (doc. Riana Dewie)


Suasananya tenang banget, seolah waktu berjalan lebih lambat. 

Di sisi lain, banyak juga pengunjung yang sibuk berburu foto karena hampir setiap sudut merupakan tempat nongkrong estetik dengan latar gunung yang memukau.

Katanya sih, momen sunrise dan sunset di Selo menjadi waktu favorit para pengunjung. Sayangnya saya datang menjelang sore, jadi belum sempat menikmati matahari terbit. 

Meski begitu, suasana yang saya rasakan sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin kembali lagi suatu hari nanti.

Menu Kopi dan Makanan yang Menemani Momen Bersantai

Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali
Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)

Menikmati pemandangan indah rasanya memang kurang lengkap tanpa ditemani makanan dan minuman yang hangat. 

Untungnya, pilihan menu di Argo Loro Boyolali cukup beragam, jadi tinggal disesuaikan saja dengan selera masing-masing.

Coffee

Buat pencinta kopi, tersedia berbagai pilihan seperti Espresso, Americano, Cappuccino, Cafe Latte, Caramel Latte, hingga Hazelnut Latte. 

Non Coffee

Sementara untuk pengunjung yang kurang suka kopi, pilihannya juga banyak. Ada Red Velvet, Taro, Green Tea, Chocolate, Klepon, aneka Classic Tea, Lychee Tea, Peach Tea, 

Ada juga minuman tradisional yang cocok dinikmati di tengah udara sejuk pegunungan, seperti Ginger Coffee, susu jahe, dan wedang uwuh.

Oh ya, saya sendiri justru memilih Hot Chocolate. Adik-adik saya menyeruput kopi hangat, sedangkan saya lebih memilih minuman cokelat demi menjaga lambung tetap nyaman. 

Enak banget sih menikmati minuman hangat sambil memandangi hamparan hijau di depan mata. Rasanya sederhana, tapi justru momen seperti ini yang sering bikin kangen.

Camilan

Untuk camilan, pilihannya juga menggoda. Ada Argo Banana, Argo Kaya Toast, Biscoff Vanilla Ice Cream, hingga aneka hidangan ringan lainnya. 

Menu Berat

Sementara menu beratnya terdiri dari beragam nasi goreng, olahan mi, pasta, dan beberapa menu khas yang cukup mengenyangkan.

Kebetulan waktu itu kami memesan Singkong Keju, Otak-Otak, French Fries, Mix Platter, dan beberapa minuman untuk dinikmati bersama. 

Menurut saya sih, porsinya pas untuk disantap sambil mengobrol santai. Soal harga juga masih tergolong wajar untuk ukuran cafe view Gunung Merapi dan Merbabu dengan suasana senyaman ini. 

Wkwkwkwk... rasanya malah pengin nambah camilan lagi karena udara dinginnya bikin perut cepat lapar.

Kenapa Argo Loro Boyolali Layak Masuk Bucket List

Ada banyak alasan kenapa saya berani merekomendasikan tempat ini. Bukan cuma karena viral atau sering muncul di media sosial, tetapi karena pengalaman yang saya rasakan memang menyenangkan.

Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali
Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali, kurang jelas karena masih berkabut (doc. Riana Dewie)


1. Healing 

Pertama, tempat ini cocok untuk healing di Boyolali. Lokasinya berada di kawasan pegunungan dengan suasana tenang yang sulit saya temukan di tengah hiruk pikuk perkotaan. 

Meski jaraknya lumayan jauh dari Jogja, perjalanan menuju sini benar-benar terbayar begitu melihat pemandangannya.

2. Quality Time

Kedua, cocok dijadikan tempat quality time bersama orang-orang tersayang. Tahu gak, sesekali kita memang perlu menjauh dari rutinitas dan memberi waktu untuk diri sendiri. 

Duduk santai, mengobrol tanpa terburu-buru, lalu menikmati alam Boyolali ternyata bisa menjadi cara sederhana untuk mengisi ulang energi.

3. Work from Cafe

Ketiga, buat yang bisa bekerja dari mana saja, tempat ini juga menarik sebagai lokasi work from cafe. 

Saya sih langsung membayangkan betapa menyenangkannya menyelesaikan pekerjaan dengan pemandangan gunung di depan mata. 

Walaupun kalau saya harus bolak-balik dari Jogja setiap hari, sepertinya bakal menyerah duluan di jalan. Hihihihi...

Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali
Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


4. Hunting Foto

Keempat, jangan sampai melewatkan kesempatan berburu foto. Hampir setiap sudut Argo Loro Boyolali terasa fotogenik. 

Apalagi saat cuaca sedang cerah, latar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat begitu jelas sehingga hasil fotonya terasa semakin estetik.

5. Wisata Keluarga/Pasangan

Terakhir, tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga maupun pasangan. Bahkan, di kawasan ini juga tersedia penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana pegunungan lebih lama. 

Menurut saya, menginap semalam lalu menikmati pagi dengan secangkir minuman hangat pasti akan menjadi pengalaman yang berbeda.

Penutup

Oh ya, momen yang paling saya ingat justru saat adik-adik saya asyik menyeruput kopi, sementara saya tetap setia menikmati secangkir Hot Chocolate demi kenyamanan lambung. 

Ternyata, apa pun minuman yang dipilih bukanlah hal terpenting. Yang membuat perjalanan ini berkesan adalah suasananya yang begitu menenangkan.

Suasana tenang cafe view gunung di Argo Loro BoyolaliSuasana tenang cafe view gunung di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau sedang mencari tempat ngopi di Boyolali dengan panorama alam yang memanjakan mata, Argo Loro Boyolali layak masuk dalam daftar tujuanmu. 

Cobain deh datang ke sini, hirup udara segarnya, nikmati setiap sudutnya, dan jangan sampai pulang tanpa mengabadikan momen dengan latar gunung yang memesona. 

Siapa tahu, kamu juga akan pulang dengan hati yang terasa lebih ringan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Saya Suka Menulis, Tapi Tidak Hobi Membaca Buku. Apakah Bisa?

pengalaman pribadi suka menulis tapi tidak hobi membaca buku

Ngomong-ngomong tentang baca buku, sepertinya circle pertemanan saya sekitar 75% pada suka membaca buku deh. 

Saya berarti termasuk minoritas. Kok bisa? Iya, karena jujur dari dulu saya gak terlalu suka membaca buku, apalagi yang tebal. 

Jadi, selama ini saya lebih menikmati menulis, sedangkan membaca sering bikin kepala mendadak penuh. 

Tahu gak, saya sempat berpikir apakah orang yang suka menulis tapi tidak hobi membaca buku masih punya peluang untuk berkembang sebagai penulis.

Mengapa Saya Lebih Betah Menulis daripada Membaca Buku

Ada cerita lucu ketika saya masih bekerja di kantor lama. Pak Boss suka banget membelikan buku-buku keluaran terbaru untuk saya baca. 

Katanya sih, supaya wawasan saya bertambah dan kemampuan menulis saya juga ikut berkembang.

Oh ya, suatu hari beliau mau memberikan buku baru lagi, lalu tiba-tiba bertanya, “Lho, kok yang kemarin masih plastikan begini?” 

Saya langsung jawab jujur, “Maaf Pak, saya gak terlalu suka baca buku. Nanti saya usahakan baca dikit-dikit deh, Pak.”

Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli
Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli (doc. Riana Dewie)

Boss saya cuma nyengir sambil tertawa kecil. Mungkin beliau juga bingung, ini orang kerjaannya menulis, tapi kok gak suka membaca buku. 

Referensinya dari mana? Wkwkwkwk... sampai sekarang saya masih ingat ekspresi beliau waktu itu.

Nah, beberapa alasan saya kurang betah membaca buku sebenarnya cukup sederhana.

1. Mata Cepat Perih

Saya punya kecenderungan, membaca buku lebih dari lima menit bikin mata terasa pedas atau perih. Apalagi jika warna kertasnya putih bersih. 

Kalau kertasnya agak krem atau buram, biasanya mata saya lebih nyaman. Tahu gak, hal kecil seperti warna kertas ternyata cukup berpengaruh buat saya.

mencoba beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih
Beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih (doc. Riana Dewie)


2. Sulit Fokus Membaca Lama

Saya gak tahu kenapa, tapi saya memang kurang bisa fokus membaca dalam waktu lama. 

Mungkin karakter saya agak “kemrungsung”, atau memang gak betah melihat puluhan lembar halaman yang terasa menunggu untuk diselesaikan.

3. Gampang Bosan

Beberapa cerita di buku kadang terasa berjalan pelan. Teman-teman saya sih bisa menghabiskan buku tebal dalam satu atau dua hari. 

Saya? Baru beberapa halaman saja sudah mulai melirik hal lain. Hihihihi...

Tetapi anehnya, begitu mulai menulis, waktu terasa cepat berlalu. Saya bisa duduk berjam-jam di depan laptop tanpa merasa terbebani. 

Nah, di situlah saya mulai sadar bahwa hubungan membaca dan menulis mungkin gak selalu sesederhana “penulis harus suka membaca buku”.

Saya senang datang di Pameran Buku
Saya senang datang di Pameran Buku (doc. Riana Dewie)


Apakah Penulis Harus Hobi Membaca?

Nah, pertanyaan ini sering muncul di kepala saya. Penulis itu harus senang membaca gak sih? Jujur, saya juga masih terus mencari jawabannya.

Di satu sisi, saya paham bahwa membaca memang penting. Banyak orang mengatakan bahwa manfaat membaca untuk menulis itu besar: kosakata bertambah, gaya bahasa lebih kaya, wawasan lebih luas, dan ide tulisan jadi lebih beragam.

Oh ya, saya juga gak mau munafik. Saya tahu membaca bisa membantu saya belajar menulis dengan lebih baik. 

Hanya saja, bentuk membaca yang cocok buat saya ternyata bukan duduk lama dengan satu buku tebal.

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, jawabannya mungkin “iya”, tetapi bentuk membacanya bisa berbeda-beda. 

Ada yang menikmati novel beratus-ratus halaman, ada juga yang lebih nyaman membaca artikel, blog, berita, atau tulisan pendek.

Di bagian berikutnya, saya akan cerita bahwa sebenarnya saya tetap membaca setiap hari, hanya saja bukan dalam bentuk buku tebal yang harus diselesaikan dari halaman pertama sampai terakhir.

Mengapa Membaca Penting bagi Penulis

Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS
Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS (doc. Riana Dewie)

Saya akhirnya menyadari bahwa membaca memang punya banyak manfaat. 

Bukan semata-mata supaya terlihat rajin, tetapi karena dari sanalah kita bisa menemukan kosakata baru, sudut pandang berbeda, sampai referensi yang mungkin sebelumnya gak pernah terpikirkan. 

Semua itu bisa menjadi bekal saat proses storytelling maupun menyusun sebuah artikel.

Oh ya, membaca juga gak selalu harus berasal dari buku. Sekarang ada banyak media digital yang praktis dan lebih sesuai dengan kebiasaan saya. 

Saya sering membaca artikel, blog, berita, bahkan hasil riset sederhana di internet untuk menambah wawasan. 

Cara ini justru terasa lebih nyaman daripada memaksakan diri menamatkan buku yang membuat saya kehilangan fokus.

Namun, Tidak Semua Orang Belajar dengan Cara yang Sama

Tahu gak, semakin bertambah usia saya justru semakin percaya bahwa setiap orang punya gaya belajar yang berbeda. 

Ada yang cepat memahami sesuatu lewat membaca buku, ada yang lebih mudah lewat video, diskusi, observasi, atau langsung mencoba sendiri.

Saya sih termasuk tipe yang lebih cepat menangkap informasi dari tulisan yang ringkas dan langsung ke inti pembahasan. 

Setelah itu, biasanya saya mengolahnya lagi menjadi sudut pandang sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Buat saya, proses itu terasa lebih menyenangkan sekaligus memancing kreativitas.

Bukan berarti saya anti buku ya. Saya tetap menghargai orang-orang yang punya kebiasaan membaca luar biasa. 

Bahkan kadang saya iri melihat teman yang bisa santai menikmati novel setebal ratusan halaman dalam hitungan hari. 

Saya? Baru beberapa bab saja sudah mulai mencari camilan atau membuka hal lain di laptop. Hihihihi...

Yang paling penting, saya merasa proses belajar gak harus selalu sama. 

Tujuannya tetap sama, yaitu terus berkembang dan menemukan inspirasi menulis dari berbagai sumber yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Saya Tetap Membaca, Hanya Bukan Buku Tebal

Meski sering bilang gak hobi membaca buku, sebenarnya saya tetap membaca setiap hari. Bedanya, bacaan yang saya pilih lebih banyak berasal dari media digital. 

Mulai dari artikel, berita, jurnal, blog, media sosial, komentar orang, sampai hasil riset Google. Semua itu tetap menjadi sumber referensi yang membantu saya memahami banyak hal.

Bagi saya yang dulu cukup sering ikut lomba menulis, sudah pasti saya membutuhkan bahan sebelum mulai mengetik. 

Jadi, saya tetap membaca, hanya saja dalam bentuk yang lebih ringkas, sederhana, dan langsung menuju inti pembahasan. 

Cara seperti ini justru membuat saya lebih mudah menyerap informasi tanpa merasa terbebani.

Setelah lebih dari 500 kata artikel ini, saya jadi teringat bahwa sesekali saya juga menikmati membaca book review

Lucunya, saya sering lebih tertarik membaca ulasan sebuah buku daripada langsung membaca bukunya. 

Dari sana saya bisa mengetahui isi, sudut pandang penulis, bahkan memutuskan apakah buku tersebut memang cocok untuk saya atau cukup sampai membaca ulasannya saja.

Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review
Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review. hihihi (doc. Riana Dewie)

Tahu gak, kebiasaan itu justru sering membantu saya menemukan ide tulisan baru. 

Saat membaca sebuah artikel atau blog, saya langsung berpi

kir, "Wah, topik ini bisa dibahas dari sudut pandang yang berbeda." 

Akhirnya satu bacaan pendek bisa berkembang menjadi beberapa ide tulisan sekaligus.

Saya sih percaya bahwa membaca gak selalu diukur dari tebalnya buku yang berhasil diselesaikan. 

Yang lebih penting adalah apakah bacaan tersebut benar-benar menambah wawasan, memancing rasa ingin tahu, dan membuat kita terus belajar.

Jadi, saat ada yang bertanya apakah saya membaca setiap hari, jawabannya tetap "iya". Hanya medianya saja yang berbeda.

Yang Membuat Tulisan Berkembang Bukan Hanya Banyak Membaca

Setelah menjalani hobi menulis selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa kemampuan menulis juga dibentuk oleh banyak hal selain membaca. 

Saya belajar dari rutinitas menulis, menerima masukan dari pembaca, mengamati kejadian di sekitar, serta terus menjaga rasa ingin tahu. 

Semua pengalaman itu ikut membentuk gaya bahasa saya sedikit demi sedikit.

Oh ya, saya juga cukup sering mengikuti lomba menulis. Memang sih, saya gak selalu menang. 

Mungkin hanya sekitar 30% dari total lomba yang saya ikuti berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan. 

Namun, saya tetap menikmati prosesnya. Setiap lomba membuat saya belajar menyusun ide, mengatur alur tulisan, dan berani mencoba tema yang sebelumnya belum pernah saya bahas. 

Rasanya selalu ada harapan setiap kali menunggu pengumuman pemenang.

***

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, membaca dan menulis memang saling melengkapi. 

Namun, prosesnya gak harus dimulai dengan memaksa diri membaca buku berjam-jam. Temukan saja cara belajar yang paling nyaman. 

Siapa tahu, seperti saya, kamu lebih menikmati bacaan digital, lalu perlahan mulai berani mencoba buku-buku yang sesuai minat.

Pada akhirnya, setiap penulis punya perjalanan yang berbeda. Saya masih ingin belajar, memperkaya literasi, dan sesekali menantang diri untuk lebih akrab dengan buku. 

Semoga suatu hari nanti saya bisa berkata, "Ternyata membaca buku juga menyenangkan." 

Sampai saat itu tiba, saya akan terus menulis, terus belajar, dan terus mencari inspirasi, bahkan saat sedang travelling sekalipun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life Tips

10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif

Menjalani rutinitas harian sebagai cara mengatasi kesedihan.

Kehilangan seseorang yang kita sayangi memang bukan hal yang mudah. 

Bahkan, saya sendiri sedang belajar menemukan cara mengatasi kesedihan setelah ibu saya berpulang pada awal Juli 2026, usai hampir dua tahun berjuang melawan penyakitnya. 

Rasanya masih seperti mimpi, karena setiap sudut rumah seolah menyimpan begitu banyak kenangan tentang beliau.

Tahu gak, dua momen yang paling membekas di hati saya bukan hanya saat ibu mengembuskan napas terakhir. Justru jauh sebelum itu. 

Yang pertama, ketika dokter menyampaikan vonis penyakit ibu untuk pertama kalinya. Saat itulah rasanya dunia seperti berhenti beberapa detik. 

Saya masih ingat bagaimana keluarga berusaha tetap kuat, meski dalam hati semua sedang ketakutan.

Momen kedua terjadi setelah ibu menjalani operasi. Dokter memanggil saya sebagai perwakilan keluarga untuk berbicara di luar ruang tindakan. 

Beliau menjelaskan bahwa kondisi ibu bisa saja mengalami penurunan kesadaran sewaktu-waktu, sehingga keluarga diminta bersiap apabila suatu hari terjadi hal yang gak diinginkan. 

Jujur, saya masih mengingat percakapan itu dengan sangat jelas hingga sekarang.

Mungkin bagi pembaca yang pernah kehilangan orang tua atau orang tercinta, perasaan ini akan terasa begitu dekat. Sedih, takut, marah, kecewa, bingung, semua bercampur menjadi satu. 

Saya pun sempat bertanya dalam hati, kenapa harus secepat ini? Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa hidup memang selalu berjalan berdampingan dengan perpisahan.

Oh ya, tulisan ini bukan bermaksud mengajarkan bagaimana seseorang harus berduka. Setiap orang memiliki proses berduka yang sehat dengan caranya masing-masing. 

Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi sekaligus menjadi ruang kecil untuk melepaskan emosi yang selama ini saya simpan. 

Hihihihi... ternyata menulis memang masih menjadi terapi terbaik buat saya.

Ditinggal Ibu adalah Hal yang Paling Saya Takutkan

Sejak dulu saya sih sering membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari harus hidup tanpa ibu. 

Nyatanya, ketika hari itu benar-benar datang, rasanya tetap jauh lebih berat daripada yang pernah saya bayangkan.

Saya percaya, hampir semua orang akan mengalami fase kehilangan orang tua ataupun orang-orang yang disayang. Saat itu terjadi, berbagai emosi datang bergantian. 

Ada sedih, marah, kecewa, merasa gak siap, bahkan ada rasa bersalah karena merasa masih banyak hal yang belum sempat dilakukan bersama mereka.

Namun, di tengah semua perasaan itu, saya juga belajar menerima bahwa kematian adalah bagian dari takdir Tuhan. Semua sudah tertulis jauh sebelum saya lahir ke dunia. 

Kesadaran inilah yang perlahan membantu saya dalam cara menghadapi rasa kehilangan dan mengatasi rasa kehilangan, meski prosesnya tentu gak bisa instan.

Semua kenangan indah bersama ibu kini menjadi bekal yang saya simpan erat di hati. 

Saat rindu datang, saya memilih mengenangnya lewat doa dan rasa syukur karena pernah memiliki sosok ibu yang begitu luar biasa. 

Bagi saya, itu menjadi salah satu langkah kecil dalam cara menenangkan hati di tengah duka yang masih terasa.

Tahu gak, saya juga merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang saling menguatkan. Kami berbagi tugas, saling menemani, bahkan saling mengingatkan untuk makan dan beristirahat. 

Dukungan keluarga seperti ini benar-benar membantu menjaga kesehatan mental agar tetap kuat menjalani hari demi hari.

Kini, yang bisa kami lakukan hanyalah terus mengirimkan doa. 

Semoga ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan semoga kami yang masih hidup diberi kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dengan penuh makna. 

Pada akhirnya, cinta kepada seseorang gak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah menjadi rindu yang belajar hidup berdampingan dengan waktu.

Berdoa untuk menenangkan hati setelah kehilangan orang tercinta.
Berdoa untuk menenangkan hati setelah kehilangan orang tercinta (doc. Riana Dewie)

10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif

Banyak teman mengingatkan bahwa saya gak perlu berpura-pura kuat atau menyembunyikan kesedihan. Menangis itu wajar, diam sejenak juga wajar. 

Yang penting, jangan memendam semua emosi sendirian hingga berubah menjadi beban yang semakin berat.

Mereka bilang, perlahan saya perlu kembali melakukan aktivitas positif saat berduka agar pikiran memiliki ruang untuk bernapas. Saya setuju. 

Bukan berarti melupakan ibu, melainkan memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk menjalani proses pemulihan emosi secara sehat.

Nah, berikut beberapa aktivitas sederhana yang cukup membantu saya melewati hari-hari setelah kehilangan ibu. 

1. Mendengarkan Musik yang Happy

Banyak orang bilang saat sedang sedih sebaiknya jangan terus-terusan mendengarkan lagu mellow. Saya sih setuju. 

Bukannya dilarang, tapi kalau setiap hari playlist-nya lagu galau, suasana hati bisa ikut tenggelam.

Makanya sekarang saya lebih sering memutar lagu-lagu bertempo cepat, ceria, atau musik yang membuat semangat kembali muncul. Anehnya, suasana hati memang sedikit demi sedikit ikut berubah. 

Pikiran jadi lebih ringan, tubuh juga terasa ingin bergerak mengikuti irama. Wkwkwkwk... kadang saya malah tanpa sadar ikut bersenandung sendiri di rumah.

Menurut saya, ini menjadi salah satu tips mengatasi kesedihan yang paling sederhana karena bisa dilakukan kapan saja. 

Musik memang gak menghapus rasa kehilangan, tetapi setidaknya memberi jeda agar pikiran gak terus berada dalam kesedihan.

2. Journaling

Menulis sudah menjadi hobi saya sejak lama. Jadi saat kehilangan ibu, saya kembali membuka komputer dan mulai menuangkan semua isi hati yang sulit diucapkan secara langsung.

Oh ya, menulis di sini gak harus membuat artikel seperti yang sedang saya lakukan. 

Kamu juga bisa membuat catatan harian, menulis surat untuk orang tercinta yang telah berpulang, atau sekadar mencurahkan apa yang sedang dirasakan hari itu.

Tanpa disadari, journaling membantu saya mengenali emosi sendiri. Saat pikiran terasa penuh, tulisan justru membuat semuanya terasa lebih lega. 

Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari cara mengelola kesedihan sekaligus self healing yang cukup efektif untuk saya.

Kadang setelah selesai menulis, saya membaca kembali tulisan tersebut beberapa hari kemudian. 

Dari sana saya sadar bahwa perlahan saya mulai belajar menerima kehilangan, meskipun rasa rindunya tentu masih ada.

3. Wisata Alam

Saat hati terasa sesak, saya lebih memilih pergi ke tempat yang tenang daripada berada di keramaian. 

Gunung, pantai, danau, hutan pinus, atau tempat doa dan ziarah selalu berhasil membuat pikiran terasa lebih damai.

Wisata alam sebagai aktivitas positif untuk mengatasi kesedihan.
Wisata alam sebagai aktivitas positif untuk mengatasi kesedihan (doc. Riana Dewie)

Melihat pepohonan yang hijau, mendengar suara ombak, atau sekadar menikmati udara segar membuat saya lebih mudah mempraktikkan mindfulness, yaitu menikmati momen saat ini tanpa terlalu larut memikirkan masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan.

Buat saya, wisata alam bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah bentuk aktivitas untuk healing yang membuat tubuh dan pikiran sama-sama beristirahat. 

Bahkan berjalan santai beberapa puluh menit sudah termasuk olahraga ringan yang baik untuk membantu mengurangi stres.

Saya juga jadi teringat bahwa banyak tulisan inspiratif di bunda belajar yang mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan tetap kuat menghadapi berbagai fase kehidupan. 

Rasanya, belajar dari pengalaman orang lain juga bisa menjadi penyemangat tersendiri.

Tahu gak, saya hampir selalu pulang dengan perasaan yang lebih tenang setiap selesai menikmati alam. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena hati terasa punya ruang untuk bernapas lagi.

4. Meet Up dengan Bestie

Dulu saya termasuk orang yang lebih suka menyimpan masalah sendiri. Namun setelah mengalami kehilangan ini, saya sadar bahwa kehadiran teman terdekat adalah anugerah yang luar biasa.

Beberapa sahabat bahkan langsung berkata, "Kalau butuh teman cerita atau sekadar ngopi, kabari ya." Kalimat sederhana itu ternyata sangat berarti.

Kami gak selalu membahas kesedihan. Kadang hanya ngobrol tentang pekerjaan, kuliner baru, rencana liburan, atau hal-hal receh yang membuat suasana kembali hangat. 

Justru obrolan ringan seperti itu membantu saya cara agar tidak larut dalam duka.

Bertemu sahabat membantu mengurangi kesedihan saat berduka.
Bertemu sahabat sambil ngopi membantu mengurangi kesedihan saat berduka (doc. Riana Dewie)

Saya percaya, dukungan dari keluarga maupun sahabat menjadi bagian penting dalam cara bangkit setelah kehilangan orang tercinta. Kita gak harus menghadapi semuanya sendirian. 

Ada kalanya hati memang membutuhkan pelukan, tawa, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

5. Tetap Menjalani Rutinitas Harian

Jujur, ini menjadi salah satu hal yang paling sulit saya lakukan. Rasanya ingin diam di rumah, rebahan seharian, lalu membiarkan waktu berjalan begitu saja. 

Namun saya sadar, terlalu lama berhenti justru membuat pikiran semakin dipenuhi rasa kehilangan.

Sedikit demi sedikit saya mencoba kembali ke rutinitas. Mulai dari bekerja, menulis artikel, membalas chat, hingga mengerjakan hal-hal kecil yang sebelumnya terasa biasa saja. 

Aktivitas ini membantu saya kembali produktif tanpa harus memaksa diri terlihat baik-baik saja.

Oh ya, saya juga belajar bahwa proses ini gak perlu terburu-buru. Ada hari ketika semangat datang, ada juga hari ketika saya masih ingin menangis. Semuanya tetap bagian dari proses berduka yang sehat.

6. Berdoa dan Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Bagi saya pribadi, doa menjadi tempat terbaik untuk mencurahkan semua isi hati. Saat rasanya sudah gak sanggup bercerita kepada siapa pun, saya memilih berbicara kepada Tuhan.

Saya percaya, ibu kini sudah berada dalam kasih Tuhan yang jauh lebih indah daripada kehidupan di dunia. Keyakinan itu membuat hati saya perlahan menjadi lebih tenang.

Berdoa juga membantu saya mengelola emosi. Bukan berarti rasa sedih langsung hilang, tetapi saya merasa selalu punya tempat untuk kembali ketika hati sedang rapuh. 

Bahkan sesekali saya memilih datang ke tempat doa atau ziarah hanya untuk duduk beberapa saat menikmati suasana yang hening.

Saya sih percaya, setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan selalu membawa kekuatan baru, meski jawabannya gak selalu datang secepat yang kita harapkan.

7. Mencoba Hobi Baru

Selain menulis, saya mulai mencoba mengisi waktu dengan berbagai aktivitas yang sebelumnya jarang dilakukan. 

Misalnya memasak resep baru, merapikan koleksi barang, berkebun kecil-kecilan, atau belajar keterampilan yang sudah lama ingin saya coba.

Tahu gak, saat otak fokus mempelajari sesuatu yang baru, ruang untuk terus memikirkan kesedihan jadi sedikit berkurang. 

Bukan karena melupakan orang yang kita sayangi, tetapi karena pikiran sedang diberi kesempatan beristirahat.

Memiliki hobi baru juga membuat saya lebih bersemangat menjalani hari. Rasanya selalu ada hal yang ditunggu setiap bangun pagi. 

Menurut saya, ini menjadi salah satu kegiatan untuk mengurangi rasa sedih yang cukup efektif.

8. Berolahraga Ringan

Saya bukan tipe yang rajin olahraga berat. Namun akhir-akhir ini saya mulai rutin berjalan kaki di pagi atau sore hari selama 20–30 menit.

Ternyata tubuh yang bergerak membuat pikiran ikut terasa lebih segar. Napas menjadi lebih teratur, badan lebih ringan, dan tidur pun terasa lebih nyenyak.

Olahraga ringan juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental saat berduka. Gak harus langsung lari maraton atau pergi ke gym setiap hari. 

Jalan santai, bersepeda, yoga, atau peregangan ringan di rumah pun sudah sangat membantu.

Oh ya, jangan lupa tetap mendengarkan kondisi tubuh sendiri. Saat sedang lelah secara fisik maupun emosional, beristirahat juga merupakan bentuk mencintai diri sendiri. 

Saya merasa, menerima bahwa diri ini sedang berduka justru menjadi langkah awal untuk benar-benar pulih.

9. Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga

Kebersamaan keluarga membantu menghadapi rasa kehilangan.
Kebersamaan keluarga membantu menghadapi rasa kehilangan (doc. Riana Dewie)

Setelah ibu berpulang, saya justru semakin menyadari betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga. Kami jadi lebih sering makan bersama, mengobrol, mengenang cerita-cerita lucu tentang ibu, sampai sesekali tertawa bersama.

Lucunya, saat mengenang kenangan yang sama, ada saja cerita yang sebelumnya belum pernah saya dengar. 

Dari situ saya sadar bahwa seseorang yang kita cintai akan selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang menyayanginya.

Saya sih merasa, saling menguatkan seperti ini jauh lebih menenangkan daripada memendam semua perasaan sendirian. 

Dukungan keluarga benar-benar menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menghadapi masa kehilangan.

10. Memberi Waktu untuk Diri Sendiri

Selama dua tahun terakhir, fokus saya banyak tertuju pada kesehatan ibu. 

Setelah semuanya selesai, saya baru menyadari bahwa diri saya juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan emosi.

Sesekali saya memilih menikmati secangkir kopi, membaca buku, menonton film favorit, atau sekadar duduk di teras rumah tanpa melakukan apa pun. 

Aktivitas sederhana seperti ini ternyata membuat hati terasa lebih lega.

Tahu gak, proses pulih dari kehilangan bukan perlombaan. Gak ada ukuran kapan seseorang harus kembali tersenyum atau terlihat kuat. 

Setiap orang memiliki ritmenya masing-masing, dan itu sangat wajar.

Yang terpenting, jangan menutup diri dari bantuan orang lain apabila memang membutuhkannya. 

Bercerita kepada keluarga, sahabat, atau tenaga profesional bukan berarti kita lemah. Justru itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Me time menjadi salah satu cara mengatasi kesedihan secara sehat.
Me time menjadi salah satu cara mengatasi kesedihan secara sehat (doc. Riana Dewie)

***

Kehilangan orang yang kita sayangi memang akan meninggalkan luka, bahkan mungkin tak pernah benar-benar hilang. 

Namun saya percaya, sedih bukanlah tempat untuk menetap, melainkan fase yang perlu dijalani dengan penuh kasih kepada diri sendiri. 

Semoga 10 cara mengatasi kesedihan ini bisa menjadi teman kecil bagi siapa pun yang sedang berduka. 

Tetaplah melangkah, terus berdoa, dan jangan ragu mencari dukungan agar kesehatan mental tetap terjaga. 

Siapa tahu, pengalaman ini juga bisa menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup maupun perjalanan parenting kita kelak.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments