In Destinations

Gedong Ledoksari Yogyakarta: Ruang Privat Sang Sultan

Gedong Ledoksari Yogyakarta saat Walking Tour

Saya mulai sadar, Walking Tour di kawasan Keraton Yogyakarta itu seperti membuka pintu satu per satu. Belum selesai dibuat penasaran dengan satu tempat, sudah ada tempat lain yang punya cerita berbeda.

Dalam perjalanan kali ini, saya sempat melewati Kampung Cyber Yogyakarta. Dari luar mungkin terlihat seperti kampung biasa, tetapi kawasan ini punya cerita tentang bagaimana warga beradaptasi dengan perkembangan internet dan teknologi.

Setelah itu, langkah kami membawa saya ke tempat dengan suasana yang jauh berbeda: Gedong Ledoksari Yogyakarta.

Tahu gak, kalau Kampung Cyber bercerita tentang bagaimana masyarakat menyambut teknologi masa kini, Gedong Ledoksari justru membawa kita mundur jauh ke kehidupan kerajaan. 

Bangunan ini berkaitan dengan ruang privat Sultan, tempat beristirahat bersama permaisuri dan orang-orang terdekatnya.

Kontrasnya menarik banget. Satu kawasan, tetapi dua cerita zaman yang berbeda.

Dari Kampung Cyber, Melangkah ke Masa Kerajaan

Kampung Cyber Yogyakarta dalam rute Walking Tour
Kampung Cyber Yogyakarta dalam rute Walking Tour (doc. Riana Dewie)

Sebelum sampai ke Gedong Ledoksari, saya sempat mendapatkan cerita mengenai Kampung Cyber.

Kampung yang berada di kawasan Taman Sari ini dikenal sebagai salah satu kampung yang cukup awal memanfaatkan teknologi internet untuk kehidupan masyarakatnya. 

Inisiatifnya berangkat dari keinginan membuat warga lebih sadar dan akrab dengan internet.

Jaringan kemudian dibangun dan akses internet diperluas. Sekarang, perkembangan teknologinya juga semakin terasa dengan keberadaan CCTV serta jaringan Wi-Fi yang digunakan masing-masing rumah.

Oh ya, menariknya, konsep kampung seperti ini menunjukkan bahwa teknologi gak selalu harus dimulai dari gedung perkantoran atau perusahaan besar. Dari lingkungan tempat tinggal pun, internet bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Suasana Kampung Cyber Jogja saat guide memberi penjelasan
Suasana Kampung Cyber Jogja saat guide memberi penjelasan (doc. Riana Dewie)


Saya sih suka melihat kontrasnya. Baru saja membicarakan jaringan internet, tiba-tiba perjalanan membawa saya menuju bangunan yang ceritanya berasal dari masa Kesultanan Yogyakarta.

Dari kampung digital, kami masuk ke cerita tentang ruang privat seorang Sultan.

Gedong Ledoksari Yogyakarta, Tempat Istirahat Sultan

Gedong Ledoksari merupakan salah satu bangunan yang berada di kawasan Keraton dan berkaitan erat dengan kehidupan pribadi Sultan.

Berbeda dengan pendapa atau bangunan yang digunakan untuk menerima tamu dan menjalankan kegiatan kerajaan, Gedong Ledoksari mempunyai fungsi yang lebih privat. Tempat ini digunakan Sultan untuk beristirahat bersama permaisuri.

Dalam konteks kehidupan kerajaan pada masa lalu, ruang tersebut juga berkaitan dengan keberadaan para selir.

Tahu gak, informasi ini membuat saya melihat istilah “ruang privat” dengan cara yang berbeda. Dalam kehidupan seorang Sultan, privasi tentu punya aturan dan batas tersendiri. 

Gak semua orang bisa keluar-masuk area yang berkaitan dengan kehidupan pribadi raja.

Jadi, bangunan seperti Gedong Ledoksari bukan hanya soal arsitektur Jawa atau bentuk bangunannya. Ada sistem sosial yang ikut tercermin di dalamnya.

Siapa yang boleh berada di sana, untuk kegiatan apa ruang tersebut digunakan, dan bagaimana hubungan Sultan dengan keluarga di dalam lingkungan keraton semuanya menjadi bagian dari cerita.

Gedong Ledoksari Keraton Yogyakarta dan kawasan sekitarnya
Gedong Ledoksari Keraton Yogyakarta dan kawasan sekitarnya (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Tempat Tidur

Ketika mendengar istilah tempat istirahat, mungkin yang langsung terbayang adalah kamar.

Namun, dalam lingkungan keraton, fungsi ruang gak sesederhana itu. Kediaman dan tempat peristirahatan Sultan berada dalam sistem ruang yang memiliki aturan, hierarki, dan hubungan dengan bagian lain dari kompleks kerajaan.

Karena itu, Gedong Ledoksari lebih tepat dilihat sebagai bagian dari kehidupan privat keluarga kerajaan, bukan sekadar “kamar Sultan”.

Saya rasa, justru detail seperti ini yang sering hilang ketika sejarah hanya diceritakan lewat nama raja dan tahun pemerintahan.

Padahal, di balik sejarah besar Kesultanan Yogyakarta, ada juga kehidupan sehari-hari: tempat beristirahat, berkumpul dengan keluarga, menerima orang-orang terdekat, hingga menjalankan berbagai kebutuhan pribadi.

Menyusuri Jejak Gedong Ledoksari dan Taman Sari

Letak Gedong Ledoksari juga membuat ceritanya gak bisa dipisahkan dari kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Taman Sari dikenal sebagai pesanggrahan Keraton yang memiliki berbagai fungsi. Ada area yang digunakan untuk rekreasi keluarga Sultan, tempat peristirahatan, ruang kegiatan, hingga bagian yang berkaitan dengan pertahanan.

Karena itulah, berjalan di kawasan ini terasa seperti melihat satu jaringan besar kehidupan Keraton.

Bangunan Gedong Ledoksari di kawasan Keraton
Bangunan Gedong Ledoksari di kawasan Keraton (doc. Riana Dewie)


Oh ya, sebelumnya saya juga sudah mengunjungi Pasar Ngasem dalam rangkaian Walking Tour ini. 

Jarak dan hubungan kawasan tersebut dengan Taman Sari membuat saya semakin memahami bahwa tempat-tempat yang sekarang kita lihat sebagai destinasi wisata sebenarnya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan keluarga Keraton.

Di satu sisi ada pasar yang sekarang ramai dengan kuliner. Di sisi lain ada Kampung Cyber yang berkembang dengan teknologi. Lalu ada Gedong Ledoksari yang menyimpan cerita kehidupan privat Sultan.

Tahu gak, justru perpaduan seperti inilah yang membuat kawasan Njeron Benteng terasa hidup. Sejarahnya gak berdiri sendirian, tetapi berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Belah Semongko dan Cerita tentang Mataram

Belah Semongko di sekitar Gedong Ledoksari
Belah Semongko di sekitar Gedong Ledoksari (doc. Riana Dewie)

Ada satu cerita lain yang saya dapat ketika berada di sekitar Gedong Ledoksari, yaitu mengenai Belah Semongko.

Dalam penjelasan guide saat Walking Tour, Belah Semongko dikaitkan dengan simbol pecahnya Kerajaan Mataram. 

Lokasinya berada di sekitar kawasan Ledoksari dan menjadi salah satu detail yang membuat perjalanan semakin menarik.

Saya sih langsung penasaran. Kenapa simbol “belah” dikaitkan dengan perjalanan sejarah Mataram?

Di sini kita memang perlu membedakan antara cerita simbolik yang berkembang dengan fakta sejarah yang tercatat. Secara historis, salah satu peristiwa besar yang berkaitan dengan pembagian Mataram adalah Perjanjian Giyanti pada 1755.

Perjanjian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Mataram dan berdirinya Kesultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sementara itu, cerita mengenai Belah Semongko lebih menarik bila ditempatkan sebagai bagian dari narasi budaya yang kita temukan saat berjalan menyusuri kawasan.

Buat saya, justru gak harus semuanya langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Cerita simbolik pun menarik untuk ditelusuri karena menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna terhadap ruang di sekitarnya.

Walking Tour Gedong Ledoksari dan Kampung Cyber Yogyakarta
Walking Tour Gedong Ledoksari dan Kampung Cyber Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dua Zaman dalam Satu Perjalanan

Setelah berjalan dari Kampung Cyber menuju Gedong Ledoksari, saya merasa seperti baru saja berpindah zaman.

Di Kampung Cyber, pembicaraannya tentang internet, jaringan, Wi-Fi, CCTV, dan bagaimana warga memanfaatkan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.

Di Gedong Ledoksari, pembicaraannya berubah total. Kita diajak memahami kehidupan Sultan, permaisuri, selir, keluarga kerajaan, dan bagaimana sebuah ruang privat memiliki fungsi khusus dalam lingkungan Keraton.

Wkwkwkwk.... kalau rutenya cuma dilihat di peta mungkin terlihat seperti jalan kaki biasa. Tapi setelah tahu ceritanya, setiap sudut terasa punya makna.

Dan menurut saya, itulah kelebihan Walking Tour. Kita gak hanya diberi tahu “ini bangunan apa”, tetapi juga diajak memahami hubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Gedong Ledoksari bukan sekadar bangunan bersejarah. Ia menjadi bagian dari lanskap kehidupan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih luas.

Di sini ada cerita tentang kehidupan privat Sultan. Di sekitarnya ada Taman Sari sebagai pesanggrahan kerajaan, kampung masyarakat, dan kawasan yang kini berkembang menjadi destinasi wisata budaya.

Oh ya, perjalanan saya kali ini juga membuat saya sadar bahwa sejarah gak selalu harus dicari di museum. Kadang, sejarah justru berada di balik tembok yang kita lewati setiap hari.

Saya sih jadi semakin penasaran dengan titik berikutnya dari perjalanan Walking Tour ini. Sebab setelah melihat Kampung Cyber dan Gedong Ledoksari, saya semakin yakin bahwa kawasan Keraton punya banyak cerita yang belum tentu langsung terlihat dari jalan.

Kawasan Sumur Gemuling yang kini sudah tutup
Kawasan Sumur Gemuling yang kini sudah tutup (doc. Riana Dewie)


Hihihihi.... mungkin itu sebabnya saya gak pernah bosan jalan-jalan di kawasan Jogja. Tempatnya bisa sama, tetapi cerita yang kita dapat hari ini belum tentu sama dengan cerita yang kita dengar kemarin.

Gedong Ledoksari Yogyakarta akhirnya menjadi salah satu titik yang membuat saya melihat kawasan Keraton dari sisi yang lebih personal. 

Bukan hanya tentang raja dan kerajaan, tetapi juga tentang ruang privat, keluarga, kehidupan sehari-hari, serta bagaimana masyarakat masa kini hidup berdampingan dengan warisan sejarah tersebut.

Dan bagi saya, pengalaman datang langsung seperti ini membuat sejarah terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan tentu saja jauh lebih seru untuk diceritakan kembali.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Pasar Ngasem Yogyakarta: Dulu Danau, Kini Pasar Kuliner

Suasana Pasar Ngasem Jogja di kawasan Taman Sari

Saya gak tahu sudah berapa kali saya datang ke Pasar Ngasem. Yang jelas, tempat ini sudah akrab sejak saya masih kecil. 

Waktu itu, orang tua saya sempat ngontrak rumah di kawasan Taman Sari sampai saya duduk di kelas 3 SD. Jadi, Pasar Ngasem bukan sekadar nama tempat yang baru saya kenal ketika ikut Walking Tour.

Dulu, saya sering diajak ibu belanja jajan pasar sekaligus membeli sayur untuk dimasak di rumah. Saya juga masih ingat ada ikan-ikan lucu di akuarium dan burung yang diperjualbelikan. 

Namanya anak kecil, melihat ikan warna-warni dan burung berkicau di pasar tentu lebih menarik daripada sekadar menemani ibu belanja. Hihihihi....

Bertahun-tahun kemudian, saya kembali datang ke Pasar Ngasem sebagai peserta Walking Tour Sumbu Filosofi. Bedanya, kali ini saya datang dengan membawa rasa penasaran baru. 

Dari penjelasan guide, saya baru tahu bahwa tempat yang sejak kecil saya kenal sebagai pasar ternyata punya perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tahu gak, kawasan yang sekarang menjadi Pasar Ngasem Yogyakarta dulunya merupakan bagian dari danau buatan atau segaran di kompleks Taman Sari. 

Jadi, sebelum ada aktivitas jual beli seperti yang saya kenal sejak kecil, kawasan ini justru merupakan bagian dari lanskap air milik Keraton Yogyakarta.

Kali Ini Saya Melihat Pasar Ngasem dengan Cara Berbeda

Lokasi Pasar Ngasem memang sangat dekat dengan Taman Sari. Keduanya berada di kawasan Njeron Benteng yang membuat perjalanan ke sini terasa seperti masuk ke lapisan sejarah Yogyakarta.

Dalam Walking Tour Pasar Ngasem kali ini, saya jadi gak cuma melihat los pedagang atau membayangkan menu sarapan. Saya mulai memperhatikan hubungan pasar dengan bangunan-bangunan Keraton di sekitarnya.

Oh ya, dari sini pula saya baru memahami kenapa keberadaan Pasar Ngasem sebenarnya gak bisa dipisahkan dari Taman Sari Yogyakarta.

Dahulu, area di sekitar pasar sekarang merupakan bagian dari segaran, yaitu danau buatan yang mengelilingi sejumlah bangunan di kompleks Taman Sari. 

Di tengah kawasan tersebut terdapat Pulo Kenanga, yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan. Dari kawasan Pasar Ngasem sekarang, posisi Pulo Kenanga memang masih bisa dikenali di bagian selatan.

Pulo Kenanga di kawasan Taman Sari dekat Pasar Ngasem
Pulo Kenanga di kawasan Taman Sari dekat Pasar Ngasem (doc. Riana Dewie)

Ada pula cerita tentang akses berupa jembatan yang menghubungkan kawasan sekitar danau. Jadi, membayangkan tempat ini pada masa lalu memang cukup berbeda dengan suasana pasar yang saya lihat sekarang.

Saya sih suka bagian ini karena sejarahnya terasa lebih mudah dipahami ketika kita berdiri langsung di lokasinya. 

Kita gak sedang membayangkan sebuah danau yang entah ada di mana, tetapi berada di atas kawasan yang dulu merupakan bagian dari danau tersebut.

Dari Danau Buatan, Berubah Menjadi Pasar

Lalu bagaimana sebuah kawasan danau bisa berubah menjadi Pasar Ngasem?

Seiring waktu, kondisi kawasan mengalami perubahan. Danau yang dahulu menjadi bagian penting dari Taman Sari akhirnya surut dan kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman sekaligus ruang aktivitas masyarakat.

Dari sinilah pasar kemudian tumbuh. Catatan sejarah menyebut Pasar Ngasem sudah dikenal sejak awal abad ke-19. Bahkan, aktivitas jual beli burung telah tercatat sejak sekitar 1809. 

Pada sekitar 1960-an, keberadaan pedagang burung dari Pasar Beringharjo yang dipindahkan ke Ngasem semakin membuat pasar ini identik sebagai pasar burung.

Tahu gak, Pasar Ngasem dulu pasar burung bahkan begitu terkenal sampai menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. 

Burung bukan hanya dipandang sebagai hewan peliharaan, tetapi juga memiliki kaitan dengan budaya dan status sosial masyarakat Jawa.

Kawasan Pasar Ngasem yang dulu menjadi danau Taman Sari
Kawasan Pasar Ngasem yang dulu menjadi danau Taman Sari (doc. Riana Dewie)

Namun, fungsi Pasar Ngasem sebenarnya lebih luas. Di sini juga ada pedagang ikan, hewan, sembako, makanan, sayur, buah, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Artinya, sejak awal berkembang sebagai pasar, tempat ini bukan hanya menjadi ruang untuk hobi memelihara burung. Pasar Ngasem juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga sekitar.

Ketika Pasar Burung Dipindahkan

Memasuki masa yang lebih modern, jumlah pedagang dan aktivitas jual beli satwa semakin berkembang. 

Lokasi Pasar Ngasem yang berada dekat kawasan wisata Taman Sari kemudian menghadapi persoalan kepadatan dan kenyamanan lingkungan.

Pemerintah akhirnya melakukan relokasi pedagang burung dan satwa ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta atau PASTY. 

Relokasi tersebut dilaksanakan pada 22 April 2010 dan menjadi bagian dari penataan kawasan sekaligus upaya menjaga Taman Sari sebagai kawasan cagar budaya.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perubahan fungsi Pasar Ngasem. Setelah aktivitas perdagangan satwa berpindah, karakter pasar perlahan ikut berubah.

Pasar Ngasem Sekarang: Sarapan, Kuliner, dan Ruang Komunitas

Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta di pagi hari
Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta di pagi hari (doc. Google Review)

Kalau dulu saya datang ke Pasar Ngasem untuk menemani ibu belanja, sekarang suasananya terasa berbeda.

Pasar Ngasem sekarang lebih saya kenal sebagai tempat mencari kuliner tradisional dan kebutuhan sehari-hari. 

Ada sayur, buah, makanan tradisional, serta berbagai pilihan kuliner khas Jogja yang membuat pasar tetap punya denyut kehidupan sejak pagi.

Museum Sonobudoyo juga mencatat bahwa Pasar Ngasem kini berkembang sebagai ruang yang memadukan aktivitas pasar, kuliner, ruang publik, dan kegiatan seni.

Oh ya, saya sendiri sampai sekarang belum sempat benar-benar berburu kuliner paginya. Katanya ada sate kere dan dawet yang enak di sini. 

Jadi, sepertinya saya memang perlu datang lagi khusus untuk sarapan. Hmmm... alasan yang cukup masuk akal, kan?

Buat saya, justru di sinilah fungsi Pasar Ngasem menjadi menarik. Ia gak kehilangan identitasnya sebagai pasar tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari wisata budaya dan kuliner di kawasan Keraton.

Plaza Panggung yang Jadi Ruang Bersama

Plaza Panggung Pasar Ngasem untuk kegiatan komunitasPlaza Panggung Pasar Ngasem untuk kegiatan komunitas (doc. Riana Dewie)

Selain aktivitas jual beli, ada pula Plaza Panggung Pasar Ngasem yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan.

Dari catatan dan cerita yang saya dapat, ruang ini pernah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan sekolah, komunitas, pertunjukan seni, hingga event budaya. Artinya, pasar gak cuma berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang publik.

Saya pernah datang ke sini saat ada acara Pasar Kangen. Saya juga punya kenangan lain ketika Pasar Ngasem digunakan untuk kegiatan komunitas, termasuk acara Kompasiana pada 2017 melalui Indonesia Community Day atau ICD 2017 yang digelar di Plaza Pasar Ngasem.

Kegiatan semacam ini membuat Pasar Ngasem punya wajah lain di luar jam belanja. Ketika ada event, ruang pasar bisa berubah menjadi tempat bertemu, berbagi karya, berdiskusi, menikmati pertunjukan, dan berkumpulnya berbagai komunitas.

Tahu gak, perubahan semacam ini justru membuat sebuah pasar tradisional tetap relevan. Fungsinya berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa harus kehilangan sejarah tempatnya.

Dari Kenangan Masa Kecil sampai Destinasi Wisata Jogja

Sekarang saya jadi melihat Pasar Ngasem dengan cara yang berbeda.

Dulu, yang saya ingat hanya menemani ibu membeli jajan pasar dan sayuran. 

Saya ingat akuarium berisi ikan, burung-burung yang ramai diperjualbelikan, serta suasana pasar yang terasa biasa saja karena memang menjadi bagian dari keseharian saya.

Sekarang, setelah mendapatkan cerita dari guide Walking Tour, saya baru memahami bahwa tempat tersebut punya perjalanan panjang: dari kawasan danau buatan Taman Sari, berubah menjadi pasar, dikenal sebagai pasar burung, kemudian bertransformasi menjadi pasar tradisional dengan kuliner dan ruang komunitas.

Wingko babat di Pasar Ngasem Yogyakarta
Wingko babat di Pasar Ngasem Yogyakarta (doc. Google Review)

Saya sih justru merasa pengalaman seperti ini yang membuat Walking Tour menarik. Kita bisa datang ke tempat yang sebenarnya sudah familiar, tetapi pulang dengan pengetahuan baru.

Pasar Ngasem Yogyakarta akhirnya bukan cuma tentang apa yang dijual di dalamnya. Ada sejarah Yogyakarta, perubahan fungsi kawasan, kehidupan masyarakat, kuliner, seni, komunitas, dan hubungan erat dengan kawasan Taman Sari.

Wkwkwkwk.... siapa sangka pasar yang sejak kecil saya anggap cuma tempat belanja justru punya cerita sepanjang ini?

Dan mungkin saya memang harus kembali lagi. 

Bukan untuk menemani ibu belanja seperti dulu, tetapi untuk duduk santai pagi-pagi, mencicipi sate kere atau dawet. Juga melihat bagaimana Pasar Ngasem Yogyakarta terus menjalani kehidupan barunya sebagai bagian dari wisata budaya Jogja.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In City Life

Ndalem Mangkubumen Yogyakarta: Temuan dari Walking Tour

Ndalem Mangkubumen Yogyakarta saat Walking Tour

Saya awalnya mengira Ndalem Mangkubumen hanya akan menjadi salah satu titik singgah dalam Walking Tour kawasan Keraton Yogyakarta. Ternyata, setelah datang langsung, tempat ini justru membuat saya ingin tahu lebih banyak.

Kegiatan yang diadakan oleh komunitas Sumbu Filosofi ini membawa saya menyusuri beberapa tempat bersejarah, mulai dari Ndalem Mangkubumen, Pasar Ngasem, Kampung Wisata Taman Sari, hingga ditutup dengan ngeteh di Patehan. 

Nah, kali ini saya mau cerita dulu tentang satu tempat yang punya lapisan sejarah cukup menarik: Ndalem Mangkubumen Yogyakarta.

Tahu gak, bangunan yang dari luar terlihat seperti kompleks dalem bangsawan ini ternyata pernah disiapkan sebagai kediaman Putra Mahkota. 

Bahkan, orang yang menempatinya pada awalnya kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.

Jadi, kunjungan ke sini bukan cuma soal melihat bangunan tua. Ada cerita keluarga keraton, calon raja, abdi dalem, pemerintahan, pendidikan, perjuangan, sampai kegiatan budaya yang masih berlangsung hingga sekarang.

Ndalem Mangkubumen Yogyakarta Ternyata Bukan Sekadar Rumah Pangeran

Kompleks Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya
Area depan Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya (doc. Riana Dewie)

Salah satu temuan menarik dari kunjungan saya adalah soal sejarah awal bangunan ini.

Ndalem Mangkubumen dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI sebagai tempat tinggal Pangeran Adipati Anom atau Putra Mahkota. 

Sosok yang menempatinya adalah GPH Hangabehi, putra Sultan HB VI yang dipersiapkan sebagai calon raja. Ia kemudian naik takhta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 1877.

Oh ya, dari sini saya baru ngeh bahwa istilah “rumah pangeran” sebenarnya kurang menggambarkan fungsi awal Ndalem Mangkubumen. 

Kompleks ini dirancang untuk seseorang yang sedang dipersiapkan menjadi calon raja.

Setelah GPH Hangabehi naik takhta, kompleks tersebut kemudian ditempati adiknya, KGPAA Mangkubumi. 

Dari sinilah nama Ndalem Mangkubumen semakin dikenal. Pangeran Mangkubumi tinggal di sana sampai wafat pada 1918, kemudian diteruskan oleh GPH Buminoto.

Ada pula cerita Pangeran Juminah, putra Sultan Hamengku Buwono VII, yang pernah ditetapkan sebagai Putra Mahkota tetapi kemudian batal menjadi Sultan karena kondisi kesehatannya.

Saya sih merasa bagian ini yang membuat sejarah Ndalem Mangkubumen jadi lebih menarik. 

Ada pergantian penghuni, perubahan status, dan hubungan keluarga yang memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan bisa mengikuti dinamika keluarga kerajaan.

Pendapa Ndalem Mangkubumen Yogyakarta
Pendapa Ndalem Mangkubumen Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Melihat Ndalem sebagai Rumah Sekaligus Pusat Kehidupan

Saat berada di dalam kompleks, saya mulai melihat bahwa Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta punya tata ruang yang jauh lebih kompleks daripada rumah biasa.

Karena sejak awal berkaitan dengan calon raja, bangunan Ndalem Mangkubumen memiliki susunan ruang yang menyerupai kompleks keraton. 

Bahkan dalam kajian arsitektur, kompleks ini sering disebut sebagai Keraton Alit atau “keraton kecil”.

Regol Cemeng dan Gedhong Inggil

Regol Cemeng menjadi salah satu akses penting menuju kawasan dalam kompleks. Sementara Gedhong Inggil berkaitan dengan ruang kerja Putra Mahkota atau Adipati.

Jadi, di dalam sebuah kompleks hunian bangsawan, ada ruang yang memang berkaitan dengan urusan pemerintahan. Putra Mahkota bukan hanya tinggal di sini, tetapi juga menjalankan tugas dan aktivitas yang berkaitan dengan kedudukannya.

Gandok dan ruang keluarga

Ada pula gandok yang berkaitan dengan ruang hunian keluarga. Bagian ini digunakan untuk kebutuhan istri dan anak-anak.

Sementara itu, terdapat ruang makan atau getri yang mendukung aktivitas keluarga sehari-hari. 

Susunan semacam ini memperlihatkan bahwa kehidupan keluarga keraton memiliki pembagian ruang yang cukup jelas antara area publik, pekerjaan, dan kehidupan domestik.

Tahu gak, konsep seperti ini juga berkaitan dengan keberadaan para abdi dalem di sekitar kediaman bangsawan.

Mereka dapat tinggal di kawasan magersari, yaitu tempat tinggal yang diberikan berdasarkan hak pakai atau hak guna tertentu sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi, kedekatan rumah abdi dalem dengan rumah pangeran bukan sekadar kebetulan.

Kawasan Magersari di Ndalem Mangkubumen Yogyakarta
Kawasan Magersari di Ndalem Mangkubumen Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Para abdi dalem yang memiliki tugas dekat dengan keluarga pangeran memang membutuhkan akses yang relatif dekat. 

Sementara itu, kelompok yang bertugas di luar kawasan inti Njeron Benteng juga memiliki wilayah masing-masing, seperti prajurit Patangpuluhan dan Mantrijeron.

Dari Kediaman Pangeran hingga Tempat Perjuangan dan Kampus

Nah, bagian ini menurut saya justru membuat perjalanan Ndalem Mangkubumen semakin panjang.

Bangunan ini ternyata gak berhenti sebagai kediaman keluarga keraton. Dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, kompleks ini juga pernah menjadi bagian dari cerita perjuangan Indonesia.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, Jenderal Soedirman pernah tinggal di Ndalem Mangkubumen. 

Atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kompleks tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sementara. Keluarga Jenderal Soedirman juga kemudian tinggal di sana hingga situasi perang berakhir.

Dari tempat tinggal keluarga bangsawan, Ndalem Mangkubumen kemudian memasuki babak baru sebagai ruang pendidikan.

Pada 1952 hingga 1982, kompleks ini digunakan oleh Fakultas Kedokteran UGM. 

Kompleks Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya
Kompleks Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya (doc. Riana Dewie)


Bayangkan saja, ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan keluarga keraton kemudian dipenuhi aktivitas mahasiswa dan dunia akademik.

Setelah itu, sejak 1983, Ndalem Mangkubumen digunakan oleh Universitas Widya Mataram.

Oh ya, ada satu hal yang membuat saya semakin melihat bangunan ini sebagai ruang yang terus beradaptasi. 

Meski fungsinya berubah, karakter arsitektur Jawa dan struktur kompleksnya masih menjadi bagian penting dari identitas Ndalem Mangkubumen.

Pendapa, pringgitan, dalem ageng, Bangsal Prabayeksa, hingga Sriwedari bukan sekadar nama ruangan. Masing-masing memiliki fungsi dan posisi dalam tata ruang tradisional yang membentuk keseluruhan kompleks.

Hihihihi.... jadi rasanya seperti membaca sejarah Yogyakarta melalui denah sebuah rumah.

Ndalem Mangkubumen Sekarang, Ketika Sejarah Kembali Dipakai

Kalau datang sekarang, Ndalem Mangkubumen Jogja gak hanya menarik karena masa lalunya.

Kompleks ini juga masih berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Statusnya sebagai cagar budaya nasional membuat keberadaannya punya nilai penting dalam pelestarian sejarah Yogyakarta.

Salah satu perkembangan menarik adalah pemanfaatan kembali Ndalem Mangkubumen untuk kegiatan budaya Keraton Yogyakarta.

Area kanan Ndalem Mangkubumen Yogyakarta
Area kanan Ndalem Mangkubumen Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dalam pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal, misalnya, Pendapa Ndalem Mangkubumen menjadi salah satu tempat yang digunakan dalam rangkaian kegiatan pembagian pareden atau gunungan. 

Halaman kompleks yang tampak tenang dalam keseharian bisa berubah menjadi ruang berlangsungnya tradisi keraton.

Tahu gak, buat saya bagian ini justru menjadi alasan kenapa wisata budaya Ndalem Mangkubumen menarik untuk dikunjungi. 

Kita gak hanya melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah ruang bersejarah masih punya fungsi dalam kehidupan budaya sekarang.

Saya juga jadi memahami bahwa event Ndalem Mangkubumen bukan sekadar kegiatan yang kebetulan mengambil lokasi di bangunan tua. 

Ada hubungan antara ruang, tradisi, keluarga keraton, abdi dalem, dan pelestarian budaya yang terus berjalan.

Wkwkwkwk.... ternyata satu titik dalam Walking Tour bisa membuka cerita sepanjang itu.

Peserta walking tour di Kompleks Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta
Peserta walking tour di Kompleks Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Dari kunjungan ini, saya melihat Ndalem Mangkubumen bukan cuma sebagai bangunan cagar budaya. 

Di balik temboknya ada perjalanan keluarga kerajaan, kisah Putra Mahkota, kehidupan para abdi dalem, jejak perjuangan Jenderal Soedirman, sejarah pendidikan, hingga tradisi keraton yang masih hidup.

Oh ya, perjalanan Walking Tour saya sebenarnya masih berlanjut ke Pasar Ngasem, Kampung Wisata Taman Sari, lalu menikmati teh di Patehan (tunggu artikel saya lainnya ya.....). 

Tapi Ndalem Mangkubumen menjadi salah satu titik yang paling membuat saya berhenti sejenak dan berpikir tentang betapa panjangnya perjalanan sebuah tempat.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In City Life

Ada Angklung Jalanan! Temukan 4 hal Seru yang bisa Kamu Nikmati di Titik Nol KM Jogja

wisatawan menikmati suasana Titik Nol KM Jogja

Suatu sore, saya menemani teman ke Malioboro karena ada keperluan di Hamzah Batik. Sambil menunggu, saya memilih mlipir sebentar jalan-jalan ke Titik Nol KM Jogja. 

Niat awalnya sederhana, cuma mau foto-foto. Eh, ternyata saya malah betah duduk dan menikmati suasana pusat Kota Yogyakarta.

Tahu gak, suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Agustus 2026 terasa cukup berbeda karena nuansa merah putih masih kental di berbagai sudut kota. 

Saat saya datang, kawasan ini juga sedang diramaikan pameran fotografi jurnalistik “Merdeka: Merayakan Kemerdekaan, Merawat Kebersamaan” yang digelar 14–21 Agustus 2026. Sebanyak 68 karya foto dipajang di ruang terbuka sehingga wisatawan bisa menikmatinya sambil jalan-jalan.

Buat saya yang memang orang Jogja, duduk santai di area Titik Nol KM tetap menjadi aktivitas favorit. Rasanya seperti healing singkat tanpa harus pergi jauh. 

Apalagi saat weekend, keramaian sudah terasa, meski ketika saya datang suasananya belum sepadat Sabtu atau Minggu yang biasanya lebih ramai.

Tahu gak, dari kunjungan yang awalnya cuma ingin foto-foto itu, saya malah menemukan beberapa pengalaman menarik. Ini lima hal yang bisa kamu nikmati saat melakukan wisata Titik Nol KM Jogja.

1. Foto-Foto dan Menikmati Angklung Jalanan

Dua hal ini justru menjadi pengalaman yang paling cepat saya temukan begitu sampai. Jadi, jangan buru-buru pergi setelah mendapatkan satu foto di landmark Jogja.

Hunting Foto dengan Nuansa Jogja

Titik Nol KM punya banyak latar menarik untuk hunting foto. Selain area penanda Titik Nol, ada bangunan bersejarah seperti Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar Yogyakarta, hingga Benteng Vredeburg yang membuat suasananya terasa klasik.

pameran foto Merdeka di Titik Nol Kilometer YogyakartaPameran foto Merdeka di Titik Nol Kilometer Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Pada Agustus 2026, area pedestrian juga semakin menarik karena pameran foto “Merdeka” membuat ruang publik ini seperti galeri terbuka. Pengunjung bahkan terlihat ikut mengabadikan karya-karya yang dipajang.

Kalau saya sih suka mencari foto yang menangkap suasana, bukan cuma pose di depan landmark. Keramaian pedestrian, bangunan lama, kendaraan yang lewat, sampai orang-orang yang sedang menikmati kota bisa menjadi bagian dari cerita.

Oh ya, kalau datang menjelang sore, cahaya yang mulai lembut juga bisa membuat foto terasa lebih hangat. Tinggal pilih mau bergaya formal, candid, atau sok-sokan jadi fotografer jalanan, hihihihi....

Mendengarkan Angklung Jalanan

Setelah puas mengambil beberapa foto, perhatian saya justru beralih pada alunan musik. Ada kelompok seniman jalanan yang memainkan angklung dengan lagu-lagu yang asyik dan suara yang cukup merdu sebagai penghias kawasan Titik Nol KM.

Yang menarik, pertunjukan angklung jalanan Jogja seperti ini membuat suasana kota terasa lebih hidup. Bukan cuma mendengarkan, pengunjung juga bisa request lagu atau ikut bernyanyi dengan iringan mereka.

Buat saya sih, ini salah satu bentuk kesenian tradisional yang menarik karena bisa dinikmati secara spontan ketika sedang jalan-jalan. Gak perlu masuk gedung pertunjukan atau membeli tiket khusus. Cukup berhenti sebentar, menikmati musik, lalu melanjutkan perjalanan.

2. Duduk Santai dan Menikmati Keramaian Kota

Setelah foto-foto dan mendengarkan musik jalanan Jogja, saya memilih duduk di kursi yang tersedia di sekitar kawasan. Di sinilah saya sadar bahwa salah satu hal yang bisa dilakukan di Titik Nol KM Jogja ternyata sesederhana menikmati orang berlalu-lalang.

Tahu gak, dari tempat duduk saja saya bisa melihat banyak cerita kecil. Ada wisatawan dari komunitas, keluarga yang sedang jalan-jalan, anak muda yang nongkrong, sampai orang yang sekadar melewati kawasan ini.

hunting foto di Titik Nol KM Jogja
Hunting foto di Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)

Belum lagi kendaraan yang ikut meramaikan suasana. Ada motor, mobil, becak, delman, hingga Trans Jogja yang melintas. Semuanya bergerak dalam ritme masing-masing, sementara saya cukup duduk dan memperhatikan.

Suasana seperti ini yang membuat saya suka menikmati Titik Nol KM Jogja. Bagi wisatawan, ini bisa menjadi bagian dari wisata kota. Bagi orang Jogja seperti saya, justru terasa seperti kesempatan untuk berhenti sebentar dari rutinitas.

Oh ya, kalau kamu suka suasana kota yang ramai tetapi tetap punya ruang untuk duduk santai, kawasan ini cocok untuk sekadar people watching. Gak harus selalu punya agenda wisata yang padat.

3. Naik Becak dari Malioboro ke Titik Nol KM

Kalau ingin merasakan pengalaman yang lebih “Jogja”, coba naik becak dari kawasan Malioboro menuju Titik Nol KM.

Saya sendiri merasa pengalaman ini asyik banget. Duduk di becak wisata sambil melihat suasana Jalan Malioboro dari jarak dekat memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan naik kendaraan biasa.

Becak tradisional juga membuat perjalanan terasa lebih santai. Kamu bisa melihat pedestrian, toko, wisatawan, pedagang, sampai aktivitas kota sepanjang perjalanan. Untuk wisatawan dari luar daerah, menurut saya pengalaman seperti ini layak dicoba setidaknya sekali.

Tahu gak, naik becak bukan cuma soal berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Ada pengalaman budaya yang ikut terasa sepanjang perjalanan. Apalagi jika sebelumnya kamu sudah berjalan kaki menyusuri kawasan Malioboro.

Sebelum berangkat, sebaiknya sepakati tarif dan tujuan terlebih dahulu supaya perjalanan terasa nyaman untuk kedua pihak. Setelah itu tinggal duduk manis dan menikmati Jogja.

Wkwkwkwk.... rasanya memang beda ketika biasanya terburu-buru mengejar kendaraan, lalu kali ini justru duduk santai sambil menikmati perjalanan.

Becak Malioboro menuju Titik Nol KM Jogja
Becak Malioboro & street food meramaikan area Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)

4. Berburu Street Food yang Menggoda

Jalan-jalan tentu terasa kurang lengkap tanpa jajan. Nah, setelah puas menikmati suasana, kamu bisa lanjut berburu kuliner sekitar Titik Nol KM Jogja.

Di sekitar kawasan ini, terutama menuju area Pasar Beringharjo, ada banyak pilihan kuliner kaki lima yang bisa menggoda mata sekaligus perut. Pilihannya cukup beragam, mulai dari sate kere, sate ayam, gorengan, bakso, nasi dengan berbagai lauk, sempol, siomay, wedang ronde, sampai jagung rebus.

Kalau saya sih, justru suka melihat-lihat dulu sebelum menentukan mau makan apa. Street food Jogja punya daya tarik sendiri karena kita bisa menemukan makanan sederhana di tengah suasana kota yang ramai.

Buat wisatawan, kuliner seperti ini juga bisa menjadi pengalaman wisata. Setelah berkeliling, duduk menikmati jajanan sambil melihat keramaian kota rasanya pas banget untuk menutup perjalanan.

Oh ya, jangan hanya terpaku pada tempat makan yang terlihat besar atau terkenal. Jajanan kaki lima di sekitar kawasan Malioboro juga bisa menjadi bagian menarik dari perjalanan. Tinggal pilih sesuai selera dan kondisi perut.

Jadi, Apa yang Menarik dari Titik Nol KM?

Ternyata ada banyak kegiatan di Titik Nol KM Jogja yang bisa dilakukan tanpa harus membuat itinerary rumit. Kamu bisa mulai dengan hunting foto, berhenti menikmati pertunjukan angklung, duduk melihat keramaian, naik becak dari Malioboro, lalu menutupnya dengan kuliner malam Jogja.

wisatawan menikmati suasana Titik Nol KM Jogja
Wisatawan menikmati suasana Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)


Buat saya, pengalaman ini mengingatkan bahwa menjadi wisatawan gak selalu berarti harus pergi ke tempat baru. Sesekali, melihat kota sendiri dari sudut pandang wisatawan justru bisa memberikan pengalaman berbeda.

Titik Nol KM Jogja memang ramai, tetapi di tengah keramaian itu selalu ada hal kecil yang bisa dinikmati. Jadi, kalau sedang berada di kawasan Malioboro, sempatkan saja mampir dan duduk sebentar.

Kamu harus nongkrong di Titik Nol KM Jogja. Biar tahu sensasinya!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In City Life Jogja

Melihat Wajah Jogja dari Titik Nol KM di Malam Hari

titik nol km Jogja malam hari dengan suasana ramai

Ada suasana berbeda ketika saya datang ke Titik Nol KM setelah matahari tenggelam. 

Udara terasa lebih adem, lampu-lampu kota mulai menyala, dan area di sekitar pedestrian justru dipenuhi orang. Meski ramai, entah kenapa saya cukup happy duduk di tengah suasana seperti ini.

Buat saya, Titik Nol KM Jogja malam hari bukan sekadar tempat yang dilewati wisatawan ketika jalan-jalan malam. Ada energi yang terasa hidup di sini. 

Orang datang untuk foto-foto, nongkrong, jalan kaki, janjian dengan teman, atau sekadar duduk tanpa tujuan khusus.

Tahu gak, saya yang tinggal di Jogja saja masih sering merasa seperti sedang liburan ketika nongkrong di kawasan ini. Mungkin karena suasana Kota Jogja memang punya cara sendiri untuk bikin kangen.

Begitu Malam Datang, Titik Nol Mulai Berubah

Menjelang malam, kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta perlahan berubah. Aktivitas di jalan tetap berjalan, tetapi suasananya terasa lebih santai. 

Lampu kota membuat bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya terlihat semakin menarik.

Saya sendiri sesekali janjian dengan teman di Titik Nol KM. Gak harus punya agenda khusus. Kadang kami duduk di kursi pedestrian, ngobrol sambil melihat orang berlalu-lalang. 

keramaian Titik Nol KM Jogja di malam hari
Keramaian Titik Nol KM Jogja di malam hari (doc. Riana Dewie)


Ada juga yang memilih duduk di batu-batu bulat yang mengelilingi area Titik Nol.

Tahu gak, justru aktivitas sederhana seperti ini yang menurut saya menjadi salah satu daya tarik Titik Nol Jogja malam. 

Kita gak harus masuk ke tempat nongkrong atau mengeluarkan uang untuk menikmati suasana.

Pedestrian berubah menjadi ruang publik yang mempertemukan banyak orang. 

Ada wisatawan yang baru selesai berjalan-jalan dari Malioboro, warga lokal yang sedang santai, sampai anak muda yang sibuk mencari spot foto malam.

Kalau saya sih suka bagian ini. Duduk sebentar, melihat keramaian, lalu membiarkan waktu berjalan tanpa buru-buru.

Bukan Cuma Wisatawan, Semua Ada di Sini

Salah satu hal yang menarik dari suasana Titik Nol KM malam hari adalah siapa saja bisa menjadi bagian dari keramaian.

Saya sebagai orang Jogja ternyata juga betah nongkrong di sini. Jadi, tempat ini gak cuma milik wisatawan luar kota atau wisatawan mancanegara yang sedang liburan ke Jogja.

suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta malam hari
Suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta malam hari (doc. Riana Dewie)


Ada warga lokal yang sekadar duduk, pasangan yang foto bersama, rombongan keluarga, komunitas, sampai wisatawan yang sengaja mampir setelah menjelajahi kawasan Malioboro malam hari.

Oh ya, dulu ada satu hal yang menurut saya cukup unik. Sesekali muncul penampakan “pocong” atau “kuntilanak” jadi-jadian di sekitar Titik Nol. Bukannya takut, saya malah ingin foto bersama mereka. Hihihihi....

Tentu saja itu bukan hantu sungguhan, melainkan karya anak-anak kreatif yang sengaja membuat suasana semakin seru. 

Kehadiran karakter seperti itu justru memberikan warna tersendiri pada pusat keramaian Yogyakarta.

Sayangnya, belakangan saya sudah jarang menemukan penampakan seperti itu. Padahal, menurut saya, hal-hal kecil semacam ini yang membuat ruang publik terasa hangat dan punya cerita.

Suasana malam Jogja memang punya magnet sendiri. Keramaian, lampu kota, suara orang ngobrol, dan aktivitas wisatawan yang datang silih berganti membuat pusat Kota Yogyakarta terasa hidup.

Kenapa Titik Nol KM Jadi Magnet di Malam Hari?

Kalau sedang mencari wisata malam Jogja, Titik Nol KM bisa menjadi salah satu pilihan yang simpel. Gak perlu itinerary rumit, tinggal datang dan menikmati suasananya.

1. Lokasinya strategis

Titik Nol KM berada di kawasan yang sangat dekat dengan Malioboro dan berbagai tujuan wisata di pusat Kota Yogyakarta. Setelah berjalan-jalan di Malioboro, orang bisa dengan mudah melanjutkan perjalanan ke sini.

2. Gratis untuk menikmati suasananya

Mau duduk, jalan kaki, ngobrol, atau melihat keramaian? Gak harus membeli tiket masuk untuk menikmati ruang publiknya.

Oh ya, ini yang menurut saya bikin Titik Nol KM Yogyakarta malam hari terasa ramah untuk berbagai kalangan. Mau datang sebentar atau berlama-lama, sama-sama bisa.

aktivitas malam di Titik Nol KM Jogja
Aktivitas malam di Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)


3. Banyak aktivitas yang bisa dilihat

Titik Nol bukan tempat yang mengharuskan pengunjung melakukan satu aktivitas tertentu. Ada yang foto-foto, nongkrong, jalan kaki, menikmati kuliner malam di sekitar kawasan, atau sekadar mencari udara segar.

Aktivitas malam di Jogja juga terasa lebih beragam karena kawasan ini menjadi titik pertemuan wisatawan dan warga lokal.

4. Punya banyak spot foto

Lampu kota, pedestrian, bangunan bersejarah, dan suasana keramaian membuat kawasan ini menarik untuk mengabadikan momen.

Bahkan menurut saya, foto yang memperlihatkan keramaian justru sering terasa lebih bercerita dibandingkan foto tempat yang sengaja dibuat sepi.

5. Dekat dengan berbagai destinasi

Mau melanjutkan jalan-jalan ke Malioboro, mencari kuliner, atau sekadar menikmati kehidupan malam Jogja? Dari kawasan Titik Nol, banyak pilihan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tahu gak, salah satu alasan saya suka tempat ini justru karena kita gak perlu buru-buru menentukan harus melakukan apa.

Kopi Pak Pos di kawasan titik nol km Jogja
Kopi Pak Pos di kawasan titik nol km Jogja (doc. Riana Dewie)


Menikmati Jogja Tanpa Harus Punya Agenda

Ada kalanya kepala penuh dan kita cuma butuh keluar rumah.

Gak perlu merencanakan perjalanan jauh. Gak perlu pesan hotel. Gak perlu membeli tiket pesawat. Kadang, cukup jalan ke tempat yang suasananya menyenangkan.

Saya bisa saja dadakan mengajak teman ke Titik Nol. “Yuk, ke sana,” lalu berangkat. Ahahahaha....

Kebetulan jarak dari rumah saya juga cuma sekitar 10 menit perjalanan. Jadi, rasanya sayang kalau tinggal di Jogja tetapi gak memanfaatkan tempat-tempat menarik yang ada di kota sendiri.

Orang dari luar kota rela mengeluarkan biaya dan waktu untuk membeli tiket, mencari penginapan, lalu datang ke Jogja demi merasakan suasananya. Masa sih saya yang tinggal di sini malah jarang menikmati?

Tahu gak, duduk sebentar di Titik Nol KM ternyata cukup membantu saya refreshing. 

Melihat orang berlalu-lalang, menikmati udara malam, dan ngobrol santai bisa membuat beban di kepala terasa sedikit lebih ringan.

Buat saya sih, inilah salah satu bentuk liburan paling sederhana. Gak perlu pergi jauh. Kadang yang dibutuhkan hanya keluar rumah dan membiarkan diri menikmati kota sendiri.

lampu kota dan keramaian Titik Nol KM Yogyakarta
Lampu kota dan keramaian Titik Nol KM Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dan ketika malam semakin larut, saya baru sadar bahwa Titik Nol KM memang bukan sekadar titik di peta.

Tempat ini seperti panggung kecil tempat berbagai cerita bertemu. 

Ada wisatawan yang sedang menikmati liburan, warga lokal yang mencari tempat berkumpul, teman-teman yang menghabiskan malam, dan orang-orang seperti saya yang datang tanpa agenda khusus.

***

Titik Nol KM Yogyakarta malam hari akhirnya menjadi salah satu cara sederhana untuk melihat bagaimana Jogja terus hidup setelah matahari tenggelam.

suasana malam Jogja di kawasan Titik Nol KM
Suasana malam Jogja di kawasan Titik Nol KM (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau suatu malam sedang bingung mau jalan ke mana, coba saja datang ke sini. Siapa tahu, setelah duduk sebentar di tengah keramaian, pikiran juga ikut terasa lebih lega.

Wkwkwkwk.... ternyata jalan-jalan malam gak harus selalu punya tujuan, kan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In olahraga Traditions

Jemparingan Langenastro: Wisata Budaya Jawa Lewat Olahraga Tradisional

Jemparingan Langenastro sebagai wisata budaya Jawa di Jogja

Tahu gak, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman Kompasianer Jogja (KJOG) mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Jemparingan Langenastro. 

Saya awalnya membayangkan aktivitas ini seperti olahraga panahan biasa, hanya saja menggunakan perlengkapan tradisional. 

Ternyata setelah duduk bersila, memegang busur, memasang anak panah, lalu mencoba membidik sasaran, rasanya jauh lebih menarik dari yang saya bayangkan.

Oh ya, saya baru sadar bahwa Jemparingan bukan sekadar olahraga tradisional Jawa yang dilakukan untuk mencari siapa paling jago mengenai sasaran. 

Di dalamnya ada sejarah, tata cara, konsentrasi, olah rasa, sampai filosofi kehidupan yang masih relevan dengan keseharian kita.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat Jemparingan Langenastro bukan hanya sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga sebagai pengalaman wisata budaya Jawa yang menarik. 

Apalagi bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya lokal Yogyakarta dengan cara yang lebih interaktif.

Mengenal Jemparingan, Olahraga dan Budaya Jawa

Secara sederhana, Jemparingan adalah seni panahan tradisional yang berkembang dalam budaya Mataram dan lingkungan Kasultanan Yogyakarta. Kata jemparing sendiri berarti anak panah.

Berbeda dengan panahan modern yang umumnya dilakukan sambil berdiri dan membidik menggunakan mata, Jemparingan memiliki ciri khas berupa posisi duduk bersila. 

Penjemparing duduk bersila saat bermain Jemparingan
Penjemparing duduk bersila saat bermain Jemparingan (doc. Riana Dewie)


Busur atau gendewa juga dipegang dengan posisi khas di depan tubuh, kemudian pemanah mengandalkan rasa dan konsentrasi untuk mengarahkan anak panah menuju sasaran.

Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang. Jemparingan berkembang dari lingkungan bangsawan dan kesatria Mataram sebagai bagian dari latihan ketangkasan. 

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut kemudian semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi salah satu bentuk olahraga sekaligus pelestarian budaya.

Jadi, ini olahraga atau kesenian sih?

Jawabannya bisa keduanya. Dari sisi aktivitas, jelas ada unsur olah raga karena tubuh dilatih untuk mengatur posisi, tarikan busur, keseimbangan, dan ketepatan. 

Namun, Jemparingan juga mengandung unsur budaya dan seni karena tata cara, busana, perlengkapan, serta filosofi yang menyertainya merupakan bagian dari tradisi Jawa.

Jemparingan bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 21 Februari 2024.

Aktivitas panahan tradisional Yogyakarta di Langenastro
Aktivitas panahan tradisional Yogyakarta di Langenastro (doc. Riana Dewie)


Jemparingan Langenastro dan Keseruannya

Jemparingan Langenastro menjadi salah satu pengalaman budaya yang menarik karena peserta gak hanya datang untuk melihat orang memanah. 

Dalam kegiatan yang saya ikuti bersama KJOG, kami juga mendapatkan penjelasan dan diajari dasar-dasar Jemparingan.

Belajar duduk, memegang busur, hingga membidik

Hal pertama yang terasa berbeda tentu saja posisi duduk. Kami duduk bersila dan mulai mengenal perlengkapan Jemparingan, termasuk busur, anak panah, dan sasaran.

Teknik dasar Jemparingan juga gak bisa dilakukan asal tarik lalu lepaskan. Ada cara memegang jemparing, mengatur posisi tubuh, menarik busur, hingga menjaga konsentrasi sebelum anak panah dilepaskan.

Suasana kegiatan Jemparingan di Langenastro Jogja
Suasana kegiatan Jemparingan di Langenastro Jogja (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, bagian yang menurut saya paling menantang justru bukan menarik busurnya, tetapi menjaga pikiran tetap fokus. 

Baru saja merasa sudah siap membidik, tiba-tiba pikiran melayang ke mana-mana. Hihihihi.... ternyata konsentrasi saya masih perlu banyak latihan.

Dalam panahan gaya Mataram, sasaran yang digunakan dikenal sebagai bandulan atau wong-wongan

Cara membidiknya pun memiliki karakter tersendiri karena penjemparing gak mengandalkan pandangan mata seperti pada panahan modern.

Bagi saya, inilah bagian paling seru dari Jemparingan di Langenastro. Ada rasa penasaran setiap kali anak panah dilepaskan. Apakah akan mengenai sasaran? Atau malah melenceng jauh?

Kalau hasilnya belum tepat sasaran sih, jangan buru-buru kecewa. Justru di situlah keseruannya. Kita terdorong untuk mencoba lagi sambil memperbaiki posisi, tarikan, dan fokus.

Lebih dari sekadar mengenai sasaran

Jemparingan juga mengajarkan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Kita harus tenang sebelum melepaskan anak panah. Gak bisa terburu-buru hanya karena ingin segera mengenai sasaran.

Oh ya, menurut saya pengalaman seperti ini yang membuat Jemparingan menarik sebagai aktivitas wisata budaya Jogja. Wisatawan gak cuma melihat pertunjukan atau benda budaya dari kejauhan, tetapi bisa mendapatkan pengalaman langsung mengenal tradisi.

Di balik busur dan anak panah, Jemparingan menyimpan filosofi yang cukup dalam. 

Salah satu ungkapan yang terkenal adalah pamenthanging gandewa pamenthenging cipta, yang kurang lebih mengajarkan hubungan antara membentangkan busur dan memusatkan pikiran.

Konsep ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. 

Kita sering melakukan banyak hal sekaligus, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, bahkan belum selesai membaca satu pesan sudah membuka aplikasi lain.

Pengalaman wisata budaya Jawa bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro
Pengalaman wisata budaya Jawa bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro (doc. Riana Dewie)


Jemparingan justru mengajak kita berhenti sebentar. Duduk, mengatur tubuh, menenangkan pikiran, kemudian fokus pada satu sasaran.

Nilai seperti sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh juga dikenal dalam filosofi budaya Yogyakarta. 

Secara sederhana, sawiji berkaitan dengan konsentrasi, greget dengan semangat yang terarah, sengguh dengan percaya diri tanpa kesombongan, sedangkan ora mingkuh bermakna keteguhan dan pantang mundur.

Tahu gak, nilai-nilai tersebut justru terasa sangat modern. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kita tetap membutuhkan fokus, semangat, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, Jemparingan Langenastro gak cuma melatih ketepatan tangan. Ada latihan mental, konsentrasi, kesabaran, pengendalian diri, dan penghayatan yang ikut terbentuk dari prosesnya.

Menikmati Wisata Budaya Jawa Lewat Jemparingan

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, saya merasa Jemparingan punya potensi besar sebagai bagian dari wisata budaya Yogyakarta. 

Apalagi Yogyakarta memang dikenal sebagai kota yang menawarkan banyak pengalaman budaya, bukan hanya destinasi berupa bangunan atau tempat bersejarah.

Jemparingan bisa menjadi bentuk wisata berbasis budaya yang mengajak wisatawan mengenal tradisi Jawa sambil melakukan aktivitas secara langsung. 

Dari mengenakan ageman Jawa, belajar posisi duduk, mengenal gendewa dan jemparing, sampai memahami filosofi di balik setiap gerakan.

Buat saya pribadi, pengalaman Jemparingan Langenastro terasa cukup memuaskan. 

Ada sensasi menyenangkan ketika akhirnya bisa mengikuti tahapan permainan, meskipun hasil bidikan belum tentu selalu sesuai harapan. Wkwkwkwk.... namanya juga baru belajar!

Lebih dari itu, saya pulang membawa pemahaman bahwa pelestarian budaya gak selalu harus dilakukan dengan cara yang serius dan kaku. 

Budaya juga bisa dikenalkan lewat aktivitas yang menyenangkan, interaktif, dan bisa dinikmati generasi muda maupun wisatawan.

Jajanan pasar tradisional saat kegiatan Jemparingan Langenastro
Jajanan pasar tradisional saat kegiatan Jemparingan Langenastro (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, salah satu hal kecil yang membuat pengalaman bersama tim Langenastro semakin berkesan adalah suguhan jajanan pasar tradisional setelah kegiatan. 

Rasanya sederhana, tetapi justru terasa pas sebagai penutup pengalaman budaya Jawa hari itu.

Nguri-uri Budaya Jawa

Buat saya, inilah esensi nguri-uri budaya Jawa. Tradisi bukan cuma disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dijalankan, dikenalkan, dan diberi ruang untuk hidup di tengah masyarakat.

Jemparingan sebagai warisan budaya juga mengingatkan saya bahwa olahraga bisa menjadi jalan untuk mengenal karakter, sementara budaya bisa menjadi cara untuk memahami kehidupan. 

Dan mungkin, sesekali kita memang perlu duduk tenang, menarik busur, mengarahkan sasaran, lalu belajar kembali tentang arti fokus.

Tertarik Mencoba Jemparingan Langenastro?

Buat kamu yang penasaran ingin mengenal lebih jauh tentang Jemparingan Langenastro, bisa mampir ke Instagram @langenastro.jogja. 

Di sana kamu bisa belajar lebih banyak tentang Jemparingan sekaligus melihat berbagai update kegiatan mereka.

Tim jemparingan Langenastro mengajarkan olahraga tradisional Jemparingan
Tim jemparingan Langenastro mengajarkan olahraga tradisional Jemparingan (doc. Riana Dewie)


Siapa tahu setelah melihat keseruannya, kamu jadi tertarik mencoba langsung, kan? Yuk, kenalan dengan olahraga tradisional Jawa sambil ikut menjaga budaya lokal Yogyakarta tetap hidup!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments