In Travel Stories

Backpacker Madiun: Eksplor Kota dari Stasiun, Modal Hemat!

Backpacker Madiun mulai perjalanan dari Stasiun Madiun

Turun dari kereta sekitar pukul 10.40 di Stasiun Madiun, saya dan seorang teman langsung punya misi sederhana: jalan-jalan tanpa ribet, gak menghabiskan banyak uang, dan sebisa mungkin memilih destinasi yang masih berada di sekitar pusat kota. 

Inilah versi kami melakukan backpacker Madiun, cuma berdua dengan modal itinerary sederhana dan kaki yang siap diajak jalan.

Tahu gak, saya justru suka konsep perjalanan seperti ini. Gak perlu buru-buru menyewa kendaraan seharian atau membuat itinerary yang terlalu padat. 

Ada tempat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sementara lokasi yang agak jauh tinggal pesan ojek online. Praktis!

Karena sebelumnya kami sudah menempuh perjalanan dari Jogja menggunakan kereta, sesampainya di Madiun kami pun langsung memulai eksplor kota. Target pertama? Cari oleh-oleh!

Turun di Stasiun Madiun, Jalan-Jalan Hemat Pun Dimulai

Tiba Sekitar Pukul 10.40

Siang itu cuaca Madiun cukup cerah dan lumayan terik. Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang saat itu justru terasa gak terlalu ramai. 

Area perkantoran dan sekolah juga terlihat cukup lengang karena kami datang di jam ketika aktivitas utama masyarakat sedang berlangsung di tempat masing-masing.

Saya sudah mengantisipasi cuaca dengan memakai baju panjang dan topi. Lumayanlah, daripada baru setengah perjalanan sudah berubah menjadi manusia gosong, wkwkwkwk....

Oh ya, saya suka banget dengan tata kota di Madiun ini karena cukup bersih dan di sepanjang jalan, tersedia bangku yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun yang melewatinya. Jadi kalau kami kecapekan, langsung deh duduk sejenak untuk beristirahat. 

Bangku untuk duduk para pejalan kaki
Bangku untuk duduk para pejalan kaki (doc. Riana Dewie)


Buat saya, suasana seperti ini justru menyenangkan. Kami bisa melihat wajah pusat Kota Madiun secara lebih santai, bukan sekadar datang untuk mengejar satu destinasi lalu pulang.

Backpacker Versi Kami: Dekat Jalan, Jauh Sedikit Naik Ojol

Konsep perjalanan kami sebenarnya sederhana. Kalau tempatnya masih memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki, ya jalan kaki. Kalau jaraknya cukup jauh atau cuaca mulai bikin lelah, tinggal mengandalkan ojek online.

Inilah salah satu cara kami menjalankan backpacker ke Madiun. Gak harus selalu identik dengan ransel besar, tidur di penginapan murah, atau berjalan puluhan kilometer. 

Menurut saya, backpacker lebih kepada cara mengatur perjalanan supaya tetap fleksibel dan sesuai kebutuhan.

Tahu gak, konsep seperti ini juga membuat kita lebih mudah menemukan tempat-tempat menarik di luar destinasi yang biasanya muncul di daftar wisata populer.

Dari Oleh-Oleh sampai Gudeg Jogja, Begini Cara Kami Eksplor Madiun

Mampir ke Roti Sandy

Roti Sandy Madiun
Roti Sandy Madiun (doc. Riana Dewie)

Karena tujuan berikutnya adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius, teman saya mengajak mampir sebentar ke Toko Oleh-oleh Roti Sandy. Katanya, toko ini termasuk toko oleh-oleh yang cukup legendaris di Madiun.

Namanya juga toko oleh-oleh Madiun, isinya tentu bikin mata gampang jelalatan. Ada berbagai makanan dan jajanan yang bisa dibawa pulang. Namun, saya dan teman justru langsung terpikat pada satu makanan: bolen pisang.

Kami akhirnya membeli satu kotak bolen. Untuk rasa cokelat harganya Rp60.000, sedangkan keju Rp65.000. Karena saya mengambil rasa mix, harganya menjadi Rp62.500.

Bolen pisang di Roti Sandy Madiun
Bolen pisang di Roti Sandy Madiun (doc. Riana Dewie)


Oh ya, kalau kamu sedang mencari oleh-oleh Madiun yang praktis dibawa, bolen seperti ini lumayan menarik karena bisa langsung masuk tas tanpa terlalu merepotkan perjalanan.

Oleh-Oleh Dulu, Makannya Belakangan

Awalnya saya sempat berpikir, “Apa gak berat ya membawa oleh-oleh dari awal perjalanan?”

Namanya juga baru turun dari stasiun, sementara itinerary Madiun sehari kami masih panjang. Tapi karena setelah itu kami gak akan melewati toko ini lagi, akhirnya saya ikut membeli.

Lagipula, suami saya di rumah ternyata suka banget bolen pisang. Jadi anggap saja sekalian menjalankan tugas sebagai istri yang pulang membawa buah tangan. Hihihihi....

Setelah urusan oleh-oleh beres, kami lanjut ke agenda berikutnya. Dan bagian ini mungkin agak berbeda dari konsep wisata kuliner pada umumnya.

Kok Malah Makan Gudeg di Madiun?

Nah, ini yang bikin saya sendiri ngakak. Setiap pergi ke luar kota, saya dan teman memang terbiasa membawa bekal dari rumah. Jadi untuk makan siang, kami justru membuka bekal nasi gudeg yang dibawa dari Jogja.

Bekal gudeg Jogja untuk perjalanan backpacker Madiun
Bekal gudeg Jogja untuk perjalanan backpacker Madiun (doc. Riana Dewie)


Tujuannya simpel: gak perlu pusing mencari makanan ketika perut sudah mulai lapar. Selain lebih praktis, tentu saja bisa menghemat budget trip.

Padahal, sepanjang perjalanan kami sempat melihat berbagai kuliner Madiun yang menggoda. Salah satunya rujak cingur. Sempat kepikiran mau beli, tetapi takut bekal gudeg malah gak dimakan.

Ya sudah, akhirnya rujak cingur cuma dilewati dengan tatapan penuh harapan. Wkwkwkwk....

Kalau saya sih, strategi membawa bekal seperti ini cocok banget buat kamu yang ingin mencoba wisata hemat Madiun. Uang yang biasanya habis untuk makan siang bisa dialihkan ke jajanan atau aktivitas lain.

Menepi Sejenak di Gua Maria, Lalu Berburu Foto di PSC

Mencari Suasana Hening di Tengah Perjalanan

Salah satu tempat yang sudah saya masukkan ke daftar sejak browsing di Google sebelum berangkat adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius.

Awalnya saya sempat merasa gerejanya seperti tutup. Kami pun sempat bingung harus masuk dari mana. Ternyata ada pintu lain yang terbuka dan akhirnya kami diarahkan menuju area Gua Maria.

Suasananya terasa berbeda dari perjalanan kami sebelumnya. Setelah berjalan di tengah cuaca siang yang cukup terik, berada di tempat yang lebih tenang tentu memberi kesempatan untuk berhenti sejenak.

Gereja Santo Cornelius Madiun
Gereja Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)


Buat saya, tempat seperti Gua Maria Gereja Santo Cornelius bukan sekadar destinasi wisata religi Madiun. Ada suasana hening yang membuat perjalanan terasa lebih lengkap.

Tahu gak, saya memang suka menyisipkan tempat-tempat seperti ini ketika bepergian. Bukan hanya soal foto atau destinasi, tetapi juga memberi ruang untuk menenangkan diri di tengah perjalanan.

Informasi lebih lengkap tentang Gua Maria dan Gereja Santo Cornelius Madiun ini akan saya tulis di artikel khusus, ya.

Area dekat Pahlawan Street Center Madiun atau PSC Madiun
Area dekat Pahlawan Street Center Madiun atau PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Sampailah Kami di Pahlawan Street Center (PSC)

Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Pahlawan Street Center atau PSC Madiun.

Saya baru tahu kalau kawasan ini ternyata termasuk salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi ketika eksplor Madiun. 

PSC merupakan kawasan wisata kota modern yang dikembangkan sebagai ruang publik dengan jalur pedestrian, aktivitas sosial, wisata, hingga area UMKM dan belanja. 

Pemerintah Kota Madiun juga menjadikan kawasan ini sebagai salah satu ikon wisata kota.

Jalanannya tertata, pedestrian cukup nyaman, dan ada berbagai spot yang bisa dijadikan tempat foto. Beberapa ikon tematik bahkan membuat suasana kawasan ini terasa unik.

Siang itu PSC justru relatif sepi. Maklum, matahari sedang semangat-semangatnya menyinari Madiun. Aktivitas biasanya terasa lebih hidup menjelang sore sampai malam, ketika udara mulai bersahabat.

Foto-Foto Dulu, Namanya Juga Traveling

Salah satu Spot foto di Pahlawan Street Center Madiun
Salah satu Spot foto di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)

Sebenarnya PSC ini memang masuk daftar tujuan kami untuk sore hari. Namun karena kebetulan sudah melewati kawasan tersebut, kami tentu gak mau menyia-nyiakan kesempatan.

Saya pun langsung mengambil beberapa foto dengan berbagai pose.

Namanya juga jalan-jalan, masa pulang cuma membawa oleh-oleh? Foto wajib ada dong!

Menurut saya sih, kawasan seperti PSC cocok untuk kamu yang suka mencari tempat foto di Madiun tanpa harus mengeluarkan biaya besar. 

Jalan-jalan santai, melihat suasana kota, kemudian menemukan spot foto yang menarik. Ini sudah cukup untuk membuat one day trip Madiun terasa menyenangkan.

Rute Backpacker Madiun Kami, Masih Ada Lanjutan!

Setelah PSC, perjalanan kami sebenarnya belum selesai. Justru dari sinilah agenda backpacker Madiun kami semakin panjang.

Rute yang kami susun kurang lebih seperti ini:

Stasiun Madiun → Toko Oleh-oleh Sandy → makan bekal gudeg → Gua Maria/Gereja Santo Cornelius → Pahlawan Street Center → Alun-Alun Madiun → coffee shop → Toko Oleh-oleh Mirasa → makan malam → PSC lagi → Stasiun Madiun.

Tahu gak, itinerary Madiun 1 hari seperti ini ternyata cukup memungkinkan dilakukan tanpa kendaraan pribadi, asalkan pintar mengatur jarak dan waktu. 

Beberapa lokasi bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sedangkan destinasi yang lebih jauh tinggal menggunakan transportasi online.

Kami Jalan kaki di kawasan wisata Madiun dekat Stasiun Madiun
Kami Jalan kaki di kawasan wisata Madiun dekat Stasiun Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi buat kamu yang sedang mencari wisata Madiun dekat Stasiun Madiun, konsep seperti ini bisa menjadi salah satu inspirasi. Gak harus mengunjungi semua tempat wisata sekaligus. 

Yang penting rute perjalanan masuk akal, waktu gak terlalu mepet, dan badan masih sanggup diajak keliling.

Saya sendiri menikmati banget perjalanan ini. Ada rasa puas ketika satu per satu tempat berhasil didatangi dengan cara yang sederhana.

Dan ternyata, Madiun backpacker versi saya gak selalu harus mahal. Dengan perencanaan sederhana, bekal dari rumah, jalan kaki, dan sesekali naik ojol, kita tetap bisa menikmati suasana kota.

***

Perjalanan setelah PSC masih membawa kami ke beberapa tempat menarik lainnya. Ada Alun-Alun Madiun, coffee shop, berburu oleh-oleh lagi, makan malam, sampai kembali ke PSC ketika suasananya mulai berubah lebih ramai.

Jadi, cerita backpacker Madiun ini belum selesai.

Tunggu tulisan saya selanjutnya karena saya akan lanjutkan rute berikutnya dalam perjalanan sehari penuh ini. 

Buat saya, trip seperti ini cukup worth it: hemat, santai, dapat banyak cerita, dan yang paling penting, bisa menikmati Madiun dengan cara sendiri.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Trip Hemat Jogja-Madiun: Naik KRL dari Lempuyangan, Lanjut KA Bias

Suasana Stasiun Balapan Solo saat pagi hari

Ada satu jenis perjalanan yang paling saya suka: perjalanan yang awalnya cuma “coba-coba”, tetapi ternyata malah jadi cerita seru untuk dibawa pulang.

Begitulah awal mula saya melakukan Jogja ke Madiun naik kereta murah kali ini. Saya diajak teman yang memang suka traveling. Katanya, ada beberapa tempat di Madiun yang cukup asyik untuk didatangi. Kebetulan jadwal saya sedang agak longgar.

Sebenarnya masih ada pekerjaan, sih. Hahaha. Tapi beberapa pekerjaan bisa disambi dan saya juga sudah mendapat izin dari partner untuk off pada hari Senin. Ya sudah, daripada kesempatan lewat begitu saja, langsung gass!

Tahu gak, ini juga menjadi pengalaman pertama saya pergi ke Madiun. Jadi, selain ingin jalan-jalan, saya sekaligus penasaran seperti apa rasanya melakukan perjalanan dari Jogja ke Madiun dengan transportasi umum.

Rute Jogja-Madiun yang Saya Pilih

Untuk perjalanan ini, saya dan seorang teman memilih rute yang menurut kami cukup praktis dan hemat: Stasiun Lempuyangan – Stasiun Solo Balapan – Stasiun Madiun.

Dari Lempuyangan, kami naik KRL Jogja-Solo pukul 07.10 dan tiba di Solo Balapan sekitar pukul 08.16. Setelah transit sebentar, perjalanan dilanjutkan dengan KA Bias pukul 08.45 menuju Madiun.

Kalau dibuat singkat, begini rutenya:

Lempuyangan → KRL Jogja-Solo → Solo Balapan → KA Bias → Madiun

Rute ini menarik karena kami gak perlu mencari kendaraan pribadi atau bus. Cukup memanfaatkan transportasi umum dan menyesuaikan jadwal kereta.

Oh ya, perjalanan Jogja Madiun naik kereta ini juga saya pilih karena ingin mencoba pengalaman baru. Biasanya kalau bepergian, saya lebih banyak memikirkan destinasi. Kali ini perjalanan menuju destinasi justru ingin saya nikmati juga.

Berangkat dari Stasiun Lempuyangan dengan KRL

Pagi-Pagi Sudah di Lempuyangan

Kereta dijadwalkan berangkat pukul 07.10. Maka, pagi itu saya berangkat menuju Stasiun Lempuyangan dengan semangat jalan-jalan.

Masalahnya, saya sempat lupa satu hal penting: hari itu hari Senin!

Jalanan pagi cukup padat karena orang-orang sedang berangkat kerja dan anak sekolah juga mulai beraktivitas. Untungnya saya masih punya spare time, jadi gak sampai panik mengejar kereta.

Sesampainya di Stasiun Lempuyangan, saya masih sempat duduk-duduk sambil menunggu teman datang.

Buat saya, momen menunggu seperti ini justru bagian kecil yang menyenangkan. Belum sampai tujuan, tetapi rasanya sudah mulai liburan.

Naik KRL Menuju Solo Balapan

Begitu naik KRL, suasananya cukup ramai. Bahkan bisa dibilang full banget. Kursi hampir gak ada yang kosong sepanjang perjalanan.

Ya, wajar juga. Kami berangkat pada jam orang-orang menuju tempat kerja. Jadi, perjalanan KRL Commuter Line pagi itu memang cukup padat.

Saya sih santai saja. Hihihihi. Namanya juga berbagi gerbong dengan mereka yang sedang berjuang berangkat kerja naik kereta.

Menariknya, meskipun harus berdiri, saya gak merasa terlalu capek. Saya justru menikmati perjalanan sambil melihat suasana dari dalam kereta.

Ada alasan lain kenapa perjalanan ini terasa cukup berarti buat saya. Beberapa waktu terakhir, saya memang sedang membutuhkan jeda dari rutinitas. Penat pekerjaan bercampur dengan kesedihan setelah ibu saya berpulang beberapa bulan lalu.

Jadi, perjalanan sederhana menuju Madiun ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengambil napas sebentar. Gak perlu perjalanan mewah. Cukup duduk atau berdiri di kereta, ngobrol dengan teman, melihat pemandangan, lalu membiarkan kepala sedikit lebih tenang.

Tanpa terasa, KRL sampai di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul 08.16.

Transit Solo, Lanjut KA Bias ke Madiun

Transit di Stasiun Solo Balapan sebelum naik KA Bias
Transit di Stasiun Solo Balapan sebelum naik KA Bias (doc. Riana Dewie)

Cuma Punya Waktu Sekitar 30 Menit

Dari Solo Balapan, kami masih punya waktu sekitar 30 menit sebelum KA Bias berangkat pukul 08.45.

Waktu transit ini menurut saya cukup. Bisa turun dari KRL, mencari kereta berikutnya, sekaligus jepret-jepret suasana stasiun dan selfie sebentar.

Tahu gak, ini justru pertama kalinya saya naik kereta bandara. Lucunya, kereta bandara dari Jogja menuju YIA saja sampai sekarang belum kesampaian saya coba.

Malah perjalanan menuju Madiun yang membuat saya duluan mencoba pengalaman ini.

Oh ya, buat yang mencari cara ke Madiun dari Jogja naik kereta, bagian transit ini memang perlu diperhatikan. Jangan hanya melihat harga tiket, tetapi cek juga jadwal kereta dan waktu perpindahannya.

Suasana di dalam KA Bias Solo Madiun
Suasana di dalam KA Bias Solo Madiun (doc. Riana Dewie)


Naik KA Bias Menuju Madiun

Pukul 08.45, kami melanjutkan perjalanan dengan KA Bias Solo Madiun.

Keretanya cukup nyaman untuk menikmati perjalanan. Saya bisa duduk sambil melihat pemandangan luar dengan cukup syahdu.

Sayangnya, ada satu hal yang sedikit mengganggu: kaca jendelanya agak buram. Jadi, niat mengambil foto pemandangan dari dalam kereta harus sedikit dikurangi karena hasilnya kurang estetik.

Buat KAI, tolong dong pelapis kacanya diganti yang baru biar fotonya makin cakep. Hahahaha.

Tapi di luar urusan foto, perjalanan menggunakan kereta Bias ke Madiun ini tetap menyenangkan. Saya bisa duduk, menikmati perjalanan, dan sesekali melihat perubahan pemandangan dari Solo menuju Jawa Timur.

Masih sempet Charge HP juga saat ada di kereta Bias
Masih sempet Charge HP juga saat ada di kereta Bias (doc. Riana Dewie)


Tiba di Stasiun Madiun

Sekitar pukul 10.40, akhirnya kami tiba di Stasiun Madiun.

Rasanya cepat banget!

Perjalanan sekitar dua jam dari Solo bahkan gak sempat saya gunakan untuk tidur. Rasanya sayang kalau melewatkan suasana perjalanan begitu saja.

Tiba di Madiun sekitar pukul 10.40 juga menjadi keuntungan tersendiri. Hari masih panjang dan kami masih punya banyak waktu untuk menjelajah.

Petualangan one day trip Madiun pun resmi dimulai.

Pemandangan perjalanan kereta dari Solo menuju MadiunPemandangan perjalanan kereta dari Solo menuju Madiun (doc. Riana Dewie)


Berapa Biaya Perjalanan Jogja-Madiun?

Nah, ini bagian yang mungkin paling menarik buat pemburu kereta murah Jogja Madiun.

Untuk perjalanan berangkat, biaya yang kami keluarkan cukup terjangkau.

Dari Lempuyangan ke Solo Balapan, tarif KRL sekitar Rp8.000. Kemudian dari Solo Balapan menuju Madiun menggunakan KA Bias sekitar Rp40.000-an.

Jadi total perjalanan berangkat kurang lebih:

Rp8.000 + Rp40.000 = Rp48.000-an.

Artinya, dengan biaya sekitar Rp48 ribu, saya sudah bisa melakukan perjalanan dari Jogja sampai Madiun.

Untuk pulang-pergi, sebenarnya bisa saja menggunakan rute yang sama sehingga total biaya transportasi utama masih di bawah Rp100 ribu, tergantung tarif tiket yang didapat.

Namun, kami memilih KA Kahuripan untuk perjalanan pulang. Alasannya supaya bisa mendapatkan jadwal paling malam, sekitar pukul 20.45, dan tiba di Lempuyangan sekitar pukul 23.45.

Dengan begitu, waktu eksplorasi di Madiun bisa lebih maksimal. Gak perlu buru-buru meninggalkan kota pada sore hari.

Tahu gak, buat konsep perjalanan hemat seperti ini, selisih beberapa jam ternyata cukup berharga karena bisa membuat itinerary Madiun jauh lebih leluasa.

Saat kami tiba di stasiun Solo dan mau menuju ke area Stasiun Bandara
Saat kami tiba di stasiun Solo dan mau menuju ke area Stasiun Bandara (doc. Riana Dewie)


Apakah Rute Jogja-Madiun Ini Worth It?

Jawaban saya: worth it banget!

Buat yang ingin mencoba perjalanan hemat, rute KRL Jogja Solo lanjut KA Bias bisa menjadi pilihan menarik.

Biayanya relatif murah, perjalanan cukup nyaman, dan transit di Solo juga gak terlalu lama.

Saya sih justru menikmati bagian transitnya karena perjalanan terasa seperti punya dua babak: dari Jogja menuju Solo, kemudian Solo menuju Madiun.

Tentu saja, sebelum berangkat tetap perlu mengecek jadwal kereta, tiket, tarif terbaru, dan waktu tempuh. Jadwal perjalanan kereta bisa berubah, jadi jangan hanya mengandalkan pengalaman perjalanan saya.

Tips Naik Kereta dari Jogja ke Madiun

  • Datang lebih awal ke Stasiun Lempuyangan, terutama jika berangkat pada jam sibuk.

  • Cek jadwal KRL dan KA Bias sebelum berangkat.

  • Perhatikan waktu transit di Stasiun Solo Balapan.

  • Jangan terlalu santai saat transit meskipun punya waktu sekitar 30 menit.

  • Simpan tiket dan bukti pembayaran dengan baik.

  • Buat itinerary sebelum tiba di Madiun agar waktu one day trip lebih efektif.

  • Hitung juga biaya transportasi lokal, makan, tiket masuk, dan perjalanan pulang.

  • Untuk perjalanan hemat, manfaatkan kombinasi transportasi umum dan jalan kaki jika jaraknya memungkinkan.

Titik 0 km Madiun
Titik 0 km Madiun (doc. Riana Dewie)


Dari Madiun, Mau ke Mana Saja?

Sesampainya di Madiun, konsep kami memang sederhana: backpacker-an versi santai.

Kami sengaja memilih lokasi yang gak terlalu jauh dari Stasiun Madiun. Kalau jaraknya dekat, ya jalan kaki. Kalau agak jauh, baru deh boleh naik ojol. Hihihihi.

Beberapa tempat yang sudah masuk dalam rencana kami adalah Gereja Santo Cornelius dan Gua Maria, yang membuat saya penasaran karena katanya lokasinya menarik dan cukup dekat dengan stasiun.

Setelah itu ada toko oleh-oleh Mirasa dan Sandy yang kabarnya cukup legendaris, kemudian Pahlawan Street Center (PSC), Alun-Alun Madiun, dan tentunya mencari coffee shop di sekitar area tersebut.

Oh ya, semuanya adalah tempat baru bagi saya. Jadi, perjalanan ini benar-benar seperti membuka halaman baru tentang Madiun.

Dan ternyata, masing-masing tempat punya cerita yang cukup menarik untuk diceritakan.

Salah satu spot favorit saya saat di Madiun
Salah satu spot favorit saya saat di Madiun (doc. Riana Dewie)


Penutup

Perjalanan Lempuyangan ke Madiun naik kereta ini awalnya cuma berangkat dari ajakan teman. Gak ada persiapan yang terlalu ribet, apalagi rencana liburan mewah.

Namun, justru perjalanan spontan seperti ini yang membuat saya bisa menikmati satu hari dengan cara berbeda.

Dari KRL yang penuh pada Senin pagi, transit sebentar di Solo, mencoba KA Bias untuk pertama kalinya, sampai akhirnya tiba di Madiun dengan budget perjalanan yang cukup ramah di kantong.

Dan yang paling bikin penasaran tentu bukan cuma perjalanan keretanya.

Setelah turun di Stasiun Madiun, kami masih punya waktu sampai malam untuk berburu tempat menarik, kuliner, oleh-oleh, suasana kota, sampai tempat ngopi.

***

Jadi, seperti apa sih Gereja Santo Cornelius dan Gua Maria yang katanya menarik itu? Benarkah oleh-oleh Mirasa dan Sandy memang se-legendaris yang diceritakan? Dan apakah semua tempat tadi berhasil kami datangi dalam satu hari?

Cerita lengkapnya saya lanjutkan di part berikutnya. Jangan sampai ketinggalan, karena perjalanan Madiun ini ternyata punya lebih banyak kejutan daripada yang saya bayangkan. Wkwkwkwk....


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Traditions

Ngeteh di Patehan: Secangkir Teh dan Tata Krama Jawa

Ngeteh di Patehan Yogyakarta dalam suasana tradisional Jawa

Setelah berjalan melewati beberapa sudut bersejarah dalam Walking Tour, akhirnya perjalanan kami sampai di Patehan. 

Menariknya, pemberhentian terakhir ini bukan berupa bangunan yang harus kami amati atau cerita sejarah yang harus kami simak, melainkan sebuah jamuan teh.

Saat hendak masuk ke kawasan Patehan, kami sudah disambut alunan gamelan. Rasanya seperti tamu kerajaan yang hendak mampir ke sebuah tempat penting. 

Nuansanya benar-benar membawa saya ke suasana Jawa zaman dulu.

Tahu gak, sebagai orang Jogja, alunan gamelan itu sekilas mengingatkan saya pada musik yang biasa terdengar saat pertemuan dua calon mempelai dalam adat pernikahan Jawa. 

Ada rasa syahdu yang langsung membuat suasana berubah.

Di tempat ini, kami kemudian duduk dan menikmati teh khas keraton. Namun, ternyata kegiatan sederhana seperti minum teh bisa menjadi pengalaman wisata budaya yang cukup berkesan. 

Bukan cuma soal rasa tehnya, tetapi juga bagaimana teh tersebut disajikan dan bagaimana seorang tamu seharusnya menerimanya.

Sampai di Patehan, Walking Tour Ditutup dengan Secangkir Teh

Pengalaman wisata budaya Patehan Yogyakarta
Pengalaman wisata budaya Patehan Yogyakarta, yaitu minum teh khas Keraton Jogja (doc. Riana Dewie)

Patehan Yogyakarta memiliki suasana yang menurut saya berbeda dari beberapa titik yang kami lewati sebelumnya. 

Tempatnya adem dan tenang. Begitu masuk, saya langsung membayangkan seperti berada di bagian depan keraton atau sebuah bangsal dengan suasana Jawa yang kental.

Arsitekturnya pun mendukung kesan tersebut. Interior dan perabot yang digunakan mayoritas bernuansa Jawa, dengan material kayu yang membuat suasana terasa hangat. 

Ditambah alunan musik Jawa yang terdengar di sekitar area, pengalaman Walking Tour Patehan ini terasa seperti membawa kami mundur sejenak ke masa lalu.

Oh ya, pemberhentian ini sebenarnya menjadi penutup yang cukup manis setelah kami melintasi beberapa lokasi menarik, mulai dari Ndalem Mangkubumen, Pasar Ngasem, hingga Kampung Wisata Taman Sari.

Ngeteh di Patehan Yogyakarta dalam suasana tradisional JawaNgeteh di Patehan Yogyakarta dalam suasana tradisional Jawa (doc. Riana Dewie)


Setelah cukup banyak berjalan kaki, akhirnya kami bisa "beristirahat" sambil menyeruput teh khas keraton. Saya sih langsung merasa suasananya berubah. 

Dari yang sebelumnya aktif berpindah tempat dan mendengarkan cerita, kini kami duduk tenang sebagai tamu yang siap menerima jamuan.

Sebelum proses penyajian teh dimulai, pihak Patehan memberikan edukasi mengenai tahapan penyajiannya. 

Nah, dari sinilah saya baru menyadari bahwa kegiatan ngeteh tradisional di Patehan ternyata punya aturan dan tata krama tersendiri.

Dari Berjalan Kaki, Lalu Duduk Menikmati Jamuan

Abdi Dalem saat membawa jamuan teh tradisional
Abdi Dalem saat membawa jamuan teh tradisional (doc. Riana Dewie)

Yang menarik perhatian saya pertama kali justru bukan tehnya, tetapi cara para Abdi Dalem membawa dan menyajikan jamuan.

Mereka berjalan dengan posisi jongkok ketika menuju meja tamu. Baik Abdi Dalem perempuan maupun laki-laki melakukan prosesi tersebut dengan sikap tenang dan penuh perhatian.

Sesampainya di meja, Abdi Dalem perempuan kemudian menuangkan air teh dari teko ke dalam gelas. Setelah itu, teh diberikan kepada tamu menggunakan tangan kanan sambil tersenyum.

Saya sempat memperhatikan gerakan tersebut cukup lama. Rasanya sederhana, tetapi ada kesan hormat yang begitu kuat.

Cara Menerima Teh yang Mengajarkan Tata Krama Jawa

Bagian paling menarik dari pengalaman ngeteh di Patehan adalah ketika kami diajarkan cara menerima teh.

Teh diberikan menggunakan tangan kanan. Saat menerimanya, posisi tubuh sedikit membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang memberikan jamuan.


Tradisi minum teh Jawa di PatehanTradisi minum teh Jawa di Patehan (doc. Riana Dewie)

Tahu gak, gerakan kecil seperti membungkukkan badan ternyata bisa menjadi bahasa tersendiri dalam budaya Jawa. 

Kita gak perlu mengucapkan kalimat panjang untuk menunjukkan rasa hormat. Sikap tubuh pun bisa menyampaikan pesan yang sama.

Inilah salah satu hal yang membuat budaya Jawa menarik. Tata krama atau unggah-ungguh gak hanya terlihat dari pilihan kata ketika berbicara, tetapi juga dari cara seseorang bersikap kepada orang lain.

Kenapa Harus Menggunakan Tangan Kanan?

Dalam jamuan yang saya ikuti, penggunaan tangan kanan menjadi bagian dari tata cara menerima teh. Tangan kanan digunakan untuk menerima pemberian sebagai bentuk sopan santun kepada orang yang menyajikannya.

Saya sih jadi teringat kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang sebenarnya sudah kita lakukan secara spontan, tetapi jarang kita berhenti sebentar untuk memahami nilai di baliknya.

Abdi Dalem menyajikan teh di Patehan
Abdi Dalem menyajikan teh di Patehan (doc. Riana Dewie)


Cara menerima teh tersebut juga mengajarkan bahwa menjadi tamu bukan sekadar datang, duduk, lalu menikmati hidangan. 

Ada etika bertamu yang perlu diperhatikan, terutama ketika kita berada di lingkungan yang menjunjung tradisi.

Sedikit Membungkuk, Sederhana tapi Penuh Makna

Selain tangan kanan, posisi tubuh juga menjadi bagian penting. Setelah memberikan teh, Abdi Dalem kemudian meninggalkan meja dengan berjalan jongkok mundur. 

Setelah cukup jauh dari tamu, barulah mereka berbalik dan berjalan seperti biasa.

Oh ya, bagian ini menurut saya justru sangat menarik. Gerakannya memang pelan dan sederhana, tetapi menunjukkan sikap hormat yang konsisten dari awal sampai akhir proses penyajian.

Cara tersebut memperlihatkan bagaimana sopan santun dalam budaya Jawa bisa diwujudkan melalui gestur. Bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi bagian dari cara menghargai tuan rumah maupun tamu.

Bukan Sekadar Minum Teh, tetapi Belajar Menjadi Tamu

Patehan bukan hanya menawarkan pengalaman minum teh. Dari jamuan ini, saya justru belajar kembali tentang budaya menjamu tamu.

Tahu gak, dalam tradisi Jawa, keramahan sering kali hadir melalui hal-hal sederhana. Menyediakan minuman, menyambut tamu dengan sikap hormat, kemudian memberikan jamuan dengan penuh perhatian bisa menjadi bentuk penghargaan yang terasa hangat.

Dan tentu saja, kami gak hanya mendapatkan teh.

Ada makanan khas berupa apem yang rasanya legit dan manis. Ukurannya juga cukup jumbo dibandingkan apem yang biasa saya temui. 

Apem hangat dalam jamuan teh di Patehan Yogyakarta
Apem hangat dalam jamuan teh di Patehan Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Yang paling menyenangkan, apem tersebut disajikan dalam kondisi masih hangat, seperti fresh from the oven.

Begitu mencicipinya, saya langsung lahap. Hihihihi.... Mungkin karena setelah cukup lama berjalan kaki, makanan hangat memang terasa semakin nikmat.

Bagi saya, jamuan seperti ini membuat suasana menjadi lebih akrab. Kami bukan sekadar peserta Walking Tour yang datang untuk melihat-lihat, tetapi benar-benar ditempatkan sebagai tamu yang dihormati.

Tradisi Menjamu Tamu yang Terasa Hangat

Patehan sendiri berkaitan dengan tradisi penyajian teh di lingkungan Keraton Yogyakarta. 

Tradisi tersebut dilakukan oleh Abdi Dalem dan secara turun-temurun menjadi bagian dari budaya keraton. Dalam sejarahnya, Patehan berkaitan dengan penyajian minuman teh untuk keluarga raja.

Prosesi penyajian juga memiliki perangkat khusus yang disebut Rampadan, berupa seperangkat perlengkapan untuk menyajikan teh seperti teko, cangkir, cawan, dan sendok. Ada aturan mengenai penataan serta urutan penyajiannya.

Tahu gak, menurut informasi yang diberikan dalam materi Patehan, tradisi ini pada masa lalu bahkan dilakukan sebagai bagian dari rutinitas keraton. 

Seiring perubahan zaman, pelaksanaannya pun mengalami perubahan dan kini lebih banyak hadir dalam momen tertentu serta dikemas sebagai pengalaman wisata budaya.

Proses penyajian jamuan teh tradisional oleh Abdi Dalem
Proses penyajian jamuan teh tradisional oleh Abdi Dalem (doc. Riana Dewie)


Ketika Budaya Gak Cuma Dilihat, tapi Dialami

Sebelum sampai Patehan, kami sudah melihat bangunan, kampung, dan berbagai cerita tentang sejarah Yogyakarta. Namun, di tempat ini kami mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Kami gak hanya melihat tradisi Jawa dari jauh. Kami ikut duduk, menerima teh, mencicipi apem, dan belajar bagaimana bersikap sebagai tamu.

Itulah yang membuat wisata budaya Patehan terasa lebih hidup. Budaya gak selalu harus ditemukan dalam benda kuno atau bangunan bersejarah. 

Kadang, budaya hadir melalui sebuah gestur kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran.

Secangkir Teh yang Menjadi Penutup Walking Tour

Buat saya, ngeteh di Patehan Yogyakarta menjadi penutup yang pas untuk perjalanan Walking Tour Keraton Yogyakarta kali ini.

Dari Ndalem Mangkubumen, kami mendapatkan cerita tentang ruang dan kehidupan keluarga kerajaan. Di Pasar Ngasem, kami melihat bagaimana sebuah kawasan berubah mengikuti zaman. 

Di Kampung Wisata Taman Sari, kami menemukan sisi lain kehidupan masyarakat di kawasan Njeron Benteng.

Kemudian semuanya ditutup dengan secangkir teh.

Sederhana memang. Tapi justru dari hal sederhana itu saya mendapatkan pelajaran tentang tata krama menerima teh, unggah-ungguh Jawa, sopan santun, dan budaya menjamu tamu.

Saya sih merasa pengalaman seperti ini yang membuat wisata budaya Yogyakarta terasa berbeda. Kita datang sebagai wisatawan, tetapi pulang membawa pengalaman yang bisa diceritakan kembali.

Menikmati teh dan apem dalam nuansa tradisi Keraton
Menikmati teh dan apem dalam nuansa tradisi Keraton (doc. Riana Dewie)


Oh ya, mungkin setelah membaca artikel ini kamu akan lebih memperhatikan cara seseorang memberikan atau menerima secangkir teh. 

Sebab di balik gerakan tangan kanan dan sedikit membungkukkan badan, ada nilai penghormatan yang sudah lama menjadi bagian dari budaya Jawa.

***

Secangkir teh mungkin habis dalam beberapa tegukan. Tetapi cara teh itu diberikan dan diterima justru meninggalkan cerita yang lebih panjang.

Terimakasih untuk komunitas Sumbu Filosofi dan tim dari Kampung Wisata Taman Sari yogyakarta yang telah mengajak saya jalan-jalan di tempat yang bersejarah ini. Memberi pengalaman asyik & tentunya menambah wawasan saya tentang cerita kerajaan di masa lalu. 

Jadi, saat berkunjung ke Jogja, jangan cuma mengejar tempat foto. Sesekali cobalah mencari pengalaman wisata budaya yang membuat kita bisa berinteraksi langsung dengan tradisi masyarakat. 

Karena terkadang, kita justru paling mudah memahami budaya ketika duduk di dalamnya, menjadi tamu, lalu menikmati jamuan dengan penuh rasa hormat.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Gedong Ledoksari Yogyakarta: Ruang Privat Sang Sultan

Gedong Ledoksari Yogyakarta saat Walking Tour

Saya mulai sadar, Walking Tour di kawasan Keraton Yogyakarta itu seperti membuka pintu satu per satu. Belum selesai dibuat penasaran dengan satu tempat, sudah ada tempat lain yang punya cerita berbeda.

Dalam perjalanan kali ini, saya sempat melewati Kampung Cyber Yogyakarta. Dari luar mungkin terlihat seperti kampung biasa, tetapi kawasan ini punya cerita tentang bagaimana warga beradaptasi dengan perkembangan internet dan teknologi.

Setelah itu, langkah kami membawa saya ke tempat dengan suasana yang jauh berbeda: Gedong Ledoksari Yogyakarta.

Tahu gak, kalau Kampung Cyber bercerita tentang bagaimana masyarakat menyambut teknologi masa kini, Gedong Ledoksari justru membawa kita mundur jauh ke kehidupan kerajaan. 

Bangunan ini berkaitan dengan ruang privat Sultan, tempat beristirahat bersama permaisuri dan orang-orang terdekatnya.

Kontrasnya menarik banget. Satu kawasan, tetapi dua cerita zaman yang berbeda.

Dari Kampung Cyber, Melangkah ke Masa Kerajaan

Kampung Cyber Yogyakarta dalam rute Walking Tour
Kampung Cyber Yogyakarta dalam rute Walking Tour (doc. Riana Dewie)

Sebelum sampai ke Gedong Ledoksari, saya sempat mendapatkan cerita mengenai Kampung Cyber.

Kampung yang berada di kawasan Taman Sari ini dikenal sebagai salah satu kampung yang cukup awal memanfaatkan teknologi internet untuk kehidupan masyarakatnya. 

Inisiatifnya berangkat dari keinginan membuat warga lebih sadar dan akrab dengan internet.

Jaringan kemudian dibangun dan akses internet diperluas. Sekarang, perkembangan teknologinya juga semakin terasa dengan keberadaan CCTV serta jaringan Wi-Fi yang digunakan masing-masing rumah.

Oh ya, menariknya, konsep kampung seperti ini menunjukkan bahwa teknologi gak selalu harus dimulai dari gedung perkantoran atau perusahaan besar. Dari lingkungan tempat tinggal pun, internet bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Suasana Kampung Cyber Jogja saat guide memberi penjelasan
Suasana Kampung Cyber Jogja saat guide memberi penjelasan (doc. Riana Dewie)


Saya sih suka melihat kontrasnya. Baru saja membicarakan jaringan internet, tiba-tiba perjalanan membawa saya menuju bangunan yang ceritanya berasal dari masa Kesultanan Yogyakarta.

Dari kampung digital, kami masuk ke cerita tentang ruang privat seorang Sultan.

Gedong Ledoksari Yogyakarta, Tempat Istirahat Sultan

Gedong Ledoksari merupakan salah satu bangunan yang berada di kawasan Keraton dan berkaitan erat dengan kehidupan pribadi Sultan.

Berbeda dengan pendapa atau bangunan yang digunakan untuk menerima tamu dan menjalankan kegiatan kerajaan, Gedong Ledoksari mempunyai fungsi yang lebih privat. Tempat ini digunakan Sultan untuk beristirahat bersama permaisuri.

Dalam konteks kehidupan kerajaan pada masa lalu, ruang tersebut juga berkaitan dengan keberadaan para selir.

Tahu gak, informasi ini membuat saya melihat istilah “ruang privat” dengan cara yang berbeda. Dalam kehidupan seorang Sultan, privasi tentu punya aturan dan batas tersendiri. 

Gak semua orang bisa keluar-masuk area yang berkaitan dengan kehidupan pribadi raja.

Jadi, bangunan seperti Gedong Ledoksari bukan hanya soal arsitektur Jawa atau bentuk bangunannya. Ada sistem sosial yang ikut tercermin di dalamnya.

Siapa yang boleh berada di sana, untuk kegiatan apa ruang tersebut digunakan, dan bagaimana hubungan Sultan dengan keluarga di dalam lingkungan keraton semuanya menjadi bagian dari cerita.

Gedong Ledoksari Keraton Yogyakarta dan kawasan sekitarnya
Gedong Ledoksari Keraton Yogyakarta dan kawasan sekitarnya (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Tempat Tidur

Ketika mendengar istilah tempat istirahat, mungkin yang langsung terbayang adalah kamar.

Namun, dalam lingkungan keraton, fungsi ruang gak sesederhana itu. Kediaman dan tempat peristirahatan Sultan berada dalam sistem ruang yang memiliki aturan, hierarki, dan hubungan dengan bagian lain dari kompleks kerajaan.

Karena itu, Gedong Ledoksari lebih tepat dilihat sebagai bagian dari kehidupan privat keluarga kerajaan, bukan sekadar “kamar Sultan”.

Saya rasa, justru detail seperti ini yang sering hilang ketika sejarah hanya diceritakan lewat nama raja dan tahun pemerintahan.

Padahal, di balik sejarah besar Kesultanan Yogyakarta, ada juga kehidupan sehari-hari: tempat beristirahat, berkumpul dengan keluarga, menerima orang-orang terdekat, hingga menjalankan berbagai kebutuhan pribadi.

Menyusuri Jejak Gedong Ledoksari dan Taman Sari

Letak Gedong Ledoksari juga membuat ceritanya gak bisa dipisahkan dari kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Taman Sari dikenal sebagai pesanggrahan Keraton yang memiliki berbagai fungsi. Ada area yang digunakan untuk rekreasi keluarga Sultan, tempat peristirahatan, ruang kegiatan, hingga bagian yang berkaitan dengan pertahanan.

Karena itulah, berjalan di kawasan ini terasa seperti melihat satu jaringan besar kehidupan Keraton.

Bangunan Gedong Ledoksari di kawasan Keraton
Bangunan Gedong Ledoksari di kawasan Keraton (doc. Riana Dewie)


Oh ya, sebelumnya saya juga sudah mengunjungi Pasar Ngasem dalam rangkaian Walking Tour ini. 

Jarak dan hubungan kawasan tersebut dengan Taman Sari membuat saya semakin memahami bahwa tempat-tempat yang sekarang kita lihat sebagai destinasi wisata sebenarnya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan keluarga Keraton.

Di satu sisi ada pasar yang sekarang ramai dengan kuliner. Di sisi lain ada Kampung Cyber yang berkembang dengan teknologi. Lalu ada Gedong Ledoksari yang menyimpan cerita kehidupan privat Sultan.

Tahu gak, justru perpaduan seperti inilah yang membuat kawasan Njeron Benteng terasa hidup. Sejarahnya gak berdiri sendirian, tetapi berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Belah Semongko dan Cerita tentang Mataram

Belah Semongko di sekitar Gedong Ledoksari
Belah Semongko di sekitar Gedong Ledoksari (doc. Riana Dewie)

Ada satu cerita lain yang saya dapat ketika berada di sekitar Gedong Ledoksari, yaitu mengenai Belah Semongko.

Dalam penjelasan guide saat Walking Tour, Belah Semongko dikaitkan dengan simbol pecahnya Kerajaan Mataram. 

Lokasinya berada di sekitar kawasan Ledoksari dan menjadi salah satu detail yang membuat perjalanan semakin menarik.

Saya sih langsung penasaran. Kenapa simbol “belah” dikaitkan dengan perjalanan sejarah Mataram?

Di sini kita memang perlu membedakan antara cerita simbolik yang berkembang dengan fakta sejarah yang tercatat. Secara historis, salah satu peristiwa besar yang berkaitan dengan pembagian Mataram adalah Perjanjian Giyanti pada 1755.

Perjanjian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Mataram dan berdirinya Kesultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sementara itu, cerita mengenai Belah Semongko lebih menarik bila ditempatkan sebagai bagian dari narasi budaya yang kita temukan saat berjalan menyusuri kawasan.

Buat saya, justru gak harus semuanya langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Cerita simbolik pun menarik untuk ditelusuri karena menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna terhadap ruang di sekitarnya.

Walking Tour Gedong Ledoksari dan Kampung Cyber Yogyakarta
Walking Tour Gedong Ledoksari dan Kampung Cyber Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dua Zaman dalam Satu Perjalanan

Setelah berjalan dari Kampung Cyber menuju Gedong Ledoksari, saya merasa seperti baru saja berpindah zaman.

Di Kampung Cyber, pembicaraannya tentang internet, jaringan, Wi-Fi, CCTV, dan bagaimana warga memanfaatkan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.

Di Gedong Ledoksari, pembicaraannya berubah total. Kita diajak memahami kehidupan Sultan, permaisuri, selir, keluarga kerajaan, dan bagaimana sebuah ruang privat memiliki fungsi khusus dalam lingkungan Keraton.

Wkwkwkwk.... kalau rutenya cuma dilihat di peta mungkin terlihat seperti jalan kaki biasa. Tapi setelah tahu ceritanya, setiap sudut terasa punya makna.

Dan menurut saya, itulah kelebihan Walking Tour. Kita gak hanya diberi tahu “ini bangunan apa”, tetapi juga diajak memahami hubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Gedong Ledoksari bukan sekadar bangunan bersejarah. Ia menjadi bagian dari lanskap kehidupan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih luas.

Di sini ada cerita tentang kehidupan privat Sultan. Di sekitarnya ada Taman Sari sebagai pesanggrahan kerajaan, kampung masyarakat, dan kawasan yang kini berkembang menjadi destinasi wisata budaya.

Oh ya, perjalanan saya kali ini juga membuat saya sadar bahwa sejarah gak selalu harus dicari di museum. Kadang, sejarah justru berada di balik tembok yang kita lewati setiap hari.

Saya sih jadi semakin penasaran dengan titik berikutnya dari perjalanan Walking Tour ini. Sebab setelah melihat Kampung Cyber dan Gedong Ledoksari, saya semakin yakin bahwa kawasan Keraton punya banyak cerita yang belum tentu langsung terlihat dari jalan.

Kawasan Sumur Gemuling yang kini sudah tutup
Kawasan Sumur Gemuling yang kini sudah tutup (doc. Riana Dewie)


Hihihihi.... mungkin itu sebabnya saya gak pernah bosan jalan-jalan di kawasan Jogja. Tempatnya bisa sama, tetapi cerita yang kita dapat hari ini belum tentu sama dengan cerita yang kita dengar kemarin.

Gedong Ledoksari Yogyakarta akhirnya menjadi salah satu titik yang membuat saya melihat kawasan Keraton dari sisi yang lebih personal. 

Bukan hanya tentang raja dan kerajaan, tetapi juga tentang ruang privat, keluarga, kehidupan sehari-hari, serta bagaimana masyarakat masa kini hidup berdampingan dengan warisan sejarah tersebut.

Dan bagi saya, pengalaman datang langsung seperti ini membuat sejarah terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan tentu saja jauh lebih seru untuk diceritakan kembali.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Pasar Ngasem Yogyakarta: Dulu Danau, Kini Pasar Kuliner

Suasana Pasar Ngasem Jogja di kawasan Taman Sari

Saya gak tahu sudah berapa kali saya datang ke Pasar Ngasem. Yang jelas, tempat ini sudah akrab sejak saya masih kecil. 

Waktu itu, orang tua saya sempat ngontrak rumah di kawasan Taman Sari sampai saya duduk di kelas 3 SD. Jadi, Pasar Ngasem bukan sekadar nama tempat yang baru saya kenal ketika ikut Walking Tour.

Dulu, saya sering diajak ibu belanja jajan pasar sekaligus membeli sayur untuk dimasak di rumah. Saya juga masih ingat ada ikan-ikan lucu di akuarium dan burung yang diperjualbelikan. 

Namanya anak kecil, melihat ikan warna-warni dan burung berkicau di pasar tentu lebih menarik daripada sekadar menemani ibu belanja. Hihihihi....

Bertahun-tahun kemudian, saya kembali datang ke Pasar Ngasem sebagai peserta Walking Tour Sumbu Filosofi. Bedanya, kali ini saya datang dengan membawa rasa penasaran baru. 

Dari penjelasan guide, saya baru tahu bahwa tempat yang sejak kecil saya kenal sebagai pasar ternyata punya perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tahu gak, kawasan yang sekarang menjadi Pasar Ngasem Yogyakarta dulunya merupakan bagian dari danau buatan atau segaran di kompleks Taman Sari. 

Jadi, sebelum ada aktivitas jual beli seperti yang saya kenal sejak kecil, kawasan ini justru merupakan bagian dari lanskap air milik Keraton Yogyakarta.

Kali Ini Saya Melihat Pasar Ngasem dengan Cara Berbeda

Lokasi Pasar Ngasem memang sangat dekat dengan Taman Sari. Keduanya berada di kawasan Njeron Benteng yang membuat perjalanan ke sini terasa seperti masuk ke lapisan sejarah Yogyakarta.

Dalam Walking Tour Pasar Ngasem kali ini, saya jadi gak cuma melihat los pedagang atau membayangkan menu sarapan. Saya mulai memperhatikan hubungan pasar dengan bangunan-bangunan Keraton di sekitarnya.

Oh ya, dari sini pula saya baru memahami kenapa keberadaan Pasar Ngasem sebenarnya gak bisa dipisahkan dari Taman Sari Yogyakarta.

Dahulu, area di sekitar pasar sekarang merupakan bagian dari segaran, yaitu danau buatan yang mengelilingi sejumlah bangunan di kompleks Taman Sari. 

Di tengah kawasan tersebut terdapat Pulo Kenanga, yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan. Dari kawasan Pasar Ngasem sekarang, posisi Pulo Kenanga memang masih bisa dikenali di bagian selatan.

Pulo Kenanga di kawasan Taman Sari dekat Pasar Ngasem
Pulo Kenanga di kawasan Taman Sari dekat Pasar Ngasem (doc. Riana Dewie)

Ada pula cerita tentang akses berupa jembatan yang menghubungkan kawasan sekitar danau. Jadi, membayangkan tempat ini pada masa lalu memang cukup berbeda dengan suasana pasar yang saya lihat sekarang.

Saya sih suka bagian ini karena sejarahnya terasa lebih mudah dipahami ketika kita berdiri langsung di lokasinya. 

Kita gak sedang membayangkan sebuah danau yang entah ada di mana, tetapi berada di atas kawasan yang dulu merupakan bagian dari danau tersebut.

Dari Danau Buatan, Berubah Menjadi Pasar

Lalu bagaimana sebuah kawasan danau bisa berubah menjadi Pasar Ngasem?

Seiring waktu, kondisi kawasan mengalami perubahan. Danau yang dahulu menjadi bagian penting dari Taman Sari akhirnya surut dan kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman sekaligus ruang aktivitas masyarakat.

Dari sinilah pasar kemudian tumbuh. Catatan sejarah menyebut Pasar Ngasem sudah dikenal sejak awal abad ke-19. Bahkan, aktivitas jual beli burung telah tercatat sejak sekitar 1809. 

Pada sekitar 1960-an, keberadaan pedagang burung dari Pasar Beringharjo yang dipindahkan ke Ngasem semakin membuat pasar ini identik sebagai pasar burung.

Tahu gak, Pasar Ngasem dulu pasar burung bahkan begitu terkenal sampai menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. 

Burung bukan hanya dipandang sebagai hewan peliharaan, tetapi juga memiliki kaitan dengan budaya dan status sosial masyarakat Jawa.

Kawasan Pasar Ngasem yang dulu menjadi danau Taman Sari
Kawasan Pasar Ngasem yang dulu menjadi danau Taman Sari (doc. Riana Dewie)

Namun, fungsi Pasar Ngasem sebenarnya lebih luas. Di sini juga ada pedagang ikan, hewan, sembako, makanan, sayur, buah, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Artinya, sejak awal berkembang sebagai pasar, tempat ini bukan hanya menjadi ruang untuk hobi memelihara burung. Pasar Ngasem juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga sekitar.

Ketika Pasar Burung Dipindahkan

Memasuki masa yang lebih modern, jumlah pedagang dan aktivitas jual beli satwa semakin berkembang. 

Lokasi Pasar Ngasem yang berada dekat kawasan wisata Taman Sari kemudian menghadapi persoalan kepadatan dan kenyamanan lingkungan.

Pemerintah akhirnya melakukan relokasi pedagang burung dan satwa ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta atau PASTY. 

Relokasi tersebut dilaksanakan pada 22 April 2010 dan menjadi bagian dari penataan kawasan sekaligus upaya menjaga Taman Sari sebagai kawasan cagar budaya.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perubahan fungsi Pasar Ngasem. Setelah aktivitas perdagangan satwa berpindah, karakter pasar perlahan ikut berubah.

Pasar Ngasem Sekarang: Sarapan, Kuliner, dan Ruang Komunitas

Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta di pagi hari
Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta di pagi hari (doc. Google Review)

Kalau dulu saya datang ke Pasar Ngasem untuk menemani ibu belanja, sekarang suasananya terasa berbeda.

Pasar Ngasem sekarang lebih saya kenal sebagai tempat mencari kuliner tradisional dan kebutuhan sehari-hari. 

Ada sayur, buah, makanan tradisional, serta berbagai pilihan kuliner khas Jogja yang membuat pasar tetap punya denyut kehidupan sejak pagi.

Museum Sonobudoyo juga mencatat bahwa Pasar Ngasem kini berkembang sebagai ruang yang memadukan aktivitas pasar, kuliner, ruang publik, dan kegiatan seni.

Oh ya, saya sendiri sampai sekarang belum sempat benar-benar berburu kuliner paginya. Katanya ada sate kere dan dawet yang enak di sini. 

Jadi, sepertinya saya memang perlu datang lagi khusus untuk sarapan. Hmmm... alasan yang cukup masuk akal, kan?

Buat saya, justru di sinilah fungsi Pasar Ngasem menjadi menarik. Ia gak kehilangan identitasnya sebagai pasar tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari wisata budaya dan kuliner di kawasan Keraton.

Plaza Panggung yang Jadi Ruang Bersama

Plaza Panggung Pasar Ngasem untuk kegiatan komunitasPlaza Panggung Pasar Ngasem untuk kegiatan komunitas (doc. Riana Dewie)

Selain aktivitas jual beli, ada pula Plaza Panggung Pasar Ngasem yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan.

Dari catatan dan cerita yang saya dapat, ruang ini pernah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan sekolah, komunitas, pertunjukan seni, hingga event budaya. Artinya, pasar gak cuma berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang publik.

Saya pernah datang ke sini saat ada acara Pasar Kangen. Saya juga punya kenangan lain ketika Pasar Ngasem digunakan untuk kegiatan komunitas, termasuk acara Kompasiana pada 2017 melalui Indonesia Community Day atau ICD 2017 yang digelar di Plaza Pasar Ngasem.

Kegiatan semacam ini membuat Pasar Ngasem punya wajah lain di luar jam belanja. Ketika ada event, ruang pasar bisa berubah menjadi tempat bertemu, berbagi karya, berdiskusi, menikmati pertunjukan, dan berkumpulnya berbagai komunitas.

Tahu gak, perubahan semacam ini justru membuat sebuah pasar tradisional tetap relevan. Fungsinya berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa harus kehilangan sejarah tempatnya.

Dari Kenangan Masa Kecil sampai Destinasi Wisata Jogja

Sekarang saya jadi melihat Pasar Ngasem dengan cara yang berbeda.

Dulu, yang saya ingat hanya menemani ibu membeli jajan pasar dan sayuran. 

Saya ingat akuarium berisi ikan, burung-burung yang ramai diperjualbelikan, serta suasana pasar yang terasa biasa saja karena memang menjadi bagian dari keseharian saya.

Sekarang, setelah mendapatkan cerita dari guide Walking Tour, saya baru memahami bahwa tempat tersebut punya perjalanan panjang: dari kawasan danau buatan Taman Sari, berubah menjadi pasar, dikenal sebagai pasar burung, kemudian bertransformasi menjadi pasar tradisional dengan kuliner dan ruang komunitas.

Wingko babat di Pasar Ngasem Yogyakarta
Wingko babat di Pasar Ngasem Yogyakarta (doc. Google Review)

Saya sih justru merasa pengalaman seperti ini yang membuat Walking Tour menarik. Kita bisa datang ke tempat yang sebenarnya sudah familiar, tetapi pulang dengan pengetahuan baru.

Pasar Ngasem Yogyakarta akhirnya bukan cuma tentang apa yang dijual di dalamnya. Ada sejarah Yogyakarta, perubahan fungsi kawasan, kehidupan masyarakat, kuliner, seni, komunitas, dan hubungan erat dengan kawasan Taman Sari.

Wkwkwkwk.... siapa sangka pasar yang sejak kecil saya anggap cuma tempat belanja justru punya cerita sepanjang ini?

Dan mungkin saya memang harus kembali lagi. 

Bukan untuk menemani ibu belanja seperti dulu, tetapi untuk duduk santai pagi-pagi, mencicipi sate kere atau dawet. Juga melihat bagaimana Pasar Ngasem Yogyakarta terus menjalani kehidupan barunya sebagai bagian dari wisata budaya Jogja.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments