In Life Tips

Cara Memilih Makanan Kucing yang Bagus Tanpa Bikin Boncos

Berbagai pilihan makanan kucing untuk kebutuhan harian

Punya kucing memang menyenangkan, tetapi urusan memilih makanannya kadang bisa bikin bingung. Apalagi sekarang pilihan cat food makin banyak. Ada yang harganya belasan ribu, puluhan ribu, bahkan bisa jauh lebih tinggi.

Saya sendiri pernah berada di depan rak makanan kucing sambil membandingkan beberapa kemasan dan bertanya dalam hati, “Sebenarnya yang mahal memang lebih bagus, ya?”

Oh ya, suami saya cukup sayang dengan kucing-kucing tetangga. Lama-lama, dia malah hobi membelikan banyak makanan kucing dari aneka brand. 

Katanya, “Coba-coba dulu, cari yang paling cocok buat anak-anak itu.” Wkwkwkwk.... Yang dimaksud “anak-anak” tentu saja kucing-kucing tersebut.

Dari situ, perjalanan kami sebenarnya punya fokus yang sederhana: mencari makanan kucing yang harganya terjangkau, tetapi kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi. Nah, loh, memang ada?

Tahu gak, setelah riset beberapa waktu dan mencoba beberapa pilihan, akhirnya kami menemukan satu brand yang menurut kami cukup menarik untuk diberikan kepada kucing-kucing liar di sekitar rumah.

Ada satu hal yang kemudian saya sadari: harga ternyata gak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan kualitas makanan kucing. 

Ada banyak hal lain yang justru perlu diperhatikan, mulai dari kandungan nutrisi, usia kucing, feeding guide, sampai respons tubuh setelah makanan diberikan secara rutin.

Oh ya, buat saya yang paling penting adalah menemukan makanan yang sesuai kebutuhan kucing sekaligus masih masuk akal untuk budget bulanan. Jadi, gak harus selalu memilih yang paling mahal.

Jangan Terjebak Harga Saat Memilih Makanan Kucing

Makanan kucing yang mahal belum tentu otomatis menjadi pilihan yang paling sesuai. Sebaliknya, makanan kucing dengan harga lebih ekonomis juga gak berarti kualitasnya pasti rendah.

Sih, bagian ini yang sering bikin pemilik kucing terkecoh. Kita melihat harga di kemasan, lalu langsung menganggap semakin mahal berarti semakin bagus.

Padahal, ada beberapa faktor yang bisa membuat harga makanan kucing berbeda. Misalnya bahan yang digunakan, formulasi, ukuran kemasan, proses produksi, distribusi, hingga strategi penjualan.

Karena itu, daripada hanya melihat nominal di label, saya lebih suka membandingkan harga per gram atau bahkan memperkirakan biaya per porsi. Kemasan yang kelihatannya murah belum tentu paling hemat kalau kebutuhan makan hariannya lebih banyak.

Tahu gak, feeding guide pada kemasan juga bisa membantu menghitung perkiraan kebutuhan makanan setiap hari. Dari sana, kita bisa lebih mudah memperkirakan berapa biaya makan kucing dalam sebulan.

Jadi, konsep “hemat” bukan sekadar mencari harga paling murah. Yang dicari adalah value for money: kebutuhan kucing terpenuhi dengan biaya yang masih sesuai kemampuan pemilik.

Cara Memilih Makanan Kucing: 5 Hal yang Perlu Dicek

Lalu, bagaimana cara memilih makanan kucing yang bagus tanpa sekadar terpaku pada harga? Saya biasanya akan melihat beberapa hal berikut.

1. Cek Kandungan Nutrisinya

Jangan hanya melihat satu angka pada label. Perhatikan keseluruhan kandungan nutrisinya, seperti protein, lemak, serat, vitamin, mineral, taurine, dan kadar air.

Yang penting adalah makanan tersebut memang diformulasikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kucing sesuai peruntukannya.

2. Sesuaikan dengan Usia Kucing

Kebutuhan kitten tentu berbeda dengan kucing dewasa. Begitu juga dengan induk kucing yang sedang menyusui.

Karena itu, pilih makanan berdasarkan tahap kehidupan kucing. Misalnya, makanan untuk kitten, adult cat, atau mother & kitten.

Oh ya, jangan lupa mempertimbangkan kondisi masing-masing kucing juga. Usia memang penting, tetapi berat badan, aktivitas, dan kondisi tubuh bisa ikut memengaruhi kebutuhan makanannya.

Makanan kucing ekonomis dengan nutrisi yang sesuai kebutuhan
Makanan kucing ekonomis dengan nutrisi yang sesuai kebutuhan (freepik.com


3. Jangan Lewatkan Feeding Guide

Saya dulu juga termasuk yang suka mengabaikan tulisan kecil di belakang kemasan. Hihihihi.... Padahal, feeding guide justru cukup berguna.

Petunjuk pemberian makan biasanya memberikan gambaran jumlah makanan berdasarkan berat badan atau kondisi tertentu. Informasi ini bisa membantu menentukan porsi harian sekaligus menghitung pengeluaran bulanan.

4. Perhatikan Daya Cerna

Makanan yang dikonsumsi kucing tentu berkaitan dengan sistem pencernaannya. Salah satu hal yang bisa diamati di rumah adalah kondisi feses setelah kucing mengonsumsi makanan secara rutin.

Namun, jangan menjadikan kondisi feses sebagai satu-satunya indikator kualitas makanan. Jika kucing mengalami diare atau sembelit yang terus-menerus, sebaiknya konsultasikan dengan dokter hewan.

5. Amati Kondisi Kucing Setelah Makan

Cara memilih makanan kucing juga perlu melibatkan pengamatan setelah makanan diberikan. Bagaimana nafsu makannya? Bagaimana aktivitasnya? Bagaimana kondisi bulu dan tubuhnya?

Body Condition Score atau BCS juga bisa menjadi salah satu hal yang diperhatikan untuk melihat kondisi tubuh kucing. Namun, perubahan pada kucing gak selalu disebabkan oleh makanan saja karena banyak faktor lain yang bisa berpengaruh.

Makanan Kucing BOLT, Bisa Jadi Pilihan Ekonomis?

Dari berbagai pertimbangan tadi, kami akhirnya mengenal BOLT Cat Food sebagai salah satu pilihan yang cukup menarik untuk kebutuhan kucing-kucing di sekitar rumah.

Tahu gak, salah satu alasan makanan kucing BOLT masuk dalam pertimbangan kami adalah karena konsepnya cukup sesuai dengan pencarian kami sejak awal: makanan yang bisa memenuhi kebutuhan nutrisi kucing dengan harga yang lebih ekonomis.

BOLT Cat Food memiliki beberapa pilihan berdasarkan kebutuhan dan tahap kehidupan kucing. Ada BOLT Adult untuk kucing dewasa serta BOLT Mother & Kitten yang diperuntukkan bagi induk dan anak kucing.

Menurut saya, pembagian seperti ini penting karena memilih makanan kucing bukan cuma soal “kucing saya mau makan atau gak”. Kebutuhan nutrisi juga perlu disesuaikan dengan tahap kehidupannya.

Jadi, saat menemukan makanan kucing dengan harga yang relatif terjangkau, tetap cek peruntukan, kandungan nutrisi, dan feeding guide-nya. Jangan langsung mengambil kesimpulan hanya dari harga kemasan.

Biar Makanan Kucing Tetap Hemat Tanpa Asal Pilih

Pada akhirnya, cara memilih makanan kucing yang bagus bukan berarti harus mencari produk dengan harga tertinggi. Justru, kita perlu melihat kebutuhan kucing secara lebih menyeluruh.

Mulai dari usia, kondisi tubuh, kandungan nutrisi, feeding guide, sampai respons kucing setelah mengonsumsinya. Setelah itu, baru bandingkan dengan budget yang memang kita punya.

Sih, menurut saya pola seperti ini jauh lebih masuk akal daripada sekadar berpikir “yang mahal pasti bagus” atau “yang murah pasti kurang bagus”.

Kucing sedang menikmati makanan kucing di rumahKucing sedang menikmati makanan kucing di rumah (freepik.com) 


Beberapa kesalahan yang juga sebaiknya dihindari antara lain:

  • Hanya melihat harga tanpa membaca label.

  • Memilih makanan berdasarkan kemasan atau klaim “premium” saja.

  • Gak menyesuaikan makanan dengan usia kucing.

  • Mengabaikan feeding guide.

  • Langsung mengganti makanan tanpa memperhatikan respons kucing.

  • Menganggap kesehatan kucing hanya ditentukan oleh harga makanannya.

Oh ya, kalau kucing punya kebutuhan khusus atau kondisi kesehatan tertentu, pilihan makanannya sebaiknya dibicarakan dengan dokter hewan. Kebutuhan setiap kucing memang bisa berbeda.

***

Buat saya, mencari makanan kucing yang tepat memang sedikit butuh usaha. Apalagi kalau yang diberi makan bukan cuma satu atau dua ekor. Tapi setelah tahu apa saja yang perlu diperhatikan, proses memilihnya jadi jauh lebih gampang.

Dan buat kamu yang sedang mencari makanan kucing yang tetap ramah di kantong, BOLT Cat Food bisa menjadi salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan. Kepoin saja Instagram @boltpetfoodid, TikTok BOLT atau Facebook BOLT Pet Food Indonesia. 

Untuk pembelian, BOLT juga tersedia melalui pet shop serta official store CPPETINDO di e-commerce. Biar gak kelamaan, yuk klik tautan ini untuk membeli BOLT Cat Food DISINI. 

FAQ Seputar Memilih Makanan Kucing

Apakah makanan kucing murah pasti kualitasnya rendah?

Gak selalu. Harga bukan satu-satunya penentu kualitas. Periksa kandungan nutrisi, peruntukan, feeding guide, dan kebutuhan kucing.

Apakah makanan kucing mahal selalu lebih bagus?

Belum tentu. Yang lebih penting adalah kesesuaian makanan dengan kebutuhan nutrisi dan kondisi kucing.

Bagaimana cara membandingkan harga makanan kucing?

Jangan hanya membandingkan harga kemasan. Coba lihat berat bersih, feeding guide, kebutuhan harian, lalu hitung perkiraan biaya per gram atau per hari.

Apakah makanan ekonomis bisa diberikan setiap hari?

Bisa menjadi pilihan jika makanan tersebut memang diformulasikan untuk kebutuhan harian dan memenuhi kebutuhan nutrisi sesuai peruntukannya.

Jadi, kamu lebih pilih mana nih? Makanan kucing yang murah tapi bernutrisi? Atau mau tetap pilih yang mahal saja? Hihihi.... Selera kamu aja deh, yang penting kucingnya sehat-sehat ya :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cultural Events

Travelling ke Pameran Lukisan? Ini 7 Manfaat untuk Pikiran dan Emosi

Manfaat melihat pameran lukisan saat travelling

Tinggal di Jogja membuat saya cukup beruntung karena kota ini punya banyak ruang untuk menikmati seni. 

Bukan cuma soal wisata kuliner atau jalan-jalan ke tempat hits, saya juga bisa menemukan banyak pameran lukisan yang menghadirkan karya para seniman dengan karakter masing-masing.

Gak heran kalau circle teman-teman saya sesekali mengajak mampir ke pameran seni lukis yang sedang berlangsung. Saya pribadi suka takjub sih. 

Kadang sebuah lukisan terlihat sederhana, tetapi setelah diamati lebih lama, ternyata punya makna yang dalam. Ada pula karya yang tampak abstrak, tetapi justru memancarkan keindahan dengan caranya sendiri.

Tahu gak, aktivitas seperti ini sebenarnya bisa menjadi bagian menarik dari travelling. Sebab, jalan-jalan gak selalu harus diisi dengan foto di tempat wisata, mencoba makanan baru, atau berburu oleh-oleh. 

Mengunjungi pameran lukisan juga bisa menjadi pengalaman yang memperkaya pikiran dan emosi. Lalu, apa saja manfaat melihat pameran lukisan yang bisa kita dapatkan?

Menikmati karya seni sebagai aktivitas travelling
Menikmati karya seni sebagai aktivitas travelling (doc. Riana Dewie)


Kenapa Pameran Lukisan Bisa Jadi Bagian dari Travelling?

Bagi saya, travelling adalah kesempatan untuk melihat sesuatu yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Karena itu, mengunjungi galeri seni, museum seni, atau art exhibition bisa menjadi salah satu aktivitas saat travelling.

Apalagi ketika sedang berkunjung ke sebuah kota yang punya kehidupan seni cukup kuat. 

Kita gak hanya melihat destinasi wisata dari sisi bangunan, kuliner, atau pemandangan, tetapi juga mengenal bagaimana masyarakat dan seniman di tempat tersebut mengekspresikan gagasan.

Oh ya, wisata seni juga bisa menjadi bentuk wisata budaya dan wisata edukasi yang menarik. Kita dapat mengenal seniman lokal, melihat koleksi seni, memahami kurasi pameran, sampai mengetahui cerita di balik sebuah karya.

Saya juga sering dibuat penasaran dengan hasil karya para seniman. Kok bisa, ya, mereka kepikiran membuat karya seperti ini?

Dari rasa penasaran tersebut, kita sebenarnya sedang belajar melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Itulah yang membuat manfaat mengunjungi pameran lukisan gak berhenti pada pengalaman visual saja.

Wisata seni dan pengalaman travelling di galeri
Wisata seni dan pengalaman travelling di galeri (doc. Riana Dewie)


Manfaat Melihat Pameran Lukisan untuk Pikiran dan Emosi

Ada alasan kenapa sebagian orang merasa lebih tenang setelah menikmati karya seni. Proses mengamati lukisan membuat kita berhenti sejenak dari aktivitas yang serba cepat.

1. Membantu memberi ruang untuk relaksasi

Saat melihat lukisan, perhatian kita bisa tertuju pada warna, bentuk, tekstur, detail, dan komposisinya. Aktivitas sederhana ini dapat menjadi jeda dari berbagai hal yang memenuhi kepala.

Buat saya, momen seperti ini terasa seperti mengambil napas di tengah perjalanan. Gak perlu buru-buru memahami semuanya. Cukup berdiri, melihat, lalu membiarkan mata menikmati karya yang ada di depan kita.

Dalam konteks kesehatan mental, aktivitas yang membuat seseorang lebih mindful dan fokus pada pengalaman saat ini dapat menjadi bagian dari kegiatan self-care. 

Jadi, manfaat pameran lukisan untuk kesehatan mental bisa dilihat dari pengalaman menikmati seni sebagai ruang jeda dan relaksasi, bukan sebagai pengganti penanganan profesional.

2. Membantu mengenali dan mengekspresikan emosi

Menariknya, satu lukisan bisa menimbulkan respons emosional yang berbeda pada setiap orang. Warna gelap mungkin terasa muram bagi seseorang, tetapi justru menenangkan bagi orang lain.

Tahu gak, kita bisa saja menemukan perasaan tertentu saat mengamati sebuah karya, bahkan ketika sebelumnya gak sadar sedang merasakan emosi tersebut.

Inilah salah satu manfaat seni bagi emosi. Melalui pengalaman visual, seseorang dapat melakukan refleksi diri, mengenali suasana hati, atau sekadar memberi kesempatan kepada dirinya untuk merasakan sesuatu tanpa harus menjelaskannya panjang lebar.

Menikmati lukisan untuk relaksasi dan refleksi diri
Menikmati lukisan untuk relaksasi dan refleksi diri (doc. Riana Dewie)


3. Memberikan pengalaman yang menyenangkan

Menikmati lukisan juga bisa menjadi aktivitas sederhana untuk memperbaiki suasana hati. Ada rasa puas ketika menemukan karya yang menarik perhatian, memahami cerita di baliknya, atau menemukan detail yang sebelumnya terlewat.

Bukan berarti setiap orang otomatis menjadi lebih bahagia setelah melihat pameran seni, tetapi pengalaman positif dan menyenangkan tentu bisa menjadi bagian dari kesejahteraan psikologis.

Melihat Lukisan Juga Bisa Mengasah Otak dan Kreativitas

Pernah melihat lukisan abstrak lalu bertanya dalam hati, “Ini sebenarnya menggambarkan apa?” Nah, justru dari pertanyaan semacam itu otak diajak bekerja.

Manfaat melihat karya seni salah satunya adalah memberikan stimulasi kognitif melalui proses mengamati, menafsirkan, dan menghubungkan berbagai informasi visual.

4. Melatih kemampuan observasi

Saat berada di art gallery, coba jangan hanya melihat lukisan sekilas. Perhatikan warna dan komposisi, garis, ekspresi, objek kecil, hingga detail yang mungkin sengaja ditampilkan oleh seniman.

Aktivitas tersebut melatih kemampuan observasi karena kita belajar memperhatikan sesuatu secara lebih teliti. Bahkan karya yang awalnya terlihat biasa saja bisa terasa berbeda setelah diamati lebih lama.

5. Memancing imajinasi dan kreativitas

Seni dan kreativitas memang punya hubungan yang menarik. Ketika melihat sebuah lukisan, otak gak selalu menerima informasi secara mentah. Kita bisa membayangkan cerita, suasana, karakter, atau kejadian yang mungkin melatarbelakangi karya tersebut.

Saya sih suka bagian ini karena setiap orang bisa punya interpretasi berbeda. Satu lukisan bisa membuat seseorang teringat masa lalu, sementara orang lain justru mendapatkan ide baru.

Proses tersebut dapat menjadi latihan untuk membuka imajinasi dan melihat kemungkinan dari sesuatu yang sama. Karena itu, manfaat seni bagi otak gak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga cara kita mengolah informasi.

Mengamati detail lukisan di sebuah galeri seni
Mengamati detail lukisan di sebuah galeri seni (doc. Riana Dewie)


6. Membiasakan diri melihat perspektif berbeda

Sebuah karya seni gak selalu dibuat untuk memberikan jawaban yang jelas. Justru kadang seniman sengaja membiarkan penikmatnya membuat interpretasi sendiri.

Dari sini kita belajar bahwa sesuatu dapat dilihat dari berbagai perspektif. Kebiasaan memahami makna sebuah karya, mempertimbangkan konteks, dan menerima interpretasi yang berbeda dapat mendorong kemampuan berpikir kritis.

Jadi, seni dan kecerdasan gak harus selalu dibicarakan dalam konteks akademis. Berdiri di depan lukisan dan mencoba memahami gagasan pembuatnya pun bisa menjadi pengalaman belajar.

Travelling ke Pameran Seni Bikin Jalan-Jalan Lebih Berkesan

Travelling sering kali meninggalkan kenangan melalui tempat yang kita kunjungi. Namun, pengalaman tersebut bisa terasa lebih kaya ketika kita juga berinteraksi dengan budaya dan karya kreatif di sebuah daerah.

Oh ya, manfaat mengunjungi pameran seni juga bisa menjadi cara untuk mengenal karakter sebuah kota. Setiap daerah punya cerita, kebiasaan, sejarah, dan lingkungan sosial yang dapat memengaruhi karya para senimannya.

Ketika mengunjungi pameran saat travelling, kita bisa mendapatkan pengalaman wisata yang berbeda. 

Bukan hanya melihat karya, tetapi juga bertemu orang dengan ketertarikan serupa, berbincang mengenai seni, atau menemukan destinasi seni yang sebelumnya gak masuk itinerary.

Pameran lukisan sebagai destinasi wisata seni
Pameran lukisan sebagai destinasi wisata seni (doc. Riana Dewie)


7. Membawa pulang cerita, bukan cuma foto

Ini mungkin menjadi salah satu alasan saya menyukai wisata seni. Setelah pulang, yang tersisa bukan hanya foto di galeri atau dokumentasi di media sosial, tetapi juga cerita tentang karya yang kita lihat.

Kita mungkin jadi ingat satu lukisan dengan warna tertentu, seorang seniman yang baru dikenal, atau percakapan singkat dengan teman saat membahas sebuah karya.

Wkwkwkwk.... ternyata travelling memang bisa sesederhana itu: pergi ke suatu tempat, melihat sesuatu yang baru, lalu pulang membawa pikiran yang sedikit berbeda.

Pada akhirnya, manfaat menikmati karya seni memang bisa terasa sangat personal. Ada yang menemukan ketenangan, mendapatkan inspirasi, belajar memahami perspektif, atau sekadar menikmati pengalaman visual yang menyenangkan.

Tahu gak, kita juga gak harus pergi jauh untuk mendapatkan pengalaman tersebut. Pameran lukisan bisa saja ada di kota sendiri, galeri kecil, ruang komunitas, museum, atau agenda seni yang sedang berlangsung.

***

Jadi, saat sedang merencanakan travelling berikutnya, gak ada salahnya memasukkan pameran seni ke dalam daftar aktivitas. 

Siapa tahu, perjalanan kali ini bukan cuma membuat kaki melangkah lebih jauh, tetapi juga membuat pikiran melihat dunia dengan cara yang baru.

Karena travelling bukan cuma tentang ke mana kita pergi, tetapi juga tentang apa yang kita lihat, rasakan, dan bawa pulang setelahnya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Cultural Events

Pasar Malam Sekaten Jogja: Dulu Selalu Saya Tunggu

Pasar Malam Sekaten Jogja di Alun-Alun Utara Yogyakarta

Sebagai orang Jogja, ada satu event tahunan yang dulu selalu saya tunggu-tunggu: Pasar Malam Sekaten Jogja di Alun-Alun Utara. 

Rasanya belum lengkap melewati bulan Mulud tanpa melihat kerlap-kerlip lampu, mendengar suara wahana dari kejauhan, lalu ikut hanyut dalam keramaian pasar malam.

Sejak kecil, Pasar Malam Perayaan Sekaten atau PMPS sudah mewarnai hari-hari saya. Sampai dewasa pun, event ini tetap punya daya tarik sendiri. 

Gak harus punya tujuan khusus. Kadang datang cuma untuk keliling, jajan, melihat wahana, atau berburu barang yang sebenarnya gak ada di daftar belanja.

Tahu gak, bukan cuma warga Jogja yang datang ke sini. Dulu, banyak orang dari luar kota berbondong-bondong datang menggunakan mobil, bus, bahkan truk rombongan demi menikmati pasar malam di Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Sayangnya, suasana seperti itu kini tinggal kenangan. PMPS di Alun-Alun Utara terakhir digelar pada 2018. Setelah itu, pasar malamnya ditiadakan di lokasi tersebut. 

Memang sempat ada pasar malam bernuansa nostalgia di tempat lain pada 2022, tetapi rasanya tetap berbeda.

Pasar Malam Sekaten, Event Tahunan yang Selalu Saya Tunggu

Dulu, begitu mendengar kabar Pasar Malam Sekaten akan dibuka, rasanya sudah ada agenda yang harus masuk kalender. Bukan karena saya harus membeli sesuatu, melainkan karena suasananya memang selalu bikin penasaran.

PMPS berlangsung berminggu-minggu sehingga punya cukup banyak waktu untuk dikunjungi. Hari ini datang bersama keluarga, beberapa hari kemudian datang lagi dengan teman. 

Bahkan bisa saja awalnya cuma ingin jalan-jalan, tetapi pulangnya membawa jajanan, mainan, atau barang yang sebelumnya gak terpikir untuk dibeli.

Oh ya, yang paling saya ingat justru bukan satu wahana atau satu makanan tertentu, melainkan suasananya secara keseluruhan.

Alun-Alun Utara Yogyakarta berubah menjadi kawasan yang penuh manusia. Ada suara musik dari wahana, teriakan pengunjung, suara pedagang menawarkan dagangan, sampai suara orang yang sedang sibuk menawar harga.

Mau naik Ombak Banyu, suara teriakannya bisa terdengar dari jauh. Masuk area Tong Setan juga gak kalah heboh. Sementara di sisi lain, orang sibuk memilih pakaian, melihat mainan, atau sekadar mencari jajanan.

Kalau saya sih, bagian keliling tanpa tujuan ini justru yang paling menyenangkan. Kita bisa berjalan pelan sambil melihat apa saja yang menarik perhatian.

Dan karena PMPS menjadi event tahunan Jogja, ada semacam perasaan, “Nanti tahun depan datang lagi.” Begitu terus dari tahun ke tahun.

Tahu gak, mungkin justru karena selalu datang setiap tahun itulah kenangan tentang Pasar Malam Sekaten dulu terasa begitu kuat sampai sekarang.

Dari Wahana, Jajanan, sampai Barang yang Bikin Kalap

Kalau membicarakan nostalgia Pasar Malam Sekaten, rasanya kurang lengkap tanpa membahas isi pasar malamnya. Sebab, daya tarik PMPS bukan cuma keramaiannya.

Wahana yang bikin deg-degan

Wahana Ombak Banyu di Pasar Malam Perayaan Sekaten
Wahana Ombak Banyu di Pasar Malam Perayaan Sekaten (doc. Riana Dewie)

Ada banyak wahana permainan yang menjadi magnet pengunjung. Sebut saja komidi putar, bianglala, Ombak Banyu, Tong Setan, sampai istana karet untuk permainan anak.

Masing-masing punya penggemar sendiri.

Bagi anak-anak, melihat wahana saja sudah cukup membuat mata berbinar. Bagi yang lebih dewasa, mungkin justru bagian paling seru adalah menyaksikan keberanian orang lain dari bawah. Hihihihi....

Tong Setan, misalnya, selalu punya cara sendiri untuk mengundang penonton berkumpul. Suara kendaraan yang melaju di dinding tong bercampur dengan teriakan penonton menciptakan suasana yang khas pasar malam.

Komedi Putar di Pasar Malam Sekaten Jogja
Komedi Putar di Pasar Malam Sekaten Jogja (doc. Riana Dewie)


Jajanan yang susah ditolak

Belum lagi urusan kuliner pasar malam. Ada bakso, siomay, sate kere, sate ayam, sempol, gula-gula, galundeng atau bolang-baling, telur gulung, cilok, jagung bakar, sampai aneka gorengan.

Oh ya, aroma makanan yang bercampur dengan bau khas wahana dan keramaian pengunjung itu entah kenapa justru menjadi bagian dari kenangan masa kecil.

Datang dengan niat cuma jalan-jalan, akhirnya tangan membawa makanan. Mau hemat, tapi melihat jajanan lain jadi ingin mencoba. Begitu terus sampai dompet ikut merasakan atmosfer PMPS. Wkwkwkwk....

Mainan dan barang dagangan

Istana bermain anak di Pasar Malam Sekaten Jogja
Istana bermain anak di Pasar Malam Sekaten Jogja (doc. Riana Dewie)

Ada pula mainan anak yang sederhana tetapi menghibur. Salah satu yang saya ingat adalah kapal otok-otok yang dimainkan di atas wadah berisi air.

Ada juga permainan memancing untuk anak dan berbagai mainan kecil yang biasanya membuat anak berhenti berkali-kali.

Untuk orang dewasa, pilihannya lebih beragam lagi. Ada pakaian, celana, boneka, aksesori, peralatan dapur, pecah belah, sampai berbagai barang kebutuhan rumah.

Namun, salah satu yang paling bikin saya kangen adalah awul-awul alias pakaian thrift.

Awul-awul di pasar malam punya sensasi berburu tersendiri. Harus sabar mengaduk-aduk tumpukan pakaian demi menemukan barang yang dirasa menarik. 

Pedagang awul-awul di Pasar Malam Sekaten
Pedagang awul-awul di Pasar Malam Sekaten (doc. Riana Dewie)


Kadang dapat, kadang pulang dengan tangan kosong. Tapi justru proses berburu itulah yang seru.

Tahu gak, saya bisa saja datang tanpa rencana membeli baju, tetapi begitu melihat tumpukan awul-awul, niat belanja mendadak berubah. Hahaha.

Riuhnya yang bikin kangen

Semua elemen tadi bercampur menjadi satu: lampu warna-warni, stan pedagang, wahana permainan, kuliner, suara musik, pengunjung yang berdesakan, dan kadang panggung hiburan yang membuat suasana semakin ramai.

Itulah kenapa kenangan masa kecil dan masa muda tentang PMPS sulit hilang. Pasar malamnya memang sederhana, tetapi pengalaman yang ditinggalkan terasa lengkap.

Kenapa PMPS di Alun-Alun Utara Akhirnya Ditiadakan?

Pertanyaan “kenapa Pasar Malam Sekaten ditiadakan?” sebenarnya punya beberapa sisi. Peniadaan PMPS pada 2019 bukan berarti tradisi Sekaten ikut dihentikan.

1. Ada upaya memulihkan kondisi Alun-Alun Utara

Keraton Yogyakarta pada 2019 menyampaikan bahwa PMPS ditiadakan salah satunya untuk memulihkan kondisi Alun-Alun Utara. Setelah digunakan untuk wahana dan pedagang selama pasar malam, kondisi kawasan tersebut dinilai perlu dipulihkan, termasuk persoalan rumput dan kebersihan.

Namun, pada saat itu ada juga penjelasan dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang memberikan sudut pandang berbeda. 

Pemkot menyebut PMPS 2019 memang tidak dianggarkan dan terdapat konsolidasi mengenai penyelenggaraan pasar malam. Jadi, alasan peniadaan saat itu tidak bisa disederhanakan hanya menjadi persoalan rumput.

Suasana ramai Pasar Malam Sekaten di Alun-Alun Utara
Suasana ramai Pasar Malam Sekaten di Alun-Alun Utara (doc. Riana Dewie)

2. Penataan kawasan menjadi pertimbangan

Alun-Alun Utara merupakan bagian penting dari kawasan Keraton Yogyakarta. Ketika sebuah area digunakan untuk pasar rakyat dengan banyak wahana dan pedagang selama berminggu-minggu, tentu ada konsekuensi terhadap kondisi kawasan.

Keraton kemudian ingin mengembalikan kondisi Alun-Alun Utara sekaligus menata kembali penyelenggaraan Sekaten.

3. PMPS dan tradisi Sekaten sebenarnya berbeda

Nah, ini bagian yang sering tertukar.

Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan kegiatan keramaian yang selama bertahun-tahun melekat dengan perayaan Sekaten. 

Namun, menurut penjelasan Keraton pada 2019, pasar malam bukan bagian inti dari tradisi Hajad Dalem Sekaten. Keraton ingin mengembalikan Sekaten pada semangat dan makna awalnya.

Tradisi Sekaten sendiri tetap berlangsung sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada 2026 pun rangkaian Hajad Dalem Sekaten tetap dilaksanakan, termasuk Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa.

4. Pandemi ikut memperpanjang jedanya

Setelah PMPS di Alun-Alun Utara berhenti, pandemi COVID-19 ikut membuat keramaian besar seperti pasar malam semakin sulit diselenggarakan.

Baru pada 2022 masyarakat kembali mendapat kesempatan menikmati pasar malam bernuansa Sekaten melalui Pasar Rakyat Jogja Gumregah. 

Lokasinya bukan di Alun-Alun Utara, melainkan di eks kampus STIE Kerjasama, Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul, dan berlangsung sekitar satu bulan.

Buat saya, suasananya tetap menyenangkan. Tetapi tetap ada satu hal yang terasa berbeda: lokasinya.

Sebab, yang dirindukan bukan sekadar wahana atau jajanan. Ada hubungan antara pasar malam, Alun-Alun Utara, Keraton, dan memori bertahun-tahun yang membuat PMPS dulu terasa begitu spesial.

PMPS Hilang, Kenangannya Tetap Tinggal

Mungkin yang hilang sebenarnya bukan sekadar pasar malam.

Yang hilang adalah feel-nya.

Ada rasa berbeda ketika melihat Alun-Alun Utara yang biasanya menjadi ruang terbuka berubah menjadi lautan lampu, wahana, pedagang, dan manusia. 

Ada sensasi berjalan berdesakan sambil mencari jajanan. Ada rasa penasaran setiap melihat wahana baru. Ada juga awul-awul yang tiba-tiba membuat dompet menipis.

Sebagai generasi milenial, saya termasuk orang yang cukup beruntung pernah menikmati keramaian itu hampir tanpa absen setiap tahunnya. Pasar Malam Sekaten zaman dulu menjadi bagian dari kenangan masa kecil, lalu terbawa sampai masa muda.

Saat saya naik Bom bom car di Pasar Malam Sekaten Jogja
Saat saya naik Bom bom car di Pasar Malam Sekaten Jogja (doc. Riana Dewie)


Oh ya, setiap generasi mungkin punya versi nostalgia masing-masing. Anak-anak sekarang mungkin akan mengingat event dan tempat yang berbeda. 

Begitu pula dengan generasi sebelum saya yang punya kenangan lain tentang Sekaten Alun-Alun Utara Jogja.

Jadi, menurut saya, gak perlu membandingkan mana yang lebih baik. Setiap zaman memang punya wajahnya sendiri.

Pasar Malam Sekaten dulu boleh menjadi kenangan. PMPS sekarang mungkin sudah gak lagi hadir seperti yang saya kenal. Tetapi tradisi Sekaten tetap hidup dan terus dijalankan.

Dan justru di situlah menariknya Yogyakarta. Tradisi bisa tetap dijaga, sementara bentuk perayaannya dapat berubah mengikuti zaman.

Sekaten bukan hanya soal pasar malam. Ada gamelan pusaka, prosesi Keraton, peringatan Maulid Nabi, Garebeg Mulud, serta berbagai tradisi budaya yang masih bisa dinikmati masyarakat.

***

Jadi, kalau suatu hari saya merasa rindu keramaian PMPS, mungkin jawabannya bukan terus menunggu pasar malam yang dulu kembali. 

Saya bisa datang menikmati event budaya Keraton lainnya, melihat prosesi, pertunjukan seni, atau sekadar berjalan-jalan di kawasan yang menyimpan begitu banyak cerita.

Sebab, kenangan tentang Pasar Malam Sekaten memang boleh tinggal di masa lalu. Tetapi semangat untuk menikmati budaya Yogyakarta seharusnya tetap jalan terus.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti ada bentuk perayaan baru yang kembali membuat generasi berikutnya berkata, “Dulu, event ini selalu saya tunggu.”


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal Notes

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace: Belajar Kitab Suci

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace

Aktivitas saya belakangan ini cukup padat dengan kerjaan. Rasanya waktu untuk sekadar refreshing atau healing jadi makin tipis. 

Tahu gak, sebenarnya saya sudah cukup lama gak punya agenda nonton yang benar-benar santai tanpa memikirkan pekerjaan.

Tanggal 24 September 2026 kemarin, saya baru saja sampai Jogja setelah perjalanan pulang dari Jakarta. 

Sebelumnya saya mengantar teman-teman atlet senam mengikuti Lomba Senam Perwosi 2026. Sampai Jogja dini hari, saya memilih istirahat seharian karena badan memang butuh diajak kompromi.

Hari sebelumnya, dua teman tiba-tiba mengajak saya nonton. Saya bahkan gak tahu sinopsisnya, belum melihat trailernya, dan gak punya ekspektasi apa-apa. Saya langsung bilang, “OK.” Saya pikir, sekalian refreshing lah.

Akhirnya di Kamis Sore itu saya bergegas ke XXI Jogja City Mall. Seperti biasa, saya telat sekitar lima menit dan dua teman saya sudah duduk manis di kursi deretan B. Hahaha.

Ternyata film yang kami tonton adalah Film Daniel and the Fiery Furnace. Awalnya saya mengira ini hanya akan menjadi tontonan film rohani biasa. Eh, setelah selesai menonton, saya malah jadi penasaran lagi dengan kisah Nabi Daniel.

Tahu gak, salah satu hal yang saya rasakan justru sederhana: membaca Kitab Suci kadang membuat saya harus membayangkan sendiri bagaimana suasana, tokoh, tempat, sampai konflik yang sedang terjadi. Lewat film, semuanya terasa lebih hidup.

Film Daniel and the Fiery Furnace Bercerita tentang Apa?

Poster Film Daniel and the Fiery Furnace
Poster Film Daniel and the Fiery Furnace (20thecountdown.com)

Jadi, film Daniel and the Fiery Furnace tentang apa? Film ini merupakan drama Alkitab berlatar pembuangan bangsa Yahudi ke Babilonia. 

Daniel diperankan Mena Massoud, sementara Raja Nebukadnezar diperankan Elijah Alexander. Ceritanya membawa penonton mengikuti perjalanan Daniel dan teman-temannya ketika mereka harus mempertahankan iman di tengah kekuasaan kerajaan Babilonia.

Daniel digambarkan sebagai sosok yang tetap memegang keyakinannya kepada Tuhan meskipun berada di lingkungan yang berbeda. 

Film kemudian membawa kita pada konflik ketika Raja Nebukadnezar mengeluarkan perintah penyembahan terhadap patung emas. 

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk gak tunduk pada perintah tersebut dan akhirnya menghadapi hukuman dilempar ke dalam tungku api.

Kalau ada yang bertanya Daniel and the Fiery Furnace bercerita tentang apa, jawaban sederhananya adalah tentang iman, keberanian, kesetiaan, dan pilihan untuk tetap berpegang kepada Tuhan ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace
Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace (doc. Riana Dewie)


Film tentang Nabi Daniel ini juga menarik karena gak hanya berhenti pada satu peristiwa. Perjalanan Daniel sebagai seorang pemuda Yahudi di Babilonia ikut menjadi bagian penting dari cerita.

Oh ya, ada juga tokoh Yeremia yang menjadi salah satu highlight dalam film. Roberto Zenca memerankan Jeremiah, dan situs resmi film bahkan menyebut perjalanan Daniel dan Jeremiah sebagai bagian dari materi pendalaman cerita. 

Jadi, karakter Jeremiah dalam film ini ikut memberi warna pada perjalanan Daniel dalam memperjuangkan imannya.

Buat saya, kehadiran karakter-karakter tersebut membuat kisah yang sebelumnya hanya saya kenal sebagai cerita Alkitab terasa lebih punya wajah.

Nabi Daniel dan Iman yang Gak Gampang Goyah

Bagian yang paling mudah ditangkap dari kisah Nabi Daniel dalam film adalah soal kesetiaan kepada Tuhan.

Daniel berada di tempat asing. Ia hidup di tengah budaya dan kekuasaan yang berbeda dengan keyakinannya. Namun, keadaan tersebut gak membuatnya begitu saja meninggalkan iman kepada Tuhan.

Nabi Daniel mempertahankan iman kepada Tuhan
Nabi Daniel mempertahankan iman kepada Tuhan (IG @menamassoud)


Berani Mempertahankan Iman

Salah satu pelajaran dari kisah Nabi Daniel adalah keberanian mempertahankan iman ketika ada tekanan. 

Dalam cerita tentang tungku api, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak menyembah patung emas yang dibuat Raja Nebukadnezar. Mereka memilih tetap setia kepada Tuhan meskipun konsekuensinya sangat berat.

Tahu gak, justru bagian seperti ini yang menurut saya lebih gampang direnungkan setelah melihat visualisasinya. Kita bisa melihat ekspresi ketakutan, suasana kerajaan, kobaran api, sampai keputusan para tokohnya.

Iman Bukan Sekadar Kata

Dari kisah Nabi Daniel dalam Alkitab, saya menangkap bahwa iman bukan cuma soal berkata percaya kepada Tuhan. Ada saat ketika keyakinan itu harus dibuktikan lewat pilihan.

Buat saya sih, bagian ini cukup relatable. Bentuk “tungku api” dalam kehidupan sekarang mungkin berbeda. 

Bisa berupa tekanan pekerjaan, masalah keluarga, keputusan sulit, atau situasi ketika kita harus memilih antara mengikuti keadaan dan tetap memegang prinsip.

Kenapa Belajar Kitab Suci Lewat Film Terasa Lebih Mudah?

Nah, ini justru alasan utama kenapa saya merasa film Alkitab seperti Daniel and the Fiery Furnace menarik untuk dibahas.

Bukan berarti film menggantikan Kitab Suci. Justru sebaliknya, film bisa menjadi pintu masuk untuk membuat seseorang lebih penasaran dan kemudian membaca sumber aslinya.

Visual Membantu Otak Membayangkan Cerita

Ketika membaca Kitab Daniel, kita perlu membangun gambaran sendiri mengenai tokoh, tempat, pakaian, suasana kerajaan, hingga kondisi ketika para tokoh menghadapi ancaman.

Lewat film, visualisasi cerita Alkitab tersebut sudah tersedia. Kita tinggal mengikuti alurnya.

Tahu gak, buat saya cara seperti ini terasa lebih mudah untuk memahami kisah dalam Alkitab. Setelah melihat adegannya, beberapa bagian cerita jadi lebih gampang diingat.

Film Alkitab tentang Nabi Daniel dan teman-temannya
Film Alkitab tentang Nabi Daniel dan teman-temannya (doc. Riana Dewie)


Cerita Jadi Terasa Lebih Dekat

Film juga membuat cerita yang sudah sangat lama terasa lebih dekat dengan kehidupan kita. Ada karakter yang harus memilih, ada rasa takut, ada tekanan, ada persahabatan, dan tentu saja ada iman kepada Tuhan.

Kalau saya sih, pendekatan visual seperti ini cocok untuk orang yang selama ini merasa membaca Kitab Suci cukup berat. Bukan karena Kitab Sucinya kurang menarik, tetapi karena setiap orang punya cara berbeda dalam memahami sebuah cerita.

Tentu tetap ada batasnya. Film adalah karya visual yang mengadaptasi kisah Kitab Suci, sehingga kita tetap perlu membaca Kitab Suci untuk memahami konteksnya secara lebih utuh.

Setelah Nonton Film Daniel, Saya Jadi Penasaran Buka Kitab Suci

Salah satu hal yang saya suka dari film ini justru efek setelah menontonnya.

Saya jadi ingin membaca lagi Kitab Daniel. Bukan karena merasa sudah memahami semuanya setelah menonton film, tetapi justru karena muncul rasa penasaran.

Hihihihi.... ternyata cara saya belajar bisa sesederhana itu: nonton dulu, penasaran, kemudian membaca.

Buat saya, film rohani tentang Nabi Daniel ini akhirnya bukan sekadar tontonan. Ia menjadi semacam jembatan untuk kembali melihat kisah Alkitab dengan perspektif yang lebih hidup.

Tahu gak, saya malah merasa pengalaman ini mengingatkan bahwa belajar Kitab Suci gak selalu harus dimulai dengan cara yang terasa serius atau berat. 

Kadang kita bisa memulainya dari sebuah film, kemudian perlahan mencari tahu kisah aslinya.

Pada akhirnya, saya gak ingin menjadikan film ini sebagai pengganti Kitab Suci. Justru saya ingin menjadikannya sebagai pengingat untuk lebih mengenal kisah-kisah iman yang selama ini mungkin hanya saya baca sekilas.

Wkwkwkwk.... niat awalnya cuma diajak nonton dadakan untuk refreshing, pulangnya malah membawa PR baru: pengin buka Kitab Daniel lagi.

Pengalaman belajar Kitab Suci lewat Film Daniel and the Fiery Furnace
Pengalaman belajar Kitab Suci lewat Film Daniel and the Fiery Furnace (doc. Riana Dewie)


Kadang kita cuma butuh satu cerita yang divisualisasikan untuk membuat kita berkata, “Oh, ternyata kisahnya seperti ini.”

Cukup menarik dan semoga pengalaman sederhana ini juga menguatkan iman saya kepada Tuhan yang saya imani dari dulu. Thank you untuk filmnya. Saya jadi lebih mudah memahami isi Kitab Suci tentang Nabi Daniel.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Pahlawan Street Center Madiun: Jelajah Spot dan Fasilitasnya

Pahlawan Street Center Madiun malam hari dengan lampu gemerlap

Setelah siangnya sempat mampir sebentar, malamnya saya dan teman kembali lagi ke Pahlawan Street Center Madiun. Ternyata suasananya beda banget! 

Kalau siang terasa cukup panas, malam hari justru berubah menjadi kawasan yang lebih hidup dengan lampu gemerlap di berbagai sudut.

Tahu gak, saya malah merasa PSC Madiun malam hari seperti ruang keluarga besar di tengah kota. 

Ada anak muda yang ngobrol, keluarga yang jalan-jalan, orang yang sekadar duduk santai, sampai beberapa orang yang terlihat selonjoran bahkan tiduran di lantai salah satu spot. Wkwkwkwk....

Tempat ini memang bukan sekadar kawasan untuk foto-foto. Ada pedestrian, taman, area duduk, landmark, kuliner, sampai ruang terbuka publik yang bisa dipakai untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.

Oh ya, yang paling menarik buat saya adalah kita bisa menikmati banyak hal dalam satu kawasan. Jadi gak perlu berpindah-pindah tempat untuk sekadar jalan santai, foto, nongkrong, atau mencari jajanan.

PSC Madiun, Ruang Kota yang Jadi Tempat Wisata

Pahlawan Street Center Madiun berada di kawasan Jalan Pahlawan dan dikembangkan sebagai ruang publik sekaligus destinasi wisata kota. 

Konsepnya cukup menarik karena jalan perkotaan dibuat lebih ramah untuk pejalan kaki dengan berbagai fasilitas dan spot yang bisa dinikmati masyarakat.

Di kawasan ini ada pedestrian yang luas, taman, area duduk, berbagai replika landmark dunia, serta aktivitas kuliner dan UMKM. 

Patung Merlion sebagai spot foto PSC Madiun
Patung Merlion sebagai spot foto PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi, fungsi PSC sebenarnya lumayan lengkap. Mau jalan kaki boleh, mau duduk santai juga bisa, mau foto-foto apalagi.

Tahu gak, salah satu hal yang saya suka dari tempat seperti ini adalah kita gak harus punya agenda khusus. Datang saja, keliling sebentar, lalu lihat apa yang menarik.

Kalau saya sih lebih nyaman datang malam hari. Udara sudah jauh lebih sejuk dibanding siang, sehingga jalan kaki jadi terasa lebih menyenangkan. Ditambah lampu malam yang membuat berbagai bangunan dan landmark terlihat lebih hidup.

Jelajah Spot dan Fasilitas di Pahlawan Street Center

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling seru. Apa saja sih yang bisa dinikmati di Pahlawan Street Center Madiun?

1. Miniatur Ikon Dunia

Salah satu daya tarik utama PSC adalah keberadaan miniatur ikon dunia. 

Beberapa landmark yang bisa ditemukan antara lain Patung Merlion, Menara Eiffel, Big Ben, Patung Liberty, replika Ka'bah, hingga kincir angin bergaya Belanda.

Jadi, belum sempat jalan-jalan ke luar negeri? Ya minimal foto dulu di sini. Hihihihi....

Miniatur Menara Eiffel di Pahlawan Street Center Madiun
Miniatur Menara Eiffel di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Menara Eiffel misalnya. Saya beberapa kali mengambil foto dengan latar belakang Eiffel dan memang hasilnya cukup estetik. Rasanya seperti sedang berada di suatu tempat di Eropa, walaupun sebenarnya masih di Madiun.

Ada juga Big Ben yang semakin menarik ketika lampu malam mulai menyala. Sementara replika Patung Liberty dan Merlion bisa menjadi alternatif spot foto bagi pengunjung yang ingin membuat dokumentasi perjalanan.

Yang cukup unik buat saya justru replika Ka'bah. Saya sempat mengira bagian dalamnya kosong. Ternyata ketika datang sekitar waktu Maghrib, ada orang-orang yang sedang shalat di dalamnya.

Replika Ka'bah di Pahlawan Street Center Madiun
Replika Ka'bah di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Artinya, beberapa spot di PSC bukan cuma menarik secara visual, tetapi juga punya fungsi tertentu bagi pengunjung.

Tahu gak, konsep miniatur seperti ini juga membuat jalan-jalan di PSC terasa seperti city walk sambil “keliling dunia” dalam satu kawasan.

2. Pedestrian untuk Jalan Santai

Setelah puas berburu foto, tinggal lanjut jalan kaki.

Pedestrian PSC menjadi salah satu fasilitas yang membuat kawasan ini terasa berbeda dari jalan kota biasa. Area pejalan kaki cukup luas sehingga pengunjung bisa berjalan santai sambil melihat aktivitas di sekitar.

Mau ngobrol dengan teman, menikmati suasana kota, atau sekadar melihat-lihat orang yang lalu-lalang, semuanya bisa dilakukan tanpa harus punya tujuan tertentu.

Buat saya sih, bagian seperti ini justru penting. Tempat wisata gak selalu harus punya wahana besar. Trotoar yang nyaman dan ruang untuk berjalan santai juga bisa membuat orang betah.

3. Taman dan Area Duduk

Selain pedestrian, ada pula area taman seperti Taman Sumber Wangi dan Taman Sumber Umis yang menjadi bagian dari kawasan PSC.

Di beberapa titik tersedia bangku, area duduk, serta ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat.

Taman untuk duduk di kawasan PSC Madiun
Taman untuk duduk di kawasan PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi setelah muter-muter dan kaki mulai pegal, gak perlu buru-buru pulang. Duduk dulu sambil menikmati suasana malam.

Oh ya, saya melihat sendiri ada pengunjung yang benar-benar memanfaatkan area tersebut untuk bersantai. Ada yang ngobrol, bermain dengan anak, sampai sekadar duduk menikmati malam.

Rasanya seperti punya ruang terbuka gratis di tengah kota yang bisa digunakan siapa saja.

4. Lampu Malam dan Spot Foto

Begitu malam datang, salah satu perubahan paling terasa adalah pencahayaan.

Lampu jalan dan lampu hias membuat suasana PSC menjadi lebih hangat dan hidup. Landmark yang pada siang hari terlihat biasa saja bisa terasa lebih menarik ketika dipadukan dengan pencahayaan malam.

Buat penggemar foto, ini tentu menjadi keuntungan tersendiri. Mau foto keluarga, foto bersama teman, atau sekadar mencari spot foto PSC Madiun untuk koleksi pribadi, pilihannya cukup banyak.

Tahu gak, menurut saya justru suasana malam inilah yang membuat PSC punya daya tarik tersendiri. Bukan cuma karena lampunya, tetapi karena pengunjung juga mulai ramai dan suasana kota terasa lebih hidup.

5. Kuliner dan UMKM

Sudah jalan kaki, sudah foto-foto, tentu perut lama-lama ikut protes.

Di sekitar Pahlawan Street Center juga terdapat aktivitas kuliner dan UMKM yang bisa menjadi pelengkap wisata. Ada makanan, minuman, jajanan, hingga street food yang bisa dinikmati setelah berkeliling.

Deretan penjual UMKM di Pahlawan Street Center Madiun
Deretan penjual UMKM di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi konsepnya cukup sederhana: jalan-jalan, menemukan sesuatu yang menarik, foto, duduk sebentar, lalu cari makanan.

Kalau saya sih suka model wisata seperti ini karena gak terlalu ribet. Gak harus membuat itinerary superpadat untuk menikmati satu kawasan.

Kenapa PSC Menarik Dinikmati Malam Hari?

Ada alasan kenapa saya merasa Pahlawan Street Center Madiun lebih seru ketika dikunjungi malam hari.

Pertama, udara tentu lebih nyaman untuk berjalan kaki. Kedua, lampu malam membuat berbagai landmark terlihat lebih menarik. Ketiga, aktivitas pengunjung juga terasa lebih ramai.

Suasana malam Pahlawan Street Center Madiun
Suasana malam Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Kawasan ini bisa dinikmati berbagai kalangan. Keluarga bisa mengajak anak jalan-jalan, anak muda bisa nongkrong dan berburu foto, sementara wisatawan seperti saya bisa menikmati suasana kota sambil mencari cerita baru.

Bahkan buat yang sedang mencari wisata murah Madiun, PSC bisa menjadi pilihan karena aktivitas utamanya berupa menikmati ruang publik, berjalan kaki, foto-foto, dan melihat suasana kota.

Oh ya, gak harus datang dengan rombongan besar juga. Datang berdua seperti saya pun tetap bisa menikmati kawasan ini dengan santai.

Menutup Perjalanan Madiun di PSC

Gak rugi banget saya kembali ke Pahlawan Street Center Madiun malam itu. Setelah sebelumnya cuma mampir sebentar pada siang hari, kunjungan kedua justru membuat saya lebih bisa melihat berbagai fasilitas yang tersedia.

PSC ternyata bukan cuma tempat foto dengan miniatur ikon dunia. Ada pedestrian untuk jalan santai, taman untuk duduk, area publik untuk berkumpul, pencahayaan malam yang cantik, serta kuliner yang bisa melengkapi perjalanan.

Dan akhirnya, saya menemukan cerita final dari perjalanan satu hari saya di Madiun.

Tahu gak, dari beberapa cerita yang sudah saya bagikan sejak awal perjalanan, ternyata satu hari di Madiun bisa menghasilkan beberapa part artikel. Semoga kamu gak bosen ya membaca cerita saya. Hehehe.

Saya duduk santai di area publik PSC Madiun malam hari
Saya duduk santai di area publik PSC Madiun malam hari (doc. Riana Dewie)


First impression saya terhadap kota ini juga cukup menyenangkan. Kotanya terasa tenang, gak terlalu berisik, harga makanan masih cukup terjangkau, dan ternyata banyak tempat yang bisa didatangi backpacker seperti saya.

Satu hari memang terasa singkat. Tapi dari Stasiun Madiun, tempat religi, pusat kota, kedai kopi, sampai PSC malam hari, semuanya meninggalkan cerita masing-masing.

Nah, setelah Madiun, next dolan ke mana lagi ya supaya bisa nulis banyak part seperti ini?

Hihihi.... tunggu kejutannya ya.... Bye!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Alun-Alun Madiun Malam Hari: 5 Hal yang Bisa Dilakukan

Alun-Alun Madiun Malam Hari dengan lampu warna-warni

Dari Kopi Kakak, saya dan teman jalan saya melanjutkan perjalanan ke alun-alun Madiun. Waktu sudah mulai petang, sekitar pukul 17.30. 

Langit perlahan berubah warna, sementara aktivitas di pusat kota mulai terasa lebih ramai. Begitu mendekati kawasan alun-alun, beberapa pedagang sudah mulai menyiapkan dagangan dan lampu-lampu mulai menyala.

Tahu gak, suasana seperti ini justru bikin saya penasaran untuk turun dan melihat-lihat. Awalnya kami cuma ingin jalan sebentar, tetapi ternyata Alun-Alun Madiun Malam Hari punya cukup banyak aktivitas untuk dilakukan.

Dari Sore ke Malam, Alun-Alun Mulai Ramai

Ada suasana yang berbeda ketika sore bergeser menjadi malam di kawasan alun-alun. Masyarakat mulai berdatangan, anak-anak bermain, beberapa orang duduk santai, sementara pedagang kaki lima mulai menghidupkan suasana dengan lapak masing-masing.

Di tengah ruang terbuka publik Kota Madiun ini, aktivitas malam berjalan dengan santai. Ada yang datang bersama keluarga, bertemu teman, mencari makanan, atau sekadar ingin menghabiskan waktu tanpa agenda khusus.

Oh ya, saya justru suka suasana seperti ini karena gak perlu memikirkan harus pergi ke mana lagi. Cukup datang, jalan kaki, melihat-lihat sekitar, lalu sesekali berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik.

Buat saya, kawasan ini bisa menjadi salah satu pilihan wisata malam di Madiun, terutama buat yang ingin jalan-jalan dengan suasana santai dan biaya yang relatif terjangkau.

5 Hal yang Bisa Dilakukan di Alun-Alun Madiun

Lantas, ada apa di Alun-Alun Madiun ketika malam? Ternyata jawabannya lumayan banyak. Bukan cuma duduk di pinggir alun-alun, tetapi ada beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan.

1. Foto-Foto di Miniatur Monas dan Landmark

Miniatur Monas Madiun sebagai spot foto malam
Miniatur Monas Madiun sebagai spot foto malam (doc. Riana Dewie)

Salah satu daya tarik yang mudah ditemukan adalah berbagai landmark dan miniatur yang bisa menjadi latar foto. Ada miniatur Monas Madiun, termasuk landmark lain seperti miniatur Merlion dan miniatur Eiffel yang memperkaya tampilan kawasan.

Banyak orang memanfaatkan area ini untuk berfoto. Ada yang datang bersama pacar, keluarga, sahabat, sampai sekadar mengambil foto sendiri.

Saat malam, lampu hias membuat suasananya terasa lebih menarik. Jadi, buat pemburu spot foto Alun-Alun Madiun, kawasan ini bisa menjadi tempat yang cukup menyenangkan untuk dieksplorasi.

Saya sendiri gak terlalu punya agenda khusus untuk berburu foto malam itu. Namun, melihat orang-orang sibuk mencari sudut foto masing-masing, rasanya ikut ingin mengabadikan beberapa momen. Wkwkwkwk....

2. Menikmati Wahana Permainan Anak

Buat yang membawa anak, pilihan aktivitasnya juga cukup beragam. Di kawasan alun-alun terdapat berbagai wahana anak Alun-Alun Madiun yang bisa membuat si kecil betah bermain.

Permainan anak di kawasan Alun-Alun MadiunPermainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun (doc. Riana Dewie)

Ada aktivitas seperti melukis, bermain pasir, hingga permainan memancing ikan di air. Anak-anak juga bisa menikmati berbagai wahana bermain yang tersedia sesuai kondisi dan pilihan yang ada saat berkunjung.

Oh ya, aktivitas seperti ini membuat alun-alun terasa lebih dari sekadar tempat nongkrong. Ada ruang untuk anak bermain, sementara orang tua bisa mendampingi atau duduk santai di sekitar area.

Buat keluarga yang mencari wisata keluarga Madiun dengan aktivitas sederhana, tempat bermain seperti ini bisa menjadi alternatif. Apalagi jika ingin mencari wisata murah Madiun tanpa harus masuk ke tempat wisata dengan tiket mahal.

Wahana melukis anak di Alun-alun Madiun
Wahana melukis anak di Alun-alun Madiun (doc. Riana Dewie)


3. Berburu Street Food dan Jajanan Malam

Nah, bagian ini tentu gak boleh dilewatkan kalau sedang jalan-jalan malam: jajan!

Di sekitar kawasan alun-alun, pedagang kaki lima mulai bermunculan ketika sore menuju malam. Pilihannya bisa berupa makanan ringan, makanan berat, minuman, hingga jajanan yang cocok disantap sambil duduk santai.

Malam itu saya sendiri sempat jajan bakso pentol, gorengan, nasi dengan lauk, sampai saren. Jadi, urusan perut cukup aman setelah berkeliling kawasan alun-alun.

Tahu gak, salah satu hal yang saya suka dari jajan malam adalah kita bisa mencicipi beberapa makanan dalam satu perjalanan tanpa harus duduk lama di restoran.

Street food Alun-Alun Madiun pada malam hari
Street food Alun-Alun Madiun pada malam hari (doc. Riana Dewie)


Buat yang memang datang dengan tujuan kulineran, kuliner malam Alun-Alun Madiun bisa menjadi bagian yang menarik untuk dicoba. Apalagi pilihan street food Alun-Alun Madiun biasanya terasa lebih santai dan dekat dengan suasana warga setempat.

Kalau saya sih, jajan seperti ini justru terasa pas untuk menutup perjalanan sore menuju malam. Harganya relatif bersahabat dan pilihannya bisa disesuaikan dengan isi dompet.

4. Jalan Santai Mengelilingi Alun-Alun

Ini aktivitas yang saya lakukan malam itu: touring kecil-kecilan di area alun-alun.

Bukan touring menggunakan kendaraan, tentunya. Saya berjalan mengelilingi kawasan sambil menikmati suasana malam dan melihat aktivitas orang-orang yang sedang berkumpul.

Aktivitas pengunjung di Alun-Alun Madiun malam
Aktivitas pengunjung di Alun-Alun Madiun malam (doc. Riana Dewie)


Jalan santai seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari sini kita bisa melihat lebih banyak sisi alun-alun, mulai dari area landmark, tempat bermain, pedagang, sampai masyarakat yang sedang menikmati waktu luang.

Buat yang sedang mencari tempat jalan-jalan malam di Madiun, aktivitas ini bisa dilakukan tanpa persiapan khusus. Tinggal datang dengan pakaian nyaman, lalu berjalan sesuai keinginan.

5. Nongkrong dan Menikmati Suasana Kota

Setelah cukup berkeliling, saya dan teman sesekali berhenti di pinggiran rumput alun-alun.

Kebetulan saat itu suasananya gak terlalu ramai, jadi kami bisa duduk santai sambil menikmati situasi sekitar. Lampu warna-warni terlihat dari kejauhan, orang-orang masih berlalu-lalang, dan aktivitas pedagang tetap berjalan.

Tahu gak, bagian seperti ini kadang justru menjadi momen paling menyenangkan dalam perjalanan. Gak ada agenda, gak ada target tempat yang harus dikunjungi. Cukup duduk dan ngobrol.

Kalau kamu sedang mencari tempat nongkrong di Madiun malam hari, alun-alun bisa menjadi salah satu pilihan yang sederhana. Apalagi untuk sekadar bertemu teman atau menikmati suasana pusat Kota Madiun.

Permainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun
Permainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun (doc. Riana Dewie)


Malam Hari, Waktu yang Pas untuk Menikmati Madiun

Lebih Santai, Lebih Adem

Madiun pada siang hari bisa terasa cukup panas untuk aktivitas luar ruangan. Karena itu, datang menjelang malam terasa lebih nyaman untuk jalan kaki dan menikmati kawasan alun-alun.

Lampu mulai menyala, udara terasa lebih bersahabat, dan aktivitas warga perlahan semakin ramai. Suasana malamnya juga membuat kegiatan sederhana seperti duduk, jalan santai, atau jajan terasa lebih menyenangkan.

Oh ya, bukan berarti harus datang larut malam. Menjelang malam seperti ketika saya datang sekitar pukul 17.30 saja, suasana kawasan sudah mulai berubah dan semakin hidup.

Cocok untuk Teman dan Keluarga

Hal menarik lainnya adalah alun-alun bisa dinikmati oleh berbagai kelompok. Datang bersama teman bisa jalan-jalan dan nongkrong. Bersama keluarga bisa menemani anak bermain. Sementara pencinta kuliner dapat berburu jajanan kaki lima di sekitar kawasan.

Aktivitasnya memang sederhana, tetapi pilihannya cukup fleksibel.

Kalau saya sih, tempat seperti ini cocok dimasukkan ke itinerary perjalanan ketika ingin menyisakan waktu untuk menikmati kota tanpa terburu-buru.

Satu Alun-Alun, Banyak Cara Menikmatinya

Pada akhirnya, malam itu saya datang ke alun-alun tanpa rencana yang terlalu rumit. Setelah ngopi dari Kopi Kakak, kami hanya ingin melihat suasana. Namun, ternyata ada banyak hal kecil yang bisa dinikmati.

Mulai dari melihat miniatur Monas, mencari spot foto, menemani anak bermain, berburu jajanan, jalan santai, sampai duduk di pinggir rumput sambil menikmati keramaian.

Hihihihi.... ternyata jalan-jalan malam gak harus selalu punya daftar destinasi yang panjang.

Suasana Alun-Alun Kota Madiun malam hari
Suasana Alun-Alun Kota Madiun malam hari (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, justru tempat sederhana seperti alun-alun bisa memberi kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah kota menikmati malamnya. 

Ada warga yang datang untuk berkumpul, anak-anak yang sibuk bermain, pedagang yang mencari rezeki, dan pengunjung yang sekadar ingin melepas penat.

Buat saya yang sedang melakukan perjalanan backpacker di Madiun, Alun-Alun Kota Madiun malam hari menjadi salah satu persinggahan yang cukup menyenangkan.

Satu tempat, tetapi banyak cara untuk menikmatinya. Dan mungkin, itu juga yang membuat Alun-Alun Madiun malam layak dimasukkan dalam daftar tujuan saat ingin mencari aktivitas malam yang santai, murah, dan gak ribet.

Setelah ini akan ada cerita saya lagi, mungkin cerita terakhir selama saya jalan-jalan ke Madiun. Yap, tentang asyiknya mengunjungi Pahlawan Street Center (PSC) kota Madiun. Penasaran dengan keseruannya? Tunggu cerita saya berikutnya ya :)



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments