Sekitar tiga minggu sebelum acara, seorang teman mengabari saya tentang pertunjukan drama musikal di Puskat, kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Awalnya, saya membayangkan acara ini seperti konser orkestra.
Namun, setelah membaca ulang informasi di Instagram, ternyata pertunjukan bertajuk Hidup untuk Musik ini diselenggarakan untuk mengenang Romo Karl-Edmund Prier, SJ.
Saya pun langsung memesan tiket untuk tiga orang, termasuk saya sendiri. Setelah transfer, tinggal menunggu hari pelaksanaan pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Rasanya seperti punya janji dengan pengalaman baru. Apalagi, saya belum pernah masuk ke Auditorium Puskat sebelumnya.
Traveling Gak Melulu soal Keindahan Alam
Jumat pagi, seorang teman kembali mengingatkan tentang acara ini. Maklum, jeda antara pembelian tiket dan hari pelaksanaan cukup panjang.
Jangan sampai sudah semangat merencanakan jalan-jalan, eh, malah lupa jadwalnya!
Tahu gak, pengalaman traveling bagi saya gak selalu harus dimulai dengan perjalanan menuju pantai, pegunungan, atau tempat wisata dengan pemandangan menawan.
Sesekali, mengunjungi ruang seni dan menyaksikan pertunjukan juga bisa menjadi pengalaman perjalanan yang berkesan.
Ada cerita, gagasan, dan perasaan yang bisa kita temukan ketika menikmati seni secara langsung. Kita gak sekadar datang, melihat-lihat, lalu pulang membawa foto.
Justru, ada pengalaman baru yang mungkin membuat kita mengenal sesuatu yang sebelumnya belum banyak diketahui.
Itulah alasan saya menganggap kunjungan ke Auditorium Puskat sebagai bagian dari traveling. Tujuannya memang masih di Kota Yogyakarta, tetapi pengalaman yang dicari berbeda dari agenda jalan-jalan biasanya.
Oh ya, wisata seni di Jogja juga bisa menjadi alternatif bagi siapa saja yang ingin mengenal kota ini dari sisi lain.
Yogyakarta bukan cuma punya wisata alam, kuliner, dan bangunan bersejarah, tetapi juga kehidupan seni yang menarik untuk dijelajahi.
Bagi saya sih, perjalanan semacam ini terasa istimewa karena kita bisa pulang membawa cerita, bukan hanya foto.
Drama musikal Hidup untuk Musik menjadi kesempatan untuk menikmati seni pertunjukan sekaligus mengenal sosok yang punya sumbangsih besar bagi perkembangan musik liturgi di Indonesia.
Drama Musikal Hidup untuk Musik, Mengenang Romo Prier
Drama musikal Hidup untuk Musik diselenggarakan pada 16 Oktober 2026 di Auditorium Puskat, Jalan Ahmad Jazuli, Kotabaru, Yogyakarta.
Pementasan ini menjadi bagian dari peringatan 1.000 hari wafat Romo Karl-Edmund Prier, SJ.
Begitu memasuki auditorium, perhatian saya langsung tertuju pada panggungnya yang luas. Ini menjadi pengalaman pertama saya duduk di dalam Auditorium Puskat Kotabaru.
Saya sempat memperkirakan ruangan tersebut mampu menampung hampir 500 orang, meskipun saya gak mengetahui kapasitas pastinya.
Tahu gak, hal menarik dari acara ini bukan sekadar bentuk pertunjukannya, melainkan cerita kehidupan yang dibawakan.
Drama musikal menjadi medium untuk mengenang perjalanan Romo Prier, mulai dari kehidupan awalnya hingga pengabdian panjangnya dalam bidang musik.
Berbeda dari seminar atau acara mengenang tokoh yang identik dengan pidato, drama musikal memadukan dialog, nyanyian, musik, gerak, dan seni panggung.
Perpaduan tersebut memungkinkan kisah seorang tokoh disampaikan dengan cara yang lebih ekspresif.
Melalui Hidup untuk Musik, penonton diajak mengenal sosok Romo Prier dan dedikasinya terhadap musik.
Menurut saya sih, pendekatan seperti ini menarik karena sejarah gak hanya disampaikan melalui tulisan atau dokumentasi, tetapi juga lewat seni pertunjukan yang bisa dinikmati bersama.
Mengenal Romo Karl-Edmund Prier dan Sumbangsihnya bagi Musik Indonesia
Romo Karl-Edmund Prier, SJ merupakan imam Jesuit asal Jerman yang mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan musik, terutama musik liturgi di Indonesia.
Ia datang ke Indonesia pada 1964 dan kemudian menjalani perjalanan panjang dalam pelayanan Gereja serta pengembangan musik.
Bersama Paul Widyawan dan rekan-rekannya, Romo Prier berperan dalam mengembangkan musik liturgi yang dekat dengan kebudayaan Indonesia.
Salah satu tonggak pentingnya adalah Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, yang berdiri pada 11 Juli 1971.
Musik liturgi yang berakar pada budaya Nusantara
Musik liturgi merupakan musik yang digunakan dalam perayaan ibadah. Dalam perkembangannya di Indonesia, musik ini juga bisa memanfaatkan kekayaan tradisi lokal melalui proses inkulturasi.
Artinya, unsur musik Nusantara dapat diolah untuk memperkaya ekspresi doa dan nyanyian Gereja tanpa kehilangan makna liturgisnya. Upaya ini menjadi bagian penting dari perjalanan musik Gereja Katolik di Indonesia.
Oh ya, salah satu karya yang lekat dengan nama Romo Prier adalah Madah Bakti, buku nyanyian yang digunakan dalam kehidupan liturgi umat Katolik.
Selain mengembangkan lagu, ia juga aktif dalam pendidikan musik, pelatihan, lokakarya, serta penerbitan buku mengenai musik.
Kontribusinya gak berhenti pada penciptaan atau pengolahan lagu. Ia turut membantu membangun ruang belajar bagi para pelatih paduan suara, pemusik, dan mereka yang ingin mendalami musik liturgi.
Pada 2023, Institut Seni Indonesia Yogyakarta menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan kepada Romo Prier atas kontribusinya di bidang musik. Penghargaan ini menjadi salah satu pengakuan atas dedikasinya yang panjang.
Tahu gak, warisan seorang seniman gak selalu berbentuk karya yang bisa dipajang di museum.
Pengetahuan, metode pengajaran, dan inspirasi yang diteruskan kepada generasi berikutnya juga menjadi bagian dari warisan seni yang berharga.
Pusat Musik Liturgi dan Keindahan Jogja Lewat Wisata Seni
Pusat Musik Liturgi Yogyakarta berperan penting dalam pengembangan musik liturgi dan inkulturasi di Indonesia. Karena itu, pementasan Hidup untuk Musik terasa selaras dengan perjalanan pengabdian Romo Prier.
Melalui acara ini, penghormatan terhadap Romo Prier dapat disampaikan sekaligus melalui seni pertunjukan. Ada beberapa hal yang membuat pementasan semacam ini bermakna:
Mengenang perjalanan hidup dan pengabdian. Kisah Romo Prier diperkenalkan kembali kepada masyarakat melalui medium seni.
Mengapresiasi warisan musik. Perjuangannya mengingatkan kita pada pentingnya musik liturgi yang dekat dengan budaya Indonesia.
Meneruskan inspirasi. Dedikasi terhadap musik dan pendidikan dapat menjadi teladan bagi generasi berikutnya.
Setelah acara selesai, saya dan teman-teman segera bersiap pulang. Namun, sebelum keluar gedung, perhatian saya tertuju pada kolase foto yang dipajang dalam bingkai-bingkai portabel, seperti tempat menempel mading.
Foto-foto tersebut menampilkan perjalanan dan dedikasi Romo Prier sepanjang hidupnya.
Saya pun menyempatkan diri berfoto di sana untuk kenang-kenangan.
Wkwkwkwk.... namanya juga jalan-jalan, rasanya kurang lengkap kalau gak membawa pulang sedikit kenangan, meskipun kali ini bukan oleh-oleh makanan atau foto pemandangan alam.
Mengunjungi ruang seni, menikmati pertunjukan, dan mengenal cerita di baliknya juga bisa menjadi perjalanan bermakna.
Yogyakarta punya banyak cara untuk membuat orang jatuh hati. Selain wisata alam dan kuliner, ada seni pertunjukan serta wisata budaya yang layak masuk agenda perjalanan.
Jadi, gak ada salahnya sesekali mencari pengalaman baru lewat musik, teater, atau pameran seni.
Besok ada drama musikal apa lagi, ya? Yuk, menikmati Jogja lewat wisata seni. Siapa tahu, kita bisa bertemu di pertunjukan berikutnya!













































.png)