In Culinary Journey

Argo Loro Boyolali, Cafe View Gunung yang Wajib Dikunjungi!

Suasana sejuk di Argo Loro Boyolali dengan kabut pegunungan

Bisa membayangkan gimana rasanya ngopi di atas gunung sambil ditemani udara yang dingin dan hamparan hijau sejauh mata memandang? 

Jujur aja, sebelumnya sih saya juga gak kebayang sama sekali. Waktu itu adik saya cuma mengirimkan beberapa foto Argo Loro Boyolali sambil bilang, "Kita ke sini, yuk!" 

Kesan pertama saya cuma satu, estetik juga ya. Ternyata setelah sampai di sana, ekspektasi saya langsung terlampaui. 

Tahu gak, tempat ini benar-benar menyuguhkan suasana yang bikin napas terasa lebih lega sejak pertama turun dari kendaraan.

Argo Loro Boyolali, Tempat Ngopi dengan Panorama Dua Gunung

Perjalanan menuju Argo Loro Boyolali diawali dari Jogja. Sebelum menuju kawasan Selo, kami lebih dulu mampir ke Klaten untuk berziarah ke makam nenek. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Boyolali dengan jalur yang semakin menanjak. Di tengah perjalanan sempat turun hujan cukup deras. 

Untungnya, hujan gak berlangsung lama sehingga perjalanan tetap terasa menyenangkan.

Oh ya, justru setelah hujan reda, pemandangan di sepanjang jalan berubah semakin cantik. 

Pengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro BoyolaliPengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Pepohonan terlihat lebih segar, dedaunan tampak basah mengilap, dan udara sejuk pegunungan langsung menyambut begitu kami memasuki kawasan wisata Selo Boyolali. 

Saya sampai auto menggigil karena anginnya lumayan menusuk, padahal masih sore hari.

Sesampainya di lokasi, saya baru memahami kenapa Argo Loro Selo begitu ramai diperbincangkan. Area kafenya ternyata terdiri dari beberapa bangunan dengan konsep yang berbeda. 

Kami pun memilih duduk di area utama yang belakangan ini sering muncul di media sosial karena desainnya yang modern dan menyatu dengan alam.

Mengusung konsep coffee between the mountains, Argo Loro Kopi Boyolali benar-benar berada di posisi yang memanjakan mata. 

Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali
Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali (doc. Riana Dewie)


Dari area luar kafe, saya bisa menikmati panorama Gunung Merapi dan panorama Gunung Merbabu sekaligus. Rasanya hampir setiap sudut layak dijadikan tempat berfoto. 

Serius deh, latar gunung yang megah dipadukan udara segar sukses membuat pikiran terasa jauh lebih ringan. Hihihihi... rasanya kerjaan dan berbagai beban mendadak ikut tertinggal entah di mana.

Suasana yang Bikin Betah Berlama-lama

Begitu masuk ke area utama, saya langsung paham kenapa cafe di Selo Boyolali ini selalu ramai pengunjung. 

Bangunannya didominasi material kayu dan kaca, jadi tetap terasa hangat meski udara di luar cukup dingin. Area outdoor-nya juga luas, cocok buat menikmati pemandangan tanpa ada yang menghalangi.

Tahu gak, saya beberapa kali cuma duduk diam sambil menikmati kabut pegunungan yang sesekali datang menyelimuti lereng. 

Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari
Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari (doc. Riana Dewie)


Suasananya tenang banget, seolah waktu berjalan lebih lambat. 

Di sisi lain, banyak juga pengunjung yang sibuk berburu foto karena hampir setiap sudut merupakan tempat nongkrong estetik dengan latar gunung yang memukau.

Katanya sih, momen sunrise dan sunset di Selo menjadi waktu favorit para pengunjung. Sayangnya saya datang menjelang sore, jadi belum sempat menikmati matahari terbit. 

Meski begitu, suasana yang saya rasakan sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin kembali lagi suatu hari nanti.

Menu Kopi dan Makanan yang Menemani Momen Bersantai

Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali
Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)

Menikmati pemandangan indah rasanya memang kurang lengkap tanpa ditemani makanan dan minuman yang hangat. 

Untungnya, pilihan menu di Argo Loro Boyolali cukup beragam, jadi tinggal disesuaikan saja dengan selera masing-masing.

Coffee

Buat pencinta kopi, tersedia berbagai pilihan seperti Espresso, Americano, Cappuccino, Cafe Latte, Caramel Latte, hingga Hazelnut Latte. 

Non Coffee

Sementara untuk pengunjung yang kurang suka kopi, pilihannya juga banyak. Ada Red Velvet, Taro, Green Tea, Chocolate, Klepon, aneka Classic Tea, Lychee Tea, Peach Tea, 

Ada juga minuman tradisional yang cocok dinikmati di tengah udara sejuk pegunungan, seperti Ginger Coffee, susu jahe, dan wedang uwuh.

Oh ya, saya sendiri justru memilih Hot Chocolate. Adik-adik saya menyeruput kopi hangat, sedangkan saya lebih memilih minuman cokelat demi menjaga lambung tetap nyaman. 

Enak banget sih menikmati minuman hangat sambil memandangi hamparan hijau di depan mata. Rasanya sederhana, tapi justru momen seperti ini yang sering bikin kangen.

Camilan

Untuk camilan, pilihannya juga menggoda. Ada Argo Banana, Argo Kaya Toast, Biscoff Vanilla Ice Cream, hingga aneka hidangan ringan lainnya. 

Menu Berat

Sementara menu beratnya terdiri dari beragam nasi goreng, olahan mi, pasta, dan beberapa menu khas yang cukup mengenyangkan.

Kebetulan waktu itu kami memesan Singkong Keju, Otak-Otak, French Fries, Mix Platter, dan beberapa minuman untuk dinikmati bersama. 

Menurut saya sih, porsinya pas untuk disantap sambil mengobrol santai. Soal harga juga masih tergolong wajar untuk ukuran cafe view Gunung Merapi dan Merbabu dengan suasana senyaman ini. 

Wkwkwkwk... rasanya malah pengin nambah camilan lagi karena udara dinginnya bikin perut cepat lapar.

Kenapa Argo Loro Boyolali Layak Masuk Bucket List

Ada banyak alasan kenapa saya berani merekomendasikan tempat ini. Bukan cuma karena viral atau sering muncul di media sosial, tetapi karena pengalaman yang saya rasakan memang menyenangkan.

Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali
Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali, kurang jelas karena masih berkabut (doc. Riana Dewie)


1. Healing 

Pertama, tempat ini cocok untuk healing di Boyolali. Lokasinya berada di kawasan pegunungan dengan suasana tenang yang sulit saya temukan di tengah hiruk pikuk perkotaan. 

Meski jaraknya lumayan jauh dari Jogja, perjalanan menuju sini benar-benar terbayar begitu melihat pemandangannya.

2. Quality Time

Kedua, cocok dijadikan tempat quality time bersama orang-orang tersayang. Tahu gak, sesekali kita memang perlu menjauh dari rutinitas dan memberi waktu untuk diri sendiri. 

Duduk santai, mengobrol tanpa terburu-buru, lalu menikmati alam Boyolali ternyata bisa menjadi cara sederhana untuk mengisi ulang energi.

3. Work from Cafe

Ketiga, buat yang bisa bekerja dari mana saja, tempat ini juga menarik sebagai lokasi work from cafe. 

Saya sih langsung membayangkan betapa menyenangkannya menyelesaikan pekerjaan dengan pemandangan gunung di depan mata. 

Walaupun kalau saya harus bolak-balik dari Jogja setiap hari, sepertinya bakal menyerah duluan di jalan. Hihihihi...

Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali
Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


4. Hunting Foto

Keempat, jangan sampai melewatkan kesempatan berburu foto. Hampir setiap sudut Argo Loro Boyolali terasa fotogenik. 

Apalagi saat cuaca sedang cerah, latar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat begitu jelas sehingga hasil fotonya terasa semakin estetik.

5. Wisata Keluarga/Pasangan

Terakhir, tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga maupun pasangan. Bahkan, di kawasan ini juga tersedia penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana pegunungan lebih lama. 

Menurut saya, menginap semalam lalu menikmati pagi dengan secangkir minuman hangat pasti akan menjadi pengalaman yang berbeda.

Penutup

Oh ya, momen yang paling saya ingat justru saat adik-adik saya asyik menyeruput kopi, sementara saya tetap setia menikmati secangkir Hot Chocolate demi kenyamanan lambung. 

Ternyata, apa pun minuman yang dipilih bukanlah hal terpenting. Yang membuat perjalanan ini berkesan adalah suasananya yang begitu menenangkan.

Suasana tenang cafe view gunung di Argo Loro BoyolaliSuasana tenang cafe view gunung di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau sedang mencari tempat ngopi di Boyolali dengan panorama alam yang memanjakan mata, Argo Loro Boyolali layak masuk dalam daftar tujuanmu. 

Cobain deh datang ke sini, hirup udara segarnya, nikmati setiap sudutnya, dan jangan sampai pulang tanpa mengabadikan momen dengan latar gunung yang memesona. 

Siapa tahu, kamu juga akan pulang dengan hati yang terasa lebih ringan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Saya Suka Menulis, Tapi Tidak Hobi Membaca Buku. Apakah Bisa?

pengalaman pribadi suka menulis tapi tidak hobi membaca buku

Ngomong-ngomong tentang baca buku, sepertinya circle pertemanan saya sekitar 75% pada suka membaca buku deh. 

Saya berarti termasuk minoritas. Kok bisa? Iya, karena jujur dari dulu saya gak terlalu suka membaca buku, apalagi yang tebal. 

Jadi, selama ini saya lebih menikmati menulis, sedangkan membaca sering bikin kepala mendadak penuh. 

Tahu gak, saya sempat berpikir apakah orang yang suka menulis tapi tidak hobi membaca buku masih punya peluang untuk berkembang sebagai penulis.

Mengapa Saya Lebih Betah Menulis daripada Membaca Buku

Ada cerita lucu ketika saya masih bekerja di kantor lama. Pak Boss suka banget membelikan buku-buku keluaran terbaru untuk saya baca. 

Katanya sih, supaya wawasan saya bertambah dan kemampuan menulis saya juga ikut berkembang.

Oh ya, suatu hari beliau mau memberikan buku baru lagi, lalu tiba-tiba bertanya, “Lho, kok yang kemarin masih plastikan begini?” 

Saya langsung jawab jujur, “Maaf Pak, saya gak terlalu suka baca buku. Nanti saya usahakan baca dikit-dikit deh, Pak.”

Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli
Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli (doc. Riana Dewie)

Boss saya cuma nyengir sambil tertawa kecil. Mungkin beliau juga bingung, ini orang kerjaannya menulis, tapi kok gak suka membaca buku. 

Referensinya dari mana? Wkwkwkwk... sampai sekarang saya masih ingat ekspresi beliau waktu itu.

Nah, beberapa alasan saya kurang betah membaca buku sebenarnya cukup sederhana.

1. Mata Cepat Perih

Saya punya kecenderungan, membaca buku lebih dari lima menit bikin mata terasa pedas atau perih. Apalagi jika warna kertasnya putih bersih. 

Kalau kertasnya agak krem atau buram, biasanya mata saya lebih nyaman. Tahu gak, hal kecil seperti warna kertas ternyata cukup berpengaruh buat saya.

mencoba beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih
Beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih (doc. Riana Dewie)


2. Sulit Fokus Membaca Lama

Saya gak tahu kenapa, tapi saya memang kurang bisa fokus membaca dalam waktu lama. 

Mungkin karakter saya agak “kemrungsung”, atau memang gak betah melihat puluhan lembar halaman yang terasa menunggu untuk diselesaikan.

3. Gampang Bosan

Beberapa cerita di buku kadang terasa berjalan pelan. Teman-teman saya sih bisa menghabiskan buku tebal dalam satu atau dua hari. 

Saya? Baru beberapa halaman saja sudah mulai melirik hal lain. Hihihihi...

Tetapi anehnya, begitu mulai menulis, waktu terasa cepat berlalu. Saya bisa duduk berjam-jam di depan laptop tanpa merasa terbebani. 

Nah, di situlah saya mulai sadar bahwa hubungan membaca dan menulis mungkin gak selalu sesederhana “penulis harus suka membaca buku”.

Saya senang datang di Pameran Buku
Saya senang datang di Pameran Buku (doc. Riana Dewie)


Apakah Penulis Harus Hobi Membaca?

Nah, pertanyaan ini sering muncul di kepala saya. Penulis itu harus senang membaca gak sih? Jujur, saya juga masih terus mencari jawabannya.

Di satu sisi, saya paham bahwa membaca memang penting. Banyak orang mengatakan bahwa manfaat membaca untuk menulis itu besar: kosakata bertambah, gaya bahasa lebih kaya, wawasan lebih luas, dan ide tulisan jadi lebih beragam.

Oh ya, saya juga gak mau munafik. Saya tahu membaca bisa membantu saya belajar menulis dengan lebih baik. 

Hanya saja, bentuk membaca yang cocok buat saya ternyata bukan duduk lama dengan satu buku tebal.

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, jawabannya mungkin “iya”, tetapi bentuk membacanya bisa berbeda-beda. 

Ada yang menikmati novel beratus-ratus halaman, ada juga yang lebih nyaman membaca artikel, blog, berita, atau tulisan pendek.

Di bagian berikutnya, saya akan cerita bahwa sebenarnya saya tetap membaca setiap hari, hanya saja bukan dalam bentuk buku tebal yang harus diselesaikan dari halaman pertama sampai terakhir.

Mengapa Membaca Penting bagi Penulis

Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS
Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS (doc. Riana Dewie)

Saya akhirnya menyadari bahwa membaca memang punya banyak manfaat. 

Bukan semata-mata supaya terlihat rajin, tetapi karena dari sanalah kita bisa menemukan kosakata baru, sudut pandang berbeda, sampai referensi yang mungkin sebelumnya gak pernah terpikirkan. 

Semua itu bisa menjadi bekal saat proses storytelling maupun menyusun sebuah artikel.

Oh ya, membaca juga gak selalu harus berasal dari buku. Sekarang ada banyak media digital yang praktis dan lebih sesuai dengan kebiasaan saya. 

Saya sering membaca artikel, blog, berita, bahkan hasil riset sederhana di internet untuk menambah wawasan. 

Cara ini justru terasa lebih nyaman daripada memaksakan diri menamatkan buku yang membuat saya kehilangan fokus.

Namun, Tidak Semua Orang Belajar dengan Cara yang Sama

Tahu gak, semakin bertambah usia saya justru semakin percaya bahwa setiap orang punya gaya belajar yang berbeda. 

Ada yang cepat memahami sesuatu lewat membaca buku, ada yang lebih mudah lewat video, diskusi, observasi, atau langsung mencoba sendiri.

Saya sih termasuk tipe yang lebih cepat menangkap informasi dari tulisan yang ringkas dan langsung ke inti pembahasan. 

Setelah itu, biasanya saya mengolahnya lagi menjadi sudut pandang sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Buat saya, proses itu terasa lebih menyenangkan sekaligus memancing kreativitas.

Bukan berarti saya anti buku ya. Saya tetap menghargai orang-orang yang punya kebiasaan membaca luar biasa. 

Bahkan kadang saya iri melihat teman yang bisa santai menikmati novel setebal ratusan halaman dalam hitungan hari. 

Saya? Baru beberapa bab saja sudah mulai mencari camilan atau membuka hal lain di laptop. Hihihihi...

Yang paling penting, saya merasa proses belajar gak harus selalu sama. 

Tujuannya tetap sama, yaitu terus berkembang dan menemukan inspirasi menulis dari berbagai sumber yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Saya Tetap Membaca, Hanya Bukan Buku Tebal

Meski sering bilang gak hobi membaca buku, sebenarnya saya tetap membaca setiap hari. Bedanya, bacaan yang saya pilih lebih banyak berasal dari media digital. 

Mulai dari artikel, berita, jurnal, blog, media sosial, komentar orang, sampai hasil riset Google. Semua itu tetap menjadi sumber referensi yang membantu saya memahami banyak hal.

Bagi saya yang dulu cukup sering ikut lomba menulis, sudah pasti saya membutuhkan bahan sebelum mulai mengetik. 

Jadi, saya tetap membaca, hanya saja dalam bentuk yang lebih ringkas, sederhana, dan langsung menuju inti pembahasan. 

Cara seperti ini justru membuat saya lebih mudah menyerap informasi tanpa merasa terbebani.

Setelah lebih dari 500 kata artikel ini, saya jadi teringat bahwa sesekali saya juga menikmati membaca book review

Lucunya, saya sering lebih tertarik membaca ulasan sebuah buku daripada langsung membaca bukunya. 

Dari sana saya bisa mengetahui isi, sudut pandang penulis, bahkan memutuskan apakah buku tersebut memang cocok untuk saya atau cukup sampai membaca ulasannya saja.

Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review
Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review. hihihi (doc. Riana Dewie)

Tahu gak, kebiasaan itu justru sering membantu saya menemukan ide tulisan baru. 

Saat membaca sebuah artikel atau blog, saya langsung berpi

kir, "Wah, topik ini bisa dibahas dari sudut pandang yang berbeda." 

Akhirnya satu bacaan pendek bisa berkembang menjadi beberapa ide tulisan sekaligus.

Saya sih percaya bahwa membaca gak selalu diukur dari tebalnya buku yang berhasil diselesaikan. 

Yang lebih penting adalah apakah bacaan tersebut benar-benar menambah wawasan, memancing rasa ingin tahu, dan membuat kita terus belajar.

Jadi, saat ada yang bertanya apakah saya membaca setiap hari, jawabannya tetap "iya". Hanya medianya saja yang berbeda.

Yang Membuat Tulisan Berkembang Bukan Hanya Banyak Membaca

Setelah menjalani hobi menulis selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa kemampuan menulis juga dibentuk oleh banyak hal selain membaca. 

Saya belajar dari rutinitas menulis, menerima masukan dari pembaca, mengamati kejadian di sekitar, serta terus menjaga rasa ingin tahu. 

Semua pengalaman itu ikut membentuk gaya bahasa saya sedikit demi sedikit.

Oh ya, saya juga cukup sering mengikuti lomba menulis. Memang sih, saya gak selalu menang. 

Mungkin hanya sekitar 30% dari total lomba yang saya ikuti berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan. 

Namun, saya tetap menikmati prosesnya. Setiap lomba membuat saya belajar menyusun ide, mengatur alur tulisan, dan berani mencoba tema yang sebelumnya belum pernah saya bahas. 

Rasanya selalu ada harapan setiap kali menunggu pengumuman pemenang.

***

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, membaca dan menulis memang saling melengkapi. 

Namun, prosesnya gak harus dimulai dengan memaksa diri membaca buku berjam-jam. Temukan saja cara belajar yang paling nyaman. 

Siapa tahu, seperti saya, kamu lebih menikmati bacaan digital, lalu perlahan mulai berani mencoba buku-buku yang sesuai minat.

Pada akhirnya, setiap penulis punya perjalanan yang berbeda. Saya masih ingin belajar, memperkaya literasi, dan sesekali menantang diri untuk lebih akrab dengan buku. 

Semoga suatu hari nanti saya bisa berkata, "Ternyata membaca buku juga menyenangkan." 

Sampai saat itu tiba, saya akan terus menulis, terus belajar, dan terus mencari inspirasi, bahkan saat sedang travelling sekalipun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Life Tips

10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif

Menjalani rutinitas harian sebagai cara mengatasi kesedihan.

Kehilangan seseorang yang kita sayangi memang bukan hal yang mudah. 

Bahkan, saya sendiri sedang belajar menemukan cara mengatasi kesedihan setelah ibu saya berpulang pada awal Juli 2026, usai hampir dua tahun berjuang melawan penyakitnya. 

Rasanya masih seperti mimpi, karena setiap sudut rumah seolah menyimpan begitu banyak kenangan tentang beliau.

Tahu gak, dua momen yang paling membekas di hati saya bukan hanya saat ibu mengembuskan napas terakhir. Justru jauh sebelum itu. 

Yang pertama, ketika dokter menyampaikan vonis penyakit ibu untuk pertama kalinya. Saat itulah rasanya dunia seperti berhenti beberapa detik. 

Saya masih ingat bagaimana keluarga berusaha tetap kuat, meski dalam hati semua sedang ketakutan.

Momen kedua terjadi setelah ibu menjalani operasi. Dokter memanggil saya sebagai perwakilan keluarga untuk berbicara di luar ruang tindakan. 

Beliau menjelaskan bahwa kondisi ibu bisa saja mengalami penurunan kesadaran sewaktu-waktu, sehingga keluarga diminta bersiap apabila suatu hari terjadi hal yang gak diinginkan. 

Jujur, saya masih mengingat percakapan itu dengan sangat jelas hingga sekarang.

Mungkin bagi pembaca yang pernah kehilangan orang tua atau orang tercinta, perasaan ini akan terasa begitu dekat. Sedih, takut, marah, kecewa, bingung, semua bercampur menjadi satu. 

Saya pun sempat bertanya dalam hati, kenapa harus secepat ini? Namun di sisi lain, saya juga sadar bahwa hidup memang selalu berjalan berdampingan dengan perpisahan.

Oh ya, tulisan ini bukan bermaksud mengajarkan bagaimana seseorang harus berduka. Setiap orang memiliki proses berduka yang sehat dengan caranya masing-masing. 

Saya hanya ingin berbagi pengalaman pribadi sekaligus menjadi ruang kecil untuk melepaskan emosi yang selama ini saya simpan. 

Hihihihi... ternyata menulis memang masih menjadi terapi terbaik buat saya.

Ditinggal Ibu adalah Hal yang Paling Saya Takutkan

Sejak dulu saya sih sering membayangkan bagaimana rasanya jika suatu hari harus hidup tanpa ibu. 

Nyatanya, ketika hari itu benar-benar datang, rasanya tetap jauh lebih berat daripada yang pernah saya bayangkan.

Saya percaya, hampir semua orang akan mengalami fase kehilangan orang tua ataupun orang-orang yang disayang. Saat itu terjadi, berbagai emosi datang bergantian. 

Ada sedih, marah, kecewa, merasa gak siap, bahkan ada rasa bersalah karena merasa masih banyak hal yang belum sempat dilakukan bersama mereka.

Namun, di tengah semua perasaan itu, saya juga belajar menerima bahwa kematian adalah bagian dari takdir Tuhan. Semua sudah tertulis jauh sebelum saya lahir ke dunia. 

Kesadaran inilah yang perlahan membantu saya dalam cara menghadapi rasa kehilangan dan mengatasi rasa kehilangan, meski prosesnya tentu gak bisa instan.

Semua kenangan indah bersama ibu kini menjadi bekal yang saya simpan erat di hati. 

Saat rindu datang, saya memilih mengenangnya lewat doa dan rasa syukur karena pernah memiliki sosok ibu yang begitu luar biasa. 

Bagi saya, itu menjadi salah satu langkah kecil dalam cara menenangkan hati di tengah duka yang masih terasa.

Tahu gak, saya juga merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang saling menguatkan. Kami berbagi tugas, saling menemani, bahkan saling mengingatkan untuk makan dan beristirahat. 

Dukungan keluarga seperti ini benar-benar membantu menjaga kesehatan mental agar tetap kuat menjalani hari demi hari.

Kini, yang bisa kami lakukan hanyalah terus mengirimkan doa. 

Semoga ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, dan semoga kami yang masih hidup diberi kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dengan penuh makna. 

Pada akhirnya, cinta kepada seseorang gak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah menjadi rindu yang belajar hidup berdampingan dengan waktu.

Berdoa untuk menenangkan hati setelah kehilangan orang tercinta.
Berdoa untuk menenangkan hati setelah kehilangan orang tercinta (doc. Riana Dewie)

10 Cara Mengatasi Kesedihan Lewat Aktivitas Positif

Banyak teman mengingatkan bahwa saya gak perlu berpura-pura kuat atau menyembunyikan kesedihan. Menangis itu wajar, diam sejenak juga wajar. 

Yang penting, jangan memendam semua emosi sendirian hingga berubah menjadi beban yang semakin berat.

Mereka bilang, perlahan saya perlu kembali melakukan aktivitas positif saat berduka agar pikiran memiliki ruang untuk bernapas. Saya setuju. 

Bukan berarti melupakan ibu, melainkan memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk menjalani proses pemulihan emosi secara sehat.

Nah, berikut beberapa aktivitas sederhana yang cukup membantu saya melewati hari-hari setelah kehilangan ibu. 

1. Mendengarkan Musik yang Happy

Banyak orang bilang saat sedang sedih sebaiknya jangan terus-terusan mendengarkan lagu mellow. Saya sih setuju. 

Bukannya dilarang, tapi kalau setiap hari playlist-nya lagu galau, suasana hati bisa ikut tenggelam.

Makanya sekarang saya lebih sering memutar lagu-lagu bertempo cepat, ceria, atau musik yang membuat semangat kembali muncul. Anehnya, suasana hati memang sedikit demi sedikit ikut berubah. 

Pikiran jadi lebih ringan, tubuh juga terasa ingin bergerak mengikuti irama. Wkwkwkwk... kadang saya malah tanpa sadar ikut bersenandung sendiri di rumah.

Menurut saya, ini menjadi salah satu tips mengatasi kesedihan yang paling sederhana karena bisa dilakukan kapan saja. 

Musik memang gak menghapus rasa kehilangan, tetapi setidaknya memberi jeda agar pikiran gak terus berada dalam kesedihan.

2. Journaling

Menulis sudah menjadi hobi saya sejak lama. Jadi saat kehilangan ibu, saya kembali membuka komputer dan mulai menuangkan semua isi hati yang sulit diucapkan secara langsung.

Oh ya, menulis di sini gak harus membuat artikel seperti yang sedang saya lakukan. 

Kamu juga bisa membuat catatan harian, menulis surat untuk orang tercinta yang telah berpulang, atau sekadar mencurahkan apa yang sedang dirasakan hari itu.

Tanpa disadari, journaling membantu saya mengenali emosi sendiri. Saat pikiran terasa penuh, tulisan justru membuat semuanya terasa lebih lega. 

Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari cara mengelola kesedihan sekaligus self healing yang cukup efektif untuk saya.

Kadang setelah selesai menulis, saya membaca kembali tulisan tersebut beberapa hari kemudian. 

Dari sana saya sadar bahwa perlahan saya mulai belajar menerima kehilangan, meskipun rasa rindunya tentu masih ada.

3. Wisata Alam

Saat hati terasa sesak, saya lebih memilih pergi ke tempat yang tenang daripada berada di keramaian. 

Gunung, pantai, danau, hutan pinus, atau tempat doa dan ziarah selalu berhasil membuat pikiran terasa lebih damai.

Wisata alam sebagai aktivitas positif untuk mengatasi kesedihan.
Wisata alam sebagai aktivitas positif untuk mengatasi kesedihan (doc. Riana Dewie)

Melihat pepohonan yang hijau, mendengar suara ombak, atau sekadar menikmati udara segar membuat saya lebih mudah mempraktikkan mindfulness, yaitu menikmati momen saat ini tanpa terlalu larut memikirkan masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan.

Buat saya, wisata alam bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah bentuk aktivitas untuk healing yang membuat tubuh dan pikiran sama-sama beristirahat. 

Bahkan berjalan santai beberapa puluh menit sudah termasuk olahraga ringan yang baik untuk membantu mengurangi stres.

Saya juga jadi teringat bahwa banyak tulisan inspiratif di bunda belajar yang mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan tetap kuat menghadapi berbagai fase kehidupan. 

Rasanya, belajar dari pengalaman orang lain juga bisa menjadi penyemangat tersendiri.

Tahu gak, saya hampir selalu pulang dengan perasaan yang lebih tenang setiap selesai menikmati alam. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena hati terasa punya ruang untuk bernapas lagi.

4. Meet Up dengan Bestie

Dulu saya termasuk orang yang lebih suka menyimpan masalah sendiri. Namun setelah mengalami kehilangan ini, saya sadar bahwa kehadiran teman terdekat adalah anugerah yang luar biasa.

Beberapa sahabat bahkan langsung berkata, "Kalau butuh teman cerita atau sekadar ngopi, kabari ya." Kalimat sederhana itu ternyata sangat berarti.

Kami gak selalu membahas kesedihan. Kadang hanya ngobrol tentang pekerjaan, kuliner baru, rencana liburan, atau hal-hal receh yang membuat suasana kembali hangat. 

Justru obrolan ringan seperti itu membantu saya cara agar tidak larut dalam duka.

Bertemu sahabat membantu mengurangi kesedihan saat berduka.
Bertemu sahabat sambil ngopi membantu mengurangi kesedihan saat berduka (doc. Riana Dewie)

Saya percaya, dukungan dari keluarga maupun sahabat menjadi bagian penting dalam cara bangkit setelah kehilangan orang tercinta. Kita gak harus menghadapi semuanya sendirian. 

Ada kalanya hati memang membutuhkan pelukan, tawa, atau sekadar seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

5. Tetap Menjalani Rutinitas Harian

Jujur, ini menjadi salah satu hal yang paling sulit saya lakukan. Rasanya ingin diam di rumah, rebahan seharian, lalu membiarkan waktu berjalan begitu saja. 

Namun saya sadar, terlalu lama berhenti justru membuat pikiran semakin dipenuhi rasa kehilangan.

Sedikit demi sedikit saya mencoba kembali ke rutinitas. Mulai dari bekerja, menulis artikel, membalas chat, hingga mengerjakan hal-hal kecil yang sebelumnya terasa biasa saja. 

Aktivitas ini membantu saya kembali produktif tanpa harus memaksa diri terlihat baik-baik saja.

Oh ya, saya juga belajar bahwa proses ini gak perlu terburu-buru. Ada hari ketika semangat datang, ada juga hari ketika saya masih ingin menangis. Semuanya tetap bagian dari proses berduka yang sehat.

6. Berdoa dan Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Bagi saya pribadi, doa menjadi tempat terbaik untuk mencurahkan semua isi hati. Saat rasanya sudah gak sanggup bercerita kepada siapa pun, saya memilih berbicara kepada Tuhan.

Saya percaya, ibu kini sudah berada dalam kasih Tuhan yang jauh lebih indah daripada kehidupan di dunia. Keyakinan itu membuat hati saya perlahan menjadi lebih tenang.

Berdoa juga membantu saya mengelola emosi. Bukan berarti rasa sedih langsung hilang, tetapi saya merasa selalu punya tempat untuk kembali ketika hati sedang rapuh. 

Bahkan sesekali saya memilih datang ke tempat doa atau ziarah hanya untuk duduk beberapa saat menikmati suasana yang hening.

Saya sih percaya, setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus akan selalu membawa kekuatan baru, meski jawabannya gak selalu datang secepat yang kita harapkan.

7. Mencoba Hobi Baru

Selain menulis, saya mulai mencoba mengisi waktu dengan berbagai aktivitas yang sebelumnya jarang dilakukan. 

Misalnya memasak resep baru, merapikan koleksi barang, berkebun kecil-kecilan, atau belajar keterampilan yang sudah lama ingin saya coba.

Tahu gak, saat otak fokus mempelajari sesuatu yang baru, ruang untuk terus memikirkan kesedihan jadi sedikit berkurang. 

Bukan karena melupakan orang yang kita sayangi, tetapi karena pikiran sedang diberi kesempatan beristirahat.

Memiliki hobi baru juga membuat saya lebih bersemangat menjalani hari. Rasanya selalu ada hal yang ditunggu setiap bangun pagi. 

Menurut saya, ini menjadi salah satu kegiatan untuk mengurangi rasa sedih yang cukup efektif.

8. Berolahraga Ringan

Saya bukan tipe yang rajin olahraga berat. Namun akhir-akhir ini saya mulai rutin berjalan kaki di pagi atau sore hari selama 20–30 menit.

Ternyata tubuh yang bergerak membuat pikiran ikut terasa lebih segar. Napas menjadi lebih teratur, badan lebih ringan, dan tidur pun terasa lebih nyenyak.

Olahraga ringan juga menjadi cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental saat berduka. Gak harus langsung lari maraton atau pergi ke gym setiap hari. 

Jalan santai, bersepeda, yoga, atau peregangan ringan di rumah pun sudah sangat membantu.

Oh ya, jangan lupa tetap mendengarkan kondisi tubuh sendiri. Saat sedang lelah secara fisik maupun emosional, beristirahat juga merupakan bentuk mencintai diri sendiri. 

Saya merasa, menerima bahwa diri ini sedang berduka justru menjadi langkah awal untuk benar-benar pulih.

9. Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga

Kebersamaan keluarga membantu menghadapi rasa kehilangan.
Kebersamaan keluarga membantu menghadapi rasa kehilangan (doc. Riana Dewie)

Setelah ibu berpulang, saya justru semakin menyadari betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga. Kami jadi lebih sering makan bersama, mengobrol, mengenang cerita-cerita lucu tentang ibu, sampai sesekali tertawa bersama.

Lucunya, saat mengenang kenangan yang sama, ada saja cerita yang sebelumnya belum pernah saya dengar. 

Dari situ saya sadar bahwa seseorang yang kita cintai akan selalu hidup dalam kenangan orang-orang yang menyayanginya.

Saya sih merasa, saling menguatkan seperti ini jauh lebih menenangkan daripada memendam semua perasaan sendirian. 

Dukungan keluarga benar-benar menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam menghadapi masa kehilangan.

10. Memberi Waktu untuk Diri Sendiri

Selama dua tahun terakhir, fokus saya banyak tertuju pada kesehatan ibu. 

Setelah semuanya selesai, saya baru menyadari bahwa diri saya juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan emosi.

Sesekali saya memilih menikmati secangkir kopi, membaca buku, menonton film favorit, atau sekadar duduk di teras rumah tanpa melakukan apa pun. 

Aktivitas sederhana seperti ini ternyata membuat hati terasa lebih lega.

Tahu gak, proses pulih dari kehilangan bukan perlombaan. Gak ada ukuran kapan seseorang harus kembali tersenyum atau terlihat kuat. 

Setiap orang memiliki ritmenya masing-masing, dan itu sangat wajar.

Yang terpenting, jangan menutup diri dari bantuan orang lain apabila memang membutuhkannya. 

Bercerita kepada keluarga, sahabat, atau tenaga profesional bukan berarti kita lemah. Justru itu adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Me time menjadi salah satu cara mengatasi kesedihan secara sehat.
Me time menjadi salah satu cara mengatasi kesedihan secara sehat (doc. Riana Dewie)

***

Kehilangan orang yang kita sayangi memang akan meninggalkan luka, bahkan mungkin tak pernah benar-benar hilang. 

Namun saya percaya, sedih bukanlah tempat untuk menetap, melainkan fase yang perlu dijalani dengan penuh kasih kepada diri sendiri. 

Semoga 10 cara mengatasi kesedihan ini bisa menjadi teman kecil bagi siapa pun yang sedang berduka. 

Tetaplah melangkah, terus berdoa, dan jangan ragu mencari dukungan agar kesehatan mental tetap terjaga. 

Siapa tahu, pengalaman ini juga bisa menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup maupun perjalanan parenting kita kelak.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wellness

5 Menu Sehat Tanpa Nasi agar Badan Lebih Fit

Inspirasi meal prep menu sehat tanpa nasi dengan real food

Dulu saya gak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjalani menu sehat tanpa nasi. Jujur aja, sejak kecil saya selalu diajarkan kalau makan itu ya harus ada nasi. 

Rasanya seperti ada yang kurang kalau di piring cuma ada lauk dan sayur. Bahkan, sepiring nasi hangat sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarga saya selama bertahun-tahun.

Tahu gak, kebiasaan itu ternyata terus saya bawa sampai dewasa. Mau makan apa pun, ujung-ujungnya tetap mencari nasi. 

Waktu itu saya memang belum terlalu memikirkan soal pola makan sehat, karena merasa badan saya masih baik-baik saja. Padahal, usia terus bertambah dan aktivitas juga makin padat.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai sadar kalau menjaga kesehatan ternyata sama pentingnya dengan mengejar pekerjaan atau hobi. 

Saya ingin punya tubuh lebih fit, tidur lebih nyaman, dan tetap bisa aktif sampai usia lanjut nanti. Saya sih percaya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Oh ya, perjalanan ini sama sekali bukan karena saya membenci nasi, ya. Saya hanya ingin mencoba mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. 

Target saya sederhana, yaitu menemukan menu sehat sehari-hari yang tetap enak, mengenyangkan, sekaligus mendukung healthy lifestyle tanpa terasa menyiksa.

Awalnya saya juga sempat ragu. Apa saya bakal kuat? Apa nanti gampang lapar? Wkwkwkwk... pertanyaan seperti itu terus muncul di kepala. 

Namun rasa penasaran akhirnya lebih besar daripada rasa takut untuk mencoba.

Saya Mulai dengan Intermittent Fasting

Belakangan ini makin banyak orang mulai peduli dengan kesehatan, termasuk soal pola makan. 

Saya merasa cukup beruntung karena pada November 2023, seorang teman mengenalkan saya pada metode intermittent fasting. Dari situlah perjalanan saya menuju hidup sehat benar-benar dimulai.

Sebelum benar-benar menjalankan intermittent fasting, saya lebih dulu mengubah kebiasaan sarapan. 

Selama bulan Desember, nasi perlahan saya ganti dengan buah-buahan yang saya beli di minimarket setiap pagi. 

Tujuannya sederhana, supaya lambung gak langsung kaget saat nanti mulai menjalani pola puasa. Selain itu, buah juga mengandung serat yang membantu saya merasa kenyang lebih lama.

Memasuki Januari 2024, saya akhirnya memberanikan diri mencoba jendela makan 16:8. 

Artinya, saya berpuasa selama 16 jam dan makan dalam rentang waktu 8 jam, biasanya mulai pukul 12 siang sampai 8 malam.

Seminggu setelahnya, saya menambahkan olahraga ringan ke rutinitas harian. Saya memakai dua dumbbell masing-masing 4 kilogram untuk latihan beban sederhana di rumah. 

Sesekali saya juga mengikuti video kardio dari YouTube, lalu jogging saat ada waktu luang. Saya sih gak pernah memaksakan diri harus olahraga berat setiap hari. Yang penting badan tetap aktif bergerak.

Olahraga dari rumah agak badan tetap fit
Olahraga dari rumah agak badan tetap fit (doc.Riana Dewie)


Perubahan itu ternyata membawa hasil yang cukup mengejutkan. Sekitar enam bulan kemudian, berat badan saya turun dari 80 kilogram menjadi 67 kilogram. 

Saya benar-benar senang melihat hasilnya. Energi terasa lebih stabil, napas saat beraktivitas juga lebih ringan, dan saya mulai menikmati pola hidup sehat yang baru.

Namun, perjalanan saya ternyata belum selesai. Berat badan sempat bertahan cukup lama di angka 67 kilogram. 

Lalu memasuki tahun kedua, tanpa saya sadari angkanya naik lagi menjadi sekitar 72 kilogram. 

Saya pun mulai bertanya dalam hati, apa yang perlu saya ubah supaya bisa kembali mencapai berat badan ideal tanpa harus menjalani menu diet sehat yang terlalu ketat?

Kenapa Saya Memilih Menu Sehat Tanpa Nasi?

Jujur saja, kenaikan berat badan itu membuat saya kembali mengevaluasi kebiasaan makan sehari-hari. 

Bukan berarti metode intermittent fasting yang saya jalani gagal, tetapi saya merasa masih ada yang perlu diperbaiki. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menaikkan level IF menjadi jendela makan 22:2, yaitu 22 jam berpuasa dan hanya 2 jam untuk makan.

Kebetulan, saat itu bertepatan dengan masa Prapaskah tahun 2026. Selama 40 hari saya sekalian menjadikan momen tersebut sebagai latihan mengendalikan diri. 

Awalnya memang berat sih. Apalagi ketika melihat orang lain menikmati camilan atau minuman manis di depan mata. Hihihihi... godaannya memang nyata!

Tahu gak, selain mengurangi jam makan, saya juga sekalian mengurangi makanan berbahan tepung dan minuman yang mengandung gula tambahan

Memang gak bisa langsung 100% karena saya juga manusia biasa yang masih gampang tergoda makanan enak. Mungkin porsinya sekitar 80%, tapi buat saya itu sudah menjadi langkah besar menuju konsisten menjalani gaya hidup sehat.

Di titik itulah saya mulai menyadari bahwa nasi sebenarnya bukan satu-satunya sumber karbohidrat. 

Saya perlahan menggantinya dengan kentang atau ubi yang mengandung karbohidrat kompleks sehingga energi terasa lebih stabil. 

Untuk memenuhi kebutuhan protein, saya lebih sering memilih dada ayam, telur, tahu, tempe, atau sesekali ikan. 

Sayuran hijau pun hampir selalu hadir di piring makan saya karena kaya serat dan membuat kenyang lebih lama.

Oh ya, saya termasuk orang yang gampang bosan, tapi juga males bikin menu yang ribet. Jadi bahan makanan di rumah hampir selalu itu-itu saja. 

Bedanya, saya mengolahnya menjadi berbagai menu rendah kalori agar rasanya tetap berbeda setiap hari. Kadang dibuat sup, ditumis, dipanggang, atau cukup direbus dengan bumbu sederhana.

Saya juga mulai mengenal konsep real food, yaitu memilih bahan makanan yang minim proses dibanding makanan instan. 

Lama-lama saya merasa tubuh lebih nyaman. Saya gak lagi terlalu sering merasa ngantuk setelah makan, dan kebutuhan kalori harian terasa lebih mudah dikontrol tanpa harus menghitung secara detail.

Yang menarik, perubahan ini juga membuat saya lebih rajin melakukan meal prep sederhana. 

Saya biasanya menyiapkan ayam rebus, telur, atau sayuran dalam jumlah lebih banyak untuk stok beberapa hari. 

Jadi saat jam makan tiba, saya tinggal mengombinasikannya sesuai selera. Cara ini cukup membantu supaya saya gak tergoda membeli makanan cepat saji.

Hasilnya benar-benar terasa. Tubuh menjadi lebih ringan, metabolisme terasa lebih baik, dan saya gak lagi bergantung pada nasi di setiap waktu makan. 

Saya pun mulai percaya bahwa menjalani menu sehat tanpa nasi bukan soal pantangan, melainkan soal menemukan kebiasaan baru yang lebih cocok dengan kebutuhan tubuh.

Menu Sehat Tanpa Nasi Favorit yang Tetap Mengenyangkan

Setelah cukup lama menjalani pola makan ini, saya akhirnya menemukan beberapa menu yang paling sering muncul di meja makan. 

Bahannya sederhana, mudah dicari, dan yang paling penting tetap enak. Buat saya, makanan sehat gak harus mahal atau terlihat mewah. 

Yang penting gizinya seimbang, mengandung protein, serat, serta lemak sehat dalam porsi yang pas.

Oh ya, saya memang bukan chef ataupun ahli gizi. Saya hanya berbagi pengalaman pribadi tentang menu yang selama ini cocok di tubuh saya. 

Bahkan sebagai seorang food blogger, saya tetap percaya bahwa makanan rumahan sering kali jauh lebih nikmat dibanding menu yang terlalu rumit.

1. Sup Telur Ayam

Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein
Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein (dpc. Riana Dewie)

Ini menu yang paling sering saya masak karena praktis. Bumbunya seperti sup pada umumnya, hanya terdiri dari bawang putih, bawang merah, merica, garam, dan sedikit kaldu. 

Untuk isiannya saya memilih ayam fillet, telur, wortel, kentang, kembang kol, daun bawang, lalu ditambah bawang bombai supaya aromanya makin sedap.

Menurut saya sih, menu ini sudah lengkap. Ada protein dari ayam dan telur, ada serat dari sayuran, serta karbohidrat kompleks dari kentang. 

Semangkuk sup hangat seperti ini sudah cukup membuat saya kenyang lebih lama.

2. Telur Dadar Sambal Terasi

Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus
Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus (doc. Riana Dewie)

Menu ini biasanya saya buat saat sedang ingin makan yang gurih. 

Telur saya goreng menggunakan sedikit olive oil, lalu ditemani ayam berbumbu bawang putih, garam, dan daun jeruk. Sebagai pelengkap, saya selalu menambahkan sambal terasi favorit.

Karena sedang menjalani menu sehat tanpa nasi, sumber karbohidrat saya ganti dengan kentang rebus. Rasanya tetap nikmat, bahkan lama-lama lidah saya mulai terbiasa. 

Saya jadi sadar kalau ternyata yang paling dicari sering kali bukan nasinya, melainkan lauk dan sambalnya.

3. Sayur Asem Daging

Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat
Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat (doc. Riana Dewie)

Siapa bilang sayur asem hanya cocok dimakan bersama nasi? Saya justru sering menikmatinya tanpa nasi sama sekali. 

Isinya hampir sama dengan sup, hanya kuahnya dibuat menjadi sayur asem khas Bandung yang segar.

Perpaduan kuah asam dengan potongan daging sapi atau ayam benar-benar bikin selera makan meningkat. Apalagi kalau ditemani sambal terasi, wah... rasanya susah ditolak.

4. Chicken Steak Mashed Potato

Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)
Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)

Kalau sedang punya waktu lebih, saya biasanya membuat menu ini. 

Memang agak lebih effort karena harus mengupas kentang, merebusnya hingga empuk, lalu menghaluskannya bersama susu dan sedikit taburan keju.

Sementara itu, ayam fillet saya marinasi menggunakan saus black pepper, saus barbeque, kecap asin, sedikit kecap manis, minyak ikan, serta bawang putih. 

Setelah didiamkan beberapa saat, ayam tinggal dipanggang di teflon sampai matang.

Buat saya, menu seperti ini tetap masuk kategori makanan sehat rendah kalori karena proses memasaknya minim minyak. Rasanya pun gak kalah dengan steak yang dijual di restoran.

5. Telur Sayur Black Pepper

Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)
Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)

Nah, ini salah satu menu favorit saya sampai sekarang. Hampir semua bahannya cukup direbus atau dikukus, mulai dari telur, wortel, brokoli, jagung muda, hingga ayam fillet.

Rahasia kelezatannya justru ada di sausnya. 

Saya menumis bawang putih dan bawang bombai, lalu menambahkan campuran saus black pepper, sedikit kecap, garam, serta gula secukupnya sebagai penyeimbang rasa. 

Setelah matang, saus tinggal disiramkan ke atas semua bahan.

Sekilas tampilannya memang mirip siomay, hanya saja cita rasanya berbeda. 

Menurut saya sih, menu ini paling pas disantap saat cuaca dingin karena hangat, mengenyangkan, dan tetap terasa ringan di perut.

Makan tanpa nasi ternyata gak semenakutkan yang saya bayangkan dulu. Justru saya jadi lebih kreatif mencoba berbagai kombinasi menu dari bahan yang sama. 

Nah, dari lima menu tadi, kira-kira kamu paling penasaran mau coba yang mana? Hehehe.... 😉

Ternyata Hidup Sehat Gak Sesulit yang Dibayangkan

Setelah menjalani semua proses ini, saya baru benar-benar memahami bahwa perubahan gak selalu harus dilakukan secara ekstrem. 

Yang paling penting justru membangun kebiasaan kecil yang bisa dijalani setiap hari. 

Bagi saya, hidup sehat bukan soal mengejar angka di timbangan, melainkan bagaimana tubuh terasa lebih nyaman saat beraktivitas.

Tahu gak, perubahan pertama yang paling saya rasakan justru bukan berat badan. Saya jadi lebih mudah bangun pagi, tidur terasa lebih nyenyak, dan energi lebih stabil sepanjang hari. 

Aktivitas bekerja pun terasa lebih ringan karena tubuh gak gampang lemas setelah makan.

Selain itu, saya juga merasa lebih mudah mengontrol rasa lapar. 

Mungkin karena tubuh sudah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, ditambah pilihan makanan tinggi protein, serat, dan lemak sehat yang membuat saya kenyang lebih lama. 

Defisit kalori pun akhirnya berjalan lebih alami tanpa perlu menyiksa diri atau menghitung setiap suapan makanan.

Oh ya, saya tetap punya cheating day, lho di hari Minggu. Sesekali saya menikmati makanan favorit tanpa rasa bersalah. Bedanya, sekarang saya gak lagi berlebihan. 

Keesokan harinya saya cukup kembali menjalankan intermittent fasting 22:2 seperti biasa. Menurut saya, keseimbangan jauh lebih penting daripada pantangan yang terlalu ketat.

Hasilnya benar-benar membuat saya bersyukur. Pada Februari 2026 berat badan saya masih berada di angka 72 kilogram. Empat bulan kemudian, angkanya turun menjadi sekitar 59 kilogram (hingga sekarang). 

Saya memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani
Saya memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani (doc. Riana Dewie)


Buat saya, pencapaian ini bukan semata-mata karena berhenti makan nasi, tetapi karena saya mulai lebih menghargai tubuh sendiri dan menjaga pola makan dengan lebih bijak.

Sekarang saya masih sangat jarang makan nasi. Kalaupun sedang ingin, biasanya hanya satu atau dua kali dalam seminggu dengan porsi secukupnya. 

Selebihnya, saya lebih nyaman mengonsumsi kentang, ubi, sayuran, ayam, telur, tahu, atau tempe sebagai menu sehat sehari-hari. 

Ternyata tubuh saya bisa beradaptasi dengan baik, bahkan terasa jauh lebih fit dibanding beberapa tahun lalu.

Saya juga belajar bahwa perjalanan setiap orang pasti berbeda. Apa yang berhasil pada saya belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain. 

Karena itu, saya selalu menyarankan untuk menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan tubuh masing-masing dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu.

***

Nah, itulah cerita perjalanan saya menjalani menu sehat tanpa nasi. Semoga pengalaman sederhana ini bisa menjadi inspirasi buat kamu yang ingin memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani. 

Siapa tahu, langkah kecil hari ini justru menjadi awal perubahan besar di masa depan. 

Kalau kamu punya menu andalan atau cerita menarik seputar kuliner sehat, boleh banget berbagi di kolom komentar, ya....😊






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments