Tahu gak, salah satu hal menyenangkan saat punya sahabat dari luar kota adalah bisa menjadi teman jalan sekaligus pemandu wisata dadakan.
Apalagi ketika mereka datang ke Jogja dan kami punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Kali ini, giliran dua sahabat dari Surabaya yang berkunjung, dan saya bertugas menjemput mereka di hotel kawasan Malioboro.
Mereka menginap di Summer Season Hotel, yang lokasinya dekat dengan jalan utama Malioboro.
Gak heran jika kawasan ini menjadi pilihan menginap bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pusat kota, berjalan-jalan, atau berburu kuliner tanpa harus pergi terlalu jauh.
Setelah bertemu, rencana kami sebenarnya sederhana: mencari tempat nongkrong untuk menghabiskan malam. Namun, rencana sederhana ternyata gak selalu berarti perjalanan yang mulus. Kami malah muter-muter Jogja tanpa tujuan yang benar-benar pasti.
Oh ya, saya sendiri sering merasa bahwa mencari tempat nongkrong bersama teman justru menjadi bagian paling membingungkan dari sebuah perjalanan.
Semua punya ide, tetapi ketika ditanya mau ke mana, jawabannya malah saling melempar pilihan.
Setelah berkeliling dan berdiskusi, akhirnya kami memutuskan menuju kawasan Palagan, Sleman.
Kawasan ini punya sejumlah pilihan kafe dan tempat makan yang bisa dipertimbangkan untuk menghabiskan waktu bersama teman.
Louis Franc Palagan Jogja, Pilihan Nongkrong Malam yang Menarik
Setelah sepakat melipir ke Palagan, pilihan kami jatuh ke Louis Franc. Tempat ini menjadi tujuan untuk menikmati kopi, pastry, dan obrolan santai setelah cukup lama berkeliling tanpa arah.
Tahu gak, meskipun saya tinggal di Jogja, ternyata saya baru sempat mampir ke Louis Franc kali ini. Padahal, tempat ini sudah cukup lama beroperasi.
Kadang, tempat yang lokasinya gak terlalu jauh dari keseharian kita justru baru dikunjungi ketika ada momen tertentu.
Bangunan Semi-Industrial dengan Tampilan Minimalis
Kesan pertama saya saat tiba di Louis Franc adalah desain bangunannya yang punya sentuhan semi-industrial.
Bagian atas bangunan terlihat seperti konstruksi yang belum sepenuhnya selesai, tetapi justru memberikan karakter tersendiri pada tampilannya.
Konsep seperti ini terasa menyatu dengan gaya industrial modern yang sering dijumpai pada kafe-kafe masa kini. Alih-alih menampilkan banyak ornamen atau warna mencolok, Louis Franc terlihat minimalis dan relatif clean.
Bagi saya, desain seperti ini cukup menarik karena perhatian pengunjung gak hanya tertuju pada dekorasi, tetapi juga pada suasana ruang dan pengalaman saat berada di dalamnya.
Cocok untuk Nongkrong Santai di Palagan
Louis Franc bisa menjadi salah satu pilihan tempat nongkrong di Palagan Jogja bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu bersama teman. Saat itu, kami memilih area outdoor karena ingin duduk santai sambil berbincang.
Suasana malam membuat agenda nongkrong terasa lebih rileks. Kami gak sedang mengejar banyak tempat wisata atau membuat daftar aktivitas yang harus diselesaikan.
Cukup duduk bersama, menikmati minuman, dan membiarkan obrolan mengalir.
Buat saya sih, kenyamanan tempat nongkrong gak selalu ditentukan oleh seberapa mewah desainnya. Posisi duduk yang nyaman, suasana yang mendukung, dan teman ngobrol yang menyenangkan juga punya peran besar.
Menikmati Pastry dan Obrolan Panjang di Sofa Outdoor
Salah satu hal yang membuat pengalaman kami di Louis Franc terasa menyenangkan adalah keberuntungan mendapatkan sofa di area outdoor.
Kami berempat bisa duduk dengan nyaman tanpa perlu terburu-buru menyelesaikan pesanan.
Karena niat awalnya hanya mencari camilan, kami gak memesan makanan berat. Pilihan kami jatuh pada beberapa pastry dan minuman yang bisa dinikmati bersama.
Lima Pastry untuk Empat Orang, Ternyata Kebanyakan!
Kami memesan lima macam pastry, di antaranya roti abon, croissant, donat dengan topping cokelat, dan pastry cokelat. Untuk minuman, ada kopi dan teh leci yang dipilih sesuai selera masing-masing.
Pilihan ini terasa pas untuk agenda nongkrong malam. Ada yang lebih suka kopi, ada pula yang memilih minuman dengan rasa segar. Sementara itu, pastry menjadi teman ngemil sambil berbagi cerita.
Oh ya, lima pastry untuk empat orang ternyata bukan berarti semuanya akan habis dimakan. Awalnya, kami merasa jumlah tersebut masih masuk akal untuk dinikmati bersama.
Namun, setelah mencicipi beberapa gigitan, rasa kenyang mulai datang lebih cepat daripada perkiraan.
Wkwkwkwk.... Ternyata agenda ngemil santai bisa berakhir dengan perjuangan menghabiskan makanan!
Akhirnya, sebagian pastry kami bawa pulang. Sayang juga jika makanan yang masih layak dikonsumsi harus ditinggalkan begitu saja. Setidaknya, sisanya masih bisa dinikmati keesokan pagi sebagai teman sarapan.
Saya pribadi terbiasa berusaha menghabiskan atau menyimpan makanan yang masih layak dikonsumsi, tentu dengan memperhatikan kebersihannya.
Menurut saya, menghargai makanan merupakan kebiasaan sederhana yang penting, terlebih ketika masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan sehari-hari.
Sofa Outdoor, Tempat yang Pas untuk Bertukar Cerita
Di sela-sela menikmati pastry dan minuman, obrolan kami terus berjalan.
Ceritanya beragam, mulai dari keseharian, pekerjaan, pengalaman hidup, sampai hal-hal kecil yang mungkin terasa biasa, tetapi menyenangkan untuk dibagikan ketika bertemu teman lama.
Dua sahabat kami datang dari Surabaya, sehingga ada banyak cerita tentang perbedaan rutinitas dan pengalaman hidup yang bisa dibahas.
Momen seperti ini terasa menyenangkan karena kami gak harus selalu melakukan aktivitas besar untuk menciptakan kenangan.
Tahu gak, terkadang quality time bersama sahabat justru terasa paling berkesan saat semua orang bisa menjadi diri sendiri.
Gak perlu memikirkan agenda berikutnya, gak harus sibuk berpindah tempat, dan gak perlu membuat setiap momen terlihat sempurna.
Kami juga sempat mengabadikan beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Siapa tahu, foto-foto tersebut bisa menjadi pengingat untuk merencanakan pertemuan berikutnya di Jogja.
Bagi saya sih, Louis Franc bukan hanya soal menikmati kopi dan pastry pada malam itu. Pengalaman ini juga menjadi kesempatan untuk melepas rindu dan kembali terhubung dengan sahabat yang sehari-harinya tinggal di kota berbeda.
Kalau sedang mencari cafe untuk ngobrol santai di Jogja, suasana seperti ini bisa menjadi salah satu hal yang layak dipertimbangkan.
Namun, tentu kenyamanan setiap pengunjung bisa berbeda, tergantung waktu kunjungan, kondisi kafe, dan area tempat duduk yang tersedia.
Menutup Malam dengan Berburu Soto di Dekat Tugu Jogja
Setelah cukup lama nongkrong di Louis Franc, ternyata malam kami belum benar-benar selesai. Kami masih ingin jalan-jalan sebentar sebelum akhirnya kembali ke tempat masing-masing.
Kali ini, tujuan kami bukan kafe lain, melainkan mencari soto untuk kuliner penutup malam. Pilihan pun jatuh ke Soto Sampah di kawasan dekat Tugu Jogja.
Dari menikmati pastry dan minuman di kafe, kami beralih ke semangkuk soto yang terasa cocok untuk melengkapi perjalanan malam.
Ada sensasi tersendiri saat menikmati kuliner sederhana setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjalan-jalan dan mengobrol.
Oh ya, pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa wisata kuliner Jogja malam hari gak selalu harus dimulai dengan daftar tempat yang sudah disusun rapi. Kadang, keputusan spontan justru membawa kita pada pengalaman yang menyenangkan.
Wkwkwkwk.... Dari awal bingung menentukan tempat nongkrong, berakhir dengan makan soto setelah ngemil lima pastry. Benar-benar perjalanan yang sederhana, tetapi penuh cerita.
***
Buat saya sih, inti dari pertemuan kali ini bukan seberapa banyak tempat yang berhasil kami datangi, melainkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Louis Franc menjadi salah satu persinggahan yang menyenangkan, sementara Soto Sampah menjadi penutup malam yang melengkapi cerita kami.
Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, ya! Besok mau ke kafe mana lagi, ya? Semoga masih ada banyak tempat menarik di Jogja yang bisa kami datangi bersama, lengkap dengan cerita baru, camilan lezat, dan tawa yang gak ada habisnya.







































.png)