In Destinations

Maen ke Pantai Baru Jogja? Ini 7 Aktivitas Seru yang Wajib Dicoba

Spot foto estetik dengan panorama laut selatan di Pantai Baru Jogja

Sudah berapa kali ya saya ke Pantai Baru Jogja? Wah, rasanya sudah gak bisa dihitung dengan jari lagi. 

Jika dulu saya dan keluarga paling hobi pergi ke Pantai Depok untuk wisata sekaligus berburu seafood, beberapa tahun terakhir kami mulai sering melipir ke kawasan Pantai Baru Yogyakarta.

Menurut saya, daya tarik Pantai Baru memang cukup lengkap. Ada wisata pantai Bantul yang nyaman, kuliner ikan segar Pantai Baru yang menggoda, area bermain anak, sampai spot santai untuk keluarga.

Oh ya, terakhir kali saya ke sana bersama sepupu dan para ponakan. Kami datang dari berbagai wilayah Jogja sehingga kali ini sepakat untuk langsung bertemu di lokasi. 

Cara ini ternyata lebih hemat waktu dan energi dibanding harus mampir ke rumah saudara satu per satu terlebih dahulu.

Begitu semua anggota keluarga berkumpul, suasana langsung ramai. 

Anak-anak berlarian, orang dewasa sibuk ngobrol, sementara saya sudah mulai membayangkan ikan bakar yang sebentar lagi akan disantap. Hihihihi...

Gimana keseruannya? Yuk, saya ceritakan pengalaman liburan ke Pantai Baru Jogja yang satu ini.


Perjalanan Menuju Pantai Baru Saat Cuaca Cerah

Karena kami berangkat dari rumah masing-masing, akhirnya diputuskan menggunakan motor untuk perjalanan menuju Pantai Baru Bantul. 

Selain lebih praktis, perjalanan juga terasa menyenangkan karena bisa menikmati udara segar sepanjang jalan.

Padahal ada salah satu sepupu yang membawa balita. Awalnya kami sempat khawatir si kecil bakal rewel. 

Namun kenyataannya justru sebaliknya. Ia terlihat happy banget selama perjalanan dan antusias melihat pemandangan di sepanjang jalan.

Saya dan suami pun ikut senang. Sudah cukup lama kami gak menikmati perjalanan santai seperti ini. 

Kalau saya sih memang suka perjalanan dengan motor sesekali karena suasananya terasa lebih dekat dengan alam.

Oh ya, perjalanan dari rumah kami menuju kawasan pantai selatan Yogyakarta memakan waktu sekitar 60 menit. 

Untungnya cuaca sangat bersahabat sehingga perjalanan terasa nyaman. Setelah menempuh perjalanan tersebut, akhirnya kami sampai di lokasi dengan aman dan selamat.


7 Aktivitas Seru di Pantai Baru Jogja

Berikut beberapa aktivitas di Pantai Baru Jogja yang saya dan keluarga lakukan saat berkunjung ke sana.

1. Belanja dan Makan Ikan Segar Hasil Tangkapan Nelayan

Hidangan seafood di Pantai Baru Jogja
Hidangan seafood di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)

Begitu sampai di lokasi, suami saya langsung memarkir motor. Sementara itu saya dan sepupu perempuan segera menuju pasar ikan untuk memilih berbagai hasil laut segar.

Biasanya kami membeli ikan cakalang untuk dibakar, kerang untuk dimasak asam pedas, serta cumi yang digoreng tepung. Pokoknya semua yang bikin ngiler ada di sini.

Setelah membawa beberapa plastik belanjaan, kami menuju warung makan yang berada dekat pantai. Semua bahan mentah tadi kami serahkan kepada pemilik warung untuk diolah sesuai selera.

Biasanya pas momen seperti ini rasa lapar langsung melanda sih. Apalagi aroma ikan bakar segar di pantai memang susah ditolak.

Olahan kerang & cakalang yang cukup menggoda
Olahan kerang & cakalang yang cukup menggoda (doc. Riana Dewie)

Oh ya, salah satu alasan saya suka wisata Pantai Baru Bantul adalah karena konsep kulinernya cukup unik. 

Kita bisa memilih sendiri bahan mentah lalu meminta warung mengolahnya sesuai keinginan.

2. Naik ATV Menyusuri Area Pantai

Sambil menunggu makanan matang, kami mencari aktivitas lain supaya gak bosan. Salah satu yang paling menarik tentu saja bermain ATV di Pantai Baru.

Berdasarkan tarif yang umum ditemui pada tahun 2026, harga ATV Pantai Baru berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per putaran tergantung rute dan durasi.

Keseruan naik ATV adalah sensasi melintasi area pasir sambil merasakan semilir angin laut. 

Selain itu, aktivitas ini juga cocok untuk memacu adrenalin ringan tanpa harus melakukan olahraga ekstrem.

Kalau suami saya sih paling suka bagian ketika ATV melaju di jalur yang sedikit bergelombang. Katanya lebih seru dibanding berkendara di jalan biasa.

Keseruan bermain ATV di Pantai Baru Jogja bersama keluarga
Keseruan bermain ATV di Pantai Baru Jogja bersama keluarga (doc. Riana Dewie)

3. Bermain Pasir Putih Bersama Keluarga

Pasir putih Pantai Baru Jogja juga menjadi area favorit anak-anak. Mereka bebas bermain sambil membuat berbagai bentuk unik dari pasir.

Buat kamu yang pintar membuat istana pasir, tempat ini cocok banget untuk menyalurkan kreativitas. Kamu bisa bekerja sama dengan saudara atau teman supaya hasilnya lebih megah.

Tips dari saya, jangan membuat istana pasir terlalu dekat dengan bibir laut. Takutnya ketika ombak datang, hasil karya yang sudah susah payah dibuat langsung hilang dalam sekejap. Hahahaha...

Dari sisi psikologi, aktivitas bermain pasir bersama keluarga juga bermanfaat untuk melatih kreativitas, kerja sama, kemampuan problem solving, serta membantu anak lebih rileks saat bermain di alam terbuka.

4. Berburu Konten Estetik di Berbagai Sudut Pantai

Memotret estetik di Pantai Baru Jogja
Memotret estetik di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)

Suka jeprat-jepret suasana atau selfie? Jangan lewatkan kesempatan berburu spot foto Pantai Baru yang sangat beragam.

Mulai dari panorama laut selatan, perahu nelayan, deretan warung, hingga area pasir yang luas bisa menjadi latar foto yang menarik.

Surga juga buat kamu yang hobi membuat vlog atau video media sosial. Saya melihat cukup banyak pengunjung yang sibuk membuat konten saat berada di sana.

Oh ya, saya sengaja mengambil banyak stok foto dan video sekaligus. Lumayan buat cadangan konten beberapa minggu ke depan biar gak rugi sudah jauh-jauh datang ke sini.

5. Menikmati Sunrise dan Sunset dengan Pemandangan Laut Selatan

Bagi pecinta pemandangan alam, menikmati matahari terbenam di kawasan sunset Pantai Baru Bantul adalah aktivitas yang wajib dicoba.

Langit perlahan berubah warna menjadi oranye keemasan, sementara deburan ombak terdengar semakin syahdu. Momen seperti ini selalu berhasil membuat saya berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Kalau kamu datang lebih pagi, kesempatan menikmati sunrise juga terbuka. Suasananya tenang dan cocok untuk mencari ketenangan.

6. Duduk Ngadem di Bawah Pohon Cemara Laut

Salah satu daya tarik Pantai Baru yang menurut saya sering terlupakan adalah deretan pohon cemara laut yang tumbuh di sepanjang kawasan pantai.

Pepohonan ini menciptakan suasana teduh dan nyaman untuk bersantai bersama keluarga. Banyak pengunjung yang menggelar tikar sambil menikmati bekal makanan.

Gak percaya? Coba saja duduk beberapa menit di bawah rindangnya pohon-pohon tersebut. Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat suasana terasa lebih santai.

7. Melihat Deretan Kincir Angin Ikonik Pantai Baru

Aktivitas terakhir yang gak boleh dilewatkan adalah melihat deretan kincir angin yang menjadi ikon Pantai Baru Yogyakarta.

Kincir Angin di area Pantai Baru Bantul
Kincir Angin di area Pantai Baru Bantul (doc. Riana Dewie)


Kawasan ini dikenal sebagai pantai dengan kincir angin karena terdapat fasilitas energi terbarukan yang memanfaatkan tenaga angin dan matahari.

Selain menjadi sarana edukasi, keberadaan kincir angin juga membuat pemandangan pantai terlihat berbeda dibanding pantai lainnya di wilayah Bantul.

Oh ya, banyak wisatawan yang sengaja datang untuk berfoto di area ini karena tampilannya cukup unik dan estetik.


Tips Maen ke Pantai Baru

Sebelum berangkat, ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu.

- Datanglah sebelum pukul 09.00 pagi atau setelah pukul 15.30 agar cuaca lebih nyaman.
- Siapkan uang untuk retribusi kawasan wisata atau TPR yang biasanya dikenakan kepada pengunjung.
- Lokasi Pantai Baru berada di Kabupaten Bantul, DIY dan masih satu jalur dengan beberapa wisata pantai Bantul lainnya.
- Di sekitar kawasan terdapat Pantai Kuwaru, Pantai Pandansimo, dan Pantai Goa Cemara. Jadi jangan sampai salah tujuan.
- Kendaraan pribadi menjadi pilihan paling direkomendasikan karena aksesnya lebih fleksibel.
- Bawa topi, sunscreen, serta air minum agar tetap nyaman selama beraktivitas seru di pantai.

Deretan warung seafood dan kuliner ikan segar di Pantai Baru Jogja
Deretan warung seafood dan kuliner ikan segar di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)


Nah, itulah cerita saya dan sepupu yang asyik maen sekaligus kulineran di Pantai Baru Bantul, DIY.

Bagi saya, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata alam Yogyakarta biasa. 

Ada banyak kenangan sederhana yang tercipta dari obrolan keluarga, tawa anak-anak yang bermain pasir, hingga aroma ikan bakar yang menggoda selera.

Kalau saya sih selalu percaya bahwa perjalanan terbaik bukan tentang pergi ke tempat yang paling jauh, melainkan tentang bersama siapa kita menikmati momen tersebut.

Jadi, kalau kamu sedang mencari wisata keluarga Jogja yang lengkap, ramah kantong, dan cocok untuk liburan murah di Jogja, Pantai Baru bisa menjadi pilihan menarik untuk dikunjungi saat akhir pekan.

Siapa tahu, dari perjalanan sederhana itu kamu juga pulang membawa cerita indah yang akan dikenang dalam waktu lama. 

Apa kamu pernah berkunjung ke Pantai Baru Jogja juga?




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan, dari Tiwul hingga Ubi Rebus

makanan khas Jawa kaya nutrisi dari bahan lokal

Pernah kepikir gak sih kalau makanan tradisional Jawa yang menyehatkan justru sudah ada sejak dulu, jauh sebelum tren makanan sehat bermunculan di media sosial? 

Saya sendiri baru benar-benar menyadarinya saat tanpa sengaja mengenang masa kecil bersama keluarga besar di rumah simbah.

Dulu, setiap liburan sekolah, saya senang menginap di rumah simbah yang berada di desa. Suasananya sederhana, halaman luas, dan dapurnya selalu sibuk sejak pagi. 

Yang menarik, makanan yang tersaji hampir semuanya merupakan makanan tradisional Jawa sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Oh ya, saya masih ingat aroma kelapa parut yang baru diparut setiap pagi dari dapur belakang rumah simbah. Wanginya khas banget dan sampai sekarang masih melekat di ingatan saya.

Di meja makan biasanya ada apem, singkong rebus, kacang rebus, atau tiwul hangat yang baru matang. Saat itu saya tentu gak memikirkan kandungan gizi atau manfaat kesehatannya. 

Yang penting enak dan bikin kenyang. Hihihihi....

Kalau dipikir sekarang, makanan-makanan tersebut termasuk makanan kampung yang sehat dan bergizi. Bahannya sederhana, minim proses, dan banyak menggunakan hasil kebun sendiri.

Bahkan banyak di antaranya yang termasuk kuliner jadul yang masih sehat dikonsumsi hingga saat ini.

Mungkin karena itulah banyak orang tua zaman dulu tetap aktif meski usia sudah tidak muda lagi.

Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul
Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul (doc. Riana Dewie)


Kulineran Bersama Keluarga yang Selalu Membawa Kenangan

Gak cuma bersama simbah, ibu saya juga masih sering menyiapkan berbagai menu tradisional hingga saya dewasa. 

Saat masih tinggal bersama orang tua, saya sering bangun pagi dan mendapati berbagai jajanan pasar sudah tersedia di meja makan.

Ada ketan, cenil, gethuk, hingga berbagai olahan ubi yang sederhana tetapi menggugah selera. 

Saya sih selalu senang kalau menemukan makanan tradisional di meja makan karena rasanya selalu menghadirkan nostalgia.

Oh ya, kebiasaan ibu membeli jajanan pasar ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Kadang tanpa bilang apa-apa, tiba-tiba sudah ada beberapa bungkus makanan tradisional di rumah.

Saat kami kulineran sekeluarga, ibu juga lebih sering memilih menu-menu lama yang mungkin kurang populer di kalangan anak muda saat ini. 

Saya sempat berpikir, mungkin ibu sedang bernostalgia dengan masakan yang dulu sering dibuat simbah.

Tak jarang ibu bercerita, "Dulu simbah kalau bikin bothok banyak sekali karena anak-anaknya juga banyak." Dari cerita sederhana seperti itu saya jadi tahu bahwa makanan tradisional memang punya nilai emosional yang kuat.

Suatu hari kami mencoba bothok lamtoro di sebuah warung sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ada sensasi renyah dari ikan teri. 

Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai banyak orang. Emang seenak ini ya makanan jadul?

Oh ya, setelah dewasa saya baru sadar kalau banyak menu tradisional ternyata termasuk kuliner Jawa berbahan alami yang minim bahan tambahan.

Menariknya lagi, banyak menu tersebut termasuk makanan tradisional rendah minyak karena diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Beberapa waktu lalu saya bahkan sempat membaca blog seorang Travel Blogger Medan yang juga bercerita suka berburu kuliner saat bepergian. 

Menurutnya, setiap daerah punya makanan khas yang layak dilestarikan.


5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan

1. Tiwul Sambal Bawang, Karbohidrat Tradisional Selain Nasi

makanan tradisional Jawa yang menyehatkan berupa tiwul sambal bawang
Makanan tradisional Jawa yang menyehatkan, yaitu tiwul sambal bawang (doc. Riana Dewie)

Tiwul merupakan makanan tradisional dari singkong yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahan utamanya berasal dari singkong yang dikeringkan lalu diolah menjadi butiran-butiran mirip nasi.

Saya sih suka tiwul karena teksturnya unik dan rasanya sedikit manis alami. Ketika dipadukan dengan tiwul sambal bawang, sensasinya jadi lebih nikmat.

Dari sisi kesehatan, tiwul termasuk karbohidrat tradisional selain nasi yang mengandung serat cukup tinggi. Karena itulah tiwul sering dianggap sebagai salah satu makanan tradisional kaya serat yang bisa membantu rasa kenyang lebih lama.

2. Bothok Lamtoro, Lauk Kukus Kaya Rasa

Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba
Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba (doc. Riana Dewie)

Bothok lamtoro merupakan salah satu olahan lamtoro khas Jawa yang cukup populer di berbagai daerah. Bahan utamanya berupa petai cina atau lamtoro yang dicampur kelapa parut dan bumbu rempah.

Biasanya ditambahkan ikan teri agar rasanya makin gurih. Setelah dibungkus daun pisang, bothok kemudian dikukus hingga matang.

Karena proses pembuatannya dikukus, makanan ini termasuk kategori makanan kukus dan rebus yang sehat. Kandungan serat dan protein nabatinya juga cukup baik untuk tubuh.

3. Sego Gudangan, Menu Tradisional Jawa untuk Hidup Sehat

ego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan
Sego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan (doc. Riana Dewie)

Sego gudangan berasal dari Jawa Tengah dan identik dengan berbagai sayuran rebus yang disajikan bersama nasi dan urap kelapa.

Isi sayurnya biasanya berupa kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan berbagai sayuran lain. Kombinasi sayur urap dan gudangan inilah yang membuat menu ini kaya vitamin dan mineral.

Oh ya, sego gudangan termasuk menu yang paling sering saya cari ketika sedang ingin makan makanan rumahan.

Menurut saya, sego gudangan merupakan contoh sempurna dari menu tradisional Jawa untuk hidup sehat. Rasanya enak, mengenyangkan, dan penuh nutrisi.

4. Apem Panggang, Camilan Tradisional yang Menyehatkan

apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa
Apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa (doc. Riana Dewie)

Kalau mendengar apem, saya langsung teringat suasana pasar tradisional di pagi hari. Apem panggang tradisional biasanya dibuat dari tepung beras, santan, dan sedikit gula.

Berbeda dengan banyak camilan modern, apem dipanggang sehingga gak membutuhkan banyak minyak. Karena itulah apem sering dianggap sebagai salah satu camilan tradisional yang menyehatkan.

Selain itu, apem juga termasuk jajanan pasar tradisional yang lebih alami karena umumnya dibuat tanpa bahan pengawet berlebihan.

5. Ubi Rebus, Sederhana Tapi Kaya Nutrisi

Di antara semua daftar ini, mungkin ubi rebus adalah yang paling sederhana. Namun jangan salah, manfaatnya cukup banyak.

Ubi rebus untuk kesehatan sering dikaitkan dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Rasanya manis alami sehingga cocok dijadikan camilan sehari-hari.

Bagi saya, ubi rebus adalah contoh nyata makanan sederhana khas Jawa yang bergizi. Murah, mudah ditemukan, dan tetap lezat.

Oh ya, sampai sekarang saya masih sering membeli ubi rebus saat menemukan penjualnya di pinggir jalan. Rasanya selalu berhasil membawa saya kembali ke masa kecil.


Mari Kembali Mengenal Kuliner Tradisional

Dari berbagai cerita dan pengalaman tadi, saya makin yakin bahwa makanan tradisional Jawa yang menyehatkan layak mendapatkan perhatian lebih. 

Mulai dari tiwul, bothok lamtoro, sego gudangan, apem panggang, hingga ubi rebus, semuanya memiliki keunggulan masing-masing.

Selain berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan, banyak di antaranya termasuk makanan khas Jawa kaya nutrisi yang sudah diwariskan turun-temurun. 

Hahahaha.... kadang kita sibuk mencari makanan sehat modern, padahal jawabannya sudah ada sejak zaman simbah dulu.

Jadi, untuk bisa makan lebih sehat, kita bisa mulai melirik kembali berbagai kuliner tradisional Jawa yang menyehatkan ini sesuai selera masing-masing. 


Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah
Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah (doc. Riana Dewie)

Ini cerita makanan jadul versi saya. Bagaimana dengan makanan jadul favoritmu? 

Siapa tahu bisa menjadi teman seru saat menikmati waktu santai atau bahkan menemani outdoor activity bersama keluarga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Menyusuri Kota Lama Semarang di Sore Hari, Romantis dan Penuh Cerita

Sudut estetik kawasan Kota Lama Semarang dengan bangunan peninggalan Belanda

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman menyempatkan diri liburan singkat ke Semarang. 

Tujuan utamanya sebenarnya sederhana, yaitu kulineran, jalan-jalan, dan menemani teman yang sudah punya jadwal treatment wajah. 

Tapi bagi saya, bagian yang paling menarik justru ketika bisa menikmati suasana Kota Lama Semarang di sore hari.

Perjalanan dimulai sejak pukul lima pagi dari Jogja. Kami sengaja berangkat lebih awal agar perjalanan lebih nyaman dan gak terlalu terjebak kemacetan. 

Udara pagi masih terasa sejuk, jalanan pun relatif lengang sehingga perjalanan terasa santai.

Oh ya, saya memang termasuk orang yang lebih suka berangkat pagi saat bepergian karena suasananya masih tenang dan badan juga masih segar.

Sampai di daerah Ungaran, kami memutuskan berhenti untuk sarapan soto. Tempatnya sederhana banget, bahkan dari luar terlihat seperti warung biasa. 

Tapi soal rasa sih ternyata lumayan enak. Kuahnya hangat, porsinya pas, dan cocok untuk mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan kami juga sempat berhenti di sebuah rest area. Yang menarik, area belakangnya dipenuhi pepohonan yang sekilas mirip hutan pinus. 

Suasananya adem dan nyaman untuk sekadar meregangkan kaki. Sekalian juga menemani teman yang ingin salat karena kebetulan tersedia masjid yang cukup nyaman di sana.


Tujuan ke Semarang: Kuliner, Jalan-Jalan, dan Sedikit Me Time

Sesampainya di Semarang, agenda kami cukup santai. Teman saya langsung menuju tempat treatment wajah yang sudah dijadwalkan sejak jauh hari. Sementara saya kebagian menikmati bagian yang menurut saya lebih menyenangkan, yaitu jalan-jalan dan kulineran. Hihihihi....

Biasanya kalau ke Semarang, kami hampir selalu mampir ke Ayam Goreng Pak Supar. Menu favorit saya adalah ayam goreng dan sup sapinya yang gurih. 

Selain itu, saya juga suka berburu tahu gimbal legendaris yang sudah beberapa kali saya kunjungi. Sayangnya saya selalu lupa nama warungnya. 

Yang jelas, setiap ke Semarang, tempat itu hampir pasti masuk daftar kunjungan.

Oh ya, salah satu alasan saya suka kulineran di Semarang adalah karena pilihan makanannya beragam dan banyak yang sudah melegenda sejak puluhan tahun lalu.

Setelah urusan treatment selesai, barulah kami menuju destinasi yang sejak awal ingin saya kunjungi, yaitu kawasan Kota Lama Semarang.

Saya menikmati suasana di Museum Kota Lama Semarang
Saya menikmati suasana di Museum Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)


Menyusuri Kota Lama Semarang Saat Sore Hari

Sore hari memang menjadi waktu yang pas untuk menyusuri Kota Lama Semarang. Cuaca mulai bersahabat, sinar matahari gak terlalu terik, dan suasana kawasan mulai ramai oleh wisatawan.

Ketika memasuki area ini, saya langsung merasa seperti sedang berpindah ke masa lalu. 

Deretan bangunan kolonial yang berdiri kokoh membuat suasana terasa berbeda dibanding kawasan perkotaan modern pada umumnya.

Kota Lama Semarang sendiri merupakan salah satu kawasan heritage Semarang yang memiliki nilai sejarah tinggi. 

Kawasan ini berkembang sejak abad ke-17 ketika Belanda menjadikan Semarang sebagai pusat perdagangan penting di pesisir utara Jawa.

Dulu area ini bahkan sering dijuluki sebagai "Little Netherlands" karena tata kota dan arsitekturnya yang sangat kental dengan nuansa Eropa. 

Kini kawasan tersebut telah direvitalisasi sehingga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah Semarang yang paling populer.

Oh ya, saya senang melihat bagaimana kawasan bersejarah ini tetap dirawat dengan baik sehingga generasi sekarang masih bisa menikmati jejak sejarah yang ada.


Spot Ikonik dan Foto Estetik di Kota Lama Semarang

Kalau berkunjung ke sini, ada beberapa tempat yang menurut saya wajib disinggahi.

Gereja Blenduk yang Ikonik

Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang dengan kubah ikonik saat sore hari
Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang dengan kubah ikonik saat sore hari (doc. Riana Dewie)

Gereja Blenduk menjadi landmark paling terkenal di kawasan ini. Bangunannya yang megah dengan kubah besar berwarna tembaga selalu berhasil menarik perhatian wisatawan.

Saya pun gak melewatkan kesempatan untuk berfoto di area sekitar gereja. Hampir dari sudut mana pun, hasil fotonya terlihat menarik.

Taman Srigunting yang Nyaman

Tepat di depan Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting. Area terbuka ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai, duduk menikmati suasana, atau sekadar mengamati aktivitas sekitar.

Kalau saya sih paling suka duduk beberapa menit sambil memperhatikan wisatawan yang lalu-lalang membawa kamera dan berburu foto.

Gedung Marba dan Deretan Bangunan Bersejarah

Saat saya melewati Gedung Marba Kota Lama Semarang
Saat saya melewati Gedung Marba Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)

Salah satu bangunan yang selalu menarik perhatian adalah Gedung Marba. Fasad berwarna merah khas membuat bangunan ini terlihat sangat fotogenik.

Selain Gedung Marba, masih banyak bangunan tua lain yang menjadi spot foto Kota Lama Semarang. Setiap sudut memiliki karakter tersendiri sehingga rasanya gak pernah bosan untuk dijelajahi.

Kebetulan saya berasal dari Jogja. Karena itu, melihat bangunan-bangunan peninggalan Belanda di kawasan ini terasa cukup akrab. 

Beberapa desain arsitekturnya bahkan mengingatkan saya pada sejumlah bangunan tua yang ada di Jogja.


Menikmati Senja dan Pulang Membawa Cerita

Waktu favorit saya selama berada di sana adalah ketika memasuki golden hour. Cahaya matahari sore yang hangat membuat seluruh kawasan terlihat semakin cantik. Inilah momen terbaik untuk menikmati senja di Semarang.

Oh ya, kalau datang menjelang sore, jangan buru-buru pulang. Perubahan suasana dari siang menuju petang justru menjadi salah satu daya tarik utama kawasan ini.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dan menikmati suasana sore di Kota Lama Semarang. 

Salah satu bangunan heritage di Kota Lama Semarang
Salah satu bangunan heritage di Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)


Rasanya waktu berjalan begitu pelan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, pengalaman seperti ini terasa sangat menyenangkan.

Kalau saya sih selalu suka destinasi yang menawarkan cerita, bukan hanya pemandangan. Dan Kota Lama Semarang berhasil memberikan keduanya sekaligus.

Menjelang magrib, kami akhirnya meninggalkan kawasan tersebut. Tapi perjalanan belum selesai. Sebelum pulang ke Jogja, kami kembali berburu kuliner Kota Lama Semarang dan beberapa makanan favorit lainnya.

Perjalanan pulang terasa santai karena hati sudah puas. Hahahaha.... 

Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan satu hari penuh bersama teman-teman, menikmati makanan enak, melihat bangunan bersejarah, dan merasakan suasana yang berbeda dari rutinitas sehari-hari.

Oh ya, perjalanan singkat ini kembali mengingatkan saya bahwa liburan gak harus jauh atau mahal. 

Kadang satu hari yang diisi dengan wisata sore Semarang, kulineran, dan nostalgia sejarah sudah cukup untuk membuat pikiran kembali segar.

***

Pada akhirnya, kunjungan ke Kota Lama Semarang bukan sekadar perjalanan wisata biasa. 

Bagi saya, ini adalah perjalanan yang penuh cerita, penuh kenangan, dan memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana sejarah tetap hidup di tengah perkembangan kota modern. 

Sebuah perjalanan sederhana yang layak untuk diulang lagi suatu hari nanti.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal Notes

Di Balik Senyum Wisatawan, Ada Kuda Andong Malioboro yang Bekerja Seharian

Kuda andong menunggu penumpang di kawasan Malioboro Yogyakarta

Suatu sore di kawasan Malioboro, saya duduk di salah satu bangku yang menghadap jalan utama. 

Seperti biasa, suasana ramai oleh wisatawan yang berjalan santai, berburu oleh-oleh, hingga mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka. 

Di tengah keramaian itu, kuda andong Malioboro melintas perlahan sambil menarik kereta yang berisi wisatawan dari berbagai daerah.

Pemandangan tersebut sebenarnya sudah sangat akrab bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke Yogyakarta. Andong sudah lama menjadi bagian dari identitas kota ini. 

Bahkan bagi banyak wisatawan, naik andong menjadi pengalaman yang wajib dicoba saat liburan ke Jogja.

Namun sore itu perhatian saya justru tertuju pada sang kuda. 

Saat orang-orang sibuk tersenyum menikmati perjalanan, saya memperhatikan bagaimana hewan tersebut terus berjalan di tengah cuaca yang cukup panas. 

Dari situlah muncul pertanyaan sederhana di kepala saya: bagaimana sebenarnya kehidupan kuda-kuda yang bekerja setiap hari di Malioboro?

Oh ya, saya termasuk orang yang suka memperhatikan hal-hal kecil saat bepergian. Kadang yang menarik perhatian saya bukan hanya tempat wisatanya, tetapi juga cerita yang ada di baliknya.

Belakangan ini, isu kesejahteraan hewan memang semakin sering dibahas. Ada yang menyerukan agar penggunaan kuda sebagai alat transportasi wisata dihentikan. 

Ada juga yang berpendapat bahwa andong merupakan warisan budaya yang harus tetap dilestarikan. 

Menurut saya, kedua pandangan tersebut layak didengar karena masing-masing memiliki alasan yang kuat.


Andong, Ikon Wisata yang Tak Terpisahkan dari Malioboro

Membicarakan Malioboro rasanya sulit jika melewatkan keberadaan andong. Kendaraan tradisional ini sudah menjadi bagian dari wajah Yogyakarta selama puluhan tahun. 

Bahkan sebelum transportasi modern berkembang pesat seperti sekarang, andong sudah menjadi sarana mobilitas masyarakat.

Kuda penarik andong beristirahat setelah bekerja di Malioboro
Kuda penarik andong beristirahat setelah bekerja di Malioboro (doc. Riana Dewie)


Sampai hari ini, andong tetap bertahan sebagai salah satu daya tarik wisata budaya. Banyak wisatawan memilih naik andong karena ingin menikmati suasana kota dengan cara yang lebih santai. 

Kalau saya sih, sensasi mendengar suara langkah kuda sambil melihat suasana kota memang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan naik kendaraan bermotor.

Selain menjadi daya tarik wisata, keberadaan andong juga memberikan penghasilan bagi para kusir. 

Dari pekerjaan tersebut, mereka membiayai kebutuhan keluarga sekaligus merawat kuda yang menjadi partner kerja setiap hari.

Oh ya, sering kali kita hanya melihat andong sebagai sarana wisata. Padahal di baliknya ada banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari profesi kusir andong.

Karena itulah, isu kesejahteraan hewan dalam sektor pariwisata ini menjadi topik yang cukup kompleks. 

Ada aspek budaya, ekonomi, dan juga tanggung jawab terhadap makhluk hidup yang sama-sama penting untuk diperhatikan.


Di Balik Ramainya Wisata, Ada Kuda yang Bekerja dari Pagi hingga Malam

Di saat wisatawan menikmati perjalanan yang menyenangkan, kuda-kuda tersebut menjalani rutinitas yang cukup berat. 

Pada musim liburan, jumlah penumpang meningkat dan aktivitas andong menjadi lebih sibuk dibandingkan hari biasa.

Melihat kuda berjalan bolak-balik sepanjang hari kadang membuat saya bertanya-tanya mengenai kondisi fisik mereka. 

Hihihihi... mungkin terdengar terlalu kepikiran, tetapi memang itulah yang muncul di benak saya saat melihat mereka bekerja tanpa henti.

Andong wisata menjadi ikon transportasi tradisional Yogyakarta
Andong wisata menjadi ikon transportasi tradisional Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Cuaca Panas dan Risiko Dehidrasi

Salah satu tantangan terbesar bagi kuda pekerja adalah cuaca panas. Yogyakarta terkenal memiliki suhu yang cukup terik, terutama saat musim kemarau. Dalam kondisi seperti itu, tubuh kuda akan mengeluarkan lebih banyak keringat sehingga kebutuhan cairannya juga meningkat.

Jika kebutuhan air minum gak terpenuhi dengan baik, risiko dehidrasi tentu bisa meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh menjadi lemah, kehilangan energi, bahkan berpotensi memicu gangguan kesehatan lainnya.

Oh ya, saya pernah melihat seekor kuda yang sedang diberi minum setelah menarik andong. Saat itu saya baru sadar bahwa kebutuhan air bagi kuda pekerja ternyata sama pentingnya dengan kebutuhan bahan bakar bagi kendaraan.

Karena itu, penyediaan akses air minum yang cukup menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan kuda andong Malioboro.

Pakan dan Istirahat yang Menjadi Kebutuhan Utama

Sama seperti manusia yang bekerja seharian, kuda juga membutuhkan asupan nutrisi yang memadai. Rumput berkualitas, pakan tambahan, serta jadwal makan yang teratur sangat membantu menjaga stamina mereka.

Sayangnya, masih ada kekhawatiran dari sebagian masyarakat mengenai kemungkinan adanya kuda yang memperoleh pakan kurang optimal. Isu inilah yang sering memicu perdebatan mengenai penggunaan kuda sebagai transportasi wisata.

Selain makanan, waktu istirahat juga gak kalah penting. Tubuh kuda membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah bekerja selama berjam-jam di jalanan yang ramai.

Kalau dipikir-pikir, manusia saja bisa merasa lelah setelah bekerja seharian. Jadi wajar kalau kuda juga membutuhkan perhatian yang sama terhadap kebutuhan fisiknya.


Tidak Semua Kisah Tentang Kuda Andong Berakhir Buruk

Meskipun berbagai kritik bermunculan, saya merasa penting untuk melihat persoalan ini secara lebih utuh. Gak semua cerita tentang kuda andong berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan.

Banyak Kusir yang Sangat Peduli pada Kudanya

Bagi banyak kusir, kuda bukan sekadar alat kerja. Hewan tersebut adalah aset utama yang menentukan keberlangsungan pekerjaan mereka. 

Karena itu, banyak kusir yang berusaha menjaga kesehatan kudanya dengan baik.

Saya pernah berbincang singkat dengan seorang kusir yang mengatakan bahwa biaya pakan dan perawatan kuda bisa mencapai jumlah yang gak sedikit setiap bulan. 

Dari cerita itu saya memahami bahwa sebagian besar kusir tentu ingin kudanya tetap sehat dan kuat.

Kalau saya sih, hubungan antara kusir dan kuda ini lebih mirip rekan kerja yang saling membutuhkan dibanding sekadar pemilik dan hewan peliharaan.

Transportasi tradisional andong yang masih bertahan di Yogyakarta
Transportasi tradisional andong yang masih bertahan di Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Pemeriksaan Kesehatan dan Upaya Pembinaan

Beberapa pihak juga mulai memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan kuda andong. 

Pemeriksaan kesehatan berkala, edukasi perawatan hewan, hingga pembinaan kepada kusir menjadi langkah yang cukup positif.

Oh ya, upaya seperti ini menurut saya penting karena dapat menjadi jalan tengah antara pelestarian budaya dan perlindungan kesejahteraan hewan.

Tentu masih ada ruang untuk perbaikan. Namun keberadaan program-program tersebut menunjukkan bahwa isu ini mulai mendapatkan perhatian yang lebih serius dibandingkan beberapa tahun lalu.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Stay & Hotels

Camping di Telaga Cebong, Tempat Camping Keluarga di Kaki Bukit Sikunir

Camping di Telaga Cebong dekat Bukit Sikunir saat pagi hari

Saat pertama kali tiba di kawasan Dieng untuk mengejar sunrise di Bukit Sikunir, fokus saya sebenarnya hanya satu: bangun pagi, naik bukit, lalu menikmati matahari terbit yang terkenal itu.

Namun siapa sangka, sebelum petualangan dimulai, saya justru menemukan sesuatu yang menarik di sekitar area parkir. 

Di sinilah saya pertama kali mengenal Camping di Telaga Cebong, sebuah tempat yang ternyata begitu menarik untuk dijadikan lokasi bermalam bersama keluarga.

Di dekat area parkir, berdiri rumah-rumah kecil yang cantik di tepi telaga. Bentuknya estetik dan fotogenik. 

Saya pun sibuk mengambil foto dari berbagai sudut. Hihihihi, namanya juga suka jalan-jalan, kalau melihat tempat bagus rasanya tangan otomatis ingin mengabadikan momen.

Oh ya, suasana pagi itu benar-benar menyenangkan karena udara sejuk pegunungan langsung terasa sejak saya turun dari kendaraan.

Kami berfoto di area berkemah Telaga Cebong
Kami berfoto di area berkemah Telaga Cebong (doc. Riana Dewie)


Saat sedang asyik berfoto, perhatian saya tiba-tiba tertuju pada deretan tenda warna-warni yang berdiri rapi di pinggir telaga. 

Beberapa di antaranya bahkan dilengkapi area api unggun yang terlihat nyaman untuk berkumpul bersama keluarga.

"Loh, ini tempat camping kah?" tanya saya dalam hati waktu itu.

Awalnya saya mengira itu hanya camp ilegal, tempat orang membawa tenda sendiri lalu mendirikan kemah secara mandiri. 

Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami
Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami (doc. Riana Dewie)


Saya pun gak terlalu memikirkannya dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Bukit Sikunir.

Barulah keesokan harinya, setelah turun dari Sikunir, saya mengetahui bahwa area tersebut ternyata merupakan salah satu tempat camping di Telaga Cebong yang cukup populer di kawasan Dieng.


Mengenal Pesona Telaga Cebong di Kaki Bukit Sikunir

Telaga Cebong berada di Desa Sembungan, sebuah desa yang terkenal sebagai salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa. 

Lokasinya berada tepat di kaki Bukit Sikunir sehingga menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin menikmati golden sunrise Dieng.

Oh ya, meskipun namanya telaga, pemandangan di sini jauh dari kesan biasa saja. Justru sebaliknya, telaga alami ini dikelilingi perbukitan hijau yang membuat suasananya terasa menenangkan.

Dari area telaga, pengunjung bisa menikmati pemandangan pegunungan Dieng yang indah hampir dari semua sudut. 

Air telaga yang tenang sering memantulkan siluet bukit dan langit sehingga menjadi spot foto Dieng yang cukup diminati wisatawan.

Area camping di Telaga Cebong dengan pemandangan pegunungan Dieng
Area camping di Telaga Cebong dengan pemandangan pegunungan Dieng (doc. Riana Dewie)


Kalau saya sih langsung paham kenapa banyak orang betah berlama-lama di sini. Kombinasi telaga, pegunungan, udara segar, dan suasana pedesaan memang punya daya tarik tersendiri.

Selain menjadi bagian dari wisata alam Dieng, Telaga Cebong juga sering menjadi tujuan wisata keluarga Wonosobo karena suasananya yang relatif tenang dan cocok untuk semua usia.


Kenapa Camping di Telaga Cebong Menarik untuk Keluarga?

Setelah melihat langsung lokasinya, saya akhirnya mengerti mengapa banyak wisatawan memilih Camping ground Telaga Cebong Dieng sebagai tempat bermalam.

1. Pemandangannya Langsung Menghadap Alam

Berbeda dengan hotel yang membatasi pemandangan lewat jendela, area berkemah Telaga Cebong menawarkan panorama terbuka. 

Dari depan tenda, pengunjung bisa menikmati telaga, perbukitan, dan suasana khas kawasan Dieng Plateau.

2. Suasana Lebih Dekat dengan Alam

Bagi keluarga yang ingin merasakan liburan keluarga di alam, tempat ini bisa menjadi pilihan menarik. 

Anak-anak dapat melihat langsung lingkungan alam pegunungan, sementara orang tua bisa menikmati suasana santai yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Panorama Telaga Cebong sebagai tempat camping keluarga di Jawa Tengah
Panorama Telaga Cebong sebagai tempat camping keluarga di Jawa Tengah (doc. Riana Dewie)


3. Bisa Menikmati Langit Malam

Salah satu daya tarik yang sering dicari wisatawan adalah kesempatan melihat langit malam yang lebih jelas. 

Bahkan banyak orang menyebut kawasan ini sebagai salah satu tempat melihat bintang di Dieng yang cukup menarik saat cuaca sedang cerah.

Oh ya, momen berkumpul di dekat api unggun bersama keluarga tentu menjadi pengalaman yang sulit ditemukan saat menginap di hotel biasa.

4. Biaya Cenderung Lebih Terjangkau

Jika dibandingkan beberapa hotel atau penginapan premium di kawasan Dieng, camping ramah keluarga seperti ini bisa menjadi alternatif yang lebih ekonomis tanpa mengurangi pengalaman berwisata.

Kalau urusan kenyamanan sih tentu setiap orang punya preferensi berbeda. Namun untuk pengalaman yang lebih dekat dengan alam, camping tepi telaga jelas menawarkan sensasi yang berbeda.


Lokasi Strategis untuk Menjelajahi Wisata Dieng

Salah satu keunggulan terbesar Camping di Telaga Cebong adalah lokasinya yang strategis.

Dari sini, wisatawan dapat dengan mudah menuju Bukit Sikunir untuk menikmati matahari terbit. 

Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami
Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami (doc. Riana Dewie)


Bahkan banyak pengunjung memilih bermalam di area ini agar gak perlu berangkat terlalu dini dari penginapan yang lokasinya jauh.

Sunrise Sikunir dari Telaga Cebong memang menjadi salah satu alasan utama banyak wisatawan datang ke sini.

Selain dekat dengan Sikunir, lokasi ini juga relatif mudah dijangkau dari berbagai destinasi populer di Dieng. 

Karena itulah kawasan ini menjadi destinasi camping populer bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi berbagai tempat dalam satu perjalanan.

Oh ya, bagi yang datang saat musim kemarau, suasana di sekitar telaga biasanya terlihat lebih cerah sehingga cocok untuk aktivitas fotografi maupun camping saat musim kemarau.

Camping dekat Bukit Sikunir juga memberi keuntungan tersendiri karena wisatawan bisa lebih santai mengatur waktu perjalanan tanpa harus terburu-buru mengejar subuh.


Masuk Daftar Tempat yang Ingin Saya Coba Berikutnya

Jujur saja, saat perjalanan kemarin saya belum sempat mencoba Camping di Telaga Cebong. Jadwal perjalanan sudah tersusun jauh-jauh hari sehingga agenda bermalam di area ini belum bisa masuk daftar kegiatan.

Meski begitu, melihat langsung suasananya membuat saya cukup tertarik untuk kembali lagi suatu saat nanti.

Area parkir depan Telaga Cebong Dieng
Area parkir depan Telaga Cebong Dieng (doc. Riana Dewie)


Kalau saya sih membayangkan seru juga menghabiskan malam di tepi telaga, menikmati udara dingin khas Dieng, lalu bangun pagi untuk melihat aktivitas sekitar sebelum melanjutkan perjalanan.

Rasanya menyenangkan jika suatu hari nanti bisa berkemah bersama keluarga di sini, menikmati suasana alam tanpa terburu-buru mengejar jadwal wisata.

Hahahaha, siapa tahu kunjungan berikutnya justru lebih santai daripada perjalanan kemarin yang penuh agenda dari pagi sampai malam.

Yang pasti, Telaga Cebong berhasil memberi kesan yang cukup kuat bagi saya. 

Bukan hanya sebagai gerbang menuju Bukit Sikunir, tetapi juga sebagai tempat camping keluarga di Jawa Tengah yang menawarkan panorama indah dan suasana yang nyaman.

***

Jika nanti kembali ke Dieng, saya ingin sekali mencoba menginap di sini. Setelah menikmati malam di tepi telaga, paginya saya bisa menjelajahi beberapa destinasi yang kemarin terlewat. 

Area berkemah Telaga Cebong dengan view perbukitan hijau
Area berkemah Telaga Cebong dengan view perbukitan hijau (doc. Riana Dewie)


Salah satunya adalah Kawah Sikidang yang harus saya skip karena bangunnya terlalu santuy dan kesiangan.

Pada akhirnya, wisata Telaga Cebong Dieng membuktikan bahwa sebuah perjalanan sering kali menghadirkan kejutan yang gak terduga. 

Awalnya saya datang hanya untuk melihat sunrise, tetapi pulang dengan daftar destinasi baru yang ingin saya coba pada kunjungan berikutnya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Tips

10 Tips Tetap Produktif Saat Jalan-Jalan, Pulang Bawa Konten dan Cerita

Travel blogger membuat blog dari pengalaman perjalanan

Banyak orang menganggap jalan-jalan sebagai waktu untuk istirahat dari rutinitas. 

Namun bagi saya, tetap produktif saat jalan-jalan juga penting dilakukan agar setiap perjalanan meninggalkan jejak yang bermanfaat. 

Entah itu berupa postingan blog, update di media sosial, foto, video, maupun catatan sederhana yang nantinya bisa dikembangkan menjadi sebuah karya.

Saya sering menemukan ide tulisan, bahan konten media sosial, hingga pengalaman menarik saat sedang bepergian. 

Bahkan perjalanan singkat ke tempat yang dekat dari rumah pun sering memberikan inspirasi baru. Jalan-jalan dan berkarya ternyata bisa berjalan beriringan.

Oh ya, saya sendiri termasuk orang yang senang menyimpan dokumentasi perjalanan sejak dulu. 

Awalnya hanya untuk koleksi pribadi, tetapi ternyata banyak yang akhirnya berguna sebagai bahan artikel maupun konten media sosial.

Produktif saat jalan-jalan bukan berarti sibuk bekerja sepanjang waktu. Justru yang saya maksud adalah memanfaatkan momen agar menghasilkan sesuatu yang bisa dibagikan kepada orang lain. 

Dengan begitu, perjalanan terasa lebih bermakna dan meninggalkan "oleh-oleh" berupa cerita.


Mengapa Tetap Produktif Saat Jalan-Jalan Itu Penting?

Perjalanan selalu menghadirkan pengalaman baru. Saat berada di tempat yang berbeda, biasanya pikiran menjadi lebih segar dan ide kreatif lebih mudah muncul. 

Karena itulah banyak orang yang menemukan inspirasi saat traveling.

Konten perjalanan juga termasuk jenis konten yang cukup diminati. 

Mulai dari konten Instagram, konten TikTok, story Instagram, hingga artikel blog sering mendapat perhatian karena memberikan referensi bagi orang lain.

Selain itu, dokumentasi perjalanan bisa menjadi kenangan berharga di masa depan. 

Sedekat apa pun travelingmu, atau hal-hal yang menurutmu sepele, ternyata bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi orang lain. 

Kalau saya sih sering menemukan ide artikel hanya dari perjalanan yang jaraknya gak sampai satu jam dari rumah.

Oh ya, banyak juga orang yang mulai membangun personal branding melalui aktivitas berbagi pengalaman wisata. Jadi, gak ada salahnya mulai mengabadikan perjalanan dari sekarang.

Saat saya mengabadikan momen perjalanan di destinasi wisata
Saat saya mengabadikan momen perjalanan di destinasi wisata (doc. Riana Dewie)


10 Tips Tetap Produktif Saat Jalan-Jalan, Pulang Bawa Konten dan Cerita

Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari pengalaman pribadi selama melakukan perjalanan dan membuat konten.

1. Tentukan Tujuan Dokumentasi Sebelum Berangkat

Sebelum berangkat, saya biasanya menentukan tujuan dokumentasi terlebih dahulu. Apakah untuk blog, Instagram, TikTok, atau sekadar arsip pribadi.

Dengan tujuan yang jelas, proses pengambilan konten menjadi lebih terarah. Namun kadang saya juga berjalan saja mengikuti situasi. 

Di mana pun tempatnya, saya usahakan ada konten yang bisa saya bagikan di blog maupun media sosial agar gak terasa memberatkan.

2. Selalu Siapkan Kamera atau Smartphone

Jangan sampai momen menarik terlewat begitu saja. Karena HP saya masih tergolong HP kentang dengan hasil kamera yang kurang maksimal, saya sering membawa kamera untuk dokumentasi pribadi.

Kamera Sony Alpha saya memang sudah cukup jadul, tetapi sampai sekarang masih sangat membantu. 

Bahkan beberapa hasil fotonya pernah membantu menambah pundi-pundi penghasilan. Hihihihi.... ternyata barang lama masih bisa produktif juga.

Pastikan baterai penuh sebelum berangkat. Saya sih biasanya berusaha membawa baterai cadangan lebih dari satu agar bisa langsung ganti saat baterai utama habis. 

Selain itu, sediakan ruang penyimpanan yang cukup dan bawa power bank jika diperlukan. Kebetulan power bank saya sedang rusak, jadi sekarang masih nabung buat beli yang baru.

3. Ambil Foto Lebih Banyak dari yang Dibutuhkan

Saya memang berusaha memotret sebanyak mungkin saat berada di sebuah destinasi wisata. Jepret sana, jepret sini, supaya punya banyak cadangan konten.

Mulai dari suasana lokasi, detail bangunan, kuliner, aktivitas pengunjung, hingga pemandangan sekitar. Semua bisa berguna saat menyusun artikel atau membuat travel content.

Menariknya, beberapa foto yang saya ambil sebelum tahun 2020 masih sering saya gunakan sampai sekarang. 

Inilah salah satu manfaat mengabadikan momen perjalanan dan membuat dokumentasi perjalanan yang menarik.

4. Rekam Video Pendek untuk Cadangan Konten

Selain foto, saya juga usahakan untuk merekam video pendek. Klip berdurasi 5–15 detik biasanya sudah cukup untuk kebutuhan reels perjalanan, TikTok, atau Shorts.

Video pendek sangat membantu jika suatu saat kita membutuhkan stok konten. Apalagi bagi travel content creator pemula, cara ini cukup efektif untuk menghemat ruang penyimpanan sekaligus tetap menghasilkan banyak materi.

Oh ya, video-video pendek ini gak harus langsung diedit saat itu juga. Simpan dulu, lalu olah saat ada waktu luang.

5. Catat Hal-Hal Menarik yang Ditemukan

Saya selalu berusaha mencatat fakta unik, harga tiket, jam operasional, cerita lokal, maupun pengalaman pribadi selama perjalanan. Biar simpel pake note dari HP aja. 

Produktif saat wisata dengan mencatat informasi penting
Produktif saat wisata dengan mencatat informasi penting (doc. Riana Dewie)


Pengalaman pribadi adalah bagian yang paling berharga karena gak bisa diduplikasi orang lain. Kita mungkin datang ke tempat yang sama, tetapi cerita yang dihasilkan bisa sangat berbeda.

Biasanya saya menggunakan aplikasi catatan di ponsel sebagai jurnal traveling sederhana. Cara ini sangat membantu saat nanti ingin membuat artikel atau review tempat wisata.

Catatan Harian Rani R Tyas juga menjadi salah satu inspirasi saya bahwa pengalaman sehari-hari bisa diolah menjadi tulisan yang menarik jika dicatat dengan baik.

6. Jangan Hanya Memotret, Rasakan Pengalamannya

Menikmati suasana tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan. Jangan sampai terlalu sibuk mengambil foto dan video hingga lupa menikmati momennya.

Cobalah berinteraksi dengan warga lokal, mencicipi makanan khas, atau mendengarkan cerita menarik dari orang sekitar. Pengalaman langsung seperti ini membuat tulisan menjadi lebih hidup dan otentik.

Saat berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka misalnya, saya pernah berbincang dengan petugas dan mendapatkan beberapa informasi menarik yang gak akan saya dapatkan jika hanya mengandalkan perkiraan sendiri. 

Jadi komunikasi memang perlu untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam.

7. Kumpulkan Informasi Pendukung

Nama tempat, sejarah singkat, fasilitas, akses menuju lokasi, hingga informasi tiket merupakan data yang sangat berguna.

Informasi ini bisa diperoleh dari narasumber langsung maupun hasil pencarian tambahan. Dengan data yang lengkap, proses membuat blog dari pengalaman perjalanan menjadi jauh lebih mudah.

Kalau saya sih biasanya menggabungkan hasil observasi pribadi dengan informasi resmi agar artikel lebih kaya dan informatif.

8. Buat Draf Konten Singkat Saat Masih Segar

Setelah menemukan pengalaman menarik, saya langsung menuliskan poin-poin penting sebelum lupa. Bisa berupa ide caption, kesan pertama, atau hal-hal unik yang ditemukan selama perjalanan.

Langkah ini sangat membantu dalam cara mencari ide tulisan saat jalan-jalan. Nantinya saya tinggal mengembangkan catatan tersebut menjadi artikel yang lebih panjang.

Oh ya, kebiasaan kecil ini sering menyelamatkan saya dari lupa detail penting yang ternyata sangat dibutuhkan saat menulis.

9. Pilih Momen untuk Berbagi di Media Sosial

Semua konten gak harus diunggah sekaligus. Sebagian bisa disimpan sebagai stok untuk beberapa hari atau minggu ke depan.

Strategi ini membantu akun tetap aktif dan membuat proses membuat konten media sosial saat traveling menjadi lebih teratur.

Selain itu, kita juga bisa menyiapkan beberapa foto estetik wisata atau video perjalanan untuk kebutuhan mendatang.

10. Ubah Pengalaman Menjadi Cerita yang Bermanfaat

Inilah bagian yang paling saya sukai. Semua pengalaman yang sudah dikumpulkan bisa diubah menjadi artikel, rekomendasi kuliner, tips perjalanan, hingga berbagai bentuk konten lainnya.

Saya mengambil foto saat review menu Ramadhan tahun ini
Saya mengambil foto saat review menu Ramadhan tahun ini (doc. Riana Dewie)


Melalui cara ini, aktivitas jalan-jalan sambil menulis blog menjadi lebih menyenangkan. 

Kita gak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga bisa berbagi pengalaman dan memberikan inspirasi bagi orang lain.

Hahahaha.... kadang saya bahkan baru sadar bahwa perjalanan sederhana ternyata menghasilkan banyak ide tulisan setelah melihat kembali folder dokumentasi yang menumpuk.


Oleh-Oleh Terbaik dari Sebuah Perjalanan Bukan Selalu Barang

Banyak orang pulang membawa suvenir. Namun bagi saya, pengalaman, foto, video, tulisan, dan cerita juga merupakan oleh-oleh yang sangat berharga.

Konten yang dibagikan dapat membantu orang lain menemukan tempat menarik, mencari rekomendasi kuliner, atau mendapatkan referensi untuk perjalanan berikutnya.

Selain itu, semua dokumentasi tersebut akan menjadi bagian dari catatan perjalanan, kenangan liburan, dan sumber inspirasi perjalanan yang bisa dikenang di masa depan.

Oh ya, saya percaya bahwa setiap perjalanan selalu memiliki cerita yang layak dibagikan, sekecil apa pun perjalanannya.


Penutup

Jalan-jalan dan produktif bukan dua hal yang bertentangan. Kita tetap bisa menikmati liburan tanpa kehilangan kesempatan untuk berkarya.

Dengan sedikit kebiasaan mendokumentasikan dan mencatat, setiap perjalanan dapat menghasilkan konten, cerita, dan kenangan yang bermanfaat. 

Mulailah menerapkan tips di atas agar aktivitas produktif saat traveling, healing yang produktif, dan liburan sambil berkarya bisa menjadi kebiasaan baru.

Tetap produktif saat jalan-jalan dengan mengubah pengalaman wisata menjadi artikel dan cerita inspiratif
Tetap produktif saat jalan-jalan dengan mengubah pengalaman wisata menjadi cerita inspiratif (doc. Riana Dewie)


Pada akhirnya, perjalanan bukan hanya soal pergi ke suatu tempat, tetapi juga tentang bagaimana kita mengolah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. 

Siapa tahu, cerita yang kita bagikan hari ini bisa membantu pembaca menemukan inspirasi baru, sama seperti banyak artikel tips parenting modern yang sering membantu orang tua menemukan sudut pandang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments