In City Life Jogja

Melihat Wajah Jogja dari Titik Nol KM di Malam Hari

titik nol km Jogja malam hari dengan suasana ramai

Ada suasana berbeda ketika saya datang ke Titik Nol KM setelah matahari tenggelam. 

Udara terasa lebih adem, lampu-lampu kota mulai menyala, dan area di sekitar pedestrian justru dipenuhi orang. Meski ramai, entah kenapa saya cukup happy duduk di tengah suasana seperti ini.

Buat saya, Titik Nol KM Jogja malam hari bukan sekadar tempat yang dilewati wisatawan ketika jalan-jalan malam. Ada energi yang terasa hidup di sini. 

Orang datang untuk foto-foto, nongkrong, jalan kaki, janjian dengan teman, atau sekadar duduk tanpa tujuan khusus.

Tahu gak, saya yang tinggal di Jogja saja masih sering merasa seperti sedang liburan ketika nongkrong di kawasan ini. Mungkin karena suasana Kota Jogja memang punya cara sendiri untuk bikin kangen.

Begitu Malam Datang, Titik Nol Mulai Berubah

Menjelang malam, kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta perlahan berubah. Aktivitas di jalan tetap berjalan, tetapi suasananya terasa lebih santai. 

Lampu kota membuat bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya terlihat semakin menarik.

Saya sendiri sesekali janjian dengan teman di Titik Nol KM. Gak harus punya agenda khusus. Kadang kami duduk di kursi pedestrian, ngobrol sambil melihat orang berlalu-lalang. 

keramaian Titik Nol KM Jogja di malam hari
Keramaian Titik Nol KM Jogja di malam hari (doc. Riana Dewie)


Ada juga yang memilih duduk di batu-batu bulat yang mengelilingi area Titik Nol.

Tahu gak, justru aktivitas sederhana seperti ini yang menurut saya menjadi salah satu daya tarik Titik Nol Jogja malam. 

Kita gak harus masuk ke tempat nongkrong atau mengeluarkan uang untuk menikmati suasana.

Pedestrian berubah menjadi ruang publik yang mempertemukan banyak orang. 

Ada wisatawan yang baru selesai berjalan-jalan dari Malioboro, warga lokal yang sedang santai, sampai anak muda yang sibuk mencari spot foto malam.

Kalau saya sih suka bagian ini. Duduk sebentar, melihat keramaian, lalu membiarkan waktu berjalan tanpa buru-buru.

Bukan Cuma Wisatawan, Semua Ada di Sini

Salah satu hal yang menarik dari suasana Titik Nol KM malam hari adalah siapa saja bisa menjadi bagian dari keramaian.

Saya sebagai orang Jogja ternyata juga betah nongkrong di sini. Jadi, tempat ini gak cuma milik wisatawan luar kota atau wisatawan mancanegara yang sedang liburan ke Jogja.

suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta malam hari
Suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta malam hari (doc. Riana Dewie)


Ada warga lokal yang sekadar duduk, pasangan yang foto bersama, rombongan keluarga, komunitas, sampai wisatawan yang sengaja mampir setelah menjelajahi kawasan Malioboro malam hari.

Oh ya, dulu ada satu hal yang menurut saya cukup unik. Sesekali muncul penampakan “pocong” atau “kuntilanak” jadi-jadian di sekitar Titik Nol. Bukannya takut, saya malah ingin foto bersama mereka. Hihihihi....

Tentu saja itu bukan hantu sungguhan, melainkan karya anak-anak kreatif yang sengaja membuat suasana semakin seru. 

Kehadiran karakter seperti itu justru memberikan warna tersendiri pada pusat keramaian Yogyakarta.

Sayangnya, belakangan saya sudah jarang menemukan penampakan seperti itu. Padahal, menurut saya, hal-hal kecil semacam ini yang membuat ruang publik terasa hangat dan punya cerita.

Suasana malam Jogja memang punya magnet sendiri. Keramaian, lampu kota, suara orang ngobrol, dan aktivitas wisatawan yang datang silih berganti membuat pusat Kota Yogyakarta terasa hidup.

Kenapa Titik Nol KM Jadi Magnet di Malam Hari?

Kalau sedang mencari wisata malam Jogja, Titik Nol KM bisa menjadi salah satu pilihan yang simpel. Gak perlu itinerary rumit, tinggal datang dan menikmati suasananya.

1. Lokasinya strategis

Titik Nol KM berada di kawasan yang sangat dekat dengan Malioboro dan berbagai tujuan wisata di pusat Kota Yogyakarta. Setelah berjalan-jalan di Malioboro, orang bisa dengan mudah melanjutkan perjalanan ke sini.

2. Gratis untuk menikmati suasananya

Mau duduk, jalan kaki, ngobrol, atau melihat keramaian? Gak harus membeli tiket masuk untuk menikmati ruang publiknya.

Oh ya, ini yang menurut saya bikin Titik Nol KM Yogyakarta malam hari terasa ramah untuk berbagai kalangan. Mau datang sebentar atau berlama-lama, sama-sama bisa.

aktivitas malam di Titik Nol KM Jogja
Aktivitas malam di Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)


3. Banyak aktivitas yang bisa dilihat

Titik Nol bukan tempat yang mengharuskan pengunjung melakukan satu aktivitas tertentu. Ada yang foto-foto, nongkrong, jalan kaki, menikmati kuliner malam di sekitar kawasan, atau sekadar mencari udara segar.

Aktivitas malam di Jogja juga terasa lebih beragam karena kawasan ini menjadi titik pertemuan wisatawan dan warga lokal.

4. Punya banyak spot foto

Lampu kota, pedestrian, bangunan bersejarah, dan suasana keramaian membuat kawasan ini menarik untuk mengabadikan momen.

Bahkan menurut saya, foto yang memperlihatkan keramaian justru sering terasa lebih bercerita dibandingkan foto tempat yang sengaja dibuat sepi.

5. Dekat dengan berbagai destinasi

Mau melanjutkan jalan-jalan ke Malioboro, mencari kuliner, atau sekadar menikmati kehidupan malam Jogja? Dari kawasan Titik Nol, banyak pilihan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tahu gak, salah satu alasan saya suka tempat ini justru karena kita gak perlu buru-buru menentukan harus melakukan apa.

Kopi Pak Pos di kawasan titik nol km Jogja
Kopi Pak Pos di kawasan titik nol km Jogja (doc. Riana Dewie)


Menikmati Jogja Tanpa Harus Punya Agenda

Ada kalanya kepala penuh dan kita cuma butuh keluar rumah.

Gak perlu merencanakan perjalanan jauh. Gak perlu pesan hotel. Gak perlu membeli tiket pesawat. Kadang, cukup jalan ke tempat yang suasananya menyenangkan.

Saya bisa saja dadakan mengajak teman ke Titik Nol. “Yuk, ke sana,” lalu berangkat. Ahahahaha....

Kebetulan jarak dari rumah saya juga cuma sekitar 10 menit perjalanan. Jadi, rasanya sayang kalau tinggal di Jogja tetapi gak memanfaatkan tempat-tempat menarik yang ada di kota sendiri.

Orang dari luar kota rela mengeluarkan biaya dan waktu untuk membeli tiket, mencari penginapan, lalu datang ke Jogja demi merasakan suasananya. Masa sih saya yang tinggal di sini malah jarang menikmati?

Tahu gak, duduk sebentar di Titik Nol KM ternyata cukup membantu saya refreshing. 

Melihat orang berlalu-lalang, menikmati udara malam, dan ngobrol santai bisa membuat beban di kepala terasa sedikit lebih ringan.

Buat saya sih, inilah salah satu bentuk liburan paling sederhana. Gak perlu pergi jauh. Kadang yang dibutuhkan hanya keluar rumah dan membiarkan diri menikmati kota sendiri.

lampu kota dan keramaian Titik Nol KM Yogyakarta
Lampu kota dan keramaian Titik Nol KM Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dan ketika malam semakin larut, saya baru sadar bahwa Titik Nol KM memang bukan sekadar titik di peta.

Tempat ini seperti panggung kecil tempat berbagai cerita bertemu. 

Ada wisatawan yang sedang menikmati liburan, warga lokal yang mencari tempat berkumpul, teman-teman yang menghabiskan malam, dan orang-orang seperti saya yang datang tanpa agenda khusus.

***

Titik Nol KM Yogyakarta malam hari akhirnya menjadi salah satu cara sederhana untuk melihat bagaimana Jogja terus hidup setelah matahari tenggelam.

suasana malam Jogja di kawasan Titik Nol KM
Suasana malam Jogja di kawasan Titik Nol KM (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau suatu malam sedang bingung mau jalan ke mana, coba saja datang ke sini. Siapa tahu, setelah duduk sebentar di tengah keramaian, pikiran juga ikut terasa lebih lega.

Wkwkwkwk.... ternyata jalan-jalan malam gak harus selalu punya tujuan, kan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In olahraga Traditions

Jemparingan Langenastro: Wisata Budaya Jawa Lewat Olahraga Tradisional

Jemparingan Langenastro sebagai wisata budaya Jawa di Jogja

Tahu gak, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman Kompasianer Jogja (KJOG) mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Jemparingan Langenastro. 

Saya awalnya membayangkan aktivitas ini seperti olahraga panahan biasa, hanya saja menggunakan perlengkapan tradisional. 

Ternyata setelah duduk bersila, memegang busur, memasang anak panah, lalu mencoba membidik sasaran, rasanya jauh lebih menarik dari yang saya bayangkan.

Oh ya, saya baru sadar bahwa Jemparingan bukan sekadar olahraga tradisional Jawa yang dilakukan untuk mencari siapa paling jago mengenai sasaran. 

Di dalamnya ada sejarah, tata cara, konsentrasi, olah rasa, sampai filosofi kehidupan yang masih relevan dengan keseharian kita.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat Jemparingan Langenastro bukan hanya sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga sebagai pengalaman wisata budaya Jawa yang menarik. 

Apalagi bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya lokal Yogyakarta dengan cara yang lebih interaktif.

Mengenal Jemparingan, Olahraga dan Budaya Jawa

Secara sederhana, Jemparingan adalah seni panahan tradisional yang berkembang dalam budaya Mataram dan lingkungan Kasultanan Yogyakarta. Kata jemparing sendiri berarti anak panah.

Berbeda dengan panahan modern yang umumnya dilakukan sambil berdiri dan membidik menggunakan mata, Jemparingan memiliki ciri khas berupa posisi duduk bersila. 

Penjemparing duduk bersila saat bermain Jemparingan
Penjemparing duduk bersila saat bermain Jemparingan (doc. Riana Dewie)


Busur atau gendewa juga dipegang dengan posisi khas di depan tubuh, kemudian pemanah mengandalkan rasa dan konsentrasi untuk mengarahkan anak panah menuju sasaran.

Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang. Jemparingan berkembang dari lingkungan bangsawan dan kesatria Mataram sebagai bagian dari latihan ketangkasan. 

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut kemudian semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi salah satu bentuk olahraga sekaligus pelestarian budaya.

Jadi, ini olahraga atau kesenian sih?

Jawabannya bisa keduanya. Dari sisi aktivitas, jelas ada unsur olah raga karena tubuh dilatih untuk mengatur posisi, tarikan busur, keseimbangan, dan ketepatan. 

Namun, Jemparingan juga mengandung unsur budaya dan seni karena tata cara, busana, perlengkapan, serta filosofi yang menyertainya merupakan bagian dari tradisi Jawa.

Jemparingan bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 21 Februari 2024.

Aktivitas panahan tradisional Yogyakarta di Langenastro
Aktivitas panahan tradisional Yogyakarta di Langenastro (doc. Riana Dewie)


Jemparingan Langenastro dan Keseruannya

Jemparingan Langenastro menjadi salah satu pengalaman budaya yang menarik karena peserta gak hanya datang untuk melihat orang memanah. 

Dalam kegiatan yang saya ikuti bersama KJOG, kami juga mendapatkan penjelasan dan diajari dasar-dasar Jemparingan.

Belajar duduk, memegang busur, hingga membidik

Hal pertama yang terasa berbeda tentu saja posisi duduk. Kami duduk bersila dan mulai mengenal perlengkapan Jemparingan, termasuk busur, anak panah, dan sasaran.

Teknik dasar Jemparingan juga gak bisa dilakukan asal tarik lalu lepaskan. Ada cara memegang jemparing, mengatur posisi tubuh, menarik busur, hingga menjaga konsentrasi sebelum anak panah dilepaskan.

Suasana kegiatan Jemparingan di Langenastro Jogja
Suasana kegiatan Jemparingan di Langenastro Jogja (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, bagian yang menurut saya paling menantang justru bukan menarik busurnya, tetapi menjaga pikiran tetap fokus. 

Baru saja merasa sudah siap membidik, tiba-tiba pikiran melayang ke mana-mana. Hihihihi.... ternyata konsentrasi saya masih perlu banyak latihan.

Dalam panahan gaya Mataram, sasaran yang digunakan dikenal sebagai bandulan atau wong-wongan

Cara membidiknya pun memiliki karakter tersendiri karena penjemparing gak mengandalkan pandangan mata seperti pada panahan modern.

Bagi saya, inilah bagian paling seru dari Jemparingan di Langenastro. Ada rasa penasaran setiap kali anak panah dilepaskan. Apakah akan mengenai sasaran? Atau malah melenceng jauh?

Kalau hasilnya belum tepat sasaran sih, jangan buru-buru kecewa. Justru di situlah keseruannya. Kita terdorong untuk mencoba lagi sambil memperbaiki posisi, tarikan, dan fokus.

Lebih dari sekadar mengenai sasaran

Jemparingan juga mengajarkan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Kita harus tenang sebelum melepaskan anak panah. Gak bisa terburu-buru hanya karena ingin segera mengenai sasaran.

Oh ya, menurut saya pengalaman seperti ini yang membuat Jemparingan menarik sebagai aktivitas wisata budaya Jogja. Wisatawan gak cuma melihat pertunjukan atau benda budaya dari kejauhan, tetapi bisa mendapatkan pengalaman langsung mengenal tradisi.

Di balik busur dan anak panah, Jemparingan menyimpan filosofi yang cukup dalam. 

Salah satu ungkapan yang terkenal adalah pamenthanging gandewa pamenthenging cipta, yang kurang lebih mengajarkan hubungan antara membentangkan busur dan memusatkan pikiran.

Konsep ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. 

Kita sering melakukan banyak hal sekaligus, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, bahkan belum selesai membaca satu pesan sudah membuka aplikasi lain.

Pengalaman wisata budaya Jawa bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro
Pengalaman wisata budaya Jawa bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro (doc. Riana Dewie)


Jemparingan justru mengajak kita berhenti sebentar. Duduk, mengatur tubuh, menenangkan pikiran, kemudian fokus pada satu sasaran.

Nilai seperti sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh juga dikenal dalam filosofi budaya Yogyakarta. 

Secara sederhana, sawiji berkaitan dengan konsentrasi, greget dengan semangat yang terarah, sengguh dengan percaya diri tanpa kesombongan, sedangkan ora mingkuh bermakna keteguhan dan pantang mundur.

Tahu gak, nilai-nilai tersebut justru terasa sangat modern. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kita tetap membutuhkan fokus, semangat, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, Jemparingan Langenastro gak cuma melatih ketepatan tangan. Ada latihan mental, konsentrasi, kesabaran, pengendalian diri, dan penghayatan yang ikut terbentuk dari prosesnya.

Menikmati Wisata Budaya Jawa Lewat Jemparingan

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, saya merasa Jemparingan punya potensi besar sebagai bagian dari wisata budaya Yogyakarta. 

Apalagi Yogyakarta memang dikenal sebagai kota yang menawarkan banyak pengalaman budaya, bukan hanya destinasi berupa bangunan atau tempat bersejarah.

Jemparingan bisa menjadi bentuk wisata berbasis budaya yang mengajak wisatawan mengenal tradisi Jawa sambil melakukan aktivitas secara langsung. 

Dari mengenakan ageman Jawa, belajar posisi duduk, mengenal gendewa dan jemparing, sampai memahami filosofi di balik setiap gerakan.

Buat saya pribadi, pengalaman Jemparingan Langenastro terasa cukup memuaskan. 

Ada sensasi menyenangkan ketika akhirnya bisa mengikuti tahapan permainan, meskipun hasil bidikan belum tentu selalu sesuai harapan. Wkwkwkwk.... namanya juga baru belajar!

Lebih dari itu, saya pulang membawa pemahaman bahwa pelestarian budaya gak selalu harus dilakukan dengan cara yang serius dan kaku. 

Budaya juga bisa dikenalkan lewat aktivitas yang menyenangkan, interaktif, dan bisa dinikmati generasi muda maupun wisatawan.

Jajanan pasar tradisional saat kegiatan Jemparingan Langenastro
Jajanan pasar tradisional saat kegiatan Jemparingan Langenastro (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, salah satu hal kecil yang membuat pengalaman bersama tim Langenastro semakin berkesan adalah suguhan jajanan pasar tradisional setelah kegiatan. 

Rasanya sederhana, tetapi justru terasa pas sebagai penutup pengalaman budaya Jawa hari itu.

Nguri-uri Budaya Jawa

Buat saya, inilah esensi nguri-uri budaya Jawa. Tradisi bukan cuma disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dijalankan, dikenalkan, dan diberi ruang untuk hidup di tengah masyarakat.

Jemparingan sebagai warisan budaya juga mengingatkan saya bahwa olahraga bisa menjadi jalan untuk mengenal karakter, sementara budaya bisa menjadi cara untuk memahami kehidupan. 

Dan mungkin, sesekali kita memang perlu duduk tenang, menarik busur, mengarahkan sasaran, lalu belajar kembali tentang arti fokus.

Tertarik Mencoba Jemparingan Langenastro?

Buat kamu yang penasaran ingin mengenal lebih jauh tentang Jemparingan Langenastro, bisa mampir ke Instagram @langenastro.jogja. 

Di sana kamu bisa belajar lebih banyak tentang Jemparingan sekaligus melihat berbagai update kegiatan mereka.

Tim jemparingan Langenastro mengajarkan olahraga tradisional Jemparingan
Tim jemparingan Langenastro mengajarkan olahraga tradisional Jemparingan (doc. Riana Dewie)


Siapa tahu setelah melihat keseruannya, kamu jadi tertarik mencoba langsung, kan? Yuk, kenalan dengan olahraga tradisional Jawa sambil ikut menjaga budaya lokal Yogyakarta tetap hidup!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Dari Momoyo sampai Domino's Pizza, Ini Serunya Berburu Voucher Makanan

Berburu voucher makanan sebelum jajan bersama keluarga

Saya punya satu kebiasaan yang belakangan justru jadi hobi kecil yang menyenangkan: berburu voucher makanan.

Saya termasuk orang yang suka jajan dadakan. Kalau tiba-tiba ingin makan es krim, misalnya, saya gak perlu membuat rencana dari jauh-jauh hari. Kalau memang lagi kepingin, ya tinggal cari tempatnya.

Tapi ada satu hal yang hampir selalu saya lakukan sebelum berangkat: cek promo dulu.

Buat saya, jajan dadakan bukan berarti harus membayar harga penuh.

Jajan Dadakan, Tapi Tetap Cek Promo

Biasanya ketika tiba-tiba ingin makan sesuatu, saya membuka TikTok dan mengecek lokasi. Dari sana saya bisa melihat toko atau restoran di sekitar yang sedang menawarkan promo.

Kalau menemukan merchant yang menarik, saya gak langsung buru-buru membeli. Saya biasanya membandingkan dulu dengan promo yang tersedia di Qpon.

Jadi, TikTok saya cek. Qpon juga saya cek.

Kalau voucher di TikTok lebih murah, saya pilih TikTok. Kalau ternyata Qpon menawarkan harga yang lebih menarik, ya saya pilih Qpon.

Tahu gak, menurut saya justru proses membandingkan ini yang seru. Rasanya seperti punya misi kecil sebelum jajan: mau makan apa, di mana belinya, dan bisa mendapatkan harga paling hemat berapa?

Apalagi kalau jajan bersama keluarga. Selisih harga beberapa ribu rupiah per orang kalau dikumpulkan lumayan juga.

Jadi sekarang kalau tiba-tiba ingin jajan, urutannya kira-kira begini:

Pingin makan → cek promo → bandingkan harga → pilih voucher → berangkat.

Sesederhana itu.

Es Krim Seember Momoyo Jadi Alasan Kumpul Bareng Keluarga

Quality time keluarga sambil menikmati jajanan favorit
Quality time keluarga sambil menikmati jajanan favorit (doc. Riana Dewie)

Salah satu pengalaman berburu voucher makanan yang paling saya ingat adalah ketika tiba-tiba ingin makan es krim Momoyo.

Gak ada rencana khusus. Tiba-tiba saja kepingin es krim, apalagi saat melihat es krim dengan porsi besar yang sedang ramai dibicarakan.

Kalau dimakan sendirian tentu kebanyakan. Akhirnya, sekalian saja mengajak keluarga jajan.

Seperti biasa, saya buka TikTok dan mengecek promo Momoyo di sekitar lokasi. Setelah menemukan penawaran yang menarik, saya bandingkan juga dengan Qpon.

Kalau sudah tahu mana yang lebih menguntungkan, baru deh saya beli vouchernya.

Ini yang saya suka dari berburu voucher. Kita tetap bisa spontan, tetapi gak harus asal membeli.

Begitu sampai di Momoyo, suasananya pun berubah menjadi momen kecil bersama keluarga. Kami duduk, menikmati es krim yang porsinya cukup besar, ngobrol, dan bercanda.

Awalnya cuma ingin makan es krim.

Ternyata dapat bonus quality time.

Menurut saya, kebersamaan seperti ini justru gak harus selalu diwujudkan dalam bentuk liburan atau pergi ke tempat mahal. Duduk bersama sambil menikmati makanan juga bisa menjadi waktu berkualitas.

Karena yang membuat momen berkesan bukan cuma makanannya, tetapi siapa yang menikmatinya bersama kita.

Cara Saya Menggunakan Voucher TikTok

Kalau menemukan promo makanan di TikTok, biasanya saya melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Buka TikTok dan cari merchant yang diinginkan.
    Saya biasanya memanfaatkan fitur lokasi untuk melihat promo makanan di sekitar.

  2. Pilih promo yang menarik.
    Jangan cuma melihat besar diskonnya. Saya juga mengecek harga setelah voucher.

  3. Baca detail dan syarat voucher.
    Perhatikan masa berlaku, outlet yang menerima voucher, minimal pembelian, menu yang termasuk promo, serta ketentuan lainnya.

  4. Beli atau klaim voucher sesuai instruksi.
    Setelah yakin dengan promonya, saya mengikuti proses pembelian atau klaim yang tersedia di TikTok.

  5. Gunakan voucher sesuai ketentuan.
    Saat datang ke merchant, pastikan cara redeem-nya sudah dipahami agar proses pembayaran gak ribet.

Saya selalu berusaha mengecek masa berlaku sebelum membeli. Jangan sampai karena terlalu senang menemukan harga murah, vouchernya malah lupa digunakan.

Cara Saya Menggunakan Voucher dari Qpon

Untuk Qpon, prinsipnya kurang lebih sama, tetapi prosesnya tetap saya cek sesuai ketentuan voucher yang tersedia.

  1. Buka Qpon dan cari makanan yang diinginkan.

  2. Pilih voucher dari merchant yang sesuai.

  3. Bandingkan harga dan manfaat promonya.
    Saya biasanya melihat harga voucher, harga makanan setelah voucher, serta kemungkinan biaya tambahan.

  4. Cek masa berlaku dan syarat penggunaan.
    Pastikan voucher bisa digunakan di outlet yang dituju dan sesuai waktu jajan.

  5. Redeem voucher saat melakukan transaksi.
    Cara penggunaannya bisa berbeda-beda tergantung promo, jadi saya selalu mengikuti petunjuk yang tertera pada voucher.

  6. Beli voucher sesuai instruksi.

Bagi saya, bagian membandingkan TikTok dan Qpon ini justru menyenangkan. Kalau orang lain senang menemukan makanan favorit, saya punya kepuasan tambahan ketika berhasil mendapatkannya dengan harga lebih miring.

Rasanya seperti menang kecil. Wkwkwkwk.

Jangan Cuma Tergoda Harga Murah

Ada satu hal yang menurut saya penting ketika berburu voucher: jangan malas membaca syarat dan ketentuannya.

Promo yang terlihat murah belum tentu paling menguntungkan kalau ternyata ada minimal pembelian, waktu penggunaan terbatas, atau hanya bisa dipakai di outlet tertentu.

Saya biasanya mengecek:

  • masa berlaku voucher;

  • outlet yang menerima voucher;

  • minimal pembelian;

  • waktu penggunaan;

  • menu yang termasuk promo;

  • cara redeem;

  • serta biaya tambahan jika ada.

Dan yang paling penting, jangan membeli hanya karena vouchernya murah.

Kalau memang sedang ingin makan es krim, pizza, atau roti, baru saya cari promonya.

Murah bukan berarti harus borong.

Dari Roti O sampai Domino's Pizza

Ternyata hobi berburu voucher ini gak berhenti di Momoyo.

Saya juga pernah jajan Roti O dengan harga yang lebih miring karena menggunakan voucher.

Begitu juga ketika ingin makan Domino's Pizza. Pizza memang terasa lebih seru kalau dinikmati bersama, jadi ketika menemukan promo yang membuat harganya lebih hemat, rasanya semakin menyenangkan.

Buat saya, voucher bukan alasan untuk terus-menerus jajan.

Saya tetap jajan ketika memang ingin makan sesuatu. Hanya saja, sebelum membayar harga normal, saya mencoba mencari tahu dulu apakah ada promo yang bisa dimanfaatkan.

Lumayan, kan?

Kalau bisa lebih hemat, kenapa harus bayar lebih mahal?

Promo makanan di TikTok untuk mendapatkan harga jajan lebih hemat
Promo makanan di TikTok untuk mendapatkan harga jajan lebih hemat (doc. Riana Dewie)


Makan Bersama Bisa Jadi Quality Time Keluarga

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang membuat saya senang dari berburu voucher bukan cuma soal harga murah.

Ada kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga.

Kadang masing-masing orang terlalu sibuk dengan pekerjaan, sekolah, aktivitas rumah, atau gadget. Akhirnya, waktu untuk duduk dan ngobrol bersama malah semakin sedikit.

Padahal, quality time gak harus selalu mahal.

Makan es krim bersama bisa menjadi quality time. Makan pizza bersama juga bisa. Bahkan membeli roti lalu menikmatinya sambil ngobrol di rumah pun bisa.

Yang penting adalah kehadiran dan kesempatan untuk saling berkomunikasi.

Obrolannya pun gak harus serius.

Bisa dimulai dari hal sederhana seperti, “Es krimnya enak gak?” atau “Siapa yang mau potongan pizza terakhir?”

Dari obrolan kecil seperti itu, percakapan bisa berkembang menjadi cerita tentang kegiatan hari itu, pekerjaan, sekolah, atau hal-hal lain yang sebelumnya gak sempat dibicarakan.

Oh ya, saya juga merasa makanan seperti es krim, roti, atau pizza sebaiknya tetap dinikmati sebagai treat, bukan alasan untuk makan berlebihan.

Promo boleh membuat harga lebih hemat, tetapi bukan berarti kita harus membeli sebanyak-banyaknya.

Justru menurut saya, menjadi pemburu voucher yang cerdas adalah tahu kapan harus membeli dan kapan harus melewatkan promo.

Yang Diburu Ternyata Bukan Cuma Voucher

Es Momoyo untuk dinikmati bersama keluarga


Semakin sering jajan bersama keluarga, saya semakin sadar bahwa makanan sebenarnya cuma menjadi alasan untuk berkumpul.

Dari Momoyo, ada cerita tentang es krim seember.

Dari Roti O, ada cerita jajan sederhana.

Dari Domino's Pizza, ada momen menikmati pizza bersama.

Makanannya berbeda, promonya berbeda, tetapi semuanya punya satu kesamaan: ada waktu yang kami habiskan bersama.

Itulah kenapa sekarang kalau tiba-tiba ingin jajan, saya masih tetap spontan.

Pingin es krim? Cari promo.

Pingin roti? Cek promo.

Pingin pizza? Lihat voucher.

Tapi sebelum membeli, ada satu kebiasaan yang sulit saya tinggalkan:

cek voucher dulu.

Siapa tahu harganya lebih murah.

Siapa tahu bisa lebih hemat.

Dan siapa tahu, dari jajan dadakan itu justru lahir satu cerita kecil yang nantinya akan kami ingat.

Karena pada akhirnya, voucher mungkin hanya membantu menghemat uang.

Tetapi waktu yang kita gunakan untuk berkumpul bersama keluarga adalah sesuatu yang jauh lebih berharga.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wellness

Ruang Tunggu Rumah Sakit yang Mengajarkan tentang Gejala Mata Kering

Ruang Tunggu Rumah Sakit yang Mengajarkanku tentang Gejala Mata Kering

Dulu, saya mengira ruang tunggu rumah sakit hanyalah tempat singgah. Tempat orang-orang duduk sambil menunggu nomor antrean dipanggil, lalu pulang setelah urusannya selesai. 

Tahu gak, saya sama sekali gak menyangka kalau tempat yang terlihat biasa itu justru akan menjadi bagian dari kehidupan saya selama hampir dua tahun. 

Sampai sekarang pun, setiap kali melihat deretan kursi panjang di ruang tunggu rumah sakit, ingatan saya langsung melayang pada begitu banyak momen yang pernah saya lalui bersama Ibu.

Dari Ruang Tunggu, Saya Belajar Banyak Hal

Semua bermula ketika Ibu divonis menderita kanker usus besar stadium 4. Rasanya seperti dunia berhenti beberapa saat. Kaget, sedih, takut, semuanya bercampur menjadi satu. 

Namun setelah mencoba menerima kenyataan, kami sepakat untuk fokus menjalani setiap proses pengobatan sebaik mungkin. 

Sejak saat itu, rumah sakit bukan lagi tempat yang sesekali kami datangi, melainkan menjadi bagian dari rutinitas hidup.

Hampir setiap minggu kami bolak-balik ke rumah sakit. Sekitar jam 12 siang saya sudah bersiap berangkat agar semua proses administrasi bisa selesai lebih awal. 

Setibanya di sana, kami mengambil nomor antrean, mengurus BPJS, menuju laboratorium sesuai arahan dokter, lalu kembali lagi ke ruang tunggu poliklinik. 

Menunggu antrean laboratorium sambil menjaga kesehatan mata
Menunggu antrean laboratorium di ruang tunggu RS (doc. Riana Dewie)


Dokter biasanya baru mulai praktik sekitar jam 3 atau jam 4 sore. Artinya, masih ada waktu berjam-jam yang harus kami habiskan sambil menunggu giliran dipanggil.

Rutinitas itu belum termasuk jadwal kemoterapi setiap dua minggu sekali yang mengharuskan Ibu menjalani rawat inap selama beberapa hari. 

Ada kalanya kadar hemoglobin beliau menurun sehingga harus menjalani transfusi darah dari pagi sampai siang. Dalam seminggu, kami bisa datang ke rumah sakit sampai tiga kali.

Melelahkan? Jujur saja, iya. Tapi saat itu kami sama-sama percaya bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari ikhtiar untuk sembuh.

Kami tetap selfie happy saat menemani ibu transfusi darah
Kami tetap selfie happy saat menemani ibu transfusi darah (doc. Riana Dewie)


Oh ya, kami punya cara sendiri supaya waktu menunggu gak terasa membosankan. Sesekali saya membeli kopi atau es krim di kantin rumah sakit, sementara Ibu hampir selalu menitip manisan kolang-kaling kesukaannya. 

Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari cerita keluarga, rencana sederhana setelah kontrol selesai, sampai hal-hal receh yang kadang membuat kami tertawa. 

Saya sih percaya, suasana hati yang baik juga menjadi penyemangat untuk menjalani proses pengobatan yang panjang. 

Hihihihi... kadang kami malah lupa kalau sebenarnya sedang menunggu giliran bertemu dokter.

Perjalanan yang Tak Pernah Terasa Biasa Lagi

Ada tempat yang dulu selalu ingin saya tinggalkan lebih cepat. Namun sekarang, tempat itu justru paling sering saya rindukan.

Ruang tunggu rumah sakit menjadi saksi begitu banyak cerita yang mungkin gak akan pernah saya lupakan. Di sanalah saya belajar bersabar ketika nomor antrean berjalan sangat pelan. 

Di sanalah saya melihat Ibu sesekali memejamkan mata di sofa panjang sambil mengumpulkan tenaga sebelum bertemu dokter. 

Kami juga sering mengobrol dengan pasien lain yang sama-sama sedang berjuang untuk sembuh. Rasanya seperti saling menguatkan, meski sebelumnya kami gak saling mengenal.

Saat itu, saya menganggap semua ini hanyalah rutinitas yang suatu hari pasti akan berakhir. Yang ada di pikiran saya hanyalah mendampingi Ibu sebaik mungkin hingga beliau kembali sehat. 

Kebersamaan kami selama perjalanan menjalani pengobatan di rumah sakit
Kebersamaan kami selama perjalanan menjalani pengobatan di rumah sakit (doc. Riana Dewie)


Saya gak pernah menyadari bahwa ruang tunggu rumah sakit ternyata sedang mengajarkan banyak hal kepada saya, termasuk tentang pentingnya menghargai setiap momen kecil yang sering kali terasa sepele.

Dan tanpa saya sadari, di tempat itulah saya mulai merasakan tanda-tanda awal gejala mata kering yang kemudian membuat saya lebih peduli terhadap kesehatan mata.

Ketika Mata Mulai Terasa Sepet, Perih, dan Lelah

Tubuh memang bisa beradaptasi dengan rutinitas. Namun, mata sering kali memberi tanda lebih dulu ketika mulai lelah.

Ada satu hal yang dulu sering saya abaikan. Fokus saya selalu tertuju pada kondisi Ibu, jadwal kontrol, hasil laboratorium, atau nomor antrean yang rasanya lama sekali bergerak. 

Sementara itu, saya sendiri jarang memperhatikan kondisi tubuh, termasuk kesehatan mata.

Tahu gak, ruang tunggu rumah sakit ternyata punya tantangan tersendiri. Hampir sepanjang hari kami berada di ruangan ber-AC. Supaya gak kedinginan, saya selalu membawa jaket dari rumah. 

Aktivitas di Depan Layar

Cahaya layar anjungan RS yang sering membuat mata perih
Cahaya layar anjungan RS yang sering membuat mata perih (doc. Riana Dewie)


Di sisi lain, mata juga terus bekerja tanpa saya sadari. Sesekali saya melihat monitor antrean untuk memastikan nomor kami belum terlewat. 

Setelah itu, saya harus mengurus administrasi melalui mesin anjungan dengan layar yang cukup terang. Belum selesai sampai di situ, pekerjaan sebagai blogger juga tetap berjalan. 

Mau gak mau, saya membuka ponsel untuk membalas email, berdiskusi dengan klien, mengecek revisi artikel, bahkan sesekali menyelesaikan pekerjaan sambil menunggu giliran.

Revisi artikel blog sambil menunggu antrean di RS
Revisi artikel blog sambil menunggu antrean di RS (doc. Riana Dewie)


Rutinitas itu berlangsung selama berjam-jam. Saya terlalu lama menatap layar, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, dan sering kali kurang berkedip karena terlalu fokus bekerja. 

Awalnya saya mengira kondisi itu biasa saja. Namun lama-kelamaan mata mulai terasa sepet. Setelah beberapa saat, muncul rasa perih yang membuat mata terasa gak nyaman. 

Menjelang sore, mata juga mulai terasa lelah, apalagi ketika masih harus membaca hasil pemeriksaan atau kembali melihat layar ponsel.

Oh ya, saya sempat mengira semua itu hanya karena kurang tidur atau kelelahan menemani Ibu.

Padahal setelah mencari informasi dari beberapa sumber tepercaya, saya baru memahami bahwa kondisi tersebut merupakan gejala mata kering yang bisa dipicu oleh berbagai faktor. 

Ternyata Mata jadi Kering

Terlalu lama berada di ruangan ber-AC, terlalu lama menatap layar, hingga kurang berkedip saat sedang fokus bekerja ternyata menjadi beberapa penyebab mata kering yang sering gak disadari.

Jujur, saya sempat merasa kesal. Sebel gak, sih? Antrean dokter masih panjang, pekerjaan belum selesai, sementara mata justru terasa makin gak nyaman. 

Rasanya ingin memejamkan mata sebentar, tetapi saya tetap harus sigap ketika nomor antrean dipanggil atau saat Ibu membutuhkan bantuan untuk berpindah ke ruang pemeriksaan.

Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa mata sepet, mata perih, dan mata lelah bukan sekadar keluhan ringan yang bisa diabaikan. 

Hal Sederhana yang Membuat Saya Tetap Nyaman Mendampingi Ibu

Menjaga orang yang kita sayangi juga berarti jangan lupa menjaga diri sendiri.

Saya akhirnya meluangkan waktu untuk mencari tahu kenapa mata saya sering terasa sepet, perih, dan lelah setelah seharian berada di rumah sakit. 

Dari beberapa referensi yang saya baca, saya baru memahami bahwa gejala mata kering dapat terjadi ketika produksi air mata berkurang atau penguapannya terjadi terlalu cepat. 

Aktivitas seperti terlalu lama berada di ruangan ber-AC, terlalu lama menatap layar, hingga kurang berkedip ternyata menjadi beberapa penyebab yang sering gak disadari.

Tahu gak, sejak saat itu saya mulai mengubah beberapa kebiasaan kecil. 

Saya berusaha mengistirahatkan mata di sela-sela aktivitas, mengalihkan pandangan sesaat dari layar ponsel, memperbanyak minum air putih, dan mengingatkan diri sendiri agar lebih sering berkedip. 

Memang terdengar sederhana, tetapi saya merasa kebiasaan-kebiasaan itu cukup membantu menjaga mata tetap nyaman selama mendampingi Ibu.

Karena kontrol ke rumah sakit sudah menjadi rutinitas, saya juga selalu memastikan semua perlengkapan penting sudah masuk ke dalam tas sebelum berangkat.

5 Barang yang Gak Pernah Absen di Dalam Tas Saat Menemani Ibu Kontrol

Nah, saat mengantar ibu kontrol, kami selalu membawa banyak tas. Tak terkecuali tas pribadi saya yang isinya adalah sebagai berikut: 
  1. Map berisi dokumen medis. Mulai dari hasil laboratorium, surat rujukan, hingga resep obat agar mudah dicari ketika dibutuhkan.

  2. Dompet berisi kartu BPJS dan identitas. Karena dua benda ini wajib dibawa setiap kali kontrol.

  3. Charger dan power bank. Mengingat saya sering menyelesaikan pekerjaan sekaligus memantau nomor antrean melalui ponsel, juga hasil cek laboratorium.

  4. Botol minum dan camilan. Termasuk sesekali membeli kopi atau mencarikan manisan kolang-kaling favorit Ibu agar suasana menunggu terasa lebih menyenangkan.

  5. INSTO DRY EYES. Satu benda yang akhirnya menjadi salah satu perlengkapan wajib setelah saya beberapa kali mengalami gejala mata kering selama berada di rumah sakit.

Awalnya saya mengenal INSTO DRY EYES saat mencari informasi tentang cara mengatasi mata kering. 

INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit
INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit (doc. Riana Dewie)


Setelah membaca penjelasannya, saya mengetahui bahwa tetes mata ini dapat membantu memberikan kelembapan pada mata yang kering sehingga membantu meredakan Gejala Mata Kering

Karena merasa aktivitas saya memang cukup berisiko membuat mata cepat lelah, akhirnya saya memutuskan untuk selalu membawanya.

Oh ya, saya juga menyukai ukuran botolnya yang praktis sehingga mudah disimpan di dalam tas tanpa memakan banyak tempat. 

Bersama map hasil pemeriksaan, charger, dompet, dan barang-barang lainnya, INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit.

Setiap kali mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah setelah terlalu lama melihat monitor antrean maupun menatap layar ponsel, saya menggunakan INSTO DRY EYES sesuai petunjuk penggunaan. 

Tetesin mata dengan INSTO DRY EYES biar mata tetap segar & sehat
Tetesin mata dengan INSTO DRY EYES biar mata tetap segar & sehat di RS (doc. Riana Dewie)

Mata terasa lebih segar & nyaman sehingga saya tetap bisa fokus mendampingi Ibu, mengurus administrasi, maupun menyelesaikan pekerjaan yang memang gak bisa ditunda.

Saya sih sekarang percaya bahwa menjaga kesehatan mata bukan hanya soal kenyamanan diri sendiri. 

Mata yang nyaman membantu saya tetap produktif, tetap fokus, dan yang paling penting, bisa hadir sepenuhnya untuk menemani orang yang saya sayangi di setiap proses pengobatan yang kami jalani bersama.

Tak Ada Perjalanan yang Benar-Benar Sia-Sia

Beberapa kenangan memang gak bisa diulang, tetapi pelajarannya akan selalu saya bawa.

Ada satu hari ketika saya kembali memasuki parkiran bawah tanah rumah sakit yang begitu akrab. Langkah kaki saya masih terasa otomatis. 

Suasana parkiran RS dimana saya mengantar ibu berobat
Suasana parkiran RS dimana saya mengantar ibu berobat (doc. Riana Dewie)

Rasanya seperti sebentar lagi saya akan mengambil kursi roda, membantu Ibu turun dari mobil, lalu berjalan menuju ruang administrasi seperti biasanya.

Namun beberapa detik kemudian saya tersadar.

Kali ini saya datang bukan untuk menemani Ibu kontrol.

Saya datang untuk mengurus beberapa berkas setelah Ibu berpulang ke rumah Tuhan pada 3 Juli 2026.

Jujur, rasanya campur aduk. Lorong yang sama, lift yang sama, ruang tunggu yang sama, bahkan aroma khas rumah sakit itu masih sama. Bedanya, kini saya berjalan sendirian. 

Tiba-tiba semua kenangan bermunculan begitu saja. 

Mendorong kursi roda naik turun lift, membawa beberapa tas sekaligus, membantu memindahkan Ibu saat kondisi tubuhnya sedang drop, sampai sesekali salah mengarahkan kursi roda dan malah menabrak sudut dinding. 

Hihihihi... mengingatnya sekarang justru membuat saya tersenyum. Hal-hal sederhana seperti itulah yang paling saya rindukan.

Tahu gak, selama hampir dua tahun saya selalu menganggap rutinitas itu melelahkan. 

Berangkat siang, pulang malam, menunggu antrean panjang, berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, bahkan kembali lagi beberapa hari kemudian.

Saya sering berharap semua proses itu segera selesai karena artinya kondisi Ibu sudah membaik.

Nyatanya, yang berakhir justru rutinitas itu.

Ternyata Saya Merindukan Momen itu....

Kini saya merindukan hal-hal yang dulu terasa biasa. 

Duduk berdampingan di ruang tunggu, mendengar Ibu bertanya nomor antrean sudah sampai mana, membeli kopi sambil menunggu giliran, atau mencarikan manisan kolang-kaling kesukaannya. 

Manisan kolang-kaling kesukaan ibu, belinya di kantin (doc. Riana Dewie)
Manisan kolang-kaling kesukaan ibu, belinya di kantin RS (doc. Riana Dewie)


Momen-momen sederhana itulah yang sekarang menjadi kenangan paling berharga.

Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa mendampingi orang yang kita sayangi juga berarti tetap menjaga diri sendiri. 

Mata yang sehat membuat saya bisa tetap fokus, nyaman, dan sigap menemani setiap proses pengobatan. Karena itulah, sampai sekarang saya masih menyediakan INSTO DRY EYES di dalam tas. 

Benda kecil itu mengingatkan saya pada perjalanan panjang yang pernah kami lalui bersama. 

Ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah akibat terlalu lama berada di ruangan ber-AC maupun terlalu lama menatap layar, saya menggunakan INSTO DRY EYES untuk membantu meredakan gejala mata kering agar aktivitas tetap berjalan dengan nyaman.

Bagi saya, #InstoDryEyes, #BebasMataKering, dan #MataSePeLeJanganSepelein menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mata juga berarti menjaga setiap momen berharga bersama orang-orang yang kita sayangi. 

Akhirnya, ibu kami sudah gak sakit lagi
Akhirnya, ibu kami sudah gak sakit lagi (doc. Riana Dewie)


Karena pada akhirnya, bukan hanya perjalanan yang akan kita kenang, tetapi juga setiap tatapan, senyuman, dan kebersamaan yang pernah kita miliki. 

Jadi, jangan sampai gejala mata kering yang terlihat sepele justru mengganggu kesempatan kita untuk hadir sepenuhnya di sisi mereka.

***

Kalau hari ini kamu masih memiliki kesempatan menemani orang tua, pasangan, anak, atau sahabat menjalani momen penting dalam hidupnya, nikmatilah setiap detiknya. 

Menjaga kesehatan mata mungkin terdengar sederhana, tetapi dari pengalaman saya, hal sederhana itu bisa membantu kita menikmati setiap pelukan, senyuman, dan percakapan yang suatu hari nanti akan berubah menjadi kenangan yang paling dirindukan.





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Saya Bukan Pecinta Kopi, Tapi Tetap Suka Minum Kopi

Bukan pecinta kopi menikmati secangkir kopi di coffee shop yang nyaman.

Tahu gak, setiap mampir ke coffee shop, sekitar 75% pesanan saya sebenarnya adalah hot chocolate. Entah kenapa, minuman itu selalu terasa lebih aman di lidah. 

Sisanya? Saya justru memilih memesan kopi. Agak membingungkan memang, karena saya sendiri merasa bukan pecinta kopi.

Ditambah lagi, saya gak paham soal dunia perkopian. Saya juga bukan orang yang hafal istilah single origin, light roast, atau perbedaan berbagai jenis biji kopi

Meski begitu, sesekali saya tetap ingin menikmati secangkir kopi. Bukan karena ingin terlihat keren atau mengikuti tren kopi kekinian, tapi memang lagi pengin saja.

Lucunya, saya juga cukup sensitif dengan kafein. Minum kopi terlalu sore atau malam sering berujung susah tidur

Walaupun sudah tahu akibatnya, sesekali saya tetap memesan kopi saat sedang bekerja, bertemu teman, atau menikmati suasana coffee shop

Mungkin karena bagi saya, kopi bukan cuma soal rasanya, tetapi juga tentang momen yang menyertainya.

Saya Bukan Orang yang Paham Dunia Kopi

Kalau ditanya soal jenis kopi, saya mungkin bakal bikin para pecinta kopi geleng-geleng kepala. 

Arabika, robusta, atau berbagai istilah seperti single origin, light roast, hingga cupping? Wah, jangan tanya saya ya. Saya benar-benar gak paham.

Oh ya, saya juga bukan tipe orang yang bisa menebak karakter kopi dari aroma atau cara penyeduhannya. 

Buat saya sih, menikmati kopi gak harus diawali dengan pengetahuan yang mendalam. Selama rasanya enak di lidah, ya sudah, saya nikmati saja.

Saya lebih sering memilih kopi yang rasanya manis, seperti kopi susu, latte, atau cappuccino

Sesekali memang mencoba americano atau kopi hitam, tapi lidah saya masih belum terlalu akrab dengan rasa pahitnya.

Tahu gak, justru karena gak punya standar tinggi soal kopi, saya jadi lebih santai saat berkunjung ke coffee shop

Saya gak sibuk mencari tahu siapa barista yang meraciknya atau dari mana asal biji kopinya. Yang penting suasananya nyaman, kopinya enak, dan saya bisa menikmati momennya.

Kalau ke Coffee Shop, Sesekali Ingin Memesan Kopi

Saya termasuk orang yang gak terlalu sering pergi ke coffee shop sendirian. 

Biasanya justru diajak teman, entah untuk sekadar ngobrol santai, meeting dengan klien, mencari suasana baru, atau bekerja sambil membuka laptop. 

Dibanding bekerja di rumah terus, sesekali pindah tempat memang bisa jadi mood booster tersendiri.

Tahu gak, suasana coffee shop yang saya sukai sebenarnya sederhana. Saya lebih nyaman di tempat yang tenang, gak terlalu ramai, dan pengunjungnya sibuk dengan aktivitas masing-masing. 

Ada yang mengerjakan tugas, rapat daring, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir kopi. Suasana seperti itu justru bikin saya lebih mudah fokus saat menulis.

Bekerja di coffee shop juga sering memberi ide-ide baru. Entah kenapa, suasana yang berbeda membuat pikiran terasa lebih segar. 

Apalagi ditemani minuman favorit dan camilan ringan, rasanya pekerjaan jadi lebih cepat selesai.

1. Nyore Coffee & Space, Tempat Meeting yang Nyaman

Es kopi di Nyore Coffee & Space Yogyakarta.
Es kopi di Nyore Coffee & Space Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Salah satu coffee shop favorit yang paling sering saya datangi adalah Nyore Coffee & Space di kawasan Tugu Jogja. Lokasinya strategis dan cukup mudah dijangkau, jadi sering menjadi pilihan saat ada meeting dengan klien.

Yang paling saya suka sih suasananya. Pilihan tempat duduknya cukup banyak, mulai dari meja biasa sampai sofa yang nyaman untuk ngobrol lebih lama. Ada juga area depan yang didominasi dinding kaca. Buat saya, ruangan ini terasa lebih tenang dan hampir seperti memiliki ruang privat sendiri.

Saat meeting bareng teman di Nyore Coffee & Space Yogyakarta
Saat meeting bareng teman di Nyore Coffee & Space Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Soal kopinya? Enak. Tapi jangan minta saya mendeskripsikan rasa dengan istilah-istilah ala pecinta kopi, ya. Saya cuma bisa bilang rasanya pas di lidah dan nyaman dinikmati sambil bekerja atau berdiskusi.

2. Fore Coffee, Awalnya Coba di Solo

Meski gerai Fore Coffee sudah cukup banyak di Jogja, pengalaman pertama saya justru terjadi saat berkunjung ke salah satu mal di Solo.

Ukuran gerainya memang gak terlalu besar, tetapi pengunjungnya cukup ramai. Saya penasaran karena banyak teman yang merekomendasikannya. Setelah mencoba, ternyata memang rasanya cocok di lidah saya.

Belakangan ini saya juga cukup sering menerima kiriman Fore Coffee dalam kemasan botol dari sahabat atau saudara. Praktis tinggal diminum di rumah tanpa perlu keluar lagi.

Sebotol kopi dari Fore Coffee kiriman saudara
Sebotol kopi dari Fore Coffee kiriman saudara (doc. Riana Dewie)


Enak sih, apalagi varian kopi susu yang rasanya lembut dan manis. Sayangnya, saya tetap harus membatasi diri. Sedikit saja kebanyakan minum, malamnya bisa susah tidur. Hihihihi....

3. Talakopi, Favorit Baru Dekat Kampus

Belum lama ini saya juga mampir ke Talakopi yang berada di sekitar kawasan UMY Yogyakarta.

Tempatnya cukup luas dengan bangunan dua lantai. Pilihan areanya juga beragam, mulai dari ruang ber-AC, area outdoor, sampai rooftop yang nyaman untuk menikmati sore. 

Suasana Talakopi yang tenang untuk bekerja sambil menikmati kopi
Suasana Talakopi yang tenang untuk bekerja sambil menikmati kopi (doc. Riana Dewie)

Karena lokasinya dekat kampus, suasananya didominasi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau berdiskusi bersama teman.

Saya sendiri waktu itu memilih menu sea salt. Rasanya gurih, lembut, dan menurut saya cukup unik dibanding beberapa minuman kopi yang pernah saya coba sebelumnya.

Menu sea salt favorit di Talakopi dekat Kampus UMY Yogyakarta.
Menu sea salt favorit di Talakopi dekat Kampus UMY Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


4. Roti O, Teman Menunggu di RS Panti Rapih

Ada satu tempat lagi yang cukup berkesan buat saya, yaitu outlet Roti O yang berada di RS Panti Rapih Yogyakarta. 

Memang bukan coffee shop dengan tempat duduk yang luas, tetapi setiap berkunjung ke sana selalu mengingatkan saya pada satu fase dalam hidup.

Dulu, saat ibu menjalani kontrol di rumah sakit, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu. Daripada hanya duduk di ruang tunggu, saya biasanya membeli kopi dan roti di Roti O. 

Kopi Roti O menjadi pilihan saat nongkrong di Rumah Sakit
Kopi Roti O menjadi pilihan saat nongkrong di Rumah Sakit  (doc. Riana Dewie)


Sederhana memang, tetapi perpaduan kopi hangat dan roti yang baru keluar dari oven cukup membuat suasana menunggu terasa lebih nyaman.

Seperti biasa, saya gak bisa menjelaskan detail rasanya seperti para pecinta kopi. Yang saya tahu, rasanya enak di lidah dan pas dinikmati sambil menunggu waktu berlalu.

Padahal Saya Sudah Tahu Akibatnya

Saya selalu heran dengan diri sendiri. Sudah tahu efeknya, sudah berkali-kali mengalaminya, tapi tetap saja sesekali tergoda membeli kopi.

Saya termasuk orang yang cukup sensitif terhadap kafein. Jadi, kalau minum kopi menjelang sore atau malam, besar kemungkinan saya bakal susah tidur. 

Bukannya mengantuk, saya malah masih segar, akhirnya guling-guling di kasur sambil scroll media sosial sampai dini hari.

Tahu gak, yang bikin saya lebih heran lagi, siang harinya pun saya sering tetap gak bisa tidur meski badan sudah capek. 

Rasanya ingin istirahat, tapi mata masih saja melek. Alhasil, besoknya badan terasa kurang segar dan aktivitas pun jadi kurang maksimal.

Saya iri sih sama orang-orang yang tetap bisa tidur nyenyak setelah ngopi malam. Sementara saya harus pintar memilih waktu kalau sedang ingin menikmati secangkir kopi.

Meski begitu, sesekali aturan itu tetap saya langgar juga. Wkwkwkwk.... Apalagi sekarang pilihan minuman kopi semakin beragam. 

Ada kopi susu, latte, sampai berbagai varian dengan rasa manis yang memang lebih cocok di lidah saya.

Oh ya, saya gak pernah memaksakan diri untuk menikmati kopi yang terlalu pahit. Saya lebih suka kopi yang rasanya ringan dan mudah diterima di lidah. 

Mungkin karena sejak awal tujuan saya bukan menjadi ahli kopi, melainkan sekadar menikmati momennya.

Saya rasa setiap orang memang punya toleransi kafein yang berbeda. Ada yang tetap bisa tidur nyenyak setelah ngopi malam, sementara saya harus siap menerima risiko begadang. 

Walaupun begitu, entah kenapa saya tetap suka memesan kopi sesekali. Mungkin karena bagi saya, secangkir kopi selalu punya cerita yang membuatnya layak dinikmati.

Buat Saya, Kopi Bukan Sekadar Minuman

Menikmati secangkir kopi saat me time di sudut coffee shop.
Menikmati secangkir kopi saat me time di sudut coffee shop (Doc. Riana Dewie)

Seiring waktu, saya sadar bahwa alasan minum kopi ternyata bukan semata-mata karena rasanya. Justru yang paling saya nikmati adalah momen yang hadir saat secangkir kopi menemani berbagai aktivitas. 

Mungkin itulah kenapa saya tetap suka minum kopi meski mengaku bukan pecinta kopi.

1. Teman Menulis Artikel

Saya cukup sering membawa laptop ke coffee shop saat sedang mengerjakan artikel. Entah kenapa, suasana yang tenang membuat ide mengalir lebih lancar. 

Sesekali saya berhenti mengetik hanya untuk menyeruput kopi hangat, lalu kembali melanjutkan tulisan.

Bekerja di coffee shop memang gak selalu membuat pekerjaan selesai lebih cepat. Namun, suasana baru sering kali menjadi mood booster yang membantu saya lebih fokus dan menikmati proses menulis.

2. Teman Meeting yang Santai

Selain untuk bekerja sendiri, saya juga cukup sering bertemu klien atau teman di coffee shop. Suasananya terasa lebih santai dibanding ruang rapat yang formal, sehingga obrolan pun mengalir lebih nyaman.

Buat saya sih, secangkir kopi atau hot chocolate sering menjadi pelengkap saat berdiskusi. Kadang justru ide-ide baru muncul di tengah obrolan ringan seperti itu.

3. Teman "Me Time"

Oh ya, sesekali saya juga menikmati datang ke coffee shop sendirian. Duduk di sudut ruangan, menikmati minuman favorit, sambil melihat orang lalu-lalang ternyata cukup menyenangkan.

Ada kalanya saya membuka laptop, membaca beberapa catatan, atau justru membiarkan pikiran melayang ke mana-mana. 

Bahkan, kadang malah KSBB alias kelingan sing biyen-biyen—teringat cerita-cerita lama. Hihihihi.... Rasanya sederhana, tapi cukup ampuh untuk healing tipis-tipis setelah menjalani hari yang padat.

Bukan pecinta kopi tetap suka minum kopi karena menikmati suasana dan momennya
Bukan pecinta kopi tetap suka minum kopi karena menikmati suasana dan momennya (doc. Riana Dewie)


Pada akhirnya, saya sadar bahwa saya mungkin memang bukan orang yang mengerti seluk-beluk kopi. 

Saya juga belum tentu bisa membedakan rasa latte, cappuccino, atau americano secara detail. Namun, itu gak pernah mengurangi kesenangan saya saat menikmati secangkir kopi di waktu yang tepat.

Tidak semua orang yang memesan kopi adalah pecinta kopi. Ada juga yang sekadar menyukai suasana, aromanya, atau momen yang tercipta bersama secangkir kopi. 

Dan mungkin, saya termasuk salah satunya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments