Ada kalanya rencana jalan-jalan justru muncul ketika kita sama sekali gak sedang merencanakannya. Begitu juga pengalaman saya berburu senja di Geblek Pari Kulon Progo.
Berawal dari sebuah telepon dadakan, sore yang awalnya biasa saja berubah menjadi kesempatan menikmati hamparan sawah, pegunungan, kuliner lokal, dan pemandangan senja dari perspektif drone.
Tahu gak, saya memang punya kelemahan terhadap pemandangan alam, terutama saat matahari mulai turun dan cahaya keemasan menyentuh hamparan hijau.
Rasanya ada saja alasan untuk berhenti sejenak, mengeluarkan kamera, lalu mengabadikan momen.
Kali ini, pengalaman tersebut terasa lebih istimewa karena saya bisa menyaksikan keindahan alam dari dua sudut pandang sekaligus: langsung dari lokasi dan melalui layar drone.
1. Geblek Pari, Pilihan untuk Menikmati Sore di Kulon Progo
Singkat cerita, siang itu saya sedang berziarah ke Gua Maria di Klaten ketika sebuah telepon masuk. Ada ajakan untuk nge-drone di Kulon Progo pada sore harinya.
Wah, tawaran yang cukup sulit ditolak, apalagi saya memang senang menikmati suasana alam terbuka.
Saat ditanya mau ke mana, ternyata ada dua pilihan tempat dengan bentangan alam yang menarik untuk dijelajahi menggunakan drone. Setelah mempertimbangkan suasana dan pemandangannya, akhirnya kami memilih Geblek Pari.
Begitu tiba, kesan pertama saya adalah, wow, tempatnya menyenangkan! Hamparan sawah dan latar pegunungan langsung mencuri perhatian. Buat saya yang menyukai wisata alam, kombinasi seperti ini punya daya tarik tersendiri.
Gak perlu dekorasi yang berlebihan, pemandangan alami saja sudah bisa membuat suasana terasa istimewa.
Geblek Pari menjadi salah satu pilihan destinasi wisata Kulon Progo untuk menikmati suasana pedesaan sambil bersantai dan mencicipi kuliner.
Area terbuka dengan pemandangan hijau memberikan pengalaman yang berbeda dari menghabiskan waktu di tengah keramaian kota.
Tahu gak, salah satu hal yang membuat saya betah adalah suasananya yang terasa hidup. Ada anak-anak berlarian, pengunjung bercengkerama, dan orang-orang yang duduk santai menikmati waktu bersama keluarga.
Di beberapa area tersedia kursi dan gazebo yang bisa dimanfaatkan untuk duduk sambil menyantap makanan.
Udara sore yang terasa nyaman juga membuat saya ingin berjalan lebih lama.
Buat pencinta pemandangan hijau, Geblek Pari sore hari bisa menjadi pilihan untuk melepas penat tanpa harus menyusun agenda liburan yang rumit.
2. Menunggu Senja Sambil Menikmati Suasana Geblek Pari
Sebelum berburu senja, tentu ada ritual kecil yang gak boleh dilewatkan: jalan-jalan sambil mengambil foto. Saya memilih berfoto di sekitar sawah dengan latar belakang pegunungan.
Hasilnya? Sederhana, tetapi justru itu yang saya suka. Ada hamparan hijau, langit terbuka, dan suasana pedesaan yang terasa menenangkan.
Di kawasan ini, pengunjung juga bisa menjumpai sepeda listrik yang disewakan untuk berkeliling. Aktivitas tersebut bisa menjadi alternatif bagi yang ingin menikmati area sekitar tanpa terlalu banyak berjalan kaki.
Namun, saya memilih berjalan santai saja karena tujuan utama sore itu memang menikmati suasana, bukan mengejar banyak tempat dalam satu kunjungan.
Oh ya, buat saya, pengalaman nyore gak selalu harus diisi dengan aktivitas yang padat. Kadang, cukup berjalan perlahan, memperhatikan pemandangan, dan mengambil beberapa foto sudah menyenangkan.
Ada semacam jeda kecil dari rutinitas yang biasanya membuat kepala penuh dengan urusan pekerjaan.
Menikmati Golden Hour yang Bikin Susah Beranjak
Momen yang paling saya tunggu akhirnya datang. Cahaya matahari mulai berubah, perlahan menjadi lebih hangat dan keemasan. Inilah golden hour, waktu menjelang matahari terbenam ketika cahaya alami bisa memberikan kesan dramatis pada foto maupun video.
Cantik banget, sih! Rasanya sudah lama saya gak menikmati golden hour seindah itu. Hamparan sawah, siluet pegunungan, dan perubahan warna langit menciptakan pemandangan yang membuat saya ingin berhenti sejenak dari segala kesibukan.
Saya pun bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan menikmati keindahan seperti ini. Hal sederhana yang terkadang kita anggap biasa ternyata bisa terasa begitu berharga ketika benar-benar diperhatikan.
Sambil menikmati suasana, kami memesan beberapa makanan dan minuman. Ada nasi goreng telur, pisang goreng, serta geblek, camilan khas Kulon Progo berbahan dasar pati singkong.
Untuk minuman, pilihannya juga beragam, mulai dari wedang tape, susu jahe, kopi, hingga es dawet dan es cendol.
Menikmati makanan sambil memandangi pemandangan terbuka punya sensasi tersendiri. Apalagi setelah berjalan-jalan dan mengambil foto, duduk sejenak sambil menyantap hidangan terasa makin nikmat. Wkwkwkwk.... ternyata agenda berburu senja juga perlu didukung urusan perut!
3. Berburu Senja dari Ketinggian Lewat Drone
Salah satu alasan kunjungan kali ini terasa berbeda adalah kehadiran drone yang dibawa adik ipar saya. Kebetulan, ia memang membawa perangkat tersebut untuk membuat konten di lokasi ini.
Saya pun berkesempatan melihat Geblek Pari dari perspektif yang selama ini jarang saya nikmati secara langsung.
Menyiapkan Drone Sebelum Matahari Terbenam
Menerbangkan drone untuk merekam pemandangan saat senja membutuhkan perencanaan waktu. Golden hour berlangsung relatif singkat, sehingga operator perlu memperhatikan kondisi cahaya, cuaca, arah angin, dan daya baterai.
Area terbuka memang menarik untuk pengambilan gambar, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas. Sebelum menerbangkan drone, penting untuk memastikan lokasi aman, memperhatikan keberadaan pengunjung, serta mematuhi aturan penerbangan yang berlaku.
Hindari pula menerbangkan drone terlalu dekat dengan orang lain atau melintasi area yang berisiko.
Dalam kunjungan ini, adik ipar saya yang mengendalikan drone. Saya menikmati prosesnya sambil melihat bagaimana bentangan alam yang tampak biasa dari permukaan tanah dapat berubah menjadi komposisi visual yang menarik ketika dilihat dari atas.
Menangkap Pesona Geblek Pari dari Udara
Ternyata, menyaksikan proses perekaman foto udara dan video aerial secara langsung itu menyenangkan. Dari perspektif ketinggian, pola hamparan sawah terlihat lebih jelas.
Bentangan lahan, garis pematang, serta latar pegunungan membentuk pemandangan yang berbeda dibandingkan ketika kita berdiri di bawahnya.
Oh ya, bagian paling seru adalah ketika hasil rekaman mulai diperlihatkan. Saya langsung girang melihatnya!
Wkwkwkwk.... ternyata pemandangan yang sudah terasa indah dari bawah bisa menghadirkan kejutan lain saat dilihat dari udara.
Bukan berarti hasil drone selalu lebih bagus daripada foto biasa. Keduanya punya kelebihan masing-masing.
Foto dari permukaan tanah bisa menangkap detail, suasana, dan ekspresi manusia, sedangkan drone memberikan gambaran lebih luas tentang lanskap.
Bagi saya, justru perpaduan dua perspektif inilah yang menarik. Kita bisa menikmati langsung udara sore dan suasana sekitar, kemudian melihat kembali keindahan tempat yang sama melalui hasil rekaman dari ketinggian.
Jika kamu gemar fotografi atau membuat konten perjalanan, pengalaman seperti ini bisa menjadi cara untuk mengeksplorasi destinasi wisata dengan pendekatan visual yang berbeda.
Namun, tanpa drone sekalipun, menikmati senja di Geblek Pari tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.
4. Geblek Pari dan Cerita Sore yang Berkesan
Ada sesuatu yang menyenangkan dari perjalanan spontan seperti ini. Gak perlu rencana panjang, tiket mahal, atau agenda yang terlalu padat.
Terkadang, sebuah ajakan sederhana sudah cukup untuk membawa kita pada pengalaman baru yang menyegarkan pikiran.
Buat saya, nyore di Kulon Progo bukan semata-mata tentang mendapatkan foto sunset yang bagus.
Ada kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menikmati makanan lokal, mengobrol dengan keluarga, dan menyadari bahwa hidup juga punya banyak hal kecil yang layak disyukuri.
Tahu gak, menikmati waktu luang seperti ini juga mengingatkan saya bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk bernapas. Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai persoalan memang gak bisa selalu dihindari.
Namun, sesekali mengambil jeda bisa membantu kita kembali menghadapi semuanya dengan pikiran yang lebih segar.
Di tengah rasa syukur itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara kita di Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan.
Ketika saya masih bisa menikmati udara sore dan pemandangan alam dengan nyaman di kota Jogja, ada masyarakat yang harus menghadapi kondisi lingkungan yang mengganggu aktivitas dan kualitas udara mereka.
Saya berharap kebakaran hutan bisa segera tertangani, masyarakat yang terdampak mendapat perlindungan, dan alam yang rusak dapat dipulihkan.
Semoga kita juga semakin peduli terhadap lingkungan, sebab udara bersih dan alam yang sehat bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan kebutuhan bersama.
***
Sore itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda menerbangkan drone. Ada pemandangan indah, makanan sederhana, tawa kecil, dan pengingat untuk lebih menghargai kesempatan menikmati alam. Rasanya menyenangkan bisa pulang membawa cerita, bukan hanya foto dan video.
Jadi, jika suatu hari kamu ingin menikmati wisata sore hari di Kulon Progo, Geblek Pari bisa masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi.
Kamu bisa datang untuk bersantai, mencicipi kuliner lokal, mengambil foto, atau sekadar duduk menikmati perubahan warna langit menjelang malam.
Gak harus membawa drone untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan. Terkadang, cukup hadir sepenuhnya, menikmati suasana, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sudah menjadi hadiah kecil yang berarti.
Oh ya, semoga kita selalu punya kesempatan untuk menikmati senja, menjaga alam, dan mensyukuri hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian.
Karena pada akhirnya, perjalanan yang menyenangkan bukan cuma soal seberapa jauh kita pergi, tetapi juga tentang apa yang kita rasakan dan pelajari selama perjalanan itu.























.png)