Saya gak tahu sudah berapa kali saya datang ke Pasar Ngasem. Yang jelas, tempat ini sudah akrab sejak saya masih kecil.
Waktu itu, orang tua saya sempat ngontrak rumah di kawasan Taman Sari sampai saya duduk di kelas 3 SD. Jadi, Pasar Ngasem bukan sekadar nama tempat yang baru saya kenal ketika ikut Walking Tour.
Dulu, saya sering diajak ibu belanja jajan pasar sekaligus membeli sayur untuk dimasak di rumah. Saya juga masih ingat ada ikan-ikan lucu di akuarium dan burung yang diperjualbelikan.
Namanya anak kecil, melihat ikan warna-warni dan burung berkicau di pasar tentu lebih menarik daripada sekadar menemani ibu belanja. Hihihihi....
Bertahun-tahun kemudian, saya kembali datang ke Pasar Ngasem sebagai peserta Walking Tour Sumbu Filosofi. Bedanya, kali ini saya datang dengan membawa rasa penasaran baru.
Dari penjelasan guide, saya baru tahu bahwa tempat yang sejak kecil saya kenal sebagai pasar ternyata punya perjalanan yang jauh lebih panjang.
Tahu gak, kawasan yang sekarang menjadi Pasar Ngasem Yogyakarta dulunya merupakan bagian dari danau buatan atau segaran di kompleks Taman Sari.
Jadi, sebelum ada aktivitas jual beli seperti yang saya kenal sejak kecil, kawasan ini justru merupakan bagian dari lanskap air milik Keraton Yogyakarta.
Kali Ini Saya Melihat Pasar Ngasem dengan Cara Berbeda
Lokasi Pasar Ngasem memang sangat dekat dengan Taman Sari. Keduanya berada di kawasan Njeron Benteng yang membuat perjalanan ke sini terasa seperti masuk ke lapisan sejarah Yogyakarta.
Dalam Walking Tour Pasar Ngasem kali ini, saya jadi gak cuma melihat los pedagang atau membayangkan menu sarapan. Saya mulai memperhatikan hubungan pasar dengan bangunan-bangunan Keraton di sekitarnya.
Oh ya, dari sini pula saya baru memahami kenapa keberadaan Pasar Ngasem sebenarnya gak bisa dipisahkan dari Taman Sari Yogyakarta.
Dahulu, area di sekitar pasar sekarang merupakan bagian dari segaran, yaitu danau buatan yang mengelilingi sejumlah bangunan di kompleks Taman Sari.
Di tengah kawasan tersebut terdapat Pulo Kenanga, yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan. Dari kawasan Pasar Ngasem sekarang, posisi Pulo Kenanga memang masih bisa dikenali di bagian selatan.
Ada pula cerita tentang akses berupa jembatan yang menghubungkan kawasan sekitar danau. Jadi, membayangkan tempat ini pada masa lalu memang cukup berbeda dengan suasana pasar yang saya lihat sekarang.
Saya sih suka bagian ini karena sejarahnya terasa lebih mudah dipahami ketika kita berdiri langsung di lokasinya.
Kita gak sedang membayangkan sebuah danau yang entah ada di mana, tetapi berada di atas kawasan yang dulu merupakan bagian dari danau tersebut.
Dari Danau Buatan, Berubah Menjadi Pasar
Lalu bagaimana sebuah kawasan danau bisa berubah menjadi Pasar Ngasem?
Seiring waktu, kondisi kawasan mengalami perubahan. Danau yang dahulu menjadi bagian penting dari Taman Sari akhirnya surut dan kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman sekaligus ruang aktivitas masyarakat.
Dari sinilah pasar kemudian tumbuh. Catatan sejarah menyebut Pasar Ngasem sudah dikenal sejak awal abad ke-19. Bahkan, aktivitas jual beli burung telah tercatat sejak sekitar 1809.
Pada sekitar 1960-an, keberadaan pedagang burung dari Pasar Beringharjo yang dipindahkan ke Ngasem semakin membuat pasar ini identik sebagai pasar burung.
Tahu gak, Pasar Ngasem dulu pasar burung bahkan begitu terkenal sampai menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.
Burung bukan hanya dipandang sebagai hewan peliharaan, tetapi juga memiliki kaitan dengan budaya dan status sosial masyarakat Jawa.
Namun, fungsi Pasar Ngasem sebenarnya lebih luas. Di sini juga ada pedagang ikan, hewan, sembako, makanan, sayur, buah, serta berbagai kebutuhan masyarakat.
Artinya, sejak awal berkembang sebagai pasar, tempat ini bukan hanya menjadi ruang untuk hobi memelihara burung. Pasar Ngasem juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga sekitar.
Ketika Pasar Burung Dipindahkan
Memasuki masa yang lebih modern, jumlah pedagang dan aktivitas jual beli satwa semakin berkembang.
Lokasi Pasar Ngasem yang berada dekat kawasan wisata Taman Sari kemudian menghadapi persoalan kepadatan dan kenyamanan lingkungan.
Pemerintah akhirnya melakukan relokasi pedagang burung dan satwa ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta atau PASTY.
Relokasi tersebut dilaksanakan pada 22 April 2010 dan menjadi bagian dari penataan kawasan sekaligus upaya menjaga Taman Sari sebagai kawasan cagar budaya.
Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perubahan fungsi Pasar Ngasem. Setelah aktivitas perdagangan satwa berpindah, karakter pasar perlahan ikut berubah.
Pasar Ngasem Sekarang: Sarapan, Kuliner, dan Ruang Komunitas
Kalau dulu saya datang ke Pasar Ngasem untuk menemani ibu belanja, sekarang suasananya terasa berbeda.
Pasar Ngasem sekarang lebih saya kenal sebagai tempat mencari kuliner tradisional dan kebutuhan sehari-hari.
Ada sayur, buah, makanan tradisional, serta berbagai pilihan kuliner khas Jogja yang membuat pasar tetap punya denyut kehidupan sejak pagi.
Museum Sonobudoyo juga mencatat bahwa Pasar Ngasem kini berkembang sebagai ruang yang memadukan aktivitas pasar, kuliner, ruang publik, dan kegiatan seni.
Oh ya, saya sendiri sampai sekarang belum sempat benar-benar berburu kuliner paginya. Katanya ada sate kere dan dawet yang enak di sini.
Jadi, sepertinya saya memang perlu datang lagi khusus untuk sarapan. Hmmm... alasan yang cukup masuk akal, kan?
Buat saya, justru di sinilah fungsi Pasar Ngasem menjadi menarik. Ia gak kehilangan identitasnya sebagai pasar tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari wisata budaya dan kuliner di kawasan Keraton.
Plaza Panggung yang Jadi Ruang Bersama
Selain aktivitas jual beli, ada pula Plaza Panggung Pasar Ngasem yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan.
Dari catatan dan cerita yang saya dapat, ruang ini pernah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan sekolah, komunitas, pertunjukan seni, hingga event budaya. Artinya, pasar gak cuma berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang publik.
Saya pernah datang ke sini saat ada acara Pasar Kangen. Saya juga punya kenangan lain ketika Pasar Ngasem digunakan untuk kegiatan komunitas, termasuk acara Kompasiana pada 2017 melalui Indonesia Community Day atau ICD 2017 yang digelar di Plaza Pasar Ngasem.
Kegiatan semacam ini membuat Pasar Ngasem punya wajah lain di luar jam belanja. Ketika ada event, ruang pasar bisa berubah menjadi tempat bertemu, berbagi karya, berdiskusi, menikmati pertunjukan, dan berkumpulnya berbagai komunitas.
Tahu gak, perubahan semacam ini justru membuat sebuah pasar tradisional tetap relevan. Fungsinya berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa harus kehilangan sejarah tempatnya.
Dari Kenangan Masa Kecil sampai Destinasi Wisata Jogja
Sekarang saya jadi melihat Pasar Ngasem dengan cara yang berbeda.
Dulu, yang saya ingat hanya menemani ibu membeli jajan pasar dan sayuran.
Saya ingat akuarium berisi ikan, burung-burung yang ramai diperjualbelikan, serta suasana pasar yang terasa biasa saja karena memang menjadi bagian dari keseharian saya.
Sekarang, setelah mendapatkan cerita dari guide Walking Tour, saya baru memahami bahwa tempat tersebut punya perjalanan panjang: dari kawasan danau buatan Taman Sari, berubah menjadi pasar, dikenal sebagai pasar burung, kemudian bertransformasi menjadi pasar tradisional dengan kuliner dan ruang komunitas.
Saya sih justru merasa pengalaman seperti ini yang membuat Walking Tour menarik. Kita bisa datang ke tempat yang sebenarnya sudah familiar, tetapi pulang dengan pengetahuan baru.
Pasar Ngasem Yogyakarta akhirnya bukan cuma tentang apa yang dijual di dalamnya. Ada sejarah Yogyakarta, perubahan fungsi kawasan, kehidupan masyarakat, kuliner, seni, komunitas, dan hubungan erat dengan kawasan Taman Sari.
Wkwkwkwk.... siapa sangka pasar yang sejak kecil saya anggap cuma tempat belanja justru punya cerita sepanjang ini?
Dan mungkin saya memang harus kembali lagi.
Bukan untuk menemani ibu belanja seperti dulu, tetapi untuk duduk santai pagi-pagi, mencicipi sate kere atau dawet. Juga melihat bagaimana Pasar Ngasem Yogyakarta terus menjalani kehidupan barunya sebagai bagian dari wisata budaya Jogja.























.png)