Showing posts with label Destinations. Show all posts
Showing posts with label Destinations. Show all posts

In Destinations

Sehari Berziarah ke Makam Romo Sanjoyo, Sekalian Jelajahi Wisata Magelang

Makam Romo Sanjoyo di kompleks Kerkhof Muntilan Magelang.

Kalau ditanya destinasi yang sering saya kunjungi bersama keluarga untuk mencari ketenangan, jawabannya pasti makam Romo Sanjoyo di Muntilan, Magelang. 

Tempat ini memang bukan objek wisata yang ramai seperti Candi Borobudur, tetapi justru suasananya yang tenang membuat saya selalu ingin kembali. 

Apalagi kalau pikiran lagi penuh dengan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari, rasanya menyempatkan diri berziarah ke sini selalu membawa perasaan lebih damai.

Ide untuk berziarah biasanya memang dadakan. Di tengah kesibukan masing-masing, saya dan suami kadang tiba-tiba sepakat, "Yuk, ke Muntilan." 

Kalau cuma berdua, kami lebih sering naik motor karena perjalanan terasa lebih praktis dan cepat. 

Namun kalau ada orang tua atau anggota keluarga lain yang ikut, kami memilih naik mobil supaya lebih nyaman.

Sejak kecil saya memang sudah dikenalkan orang tua dengan tempat ini. Beberapa kali kami singgah untuk berdoa sebelum atau sesudah bepergian ke Magelang. 

Yang paling saya ingat sampai sekarang adalah suasananya yang adem, rindang, dan bikin hati terasa lebih tenang. 

Oh ya, dulu saya mengira tempat ini hanya berupa kompleks makam biasa. Setelah dewasa dan beberapa kali datang lagi, saya baru sadar ternyata banyak cerita sejarah dan nilai rohani yang membuat tempat ini begitu istimewa.

Lalu, sebenarnya apa saja yang bisa ditemukan saat berziarah ke sini? Bagaimana rute menuju Makam Romo Sanjoyo dari Jogja? 

Dan kalau sudah sampai Muntilan, tempat wisata apa saja yang menarik untuk dikunjungi? Tenang, saya akan berbagi pengalaman sekaligus panduannya sampai selesai.

Jadi, baca artikel ini sampai akhir ya!


Mengenal Sosok Romo Sanjoyo

Sebelum datang, menurut saya menarik juga kalau kita mengenal sedikit sosok yang dimakamkan di sini. Dengan begitu, ziarah yang dilakukan terasa lebih bermakna daripada sekadar datang, berdoa, lalu pulang.

Romo Sanjoyo merupakan salah satu imam Katolik yang berjasa dalam perkembangan Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa. 

Nama beliau cukup dikenal oleh banyak umat Katolik karena dedikasinya dalam pelayanan dan pendampingan umat.

Romo Sanjoyo
Romo Sanjoyo (sumber: harianmerapi.com)


Makam beliau berada di kompleks Kerkhof Muntilan, sebuah kompleks pemakaman yang juga menjadi tempat peristirahatan beberapa tokoh Gereja Katolik lainnya. 

Kawasan ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi Magelang sekaligus tempat ziarah Katolik dekat Jogja yang cukup populer.

Yang membuat saya senang, area makamnya benar-benar dirawat dengan baik. Pepohonan yang rindang membuat udara terasa sejuk hampir sepanjang hari. 

Jadi meskipun datang saat siang, suasananya tetap nyaman untuk berdoa maupun duduk sejenak melakukan refleksi diri.

Banyak Didatangi Peziarah dari Berbagai Kota

Oh ya, banyak peziarah yang datang bukan hanya karena memiliki intensi doa tertentu. 

Ada juga yang sekadar ingin mencari ketenangan, bersyukur atas berkat yang diterima, atau mengambil waktu hening di tengah aktivitas yang padat.

Selain makam Romo Sanjoyo, di kompleks ini juga terdapat Makam Romo Van Lith beserta beberapa makam para romo di Muntilan yang memiliki peran penting dalam perkembangan iman Katolik di Indonesia. 

Karena itulah kawasan ini sering menjadi tujuan ziarah Katolik Jawa Tengah, baik secara pribadi maupun rombongan.

Bagi saya pribadi, mengetahui sedikit tentang sejarah Romo Sanjoyo membuat setiap kunjungan terasa berbeda. 

Saya jadi lebih menghargai perjalanan para imam yang telah mengabdikan hidupnya bagi pelayanan umat.

Suasana teduh di makam Romo Sanjoyo sebagai tempat ziarah Katolik dekat Jogja.
Suasana teduh di makam Romo Sanjoyo sebagai tempat ziarah Katolik dekat Jogja (doc. Riana Dewie)


Rute Perjalanan dari Jogja ke Makam Romo Sanjoyo

Salah satu alasan saya cukup sering datang ke sini adalah karena lokasinya relatif dekat dari Yogyakarta. 

Jadi, kalau sedang ingin melakukan perjalanan sehari dari Jogja, destinasi ini cocok sekali dimasukkan ke dalam daftar.

Naik Kendaraan Pribadi

Menurut saya, menggunakan kendaraan pribadi merupakan pilihan paling praktis. 

Dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan menuju lokasi Makam Romo Sanjoyo biasanya memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Rute yang biasa saya ambil adalah melewati Jalan Magelang menuju Muntilan. Jalannya lebar, mudah diikuti melalui aplikasi navigasi, dan banyak pilihan tempat makan maupun SPBU di sepanjang perjalanan.

Oh ya, kalau berangkat pagi sekitar pukul tujuh atau delapan, udara masih cukup sejuk sehingga perjalanan terasa lebih menyenangkan. 

Pemandangan sawah dan Gunung Merapi di beberapa titik juga menjadi bonus yang bikin perjalanan gak terasa membosankan.

Hahahaha... kadang niat awal cuma ziarah, pulangnya malah mampir kuliner.

Naik Bus Umum

Buat yang gak membawa kendaraan pribadi, cara ke Makam Romo Sanjoyo juga cukup mudah menggunakan bus jurusan Yogyakarta-Magelang.

Turunlah di kawasan Muntilan, kemudian perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan ojek atau layanan transportasi daring menuju kompleks Kerkhof. 

Jaraknya relatif dekat sehingga biaya tambahan juga masih cukup terjangkau.

Pilihan ini cocok untuk peziarah dari luar kota yang ingin melakukan wisata rohani Katolik Magelang tanpa harus menyewa kendaraan.

Estimasi Waktu dan Biaya

Kalau berangkat dari Jogja menggunakan kendaraan pribadi, estimasi waktu perjalanan sekitar 60–90 menit.

Untuk motor, biaya bensin pulang-pergi biasanya sekitar Rp50.000 - Rp70.000, tergantung jenis kendaraan dan kondisi jalan. 

Kalau menggunakan mobil tentu sedikit lebih besar, tetapi tetap tergolong ekonomis untuk perjalanan keluarga.

Sementara bila menggunakan bus umum, biaya perjalanan juga relatif ramah di kantong. Tinggal menambahkan ongkos ojek menuju kompleks makam.

Bagian depan makam Romo Sanjoyo Muntilan Magelang.
Bagian depan makam Romo Sanjoyo Muntilan Magelang (sumber: Google Reviews)


Apa yang Bisa Dilakukan Saat Berziarah?

Banyak orang mengira berziarah ke makam hanya sebentar, lalu selesai. Padahal menurut saya, ada banyak hal yang bisa dilakukan selama berada di kompleks Kerkhof Muntilan. 

Karena suasananya benar-benar tenang, saya biasanya memilih menikmati setiap sudutnya tanpa terburu-buru.

1. Berdoa Secara Pribadi

Tentu saja tujuan utama datang ke sini adalah berdoa. Setiap orang punya intensi yang berbeda-beda. Ada yang mendoakan keluarga, memohon kelancaran pekerjaan, mengucap syukur, hingga menyerahkan pergumulan hidup kepada Tuhan.

Oh ya, saya juga sering melihat para peziarah Katolik datang membawa buku doa atau rosario. Ada yang berdoa secara pribadi, ada pula yang datang bersama rombongan dan mengadakan doa novena sesuai intensi masing-masing.

2. Mengunjungi Makam Romo Van Lith

Kalau sudah berada di kompleks ini, jangan langsung pulang. Luangkan waktu untuk mengunjungi Makam Romo Van Lith yang lokasinya masih berada di kawasan yang sama.

Nama Romo Van Lith tentu sudah sangat dikenal dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Indonesia. Beliau memiliki jasa besar dalam dunia pendidikan sekaligus penyebaran iman Katolik, khususnya di wilayah Jawa.

3. Berjalan Mengelilingi Kompleks Kerkhof

Selain berdoa, saya juga suka berjalan santai mengelilingi area Kerkhof Muntilan.

Kompleks ini bersih, rapi, dan dipenuhi pepohonan besar yang membuat suasana semakin teduh. Di beberapa sudut terdapat kapel sederhana yang sering dimanfaatkan umat untuk berdoa. Ada pula area yang biasa digunakan rombongan untuk berkumpul sebelum atau sesudah ziarah.

Yang menarik, kawasan ini juga menjadi bagian dari wisata sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Banyak tokoh penting yang dimakamkan di sini sehingga setiap sudutnya menyimpan cerita tersendiri.

Kalau suka fotografi, tempat ini juga cukup menarik. Tentu saja tetap menjaga sikap hormat karena ini merupakan kawasan pemakaman dan tempat doa.

4. Menikmati Suasana Hening untuk Refleksi

Inilah bagian favorit saya.

Kadang saya gak langsung pulang setelah selesai berdoa. Saya memilih duduk di bawah pohon sambil menikmati udara segar beberapa menit. Rasanya seperti memberi waktu kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat.

Di zaman sekarang yang serba cepat, menemukan tempat hening seperti ini menurut saya cukup sulit. Karena itu saya selalu menikmati setiap kesempatan saat berada di sini.


Fasilitas yang Tersedia

Walaupun merupakan kawasan ziarah, fasilitas di sekitar lokasi Makam Romo Sanjoyo menurut saya sudah cukup memadai.

Area parkir tersedia untuk motor maupun mobil sehingga peziarah gak perlu khawatir mencari tempat parkir. Jalur menuju makam juga cukup nyaman dilalui berbagai usia.

Di sekitar kawasan Muntilan juga terdapat warung makan, minimarket, toilet umum, hingga SPBU. Jadi kalau ingin melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, semuanya sudah cukup mudah dijangkau.

Tidak jauh dari kawasan ini juga terdapat Gereja Santo Antonius Muntilan yang sering dikunjungi umat sebelum atau sesudah berziarah. 

Selain itu, kawasan Seminari Mertoyudan yang terkenal sebagai tempat pendidikan calon imam juga berada di wilayah Muntilan sehingga sering menjadi bagian dari rangkaian wisata rohani bagi banyak umat.

Kalau sudah jauh-jauh datang ke Muntilan, menurut saya sayang sekali kalau langsung pulang. 

Masih banyak destinasi menarik yang bisa dikunjungi dalam satu hari. Kamu bisa mampir ke Candi Mendut, Candi Borobudur, Gereja Ayam Bukit Rhema, Punthuk Setumbu, Svargabumi Borobudur dsb. 

Menurut saya, kombinasi ziarah di makam Romo Sanjoyo lalu dilanjutkan menjelajahi berbagai destinasi ini membuat satu hari di Magelang terasa sangat berkesan. 

Kita bisa mendapatkan ketenangan batin sekaligus menikmati keindahan alam dan kekayaan sejarah yang dimiliki daerah ini.

Tempat ziarah dan doa Romo Sanjoyo Muntilan
Tempat ziarah dan doa Romo Sanjoyo Muntilan (doc. Riana Dewie)


Tips Agar Ziarah Lebih Nyaman

Setelah beberapa kali berkunjung ke makam Romo Sanjoyo, saya punya beberapa tips sederhana yang mungkin bisa membantu, terutama kalau ini adalah pengalaman ziarah pertama. Tipsnya memang sederhana, tetapi cukup berpengaruh supaya perjalanan terasa lebih nyaman dan berkesan.

1. Datang pada Pagi Hari

Kalau memungkinkan, usahakan berangkat pagi dari Jogja. Selain udara masih segar, suasana di kompleks Kerkhof Muntilan juga relatif lebih tenang. Saya biasanya berangkat sekitar pukul 07.00 sehingga sebelum siang sudah sampai di lokasi.

Oh ya, kalau datang lebih pagi, kita juga punya waktu lebih leluasa untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata di sekitar Magelang tanpa terburu-buru.

2. Gunakan Pakaian yang Sopan dan Nyaman

Karena ini merupakan tempat ziarah dan tempat berdoa, sebaiknya gunakan pakaian yang sopan serta nyaman dipakai berjalan kaki.

Saya biasanya memilih pakaian berbahan adem karena cuaca Magelang kadang cukup hangat menjelang siang. 

3. Jaga Ketenangan Selama Berada di Area Makam

Meski banyak peziarah datang bersama keluarga atau rombongan, tetap usahakan menjaga suara agar gak terlalu keras.

Menurut saya, saling menghormati sesama pengunjung merupakan bagian dari pengalaman wisata rohani itu sendiri. Dengan suasana yang tenang, semua orang bisa berdoa dan melakukan refleksi tanpa terganggu.

4. Siapkan Air Minum dan Kamera

Kalau ingin melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi wisata seperti Candi Borobudur, Punthuk Setumbu, atau Svargabumi Borobudur, sebaiknya siapkan air minum sejak awal.

Saya juga hampir selalu membawa kamera atau menggunakan kamera ponsel. 

Bukan untuk berfoto di area makam secara berlebihan, tetapi lebih untuk mengabadikan perjalanan menuju berbagai tempat menarik di Magelang. 


Penutup

Buat saya, perjalanan ke makam Romo Sanjoyo selalu lebih dari sekadar perjalanan biasa. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan setiap kali memasuki kawasan Kerkhof Muntilan. 

Dalam satu hari, saya bisa berdoa dengan lebih khusyuk, mengenang perjalanan para tokoh Gereja seperti Romo Van Lith, menikmati suasana teduh di kawasan Muntilan

Kamu juga bis amelanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi menarik seperti Candi Mendut, Candi Borobudur, Gereja Ayam, hingga Punthuk Setumbu.

Kalau saya sih, perpaduan antara perjalanan spiritual, wisata sejarah, dan wisata alam seperti ini memang sulit ditemukan di tempat lain. 

Rasanya pulang bukan hanya membawa foto-foto baru, tetapi juga hati yang jauh lebih tenang.

Selamat berziarah, semoga perjalananmu lancar, doa-doamu membawa ketenangan, dan kamu juga sempat menikmati indahnya Magelang dalam satu perjalanan yang penuh makna.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Maen ke Pantai Baru Jogja? Ini 7 Aktivitas Seru yang Wajib Dicoba

Spot foto estetik dengan panorama laut selatan di Pantai Baru Jogja

Sudah berapa kali ya saya ke Pantai Baru Jogja? Wah, rasanya sudah gak bisa dihitung dengan jari lagi. 

Jika dulu saya dan keluarga paling hobi pergi ke Pantai Depok untuk wisata sekaligus berburu seafood, beberapa tahun terakhir kami mulai sering melipir ke kawasan Pantai Baru Yogyakarta.

Menurut saya, daya tarik Pantai Baru memang cukup lengkap. Ada wisata pantai Bantul yang nyaman, kuliner ikan segar Pantai Baru yang menggoda, area bermain anak, sampai spot santai untuk keluarga.

Oh ya, terakhir kali saya ke sana bersama sepupu dan para ponakan. Kami datang dari berbagai wilayah Jogja sehingga kali ini sepakat untuk langsung bertemu di lokasi. 

Cara ini ternyata lebih hemat waktu dan energi dibanding harus mampir ke rumah saudara satu per satu terlebih dahulu.

Begitu semua anggota keluarga berkumpul, suasana langsung ramai. 

Anak-anak berlarian, orang dewasa sibuk ngobrol, sementara saya sudah mulai membayangkan ikan bakar yang sebentar lagi akan disantap. Hihihihi...

Gimana keseruannya? Yuk, saya ceritakan pengalaman liburan ke Pantai Baru Jogja yang satu ini.


Perjalanan Menuju Pantai Baru Saat Cuaca Cerah

Karena kami berangkat dari rumah masing-masing, akhirnya diputuskan menggunakan motor untuk perjalanan menuju Pantai Baru Bantul. 

Selain lebih praktis, perjalanan juga terasa menyenangkan karena bisa menikmati udara segar sepanjang jalan.

Padahal ada salah satu sepupu yang membawa balita. Awalnya kami sempat khawatir si kecil bakal rewel. 

Namun kenyataannya justru sebaliknya. Ia terlihat happy banget selama perjalanan dan antusias melihat pemandangan di sepanjang jalan.

Saya dan suami pun ikut senang. Sudah cukup lama kami gak menikmati perjalanan santai seperti ini. 

Kalau saya sih memang suka perjalanan dengan motor sesekali karena suasananya terasa lebih dekat dengan alam.

Oh ya, perjalanan dari rumah kami menuju kawasan pantai selatan Yogyakarta memakan waktu sekitar 60 menit. 

Untungnya cuaca sangat bersahabat sehingga perjalanan terasa nyaman. Setelah menempuh perjalanan tersebut, akhirnya kami sampai di lokasi dengan aman dan selamat.


7 Aktivitas Seru di Pantai Baru Jogja

Berikut beberapa aktivitas di Pantai Baru Jogja yang saya dan keluarga lakukan saat berkunjung ke sana.

1. Belanja dan Makan Ikan Segar Hasil Tangkapan Nelayan

Hidangan seafood di Pantai Baru Jogja
Hidangan seafood di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)

Begitu sampai di lokasi, suami saya langsung memarkir motor. Sementara itu saya dan sepupu perempuan segera menuju pasar ikan untuk memilih berbagai hasil laut segar.

Biasanya kami membeli ikan cakalang untuk dibakar, kerang untuk dimasak asam pedas, serta cumi yang digoreng tepung. Pokoknya semua yang bikin ngiler ada di sini.

Setelah membawa beberapa plastik belanjaan, kami menuju warung makan yang berada dekat pantai. Semua bahan mentah tadi kami serahkan kepada pemilik warung untuk diolah sesuai selera.

Biasanya pas momen seperti ini rasa lapar langsung melanda sih. Apalagi aroma ikan bakar segar di pantai memang susah ditolak.

Olahan kerang & cakalang yang cukup menggoda
Olahan kerang & cakalang yang cukup menggoda (doc. Riana Dewie)

Oh ya, salah satu alasan saya suka wisata Pantai Baru Bantul adalah karena konsep kulinernya cukup unik. 

Kita bisa memilih sendiri bahan mentah lalu meminta warung mengolahnya sesuai keinginan.

2. Naik ATV Menyusuri Area Pantai

Sambil menunggu makanan matang, kami mencari aktivitas lain supaya gak bosan. Salah satu yang paling menarik tentu saja bermain ATV di Pantai Baru.

Berdasarkan tarif yang umum ditemui pada tahun 2026, harga ATV Pantai Baru berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per putaran tergantung rute dan durasi.

Keseruan naik ATV adalah sensasi melintasi area pasir sambil merasakan semilir angin laut. 

Selain itu, aktivitas ini juga cocok untuk memacu adrenalin ringan tanpa harus melakukan olahraga ekstrem.

Kalau suami saya sih paling suka bagian ketika ATV melaju di jalur yang sedikit bergelombang. Katanya lebih seru dibanding berkendara di jalan biasa.

Keseruan bermain ATV di Pantai Baru Jogja bersama keluarga
Keseruan bermain ATV di Pantai Baru Jogja bersama keluarga (doc. Riana Dewie)

3. Bermain Pasir Putih Bersama Keluarga

Pasir putih Pantai Baru Jogja juga menjadi area favorit anak-anak. Mereka bebas bermain sambil membuat berbagai bentuk unik dari pasir.

Buat kamu yang pintar membuat istana pasir, tempat ini cocok banget untuk menyalurkan kreativitas. Kamu bisa bekerja sama dengan saudara atau teman supaya hasilnya lebih megah.

Tips dari saya, jangan membuat istana pasir terlalu dekat dengan bibir laut. Takutnya ketika ombak datang, hasil karya yang sudah susah payah dibuat langsung hilang dalam sekejap. Hahahaha...

Dari sisi psikologi, aktivitas bermain pasir bersama keluarga juga bermanfaat untuk melatih kreativitas, kerja sama, kemampuan problem solving, serta membantu anak lebih rileks saat bermain di alam terbuka.

4. Berburu Konten Estetik di Berbagai Sudut Pantai

Memotret estetik di Pantai Baru Jogja
Memotret estetik di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)

Suka jeprat-jepret suasana atau selfie? Jangan lewatkan kesempatan berburu spot foto Pantai Baru yang sangat beragam.

Mulai dari panorama laut selatan, perahu nelayan, deretan warung, hingga area pasir yang luas bisa menjadi latar foto yang menarik.

Surga juga buat kamu yang hobi membuat vlog atau video media sosial. Saya melihat cukup banyak pengunjung yang sibuk membuat konten saat berada di sana.

Oh ya, saya sengaja mengambil banyak stok foto dan video sekaligus. Lumayan buat cadangan konten beberapa minggu ke depan biar gak rugi sudah jauh-jauh datang ke sini.

5. Menikmati Sunrise dan Sunset dengan Pemandangan Laut Selatan

Bagi pecinta pemandangan alam, menikmati matahari terbenam di kawasan sunset Pantai Baru Bantul adalah aktivitas yang wajib dicoba.

Langit perlahan berubah warna menjadi oranye keemasan, sementara deburan ombak terdengar semakin syahdu. Momen seperti ini selalu berhasil membuat saya berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Kalau kamu datang lebih pagi, kesempatan menikmati sunrise juga terbuka. Suasananya tenang dan cocok untuk mencari ketenangan.

6. Duduk Ngadem di Bawah Pohon Cemara Laut

Salah satu daya tarik Pantai Baru yang menurut saya sering terlupakan adalah deretan pohon cemara laut yang tumbuh di sepanjang kawasan pantai.

Pepohonan ini menciptakan suasana teduh dan nyaman untuk bersantai bersama keluarga. Banyak pengunjung yang menggelar tikar sambil menikmati bekal makanan.

Gak percaya? Coba saja duduk beberapa menit di bawah rindangnya pohon-pohon tersebut. Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat suasana terasa lebih santai.

7. Melihat Deretan Kincir Angin Ikonik Pantai Baru

Aktivitas terakhir yang gak boleh dilewatkan adalah melihat deretan kincir angin yang menjadi ikon Pantai Baru Yogyakarta.

Kincir Angin di area Pantai Baru Bantul
Kincir Angin di area Pantai Baru Bantul (doc. Riana Dewie)


Kawasan ini dikenal sebagai pantai dengan kincir angin karena terdapat fasilitas energi terbarukan yang memanfaatkan tenaga angin dan matahari.

Selain menjadi sarana edukasi, keberadaan kincir angin juga membuat pemandangan pantai terlihat berbeda dibanding pantai lainnya di wilayah Bantul.

Oh ya, banyak wisatawan yang sengaja datang untuk berfoto di area ini karena tampilannya cukup unik dan estetik.


Tips Maen ke Pantai Baru

Sebelum berangkat, ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu.

- Datanglah sebelum pukul 09.00 pagi atau setelah pukul 15.30 agar cuaca lebih nyaman.
- Siapkan uang untuk retribusi kawasan wisata atau TPR yang biasanya dikenakan kepada pengunjung.
- Lokasi Pantai Baru berada di Kabupaten Bantul, DIY dan masih satu jalur dengan beberapa wisata pantai Bantul lainnya.
- Di sekitar kawasan terdapat Pantai Kuwaru, Pantai Pandansimo, dan Pantai Goa Cemara. Jadi jangan sampai salah tujuan.
- Kendaraan pribadi menjadi pilihan paling direkomendasikan karena aksesnya lebih fleksibel.
- Bawa topi, sunscreen, serta air minum agar tetap nyaman selama beraktivitas seru di pantai.

Deretan warung seafood dan kuliner ikan segar di Pantai Baru Jogja
Deretan warung seafood dan kuliner ikan segar di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)


Nah, itulah cerita saya dan sepupu yang asyik maen sekaligus kulineran di Pantai Baru Bantul, DIY.

Bagi saya, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata alam Yogyakarta biasa. 

Ada banyak kenangan sederhana yang tercipta dari obrolan keluarga, tawa anak-anak yang bermain pasir, hingga aroma ikan bakar yang menggoda selera.

Kalau saya sih selalu percaya bahwa perjalanan terbaik bukan tentang pergi ke tempat yang paling jauh, melainkan tentang bersama siapa kita menikmati momen tersebut.

Jadi, kalau kamu sedang mencari wisata keluarga Jogja yang lengkap, ramah kantong, dan cocok untuk liburan murah di Jogja, Pantai Baru bisa menjadi pilihan menarik untuk dikunjungi saat akhir pekan.

Siapa tahu, dari perjalanan sederhana itu kamu juga pulang membawa cerita indah yang akan dikenang dalam waktu lama. 

Apa kamu pernah berkunjung ke Pantai Baru Jogja juga?




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Jalan-Jalan ke Boyolali? Jangan Lewatkan Taman Doa Watu Lawang

Area doa di Taman Doa Watu Lawang Boyolali yang tenang

Boyolali selama ini mungkin lebih dikenal dengan hamparan alamnya yang indah dan udara pegunungannya yang sejuk. 

Namun, siapa sangka kalau daerah ini juga memiliki destinasi wisata religi yang menarik untuk dikunjungi? 

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Taman Doa Watu Lawang bersama rombongan umat Katolik dari lingkungan tempat saya tinggal. 

Kunjungan ini menjadi salah satu pengalaman yang berkesan karena memadukan perjalanan, doa, refleksi diri, sekaligus menikmati keindahan alam Boyolali.

Oh ya, awalnya saya mengira perjalanan menuju lokasi akan terasa cukup panjang. 

Namun ternyata, sejak keberangkatan hingga tiba di tujuan, semuanya berjalan begitu menyenangkan dan terasa cepat.

Rombongan siap berangkan ke Taman Doa Watu Lawang
Rombongan siap berangkan ke Taman Doa Watu Lawang (doc. Riana Dewie)


Berangkat Bersama Umat Lingkungan Menuju Boyolali

Pagi itu kami berkumpul dan berangkat menggunakan bus pariwisata yang cukup nyaman. Busnya bersih, tempat duduknya lega, dan suasananya terasa eksklusif. 

Bahkan selama perjalanan, kami bisa menikmati fasilitas karaoke yang membuat perjalanan semakin seru.

Banyak lagu dinyanyikan secara bergantian. Ada yang bernyanyi solo, duet, hingga ramai-ramai satu bus. 

Hihihihi... suasananya benar-benar meriah. Saya sendiri lebih banyak menikmati kebersamaan yang tercipta selama perjalanan.

Yang membuat perjalanan ini semakin menarik adalah karena untuk pertama kalinya saya melewati jalan tol menuju Boyolali. 

Pemandangan sepanjang jalan terlihat rapi dan perjalanan terasa lebih singkat dibanding yang saya bayangkan.

Kalau saya sih biasanya akan merasa perjalanan jauh cukup melelahkan. Namun kali ini berbeda. 

Karena suasananya seru dan penuh canda tawa, saya bahkan merasa baru sebentar duduk ketika tiba-tiba bus mulai memasuki kawasan Boyolali.

Oh ya, semakin mendekati lokasi, udara mulai terasa lebih segar. Hamparan pepohonan dan suasana pedesaan membuat hati terasa lebih rileks sebelum memasuki area ziarah.

Wisata rohani Boyolali di kawasan Taman Doa Watu Lawang
Wisata rohani Boyolali di kawasan Taman Doa Watu Lawang (doc. Riana Dewie)


Taman Doa Watu Lawang, Tempat Doa yang Luas di Lereng Pegunungan

Sesampainya di Taman Doa Watu Lawang Boyolali, kesan pertama saya cukup unik. Dari bagian depan, tempat ini terlihat sederhana dan gak terlalu besar. 

Namun setelah mulai berjalan masuk ke dalam kawasan, saya baru menyadari bahwa area taman doa ini ternyata sangat luas dan memanjang hingga ke belakang.

Lokasinya berada di kawasan perbukitan sehingga menghadirkan suasana yang sangat nyaman untuk berdoa. Udara sejuk pegunungan langsung menyambut setiap pengunjung yang datang. 

Tak heran jika banyak orang menyebut tempat ini sebagai salah satu destinasi spiritual Boyolali yang layak dikunjungi.

Dari beberapa titik, saya bisa menikmati panorama pegunungan Boyolali yang begitu memanjakan mata. 

Pemandangan hijau yang membentang luas membuat tempat ini cocok sebagai tempat refleksi diri di Boyolali maupun lokasi untuk mencari ketenangan.

Destinasi spiritual Boyolali dengan suasana damai dan asriDestinasi spiritual Boyolali dengan suasana damai dan asri (doc. Riana Dewie)


Sejarah Singkat Taman Doa Watu Lawang

Taman Doa Watu Lawang merupakan salah satu tempat ziarah Katolik yang tergolong baru. 

Tempat ini diresmikan pada tanggal 17 Februari 2024 dan dibangun di atas tanah hibah keluarga yang kemudian dikembangkan menjadi kawasan doa dan ziarah umat.

Nama "Watu Lawang" berasal dari bahasa Jawa yang berarti batu gerbang. 

Nama tersebut memiliki makna simbolis sebagai gerbang menuju perjalanan iman dan kedamaian batin bagi setiap peziarah yang datang.

Keberadaan taman doa ini semakin memperkaya pilihan wisata religi Jawa Tengah, khususnya bagi umat Katolik yang ingin melakukan ziarah dalam suasana alam yang tenang.

Patung Bunda Maria di Watu Lawang Boyolali
Patung Bunda Maria di Watu Lawang Boyolali (doc. Riana Dewie)


Apa Bedanya Gua Maria dan Taman Doa?

Masih banyak orang yang menganggap Gua Maria dan taman doa adalah hal yang sama. Padahal keduanya memiliki perbedaan.

Gua Maria biasanya berfokus pada satu lokasi doa yang menghadirkan patung Bunda Maria sebagai pusat devosi umat. 

Sedangkan taman doa memiliki area yang lebih luas dengan berbagai titik doa, patung santo-santa, Jalan Salib, hingga ruang refleksi lainnya.

Karena itulah Taman Doa Watu Lawang menawarkan pengalaman ziarah yang lebih lengkap. Pengunjung bisa memilih lokasi doa sesuai kebutuhan dan intensi masing-masing.


Menyusuri Berbagai Patung dan Tempat Devosi yang Penuh Makna

Setelah menikmati suasana sekitar, saya mulai berjalan menyusuri area taman doa. Jalur yang tersedia cukup nyaman dilalui. 

Di sepanjang perjalanan, terdapat berbagai patung dan titik devosi yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan iman.

Oh ya, inilah bagian yang menurut saya paling menarik. Hampir di setiap sudut terdapat tempat yang mengajak peziarah untuk berhenti sejenak, merenung, dan berdoa.

Peziarah berdoa di Gua Maria Watu Lawang Boyolali
Peziarah berdoa di Gua Maria Watu Lawang Boyolali (doc. Riana Dewie)


Gua Maria

Gua Maria menjadi salah satu lokasi favorit para peziarah. Tempat ini menghadirkan suasana yang hening dan teduh sehingga sangat nyaman untuk doa pribadi.

Banyak umat datang untuk memohon perantaraan Bunda Maria sambil menikmati suasana alam yang damai. Sebagai bagian dari wisata rohani Boyolali, area ini menjadi tempat yang sangat menenangkan.

Jalan Salib

Di kawasan ini juga terdapat Jalan Salib yang mengajak peziarah mengenang perjalanan sengsara Yesus Kristus. Setiap perhentian memberikan kesempatan untuk merenungkan kasih dan pengorbanan-Nya.

Kalau menurut saya sih, berjalan perlahan di sepanjang Jalan Salib dengan latar pemandangan alam pegunungan memberikan pengalaman yang jauh lebih mendalam dan menyentuh hati.

Patung Yesus dan Titik-Titik Devosi Lainnya

Salah satu keunikan Taman Doa Watu Lawang adalah banyaknya patung santo dan santa yang tersebar di berbagai area. 

Saya melihat Patung Kelahiran Yesus, Santo Mikael, Santo Fransiskus Assisi, Santa Theresia Lisieux, Santo Laurentinus, Santo Fransiskus Xaverius, Santo Gabriel, Santo Petrus, hingga Santo Yosef Tertidur.

Patung Santo Mikael Di Taman Doa Watu Lawang Boyolali
Patung Santo Mikael Di Taman Doa Watu Lawang Boyolali (doc. Riana Dewie)


Masing-masing patung memiliki makna yang berbeda. Santo Mikael misalnya dikenal sebagai pelindung dalam perjuangan melawan kejahatan. 

Santo Fransiskus Assisi mengajarkan kesederhanaan dan cinta terhadap alam. Santa Theresia Lisieux dikenal melalui spiritualitas sederhana yang mengajarkan kesetiaan dalam hal-hal kecil.

Patung Santo Yosef Tertidur di Taman Doa Watu Lawang
Patung Santo Yosef Tertidur di Taman Doa Watu Lawang (doc. Riana Dewie)


Patung Santo Yosef Tertidur juga menarik perhatian saya. 

Banyak umat yang meletakkan intensi doa mereka di tempat ini sebagai simbol menyerahkan segala kekhawatiran kepada Tuhan melalui perantaraan Santo Yosef.

Sepanjang saya berziarah ke berbagai tempat, rasanya baru kali ini menemukan taman doa yang begitu lengkap dalam satu lokasi. 

Inilah yang membuat Taman Doa Watu Lawang menjadi salah satu tempat wisata religi di Boyolali yang sangat berkesan.


Tempe Mendoan, Teh Tubruk, dan Kedamaian yang Membuat Ingin Kembali

Setelah selesai berdoa dan berkeliling, rombongan menuju kantin yang tersedia di area taman doa. Meski sederhana, kantin ini justru menghadirkan pengalaman yang sulit saya lupakan.

Tempe mendoan panas yang baru diangkat dari penggorengan langsung menggoda selera. Teksturnya lembut dengan aroma khas yang begitu menggugah. 

Ditambah secangkir teh tubruk hangat, rasanya benar-benar pas dinikmati di tengah udara pegunungan.

Oh ya, saya juga menemukan pisang goreng berukuran besar yang menjadi favorit banyak pengunjung. Hahahaha... saya bahkan sempat tergoda untuk menambah satu porsi lagi karena rasanya memang enak.

Sambil menikmati makanan ringan, saya memandangi suasana sekitar yang begitu tenang. Momen sederhana seperti ini justru menjadi bagian yang paling membekas dari sebuah perjalanan.

Tempat yang Layak Masuk Daftar Wisata Religi di Boyolali

Menurut saya, Taman Doa Watu Lawang cocok untuk wisata keluarga, rombongan lingkungan, komunitas gereja, maupun siapa saja yang sedang mencari ketenangan.

Tempat ini menghadirkan kombinasi antara wisata alam dan religi, suasana tenang untuk berdoa, udara sejuk pegunungan, serta pemandangan yang indah. 

Tak heran jika banyak orang mulai memasukkannya sebagai rekomendasi wisata religi saat liburan ke Boyolali.

Kalau Anda sedang mencari wisata religi yang tenang di Boyolali, wisata dekat Selo Boyolali, atau bahkan tempat healing dan refleksi diri di Boyolali, tempat ini layak untuk dikunjungi.

Patung Kelahiran Yesus di Betlehem
Patung Kelahiran Yesus di Betlehem (doc. Riana Dewie)


Oh ya, yang paling saya sukai dari tempat ini adalah kebebasan untuk memilih lokasi doa sesuai kebutuhan. 

Mau berdoa di Gua Maria, merenung di Jalan Salib, atau duduk tenang menikmati pemandangan pegunungan, semuanya bisa dilakukan dalam satu kawasan.

***

Pada akhirnya, Taman Doa Watu Lawang bukan hanya sekadar destinasi wisata. 

Tempat ini adalah ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidup, menenangkan hati, dan memperkuat perjalanan iman. 

Kalau suatu hari Anda merasa penat dengan rutinitas dan ingin mencari kedamaian, mungkin Taman Doa Watu Lawang bisa menjadi tempat yang tepat untuk datang, berdoa, dan kembali menemukan ketenangan.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Kabut, Gunung, dan Telaga Indah? Semua Ada di Telaga Menjer Wonosobo

Telaga Menjer Wonosobo dengan latar gunung berkabut

Kalau bicara soal wisata alam Wonosobo, saya sih langsung teringat dengan Telaga Menjer. Tempat ini benar-benar punya suasana yang bikin hati adem sejak pertama datang. 

Dari kejauhan, saya langsung teriak, “Wow, bagus banget….” karena pemandangan di depan mata memang luar biasa cantik.

Hawanya bersih dan sejuk. Dari atas terlihat banyak kapal terparkir di pinggir telaga, sementara sebagian lainnya sedang berjalan memutari area telaga ini. 

Rasanya seperti orang-orang yang naik perahu di Telaga Menjer sedang dipamerkan langsung keindahan alam yang gak ada duanya. Hihihihi….

Oh ya, sebelum kesini saya memang sempat menikmati hidangan lezat di salah satu tempat kuliner viral bernama The Heaven.

Lokasinya berada di bagian atas Telaga Menjer dan punya view yang benar-benar memanjakan mata. 

Jadi sambil makan, saya bisa melihat panorama pegunungan Wonosobo lengkap dengan telaga yang tenang di bawah sana.

Kabut tipis perlahan turun menutupi sebagian area pegunungan. Air telaga terlihat tenang dengan nuansa hijau kebiruan yang cantik banget. 

Menurut saya, datang menjelang sore memang waktu paling pas karena cuacanya gak terlalu panas. 

Cahaya matahari juga lebih lembut sehingga suasana terasa nyaman untuk menikmati pesona Telaga Menjer.


Panorama Telaga Menjer yang Bikin Mata Segar

Keindahan Telaga Menjer memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tempat ini seperti paket lengkap wisata alam menenangkan yang memadukan udara sejuk Dieng, view pegunungan, dan danau alami di Wonosobo dalam satu lokasi.

View Telaga dari Ketinggian yang Cantik Banget

Menurut saya, panorama paling cantik justru terlihat dari area atas. Waktu saya foto-foto dari The Heaven, keindahan Telaga Menjer memang luar biasa. 

Bayangkan saja, kita bisa makan romantis di sebuah kafe dengan background gunung dan telaga yang indah banget. Pastinya momen ini gak akan terlupa ya.

Oh ya, dari atas terlihat jelas bagaimana luasnya telaga dengan latar pegunungan hijau yang mengelilinginya. 

Kabut tipis membuat suasana makin estetik dan cocok banget untuk healing maupun refreshing pikiran dari rutinitas sehari-hari.

Perahu wisata di Telaga Menjer Wonosobo
Perahu wisata di Telaga Menjer Wonosobo (doc. Riana Dewie)


Tempat ini juga termasuk wisata hidden gem Wonosobo yang masih punya suasana tenang dan asri. 

Walaupun sekarang makin populer sebagai wisata hits Wonosobo, suasananya tetap nyaman untuk bersantai. Saya sih betah banget duduk lama sambil menikmati angin dingin khas pegunungan.

Datang Menjelang Sore Ternyata Waktu yang Pas

Banyak orang mungkin memilih datang pagi untuk menikmati sunrise Telaga Menjer. Tapi kalau saya pribadi justru lebih suka datang menjelang sore. Cahaya mataharinya lebih lembut dan gak menyengat.

Saat mengabadikan foto, tone warna yang dihasilkan kamera terlihat lebih hangat dengan nuansa gold lembut yang klasik. 

Pemandangan telaga yang indah juga terlihat semakin dramatis karena pantulan cahaya sore di permukaan air.

Oh ya, udara sore di kawasan ini terasa adem banget. Bahkan saya sempat menggigil tipis karena anginnya lumayan dingin. 

Tapi justru itu yang bikin suasana makin nyaman untuk menikmati destinasi wisata alam Jawa Tengah ini.

Suasana di sekitar telaga juga lebih tenang. Pengunjung memang masih ramai, tapi gak terlalu padat. Jadi cocok buat yang ingin menikmati tempat healing di Wonosobo tanpa terlalu banyak kebisingan.


Serunya Aktivitas di Telaga Menjer

Selain menikmati pemandangan, ada banyak aktivitas di Telaga Menjer yang bisa dilakukan pengunjung. Mulai dari hunting foto, naik perahu wisata telaga, sampai sekadar duduk santai menikmati suasana alam.

Banyak Kapal Wisata yang Stand By Sampai Sore

Di sekitar telaga tersedia banyak kapal wisata yang siap mengajak pengunjung berkeliling area telaga. Perahu di Telaga Menjer ini cukup menarik perhatian karena warnanya cerah dan terlihat fotogenik.

Pengunjung bisa menikmati sensasi mengelilingi telaga sambil melihat danau dengan latar gunung dari jarak yang lebih dekat. Rasanya pasti seru banget, apalagi kalau datang bersama keluarga atau pasangan.

Tarif perahu wisata Telaga Menjer
Tarif perahu wisata Telaga Menjer (doc. Riana Dewie)


Oh ya, kapal-kapal tersebut ternyata tetap stand by sampai sore hari. Jadi pengunjung yang datang agak sore tetap punya kesempatan menikmati wisata Telaga Menjer dari atas air.

Saya melihat banyak keluarga dan pasangan yang tampak menikmati perjalanan menggunakan perahu. Ada yang sibuk selfie, ada pula yang hanya menikmati suasana sambil tertawa santai. Hahahaha….

Saya Gak Sempat Naik Kapal karena Sudah Kesorean

Sayangnya saya dan family gak sempat naik kapal karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 dan kami harus segera otw Jogja biar gak kemalaman. Agak kecewa sih, tapi gak apa-apa. Lain hari bisa kesini lagi.

Walaupun begitu, saya tetap puas menikmati view dari atas. Bahkan menurut saya, melihat Telaga Menjer dari ketinggian justru punya sensasi berbeda. Pemandangan telaga terlihat lebih luas dan dramatis.

Pengalaman ini malah bikin saya penasaran untuk kembali lagi suatu saat nanti. Siapa tahu next trip saya bisa mencoba Telaga Menjer kayak atau menikmati keliling telaga menggunakan perahu wisata.


Spot Foto dan Suasana yang Instagramable

Salah satu alasan kenapa Telaga Menjer Wonosobo terbaru makin populer adalah karena tempat ini punya banyak spot foto aesthetic alam yang cantik.

Pemandangan telaga yang indah di Wonosobo
Pemandangan telaga yang indah di Wonosobo (doc. Riana Dewie)


Kabut dan Gunung Jadi Background Favorit

Perpaduan kabut, gunung, langit, dan telaga membuat hampir semua sudut tempat ini terasa instagramable. Bahkan tanpa spot buatan pun, hasil fotonya sudah cantik banget.

Oh ya, di beberapa area juga tersedia spot foto buatan yang bisa digunakan pengunjung.

Ada yang cukup memberi uang seikhlasnya, ada pula yang menyediakan paket lengkap dengan fotografer, pengarah gaya, dan properti foto.

Menurut saya sih konsep seperti ini menarik karena membantu pengunjung mendapatkan hasil foto yang lebih maksimal. 

Cocok banget untuk yang ingin update media sosial dengan tema wisata alam instagramable.

Cocok untuk Healing dan Menenangkan Pikiran

Yang paling saya suka dari Telaga Menjer adalah suasananya yang menenangkan. Angin sejuk, udara bersih, dan suara alam membuat pikiran terasa lebih rileks.

Tempat ini cocok untuk wisata keluarga Wonosobo maupun sekadar solo trip mencari ketenangan. 

Bahkan banyak juga pengunjung yang memilih camping dekat Telaga Menjer untuk menikmati suasana alam lebih lama.

Sebagai salah satu telaga alami Jawa Tengah, tempat ini benar-benar menghadirkan suasana yang bikin nyaman. Jauh dari hiruk pikuk kota dan cocok untuk recharge energi.

Spot foto aesthetic alam di Telaga Menjer
Spot foto aesthetic alam di Telaga Menjer (doc. Riana Dewie)


Lokasi dan Tips Berkunjung ke Telaga Menjer

Buat yang tertarik datang ke Telaga Menjer Dieng, lokasinya cukup mudah dijangkau baik menggunakan motor maupun mobil.

Lokasi Telaga Menjer Wonosobo

Lokasi Telaga Menjer berada gak terlalu jauh dari kawasan Dieng. Rute menuju Telaga Menjer juga cukup nyaman dilalui kendaraan pribadi.

Karena termasuk tempat wisata dekat Dieng, banyak wisatawan yang memasukkan lokasi ini dalam daftar perjalanan mereka saat liburan ke Wonosobo.

Tiket masuk Telaga Menjer juga masih cukup terjangkau sehingga cocok untuk wisata murah di Wonosobo bersama keluarga.

Tips agar Liburan Makin Nyaman

Ada beberapa tips sederhana yang menurut saya penting sebelum datang kesini:

- Datang menjelang sore agar cuaca lebih adem
- Gunakan jaket tipis karena udara cukup dingin
- Datang saat cuaca cerah supaya view pegunungan lebih terlihat
- Siapkan kamera atau HP karena banyak spot foto Telaga Menjer yang cantik
- Luangkan waktu lebih lama kalau ingin mencoba perahu wisata

Suasana tenang dan asri di Telaga Menjer Dieng
Suasana tenang dan asri di Telaga Menjer Dieng (doc. Riana Dewie)


Ke Telaga Menjer benar-benar bisa jadi healing sih. Airnya tenang, udaranya sejuk, pemandangan indah, lengkap dengan kabut, gunung, dan telaga yang memanjakan mata.

Kadang tempat terbaik untuk menenangkan pikiran memang bukan yang mewah, tapi yang mampu menghadirkan kabut, gunung, dan telaga indah dalam satu pemandangan.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Masuk Taman Sari Jogja Serasa Balik ke Zaman Kerajaan

Area bangunan heritage di Taman Sari Jogja yang memadukan arsitektur Jawa dan Eropa

Siang itu panas buanget. Tapi saya dan suami tetap semangat untuk mengunjungi salah satu “kerajaan” Jogja di masa lalu, yaitu Taman Sari Jogja. 

Dari luar saja, bangunannya sudah terlihat klasik dengan dominasi warna putih kusam yang justru bikin suasananya terasa makin estetik. 

Begitu masuk area wisata, aura kerajaan langsung terasa kuat banget.

Mulai dari arsitektur depan hingga belakang, semuanya mencerminkan suasana zaman dulu. 

Oh ya, sejak dulu saya memang suka mengunjungi bangunan bersejarah karena selalu punya cerita menarik di baliknya.

Dinding tua yang masih kokoh berdiri, lorong lorong sempit, hingga kolam pemandian membuat saya seperti sedang masuk ke cerita kerajaan Jawa.

Gak heran saya pribadi saat masuk kesini, berasa jadi putri kerajaan loh. Hahahaha... Baiklah, ikuti saya jalan jalan kesini ya.


Taman Sari Jogja, Wisata Sejarah yang Masih Memikat

Wisata Taman Sari Jogja sampai sekarang masih jadi destinasi wisata favorit Jogja. Saya sih gak heran kalau tempat ini selalu ramai wisatawan lokal maupun luar kota. 

Daya tariknya memang kuat banget, terutama buat pecinta wisata sejarah Jogja dan tempat instagramable di Jogja.

Banyak wisatawan datang kesini untuk menikmati suasana zaman kerajaan, hunting foto estetik, sampai belajar tentang sejarah Taman Sari Jogja yang cukup panjang. 

Selain itu, kawasan ini juga termasuk wisata budaya Yogyakarta yang terkenal sampai mancanegara.

Wisatawan menikmati suasana klasik di Taman Sari Jogja dengan bangunan putih peninggalan kerajaanWisatawan bisa menikmati suasana klasik di Taman Sari Jogja (doc. Riana Dewie)


Lokasi Strategis di Tengah Kota Yogyakarta

Lokasi Taman Sari Yogyakarta cukup strategis karena masih berada di area kompleks Keraton Yogyakarta. Tepatnya berada di Jalan Taman, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Kalau dari Malioboro, jaraknya sekitar 3 kilometer saja. Sedangkan dari Keraton Yogyakarta sangat dekat karena masih berada dalam satu kawasan kompleks keraton. 

Di sebelah utara terdapat area pemukiman warga, sementara sisi selatannya dekat dengan kampung wisata Taman Sari yang cukup terkenal.

Oh ya, akses menuju lokasi juga gampang banget karena jalannya sudah bagus dan bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sekilas Tentang Kompleks Taman Sari

Taman Sari adalah kompleks bekas taman kerajaan milik Kesultanan Yogyakarta yang dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I sekitar abad ke 18. 

Tempat ini dulu dikenal sebagai “istana air” karena memiliki kolam pemandian, kanal, dan area rekreasi keluarga kerajaan.

Kompleks Taman Sari bukan cuma dipakai untuk bersantai, tapi juga menjadi tempat meditasi, pertahanan, hingga lokasi persembunyian. 

Di dalamnya terdapat beberapa bangunan ikonik seperti Umbul Binangun, lorong bawah tanah Taman Sari, masjid bawah tanah Sumur Gumuling Jogja, dan area bekas danau buatan.

Arsitektur Jawa dan Eropa yang berpadu disini membuat suasananya terasa unik. Sampai sekarang kawasan ini masih menjadi hidden gem Jogja yang selalu menarik untuk dikunjungi.


Sejarah Taman Sari yang Penuh Cerita Kerajaan

Menurut saya, bagian sejarahnya justru paling menarik. Cerita kerajaan yang populer ini berasal dari masa Kesultanan Yogyakarta ketika Taman Sari Keraton Jogja digunakan sebagai tempat khusus keluarga kerajaan.

Oh ya, saat mendengar kisah kerajaan zaman dulu, saya selalu membayangkan bagaimana hiruk pikuk kehidupan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Dibangun pada Masa Sultan Hamengkubuwono I

Taman Sari dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I sekitar tahun 1758. 

Konon, pembangunan pesanggrahan kerajaan ini melibatkan arsitek dari Portugis sehingga bentuk bangunannya terlihat berbeda dibanding bangunan Jawa biasa.

Dulu kawasan ini dikelilingi air sehingga terlihat seperti benteng air kerajaan. Makanya gak sedikit wisatawan yang kagum saat mengetahui konsepnya sudah modern sejak ratusan tahun lalu.

Suasana wisata sejarah Taman Sari Jogja yang ramai dikunjungi wisatawan saat liburan
Suasana wisata sejarah Taman Sari Jogja yang ramai dikunjungi wisatawan saat liburan (doc. Riana Dewie)

Fungsi Taman Sari di Zaman Dahulu

Ternyata fungsi Taman Sari zaman dulu cukup banyak. Selain menjadi tempat rekreasi keluarga kerajaan, area ini juga dipakai sebagai tempat meditasi Sultan.

Beberapa bagian juga digunakan sebagai tempat pertahanan dan persembunyian ketika terjadi serangan musuh. Bahkan ada lorong rahasia kerajaan yang menghubungkan area tertentu untuk keamanan.

Selain itu, area kolam dipakai sebagai pemandian putri kerajaan. Saya membayangkan suasananya pasti tenang banget pada masa itu.

Kisah Pemandian Putri Keraton yang Melegenda

Salah satu cerita paling terkenal dari Taman Sari Jogja adalah kisah pemandian putri kerajaan. Konon, Sultan memilih putri kerajaan dari menara yang berada dekat kolam pemandian.

Cerita ini memang cukup melegenda dan sampai sekarang masih sering diceritakan oleh pemandu wisata. Kalau pas airnya penuh, saya pingin juga sih mandi disini ala ala kerajaan gitu. Hihihi...


Pesona Taman Sari yang Membuat Pengunjung Kagum

Saat masuk lebih dalam, saya makin kagum karena hampir setiap sudut punya keindahan tersendiri. Gak cuma estetik, tapi juga penuh nilai sejarah.

Kolam Pemandian dengan Nuansa Kerajaan

Kolam pemandiannya benar benar jadi ikon utama Taman Sari Jogja. Airnya terlihat kebiruan dengan bangunan putih klasik di sekitarnya.

Nuansa klasik Yogyakarta terasa kuat banget disini. Saya pribadi suka melihat detail bangunan yang masih dipertahankan sampai sekarang. Tempat ini juga jadi spot foto Taman Sari paling favorit wisatawan.

Lorong bawah tanah Taman Sari Jogja yang misterius dan penuh cerita sejarah kerajaan
Lorong bawah tanah Taman Sari Jogja yang misterius dan penuh cerita sejarah kerajaan (doc. Riana Dewie)


Lorong Bawah Tanah yang Misterius

Bagian yang bikin penasaran tentu saja lorong bawah tanah Taman Sari. Suasananya agak gelap dan lembap, tapi justru membuat pengalaman wisata terasa berbeda.

Konon lorong ini dipakai sebagai jalur rahasia kerajaan pada masa lalu. Jadi, kalau sekarang kamu berada disana, kira kira berani sendirian gak ni?

Oh ya, saya sempat membayangkan bagaimana suasana lorong ini saat masih dipakai keluarga kerajaan zaman dulu. Agak merinding tapi menarik juga sih.

Sumur Gumuling yang Ikonik dan Unik

Sumur Gumuling Jogja termasuk area yang cukup viral di media sosial. Bentuk bangunannya melingkar dengan tangga bersilang di tengah membuat tempat ini terlihat unik banget.

Saya juga takjub saat kesini karena suasananya benar benar berbeda dibanding area lain. Tempat ini sering dipakai untuk fotografi karena hasil fotonya memang estetik. Buat foto prewed bagus juga loh!

Sumur Gumuling di Taman Sari Yogyakarta dengan arsitektur unik dan spot foto instagramable
Sumur Gumuling di Taman Sari Yogyakarta dengan arsitektur unik dan spot foto instagramable (doc. Riana Dewie)


Spot Foto Estetik di Setiap Sudut

Buat pecinta fotografi, Taman Sari Yogyakarta memang surganya foto estetik. Hampir semua sudut terlihat cantik untuk dijadikan background.

Beberapa spot menarik disini adalah area kolam pemandian, lorong batu, Sumur Gumuling, hingga dinding klasik bernuansa vintage. Gak heran kalau tempat ini disebut destinasi wisata favorit Jogja.


Pengalaman Serasa Balik ke Zaman Kerajaan

Satu kompleks yang kental dengan kerajaan zaman dulu memang bikin rindu ya. Rasanya gak ingin dengar ceritanya saja, tapi juga ingin balik ke masa itu. 

Kehidupannya, hiruk pikuk masyarakatnya, rajanya, putri putrinya dan semuanya.

Suasana Tenang dengan Bangunan Klasik

Saya memang penyuka bangunan klasik yang masih berdiri sampai sekarang. Ada rasa kagum tersendiri melihat bangunan bersejarah Jogja yang tetap kokoh walau sudah berusia ratusan tahun.

Suasananya juga tenang banget meski ramai wisatawan. Cocok untuk wisata heritage Jogja maupun wisata edukasi Jogja.

Arsitektur Jawa dan Eropa yang Menarik

Perpaduan arsitektur Jawa dan Eropa menghadirkan nuansa unik karena terlihat elegan sekaligus klasik. Detail jendela, lorong, dan bentuk bangunannya membuat saya betah berlama lama disini.

Oh ya, menurut saya perpaduan budaya seperti ini justru bikin Taman Sari Jogja terasa berbeda dibanding tempat wisata sejarah populer lainnya.

Nuansa Heritage yang Masih Terasa Kuat

Pecinta heritage wajib mampir kesini karena suasana zaman kerajaan masih terasa kuat. Dari bentuk bangunan hingga area kompleks keraton Yogyakarta, semuanya punya cerita tersendiri.

Saya sih termasuk orang yang gampang kagum dengan tempat seperti ini. Apalagi kalau sambil membayangkan kehidupan masa lalu. Hahahaha...

Kolam pemandian bersejarah di Taman Sari Jogja dengan nuansa kerajaan Jawa yang estetik

Kolam pemandian bersejarah di Taman Sari Jogja dengan nuansa kerajaan Jawa yang estetik (doc. Riana Dewie)


Informasi Wisata Taman Sari Jogja

Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional

Tiket masuk Taman Sari Jogja (2026) untuk wisatawan domestik sekitar Rp15.000 per orang. Sedangkan wisatawan asing dikenakan tarif sekitar Rp25.000.

Jam buka Taman Sari biasanya mulai pukul 09.00 sampai 15.00 WIB setiap hari.

Rute dan Cara Menuju Taman Sari

Kalau dari Malioboro, perjalanan menuju Taman Sari bisa ditempuh sekitar 10 sampai 15 menit menggunakan motor atau mobil.

Bisa juga menggunakan becak dan andong supaya pengalaman wisata terasa lebih khas Jogja.

Tips Berkunjung agar Lebih Nyaman

Datanglah pagi atau sore supaya cuacanya gak terlalu panas. Gunakan alas kaki nyaman karena area wisatanya cukup luas untuk dijelajahi.

Jangan lupa membawa air minum dan kamera karena banyak tempat wisata estetik Jogja yang sayang kalau gak diabadikan.

Spot foto estetik di Taman Sari Jogja dengan nuansa klasik khas kompleks keraton Yogyakarta
Spot foto estetik di Taman Sari Jogja dengan nuansa klasik khas kompleks keraton Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Kenapa Taman Sari Jogja Selalu Jadi Favorit Wisatawan?

Cocok untuk Wisata Sejarah dan Edukasi

Tempat ini cocok banget untuk belajar sejarah sekaligus menikmati wisata budaya Yogyakarta.

Banyak Spot Instagramable untuk Konten Media Sosial

Setiap sudutnya punya nilai estetika yang tinggi sehingga cocok untuk konten media sosial.

Memberikan Pengalaman Wisata yang Berbeda

Masuk Taman Sari Jogja benar benar memberikan pengalaman berbeda dibanding wisata biasa. Ada suasana klasik, sejarah, dan nuansa kerajaan yang masih terasa hidup sampai sekarang.

***

Disini mata terasa segar melihat bangunan bernuansa putih dengan air kolam yang jernih kebiruan. Saya pribadi merasa wisata sejarah ternyata bisa terasa sangat menyenangkan dan gak membosankan.

Saat liburan ke Jogja, jangan lupa mampir ke tempat bersejarah ini ya. Siapa tahu kamu juga ikut merasakan sensasi serasa balik ke zaman kerajaan, dimana kamu jadi salah satu putri kerajaan hihihi.... 


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments