Showing posts with label Destinations. Show all posts
Showing posts with label Destinations. Show all posts

In Destinations Museum

Museum Taman Tino Sidin, Wisata Edukasi di Jogja yang Menginspirasi

Museum Taman Tino Sidin sebagai wisata edukasi menarik di Jogja.

Ada satu tempat yang beberapa kali saya lewati ketika sedang berkendara di kawasan Jalan Tino Sidin, Bantul. 

Dari luar, bangunannya cukup menarik perhatian karena terdapat museum yang menggunakan nama seorang tokoh seni Indonesia. 

Namun, entah kenapa, saya justru belum pernah benar-benar menyempatkan diri untuk masuk.

Sampai akhirnya rasa penasaran membawa saya berkunjung ke Museum Taman Tino Sidin. Awalnya, saya hanya ingin melihat seperti apa isi museum tersebut. 

Eh, ternyata ada banyak cerita menarik yang tersimpan di dalamnya. 

Bukan hanya tentang karya seni, tetapi juga perjalanan hidup seorang pendidik yang pernah menemani masa kecil jutaan anak Indonesia melalui layar televisi.

Oh ya, saya baru menyadari bahwa sosok Pak Tino Sidin punya perjalanan karier yang luar biasa. Bahkan, museum ini menyimpan berbagai peninggalan yang membuat kita bisa mengenal beliau lebih dekat.

Mengenal Museum Taman Tino Sidin di Bantul

Museum Taman Tino Sidin berada di Jalan Tino Sidin No. 297, Kadipiro, Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. 

Lokasinya berada di kawasan permukiman, sehingga mungkin saja ada orang yang beberapa kali melewati jalan ini tanpa menyadari keberadaan museum tersebut.

Museum ini menempati rumah tinggal Pak Tino Sidin yang kemudian dijadikan tempat untuk mengenang perjalanan hidup, karya, dan dedikasinya dalam dunia seni serta pendidikan. 

Museum Taman Tino Sidin resmi dibuka pada 4 Oktober 2014 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Mohammad Nuh.

Tiket masuk Museum Taman Tino Sidin
Tiket masuk Museum Taman Tino Sidin (doc. Riana Dewie)


Menariknya, bangunan museum tetap mempertahankan desain asli rumah tinggal Pak Tino. Tiket masuknya hanya Rp. 20.000,- per orang, cukup worth it sih, apalagi banyak hal menarik yang bisa dipelajari. 

Ada beberapa ruangan tambahan yang difungsikan sebagai sanggar dan perpustakaan untuk mendukung kegiatan seni dan edukasi.

Saat mulai memasuki area museum, saya merasa tempat ini punya suasana yang berbeda dari museum pada umumnya. 

Bukan sekadar ruangan yang dipenuhi benda pajangan, tetapi seperti sedang diajak berkunjung ke rumah seseorang yang menyimpan banyak kenangan.

Museum ini juga menjadi bagian dari wisata budaya Bantul yang menawarkan pengalaman berbeda. 

Bagi pencinta wisata museum di Jogja, tempat ini bisa menjadi alternatif untuk mengenal sejarah sekaligus dunia seni rupa Indonesia.

Mengenal Sosok Pak Tino Sidin dan Segudang Prestasinya

Tahu gak, Pak Tino Sidin merupakan salah satu tokoh seni yang cukup berpengaruh dalam dunia pendidikan menggambar anak-anak di Indonesia. 

Beliau lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 25 November 1925.

Kepiawaiannya dalam menggambar sudah terlihat sejak muda. Beliau kemudian menekuni dunia seni rupa dan pernah belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 1960–1963.

Namun, namanya semakin dikenal masyarakat luas setelah membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI. Program tersebut menjadi salah satu tayangan anak yang populer, khususnya pada era 1970-an hingga 1990-an.

Ruang edukasi seni di Museum Taman Tino Sidin Bantul.
Ruang edukasi seni di Museum Taman Tino Sidin Bantul (doc. Riana Dewie)


Sosok guru gambar sejuta murid

Bagi generasi yang tumbuh pada masa itu, mungkin masih ingat dengan ucapan khas beliau, "Ya, Bagus!" atau "Teruskan, jangan takut-takut!"

Melalui acara Gemar Menggambar TVRI, Pak Tino mengajak anak-anak untuk berani menggambar dan mengembangkan imajinasi. 

Beliau gak hanya mengajarkan teknik menggambar, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap setiap karya yang dibuat anak-anak.

Menurut saya, pendekatan seperti ini punya nilai pendidikan yang menarik. Anak-anak diajak untuk menikmati proses berkarya tanpa harus merasa takut salah atau khawatir hasil gambarnya kurang bagus.

Melihat karya dan memorabilia di dalam museum

Di Museum Taman Tino Sidin, pengunjung bisa menemukan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perjalanan hidup beliau. 

Mulai dari lukisan Pak Tino Sidin, sketsa, foto dokumentasi, kliping media massa, surat pribadi, buku, hingga berbagai penghargaan.

Dokumentasi foto Pak Tino Sidin di museum seni Yogyakarta.
Dokumentasi foto Pak Tino Sidin di museum seni Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Ada pula benda-benda personal yang menjadi ciri khas beliau, seperti topi baret, kacamata, cat, dan kuas yang pernah digunakan untuk berkarya.

Koleksi seni yang tersimpan juga cukup beragam. Dalam profil museum tahun 2022, tercatat ada 32 lukisan cat minyak dan akrilik, 115 sketsa hitam putih, serta 35 sketsa spidol berwarna.

Melihat koleksi tersebut membuat saya semakin memahami bahwa Pak Tino bukan hanya dikenal sebagai guru gambar di televisi. 

Beliau juga merupakan pelukis dan seniman yang memiliki kontribusi panjang dalam dunia pendidikan seni.

Wisata Edukasi yang Menarik untuk Anak dan Pelajar

Oh ya, Museum Taman Tino Sidin punya daya tarik yang lebih luas daripada sekadar tempat mengenang tokoh seni. 

Museum ini juga menjadi ruang belajar alternatif yang mempertemukan sejarah, seni, dan kreativitas.

Gak heran jika tempat ini menarik dijadikan tujuan wisata edukasi Jogja, khususnya bagi sekolah dan rombongan pelajar yang ingin mendapatkan pengalaman belajar di luar kelas.

Belajar seni dan mengembangkan kreativitas

Salah satu nilai penting yang bisa dipelajari dari museum ini adalah keberanian berekspresi. 

Melalui perjalanan Pak Tino, anak-anak bisa mengenal bahwa menggambar bukan hanya tentang menghasilkan karya yang terlihat bagus, tetapi juga menjadi sarana untuk menuangkan ide dan imajinasi.

Museum edukatif seperti ini juga membantu anak mengenal tokoh seni Indonesia melalui benda-benda peninggalan yang nyata. 

Koleksi sketsa dan karya seni rupa di Museum Taman Tino Sidin.
Koleksi sketsa dan karya seni rupa di Museum Taman Tino Sidin (doc. Riana Dewie)


Mereka bisa melihat langsung karya, dokumentasi, serta perjalanan seorang pendidik yang pernah memberikan inspirasi kepada banyak orang.

Bagi orang tua, museum anak di Jogja ini bisa menjadi pilihan wisata keluarga di Yogyakarta. Anak-anak gak harus selalu menghabiskan waktu di pusat permainan atau tempat rekreasi modern. 

Sesekali, mengunjungi museum juga bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan.

Menjadi tujuan kunjungan pelajar dari berbagai daerah

Museum Taman Tino Sidin juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata edukasi di Bantul untuk kegiatan rombongan sekolah. 

Kunjungan museum memberikan kesempatan bagi pelajar untuk mengenal sejarah, mengamati karya seni, dan memahami nilai kreativitas secara lebih dekat.

Bahkan, kegiatan Wajib Kunjung Museum yang diselenggarakan pemerintah daerah turut menjadikan Museum Tino Sidin sebagai salah satu ruang pembelajaran bagi peserta didik dan mahasiswa.

Menurut saya, pengalaman belajar seperti ini cukup penting. Sebab, anak-anak bisa mendapatkan cerita yang mungkin gak mereka temukan secara lengkap hanya melalui buku pelajaran.

Wisata sejarah di Jogja pun gak harus selalu berkaitan dengan bangunan kuno atau peninggalan kerajaan. 

Mengenal perjalanan hidup seorang seniman dan pendidik juga menjadi bagian dari pembelajaran budaya yang menarik.

Berkunjung ke Museum Taman Tino Sidin, Ada Banyak Inspirasi

Tahu gak, terkadang tempat yang terlihat biasa saja dari luar justru menyimpan cerita yang luar biasa ketika kita bersedia meluangkan waktu untuk mengenalnya.

Itulah kesan yang saya dapatkan setelah berkunjung ke Museum Taman Tino Sidin. 

Tempat yang sebelumnya hanya saya lihat sekilas ketika melewati jalan tersebut ternyata menyimpan banyak cerita tentang sosok pendidik yang punya pengaruh besar terhadap perkembangan seni anak-anak Indonesia.

Pesan Bapak Tino Sidin untuk anak-anak di Museum Taman Tino Sidin
Pesan Bapak Tino Sidin untuk anak-anak di Museum Taman Tino Sidin (doc. Riana Dewie)


Saya juga jadi memahami bahwa sebuah museum gak harus selalu menghadirkan koleksi benda yang megah untuk memberikan pengalaman berharga. 

Cerita, perjuangan, dan nilai kehidupan di balik setiap koleksinya justru bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Buat saya sih, salah satu pelajaran paling menarik dari sosok Pak Tino adalah bagaimana beliau menghargai proses belajar anak-anak. 

Sebuah gambar sederhana tetap layak mendapatkan apresiasi selama dibuat dengan keberanian dan imajinasi.

Hihihihi.... rasanya jadi ingin kembali belajar menggambar tanpa terlalu memikirkan hasil akhirnya.

Jadi, buat kamu yang sedang mencari wisata edukasi Yogyakarta, Museum Taman Tino Sidin bisa masuk dalam daftar kunjungan berikutnya. 

Tempat ini cocok untuk mengenal sejarah, menikmati karya seni, sekaligus mendapatkan inspirasi tentang pentingnya kreativitas sejak usia dini.

Oh ya, jangan sampai hanya melewati jalannya saja seperti saya dulu. Sesekali, sempatkan mampir dan kenali cerita menarik yang ada di balik nama Museum Taman Tino Sidin. 

Siapa tahu, kunjungan sederhana ini justru memberikan pengalaman yang berkesan!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Taman Doa Pringwulung, Ruang Teduh di Tengah Kota Jogja

Taman Doa Pringwulung di kompleks Gereja Santo Yohanes Rasul Jogja.

Jogja memang punya banyak cerita. Kota yang dikenal dengan suasana istimewa ini gak pernah benar-benar sepi dari aktivitas. 

Mulai dari mahasiswa yang sibuk kuliah, pekerja yang mengejar rutinitas, sampai wisatawan yang datang silih berganti. 

Namun, di antara padatnya kegiatan tersebut, ternyata ada sebuah tempat yang menawarkan suasana berbeda. Namanya Taman Doa Pringwulung.

Saya sendiri baru pertama kali mengunjungi taman doa ini ketika mengikuti rekoleksi bertajuk "Menjadi Ibu Bahagia" bersama beberapa ibu lainnya. 

Selain ingin mengikuti kegiatan rohani, saya juga sekaligus mendampingi peserta lain yang sebagian besar sudah berusia lanjut. Jadi, bisa dibilang kunjungan kali ini punya cerita tersendiri.

Awalnya, saya hanya membayangkan sebuah area doa di lingkungan gereja. Namun, begitu melihat langsung tempatnya, saya justru dibuat takjub. 

Ternyata, di tengah kawasan perkotaan Jogja, ada taman doa yang cukup luas, hijau, dan terasa begitu menenangkan.

1. Mengenal Taman Doa di Bawah Salib Yesus Pringwulung

Taman Doa Pringwulung atau dikenal dengan nama Taman Doa di Bawah Salib Yesus berada di kompleks Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung, tepatnya di Jalan Empu Panuluh, Pringwulung, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Lokasinya berada di bagian kompleks gereja yang menghadirkan ruang terbuka untuk kegiatan rohani. 

Jadi, pengunjung gak hanya menemukan bangunan gereja sebagai tempat ibadah, tetapi juga area taman yang dirancang untuk berdoa, merenung, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tahu gak, taman doa ini berdiri di atas lahan sekitar 1.300 meter persegi. Ukurannya cukup luas untuk sebuah ruang doa terbuka yang berada di kawasan perkotaan. 

Keberadaannya juga menjadi salah satu daya tarik Paroki Santo Yohanes Rasul Pringwulung, yang dikenal dekat dengan lingkungan mahasiswa.

Hal yang langsung terasa ketika memasuki area taman adalah suasananya yang adem dan hening. Ada kesan teduh yang membuat saya ingin berjalan lebih pelan, menikmati lingkungan sekitar, lalu duduk sejenak.

Bagi umat Katolik, tempat ini tentu bisa menjadi ruang untuk melakukan doa pribadi, Jalan Salib, maupun refleksi iman. 

Namun, taman doa juga menghadirkan pengalaman yang berbeda dari berdoa di dalam ruangan. Kita bisa menikmati suasana alam sambil mengambil waktu untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Kami berfoto dalam suasana teduh dan damai di Taman Doa Pringwulung
Kami berfoto dalam suasana teduh dan damai di Taman Doa Pringwulung (doc. Riana Dewie)


2. Taman Doa yang Asri di Tengah Keramaian Kota Jogja

Salah satu hal yang membuat saya cukup terkesan adalah suasana tamannya. 

Bayangkan, di kawasan yang aktivitas masyarakatnya cukup padat, ada ruang terbuka hijau yang terasa sejuk dan jauh dari kesan terburu-buru.

Taman doa ini memiliki pepohonan, aneka tanaman, area duduk, serta beberapa gazebo kecil. 

Elemen-elemen tersebut membuat tempatnya terasa lebih hidup, tetapi tetap mempertahankan suasana hening yang mendukung kegiatan rohani.

Ruang terbuka yang nyaman untuk berdoa

Keberadaan gazebo menjadi salah satu bagian yang menarik. Pengunjung bisa duduk dan beristirahat sejenak sambil menikmati suasana taman. 

Ada juga area doa terbuka dengan bangku-bangku yang menghadap ke bagian utama taman.

Tahu gak, suasana seperti ini justru membuat kegiatan berdoa terasa lebih dekat dengan alam. Kita gak harus selalu berada di dalam bangunan untuk menciptakan suasana yang khusyuk. 

Duduk di area taman, menikmati udara segar, lalu memanjatkan doa juga bisa menjadi pengalaman yang berkesan.

Ada area Jalan Salib yang menjadi daya tarik

Selain taman hijau, terdapat pula area Jalan Salib yang menggambarkan perjalanan sengsara Yesus. Pengunjung dapat mengikuti setiap perhentian sambil merenungkan kisah pengorbanan-Nya.

Di bagian utama, terdapat patung Yesus yang disalibkan bersama representasi Bunda Maria dan Santo Yohanes Rasul. 

Kehadiran patung tersebut menjadi pusat perhatian sekaligus mengingatkan pengunjung pada makna kesetiaan, kasih, dan pengorbanan.

Buat saya, perpaduan antara taman hijau dan elemen rohani seperti ini membuat Taman Doa di Bawah Salib Yesus terasa istimewa. 

Bukan sekadar taman untuk menikmati pemandangan, melainkan ruang refleksi diri yang punya makna lebih dalam.

Area terbuka Taman Doa Katolik di Jogja.
Area terbuka Taman Doa Katolik di Jogja (doc. Riana Dewie)


3. Lokasi Strategis, Bisa Jadi Tempat Menepi Sejenak dari Rutinitas

Hal menarik lainnya adalah lokasi Taman Doa Pringwulung Jogja yang cukup strategis. 

Kawasan Pringwulung berada di Condongcatur, Depok, Sleman, yang masih terhubung dengan berbagai pusat aktivitas masyarakat di Yogyakarta.

Lokasinya juga relatif dekat dengan kawasan Gejayan dan sejumlah lingkungan kampus. Seperti yang kita tahu, area ini menjadi salah satu kawasan pendidikan yang cukup ramai di Jogja. 

Aktivitas mahasiswa, perkantoran, tempat makan, hingga berbagai usaha lokal membuat lingkungannya selalu punya denyut kehidupan.

Alternatif tempat menenangkan diri bagi mahasiswa

Buat mahasiswa yang sehari-hari berkutat dengan tugas kuliah, organisasi, atau pekerjaan sampingan, keberadaan taman doa seperti ini bisa menjadi pilihan untuk mengambil jeda. 

Gak harus menunggu ada kegiatan gereja atau rekoleksi untuk datang dan berdoa.

Oh ya, suasana taman yang lebih terbuka juga memberikan pengalaman berbeda dibandingkan sekadar duduk di kafe atau tempat nongkrong. 

Ada kesempatan untuk menjauh sebentar dari layar ponsel, merapikan pikiran, dan menikmati suasana yang lebih tenang.

Peserta rekoleksi berfoto di Taman Doa di Bawah Salib Yesus.
Peserta rekoleksi berfoto di Taman Doa di Bawah Salib Yesus (doc. panitia)


Bukan hanya untuk mereka yang sedang berziarah

Taman doa ini juga bisa menjadi tempat singgah bagi umat Katolik yang sedang berada di sekitar Pringwulung, baik untuk doa pribadi maupun ziarah rohani.

Bagi pekerja yang aktivitasnya berada di area perkantoran Yogyakarta, tempat ini juga bisa menjadi alternatif untuk menepi sejenak dari rutinitas. 

Tentu saja, pengunjung tetap perlu memperhatikan aturan dan kegiatan yang berlangsung di lingkungan gereja.

Menurut saya sih, keberadaan ruang seperti ini cukup penting di tengah kota. 

Kita sering mencari tempat liburan jauh-jauh hanya untuk mendapatkan suasana tenang, padahal terkadang ada tempat menenangkan diri di Jogja yang lokasinya gak terlalu jauh dari aktivitas sehari-hari.

4. Menemukan Ketenangan dan Menguatkan Iman di Taman Doa

Ada satu pengalaman yang cukup membekas selama saya berada di taman doa ini, yaitu suasananya yang terasa begitu menenangkan ketika digunakan untuk berdoa.

Saya masih ingat bagaimana angin bertiup lembut, disertai suara beberapa helai daun yang saling bergesekan. Sederhana memang, tetapi justru hal-hal kecil seperti itu membuat suasana taman terasa semakin asri.

Oh ya, ada juga backsound bertema alam yang diputar di area taman. Musiknya mengingatkan saya pada suasana Taizé yang pernah saya dengar ketika mengikuti kegiatan doa. 

Perpaduan musik lembut, suara alam, dan lingkungan yang hijau membuat suasana berdoa terasa semakin nyaman.

Saya sendiri merasa lebih tenang saat mengikuti doa di sana. 

Rasanya seperti mendapatkan kesempatan untuk berhenti sebentar dari berbagai kesibukan dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Dalam kunjungan kali ini, kegiatan rekoleksi "Menjadi Ibu Bahagia" menjadi bagian dari pengalaman tersebut. 

Saya senang bisa mendampingi ibu-ibu lainnya mengikuti kegiatan rohani. Apalagi, berada di lingkungan yang nyaman seperti ini membuat suasana rekoleksi terasa lebih berkesan.

Wkwkwkwk.... terkadang kita memang membutuhkan suasana yang berbeda supaya bisa lebih menikmati waktu untuk berdoa. 

Bukan berarti harus pergi jauh atau mencari tempat yang mewah, tetapi cukup menemukan ruang yang membuat hati terasa lebih lapang.

Suasana teduh dan damai di Taman Doa Pringwulung.
Suasana teduh dan damai di Taman Doa Pringwulung (doc. Riana Dewie)


Taman Doa di Bawah Salib Yesus juga mengajak pengunjung untuk kembali merenungkan makna iman melalui kehadiran Salib Yesus, Bunda Maria, dan Santo Yohanes Rasul. 

Ada pesan tentang kasih, kesetiaan, serta pengorbanan yang bisa menjadi bahan refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Oh ya, bagi saya, pengalaman berkunjung ke taman doa ini menjadi pengingat bahwa waktu untuk berdoa dan menenangkan diri gak harus selalu menunggu momen khusus. 

Kita bisa menyempatkan diri di sela-sela rutinitas, selama ada niat untuk mengambil jeda.

***

Pada akhirnya, Taman Doa Pringwulung bukan hanya menjadi salah satu tempat doa umat Katolik di Yogyakarta. Keberadaannya juga menghadirkan ruang terbuka yang asri di tengah kawasan perkotaan.

Jadi, jika suatu saat sedang berada di sekitar Pringwulung, Condongcatur, dan ingin mengambil waktu sejenak untuk berdoa, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan. 

Sebuah ruang teduh yang mengingatkan kita bahwa di tengah ramainya kehidupan, selalu ada kesempatan untuk berhenti, bersyukur, dan menemukan kembali ketenangan.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Berburu Senja di Geblek Pari Kulon Progo Lewat Drone

Menikmati sore di Kulon Progo dengan latar pegunungan

Ada kalanya rencana jalan-jalan justru muncul ketika kita sama sekali gak sedang merencanakannya. Begitu juga pengalaman saya berburu senja di Geblek Pari Kulon Progo. 

Berawal dari sebuah telepon dadakan, sore yang awalnya biasa saja berubah menjadi kesempatan menikmati hamparan sawah, pegunungan, kuliner lokal, dan pemandangan senja dari perspektif drone.

Tahu gak, saya memang punya kelemahan terhadap pemandangan alam, terutama saat matahari mulai turun dan cahaya keemasan menyentuh hamparan hijau. 

Rasanya ada saja alasan untuk berhenti sejenak, mengeluarkan kamera, lalu mengabadikan momen. 

Kali ini, pengalaman tersebut terasa lebih istimewa karena saya bisa menyaksikan keindahan alam dari dua sudut pandang sekaligus: langsung dari lokasi dan melalui layar drone.

1. Geblek Pari, Pilihan untuk Menikmati Sore di Kulon Progo

Singkat cerita, siang itu saya sedang berziarah ke Gua Maria di Klaten ketika sebuah telepon masuk. Ada ajakan untuk nge-drone di Kulon Progo pada sore harinya. 

Wah, tawaran yang cukup sulit ditolak, apalagi saya memang senang menikmati suasana alam terbuka.

Saat ditanya mau ke mana, ternyata ada dua pilihan tempat dengan bentangan alam yang menarik untuk dijelajahi menggunakan drone. Setelah mempertimbangkan suasana dan pemandangannya, akhirnya kami memilih Geblek Pari.

Begitu tiba, kesan pertama saya adalah, wow, tempatnya menyenangkan! Hamparan sawah dan latar pegunungan langsung mencuri perhatian. Buat saya yang menyukai wisata alam, kombinasi seperti ini punya daya tarik tersendiri. 

Suasana Geblek Pari sore hari di Kulon Progo
Suasana Geblek Pari sore hari di Kulon Progo (doc. Riana Dewie)


Gak perlu dekorasi yang berlebihan, pemandangan alami saja sudah bisa membuat suasana terasa istimewa.

Geblek Pari menjadi salah satu pilihan destinasi wisata Kulon Progo untuk menikmati suasana pedesaan sambil bersantai dan mencicipi kuliner. 

Area terbuka dengan pemandangan hijau memberikan pengalaman yang berbeda dari menghabiskan waktu di tengah keramaian kota.

Tahu gak, salah satu hal yang membuat saya betah adalah suasananya yang terasa hidup. Ada anak-anak berlarian, pengunjung bercengkerama, dan orang-orang yang duduk santai menikmati waktu bersama keluarga. 

Di beberapa area tersedia kursi dan gazebo yang bisa dimanfaatkan untuk duduk sambil menyantap makanan.

Udara sore yang terasa nyaman juga membuat saya ingin berjalan lebih lama. 

Buat pencinta pemandangan hijau, Geblek Pari sore hari bisa menjadi pilihan untuk melepas penat tanpa harus menyusun agenda liburan yang rumit.

2. Menunggu Senja Sambil Menikmati Suasana Geblek Pari

Sebelum berburu senja, tentu ada ritual kecil yang gak boleh dilewatkan: jalan-jalan sambil mengambil foto. Saya memilih berfoto di sekitar sawah dengan latar belakang pegunungan. 

Hasilnya? Sederhana, tetapi justru itu yang saya suka. Ada hamparan hijau, langit terbuka, dan suasana pedesaan yang terasa menenangkan.

Aneka penyewaan sepeda listrik di Geblek Pari Kulon Progo
Aneka penyewaan sepeda listrik di Geblek Pari Kulon Progo (doc. Riana Dewie)


Di kawasan ini, pengunjung juga bisa menjumpai sepeda listrik yang disewakan untuk berkeliling. Aktivitas tersebut bisa menjadi alternatif bagi yang ingin menikmati area sekitar tanpa terlalu banyak berjalan kaki. 

Namun, saya memilih berjalan santai saja karena tujuan utama sore itu memang menikmati suasana, bukan mengejar banyak tempat dalam satu kunjungan.

Oh ya, buat saya, pengalaman nyore gak selalu harus diisi dengan aktivitas yang padat. Kadang, cukup berjalan perlahan, memperhatikan pemandangan, dan mengambil beberapa foto sudah menyenangkan. 

Ada semacam jeda kecil dari rutinitas yang biasanya membuat kepala penuh dengan urusan pekerjaan.

Menikmati Golden Hour yang Bikin Susah Beranjak

Momen yang paling saya tunggu akhirnya datang. Cahaya matahari mulai berubah, perlahan menjadi lebih hangat dan keemasan. Inilah golden hour, waktu menjelang matahari terbenam ketika cahaya alami bisa memberikan kesan dramatis pada foto maupun video.

Cantik banget, sih! Rasanya sudah lama saya gak menikmati golden hour seindah itu. Hamparan sawah, siluet pegunungan, dan perubahan warna langit menciptakan pemandangan yang membuat saya ingin berhenti sejenak dari segala kesibukan.

Saya pun bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan menikmati keindahan seperti ini. Hal sederhana yang terkadang kita anggap biasa ternyata bisa terasa begitu berharga ketika benar-benar diperhatikan.

Kuliner geblek khas Kulon Progo untuk teman menikmati sore
Kuliner geblek khas Kulon Progo untuk teman menikmati sore (doc. Riana Dewie)


Sambil menikmati suasana, kami memesan beberapa makanan dan minuman. Ada nasi goreng telur, pisang goreng, serta geblek, camilan khas Kulon Progo berbahan dasar pati singkong. 

Untuk minuman, pilihannya juga beragam, mulai dari wedang tape, susu jahe, kopi, hingga es dawet dan es cendol.

Nasi goreng telur cocok dinikmati saat Nyore di Geblek Pari
Nasi goreng telur cocok dinikmati saat Nyore di Geblek Pari (doc. Riana Dewie)


Menikmati makanan sambil memandangi pemandangan terbuka punya sensasi tersendiri. Apalagi setelah berjalan-jalan dan mengambil foto, duduk sejenak sambil menyantap hidangan terasa makin nikmat. Wkwkwkwk.... ternyata agenda berburu senja juga perlu didukung urusan perut!

3. Berburu Senja dari Ketinggian Lewat Drone

Salah satu alasan kunjungan kali ini terasa berbeda adalah kehadiran drone yang dibawa adik ipar saya. Kebetulan, ia memang membawa perangkat tersebut untuk membuat konten di lokasi ini. 

Saya pun berkesempatan melihat Geblek Pari dari perspektif yang selama ini jarang saya nikmati secara langsung.

Menyiapkan Drone Sebelum Matahari Terbenam

Menerbangkan drone untuk merekam pemandangan saat senja membutuhkan perencanaan waktu. Golden hour berlangsung relatif singkat, sehingga operator perlu memperhatikan kondisi cahaya, cuaca, arah angin, dan daya baterai.

Area terbuka memang menarik untuk pengambilan gambar, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas. Sebelum menerbangkan drone, penting untuk memastikan lokasi aman, memperhatikan keberadaan pengunjung, serta mematuhi aturan penerbangan yang berlaku. 

Hindari pula menerbangkan drone terlalu dekat dengan orang lain atau melintasi area yang berisiko.

Dalam kunjungan ini, adik ipar saya yang mengendalikan drone. Saya menikmati prosesnya sambil melihat bagaimana bentangan alam yang tampak biasa dari permukaan tanah dapat berubah menjadi komposisi visual yang menarik ketika dilihat dari atas.

Foto suasana pedesaan di Geblek Pari Kulon Progo dari lensa drone
Foto suasana pedesaan di Geblek Pari Kulon Progo dari lensa drone (doc. Riana Dewie)


Menangkap Pesona Geblek Pari dari Udara

Ternyata, menyaksikan proses perekaman foto udara dan video aerial secara langsung itu menyenangkan. Dari perspektif ketinggian, pola hamparan sawah terlihat lebih jelas. 

Bentangan lahan, garis pematang, serta latar pegunungan membentuk pemandangan yang berbeda dibandingkan ketika kita berdiri di bawahnya.

Oh ya, bagian paling seru adalah ketika hasil rekaman mulai diperlihatkan. Saya langsung girang melihatnya! 

Wkwkwkwk.... ternyata pemandangan yang sudah terasa indah dari bawah bisa menghadirkan kejutan lain saat dilihat dari udara.

Bukan berarti hasil drone selalu lebih bagus daripada foto biasa. Keduanya punya kelebihan masing-masing. 

Foto udara Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone
Foto udara Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone (doc. Riana Dewie)


Foto dari permukaan tanah bisa menangkap detail, suasana, dan ekspresi manusia, sedangkan drone memberikan gambaran lebih luas tentang lanskap.

Bagi saya, justru perpaduan dua perspektif inilah yang menarik. Kita bisa menikmati langsung udara sore dan suasana sekitar, kemudian melihat kembali keindahan tempat yang sama melalui hasil rekaman dari ketinggian.

Jika kamu gemar fotografi atau membuat konten perjalanan, pengalaman seperti ini bisa menjadi cara untuk mengeksplorasi destinasi wisata dengan pendekatan visual yang berbeda. 

Namun, tanpa drone sekalipun, menikmati senja di Geblek Pari tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.

4. Geblek Pari dan Cerita Sore yang Berkesan

Ada sesuatu yang menyenangkan dari perjalanan spontan seperti ini. Gak perlu rencana panjang, tiket mahal, atau agenda yang terlalu padat. 

Terkadang, sebuah ajakan sederhana sudah cukup untuk membawa kita pada pengalaman baru yang menyegarkan pikiran.

Buat saya, nyore di Kulon Progo bukan semata-mata tentang mendapatkan foto sunset yang bagus. 

Ada kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menikmati makanan lokal, mengobrol dengan keluarga, dan menyadari bahwa hidup juga punya banyak hal kecil yang layak disyukuri.

Tahu gak, menikmati waktu luang seperti ini juga mengingatkan saya bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk bernapas. Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai persoalan memang gak bisa selalu dihindari. 

Pemandangan senja di Geblek Pari yang asyik
Pemandangan senja di Geblek Pari yang asyik (doc. Riana Dewie)


Namun, sesekali mengambil jeda bisa membantu kita kembali menghadapi semuanya dengan pikiran yang lebih segar.

Di tengah rasa syukur itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara kita di Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan. 

Ketika saya masih bisa menikmati udara sore dan pemandangan alam dengan nyaman di kota Jogja, ada masyarakat yang harus menghadapi kondisi lingkungan yang mengganggu aktivitas dan kualitas udara mereka.

Saya berharap kebakaran hutan bisa segera tertangani, masyarakat yang terdampak mendapat perlindungan, dan alam yang rusak dapat dipulihkan. 

Semoga kita juga semakin peduli terhadap lingkungan, sebab udara bersih dan alam yang sehat bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan kebutuhan bersama.

***

Sore itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda menerbangkan drone. Ada pemandangan indah, makanan sederhana, tawa kecil, dan pengingat untuk lebih menghargai kesempatan menikmati alam. Rasanya menyenangkan bisa pulang membawa cerita, bukan hanya foto dan video.

Golden Sunrise di Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone
Foto Golden Sunrise di Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone (doc. Riana Dewie)


Jadi, jika suatu hari kamu ingin menikmati wisata sore hari di Kulon Progo, Geblek Pari bisa masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi. 

Kamu bisa datang untuk bersantai, mencicipi kuliner lokal, mengambil foto, atau sekadar duduk menikmati perubahan warna langit menjelang malam.

Gak harus membawa drone untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan. Terkadang, cukup hadir sepenuhnya, menikmati suasana, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sudah menjadi hadiah kecil yang berarti.

Oh ya, semoga kita selalu punya kesempatan untuk menikmati senja, menjaga alam, dan mensyukuri hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian. 

Karena pada akhirnya, perjalanan yang menyenangkan bukan cuma soal seberapa jauh kita pergi, tetapi juga tentang apa yang kita rasakan dan pelajari selama perjalanan itu.





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten, Serasa Menyusuri Lorong Yerusalem

Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten yang diresmikan Oktober 2026.

Minggu, 11 Oktober 2026, saya bersama dua teman berangkat dari Jogja untuk mengunjungi Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten. 

Sebenarnya kami sudah janjian untuk berangkat sekitar pukul delapan pagi. Namun, karena saya mengikuti perayaan Ekaristi pukul delapan di gereja kawasan Kalasan, saya berangkat dari rumah lebih awal, sekitar pukul 07.15.

Sepulang dari gereja, kedua teman saya ternyata sudah menunggu di depan. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gua Maria Ratuning Katentreman, yang belakangan dikenal dengan singkatan GMRK.

Tahu gak, salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya begitu sampai adalah desain arsitekturnya. Ada lorong dengan tampilan yang mengingatkan saya pada gambaran lorong di Yerusalem. 

Katanya sih, suasananya mirip dengan lorong di Tanah Suci. Saya sendiri belum pernah mengunjungi Yerusalem secara langsung, jadi penilaian ini tentu berdasarkan kesan visual saja, hihihihi....

Meski begitu, kesan pertama tersebut cukup membuat saya penasaran untuk melihat lebih dekat. Tempat ziarah yang baru diresmikan ini menawarkan pengalaman yang terasa berbeda dari beberapa Gua Maria yang pernah saya kunjungi.

Buat umat Katolik yang sedang mencari tempat untuk berdoa, atau kamu yang tertarik mengenal destinasi religi dengan arsitektur unik, GMRK bisa menjadi tempat yang menarik untuk masuk daftar kunjungan.

Gapura Gua Maria Ratuning Katentreman dengan material batu alam.
Gapura Gua Maria Ratuning Katentreman dengan material batu alam (doc. Riana Dewie)


Mengenal Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten

Gua Maria Ratuning Katentreman merupakan tempat ziarah yang berada di wilayah Klaten, Jawa Tengah. Berdasarkan informasi yang saya miliki, tempat ini diresmikan pada 1 Oktober 2026. Artinya, saat saya berkunjung sepuluh hari kemudian, usianya masih sangat muda sebagai destinasi ziarah.

Tahu gak, nama Ratuning Katentreman sendiri terasa menarik karena menggunakan bahasa Jawa. Kata ratu berarti ratu, sedangkan katentreman berkaitan dengan ketenteraman atau kedamaian. Secara harfiah, nama tersebut dapat dimaknai sebagai Ratu Kedamaian.

Dalam tradisi Katolik, Bunda Maria dihormati sebagai Bunda Yesus dan menjadi sosok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan iman umat. 

Devosi kepada Bunda Maria menjadi salah satu bentuk ungkapan iman, doa, dan penghormatan yang dijalani umat Katolik.

Nama Ratuning Katentreman pun terasa selaras dengan harapan banyak orang yang datang ke tempat ziarah: menemukan ketenangan, menyampaikan doa, dan mengambil waktu sejenak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dinding Gua Maria Ratuning Katentreman dari bagian depan
Dinding Gua Maria Ratuning Katentreman dari bagian depan (doc. Riana Dewie)


Meski demikian, saya belum menemukan keterangan resmi yang cukup untuk menjelaskan secara terperinci sejarah pembangunan GMRK, pihak yang menggagasnya, maupun filosofi lengkap di balik desain bangunannya. 

Informasi tersebut menarik untuk ditelusuri lebih lanjut agar kita bisa mengenal tempat ini bukan hanya dari tampilan fisiknya, tetapi juga dari cerita di balik pembangunannya.

Lorong GMRK yang Mengingatkan pada Yerusalem

Kalau ada satu bagian yang paling membuat saya penasaran saat mengunjungi GMRK, jawabannya tentu lorongnya.

Begitu mendekati bagian depan, saya disambut gapura bertuliskan “Gua Maria Ratuning Katentreman”. Materialnya tampak menyerupai batu alam dengan perpaduan warna krem. 

Kesan yang muncul cukup kuat, seolah-olah saya sedang memasuki kawasan dengan karakter arsitektur yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Tahu gak, justru bagian lorong inilah yang membuat pengalaman berkunjung ke GMRK terasa unik. Bukan hanya datang, melihat patung Bunda Maria, lalu pulang, tetapi ada perjalanan visual yang bisa dinikmati sejak memasuki area tersebut.

Mengapa lorongnya mengingatkan pada Yerusalem?

Yerusalem dikenal luas sebagai kota yang memiliki banyak situs penting dalam sejarah dan tradisi Kekristenan. Karena itu, gambaran lorong dengan nuansa batu dan suasana yang mengingatkan pada kawasan bersejarah di Tanah Suci bisa memunculkan asosiasi tersendiri bagi pengunjung.

Di GMRK, kesan tersebut muncul dari tampilan gapura dan lorong yang saya amati saat berkunjung. 

Tentu, kemiripan visual ini bukan berarti bangunannya merupakan replika persis suatu lorong di Yerusalem. Untuk memastikan sumber inspirasi arsitekturnya, masih diperlukan keterangan dari pengelola.

Namun, menurut saya, daya tarik sebuah tempat gak selalu harus berasal dari bangunan yang megah atau dekorasi yang berlebihan. Detail sederhana yang dirancang dengan karakter kuat pun bisa menciptakan pengalaman berbeda.

Lorong Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten yang mirip lorong Yerusalem.
Lorong Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten yang mirip lorong Yerusalem (doc. Riana Dewie)


Sensasi ziarah yang berbeda

Saya cukup menikmati perjalanan menyusuri lorong tersebut. Ada rasa penasaran tentang seperti apa bagian berikutnya, sekaligus keinginan untuk mengamati detail bangunannya lebih dekat.

Oh ya, pengalaman seperti ini juga membuat kunjungan terasa lebih berkesan karena kita gak hanya datang untuk melihat satu titik utama. Ada proses berjalan, mengamati, dan menikmati suasana sebelum akhirnya tiba di bagian yang menjadi tujuan.

Bagi saya, GMRK menawarkan sensasi ziarah yang berbeda dari tempat-tempat yang selama ini pernah saya kunjungi. Wajar jika desain lorongnya menjadi salah satu hal yang paling mudah diingat setelah pulang.

Detail arsitektur lorong GMRK di salah satu pemberhentian Jalan Salib
Detail arsitektur lorong GMRK di salah satu pemberhentian Jalan Salib (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Tempat Ziarah, Ini Daya Tarik GMRK

Setelah melewati lorong, perjalanan saya berlanjut hingga ke bagian belakang. Di ujung area tersebut, akhirnya saya bisa melihat patung Bunda Maria yang cantik.

Rasanya seperti menemukan tujuan dari perjalanan singkat yang dimulai sejak gapura depan. Dari luar, perhatian kita tertuju pada bentuk lorong dan material bangunan. Setelah menyusurinya, pandangan kemudian diarahkan ke sosok Bunda Maria yang menjadi pusat perhatian di area ziarah.

Tahu gak, pengalaman berkunjung ke tempat seperti ini bisa memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Kita bisa menggunakan waktu untuk berdoa, merenung, atau sekadar menenangkan pikiran sambil menghormati suasana yang ada.

Banyak peziarah yang berdoa di depan Patung Bunda Maria Gua Maria Ratuning Katentreman.
Banyak peziarah yang berdoa di depan Patung Bunda Maria Ratuning Katentreman (doc. Riana Dewie)


Tempat untuk berdoa dan refleksi diri

Bagi umat Katolik, GMRK dapat menjadi salah satu tempat untuk menjalankan devosi kepada Bunda Maria. Pengunjung bisa mengambil waktu untuk menyampaikan doa pribadi sesuai tradisi dan kebiasaan masing-masing.

Tentu, tujuan utama tempat ziarah bukan sekadar mengagumi bangunan atau mengambil foto. Ada nilai spiritual yang membuat kunjungan terasa lebih bermakna, terutama ketika kita datang dengan niat berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kalau saya sih, justru perpaduan antara pengalaman visual dan suasana doa inilah yang membuat tempat ziarah menarik untuk dikunjungi. Arsitektur menjadi bagian dari pengalaman, sedangkan makna spiritual tetap menjadi inti kunjungan.

Ramai dikunjungi sejak diresmikan

Saat saya datang pada 11 Oktober 2026, masih terlihat banyak pengunjung yang datang untuk berdoa. Antrean doa juga masih cukup ramai. Hal ini bisa dimaklumi karena GMRK baru diresmikan beberapa hari sebelumnya dan sedang menarik perhatian banyak orang.

Namun, saya gak ingin menyimpulkan bahwa semua pengunjung datang karena viral. Setiap orang tentu memiliki tujuan masing-masing, mulai dari berziarah, mengungkapkan rasa syukur, menyampaikan permohonan dalam doa, hingga mengenal tempat baru.

Bagi yang senang mengamati arsitektur, lorong dan gapura GMRK juga menawarkan detail yang menarik untuk diperhatikan. Sementara itu, bagi peziarah, keberadaan patung Bunda Maria menjadi bagian penting dari pengalaman spiritual.

Wkwkwkwk.... ternyata satu kunjungan singkat bisa meninggalkan banyak hal untuk diceritakan, ya!

Suasana ziarah saat saya berdoa Rosario di GMRK beberapa hari setelah peresmian.
Suasana ziarah saat saya berdoa Rosario di GMRK beberapa hari setelah peresmian (doc. Riana Dewie)


Tips Berkunjung ke Gua Maria Ratuning Katentreman

Tertarik mengunjungi Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten? Sebelum berangkat, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan agar perjalanan lebih nyaman.

1. Pastikan alamat dan rute perjalanan

Sebelum berangkat, cari informasi lokasi GMRK melalui kanal resmi pengelola atau gunakan tautan peta yang dibagikan oleh pihak terkait. Pastikan pin lokasi benar-benar mengarah ke Gua Maria Ratuning Katentreman yang baru diresmikan di Klaten, bukan tempat lain yang memiliki nama serupa.

Saya belum bisa memastikan alamat jalan lengkap GMRK maupun titik koordinatnya dari sumber publik yang tersedia. Karena itu, sebaiknya jangan mengandalkan nama tempat saja tanpa memeriksa kembali lokasi tujuan.

2. Periksa jam kunjungan

Jam operasional dan aturan kunjungan perlu dikonfirmasi sebelum berangkat. Terlebih, tempat ini masih tergolong baru sehingga informasi mengenai pengaturan pengunjung mungkin dapat berubah.

Oh ya, jika kamu berencana datang bersama rombongan, ada baiknya menanyakan terlebih dahulu apakah terdapat ketentuan khusus untuk kunjungan kelompok atau kegiatan doa bersama.

3. Jaga ketenangan selama berziarah

GMRK merupakan tempat ziarah, sehingga pengunjung perlu menghormati orang lain yang sedang berdoa. Hindari berbicara terlalu keras, berdesakan, atau menghalangi jalur pengunjung yang hendak menuju area doa.

Jika ingin mengambil foto, perhatikan kondisi sekitar. Jangan sampai keinginan mendapatkan gambar yang bagus justru mengganggu orang yang sedang menjalankan ibadah.

Saya selfie dengan dua teman saya di GMRK
Saya selfie dengan dua teman saya di GMRK (doc. Riana Dewie)


4. Siapkan waktu untuk menikmati suasana

Menurut saya sih, mengunjungi tempat ziarah akan terasa lebih nyaman jika kita gak terburu-buru. Berikan waktu untuk mengamati arsitektur, menyusuri lorong, dan berdoa sesuai kebutuhan.

Jika antrean sedang ramai, bersabarlah dan ikuti arahan petugas atau pengelola. Hindari memaksakan diri mengambil foto di area yang sedang digunakan untuk berdoa.

Penutup

Kunjungan saya bersama dua teman ke Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten meninggalkan kesan tersendiri. 

Dari gapura bernuansa batu alam, lorong yang mengingatkan pada Yerusalem, hingga patung Bunda Maria di bagian belakang, semuanya menghadirkan pengalaman ziarah yang berbeda.

Buat saya, daya tarik GMRK bukan hanya soal kemiripan arsitekturnya dengan gambaran lorong di Tanah Suci. 

***

Tempat ini juga mengingatkan bahwa perjalanan bisa menjadi kesempatan untuk mengambil jeda, menenangkan pikiran, dan memberi ruang bagi kehidupan spiritual.

Kalau kamu berencana berkunjung, pastikan informasi lokasi dan jam kunjungan sudah terkonfirmasi. Dengan begitu, perjalanan bisa dipersiapkan lebih nyaman dan waktu di tempat ziarah pun dapat dinikmati dengan baik.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Tempuran Space Bantul, Kafe yang Bikin Serasa Masuk "Dunia Lain"

Tempuran Space Bantul, kafe bernuansa alam dengan pepohonan rindang.

Kamu orang Jogja yang lagi pengin cari tempat ngadem, me time, ngobrol bareng teman, kumpul keluarga, pacaran, atau mengerjakan tugas sekolah dan kuliah? 

Coba deh, sesekali cari suasana yang berbeda dari kafe pada umumnya. Gak harus pergi jauh ke luar kota untuk menemukan tempat yang bikin pikiran sedikit lebih santai.

Salah satu tempat yang baru saya kunjungi adalah Tempuran Space Bantul. Kebetulan, saya diajak adik-adik mampir ke sini. 

Lokasinya sebenarnya gak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 15–20 menit perjalanan. Namun, baru kali ini saya tahu ada tempat ngopi dengan suasana alam yang senyaman ini.

Tahu gak, terkadang kita gak butuh liburan panjang untuk menikmati suasana baru. Duduk santai sambil mendengarkan suara alam saja sudah bisa menjadi cara sederhana untuk mengambil jeda dari rutinitas. 

Penasaran seperti apa pengalaman saya di sini? Yuk, ikuti ceritanya!

1. Tempuran Space Bantul, Kafe dengan Suasana yang Beda

Begitu memasuki kawasan Tempuran Space, suasananya langsung terasa berbeda. Bayangkan, kamu melewati jalan di sebuah perkampungan, lalu disambut pepohonan yang rimbun. 

Cahaya matahari yang semula terasa terang perlahan tersaring dedaunan. Suasananya jadi lebih teduh, sejuk, dan tenang.

Tahu gak, pengalaman seperti ini yang membuat Tempuran Space terasa punya karakter tersendiri. Bukan sekadar datang ke coffee shop untuk membeli minuman, kita juga diajak menikmati lingkungan di sekitarnya.

Lokasinya berada di Jalan Plataran No. 9, Sembungan, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jadi, buat kamu yang sedang mencari tempat ngopi di Bantul dengan nuansa alam, tempat ini bisa masuk daftar kunjungan.

Ada pula bangunan bernuansa klasik dengan unsur kayu yang menambah kesan alami. 

Di beberapa sudut perkampungan, saya juga melihat rumah-rumah dengan suasana yang menyatu dengan lingkungan hijau. Rasanya seperti menemukan sudut Jogja yang bergerak dengan ritme lebih lambat.

Oh ya, suasana di kawasan ini juga terasa hidup karena ada kucing-kucing yang berjalan-jalan di sekitar kafe. Saya pun sempat melihat anjing milik warga di lingkungan sekitarnya. 

Kehadiran hewan-hewan ini menambah kesan bahwa kita sedang berada di kawasan permukiman yang dekat dengan alam, bukan di tengah keramaian pusat kota.

Pilihan tempat duduknya juga menarik. Saat berkunjung bersama adik-adik, saya memilih area luar yang berada di atas aliran sungai. 

Dari tempat duduk tersebut, saya bisa menikmati suasana hijau sambil mengamati air yang mengalir. Rasanya seperti masuk ke dunia lain, padahal perjalanan dari rumah gak sampai setengah jam.

2. Ngopi Ditemani Gemericik Sungai dan Suara Alam

Gemericik sungai yang menambah suasana tenang di Kopi Tempuran Bantul.
Gemericik sungai yang menambah suasana tenang di Kopi Tempuran Bantul (doc. Riana Dewie)

Ada perbedaan antara ngopi di kafe yang ramai dengan menikmati minuman di tempat yang menawarkan suasana alam. 

Di Tempuran Space, perhatian saya justru lebih banyak tertuju pada lingkungan sekitar daripada sekadar minuman yang tersaji di meja.

Suara gemericik air sungai menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman di sini terasa istimewa. 

Ditambah pepohonan, udara yang lebih sejuk, dan semilir angin, suasananya cocok untuk kamu yang ingin duduk santai tanpa harus terus-menerus menatap layar ponsel.

Tahu gak, suara alam bisa menjadi teman yang menyenangkan saat kita ingin membaca buku, menulis, atau sekadar melamun sebentar. 

Gak perlu selalu ada musik kencang atau hiburan yang ramai untuk membuat waktu nongkrong terasa menyenangkan.

Menurut saya, daya tarik Tempuran Space bukan cuma soal konsep kafe outdoor di Bantul. Ada pengalaman menikmati lingkungan sekitar yang membuat kunjungan terasa lebih dari sekadar agenda ngopi biasa.

Oh ya, kondisi sungai dan tingkat keramaian tentu bisa berbeda tergantung cuaca serta waktu kunjungan. Jadi, kalau kamu membayangkan suasana yang benar-benar sunyi, sebaiknya datang dengan ekspektasi yang fleksibel. Pengunjung lain tetap bisa datang dan menikmati tempat yang sama.

Suasana kafe di tengah alam Jogja dengan udara segar dan pepohonan hijau.
Suasana kafe di tengah alam Jogja dengan udara segar dan pepohonan hijau (doc. Riana Dewie)


3. Kenapa Harus Mampir ke Tempuran Space Bantul?

Ada beberapa alasan yang membuat Tempuran Space menarik untuk dikunjungi. Bukan berarti semua orang harus datang dengan tujuan yang sama, tetapi suasananya memberi ruang untuk berbagai aktivitas santai.

Tempat Menepi Sejenak untuk Healing

Pernah merasa jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja? Bangun tidur, bekerja, menghadapi kemacetan, menyelesaikan pekerjaan, lalu mengulang aktivitas yang sama keesokan harinya.

Sesekali, mengambil jeda di tempat bernuansa alam bisa menjadi pilihan untuk mengubah suasana. Tempuran Space bisa dipertimbangkan sebagai tempat healing di Bantul bagi kamu yang ingin duduk santai sambil menikmati lingkungan hijau.

Healing di sini gak harus dimaknai sebagai sesuatu yang rumit. Bisa sesederhana menikmati minuman favorit, berbincang dengan orang terdekat, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Cocok untuk Refleksi Diri dan Mencari Inspirasi

Ada kalanya kita justru mendapatkan ide saat berhenti memaksakan diri untuk terus produktif. Suasana yang berbeda dapat membantu kita mengambil jarak sejenak dari kesibukan.

Tahu gak, duduk di tengah pepohonan sambil memperhatikan aliran sungai bisa menjadi kesempatan untuk merapikan pikiran. Kamu bisa membawa buku catatan, menulis jurnal, membaca, atau sekadar menikmati waktu tanpa agenda khusus.

Kalau saya sih, suasana seperti ini terasa pas untuk ngobrol santai sekaligus menikmati momen bersama keluarga. Gak harus selalu ada rencana besar agar sebuah kunjungan terasa berkesan.

Mengerjakan Tugas Sambil Menikmati Suasana Alam

Siapa bilang mengerjakan tugas harus selalu dilakukan di kamar atau perpustakaan? Sesekali, mencoba tempat nugas di Bantul dengan pemandangan alam bisa menjadi alternatif untuk mengubah suasana belajar.

Kamu bisa membawa laptop, buku, atau catatan kuliah sambil menikmati minuman. 

Namun, sebelum menjadikan Tempuran Space sebagai working space bernuansa alam, pastikan terlebih dahulu ketersediaan Wi-Fi, stopkontak, dan fasilitas lain yang kamu perlukan.

Kalau ingin bekerja lebih lama, pilih waktu yang sesuai dan tetap perhatikan kenyamanan pengunjung lain. Suasana alam memang menyenangkan, tetapi kebutuhan produktivitas setiap orang berbeda.

Tempuran Space Bantul, tempat ngopi sejuk di Jogja untuk bersantai dan mencari inspirasi.
Tempuran Space Bantul, tempat ngopi sejuk di Jogja untuk bersantai dan mencari inspirasi (doc. Riana Dewie)


Nongkrong dengan Pengalaman yang Berbeda

Buat kamu yang bosan dengan tempat nongkrong yang didominasi bangunan modern, Tempuran Space menawarkan alternatif dengan suasana hijau dan aliran sungai.

Oh ya, tempat seperti ini juga bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga. Kamu bisa mengobrol, menikmati makanan dan minuman, atau mengambil foto dengan latar alam.

Buat saya sih, pengalaman yang paling menarik justru ketika kita gak terlalu sibuk mengejar foto bagus atau memikirkan agenda berikutnya. Duduk santai bersama adik-adik saja sudah menyenangkan. Wkwkwkwk, ternyata agenda ngopi bisa berubah menjadi sesi menikmati alam yang lebih panjang!

4. Tips Sebelum Berkunjung ke Tempuran Space

Sebelum berangkat, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu perhatikan agar kunjungan lebih nyaman.

Pertama, catat alamat Tempuran Space di Jalan Plataran No. 9, Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. 

Kamu bisa menggunakan aplikasi peta digital untuk membantu menemukan rute dari lokasimu. Perhatikan juga kondisi jalan di kawasan perkampungan ketika mendekati tujuan.

Kedua, pilih waktu kunjungan sesuai kebutuhan. Jika ingin menikmati suasana yang lebih teduh, kamu bisa mempertimbangkan pagi atau sore hari, sambil tetap mengecek cuaca dan jam operasional terbaru. Jangan lupa memastikan informasi jam buka sebelum berangkat.

Ketiga, cek menu, harga, dan fasilitas terlebih dahulu jika ada kebutuhan khusus. Harga yang terasa sepadan tentu bukan hanya tentang nominal makanan atau minuman, tetapi juga pengalaman yang didapatkan selama berkunjung.

Saat datang bersama adik-adik, saya justru lebih fokus menikmati alam daripada sekadar ngopi atau ngemil. Menurut saya, harga yang dibayarkan terasa sepadan dengan rasa hidangan dan suasana yang bisa dinikmati. Namun, penilaian soal harga tentu bisa berbeda untuk setiap pengunjung.

Terakhir, jika memilih duduk di area dekat sungai, tetap perhatikan keselamatan dan jaga kebersihan. Hindari membuang sampah ke aliran air dan awasi anak-anak saat berada di area tepi sungai.

Buat kamu yang ingin datang untuk bekerja atau belajar, jangan lupa memastikan fasilitas pendukungnya terlebih dahulu. Dengan begitu, kamu bisa menikmati suasana tanpa kecewa karena ada kebutuhan yang ternyata belum tersedia.

Pada akhirnya, Tempuran Space Bantul menjadi salah satu pilihan menarik untuk menikmati suasana berbeda di sekitar Jogja. Tempat ini menawarkan kesempatan untuk ngopi, berbincang, membaca, atau sekadar duduk sambil menikmati pepohonan dan suara aliran sungai.

Tempat healing di Bantul dengan suasana asri dan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Tempat healing di Bantul dengan suasana asri dan jauh dari hiruk-pikuk kota (doc. Riana Dewie)


Buat kamu yang belakangan gampang capek, mulai merasa jenuh, atau ingin mencari suasana baru, sesekali gak ada salahnya meluangkan waktu untuk diri sendiri. 

Gak harus pergi jauh atau menghabiskan banyak uang untuk menikmati jeda.

Jadi, kapan terakhir kali kamu duduk santai tanpa terburu-buru mengejar sesuatu? Siapa tahu, secangkir kopi dan suasana hijau di Tempuran Space bisa menjadi awal dari hari yang terasa sedikit lebih ringan. 

Hihihihi, yuk, sesekali kasih kesempatan buat diri sendiri untuk bernapas lebih lega!



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Alun-Alun Madiun Malam Hari: 5 Hal yang Bisa Dilakukan

Alun-Alun Madiun Malam Hari dengan lampu warna-warni

Dari Kopi Kakak, saya dan teman jalan saya melanjutkan perjalanan ke alun-alun Madiun. Waktu sudah mulai petang, sekitar pukul 17.30. 

Langit perlahan berubah warna, sementara aktivitas di pusat kota mulai terasa lebih ramai. Begitu mendekati kawasan alun-alun, beberapa pedagang sudah mulai menyiapkan dagangan dan lampu-lampu mulai menyala.

Tahu gak, suasana seperti ini justru bikin saya penasaran untuk turun dan melihat-lihat. Awalnya kami cuma ingin jalan sebentar, tetapi ternyata Alun-Alun Madiun Malam Hari punya cukup banyak aktivitas untuk dilakukan.

Dari Sore ke Malam, Alun-Alun Mulai Ramai

Ada suasana yang berbeda ketika sore bergeser menjadi malam di kawasan alun-alun. Masyarakat mulai berdatangan, anak-anak bermain, beberapa orang duduk santai, sementara pedagang kaki lima mulai menghidupkan suasana dengan lapak masing-masing.

Di tengah ruang terbuka publik Kota Madiun ini, aktivitas malam berjalan dengan santai. Ada yang datang bersama keluarga, bertemu teman, mencari makanan, atau sekadar ingin menghabiskan waktu tanpa agenda khusus.

Oh ya, saya justru suka suasana seperti ini karena gak perlu memikirkan harus pergi ke mana lagi. Cukup datang, jalan kaki, melihat-lihat sekitar, lalu sesekali berhenti ketika menemukan sesuatu yang menarik.

Buat saya, kawasan ini bisa menjadi salah satu pilihan wisata malam di Madiun, terutama buat yang ingin jalan-jalan dengan suasana santai dan biaya yang relatif terjangkau.

5 Hal yang Bisa Dilakukan di Alun-Alun Madiun

Lantas, ada apa di Alun-Alun Madiun ketika malam? Ternyata jawabannya lumayan banyak. Bukan cuma duduk di pinggir alun-alun, tetapi ada beberapa aktivitas sederhana yang bisa dilakukan.

1. Foto-Foto di Miniatur Monas dan Landmark

Miniatur Monas Madiun sebagai spot foto malam
Miniatur Monas Madiun sebagai spot foto malam (doc. Riana Dewie)

Salah satu daya tarik yang mudah ditemukan adalah berbagai landmark dan miniatur yang bisa menjadi latar foto. Ada miniatur Monas Madiun, termasuk landmark lain seperti miniatur Merlion dan miniatur Eiffel yang memperkaya tampilan kawasan.

Banyak orang memanfaatkan area ini untuk berfoto. Ada yang datang bersama pacar, keluarga, sahabat, sampai sekadar mengambil foto sendiri.

Saat malam, lampu hias membuat suasananya terasa lebih menarik. Jadi, buat pemburu spot foto Alun-Alun Madiun, kawasan ini bisa menjadi tempat yang cukup menyenangkan untuk dieksplorasi.

Saya sendiri gak terlalu punya agenda khusus untuk berburu foto malam itu. Namun, melihat orang-orang sibuk mencari sudut foto masing-masing, rasanya ikut ingin mengabadikan beberapa momen. Wkwkwkwk....

2. Menikmati Wahana Permainan Anak

Buat yang membawa anak, pilihan aktivitasnya juga cukup beragam. Di kawasan alun-alun terdapat berbagai wahana anak Alun-Alun Madiun yang bisa membuat si kecil betah bermain.

Permainan anak di kawasan Alun-Alun MadiunPermainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun (doc. Riana Dewie)

Ada aktivitas seperti melukis, bermain pasir, hingga permainan memancing ikan di air. Anak-anak juga bisa menikmati berbagai wahana bermain yang tersedia sesuai kondisi dan pilihan yang ada saat berkunjung.

Oh ya, aktivitas seperti ini membuat alun-alun terasa lebih dari sekadar tempat nongkrong. Ada ruang untuk anak bermain, sementara orang tua bisa mendampingi atau duduk santai di sekitar area.

Buat keluarga yang mencari wisata keluarga Madiun dengan aktivitas sederhana, tempat bermain seperti ini bisa menjadi alternatif. Apalagi jika ingin mencari wisata murah Madiun tanpa harus masuk ke tempat wisata dengan tiket mahal.

Wahana melukis anak di Alun-alun Madiun
Wahana melukis anak di Alun-alun Madiun (doc. Riana Dewie)


3. Berburu Street Food dan Jajanan Malam

Nah, bagian ini tentu gak boleh dilewatkan kalau sedang jalan-jalan malam: jajan!

Di sekitar kawasan alun-alun, pedagang kaki lima mulai bermunculan ketika sore menuju malam. Pilihannya bisa berupa makanan ringan, makanan berat, minuman, hingga jajanan yang cocok disantap sambil duduk santai.

Malam itu saya sendiri sempat jajan bakso pentol, gorengan, nasi dengan lauk, sampai saren. Jadi, urusan perut cukup aman setelah berkeliling kawasan alun-alun.

Tahu gak, salah satu hal yang saya suka dari jajan malam adalah kita bisa mencicipi beberapa makanan dalam satu perjalanan tanpa harus duduk lama di restoran.

Street food Alun-Alun Madiun pada malam hari
Street food Alun-Alun Madiun pada malam hari (doc. Riana Dewie)


Buat yang memang datang dengan tujuan kulineran, kuliner malam Alun-Alun Madiun bisa menjadi bagian yang menarik untuk dicoba. Apalagi pilihan street food Alun-Alun Madiun biasanya terasa lebih santai dan dekat dengan suasana warga setempat.

Kalau saya sih, jajan seperti ini justru terasa pas untuk menutup perjalanan sore menuju malam. Harganya relatif bersahabat dan pilihannya bisa disesuaikan dengan isi dompet.

4. Jalan Santai Mengelilingi Alun-Alun

Ini aktivitas yang saya lakukan malam itu: touring kecil-kecilan di area alun-alun.

Bukan touring menggunakan kendaraan, tentunya. Saya berjalan mengelilingi kawasan sambil menikmati suasana malam dan melihat aktivitas orang-orang yang sedang berkumpul.

Aktivitas pengunjung di Alun-Alun Madiun malam
Aktivitas pengunjung di Alun-Alun Madiun malam (doc. Riana Dewie)


Jalan santai seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari sini kita bisa melihat lebih banyak sisi alun-alun, mulai dari area landmark, tempat bermain, pedagang, sampai masyarakat yang sedang menikmati waktu luang.

Buat yang sedang mencari tempat jalan-jalan malam di Madiun, aktivitas ini bisa dilakukan tanpa persiapan khusus. Tinggal datang dengan pakaian nyaman, lalu berjalan sesuai keinginan.

5. Nongkrong dan Menikmati Suasana Kota

Setelah cukup berkeliling, saya dan teman sesekali berhenti di pinggiran rumput alun-alun.

Kebetulan saat itu suasananya gak terlalu ramai, jadi kami bisa duduk santai sambil menikmati situasi sekitar. Lampu warna-warni terlihat dari kejauhan, orang-orang masih berlalu-lalang, dan aktivitas pedagang tetap berjalan.

Tahu gak, bagian seperti ini kadang justru menjadi momen paling menyenangkan dalam perjalanan. Gak ada agenda, gak ada target tempat yang harus dikunjungi. Cukup duduk dan ngobrol.

Kalau kamu sedang mencari tempat nongkrong di Madiun malam hari, alun-alun bisa menjadi salah satu pilihan yang sederhana. Apalagi untuk sekadar bertemu teman atau menikmati suasana pusat Kota Madiun.

Permainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun
Permainan anak di kawasan Alun-Alun Madiun (doc. Riana Dewie)


Malam Hari, Waktu yang Pas untuk Menikmati Madiun

Lebih Santai, Lebih Adem

Madiun pada siang hari bisa terasa cukup panas untuk aktivitas luar ruangan. Karena itu, datang menjelang malam terasa lebih nyaman untuk jalan kaki dan menikmati kawasan alun-alun.

Lampu mulai menyala, udara terasa lebih bersahabat, dan aktivitas warga perlahan semakin ramai. Suasana malamnya juga membuat kegiatan sederhana seperti duduk, jalan santai, atau jajan terasa lebih menyenangkan.

Oh ya, bukan berarti harus datang larut malam. Menjelang malam seperti ketika saya datang sekitar pukul 17.30 saja, suasana kawasan sudah mulai berubah dan semakin hidup.

Cocok untuk Teman dan Keluarga

Hal menarik lainnya adalah alun-alun bisa dinikmati oleh berbagai kelompok. Datang bersama teman bisa jalan-jalan dan nongkrong. Bersama keluarga bisa menemani anak bermain. Sementara pencinta kuliner dapat berburu jajanan kaki lima di sekitar kawasan.

Aktivitasnya memang sederhana, tetapi pilihannya cukup fleksibel.

Kalau saya sih, tempat seperti ini cocok dimasukkan ke itinerary perjalanan ketika ingin menyisakan waktu untuk menikmati kota tanpa terburu-buru.

Satu Alun-Alun, Banyak Cara Menikmatinya

Pada akhirnya, malam itu saya datang ke alun-alun tanpa rencana yang terlalu rumit. Setelah ngopi dari Kopi Kakak, kami hanya ingin melihat suasana. Namun, ternyata ada banyak hal kecil yang bisa dinikmati.

Mulai dari melihat miniatur Monas, mencari spot foto, menemani anak bermain, berburu jajanan, jalan santai, sampai duduk di pinggir rumput sambil menikmati keramaian.

Hihihihi.... ternyata jalan-jalan malam gak harus selalu punya daftar destinasi yang panjang.

Suasana Alun-Alun Kota Madiun malam hari
Suasana Alun-Alun Kota Madiun malam hari (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, justru tempat sederhana seperti alun-alun bisa memberi kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah kota menikmati malamnya. 

Ada warga yang datang untuk berkumpul, anak-anak yang sibuk bermain, pedagang yang mencari rezeki, dan pengunjung yang sekadar ingin melepas penat.

Buat saya yang sedang melakukan perjalanan backpacker di Madiun, Alun-Alun Kota Madiun malam hari menjadi salah satu persinggahan yang cukup menyenangkan.

Satu tempat, tetapi banyak cara untuk menikmatinya. Dan mungkin, itu juga yang membuat Alun-Alun Madiun malam layak dimasukkan dalam daftar tujuan saat ingin mencari aktivitas malam yang santai, murah, dan gak ribet.

Setelah ini akan ada cerita saya lagi, mungkin cerita terakhir selama saya jalan-jalan ke Madiun. Yap, tentang asyiknya mengunjungi Pahlawan Street Center (PSC) kota Madiun. Penasaran dengan keseruannya? Tunggu cerita saya berikutnya ya :)



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments