Showing posts with label Destinations. Show all posts
Showing posts with label Destinations. Show all posts

In Destinations

Dari Hiruk Pikuk Kota, Saya Menepi di Gua Maria Madiun

Gua Maria Madiun di Gereja Santo Cornelius

Di tengah teriknya matahari Madiun, saya dan seorang teman yang sedang menjalani one day trip akhirnya memutuskan untuk menepi sejenak. 

Jalanan memang gak terlalu ramai, tetapi aktivitas lalu lintas tetap berjalan seperti biasa. Kami baru saja menyelesaikan beberapa rute perjalanan, dan rasanya memang butuh jeda.

Tujuan kami kali ini bukan tempat makan, bukan pula tempat foto. Kami ingin mencari tempat untuk berdoa. 

Dari hasil browsing sebelum berangkat, pilihan kami jatuh pada Gua Maria Madiun yang berada di kompleks Gereja Santo Cornelius.

Tahu gak, saya justru gak menyangka bakal menemukan tempat doa secantik ini di tengah perjalanan singkat ke Madiun.

Dari Ramainya Kota, Saya Mencari Gua Maria

Tempat yang Saya Cari Sebelum Berangkat

Gereja Santo Cornelius Madiun dari bagian luar
Gereja Santo Cornelius Madiun dari bagian luar (doc. Riana Dewie)

Sebenarnya, Gereja Santo Cornelius sudah masuk dalam daftar tujuan kami sebelum berangkat. Katanya, ada Gua Maria yang cukup cantik di dalam kompleks gereja. Penasaran dong, seperti apa tempatnya?

Awalnya kami memang sempat browsing beberapa Gua Maria di Madiun. Namun, ketika melihat jaraknya dari pusat kota, perjalanan menuju beberapa lokasi terasa cukup memakan waktu. 

Sementara waktu kami terbatas karena memang ingin melakukan eksplor Madiun dalam satu hari.

Akhirnya kami mencari gereja Katolik yang lebih dekat dengan Stasiun Madiun. Dari pencarian itulah kami menemukan Gereja Santo Cornelius Madiun.

Saya sih awalnya gak punya ekspektasi terlalu tinggi. Namanya juga menemukan tempat dari pencarian Google secara spontan. 

Yang penting ada tempat untuk berdoa dan lokasinya masih masuk dalam rute wisata Madiun dekat Stasiun.

Ternyata, justru di sinilah kejutan kecil perjalanan kami dimulai.

Sempat Mengira Gerejanya Tutup

Kompleks Gereja Santo Cornelius di pusat Kota Madiun
Kompleks Gereja Santo Cornelius di pusat Kota Madiun (doc. Riana Dewie)

Saat tiba, kami sempat bingung. Pintu gerbang yang kami kira sebagai akses utama ternyata dalam kondisi digembok.

“Wah, jangan-jangan gerejanya memang gak dibuka di luar jam misa?” pikir saya.

Kami kemudian berjalan memutari pagar dari sisi lain. Di sana terlihat seorang petugas keamanan dan bapak pengelola taman yang sedang menyiram rumput. 

Setelah bertanya kepada petugas keamanan, barulah kami mendapatkan informasi bahwa ada akses menuju area Gua Maria Diberkati.

Oh ya, ternyata mencari pintu masuknya menjadi bagian kecil dari cerita perjalanan kami hari itu. Untung kami gak langsung menyerah dan pergi.

Kami pun diarahkan menuju bagian dalam kompleks. Dan begitu melihat area Gua Maria, ekspresi kami langsung berubah.

Menemukan Gua Maria Santo Cornelius yang Teduh

Gua Maria yang Cantik di Tengah Kota

Suasana teduh Gua Maria Santo Cornelius Madiun
Suasana teduh Gua Maria Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)

Sampai di Gua Maria Santo Cornelius, saya dan teman langsung kegirangan. Rasanya senang sekali menemukan tempat seperti ini setelah sebelumnya hanya melihat informasinya dari internet.

Gua Maria ini cukup luas dan terasa nyaman bagi para pendoa maupun peziarah. Dari luar saja sudah terlihat tanaman hijau yang cukup lebat. Begitu masuk lebih dalam, suasananya terasa berbeda dari jalanan kota yang panas tadi.

Yang paling saya ingat adalah hawa sejuk dan suara percikan air.

Tahu gak, suara air kecil seperti itu ternyata bisa membuat suasana doa terasa jauh lebih tenang. Ditambah area yang dipenuhi tanaman hijau, tempat ini terasa seperti punya ruangnya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota.

Saya juga suka dengan suasananya yang gak berlebihan. Ada kesan teduh yang membuat orang datang bukan sekadar untuk melihat-lihat, tetapi memang ingin duduk dan berdiam diri.

Bagi yang sedang mencari tempat doa di Madiun atau tempat ziarah Katolik di Madiun, Gua Maria ini menurut saya cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar.

Saatnya Berdoa dan Menepi Sejenak

Tempat doa di Madiun untuk peziarah Katolik
Tempat doa di Madiun untuk peziarah Katolik (doc. Riana Dewie)

Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun mulai berdoa.

Saya pribadi merasa nyaman karena suasananya adem dan hening. Letak Gua Maria berada cukup jauh dari pintu gerbang sehingga suara kendaraan dari luar gak terlalu terasa.

Di tengah itinerary yang lumayan padat, momen seperti ini justru terasa penting. Bukan untuk mengejar destinasi berikutnya, melainkan benar-benar berhenti sebentar.

Saya pun merasa beruntung bisa sampai ke Gua Maria Santo Cornelius Madiun.

Tahu gak, mungkin kalau saya gak melakukan perjalanan ke Madiun hari itu, saya juga gak akan pernah tahu bahwa ada Gua Maria secantik ini di kompleks Gereja Santo Cornelius.

Dan bagi saya, pengalaman seperti inilah yang sering membuat perjalanan terasa lebih berwarna.

Gereja Santo Cornelius, Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Sedikit Mengenal Sejarah Gereja Santo Cornelius

Selain menjadi tempat ibadah, Gereja Santo Cornelius juga memiliki sejarah panjang dalam perkembangan umat Katolik di Madiun.

Menurut informasi resmi Keuskupan Surabaya, Paroki Santo Cornelius Madiun merupakan paroki tertua kedua di Keuskupan Surabaya setelah Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. 

Perjalanan sejarahnya berkaitan dengan perkembangan Gereja Ambarawa pada abad ke-19.

Salah satu sudut Gereja Santo Cornelius Madiun berdesain vintage
Salah satu sudut Gereja Santo Cornelius Madiun berdesain vintage (doc. Riana Dewie)


Pada 28 Juli 1897, Pastor Cornelis Stiphout, SJ dipindahkan ke Madiun. Setelah itu, Madiun berkembang menjadi stasi yang terpisah dari Stasi Ambarawa.

Gereja Katolik di Madiun kemudian dibangun pada 12 Maret 1899 di sebelah barat pastoran. Namun, seiring bertambahnya umat, bangunan tersebut akhirnya gak lagi mampu menampung kebutuhan jemaat.

Pembangunan gereja baru dimulai pada 1937. Setahun kemudian, tepatnya 19 Juni 1938, gereja tersebut diberkati oleh Mgr. Th. Backere, CM dengan nama pelindung Santo Cornelius. Bangunan inilah yang masih digunakan hingga sekarang.

Ada Kisah Panjang di Balik Bangunan Ini

Lokasi Gereja Santo Cornelius berada di Jl. A. Yani No. 3, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

Kawasan ini juga berada di pusat kota dan termasuk lingkungan yang memiliki sejumlah bangunan bersejarah. 

Pemerintah Kota Madiun bahkan memasukkan Gereja Santo Cornelius dalam rencana pengembangan paket wisata heritage bersama beberapa bangunan bersejarah lainnya di kawasan tersebut.

Oh ya, keberadaan gereja ini juga membuat perjalanan ke Gua Maria terasa punya cerita yang lebih lengkap. 

Suasana di Kompleks Gereja Santo Cornelius
Suasana di Kompleks Gereja Santo Cornelius (doc. Riana Dewie)


Kita bukan cuma datang ke sebuah ruang doa, tetapi juga berada di kawasan yang menyimpan jejak sejarah panjang Kota Madiun.

Buat saya sih, ini menarik. Satu lokasi bisa punya dua sisi: menjadi tempat ibadah sekaligus bagian dari sejarah kota.

Pulang Membawa Ketenangan dari Gua Maria Madiun

Bukan Sekadar Singgah Saat Jalan-Jalan

Saya rasa, dalam setiap perjalanan kita memang membutuhkan waktu untuk berhenti.

Bukan selalu berhenti karena capek. Kadang kita perlu berhenti supaya bisa mendengar diri sendiri, mengucap syukur, atau sekadar menikmati suasana tanpa harus memikirkan destinasi berikutnya.

Di Gua Maria ini, saya gak hanya menemukan ruang yang sejuk untuk beristirahat dari panasnya Madiun. Saya juga menemukan ruang untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam suasana yang begitu khusyuk.

Buat saya, doa di Gua Maria hari itu menjadi bentuk rasa syukur karena masih diberi napas dan kesempatan menikmati begitu banyak hal dalam hidup.

Tahu gak, perjalanan yang awalnya hanya ingin jalan-jalan hemat ternyata bisa memberi pengalaman yang jauh lebih dalam dari sekadar daftar tempat yang berhasil kami datangi.

Itulah kenapa wisata religi Madiun menurut saya layak punya tempat tersendiri dalam itinerary. 

Apalagi buat kamu yang sedang menjalani backpacker Madiun, perjalanan seperti ini gak harus dibuat rumit. Sisihkan saja sedikit waktu untuk menepi.

Kapel Adorasi di Gereja Santo Cornelius Madiun
Kapel Adorasi di Gereja Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)


Setelah Berdoa, Perjalanan Berlanjut Lagi

Usai dari Gua Maria, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih ada beberapa tempat yang masuk dalam rute wisata kami hari itu.

Oh ya, kami juga sempat mampir ke sebuah coffee shop yang konsepnya vintage banget. Tempatnya punya suasana yang cukup berbeda dari kafe-kafe yang selama ini saya jelajahi.

Setelah itu masih ada beberapa kejutan lain yang menunggu. Namanya juga jalan-jalan di Madiun, masa selesai hanya karena sudah menemukan satu tempat yang tenang?

Saya sih menikmati banget perjalanan hari itu. Dari panasnya jalanan, mencari pintu masuk gereja, menemukan Gua Maria yang cantik, berdoa, lalu kembali melanjutkan petualangan.

Hihihihi.... ternyata one day trip Madiun bisa punya cerita sebanyak itu.

Tunggu tulisan saya setelah ini ya. Karena perjalanan kami belum selesai, dan masih ada tempat-tempat menarik lain yang akan saya ceritakan. :)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Gedong Ledoksari Yogyakarta: Ruang Privat Sang Sultan

Gedong Ledoksari Yogyakarta saat Walking Tour

Saya mulai sadar, Walking Tour di kawasan Keraton Yogyakarta itu seperti membuka pintu satu per satu. Belum selesai dibuat penasaran dengan satu tempat, sudah ada tempat lain yang punya cerita berbeda.

Dalam perjalanan kali ini, saya sempat melewati Kampung Cyber Yogyakarta. Dari luar mungkin terlihat seperti kampung biasa, tetapi kawasan ini punya cerita tentang bagaimana warga beradaptasi dengan perkembangan internet dan teknologi.

Setelah itu, langkah kami membawa saya ke tempat dengan suasana yang jauh berbeda: Gedong Ledoksari Yogyakarta.

Tahu gak, kalau Kampung Cyber bercerita tentang bagaimana masyarakat menyambut teknologi masa kini, Gedong Ledoksari justru membawa kita mundur jauh ke kehidupan kerajaan. 

Bangunan ini berkaitan dengan ruang privat Sultan, tempat beristirahat bersama permaisuri dan orang-orang terdekatnya.

Kontrasnya menarik banget. Satu kawasan, tetapi dua cerita zaman yang berbeda.

Dari Kampung Cyber, Melangkah ke Masa Kerajaan

Kampung Cyber Yogyakarta dalam rute Walking Tour
Kampung Cyber Yogyakarta dalam rute Walking Tour (doc. Riana Dewie)

Sebelum sampai ke Gedong Ledoksari, saya sempat mendapatkan cerita mengenai Kampung Cyber.

Kampung yang berada di kawasan Taman Sari ini dikenal sebagai salah satu kampung yang cukup awal memanfaatkan teknologi internet untuk kehidupan masyarakatnya. 

Inisiatifnya berangkat dari keinginan membuat warga lebih sadar dan akrab dengan internet.

Jaringan kemudian dibangun dan akses internet diperluas. Sekarang, perkembangan teknologinya juga semakin terasa dengan keberadaan CCTV serta jaringan Wi-Fi yang digunakan masing-masing rumah.

Oh ya, menariknya, konsep kampung seperti ini menunjukkan bahwa teknologi gak selalu harus dimulai dari gedung perkantoran atau perusahaan besar. Dari lingkungan tempat tinggal pun, internet bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Suasana Kampung Cyber Jogja saat guide memberi penjelasan
Suasana Kampung Cyber Jogja saat guide memberi penjelasan (doc. Riana Dewie)


Saya sih suka melihat kontrasnya. Baru saja membicarakan jaringan internet, tiba-tiba perjalanan membawa saya menuju bangunan yang ceritanya berasal dari masa Kesultanan Yogyakarta.

Dari kampung digital, kami masuk ke cerita tentang ruang privat seorang Sultan.

Gedong Ledoksari Yogyakarta, Tempat Istirahat Sultan

Gedong Ledoksari merupakan salah satu bangunan yang berada di kawasan Keraton dan berkaitan erat dengan kehidupan pribadi Sultan.

Berbeda dengan pendapa atau bangunan yang digunakan untuk menerima tamu dan menjalankan kegiatan kerajaan, Gedong Ledoksari mempunyai fungsi yang lebih privat. Tempat ini digunakan Sultan untuk beristirahat bersama permaisuri.

Dalam konteks kehidupan kerajaan pada masa lalu, ruang tersebut juga berkaitan dengan keberadaan para selir.

Tahu gak, informasi ini membuat saya melihat istilah “ruang privat” dengan cara yang berbeda. Dalam kehidupan seorang Sultan, privasi tentu punya aturan dan batas tersendiri. 

Gak semua orang bisa keluar-masuk area yang berkaitan dengan kehidupan pribadi raja.

Jadi, bangunan seperti Gedong Ledoksari bukan hanya soal arsitektur Jawa atau bentuk bangunannya. Ada sistem sosial yang ikut tercermin di dalamnya.

Siapa yang boleh berada di sana, untuk kegiatan apa ruang tersebut digunakan, dan bagaimana hubungan Sultan dengan keluarga di dalam lingkungan keraton semuanya menjadi bagian dari cerita.

Gedong Ledoksari Keraton Yogyakarta dan kawasan sekitarnya
Gedong Ledoksari Keraton Yogyakarta dan kawasan sekitarnya (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Tempat Tidur

Ketika mendengar istilah tempat istirahat, mungkin yang langsung terbayang adalah kamar.

Namun, dalam lingkungan keraton, fungsi ruang gak sesederhana itu. Kediaman dan tempat peristirahatan Sultan berada dalam sistem ruang yang memiliki aturan, hierarki, dan hubungan dengan bagian lain dari kompleks kerajaan.

Karena itu, Gedong Ledoksari lebih tepat dilihat sebagai bagian dari kehidupan privat keluarga kerajaan, bukan sekadar “kamar Sultan”.

Saya rasa, justru detail seperti ini yang sering hilang ketika sejarah hanya diceritakan lewat nama raja dan tahun pemerintahan.

Padahal, di balik sejarah besar Kesultanan Yogyakarta, ada juga kehidupan sehari-hari: tempat beristirahat, berkumpul dengan keluarga, menerima orang-orang terdekat, hingga menjalankan berbagai kebutuhan pribadi.

Menyusuri Jejak Gedong Ledoksari dan Taman Sari

Letak Gedong Ledoksari juga membuat ceritanya gak bisa dipisahkan dari kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Taman Sari dikenal sebagai pesanggrahan Keraton yang memiliki berbagai fungsi. Ada area yang digunakan untuk rekreasi keluarga Sultan, tempat peristirahatan, ruang kegiatan, hingga bagian yang berkaitan dengan pertahanan.

Karena itulah, berjalan di kawasan ini terasa seperti melihat satu jaringan besar kehidupan Keraton.

Bangunan Gedong Ledoksari di kawasan Keraton
Bangunan Gedong Ledoksari di kawasan Keraton (doc. Riana Dewie)


Oh ya, sebelumnya saya juga sudah mengunjungi Pasar Ngasem dalam rangkaian Walking Tour ini. 

Jarak dan hubungan kawasan tersebut dengan Taman Sari membuat saya semakin memahami bahwa tempat-tempat yang sekarang kita lihat sebagai destinasi wisata sebenarnya pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan keluarga Keraton.

Di satu sisi ada pasar yang sekarang ramai dengan kuliner. Di sisi lain ada Kampung Cyber yang berkembang dengan teknologi. Lalu ada Gedong Ledoksari yang menyimpan cerita kehidupan privat Sultan.

Tahu gak, justru perpaduan seperti inilah yang membuat kawasan Njeron Benteng terasa hidup. Sejarahnya gak berdiri sendirian, tetapi berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Belah Semongko dan Cerita tentang Mataram

Belah Semongko di sekitar Gedong Ledoksari
Belah Semongko di sekitar Gedong Ledoksari (doc. Riana Dewie)

Ada satu cerita lain yang saya dapat ketika berada di sekitar Gedong Ledoksari, yaitu mengenai Belah Semongko.

Dalam penjelasan guide saat Walking Tour, Belah Semongko dikaitkan dengan simbol pecahnya Kerajaan Mataram. 

Lokasinya berada di sekitar kawasan Ledoksari dan menjadi salah satu detail yang membuat perjalanan semakin menarik.

Saya sih langsung penasaran. Kenapa simbol “belah” dikaitkan dengan perjalanan sejarah Mataram?

Di sini kita memang perlu membedakan antara cerita simbolik yang berkembang dengan fakta sejarah yang tercatat. Secara historis, salah satu peristiwa besar yang berkaitan dengan pembagian Mataram adalah Perjanjian Giyanti pada 1755.

Perjanjian tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah politik Mataram dan berdirinya Kesultanan Yogyakarta di bawah Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sementara itu, cerita mengenai Belah Semongko lebih menarik bila ditempatkan sebagai bagian dari narasi budaya yang kita temukan saat berjalan menyusuri kawasan.

Buat saya, justru gak harus semuanya langsung dianggap sebagai fakta sejarah. Cerita simbolik pun menarik untuk ditelusuri karena menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna terhadap ruang di sekitarnya.

Walking Tour Gedong Ledoksari dan Kampung Cyber Yogyakarta
Walking Tour Gedong Ledoksari dan Kampung Cyber Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dua Zaman dalam Satu Perjalanan

Setelah berjalan dari Kampung Cyber menuju Gedong Ledoksari, saya merasa seperti baru saja berpindah zaman.

Di Kampung Cyber, pembicaraannya tentang internet, jaringan, Wi-Fi, CCTV, dan bagaimana warga memanfaatkan teknologi untuk kehidupan sehari-hari.

Di Gedong Ledoksari, pembicaraannya berubah total. Kita diajak memahami kehidupan Sultan, permaisuri, selir, keluarga kerajaan, dan bagaimana sebuah ruang privat memiliki fungsi khusus dalam lingkungan Keraton.

Wkwkwkwk.... kalau rutenya cuma dilihat di peta mungkin terlihat seperti jalan kaki biasa. Tapi setelah tahu ceritanya, setiap sudut terasa punya makna.

Dan menurut saya, itulah kelebihan Walking Tour. Kita gak hanya diberi tahu “ini bangunan apa”, tetapi juga diajak memahami hubungan antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Gedong Ledoksari bukan sekadar bangunan bersejarah. Ia menjadi bagian dari lanskap kehidupan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih luas.

Di sini ada cerita tentang kehidupan privat Sultan. Di sekitarnya ada Taman Sari sebagai pesanggrahan kerajaan, kampung masyarakat, dan kawasan yang kini berkembang menjadi destinasi wisata budaya.

Oh ya, perjalanan saya kali ini juga membuat saya sadar bahwa sejarah gak selalu harus dicari di museum. Kadang, sejarah justru berada di balik tembok yang kita lewati setiap hari.

Saya sih jadi semakin penasaran dengan titik berikutnya dari perjalanan Walking Tour ini. Sebab setelah melihat Kampung Cyber dan Gedong Ledoksari, saya semakin yakin bahwa kawasan Keraton punya banyak cerita yang belum tentu langsung terlihat dari jalan.

Kawasan Sumur Gemuling yang kini sudah tutup
Kawasan Sumur Gemuling yang kini sudah tutup (doc. Riana Dewie)


Hihihihi.... mungkin itu sebabnya saya gak pernah bosan jalan-jalan di kawasan Jogja. Tempatnya bisa sama, tetapi cerita yang kita dapat hari ini belum tentu sama dengan cerita yang kita dengar kemarin.

Gedong Ledoksari Yogyakarta akhirnya menjadi salah satu titik yang membuat saya melihat kawasan Keraton dari sisi yang lebih personal. 

Bukan hanya tentang raja dan kerajaan, tetapi juga tentang ruang privat, keluarga, kehidupan sehari-hari, serta bagaimana masyarakat masa kini hidup berdampingan dengan warisan sejarah tersebut.

Dan bagi saya, pengalaman datang langsung seperti ini membuat sejarah terasa lebih dekat, lebih manusiawi, dan tentu saja jauh lebih seru untuk diceritakan kembali.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Pasar Ngasem Yogyakarta: Dulu Danau, Kini Pasar Kuliner

Suasana Pasar Ngasem Jogja di kawasan Taman Sari

Saya gak tahu sudah berapa kali saya datang ke Pasar Ngasem. Yang jelas, tempat ini sudah akrab sejak saya masih kecil. 

Waktu itu, orang tua saya sempat ngontrak rumah di kawasan Taman Sari sampai saya duduk di kelas 3 SD. Jadi, Pasar Ngasem bukan sekadar nama tempat yang baru saya kenal ketika ikut Walking Tour.

Dulu, saya sering diajak ibu belanja jajan pasar sekaligus membeli sayur untuk dimasak di rumah. Saya juga masih ingat ada ikan-ikan lucu di akuarium dan burung yang diperjualbelikan. 

Namanya anak kecil, melihat ikan warna-warni dan burung berkicau di pasar tentu lebih menarik daripada sekadar menemani ibu belanja. Hihihihi....

Bertahun-tahun kemudian, saya kembali datang ke Pasar Ngasem sebagai peserta Walking Tour Sumbu Filosofi. Bedanya, kali ini saya datang dengan membawa rasa penasaran baru. 

Dari penjelasan guide, saya baru tahu bahwa tempat yang sejak kecil saya kenal sebagai pasar ternyata punya perjalanan yang jauh lebih panjang.

Tahu gak, kawasan yang sekarang menjadi Pasar Ngasem Yogyakarta dulunya merupakan bagian dari danau buatan atau segaran di kompleks Taman Sari. 

Jadi, sebelum ada aktivitas jual beli seperti yang saya kenal sejak kecil, kawasan ini justru merupakan bagian dari lanskap air milik Keraton Yogyakarta.

Kali Ini Saya Melihat Pasar Ngasem dengan Cara Berbeda

Lokasi Pasar Ngasem memang sangat dekat dengan Taman Sari. Keduanya berada di kawasan Njeron Benteng yang membuat perjalanan ke sini terasa seperti masuk ke lapisan sejarah Yogyakarta.

Dalam Walking Tour Pasar Ngasem kali ini, saya jadi gak cuma melihat los pedagang atau membayangkan menu sarapan. Saya mulai memperhatikan hubungan pasar dengan bangunan-bangunan Keraton di sekitarnya.

Oh ya, dari sini pula saya baru memahami kenapa keberadaan Pasar Ngasem sebenarnya gak bisa dipisahkan dari Taman Sari Yogyakarta.

Dahulu, area di sekitar pasar sekarang merupakan bagian dari segaran, yaitu danau buatan yang mengelilingi sejumlah bangunan di kompleks Taman Sari. 

Di tengah kawasan tersebut terdapat Pulo Kenanga, yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan Sultan. Dari kawasan Pasar Ngasem sekarang, posisi Pulo Kenanga memang masih bisa dikenali di bagian selatan.

Pulo Kenanga di kawasan Taman Sari dekat Pasar Ngasem
Pulo Kenanga di kawasan Taman Sari dekat Pasar Ngasem (doc. Riana Dewie)

Ada pula cerita tentang akses berupa jembatan yang menghubungkan kawasan sekitar danau. Jadi, membayangkan tempat ini pada masa lalu memang cukup berbeda dengan suasana pasar yang saya lihat sekarang.

Saya sih suka bagian ini karena sejarahnya terasa lebih mudah dipahami ketika kita berdiri langsung di lokasinya. 

Kita gak sedang membayangkan sebuah danau yang entah ada di mana, tetapi berada di atas kawasan yang dulu merupakan bagian dari danau tersebut.

Dari Danau Buatan, Berubah Menjadi Pasar

Lalu bagaimana sebuah kawasan danau bisa berubah menjadi Pasar Ngasem?

Seiring waktu, kondisi kawasan mengalami perubahan. Danau yang dahulu menjadi bagian penting dari Taman Sari akhirnya surut dan kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman sekaligus ruang aktivitas masyarakat.

Dari sinilah pasar kemudian tumbuh. Catatan sejarah menyebut Pasar Ngasem sudah dikenal sejak awal abad ke-19. Bahkan, aktivitas jual beli burung telah tercatat sejak sekitar 1809. 

Pada sekitar 1960-an, keberadaan pedagang burung dari Pasar Beringharjo yang dipindahkan ke Ngasem semakin membuat pasar ini identik sebagai pasar burung.

Tahu gak, Pasar Ngasem dulu pasar burung bahkan begitu terkenal sampai menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. 

Burung bukan hanya dipandang sebagai hewan peliharaan, tetapi juga memiliki kaitan dengan budaya dan status sosial masyarakat Jawa.

Kawasan Pasar Ngasem yang dulu menjadi danau Taman Sari
Kawasan Pasar Ngasem yang dulu menjadi danau Taman Sari (doc. Riana Dewie)

Namun, fungsi Pasar Ngasem sebenarnya lebih luas. Di sini juga ada pedagang ikan, hewan, sembako, makanan, sayur, buah, serta berbagai kebutuhan masyarakat.

Artinya, sejak awal berkembang sebagai pasar, tempat ini bukan hanya menjadi ruang untuk hobi memelihara burung. Pasar Ngasem juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi warga sekitar.

Ketika Pasar Burung Dipindahkan

Memasuki masa yang lebih modern, jumlah pedagang dan aktivitas jual beli satwa semakin berkembang. 

Lokasi Pasar Ngasem yang berada dekat kawasan wisata Taman Sari kemudian menghadapi persoalan kepadatan dan kenyamanan lingkungan.

Pemerintah akhirnya melakukan relokasi pedagang burung dan satwa ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta atau PASTY. 

Relokasi tersebut dilaksanakan pada 22 April 2010 dan menjadi bagian dari penataan kawasan sekaligus upaya menjaga Taman Sari sebagai kawasan cagar budaya.

Peristiwa ini menjadi titik penting dalam perubahan fungsi Pasar Ngasem. Setelah aktivitas perdagangan satwa berpindah, karakter pasar perlahan ikut berubah.

Pasar Ngasem Sekarang: Sarapan, Kuliner, dan Ruang Komunitas

Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta di pagi hari
Kuliner Pasar Ngasem Yogyakarta di pagi hari (doc. Google Review)

Kalau dulu saya datang ke Pasar Ngasem untuk menemani ibu belanja, sekarang suasananya terasa berbeda.

Pasar Ngasem sekarang lebih saya kenal sebagai tempat mencari kuliner tradisional dan kebutuhan sehari-hari. 

Ada sayur, buah, makanan tradisional, serta berbagai pilihan kuliner khas Jogja yang membuat pasar tetap punya denyut kehidupan sejak pagi.

Museum Sonobudoyo juga mencatat bahwa Pasar Ngasem kini berkembang sebagai ruang yang memadukan aktivitas pasar, kuliner, ruang publik, dan kegiatan seni.

Oh ya, saya sendiri sampai sekarang belum sempat benar-benar berburu kuliner paginya. Katanya ada sate kere dan dawet yang enak di sini. 

Jadi, sepertinya saya memang perlu datang lagi khusus untuk sarapan. Hmmm... alasan yang cukup masuk akal, kan?

Buat saya, justru di sinilah fungsi Pasar Ngasem menjadi menarik. Ia gak kehilangan identitasnya sebagai pasar tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari wisata budaya dan kuliner di kawasan Keraton.

Plaza Panggung yang Jadi Ruang Bersama

Plaza Panggung Pasar Ngasem untuk kegiatan komunitasPlaza Panggung Pasar Ngasem untuk kegiatan komunitas (doc. Riana Dewie)

Selain aktivitas jual beli, ada pula Plaza Panggung Pasar Ngasem yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan.

Dari catatan dan cerita yang saya dapat, ruang ini pernah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan sekolah, komunitas, pertunjukan seni, hingga event budaya. Artinya, pasar gak cuma berfungsi sebagai tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang publik.

Saya pernah datang ke sini saat ada acara Pasar Kangen. Saya juga punya kenangan lain ketika Pasar Ngasem digunakan untuk kegiatan komunitas, termasuk acara Kompasiana pada 2017 melalui Indonesia Community Day atau ICD 2017 yang digelar di Plaza Pasar Ngasem.

Kegiatan semacam ini membuat Pasar Ngasem punya wajah lain di luar jam belanja. Ketika ada event, ruang pasar bisa berubah menjadi tempat bertemu, berbagi karya, berdiskusi, menikmati pertunjukan, dan berkumpulnya berbagai komunitas.

Tahu gak, perubahan semacam ini justru membuat sebuah pasar tradisional tetap relevan. Fungsinya berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa harus kehilangan sejarah tempatnya.

Dari Kenangan Masa Kecil sampai Destinasi Wisata Jogja

Sekarang saya jadi melihat Pasar Ngasem dengan cara yang berbeda.

Dulu, yang saya ingat hanya menemani ibu membeli jajan pasar dan sayuran. 

Saya ingat akuarium berisi ikan, burung-burung yang ramai diperjualbelikan, serta suasana pasar yang terasa biasa saja karena memang menjadi bagian dari keseharian saya.

Sekarang, setelah mendapatkan cerita dari guide Walking Tour, saya baru memahami bahwa tempat tersebut punya perjalanan panjang: dari kawasan danau buatan Taman Sari, berubah menjadi pasar, dikenal sebagai pasar burung, kemudian bertransformasi menjadi pasar tradisional dengan kuliner dan ruang komunitas.

Wingko babat di Pasar Ngasem Yogyakarta
Wingko babat di Pasar Ngasem Yogyakarta (doc. Google Review)

Saya sih justru merasa pengalaman seperti ini yang membuat Walking Tour menarik. Kita bisa datang ke tempat yang sebenarnya sudah familiar, tetapi pulang dengan pengetahuan baru.

Pasar Ngasem Yogyakarta akhirnya bukan cuma tentang apa yang dijual di dalamnya. Ada sejarah Yogyakarta, perubahan fungsi kawasan, kehidupan masyarakat, kuliner, seni, komunitas, dan hubungan erat dengan kawasan Taman Sari.

Wkwkwkwk.... siapa sangka pasar yang sejak kecil saya anggap cuma tempat belanja justru punya cerita sepanjang ini?

Dan mungkin saya memang harus kembali lagi. 

Bukan untuk menemani ibu belanja seperti dulu, tetapi untuk duduk santai pagi-pagi, mencicipi sate kere atau dawet. Juga melihat bagaimana Pasar Ngasem Yogyakarta terus menjalani kehidupan barunya sebagai bagian dari wisata budaya Jogja.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Benarkah Bawa Pacar ke Candi Prambanan Bikin Putus? Ini Faktanya!

Bawa pacar ke Candi Prambanan bikin putus, benarkah mitos ini?

Pernah dengar ucapan, "Jangan bawa pacar ke Candi Prambanan, nanti putus!"? Dulu saya juga sempat mendengar mitos itu. 

Lucunya, saya dan yang saat itu masih berstatus pacar justru tetap nekat datang ke sana. Wkwkwkwk... mungkin karena rasa penasaran lebih besar daripada rasa takut.

Tepat pada 23 Oktober 2011, kami menghabiskan hari Minggu di Candi Prambanan. Sekarang saat tulisan ini dipublikasikan, momen itu sudah menjadi kenangan hampir 16 tahun yang lalu. 

Rasanya seperti baru kemarin melihat deretan candi menjulang megah, padahal waktu sudah berjalan cukup jauh.

Tahu gak, yang paling saya ingat justru bukan soal mitosnya. Hari itu suasana Candi Prambanan terasa cukup lega. 

Mungkin karena pengunjung sedang gak terlalu ramai, jadi kami bisa berjalan santai dari satu sudut ke sudut lain tanpa harus berdesakan. 

Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto, menikmati detail bangunan, lalu kembali melangkah sambil mengobrol ringan.

Belakangan, saat membuka kembali foto-foto lama tersebut, perhatian saya justru tertuju pada hal yang dulu sempat terlewat. 

Bukan pose kami berdua, melainkan deretan relief batu Candi Prambanan yang memenuhi dinding lorong candi. 

Ada panel-panel yang menggambarkan tokoh, peperangan, hingga perjalanan panjang yang ternyata menyimpan cerita menarik.

Padahal, saat pertama kali datang, saya hanya menganggapnya sebagai ukiran batu biasa. Hihihihi... namanya juga masih sibuk foto-foto. 

Baru sekarang saya sadar kalau setiap pahatan itu ternyata dibuat dengan tujuan tertentu dan memiliki makna yang mendalam.

Dari Mana Asal Mitos Bawa Pacar ke Candi Prambanan Bikin Putus?

Mitos bawa pacar ke Candi Prambanan bikin putus sudah beredar sejak lama dan masih sering dibicarakan hingga sekarang. 

Bahkan, masih ada pasangan yang memilih mengurungkan niat berkunjung karena khawatir hubungan mereka akan berakhir setelah pulang dari sana.

Sebenarnya, asal usul mitos Prambanan bikin putus gak pernah tercatat sebagai fakta sejarah ataupun penelitian arkeologi. 

Kepercayaan ini berkembang dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, terutama yang berkaitan dengan legenda Roro Jonggrang.

Dalam kisah tersebut, Bandung Bondowoso jatuh hati kepada Roro Jonggrang. 

Namun, sang putri menolak lamarannya dan memberikan syarat yang hampir mustahil, yaitu membangun seribu candi dalam semalam. 

Dengan bantuan makhluk halus, Bandung Bondowoso hampir berhasil menyelesaikan tugas itu.

Merasa terdesak, Roro Jonggrang mencari cara agar pembangunan candi berhenti sebelum jumlahnya genap. 

Relief Kekalahan Kumbakarna, Candi Brahma di Prambanan
Relief Kekalahan Kumbakarna, Candi Brahma di Prambanan (doc. Riana Dewie)


Ia meminta para wanita menumbuk padi dan membakar jerami sehingga suasana tampak seperti fajar telah tiba. Makhluk halus pun mengira pagi sudah datang dan meninggalkan pekerjaannya.

Mengetahui dirinya ditipu, Bandung Bondowoso murka. Ia kemudian mengucapkan kutukan Roro Jonggrang hingga sang putri berubah menjadi arca batu sebagai pelengkap candi yang ke-seribu.

Dari sinilah banyak orang mulai mengaitkan kisah cinta yang berakhir tragis tersebut dengan hubungan pasangan yang datang ke Prambanan. 

Meski begitu, sampai sekarang belum ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa mengunjungi kompleks candi ini benar-benar bisa menyebabkan pasangan berpisah.

Oh ya, saya sendiri termasuk orang yang percaya bahwa setiap hubungan pasti memiliki tantangan masing-masing. 

Hubungan saya dengan pak suami juga pernah mengalami pasang surut seperti pasangan lain. Bedanya, saya gak pernah menganggap Candi Prambanan sebagai penyebabnya. 

Bagi saya sih, sebuah hubungan lebih ditentukan oleh cara dua orang saling memahami dan bertumbuh bersama daripada oleh tempat yang mereka kunjungi.

Relief Batu Candi Prambanan Justru Banyak Berkisah tentang Cinta

Setelah kembali melihat foto-foto lama, saya jadi penasaran dengan detail relief yang dulu sempat saya abadikan. Awalnya saya hanya menganggapnya sebagai hiasan dinding candi. 

Namun, semakin banyak membaca tentang sejarah Candi Prambanan, saya baru menyadari bahwa setiap panel relief ternyata saling terhubung dan membentuk sebuah cerita panjang.

Pertanyaannya, jika Candi Prambanan begitu identik dengan mitos putus cinta, mengapa relief batu Candi Prambanan justru dipenuhi kisah tentang perjuangan mempertahankan cinta?

Tahu gak, relief di kompleks Prambanan bukan dipahat secara acak. Relief tersebut merupakan relief naratif, yaitu rangkaian pahatan batu yang menyampaikan sebuah cerita dari panel ke panel berikutnya. 

Cara menikmatinya pun unik. Pengunjung dianjurkan berjalan mengikuti arah pradaksina, yaitu mengelilingi candi searah jarum jam. 

Dengan begitu, alur ceritanya bisa dipahami secara berurutan, layaknya membaca lembar demi lembar sebuah komik yang diukir di atas batu andesit.

Relief Ramayana

Salah satu relief paling terkenal tentu saja relief Ramayana Prambanan. Relief ini membentang di lorong Candi Siwa, kemudian kisahnya berlanjut hingga ke Candi Brahma

Sudah lebih dari seribu tahun berlalu, tetapi pahatan tersebut masih mampu menceritakan kisah yang sama kepada setiap orang yang melintas.

Tokoh-tokoh seperti Rama, Sinta, Rahwana, dan Hanoman diabadikan dalam bentuk pahatan yang penuh detail. 

Bukan hanya menampilkan adegan peperangan, relief ini juga menggambarkan kesetiaan, pengorbanan, hingga perjuangan seorang suami menyelamatkan istrinya dari penculikan Rahwana.

Saya sih justru merasa di sinilah letak ironi yang menarik. 

Banyak orang datang ke Prambanan dengan mengingat mitos putus cinta, padahal relief yang paling terkenal malah mengajarkan arti mempertahankan hubungan di tengah cobaan yang berat.

Oh ya, ada satu hal yang sering luput diperhatikan wisatawan. Coba perhatikan ekspresi setiap tokoh pada relief tersebut. 

Meski dipahat di atas batu, gerakan tubuh, posisi tangan, hingga arah pandangan masing-masing tokoh dibuat begitu hidup. 

Gaya seperti ini menjadi salah satu ciri ikonografi Hindu yang berkembang pada masa itu, sehingga cerita bisa dipahami tanpa harus membaca teks panjang.

Selain sebagai karya seni, relief Ramayana juga memperlihatkan betapa tingginya kemampuan para pemahat pada abad ke-9. 

Suasana lorong Candi Prambanan dengan relief naratif.
Suasana lorong Candi Prambanan dengan relief naratif (doc. Riana Dewie)


Mereka mampu mengubah batu andesit menjadi media bercerita yang bertahan hingga sekarang. Gak heran jika kompleks Candi Prambanan kemudian diakui sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO.

Menariknya lagi, kisah Ramayana bukan satu-satunya cerita yang ada di kawasan ini.

Di Candi Wisnu, terdapat Relief Krishna yang mengisahkan perjalanan hidup Dewa Krishna sejak kecil hingga menjadi sosok yang dihormati dalam ajaran Hindu. 

Relief ini memang gak sepopuler Ramayana, sehingga banyak pengunjung melewatinya begitu saja. 

Padahal, nilai moral yang disampaikan juga sangat kaya, mulai dari keberanian, kebijaksanaan, hingga pengabdian kepada kebenaran.

Semakin lama mengamati relief-relief tersebut, saya semakin merasa bahwa Candi Prambanan bukan sekadar kumpulan bangunan kuno dengan arsitektur Hindu yang megah. 

Kompleks ini seperti perpustakaan batu yang menyimpan berbagai cerita, nilai kehidupan, dan filosofi yang masih relevan hingga sekarang. 

Jadi, rasanya sayang banget kalau datang ke sana hanya untuk berburu foto tanpa menyempatkan diri menikmati kisah yang dipahat rapi di setiap dinding candinya.

Arca-Arca yang Sering Dikaitkan dengan Legenda Roro Jonggrang

Selain relief, ada satu bagian yang menurut saya gak kalah menarik untuk diamati, yaitu deretan arca Candi Prambanan

Dulu saya memang sempat memotretnya dari kejauhan, tetapi terus terang belum tahu siapa sosok yang digambarkan. 

Baru setelah membaca beberapa referensi, saya sadar bahwa setiap arca memiliki identitas, fungsi, dan filosofi yang berbeda.

Sayangnya, cukup banyak wisatawan yang lebih fokus berfoto di pelataran candi daripada masuk ke ruang-ruang utama untuk melihat detail arca di dalamnya. 

Padahal, justru di sanalah banyak cerita yang membuat kita semakin memahami sejarah Prambanan.

Arca Durga Mahisasuramardini

Inilah arca yang paling sering dikaitkan dengan legenda Roro Jonggrang.

Arca yang berada di ruang utara Candi Siwa ini sebenarnya adalah Dewi Durga, sosok yang dalam kepercayaan Hindu dikenal sebagai dewi pelindung sekaligus penumpas kejahatan. 

Nama lengkapnya adalah Durga Mahisasuramardini, yang berarti Durga sang penakluk Mahisasura, raksasa berwujud kerbau.

Lalu, kenapa banyak orang menyebutnya sebagai Arca Roro Jonggrang?

Jawabannya berasal dari cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. 

Karena legenda menyebut Roro Jonggrang dikutuk menjadi arca terakhir untuk melengkapi seribu candi, masyarakat kemudian menghubungkan tokoh tersebut dengan arca Durga yang memang berada di dalam kompleks Prambanan. 

Padahal, secara arkeologi dan ikonografi Hindu, arca tersebut sejak awal dibuat untuk menggambarkan Dewi Durga, bukan Roro Jonggrang.

Menurut saya, inilah yang membuat sejarah dan legenda di Prambanan terasa begitu menarik. Di satu sisi ada fakta arkeologi, sementara di sisi lain ada cerita rakyat yang hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Saya berfoto di kawasan Candi Prambanan dengan latar candi megah.
Saya berfoto di kawasan Candi Prambanan dengan latar candi megah (doc. Riana Dewie)


Arca Ganesha

Masih berada di bangunan utama, terdapat pula Arca Ganesha yang menempati ruang belakang Candi Siwa.

Tokoh berkepala gajah ini dikenal sebagai simbol kebijaksanaan, ilmu pengetahuan, dan kecerdasan. Dalam ajaran Hindu, Ganesha sering dianggap sebagai pembuka jalan serta penghilang rintangan.

Tahu gak, bentuk kepala gajah pada Ganesha ternyata bukan sekadar hiasan yang unik. Simbol tersebut melambangkan kebijaksanaan dan kemampuan berpikir sebelum mengambil keputusan. 

Filosofi ini terasa menarik ketika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. 

Dalam sebuah hubungan misalnya, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin tentu jauh lebih baik daripada terburu-buru mengambil keputusan hanya karena emosi sesaat.

Arca Agastya

Di sisi selatan terdapat Arca Agastya, seorang resi yang sangat dihormati dalam tradisi Hindu.

Agastya dikenal sebagai guru sekaligus penyebar ajaran spiritual. Kehadirannya melengkapi susunan arca utama di Candi Siwa yang merepresentasikan konsep Trimurti, yaitu tiga manifestasi utama dalam kepercayaan Hindu.

Saat membaca tentang sosok Agastya, saya jadi memahami bahwa Candi Prambanan memang dibangun bukan hanya sebagai karya arsitektur yang indah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran spiritual pada masanya. 

Arca utama yang berada di ruang tengah adalah Siwa Mahadewa. Ukurannya paling besar dibandingkan arca lainnya dan menjadi pusat dari bangunan utama Candi Siwa.

Sosok ini menggambarkan Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi dalam kompleks Prambanan. 

Keberadaannya mempertegas bahwa candi ini memang didedikasikan untuk memuliakan Siwa, meskipun di dalam kompleksnya juga terdapat Candi Brahma dan Candi Wisnu sebagai bagian dari konsep Trimurti.

Oh ya, saat berjalan memasuki area candi, coba sesekali arahkan pandangan ke bagian atas pintu masuk. 

Di sana terdapat hiasan Kala-Makara, ornamen khas yang dipercaya sebagai simbol penjaga bangunan suci dari pengaruh buruk. 

Sementara pada beberapa bagian candi juga dapat ditemukan ukiran Kinara Kinari, makhluk setengah manusia setengah burung yang melambangkan keindahan, harmoni, dan kehidupan surgawi.

Bagi saya sih, detail-detail kecil seperti inilah yang membuat kunjungan ke Candi Prambanan terasa lebih berkesan. 

Semakin lama mengamati, semakin terasa bahwa setiap pahatan batu dan arca di tempat ini dibuat dengan makna yang mendalam, bukan sekadar untuk mempercantik bangunan.

Keindahan kompleks Candi Prambanan sebagai warisan budaya.
Keindahan kompleks Candi Prambanan sebagai warisan budaya (doc. Riana Dewie)


Jadi, Benarkah Bawa Pacar ke Candi Prambanan Bisa Bikin Putus?

Kalau pertanyaannya adalah benarkah bawa pacar ke Candi Prambanan bikin putus, jawaban saya berdasarkan pengalaman pribadi adalah gak.

Saya dan pak suami pernah datang ke Candi Prambanan saat masih pacaran, tepatnya pada 23 Oktober 2011

Sampai hari ini, foto-foto itu masih tersimpan rapi dan menjadi pengingat bahwa hubungan kami terus berjalan hingga akhirnya menikah. 

Jadi, setidaknya pengalaman tersebut sudah cukup membuktikan bahwa mitos itu gak selalu terjadi.

Tentu saja saya juga gak ingin memaksa semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Mungkin ada pasangan yang memang berkunjung ke Prambanan lalu beberapa waktu kemudian berpisah. 

Namun, menurut saya, itu lebih masuk akal jika dianggap sebagai kebetulan atau memang jalan hidup masing-masing, bukan karena bangunan candi yang membawa kutukan.

Dari sisi sejarah maupun arkeologi, hingga saat ini juga gak ada bukti yang menyatakan bahwa mengunjungi Candi Prambanan bisa memengaruhi hubungan seseorang. 

Mitos tersebut berkembang sebagai bagian dari cerita rakyat yang terinspirasi oleh legenda Roro Jonggrang, lalu diwariskan dari generasi ke generasi hingga menjadi kepercayaan yang masih bertahan sampai sekarang.

Justru setelah mengenal lebih dekat relief dan arca di kompleks candi ini, sudut pandang saya sedikit berubah. 

Ukiran batu ini kemungkinan adalah talang air makara di kompleks Candi Prambanan
Ukiran batu ini kemungkinan adalah talang air makara di kompleks Candi Prambanan (doc. Riana Dewie)


Saya melihat Prambanan bukan lagi sebagai tempat yang identik dengan kisah cinta yang kandas, melainkan sebagai ruang yang menyimpan begitu banyak pelajaran tentang kesetiaan, pengorbanan, keberanian, kebijaksanaan, hingga keteguhan hati.

Tahu gak, saya malah merasa kisah Rama dan Sinta yang terpahat dalam relief Ramayana Prambanan jauh lebih layak dijadikan renungan. 

Hubungan mereka penuh ujian, tetapi tetap diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan. Pesan seperti inilah yang menurut saya masih relevan untuk kehidupan sekarang.

Hal serupa juga saya rasakan ketika melihat arca Durga Prambanan, Arca Ganesha, hingga Arca Siwa Mahadewa. 

Semuanya memiliki filosofi yang berbeda-beda dan menunjukkan bahwa setiap sudut Prambanan menyimpan makna, bukan sekadar objek wisata untuk berfoto.

Oh ya, lain kali jika kamu berkesempatan berkunjung ke sana, cobalah berjalan sedikit lebih pelan. 

Perhatikan setiap pahatan batu, amati ekspresi tokoh-tokoh pada relief, lalu sesekali masuk ke ruang utama untuk melihat arca yang selama ini mungkin terlewat. 

Saya yakin pengalamanmu akan terasa berbeda dibanding sekadar mengabadikan foto di pelataran candi.

Pada akhirnya, saya percaya hubungan yang langgeng lebih ditentukan oleh cara dua orang saling menghargai, berkomunikasi, dan bertumbuh bersama. 

Mitos boleh saja menjadi bagian dari kekayaan budaya dan cerita rakyat, tetapi keputusan untuk mempertahankan sebuah hubungan tetap berada di tangan setiap pasangan.

Kami menikmati keindahan kompleks Candi Prambanan.
Kami menikmati keindahan kompleks Candi Prambanan (doc. Riana Dewie)


Jadi, masih takut mengajak pacar ke Candi Prambanan? Kalau saya sih, jawabannya sederhana. 

Datanglah untuk menikmati keindahan sejarahnya, mengagumi relief-relief yang telah bertahan lebih dari seribu tahun, dan memahami filosofi yang tersimpan di balik setiap arca. 

Siapa tahu, justru dari sanalah kamu menemukan makna baru tentang cinta yang selama ini belum pernah kamu sadari.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Review Umbul Sidomukti Ungaran: Worth It Gak untuk Liburan Keluarga? Ini Pengalamanku!

Review Umbul Sidomukti Ungaran dengan panorama Gunung Ungaran.

Pernah gak sih, kamu berangkat tanpa ekspektasi apa pun ke sebuah tempat wisata, tapi justru pulang dengan banyak cerita seru? 

Itulah yang saya rasakan saat melakukan Review Umbul Sidomukti Ungaran ini. Awalnya, saya dan sepupu sama sekali gak berencana mampir ke sana. 

Kami baru saja selesai berdoa di Gua Maria Tritis, lalu berpikir, "Mumpung masih siang, coba cari tempat yang sejuk, yuk!" Wkwkwkwk... keputusan dadakan seperti ini ternyata sering membawa kejutan menyenangkan.

Tahu gak, sebelum perjalanan itu saya bahkan belum banyak mencari informasi tentang wisata Umbul Sidomukti. Jadi, semuanya terasa benar-benar spontan. 

Setelah melihat petunjuk arah menuju kawasan wisata, kami langsung meluncur tanpa banyak pertimbangan.

Perjalanan menuju Umbul Sidomukti Ungaran ternyata cukup menantang. Semakin mendekati lokasi Umbul Sidomukti, arus kendaraan mulai tersendat. 

Jalan menuju kawasan wisata saat itu masih menggunakan jalur yang sama untuk kendaraan masuk dan keluar, jadi antrean dari dua arah bertemu di satu titik. 

Lumayan bikin sabar diuji sih, apalagi saat akhir pekan banyak wisatawan memilih menghabiskan waktu di kawasan pegunungan.

Meski sempat bermacet-macetan, rasa lelah langsung terbayar ketika akhirnya tiba di area wisata. 

Hamparan panorama alam, udara yang bersih, serta view Gunung Ungaran langsung menyambut dari kejauhan. Rasanya berbeda dengan suasana perkotaan yang padat dan panas.

Kesan Pertama Saat Tiba di Umbul Sidomukti

Begitu turun dari kendaraan, hal pertama yang saya rasakan adalah udara sejuk khas pegunungan. Bukan sekadar adem, tetapi benar-benar menyegarkan. 

Saya sih paling suka suasana seperti ini karena bikin pikiran terasa lebih rileks setelah perjalanan yang cukup panjang.

Selain dikenal sebagai Umbul Sidomukti Semarang, kawasan wisata ini sebenarnya berada di lereng Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

Lokasinya cukup mudah dijangkau dari pusat Kota Semarang maupun Bandungan, sehingga sering menjadi pilihan untuk wisata akhir pekan bersama keluarga ataupun teman.

Oh ya, saya berkunjung ke sini beberapa waktu yang lalu. Jadi, bisa saja sekarang ada beberapa fasilitas atau sudut wisata yang sudah mengalami perubahan. 

Meski begitu, pesona alamnya menurut saya tetap menjadi daya tarik utama yang membuat banyak orang rela datang kembali.

Begitu melihat area kolam dari kejauhan, saya langsung paham kenapa banyak orang memberikan Umbul Sidomukti review yang positif. 

Pemandangan pegunungan yang terbuka berpadu dengan suasana alam yang masih asri membuat tempat ini terasa cocok untuk mencari ketenangan sekaligus menikmati liburan bersama keluarga.

Pemandangan pegunungan dari Umbul Sidomukti Bandungan.
Pemandangan pegunungan dari Umbul Sidomukti Bandungan (doc. Riana Dewie)


Aktivitas Seru yang Bisa Dicoba

Setelah puas menikmati suasana di sekitar area wisata, saya dan sepupu mulai berkeliling untuk melihat apa saja yang ada di wisata Umbul Sidomukti. Ternyata pilihannya cukup banyak. 

Mulai dari aktivitas yang santai sampai yang memacu adrenalin, semuanya tersedia di satu kawasan. Jadi, menurut saya tempat ini memang cocok buat berbagai usia, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.

Kolam Renang Mata Air Pegunungan

Kalau ditanya apa yang paling berkesan selama berkunjung, jawabannya jelas kolam renangnya. Dari awal berangkat memang tujuan kami adalah ingin berenang atau sekadar ciblon menikmati segarnya air pegunungan. 

Hihihihi... jadi begitu melihat kolamnya, rasanya sudah gak sabar ingin langsung nyebur.

Tahu gak, kolam renang di sini menggunakan kolam renang mata air alami yang berasal dari kawasan pegunungan. 

Airnya terlihat jernih dengan latar dinding batu alam yang membuat suasananya terasa unik sekaligus menyatu dengan alam. Begitu kaki menyentuh air, saya langsung refleks bilang, "Dingin banget!"

Dan memang benar, sensasi berenang di sini berbeda dengan kolam renang biasa. Airnya segar, udara di sekitar juga sejuk, sehingga berenang terasa jauh lebih menyenangkan. 

Saya dan sepupu menghabiskan cukup banyak waktu hanya untuk berenang dari ujung ke ujung kolam, bermain ciprat-cipratan air, lalu duduk santai di pinggir kolam sambil menikmati view pegunungan

Aktivitas sederhana seperti ini justru menjadi momen yang paling saya ingat.

Buat saya sih, gak harus mencoba semua wahana supaya kunjungan terasa menyenangkan. 

Kadang menikmati suasana sambil mendengarkan suara angin yang berembus di kawasan wisata pegunungan sudah lebih dari cukup.

Wahana Outbound dan Flying Fox

Wahana naik kuda di Umbul Sidomukti tersedia di area Little Ranch
Wahana naik kuda di Umbul Sidomukti tersedia di area Little Ranch (doc. Riana Dewie)

Meski lebih banyak menghabiskan waktu di kolam, saya sempat melihat beberapa wahana yang ramai dicoba pengunjung. 

Salah satunya adalah area outbound yang menawarkan berbagai permainan seru untuk menguji keberanian dan kekompakan.

Ada juga flying fox yang melintas dengan latar pemandangan hijau. Dari bawah saja sudah terlihat seru, apalagi buat kamu yang memang suka aktivitas menantang. 

Selain itu, tersedia pula Marine Bridge, ATV, hingga area Little Ranch yang cocok untuk keluarga yang membawa anak-anak.

Bagi rombongan atau perusahaan, kawasan ini juga sering dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan luar ruangan karena area yang luas dan suasananya mendukung berbagai aktivitas bersama.

Spot Foto, Cafe, dan Area Bersantai

Selain wahana permainan, banyak juga sudut yang menarik untuk berfoto. Hampir setiap sisi menawarkan spot foto instagramable dengan latar pegunungan hijau yang memanjakan mata. 

Cahaya matahari saat cuaca cerah membuat hasil foto terlihat semakin cantik tanpa perlu banyak editan.

Di beberapa titik tersedia tempat duduk untuk bersantai sambil menikmati panorama alam. Ada pula pondok kopi dan area makan yang cocok dijadikan tempat beristirahat setelah berkeliling. 

Buat yang ingin menginap, tersedia juga resort serta camping ground sehingga pengalaman menikmati suasana alam bisa berlangsung lebih lama.

Oh ya, di kawasan ini juga terdapat Goa Tirta Mulya yang sering dikunjungi wisatawan. Sayangnya, saat itu saya lebih memilih menikmati waktu di sekitar kolam karena memang itulah tujuan utama sejak awal. 

Rasanya sudah puas hanya dengan berenang, mengobrol santai, dan menikmati udara pegunungan sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Bisa dibilang, meski banyak pilihan aktivitas yang tersedia, saya gak merasa harus mencoba semuanya. 

Justru momen duduk santai di tepi kolam sambil menikmati suasana alam menjadi bagian paling berharga selama berada di Umbul Sidomukti Jawa Tengah.

Resort dan camping ground di Umbul Sidomukti.
Resort dan camping ground di Umbul Sidomukti (doc. Riana Dewie)


Harga Tiket, Jam Operasional, dan Fasilitas

Selain pemandangan yang memanjakan mata, hal lain yang biasanya dicari sebelum berkunjung adalah informasi mengenai tiket masuk, jam operasional, dan fasilitas yang tersedia. 

Menurut saya, mengetahui informasi ini sejak awal bisa membantu menyusun rencana liburan dengan lebih nyaman, apalagi jika datang bersama keluarga.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang memilih Umbul Sidomukti Bandungan sebagai tujuan wisata. Dengan biaya masuk yang relatif ramah di kantong, pengunjung sudah bisa menikmati suasana pegunungan yang sejuk dan berbagai area di dalam kawasan wisata.

Perlu diketahui juga, beberapa wahana memiliki tarif tersendiri. Jadi, total biaya yang dikeluarkan akan menyesuaikan aktivitas yang ingin dicoba. 

Misalnya untuk bermain ATV, flying fox, atau wahana lainnya biasanya dikenakan biaya tambahan di luar tiket masuk.

Karena tarif bisa berubah sewaktu-waktu, saya selalu menyarankan untuk mengecek informasi terbaru melalui website atau media sosial resmi sebelum berangkat. 

Dengan begitu, kamu bisa menyiapkan anggaran liburan tanpa khawatir ada perubahan harga tiket Umbul Sidomukti.

Jam Operasional

Selain tiket, jangan lupa memperhatikan jam buka Umbul Sidomukti. Datang lebih pagi menurut saya merupakan pilihan yang tepat karena udara masih terasa sangat segar dan suasana belum terlalu ramai.

Saya sendiri datang saat cuaca sedang cerah. Langit biru berpadu dengan hijaunya pepohonan membuat pemandangan terlihat semakin indah. 

Momen seperti ini juga pas untuk berburu foto karena pencahayaan alami sedang bagus-bagusnya.

Tahu gak, semakin siang biasanya jumlah pengunjung juga bertambah, terutama saat akhir pekan atau musim liburan. Jadi, kalau ingin menikmati suasana yang lebih tenang, usahakan datang lebih awal.

Setelah puas berenang, berfoto, dan beristirahat sejenak, saya dan sepupu memutuskan meninggalkan kawasan wisata sekitar pukul 18.30. Perjalanan kami pun berlanjut menuju Jogja. 

Tapi, pulang langsung ke rumah rasanya kurang lengkap, jadi kami sempat hunting bakmi Jawa terlebih dahulu untuk mengisi perut. Baru setelah itu melanjutkan perjalanan pulang. 

Lumayan sih, sampai rumah tinggal mandi lalu istirahat.

Suasana wisata Umbul Sidomukti saat maghrib
Suasana wisata Umbul Sidomukti saat maghrib (doc. Riana Dewie)


Fasilitas Lengkap

Salah satu hal yang membuat saya nyaman selama berada di sini adalah fasilitasnya yang cukup lengkap. 

Area parkir tersedia dengan kapasitas yang memadai, begitu juga toilet, musala, tempat makan, hingga area duduk untuk bersantai menikmati udara pegunungan.

Bagi yang ingin menghabiskan waktu lebih lama, tersedia pilihan penginapan berupa resort dengan pemandangan alam yang menenangkan. 

Ada juga camping ground bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi bermalam di kawasan pegunungan sambil menikmati udara malam yang lebih dingin.

Selain cocok untuk liburan bersama pasangan atau teman, kawasan ini juga menjadi pilihan menarik untuk wisata keluarga. 

Anak-anak bisa bermain di beberapa area yang tersedia, sementara orang dewasa dapat menikmati suasana alam atau mencoba berbagai wahana yang memacu adrenalin.

Menurut saya, perpaduan antara panorama alam, fasilitas yang memadai, serta beragam aktivitas membuat tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata alam Jawa Tengah yang layak dipertimbangkan saat ingin melepas penat. 

Apalagi buat kamu yang sedang mencari tempat healing dengan suasana pegunungan yang masih asri, Umbul Sidomukti bisa menjadi salah satu pilihan yang menarik.

Worth It Gak untuk Liburan Keluarga?

Setelah menghabiskan waktu hampir seharian di sini, saya bisa bilang bahwa pengalaman berkunjung ke Umbul Sidomukti benar-benar menyenangkan. 

Memang ada sedikit drama macet saat perjalanan menuju lokasi, tetapi semuanya terasa sepadan begitu melihat pemandangan yang tersaji di depan mata.

Kelebihan

Menurut saya, daya tarik terbesar tempat ini adalah suasananya. 

Udara pegunungan yang segar, panorama alam yang memanjakan mata, serta banyaknya pilihan aktivitas membuat satu hari terasa cepat berlalu.

Buat kamu yang suka berenang, kolam renang mata air alami menjadi alasan kuat untuk datang. Airnya benar-benar dingin dan menyegarkan, apalagi saat cuaca sedang cerah. 

Kami menikmati kolam renang mata air alami Umbul Sidomukti.
Kami menikmati kolam renang mata air alami Umbul Sidomukti (doc. Riana Dewie)


Rasanya capek setelah perjalanan langsung hilang begitu berendam beberapa menit.

Selain itu, pilihan wahana juga cukup beragam. Ada aktivitas santai seperti menikmati pemandangan dan berburu foto, ada pula wahana yang memacu adrenalin. 

Jadi, setiap anggota keluarga biasanya bisa menemukan aktivitas favoritnya masing-masing.

Kekurangan

Meski menyenangkan, tetap ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan.

Saat musim liburan atau akhir pekan, akses menuju lokasi bisa cukup padat. Waktu saya datang, jalur masuk dan keluar masih menggunakan jalan yang sama sehingga antrean kendaraan berasal dari dua arah. 

Jadi, sebaiknya siapkan waktu lebih longgar agar perjalanan tetap nyaman. Selain itu, suhu air kolam memang sangat dingin. 

Buat saya justru ini yang menyenangkan, tetapi bagi anak kecil atau orang yang kurang tahan udara pegunungan mungkin perlu beradaptasi terlebih dahulu sebelum berenang.

Tips Berkunjung

Oh ya, supaya pengalaman liburan semakin maksimal, ada beberapa tips sederhana yang bisa kamu coba.

- Datang pada pagi hari agar suasana masih tenang dan udara terasa lebih segar.
- Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman karena area wisata memiliki jalan yang naik turun.
- Siapkan pakaian ganti jika berencana berenang.
- Bawa kamera atau pastikan baterai ponsel penuh karena banyak spot yang sayang dilewatkan.
- Cek kembali informasi terbaru mengenai harga tiket Umbul Sidomukti dan jam buka Umbul Sidomukti sebelum berangkat, sehingga rencana perjalanan bisa disusun dengan lebih baik.

Tahu gak, saya justru senang datang ke tempat seperti ini tanpa membuat jadwal yang terlalu padat. 

Jadi, saya bisa menikmati setiap sudutnya dengan lebih santai tanpa terburu-buru mengejar destinasi berikutnya.

Sebelum pulang, kami sempat menikmati suasana sore sambil melihat langit yang mulai berubah warna. Setelah itu, perjalanan kembali menuju Jogja pun dimulai. 

Seperti yang saya ceritakan di awal, kami gak langsung pulang ke rumah. Perut sudah mulai keroncongan, jadi kami mampir dulu untuk berburu semangkuk bakmi Jawa yang hangat. 

Rasanya pas banget menutup perjalanan hari itu. Hihihihi...

Review Umbul Sidomukti Ungaran untuk liburan keluarga di Semarang.
Review Umbul Sidomukti Ungaran untuk liburan keluarga di Semarang (doc. Riana Dewie)


Kesimpulan

Buat saya, jawabannya adalah worth it.

Bukan hanya karena pemandangannya indah, tetapi juga karena tempat ini menawarkan pengalaman liburan yang lengkap dalam satu kawasan. 

Mulai dari berenang di kolam mata air alami, menikmati udara pegunungan, mencoba berbagai wahana, hingga sekadar duduk santai sambil menikmati view Gunung Ungaran, semuanya terasa menyenangkan.

Kalau kamu sedang mencari destinasi untuk liburan keluarga di Semarang, tempat healing bersama teman, atau sekadar ingin melepas penat dari rutinitas sehari-hari, saya rasa Umbul Sidomukti layak masuk dalam daftar tujuan berikutnya.

Siapa tahu, pengalamanmu nanti justru lebih seru dari cerita saya. Jadi, kapan nih mau mengagendakan liburan ke Umbul Sidomukti Ungaran?


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments