Pernah dengar ucapan, "Jangan bawa pacar ke Candi Prambanan, nanti putus!"? Dulu saya juga sempat mendengar mitos itu.
Lucunya, saya dan yang saat itu masih berstatus pacar justru tetap nekat datang ke sana. Wkwkwkwk... mungkin karena rasa penasaran lebih besar daripada rasa takut.
Tepat pada 23 Oktober 2011, kami menghabiskan hari Minggu di Candi Prambanan. Sekarang saat tulisan ini dipublikasikan, momen itu sudah menjadi kenangan hampir 16 tahun yang lalu.
Rasanya seperti baru kemarin melihat deretan candi menjulang megah, padahal waktu sudah berjalan cukup jauh.
Tahu gak, yang paling saya ingat justru bukan soal mitosnya. Hari itu suasana Candi Prambanan terasa cukup lega.
Mungkin karena pengunjung sedang gak terlalu ramai, jadi kami bisa berjalan santai dari satu sudut ke sudut lain tanpa harus berdesakan.
Sesekali kami berhenti untuk mengambil foto, menikmati detail bangunan, lalu kembali melangkah sambil mengobrol ringan.
Belakangan, saat membuka kembali foto-foto lama tersebut, perhatian saya justru tertuju pada hal yang dulu sempat terlewat.
Bukan pose kami berdua, melainkan deretan relief batu Candi Prambanan yang memenuhi dinding lorong candi.
Ada panel-panel yang menggambarkan tokoh, peperangan, hingga perjalanan panjang yang ternyata menyimpan cerita menarik.
Padahal, saat pertama kali datang, saya hanya menganggapnya sebagai ukiran batu biasa. Hihihihi... namanya juga masih sibuk foto-foto.
Baru sekarang saya sadar kalau setiap pahatan itu ternyata dibuat dengan tujuan tertentu dan memiliki makna yang mendalam.
Dari Mana Asal Mitos Bawa Pacar ke Candi Prambanan Bikin Putus?
Mitos bawa pacar ke Candi Prambanan bikin putus sudah beredar sejak lama dan masih sering dibicarakan hingga sekarang.
Bahkan, masih ada pasangan yang memilih mengurungkan niat berkunjung karena khawatir hubungan mereka akan berakhir setelah pulang dari sana.
Sebenarnya, asal usul mitos Prambanan bikin putus gak pernah tercatat sebagai fakta sejarah ataupun penelitian arkeologi.
Kepercayaan ini berkembang dari cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, terutama yang berkaitan dengan legenda Roro Jonggrang.
Dalam kisah tersebut, Bandung Bondowoso jatuh hati kepada Roro Jonggrang.
Namun, sang putri menolak lamarannya dan memberikan syarat yang hampir mustahil, yaitu membangun seribu candi dalam semalam.
Dengan bantuan makhluk halus, Bandung Bondowoso hampir berhasil menyelesaikan tugas itu.
Merasa terdesak, Roro Jonggrang mencari cara agar pembangunan candi berhenti sebelum jumlahnya genap.
Ia meminta para wanita menumbuk padi dan membakar jerami sehingga suasana tampak seperti fajar telah tiba. Makhluk halus pun mengira pagi sudah datang dan meninggalkan pekerjaannya.
Mengetahui dirinya ditipu, Bandung Bondowoso murka. Ia kemudian mengucapkan kutukan Roro Jonggrang hingga sang putri berubah menjadi arca batu sebagai pelengkap candi yang ke-seribu.
Dari sinilah banyak orang mulai mengaitkan kisah cinta yang berakhir tragis tersebut dengan hubungan pasangan yang datang ke Prambanan.
Meski begitu, sampai sekarang belum ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa mengunjungi kompleks candi ini benar-benar bisa menyebabkan pasangan berpisah.
Oh ya, saya sendiri termasuk orang yang percaya bahwa setiap hubungan pasti memiliki tantangan masing-masing.
Hubungan saya dengan pak suami juga pernah mengalami pasang surut seperti pasangan lain. Bedanya, saya gak pernah menganggap Candi Prambanan sebagai penyebabnya.
Bagi saya sih, sebuah hubungan lebih ditentukan oleh cara dua orang saling memahami dan bertumbuh bersama daripada oleh tempat yang mereka kunjungi.








.png)
0 komentar:
Post a Comment