Showing posts with label Wellness. Show all posts
Showing posts with label Wellness. Show all posts

In Wellness

Ruang Tunggu Rumah Sakit yang Mengajarkan tentang Gejala Mata Kering

Ruang Tunggu Rumah Sakit yang Mengajarkanku tentang Gejala Mata Kering

Dulu, saya mengira ruang tunggu rumah sakit hanyalah tempat singgah. Tempat orang-orang duduk sambil menunggu nomor antrean dipanggil, lalu pulang setelah urusannya selesai. 

Tahu gak, saya sama sekali gak menyangka kalau tempat yang terlihat biasa itu justru akan menjadi bagian dari kehidupan saya selama hampir dua tahun. 

Sampai sekarang pun, setiap kali melihat deretan kursi panjang di ruang tunggu rumah sakit, ingatan saya langsung melayang pada begitu banyak momen yang pernah saya lalui bersama Ibu.

Dari Ruang Tunggu, Saya Belajar Banyak Hal

Semua bermula ketika Ibu divonis menderita kanker usus besar stadium 4. Rasanya seperti dunia berhenti beberapa saat. Kaget, sedih, takut, semuanya bercampur menjadi satu. 

Namun setelah mencoba menerima kenyataan, kami sepakat untuk fokus menjalani setiap proses pengobatan sebaik mungkin. 

Sejak saat itu, rumah sakit bukan lagi tempat yang sesekali kami datangi, melainkan menjadi bagian dari rutinitas hidup.

Hampir setiap minggu kami bolak-balik ke rumah sakit. Sekitar jam 12 siang saya sudah bersiap berangkat agar semua proses administrasi bisa selesai lebih awal. 

Setibanya di sana, kami mengambil nomor antrean, mengurus BPJS, menuju laboratorium sesuai arahan dokter, lalu kembali lagi ke ruang tunggu poliklinik. 

Menunggu antrean laboratorium sambil menjaga kesehatan mata
Menunggu antrean laboratorium di ruang tunggu RS (doc. Riana Dewie)


Dokter biasanya baru mulai praktik sekitar jam 3 atau jam 4 sore. Artinya, masih ada waktu berjam-jam yang harus kami habiskan sambil menunggu giliran dipanggil.

Rutinitas itu belum termasuk jadwal kemoterapi setiap dua minggu sekali yang mengharuskan Ibu menjalani rawat inap selama beberapa hari. 

Ada kalanya kadar hemoglobin beliau menurun sehingga harus menjalani transfusi darah dari pagi sampai siang. Dalam seminggu, kami bisa datang ke rumah sakit sampai tiga kali.

Melelahkan? Jujur saja, iya. Tapi saat itu kami sama-sama percaya bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari ikhtiar untuk sembuh.

Kami tetap selfie happy saat menemani ibu transfusi darah
Kami tetap selfie happy saat menemani ibu transfusi darah (doc. Riana Dewie)


Oh ya, kami punya cara sendiri supaya waktu menunggu gak terasa membosankan. Sesekali saya membeli kopi atau es krim di kantin rumah sakit, sementara Ibu hampir selalu menitip manisan kolang-kaling kesukaannya. 

Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari cerita keluarga, rencana sederhana setelah kontrol selesai, sampai hal-hal receh yang kadang membuat kami tertawa. 

Saya sih percaya, suasana hati yang baik juga menjadi penyemangat untuk menjalani proses pengobatan yang panjang. 

Hihihihi... kadang kami malah lupa kalau sebenarnya sedang menunggu giliran bertemu dokter.

Perjalanan yang Tak Pernah Terasa Biasa Lagi

Ada tempat yang dulu selalu ingin saya tinggalkan lebih cepat. Namun sekarang, tempat itu justru paling sering saya rindukan.

Ruang tunggu rumah sakit menjadi saksi begitu banyak cerita yang mungkin gak akan pernah saya lupakan. Di sanalah saya belajar bersabar ketika nomor antrean berjalan sangat pelan. 

Di sanalah saya melihat Ibu sesekali memejamkan mata di sofa panjang sambil mengumpulkan tenaga sebelum bertemu dokter. 

Kami juga sering mengobrol dengan pasien lain yang sama-sama sedang berjuang untuk sembuh. Rasanya seperti saling menguatkan, meski sebelumnya kami gak saling mengenal.

Saat itu, saya menganggap semua ini hanyalah rutinitas yang suatu hari pasti akan berakhir. Yang ada di pikiran saya hanyalah mendampingi Ibu sebaik mungkin hingga beliau kembali sehat. 

Kebersamaan kami selama perjalanan menjalani pengobatan di rumah sakit
Kebersamaan kami selama perjalanan menjalani pengobatan di rumah sakit (doc. Riana Dewie)


Saya gak pernah menyadari bahwa ruang tunggu rumah sakit ternyata sedang mengajarkan banyak hal kepada saya, termasuk tentang pentingnya menghargai setiap momen kecil yang sering kali terasa sepele.

Dan tanpa saya sadari, di tempat itulah saya mulai merasakan tanda-tanda awal gejala mata kering yang kemudian membuat saya lebih peduli terhadap kesehatan mata.

Ketika Mata Mulai Terasa Sepet, Perih, dan Lelah

Tubuh memang bisa beradaptasi dengan rutinitas. Namun, mata sering kali memberi tanda lebih dulu ketika mulai lelah.

Ada satu hal yang dulu sering saya abaikan. Fokus saya selalu tertuju pada kondisi Ibu, jadwal kontrol, hasil laboratorium, atau nomor antrean yang rasanya lama sekali bergerak. 

Sementara itu, saya sendiri jarang memperhatikan kondisi tubuh, termasuk kesehatan mata.

Tahu gak, ruang tunggu rumah sakit ternyata punya tantangan tersendiri. Hampir sepanjang hari kami berada di ruangan ber-AC. Supaya gak kedinginan, saya selalu membawa jaket dari rumah. 

Aktivitas di Depan Layar

Cahaya layar anjungan RS yang sering membuat mata perih
Cahaya layar anjungan RS yang sering membuat mata perih (doc. Riana Dewie)


Di sisi lain, mata juga terus bekerja tanpa saya sadari. Sesekali saya melihat monitor antrean untuk memastikan nomor kami belum terlewat. 

Setelah itu, saya harus mengurus administrasi melalui mesin anjungan dengan layar yang cukup terang. Belum selesai sampai di situ, pekerjaan sebagai blogger juga tetap berjalan. 

Mau gak mau, saya membuka ponsel untuk membalas email, berdiskusi dengan klien, mengecek revisi artikel, bahkan sesekali menyelesaikan pekerjaan sambil menunggu giliran.

Revisi artikel blog sambil menunggu antrean di RS
Revisi artikel blog sambil menunggu antrean di RS (doc. Riana Dewie)


Rutinitas itu berlangsung selama berjam-jam. Saya terlalu lama menatap layar, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, dan sering kali kurang berkedip karena terlalu fokus bekerja. 

Awalnya saya mengira kondisi itu biasa saja. Namun lama-kelamaan mata mulai terasa sepet. Setelah beberapa saat, muncul rasa perih yang membuat mata terasa gak nyaman. 

Menjelang sore, mata juga mulai terasa lelah, apalagi ketika masih harus membaca hasil pemeriksaan atau kembali melihat layar ponsel.

Oh ya, saya sempat mengira semua itu hanya karena kurang tidur atau kelelahan menemani Ibu.

Padahal setelah mencari informasi dari beberapa sumber tepercaya, saya baru memahami bahwa kondisi tersebut merupakan gejala mata kering yang bisa dipicu oleh berbagai faktor. 

Ternyata Mata jadi Kering

Terlalu lama berada di ruangan ber-AC, terlalu lama menatap layar, hingga kurang berkedip saat sedang fokus bekerja ternyata menjadi beberapa penyebab mata kering yang sering gak disadari.

Jujur, saya sempat merasa kesal. Sebel gak, sih? Antrean dokter masih panjang, pekerjaan belum selesai, sementara mata justru terasa makin gak nyaman. 

Rasanya ingin memejamkan mata sebentar, tetapi saya tetap harus sigap ketika nomor antrean dipanggil atau saat Ibu membutuhkan bantuan untuk berpindah ke ruang pemeriksaan.

Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa mata sepet, mata perih, dan mata lelah bukan sekadar keluhan ringan yang bisa diabaikan. 

Hal Sederhana yang Membuat Saya Tetap Nyaman Mendampingi Ibu

Menjaga orang yang kita sayangi juga berarti jangan lupa menjaga diri sendiri.

Saya akhirnya meluangkan waktu untuk mencari tahu kenapa mata saya sering terasa sepet, perih, dan lelah setelah seharian berada di rumah sakit. 

Dari beberapa referensi yang saya baca, saya baru memahami bahwa gejala mata kering dapat terjadi ketika produksi air mata berkurang atau penguapannya terjadi terlalu cepat. 

Aktivitas seperti terlalu lama berada di ruangan ber-AC, terlalu lama menatap layar, hingga kurang berkedip ternyata menjadi beberapa penyebab yang sering gak disadari.

Tahu gak, sejak saat itu saya mulai mengubah beberapa kebiasaan kecil. 

Saya berusaha mengistirahatkan mata di sela-sela aktivitas, mengalihkan pandangan sesaat dari layar ponsel, memperbanyak minum air putih, dan mengingatkan diri sendiri agar lebih sering berkedip. 

Memang terdengar sederhana, tetapi saya merasa kebiasaan-kebiasaan itu cukup membantu menjaga mata tetap nyaman selama mendampingi Ibu.

Karena kontrol ke rumah sakit sudah menjadi rutinitas, saya juga selalu memastikan semua perlengkapan penting sudah masuk ke dalam tas sebelum berangkat.

5 Barang yang Gak Pernah Absen di Dalam Tas Saat Menemani Ibu Kontrol

Nah, saat mengantar ibu kontrol, kami selalu membawa banyak tas. Tak terkecuali tas pribadi saya yang isinya adalah sebagai berikut: 
  1. Map berisi dokumen medis. Mulai dari hasil laboratorium, surat rujukan, hingga resep obat agar mudah dicari ketika dibutuhkan.

  2. Dompet berisi kartu BPJS dan identitas. Karena dua benda ini wajib dibawa setiap kali kontrol.

  3. Charger dan power bank. Mengingat saya sering menyelesaikan pekerjaan sekaligus memantau nomor antrean melalui ponsel, juga hasil cek laboratorium.

  4. Botol minum dan camilan. Termasuk sesekali membeli kopi atau mencarikan manisan kolang-kaling favorit Ibu agar suasana menunggu terasa lebih menyenangkan.

  5. INSTO DRY EYES. Satu benda yang akhirnya menjadi salah satu perlengkapan wajib setelah saya beberapa kali mengalami gejala mata kering selama berada di rumah sakit.

Awalnya saya mengenal INSTO DRY EYES saat mencari informasi tentang cara mengatasi mata kering. 

INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit
INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit (doc. Riana Dewie)


Setelah membaca penjelasannya, saya mengetahui bahwa tetes mata ini dapat membantu memberikan kelembapan pada mata yang kering sehingga membantu meredakan Gejala Mata Kering

Karena merasa aktivitas saya memang cukup berisiko membuat mata cepat lelah, akhirnya saya memutuskan untuk selalu membawanya.

Oh ya, saya juga menyukai ukuran botolnya yang praktis sehingga mudah disimpan di dalam tas tanpa memakan banyak tempat. 

Bersama map hasil pemeriksaan, charger, dompet, dan barang-barang lainnya, INSTO DRY EYES selalu ikut menemani perjalanan saya ke rumah sakit.

Setiap kali mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah setelah terlalu lama melihat monitor antrean maupun menatap layar ponsel, saya menggunakan INSTO DRY EYES sesuai petunjuk penggunaan. 

Tetesin mata dengan INSTO DRY EYES biar mata tetap segar & sehat
Tetesin mata dengan INSTO DRY EYES biar mata tetap segar & sehat di RS (doc. Riana Dewie)

Mata terasa lebih segar & nyaman sehingga saya tetap bisa fokus mendampingi Ibu, mengurus administrasi, maupun menyelesaikan pekerjaan yang memang gak bisa ditunda.

Saya sih sekarang percaya bahwa menjaga kesehatan mata bukan hanya soal kenyamanan diri sendiri. 

Mata yang nyaman membantu saya tetap produktif, tetap fokus, dan yang paling penting, bisa hadir sepenuhnya untuk menemani orang yang saya sayangi di setiap proses pengobatan yang kami jalani bersama.

Tak Ada Perjalanan yang Benar-Benar Sia-Sia

Beberapa kenangan memang gak bisa diulang, tetapi pelajarannya akan selalu saya bawa.

Ada satu hari ketika saya kembali memasuki parkiran bawah tanah rumah sakit yang begitu akrab. Langkah kaki saya masih terasa otomatis. 

Suasana parkiran RS dimana saya mengantar ibu berobat
Suasana parkiran RS dimana saya mengantar ibu berobat (doc. Riana Dewie)

Rasanya seperti sebentar lagi saya akan mengambil kursi roda, membantu Ibu turun dari mobil, lalu berjalan menuju ruang administrasi seperti biasanya.

Namun beberapa detik kemudian saya tersadar.

Kali ini saya datang bukan untuk menemani Ibu kontrol.

Saya datang untuk mengurus beberapa berkas setelah Ibu berpulang ke rumah Tuhan pada 3 Juli 2026.

Jujur, rasanya campur aduk. Lorong yang sama, lift yang sama, ruang tunggu yang sama, bahkan aroma khas rumah sakit itu masih sama. Bedanya, kini saya berjalan sendirian. 

Tiba-tiba semua kenangan bermunculan begitu saja. 

Mendorong kursi roda naik turun lift, membawa beberapa tas sekaligus, membantu memindahkan Ibu saat kondisi tubuhnya sedang drop, sampai sesekali salah mengarahkan kursi roda dan malah menabrak sudut dinding. 

Hihihihi... mengingatnya sekarang justru membuat saya tersenyum. Hal-hal sederhana seperti itulah yang paling saya rindukan.

Tahu gak, selama hampir dua tahun saya selalu menganggap rutinitas itu melelahkan. 

Berangkat siang, pulang malam, menunggu antrean panjang, berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, bahkan kembali lagi beberapa hari kemudian.

Saya sering berharap semua proses itu segera selesai karena artinya kondisi Ibu sudah membaik.

Nyatanya, yang berakhir justru rutinitas itu.

Ternyata Saya Merindukan Momen itu....

Kini saya merindukan hal-hal yang dulu terasa biasa. 

Duduk berdampingan di ruang tunggu, mendengar Ibu bertanya nomor antrean sudah sampai mana, membeli kopi sambil menunggu giliran, atau mencarikan manisan kolang-kaling kesukaannya. 

Manisan kolang-kaling kesukaan ibu, belinya di kantin (doc. Riana Dewie)
Manisan kolang-kaling kesukaan ibu, belinya di kantin RS (doc. Riana Dewie)


Momen-momen sederhana itulah yang sekarang menjadi kenangan paling berharga.

Pengalaman tersebut mengajarkan saya bahwa mendampingi orang yang kita sayangi juga berarti tetap menjaga diri sendiri. 

Mata yang sehat membuat saya bisa tetap fokus, nyaman, dan sigap menemani setiap proses pengobatan. Karena itulah, sampai sekarang saya masih menyediakan INSTO DRY EYES di dalam tas. 

Benda kecil itu mengingatkan saya pada perjalanan panjang yang pernah kami lalui bersama. 

Ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah akibat terlalu lama berada di ruangan ber-AC maupun terlalu lama menatap layar, saya menggunakan INSTO DRY EYES untuk membantu meredakan gejala mata kering agar aktivitas tetap berjalan dengan nyaman.

Bagi saya, #InstoDryEyes, #BebasMataKering, dan #MataSePeLeJanganSepelein menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mata juga berarti menjaga setiap momen berharga bersama orang-orang yang kita sayangi. 

Akhirnya, ibu kami sudah gak sakit lagi
Akhirnya, ibu kami sudah gak sakit lagi (doc. Riana Dewie)


Karena pada akhirnya, bukan hanya perjalanan yang akan kita kenang, tetapi juga setiap tatapan, senyuman, dan kebersamaan yang pernah kita miliki. 

Jadi, jangan sampai gejala mata kering yang terlihat sepele justru mengganggu kesempatan kita untuk hadir sepenuhnya di sisi mereka.

***

Kalau hari ini kamu masih memiliki kesempatan menemani orang tua, pasangan, anak, atau sahabat menjalani momen penting dalam hidupnya, nikmatilah setiap detiknya. 

Menjaga kesehatan mata mungkin terdengar sederhana, tetapi dari pengalaman saya, hal sederhana itu bisa membantu kita menikmati setiap pelukan, senyuman, dan percakapan yang suatu hari nanti akan berubah menjadi kenangan yang paling dirindukan.





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wellness

5 Menu Sehat Tanpa Nasi agar Badan Lebih Fit

Inspirasi meal prep menu sehat tanpa nasi dengan real food

Dulu saya gak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjalani menu sehat tanpa nasi. Jujur aja, sejak kecil saya selalu diajarkan kalau makan itu ya harus ada nasi. 

Rasanya seperti ada yang kurang kalau di piring cuma ada lauk dan sayur. Bahkan, sepiring nasi hangat sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarga saya selama bertahun-tahun.

Tahu gak, kebiasaan itu ternyata terus saya bawa sampai dewasa. Mau makan apa pun, ujung-ujungnya tetap mencari nasi. 

Waktu itu saya memang belum terlalu memikirkan soal pola makan sehat, karena merasa badan saya masih baik-baik saja. Padahal, usia terus bertambah dan aktivitas juga makin padat.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai sadar kalau menjaga kesehatan ternyata sama pentingnya dengan mengejar pekerjaan atau hobi. 

Saya ingin punya tubuh lebih fit, tidur lebih nyaman, dan tetap bisa aktif sampai usia lanjut nanti. Saya sih percaya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Oh ya, perjalanan ini sama sekali bukan karena saya membenci nasi, ya. Saya hanya ingin mencoba mengubah gaya hidup menjadi lebih baik. 

Target saya sederhana, yaitu menemukan menu sehat sehari-hari yang tetap enak, mengenyangkan, sekaligus mendukung healthy lifestyle tanpa terasa menyiksa.

Awalnya saya juga sempat ragu. Apa saya bakal kuat? Apa nanti gampang lapar? Wkwkwkwk... pertanyaan seperti itu terus muncul di kepala. 

Namun rasa penasaran akhirnya lebih besar daripada rasa takut untuk mencoba.

Saya Mulai dengan Intermittent Fasting

Belakangan ini makin banyak orang mulai peduli dengan kesehatan, termasuk soal pola makan. 

Saya merasa cukup beruntung karena pada November 2023, seorang teman mengenalkan saya pada metode intermittent fasting. Dari situlah perjalanan saya menuju hidup sehat benar-benar dimulai.

Sebelum benar-benar menjalankan intermittent fasting, saya lebih dulu mengubah kebiasaan sarapan. 

Selama bulan Desember, nasi perlahan saya ganti dengan buah-buahan yang saya beli di minimarket setiap pagi. 

Tujuannya sederhana, supaya lambung gak langsung kaget saat nanti mulai menjalani pola puasa. Selain itu, buah juga mengandung serat yang membantu saya merasa kenyang lebih lama.

Memasuki Januari 2024, saya akhirnya memberanikan diri mencoba jendela makan 16:8. 

Artinya, saya berpuasa selama 16 jam dan makan dalam rentang waktu 8 jam, biasanya mulai pukul 12 siang sampai 8 malam.

Seminggu setelahnya, saya menambahkan olahraga ringan ke rutinitas harian. Saya memakai dua dumbbell masing-masing 4 kilogram untuk latihan beban sederhana di rumah. 

Sesekali saya juga mengikuti video kardio dari YouTube, lalu jogging saat ada waktu luang. Saya sih gak pernah memaksakan diri harus olahraga berat setiap hari. Yang penting badan tetap aktif bergerak.

Olahraga dari rumah agak badan tetap fit
Olahraga dari rumah agak badan tetap fit (doc.Riana Dewie)


Perubahan itu ternyata membawa hasil yang cukup mengejutkan. Sekitar enam bulan kemudian, berat badan saya turun dari 80 kilogram menjadi 67 kilogram. 

Saya benar-benar senang melihat hasilnya. Energi terasa lebih stabil, napas saat beraktivitas juga lebih ringan, dan saya mulai menikmati pola hidup sehat yang baru.

Namun, perjalanan saya ternyata belum selesai. Berat badan sempat bertahan cukup lama di angka 67 kilogram. 

Lalu memasuki tahun kedua, tanpa saya sadari angkanya naik lagi menjadi sekitar 72 kilogram. 

Saya pun mulai bertanya dalam hati, apa yang perlu saya ubah supaya bisa kembali mencapai berat badan ideal tanpa harus menjalani menu diet sehat yang terlalu ketat?

Kenapa Saya Memilih Menu Sehat Tanpa Nasi?

Jujur saja, kenaikan berat badan itu membuat saya kembali mengevaluasi kebiasaan makan sehari-hari. 

Bukan berarti metode intermittent fasting yang saya jalani gagal, tetapi saya merasa masih ada yang perlu diperbaiki. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menaikkan level IF menjadi jendela makan 22:2, yaitu 22 jam berpuasa dan hanya 2 jam untuk makan.

Kebetulan, saat itu bertepatan dengan masa Prapaskah tahun 2026. Selama 40 hari saya sekalian menjadikan momen tersebut sebagai latihan mengendalikan diri. 

Awalnya memang berat sih. Apalagi ketika melihat orang lain menikmati camilan atau minuman manis di depan mata. Hihihihi... godaannya memang nyata!

Tahu gak, selain mengurangi jam makan, saya juga sekalian mengurangi makanan berbahan tepung dan minuman yang mengandung gula tambahan

Memang gak bisa langsung 100% karena saya juga manusia biasa yang masih gampang tergoda makanan enak. Mungkin porsinya sekitar 80%, tapi buat saya itu sudah menjadi langkah besar menuju konsisten menjalani gaya hidup sehat.

Di titik itulah saya mulai menyadari bahwa nasi sebenarnya bukan satu-satunya sumber karbohidrat. 

Saya perlahan menggantinya dengan kentang atau ubi yang mengandung karbohidrat kompleks sehingga energi terasa lebih stabil. 

Untuk memenuhi kebutuhan protein, saya lebih sering memilih dada ayam, telur, tahu, tempe, atau sesekali ikan. 

Sayuran hijau pun hampir selalu hadir di piring makan saya karena kaya serat dan membuat kenyang lebih lama.

Oh ya, saya termasuk orang yang gampang bosan, tapi juga males bikin menu yang ribet. Jadi bahan makanan di rumah hampir selalu itu-itu saja. 

Bedanya, saya mengolahnya menjadi berbagai menu rendah kalori agar rasanya tetap berbeda setiap hari. Kadang dibuat sup, ditumis, dipanggang, atau cukup direbus dengan bumbu sederhana.

Saya juga mulai mengenal konsep real food, yaitu memilih bahan makanan yang minim proses dibanding makanan instan. 

Lama-lama saya merasa tubuh lebih nyaman. Saya gak lagi terlalu sering merasa ngantuk setelah makan, dan kebutuhan kalori harian terasa lebih mudah dikontrol tanpa harus menghitung secara detail.

Yang menarik, perubahan ini juga membuat saya lebih rajin melakukan meal prep sederhana. 

Saya biasanya menyiapkan ayam rebus, telur, atau sayuran dalam jumlah lebih banyak untuk stok beberapa hari. 

Jadi saat jam makan tiba, saya tinggal mengombinasikannya sesuai selera. Cara ini cukup membantu supaya saya gak tergoda membeli makanan cepat saji.

Hasilnya benar-benar terasa. Tubuh menjadi lebih ringan, metabolisme terasa lebih baik, dan saya gak lagi bergantung pada nasi di setiap waktu makan. 

Saya pun mulai percaya bahwa menjalani menu sehat tanpa nasi bukan soal pantangan, melainkan soal menemukan kebiasaan baru yang lebih cocok dengan kebutuhan tubuh.

Menu Sehat Tanpa Nasi Favorit yang Tetap Mengenyangkan

Setelah cukup lama menjalani pola makan ini, saya akhirnya menemukan beberapa menu yang paling sering muncul di meja makan. 

Bahannya sederhana, mudah dicari, dan yang paling penting tetap enak. Buat saya, makanan sehat gak harus mahal atau terlihat mewah. 

Yang penting gizinya seimbang, mengandung protein, serat, serta lemak sehat dalam porsi yang pas.

Oh ya, saya memang bukan chef ataupun ahli gizi. Saya hanya berbagi pengalaman pribadi tentang menu yang selama ini cocok di tubuh saya. 

Bahkan sebagai seorang food blogger, saya tetap percaya bahwa makanan rumahan sering kali jauh lebih nikmat dibanding menu yang terlalu rumit.

1. Sup Telur Ayam

Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein
Sup telur ayam dengan sayuran dan ayam fillet tinggi protein (dpc. Riana Dewie)

Ini menu yang paling sering saya masak karena praktis. Bumbunya seperti sup pada umumnya, hanya terdiri dari bawang putih, bawang merah, merica, garam, dan sedikit kaldu. 

Untuk isiannya saya memilih ayam fillet, telur, wortel, kentang, kembang kol, daun bawang, lalu ditambah bawang bombai supaya aromanya makin sedap.

Menurut saya sih, menu ini sudah lengkap. Ada protein dari ayam dan telur, ada serat dari sayuran, serta karbohidrat kompleks dari kentang. 

Semangkuk sup hangat seperti ini sudah cukup membuat saya kenyang lebih lama.

2. Telur Dadar Sambal Terasi

Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus
Menu diet sehat telur dadar dengan kentang rebus (doc. Riana Dewie)

Menu ini biasanya saya buat saat sedang ingin makan yang gurih. 

Telur saya goreng menggunakan sedikit olive oil, lalu ditemani ayam berbumbu bawang putih, garam, dan daun jeruk. Sebagai pelengkap, saya selalu menambahkan sambal terasi favorit.

Karena sedang menjalani menu sehat tanpa nasi, sumber karbohidrat saya ganti dengan kentang rebus. Rasanya tetap nikmat, bahkan lama-lama lidah saya mulai terbiasa. 

Saya jadi sadar kalau ternyata yang paling dicari sering kali bukan nasinya, melainkan lauk dan sambalnya.

3. Sayur Asem Daging

Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat
Menu sehat tanpa nasi sayur asem daging kaya serat (doc. Riana Dewie)

Siapa bilang sayur asem hanya cocok dimakan bersama nasi? Saya justru sering menikmatinya tanpa nasi sama sekali. 

Isinya hampir sama dengan sup, hanya kuahnya dibuat menjadi sayur asem khas Bandung yang segar.

Perpaduan kuah asam dengan potongan daging sapi atau ayam benar-benar bikin selera makan meningkat. Apalagi kalau ditemani sambal terasi, wah... rasanya susah ditolak.

4. Chicken Steak Mashed Potato

Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)
Menu sehat tanpa nasi telur sayur black pepper homemade (doc. Riana Dewie)

Kalau sedang punya waktu lebih, saya biasanya membuat menu ini. 

Memang agak lebih effort karena harus mengupas kentang, merebusnya hingga empuk, lalu menghaluskannya bersama susu dan sedikit taburan keju.

Sementara itu, ayam fillet saya marinasi menggunakan saus black pepper, saus barbeque, kecap asin, sedikit kecap manis, minyak ikan, serta bawang putih. 

Setelah didiamkan beberapa saat, ayam tinggal dipanggang di teflon sampai matang.

Buat saya, menu seperti ini tetap masuk kategori makanan sehat rendah kalori karena proses memasaknya minim minyak. Rasanya pun gak kalah dengan steak yang dijual di restoran.

5. Telur Sayur Black Pepper

Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)
Telur sayur black pepper menu rendah kalori yang mengenyangkan (doc. Riana Dewie)

Nah, ini salah satu menu favorit saya sampai sekarang. Hampir semua bahannya cukup direbus atau dikukus, mulai dari telur, wortel, brokoli, jagung muda, hingga ayam fillet.

Rahasia kelezatannya justru ada di sausnya. 

Saya menumis bawang putih dan bawang bombai, lalu menambahkan campuran saus black pepper, sedikit kecap, garam, serta gula secukupnya sebagai penyeimbang rasa. 

Setelah matang, saus tinggal disiramkan ke atas semua bahan.

Sekilas tampilannya memang mirip siomay, hanya saja cita rasanya berbeda. 

Menurut saya sih, menu ini paling pas disantap saat cuaca dingin karena hangat, mengenyangkan, dan tetap terasa ringan di perut.

Makan tanpa nasi ternyata gak semenakutkan yang saya bayangkan dulu. Justru saya jadi lebih kreatif mencoba berbagai kombinasi menu dari bahan yang sama. 

Nah, dari lima menu tadi, kira-kira kamu paling penasaran mau coba yang mana? Hehehe.... 😉

Ternyata Hidup Sehat Gak Sesulit yang Dibayangkan

Setelah menjalani semua proses ini, saya baru benar-benar memahami bahwa perubahan gak selalu harus dilakukan secara ekstrem. 

Yang paling penting justru membangun kebiasaan kecil yang bisa dijalani setiap hari. 

Bagi saya, hidup sehat bukan soal mengejar angka di timbangan, melainkan bagaimana tubuh terasa lebih nyaman saat beraktivitas.

Tahu gak, perubahan pertama yang paling saya rasakan justru bukan berat badan. Saya jadi lebih mudah bangun pagi, tidur terasa lebih nyenyak, dan energi lebih stabil sepanjang hari. 

Aktivitas bekerja pun terasa lebih ringan karena tubuh gak gampang lemas setelah makan.

Selain itu, saya juga merasa lebih mudah mengontrol rasa lapar. 

Mungkin karena tubuh sudah terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur, ditambah pilihan makanan tinggi protein, serat, dan lemak sehat yang membuat saya kenyang lebih lama. 

Defisit kalori pun akhirnya berjalan lebih alami tanpa perlu menyiksa diri atau menghitung setiap suapan makanan.

Oh ya, saya tetap punya cheating day, lho di hari Minggu. Sesekali saya menikmati makanan favorit tanpa rasa bersalah. Bedanya, sekarang saya gak lagi berlebihan. 

Keesokan harinya saya cukup kembali menjalankan intermittent fasting 22:2 seperti biasa. Menurut saya, keseimbangan jauh lebih penting daripada pantangan yang terlalu ketat.

Hasilnya benar-benar membuat saya bersyukur. Pada Februari 2026 berat badan saya masih berada di angka 72 kilogram. Empat bulan kemudian, angkanya turun menjadi sekitar 59 kilogram (hingga sekarang). 

Saya memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani
Saya memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani (doc. Riana Dewie)


Buat saya, pencapaian ini bukan semata-mata karena berhenti makan nasi, tetapi karena saya mulai lebih menghargai tubuh sendiri dan menjaga pola makan dengan lebih bijak.

Sekarang saya masih sangat jarang makan nasi. Kalaupun sedang ingin, biasanya hanya satu atau dua kali dalam seminggu dengan porsi secukupnya. 

Selebihnya, saya lebih nyaman mengonsumsi kentang, ubi, sayuran, ayam, telur, tahu, atau tempe sebagai menu sehat sehari-hari. 

Ternyata tubuh saya bisa beradaptasi dengan baik, bahkan terasa jauh lebih fit dibanding beberapa tahun lalu.

Saya juga belajar bahwa perjalanan setiap orang pasti berbeda. Apa yang berhasil pada saya belum tentu memberikan hasil yang sama pada orang lain. 

Karena itu, saya selalu menyarankan untuk menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan tubuh masing-masing dan, bila perlu, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kondisi medis tertentu.

***

Nah, itulah cerita perjalanan saya menjalani menu sehat tanpa nasi. Semoga pengalaman sederhana ini bisa menjadi inspirasi buat kamu yang ingin memulai pola hidup sehat tanpa merasa terbebani. 

Siapa tahu, langkah kecil hari ini justru menjadi awal perubahan besar di masa depan. 

Kalau kamu punya menu andalan atau cerita menarik seputar kuliner sehat, boleh banget berbagi di kolom komentar, ya....😊






Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wellness

Pola Hidup Sehat: Formula Realistis Pekerja Kantoran

Pola hidup sehat

Di tengah ritme kerja yang padat dan tuntutan hidup yang terus bergerak cepat, saya akhirnya menemukan satu formula sederhana yang bisa saya jalani tanpa drama: pola hidup sehat yang realistis, terukur, dan konsisten. Bukan yang terlihat sempurna di luar, tapi yang benar-benar bisa saya lakukan setiap hari. Dari situlah rutinitas ini terbentuk: pelan, sadar, dan penuh komitmen.

Healthy Habit untuk Pekerja Sibuk: Jogging Pagi, IF, dan Tidur Disiplin

Pola hidup sehat buat saya dulu terdengar seperti sesuatu yang ribet, mahal, dan butuh waktu luang yang banyak. Padahal saya pekerja kantoran yang jam kerjanya padat, target numpuk, dan kadang pulang sudah capek duluan. Tapi justru karena rutinitas itulah saya sadar, kalau saya gak mengatur diri sendiri, siapa lagi?

Oh ya, perjalanan saya membangun kebiasaan sehat ini juga penuh trial and error, bukan langsung sempurna sejak hari pertama. Ada fase malas, ada fase over semangat, ada juga fase ingin menyerah. Hihihihi… manusiawi banget kan.

Kalau saya sih akhirnya memilih satu prinsip sederhana: bikin pola hidup sehat yang realistis, bukan yang cuma kelihatan keren di media sosial. Buat saya, healthy habit itu harus bisa dijalani dalam jangka panjang. Bukan sekadar seminggu rajin, lalu hilang.


Pilar 1: Bangun Pagi & Tidur Terjadwal dalam Pola Hidup Sehat

Banyak orang fokus ke olahraga dan makanan, tapi lupa bahwa fondasi pola hidup sehat adalah tidur.

Kenapa tidur jam 21.30 itu krusial

Saya sengaja “memaksa” diri tidur jam 21.30. Awalnya berat banget, karena godaan scrolling itu luar biasa. Tapi saya sadar, kalau mau bangun pagi dengan segar, ya harus kompromi dengan waktu istirahat.

Oh ya, saya juga sadar kualitas tidur sangat memengaruhi metabolisme dan hormon lapar. Kalau tidur kurang, besoknya pasti craving gula naik. Jadi buat saya, tidur cepat itu bukan hukuman, tapi investasi.

Target bangun jam 3 pagi

Jam 3 pagi alarm berbunyi. Kadang masih gelap, kadang masih dingin, dan kadang saya ingin tarik selimut lagi. Tapi di momen itulah disiplin diuji.

Kalau saya sih biasanya langsung duduk, minum air putih, dan gak kasih waktu buat otak bernegosiasi. Karena kalau kebanyakan mikir, pasti kalah.

Hubungan kualitas tidur & metabolisme

Sejak konsisten tidur teratur, saya merasa energi lebih stabil. Badan lebih ringan. Fokus lebih tajam. Ternyata contoh kebiasaan sehat sehari hari seperti tidur cukup itu efeknya luar biasa.

Pola hidup sehat itu bukan cuma soal keringat, tapi juga soal istirahat yang cukup.

Saya & suami jogging pagi bersama anabul
Saya & suami jogging pagi bersama anabul (Doc. Riana Dewie)


Pilar 2: Jogging Pagi Bersama Anabul (05.00–06.30)

Bagian ini favorit saya. Jam 5 pagi sampai 6.30 adalah waktu sakral buat saya dan anabul.

Awali dengan pemanasan atau cardio singkat

Sebelum lari, saya selalu awali dengan pemanasan. Kadang stretching ringan, kadang cardio sebentar seperti jumping jack. Biar otot gak kaget.

Oh ya, tubuh kita itu butuh adaptasi, jadi jangan langsung gas penuh. Saya pernah cedera ringan karena terlalu semangat di awal, dan itu bikin kapok.

90 menit gerak aktif untuk stamina

Total sekitar 90 menit saya bergerak. Gak selalu lari cepat, kadang kombinasi jalan cepat dan jogging santai. Yang penting konsisten.

Buat saya, kebiasaan sehat seperti ini bikin stamina meningkat signifikan. Naik tangga kantor pun gak ngos-ngosan lagi. Hahahaha… dulu sih beda cerita.

Manfaat mental health dari olahraga pagi

Udara pagi itu beda. Lebih sejuk, lebih tenang, dan belum banyak polusi. Di momen itu, pikiran terasa lebih jernih.

Saya merasa olahraga pagi membantu mengurangi stres kerja. Mood jadi lebih stabil. Ini bagian dari pola hidup sehat yang sering diremehkan, padahal efeknya nyata banget.

Bonding time dengan anabul sebagai terapi alami

Jogging bareng anabul itu bukan cuma olahraga, tapi juga terapi. Melihat dia berlari dengan semangat bikin hati hangat.

Kalau saya sih merasa ini salah satu contoh kebiasaan sehat sehari hari yang berdampak emosional. Hubungan kami jadi lebih dekat. Rasanya seperti recharge energi sebelum masuk dunia kerja.


Pilar 3: Pola Makan Terstruktur dengan IF untuk Pola Hidup Sehat

Setelah olahraga dan kerja, bagian berikutnya adalah makan. Saya memilih metode intermittent fasting 16:8.

Skema IF 16:8 versi saya

Saya puasa dari jam 20.00 malam sampai jam 12.00 siang keesokan harinya. Jadi jendela makan hanya 8 jam.

Oh ya, awalnya lapar banget sih di pagi hari. Tapi setelah beberapa minggu, tubuh mulai terbiasa. Sekarang malah terasa ringan.

Sebagai Mindful Lifestyle Blogger dalam perjalanan pribadi saya, saya belajar bahwa kebiasaan sehat itu butuh kesadaran, bukan paksaan berlebihan.

Buah potong menjadi menu favorit
Buah potong menjadi menu favorit (doc. Riana Dewie)


Buka puasa jam 12 siang dengan buah praktis

Jam 12 siang saya biasanya buka dengan potongan buah dari minimarket. Praktis, cepat, dan segar.

Kalau saya sih lebih suka pepaya atau semangka. Simpel tapi cukup buat mengisi energi awal. Ini bagian dari pola hidup sehat yang mudah diterapkan pekerja kantoran.

Buah membantu pencernaan lebih siap sebelum makan berat.

Kenapa makan malam dibatasi jam 20.00

Saya membatasi makan malam maksimal jam 20.00. Bukan karena tren, tapi karena saya ingin tubuh punya waktu istirahat.

Makan terlalu malam bikin tidur kurang nyenyak. Dan itu mengganggu siklus healthy habit yang sudah saya bangun.

Konsistensi puasa sampai siang berikutnya

Kuncinya di konsistensi. Kalau hari ini longgar, besok juga pasti ikut longgar.

Pola hidup sehat bukan tentang sempurna, tapi tentang menjaga ritme. Sedikit demi sedikit, tubuh belajar beradaptasi.


Dampak yang Saya Rasakan Setelah Konsisten dengan Pola Hidup Sehat

Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas ini, saya mulai merasakan perubahan signifikan.

  • Energi lebih stabil.
  • Berat badan lebih terkontrol.
  • Fokus kerja meningkat.
  • Mood lebih stabil.

Oh ya, saya juga merasa lebih percaya diri. Bukan karena angka timbangan saja, tapi karena berhasil menepati komitmen pada diri sendiri.

Pola hidup sehat ini membuat saya sadar bahwa healthy habit gak harus mahal. Gak perlu alat gym canggih atau makanan super mahal. Cukup disiplin waktu, olahraga rutin, dan pola makan terstruktur.

Sekarang, jam 21.30 adalah alarm alami untuk tidur. Jam 3 pagi bukan lagi musuh. Jogging pagi bersama anabul jadi momen yang selalu saya tunggu. Dan IF sudah seperti bagian dari identitas saya.

Kalau dipikir-pikir, kebiasaan sehat ini sebenarnya sederhana. Tapi efeknya menyentuh banyak aspek hidup saya: fisik, mental, bahkan relasi.

Saya yang mengusahakan untuk selalu sehat
Saya yang mengusahakan untuk selalu sehat (doc. Riana Dewie)


Di akhir perjalanan kecil ini, saya belajar satu hal penting: pola hidup sehat adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Bukan tentang siapa paling kuat, tapi siapa paling konsisten.

Dan buat saya pribadi, perjalanan ini masih panjang. Masih akan ada hari malas, hari capek, hari ingin rebahan saja. 

Apalagi di satu tahun terakhir ini, ritme jogging saya agak berubah karena seringnya menemani orang tua opname untuk perawatan. Jadi, saya tetap mengusahakan olahraga walau hanya dari rumah. 

Walau begitu, saya selalu ingat alasan awal memulai. Karena pada akhirnya, healthy habit bukan gaya hidup mahal, tapi pola yang konsisten. Dan pola hidup sehat ini sudah menjadi bagian dari Family & Personal Journey saya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Wellness

Cara Menyehatkan Mental Saat Saya Merasa Sepi di Keramaian

cara menyehatkan mental

Akhir-akhir ini saya sering merasa capek. Padahal secara aktivitas, harusnya sudah jauh berkurang karena sekarang saya gak ngantor lagi. Semua pekerjaan saya lakukan dari rumah, sesuai passion, dan jujur saja saya happy menjalaninya. Ritme kerja lebih fleksibel, tekanan jauh berkurang, dan saya merasa hidup lebih terkendali.

Oh ya, kesibukan saya yang lain adalah mengantar ibu kontrol ke rumah sakit secara rutin setiap minggu. Aktivitas ini sudah jadi bagian dari keseharian saya. Saya jalani dengan penuh tanggung jawab, meski kadang fisik dan mental sama-sama terasa lelah.

Entah kenapa, di tengah kondisi yang terlihat baik-baik saja itu, saya justru sering merasa sendiri. Ada rasa sepi yang muncul tanpa aba-aba. Mudah capek, cepat lelah, dan pikiran seperti gak pernah benar-benar istirahat. Dari sini saya mulai bertanya tentang cara menyehatkan mental saya sendiri.

Kalau dipikir-pikir sih, hidup saya sedang aman. Gak ada konflik besar. Tapi rasa kosong itu tetap datang, bahkan saat rumah ramai.

Oh ya, mungkin kamu juga pernah merasa sepi di keramaian, tapi bingung menjelaskannya ke siapa.

Apa Saya Kena Mental Breakdown ya?

Pertanyaan ini cukup sering mampir di kepala saya. Mental breakdown adalah kondisi ketika seseorang merasa kewalahan secara emosional karena tekanan yang menumpuk, baik disadari maupun gak.

Gejalanya bisa berupa mudah cemas, overthinking, cepat lelah, mental gampang down, dan sensitif terhadap hal-hal kecil. Kadang emosi naik turun tanpa sebab yang jelas.

Kalau saya sih, hampir semuanya saya rasakan. Capek padahal aktivitas biasa saja. Pikiran penuh, dan hati gampang tersentuh.

Oh ya, pernah suatu malam saya ketawa sendiri sambil mikir, “Kok lebay amat ya perasaan begini?” hahahaha…. Tapi setelah tawa itu hilang, rasa sepinya tetap ada.

Di titik ini, saya sadar bahwa cara menyehatkan mental gak bisa hanya dengan menyuruh diri sendiri untuk kuat.

Pergi ke Luar untuk Mengurangi Penat

Salah satu hal yang cukup membantu adalah pergi ke luar rumah. Saya dan keluarga sering melakukan aktivitas sederhana untuk healing dan melepas penat.

Kami pernah ke Hutan Pinus Kalilo, menikmati udara sejuk dan suasana tenang. Duduk tanpa banyak bicara, tapi rasanya menenangkan. Kami juga beberapa kali ke Gembira Loka, melihat anak-anak tertawa, dan ikut merasa hangat.

Kalau lagi santai sih, kami ke coffee shop, makan malam bareng keluarga di resto, atau hunting tempat wisata baru. Aktivitas sederhana ini cukup membantu menjaga kesehatan mental.

Oh ya, momen kebersamaan seperti ini sering jadi pengingat kalau hidup gak selalu harus berat.

Di tengah perjalanan ini, saya juga menyadari bahwa konsep destinasi wisata keluarga gak selalu soal tempat jauh, tapi soal rasa aman dan nyaman bersama.


mental health
Kuliner ria untuk menyehatkan mental (Doc. Riana Dewie)

Solusi Mengatasi Mental Breakdown

Beberapa hal yang saya lakukan untuk membantu menjaga kondisi mental adalah sebagai berikut. 

1. Mengakui kondisi diri
Saya jujur mengakui kalau saya sedang gak baik-baik saja. Ini langkah awal dalam cara menyehatkan mental.

2. Mengurangi tuntutan pada diri sendiri
Saya berhenti memaksa diri untuk selalu produktif setiap hari.

3. Bercerita ke orang terpercaya
Didengar saja sudah cukup melegakan.

4. Mendekat secara spiritual
Doa dan refleksi membantu menenangkan pikiran.

5. Menjaga ritme hidup
Tidur cukup, makan teratur, dan memberi ruang untuk diri sendiri.

Kalau saya sih, proses ini naik turun. Ada hari ringan, ada hari berat, dan itu wajar.

Oh ya, di salah satu fase ini saya sempat tertawa kecil tanpa alasan, hihihihi…. Mungkin karena akhirnya saya berhenti melawan perasaan sendiri.

Issue Mental Health Jangan Disepelekan

Kesehatan mental sering dianggap sepele karena gak terlihat. Padahal dampaknya nyata. Merasa sepi di keramaian, mental gampang down, dan kelelahan emosional bisa memengaruhi kualitas hidup.

Setiap masalah pasti ada solusi. Dukungan dari pasangan, orang tua, anak, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang peduli sangat berarti.

Oh ya, cara menyehatkan mental juga berarti berani meminta bantuan.

***

Kalau kamu sedang berada di fase ini, saya ingin bilang: kamu gak sendirian. Merasa capek dan sepi di keramaian itu manusiawi.

Saya sendiri masih belajar menerima naik turunnya emosi dan terus mencari cara menyehatkan mental yang paling cocok.

Pelan-pelan saja. Ambil jeda. Temukan hal-hal sederhana yang bikin hati hangat.

Dan semoga, di akhir perjalanan ini, kamu juga menemukan versi tips liburan paling sederhana: memberi diri sendiri izin untuk berhenti sejenak dan bernapas.


Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Wellness

Review Jujur Insto Dry Eyes Kemasan Baru: Nyaman di Mata dan di Tas!

 

Review jujur Insto Dry Eyes

Kalau kamu sehari-hari kerjanya di depan laptop, scrolling HP sambil nunggu jadwal meeting, atau bahkan maraton drama Korea berjam-jam, pasti pernah ngerasain yang namanya mata kering.

Rasanya tuh nggak enak—perih, berair, dan bikin fokus jadi buyar. Saya juga ngalamin itu, apalagi pas kerjaan lagi padat dan harus ngebut nulis atau ngedit konten dari pagi sampai malam.

Selama ini, Insto Dry Eyes selalu jadi penyelamat saya. Tapi beberapa waktu lalu, pas lagi mampir ke apotek, saya lihat penampilannya beda. “Eh, Insto Dry Eyes sekarang ganti kemasan, ya?” pikir saya.

Karena penasaran, akhirnya saya beli dan cobain sendiri. Nah, kali ini saya mau cerita pengalaman pakai Insto Dry Eyes versi kemasan baru—nyaman di mata, dan ternyata lebih praktis juga dibawa ke mana-mana!

 

Kenalan Lagi Yuk Sama Insto Dry Eyes

Insto Dry Eyes ini adalah obat tetes mata yang fungsinya buat melembapkan mata kering. Biasanya saya pakai pas mata mulai terasa nggak nyaman setelah lama lihat layar. Efeknya cepat dan nggak bikin perih, jadi saya nggak ragu pakai kapan aja, entah itu pas kerja di rumah, atau lagi nunggu boarding di bandara.

Satu hal yang saya suka dari Insto Dry Eyes: ukurannya mini dan gampang banget dibawa ke mana-mana. Jadi, meskipun tas lagi penuh dengan printilan, botol kecil Insto ini tetap bisa nyelip di antara pouch makeup atau dompet kecil.

 

Kemasan Baru: Lebih Modern dan Lebih Praktis

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling bikin penasaran: kemasan barunya kayak gimana sih?

Pertama kali lihat di rak apotek, saya langsung notice kalau desainnya lebih modern. Warnanya tetap identik dengan versi sebelumnya, tapi tampilannya lebih clean dan kelihatan stylish.

Botolnya juga terasa lebih ergonomis—lebih enak digenggam, dan bagian tutupnya sekarang terasa lebih rapat, jadi nggak khawatir bocor pas ditaruh di dalam tas.

Saya pribadi suka banget sama kemasan barunya ini. Selain tampil beda, ternyata juga makin cocok sama gaya hidup kita yang serba praktis. Bawa #InstoDryEyes sekarang nggak cuma soal fungsi, tapi juga gaya. Iya, tampilannya beneran lebih kece!

 

Gimana Hasilnya di Mata?

Setelah pakai beberapa kali, saya bisa bilang kalau performanya masih sama bagusnya kayak versi sebelumnya. Tetap nyaman di mata, nggak ada rasa pedih, dan efek lembapnya cukup bertahan lama.

Biasanya saya pakai pas mata udah mulai “protes”—biasanya setelah 4–5 jam duduk depan laptop. Sekali dua tetes, mata langsung terasa lebih segar dan fokus balik lagi.

Hal lain yang saya perhatikan, tutup botolnya sekarang lebih kuat. Ini penting banget sih buat saya yang kadang suka asal lempar botol ke dalam tas. Nggak perlu lagi khawatir bocor atau ketumpahan ke barang lain.

 

Cocok Buat Siapa Aja?

Menurut saya, Insto Dry Eyes kemasan baru ini cocok banget buat kamu yang punya aktivitas tinggi dan sering berada di lingkungan ber-AC atau depan layar. Misalnya:

·         Kamu yang kerja di kantor dan sering lembur

·         Mahasiswa yang kuliah online dan maraton jurnal

·         Content creator yang banyak ngedit video

·         Atau bahkan kamu yang suka traveling dan butuh mata tetap segar sepanjang perjalanan

Insto ini juga cocok buat pemakai lensa kontak, karena kadang lensa bisa bikin mata cepat kering. Karena #MataKeringJanganSepelein jadi bisa banget kamu masukin ke dalam tas sebagai “first aid” buat mata lelah.

 

Insto Dry Eyes

Buat Saya sih Berguna Banget!

Dari segi isi, Insto Dry Eyes tetap jadi andalan buat atasi mata kering. Tapi sekarang tampilannya makin keren, lebih praktis dibawa, dan pastinya tetap efektif. Buat kamu yang selama ini udah cocok sama Insto, versi barunya ini pasti bakal kamu suka juga. Dan buat kamu yang belum pernah coba, sekarang mungkin saat yang pas buat mulai.

Sebagai pekerja kreatif, saya tahu banget gimana rasanya harus bolak-balik antara laptop dan aktivitas di lapangan. Kadang pagi udah harus standby di depan layar untuk brainstorming atau revisi desain, lalu siangnya pindah ke lokasi buat photoshoot atau meeting klien.

Aktivitas yang padat dan berpindah-pindah ini bikin mata saya sering terasa lelah—apalagi kalau dari luar yang panas langsung masuk ruangan ber-AC. Nah, Insto Dry Eyes jadi penyelamat banget di situasi kayak gini.

Cukup bawa satu botol kecil di tas, saya bisa tetesin Insto Dry Eyes kapan aja mata mulai terasa kering. Rasanya adem, nggak perih, dan bikin mata langsung lebih segar. Ini penting banget biar saya tetap bisa kerja maksimal, tanpa harus terganggu sama mata yang terasa panas atau berair.

Jadi buat kamu yang juga aktif di dunia kreatif, cobain deh—Insto Dry Eyes ini beneran praktis dan efektif! Kalau kamu udah cobain juga, yuk share pengalamanmu. Apakah kamu juga ngerasa kemasan barunya bikin makin betah bawa ke mana-mana?

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Wellness

Menjaga Daya Tahan Tubuh di Masa Pandemi Agar Imunitas Makin Kuat

Sudah pasti kesehatan menjadi fokus utama semua orang beberapa bulan terakhir ini terutama sejak kasus harian Covid-19 mulai meningkat dan pemerintah memberlakukan kebijakan PPKM. Naik turun jumlah kasus diberbagai daerah juga membuat suasana hati ikut tidak karuan. Kekhawatiran dan rasa was-was membuat kita lebih berhati-hati dan memperketat protokol kesehatan di kehidupan sehari-hari. Meskipun beberapa dari kita sudah menerima vaksin dosis satu dan dua tetapi tidak lantas kebal virus.  Penyakit yang biasanya disebabkan oleh virus umumnya merupakan self-limiting diseases yang mengandalkan imunitas tubuh. Salah satu cara meningkatkan imunitas adalah dengan menjaga daya tahan tubuh di masa pandemi  ini. Rasa khawatir yang berlebihan akan memicu stres yang membuat imunitas malah justru drop. Nah apa sih yang harus dilakukan agar imun kuat dan daya tahan tubuh tetap terjaga? 

  1. Makan sehat dan teratur

Meskipun makan merupakan kebutuhan dasar manusia, di masa pandemi ini kita mesti lebih memperhatikan pola makan dan apa yang kita makan. Tubuh yang ternutrisi dengan baik akan mampu membentuk imun yang baik juga. Karena itulah makanan sebagai sumber energi harus mengandung cukup gizi/nutrisi yang diperlukan tubuh kita. Hindari makanan yang kaya akan lemak dan gula dan batasi asupan garam. Pilih daging putih seperti ikan atau unggas yang lebih rendah lemak dibandingkan daging merah. Mengkonsumsi buah-buahan, sayur segar, kacang-kacangan, biji-bijian sangat dianjurkankan untuk mendapatkan vitamin, protein serat dan antioksidan yang bagus untuk daya tahan tubuh. Selain mengkonsumsi makanan sehat kita juga harus memperhatikan jam makan kita. Kadang kita malas untuk sarapan pagi. Eits demi imunitas mulai sekarang sarapan jangan di-skip ya. Sudah banyak ahli dan penelitian  yang mengungkapkan pentingnya sarapan untuk tubuh kita. 



  1. Vitamin/Suplemen

Beberapa studi yang dilakukan mengungkapkan bahwa vitamin C, D dan E bagus untuk meningkatkan imunitas. Dosis vitamin C yang direkomendasikan yaitu 90 mg per hari, 15 mcg (600 IU) per hari untuk vitamin D dan 15 mg per hari untuk vitamin E. Selain vitamin mengkonsumsi propolis yang berasal dari lebah madu juga baik untuk meningkatkan kekebalan tubuh karena kandungan flavonoid dan fenolik yang tinggi. Penggunaan empon-empon seperti kunyit, temu lawak dan jahe juga dipercaya berkhasiat untuk meningkatkan imun tubuh. Masyarakat Indonesia sudah sejak dulu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai obat tradisional. Tanaman herbal yang diyakini juga bagus untuk menjaga daya tahan tubuh adalah Echinacea. Ekstrak tumbuhan Echinacea merupakan bahan utama Imboost, obat herbal yang berfungsi meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Imboost dijual bebas di pasaran dan terdiri dariberbagai jenis yaitu Imboost Tablet, Imboost Force, Imboost Force Extra Strength, Imboost Kids Sirup dan Imboost Force Sirup. Imboost dapat dikonsumsi tiga kali sehari untuk menambah daya tahan tubuh.



  1. Olah Raga

Jika sudah makan makanan bergizi dan mengkonsumsi vitamin/suplemen maka lanjutkan dengan  satu sesi olah raga ringan  setiap hari secara rutin. Badan yang bugar tentu akan memperkuat imun kita. Di masa PPKM tentu tidak mudah untuk melakukan kegiatan olah raga, kita tidak bisa pergi ke gym atau sekedar jogging di luar  rumah. Namun selalu banyak cara bukan agar bisa tetap olah raga di rumah saja. Misalnya kita bisa memilih dengan mengikuti tutorial yoga secara online atau sekedar jogging memutari halaman belakang rumah saja toh sudah cukup.  Olah raga adalah salah satu kebutuhan wajib di masa pandemi ini. 


  1. Berpikir positif

Apa yang terjadi di tubuh fisik akan mempengaruhi psikis dan sebaliknya jika psikis bermasalah maka akan mempengaruhi fisik anda, demikian saya mengingat apa yang dikatakan guru yoga saya. Stres memang harus dikurangi salah satu caranya dengan latihan meditasi setiap hari, boleh pagi atau malam sebelum tidur. Memiliki pikiran positif tentu akan sangat baik untuk meningkatkan imunitas tubuh kita. Saat ini kita lebih sering mendapatkan rasa khawatir/cemas dari media sosial karenanya tidak mengakses media sosial untuk sementara waktu (jika diperlukan) adalah langkah bijak agar pikiran tetap positif.



  1. Istirahat/Tidur Cukup

Setelah menjalani berbagai aktivitas sehari-hari tentu saja tubuh perlu diistirahatkan setidaknya tidurlah 7 -8 jam. Usahakan tidak begadang dan mulai tidur paling lambat jam 22.00. Pola istirahat yang baik dan tidur yang berkualitas akan membuat tubuh tidak akan mudah lelah/capek dan daya tahan tubuh akan meningkat. (dian)

*Sumber foto pixabay.com dan dokpri

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments