Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

In travelling

Mudik Pakai Motor: Lebaran, Keluarga, dan Cerita Saya

mudik pakai motor

Mudik pakai motor selalu jadi topik yang hangat setiap menjelang Lebaran. Di keluarga besar saya, obrolan tentang mudik hampir gak pernah terlewat, apalagi saat Ramadhan mulai terasa di udara. Meski saya non muslim, suasana menjelang Lebaran justru menjadi salah satu momen yang paling saya tunggu setiap tahunnya.

Saya lahir dan tumbuh di keluarga yang bisa dibilang cukup unik. Keluarga besar ibu saya semuanya muslim, sementara saya & keluarga non muslim. Itu sebabnya, setiap tahun saya terbiasa merayakan dua hari raya: Natal dan Idul Fitri. Dua momen yang berbeda secara keyakinan, tapi sama-sama hangat dalam makna. Keduanya selalu tentang pulang, keluarga, dan kebersamaan.

Dan di setiap Idul Fitri, satu hal yang selalu hadir sebagai cerita adalah mudik pakai motor.


Saya, Dua Hari Raya, dan Mudik Lebaran

Sejak kecil, saya sudah akrab dengan suasana Lebaran. Meski gak ikut menjalankan puasa, saya ikut merasakan ritmenya. Bangun lebih pagi karena sahur, menunggu azan magrib bersama, huting takjil sampai obrolan santai menjelang berbuka. Ramadhan di rumah selalu penuh cerita, dan ujung dari semua cerita itu adalah mudik Lebaran.

Bagi saya, Lebaran bukan sekadar hari raya keagamaan. Lebaran adalah momen pulang. Momen di mana saya bisa bertemu kembali dengan banyak saudara yang jarang ditemui. Ada om, tante, sepupu, bahkan keponakan yang biasanya hanya bertukar kabar lewat pesan singkat.

Itulah kenapa mudik selalu terasa spesial. Dan di tengah euforia itulah, kisah mudik pakai motor hampir selalu muncul, seolah menjadi cerita wajib setiap tahun.


Mudik Pakai Motor dalam Cerita Keluarga Saya

Kalau bicara soal mudik di keluarga kami, pilihannya biasanya terbagi dua: naik mobil atau mudik pakai motor. Saya sendiri lebih sering mudik naik mobil. Faktor jarak, kenyamanan, dan kondisi jadi pertimbangan utama.

Namun beberapa saudara saya justru setia memilih mudik pakai motor. Alasannya beragam, ada yang karena lebih fleksibel, lebih hemat, dan ada juga yang memang sudah terbiasa sejak dulu. Dari cerita mereka, mudik pakai motor itu capek, tapi selalu meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.

Setiap kumpul keluarga, cerita mudik pakai motor selalu muncul dengan versinya masing-masing. Ada yang bercerita berangkat setelah sahur, ada yang terjebak macet berjam-jam, ada juga yang kehujanan di tengah perjalanan. Anehnya, cerita-cerita itu selalu disampaikan dengan senyum dan tawa.

Mudik Pakai Motor Versi Saudara Saya, Katanya "Simple"!

Saya ingin jujur sejak awal. Cerita mudik pakai motor di tulisan ini bukan pengalaman pribadi saya secara langsung. Ini adalah cerita dari sudut pandang saya sebagai pendengar, pengamat, dan bagian dari keluarga yang selalu menyimak kisah-kisah itu setiap Lebaran.

Saya melihat sendiri bagaimana saudara-saudara saya mempersiapkan perjalanan. Mengecek motor, menyiapkan jas hujan, menyusun rute, dan mengatur waktu berangkat. Ada keseriusan di sana, karena mudik pakai motor memang bukan perjalanan biasa.

Saya juga sering teringat tulisan-tulisan dari mbak Dian Restu Agustina, salah satu blogger yang aktif menulis tentang Lebaran dan mudik hampir setiap tahunnya. Dari tulisannya, saya belajar bahwa mudik selalu punya sisi emosional yang kuat. Cerita tentang berkendara di Tol Trans Jawa, lelah di jalan, rindu yang ditahan, hingga lega saat akhirnya sampai rumah, terasa sangat dekat dengan kisah saudara-saudara saya.


Cerita Seru Mudik Pakai Motor Setiap Lebaran

Dari semua cerita yang saya dengar, mudik pakai motor selalu punya warna tersendiri. Ada cerita sahur di SPBU karena berangkat terlalu pagi. Ada juga cerita buka puasa di pinggir jalan dengan menu sederhana, tapi rasanya jadi istimewa karena dimakan setelah perjalanan panjang.

Beberapa saudara saya juga sering bercerita tentang solidaritas di jalan. Saling menyapa sesama pemudik motor, saling membantu saat ada yang mogok, atau berbagi informasi jalur alternatif. Dari sana saya melihat bahwa mudik pakai motor bukan cuma soal kendaraan, tapi juga soal rasa kebersamaan.

Mudik Pakai Motor dan Rindu yang Terbayar

Semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas ketika mereka akhirnya tiba di kampung halaman. Disambut keluarga, mencium tangan orang tua, dan berkumpul di satu meja besar saat Lebaran. Di momen itu, saya selalu melihat wajah-wajah lega dan bahagia.

Bagi saya, melihat saudara-saudara saya pulang dengan selamat setelah mudik pakai motor adalah kebahagiaan tersendiri. Rindu yang selama ini tertahan akhirnya menemukan jalannya untuk pulang.


Tips Mudik Pakai Motor agar Mudik Aman Sampai Tujuan

Dari cerita dan pengalaman saudara-saudara saya, ada beberapa tips mudik pakai motor yang selalu mereka pegang. Tips sederhana, tapi sangat menentukan apakah perjalanan bisa berjalan nyaman dan mudik aman sampai tujuan.

1. Pastikan Motor Siap

pastikan kondisi motor benar-benar siap sebelum berangkat. Rem, ban, lampu, rantai, dan oli wajib dicek. Beberapa saudara saya bahkan melakukan servis ringan beberapa hari sebelumnya agar mudik pakai motor berjalan lebih tenang.

2. Kondisi Tubuh Sehat

Mudik pakai motor saat puasa jelas menguras tenaga. Kalau lelah, berhenti dan istirahat. Prinsip yang selalu mereka pegang sederhana: lebih baik sampai sedikit lebih lama, asal mudik aman sampai tujuan.

3. Bawa Perlengkapan biar Aman

Atur waktu perjalanan dengan bijak dan lengkapi perlengkapan keselamatan. Banyak pemudik motor memilih berangkat dini hari atau malam hari untuk menghindari panas dan kemacetan. Helm standar, jaket, sarung tangan, dan jas hujan bukan pelengkap, tapi kebutuhan.


Lebaran, Mudik, dan Arti Keluarga bagi Saya

Sebagai non muslim, saya sering ditanya kenapa begitu menantikan Lebaran. Jawaban saya selalu sama: karena Lebaran adalah tentang keluarga. Tentang pulang, berkumpul, dan merayakan kebersamaan tanpa melihat perbedaan.

Mudik pakai motor mungkin bukan pilihan saya secara pribadi, tapi cerita-ceritanya selalu menjadi bagian penting dari Lebaran keluarga kami. Dari sana saya belajar bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk pulang, dengan cerita dan perjuangannya masing-masing.

Pada akhirnya, baik mudik naik mobil, mudik pakai motor, atau mengikuti perkembangan zaman seperti mudik pakai mobil listrik, tujuan kami tetap sama: pulang ke rumah dan merayakan kebersamaan.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In travelling

Cara Menjadi Traveler Lewat Cerita Teman-Teman Saya

Cara menjadi traveler

Cara menjadi traveler sering terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Jujur saja, saya sendiri bukan traveler. Saya gak terbiasa berpindah kota tiap bulan, gak hafal bandara, dan gak punya kebiasaan menyusun itinerary detail. 

Tapi justru karena posisi saya sebagai orang biasa, topik cara menjadi traveler terasa menarik untuk dibahas. Semua ini saya pahami dari cerita teman-teman saya yang menjalani hidup sebagai traveler, baik yang sekadar hobi maupun yang menjadikannya bagian dari gaya hidup.

Dari obrolan santai, chat panjang tengah malam, sampai cerita capek setelah perjalanan jauh, saya mulai mengerti bahwa cara menjadi traveler itu gak sesempit yang sering kita bayangkan.


Cara Menjadi Traveler Itu Tentang Keberanian

Cerita Teman-Teman yang Berani Melangkah

Hampir semua teman saya yang aktif traveling punya satu kesamaan: mereka berani mulai. Bukan karena segalanya sudah siap, tapi karena mereka mau melangkah meski banyak keraguan. Dari cerita mereka, cara menjadi traveler sering dimulai dari keputusan kecil, seperti ikut trip murah, menerima ajakan mendadak, atau nekat pergi sendiri ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

Saya sering mendengar kalimat, “Awalnya cuma coba-coba, lama-lama ketagihan.” Dari situ saya sadar bahwa cara menjadi traveler gak selalu soal rencana besar, tapi tentang keberanian mengambil langkah pertama.

Hal yang Paling Sering Saya Dengar dari Traveler

Menariknya, cerita yang paling sering saya dengar justru bukan soal foto indah atau destinasi populer. Yang sering muncul adalah cerita nyasar, kelelahan, salah jadwal, sampai penginapan yang gak sesuai ekspektasi. Tapi anehnya, semua itu selalu diceritakan sambil tertawa.

Dari situ saya belajar, cara menjadi traveler juga berarti siap menghadapi hal-hal gak terduga. Traveling bukan cuma soal menikmati yang indah, tapi juga menerima proses yang kadang melelahkan.


Cara Menjadi Traveler Pemula Menurut Pengalaman Mereka

Awalnya Sama-Sama Bingung

Kalau kamu merasa bingung mau mulai dari mana, sebenarnya itu wajar. Dari cerita teman-teman saya, hampir semua traveler pernah berada di fase tersebut. Cara menjadi traveler pemula memang penuh tanda tanya. Mau ke mana dulu? Aman gak? Harus bawa apa saja?

Salah satu teman saya pernah bilang, “Gak ada traveler yang langsung jago.” Kalimat sederhana itu bikin saya sadar bahwa cara menjadi traveler pemula gak menuntut kesempurnaan, tapi keberanian untuk belajar sambil jalan.

Cara Menjadi Traveller dengan Gaya Masing-Masing

Hal menarik lainnya adalah gak ada satu pola baku dalam cara menjadi traveller. Ada teman saya yang suka jalan santai dengan ransel, ada juga yang lebih nyaman dengan koper dan jadwal rapi. Ada yang menikmati solo trip, ada pula yang merasa lebih aman traveling rame-rame.

Dari semua cerita itu, saya melihat bahwa cara menjadi traveler sangat personal. Gak perlu memaksakan diri mengikuti gaya orang lain, cukup temukan pola yang paling sesuai dengan diri sendiri.


Cara Menjadi Traveler dan Cerita yang Menginspirasi

Traveler sebagai Pencerita

Banyak teman saya yang akhirnya dikenal bukan karena sering pergi jauh, tapi karena cara mereka bercerita. Ada yang menulis blog, ada yang aktif di media sosial, dan ada pula yang sekadar berbagi lewat obrolan. Dari sinilah saya mengenal sosok-sosok seperti Travel Blogger Balikpapan yang konsisten membagikan pengalaman dengan sudut pandang jujur dan membumi.

Dari mereka, saya belajar bahwa cara menjadi traveler juga berkaitan dengan bagaimana pengalaman itu dibagikan. Cerita membuat perjalanan menjadi lebih hidup dan bermakna.

Traveling sebagai Bagian dari Lifestyle

Traveling sering bersinggungan dengan banyak aspek kehidupan lain. Mulai dari cara berpakaian, cara merawat diri, sampai cara melihat hidup. Beberapa teman saya bahkan mengaitkan perjalanan dengan dunia beauty dan self-care. Di titik ini, saya paham kenapa istilah "beauty blogger", diantaranya Beauty Blogger Balikpapan yang satu ini bisa berjalan beriringan dengan dunia traveling.

Perjalanan bukan cuma soal tempat, tapi juga tentang bagaimana seseorang merawat dirinya sendiri, baik secara fisik maupun emosional.


Cara Menjadi Traveler dari Kacamata Saya

Sebagai orang yang bukan traveler, saya justru menikmati peran sebagai pendengar. Dari cerita-cerita itulah, cara menjadi traveler terasa lebih realistis. Bukan soal siapa yang paling sering jalan-jalan, tapi siapa yang berani membuka diri pada pengalaman baru.

Saya belajar bahwa cara menjadi traveler gak selalu berarti harus sering pergi jauh. Kadang, cukup dengan membuka pikiran dan mendengarkan cerita orang lain, sudut pandang kita sudah ikut berjalan ke banyak tempat.


Penutup

Dari semua cerita yang saya dengar, satu hal yang paling terasa adalah ini: cara menjadi traveler bukan tentang menjadi orang lain, tapi tentang menemukan sudut pandang baru lewat perjalanan. Saya mungkin bukan traveler, tapi cerita teman-teman saya cukup untuk membuat saya memahami esensinya.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti saya ikut melangkah. Karena pada akhirnya, cara menjadi traveler selalu dimulai dari rasa ingin tahu dan keberanian kecil untuk mencoba.

Kalau kamu juga sering menikmati cerita perjalanan orang lain, mungkin sekarang saatnya mulai lebih peka dengan pengalaman di sekitar. Entah itu lewat membaca, menulis, atau sekadar berbagi obrolan ringan. Siapa tahu, dari situ kamu menemukan versi cara menjadi traveler yang paling sesuai dengan hidupmu sendiri.

Cerita-cerita ini juga membuat saya semakin menghargai peran para traveler yang mampu merangkai perjalanan menjadi kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Asyik ya, kamu berminat jadi traveler juga? 



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In travelling

5 Kelebihan Kereta Whoosh & Cara Beli Tiketnya

Kelebihan Kereta Whoosh (sumber foto: riau.antaranews.com)

Kelebihan kereta Whoosh telah menjadi buah bibir beberapa waktu ini dan tak sedikit yang sudah menikmati fasilitasnya.

Ya, proyek kereta cepat Whoosh Jakarta-Bandung telah diluncurkan secara resmi pada 2 Oktober 2023 lalu oleh Pemerintah Indonesia melalui PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Apa saja sih keunggulannya? Terus, beli tiketnya dimana? Nah, biar gak ketinggalan informasi, pantengin ulasan ini hingga selesai ya. Inilah 5 Kelebihan Kereta Whoosh & Cara Beli Tiketnya!

Apa itu Kereta Whoosh?

Kereta Cepat Whoosh adalah layanan transportasi kereta api yang menawarkan perjalanan lebih cepat dan nyaman. Kereta Cepat Whoosh hadir di Indonesia untuk meningkatkan perekonomian dan mempermudah masyarakat dalam bertransportasi.

Kelebihan kereta Whoosh ini sukses menyita perhatian publik karena mewujudkan layanan yang memprioritaskan kecepatan, kenyamanan, dan keterhubungan. Tentu saja, ini sebagai salah satu inovasi besar di bidang transportasi yang patut diacungi jempol.

5 Kelebihan Kereta Whoosh yang Bikin Orang Ketagihan Naik

Berbagai kelebihan kereta Whoosh memang telah menjadi buah bibir sejak pertama kali diluncurkan. Hal utama yang di-highlight adalah waktu tempuh, lalu penggunaan teknologi tinggi untuk mewujudkan transportasi terbaik ini.

Biar gak penasaran, inilah 5 Kelebihan Kereta Whoosh & Cara Beli Tiketnya!

1. Kecepatan hingga 351 km/jam

Jika kereta api konvensional memiliki kecepatan sekitar 60-100 km/jam, Kereta Api Whoosh melejit dengan kecepatan hingga 351 km/jam. Tentu saja, perjalanan Jakarta-Bandung atau sebaliknya menjadi lebih cepat dengan perjalanan yang nyaman. Memangkas durasi hanya menjadi 45 menit dari 6 jam memang cukup terasa kan?

2. Fasilitas Lebih Nyaman

Selain jarak tempuh lebih singkat, penumpang kereta Whoosh juga akan dimanjakan dengan kursi yang empuk serta toilet yang lebih nyaman. Selain fasilitas hiburan, ada pula ruang untuk kaki agar lebih rileks, space untuk duduk penumpang yang lebih luas sehingga perjalanan makin menyenangkan.

3. Tenaga Listrik

Beroperasi dengan tenaga listrik, Kereta Api Whoosh memiliki percepatan yang lebih optimal bahkan lebih mampu untuk mengatasi medan yang lebih berat.

Tenaga listrik ini juga membuat performa kereta lebih baik karena lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil yang masih digunakan oleh kereta konvensional.

4. Teknologi Rel lebih Kuat

Teknologi lainnya dari Kereta Api Whoosh adalah dilengkapi dengan material untuk rel yang lebih kuat & tahan lama. Tentu saja, ini cukup worth it untuk dioperasikan dengan kecepatan tinggi namun tetap memprioritaskan perawatan rutin demi performa yang terus aman & handal.

5. Menekan Emisi Gas Rumah Kaca

Keunggulan kereta Whoosh yang lainnya adalah mampu menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah karena penggunaan tenaga listrik dan teknologi yang lebih efisien. Ini cukup mendukung program ramah lingkungan, dimana teknologi kereta ini diwujudkan untuk  mengurangi polusi udara serta perubahan iklim.

Beli Tiket Kereta Cepat Whoosh lewat BRImo

BRImo adalah aplikasi yang diluncurkan dan dikelola oleh BRI untuk nasabah, dalam rangka menyelenggarakan layanan yang lebih optimal.  

#BRImo terus berinovasi untuk  menyediakan fitur yang lengkap, termasuk cara pesan tiket Whoosh secara mudah & praktis tanpa harus repot keluar rumah. 

Jika sudah tak sabar ingin menikmati berbagai kelebihan kereta cepat Whoosh ini, berikut langkah-langkah pemesan tiketnya melalui aplikasi BRImo: 

  1. Buka aplikasi BRImo
  2. Login dengan akunmu
  3. Pilih Lainnya pada halaman utama Brimo
  4. Cari opsi ‘Travel’ di bagian bawah
  5. Klik ‘jenis akomodasi Whoosh’
  6. Anda akan dibawa ke situs resmi KCIC
  7. Masuk menggunakan akun KCIC kamu
  8. Isi stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan
  9. Isikan tanggal keberangkatan, klik tombol Cari Tiket
  10. Pilih jadwal sesuai keinginan, klik ‘Pemesanan’
  11. Klik ‘Tambah Penumpang’ dan pilih tempat duduk yang tersedia
  12. Ikuti proses hingga selesai
  13. Lakukan pembayaran
  14. Kamu akan mendapatkan QR Code yang dapat dipindai untuk boarding tanpa menukar tiket di stasiun keberangkatan.

Itulah 5 Kelebihan Kereta Whoosh & Cara Beli Tiketnya. Mudah & praktis kan?

Yuk Ramaikan BRImo FSTVL 2024!

Ternyata semudah ini ya memesan tiket Whoosh dengan BRImo. Eitzzz, gak cuma tentang tiket aja, kamu juga bisa memanfaatkan fitur-fitur lain yang cukup menguntungkan dari aplikasi BRImo.

Salah satu yang sedang hype banget adalah program BRImo FSTVL 2024, dimana ini sebagai bentuk apresiasi BRI kepada seluruh nasabah yang terus meningkatkan saldo serta memperbanyak transaksi menggunakan BRImo, Kartu Debit dan Kartu Kredit BRI.

Kelebihan kereta whoosh
BRImo berlimpah hadiah - Kelebihan kereta Whoosh (sumber:BRI)

Program BRImo FSTVL 2024 yang hadir mulai 1 Oktober 2024-31 Maret 2025 ini mencakup 2 program utama, yaitu:

1. PROGRAM UNDIAN BERHADIAH

Program loyalti yang diberikan kepada seluruh pengguna Tabungan BRI dalam bentuk undian berhadiah yang bersumber dari setiap rata-rata saldo dan nominal BRI Poin yang dimiliki nasabah selama periode program.

2.  PROGRAM DIRECT GIFT (REDEEM BRIPOIN)

Program loyalti yang diberikan kepada seluruh nasabah Tabungan BRI (BritAma dan Simpedes), pengguna e-banking (BRImo, Qlola Internet Banking, dan ATM), Kartu Debit dan Kartu Kredit BRI akan mendapatkan reward dalam bentuk BRIPoin atas setiap transaksi.

Kamu juga berkesempatan meraih 100.000 hadiah langsung di #BRImoFSTVL dan memenangkan hadiah undian BMW 520i M Sport, Hyundai Creta Alpha, dan kendaraan bermotor Vespa Primavera! Jangan lewatkan hadiah mingguan di Friday Deals! Wih, beneran #BerlimpahHadiah ya.

Jadi, yuk manfaatkan momen ini dengan memperbanyak nabung & transaksi di BRImo FSTVL. Download BRImo sekarang! #BRImoMudahSerbaBisa

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

20 Comments

In travelling tugujogja

Tugu Jogja, Sentra Ngamen Kreatif Hingga Spot Foto Cantik

Tugu Jogja di malam hari (diok.rianadewie)
Bener gak sih kalau tugu Jogja itu se-legend Monas Jakarta? Hahahah... Beneran loh, mimin waktu ke Jakarta, secara khusus nyempetin mampir bentar di depan gerbang Monas hanya untuk menikmati keindahannya di malam hari. 

Berpose terus jepreett!! Lensa kamera bekerja optimal di malam terakhir mimin berada di ibukota tercinta saat itu. Beberapa menit setelahnya, bang driver taksi online melanjutkan perjalanan dengan mengantarkan mimin ke stasiun. Ah, syahdu :D

Ya, terkait Tugu Jogja, mimin rasa orang luar Jogja memberlakukan hal sama. Jadi ya, dari penerawangan mimin selaku salah satu pemilik kota yang masih punya raja ini, eciehhhhh, maksud hati para pelancong berwisata ke Jogja itu ada dua titik tujuan yang gak bakal dilewatkan. 

Nah, yang pertama adalah jalan-jalan ke Malioboro hingga nongkrong di titik Nol km (Pasar Beringharjo dah include ya πŸ˜†). Terus yang kedua, narsis manis di depan Tugu Jogja yang dipenuhi dengan cerita sejarah yang mengagumkan. Hayo, buat kamu yang sempat piknik ke Jogja, angkat tangan jika melakukan hal yang sama? 😎

Nah, mimin gakkan menjelaskan ngalor ngidul tentang sejarah Tugu Jogja karena kamu tinggal kedipin mata aja ke mbah Google, semua tersedia. Monggo, ada banyak referensi yang bisa dibaca kok πŸ˜ƒ Disini mimin mau cerita saja tentang keseruan Tugu Jogja yang mungkin belum banyak orang yang tahu. 

Apa saja itu? Hayooo, dah mulai kepo ya pasti? Hihihi ....

1. Banyak "Hantu" Berkeliaran 
Menjelang malam, kamu bakalan uji nyali saat melewati area Tugu Jogja. Iya, kamu dan rombongan bakal melihat "penampakan" di beberapa sudutnya. Banyakin doa deh, karena kamu bakal ketemu kuntilanak, pocong, valak dan dedemit populer lainnya. Uwoooo πŸ₯΄
Hihihi... Tenang, ini bukan hantu beneran kok, tapi kostum hantu yang dikenakan beberapa orang dalam rangka "ngamen" kreatif. Untuk menambah kemeriahan Tugu Jogja, kamu bisa loh ajak selfie mereka & berikan sedikit rejekimu seiklasnya. 

2. Menjadi Sentra Event Seni & Budaya
Ada banyak event menarik yang sering diadakan di area tugu ini. Nah, mimin adalah satu penikmatnya, walaupun kadang menghindari juga jika keramian makin tak terbendung. 
Nah, beberapa acara yang pernah digelar di area Tugu Jogja adalah Wayang Jogja Night Carnival saat perayaan ultah Jogja beberapa tahun lalu, Jogja Car Free Day, aneka festival seniman juga tak jarang dijadikan tempat untuk berdemo pihak-pihak tertentu. Hihihi. Btw, mau merayakan pergantian tahun di area ini juga keren loh, tapi harus siap bwrmacet-macet ria ya 😎

3. Spot Cantik Buat Berfoto 
Oh ya, kamu pingin foto outdoor tapi bingung bikin konsepnya dan mau dimana? Di Pantai, pasti sudah banyak dong pesaingnya. Mau di Malioboro? Boleh, tapi memang harus bersabar karena disana sekali dipenuhi oleh lautan manusia. 
Foto asyik bareng teman-teman di area Jl. Mangkubumi (dok. Riana Dewie)
Nah, kalau mimin boleh kasih ide, cobain deh foto di area Tugu Jogja. Kamu bisa foto di bawah tugu persis, atau beberapa titik di area jalan Mangkubumi. Banyak loh spot cantik, apalagi di malam hari, lampu-lampu kota khas Jogja bisa jadi background premium foto-foto kecemu. Ahaaaa ... 
***
Ngomongin Jogja memang gak pernah ada matinya. So, kapan kamu percantik feed IG dengan foto-foto cakepmu di Tugu Jogja? Mimin sih sudah πŸ˜†

Riana Dewie 

Read More

Share Tweet Pin It +1

19 Comments

In 30haribercerita mellow travelling

Weekend Gateaway


Piknik, trip, traveling, plesir apa pun kamu bilang, memang perlu dilakukan. Yah setidaknya setahun sekali ya. Otak memang butuh diistirahatkan. Sekalian juga itung-itung kasih reward buat diri sendiri setelah setahun bekerja keras. Gak musti pergi jauh-jauh sih sebenernya. Naik kereta ke Solo atau terbang ke Bali kalau memang budget sedikit berlebih. Bahkan kalau memang kepepet banget buat refreshing staycation di hotel di kota sendiri juga asik. Abisnya wag sebelah lagi pada seru ngreview hotel-hotel di jogja karena lagi pada join campaign salah satu jaringan hotel. Hihihi.

Kayaknya bulan januari ini saatnya cari destinasi baru untuk ngisi bucket list 2020. Sembari saving money, sapa tau ada promo-promo. Nah kalau weekend ini nanti enaknya ngapain ya? Naik kereta ke bandara aja apa ya? πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In 30haribercerita mellow travelling

Selamat Tahun Baru


Binondo, Manila.

Ini adalah china town tertua, untuk ke sini cara yang paling mudah adalah menggunakan taksi online dari pusat kota Manila. Sebenernya ada jeepney yang bersliweran tapi pastikan kamu tahu rate harga dan nama daerahnya agar jelas jurusannya. Atau kalau memang pejalan tangguh bisa jalan kaki lho.

Saat tiba di sana sekitar jam 4 sore, toko-toko sudah tutup. Kebetulan taksi online menurunkan saya di Lucky China Town Mall, yang ternyata di dalamnya terdapat Museum Chinatown. Sayang banget museumnya tutup jam 5 sore, jadi saya putuskan untuk tidak ke sana.

Bosan dengan mall, saya berjalan berkeliling, kok aneh ya pikir saya, kenapa Chinatown sepi amat kayak nggak ada kegiatan. Saking penasarannya saya coba mencari jajanan khas, baca-baca di blog dan portal katanya di sini ada lumpia yang enak. Mengandalkan google maps, saya berusaha menemukannya. Makanan enak pasti di daerahnya ramai, banyak orang dan street food. Ternyata susah sekali menemukan tempat lumpia itu. Berulang kali tersesat masuk ke lorong yang salah, hampir satu jam muter-muter nggak jelas.

Hari sudah mulai gelap, makin ngeri lah dengan setting bangunan-bangunan yang tampak tua dan lorong yang sudah sepi. Si lumpia belum ketemu, saya nyerah dan putuskan untuk pulang. Saya cari posisi tempat untuk pesan taksi online. Ya ampyuunn tanpa sadar kuota habis gara-gara dipakai online map nyari lumpia tadi. Ya sudahlah mau gimana lagi, jalan kaki lah sampai hotel.

Saran aja kalau mau menikmati Binondo China Town sebaiknya di pagi hari, ya mungkin harus bertahan dengan cuaca yang panas, tapi lebih baik kan daripada bernasib sama seperti saya. Lumpia gak dapet, pegel kaki plus gondok iya.

Gong Xi Fa Cai
Semoga semakin banyak berkah.. Makin banyak cuan mengalir biar bisa traveling terus πŸπŸ’ΈπŸ’ΈπŸ’Έ

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments