Showing posts with label Culinary Journey. Show all posts
Showing posts with label Culinary Journey. Show all posts

In Culinary Journey

Dari Momoyo sampai Domino's Pizza, Ini Serunya Berburu Voucher Makanan

Berburu voucher makanan sebelum jajan bersama keluarga

Saya punya satu kebiasaan yang belakangan justru jadi hobi kecil yang menyenangkan: berburu voucher makanan.

Saya termasuk orang yang suka jajan dadakan. Kalau tiba-tiba ingin makan es krim, misalnya, saya gak perlu membuat rencana dari jauh-jauh hari. Kalau memang lagi kepingin, ya tinggal cari tempatnya.

Tapi ada satu hal yang hampir selalu saya lakukan sebelum berangkat: cek promo dulu.

Buat saya, jajan dadakan bukan berarti harus membayar harga penuh.

Jajan Dadakan, Tapi Tetap Cek Promo

Biasanya ketika tiba-tiba ingin makan sesuatu, saya membuka TikTok dan mengecek lokasi. Dari sana saya bisa melihat toko atau restoran di sekitar yang sedang menawarkan promo.

Kalau menemukan merchant yang menarik, saya gak langsung buru-buru membeli. Saya biasanya membandingkan dulu dengan promo yang tersedia di Qpon.

Jadi, TikTok saya cek. Qpon juga saya cek.

Kalau voucher di TikTok lebih murah, saya pilih TikTok. Kalau ternyata Qpon menawarkan harga yang lebih menarik, ya saya pilih Qpon.

Tahu gak, menurut saya justru proses membandingkan ini yang seru. Rasanya seperti punya misi kecil sebelum jajan: mau makan apa, di mana belinya, dan bisa mendapatkan harga paling hemat berapa?

Apalagi kalau jajan bersama keluarga. Selisih harga beberapa ribu rupiah per orang kalau dikumpulkan lumayan juga.

Jadi sekarang kalau tiba-tiba ingin jajan, urutannya kira-kira begini:

Pingin makan → cek promo → bandingkan harga → pilih voucher → berangkat.

Sesederhana itu.

Es Krim Seember Momoyo Jadi Alasan Kumpul Bareng Keluarga

Quality time keluarga sambil menikmati jajanan favorit
Quality time keluarga sambil menikmati jajanan favorit (doc. Riana Dewie)

Salah satu pengalaman berburu voucher makanan yang paling saya ingat adalah ketika tiba-tiba ingin makan es krim Momoyo.

Gak ada rencana khusus. Tiba-tiba saja kepingin es krim, apalagi saat melihat es krim dengan porsi besar yang sedang ramai dibicarakan.

Kalau dimakan sendirian tentu kebanyakan. Akhirnya, sekalian saja mengajak keluarga jajan.

Seperti biasa, saya buka TikTok dan mengecek promo Momoyo di sekitar lokasi. Setelah menemukan penawaran yang menarik, saya bandingkan juga dengan Qpon.

Kalau sudah tahu mana yang lebih menguntungkan, baru deh saya beli vouchernya.

Ini yang saya suka dari berburu voucher. Kita tetap bisa spontan, tetapi gak harus asal membeli.

Begitu sampai di Momoyo, suasananya pun berubah menjadi momen kecil bersama keluarga. Kami duduk, menikmati es krim yang porsinya cukup besar, ngobrol, dan bercanda.

Awalnya cuma ingin makan es krim.

Ternyata dapat bonus quality time.

Menurut saya, kebersamaan seperti ini justru gak harus selalu diwujudkan dalam bentuk liburan atau pergi ke tempat mahal. Duduk bersama sambil menikmati makanan juga bisa menjadi waktu berkualitas.

Karena yang membuat momen berkesan bukan cuma makanannya, tetapi siapa yang menikmatinya bersama kita.

Cara Saya Menggunakan Voucher TikTok

Kalau menemukan promo makanan di TikTok, biasanya saya melakukan beberapa langkah berikut:

  1. Buka TikTok dan cari merchant yang diinginkan.
    Saya biasanya memanfaatkan fitur lokasi untuk melihat promo makanan di sekitar.

  2. Pilih promo yang menarik.
    Jangan cuma melihat besar diskonnya. Saya juga mengecek harga setelah voucher.

  3. Baca detail dan syarat voucher.
    Perhatikan masa berlaku, outlet yang menerima voucher, minimal pembelian, menu yang termasuk promo, serta ketentuan lainnya.

  4. Beli atau klaim voucher sesuai instruksi.
    Setelah yakin dengan promonya, saya mengikuti proses pembelian atau klaim yang tersedia di TikTok.

  5. Gunakan voucher sesuai ketentuan.
    Saat datang ke merchant, pastikan cara redeem-nya sudah dipahami agar proses pembayaran gak ribet.

Saya selalu berusaha mengecek masa berlaku sebelum membeli. Jangan sampai karena terlalu senang menemukan harga murah, vouchernya malah lupa digunakan.

Cara Saya Menggunakan Voucher dari Qpon

Untuk Qpon, prinsipnya kurang lebih sama, tetapi prosesnya tetap saya cek sesuai ketentuan voucher yang tersedia.

  1. Buka Qpon dan cari makanan yang diinginkan.

  2. Pilih voucher dari merchant yang sesuai.

  3. Bandingkan harga dan manfaat promonya.
    Saya biasanya melihat harga voucher, harga makanan setelah voucher, serta kemungkinan biaya tambahan.

  4. Cek masa berlaku dan syarat penggunaan.
    Pastikan voucher bisa digunakan di outlet yang dituju dan sesuai waktu jajan.

  5. Redeem voucher saat melakukan transaksi.
    Cara penggunaannya bisa berbeda-beda tergantung promo, jadi saya selalu mengikuti petunjuk yang tertera pada voucher.

  6. Beli voucher sesuai instruksi.

Bagi saya, bagian membandingkan TikTok dan Qpon ini justru menyenangkan. Kalau orang lain senang menemukan makanan favorit, saya punya kepuasan tambahan ketika berhasil mendapatkannya dengan harga lebih miring.

Rasanya seperti menang kecil. Wkwkwkwk.

Jangan Cuma Tergoda Harga Murah

Ada satu hal yang menurut saya penting ketika berburu voucher: jangan malas membaca syarat dan ketentuannya.

Promo yang terlihat murah belum tentu paling menguntungkan kalau ternyata ada minimal pembelian, waktu penggunaan terbatas, atau hanya bisa dipakai di outlet tertentu.

Saya biasanya mengecek:

  • masa berlaku voucher;

  • outlet yang menerima voucher;

  • minimal pembelian;

  • waktu penggunaan;

  • menu yang termasuk promo;

  • cara redeem;

  • serta biaya tambahan jika ada.

Dan yang paling penting, jangan membeli hanya karena vouchernya murah.

Kalau memang sedang ingin makan es krim, pizza, atau roti, baru saya cari promonya.

Murah bukan berarti harus borong.

Dari Roti O sampai Domino's Pizza

Ternyata hobi berburu voucher ini gak berhenti di Momoyo.

Saya juga pernah jajan Roti O dengan harga yang lebih miring karena menggunakan voucher.

Begitu juga ketika ingin makan Domino's Pizza. Pizza memang terasa lebih seru kalau dinikmati bersama, jadi ketika menemukan promo yang membuat harganya lebih hemat, rasanya semakin menyenangkan.

Buat saya, voucher bukan alasan untuk terus-menerus jajan.

Saya tetap jajan ketika memang ingin makan sesuatu. Hanya saja, sebelum membayar harga normal, saya mencoba mencari tahu dulu apakah ada promo yang bisa dimanfaatkan.

Lumayan, kan?

Kalau bisa lebih hemat, kenapa harus bayar lebih mahal?

Promo makanan di TikTok untuk mendapatkan harga jajan lebih hemat
Promo makanan di TikTok untuk mendapatkan harga jajan lebih hemat (doc. Riana Dewie)


Makan Bersama Bisa Jadi Quality Time Keluarga

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya yang membuat saya senang dari berburu voucher bukan cuma soal harga murah.

Ada kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga.

Kadang masing-masing orang terlalu sibuk dengan pekerjaan, sekolah, aktivitas rumah, atau gadget. Akhirnya, waktu untuk duduk dan ngobrol bersama malah semakin sedikit.

Padahal, quality time gak harus selalu mahal.

Makan es krim bersama bisa menjadi quality time. Makan pizza bersama juga bisa. Bahkan membeli roti lalu menikmatinya sambil ngobrol di rumah pun bisa.

Yang penting adalah kehadiran dan kesempatan untuk saling berkomunikasi.

Obrolannya pun gak harus serius.

Bisa dimulai dari hal sederhana seperti, “Es krimnya enak gak?” atau “Siapa yang mau potongan pizza terakhir?”

Dari obrolan kecil seperti itu, percakapan bisa berkembang menjadi cerita tentang kegiatan hari itu, pekerjaan, sekolah, atau hal-hal lain yang sebelumnya gak sempat dibicarakan.

Oh ya, saya juga merasa makanan seperti es krim, roti, atau pizza sebaiknya tetap dinikmati sebagai treat, bukan alasan untuk makan berlebihan.

Promo boleh membuat harga lebih hemat, tetapi bukan berarti kita harus membeli sebanyak-banyaknya.

Justru menurut saya, menjadi pemburu voucher yang cerdas adalah tahu kapan harus membeli dan kapan harus melewatkan promo.

Yang Diburu Ternyata Bukan Cuma Voucher

Es Momoyo untuk dinikmati bersama keluarga


Semakin sering jajan bersama keluarga, saya semakin sadar bahwa makanan sebenarnya cuma menjadi alasan untuk berkumpul.

Dari Momoyo, ada cerita tentang es krim seember.

Dari Roti O, ada cerita jajan sederhana.

Dari Domino's Pizza, ada momen menikmati pizza bersama.

Makanannya berbeda, promonya berbeda, tetapi semuanya punya satu kesamaan: ada waktu yang kami habiskan bersama.

Itulah kenapa sekarang kalau tiba-tiba ingin jajan, saya masih tetap spontan.

Pingin es krim? Cari promo.

Pingin roti? Cek promo.

Pingin pizza? Lihat voucher.

Tapi sebelum membeli, ada satu kebiasaan yang sulit saya tinggalkan:

cek voucher dulu.

Siapa tahu harganya lebih murah.

Siapa tahu bisa lebih hemat.

Dan siapa tahu, dari jajan dadakan itu justru lahir satu cerita kecil yang nantinya akan kami ingat.

Karena pada akhirnya, voucher mungkin hanya membantu menghemat uang.

Tetapi waktu yang kita gunakan untuk berkumpul bersama keluarga adalah sesuatu yang jauh lebih berharga.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Saya Bukan Pecinta Kopi, Tapi Tetap Suka Minum Kopi

Bukan pecinta kopi menikmati secangkir kopi di coffee shop yang nyaman.

Tahu gak, setiap mampir ke coffee shop, sekitar 75% pesanan saya sebenarnya adalah hot chocolate. Entah kenapa, minuman itu selalu terasa lebih aman di lidah. 

Sisanya? Saya justru memilih memesan kopi. Agak membingungkan memang, karena saya sendiri merasa bukan pecinta kopi.

Ditambah lagi, saya gak paham soal dunia perkopian. Saya juga bukan orang yang hafal istilah single origin, light roast, atau perbedaan berbagai jenis biji kopi

Meski begitu, sesekali saya tetap ingin menikmati secangkir kopi. Bukan karena ingin terlihat keren atau mengikuti tren kopi kekinian, tapi memang lagi pengin saja.

Lucunya, saya juga cukup sensitif dengan kafein. Minum kopi terlalu sore atau malam sering berujung susah tidur

Walaupun sudah tahu akibatnya, sesekali saya tetap memesan kopi saat sedang bekerja, bertemu teman, atau menikmati suasana coffee shop

Mungkin karena bagi saya, kopi bukan cuma soal rasanya, tetapi juga tentang momen yang menyertainya.

Saya Bukan Orang yang Paham Dunia Kopi

Kalau ditanya soal jenis kopi, saya mungkin bakal bikin para pecinta kopi geleng-geleng kepala. 

Arabika, robusta, atau berbagai istilah seperti single origin, light roast, hingga cupping? Wah, jangan tanya saya ya. Saya benar-benar gak paham.

Oh ya, saya juga bukan tipe orang yang bisa menebak karakter kopi dari aroma atau cara penyeduhannya. 

Buat saya sih, menikmati kopi gak harus diawali dengan pengetahuan yang mendalam. Selama rasanya enak di lidah, ya sudah, saya nikmati saja.

Saya lebih sering memilih kopi yang rasanya manis, seperti kopi susu, latte, atau cappuccino

Sesekali memang mencoba americano atau kopi hitam, tapi lidah saya masih belum terlalu akrab dengan rasa pahitnya.

Tahu gak, justru karena gak punya standar tinggi soal kopi, saya jadi lebih santai saat berkunjung ke coffee shop

Saya gak sibuk mencari tahu siapa barista yang meraciknya atau dari mana asal biji kopinya. Yang penting suasananya nyaman, kopinya enak, dan saya bisa menikmati momennya.

Kalau ke Coffee Shop, Sesekali Ingin Memesan Kopi

Saya termasuk orang yang gak terlalu sering pergi ke coffee shop sendirian. 

Biasanya justru diajak teman, entah untuk sekadar ngobrol santai, meeting dengan klien, mencari suasana baru, atau bekerja sambil membuka laptop. 

Dibanding bekerja di rumah terus, sesekali pindah tempat memang bisa jadi mood booster tersendiri.

Tahu gak, suasana coffee shop yang saya sukai sebenarnya sederhana. Saya lebih nyaman di tempat yang tenang, gak terlalu ramai, dan pengunjungnya sibuk dengan aktivitas masing-masing. 

Ada yang mengerjakan tugas, rapat daring, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir kopi. Suasana seperti itu justru bikin saya lebih mudah fokus saat menulis.

Bekerja di coffee shop juga sering memberi ide-ide baru. Entah kenapa, suasana yang berbeda membuat pikiran terasa lebih segar. 

Apalagi ditemani minuman favorit dan camilan ringan, rasanya pekerjaan jadi lebih cepat selesai.

1. Nyore Coffee & Space, Tempat Meeting yang Nyaman

Es kopi di Nyore Coffee & Space Yogyakarta.
Es kopi di Nyore Coffee & Space Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Salah satu coffee shop favorit yang paling sering saya datangi adalah Nyore Coffee & Space di kawasan Tugu Jogja. Lokasinya strategis dan cukup mudah dijangkau, jadi sering menjadi pilihan saat ada meeting dengan klien.

Yang paling saya suka sih suasananya. Pilihan tempat duduknya cukup banyak, mulai dari meja biasa sampai sofa yang nyaman untuk ngobrol lebih lama. Ada juga area depan yang didominasi dinding kaca. Buat saya, ruangan ini terasa lebih tenang dan hampir seperti memiliki ruang privat sendiri.

Saat meeting bareng teman di Nyore Coffee & Space Yogyakarta
Saat meeting bareng teman di Nyore Coffee & Space Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Soal kopinya? Enak. Tapi jangan minta saya mendeskripsikan rasa dengan istilah-istilah ala pecinta kopi, ya. Saya cuma bisa bilang rasanya pas di lidah dan nyaman dinikmati sambil bekerja atau berdiskusi.

2. Fore Coffee, Awalnya Coba di Solo

Meski gerai Fore Coffee sudah cukup banyak di Jogja, pengalaman pertama saya justru terjadi saat berkunjung ke salah satu mal di Solo.

Ukuran gerainya memang gak terlalu besar, tetapi pengunjungnya cukup ramai. Saya penasaran karena banyak teman yang merekomendasikannya. Setelah mencoba, ternyata memang rasanya cocok di lidah saya.

Belakangan ini saya juga cukup sering menerima kiriman Fore Coffee dalam kemasan botol dari sahabat atau saudara. Praktis tinggal diminum di rumah tanpa perlu keluar lagi.

Sebotol kopi dari Fore Coffee kiriman saudara
Sebotol kopi dari Fore Coffee kiriman saudara (doc. Riana Dewie)


Enak sih, apalagi varian kopi susu yang rasanya lembut dan manis. Sayangnya, saya tetap harus membatasi diri. Sedikit saja kebanyakan minum, malamnya bisa susah tidur. Hihihihi....

3. Talakopi, Favorit Baru Dekat Kampus

Belum lama ini saya juga mampir ke Talakopi yang berada di sekitar kawasan UMY Yogyakarta.

Tempatnya cukup luas dengan bangunan dua lantai. Pilihan areanya juga beragam, mulai dari ruang ber-AC, area outdoor, sampai rooftop yang nyaman untuk menikmati sore. 

Suasana Talakopi yang tenang untuk bekerja sambil menikmati kopi
Suasana Talakopi yang tenang untuk bekerja sambil menikmati kopi (doc. Riana Dewie)

Karena lokasinya dekat kampus, suasananya didominasi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau berdiskusi bersama teman.

Saya sendiri waktu itu memilih menu sea salt. Rasanya gurih, lembut, dan menurut saya cukup unik dibanding beberapa minuman kopi yang pernah saya coba sebelumnya.

Menu sea salt favorit di Talakopi dekat Kampus UMY Yogyakarta.
Menu sea salt favorit di Talakopi dekat Kampus UMY Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


4. Roti O, Teman Menunggu di RS Panti Rapih

Ada satu tempat lagi yang cukup berkesan buat saya, yaitu outlet Roti O yang berada di RS Panti Rapih Yogyakarta. 

Memang bukan coffee shop dengan tempat duduk yang luas, tetapi setiap berkunjung ke sana selalu mengingatkan saya pada satu fase dalam hidup.

Dulu, saat ibu menjalani kontrol di rumah sakit, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu. Daripada hanya duduk di ruang tunggu, saya biasanya membeli kopi dan roti di Roti O. 

Kopi Roti O menjadi pilihan saat nongkrong di Rumah Sakit
Kopi Roti O menjadi pilihan saat nongkrong di Rumah Sakit  (doc. Riana Dewie)


Sederhana memang, tetapi perpaduan kopi hangat dan roti yang baru keluar dari oven cukup membuat suasana menunggu terasa lebih nyaman.

Seperti biasa, saya gak bisa menjelaskan detail rasanya seperti para pecinta kopi. Yang saya tahu, rasanya enak di lidah dan pas dinikmati sambil menunggu waktu berlalu.

Padahal Saya Sudah Tahu Akibatnya

Saya selalu heran dengan diri sendiri. Sudah tahu efeknya, sudah berkali-kali mengalaminya, tapi tetap saja sesekali tergoda membeli kopi.

Saya termasuk orang yang cukup sensitif terhadap kafein. Jadi, kalau minum kopi menjelang sore atau malam, besar kemungkinan saya bakal susah tidur. 

Bukannya mengantuk, saya malah masih segar, akhirnya guling-guling di kasur sambil scroll media sosial sampai dini hari.

Tahu gak, yang bikin saya lebih heran lagi, siang harinya pun saya sering tetap gak bisa tidur meski badan sudah capek. 

Rasanya ingin istirahat, tapi mata masih saja melek. Alhasil, besoknya badan terasa kurang segar dan aktivitas pun jadi kurang maksimal.

Saya iri sih sama orang-orang yang tetap bisa tidur nyenyak setelah ngopi malam. Sementara saya harus pintar memilih waktu kalau sedang ingin menikmati secangkir kopi.

Meski begitu, sesekali aturan itu tetap saya langgar juga. Wkwkwkwk.... Apalagi sekarang pilihan minuman kopi semakin beragam. 

Ada kopi susu, latte, sampai berbagai varian dengan rasa manis yang memang lebih cocok di lidah saya.

Oh ya, saya gak pernah memaksakan diri untuk menikmati kopi yang terlalu pahit. Saya lebih suka kopi yang rasanya ringan dan mudah diterima di lidah. 

Mungkin karena sejak awal tujuan saya bukan menjadi ahli kopi, melainkan sekadar menikmati momennya.

Saya rasa setiap orang memang punya toleransi kafein yang berbeda. Ada yang tetap bisa tidur nyenyak setelah ngopi malam, sementara saya harus siap menerima risiko begadang. 

Walaupun begitu, entah kenapa saya tetap suka memesan kopi sesekali. Mungkin karena bagi saya, secangkir kopi selalu punya cerita yang membuatnya layak dinikmati.

Buat Saya, Kopi Bukan Sekadar Minuman

Menikmati secangkir kopi saat me time di sudut coffee shop.
Menikmati secangkir kopi saat me time di sudut coffee shop (Doc. Riana Dewie)

Seiring waktu, saya sadar bahwa alasan minum kopi ternyata bukan semata-mata karena rasanya. Justru yang paling saya nikmati adalah momen yang hadir saat secangkir kopi menemani berbagai aktivitas. 

Mungkin itulah kenapa saya tetap suka minum kopi meski mengaku bukan pecinta kopi.

1. Teman Menulis Artikel

Saya cukup sering membawa laptop ke coffee shop saat sedang mengerjakan artikel. Entah kenapa, suasana yang tenang membuat ide mengalir lebih lancar. 

Sesekali saya berhenti mengetik hanya untuk menyeruput kopi hangat, lalu kembali melanjutkan tulisan.

Bekerja di coffee shop memang gak selalu membuat pekerjaan selesai lebih cepat. Namun, suasana baru sering kali menjadi mood booster yang membantu saya lebih fokus dan menikmati proses menulis.

2. Teman Meeting yang Santai

Selain untuk bekerja sendiri, saya juga cukup sering bertemu klien atau teman di coffee shop. Suasananya terasa lebih santai dibanding ruang rapat yang formal, sehingga obrolan pun mengalir lebih nyaman.

Buat saya sih, secangkir kopi atau hot chocolate sering menjadi pelengkap saat berdiskusi. Kadang justru ide-ide baru muncul di tengah obrolan ringan seperti itu.

3. Teman "Me Time"

Oh ya, sesekali saya juga menikmati datang ke coffee shop sendirian. Duduk di sudut ruangan, menikmati minuman favorit, sambil melihat orang lalu-lalang ternyata cukup menyenangkan.

Ada kalanya saya membuka laptop, membaca beberapa catatan, atau justru membiarkan pikiran melayang ke mana-mana. 

Bahkan, kadang malah KSBB alias kelingan sing biyen-biyen—teringat cerita-cerita lama. Hihihihi.... Rasanya sederhana, tapi cukup ampuh untuk healing tipis-tipis setelah menjalani hari yang padat.

Bukan pecinta kopi tetap suka minum kopi karena menikmati suasana dan momennya
Bukan pecinta kopi tetap suka minum kopi karena menikmati suasana dan momennya (doc. Riana Dewie)


Pada akhirnya, saya sadar bahwa saya mungkin memang bukan orang yang mengerti seluk-beluk kopi. 

Saya juga belum tentu bisa membedakan rasa latte, cappuccino, atau americano secara detail. Namun, itu gak pernah mengurangi kesenangan saya saat menikmati secangkir kopi di waktu yang tepat.

Tidak semua orang yang memesan kopi adalah pecinta kopi. Ada juga yang sekadar menyukai suasana, aromanya, atau momen yang tercipta bersama secangkir kopi. 

Dan mungkin, saya termasuk salah satunya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Argo Loro Boyolali, Cafe View Gunung yang Wajib Dikunjungi!

Suasana sejuk di Argo Loro Boyolali dengan kabut pegunungan

Bisa membayangkan gimana rasanya ngopi di atas gunung sambil ditemani udara yang dingin dan hamparan hijau sejauh mata memandang? 

Jujur aja, sebelumnya sih saya juga gak kebayang sama sekali. Waktu itu adik saya cuma mengirimkan beberapa foto Argo Loro Boyolali sambil bilang, "Kita ke sini, yuk!" 

Kesan pertama saya cuma satu, estetik juga ya. Ternyata setelah sampai di sana, ekspektasi saya langsung terlampaui. 

Tahu gak, tempat ini benar-benar menyuguhkan suasana yang bikin napas terasa lebih lega sejak pertama turun dari kendaraan.

Argo Loro Boyolali, Tempat Ngopi dengan Panorama Dua Gunung

Perjalanan menuju Argo Loro Boyolali diawali dari Jogja. Sebelum menuju kawasan Selo, kami lebih dulu mampir ke Klaten untuk berziarah ke makam nenek. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Boyolali dengan jalur yang semakin menanjak. Di tengah perjalanan sempat turun hujan cukup deras. 

Untungnya, hujan gak berlangsung lama sehingga perjalanan tetap terasa menyenangkan.

Oh ya, justru setelah hujan reda, pemandangan di sepanjang jalan berubah semakin cantik. 

Pengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro BoyolaliPengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Pepohonan terlihat lebih segar, dedaunan tampak basah mengilap, dan udara sejuk pegunungan langsung menyambut begitu kami memasuki kawasan wisata Selo Boyolali. 

Saya sampai auto menggigil karena anginnya lumayan menusuk, padahal masih sore hari.

Sesampainya di lokasi, saya baru memahami kenapa Argo Loro Selo begitu ramai diperbincangkan. Area kafenya ternyata terdiri dari beberapa bangunan dengan konsep yang berbeda. 

Kami pun memilih duduk di area utama yang belakangan ini sering muncul di media sosial karena desainnya yang modern dan menyatu dengan alam.

Mengusung konsep coffee between the mountains, Argo Loro Kopi Boyolali benar-benar berada di posisi yang memanjakan mata. 

Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali
Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali (doc. Riana Dewie)


Dari area luar kafe, saya bisa menikmati panorama Gunung Merapi dan panorama Gunung Merbabu sekaligus. Rasanya hampir setiap sudut layak dijadikan tempat berfoto. 

Serius deh, latar gunung yang megah dipadukan udara segar sukses membuat pikiran terasa jauh lebih ringan. Hihihihi... rasanya kerjaan dan berbagai beban mendadak ikut tertinggal entah di mana.

Suasana yang Bikin Betah Berlama-lama

Begitu masuk ke area utama, saya langsung paham kenapa cafe di Selo Boyolali ini selalu ramai pengunjung. 

Bangunannya didominasi material kayu dan kaca, jadi tetap terasa hangat meski udara di luar cukup dingin. Area outdoor-nya juga luas, cocok buat menikmati pemandangan tanpa ada yang menghalangi.

Tahu gak, saya beberapa kali cuma duduk diam sambil menikmati kabut pegunungan yang sesekali datang menyelimuti lereng. 

Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari
Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari (doc. Riana Dewie)


Suasananya tenang banget, seolah waktu berjalan lebih lambat. 

Di sisi lain, banyak juga pengunjung yang sibuk berburu foto karena hampir setiap sudut merupakan tempat nongkrong estetik dengan latar gunung yang memukau.

Katanya sih, momen sunrise dan sunset di Selo menjadi waktu favorit para pengunjung. Sayangnya saya datang menjelang sore, jadi belum sempat menikmati matahari terbit. 

Meski begitu, suasana yang saya rasakan sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin kembali lagi suatu hari nanti.

Menu Kopi dan Makanan yang Menemani Momen Bersantai

Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali
Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)

Menikmati pemandangan indah rasanya memang kurang lengkap tanpa ditemani makanan dan minuman yang hangat. 

Untungnya, pilihan menu di Argo Loro Boyolali cukup beragam, jadi tinggal disesuaikan saja dengan selera masing-masing.

Coffee

Buat pencinta kopi, tersedia berbagai pilihan seperti Espresso, Americano, Cappuccino, Cafe Latte, Caramel Latte, hingga Hazelnut Latte. 

Non Coffee

Sementara untuk pengunjung yang kurang suka kopi, pilihannya juga banyak. Ada Red Velvet, Taro, Green Tea, Chocolate, Klepon, aneka Classic Tea, Lychee Tea, Peach Tea, 

Ada juga minuman tradisional yang cocok dinikmati di tengah udara sejuk pegunungan, seperti Ginger Coffee, susu jahe, dan wedang uwuh.

Oh ya, saya sendiri justru memilih Hot Chocolate. Adik-adik saya menyeruput kopi hangat, sedangkan saya lebih memilih minuman cokelat demi menjaga lambung tetap nyaman. 

Enak banget sih menikmati minuman hangat sambil memandangi hamparan hijau di depan mata. Rasanya sederhana, tapi justru momen seperti ini yang sering bikin kangen.

Camilan

Untuk camilan, pilihannya juga menggoda. Ada Argo Banana, Argo Kaya Toast, Biscoff Vanilla Ice Cream, hingga aneka hidangan ringan lainnya. 

Menu Berat

Sementara menu beratnya terdiri dari beragam nasi goreng, olahan mi, pasta, dan beberapa menu khas yang cukup mengenyangkan.

Kebetulan waktu itu kami memesan Singkong Keju, Otak-Otak, French Fries, Mix Platter, dan beberapa minuman untuk dinikmati bersama. 

Menurut saya sih, porsinya pas untuk disantap sambil mengobrol santai. Soal harga juga masih tergolong wajar untuk ukuran cafe view Gunung Merapi dan Merbabu dengan suasana senyaman ini. 

Wkwkwkwk... rasanya malah pengin nambah camilan lagi karena udara dinginnya bikin perut cepat lapar.

Kenapa Argo Loro Boyolali Layak Masuk Bucket List

Ada banyak alasan kenapa saya berani merekomendasikan tempat ini. Bukan cuma karena viral atau sering muncul di media sosial, tetapi karena pengalaman yang saya rasakan memang menyenangkan.

Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali
Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali, kurang jelas karena masih berkabut (doc. Riana Dewie)


1. Healing 

Pertama, tempat ini cocok untuk healing di Boyolali. Lokasinya berada di kawasan pegunungan dengan suasana tenang yang sulit saya temukan di tengah hiruk pikuk perkotaan. 

Meski jaraknya lumayan jauh dari Jogja, perjalanan menuju sini benar-benar terbayar begitu melihat pemandangannya.

2. Quality Time

Kedua, cocok dijadikan tempat quality time bersama orang-orang tersayang. Tahu gak, sesekali kita memang perlu menjauh dari rutinitas dan memberi waktu untuk diri sendiri. 

Duduk santai, mengobrol tanpa terburu-buru, lalu menikmati alam Boyolali ternyata bisa menjadi cara sederhana untuk mengisi ulang energi.

3. Work from Cafe

Ketiga, buat yang bisa bekerja dari mana saja, tempat ini juga menarik sebagai lokasi work from cafe. 

Saya sih langsung membayangkan betapa menyenangkannya menyelesaikan pekerjaan dengan pemandangan gunung di depan mata. 

Walaupun kalau saya harus bolak-balik dari Jogja setiap hari, sepertinya bakal menyerah duluan di jalan. Hihihihi...

Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali
Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


4. Hunting Foto

Keempat, jangan sampai melewatkan kesempatan berburu foto. Hampir setiap sudut Argo Loro Boyolali terasa fotogenik. 

Apalagi saat cuaca sedang cerah, latar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat begitu jelas sehingga hasil fotonya terasa semakin estetik.

5. Wisata Keluarga/Pasangan

Terakhir, tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga maupun pasangan. Bahkan, di kawasan ini juga tersedia penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana pegunungan lebih lama. 

Menurut saya, menginap semalam lalu menikmati pagi dengan secangkir minuman hangat pasti akan menjadi pengalaman yang berbeda.

Penutup

Oh ya, momen yang paling saya ingat justru saat adik-adik saya asyik menyeruput kopi, sementara saya tetap setia menikmati secangkir Hot Chocolate demi kenyamanan lambung. 

Ternyata, apa pun minuman yang dipilih bukanlah hal terpenting. Yang membuat perjalanan ini berkesan adalah suasananya yang begitu menenangkan.

Suasana tenang cafe view gunung di Argo Loro BoyolaliSuasana tenang cafe view gunung di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau sedang mencari tempat ngopi di Boyolali dengan panorama alam yang memanjakan mata, Argo Loro Boyolali layak masuk dalam daftar tujuanmu. 

Cobain deh datang ke sini, hirup udara segarnya, nikmati setiap sudutnya, dan jangan sampai pulang tanpa mengabadikan momen dengan latar gunung yang memesona. 

Siapa tahu, kamu juga akan pulang dengan hati yang terasa lebih ringan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Review Joffi Ramen Pakualaman, Ramen Halal dengan Bangunan Vintage Nyaman

Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan heritage bergaya vintage di Jalan Sultan Agung Yogyakarta

Kalau kamu sedang mencari ramen enak di Jogja dengan suasana yang beda dari kebanyakan restoran, Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar kunjunganmu. 

Saya sendiri sudah tiga kali datang ke sini. Pertama bersama teman-teman blogger yang memang hobi berburu kuliner, kedua saat meeting santai dengan teman, lalu yang terakhir datang bersama keluarga. 

Menariknya, datang di hari dan jam yang berbeda ternyata cukup berpengaruh terhadap jumlah pengunjung. Kalau saya sih, justru paling menikmati suasana saat weekday karena terasa lebih santai. 

Satu hal yang langsung membuat saya jatuh hati adalah bangunannya. Beneran, saya memang termasuk penikmat bangunan tua, rumah bergaya kolonial, sampai dekorasi vintage yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Jadi, baca review ini sampai selesai ya. Siapa tahu bisa jadi referensi buat kamu yang sedang mencari ramen halal Jogja dengan harga ramah di kantong.

Lokasi Joffi Ramen Pakualaman

Joffi Ramen Pakualaman beralamat di Jalan Sultan Agung No. 69, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis karena berada di kawasan yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. 

Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa menit berkendara, begitu juga jika datang dari kawasan Malioboro.

Buat yang belum pernah ke sini, patokannya juga cukup mudah. Restoran ini berada di Jalan Sultan Agung, masih satu jalur menuju kawasan Pakualaman. 

Lokasinya berada dekat Pura Pakualaman, berseberangan dengan Pasar Sentul, dan hanya beberapa langkah dari Toko Intisari Sultan Agung. 

Jadi, meski baru pertama kali datang, kamu gak akan kesulitan menemukannya.

Area sekitarnya juga cukup nyaman karena dipenuhi berbagai bangunan lama yang masih terawat. 

Nuansa kuliner Pakualaman memang terasa berbeda dibanding kawasan lain di Jogja. 

Di sini kamu bisa menemukan perpaduan antara bangunan bersejarah, tempat makan kekinian, hingga deretan usaha lokal yang sudah berdiri sejak lama.

Restoran ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.  

Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman
Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman (doc. Riana Dewie)


Berdasarkan pengalaman saya, suasana pada malam hari saat weekday memang cukup ramai, tetapi bangkunya masih banyak yang kosong sehingga tetap nyaman untuk ngobrol. 

Sementara saat Minggu siang, pengunjungnya jauh lebih padat. Banyak keluarga, mahasiswa, anak sekolah, hingga pasangan yang datang untuk makan bersama. 

Oh ya, kalau ingin suasana lebih tenang untuk ngobrol atau bekerja ringan, saya menyarankan datang sebelum jam makan siang atau setelah pukul dua siang.

Dengan rating sekitar 4,7 dari 5, gak heran kalau Joffi Ramen Sultan Agung menjadi salah satu rekomendasi tempat makan Jepang Jogja yang cukup populer. 

Selain lokasinya strategis, akses menuju restoran ini juga mudah, area parkirnya lega, dan cocok dijadikan tempat singgah setelah berkeliling kawasan Pakualaman.

Bangunan Heritage yang Langsung Mencuri Perhatian

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai dari Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya justru bukan makanannya terlebih dahulu, melainkan bangunannya.

Ya, nuansa bangunan heritage di sini benar-benar terasa begitu kuat. Restoran ini menempati sebuah rumah bergaya kolonial yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Perpaduan interior vintage dengan sentuhan industrial juga berhasil menciptakan suasana yang hangat sekaligus modern. Menurut saya, konsep seperti ini justru membuat restoran terasa lebih hidup.

Detail bangunan yang membuat betah

Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta
Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Ada beberapa detail yang menurut saya menjadi daya tarik utama restoran ini.
- Fasad klasik dengan nuansa heritage yang masih dipertahankan.
- Pintu dan jendela kayu berukuran besar khas rumah kolonial.
- Langit-langit tinggi sehingga ruangan terasa lega.
- Perpaduan dekorasi klasik dan elemen industrial yang selaras.
- Area duduk indoor maupun outdoor yang sama-sama nyaman.
- Banyak sudut dengan pencahayaan alami yang cantik untuk berfoto.
- Cocok dijadikan tempat nongkrong, meeting santai, hingga work from café ringan.

Kalau saya sih, restoran yang punya karakter seperti ini selalu meninggalkan kesan lebih mendalam dibanding tempat makan dengan desain yang seragam. 

Rasanya seperti sedang menikmati semangkuk ramen di sebuah rumah tua yang disulap menjadi restoran modern tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Oh ya, buat kamu yang suka berburu foto, jangan buru-buru langsung memesan makanan. Luangkan waktu sebentar untuk menikmati setiap sudut bangunannya. 

Percaya deh, hampir setiap sisi restoran ini punya daya tarik tersendiri dan terasa begitu fotogenik.

Menu Joffi Ramen dan Kisaran Harga

Selain konsep bangunannya yang menarik, alasan saya kembali lagi ke Joffi Ramen Pakualaman tentu karena pilihan menunya cukup beragam. 

Menariknya lagi, harga yang ditawarkan juga masih ramah di kantong. 

Jadi, menurut saya restoran ini cocok untuk mahasiswa, pekerja kantoran, sampai keluarga yang ingin menikmati ramen murah Jogja tanpa harus menguras dompet.

Joffi mengusung konsep 100% ramen halal Jogja, sehingga seluruh menunya menggunakan bahan yang halal. 

Kuahnya memakai kaldu ayam maupun sapi, bukan tonkotsu, sehingga lebih mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia.

Pilihan Joffi Ramen menu juga cukup lengkap. Mulai dari ramen berkuah, ramen tanpa kuah, aneka camilan, rice box, sampai dessert tersedia di sini.

Pilihan menu favorit di Joffi Ramen

Kalau masih bingung mau pesan apa, berikut beberapa menu yang cukup populer.

  • 🍜 Ramen Mala

  • 🍜 Ramen Miso

  • 🍜 Shoyu Ramen

  • 🍜 Curry Ramen

  • 🍜 Dry Ramen

  • 🍗 Chicken Rice Box

  • 🥟 Dimsum Platter

  • 🍤 Agemono

  • 🍰 Japanese Cheesecake

  • 🥤 Aneka kopi, teh, serta minuman segar

Selain menu utama, saya juga suka karena pilihan camilannya lumayan banyak. Jadi kalau datang untuk nongkrong sore sambil ngobrol panjang, tetap ada banyak pilihan selain ramen.

Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial
Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial dipadukan dengan vibes Jepang (doc. Riana Dewie)


Kisaran harga Joffi Ramen

Kalau bicara soal harga Joffi Ramen, menurut saya masih tergolong bersahabat. Bahkan beberapa menu dibanderol mulai belasan ribu rupiah.

MenuKisaran Harga
Original RamenRp13.900–Rp18.000
Signature RamenRp20.000–Rp30.000
DimsumRp10.000–Rp20.000
AgemonoRp12.000–Rp22.000
Chicken Rice BoxRp20.000–Rp30.000
Japanese CheesecakeMulai Rp9.500
MinumanRp5.000–Rp18.000

Melihat harga tersebut, saya rasa restoran ini memang cukup ramah untuk berbagai kalangan. 

Mau datang sendirian, bersama pasangan, teman kantor, maupun keluarga tetap terasa nyaman. Tinggal menyesuaikan saja dengan budget yang dimiliki.

Review Rasa Menu yang Dicoba

Karena sudah tiga kali datang, saya akhirnya punya kesempatan mencoba beberapa menu yang berbeda. Menurut saya, masing-masing punya karakter rasa sendiri sehingga gak terasa membosankan.

Kunjungan pertama: Curry Ramen yang ringan di lidah

Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Saat pertama kali datang bersama teman-teman blogger, saya memesan Curry Ramen. Waktu itu saya sengaja memilih menu yang aman karena baru pertama kali mencoba ramen di sini.

Kuah karinya cukup ringan, gurih, dan punya tekstur yang creamy tanpa terasa berlebihan. Aroma rempahnya juga masih bersahabat sehingga tetap cocok untuk lidah Indonesia.

Sebagai pelengkap, saya memesan Corn Ribs. Dari dulu saya memang penggemar camilan satu ini. Jagung manis yang dipotong memanjang lalu dibumbui gurih memang selalu berhasil jadi teman makan yang menyenangkan. 

Kalau saya sih, Corn Ribs di Joffi termasuk salah satu side dish yang layak dicoba.

Kunjungan kedua: Ramen Mala yang bikin nagih

Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Kunjungan berikutnya terasa lebih seru karena saya memutuskan mencoba Ramen Mala.

Sejujurnya, saya memang gampang tergoda melihat kuah merah yang menggoda selera. Sebagai penyuka makanan pedas, menu ini langsung menarik perhatian saya sejak pertama membuka daftar menu.

Dan ternyata pilihan saya gak salah.

Rasa pedasnya cukup terasa, tetapi masih nyaman dinikmati. Sensasi mala yang khas juga muncul tanpa membuat lidah terasa mati rasa berlebihan. 

Bahkan saya menikmati semangkuk ramen ini tanpa perlu menambahkan chilli oil lagi karena menurut saya tingkat kepedasannya sudah pas.

Oh ya, buat kamu yang suka pedas, menu ini wajib masuk daftar pesanan. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang menyebut Joffi sebagai ramen viral Jogja.

Kunjungan ketiga: Dry Ramen yang berbeda

Nah, saat datang bersama keluarga, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Dry Ramen Katsu.

Berbeda dengan ramen berkuah, menu ini disajikan tanpa kuah sehingga cita rasanya lebih fokus pada bumbu yang melapisi mie. 

Tekstur mie kenyal berpadu dengan potongan chicken katsu yang renyah di luar namun tetap lembut di dalam.

Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)


Menu ini cocok buat kamu yang kurang suka makanan berkuah atau ingin mencoba sensasi ramen dengan karakter rasa yang berbeda.

Secara keseluruhan, menurut saya karakter rasa ramen di Joffi memang dibuat lebih ramah untuk lidah Indonesia. Kuahnya gurih, creamy, porsinya mengenyangkan, dan tetap terasa ringan dinikmati.

Mungkin bagi pencinta ramen Jepang yang autentik akan menemukan perbedaan dibanding ramen berbasis tonkotsu. Namun justru di situlah kelebihan Joffi. 

Konsep restoran Jepang Jogja ini berhasil menghadirkan cita rasa yang familiar tanpa kehilangan identitas sebagai restoran ramen.

Spot Instagramable Favorit

Kalau ada satu hal lagi yang membuat saya berkali-kali kembali ke Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya adalah banyaknya sudut yang cantik untuk difoto. 

Bukan sekadar tempat instagramable, tetapi setiap sudutnya terasa punya karakter. 

Buat saya yang memang menyukai bangunan lawas dan suasana klasik, rasanya ingin berhenti di hampir setiap sudut untuk mengambil gambar.

Sudut favorit yang wajib kamu abadikan

Beberapa spot yang paling saya sukai antara lain:

  • Teras depan rumah heritage dengan fasad klasik yang ikonik.

  • Pintu kayu berukuran besar yang memberi kesan elegan.

  • Area indoor dengan pencahayaan hangat dan interior vintage yang nyaman.

  • Jendela besar bergaya kolonial yang membuat foto terlihat lebih estetik.

  • Area outdoor belakang yang menurut saya gak kalah menarik. Ada sepeda klasik, ornamen khas Jepang, tanaman hijau, serta bangunan bergaya Jepang yang membuat suasananya terasa berbeda.

  • Semangkuk ramen dengan latar bangunan heritage. Percaya deh, hasil fotonya langsung terlihat lebih menarik tanpa perlu banyak edit.

Kalau saya sih, area outdoor belakang menjadi spot favorit. Suasananya lebih tenang dan punya kombinasi unsur Jepang serta bangunan heritage yang unik. 

Area outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetikArea outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetik (doc. Riana Dewie)


Cocok buat kamu yang suka membuat konten kuliner maupun travel.

Oh ya, usahakan datang saat pagi menjelang siang atau sore hari kalau ingin mendapatkan pencahayaan alami yang cantik. Hasil fotonya biasanya jauh lebih maksimal dibanding malam hari.

Fasilitas dan Suasana

Selain makanan dan desain bangunannya, fasilitas yang tersedia juga membuat saya merasa nyaman berlama-lama di sini.

Beberapa fasilitas yang bisa kamu nikmati antara lain:

  • Area parkir yang cukup luas untuk mobil maupun motor.

  • Pilihan tempat duduk indoor dan outdoor.

  • Kapasitas bangku yang banyak sehingga cocok untuk rombongan.

  • Suasana cozy untuk ngobrol santai.

  • Cocok dijadikan tempat meeting informal.

  • Nyaman untuk work from café ringan.

  • Pelayanan yang ramah dan cepat.

  • Proses penyajian makanan relatif gak terlalu lama.

  • Pilihan menu sangat beragam.

  • Harga makanan mulai sekitar Rp9 ribuan sehingga bisa disesuaikan dengan budget.

  • Toilet yang bersih.

  • Musala untuk pengunjung.

  • Pembayaran non-tunai tersedia.

  • Lokasi mudah dijangkau dari pusat Kota Yogyakarta.

Yang saya perhatikan selama tiga kali berkunjung, suasananya memang berbeda tergantung waktu datang.

Saat saya datang pada malam hari di weekday, restoran cukup ramai, tetapi belum sampai penuh. Saya masih bebas memilih tempat duduk dan suasananya terasa lebih santai.

Sebaliknya, saat datang pada Minggu siang bersama keluarga, kondisinya jauh lebih ramai. 

Banyak keluarga yang makan bersama, anak-anak sekolah yang sedang janjian, pasangan muda, hingga rombongan teman. Menurut saya ini wajar karena bertepatan dengan hari libur dan jam makan siang.

Worth It atau Tidak?

Kalau ditanya apakah Joffi Ramen Pakualaman layak dikunjungi, jawaban saya tentu worth it.

Alasannya bukan hanya karena makanannya enak. Saya justru melihat restoran ini menawarkan paket yang lengkap.

Pertama, pilihan menu sangat beragam sehingga pengunjung punya banyak opsi.

Kedua, harga makanannya masih bersahabat sehingga cocok untuk berbagai kalangan.

Ketiga, konsep bangunan heritage yang dipadukan dengan sentuhan Jepang membuat pengalaman makan terasa berbeda dibanding restoran ramen lainnya.

Keempat, lokasinya strategis di kawasan Pakualaman sehingga mudah dijangkau.

Terakhir, suasananya nyaman untuk berbagai aktivitas. Mau datang bersama keluarga, teman, pasangan, bahkan sendirian pun tetap terasa menyenangkan.

FAQ

Apakah Joffi Ramen Pakualaman halal?

Ya. Joffi mengusung konsep 100% halal, sehingga cocok bagi pengunjung yang mencari ramen halal di Jogja.

Berapa harga Joffi Ramen?

Harga menu cukup terjangkau, mulai sekitar Rp13 ribuan untuk ramen original, sedangkan menu lain berkisar Rp20–30 ribuan. Side dish dan dessert bahkan tersedia mulai sekitar Rp9 ribuan.

Apakah cocok untuk work from café?

Cocok. Suasananya nyaman, tempat duduk cukup banyak, dan relatif tenang jika datang di luar jam makan siang.

Menu apa yang paling saya rekomendasikan?

Kalau suka pedas, saya merekomendasikan 

Ramen Mala. Sementara bagi yang ingin rasa lebih ringan, Curry Ramen juga layak dicoba.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung?

Kalau ingin suasana lebih santai, datanglah pada weekday di luar jam makan siang. Namun kalau ingin merasakan suasana yang lebih hidup, akhir pekan bisa menjadi pilihan.

Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang
Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang (doc. Riana Dewie)


Lebih dari Semangkuk Ramen

Menurut saya, Joffi Ramen Pakualaman berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati semangkuk ramen. 

Konsep ramen halal Jogja dipadukan dengan bangunan heritage, dekorasi klasik, dan suasana yang nyaman membuat restoran ini punya karakter yang sulit dilupakan.

Jadi, kalau sedang mencari tempat makan Jepang Jogja, tempat nongkrong Pakualaman, atau sekadar ingin menikmati review ramen Jogja yang benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi, saya rasa Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar tujuanmu.

Selamat menikmati semangkuk ramen hangat sambil merasakan suasana heritage yang khas. Siapa tahu, setelah sekali datang, kamu juga akan ingin kembali lagi seperti saya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan, dari Tiwul hingga Ubi Rebus

makanan khas Jawa kaya nutrisi dari bahan lokal

Pernah kepikir gak sih kalau makanan tradisional Jawa yang menyehatkan justru sudah ada sejak dulu, jauh sebelum tren makanan sehat bermunculan di media sosial? 

Saya sendiri baru benar-benar menyadarinya saat tanpa sengaja mengenang masa kecil bersama keluarga besar di rumah simbah.

Dulu, setiap liburan sekolah, saya senang menginap di rumah simbah yang berada di desa. Suasananya sederhana, halaman luas, dan dapurnya selalu sibuk sejak pagi. 

Yang menarik, makanan yang tersaji hampir semuanya merupakan makanan tradisional Jawa sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Oh ya, saya masih ingat aroma kelapa parut yang baru diparut setiap pagi dari dapur belakang rumah simbah. Wanginya khas banget dan sampai sekarang masih melekat di ingatan saya.

Di meja makan biasanya ada apem, singkong rebus, kacang rebus, atau tiwul hangat yang baru matang. Saat itu saya tentu gak memikirkan kandungan gizi atau manfaat kesehatannya. 

Yang penting enak dan bikin kenyang. Hihihihi....

Kalau dipikir sekarang, makanan-makanan tersebut termasuk makanan kampung yang sehat dan bergizi. Bahannya sederhana, minim proses, dan banyak menggunakan hasil kebun sendiri.

Bahkan banyak di antaranya yang termasuk kuliner jadul yang masih sehat dikonsumsi hingga saat ini.

Mungkin karena itulah banyak orang tua zaman dulu tetap aktif meski usia sudah tidak muda lagi.

Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul
Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul (doc. Riana Dewie)


Kulineran Bersama Keluarga yang Selalu Membawa Kenangan

Gak cuma bersama simbah, ibu saya juga masih sering menyiapkan berbagai menu tradisional hingga saya dewasa. 

Saat masih tinggal bersama orang tua, saya sering bangun pagi dan mendapati berbagai jajanan pasar sudah tersedia di meja makan.

Ada ketan, cenil, gethuk, hingga berbagai olahan ubi yang sederhana tetapi menggugah selera. 

Saya sih selalu senang kalau menemukan makanan tradisional di meja makan karena rasanya selalu menghadirkan nostalgia.

Oh ya, kebiasaan ibu membeli jajanan pasar ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Kadang tanpa bilang apa-apa, tiba-tiba sudah ada beberapa bungkus makanan tradisional di rumah.

Saat kami kulineran sekeluarga, ibu juga lebih sering memilih menu-menu lama yang mungkin kurang populer di kalangan anak muda saat ini. 

Saya sempat berpikir, mungkin ibu sedang bernostalgia dengan masakan yang dulu sering dibuat simbah.

Tak jarang ibu bercerita, "Dulu simbah kalau bikin bothok banyak sekali karena anak-anaknya juga banyak." Dari cerita sederhana seperti itu saya jadi tahu bahwa makanan tradisional memang punya nilai emosional yang kuat.

Suatu hari kami mencoba bothok lamtoro di sebuah warung sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ada sensasi renyah dari ikan teri. 

Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai banyak orang. Emang seenak ini ya makanan jadul?

Oh ya, setelah dewasa saya baru sadar kalau banyak menu tradisional ternyata termasuk kuliner Jawa berbahan alami yang minim bahan tambahan.

Menariknya lagi, banyak menu tersebut termasuk makanan tradisional rendah minyak karena diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Beberapa waktu lalu saya bahkan sempat membaca blog seorang Travel Blogger Medan yang juga bercerita suka berburu kuliner saat bepergian. 

Menurutnya, setiap daerah punya makanan khas yang layak dilestarikan.


5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan

1. Tiwul Sambal Bawang, Karbohidrat Tradisional Selain Nasi

makanan tradisional Jawa yang menyehatkan berupa tiwul sambal bawang
Makanan tradisional Jawa yang menyehatkan, yaitu tiwul sambal bawang (doc. Riana Dewie)

Tiwul merupakan makanan tradisional dari singkong yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahan utamanya berasal dari singkong yang dikeringkan lalu diolah menjadi butiran-butiran mirip nasi.

Saya sih suka tiwul karena teksturnya unik dan rasanya sedikit manis alami. Ketika dipadukan dengan tiwul sambal bawang, sensasinya jadi lebih nikmat.

Dari sisi kesehatan, tiwul termasuk karbohidrat tradisional selain nasi yang mengandung serat cukup tinggi. Karena itulah tiwul sering dianggap sebagai salah satu makanan tradisional kaya serat yang bisa membantu rasa kenyang lebih lama.

2. Bothok Lamtoro, Lauk Kukus Kaya Rasa

Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba
Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba (doc. Riana Dewie)

Bothok lamtoro merupakan salah satu olahan lamtoro khas Jawa yang cukup populer di berbagai daerah. Bahan utamanya berupa petai cina atau lamtoro yang dicampur kelapa parut dan bumbu rempah.

Biasanya ditambahkan ikan teri agar rasanya makin gurih. Setelah dibungkus daun pisang, bothok kemudian dikukus hingga matang.

Karena proses pembuatannya dikukus, makanan ini termasuk kategori makanan kukus dan rebus yang sehat. Kandungan serat dan protein nabatinya juga cukup baik untuk tubuh.

3. Sego Gudangan, Menu Tradisional Jawa untuk Hidup Sehat

ego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan
Sego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan (doc. Riana Dewie)

Sego gudangan berasal dari Jawa Tengah dan identik dengan berbagai sayuran rebus yang disajikan bersama nasi dan urap kelapa.

Isi sayurnya biasanya berupa kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan berbagai sayuran lain. Kombinasi sayur urap dan gudangan inilah yang membuat menu ini kaya vitamin dan mineral.

Oh ya, sego gudangan termasuk menu yang paling sering saya cari ketika sedang ingin makan makanan rumahan.

Menurut saya, sego gudangan merupakan contoh sempurna dari menu tradisional Jawa untuk hidup sehat. Rasanya enak, mengenyangkan, dan penuh nutrisi.

4. Apem Panggang, Camilan Tradisional yang Menyehatkan

apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa
Apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa (doc. Riana Dewie)

Kalau mendengar apem, saya langsung teringat suasana pasar tradisional di pagi hari. Apem panggang tradisional biasanya dibuat dari tepung beras, santan, dan sedikit gula.

Berbeda dengan banyak camilan modern, apem dipanggang sehingga gak membutuhkan banyak minyak. Karena itulah apem sering dianggap sebagai salah satu camilan tradisional yang menyehatkan.

Selain itu, apem juga termasuk jajanan pasar tradisional yang lebih alami karena umumnya dibuat tanpa bahan pengawet berlebihan.

5. Ubi Rebus, Sederhana Tapi Kaya Nutrisi

Di antara semua daftar ini, mungkin ubi rebus adalah yang paling sederhana. Namun jangan salah, manfaatnya cukup banyak.

Ubi rebus untuk kesehatan sering dikaitkan dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Rasanya manis alami sehingga cocok dijadikan camilan sehari-hari.

Bagi saya, ubi rebus adalah contoh nyata makanan sederhana khas Jawa yang bergizi. Murah, mudah ditemukan, dan tetap lezat.

Oh ya, sampai sekarang saya masih sering membeli ubi rebus saat menemukan penjualnya di pinggir jalan. Rasanya selalu berhasil membawa saya kembali ke masa kecil.


Mari Kembali Mengenal Kuliner Tradisional

Dari berbagai cerita dan pengalaman tadi, saya makin yakin bahwa makanan tradisional Jawa yang menyehatkan layak mendapatkan perhatian lebih. 

Mulai dari tiwul, bothok lamtoro, sego gudangan, apem panggang, hingga ubi rebus, semuanya memiliki keunggulan masing-masing.

Selain berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan, banyak di antaranya termasuk makanan khas Jawa kaya nutrisi yang sudah diwariskan turun-temurun. 

Hahahaha.... kadang kita sibuk mencari makanan sehat modern, padahal jawabannya sudah ada sejak zaman simbah dulu.

Jadi, untuk bisa makan lebih sehat, kita bisa mulai melirik kembali berbagai kuliner tradisional Jawa yang menyehatkan ini sesuai selera masing-masing. 


Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah
Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah (doc. Riana Dewie)

Ini cerita makanan jadul versi saya. Bagaimana dengan makanan jadul favoritmu? 

Siapa tahu bisa menjadi teman seru saat menikmati waktu santai atau bahkan menemani outdoor activity bersama keluarga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments