Showing posts with label Culinary Journey. Show all posts
Showing posts with label Culinary Journey. Show all posts

In Culinary Journey

Argo Loro Boyolali, Cafe View Gunung yang Wajib Dikunjungi!

Suasana sejuk di Argo Loro Boyolali dengan kabut pegunungan

Bisa membayangkan gimana rasanya ngopi di atas gunung sambil ditemani udara yang dingin dan hamparan hijau sejauh mata memandang? 

Jujur aja, sebelumnya sih saya juga gak kebayang sama sekali. Waktu itu adik saya cuma mengirimkan beberapa foto Argo Loro Boyolali sambil bilang, "Kita ke sini, yuk!" 

Kesan pertama saya cuma satu, estetik juga ya. Ternyata setelah sampai di sana, ekspektasi saya langsung terlampaui. 

Tahu gak, tempat ini benar-benar menyuguhkan suasana yang bikin napas terasa lebih lega sejak pertama turun dari kendaraan.

Argo Loro Boyolali, Tempat Ngopi dengan Panorama Dua Gunung

Perjalanan menuju Argo Loro Boyolali diawali dari Jogja. Sebelum menuju kawasan Selo, kami lebih dulu mampir ke Klaten untuk berziarah ke makam nenek. 

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Boyolali dengan jalur yang semakin menanjak. Di tengah perjalanan sempat turun hujan cukup deras. 

Untungnya, hujan gak berlangsung lama sehingga perjalanan tetap terasa menyenangkan.

Oh ya, justru setelah hujan reda, pemandangan di sepanjang jalan berubah semakin cantik. 

Pengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro BoyolaliPengunjung menikmati udara sejuk pegunungan di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Pepohonan terlihat lebih segar, dedaunan tampak basah mengilap, dan udara sejuk pegunungan langsung menyambut begitu kami memasuki kawasan wisata Selo Boyolali. 

Saya sampai auto menggigil karena anginnya lumayan menusuk, padahal masih sore hari.

Sesampainya di lokasi, saya baru memahami kenapa Argo Loro Selo begitu ramai diperbincangkan. Area kafenya ternyata terdiri dari beberapa bangunan dengan konsep yang berbeda. 

Kami pun memilih duduk di area utama yang belakangan ini sering muncul di media sosial karena desainnya yang modern dan menyatu dengan alam.

Mengusung konsep coffee between the mountains, Argo Loro Kopi Boyolali benar-benar berada di posisi yang memanjakan mata. 

Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali
Bangunan estetik Argo Loro Boyolali di kawasan Selo Boyolali (doc. Riana Dewie)


Dari area luar kafe, saya bisa menikmati panorama Gunung Merapi dan panorama Gunung Merbabu sekaligus. Rasanya hampir setiap sudut layak dijadikan tempat berfoto. 

Serius deh, latar gunung yang megah dipadukan udara segar sukses membuat pikiran terasa jauh lebih ringan. Hihihihi... rasanya kerjaan dan berbagai beban mendadak ikut tertinggal entah di mana.

Suasana yang Bikin Betah Berlama-lama

Begitu masuk ke area utama, saya langsung paham kenapa cafe di Selo Boyolali ini selalu ramai pengunjung. 

Bangunannya didominasi material kayu dan kaca, jadi tetap terasa hangat meski udara di luar cukup dingin. Area outdoor-nya juga luas, cocok buat menikmati pemandangan tanpa ada yang menghalangi.

Tahu gak, saya beberapa kali cuma duduk diam sambil menikmati kabut pegunungan yang sesekali datang menyelimuti lereng. 

Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari
Coffee between the mountains di Argo Loro Boyolali saat sore hari (doc. Riana Dewie)


Suasananya tenang banget, seolah waktu berjalan lebih lambat. 

Di sisi lain, banyak juga pengunjung yang sibuk berburu foto karena hampir setiap sudut merupakan tempat nongkrong estetik dengan latar gunung yang memukau.

Katanya sih, momen sunrise dan sunset di Selo menjadi waktu favorit para pengunjung. Sayangnya saya datang menjelang sore, jadi belum sempat menikmati matahari terbit. 

Meski begitu, suasana yang saya rasakan sudah lebih dari cukup untuk membuat saya ingin kembali lagi suatu hari nanti.

Menu Kopi dan Makanan yang Menemani Momen Bersantai

Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali
Menikmati Hot Chocolate di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)

Menikmati pemandangan indah rasanya memang kurang lengkap tanpa ditemani makanan dan minuman yang hangat. 

Untungnya, pilihan menu di Argo Loro Boyolali cukup beragam, jadi tinggal disesuaikan saja dengan selera masing-masing.

Coffee

Buat pencinta kopi, tersedia berbagai pilihan seperti Espresso, Americano, Cappuccino, Cafe Latte, Caramel Latte, hingga Hazelnut Latte. 

Non Coffee

Sementara untuk pengunjung yang kurang suka kopi, pilihannya juga banyak. Ada Red Velvet, Taro, Green Tea, Chocolate, Klepon, aneka Classic Tea, Lychee Tea, Peach Tea, 

Ada juga minuman tradisional yang cocok dinikmati di tengah udara sejuk pegunungan, seperti Ginger Coffee, susu jahe, dan wedang uwuh.

Oh ya, saya sendiri justru memilih Hot Chocolate. Adik-adik saya menyeruput kopi hangat, sedangkan saya lebih memilih minuman cokelat demi menjaga lambung tetap nyaman. 

Enak banget sih menikmati minuman hangat sambil memandangi hamparan hijau di depan mata. Rasanya sederhana, tapi justru momen seperti ini yang sering bikin kangen.

Camilan

Untuk camilan, pilihannya juga menggoda. Ada Argo Banana, Argo Kaya Toast, Biscoff Vanilla Ice Cream, hingga aneka hidangan ringan lainnya. 

Menu Berat

Sementara menu beratnya terdiri dari beragam nasi goreng, olahan mi, pasta, dan beberapa menu khas yang cukup mengenyangkan.

Kebetulan waktu itu kami memesan Singkong Keju, Otak-Otak, French Fries, Mix Platter, dan beberapa minuman untuk dinikmati bersama. 

Menurut saya sih, porsinya pas untuk disantap sambil mengobrol santai. Soal harga juga masih tergolong wajar untuk ukuran cafe view Gunung Merapi dan Merbabu dengan suasana senyaman ini. 

Wkwkwkwk... rasanya malah pengin nambah camilan lagi karena udara dinginnya bikin perut cepat lapar.

Kenapa Argo Loro Boyolali Layak Masuk Bucket List

Ada banyak alasan kenapa saya berani merekomendasikan tempat ini. Bukan cuma karena viral atau sering muncul di media sosial, tetapi karena pengalaman yang saya rasakan memang menyenangkan.

Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali
Suasana cafe view gunung di Argo Loro Boyolali, kurang jelas karena masih berkabut (doc. Riana Dewie)


1. Healing 

Pertama, tempat ini cocok untuk healing di Boyolali. Lokasinya berada di kawasan pegunungan dengan suasana tenang yang sulit saya temukan di tengah hiruk pikuk perkotaan. 

Meski jaraknya lumayan jauh dari Jogja, perjalanan menuju sini benar-benar terbayar begitu melihat pemandangannya.

2. Quality Time

Kedua, cocok dijadikan tempat quality time bersama orang-orang tersayang. Tahu gak, sesekali kita memang perlu menjauh dari rutinitas dan memberi waktu untuk diri sendiri. 

Duduk santai, mengobrol tanpa terburu-buru, lalu menikmati alam Boyolali ternyata bisa menjadi cara sederhana untuk mengisi ulang energi.

3. Work from Cafe

Ketiga, buat yang bisa bekerja dari mana saja, tempat ini juga menarik sebagai lokasi work from cafe. 

Saya sih langsung membayangkan betapa menyenangkannya menyelesaikan pekerjaan dengan pemandangan gunung di depan mata. 

Walaupun kalau saya harus bolak-balik dari Jogja setiap hari, sepertinya bakal menyerah duluan di jalan. Hihihihi...

Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali
Spot foto estetik di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


4. Hunting Foto

Keempat, jangan sampai melewatkan kesempatan berburu foto. Hampir setiap sudut Argo Loro Boyolali terasa fotogenik. 

Apalagi saat cuaca sedang cerah, latar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat begitu jelas sehingga hasil fotonya terasa semakin estetik.

5. Wisata Keluarga/Pasangan

Terakhir, tempat ini cocok dikunjungi bersama keluarga maupun pasangan. Bahkan, di kawasan ini juga tersedia penginapan bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana pegunungan lebih lama. 

Menurut saya, menginap semalam lalu menikmati pagi dengan secangkir minuman hangat pasti akan menjadi pengalaman yang berbeda.

Penutup

Oh ya, momen yang paling saya ingat justru saat adik-adik saya asyik menyeruput kopi, sementara saya tetap setia menikmati secangkir Hot Chocolate demi kenyamanan lambung. 

Ternyata, apa pun minuman yang dipilih bukanlah hal terpenting. Yang membuat perjalanan ini berkesan adalah suasananya yang begitu menenangkan.

Suasana tenang cafe view gunung di Argo Loro BoyolaliSuasana tenang cafe view gunung di Argo Loro Boyolali (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau sedang mencari tempat ngopi di Boyolali dengan panorama alam yang memanjakan mata, Argo Loro Boyolali layak masuk dalam daftar tujuanmu. 

Cobain deh datang ke sini, hirup udara segarnya, nikmati setiap sudutnya, dan jangan sampai pulang tanpa mengabadikan momen dengan latar gunung yang memesona. 

Siapa tahu, kamu juga akan pulang dengan hati yang terasa lebih ringan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Review Joffi Ramen Pakualaman, Ramen Halal dengan Bangunan Vintage Nyaman

Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan heritage bergaya vintage di Jalan Sultan Agung Yogyakarta

Kalau kamu sedang mencari ramen enak di Jogja dengan suasana yang beda dari kebanyakan restoran, Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar kunjunganmu. 

Saya sendiri sudah tiga kali datang ke sini. Pertama bersama teman-teman blogger yang memang hobi berburu kuliner, kedua saat meeting santai dengan teman, lalu yang terakhir datang bersama keluarga. 

Menariknya, datang di hari dan jam yang berbeda ternyata cukup berpengaruh terhadap jumlah pengunjung. Kalau saya sih, justru paling menikmati suasana saat weekday karena terasa lebih santai. 

Satu hal yang langsung membuat saya jatuh hati adalah bangunannya. Beneran, saya memang termasuk penikmat bangunan tua, rumah bergaya kolonial, sampai dekorasi vintage yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Jadi, baca review ini sampai selesai ya. Siapa tahu bisa jadi referensi buat kamu yang sedang mencari ramen halal Jogja dengan harga ramah di kantong.

Lokasi Joffi Ramen Pakualaman

Joffi Ramen Pakualaman beralamat di Jalan Sultan Agung No. 69, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis karena berada di kawasan yang mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. 

Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa menit berkendara, begitu juga jika datang dari kawasan Malioboro.

Buat yang belum pernah ke sini, patokannya juga cukup mudah. Restoran ini berada di Jalan Sultan Agung, masih satu jalur menuju kawasan Pakualaman. 

Lokasinya berada dekat Pura Pakualaman, berseberangan dengan Pasar Sentul, dan hanya beberapa langkah dari Toko Intisari Sultan Agung. 

Jadi, meski baru pertama kali datang, kamu gak akan kesulitan menemukannya.

Area sekitarnya juga cukup nyaman karena dipenuhi berbagai bangunan lama yang masih terawat. 

Nuansa kuliner Pakualaman memang terasa berbeda dibanding kawasan lain di Jogja. 

Di sini kamu bisa menemukan perpaduan antara bangunan bersejarah, tempat makan kekinian, hingga deretan usaha lokal yang sudah berdiri sejak lama.

Restoran ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.  

Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman
Suasana interior vintage Joffi Ramen Pakualaman yang nyaman (doc. Riana Dewie)


Berdasarkan pengalaman saya, suasana pada malam hari saat weekday memang cukup ramai, tetapi bangkunya masih banyak yang kosong sehingga tetap nyaman untuk ngobrol. 

Sementara saat Minggu siang, pengunjungnya jauh lebih padat. Banyak keluarga, mahasiswa, anak sekolah, hingga pasangan yang datang untuk makan bersama. 

Oh ya, kalau ingin suasana lebih tenang untuk ngobrol atau bekerja ringan, saya menyarankan datang sebelum jam makan siang atau setelah pukul dua siang.

Dengan rating sekitar 4,7 dari 5, gak heran kalau Joffi Ramen Sultan Agung menjadi salah satu rekomendasi tempat makan Jepang Jogja yang cukup populer. 

Selain lokasinya strategis, akses menuju restoran ini juga mudah, area parkirnya lega, dan cocok dijadikan tempat singgah setelah berkeliling kawasan Pakualaman.

Bangunan Heritage yang Langsung Mencuri Perhatian

Kalau ditanya apa yang paling saya sukai dari Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya justru bukan makanannya terlebih dahulu, melainkan bangunannya.

Ya, nuansa bangunan heritage di sini benar-benar terasa begitu kuat. Restoran ini menempati sebuah rumah bergaya kolonial yang masih mempertahankan karakter aslinya. 

Perpaduan interior vintage dengan sentuhan industrial juga berhasil menciptakan suasana yang hangat sekaligus modern. Menurut saya, konsep seperti ini justru membuat restoran terasa lebih hidup.

Detail bangunan yang membuat betah

Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta
Lantai heritage di Joffi Ramen Pakualaman Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Ada beberapa detail yang menurut saya menjadi daya tarik utama restoran ini.
- Fasad klasik dengan nuansa heritage yang masih dipertahankan.
- Pintu dan jendela kayu berukuran besar khas rumah kolonial.
- Langit-langit tinggi sehingga ruangan terasa lega.
- Perpaduan dekorasi klasik dan elemen industrial yang selaras.
- Area duduk indoor maupun outdoor yang sama-sama nyaman.
- Banyak sudut dengan pencahayaan alami yang cantik untuk berfoto.
- Cocok dijadikan tempat nongkrong, meeting santai, hingga work from café ringan.

Kalau saya sih, restoran yang punya karakter seperti ini selalu meninggalkan kesan lebih mendalam dibanding tempat makan dengan desain yang seragam. 

Rasanya seperti sedang menikmati semangkuk ramen di sebuah rumah tua yang disulap menjadi restoran modern tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Oh ya, buat kamu yang suka berburu foto, jangan buru-buru langsung memesan makanan. Luangkan waktu sebentar untuk menikmati setiap sudut bangunannya. 

Percaya deh, hampir setiap sisi restoran ini punya daya tarik tersendiri dan terasa begitu fotogenik.

Menu Joffi Ramen dan Kisaran Harga

Selain konsep bangunannya yang menarik, alasan saya kembali lagi ke Joffi Ramen Pakualaman tentu karena pilihan menunya cukup beragam. 

Menariknya lagi, harga yang ditawarkan juga masih ramah di kantong. 

Jadi, menurut saya restoran ini cocok untuk mahasiswa, pekerja kantoran, sampai keluarga yang ingin menikmati ramen murah Jogja tanpa harus menguras dompet.

Joffi mengusung konsep 100% ramen halal Jogja, sehingga seluruh menunya menggunakan bahan yang halal. 

Kuahnya memakai kaldu ayam maupun sapi, bukan tonkotsu, sehingga lebih mudah diterima oleh lidah masyarakat Indonesia.

Pilihan Joffi Ramen menu juga cukup lengkap. Mulai dari ramen berkuah, ramen tanpa kuah, aneka camilan, rice box, sampai dessert tersedia di sini.

Pilihan menu favorit di Joffi Ramen

Kalau masih bingung mau pesan apa, berikut beberapa menu yang cukup populer.

  • 🍜 Ramen Mala

  • 🍜 Ramen Miso

  • 🍜 Shoyu Ramen

  • 🍜 Curry Ramen

  • 🍜 Dry Ramen

  • 🍗 Chicken Rice Box

  • 🥟 Dimsum Platter

  • 🍤 Agemono

  • 🍰 Japanese Cheesecake

  • 🥤 Aneka kopi, teh, serta minuman segar

Selain menu utama, saya juga suka karena pilihan camilannya lumayan banyak. Jadi kalau datang untuk nongkrong sore sambil ngobrol panjang, tetap ada banyak pilihan selain ramen.

Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial
Spot foto estetik di Joffi Ramen Pakualaman dengan bangunan lawas bergaya kolonial dipadukan dengan vibes Jepang (doc. Riana Dewie)


Kisaran harga Joffi Ramen

Kalau bicara soal harga Joffi Ramen, menurut saya masih tergolong bersahabat. Bahkan beberapa menu dibanderol mulai belasan ribu rupiah.

MenuKisaran Harga
Original RamenRp13.900–Rp18.000
Signature RamenRp20.000–Rp30.000
DimsumRp10.000–Rp20.000
AgemonoRp12.000–Rp22.000
Chicken Rice BoxRp20.000–Rp30.000
Japanese CheesecakeMulai Rp9.500
MinumanRp5.000–Rp18.000

Melihat harga tersebut, saya rasa restoran ini memang cukup ramah untuk berbagai kalangan. 

Mau datang sendirian, bersama pasangan, teman kantor, maupun keluarga tetap terasa nyaman. Tinggal menyesuaikan saja dengan budget yang dimiliki.

Review Rasa Menu yang Dicoba

Karena sudah tiga kali datang, saya akhirnya punya kesempatan mencoba beberapa menu yang berbeda. Menurut saya, masing-masing punya karakter rasa sendiri sehingga gak terasa membosankan.

Kunjungan pertama: Curry Ramen yang ringan di lidah

Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Curry Ramen di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Saat pertama kali datang bersama teman-teman blogger, saya memesan Curry Ramen. Waktu itu saya sengaja memilih menu yang aman karena baru pertama kali mencoba ramen di sini.

Kuah karinya cukup ringan, gurih, dan punya tekstur yang creamy tanpa terasa berlebihan. Aroma rempahnya juga masih bersahabat sehingga tetap cocok untuk lidah Indonesia.

Sebagai pelengkap, saya memesan Corn Ribs. Dari dulu saya memang penggemar camilan satu ini. Jagung manis yang dipotong memanjang lalu dibumbui gurih memang selalu berhasil jadi teman makan yang menyenangkan. 

Kalau saya sih, Corn Ribs di Joffi termasuk salah satu side dish yang layak dicoba.

Kunjungan kedua: Ramen Mala yang bikin nagih

Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Menu Ramen Mala di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)

Kunjungan berikutnya terasa lebih seru karena saya memutuskan mencoba Ramen Mala.

Sejujurnya, saya memang gampang tergoda melihat kuah merah yang menggoda selera. Sebagai penyuka makanan pedas, menu ini langsung menarik perhatian saya sejak pertama membuka daftar menu.

Dan ternyata pilihan saya gak salah.

Rasa pedasnya cukup terasa, tetapi masih nyaman dinikmati. Sensasi mala yang khas juga muncul tanpa membuat lidah terasa mati rasa berlebihan. 

Bahkan saya menikmati semangkuk ramen ini tanpa perlu menambahkan chilli oil lagi karena menurut saya tingkat kepedasannya sudah pas.

Oh ya, buat kamu yang suka pedas, menu ini wajib masuk daftar pesanan. Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa banyak orang menyebut Joffi sebagai ramen viral Jogja.

Kunjungan ketiga: Dry Ramen yang berbeda

Nah, saat datang bersama keluarga, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Akhirnya pilihan saya jatuh pada Dry Ramen Katsu.

Berbeda dengan ramen berkuah, menu ini disajikan tanpa kuah sehingga cita rasanya lebih fokus pada bumbu yang melapisi mie. 

Tekstur mie kenyal berpadu dengan potongan chicken katsu yang renyah di luar namun tetap lembut di dalam.

Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja
Dry Ramen Katsu di Joffi Ramen Pakualaman Jogja (doc. Riana Dewie)


Menu ini cocok buat kamu yang kurang suka makanan berkuah atau ingin mencoba sensasi ramen dengan karakter rasa yang berbeda.

Secara keseluruhan, menurut saya karakter rasa ramen di Joffi memang dibuat lebih ramah untuk lidah Indonesia. Kuahnya gurih, creamy, porsinya mengenyangkan, dan tetap terasa ringan dinikmati.

Mungkin bagi pencinta ramen Jepang yang autentik akan menemukan perbedaan dibanding ramen berbasis tonkotsu. Namun justru di situlah kelebihan Joffi. 

Konsep restoran Jepang Jogja ini berhasil menghadirkan cita rasa yang familiar tanpa kehilangan identitas sebagai restoran ramen.

Spot Instagramable Favorit

Kalau ada satu hal lagi yang membuat saya berkali-kali kembali ke Joffi Ramen Pakualaman, jawabannya adalah banyaknya sudut yang cantik untuk difoto. 

Bukan sekadar tempat instagramable, tetapi setiap sudutnya terasa punya karakter. 

Buat saya yang memang menyukai bangunan lawas dan suasana klasik, rasanya ingin berhenti di hampir setiap sudut untuk mengambil gambar.

Sudut favorit yang wajib kamu abadikan

Beberapa spot yang paling saya sukai antara lain:

  • Teras depan rumah heritage dengan fasad klasik yang ikonik.

  • Pintu kayu berukuran besar yang memberi kesan elegan.

  • Area indoor dengan pencahayaan hangat dan interior vintage yang nyaman.

  • Jendela besar bergaya kolonial yang membuat foto terlihat lebih estetik.

  • Area outdoor belakang yang menurut saya gak kalah menarik. Ada sepeda klasik, ornamen khas Jepang, tanaman hijau, serta bangunan bergaya Jepang yang membuat suasananya terasa berbeda.

  • Semangkuk ramen dengan latar bangunan heritage. Percaya deh, hasil fotonya langsung terlihat lebih menarik tanpa perlu banyak edit.

Kalau saya sih, area outdoor belakang menjadi spot favorit. Suasananya lebih tenang dan punya kombinasi unsur Jepang serta bangunan heritage yang unik. 

Area outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetikArea outdoor Joffi Ramen Pakualaman dengan dekorasi khas Jepang yang estetik (doc. Riana Dewie)


Cocok buat kamu yang suka membuat konten kuliner maupun travel.

Oh ya, usahakan datang saat pagi menjelang siang atau sore hari kalau ingin mendapatkan pencahayaan alami yang cantik. Hasil fotonya biasanya jauh lebih maksimal dibanding malam hari.

Fasilitas dan Suasana

Selain makanan dan desain bangunannya, fasilitas yang tersedia juga membuat saya merasa nyaman berlama-lama di sini.

Beberapa fasilitas yang bisa kamu nikmati antara lain:

  • Area parkir yang cukup luas untuk mobil maupun motor.

  • Pilihan tempat duduk indoor dan outdoor.

  • Kapasitas bangku yang banyak sehingga cocok untuk rombongan.

  • Suasana cozy untuk ngobrol santai.

  • Cocok dijadikan tempat meeting informal.

  • Nyaman untuk work from café ringan.

  • Pelayanan yang ramah dan cepat.

  • Proses penyajian makanan relatif gak terlalu lama.

  • Pilihan menu sangat beragam.

  • Harga makanan mulai sekitar Rp9 ribuan sehingga bisa disesuaikan dengan budget.

  • Toilet yang bersih.

  • Musala untuk pengunjung.

  • Pembayaran non-tunai tersedia.

  • Lokasi mudah dijangkau dari pusat Kota Yogyakarta.

Yang saya perhatikan selama tiga kali berkunjung, suasananya memang berbeda tergantung waktu datang.

Saat saya datang pada malam hari di weekday, restoran cukup ramai, tetapi belum sampai penuh. Saya masih bebas memilih tempat duduk dan suasananya terasa lebih santai.

Sebaliknya, saat datang pada Minggu siang bersama keluarga, kondisinya jauh lebih ramai. 

Banyak keluarga yang makan bersama, anak-anak sekolah yang sedang janjian, pasangan muda, hingga rombongan teman. Menurut saya ini wajar karena bertepatan dengan hari libur dan jam makan siang.

Worth It atau Tidak?

Kalau ditanya apakah Joffi Ramen Pakualaman layak dikunjungi, jawaban saya tentu worth it.

Alasannya bukan hanya karena makanannya enak. Saya justru melihat restoran ini menawarkan paket yang lengkap.

Pertama, pilihan menu sangat beragam sehingga pengunjung punya banyak opsi.

Kedua, harga makanannya masih bersahabat sehingga cocok untuk berbagai kalangan.

Ketiga, konsep bangunan heritage yang dipadukan dengan sentuhan Jepang membuat pengalaman makan terasa berbeda dibanding restoran ramen lainnya.

Keempat, lokasinya strategis di kawasan Pakualaman sehingga mudah dijangkau.

Terakhir, suasananya nyaman untuk berbagai aktivitas. Mau datang bersama keluarga, teman, pasangan, bahkan sendirian pun tetap terasa menyenangkan.

FAQ

Apakah Joffi Ramen Pakualaman halal?

Ya. Joffi mengusung konsep 100% halal, sehingga cocok bagi pengunjung yang mencari ramen halal di Jogja.

Berapa harga Joffi Ramen?

Harga menu cukup terjangkau, mulai sekitar Rp13 ribuan untuk ramen original, sedangkan menu lain berkisar Rp20–30 ribuan. Side dish dan dessert bahkan tersedia mulai sekitar Rp9 ribuan.

Apakah cocok untuk work from café?

Cocok. Suasananya nyaman, tempat duduk cukup banyak, dan relatif tenang jika datang di luar jam makan siang.

Menu apa yang paling saya rekomendasikan?

Kalau suka pedas, saya merekomendasikan 

Ramen Mala. Sementara bagi yang ingin rasa lebih ringan, Curry Ramen juga layak dicoba.

Kapan waktu terbaik untuk berkunjung?

Kalau ingin suasana lebih santai, datanglah pada weekday di luar jam makan siang. Namun kalau ingin merasakan suasana yang lebih hidup, akhir pekan bisa menjadi pilihan.

Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang
Suasana tempat makan Jepang Jogja di Joffi Ramen Pakualaman saat jam makan siang (doc. Riana Dewie)


Lebih dari Semangkuk Ramen

Menurut saya, Joffi Ramen Pakualaman berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar menikmati semangkuk ramen. 

Konsep ramen halal Jogja dipadukan dengan bangunan heritage, dekorasi klasik, dan suasana yang nyaman membuat restoran ini punya karakter yang sulit dilupakan.

Jadi, kalau sedang mencari tempat makan Jepang Jogja, tempat nongkrong Pakualaman, atau sekadar ingin menikmati review ramen Jogja yang benar-benar berdasarkan pengalaman pribadi, saya rasa Joffi Ramen Pakualaman layak masuk dalam daftar tujuanmu.

Selamat menikmati semangkuk ramen hangat sambil merasakan suasana heritage yang khas. Siapa tahu, setelah sekali datang, kamu juga akan ingin kembali lagi seperti saya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan, dari Tiwul hingga Ubi Rebus

makanan khas Jawa kaya nutrisi dari bahan lokal

Pernah kepikir gak sih kalau makanan tradisional Jawa yang menyehatkan justru sudah ada sejak dulu, jauh sebelum tren makanan sehat bermunculan di media sosial? 

Saya sendiri baru benar-benar menyadarinya saat tanpa sengaja mengenang masa kecil bersama keluarga besar di rumah simbah.

Dulu, setiap liburan sekolah, saya senang menginap di rumah simbah yang berada di desa. Suasananya sederhana, halaman luas, dan dapurnya selalu sibuk sejak pagi. 

Yang menarik, makanan yang tersaji hampir semuanya merupakan makanan tradisional Jawa sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Oh ya, saya masih ingat aroma kelapa parut yang baru diparut setiap pagi dari dapur belakang rumah simbah. Wanginya khas banget dan sampai sekarang masih melekat di ingatan saya.

Di meja makan biasanya ada apem, singkong rebus, kacang rebus, atau tiwul hangat yang baru matang. Saat itu saya tentu gak memikirkan kandungan gizi atau manfaat kesehatannya. 

Yang penting enak dan bikin kenyang. Hihihihi....

Kalau dipikir sekarang, makanan-makanan tersebut termasuk makanan kampung yang sehat dan bergizi. Bahannya sederhana, minim proses, dan banyak menggunakan hasil kebun sendiri.

Bahkan banyak di antaranya yang termasuk kuliner jadul yang masih sehat dikonsumsi hingga saat ini.

Mungkin karena itulah banyak orang tua zaman dulu tetap aktif meski usia sudah tidak muda lagi.

Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul
Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul (doc. Riana Dewie)


Kulineran Bersama Keluarga yang Selalu Membawa Kenangan

Gak cuma bersama simbah, ibu saya juga masih sering menyiapkan berbagai menu tradisional hingga saya dewasa. 

Saat masih tinggal bersama orang tua, saya sering bangun pagi dan mendapati berbagai jajanan pasar sudah tersedia di meja makan.

Ada ketan, cenil, gethuk, hingga berbagai olahan ubi yang sederhana tetapi menggugah selera. 

Saya sih selalu senang kalau menemukan makanan tradisional di meja makan karena rasanya selalu menghadirkan nostalgia.

Oh ya, kebiasaan ibu membeli jajanan pasar ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Kadang tanpa bilang apa-apa, tiba-tiba sudah ada beberapa bungkus makanan tradisional di rumah.

Saat kami kulineran sekeluarga, ibu juga lebih sering memilih menu-menu lama yang mungkin kurang populer di kalangan anak muda saat ini. 

Saya sempat berpikir, mungkin ibu sedang bernostalgia dengan masakan yang dulu sering dibuat simbah.

Tak jarang ibu bercerita, "Dulu simbah kalau bikin bothok banyak sekali karena anak-anaknya juga banyak." Dari cerita sederhana seperti itu saya jadi tahu bahwa makanan tradisional memang punya nilai emosional yang kuat.

Suatu hari kami mencoba bothok lamtoro di sebuah warung sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ada sensasi renyah dari ikan teri. 

Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai banyak orang. Emang seenak ini ya makanan jadul?

Oh ya, setelah dewasa saya baru sadar kalau banyak menu tradisional ternyata termasuk kuliner Jawa berbahan alami yang minim bahan tambahan.

Menariknya lagi, banyak menu tersebut termasuk makanan tradisional rendah minyak karena diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Beberapa waktu lalu saya bahkan sempat membaca blog seorang Travel Blogger Medan yang juga bercerita suka berburu kuliner saat bepergian. 

Menurutnya, setiap daerah punya makanan khas yang layak dilestarikan.


5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan

1. Tiwul Sambal Bawang, Karbohidrat Tradisional Selain Nasi

makanan tradisional Jawa yang menyehatkan berupa tiwul sambal bawang
Makanan tradisional Jawa yang menyehatkan, yaitu tiwul sambal bawang (doc. Riana Dewie)

Tiwul merupakan makanan tradisional dari singkong yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahan utamanya berasal dari singkong yang dikeringkan lalu diolah menjadi butiran-butiran mirip nasi.

Saya sih suka tiwul karena teksturnya unik dan rasanya sedikit manis alami. Ketika dipadukan dengan tiwul sambal bawang, sensasinya jadi lebih nikmat.

Dari sisi kesehatan, tiwul termasuk karbohidrat tradisional selain nasi yang mengandung serat cukup tinggi. Karena itulah tiwul sering dianggap sebagai salah satu makanan tradisional kaya serat yang bisa membantu rasa kenyang lebih lama.

2. Bothok Lamtoro, Lauk Kukus Kaya Rasa

Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba
Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba (doc. Riana Dewie)

Bothok lamtoro merupakan salah satu olahan lamtoro khas Jawa yang cukup populer di berbagai daerah. Bahan utamanya berupa petai cina atau lamtoro yang dicampur kelapa parut dan bumbu rempah.

Biasanya ditambahkan ikan teri agar rasanya makin gurih. Setelah dibungkus daun pisang, bothok kemudian dikukus hingga matang.

Karena proses pembuatannya dikukus, makanan ini termasuk kategori makanan kukus dan rebus yang sehat. Kandungan serat dan protein nabatinya juga cukup baik untuk tubuh.

3. Sego Gudangan, Menu Tradisional Jawa untuk Hidup Sehat

ego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan
Sego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan (doc. Riana Dewie)

Sego gudangan berasal dari Jawa Tengah dan identik dengan berbagai sayuran rebus yang disajikan bersama nasi dan urap kelapa.

Isi sayurnya biasanya berupa kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan berbagai sayuran lain. Kombinasi sayur urap dan gudangan inilah yang membuat menu ini kaya vitamin dan mineral.

Oh ya, sego gudangan termasuk menu yang paling sering saya cari ketika sedang ingin makan makanan rumahan.

Menurut saya, sego gudangan merupakan contoh sempurna dari menu tradisional Jawa untuk hidup sehat. Rasanya enak, mengenyangkan, dan penuh nutrisi.

4. Apem Panggang, Camilan Tradisional yang Menyehatkan

apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa
Apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa (doc. Riana Dewie)

Kalau mendengar apem, saya langsung teringat suasana pasar tradisional di pagi hari. Apem panggang tradisional biasanya dibuat dari tepung beras, santan, dan sedikit gula.

Berbeda dengan banyak camilan modern, apem dipanggang sehingga gak membutuhkan banyak minyak. Karena itulah apem sering dianggap sebagai salah satu camilan tradisional yang menyehatkan.

Selain itu, apem juga termasuk jajanan pasar tradisional yang lebih alami karena umumnya dibuat tanpa bahan pengawet berlebihan.

5. Ubi Rebus, Sederhana Tapi Kaya Nutrisi

Di antara semua daftar ini, mungkin ubi rebus adalah yang paling sederhana. Namun jangan salah, manfaatnya cukup banyak.

Ubi rebus untuk kesehatan sering dikaitkan dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Rasanya manis alami sehingga cocok dijadikan camilan sehari-hari.

Bagi saya, ubi rebus adalah contoh nyata makanan sederhana khas Jawa yang bergizi. Murah, mudah ditemukan, dan tetap lezat.

Oh ya, sampai sekarang saya masih sering membeli ubi rebus saat menemukan penjualnya di pinggir jalan. Rasanya selalu berhasil membawa saya kembali ke masa kecil.


Mari Kembali Mengenal Kuliner Tradisional

Dari berbagai cerita dan pengalaman tadi, saya makin yakin bahwa makanan tradisional Jawa yang menyehatkan layak mendapatkan perhatian lebih. 

Mulai dari tiwul, bothok lamtoro, sego gudangan, apem panggang, hingga ubi rebus, semuanya memiliki keunggulan masing-masing.

Selain berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan, banyak di antaranya termasuk makanan khas Jawa kaya nutrisi yang sudah diwariskan turun-temurun. 

Hahahaha.... kadang kita sibuk mencari makanan sehat modern, padahal jawabannya sudah ada sejak zaman simbah dulu.

Jadi, untuk bisa makan lebih sehat, kita bisa mulai melirik kembali berbagai kuliner tradisional Jawa yang menyehatkan ini sesuai selera masing-masing. 


Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah
Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah (doc. Riana Dewie)

Ini cerita makanan jadul versi saya. Bagaimana dengan makanan jadul favoritmu? 

Siapa tahu bisa menjadi teman seru saat menikmati waktu santai atau bahkan menemani outdoor activity bersama keluarga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Berangkat Subuh Demi Sunrise, Saya Menemukan Pagi Terindah di Kopi Alam Merapi


Suasana pagi di Kopi Alam Merapi dengan kabut tipis dan udara dingin

Suatu hari, adik saya menunjukkan sebuah konten TikTok tentang Kopi Alam Merapi

Video itu menampilkan panorama pagi yang begitu cantik dengan latar belakang Gunung Merapi yang menjulang gagah. 

Kabut tipis menyelimuti area sekitar, sementara matahari perlahan muncul dari balik cakrawala. Setelah melihat videonya, saya langsung paham kenapa tempat ini begitu viral. 

Rasanya seperti tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang suka healing dan menikmati suasana alam.

Akhirnya, saat libur kerja tiba, kami sepakat untuk datang ke sana. Tujuannya sederhana, yaitu menikmati sunrise di Merapi sambil menyeruput minuman hangat di tengah udara pegunungan yang segar. 

Oh ya, saya memang termasuk orang yang gampang tergoda kalau melihat rekomendasi tempat wisata alam yang indah seperti ini.


Berawal dari TikTok hingga Rencana Berangkat Subuh

Jarak rumah kami menuju lokasi sekitar 1 jam 10 menit. Karena ingin mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa melihat matahari terbit dengan jelas, kami harus tiba sebelum pukul 05.00 pagi. 

Kalau dihitung-hitung, kendaraan sudah harus jalan sekitar pukul 03.45 dini hari. Masalahnya, apa gak masih ngantuk ya kalau harus berangkat jam segitu? 

Apalagi sebelumnya masih harus mandi, bersiap, dan memastikan semua perlengkapan sudah dibawa. Saya sih sudah membayangkan betapa beratnya membuka mata saat alarm berbunyi nanti.

Untungnya, adik ipar saya yang tinggal di daerah Ngaglik, Sleman, memberikan ide yang sangat membantu. 

Ia menyarankan agar kami menginap di rumahnya semalam sebelumnya. Dengan begitu, perjalanan subuh ke Merapi menjadi lebih ringan dan kami gak perlu bangun terlalu dini dari rumah.

Akhirnya rencana itu terealisasi. Kami sampai di rumah adik ipar sekitar pukul 23.00 malam dan langsung beristirahat. 

Jam 03.30 pagi alarm berbunyi, lalu kami bersiap-siap. Sekitar pukul 04.30 kami mulai perjalanan menuju lokasi, dan pukul 05.10 akhirnya sampai di area Kopi Alam Merapi Kaliurang.

Ngopi di kaki Gunung Merapi sambil melihat matahari terbit
Ngopi di kaki Gunung Merapi sambil melihat matahari terbit, dijepret saat pulang (doc. Riana Dewie)


Kedinginan di Tengah Kabut Pagi Merapi

Begitu turun dari kendaraan, saya langsung merasakan udara yang luar biasa dingin. Jujur saja, suhu pagi itu jauh lebih dingin dari yang saya bayangkan sebelumnya. 

Ketika sebagian besar pengunjung memakai celana panjang dan jaket tebal, saya justru datang memakai rok dan jaket jeans biasa.

Oh ya, saat itu saya langsung menyesal karena terlalu percaya diri. Hihihihi... ternyata udara dingin kaki Merapi memang gak bisa dianggap remeh.

Konon saat musim tertentu masyarakat Jawa mengenal istilah bediding

Bediding adalah kondisi ketika suhu malam hingga pagi terasa sangat dingin dan menusuk tulang, lalu berubah menjadi panas saat siang hari. 

Harusnya sih fenomena ini lebih sering muncul sekitar bulan Juli, tetapi pagi itu saya sudah merasakan sensasi yang mirip.

Ya, ternyata tempat yang viral ini memang memiliki view Merapi yang menawan. 

Suasana subuh di Kopi Alam Merapi dengan udara segar pegunungan
Suasana subuh di Kopi Alam Merapi dengan udara segar pegunungan (doc. Riana Dewie)


Gunung Merapi terlihat menjulang tinggi di kejauhan, meski saat itu masih tampak seperti siluet karena langit belum sepenuhnya terang. 

Bahkan warung Kopi Alam Merapi sendiri masih tutup. Saya hanya melihat petugas yang sedang menyapu halaman dan menata area sekitar.

Selama menunggu, kami menikmati suasana subuh yang tenang. Kabut pagi Merapi masih terlihat menggantung tipis. Udara segar benar-benar terasa berbeda dibandingkan udara perkotaan. 

Saya dan keluarga menghabiskan waktu dengan mengambil foto, merekam video, serta menikmati pemandangan Gunung Merapi yang perlahan mulai terlihat lebih jelas.

Oh ya, saya sampai mondar-mandir mencari titik yang lebih hangat karena badan sudah mulai gemetar. 

Entah berapa derajat suhu saat itu, saya malah gak sempat mengeceknya karena terlalu fokus menahan dingin.

Wisata pagi Merapi Jogja dengan view Merapi yang menawan
Wisata pagi Merapi Jogja dengan view Merapi yang menawan (doc. Riana Dewie)


Menikmati Sunrise dan Sarapan Hangat dengan View Merapi

Hari semakin terang. Perlahan, hawa dingin pegunungan mulai terkikis oleh hangatnya sinar matahari yang muncul dari balik langit timur. Inilah momen yang paling kami tunggu sejak berangkat dini hari.

Pengalaman menikmati sunrise sambil ngopi di Kopi Alam Merapi benar-benar sesuai ekspektasi. Cahaya keemasan menyinari lereng gunung dan menciptakan panorama gunung saat pagi hari yang luar biasa indah. Saya sih langsung paham kenapa tempat ini disebut sebagai salah satu destinasi sunrise favorit Jogja.

Oh ya, setelah udara mulai bersahabat, kami langsung membuat berbagai konten lucu dan berfoto di banyak sudut. Hahahaha... rasanya sayang kalau sudah jauh-jauh datang tetapi gak mengabadikan momen sebanyak mungkin.

Tak lama kemudian warung mulai buka. Para pedagang yang menitipkan makanan juga mulai berdatangan. Aneka aroma makanan hangat langsung menggoda perut yang sejak subuh belum terisi.

Menu Minuman Favorit di Kopi Alam Merapi

Pilihan minuman di sini cukup beragam, antara lain:

- Arabika Kalmer
- Arabika Susu Kalmer
- Robusta Kalmer
- Robusta Susu Kalmer
- Wedang Uwuh Kalmer
- Wedang Secang Kalmer
- Wedang Sereh Kalmer
- Jahe Susu Gula Aren
- Es Coklat Kalmer Gula Aren
- Es Degan
- Es Teh
- Es Jeruk
- Es Milo
- Susu Coklat

Jahe Merah Gula Aren hangat di Kopi Alam Merapi
Jahe Merah Gula Aren hangat di Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saya memilih Jahe Merah Gula Aren, sementara anggota keluarga lain memesan Arabika Kalmer, teh hangat, dan beberapa minuman lainnya. Menyeruput secangkir kopi hangat atau minuman jahe di tengah udara pegunungan memang punya sensasi tersendiri.

Menu Makanan yang Mengenyangkan

- Indomie Kuah Telur
- Indomie Kuah Tante
- Indomie Goreng Telur
- Indomie Goreng Tante
- Mendoan
- Pisang Goreng
- Kentang Goreng
- Cireng
- Nugget
- Dimsum
- Aneka sate-satean

Aneka makanan yang kami pesan di Kopi Alam Merapi
Aneka makanan yang kami pesan di Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saat itu kami memesan mie rebus telur, mendoan, dan pisang goreng. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan rasa gorengannya. 

Tepungnya crispy di luar tetapi tetap empuk di dalam. Bahkan saya jarang menemukan pisang goreng dengan karakter rasa seperti ini.

Dari segi harga juga cukup masuk kantong. Menurut saya pribadi, rasanya sebanding dengan yang dibayar. 

Pantas saja antrean warung terus mengular. Untung kami datang lebih awal sehingga gak perlu menunggu terlalu lama.


Fasilitas dan Alasan Kenapa Kopi Alam Merapi Layak Dikunjungi

Oh ya, pengunjung pertama pagi itu adalah rombongan kami. 

Namun perlahan tamu mulai berdatangan. Setelah pukul 06.30 pagi, hampir seluruh kursi sudah terisi penuh oleh wisatawan yang ingin berburu sunrise di Merapi.

Fasilitas yang tersedia juga cukup memadai untuk wisata pagi Merapi Jogja, di antaranya:

- Area parkir kendaraan yang cukup luas
- Mushola
- Kamar mandi
- Tempat duduk batu dan kayu
- Spot foto dengan latar Merapi
- Area santai untuk menikmati kopi di alam terbuka
- Warung makanan dan minuman

Wisatawan jeep Merapi singgah di Kopi Alam Merapi untuk berfoto
Wisatawan jeep Merapi singgah di Kopi Alam Merapi untuk berfoto (doc. Riana Dewie)


Menariknya lagi, lokasi ini juga sering menjadi tempat singgah wisatawan yang mengikuti jeep Merapi. 

Mereka biasanya berhenti sebentar untuk berfoto dengan background Merapi, yaitu Tebing Gendol Merapi yang indah sebelum melanjutkan perjalanan.

Oh ya, di sekitar lokasi juga terdapat beberapa cafe dengan pemandangan Merapi dan warung kopi lainnya. 

Jadi kalau suatu saat area utama penuh, masih ada banyak pilihan tempat ngopi dengan view Merapi yang bisa dicoba.

***

Bagi saya, sensasi ngopi di udara dingin kaki Gunung Merapi sambil menikmati udara segar pegunungan adalah pengalaman yang sulit dilupakan. 

Tempat terbaik menikmati matahari terbit di Merapi ini cocok untuk keluarga, pasangan, maupun teman-teman yang ingin mencari tempat healing di Jogja.

Antrean Panjang dan kendaraan yang memenuhi parkiran Kopi Alam Merapi
Antrean Panjang dan kendaraan yang memenuhi parkiran Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saat kami pulang, area parkir sudah jauh lebih padat dibandingkan ketika datang. Banyak wisatawan baru berdatangan untuk menikmati suasana pagi di Merapi dan mencoba berbagai kuliner yang tersedia.

Kalau kamu sedang mencari rekomendasi tempat ngopi sunrise di Jogja, Kopi Alam Merapi bisa masuk daftar tujuan berikutnya. 

Berburu sunrise di kaki Gunung Merapi Yogyakarta sambil menikmati kopi hangat di udara dingin ternyata memang memberikan pengalaman yang berbeda. Jadi, kapan kamu mau ke sini?



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Sensasi Ngopi di Tengah Hutan? Mampir ke Cafe Pinus Menoreh Yuk!

Cafe Pinus Menoreh dengan suasana hutan pinus sejuk di Kulon Progo

Kalau biasanya saya nongkrong di cafe dengan suasana perkotaan, kali ini pengalaman yang saya rasakan benar-benar beda. 

Saya menemukan tempat yang bikin pikiran adem sejak pertama datang, yaitu Cafe Pinus Menoreh. 

Cafe ini berada di kawasan perbukitan Menoreh yang terkenal punya udara dingin dan pemandangan hijau yang luas banget.

Begitu masuk area cafe, saya langsung dibuat takjub dengan jajaran pohon pinus yang menjulang tinggi di kanan kiri area. 

Suasananya tenang, sejuk, dan bikin hati rasanya ikut santai. Oh ya, saya datang ke sini pertama kali bersama family saat akhir pekan dan ternyata tempatnya memang senyaman itu buat quality time.

Cafe Pinus Menoreh termasuk salah satu cafe hutan di Jogja yang sekarang cukup sering dibicarakan wisatawan. Gimana gak menarik, konsepnya benar-benar menyatu dengan alam. 

Jadi saat duduk sambil sruput secangkir kopi atau menikmati makanan hangat, kita bisa langsung melihat hijaunya pepohonan dan kabut tipis khas perbukitan Menoreh.

Saya pribadi sih langsung merasa tempat ini cocok banget buat healing. Apalagi suasana ademnya benar-benar beda dibanding cafe di tengah kota. 

Hihihihi... rasanya pengin duduk lama sambil menikmati udara segar tanpa buru-buru pulang.


Cafe Pinus Menoreh, Tempat Nongkrong Adem di Tengah Alam

Cafe Pinus Menoreh Jogja berada di kawasan wisata Menoreh yang memang terkenal punya banyak destinasi alam menarik. 

Lokasinya juga gak terlalu jauh dari beberapa tempat wisata populer seperti Tumpeng Menoreh, Sungai Mudal, Desa Wisata Nglinggo, sampai Menoreh Dreamland.

Oh ya, hal pertama yang saya rasakan saat tiba di area cafe adalah suasananya yang benar-benar tenang. Udara sejuk Kulon Progo langsung terasa bahkan sejak turun dari kendaraan. 

Pohon-pohon pinus tinggi membuat area cafe terasa teduh dan nyaman untuk nongkrong lama.

Hutan pinus yang mengelilingi Cafe Pinus Menoreh
Hutan pinus yang mengelilingi Cafe Pinus Menoreh (doc. Riana Dewie)


Cafe Pinus Menoreh cocok banget buat kamu yang sedang mencari tempat healing di Jogja. Saya sendiri datang kedua kalinya bersama anak lanang setelah meeting dengan klien di area Jogja Barat. 

Nah, sekalian healing kan? Dan ternyata memang jadi pengalaman yang menyenangkan.

Konsep outdoor yang dipadukan dengan hutan pinus Menoreh membuat tempat ini terasa unik. Saya bahkan sempat beberapa kali berhenti cuma untuk menikmati suasana sekitar. 

Kalau sore mulai datang, hawa dinginnya makin terasa dan bikin suasana makin romantis.

Buat saya sih, Cafe Pinus Menoreh terbaru ini punya daya tarik yang sederhana tapi ngena. Gak perlu dekorasi berlebihan karena alamnya sendiri sudah cantik banget.


Perjalanan Menuju Cafe Pinus Menoreh yang Penuh Pemandangan Hijau

Perjalanan menuju Cafe Pinus Menoreh Kulon Progo menurut saya justru jadi bagian paling seru. 

Akses jalannya cukup mudah walaupun harus melewati jalan naik turun dan beberapa tikungan khas perbukitan.

Sepanjang perjalanan, mata benar-benar dimanjakan dengan view pegunungan Jogja yang hijau dan luas. 

Area perbukitan Menoreh memang terkenal dengan terasering sawahnya yang indah. Jadi walaupun perjalanan sekitar satu jam dari rumah, rasanya sama sekali gak membosankan.

Oh ya, sepanjang perjalanan kami justru full ngobrol di mobil, bercanda, nyanyi-nyanyi, sampai gak terasa tahu-tahu sudah masuk area hutan pinus. 

Hahahaha... kadang perjalanan menyenangkan memang bikin waktu terasa cepat ya.

Saya suka banget melihat perpaduan antara bukit hijau, udara dingin, dan suasana pedesaan yang masih asri. 

Menurut saya, wisata Menoreh memang punya daya tarik tersendiri dibanding kawasan lain di Jogja.

Area nongkrong nyaman di cafe hutan di Jogja kawasan Menoreh
Area nongkrong nyaman di cafe hutan di Jogja kawasan Menoreh (doc. Riana Dewie)


Tips Datang ke Cafe Pinus Menoreh

Kalau menurut pengalaman saya, waktu terbaik datang ke Cafe Pinus Menoreh view alam ini sekitar jam 3 sore. Cahaya matahari mulai redup dan suasananya berubah jadi lebih adem menuju golden hour.

Oh ya, setelah sore menjelang malam, lampu-lampu temaram di area cafe mulai menyala dan suasananya makin cantik. Jadi kamu bisa menikmati dua suasana sekaligus, yaitu view sore dan suasana malam yang hangat.

Pastikan kendaraan dalam kondisi baik karena jalannya cukup menanjak di beberapa titik. Dan jangan lupa bawa jaket karena udara di kawasan ini lumayan dingin, apalagi saat malam hari.


Menikmati Hidangan Hangat di Tengah Hutan Sejuk

Salah satu hal yang paling saya suka dari Cafe Pinus Menoreh tengah hutan tentu saja sensasi ngopi atau makan sambil menikmati alam terbuka. 

Bayangin aja, duduk di bawah pohon pinus sambil menikmati kopi hangat dengan udara dingin khas pegunungan. Rasanya benar-benar nyaman.

Suasana sore di Cafe Pinus Menoreh tengah hutan pinus
Suasana sore di Cafe Pinus Menoreh tengah hutan pinus (doc. Riana Dewie)


Cafe Pinus Menoreh menu makanan juga cukup lengkap. Untuk pilihan kopi ada Espresso, Americano, Coffee Latte, kopi tubruk, dan beberapa menu kopi lainnya. 

Sedangkan minuman non kopi tersedia teh nasgitel, jeruk nipis, lychee tea, milky vanilla, milky coklat, wedang uwuh, wedang jahe, sampai aneka jus buah.

Untuk makanan utama, pilihannya juga banyak banget. Ada Ayam Bakar Pinus Menoreh, Ayam Krib Sambal Matah, Ayam Geprek Pinus Menoreh, Beef Teriyaki, Sego Endog, Sop Ayam, Nasi Goreng Pinus Menoreh, bakmi jawa, hingga aneka mie instan hangat.

Camilannya juga menggoda. Mulai dari mendoan, rondo royal, bakwan jagung, pisang goreng, tahu bakso, dimsum, sampai Martabak Pinus Menoreh.

Oh ya, yang bikin saya senang adalah Cafe Pinus Menoreh harga menu menurut saya masih cukup ramah di kantong. 

Jadi gak heran kalau tempat ini sering dijadikan tempat santai keluarga maupun nongkrong bersama teman.

Menu yang Cocok Dinikmati Saat Udara Dingin

Saat udara mulai dingin, saya biasanya memilih kopi hangat atau wedang jahe. Dipadukan dengan gorengan hangat dan mie rebus, rasanya benar-benar cocok banget.

Kalau kamu suka makanan rumahan, menu seperti sop ayam dan bakmi jawa juga wajib dicoba sih. Hangatnya pas banget buat menemani suasana malam di tengah hutan pinus.

Cobain Mirror selfie di Cafe Pinus Menoreh
Cobain Mirror selfie di Cafe Pinus Menoreh (doc. Riana Dewie)


Spot Foto dan Suasana yang Bikin Betah

Selain terkenal sebagai wisata kuliner Menoreh, Cafe Pinus Menoreh instagramable juga punya banyak spot foto menarik. 

Mulai dari area outdoor cafe, mirror selfie, sampai area duduk kayu dengan view lembah hijau.

Konsepnya memang lebih ke cafe aesthetic alam sehingga hampir semua sudut terlihat cantik untuk difoto. 

Saya sendiri beberapa kali berhenti cuma buat mengambil foto karena suasananya memang seindah itu.

Area Favorit Pengunjung

Beberapa area favorit pengunjung di antaranya spot dekat pohon pinus, area outdoor dengan view lembah, dan tempat duduk kayu aesthetic yang menghadap langsung ke alam terbuka.

Kalau sore hari, suasananya makin cantik karena muncul kabut tipis dan cahaya matahari mulai hangat. Momen sunset di Menoreh memang salah satu yang paling ditunggu pengunjung.

Oh ya, buat yang suka ngopi di tengah alam, area outdoor cafe ini benar-benar nyaman banget. Suasananya adem dan tenang sehingga bikin betah duduk lama sambil ngobrol santai.


Kenapa Cafe Pinus Menoreh Layak Masuk Wishlist Wisata Kulon Progo?

Menurut saya, Cafe Pinus Menoreh review-nya memang layak bagus karena tempat ini bukan cuma sekadar cafe biasa. 

Perpaduan antara wisata alam dan kuliner membuat pengalaman nongkrong jadi jauh lebih berkesan.

Cafe ini cocok untuk keluarga, pasangan, sampai teman kantor yang ingin santai bersama. 

Fasilitasnya juga lengkap mulai dari area indoor dan outdoor, mushola, toilet, parkiran, WiFi, camping area, glamping, jeep wisata, area outbound, sampai spot sunset dan sunrise.

Bahkan ada area hutan pinus untuk jalan santai dan healing. Jadi pengunjung gak cuma datang untuk makan, tapi juga menikmati suasana alam yang menenangkan.


Pemandangan sunset cantik dari Cafe Pinus Menoreh Jogja
Pemandangan sunset cantik dari Cafe Pinus Menoreh Jogja 


Saya pribadi sih merasa Cafe Pinus Menoreh cocok banget masuk daftar cafe hidden gem Jogja yang wajib dikunjungi. Tempatnya nyaman, view hijau, makanannya enak, dan suasananya bikin rileks.

Pokoknya buat kamu yang pingin menikmati menu cafe di tengah hutan pinus, boleh banget mampir ke sini. 

Ajak keluarga, sahabat, pasangan, atau siapapun yang kamu sayang, pasti suasananya akan terasa berbeda. 

Kadang memang yang kita butuhkan cuma duduk santai di tengah alam sambil menikmati makanan hangat dan udara segar. 

Dan menurut saya, Cafe Pinus Menoreh berhasil menghadirkan pengalaman itu dengan cara yang sederhana tapi ngangenin.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments