Showing posts with label Culinary Journey. Show all posts
Showing posts with label Culinary Journey. Show all posts

In Culinary Journey

Berangkat Subuh Demi Sunrise, Saya Menemukan Pagi Terindah di Kopi Alam Merapi


Suasana pagi di Kopi Alam Merapi dengan kabut tipis dan udara dingin

Suatu hari, adik saya menunjukkan sebuah konten TikTok tentang Kopi Alam Merapi

Video itu menampilkan panorama pagi yang begitu cantik dengan latar belakang Gunung Merapi yang menjulang gagah. 

Kabut tipis menyelimuti area sekitar, sementara matahari perlahan muncul dari balik cakrawala. Setelah melihat videonya, saya langsung paham kenapa tempat ini begitu viral. 

Rasanya seperti tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang suka healing dan menikmati suasana alam.

Akhirnya, saat libur kerja tiba, kami sepakat untuk datang ke sana. Tujuannya sederhana, yaitu menikmati sunrise di Merapi sambil menyeruput minuman hangat di tengah udara pegunungan yang segar. 

Oh ya, saya memang termasuk orang yang gampang tergoda kalau melihat rekomendasi tempat wisata alam yang indah seperti ini.


Berawal dari TikTok hingga Rencana Berangkat Subuh

Jarak rumah kami menuju lokasi sekitar 1 jam 10 menit. Karena ingin mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa melihat matahari terbit dengan jelas, kami harus tiba sebelum pukul 05.00 pagi. 

Kalau dihitung-hitung, kendaraan sudah harus jalan sekitar pukul 03.45 dini hari. Masalahnya, apa gak masih ngantuk ya kalau harus berangkat jam segitu? 

Apalagi sebelumnya masih harus mandi, bersiap, dan memastikan semua perlengkapan sudah dibawa. Saya sih sudah membayangkan betapa beratnya membuka mata saat alarm berbunyi nanti.

Untungnya, adik ipar saya yang tinggal di daerah Ngaglik, Sleman, memberikan ide yang sangat membantu. 

Ia menyarankan agar kami menginap di rumahnya semalam sebelumnya. Dengan begitu, perjalanan subuh ke Merapi menjadi lebih ringan dan kami gak perlu bangun terlalu dini dari rumah.

Akhirnya rencana itu terealisasi. Kami sampai di rumah adik ipar sekitar pukul 23.00 malam dan langsung beristirahat. 

Jam 03.30 pagi alarm berbunyi, lalu kami bersiap-siap. Sekitar pukul 04.30 kami mulai perjalanan menuju lokasi, dan pukul 05.10 akhirnya sampai di area Kopi Alam Merapi Kaliurang.

Ngopi di kaki Gunung Merapi sambil melihat matahari terbit
Ngopi di kaki Gunung Merapi sambil melihat matahari terbit, dijepret saat pulang (doc. Riana Dewie)


Kedinginan di Tengah Kabut Pagi Merapi

Begitu turun dari kendaraan, saya langsung merasakan udara yang luar biasa dingin. Jujur saja, suhu pagi itu jauh lebih dingin dari yang saya bayangkan sebelumnya. 

Ketika sebagian besar pengunjung memakai celana panjang dan jaket tebal, saya justru datang memakai rok dan jaket jeans biasa.

Oh ya, saat itu saya langsung menyesal karena terlalu percaya diri. Hihihihi... ternyata udara dingin kaki Merapi memang gak bisa dianggap remeh.

Konon saat musim tertentu masyarakat Jawa mengenal istilah bediding

Bediding adalah kondisi ketika suhu malam hingga pagi terasa sangat dingin dan menusuk tulang, lalu berubah menjadi panas saat siang hari. 

Harusnya sih fenomena ini lebih sering muncul sekitar bulan Juli, tetapi pagi itu saya sudah merasakan sensasi yang mirip.

Ya, ternyata tempat yang viral ini memang memiliki view Merapi yang menawan. 

Suasana subuh di Kopi Alam Merapi dengan udara segar pegunungan
Suasana subuh di Kopi Alam Merapi dengan udara segar pegunungan (doc. Riana Dewie)


Gunung Merapi terlihat menjulang tinggi di kejauhan, meski saat itu masih tampak seperti siluet karena langit belum sepenuhnya terang. 

Bahkan warung Kopi Alam Merapi sendiri masih tutup. Saya hanya melihat petugas yang sedang menyapu halaman dan menata area sekitar.

Selama menunggu, kami menikmati suasana subuh yang tenang. Kabut pagi Merapi masih terlihat menggantung tipis. Udara segar benar-benar terasa berbeda dibandingkan udara perkotaan. 

Saya dan keluarga menghabiskan waktu dengan mengambil foto, merekam video, serta menikmati pemandangan Gunung Merapi yang perlahan mulai terlihat lebih jelas.

Oh ya, saya sampai mondar-mandir mencari titik yang lebih hangat karena badan sudah mulai gemetar. 

Entah berapa derajat suhu saat itu, saya malah gak sempat mengeceknya karena terlalu fokus menahan dingin.

Wisata pagi Merapi Jogja dengan view Merapi yang menawan
Wisata pagi Merapi Jogja dengan view Merapi yang menawan (doc. Riana Dewie)


Menikmati Sunrise dan Sarapan Hangat dengan View Merapi

Hari semakin terang. Perlahan, hawa dingin pegunungan mulai terkikis oleh hangatnya sinar matahari yang muncul dari balik langit timur. Inilah momen yang paling kami tunggu sejak berangkat dini hari.

Pengalaman menikmati sunrise sambil ngopi di Kopi Alam Merapi benar-benar sesuai ekspektasi. Cahaya keemasan menyinari lereng gunung dan menciptakan panorama gunung saat pagi hari yang luar biasa indah. Saya sih langsung paham kenapa tempat ini disebut sebagai salah satu destinasi sunrise favorit Jogja.

Oh ya, setelah udara mulai bersahabat, kami langsung membuat berbagai konten lucu dan berfoto di banyak sudut. Hahahaha... rasanya sayang kalau sudah jauh-jauh datang tetapi gak mengabadikan momen sebanyak mungkin.

Tak lama kemudian warung mulai buka. Para pedagang yang menitipkan makanan juga mulai berdatangan. Aneka aroma makanan hangat langsung menggoda perut yang sejak subuh belum terisi.

Menu Minuman Favorit di Kopi Alam Merapi

Pilihan minuman di sini cukup beragam, antara lain:

- Arabika Kalmer
- Arabika Susu Kalmer
- Robusta Kalmer
- Robusta Susu Kalmer
- Wedang Uwuh Kalmer
- Wedang Secang Kalmer
- Wedang Sereh Kalmer
- Jahe Susu Gula Aren
- Es Coklat Kalmer Gula Aren
- Es Degan
- Es Teh
- Es Jeruk
- Es Milo
- Susu Coklat

Jahe Merah Gula Aren hangat di Kopi Alam Merapi
Jahe Merah Gula Aren hangat di Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saya memilih Jahe Merah Gula Aren, sementara anggota keluarga lain memesan Arabika Kalmer, teh hangat, dan beberapa minuman lainnya. Menyeruput secangkir kopi hangat atau minuman jahe di tengah udara pegunungan memang punya sensasi tersendiri.

Menu Makanan yang Mengenyangkan

- Indomie Kuah Telur
- Indomie Kuah Tante
- Indomie Goreng Telur
- Indomie Goreng Tante
- Mendoan
- Pisang Goreng
- Kentang Goreng
- Cireng
- Nugget
- Dimsum
- Aneka sate-satean

Aneka makanan yang kami pesan di Kopi Alam Merapi
Aneka makanan yang kami pesan di Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saat itu kami memesan mie rebus telur, mendoan, dan pisang goreng. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan rasa gorengannya. 

Tepungnya crispy di luar tetapi tetap empuk di dalam. Bahkan saya jarang menemukan pisang goreng dengan karakter rasa seperti ini.

Dari segi harga juga cukup masuk kantong. Menurut saya pribadi, rasanya sebanding dengan yang dibayar. 

Pantas saja antrean warung terus mengular. Untung kami datang lebih awal sehingga gak perlu menunggu terlalu lama.


Fasilitas dan Alasan Kenapa Kopi Alam Merapi Layak Dikunjungi

Oh ya, pengunjung pertama pagi itu adalah rombongan kami. 

Namun perlahan tamu mulai berdatangan. Setelah pukul 06.30 pagi, hampir seluruh kursi sudah terisi penuh oleh wisatawan yang ingin berburu sunrise di Merapi.

Fasilitas yang tersedia juga cukup memadai untuk wisata pagi Merapi Jogja, di antaranya:

- Area parkir kendaraan yang cukup luas
- Mushola
- Kamar mandi
- Tempat duduk batu dan kayu
- Spot foto dengan latar Merapi
- Area santai untuk menikmati kopi di alam terbuka
- Warung makanan dan minuman

Wisatawan jeep Merapi singgah di Kopi Alam Merapi untuk berfoto
Wisatawan jeep Merapi singgah di Kopi Alam Merapi untuk berfoto (doc. Riana Dewie)


Menariknya lagi, lokasi ini juga sering menjadi tempat singgah wisatawan yang mengikuti jeep Merapi. 

Mereka biasanya berhenti sebentar untuk berfoto dengan background Merapi, yaitu Tebing Gendol Merapi yang indah sebelum melanjutkan perjalanan.

Oh ya, di sekitar lokasi juga terdapat beberapa cafe dengan pemandangan Merapi dan warung kopi lainnya. 

Jadi kalau suatu saat area utama penuh, masih ada banyak pilihan tempat ngopi dengan view Merapi yang bisa dicoba.

***

Bagi saya, sensasi ngopi di udara dingin kaki Gunung Merapi sambil menikmati udara segar pegunungan adalah pengalaman yang sulit dilupakan. 

Tempat terbaik menikmati matahari terbit di Merapi ini cocok untuk keluarga, pasangan, maupun teman-teman yang ingin mencari tempat healing di Jogja.

Antrean Panjang dan kendaraan yang memenuhi parkiran Kopi Alam Merapi
Antrean Panjang dan kendaraan yang memenuhi parkiran Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saat kami pulang, area parkir sudah jauh lebih padat dibandingkan ketika datang. Banyak wisatawan baru berdatangan untuk menikmati suasana pagi di Merapi dan mencoba berbagai kuliner yang tersedia.

Kalau kamu sedang mencari rekomendasi tempat ngopi sunrise di Jogja, Kopi Alam Merapi bisa masuk daftar tujuan berikutnya. 

Berburu sunrise di kaki Gunung Merapi Yogyakarta sambil menikmati kopi hangat di udara dingin ternyata memang memberikan pengalaman yang berbeda. Jadi, kapan kamu mau ke sini?



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Sensasi Ngopi di Tengah Hutan? Mampir ke Cafe Pinus Menoreh Yuk!

Cafe Pinus Menoreh dengan suasana hutan pinus sejuk di Kulon Progo

Kalau biasanya saya nongkrong di cafe dengan suasana perkotaan, kali ini pengalaman yang saya rasakan benar-benar beda. 

Saya menemukan tempat yang bikin pikiran adem sejak pertama datang, yaitu Cafe Pinus Menoreh. 

Cafe ini berada di kawasan perbukitan Menoreh yang terkenal punya udara dingin dan pemandangan hijau yang luas banget.

Begitu masuk area cafe, saya langsung dibuat takjub dengan jajaran pohon pinus yang menjulang tinggi di kanan kiri area. 

Suasananya tenang, sejuk, dan bikin hati rasanya ikut santai. Oh ya, saya datang ke sini pertama kali bersama family saat akhir pekan dan ternyata tempatnya memang senyaman itu buat quality time.

Cafe Pinus Menoreh termasuk salah satu cafe hutan di Jogja yang sekarang cukup sering dibicarakan wisatawan. Gimana gak menarik, konsepnya benar-benar menyatu dengan alam. 

Jadi saat duduk sambil sruput secangkir kopi atau menikmati makanan hangat, kita bisa langsung melihat hijaunya pepohonan dan kabut tipis khas perbukitan Menoreh.

Saya pribadi sih langsung merasa tempat ini cocok banget buat healing. Apalagi suasana ademnya benar-benar beda dibanding cafe di tengah kota. 

Hihihihi... rasanya pengin duduk lama sambil menikmati udara segar tanpa buru-buru pulang.


Cafe Pinus Menoreh, Tempat Nongkrong Adem di Tengah Alam

Cafe Pinus Menoreh Jogja berada di kawasan wisata Menoreh yang memang terkenal punya banyak destinasi alam menarik. 

Lokasinya juga gak terlalu jauh dari beberapa tempat wisata populer seperti Tumpeng Menoreh, Sungai Mudal, Desa Wisata Nglinggo, sampai Menoreh Dreamland.

Oh ya, hal pertama yang saya rasakan saat tiba di area cafe adalah suasananya yang benar-benar tenang. Udara sejuk Kulon Progo langsung terasa bahkan sejak turun dari kendaraan. 

Pohon-pohon pinus tinggi membuat area cafe terasa teduh dan nyaman untuk nongkrong lama.

Hutan pinus yang mengelilingi Cafe Pinus Menoreh
Hutan pinus yang mengelilingi Cafe Pinus Menoreh (doc. Riana Dewie)


Cafe Pinus Menoreh cocok banget buat kamu yang sedang mencari tempat healing di Jogja. Saya sendiri datang kedua kalinya bersama anak lanang setelah meeting dengan klien di area Jogja Barat. 

Nah, sekalian healing kan? Dan ternyata memang jadi pengalaman yang menyenangkan.

Konsep outdoor yang dipadukan dengan hutan pinus Menoreh membuat tempat ini terasa unik. Saya bahkan sempat beberapa kali berhenti cuma untuk menikmati suasana sekitar. 

Kalau sore mulai datang, hawa dinginnya makin terasa dan bikin suasana makin romantis.

Buat saya sih, Cafe Pinus Menoreh terbaru ini punya daya tarik yang sederhana tapi ngena. Gak perlu dekorasi berlebihan karena alamnya sendiri sudah cantik banget.


Perjalanan Menuju Cafe Pinus Menoreh yang Penuh Pemandangan Hijau

Perjalanan menuju Cafe Pinus Menoreh Kulon Progo menurut saya justru jadi bagian paling seru. 

Akses jalannya cukup mudah walaupun harus melewati jalan naik turun dan beberapa tikungan khas perbukitan.

Sepanjang perjalanan, mata benar-benar dimanjakan dengan view pegunungan Jogja yang hijau dan luas. 

Area perbukitan Menoreh memang terkenal dengan terasering sawahnya yang indah. Jadi walaupun perjalanan sekitar satu jam dari rumah, rasanya sama sekali gak membosankan.

Oh ya, sepanjang perjalanan kami justru full ngobrol di mobil, bercanda, nyanyi-nyanyi, sampai gak terasa tahu-tahu sudah masuk area hutan pinus. 

Hahahaha... kadang perjalanan menyenangkan memang bikin waktu terasa cepat ya.

Saya suka banget melihat perpaduan antara bukit hijau, udara dingin, dan suasana pedesaan yang masih asri. 

Menurut saya, wisata Menoreh memang punya daya tarik tersendiri dibanding kawasan lain di Jogja.

Area nongkrong nyaman di cafe hutan di Jogja kawasan Menoreh
Area nongkrong nyaman di cafe hutan di Jogja kawasan Menoreh (doc. Riana Dewie)


Tips Datang ke Cafe Pinus Menoreh

Kalau menurut pengalaman saya, waktu terbaik datang ke Cafe Pinus Menoreh view alam ini sekitar jam 3 sore. Cahaya matahari mulai redup dan suasananya berubah jadi lebih adem menuju golden hour.

Oh ya, setelah sore menjelang malam, lampu-lampu temaram di area cafe mulai menyala dan suasananya makin cantik. Jadi kamu bisa menikmati dua suasana sekaligus, yaitu view sore dan suasana malam yang hangat.

Pastikan kendaraan dalam kondisi baik karena jalannya cukup menanjak di beberapa titik. Dan jangan lupa bawa jaket karena udara di kawasan ini lumayan dingin, apalagi saat malam hari.


Menikmati Hidangan Hangat di Tengah Hutan Sejuk

Salah satu hal yang paling saya suka dari Cafe Pinus Menoreh tengah hutan tentu saja sensasi ngopi atau makan sambil menikmati alam terbuka. 

Bayangin aja, duduk di bawah pohon pinus sambil menikmati kopi hangat dengan udara dingin khas pegunungan. Rasanya benar-benar nyaman.

Suasana sore di Cafe Pinus Menoreh tengah hutan pinus
Suasana sore di Cafe Pinus Menoreh tengah hutan pinus (doc. Riana Dewie)


Cafe Pinus Menoreh menu makanan juga cukup lengkap. Untuk pilihan kopi ada Espresso, Americano, Coffee Latte, kopi tubruk, dan beberapa menu kopi lainnya. 

Sedangkan minuman non kopi tersedia teh nasgitel, jeruk nipis, lychee tea, milky vanilla, milky coklat, wedang uwuh, wedang jahe, sampai aneka jus buah.

Untuk makanan utama, pilihannya juga banyak banget. Ada Ayam Bakar Pinus Menoreh, Ayam Krib Sambal Matah, Ayam Geprek Pinus Menoreh, Beef Teriyaki, Sego Endog, Sop Ayam, Nasi Goreng Pinus Menoreh, bakmi jawa, hingga aneka mie instan hangat.

Camilannya juga menggoda. Mulai dari mendoan, rondo royal, bakwan jagung, pisang goreng, tahu bakso, dimsum, sampai Martabak Pinus Menoreh.

Oh ya, yang bikin saya senang adalah Cafe Pinus Menoreh harga menu menurut saya masih cukup ramah di kantong. 

Jadi gak heran kalau tempat ini sering dijadikan tempat santai keluarga maupun nongkrong bersama teman.

Menu yang Cocok Dinikmati Saat Udara Dingin

Saat udara mulai dingin, saya biasanya memilih kopi hangat atau wedang jahe. Dipadukan dengan gorengan hangat dan mie rebus, rasanya benar-benar cocok banget.

Kalau kamu suka makanan rumahan, menu seperti sop ayam dan bakmi jawa juga wajib dicoba sih. Hangatnya pas banget buat menemani suasana malam di tengah hutan pinus.

Cobain Mirror selfie di Cafe Pinus Menoreh
Cobain Mirror selfie di Cafe Pinus Menoreh (doc. Riana Dewie)


Spot Foto dan Suasana yang Bikin Betah

Selain terkenal sebagai wisata kuliner Menoreh, Cafe Pinus Menoreh instagramable juga punya banyak spot foto menarik. 

Mulai dari area outdoor cafe, mirror selfie, sampai area duduk kayu dengan view lembah hijau.

Konsepnya memang lebih ke cafe aesthetic alam sehingga hampir semua sudut terlihat cantik untuk difoto. 

Saya sendiri beberapa kali berhenti cuma buat mengambil foto karena suasananya memang seindah itu.

Area Favorit Pengunjung

Beberapa area favorit pengunjung di antaranya spot dekat pohon pinus, area outdoor dengan view lembah, dan tempat duduk kayu aesthetic yang menghadap langsung ke alam terbuka.

Kalau sore hari, suasananya makin cantik karena muncul kabut tipis dan cahaya matahari mulai hangat. Momen sunset di Menoreh memang salah satu yang paling ditunggu pengunjung.

Oh ya, buat yang suka ngopi di tengah alam, area outdoor cafe ini benar-benar nyaman banget. Suasananya adem dan tenang sehingga bikin betah duduk lama sambil ngobrol santai.


Kenapa Cafe Pinus Menoreh Layak Masuk Wishlist Wisata Kulon Progo?

Menurut saya, Cafe Pinus Menoreh review-nya memang layak bagus karena tempat ini bukan cuma sekadar cafe biasa. 

Perpaduan antara wisata alam dan kuliner membuat pengalaman nongkrong jadi jauh lebih berkesan.

Cafe ini cocok untuk keluarga, pasangan, sampai teman kantor yang ingin santai bersama. 

Fasilitasnya juga lengkap mulai dari area indoor dan outdoor, mushola, toilet, parkiran, WiFi, camping area, glamping, jeep wisata, area outbound, sampai spot sunset dan sunrise.

Bahkan ada area hutan pinus untuk jalan santai dan healing. Jadi pengunjung gak cuma datang untuk makan, tapi juga menikmati suasana alam yang menenangkan.


Pemandangan sunset cantik dari Cafe Pinus Menoreh Jogja
Pemandangan sunset cantik dari Cafe Pinus Menoreh Jogja 


Saya pribadi sih merasa Cafe Pinus Menoreh cocok banget masuk daftar cafe hidden gem Jogja yang wajib dikunjungi. Tempatnya nyaman, view hijau, makanannya enak, dan suasananya bikin rileks.

Pokoknya buat kamu yang pingin menikmati menu cafe di tengah hutan pinus, boleh banget mampir ke sini. 

Ajak keluarga, sahabat, pasangan, atau siapapun yang kamu sayang, pasti suasananya akan terasa berbeda. 

Kadang memang yang kita butuhkan cuma duduk santai di tengah alam sambil menikmati makanan hangat dan udara segar. 

Dan menurut saya, Cafe Pinus Menoreh berhasil menghadirkan pengalaman itu dengan cara yang sederhana tapi ngangenin.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

The Heaven Wonosobo: Cafe Viral View Telaga Menjer yang sering "Waiting List"

Area outdoor The Heaven Wonosobo dengan panorama pegunungan
Area outdoor The Heaven Wonosobo dengan panorama pegunungan (doc. Riana Dewie)
 

Kalau ngomongin cafe viral di Wonosobo, saya rasa nama The Heaven Wonosobo memang sudah masuk daftar tempat yang paling sering muncul di media sosial. 

Mulai dari TikTok, Instagram, sampai FYP wisata kuliner, tempat ini hampir selalu lewat di beranda saya. Hihihihi… 

Awalnya saya kira ini cuma tempat yang viral sesaat aja, tapi ternyata setelah datang langsung, saya baru ngerti kenapa banyak orang rela antre panjang demi bisa nongkrong di sini.

The Heaven Wonosobo memang punya daya tarik yang beda. Lokasinya ada di area perbukitan dengan suasana sejuk khas pegunungan. 

Begitu pertama datang, saya langsung merasa seperti masuk ke dunia impian yang serba cantik. Dominasi warna putih bersih dipadukan sentuhan vintage membuat suasana cafe ini terasa elegan tapi tetap nyaman.

Oh ya, saya datang ke sini pas tanggal 10 Mei 2026 sekitar jam 14.00 WIB dan suasananya sudah cukup ramai. 

Bahkan area parkir juga lumayan penuh. Dannnn...harus masuk waiting list, dan untungnya gak lama waktu itu. 

Dari awal masuk aja sudah terasa kalau tempat nongkrong hits ini memang lagi naik daun banget.

Selain terkenal sebagai cafe instagramable Wonosobo, The Heaven Telaga Menjer juga dikenal punya panorama alam yang bikin mata susah berkedip. 

Gak heran kalau tempat ini akhirnya jadi hidden gem Wonosobo yang ramai dibicarakan wisatawan.

The Heaven glamping Wonosobo dengan suasana pegunungan sejuk
The Heaven glamping Wonosobo dengan suasana pegunungan sejuk (doc. Riana Dewie)


The Heaven Wonosobo: Wish List Sejak Lama

Jujur aja, The Heaven ini memang salah satu wish list saya sejak lama. Apalagi setelah diiming-imingi adek saya yang bilang kalau ada cafe premium dengan view indah banget di Wonosobo. 

Dari situ saya langsung penasaran sih, emang sebagus apa sampai banyak orang rela datang jauh-jauh?

Awalnya saya tahu The Heaven Wonosobo viral dari TikTok. Banyak video yang memperlihatkan pemandangan Telaga Menjer dari atas bukit dengan suasana cafe yang adem dan estetik. 

Ditambah lagi desain bangunannya yang cantik banget, bikin saya makin pengin datang langsung.

Ekspektasi saya sebelum datang sebenarnya tinggi. Kadang kalau tempat terlalu viral, realitanya suka beda sama foto media sosial. 

Tapi ternyata The Heaven cafe Wonosobo justru lebih cantik saat dilihat langsung.

Begitu sampai di lokasi, hawa dingin khas pegunungan langsung terasa. Anginnya adem, suasananya tenang, dan pemandangannya benar-benar bikin hati nyaman. 

Tempat parkir The Heaven Wonosobo
Tempat parkir The Heaven Wonosobo (doc. Riana Dewie)


Saya langsung ngerti kenapa tempat ini disebut sebagai salah satu cafe hits dekat Dieng dan resto view bagus Wonosobo.

Oh ya, menurut saya tempat ini cocok banget buat yang lagi cari cafe healing di Wonosobo. Rasanya tuh seperti diajak berhenti sebentar dari keramaian hidup.


View Telaga Menjer yang Super Estetik

Daya tarik terbesar The Heaven Wonosobo tentu saja ada pada view Telaga Menjer yang super cantik. 

Dari area cafe, pengunjung bisa melihat perpaduan danau, perbukitan hijau, kabut tipis, dan langit luas yang bikin suasana terasa magis.

Apalagi kalau cuaca sedang cerah, warna biru telaga terlihat sangat cantik dari atas. 

Saya sampai beberapa kali cuma diam sambil menikmati panorama alamnya. Hahahaha… serius deh, rasanya pengin duduk lama tanpa buru-buru pulang.

Cafe dengan panorama alam seperti ini memang jarang ditemukan. Gak cuma cantik buat dilihat langsung, tapi juga sangat fotogenik.

Spot foto estetik di The Heaven Wonosobo yang instagramable
Spot foto estetik di The Heaven Wonosobo yang instagramable (doc. Riana Dewie)


Spot Foto Favorit di The Heaven

Saya suka banget foto dengan latar belakang Telaga Menjer karena memang sebagus itu. Hampir semua sudut cafe terasa estetik dan cocok masuk frame foto.

Area semi outdoor dan beberapa sudut bernuansa putih vintage jadi spot favorit pengunjung. Banyak juga yang sengaja datang buat bikin konten karena tempatnya memang mendukung banget untuk foto-foto.

Menurut saya sih, salah satu spot terbaik ada di area yang langsung menghadap telaga. Apalagi saat cahaya sore mulai turun, hasil fotonya jadi lebih lembut dan cantik.

Waktu Terbaik Menikmati View Telaga Menjer

Waktu itu saya mulai foto-foto sekitar jam 15.00 WIB. Menurut saya itu sudah waktu yang pas karena matahari mulai agak redup dan suasananya lebih nyaman.

Menjelang sore, warna langit mulai berubah hangat dan suasana cafe jadi makin syahdu. Kalau mau hasil foto bagus, saya saranin datang saat golden hour atau menjelang senja.

Oh ya, buat yang suka suasana tenang, datang di hari kerja mungkin lebih nyaman dibanding akhir pekan karena antreannya biasanya gak sepanjang hari libur.

Suasana cafe semi outdoor The Heaven Wonosobo yang adem
Suasana cafe semi outdoor The Heaven Wonosobo yang adem (doc. Riana Dewie)


Banyak yang Rela Waiting List, Ternyata Ini Alasannya

1. View yang Sulit Dilawan

Panorama alam jadi alasan utama kenapa cafe ini selalu ramai. Sensasi nongkrong sambil lihat Telaga Menjer dari atas bukit memang punya pengalaman tersendiri.

Tempat nongkrong Wonosobo view gunung seperti ini memang punya daya tarik kuat, apalagi buat wisatawan luar kota.

2. Suasana Cozy dan Bikin Betah

Selain view, suasananya juga nyaman banget. Musiknya pelan, desain tempatnya cantik, dan udaranya dingin khas pegunungan.

Saya rasanya ingin berlama-lama di sana dan gak pingin pulang saking nyamannya. Dimanjakan dengan menu lezat dipadukan panorama indah benar-benar bikin suasana cozy dan tenang terasa maksimal.

Menurut saya sih, tempat ini cocok buat quality time, baik sama pasangan, teman, maupun keluarga kecil.

Spot duduk favorit pengunjung di The Heaven Telaga Menjer
Spot duduk favorit pengunjung di The Heaven Telaga Menjer (doc. Riana Dewie)


3. Tempatnya Viral di Media Sosial

Ini memang beneran gak cuma viral di medsos, tapi tempatnya juga worth it dijadikan list wisata kuliner Wonosobo.

Cafe viral TikTok Wonosobo ini sering muncul di berbagai konten karena visualnya memang menarik. Efek FOMO akhirnya bikin makin banyak orang penasaran datang langsung.

Oh ya, saya sempat lihat beberapa pengunjung bahkan sengaja antre demi dapat tempat duduk yang langsung menghadap telaga.

4. Cocok untuk Semua Momen

The Heaven resto Wonosobo cocok untuk banyak suasana. Mau nongkrong santai, dinner romantis, healing sendirian, atau kumpul keluarga juga nyaman.

Bahkan buat yang lagi cari tempat makan favorit anak muda di Wonosobo, tempat ini jelas masuk daftar paling populer sekarang.

5. Pengalaman yang Tidak Sekadar Makan

Menurut saya, orang datang ke sini bukan cuma cari makanan. Tapi juga mencari pengalaman, suasana, dan momen menikmati view pegunungan Wonosobo yang cantik banget.

Dan itu yang bikin The Heaven glamping Wonosobo terasa spesial dibanding cafe biasa.

Menu Salad di The Heaven resto Wonosobo
Menu Salad di The Heaven resto Wonosobo (doc. Riana Dewie)


Harga Sesuai dengan Suasana yang Didapat

Saya kemarin sempat pesan beberapa menu seperti salad sayur dan wedang jahe, walaupun jujur saya lupa nama persisnya di katalog menu. Tapi rasanya enak dan cocok di lidah saya.

Untuk ukuran cafe premium dengan suasana sebagus ini, menurut saya harga makanan The Heaven Wonosobo masih cukup masuk akal.

Memang sekilas terlihat agak pricy, tapi ternyata sesuai dengan pengalaman yang didapat. Mulai dari desain tempat, kualitas makanan, pelayanan, sampai view-nya benar-benar terasa premium.

Menu Favorit Pengunjung

Selain makanan berat, banyak juga pengunjung yang pesan kopi, minuman hangat, dan camilan santai. Karena hawanya dingin, minuman hangat memang terasa lebih nikmat.

Minuman yang kami pesan di The Heaven Wonosobo
Minuman yang kami pesan di The Heaven Wonosobo (doc. Riana Dewie)


Oh ya, wedang jahe yang saya pesan kemarin cocok banget diminum sambil menikmati udara pegunungan yang dingin.

Apakah The Heaven Worth It?

Kalau menurut saya sih, jawabannya jelas worth it. Tempatnya nyaman, makanannya enak, dan suasananya bikin betah.

Buat yang suka cafe aesthetic view alam atau resto dengan view terbaik di Wonosobo, tempat ini layak banget dicoba.

Tempat pembayaran The Heaven Wonosobo
Tempat pembayaran The Heaven Wonosobo (doc. Riana Dewie)


Lokasi dan Tempat Wisata Terdekat yang Bisa Dikunjungi

Lokasi The Heaven Wonosobo cukup strategis untuk dijadikan tempat singgah saat liburan ke area Dieng dan sekitarnya. Jalannya juga masih cukup nyaman dilalui kendaraan pribadi.

Kalau dari pusat kota Wonosobo, perjalanan menuju lokasi gak terlalu jauh. Tapi karena jalurnya area pegunungan, saya sarankan datang dalam kondisi kendaraan yang prima.

1. Telaga Menjer

Tempat wisata terdekat tentu saja Telaga Menjer. Danau ini memang jadi ikon utama panorama di sekitar cafe.

2. Dieng Plateau

Kalau sudah ke sini, sekalian aja lanjut ke Dieng Plateau yang terkenal dengan udara dingin dan pemandangan alamnya.

3. Bukit Sikunir

Buat yang suka berburu sunrise Wonosobo, Bukit Sikunir juga bisa masuk itinerary perjalanan.

4. Batu Angkruk

Tempat ini juga terkenal sebagai spot menikmati view pegunungan Wonosobo dari ketinggian.

5. Kebun Teh Tambi

Hamparan kebun teh hijau di Tambi cocok buat wisata santai sambil menikmati udara segar.

View pegunungan Wonosobo dari cafe The Heaven yang viral
View pegunungan Wonosobo dari cafe The Heaven yang viral (doc. Riana Dewie)


Menurut saya, The Heaven Wonosobo memang layak banget masuk daftar wisata Wonosobo viral yang wajib dicoba. 

Gak cuma soal makanan, tapi pengalaman menikmati suasana alamnya juga benar-benar berkesan.

Kalau mau datang tanpa terlalu lama waiting list, saya sarankan hindari akhir pekan atau datang lebih awal sebelum jam ramai. Karena begitu sore tiba, biasanya pengunjung mulai membludak.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Jadah Tempe Kaliurang, Kuliner Jogja yang Dirindukan

Jadah Tempe Kaliurang dengan tempe bacem manis gurih

Siapa yang pernah liburan ke Kaliurang? Wisata Jogja area utara ini memang selalu punya daya tarik tersendiri. 

Selain memiliki beberapa titik wisata menarik, kawasan ini juga terkenal dengan udara sejuk khas kaki Gunung Merapi yang bikin betah berlama-lama. 

Nah, di balik suasana adem itu, ada satu kuliner yang hampir gak pernah dilewatkan wisatawan: Jadah Tempe.

Saya sendiri sebagai orang Jogja sih, tiap ke sana hampir pasti beli. Rasanya kayak ada yang kurang kalau pulang tanpa bawa ini. 

Bahkan bapak ibu di rumah juga sering nitip kalau tahu saya lagi ke Kaliurang. 

Oh ya, lucunya, kadang niatnya cuma beli satu bungkus, eh malah jadi nambah karena tergoda aromanya, hahahaha....

Apa sih sebenarnya yang bikin Jadah Tempe begitu spesial? Yuk, saya ceritain dari pengalaman pribadi yang mungkin juga bakal kamu rasakan kalau mampir ke sana.


Apa Itu Jadah Tempe? Kuliner Sederhana yang Ikonik

Jadah tempe adalah salah satu makanan tradisional Jawa yang terdiri dari dua komponen utama: jadah dari ketan dan tempe bacem. 

Jadah dibuat dari beras ketan yang ditumbuk hingga halus, menghasilkan tekstur legit dan sedikit kenyal. 

Jadah Tempe sebagai oleh oleh khas Kaliurang Jogja
Jadah Tempe sebagai oleh oleh khas Kaliurang Jogja (foto: Anggoro Dwi Kurniawan dari Google Review)


Sementara itu, tempe bacem dimasak dengan bumbu manis gurih yang meresap sempurna.

Perpaduan keduanya menciptakan rasa yang unik: legit dari ketan berpadu dengan tempe bacem manis gurih yang bikin nagih. 

Sederhana banget sebenarnya, tapi justru di situ letak keistimewaannya.

Oh ya, saya sih selalu suka bagian jadahnya yang lembut itu, apalagi kalau masih hangat. Rasanya tuh kayak comfort food versi lokal yang gak pernah gagal bikin mood naik.

Jadah tempe juga termasuk jajanan pasar khas Jogja yang masih bertahan sampai sekarang. Di tengah banyaknya makanan modern, kuliner ini tetap punya tempat di hati banyak orang.


Asal Usul Jadah Tempe Kaliurang yang Melegenda

Kalau ngomongin jadah tempe Kaliurang, kita gak bisa lepas dari sejarahnya yang cukup panjang. 

Kuliner ini awalnya dijual oleh masyarakat lokal sebagai makanan sederhana untuk para pengunjung yang datang ke kawasan wisata.

Seiring waktu, jadah tempe berkembang menjadi bagian dari kuliner legendaris Yogyakarta. Banyak penjual yang mempertahankan resep turun-temurun, sehingga cita rasanya tetap autentik.

Oh ya, menariknya, kawasan Kaliurang yang berada di kaki Gunung Merapi memang sejak dulu jadi tujuan wisata. Jadi gak heran kalau makanan khas seperti ini ikut berkembang bersama ramainya wisata.


Jadah Tempe dan Perkembangannya dari Dulu ke Sekarang

Dulu, jadah tempe dijual secara sederhana di pinggir jalan. Sekarang, sudah banyak tempat yang menjualnya dengan kemasan lebih rapi dan menarik.

Meski begitu, resep jadah tempe tradisional tetap dipertahankan. Cara membuat jadah tempe pun masih banyak yang menggunakan teknik manual agar rasa khasnya gak hilang.

Dari sekadar camilan tradisional Indonesia, kini jadah tempe jadi salah satu ikon wisata kuliner Kaliurang yang selalu dicari.


Kenapa Jadah Tempe Kaliurang Selalu Jadi Favorit Wisatawan?

Ada beberapa alasan kenapa jadah tempe khas Jogja ini selalu jadi incaran:

Pertama, lokasinya yang berada di kawasan wisata. Setelah jalan-jalan, rasanya pas banget buat ngemil sesuatu yang hangat.

Kedua, udara sejuk Kaliurang bikin makanan ini terasa lebih nikmat. Serius deh, makan di sana tuh beda rasanya.

Ketiga, harganya masih terjangkau. Harga jadah tempe Kaliurang relatif ramah di kantong, jadi cocok untuk semua kalangan.

Keempat, mudah ditemukan sebagai oleh oleh khas Kaliurang. Hampir di sepanjang jalan, kamu bisa nemuin penjualnya.

Oh ya, saya pernah bandingin makan di rumah sama di lokasi langsung, dan jujur beda sih. Lebih berasa vibes-nya kalau dimakan di sana.

Sensasi Makan Jadah Tempe di Udara Sejuk Kaliurang

Bapak Ibu saya saat berwisata ke Telaga Putri Kaliurang
Bapak Ibu saya saat berwisata ke Telaga Putri Kaliurang (doc. Riana Dewie)

Pengalaman makan langsung di Kaliurang itu gak tergantikan. Saya pribadi sering beli lalu dimakan sambil jalan menuju area Telaga Putri.

Bayangin aja, suasana alam yang tenang, udara dingin, lalu ditemani makanan hangat. Kombinasi yang simpel tapi menyenangkan.

Kadang saya sampai mikir, kenapa makanan sederhana bisa seenak ini ya? hihihihi....

Walaupun akhirnya harus dibawa pulang juga sebagai oleh-oleh, tenang aja. Rasanya tetap enak kok, gak jauh beda.


Rekomendasi Tempat Jadah Tempe Enak di Kaliurang

Kalau ngomongin jadah tempe paling enak di Jogja, pasti banyak versi. Tapi salah satu yang cukup terkenal adalah jadah tempe Mbah Carik.

Setiap penjual biasanya punya ciri khas sendiri, entah dari rasa jadahnya atau bumbu tempenya.

Oh ya, tips dari saya sih, jangan ragu buat cobain beberapa tempat. Kadang justru nemu yang enak dari penjual yang gak terlalu ramai.

Warung Jadah Tempe Mbah Carik yang legendaris di Jogja
Warung Jadah Tempe Mbah Carik yang legendaris di Jogja (foto: Anggoro Dwi Kurniawan dari Google Review)


Tips Membeli Jadah Tempe untuk Oleh-Oleh

Pilih yang masih hangat supaya rasanya lebih nikmat dan tahan lebih lama.

Perhatikan tekstur jadah, sebaiknya yang lembut dan gak terlalu keras.

Untuk penyimpanan, kamu bisa tanya langsung ke penjual. Tapi kalau saya pribadi sih, biasanya langsung masuk kulkas.

Besoknya tinggal dipanaskan lagi: jadah dikukus, tempe digoreng sebentar. Dijamin rasanya masih otentik banget.

Oh ya, setelah sekitar setengah perjalanan tulisan ini, saya jadi inget pernah baca cerita dari blogger rafahlevi yang juga ngebahas pengalaman kulineran di Jogja.

Ternyata banyak juga ya yang punya kenangan tentang Jogja dan kuliner menariknya :)

Jadah Tempe khas Jogja disajikan hangat di Kaliurang
Jadah Tempe khas Jogja disajikan hangat di Kaliurang (doc. Riana Dewie)


Cara Membuat Jadah Tempe Khas Jogja di Rumah

Kalau kamu penasaran, sebenarnya cara membuat jadah tempe itu cukup sederhana.

Bahan jadah: beras ketan, kelapa parut, dan garam.

Bahan tempe bacem: tempe, gula merah, bawang putih, ketumbar, dan daun salam.

Langkahnya dimulai dari memasak ketan lalu ditumbuk hingga halus. Setelah itu, tempe dimasak dengan bumbu bacem hingga meresap.

Oh ya, kunci rasanya ada di keseimbangan bumbu. Jangan terlalu manis, tapi juga gak hambar.

Kalau saya sih, walaupun bisa bikin sendiri, tetap aja rasanya beda sama yang di Kaliurang. Mungkin karena suasananya juga ya.


Jadah Tempe, Rasa Tradisional yang Gak Pernah Hilang

Jadah tempe bukan sekadar makanan, tapi juga bagian dari cerita dan kenangan. Dari dulu sampai sekarang, kuliner ini tetap eksis sebagai makanan khas daerah Sleman yang dicintai banyak orang.

Perpaduan rasa manis dan gurih yang sederhana justru jadi daya tarik utamanya. Ditambah suasana Kaliurang yang adem, pengalaman menikmatinya jadi makin lengkap.

Sambil berwisata Jeep Merapi juga asyik
Sambil berwisata Jeep Merapi juga asyik (doc. Riana Dewie)


Eh, jadi inget deh. Saya pernah baca cerita seru dari seorang blogger film bandung yang menjadikan aneka kuliner enak sebagai bagian dari pengalaman traveling mereka, seperti tulisan ini. Hihihi....

Oh ya, kalau kamu main ke Jogja, khususnya ke Kaliurang, jangan sampai melewatkan kuliner ini. Percaya deh, sekali coba pasti pengen lagi.

Pokoknya, kalau kamu mampir ke sana, jangan lupa bawa jadah tempe untuk camilan di perjalanan. Enak, gurih, dan bikin nagih! 





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Kuliner Jogja: Sate Kere Bu Sum Beringharjo yang Melegenda

Sate Kere Bu Sum Beringharjo

Kalau lagi jalan-jalan ke Jogja, rasanya gak lengkap kalau belum menyusuri kawasan legendaris seperti Pasar Beringharjo. 

Tempat ini bukan cuma terkenal sebagai pusat batik dan oleh-oleh, tapi juga jadi spot kuliner tradisional yang selalu berhasil bikin kangen.

Di antara banyak pilihan makanan, ada satu yang cukup unik dan punya cerita menarik, yaitu sate kere Bu Sum. 

Namanya mungkin terdengar sederhana, bahkan sedikit “nyeleneh”, tapi justru di situlah daya tariknya. Kuliner ini membuktikan kalau rasa enak gak harus selalu mahal.

Apa Sih Sate Kere Itu?

Sebelum jauh membahas warung Bu Sum, kita kenalan dulu dengan istilah “sate kere”. Dalam bahasa Jawa, kata “kere” berarti miskin atau sederhana. 

Dulu, makanan ini memang identik dengan masyarakat yang ingin tetap menikmati sate, tapi dengan bahan yang lebih terjangkau.

Alih-alih menggunakan daging sapi premium, sate kere biasanya dibuat dari gajih (lemak sapi) atau bagian jeroan tertentu. Meski begitu, jangan salah.... soal rasa, sate ini tetap punya karakter kuat yang khas banget.

Justru karena kesederhanaannya, sate kere jadi bukti kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan seadanya menjadi makanan yang lezat. 

Dan sekarang, statusnya malah naik kelas jadi kuliner legendaris yang banyak diburu wisatawan.

Lorong Warung Bu Sum Beringharjo
Lorong Warung Bu Sum Beringharjo (doc. Riana Dewie)


Warung Bu Sum: Dari Sederhana Jadi Legendaris

Di antara banyak penjual sate kere di Jogja, nama Bu Sum termasuk yang paling dikenal. Warung ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan tetap eksis sampai sekarang. 

Bahkan, banyak orang yang sengaja datang ke Beringharjo hanya untuk mencicipi sate ini.

Lokasinya yang berada di sekitar pasar membuat warung ini selalu ramai, terutama di pagi hari. Banyak pengunjung yang menjadikan sate kere Bu Sum sebagai menu sarapan sebelum melanjutkan aktivitas keliling Jogja.

Meski tempatnya sederhana, suasana yang ditawarkan justru terasa hangat dan autentik. Kamu bisa merasakan langsung kehidupan khas Jogja yang santai, ramah, dan penuh kehangatan.

Kenapa Sate Kere Bu Sum Selalu Dicari?

Ada beberapa alasan kenapa kuliner ini tetap bertahan dan bahkan makin populer dari waktu ke waktu.

1. Rasa yang Konsisten dari Dulu

Salah satu kekuatan utama sate kere Bu Sum adalah cita rasanya yang tetap terjaga. Bumbu yang digunakan meresap sempurna, menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit smoky dari proses pembakaran.

2. Harga yang Bersahabat

Sesuai dengan konsep awalnya, sate kere tetap dikenal sebagai makanan yang ramah di kantong. Ini jadi alasan kenapa semua kalangan bisa menikmatinya, mulai dari warga lokal sampai wisatawan.

Harga bersahabat, rasa nikmat
Harga bersahabat, rasa nikmat (doc. Riana Dewie)

3. Pengalaman Makan yang Autentik

Makan di sini bukan cuma soal kenyang, tapi juga pengalaman. Suasana pasar, aroma sate yang dibakar, hingga interaksi dengan penjual membuat semuanya terasa lebih hidup.

4. Porsi yang Pas untuk Semua

Porsi sate kere biasanya tidak terlalu besar, tapi cukup memuaskan. Cocok banget buat kamu yang ingin kulineran tanpa merasa terlalu kenyang, apalagi kalau masih mau lanjut coba makanan lain.

Sensasi Rasa yang Bikin Balik Lagi

Begitu sate mulai dibakar, aroma khasnya langsung tercium dan bikin perut otomatis lapar. Proses pembakaran dengan arang membuat cita rasa sate jadi lebih autentik dibandingkan metode modern.

Tekstur gajih yang lembut berpadu dengan bumbu yang meresap menciptakan sensasi unik di setiap gigitan. Ada rasa gurih yang dominan, tapi tetap seimbang dengan sentuhan manis dari bumbu kecap.

Biasanya, sate ini disajikan bersama lontong atau nasi, lengkap dengan sambal dan pelengkap sederhana lainnya. Kombinasi ini bikin rasanya makin lengkap dan nikmat.

Lebih dari Sekadar Kuliner

Sate kere Bu Sum bukan cuma soal makanan, tapi juga tentang cerita. Kuliner ini lahir dari keterbatasan, tapi justru berkembang jadi sesuatu yang istimewa.

Di balik setiap tusuk sate, ada nilai budaya, sejarah, dan kreativitas masyarakat lokal. Ini yang membuat sate kere punya makna lebih dibanding sekadar hidangan biasa.

Bahkan, banyak orang yang merasa pengalaman makan sate kere di Beringharjo memberikan kesan tersendiri. Ada nuansa nostalgia, kesederhanaan, dan kehangatan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Nuansa nostalgia & kebersamaan
Nuansa nostalgia & kebersamaan (doc. Riana Dewie)


Tips Kalau Mau Coba Sate Kere Bu Sum

1. Datang Lebih Pagi

Karena cukup populer, sate kere Bu Sum sering cepat habis. Jadi, sebaiknya datang di pagi hari agar tidak kehabisan.

2. Siapkan Uang Tunai

Seperti kebanyakan warung tradisional, pembayaran biasanya masih menggunakan uang tunai. Jadi, pastikan kamu sudah siap sebelum datang.

3. Jangan Ragu Tanya Menu

Kalau baru pertama kali datang, gak ada salahnya bertanya ke penjual tentang pilihan menu yang tersedia. Mereka biasanya ramah dan siap membantu.

4. Nikmati Suasananya

Jangan buru-buru. Luangkan waktu untuk menikmati suasana sekitar agar pengalaman kuliner kamu terasa lebih lengkap.
***
Nah, seenak ini ternyata Sate Kere Bu Sum. Pokoknya gak rugi jajan di sini, aneka sate menunggumu sampai kamu kenyang maksimal. Hihihi ... Yuk mampir kalau kamu pas liburan ke Jogja :)


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Kopi Jogja Viral Outdoor Unik di Tengah Kota

Kopi Viral Jogja


Cari coffee shop di Jogja itu banyak banget. Serius. Dari yang konsepnya industrial, estetik minimalis, sampai yang vintage klasik juga ada. Apalagi saat saya lagi suntuk dan ingin melepas segala penat, beban hati, beban kerja, atau sekadar meet up bareng teman untuk berbagi cerita, pilihan tempatnya kayak gak ada habisnya. Tapi di tengah ramainya kuliner kopi jogja, saya justru nemu satu spot kopi jogja viral yang konsepnya beda dari yang lain.

Asyik banget ya bisa nongkrong bareng temen. Ketawa, curhat, sharing mimpi, atau cuma bengong bareng pun rasanya tetap hangat. Nah, biasanya kalau saya sih suka cari tempat yang gak terlalu formal, gak terlalu ribet, dan tetap nyaman. Eh, ternyata ada satu tempat ngopi asyik yang konsepnya semacam street coffee gitu. Outdoor. Santai. Dan lokasinya… di museum. What?

Oh ya, waktu pertama kali tahu tempat ini, saya sempat mikir, “Seriusan ngopi depan museum?” Tapi justru itu yang bikin penasaran. Di antara banyaknya kopi jogja viral yang berlomba tampil estetik, tempat ini malah tampil simpel tapi berkarakter.

Coffee Street Asyik di Jogja

Konsep street coffee ini menurut saya unik banget. Bayangin aja, meja dan kursinya portable, mirip peralatan camping atau wisata alam. Gak ada kursi empuk mewah, gak ada ruangan ber-AC super dingin. Tapi justru di situlah letak pesonanya.

Ngopi di jogja itu identik dengan suasana santai dan obrolan panjang. Di sini, sensasinya lebih membumi. Duduk di kursi lipat, meja kecil minimalis, lampu temaram menjelang malam, dan angin Jogja yang sepoi-sepoi. Kalau saya sih suka banget suasana kayak gini karena terasa lebih intim dan hangat.

Oh ya, konsep outdoor ini juga bikin kita lebih leluasa menikmati suasana sekitar. Gak terkurung dinding. Gak terasa sempit. Justru terasa luas dan bebas. Hihihihi…. kadang saya merasa suasana kayak gini lebih jujur, lebih apa adanya.

Di tengah tren kopi Yogyakarta yang makin kreatif, street coffee seperti ini jadi warna tersendiri. Sederhana, tapi tetap serius soal rasa. Apalagi buat yang lagi cari kopi jogja viral dengan vibes beda, ini bisa jadi pilihan menarik.

Ngajak teman ngopi juga asyik
Ngajak teman ngopi juga asyik (Doc. Riana Dewie)


Strategis: Lokasi di Museum TNI AD Dharma Wiratama

Baree Street Coffee (IG @baree.idn) berlokasi di area trotoar depan Museum TNI AD Dharma Wiratama, Jalan Jenderal Sudirman No.75, Terban, Gondokusuman, Yogyakarta. Lokasinya strategis banget karena ada di pusat kota.

Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama sendiri adalah museum sejarah perjuangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Di dalamnya tersimpan ribuan artefak senjata, peralatan perang, dokumen sejarah, hingga bangunan yang dulu pernah digunakan sebagai markas TKR. Tempat ini mengabadikan citra, rasa, karsa, dan dharma prajurit TNI AD.

Oh ya, saya sempat masuk ke museumnya juga sebelumnya, dan auranya memang terasa penuh sejarah. Jadi habis menyerap cerita perjuangan bangsa, lanjut ngopi santai di depannya tuh rasanya unik banget.

Ngopi di jogja sambil menikmati Jalan Sudirman itu punya sensasi tersendiri. Kita bisa melihat gedung-gedung tinggi seperti Swiss-Belboutique Yogyakarta yang menghias area tersebut. Lampu kota mulai menyala saat sore berganti malam. Mobil lalu lalang, tapi tetap terasa santai.

Menurut saya sih, kombinasi antara sejarah dan kopi itu jarang banget ditemui. Biasanya kan kopi identik dengan area kampus atau sudut-sudut hipster. Tapi di sini, kopi jogja viral justru menyatu dengan nuansa perjuangan.

Tempatnya luas untuk ukuran trotoar, adem karena pepohonan, dan nyaman buat nongkrong lama. Gak heran kalau makin ke malam, pengunjungnya makin ramai.

Kopinya Nikmat & Creamy!

Sekarang kita masuk ke bagian paling penting: rasa kopinya.

Varian kopinya memang gak begitu banyak, tapi justru itu yang bikin fokus. Kopi susu-nya creamy banget. Beneran lembut dan gak terlalu pahit. Perpaduan espresso dan susunya pas. Saya yang biasanya sensitif sama kopi terlalu strong pun masih bisa menikmati dengan santai.

Kopi yang saya pesan
Kopi yang saya pesan: Caramel & Matcha (Doc. Riana Dewie)

Beberapa varian rasa yang tersedia antara lain Brown Sugar, Aren, Caramel, Americano dan Matcha. Matcha-nya juga seenak itu, loh. Gak terlalu manis, gak terlalu pahit. Balance banget. Menu non coffee juga ada, seperti Dark Chocolate, Matcha & red Velvet buat kamu yang gak bisa konsumsi kopi. 

Oh ya, harga di sini juga ramah di kantong. Mulai dari 15 ribuan aja, kita sudah bisa dapat satu cup coffee dengan mesin espresso sekelas resto. Untuk ukuran kopi jogja viral dengan kualitas rasa seperti ini, menurut saya sih worth it banget.

Jam bukanya dari pukul 15.00 sampai 23.59 WIB. Cocok buat yang habis kerja dan ingin melepas penat. Atau buat mahasiswa yang lagi cari tempat nongkrong hemat tapi tetap berkualitas.

Di tengah ramainya kuliner kopi jogja, tempat ini membuktikan bahwa gak perlu tempat mewah untuk menyajikan kopi enak. Kadang yang sederhana justru lebih membekas.

Apa sih Manfaat Ngopi itu?

Tempatnya adem, luas, dan nyaman buat nongkrong lama bareng temen. Pilihan minumannya oke, harganya terjangkau, vibes-nya pas buat santai kapan aja.

Oh ya, ternyata ngopi juga ada manfaatnya, loh! Banyak yang mengira ngopi cuma soal gaya hidup, padahal ada sisi positifnya juga.

1. Meningkatkan Mood

Kafein dalam kopi bisa membantu meningkatkan hormon dopamin. Makanya setelah ngopi, suasana hati terasa lebih ringan.

2. Menambah Fokus

Buat saya pribadi, kopi sering membantu saat lagi butuh konsentrasi ekstra. Apalagi kalau lagi nulis atau kerja deadline.

3. Jadi Momen Sosialisasi

Ngopi di jogja itu identik dengan ngobrol. Dari yang serius sampai receh. Hahahaha…. kadang obrolan random justru jadi kenangan paling seru.

4. Me Time yang Berkualitas

Duduk sendirian, menyeruput kopi Yogyakarta yang creamy, sambil melihat lalu lintas kota, itu bisa jadi terapi kecil yang menenangkan.

5. Mengurangi Rasa Penat

Kadang yang kita butuhkan cuma berhenti sebentar. Duduk. Tarik napas. Minum kopi jogja viral favorit. Dan biarkan pikiran pelan-pelan tenang.

Oh ya, saya sendiri sering merasa bahwa ngopi itu bukan sekadar minumannya, tapi jeda. Jeda dari rutinitas yang padat. Jeda dari pikiran yang berisik.

***

Jadi, kapan kamu ngajak temanmu ngopi di sini? Atau mungkin pingin me time saja, ngopi sendirian sambil melamun pelan di bawah langit Jogja sore hari?

Baree Street Coffee membuktikan bahwa kopi jogja viral gak selalu harus mewah dan glamor. Kadang yang sederhana, outdoor, dengan kursi lipat dan suasana museum justru terasa lebih berkesan.

Oh ya, kalau kamu lagi cari pengalaman ngopi yang beda dari biasanya, tempat ini layak masuk daftar. Perpaduan sejarah, suasana kota, harga terjangkau, dan rasa creamy yang konsisten bikin saya pengin balik lagi.

Nongkrong asyik sambil ngopi
Nongkrong asyik sambil ngopi (Doc. Riana Dewie)

Di tengah ramainya kopi Yogyakarta dan tren kuliner kopi jogja yang terus berkembang, Baree Street Coffee punya identitas yang kuat. Dan menurut saya sih, identitas itu yang bikin sebuah tempat bertahan lama.

Akhirnya, saya sadar satu hal. Ngopi itu bukan cuma soal rasa, tapi soal cerita. Tentang siapa yang duduk di sebelah kita. Tentang obrolan apa yang mengalir. Tentang jeda kecil yang kita beri untuk diri sendiri.

Dan di sudut Jalan Sudirman itu, kopi jogja viral menemukan maknanya sendiri.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments