In Culinary Journey

5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan, dari Tiwul hingga Ubi Rebus

makanan khas Jawa kaya nutrisi dari bahan lokal


Pernah kepikir gak sih kalau makanan tradisional Jawa yang menyehatkan justru sudah ada sejak dulu, jauh sebelum tren makanan sehat bermunculan di media sosial? 

Saya sendiri baru benar-benar menyadarinya saat tanpa sengaja mengenang masa kecil bersama keluarga besar di rumah simbah.

Dulu, setiap liburan sekolah, saya senang menginap di rumah simbah yang berada di desa. Suasananya sederhana, halaman luas, dan dapurnya selalu sibuk sejak pagi. 

Yang menarik, makanan yang tersaji hampir semuanya merupakan makanan tradisional Jawa sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Oh ya, saya masih ingat aroma kelapa parut yang baru diparut setiap pagi dari dapur belakang rumah simbah. Wanginya khas banget dan sampai sekarang masih melekat di ingatan saya.

Di meja makan biasanya ada apem, singkong rebus, kacang rebus, atau tiwul hangat yang baru matang. Saat itu saya tentu gak memikirkan kandungan gizi atau manfaat kesehatannya. 

Yang penting enak dan bikin kenyang. Hihihihi....

Kalau dipikir sekarang, makanan-makanan tersebut termasuk makanan kampung yang sehat dan bergizi. Bahannya sederhana, minim proses, dan banyak menggunakan hasil kebun sendiri.

Bahkan banyak di antaranya yang termasuk kuliner jadul yang masih sehat dikonsumsi hingga saat ini.

Mungkin karena itulah banyak orang tua zaman dulu tetap aktif meski usia sudah tidak muda lagi.

Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul
Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul (doc. Riana Dewie)


Kulineran Bersama Keluarga yang Selalu Membawa Kenangan

Gak cuma bersama simbah, ibu saya juga masih sering menyiapkan berbagai menu tradisional hingga saya dewasa. 

Saat masih tinggal bersama orang tua, saya sering bangun pagi dan mendapati berbagai jajanan pasar sudah tersedia di meja makan.

Ada ketan, cenil, gethuk, hingga berbagai olahan ubi yang sederhana tetapi menggugah selera. 

Saya sih selalu senang kalau menemukan makanan tradisional di meja makan karena rasanya selalu menghadirkan nostalgia.

Oh ya, kebiasaan ibu membeli jajanan pasar ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Kadang tanpa bilang apa-apa, tiba-tiba sudah ada beberapa bungkus makanan tradisional di rumah.

Saat kami kulineran sekeluarga, ibu juga lebih sering memilih menu-menu lama yang mungkin kurang populer di kalangan anak muda saat ini. 

Saya sempat berpikir, mungkin ibu sedang bernostalgia dengan masakan yang dulu sering dibuat simbah.

Tak jarang ibu bercerita, "Dulu simbah kalau bikin bothok banyak sekali karena anak-anaknya juga banyak." Dari cerita sederhana seperti itu saya jadi tahu bahwa makanan tradisional memang punya nilai emosional yang kuat.

Suatu hari kami mencoba bothok lamtoro di sebuah warung sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ada sensasi renyah dari ikan teri. 

Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai banyak orang. Emang seenak ini ya makanan jadul?

Oh ya, setelah dewasa saya baru sadar kalau banyak menu tradisional ternyata termasuk kuliner Jawa berbahan alami yang minim bahan tambahan.

Menariknya lagi, banyak menu tersebut termasuk makanan tradisional rendah minyak karena diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Beberapa waktu lalu saya bahkan sempat membaca blog seorang Travel Blogger Medan yang juga bercerita suka berburu kuliner saat bepergian. 

Menurutnya, setiap daerah punya makanan khas yang layak dilestarikan.


5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan

1. Tiwul Sambal Bawang, Karbohidrat Tradisional Selain Nasi

makanan tradisional Jawa yang menyehatkan berupa tiwul sambal bawang
Makanan tradisional Jawa yang menyehatkan, yaitu tiwul sambal bawang (doc. Riana Dewie)

Tiwul merupakan makanan tradisional dari singkong yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahan utamanya berasal dari singkong yang dikeringkan lalu diolah menjadi butiran-butiran mirip nasi.

Saya sih suka tiwul karena teksturnya unik dan rasanya sedikit manis alami. Ketika dipadukan dengan tiwul sambal bawang, sensasinya jadi lebih nikmat.

Dari sisi kesehatan, tiwul termasuk karbohidrat tradisional selain nasi yang mengandung serat cukup tinggi. Karena itulah tiwul sering dianggap sebagai salah satu makanan tradisional kaya serat yang bisa membantu rasa kenyang lebih lama.

2. Bothok Lamtoro, Lauk Kukus Kaya Rasa

Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba
Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba (doc. Riana Dewie)

Bothok lamtoro merupakan salah satu olahan lamtoro khas Jawa yang cukup populer di berbagai daerah. Bahan utamanya berupa petai cina atau lamtoro yang dicampur kelapa parut dan bumbu rempah.

Biasanya ditambahkan ikan teri agar rasanya makin gurih. Setelah dibungkus daun pisang, bothok kemudian dikukus hingga matang.

Karena proses pembuatannya dikukus, makanan ini termasuk kategori makanan kukus dan rebus yang sehat. Kandungan serat dan protein nabatinya juga cukup baik untuk tubuh.

3. Sego Gudangan, Menu Tradisional Jawa untuk Hidup Sehat

ego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan
Sego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan (doc. Riana Dewie)

Sego gudangan berasal dari Jawa Tengah dan identik dengan berbagai sayuran rebus yang disajikan bersama nasi dan urap kelapa.

Isi sayurnya biasanya berupa kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan berbagai sayuran lain. Kombinasi sayur urap dan gudangan inilah yang membuat menu ini kaya vitamin dan mineral.

Oh ya, sego gudangan termasuk menu yang paling sering saya cari ketika sedang ingin makan makanan rumahan.

Menurut saya, sego gudangan merupakan contoh sempurna dari menu tradisional Jawa untuk hidup sehat. Rasanya enak, mengenyangkan, dan penuh nutrisi.

4. Apem Panggang, Camilan Tradisional yang Menyehatkan

apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa
Apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa (doc. Riana Dewie)

Kalau mendengar apem, saya langsung teringat suasana pasar tradisional di pagi hari. Apem panggang tradisional biasanya dibuat dari tepung beras, santan, dan sedikit gula.

Berbeda dengan banyak camilan modern, apem dipanggang sehingga gak membutuhkan banyak minyak. Karena itulah apem sering dianggap sebagai salah satu camilan tradisional yang menyehatkan.

Selain itu, apem juga termasuk jajanan pasar tradisional yang lebih alami karena umumnya dibuat tanpa bahan pengawet berlebihan.

5. Ubi Rebus, Sederhana Tapi Kaya Nutrisi

Di antara semua daftar ini, mungkin ubi rebus adalah yang paling sederhana. Namun jangan salah, manfaatnya cukup banyak.

Ubi rebus untuk kesehatan sering dikaitkan dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Rasanya manis alami sehingga cocok dijadikan camilan sehari-hari.

Bagi saya, ubi rebus adalah contoh nyata makanan sederhana khas Jawa yang bergizi. Murah, mudah ditemukan, dan tetap lezat.

Oh ya, sampai sekarang saya masih sering membeli ubi rebus saat menemukan penjualnya di pinggir jalan. Rasanya selalu berhasil membawa saya kembali ke masa kecil.


Mari Kembali Mengenal Kuliner Tradisional

Dari berbagai cerita dan pengalaman tadi, saya makin yakin bahwa makanan tradisional Jawa yang menyehatkan layak mendapatkan perhatian lebih. 

Mulai dari tiwul, bothok lamtoro, sego gudangan, apem panggang, hingga ubi rebus, semuanya memiliki keunggulan masing-masing.

Selain berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan, banyak di antaranya termasuk makanan khas Jawa kaya nutrisi yang sudah diwariskan turun-temurun. 

Hahahaha.... kadang kita sibuk mencari makanan sehat modern, padahal jawabannya sudah ada sejak zaman simbah dulu.

Jadi, untuk bisa makan lebih sehat, kita bisa mulai melirik kembali berbagai kuliner tradisional Jawa yang menyehatkan ini sesuai selera masing-masing. 


Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah
Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah (doc. Riana Dewie)

Ini cerita makanan jadul versi saya. Bagaimana dengan makanan jadul favoritmu? 

Siapa tahu bisa menjadi teman seru saat menikmati waktu santai atau bahkan menemani outdoor activity bersama keluarga.


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment