Suatu hari, adik saya menunjukkan sebuah konten TikTok tentang Kopi Alam Merapi.
Video itu menampilkan panorama pagi yang begitu cantik dengan latar belakang Gunung Merapi yang menjulang gagah.
Kabut tipis menyelimuti area sekitar, sementara matahari perlahan muncul dari balik cakrawala. Setelah melihat videonya, saya langsung paham kenapa tempat ini begitu viral.
Rasanya seperti tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang suka healing dan menikmati suasana alam.
Akhirnya, saat libur kerja tiba, kami sepakat untuk datang ke sana. Tujuannya sederhana, yaitu menikmati sunrise di Merapi sambil menyeruput minuman hangat di tengah udara pegunungan yang segar.
Oh ya, saya memang termasuk orang yang gampang tergoda kalau melihat rekomendasi tempat wisata alam yang indah seperti ini.
Berawal dari TikTok hingga Rencana Berangkat Subuh
Jarak rumah kami menuju lokasi sekitar 1 jam 10 menit. Karena ingin mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa melihat matahari terbit dengan jelas, kami harus tiba sebelum pukul 05.00 pagi.
Kalau dihitung-hitung, kendaraan sudah harus jalan sekitar pukul 03.45 dini hari. Masalahnya, apa gak masih ngantuk ya kalau harus berangkat jam segitu?
Apalagi sebelumnya masih harus mandi, bersiap, dan memastikan semua perlengkapan sudah dibawa. Saya sih sudah membayangkan betapa beratnya membuka mata saat alarm berbunyi nanti.
Untungnya, adik ipar saya yang tinggal di daerah Ngaglik, Sleman, memberikan ide yang sangat membantu.
Ia menyarankan agar kami menginap di rumahnya semalam sebelumnya. Dengan begitu, perjalanan subuh ke Merapi menjadi lebih ringan dan kami gak perlu bangun terlalu dini dari rumah.
Akhirnya rencana itu terealisasi. Kami sampai di rumah adik ipar sekitar pukul 23.00 malam dan langsung beristirahat.
Jam 03.30 pagi alarm berbunyi, lalu kami bersiap-siap. Sekitar pukul 04.30 kami mulai perjalanan menuju lokasi, dan pukul 05.10 akhirnya sampai di area Kopi Alam Merapi Kaliurang.
Kedinginan di Tengah Kabut Pagi Merapi
Begitu turun dari kendaraan, saya langsung merasakan udara yang luar biasa dingin. Jujur saja, suhu pagi itu jauh lebih dingin dari yang saya bayangkan sebelumnya.
Ketika sebagian besar pengunjung memakai celana panjang dan jaket tebal, saya justru datang memakai rok dan jaket jeans biasa.
Oh ya, saat itu saya langsung menyesal karena terlalu percaya diri. Hihihihi... ternyata udara dingin kaki Merapi memang gak bisa dianggap remeh.
Konon saat musim tertentu masyarakat Jawa mengenal istilah bediding.
Bediding adalah kondisi ketika suhu malam hingga pagi terasa sangat dingin dan menusuk tulang, lalu berubah menjadi panas saat siang hari.
Harusnya sih fenomena ini lebih sering muncul sekitar bulan Juli, tetapi pagi itu saya sudah merasakan sensasi yang mirip.
Ya, ternyata tempat yang viral ini memang memiliki view Merapi yang menawan.
Gunung Merapi terlihat menjulang tinggi di kejauhan, meski saat itu masih tampak seperti siluet karena langit belum sepenuhnya terang.
Bahkan warung Kopi Alam Merapi sendiri masih tutup. Saya hanya melihat petugas yang sedang menyapu halaman dan menata area sekitar.
Selama menunggu, kami menikmati suasana subuh yang tenang. Kabut pagi Merapi masih terlihat menggantung tipis. Udara segar benar-benar terasa berbeda dibandingkan udara perkotaan.
Saya dan keluarga menghabiskan waktu dengan mengambil foto, merekam video, serta menikmati pemandangan Gunung Merapi yang perlahan mulai terlihat lebih jelas.
Oh ya, saya sampai mondar-mandir mencari titik yang lebih hangat karena badan sudah mulai gemetar.
Entah berapa derajat suhu saat itu, saya malah gak sempat mengeceknya karena terlalu fokus menahan dingin.
Menikmati Sunrise dan Sarapan Hangat dengan View Merapi
Hari semakin terang. Perlahan, hawa dingin pegunungan mulai terkikis oleh hangatnya sinar matahari yang muncul dari balik langit timur. Inilah momen yang paling kami tunggu sejak berangkat dini hari.
Pengalaman menikmati sunrise sambil ngopi di Kopi Alam Merapi benar-benar sesuai ekspektasi. Cahaya keemasan menyinari lereng gunung dan menciptakan panorama gunung saat pagi hari yang luar biasa indah. Saya sih langsung paham kenapa tempat ini disebut sebagai salah satu destinasi sunrise favorit Jogja.
Oh ya, setelah udara mulai bersahabat, kami langsung membuat berbagai konten lucu dan berfoto di banyak sudut. Hahahaha... rasanya sayang kalau sudah jauh-jauh datang tetapi gak mengabadikan momen sebanyak mungkin.
Tak lama kemudian warung mulai buka. Para pedagang yang menitipkan makanan juga mulai berdatangan. Aneka aroma makanan hangat langsung menggoda perut yang sejak subuh belum terisi.
Menu Minuman Favorit di Kopi Alam Merapi
Pilihan minuman di sini cukup beragam, antara lain:
- Arabika Kalmer
- Arabika Susu Kalmer
- Robusta Kalmer
- Robusta Susu Kalmer
- Wedang Uwuh Kalmer
- Wedang Secang Kalmer
- Wedang Sereh Kalmer
- Jahe Susu Gula Aren
- Es Coklat Kalmer Gula Aren
- Es Degan
- Es Teh
- Es Jeruk
- Es Milo
- Susu Coklat
Saya memilih Jahe Merah Gula Aren, sementara anggota keluarga lain memesan Arabika Kalmer, teh hangat, dan beberapa minuman lainnya. Menyeruput secangkir kopi hangat atau minuman jahe di tengah udara pegunungan memang punya sensasi tersendiri.
Menu Makanan yang Mengenyangkan
- Indomie Kuah Telur
- Indomie Kuah Tante
- Indomie Goreng Telur
- Indomie Goreng Tante
- Mendoan
- Pisang Goreng
- Kentang Goreng
- Cireng
- Nugget
- Dimsum
- Aneka sate-satean
Saat itu kami memesan mie rebus telur, mendoan, dan pisang goreng. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan rasa gorengannya.
Tepungnya crispy di luar tetapi tetap empuk di dalam. Bahkan saya jarang menemukan pisang goreng dengan karakter rasa seperti ini.
Dari segi harga juga cukup masuk kantong. Menurut saya pribadi, rasanya sebanding dengan yang dibayar.
Pantas saja antrean warung terus mengular. Untung kami datang lebih awal sehingga gak perlu menunggu terlalu lama.
Fasilitas dan Alasan Kenapa Kopi Alam Merapi Layak Dikunjungi
Oh ya, pengunjung pertama pagi itu adalah rombongan kami.
Namun perlahan tamu mulai berdatangan. Setelah pukul 06.30 pagi, hampir seluruh kursi sudah terisi penuh oleh wisatawan yang ingin berburu sunrise di Merapi.
Fasilitas yang tersedia juga cukup memadai untuk wisata pagi Merapi Jogja, di antaranya:
- Area parkir kendaraan yang cukup luas
- Mushola
- Kamar mandi
- Tempat duduk batu dan kayu
- Spot foto dengan latar Merapi
- Area santai untuk menikmati kopi di alam terbuka
- Warung makanan dan minuman
Menariknya lagi, lokasi ini juga sering menjadi tempat singgah wisatawan yang mengikuti jeep Merapi.
Mereka biasanya berhenti sebentar untuk berfoto dengan background Merapi, yaitu Tebing Gendol Merapi yang indah sebelum melanjutkan perjalanan.
Oh ya, di sekitar lokasi juga terdapat beberapa cafe dengan pemandangan Merapi dan warung kopi lainnya.
Jadi kalau suatu saat area utama penuh, masih ada banyak pilihan tempat ngopi dengan view Merapi yang bisa dicoba.
***
Bagi saya, sensasi ngopi di udara dingin kaki Gunung Merapi sambil menikmati udara segar pegunungan adalah pengalaman yang sulit dilupakan.
Tempat terbaik menikmati matahari terbit di Merapi ini cocok untuk keluarga, pasangan, maupun teman-teman yang ingin mencari tempat healing di Jogja.
Saat kami pulang, area parkir sudah jauh lebih padat dibandingkan ketika datang. Banyak wisatawan baru berdatangan untuk menikmati suasana pagi di Merapi dan mencoba berbagai kuliner yang tersedia.
Kalau kamu sedang mencari rekomendasi tempat ngopi sunrise di Jogja, Kopi Alam Merapi bisa masuk daftar tujuan berikutnya.
Berburu sunrise di kaki Gunung Merapi Yogyakarta sambil menikmati kopi hangat di udara dingin ternyata memang memberikan pengalaman yang berbeda. Jadi, kapan kamu mau ke sini?






.png)
0 komentar:
Post a Comment