Showing posts with label City Life. Show all posts
Showing posts with label City Life. Show all posts

In City Life

Ndalem Mangkubumen Yogyakarta: Temuan dari Walking Tour

Ndalem Mangkubumen Yogyakarta saat Walking Tour

Saya awalnya mengira Ndalem Mangkubumen hanya akan menjadi salah satu titik singgah dalam Walking Tour kawasan Keraton Yogyakarta. Ternyata, setelah datang langsung, tempat ini justru membuat saya ingin tahu lebih banyak.

Kegiatan yang diadakan oleh komunitas Sumbu Filosofi ini membawa saya menyusuri beberapa tempat bersejarah, mulai dari Ndalem Mangkubumen, Pasar Ngasem, Kampung Wisata Taman Sari, hingga ditutup dengan ngeteh di Patehan. 

Nah, kali ini saya mau cerita dulu tentang satu tempat yang punya lapisan sejarah cukup menarik: Ndalem Mangkubumen Yogyakarta.

Tahu gak, bangunan yang dari luar terlihat seperti kompleks dalem bangsawan ini ternyata pernah disiapkan sebagai kediaman Putra Mahkota. 

Bahkan, orang yang menempatinya pada awalnya kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono VII.

Jadi, kunjungan ke sini bukan cuma soal melihat bangunan tua. Ada cerita keluarga keraton, calon raja, abdi dalem, pemerintahan, pendidikan, perjuangan, sampai kegiatan budaya yang masih berlangsung hingga sekarang.

Ndalem Mangkubumen Yogyakarta Ternyata Bukan Sekadar Rumah Pangeran

Kompleks Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya
Area depan Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya (doc. Riana Dewie)

Salah satu temuan menarik dari kunjungan saya adalah soal sejarah awal bangunan ini.

Ndalem Mangkubumen dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VI sebagai tempat tinggal Pangeran Adipati Anom atau Putra Mahkota. 

Sosok yang menempatinya adalah GPH Hangabehi, putra Sultan HB VI yang dipersiapkan sebagai calon raja. Ia kemudian naik takhta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 1877.

Oh ya, dari sini saya baru ngeh bahwa istilah “rumah pangeran” sebenarnya kurang menggambarkan fungsi awal Ndalem Mangkubumen. 

Kompleks ini dirancang untuk seseorang yang sedang dipersiapkan menjadi calon raja.

Setelah GPH Hangabehi naik takhta, kompleks tersebut kemudian ditempati adiknya, KGPAA Mangkubumi. 

Dari sinilah nama Ndalem Mangkubumen semakin dikenal. Pangeran Mangkubumi tinggal di sana sampai wafat pada 1918, kemudian diteruskan oleh GPH Buminoto.

Ada pula cerita Pangeran Juminah, putra Sultan Hamengku Buwono VII, yang pernah ditetapkan sebagai Putra Mahkota tetapi kemudian batal menjadi Sultan karena kondisi kesehatannya.

Saya sih merasa bagian ini yang membuat sejarah Ndalem Mangkubumen jadi lebih menarik. 

Ada pergantian penghuni, perubahan status, dan hubungan keluarga yang memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan bisa mengikuti dinamika keluarga kerajaan.

Pendapa Ndalem Mangkubumen Yogyakarta
Pendapa Ndalem Mangkubumen Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Melihat Ndalem sebagai Rumah Sekaligus Pusat Kehidupan

Saat berada di dalam kompleks, saya mulai melihat bahwa Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta punya tata ruang yang jauh lebih kompleks daripada rumah biasa.

Karena sejak awal berkaitan dengan calon raja, bangunan Ndalem Mangkubumen memiliki susunan ruang yang menyerupai kompleks keraton. 

Bahkan dalam kajian arsitektur, kompleks ini sering disebut sebagai Keraton Alit atau “keraton kecil”.

Regol Cemeng dan Gedhong Inggil

Regol Cemeng menjadi salah satu akses penting menuju kawasan dalam kompleks. Sementara Gedhong Inggil berkaitan dengan ruang kerja Putra Mahkota atau Adipati.

Jadi, di dalam sebuah kompleks hunian bangsawan, ada ruang yang memang berkaitan dengan urusan pemerintahan. Putra Mahkota bukan hanya tinggal di sini, tetapi juga menjalankan tugas dan aktivitas yang berkaitan dengan kedudukannya.

Gandok dan ruang keluarga

Ada pula gandok yang berkaitan dengan ruang hunian keluarga. Bagian ini digunakan untuk kebutuhan istri dan anak-anak.

Sementara itu, terdapat ruang makan atau getri yang mendukung aktivitas keluarga sehari-hari. 

Susunan semacam ini memperlihatkan bahwa kehidupan keluarga keraton memiliki pembagian ruang yang cukup jelas antara area publik, pekerjaan, dan kehidupan domestik.

Tahu gak, konsep seperti ini juga berkaitan dengan keberadaan para abdi dalem di sekitar kediaman bangsawan.

Mereka dapat tinggal di kawasan magersari, yaitu tempat tinggal yang diberikan berdasarkan hak pakai atau hak guna tertentu sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi, kedekatan rumah abdi dalem dengan rumah pangeran bukan sekadar kebetulan.

Kawasan Magersari di Ndalem Mangkubumen Yogyakarta
Kawasan Magersari di Ndalem Mangkubumen Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Para abdi dalem yang memiliki tugas dekat dengan keluarga pangeran memang membutuhkan akses yang relatif dekat. 

Sementara itu, kelompok yang bertugas di luar kawasan inti Njeron Benteng juga memiliki wilayah masing-masing, seperti prajurit Patangpuluhan dan Mantrijeron.

Dari Kediaman Pangeran hingga Tempat Perjuangan dan Kampus

Nah, bagian ini menurut saya justru membuat perjalanan Ndalem Mangkubumen semakin panjang.

Bangunan ini ternyata gak berhenti sebagai kediaman keluarga keraton. Dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, kompleks ini juga pernah menjadi bagian dari cerita perjuangan Indonesia.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, Jenderal Soedirman pernah tinggal di Ndalem Mangkubumen. 

Atas izin Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kompleks tersebut digunakan sebagai tempat tinggal sementara. Keluarga Jenderal Soedirman juga kemudian tinggal di sana hingga situasi perang berakhir.

Dari tempat tinggal keluarga bangsawan, Ndalem Mangkubumen kemudian memasuki babak baru sebagai ruang pendidikan.

Pada 1952 hingga 1982, kompleks ini digunakan oleh Fakultas Kedokteran UGM. 

Kompleks Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya
Kompleks Ndalem Mangkubumen Jogja sebagai cagar budaya (doc. Riana Dewie)


Bayangkan saja, ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan keluarga keraton kemudian dipenuhi aktivitas mahasiswa dan dunia akademik.

Setelah itu, sejak 1983, Ndalem Mangkubumen digunakan oleh Universitas Widya Mataram.

Oh ya, ada satu hal yang membuat saya semakin melihat bangunan ini sebagai ruang yang terus beradaptasi. 

Meski fungsinya berubah, karakter arsitektur Jawa dan struktur kompleksnya masih menjadi bagian penting dari identitas Ndalem Mangkubumen.

Pendapa, pringgitan, dalem ageng, Bangsal Prabayeksa, hingga Sriwedari bukan sekadar nama ruangan. Masing-masing memiliki fungsi dan posisi dalam tata ruang tradisional yang membentuk keseluruhan kompleks.

Hihihihi.... jadi rasanya seperti membaca sejarah Yogyakarta melalui denah sebuah rumah.

Ndalem Mangkubumen Sekarang, Ketika Sejarah Kembali Dipakai

Kalau datang sekarang, Ndalem Mangkubumen Jogja gak hanya menarik karena masa lalunya.

Kompleks ini juga masih berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Statusnya sebagai cagar budaya nasional membuat keberadaannya punya nilai penting dalam pelestarian sejarah Yogyakarta.

Salah satu perkembangan menarik adalah pemanfaatan kembali Ndalem Mangkubumen untuk kegiatan budaya Keraton Yogyakarta.

Area kanan Ndalem Mangkubumen Yogyakarta
Area kanan Ndalem Mangkubumen Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dalam pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal, misalnya, Pendapa Ndalem Mangkubumen menjadi salah satu tempat yang digunakan dalam rangkaian kegiatan pembagian pareden atau gunungan. 

Halaman kompleks yang tampak tenang dalam keseharian bisa berubah menjadi ruang berlangsungnya tradisi keraton.

Tahu gak, buat saya bagian ini justru menjadi alasan kenapa wisata budaya Ndalem Mangkubumen menarik untuk dikunjungi. 

Kita gak hanya melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah ruang bersejarah masih punya fungsi dalam kehidupan budaya sekarang.

Saya juga jadi memahami bahwa event Ndalem Mangkubumen bukan sekadar kegiatan yang kebetulan mengambil lokasi di bangunan tua. 

Ada hubungan antara ruang, tradisi, keluarga keraton, abdi dalem, dan pelestarian budaya yang terus berjalan.

Wkwkwkwk.... ternyata satu titik dalam Walking Tour bisa membuka cerita sepanjang itu.

Peserta walking tour di Kompleks Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta
Peserta walking tour di Kompleks Ndalem Mangkubumen Keraton Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Dari kunjungan ini, saya melihat Ndalem Mangkubumen bukan cuma sebagai bangunan cagar budaya. 

Di balik temboknya ada perjalanan keluarga kerajaan, kisah Putra Mahkota, kehidupan para abdi dalem, jejak perjuangan Jenderal Soedirman, sejarah pendidikan, hingga tradisi keraton yang masih hidup.

Oh ya, perjalanan Walking Tour saya sebenarnya masih berlanjut ke Pasar Ngasem, Kampung Wisata Taman Sari, lalu menikmati teh di Patehan (tunggu artikel saya lainnya ya.....). 

Tapi Ndalem Mangkubumen menjadi salah satu titik yang paling membuat saya berhenti sejenak dan berpikir tentang betapa panjangnya perjalanan sebuah tempat.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In City Life

Ada Angklung Jalanan! Temukan 4 hal Seru yang bisa Kamu Nikmati di Titik Nol KM Jogja

wisatawan menikmati suasana Titik Nol KM Jogja

Suatu sore, saya menemani teman ke Malioboro karena ada keperluan di Hamzah Batik. Sambil menunggu, saya memilih mlipir sebentar jalan-jalan ke Titik Nol KM Jogja. 

Niat awalnya sederhana, cuma mau foto-foto. Eh, ternyata saya malah betah duduk dan menikmati suasana pusat Kota Yogyakarta.

Tahu gak, suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Agustus 2026 terasa cukup berbeda karena nuansa merah putih masih kental di berbagai sudut kota. 

Saat saya datang, kawasan ini juga sedang diramaikan pameran fotografi jurnalistik “Merdeka: Merayakan Kemerdekaan, Merawat Kebersamaan” yang digelar 14–21 Agustus 2026. Sebanyak 68 karya foto dipajang di ruang terbuka sehingga wisatawan bisa menikmatinya sambil jalan-jalan.

Buat saya yang memang orang Jogja, duduk santai di area Titik Nol KM tetap menjadi aktivitas favorit. Rasanya seperti healing singkat tanpa harus pergi jauh. 

Apalagi saat weekend, keramaian sudah terasa, meski ketika saya datang suasananya belum sepadat Sabtu atau Minggu yang biasanya lebih ramai.

Tahu gak, dari kunjungan yang awalnya cuma ingin foto-foto itu, saya malah menemukan beberapa pengalaman menarik. Ini lima hal yang bisa kamu nikmati saat melakukan wisata Titik Nol KM Jogja.

1. Foto-Foto dan Menikmati Angklung Jalanan

Dua hal ini justru menjadi pengalaman yang paling cepat saya temukan begitu sampai. Jadi, jangan buru-buru pergi setelah mendapatkan satu foto di landmark Jogja.

Hunting Foto dengan Nuansa Jogja

Titik Nol KM punya banyak latar menarik untuk hunting foto. Selain area penanda Titik Nol, ada bangunan bersejarah seperti Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar Yogyakarta, hingga Benteng Vredeburg yang membuat suasananya terasa klasik.

pameran foto Merdeka di Titik Nol Kilometer YogyakartaPameran foto Merdeka di Titik Nol Kilometer Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Pada Agustus 2026, area pedestrian juga semakin menarik karena pameran foto “Merdeka” membuat ruang publik ini seperti galeri terbuka. Pengunjung bahkan terlihat ikut mengabadikan karya-karya yang dipajang.

Kalau saya sih suka mencari foto yang menangkap suasana, bukan cuma pose di depan landmark. Keramaian pedestrian, bangunan lama, kendaraan yang lewat, sampai orang-orang yang sedang menikmati kota bisa menjadi bagian dari cerita.

Oh ya, kalau datang menjelang sore, cahaya yang mulai lembut juga bisa membuat foto terasa lebih hangat. Tinggal pilih mau bergaya formal, candid, atau sok-sokan jadi fotografer jalanan, hihihihi....

Mendengarkan Angklung Jalanan

Setelah puas mengambil beberapa foto, perhatian saya justru beralih pada alunan musik. Ada kelompok seniman jalanan yang memainkan angklung dengan lagu-lagu yang asyik dan suara yang cukup merdu sebagai penghias kawasan Titik Nol KM.

Yang menarik, pertunjukan angklung jalanan Jogja seperti ini membuat suasana kota terasa lebih hidup. Bukan cuma mendengarkan, pengunjung juga bisa request lagu atau ikut bernyanyi dengan iringan mereka.

Buat saya sih, ini salah satu bentuk kesenian tradisional yang menarik karena bisa dinikmati secara spontan ketika sedang jalan-jalan. Gak perlu masuk gedung pertunjukan atau membeli tiket khusus. Cukup berhenti sebentar, menikmati musik, lalu melanjutkan perjalanan.

2. Duduk Santai dan Menikmati Keramaian Kota

Setelah foto-foto dan mendengarkan musik jalanan Jogja, saya memilih duduk di kursi yang tersedia di sekitar kawasan. Di sinilah saya sadar bahwa salah satu hal yang bisa dilakukan di Titik Nol KM Jogja ternyata sesederhana menikmati orang berlalu-lalang.

Tahu gak, dari tempat duduk saja saya bisa melihat banyak cerita kecil. Ada wisatawan dari komunitas, keluarga yang sedang jalan-jalan, anak muda yang nongkrong, sampai orang yang sekadar melewati kawasan ini.

hunting foto di Titik Nol KM Jogja
Hunting foto di Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)

Belum lagi kendaraan yang ikut meramaikan suasana. Ada motor, mobil, becak, delman, hingga Trans Jogja yang melintas. Semuanya bergerak dalam ritme masing-masing, sementara saya cukup duduk dan memperhatikan.

Suasana seperti ini yang membuat saya suka menikmati Titik Nol KM Jogja. Bagi wisatawan, ini bisa menjadi bagian dari wisata kota. Bagi orang Jogja seperti saya, justru terasa seperti kesempatan untuk berhenti sebentar dari rutinitas.

Oh ya, kalau kamu suka suasana kota yang ramai tetapi tetap punya ruang untuk duduk santai, kawasan ini cocok untuk sekadar people watching. Gak harus selalu punya agenda wisata yang padat.

3. Naik Becak dari Malioboro ke Titik Nol KM

Kalau ingin merasakan pengalaman yang lebih “Jogja”, coba naik becak dari kawasan Malioboro menuju Titik Nol KM.

Saya sendiri merasa pengalaman ini asyik banget. Duduk di becak wisata sambil melihat suasana Jalan Malioboro dari jarak dekat memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan naik kendaraan biasa.

Becak tradisional juga membuat perjalanan terasa lebih santai. Kamu bisa melihat pedestrian, toko, wisatawan, pedagang, sampai aktivitas kota sepanjang perjalanan. Untuk wisatawan dari luar daerah, menurut saya pengalaman seperti ini layak dicoba setidaknya sekali.

Tahu gak, naik becak bukan cuma soal berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Ada pengalaman budaya yang ikut terasa sepanjang perjalanan. Apalagi jika sebelumnya kamu sudah berjalan kaki menyusuri kawasan Malioboro.

Sebelum berangkat, sebaiknya sepakati tarif dan tujuan terlebih dahulu supaya perjalanan terasa nyaman untuk kedua pihak. Setelah itu tinggal duduk manis dan menikmati Jogja.

Wkwkwkwk.... rasanya memang beda ketika biasanya terburu-buru mengejar kendaraan, lalu kali ini justru duduk santai sambil menikmati perjalanan.

Becak Malioboro menuju Titik Nol KM Jogja
Becak Malioboro & street food meramaikan area Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)

4. Berburu Street Food yang Menggoda

Jalan-jalan tentu terasa kurang lengkap tanpa jajan. Nah, setelah puas menikmati suasana, kamu bisa lanjut berburu kuliner sekitar Titik Nol KM Jogja.

Di sekitar kawasan ini, terutama menuju area Pasar Beringharjo, ada banyak pilihan kuliner kaki lima yang bisa menggoda mata sekaligus perut. Pilihannya cukup beragam, mulai dari sate kere, sate ayam, gorengan, bakso, nasi dengan berbagai lauk, sempol, siomay, wedang ronde, sampai jagung rebus.

Kalau saya sih, justru suka melihat-lihat dulu sebelum menentukan mau makan apa. Street food Jogja punya daya tarik sendiri karena kita bisa menemukan makanan sederhana di tengah suasana kota yang ramai.

Buat wisatawan, kuliner seperti ini juga bisa menjadi pengalaman wisata. Setelah berkeliling, duduk menikmati jajanan sambil melihat keramaian kota rasanya pas banget untuk menutup perjalanan.

Oh ya, jangan hanya terpaku pada tempat makan yang terlihat besar atau terkenal. Jajanan kaki lima di sekitar kawasan Malioboro juga bisa menjadi bagian menarik dari perjalanan. Tinggal pilih sesuai selera dan kondisi perut.

Jadi, Apa yang Menarik dari Titik Nol KM?

Ternyata ada banyak kegiatan di Titik Nol KM Jogja yang bisa dilakukan tanpa harus membuat itinerary rumit. Kamu bisa mulai dengan hunting foto, berhenti menikmati pertunjukan angklung, duduk melihat keramaian, naik becak dari Malioboro, lalu menutupnya dengan kuliner malam Jogja.

wisatawan menikmati suasana Titik Nol KM Jogja
Wisatawan menikmati suasana Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)


Buat saya, pengalaman ini mengingatkan bahwa menjadi wisatawan gak selalu berarti harus pergi ke tempat baru. Sesekali, melihat kota sendiri dari sudut pandang wisatawan justru bisa memberikan pengalaman berbeda.

Titik Nol KM Jogja memang ramai, tetapi di tengah keramaian itu selalu ada hal kecil yang bisa dinikmati. Jadi, kalau sedang berada di kawasan Malioboro, sempatkan saja mampir dan duduk sebentar.

Kamu harus nongkrong di Titik Nol KM Jogja. Biar tahu sensasinya!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In City Life Jogja

Melihat Wajah Jogja dari Titik Nol KM di Malam Hari

titik nol km Jogja malam hari dengan suasana ramai

Ada suasana berbeda ketika saya datang ke Titik Nol KM setelah matahari tenggelam. 

Udara terasa lebih adem, lampu-lampu kota mulai menyala, dan area di sekitar pedestrian justru dipenuhi orang. Meski ramai, entah kenapa saya cukup happy duduk di tengah suasana seperti ini.

Buat saya, Titik Nol KM Jogja malam hari bukan sekadar tempat yang dilewati wisatawan ketika jalan-jalan malam. Ada energi yang terasa hidup di sini. 

Orang datang untuk foto-foto, nongkrong, jalan kaki, janjian dengan teman, atau sekadar duduk tanpa tujuan khusus.

Tahu gak, saya yang tinggal di Jogja saja masih sering merasa seperti sedang liburan ketika nongkrong di kawasan ini. Mungkin karena suasana Kota Jogja memang punya cara sendiri untuk bikin kangen.

Begitu Malam Datang, Titik Nol Mulai Berubah

Menjelang malam, kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta perlahan berubah. Aktivitas di jalan tetap berjalan, tetapi suasananya terasa lebih santai. 

Lampu kota membuat bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya terlihat semakin menarik.

Saya sendiri sesekali janjian dengan teman di Titik Nol KM. Gak harus punya agenda khusus. Kadang kami duduk di kursi pedestrian, ngobrol sambil melihat orang berlalu-lalang. 

keramaian Titik Nol KM Jogja di malam hari
Keramaian Titik Nol KM Jogja di malam hari (doc. Riana Dewie)


Ada juga yang memilih duduk di batu-batu bulat yang mengelilingi area Titik Nol.

Tahu gak, justru aktivitas sederhana seperti ini yang menurut saya menjadi salah satu daya tarik Titik Nol Jogja malam. 

Kita gak harus masuk ke tempat nongkrong atau mengeluarkan uang untuk menikmati suasana.

Pedestrian berubah menjadi ruang publik yang mempertemukan banyak orang. 

Ada wisatawan yang baru selesai berjalan-jalan dari Malioboro, warga lokal yang sedang santai, sampai anak muda yang sibuk mencari spot foto malam.

Kalau saya sih suka bagian ini. Duduk sebentar, melihat keramaian, lalu membiarkan waktu berjalan tanpa buru-buru.

Bukan Cuma Wisatawan, Semua Ada di Sini

Salah satu hal yang menarik dari suasana Titik Nol KM malam hari adalah siapa saja bisa menjadi bagian dari keramaian.

Saya sebagai orang Jogja ternyata juga betah nongkrong di sini. Jadi, tempat ini gak cuma milik wisatawan luar kota atau wisatawan mancanegara yang sedang liburan ke Jogja.

suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta malam hari
Suasana Titik Nol Kilometer Yogyakarta malam hari (doc. Riana Dewie)


Ada warga lokal yang sekadar duduk, pasangan yang foto bersama, rombongan keluarga, komunitas, sampai wisatawan yang sengaja mampir setelah menjelajahi kawasan Malioboro malam hari.

Oh ya, dulu ada satu hal yang menurut saya cukup unik. Sesekali muncul penampakan “pocong” atau “kuntilanak” jadi-jadian di sekitar Titik Nol. Bukannya takut, saya malah ingin foto bersama mereka. Hihihihi....

Tentu saja itu bukan hantu sungguhan, melainkan karya anak-anak kreatif yang sengaja membuat suasana semakin seru. 

Kehadiran karakter seperti itu justru memberikan warna tersendiri pada pusat keramaian Yogyakarta.

Sayangnya, belakangan saya sudah jarang menemukan penampakan seperti itu. Padahal, menurut saya, hal-hal kecil semacam ini yang membuat ruang publik terasa hangat dan punya cerita.

Suasana malam Jogja memang punya magnet sendiri. Keramaian, lampu kota, suara orang ngobrol, dan aktivitas wisatawan yang datang silih berganti membuat pusat Kota Yogyakarta terasa hidup.

Kenapa Titik Nol KM Jadi Magnet di Malam Hari?

Kalau sedang mencari wisata malam Jogja, Titik Nol KM bisa menjadi salah satu pilihan yang simpel. Gak perlu itinerary rumit, tinggal datang dan menikmati suasananya.

1. Lokasinya strategis

Titik Nol KM berada di kawasan yang sangat dekat dengan Malioboro dan berbagai tujuan wisata di pusat Kota Yogyakarta. Setelah berjalan-jalan di Malioboro, orang bisa dengan mudah melanjutkan perjalanan ke sini.

2. Gratis untuk menikmati suasananya

Mau duduk, jalan kaki, ngobrol, atau melihat keramaian? Gak harus membeli tiket masuk untuk menikmati ruang publiknya.

Oh ya, ini yang menurut saya bikin Titik Nol KM Yogyakarta malam hari terasa ramah untuk berbagai kalangan. Mau datang sebentar atau berlama-lama, sama-sama bisa.

aktivitas malam di Titik Nol KM Jogja
Aktivitas malam di Titik Nol KM Jogja (doc. Riana Dewie)


3. Banyak aktivitas yang bisa dilihat

Titik Nol bukan tempat yang mengharuskan pengunjung melakukan satu aktivitas tertentu. Ada yang foto-foto, nongkrong, jalan kaki, menikmati kuliner malam di sekitar kawasan, atau sekadar mencari udara segar.

Aktivitas malam di Jogja juga terasa lebih beragam karena kawasan ini menjadi titik pertemuan wisatawan dan warga lokal.

4. Punya banyak spot foto

Lampu kota, pedestrian, bangunan bersejarah, dan suasana keramaian membuat kawasan ini menarik untuk mengabadikan momen.

Bahkan menurut saya, foto yang memperlihatkan keramaian justru sering terasa lebih bercerita dibandingkan foto tempat yang sengaja dibuat sepi.

5. Dekat dengan berbagai destinasi

Mau melanjutkan jalan-jalan ke Malioboro, mencari kuliner, atau sekadar menikmati kehidupan malam Jogja? Dari kawasan Titik Nol, banyak pilihan yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tahu gak, salah satu alasan saya suka tempat ini justru karena kita gak perlu buru-buru menentukan harus melakukan apa.

Kopi Pak Pos di kawasan titik nol km Jogja
Kopi Pak Pos di kawasan titik nol km Jogja (doc. Riana Dewie)


Menikmati Jogja Tanpa Harus Punya Agenda

Ada kalanya kepala penuh dan kita cuma butuh keluar rumah.

Gak perlu merencanakan perjalanan jauh. Gak perlu pesan hotel. Gak perlu membeli tiket pesawat. Kadang, cukup jalan ke tempat yang suasananya menyenangkan.

Saya bisa saja dadakan mengajak teman ke Titik Nol. “Yuk, ke sana,” lalu berangkat. Ahahahaha....

Kebetulan jarak dari rumah saya juga cuma sekitar 10 menit perjalanan. Jadi, rasanya sayang kalau tinggal di Jogja tetapi gak memanfaatkan tempat-tempat menarik yang ada di kota sendiri.

Orang dari luar kota rela mengeluarkan biaya dan waktu untuk membeli tiket, mencari penginapan, lalu datang ke Jogja demi merasakan suasananya. Masa sih saya yang tinggal di sini malah jarang menikmati?

Tahu gak, duduk sebentar di Titik Nol KM ternyata cukup membantu saya refreshing. 

Melihat orang berlalu-lalang, menikmati udara malam, dan ngobrol santai bisa membuat beban di kepala terasa sedikit lebih ringan.

Buat saya sih, inilah salah satu bentuk liburan paling sederhana. Gak perlu pergi jauh. Kadang yang dibutuhkan hanya keluar rumah dan membiarkan diri menikmati kota sendiri.

lampu kota dan keramaian Titik Nol KM Yogyakarta
Lampu kota dan keramaian Titik Nol KM Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Dan ketika malam semakin larut, saya baru sadar bahwa Titik Nol KM memang bukan sekadar titik di peta.

Tempat ini seperti panggung kecil tempat berbagai cerita bertemu. 

Ada wisatawan yang sedang menikmati liburan, warga lokal yang mencari tempat berkumpul, teman-teman yang menghabiskan malam, dan orang-orang seperti saya yang datang tanpa agenda khusus.

***

Titik Nol KM Yogyakarta malam hari akhirnya menjadi salah satu cara sederhana untuk melihat bagaimana Jogja terus hidup setelah matahari tenggelam.

suasana malam Jogja di kawasan Titik Nol KM
Suasana malam Jogja di kawasan Titik Nol KM (doc. Riana Dewie)


Jadi, kalau suatu malam sedang bingung mau jalan ke mana, coba saja datang ke sini. Siapa tahu, setelah duduk sebentar di tengah keramaian, pikiran juga ikut terasa lebih lega.

Wkwkwkwk.... ternyata jalan-jalan malam gak harus selalu punya tujuan, kan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments