Tahu gak, setiap mampir ke coffee shop, sekitar 75% pesanan saya sebenarnya adalah hot chocolate. Entah kenapa, minuman itu selalu terasa lebih aman di lidah.
Sisanya? Saya justru memilih memesan kopi. Agak membingungkan memang, karena saya sendiri merasa bukan pecinta kopi.
Ditambah lagi, saya gak paham soal dunia perkopian. Saya juga bukan orang yang hafal istilah single origin, light roast, atau perbedaan berbagai jenis biji kopi.
Meski begitu, sesekali saya tetap ingin menikmati secangkir kopi. Bukan karena ingin terlihat keren atau mengikuti tren kopi kekinian, tapi memang lagi pengin saja.
Lucunya, saya juga cukup sensitif dengan kafein. Minum kopi terlalu sore atau malam sering berujung susah tidur.
Walaupun sudah tahu akibatnya, sesekali saya tetap memesan kopi saat sedang bekerja, bertemu teman, atau menikmati suasana coffee shop.
Mungkin karena bagi saya, kopi bukan cuma soal rasanya, tetapi juga tentang momen yang menyertainya.
Saya Bukan Orang yang Paham Dunia Kopi
Kalau ditanya soal jenis kopi, saya mungkin bakal bikin para pecinta kopi geleng-geleng kepala.
Arabika, robusta, atau berbagai istilah seperti single origin, light roast, hingga cupping? Wah, jangan tanya saya ya. Saya benar-benar gak paham.
Oh ya, saya juga bukan tipe orang yang bisa menebak karakter kopi dari aroma atau cara penyeduhannya.
Buat saya sih, menikmati kopi gak harus diawali dengan pengetahuan yang mendalam. Selama rasanya enak di lidah, ya sudah, saya nikmati saja.
Saya lebih sering memilih kopi yang rasanya manis, seperti kopi susu, latte, atau cappuccino.
Sesekali memang mencoba americano atau kopi hitam, tapi lidah saya masih belum terlalu akrab dengan rasa pahitnya.
Tahu gak, justru karena gak punya standar tinggi soal kopi, saya jadi lebih santai saat berkunjung ke coffee shop.
Saya gak sibuk mencari tahu siapa barista yang meraciknya atau dari mana asal biji kopinya. Yang penting suasananya nyaman, kopinya enak, dan saya bisa menikmati momennya.
Kalau ke Coffee Shop, Sesekali Ingin Memesan Kopi
Saya termasuk orang yang gak terlalu sering pergi ke coffee shop sendirian.
Biasanya justru diajak teman, entah untuk sekadar ngobrol santai, meeting dengan klien, mencari suasana baru, atau bekerja sambil membuka laptop.
Dibanding bekerja di rumah terus, sesekali pindah tempat memang bisa jadi mood booster tersendiri.
Tahu gak, suasana coffee shop yang saya sukai sebenarnya sederhana. Saya lebih nyaman di tempat yang tenang, gak terlalu ramai, dan pengunjungnya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Ada yang mengerjakan tugas, rapat daring, membaca buku, atau sekadar menikmati secangkir kopi. Suasana seperti itu justru bikin saya lebih mudah fokus saat menulis.
Bekerja di coffee shop juga sering memberi ide-ide baru. Entah kenapa, suasana yang berbeda membuat pikiran terasa lebih segar.
Apalagi ditemani minuman favorit dan camilan ringan, rasanya pekerjaan jadi lebih cepat selesai.
1. Nyore Coffee & Space, Tempat Meeting yang Nyaman
Salah satu coffee shop favorit yang paling sering saya datangi adalah Nyore Coffee & Space di kawasan Tugu Jogja. Lokasinya strategis dan cukup mudah dijangkau, jadi sering menjadi pilihan saat ada meeting dengan klien.
Yang paling saya suka sih suasananya. Pilihan tempat duduknya cukup banyak, mulai dari meja biasa sampai sofa yang nyaman untuk ngobrol lebih lama. Ada juga area depan yang didominasi dinding kaca. Buat saya, ruangan ini terasa lebih tenang dan hampir seperti memiliki ruang privat sendiri.
Soal kopinya? Enak. Tapi jangan minta saya mendeskripsikan rasa dengan istilah-istilah ala pecinta kopi, ya. Saya cuma bisa bilang rasanya pas di lidah dan nyaman dinikmati sambil bekerja atau berdiskusi.
2. Fore Coffee, Awalnya Coba di Solo
Meski gerai Fore Coffee sudah cukup banyak di Jogja, pengalaman pertama saya justru terjadi saat berkunjung ke salah satu mal di Solo.
Ukuran gerainya memang gak terlalu besar, tetapi pengunjungnya cukup ramai. Saya penasaran karena banyak teman yang merekomendasikannya. Setelah mencoba, ternyata memang rasanya cocok di lidah saya.
Belakangan ini saya juga cukup sering menerima kiriman Fore Coffee dalam kemasan botol dari sahabat atau saudara. Praktis tinggal diminum di rumah tanpa perlu keluar lagi.
Enak sih, apalagi varian kopi susu yang rasanya lembut dan manis. Sayangnya, saya tetap harus membatasi diri. Sedikit saja kebanyakan minum, malamnya bisa susah tidur. Hihihihi....
3. Talakopi, Favorit Baru Dekat Kampus
Belum lama ini saya juga mampir ke Talakopi yang berada di sekitar kawasan UMY Yogyakarta.
Tempatnya cukup luas dengan bangunan dua lantai. Pilihan areanya juga beragam, mulai dari ruang ber-AC, area outdoor, sampai rooftop yang nyaman untuk menikmati sore.
Karena lokasinya dekat kampus, suasananya didominasi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas atau berdiskusi bersama teman.
Saya sendiri waktu itu memilih menu sea salt. Rasanya gurih, lembut, dan menurut saya cukup unik dibanding beberapa minuman kopi yang pernah saya coba sebelumnya.
4. Roti O, Teman Menunggu di RS Panti Rapih
Ada satu tempat lagi yang cukup berkesan buat saya, yaitu outlet Roti O yang berada di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Memang bukan coffee shop dengan tempat duduk yang luas, tetapi setiap berkunjung ke sana selalu mengingatkan saya pada satu fase dalam hidup.
Dulu, saat ibu menjalani kontrol di rumah sakit, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk menunggu. Daripada hanya duduk di ruang tunggu, saya biasanya membeli kopi dan roti di Roti O.
Sederhana memang, tetapi perpaduan kopi hangat dan roti yang baru keluar dari oven cukup membuat suasana menunggu terasa lebih nyaman.
Seperti biasa, saya gak bisa menjelaskan detail rasanya seperti para pecinta kopi. Yang saya tahu, rasanya enak di lidah dan pas dinikmati sambil menunggu waktu berlalu.
Padahal Saya Sudah Tahu Akibatnya
Saya selalu heran dengan diri sendiri. Sudah tahu efeknya, sudah berkali-kali mengalaminya, tapi tetap saja sesekali tergoda membeli kopi.
Saya termasuk orang yang cukup sensitif terhadap kafein. Jadi, kalau minum kopi menjelang sore atau malam, besar kemungkinan saya bakal susah tidur.
Bukannya mengantuk, saya malah masih segar, akhirnya guling-guling di kasur sambil scroll media sosial sampai dini hari.
Tahu gak, yang bikin saya lebih heran lagi, siang harinya pun saya sering tetap gak bisa tidur meski badan sudah capek.
Rasanya ingin istirahat, tapi mata masih saja melek. Alhasil, besoknya badan terasa kurang segar dan aktivitas pun jadi kurang maksimal.
Saya iri sih sama orang-orang yang tetap bisa tidur nyenyak setelah ngopi malam. Sementara saya harus pintar memilih waktu kalau sedang ingin menikmati secangkir kopi.
Meski begitu, sesekali aturan itu tetap saya langgar juga. Wkwkwkwk.... Apalagi sekarang pilihan minuman kopi semakin beragam.
Ada kopi susu, latte, sampai berbagai varian dengan rasa manis yang memang lebih cocok di lidah saya.
Oh ya, saya gak pernah memaksakan diri untuk menikmati kopi yang terlalu pahit. Saya lebih suka kopi yang rasanya ringan dan mudah diterima di lidah.
Mungkin karena sejak awal tujuan saya bukan menjadi ahli kopi, melainkan sekadar menikmati momennya.
Saya rasa setiap orang memang punya toleransi kafein yang berbeda. Ada yang tetap bisa tidur nyenyak setelah ngopi malam, sementara saya harus siap menerima risiko begadang.
Walaupun begitu, entah kenapa saya tetap suka memesan kopi sesekali. Mungkin karena bagi saya, secangkir kopi selalu punya cerita yang membuatnya layak dinikmati.
Buat Saya, Kopi Bukan Sekadar Minuman
Seiring waktu, saya sadar bahwa alasan minum kopi ternyata bukan semata-mata karena rasanya. Justru yang paling saya nikmati adalah momen yang hadir saat secangkir kopi menemani berbagai aktivitas.
Mungkin itulah kenapa saya tetap suka minum kopi meski mengaku bukan pecinta kopi.
1. Teman Menulis Artikel
Saya cukup sering membawa laptop ke coffee shop saat sedang mengerjakan artikel. Entah kenapa, suasana yang tenang membuat ide mengalir lebih lancar.
Sesekali saya berhenti mengetik hanya untuk menyeruput kopi hangat, lalu kembali melanjutkan tulisan.
Bekerja di coffee shop memang gak selalu membuat pekerjaan selesai lebih cepat. Namun, suasana baru sering kali menjadi mood booster yang membantu saya lebih fokus dan menikmati proses menulis.
2. Teman Meeting yang Santai
Selain untuk bekerja sendiri, saya juga cukup sering bertemu klien atau teman di coffee shop. Suasananya terasa lebih santai dibanding ruang rapat yang formal, sehingga obrolan pun mengalir lebih nyaman.
Buat saya sih, secangkir kopi atau hot chocolate sering menjadi pelengkap saat berdiskusi. Kadang justru ide-ide baru muncul di tengah obrolan ringan seperti itu.
3. Teman "Me Time"
Oh ya, sesekali saya juga menikmati datang ke coffee shop sendirian. Duduk di sudut ruangan, menikmati minuman favorit, sambil melihat orang lalu-lalang ternyata cukup menyenangkan.
Ada kalanya saya membuka laptop, membaca beberapa catatan, atau justru membiarkan pikiran melayang ke mana-mana.
Bahkan, kadang malah KSBB alias kelingan sing biyen-biyen—teringat cerita-cerita lama. Hihihihi.... Rasanya sederhana, tapi cukup ampuh untuk healing tipis-tipis setelah menjalani hari yang padat.
Pada akhirnya, saya sadar bahwa saya mungkin memang bukan orang yang mengerti seluk-beluk kopi.
Saya juga belum tentu bisa membedakan rasa latte, cappuccino, atau americano secara detail. Namun, itu gak pernah mengurangi kesenangan saya saat menikmati secangkir kopi di waktu yang tepat.
Tidak semua orang yang memesan kopi adalah pecinta kopi. Ada juga yang sekadar menyukai suasana, aromanya, atau momen yang tercipta bersama secangkir kopi.
Dan mungkin, saya termasuk salah satunya.











.png)
0 komentar:
Post a Comment