Sebuah Cerita Tentang

by - 5:00 AM



Cerita tentang angpao
Apa ini, kata saya dalam hati. Saya sedikit bingung saat menerima amplop merah dengan gambar dua anak cowok dan cewek dan barongsai. Angpao kata ibu bos saya.

Jadi angpao itu diberikan orang yang belum menikah. Meskipun dia sudah kerja tapi kalau belum menikah nggak boleh ngasih angpao. Dengan logat sunda yang kental, saya mendengarkan ibu bos menjelaskan perihal siapa yang boleh ngasih angpao.

Saya ingat betul kejadian sepuluh tahun yang lalu, karena itu adalah angpao pertama kali saya terima. Wah.. Xiexie. Ya memang kebetulan tradisi imlek masih dirayakan oleh keluarga pak bos. Termasuk memberikan angpao, lumayan buat tambah-tambah uang jajan.

Keesokan harinya, salah satu anak pak bos yang baru pulang dari bawa grup Eropa menghampiri saya. Membuka dompetnya dan memberikan uang senilai sepuluh euro. Angpao kata dia..cihuyyy. Xiexie lagi nih.

Kalau dapet angpao sebaiknya amplop/uangnya (agak lupa uang atau amplop ya?) disimpan di dompet, supaya rejeki tetep mengalir ke ke dompet kita, pesen dari putra pak bos. "Waduh, lhaa angpao yg dari ibu udah abis tuh", kata saya. "Ya udah ini aja disimpen", lanjutnya.

Wah iya ya bener juga lagian uang Euro mana laku kan di Indo. Sekalian berdoa deh biar ngundang rejeki sapa tau bisa sampai ke negaranya. Amien. Jadi katanya kalau kita punya dompet nggak boleh bener-bener kosong, pamali. Makanya tuh uang masih saya simpen sampai sekarang di dompet. Bentar lagi imlek, lagi nungguin angpao, sapa tau isi amplopnya tiket, hotel dan uang saku ke Perancis 14 hari 😇#minpitengahhari

@30haribercerita
#30hbc20
#30hbc2016
#30haribercerita

You May Also Like

0 komentar

Follow Us @dTownStory