In Growth & Productivity

Pertama Kali Membuat Gerabah di Borobudur, Pulangnya Bawa Karya Buatan Sendiri!

Membuat gerabah di Borobudur menggunakan pottery wheel di Gerabah Arum Art.

Kalau ngomongin soal membuat gerabah di Borobudur, saya jadi teringat dua pengalaman yang sampai sekarang masih membekas di ingatan. 

Menariknya, keduanya sama-sama mempertemukan saya dengan tanah liat, tetapi menghadirkan cerita yang benar-benar berbeda. 

Kalau saya sih, setiap pengalaman baru selalu punya cerita yang layak dikenang.

Pengalaman pertama terjadi saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2009. Waktu itu saya ditempatkan di rumah seorang pelaku UMKM gerabah di kawasan Pundong, Bantul. 

Selama hampir satu bulan tinggal bersama keluarga tersebut, saya melihat langsung bagaimana tanah liat diolah menjadi berbagai kerajinan tradisional yang memiliki nilai seni tinggi. 

Mulai dari proses membentuk, menjemur, membakar, hingga akhirnya siap dipasarkan.

Oh ya, dari pengalaman KKN itulah saya mulai sadar kalau sebuah gerabah ternyata gak lahir begitu saja. 

Ada proses panjang, ketelatenan, dan kesabaran yang luar biasa di balik setiap karya yang terlihat sederhana.

Pengalaman kedua baru saja saya rasakan ketika berkunjung ke Gerabah Arum Art, sebuah workshop gerabah Borobudur yang cukup populer di kawasan wisata sekitar Candi Borobudur. 

Awalnya saya mengira tempat ini hanya menjual aneka gerabah seperti toko pada umumnya. Ternyata dugaan saya meleset jauh.

Di sini saya gak cuma melihat berbagai koleksi gerabah yang unik, tetapi juga diajak mencoba belajar membuat gerabah secara langsung. 

Bahkan hasil karya itu nantinya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Wah, pengalaman seperti ini jelas bikin saya penasaran.

Kenapa Memilih Mencoba Workshop Gerabah di Borobudur?

Semua berawal dari rekomendasi seorang teman yang mengatakan kalau ada sebuah pottery workshop Borobudur dengan koleksi gerabah yang sangat lengkap. 

Katanya, pengunjung bisa melihat proses produksinya sekaligus mencoba membuat gerabah sendiri. 

Mendengar cerita itu, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di kawasan Borobudur.

Gerabah Arum Art sendiri merupakan salah satu sentra kerajinan gerabah yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan dikelola oleh Pak Supoyo bersama tim pengrajinnya. 

Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur.
Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Berawal dari usaha keluarga, kini tempat ini berkembang menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Produk-produknya bahkan telah dipasarkan hingga berbagai negara, sehingga kualitas hasil karya para pengrajin gerabah di sini memang gak perlu diragukan lagi.

Oh ya, yang membuat saya langsung nyaman justru bukan hanya koleksi gerabahnya, melainkan sambutan ramah dari para staf yang berjaga. 

Baru beberapa langkah masuk saja, saya sudah disapa dengan senyum hangat dan dipersilakan berkeliling area workshop sambil melihat proses pembuatannya.

Saya pun mulai berjalan menyusuri setiap sudut ruang pamer. Rasanya mata ini gak berhenti dibuat kagum melihat begitu banyak hasil kerajinan handmade yang tertata rapi. 

Ada vas bunga dengan berbagai ukuran, pot tanaman, asbak, teko, tempat lilin, lampu tidur, hingga aneka dekorasi rumah yang estetik.

Yang paling menarik perhatian saya tentu saja miniatur stupa yang bentuknya sangat mirip dengan stupa di Candi Borobudur. 

Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade.
Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade (doc. Riana Dewie)


Detailnya benar-benar rapi dan artistik sehingga cocok dijadikan pajangan maupun oleh-oleh Borobudur.

Kalau dihitung-hitung, koleksi produknya mungkin mencapai ratusan jenis. Wah, lengkap juga ya! 

Saya bahkan sempat beberapa kali berhenti hanya untuk mengamati detail ukiran dan finishing setiap gerabah. 

Masing-masing memiliki karakter yang berbeda sehingga rasanya sayang kalau cuma dilihat sekilas.

Oh ya, kalau berkunjung ke sini, jangan buru-buru pulang. 

Luangkan waktu untuk mengelilingi workshop karena hampir setiap sudutnya menyimpan karya-karya yang menarik untuk difoto sekaligus dipelajari. 

Rasanya seperti sedang menikmati galeri seni yang penuh cerita.

Pengalaman Pertama Membuat Gerabah dengan Pottery Wheel

Setelah puas berkeliling melihat area workshop, tiba-tiba salah seorang pramuniaga menghampiri saya sambil tersenyum. 

Beliau menawarkan apakah saya ingin mencoba membuat gerabah sendiri menggunakan pottery wheel. Mendengar tawaran itu, saya jelas langsung mengangguk. 

Kesempatan seperti ini rasanya sayang kalau dilewatkan, apalagi seumur hidup saya memang belum pernah mencobanya. Hahahaha....

Pottery wheel merupakan alat berbentuk meja putar yang digunakan untuk membentuk tanah liat menjadi berbagai macam gerabah. Cara kerjanya cukup sederhana. 

Meja akan berputar dengan kecepatan tertentu, kemudian kedua tangan kita bertugas membentuk tanah liat sedikit demi sedikit hingga menjadi vas, mangkuk, gelas, atau bentuk lainnya. 

Meski terdengar mudah, kenyataannya alat ini membutuhkan keseimbangan, ketelitian, dan kontrol tangan yang baik.

Saya pun duduk di depan pottery wheel dengan perasaan campur aduk antara antusias dan penasaran. Sebelum praktik, salah satu instruktur memberikan contoh terlebih dahulu. 

Tanah liat yang awalnya hanya berupa gumpalan perlahan berubah menjadi bentuk silinder yang tinggi dan rapi. Gerakannya terlihat begitu halus seolah semuanya berjalan otomatis.

"Oh, ternyata gampang," pikir saya saat itu.

Sayangnya, pikiran tersebut cuma bertahan beberapa detik saja.

Membuat gerabah dengan Pottery wheel
Membuat gerabah dengan Pottery wheel (doc. Riana Dewie)


Ternyata Gak Semudah yang Dibayangkan

Begitu giliran saya dimulai, kedua tangan langsung menyentuh tanah liat yang terus berputar. Awalnya masih terlihat normal. 

Namun semakin lama, bentuk gerabah yang saya buat justru mulai bergoyang ke kanan dan kiri. Bukannya bertambah tinggi, hasilnya malah mleyot dan semakin miring.

Instruktur yang mendampingi beberapa kali membantu membenarkan posisi tangan saya. Sesaat bentuknya memang kembali rapi. 

Tapi begitu saya mencoba melanjutkan sendiri, eh... miring lagi. Hihihihi....

Beberapa pengunjung yang berada di sekitar workshop ikut memperhatikan proses tersebut. 

Ada yang tersenyum, ada pula yang tertawa kecil melihat bentuk gerabah saya yang benar-benar di luar ekspektasi. 

Kalau saya sih langsung ikut tertawa juga. Mau bagaimana lagi, namanya juga pengalaman pertama.

Oh ya, ternyata posisi jari menjadi salah satu kunci penting saat membentuk gerabah. Tekanan yang terlalu kuat atau terlalu lemah bisa langsung mengubah bentuk tanah liat dalam hitungan detik. 

Pantas saja para pengrajin bisa menghasilkan karya yang begitu presisi. Di balik hasil yang indah, ada latihan bertahun-tahun yang mungkin gak pernah kita bayangkan.

Meski hasilnya jauh dari kata sempurna, saya justru menikmati setiap prosesnya. Tangan penuh tanah liat, sesekali salah menekan, lalu mencoba memperbaikinya lagi. 

Aktivitas sederhana ini ternyata mampu membuat saya fokus sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan. Rasanya seperti melupakan sejenak segala kesibukan di luar sana.

Di momen itulah saya mulai memahami kenapa workshop seperti ini menjadi salah satu aktivitas seru di Borobudur yang banyak diminati wisatawan. 

Bukan semata-mata karena ingin menghasilkan gerabah yang bagus, melainkan karena proses belajar dan pengalaman yang diperoleh benar-benar menyenangkan.

Dibimbing Langsung oleh Pak Supoyo

Saat saya masih sibuk berjuang menyelamatkan gerabah yang sudah telanjur miring, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami. 

Beliau menyapa dengan ramah, lalu ikut memberikan arahan bagaimana cara memosisikan tangan agar tanah liat tetap stabil di tengah putaran.

Belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah Pak Supoyo, pendiri sekaligus pemilik Gerabah Arum Art.

Oh ya, yang membuat saya terkesan bukan hanya karena beliau mau turun langsung membimbing pengunjung, tetapi juga kesederhanaan dan keramahannya saat berbagi cerita. 

Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur.
Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Sambil sesekali membantu membentuk gerabah saya, beliau menceritakan bagaimana usaha ini dirintis dari skala kecil hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu sentra gerabah di kawasan Borobudur.

Beliau juga bercerita bahwa mempertahankan kualitas menjadi hal yang paling penting. 

Sebab, setiap gerabah yang dihasilkan membawa nama para perajin sekaligus budaya lokal yang sudah diwariskan secara turun-temurun. 

Mendengar cerita itu, saya semakin menghargai setiap proses panjang di balik sebuah karya gerabah yang selama ini mungkin sering saya anggap biasa saja.

Berkeliling Workshop Gerabah Arum Art

Selesai mencoba membuat gerabah, saya kembali diajak berkeliling ke area showroom. Jujur saja, rasanya seperti masuk ke dunia yang dipenuhi karya seni dari tanah liat. 

Hampir di setiap sudut ruangan terdapat berbagai gerabah dengan bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbeda-beda. 

Kalau diperhatikan satu per satu, jumlahnya bisa mencapai sekitar 200 jenis. Saya sampai bingung harus mulai melihat dari mana dulu.

Koleksi Gerabah yang Lucu dan Unik

Salah satu produk yang paling mencuri perhatian saya adalah miniatur stupa yang desainnya terinspirasi dari Candi Borobudur. 

Bentuknya simpel, tetapi detailnya sangat rapi sehingga cocok dijadikan dekorasi rumah maupun hadiah untuk keluarga dan teman.

Selain itu, ada juga berbagai vas bunga dengan desain modern, pot tanaman, lampu tidur bernuansa etnik, asbak, teko, mug, tempat lilin, hingga aneka hiasan meja yang estetik. 

Menariknya lagi, beberapa produk memadukan sentuhan tradisional dengan desain yang lebih kekinian sehingga cocok untuk berbagai konsep interior rumah.

Oh ya, saya sempat bertanya produk apa yang paling banyak diminati pengunjung. Ternyata vas bunga dan dekorasi rumah menjadi dua kategori yang paling laris. 

Alasannya sederhana, desainnya unik, mudah dipadukan dengan berbagai ruangan, dan memiliki kesan handmade yang membuat setiap produknya terasa lebih istimewa.

Saya juga memperhatikan proses finishing beberapa gerabah yang sedang dikerjakan para perajin. 

Mulai dari penghalusan permukaan, pewarnaan, hingga proses pembakaran dilakukan dengan teliti agar menghasilkan kualitas terbaik. 

Dari situ saya semakin paham kalau sebuah gerabah yang tampak sederhana ternyata melewati tahapan yang cukup panjang sebelum akhirnya dipajang di showroom.

Kalau saya sih, tempat seperti ini bukan sekadar toko kerajinan. 

Saya justru menganggapnya sebagai ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana kreativitas, budaya, dan kerja keras berpadu menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai seni.

Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat.
Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat (doc. Riana Dewie)


Belanja Oleh-Oleh Handmade

Rasanya kurang lengkap kalau sudah datang ke Gerabah Arum Art tetapi pulang dengan tangan kosong. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya saya memilih beberapa gerabah untuk dibawa pulang.

Pilihan saya jatuh pada sebuah vas bunga dengan desain minimalis, miniatur stupa khas Borobudur, serta lampu tidur yang menurut saya cantik banget saat dinyalakan. 

Warnanya hangat dan motifnya sederhana, sehingga cocok dijadikan dekorasi di rumah.

Yang paling spesial tentu saja bukan barang-barang yang saya beli, melainkan satu gerabah hasil karya saya sendiri. 

Meski bentuknya masih jauh dari sempurna, gerabah itu akhirnya sudah selesai diproses dan bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Oh ya, menurut saya justru di situlah letak keistimewaannya. Saya gak hanya membawa pulang oleh-oleh khas Borobudur, tetapi juga membawa pulang pengalaman yang saya buat dengan kedua tangan sendiri. 

Rasanya tentu berbeda dibanding membeli suvenir yang sudah jadi.

Di perjalanan pulang, saya beberapa kali membuka kotak berisi gerabah buatan saya. 

Bentuknya memang masih miring dan gak simetris, tetapi setiap melihatnya saya langsung teringat momen seru saat duduk di depan pottery wheel, tertawa bersama para pengunjung lain, hingga mendapatkan bimbingan langsung dari Pak Supoyo. 

Kenangan seperti itu rasanya sulit digantikan oleh apa pun.

Gerabah Miring Ini Justru Jadi Oleh-Oleh Paling Berkesan

Kalau dilihat-lihat lagi, gerabah buatan saya memang jauh dari kata sempurna. Bentuknya sedikit miring, ukurannya juga gak benar-benar simetris. 

Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu istimewa. Setiap lekukan yang kurang presisi menjadi pengingat bahwa saya pernah mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Saya jadi belajar bahwa sebuah hasil gak selalu harus sempurna untuk bisa memiliki nilai. Sama seperti hidup, setiap proses pasti memiliki tantangan. 

Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art
Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art (doc. Riana Dewie)


Kadang kita berhasil, kadang juga melenceng dari rencana. Namun selama terus belajar dan mau mencoba lagi, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Oh ya, pengalaman ini juga membuat saya semakin menghargai para pengrajin gerabah. Selama ini saya mungkin hanya melihat hasil akhirnya yang cantik dan rapi. 

Padahal, di balik setiap karya terdapat latihan, ketelatenan, kesabaran, bahkan pengalaman bertahun-tahun hingga akhirnya menghasilkan gerabah berkualitas.

Kalau saya sih, workshop seperti ini layak menjadi salah satu destinasi saat berkunjung ke kawasan Borobudur. 

Selain menikmati kemegahan candi, kita juga bisa mengenal budaya lokal melalui aktivitas yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan. 

Inilah salah satu bentuk wisata edukasi yang menurut saya cocok untuk semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Saya pun pulang dengan membawa lebih dari sekadar beberapa buah gerabah. 

Ada pengalaman baru, cerita seru, tawa bersama orang-orang yang baru saya kenal, hingga pelajaran hidup yang mungkin akan terus saya ingat.

***

Kapan-kapan saya ingin kembali lagi ke Gerabah Arum Art. Siapa tahu kesempatan berikutnya hasil gerabah saya bisa lebih bagus. Atau... jangan-jangan malah semakin miring? Hahahaha....

Ah, memang ya, selalu ada pelajaran hidup dari setiap perjalanan yang saya lakukan. 

Dan bagi saya, membuat gerabah di Borobudur bukan sekadar mencoba membentuk tanah liat, tetapi juga belajar bahwa sebuah proses selalu lebih berharga daripada sekadar mengejar hasil akhirnya.



Related Articles

0 komentar:

Post a Comment