Showing posts with label Growth & Productivity. Show all posts
Showing posts with label Growth & Productivity. Show all posts

In Growth & Productivity

Saya Suka Menulis, Tapi Tidak Hobi Membaca Buku. Apakah Bisa?

pengalaman pribadi suka menulis tapi tidak hobi membaca buku

Ngomong-ngomong tentang baca buku, sepertinya circle pertemanan saya sekitar 75% pada suka membaca buku deh. 

Saya berarti termasuk minoritas. Kok bisa? Iya, karena jujur dari dulu saya gak terlalu suka membaca buku, apalagi yang tebal. 

Jadi, selama ini saya lebih menikmati menulis, sedangkan membaca sering bikin kepala mendadak penuh. 

Tahu gak, saya sempat berpikir apakah orang yang suka menulis tapi tidak hobi membaca buku masih punya peluang untuk berkembang sebagai penulis.

Mengapa Saya Lebih Betah Menulis daripada Membaca Buku

Ada cerita lucu ketika saya masih bekerja di kantor lama. Pak Boss suka banget membelikan buku-buku keluaran terbaru untuk saya baca. 

Katanya sih, supaya wawasan saya bertambah dan kemampuan menulis saya juga ikut berkembang.

Oh ya, suatu hari beliau mau memberikan buku baru lagi, lalu tiba-tiba bertanya, “Lho, kok yang kemarin masih plastikan begini?” 

Saya langsung jawab jujur, “Maaf Pak, saya gak terlalu suka baca buku. Nanti saya usahakan baca dikit-dikit deh, Pak.”

Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli
Tumpukan buku di rumah yang belum kebaca sejak awal beli (doc. Riana Dewie)

Boss saya cuma nyengir sambil tertawa kecil. Mungkin beliau juga bingung, ini orang kerjaannya menulis, tapi kok gak suka membaca buku. 

Referensinya dari mana? Wkwkwkwk... sampai sekarang saya masih ingat ekspresi beliau waktu itu.

Nah, beberapa alasan saya kurang betah membaca buku sebenarnya cukup sederhana.

1. Mata Cepat Perih

Saya punya kecenderungan, membaca buku lebih dari lima menit bikin mata terasa pedas atau perih. Apalagi jika warna kertasnya putih bersih. 

Kalau kertasnya agak krem atau buram, biasanya mata saya lebih nyaman. Tahu gak, hal kecil seperti warna kertas ternyata cukup berpengaruh buat saya.

mencoba beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih
Beli buku ini karena suka temanya, tapi belum selesai baca hingga setahun lebih (doc. Riana Dewie)


2. Sulit Fokus Membaca Lama

Saya gak tahu kenapa, tapi saya memang kurang bisa fokus membaca dalam waktu lama. 

Mungkin karakter saya agak “kemrungsung”, atau memang gak betah melihat puluhan lembar halaman yang terasa menunggu untuk diselesaikan.

3. Gampang Bosan

Beberapa cerita di buku kadang terasa berjalan pelan. Teman-teman saya sih bisa menghabiskan buku tebal dalam satu atau dua hari. 

Saya? Baru beberapa halaman saja sudah mulai melirik hal lain. Hihihihi...

Tetapi anehnya, begitu mulai menulis, waktu terasa cepat berlalu. Saya bisa duduk berjam-jam di depan laptop tanpa merasa terbebani. 

Nah, di situlah saya mulai sadar bahwa hubungan membaca dan menulis mungkin gak selalu sesederhana “penulis harus suka membaca buku”.

Saya senang datang di Pameran Buku
Saya senang datang di Pameran Buku (doc. Riana Dewie)


Apakah Penulis Harus Hobi Membaca?

Nah, pertanyaan ini sering muncul di kepala saya. Penulis itu harus senang membaca gak sih? Jujur, saya juga masih terus mencari jawabannya.

Di satu sisi, saya paham bahwa membaca memang penting. Banyak orang mengatakan bahwa manfaat membaca untuk menulis itu besar: kosakata bertambah, gaya bahasa lebih kaya, wawasan lebih luas, dan ide tulisan jadi lebih beragam.

Oh ya, saya juga gak mau munafik. Saya tahu membaca bisa membantu saya belajar menulis dengan lebih baik. 

Hanya saja, bentuk membaca yang cocok buat saya ternyata bukan duduk lama dengan satu buku tebal.

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, jawabannya mungkin “iya”, tetapi bentuk membacanya bisa berbeda-beda. 

Ada yang menikmati novel beratus-ratus halaman, ada juga yang lebih nyaman membaca artikel, blog, berita, atau tulisan pendek.

Di bagian berikutnya, saya akan cerita bahwa sebenarnya saya tetap membaca setiap hari, hanya saja bukan dalam bentuk buku tebal yang harus diselesaikan dari halaman pertama sampai terakhir.

Mengapa Membaca Penting bagi Penulis

Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS
Membawa buku ini saat menunggu kontrol di RS (doc. Riana Dewie)

Saya akhirnya menyadari bahwa membaca memang punya banyak manfaat. 

Bukan semata-mata supaya terlihat rajin, tetapi karena dari sanalah kita bisa menemukan kosakata baru, sudut pandang berbeda, sampai referensi yang mungkin sebelumnya gak pernah terpikirkan. 

Semua itu bisa menjadi bekal saat proses storytelling maupun menyusun sebuah artikel.

Oh ya, membaca juga gak selalu harus berasal dari buku. Sekarang ada banyak media digital yang praktis dan lebih sesuai dengan kebiasaan saya. 

Saya sering membaca artikel, blog, berita, bahkan hasil riset sederhana di internet untuk menambah wawasan. 

Cara ini justru terasa lebih nyaman daripada memaksakan diri menamatkan buku yang membuat saya kehilangan fokus.

Namun, Tidak Semua Orang Belajar dengan Cara yang Sama

Tahu gak, semakin bertambah usia saya justru semakin percaya bahwa setiap orang punya gaya belajar yang berbeda. 

Ada yang cepat memahami sesuatu lewat membaca buku, ada yang lebih mudah lewat video, diskusi, observasi, atau langsung mencoba sendiri.

Saya sih termasuk tipe yang lebih cepat menangkap informasi dari tulisan yang ringkas dan langsung ke inti pembahasan. 

Setelah itu, biasanya saya mengolahnya lagi menjadi sudut pandang sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Buat saya, proses itu terasa lebih menyenangkan sekaligus memancing kreativitas.

Bukan berarti saya anti buku ya. Saya tetap menghargai orang-orang yang punya kebiasaan membaca luar biasa. 

Bahkan kadang saya iri melihat teman yang bisa santai menikmati novel setebal ratusan halaman dalam hitungan hari. 

Saya? Baru beberapa bab saja sudah mulai mencari camilan atau membuka hal lain di laptop. Hihihihi...

Yang paling penting, saya merasa proses belajar gak harus selalu sama. 

Tujuannya tetap sama, yaitu terus berkembang dan menemukan inspirasi menulis dari berbagai sumber yang sesuai dengan karakter masing-masing.

Saya Tetap Membaca, Hanya Bukan Buku Tebal

Meski sering bilang gak hobi membaca buku, sebenarnya saya tetap membaca setiap hari. Bedanya, bacaan yang saya pilih lebih banyak berasal dari media digital. 

Mulai dari artikel, berita, jurnal, blog, media sosial, komentar orang, sampai hasil riset Google. Semua itu tetap menjadi sumber referensi yang membantu saya memahami banyak hal.

Bagi saya yang dulu cukup sering ikut lomba menulis, sudah pasti saya membutuhkan bahan sebelum mulai mengetik. 

Jadi, saya tetap membaca, hanya saja dalam bentuk yang lebih ringkas, sederhana, dan langsung menuju inti pembahasan. 

Cara seperti ini justru membuat saya lebih mudah menyerap informasi tanpa merasa terbebani.

Setelah lebih dari 500 kata artikel ini, saya jadi teringat bahwa sesekali saya juga menikmati membaca book review

Lucunya, saya sering lebih tertarik membaca ulasan sebuah buku daripada langsung membaca bukunya. 

Dari sana saya bisa mengetahui isi, sudut pandang penulis, bahkan memutuskan apakah buku tersebut memang cocok untuk saya atau cukup sampai membaca ulasannya saja.

Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review
Buku ini bisa selesai dibaca karena ada tugas review. hihihi (doc. Riana Dewie)

Tahu gak, kebiasaan itu justru sering membantu saya menemukan ide tulisan baru. 

Saat membaca sebuah artikel atau blog, saya langsung berpi

kir, "Wah, topik ini bisa dibahas dari sudut pandang yang berbeda." 

Akhirnya satu bacaan pendek bisa berkembang menjadi beberapa ide tulisan sekaligus.

Saya sih percaya bahwa membaca gak selalu diukur dari tebalnya buku yang berhasil diselesaikan. 

Yang lebih penting adalah apakah bacaan tersebut benar-benar menambah wawasan, memancing rasa ingin tahu, dan membuat kita terus belajar.

Jadi, saat ada yang bertanya apakah saya membaca setiap hari, jawabannya tetap "iya". Hanya medianya saja yang berbeda.

Yang Membuat Tulisan Berkembang Bukan Hanya Banyak Membaca

Setelah menjalani hobi menulis selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa kemampuan menulis juga dibentuk oleh banyak hal selain membaca. 

Saya belajar dari rutinitas menulis, menerima masukan dari pembaca, mengamati kejadian di sekitar, serta terus menjaga rasa ingin tahu. 

Semua pengalaman itu ikut membentuk gaya bahasa saya sedikit demi sedikit.

Oh ya, saya juga cukup sering mengikuti lomba menulis. Memang sih, saya gak selalu menang. 

Mungkin hanya sekitar 30% dari total lomba yang saya ikuti berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan. 

Namun, saya tetap menikmati prosesnya. Setiap lomba membuat saya belajar menyusun ide, mengatur alur tulisan, dan berani mencoba tema yang sebelumnya belum pernah saya bahas. 

Rasanya selalu ada harapan setiap kali menunggu pengumuman pemenang.

***

Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, membaca dan menulis memang saling melengkapi. 

Namun, prosesnya gak harus dimulai dengan memaksa diri membaca buku berjam-jam. Temukan saja cara belajar yang paling nyaman. 

Siapa tahu, seperti saya, kamu lebih menikmati bacaan digital, lalu perlahan mulai berani mencoba buku-buku yang sesuai minat.

Pada akhirnya, setiap penulis punya perjalanan yang berbeda. Saya masih ingin belajar, memperkaya literasi, dan sesekali menantang diri untuk lebih akrab dengan buku. 

Semoga suatu hari nanti saya bisa berkata, "Ternyata membaca buku juga menyenangkan." 

Sampai saat itu tiba, saya akan terus menulis, terus belajar, dan terus mencari inspirasi, bahkan saat sedang travelling sekalipun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Pertama Kali Membuat Gerabah di Borobudur, Pulangnya Bawa Karya Buatan Sendiri!

Membuat gerabah di Borobudur menggunakan pottery wheel di Gerabah Arum Art.

Kalau ngomongin soal membuat gerabah di Borobudur, saya jadi teringat dua pengalaman yang sampai sekarang masih membekas di ingatan. 

Menariknya, keduanya sama-sama mempertemukan saya dengan tanah liat, tetapi menghadirkan cerita yang benar-benar berbeda. 

Kalau saya sih, setiap pengalaman baru selalu punya cerita yang layak dikenang.

Pengalaman pertama terjadi saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2009. Waktu itu saya ditempatkan di rumah seorang pelaku UMKM gerabah di kawasan Pundong, Bantul. 

Selama hampir satu bulan tinggal bersama keluarga tersebut, saya melihat langsung bagaimana tanah liat diolah menjadi berbagai kerajinan tradisional yang memiliki nilai seni tinggi. 

Mulai dari proses membentuk, menjemur, membakar, hingga akhirnya siap dipasarkan.

Oh ya, dari pengalaman KKN itulah saya mulai sadar kalau sebuah gerabah ternyata gak lahir begitu saja. 

Ada proses panjang, ketelatenan, dan kesabaran yang luar biasa di balik setiap karya yang terlihat sederhana.

Pengalaman kedua baru saja saya rasakan ketika berkunjung ke Gerabah Arum Art, sebuah workshop gerabah Borobudur yang cukup populer di kawasan wisata sekitar Candi Borobudur. 

Awalnya saya mengira tempat ini hanya menjual aneka gerabah seperti toko pada umumnya. Ternyata dugaan saya meleset jauh.

Di sini saya gak cuma melihat berbagai koleksi gerabah yang unik, tetapi juga diajak mencoba belajar membuat gerabah secara langsung. 

Bahkan hasil karya itu nantinya boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Wah, pengalaman seperti ini jelas bikin saya penasaran.

Kenapa Memilih Mencoba Workshop Gerabah di Borobudur?

Semua berawal dari rekomendasi seorang teman yang mengatakan kalau ada sebuah pottery workshop Borobudur dengan koleksi gerabah yang sangat lengkap. 

Katanya, pengunjung bisa melihat proses produksinya sekaligus mencoba membuat gerabah sendiri. 

Mendengar cerita itu, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di kawasan Borobudur.

Gerabah Arum Art sendiri merupakan salah satu sentra kerajinan gerabah yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu dan dikelola oleh Pak Supoyo bersama tim pengrajinnya. 

Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur.
Koleksi gerabah handmade di workshop Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Berawal dari usaha keluarga, kini tempat ini berkembang menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Produk-produknya bahkan telah dipasarkan hingga berbagai negara, sehingga kualitas hasil karya para pengrajin gerabah di sini memang gak perlu diragukan lagi.

Oh ya, yang membuat saya langsung nyaman justru bukan hanya koleksi gerabahnya, melainkan sambutan ramah dari para staf yang berjaga. 

Baru beberapa langkah masuk saja, saya sudah disapa dengan senyum hangat dan dipersilakan berkeliling area workshop sambil melihat proses pembuatannya.

Saya pun mulai berjalan menyusuri setiap sudut ruang pamer. Rasanya mata ini gak berhenti dibuat kagum melihat begitu banyak hasil kerajinan handmade yang tertata rapi. 

Ada vas bunga dengan berbagai ukuran, pot tanaman, asbak, teko, tempat lilin, lampu tidur, hingga aneka dekorasi rumah yang estetik.

Yang paling menarik perhatian saya tentu saja miniatur stupa yang bentuknya sangat mirip dengan stupa di Candi Borobudur. 

Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade.
Miniatur stupa Borobudur dan berbagai kerajinan gerabah handmade (doc. Riana Dewie)


Detailnya benar-benar rapi dan artistik sehingga cocok dijadikan pajangan maupun oleh-oleh Borobudur.

Kalau dihitung-hitung, koleksi produknya mungkin mencapai ratusan jenis. Wah, lengkap juga ya! 

Saya bahkan sempat beberapa kali berhenti hanya untuk mengamati detail ukiran dan finishing setiap gerabah. 

Masing-masing memiliki karakter yang berbeda sehingga rasanya sayang kalau cuma dilihat sekilas.

Oh ya, kalau berkunjung ke sini, jangan buru-buru pulang. 

Luangkan waktu untuk mengelilingi workshop karena hampir setiap sudutnya menyimpan karya-karya yang menarik untuk difoto sekaligus dipelajari. 

Rasanya seperti sedang menikmati galeri seni yang penuh cerita.

Pengalaman Pertama Membuat Gerabah dengan Pottery Wheel

Setelah puas berkeliling melihat area workshop, tiba-tiba salah seorang pramuniaga menghampiri saya sambil tersenyum. 

Beliau menawarkan apakah saya ingin mencoba membuat gerabah sendiri menggunakan pottery wheel. Mendengar tawaran itu, saya jelas langsung mengangguk. 

Kesempatan seperti ini rasanya sayang kalau dilewatkan, apalagi seumur hidup saya memang belum pernah mencobanya. Hahahaha....

Pottery wheel merupakan alat berbentuk meja putar yang digunakan untuk membentuk tanah liat menjadi berbagai macam gerabah. Cara kerjanya cukup sederhana. 

Meja akan berputar dengan kecepatan tertentu, kemudian kedua tangan kita bertugas membentuk tanah liat sedikit demi sedikit hingga menjadi vas, mangkuk, gelas, atau bentuk lainnya. 

Meski terdengar mudah, kenyataannya alat ini membutuhkan keseimbangan, ketelitian, dan kontrol tangan yang baik.

Saya pun duduk di depan pottery wheel dengan perasaan campur aduk antara antusias dan penasaran. Sebelum praktik, salah satu instruktur memberikan contoh terlebih dahulu. 

Tanah liat yang awalnya hanya berupa gumpalan perlahan berubah menjadi bentuk silinder yang tinggi dan rapi. Gerakannya terlihat begitu halus seolah semuanya berjalan otomatis.

"Oh, ternyata gampang," pikir saya saat itu.

Sayangnya, pikiran tersebut cuma bertahan beberapa detik saja.

Membuat gerabah dengan Pottery wheel
Membuat gerabah dengan Pottery wheel (doc. Riana Dewie)


Ternyata Gak Semudah yang Dibayangkan

Begitu giliran saya dimulai, kedua tangan langsung menyentuh tanah liat yang terus berputar. Awalnya masih terlihat normal. 

Namun semakin lama, bentuk gerabah yang saya buat justru mulai bergoyang ke kanan dan kiri. Bukannya bertambah tinggi, hasilnya malah mleyot dan semakin miring.

Instruktur yang mendampingi beberapa kali membantu membenarkan posisi tangan saya. Sesaat bentuknya memang kembali rapi. 

Tapi begitu saya mencoba melanjutkan sendiri, eh... miring lagi. Hihihihi....

Beberapa pengunjung yang berada di sekitar workshop ikut memperhatikan proses tersebut. 

Ada yang tersenyum, ada pula yang tertawa kecil melihat bentuk gerabah saya yang benar-benar di luar ekspektasi. 

Kalau saya sih langsung ikut tertawa juga. Mau bagaimana lagi, namanya juga pengalaman pertama.

Oh ya, ternyata posisi jari menjadi salah satu kunci penting saat membentuk gerabah. Tekanan yang terlalu kuat atau terlalu lemah bisa langsung mengubah bentuk tanah liat dalam hitungan detik. 

Pantas saja para pengrajin bisa menghasilkan karya yang begitu presisi. Di balik hasil yang indah, ada latihan bertahun-tahun yang mungkin gak pernah kita bayangkan.

Meski hasilnya jauh dari kata sempurna, saya justru menikmati setiap prosesnya. Tangan penuh tanah liat, sesekali salah menekan, lalu mencoba memperbaikinya lagi. 

Aktivitas sederhana ini ternyata mampu membuat saya fokus sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan. Rasanya seperti melupakan sejenak segala kesibukan di luar sana.

Di momen itulah saya mulai memahami kenapa workshop seperti ini menjadi salah satu aktivitas seru di Borobudur yang banyak diminati wisatawan. 

Bukan semata-mata karena ingin menghasilkan gerabah yang bagus, melainkan karena proses belajar dan pengalaman yang diperoleh benar-benar menyenangkan.

Dibimbing Langsung oleh Pak Supoyo

Saat saya masih sibuk berjuang menyelamatkan gerabah yang sudah telanjur miring, tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami. 

Beliau menyapa dengan ramah, lalu ikut memberikan arahan bagaimana cara memosisikan tangan agar tanah liat tetap stabil di tengah putaran.

Belakangan saya baru tahu kalau beliau adalah Pak Supoyo, pendiri sekaligus pemilik Gerabah Arum Art.

Oh ya, yang membuat saya terkesan bukan hanya karena beliau mau turun langsung membimbing pengunjung, tetapi juga kesederhanaan dan keramahannya saat berbagi cerita. 

Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur.
Banyak pengunjung yang belajar membuat gerabah di Gerabah Arum Art Borobudur (doc. Riana Dewie)


Sambil sesekali membantu membentuk gerabah saya, beliau menceritakan bagaimana usaha ini dirintis dari skala kecil hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu sentra gerabah di kawasan Borobudur.

Beliau juga bercerita bahwa mempertahankan kualitas menjadi hal yang paling penting. 

Sebab, setiap gerabah yang dihasilkan membawa nama para perajin sekaligus budaya lokal yang sudah diwariskan secara turun-temurun. 

Mendengar cerita itu, saya semakin menghargai setiap proses panjang di balik sebuah karya gerabah yang selama ini mungkin sering saya anggap biasa saja.

Berkeliling Workshop Gerabah Arum Art

Selesai mencoba membuat gerabah, saya kembali diajak berkeliling ke area showroom. Jujur saja, rasanya seperti masuk ke dunia yang dipenuhi karya seni dari tanah liat. 

Hampir di setiap sudut ruangan terdapat berbagai gerabah dengan bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbeda-beda. 

Kalau diperhatikan satu per satu, jumlahnya bisa mencapai sekitar 200 jenis. Saya sampai bingung harus mulai melihat dari mana dulu.

Koleksi Gerabah yang Lucu dan Unik

Salah satu produk yang paling mencuri perhatian saya adalah miniatur stupa yang desainnya terinspirasi dari Candi Borobudur. 

Bentuknya simpel, tetapi detailnya sangat rapi sehingga cocok dijadikan dekorasi rumah maupun hadiah untuk keluarga dan teman.

Selain itu, ada juga berbagai vas bunga dengan desain modern, pot tanaman, lampu tidur bernuansa etnik, asbak, teko, mug, tempat lilin, hingga aneka hiasan meja yang estetik. 

Menariknya lagi, beberapa produk memadukan sentuhan tradisional dengan desain yang lebih kekinian sehingga cocok untuk berbagai konsep interior rumah.

Oh ya, saya sempat bertanya produk apa yang paling banyak diminati pengunjung. Ternyata vas bunga dan dekorasi rumah menjadi dua kategori yang paling laris. 

Alasannya sederhana, desainnya unik, mudah dipadukan dengan berbagai ruangan, dan memiliki kesan handmade yang membuat setiap produknya terasa lebih istimewa.

Saya juga memperhatikan proses finishing beberapa gerabah yang sedang dikerjakan para perajin. 

Mulai dari penghalusan permukaan, pewarnaan, hingga proses pembakaran dilakukan dengan teliti agar menghasilkan kualitas terbaik. 

Dari situ saya semakin paham kalau sebuah gerabah yang tampak sederhana ternyata melewati tahapan yang cukup panjang sebelum akhirnya dipajang di showroom.

Kalau saya sih, tempat seperti ini bukan sekadar toko kerajinan. 

Saya justru menganggapnya sebagai ruang belajar yang memperlihatkan bagaimana kreativitas, budaya, dan kerja keras berpadu menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai seni.

Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat.
Suasana workshop gerabah Borobudur dengan berbagai koleksi kerajinan tanah liat (doc. Riana Dewie)


Belanja Oleh-Oleh Handmade

Rasanya kurang lengkap kalau sudah datang ke Gerabah Arum Art tetapi pulang dengan tangan kosong. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya saya memilih beberapa gerabah untuk dibawa pulang.

Pilihan saya jatuh pada sebuah vas bunga dengan desain minimalis, miniatur stupa khas Borobudur, serta lampu tidur yang menurut saya cantik banget saat dinyalakan. 

Warnanya hangat dan motifnya sederhana, sehingga cocok dijadikan dekorasi di rumah.

Yang paling spesial tentu saja bukan barang-barang yang saya beli, melainkan satu gerabah hasil karya saya sendiri. 

Meski bentuknya masih jauh dari sempurna, gerabah itu akhirnya sudah selesai diproses dan bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Oh ya, menurut saya justru di situlah letak keistimewaannya. Saya gak hanya membawa pulang oleh-oleh khas Borobudur, tetapi juga membawa pulang pengalaman yang saya buat dengan kedua tangan sendiri. 

Rasanya tentu berbeda dibanding membeli suvenir yang sudah jadi.

Di perjalanan pulang, saya beberapa kali membuka kotak berisi gerabah buatan saya. 

Bentuknya memang masih miring dan gak simetris, tetapi setiap melihatnya saya langsung teringat momen seru saat duduk di depan pottery wheel, tertawa bersama para pengunjung lain, hingga mendapatkan bimbingan langsung dari Pak Supoyo. 

Kenangan seperti itu rasanya sulit digantikan oleh apa pun.

Gerabah Miring Ini Justru Jadi Oleh-Oleh Paling Berkesan

Kalau dilihat-lihat lagi, gerabah buatan saya memang jauh dari kata sempurna. Bentuknya sedikit miring, ukurannya juga gak benar-benar simetris. 

Namun justru itulah yang membuatnya terasa begitu istimewa. Setiap lekukan yang kurang presisi menjadi pengingat bahwa saya pernah mencoba sesuatu yang benar-benar baru.

Saya jadi belajar bahwa sebuah hasil gak selalu harus sempurna untuk bisa memiliki nilai. Sama seperti hidup, setiap proses pasti memiliki tantangan. 

Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art
Aneka kerajinan handmade di Gerabah Arum Art (doc. Riana Dewie)


Kadang kita berhasil, kadang juga melenceng dari rencana. Namun selama terus belajar dan mau mencoba lagi, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Oh ya, pengalaman ini juga membuat saya semakin menghargai para pengrajin gerabah. Selama ini saya mungkin hanya melihat hasil akhirnya yang cantik dan rapi. 

Padahal, di balik setiap karya terdapat latihan, ketelatenan, kesabaran, bahkan pengalaman bertahun-tahun hingga akhirnya menghasilkan gerabah berkualitas.

Kalau saya sih, workshop seperti ini layak menjadi salah satu destinasi saat berkunjung ke kawasan Borobudur. 

Selain menikmati kemegahan candi, kita juga bisa mengenal budaya lokal melalui aktivitas yang menyenangkan sekaligus menambah wawasan. 

Inilah salah satu bentuk wisata edukasi yang menurut saya cocok untuk semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Saya pun pulang dengan membawa lebih dari sekadar beberapa buah gerabah. 

Ada pengalaman baru, cerita seru, tawa bersama orang-orang yang baru saya kenal, hingga pelajaran hidup yang mungkin akan terus saya ingat.

***

Kapan-kapan saya ingin kembali lagi ke Gerabah Arum Art. Siapa tahu kesempatan berikutnya hasil gerabah saya bisa lebih bagus. Atau... jangan-jangan malah semakin miring? Hahahaha....

Ah, memang ya, selalu ada pelajaran hidup dari setiap perjalanan yang saya lakukan. 

Dan bagi saya, membuat gerabah di Borobudur bukan sekadar mencoba membentuk tanah liat, tetapi juga belajar bahwa sebuah proses selalu lebih berharga daripada sekadar mengejar hasil akhirnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Apakah AI Berbahaya atau Justru Dibutuhkan Manusia?

Apakah AI Berbahaya

Sebagai seorang content writer, pertanyaan apakah AI berbahaya jujur sering muncul di kepala saya akhir-akhir ini. Apalagi sejak AI makin sering dipakai di dunia kerja kreatif, termasuk menulis. Saya sendiri pernah menggunakan AI dalam pekerjaan, terutama untuk mencari referensi ide atau melihat sudut pandang awal sebuah topik. 

Tapi sampai sekarang, satu hal yang saya pegang: pengembangan kerangka dan isi tetap saya kerjakan sendiri agar otak tetap terasah. Oh ya, saya percaya teknologi itu netral, yang bikin berbahaya atau gak justru cara manusianya memakai.

Kalau saya sih melihat AI itu seperti pisau dapur, bisa sangat membantu tapi juga bisa melukai kalau dipakai sembarangan.

Apakah AI Berbahaya Jika Digunakan dalam Pekerjaan Konten?

Di dunia kepenulisan, diskusi soal apakah AI berbahaya sering mengarah ke satu ketakutan: penulis akan tergantikan. Kekhawatiran ini wajar, apalagi ketika AI bisa menghasilkan teks dalam hitungan detik. Tapi dari pengalaman saya, AI lebih cocok disebut alat bantu daripada pengganti.

Saya menggunakan AI untuk memantik ide awal, bukan untuk menelan mentah-mentah hasilnya. Di titik ini, saya justru merasa AI membantu mempercepat proses berpikir, bukan mematikan kreativitas. Yang jadi masalah adalah ketika manusia berhenti berpikir dan sepenuhnya bergantung pada mesin.

Pengalaman Saya Menggunakan AI untuk Cari Referensi Ide

Saya pernah stuck saat menulis artikel panjang dan butuh sudut pandang baru. AI saya gunakan untuk memetakan ide kasar, lalu selebihnya saya kembangkan sendiri. Kerangka tulisan, alur emosi, hingga gaya bahasa tetap saya olah manual. Jujur saja, bagian itu yang paling saya nikmati sih, karena di sanalah otak dipaksa bekerja.

Oh ya, kalau semua diserahkan ke AI, lama-lama kemampuan analisis kita bisa tumpul tanpa sadar.

Apakah AI Menggantikan Manusia atau Justru Membantu?

Pertanyaan lanjutan yang sering muncul adalah apakah AI menggantikan manusia di dunia kerja. Banyak yang menyebut AI sebagai ancaman karena dianggap sebagai ai pengganti kerja manusia. Tapi menurut saya, konteksnya gak sesederhana itu.

AI memang bisa mengambil alih tugas-tugas repetitif. Namun, pekerjaan yang melibatkan empati, pengalaman, dan konteks manusia masih sulit digantikan. Sebagai content writer, saya menyadari bahwa tulisan yang punya rasa biasanya lahir dari pengalaman hidup, bukan sekadar data.

AI Pengganti Kerja Manusia, Benarkah Begitu?

Kalau dilihat sepintas, AI memang terlihat seperti AI pengganti kerja manusia. Tapi ketika ditelusuri lebih dalam, AI tetap butuh manusia sebagai pengarah. Tanpa prompt yang tepat, hasilnya juga sering melenceng. Di sinilah peran manusia masih sangat krusial.

Oh ya, saya sering tertawa kecil sendiri saat hasil AI terasa kaku dan datar, hihihihi… Rasanya seperti membaca tulisan tanpa emosi.

Apakah AI Berbahaya untuk Dunia Kreatif?

Masuk ke dunia kreatif, pertanyaan apakah AI berbahaya jadi makin sensitif. Menulis bukan cuma soal rangkaian kata, tapi juga soal sudut pandang, emosi, dan keberanian mengambil sikap. AI bisa meniru struktur, tapi belum tentu bisa menghadirkan kejujuran.

Saya pribadi merasa dunia kreatif justru menantang kita untuk naik level. Bukan bersaing dengan AI, tapi menguatkan sisi manusiawi yang gak dimiliki mesin.

Content Writer Masih Dibutuhkan Gak, Sih?

Pertanyaan ini sering saya dengar, bahkan dari sesama penulis. Jawaban saya sederhana: masih. Content writer yang mampu berpikir kritis, memahami audiens, dan menyampaikan pesan dengan empati tetap dibutuhkan. AI boleh membantu teknis, tapi ruh tulisan tetap berasal dari manusia.

Seperti tulisan mbak Dian Kusumawardani yang banyak menulis tentang travelling & kuliner dengan gayanya yang masih hangat & menarik hingga saat ini. Kalau saya sih percaya, pembaca bisa merasakan mana tulisan yang “hidup” dan mana yang sekadar hasil mesin. 

Apakah AI Berbahaya Jika Otak Manusia Jadi Malas Berpikir?

Di titik ini, saya mulai melihat potensi bahaya yang sebenarnya. Apakah AI berbahaya? Bisa iya, kalau manusia berhenti berpikir. Ketika semua diserahkan ke AI, proses belajar dan refleksi bisa hilang pelan-pelan.

Itulah kenapa saya memilih tetap menyusun kerangka sendiri. Proses berpikir itulah yang menjaga saya tetap tajam sebagai penulis.

Oh ya, menjaga otak tetap aktif itu sama pentingnya dengan menjaga produktivitas kerja.

Peran SEO Content Writer di Era AI

Sebagai SEO Content Writer, tantangannya kini bukan cuma soal keyword, tapi juga soal kualitas. AI bisa membantu riset kata kunci, tapi menyusun strategi konten yang relevan dan berkelanjutan tetap butuh manusia. Di sinilah perpaduan antara logika, empati, dan pengalaman bekerja.

Kadang saya suka mikir, AI ini canggih banget hahahaha… tapi tetap saja, sentuhan manusia gak tergantikan.

Oh ya, di era sekarang, manusia seharusnya jadi pengendali teknologi, bukan sebaliknya.

AI Cerminan Cara Kita Berpikir?

Di akhir tulisan ini, saya kembali ke pertanyaan awal: apakah ai berbahaya? Bagi saya, jawabannya tergantung pada cara kita menggunakan. AI bisa jadi alat bantu yang luar biasa, atau justru jadi jebakan yang bikin manusia malas berpikir.

Sebagai SEO Content Writer, saya memilih jalan tengah: memanfaatkan AI secukupnya, tapi tetap mengasah otak dan nurani. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, manusialah yang menentukan arahnya.

Oh ya, selama kita masih mau berpikir, belajar, dan bertanggung jawab, AI gak akan pernah sepenuhnya menggantikan manusia. Semangat ya!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Darsimah Siahaan: Mendidik Anak Desa dengan Alam Leuser

Darsimah Siahaan
Saya pertama kali mendengar nama Darsimah Siahaan ketika membaca kisah tentang Sekolah Alam Leuser, sebuah sekolah yang berdiri di kaki Gunung Leuser. Di tempat yang dikelilingi hutan lebat dan sungai jernih, Darsimah membangun ruang belajar yang berbeda: hutan jadi kelas, sungai jadi laboratorium, dan kearifan lokal jadi kurikulum hidup.


Dari Hutan ke Ruang Belajar

Beliau bukan sekadar guru, tapi penjaga harapan anak-anak di pelosok Langkat. Ketika banyak anak harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk belajar, Darsimah memilih membawa sekolah itu ke tengah kehidupan mereka. Sekolah Alam Leuser menjadi tempat di mana alam bukan latar belakang semata, melainkan sumber pengetahuan yang hidup dan nyata.

"Saya ingin anak-anak di sini nggak cuma pintar baca tulis, tapi juga paham pentingnya alam," itulah pesan yang sering ia sampaikan. Menurut saya, kalimat itu sederhana tapi berdampak besar—karena dari kesadaran seperti itu lah kelak lahir generasi yang menjaga, bukan merusak.


Inspirasi dari Alam, untuk Anak Negeri

Darsimah menyadari bahwa pendidikan di desa harus relevan dengan konteksnya. Di Leuser, pelajaran tentang alam sama pentingnya dengan pelajaran akademik. Maka metode belajar di Sekolah Alam Leuser menggabungkan kurikulum nasional dengan praktik langsung: menanam pohon, mengenal spesies lokal, memantau sungai, atau menghitung hasil panen sambil belajar matematika.

Saya suka bagaimana anak-anak dilibatkan dalam kegiatan nyata—mereka belajar bertanggung jawab lewat kebun, beternak kecil-kecilan, dan pengelolaan sampah organik. Lewat cara ini, pengetahuan akademis jadi lebih bermakna karena selalu terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari.


Mengubah Tantangan Jadi Peluang

Membangun sekolah di wilayah pedalaman jelas penuh tantangan: akses sulit, fasilitas minim, dan sinyal yang sering nggak stabil. Namun Darsimah memandang keterbatasan sebagai pemicu kreativitas. Dinding kelas terbuat dari bambu, meja dibuat bersama orang tua murid, dan metode pembelajaran disesuaikan kondisi lokal—semua berlandaskan gotong royong.

Dan kerja keras itu pun berbuah manis. Pada tahun 2024, Darsimah Siahaan dinobatkan sebagai pemenang SATU Indonesia Awards kategori Pendidikan dari Astra, pengakuan atas upayanya memadukan pendidikan dan konservasi di Leuser.

Sekolah Alam Leuser: Kurikulum Hidup

Sekolah ini mengintegrasikan materi nasional dengan pengalaman lapangan. Mata pelajaran sains dikaitkan langsung dengan flora dan fauna lokal; matematika dipraktikkan lewat kegiatan bertanam; bahasa diajarkan dengan menulis cerita rakyat dan dokumentasi pengalaman. Cara ini menumbuhkan kebanggaan anak terhadap tanah kelahiran sambil menanamkan kecakapan hidup.

Di samping itu, proyek-proyek lingkungan seperti program penanaman pohon, pengolahan sampah, dan pemantauan kualitas air membentuk literasi konservasi yang penting bagi masa depan kawasan Leuser.


Jejak Kecil, Dampak Besar

Perubahan yang ditimbulkan Darsimah tampak nyata: anak-anak lebih percaya diri, masyarakat ikut terlibat, dan sejumlah lulusan memilih kembali mengabdi sebagai guru. Pemerintah daerah dan organisasi non-profit pun mulai memberi dukungan, dari bahan ajar sampai bantuan teknis.

Bagi Darsimah, penghargaan dan bantuan itu bukan tujuan akhir. Ia paling bahagia melihat anak-anaknya tumbuh percaya diri, peduli, dan berani bermimpi—itulah ukuran kesuksesan yang ia pegang erat.


Harapan untuk Masa Depan

Saat saya membaca kisahnya, saya teringat banyak guru di pelosok yang berjuang dalam diam. Darsimah mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukan cuma mentransfer pengetahuan, tapi membentuk karakter dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.

Jika model Sekolah Alam Leuser bisa direplikasi di wilayah lain, saya percaya akan lahir banyak generasi yang tumbuh selaras dengan alam—bukan mengurasnya. Dari sekolah bambu di Leuser, kita melihat bukti bahwa pendidikan yang sederhana sekaligus kontekstual bisa mencetak perubahan besar.


#APA2025-KSB

Sumber foto: Darsimah Siahaan (sumber: https://blogger.googleusercontent.com)

Referensi:

  • https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/08/29/sekolah-alam-leuser-pendidikan-berbasis-alam-dengan-kurikulum-nasional
  • https://www.keliling.my.id/2025/10/sekolah-alam-leuser.html
  • https://vervalyayasan.data.kemdikbud.go.id
  • https://mongabay.co.id/2025/04/21/perempuan-perawat-hutan-tanam-asa-di-tengah-rimba



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

Jein Marlinda: Perempuan di Balik Manisnya Gula Semut Molomamua

Jein Marlinda

Di balik rasa manis yang kita nikmati dari sebutir gula semut, ada cerita perjuangan yang nggak kalah manisnya. Salah satunya datang dari Jein Marlinda, perempuan tangguh asal Desa Molomamua, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Ia adalah Ketua UMKM Gula Semut Molomamua yang bekerja sama dengan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Lauje.  

Jein dan kelompoknya mengubah potensi nira aren di desa terpencil menjadi sumber penghidupan. Dengan ketekunan dan semangat gotong royong, mereka membuktikan bahwa produk lokal bisa punya nilai ekonomi tinggi sekaligus menjaga kelestarian alam.  

Dari Nira Aren Jadi Harapan Baru

Sebelum Jein memulai usahanya, masyarakat Molomamua hanya memanfaatkan nira aren untuk kebutuhan sendiri. Banyak warga belum tahu kalau cairan manis itu bisa diolah menjadi gula semut bernilai jual tinggi. Melihat potensi tersebut, Jein tergerak untuk belajar cara pengolahan nira menjadi gula semut.  

Berawal dari pelatihan sederhana, Jein kemudian mengajak masyarakat Suku Lauje untuk ikut serta. Suku ini termasuk dalam Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang kehidupannya masih sangat sederhana dan terisolasi. Melalui pendekatan penuh empati, Jein mengajarkan cara penyadapan nira yang ramah lingkungan, pengeringan alami tanpa bahan kimia, hingga pengemasan yang menarik.

Sinergi dengan Komunitas Adat Suku Lauje

Bersama Suku Lauje, Jein membangun sistem kerja yang adil dan berkelanjutan. Setiap keluarga diberi kesempatan mengelola pohon aren di sekitar hutan, sementara kelompok UMKM bertugas mengolah hasilnya. Hasil penjualan dibagi secara proporsional agar semua pihak merasakan manfaatnya.  

Bagi masyarakat adat, program ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga pelestarian tradisi. Pohon aren punya makna penting dalam kehidupan mereka. Dengan menjaga pohon ini tetap lestari, mereka juga menjaga warisan leluhur.

Tantangan yang Nggak Kecil

Perjalanan Jein nggak selalu manis seperti produk yang ia hasilkan. Tantangan terbesar datang dari akses transportasi dan permodalan. Letak Desa Molomamua yang jauh dari pusat kota membuat biaya distribusi tinggi.  

Namun, berkat kerja keras dan komitmen, produk Gula Semut Molomamua kini sudah menembus pasar regional, bahkan mulai dilirik pembeli dari luar provinsi. Jein juga aktif mengikuti pelatihan dan pameran UMKM agar produknya semakin dikenal.

Dukungan Astra dan Penghargaan SATU Indonesia Awards

Perjuangan Jein Marlinda dalam memberdayakan masyarakat adat dan menciptakan ekonomi berkelanjutan membuatnya terpilih sebagai salah satu penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2024.  

Astra melihat bahwa program Jein bukan hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian komunitas terpencil tanpa merusak lingkungan. Dengan dukungan ini, UMKM Gula Semut Molomamua makin berkembang, mulai dari peralatan produksi yang lebih efisien hingga pelatihan manajemen usaha.

Dampak Nyata untuk Masyarakat

Kini, lebih dari 40 keluarga Suku Lauje sudah terlibat dalam pengolahan gula semut. Pendapatan mereka meningkat, dan anak-anak bisa melanjutkan sekolah tanpa kekurangan. Desa Molomamua pun dikenal sebagai penghasil gula semut berkualitas tinggi.  

Jein merasa bangga karena kerja kerasnya bisa membuka peluang bagi perempuan di daerah terpencil untuk mandiri. Ia juga menginspirasi banyak anak muda agar mau kembali ke desa dan mengembangkan potensi lokal.

Pelestarian Alam dan Kearifan Lokal

Selain memberdayakan ekonomi, Jein juga menanamkan kesadaran lingkungan. Ia mengajak masyarakat agar nggak menebang pohon aren secara sembarangan. Pohon yang sehat menghasilkan nira berkualitas dan bisa disadap selama puluhan tahun.  

Melalui prinsip sustainability, Jein menegaskan bahwa bisnis lokal bisa berjalan seiring dengan kelestarian alam. Inilah bentuk nyata dari ekonomi hijau berbasis komunitas adat.

Harapan ke Depan

Jein berharap Gula Semut Molomamua bisa terus berkembang hingga menembus pasar nasional. Ia juga ingin menjadikan Molomamua sebagai contoh sukses pemberdayaan berbasis kearifan lokal.  

Menurutnya, perempuan desa punya peran besar dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan alam. Dengan kerja keras, semangat gotong royong, dan dukungan semua pihak, cita-cita itu bukan hal yang mustahil.

#APA2025-KSB




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Growth & Productivity

10 Game yang Bisa di Top Up melalui BRImo, Makin On Fire!

game yang bisa di top-up

Game yang bisa di top up memang cukup menarik, apalagi jika kamu memang penyuka game yang telah merasakan naik level. Gamers yang melakukan top up tentu memiliki banyak tujuan, walau pun fokusnya sebenarnya hampir sama, yaitu mendapatkan fitur eksklusif.

Apa saja fitur eksklusif itu? Baca ulasan ini hingga selesai ya. Inilah 10 Game yang Bisa di Top Up melalui BRImo, Makin On Fire!

Tujuan Gamer Melakukan Top Up Game

Top up game memiliki beberapa tujuan, tergantung pada kebutuhan dan preferensi pemain. Biasanya tujuan kamu top up game biar apa sih? Hehehe, berikut ada beberapa tujuan gamers top up game, barangkali ada yang relate sama kamu ya.  

1. Progres Melejit!

Jika sudah top up, kamu bisa bebas mengakses fitur tertentu, menyelesaikan misi lebih cepat, atau meningkatkan level karakter tanpa harus membuang banyak waktu untuk bermain.

2. Dalam Rangka Ikut Event

Kamu suka ikut event para gamers gak? Ternyata beberapa game mengadakan event khusus dengan hadiah menarik, tapi syaratnya harus top up dulu.

3. Meningkatkan Kompetisi

Saat punya karakter yang lebih kuat, kamu dapat bersaing lebih baik di mode PvP (Player vs Player) atau turnamen.

4. Bermain Makin Puas!

Game yang bisa di top up akan memberikan fitur premium yang tidak dimiliki oleh pengguna gratis. So, nge-game jadi lebih seru kan?

5. Belanja Item Premium

Top up memungkinkan pemain membeli item khusus seperti skin karakter, senjata, kendaraan, atau pakaian yang tidak tersedia secara gratis.

Top Up Game melalui Aplikasi BRImo

BRImo itu apa sih? Ini adalah aplikasi mobile banking yang dikembangkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan secara digital. BRImo mengintegrasikan fitur-fitur perbankan modern dengan tampilan yang ramah pengguna, menjadikannya salah satu layanan unggulan BRI.

Fitur utamanya adalah bisa dimanfaatkan untuk transaksi perbankan, cek info keuangan, pendaftaran dan aktivasi online, layanan tambahan juga fitur lifestyle yang berhubungan dengan tiket transportasi, hiburan dan voucher game.

Kini, main game jadi lebih seru dengan BRImo karena ia adalah salah satu top up game store terpercaya! Kamu bisa dapatkan promo cashback real-time 100% hingga Rp.20-ribu setiap kali top up voucher game di BRImo. Pokoknya, jangan sampai ketinggalan ya!

Caranya gimana? Nah, biar gak bingung, berikut adalah Cara top up voucher game di BRImo khusus untuk pengguna Android:

1. Buka BRImo, pilih menu "Lifestyle"

2. Pada menu "Hiburan" pilih "Voucher Game"

3. Pilih Voucher Game yang ingin kamu top up

4. Pilih nominal voucher

5. Konfirmasi transaksi dengan PIN

6. Voucher berhasil dibeli! Saatnya kamu redeem pada aplikasi/website game favoritmu dan lanjut main dengan .

Wah, kalau gini mah dukung kamu para gamers agar makin lancar saat mabar juga saldomu tetap aman karena dapat cashback-nya! Pakai BRImo sekarang yuk, dan rasakan sendiri serunya top up dengan promo eksklusif ini. Jangan sampai kehabisan kuota, ya! Tapi, game yang bisa di top up tuh apa saja sih?

Inilah 10 Game yang Bisa di Top Up melalui BRImo

Selanjutnya, kamu bisa loh top up game biar makin semangat nge-gamenya. Inilah game yang bisa di Top Up melalui BRImo, Makin On Fire!

1. Voucher Google Play

Asyik banget nih! Dengan voucher ini, kamu bisa dmembeli aplikasi, game, dan konten digital lainnya di Google Play Store.

2. PlayStation™Store Gift Card

Nah, voucher ini memudahkan kamu untuk membeli game, add-on, dan konten lainnya di PlayStation Store.

3. Steam Wallet IDR

Kamu bisa membeli game dan item di platform Steam menggunakan saldo dalam Rupiah dengan Steam Wallet. 

4. Razer Gold

Razer Gold adalah kredit virtual yang dapat digunakan untuk membeli berbagai game dan konten digital. Sudah pernah cobain?

5. Point Blank Beyond Limits

Satu ini jangan terlewat. Dengan BRImo, kamu juga bisa top up game Point Blank dengan mudah!

6. UniPin Voucher

Buat kamu yang pernah cobain UniPin pasti paham bahwa ini menyediakan layanan top up untuk berbagai game online populer di Indonesia.

7. Garena

Buat para penggemar game-game yang diterbitkan oleh Garena, seperti Free Fire, kamu dapat memrosesnya melalui BRImo.

8. PUBG Mobile

Siapa pencinta PUBG? Yuk top up UC untuk game PUBG Mobile dengan mudah melalui BRImo.

9. Mobile Legends

Gampang banget nih! Top up diamond untuk game Mobile Legends bisa dilakukan melalui BRImo.

10.Minecraft

Dapatkan konten tambahan atau langganan di game Minecraft dengan melakukan top up melalui BRImo.

BRImo FSTVL 2024
BRImo FSTVL 2024 (sumber: BRI)

Gak Cuma dapat Cashback, Hadiah Menarik BRImo FSTVL 2024 juga Bisa Kamu Bawa Pulang!  

Hadiah menarik apa lagi ini ya? Ini loh, ada program apresiasi BRI kepada kalian dalam Program BRImo FSTVL 2024 yang hadir mulai 1 Oktober 2024-31 Maret 2025. Tentunya, hadiah ini khusus buat nasabah BRI yang rajin naikin saldo serta memperbanyak transaksi menggunakan #BRImo serta Kartu Debit dan Kartu Kredit BRI.

Jangan lewatkan hadiah mingguan di Friday Deals ya! Makin #BerlimpahHadiah karena kamu berkesempatan meraih 100.000 hadiah langsung di #BRImoFSTVL dan memenangkan hadiah undian BMW 520i M Sport, Hyundai Creta Alpha, dan kendaraan bermotor Vespa Primavera! Beneran gak mau nih? Hehehe...

Masih ada 2 hadiah lagi yang harus kamu tahu. Jadi, dua program berhadiah dari BRI juga bisa kamu dapatkan dengan syarat di bawah ini:

1.  PROGRAM DIRECT GIFT (REDEEM BRIPOIN)

Program loyalti yang diberikan kepada seluruh nasabah Tabungan BRI (BritAma dan Simpedes), pengguna e-banking (BRImo, Qlola Internet Banking, dan ATM), Kartu Debit dan Kartu Kredit BRI akan mendapatkan reward dalam bentuk BRIPoin atas setiap transaksi.

2. PROGRAM UNDIAN BERHADIAH

Program loyalti yang diberikan kepada seluruh pengguna Tabungan BRI dalam bentuk undian berhadiah yang bersumber dari setiap rata-rata saldo dan nominal BRI Poin yang dimiliki nasabah selama periode program.

Beneran nih! #BRImoMudahSerbaBisa dan mudah untuk bertransaksi serta bagi-bagi hadiah buat kamu yang memperbanyak tabungan & transaksi di BRImo FSTVL.

***

Inilah 10 Game yang Bisa di Top Up melalui BRImo, Makin On Fire! Ternyata BRImo gak cuma mempermudah top up game ya, tapi memberikan banyak hadiah yang nilainya fantastis. Berminat ikutan?


Read More

Share Tweet Pin It +1

5 Comments