Ngomong-ngomong tentang baca buku, sepertinya circle pertemanan saya sekitar 75% pada suka membaca buku deh.
Saya berarti termasuk minoritas. Kok bisa? Iya, karena jujur dari dulu saya gak terlalu suka membaca buku, apalagi yang tebal.
Jadi, selama ini saya lebih menikmati menulis, sedangkan membaca sering bikin kepala mendadak penuh.
Tahu gak, saya sempat berpikir apakah orang yang suka menulis tapi tidak hobi membaca buku masih punya peluang untuk berkembang sebagai penulis.
Mengapa Saya Lebih Betah Menulis daripada Membaca Buku
Ada cerita lucu ketika saya masih bekerja di kantor lama. Pak Boss suka banget membelikan buku-buku keluaran terbaru untuk saya baca.
Katanya sih, supaya wawasan saya bertambah dan kemampuan menulis saya juga ikut berkembang.
Oh ya, suatu hari beliau mau memberikan buku baru lagi, lalu tiba-tiba bertanya, “Lho, kok yang kemarin masih plastikan begini?”
Saya langsung jawab jujur, “Maaf Pak, saya gak terlalu suka baca buku. Nanti saya usahakan baca dikit-dikit deh, Pak.”
Boss saya cuma nyengir sambil tertawa kecil. Mungkin beliau juga bingung, ini orang kerjaannya menulis, tapi kok gak suka membaca buku.
Referensinya dari mana? Wkwkwkwk... sampai sekarang saya masih ingat ekspresi beliau waktu itu.
Nah, beberapa alasan saya kurang betah membaca buku sebenarnya cukup sederhana.
1. Mata Cepat Perih
Saya punya kecenderungan, membaca buku lebih dari lima menit bikin mata terasa pedas atau perih. Apalagi jika warna kertasnya putih bersih.
Kalau kertasnya agak krem atau buram, biasanya mata saya lebih nyaman. Tahu gak, hal kecil seperti warna kertas ternyata cukup berpengaruh buat saya.
2. Sulit Fokus Membaca Lama
Saya gak tahu kenapa, tapi saya memang kurang bisa fokus membaca dalam waktu lama.
Mungkin karakter saya agak “kemrungsung”, atau memang gak betah melihat puluhan lembar halaman yang terasa menunggu untuk diselesaikan.
3. Gampang Bosan
Beberapa cerita di buku kadang terasa berjalan pelan. Teman-teman saya sih bisa menghabiskan buku tebal dalam satu atau dua hari.
Saya? Baru beberapa halaman saja sudah mulai melirik hal lain. Hihihihi...
Tetapi anehnya, begitu mulai menulis, waktu terasa cepat berlalu. Saya bisa duduk berjam-jam di depan laptop tanpa merasa terbebani.
Nah, di situlah saya mulai sadar bahwa hubungan membaca dan menulis mungkin gak selalu sesederhana “penulis harus suka membaca buku”.
Apakah Penulis Harus Hobi Membaca?
Nah, pertanyaan ini sering muncul di kepala saya. Penulis itu harus senang membaca gak sih? Jujur, saya juga masih terus mencari jawabannya.
Di satu sisi, saya paham bahwa membaca memang penting. Banyak orang mengatakan bahwa manfaat membaca untuk menulis itu besar: kosakata bertambah, gaya bahasa lebih kaya, wawasan lebih luas, dan ide tulisan jadi lebih beragam.
Oh ya, saya juga gak mau munafik. Saya tahu membaca bisa membantu saya belajar menulis dengan lebih baik.
Hanya saja, bentuk membaca yang cocok buat saya ternyata bukan duduk lama dengan satu buku tebal.
Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, jawabannya mungkin “iya”, tetapi bentuk membacanya bisa berbeda-beda.
Ada yang menikmati novel beratus-ratus halaman, ada juga yang lebih nyaman membaca artikel, blog, berita, atau tulisan pendek.
Di bagian berikutnya, saya akan cerita bahwa sebenarnya saya tetap membaca setiap hari, hanya saja bukan dalam bentuk buku tebal yang harus diselesaikan dari halaman pertama sampai terakhir.
Mengapa Membaca Penting bagi Penulis
Saya akhirnya menyadari bahwa membaca memang punya banyak manfaat.
Bukan semata-mata supaya terlihat rajin, tetapi karena dari sanalah kita bisa menemukan kosakata baru, sudut pandang berbeda, sampai referensi yang mungkin sebelumnya gak pernah terpikirkan.
Semua itu bisa menjadi bekal saat proses storytelling maupun menyusun sebuah artikel.
Oh ya, membaca juga gak selalu harus berasal dari buku. Sekarang ada banyak media digital yang praktis dan lebih sesuai dengan kebiasaan saya.
Saya sering membaca artikel, blog, berita, bahkan hasil riset sederhana di internet untuk menambah wawasan.
Cara ini justru terasa lebih nyaman daripada memaksakan diri menamatkan buku yang membuat saya kehilangan fokus.
Namun, Tidak Semua Orang Belajar dengan Cara yang Sama
Tahu gak, semakin bertambah usia saya justru semakin percaya bahwa setiap orang punya gaya belajar yang berbeda.
Ada yang cepat memahami sesuatu lewat membaca buku, ada yang lebih mudah lewat video, diskusi, observasi, atau langsung mencoba sendiri.
Saya sih termasuk tipe yang lebih cepat menangkap informasi dari tulisan yang ringkas dan langsung ke inti pembahasan.
Setelah itu, biasanya saya mengolahnya lagi menjadi sudut pandang sendiri berdasarkan pengalaman pribadi. Buat saya, proses itu terasa lebih menyenangkan sekaligus memancing kreativitas.
Bukan berarti saya anti buku ya. Saya tetap menghargai orang-orang yang punya kebiasaan membaca luar biasa.
Bahkan kadang saya iri melihat teman yang bisa santai menikmati novel setebal ratusan halaman dalam hitungan hari.
Saya? Baru beberapa bab saja sudah mulai mencari camilan atau membuka hal lain di laptop. Hihihihi...
Yang paling penting, saya merasa proses belajar gak harus selalu sama.
Tujuannya tetap sama, yaitu terus berkembang dan menemukan inspirasi menulis dari berbagai sumber yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Saya Tetap Membaca, Hanya Bukan Buku Tebal
Meski sering bilang gak hobi membaca buku, sebenarnya saya tetap membaca setiap hari. Bedanya, bacaan yang saya pilih lebih banyak berasal dari media digital.
Mulai dari artikel, berita, jurnal, blog, media sosial, komentar orang, sampai hasil riset Google. Semua itu tetap menjadi sumber referensi yang membantu saya memahami banyak hal.
Bagi saya yang dulu cukup sering ikut lomba menulis, sudah pasti saya membutuhkan bahan sebelum mulai mengetik.
Jadi, saya tetap membaca, hanya saja dalam bentuk yang lebih ringkas, sederhana, dan langsung menuju inti pembahasan.
Cara seperti ini justru membuat saya lebih mudah menyerap informasi tanpa merasa terbebani.
Setelah lebih dari 500 kata artikel ini, saya jadi teringat bahwa sesekali saya juga menikmati membaca book review.
Lucunya, saya sering lebih tertarik membaca ulasan sebuah buku daripada langsung membaca bukunya.
Dari sana saya bisa mengetahui isi, sudut pandang penulis, bahkan memutuskan apakah buku tersebut memang cocok untuk saya atau cukup sampai membaca ulasannya saja.
Tahu gak, kebiasaan itu justru sering membantu saya menemukan ide tulisan baru.
Saat membaca sebuah artikel atau blog, saya langsung berpi
kir, "Wah, topik ini bisa dibahas dari sudut pandang yang berbeda."
Akhirnya satu bacaan pendek bisa berkembang menjadi beberapa ide tulisan sekaligus.
Saya sih percaya bahwa membaca gak selalu diukur dari tebalnya buku yang berhasil diselesaikan.
Yang lebih penting adalah apakah bacaan tersebut benar-benar menambah wawasan, memancing rasa ingin tahu, dan membuat kita terus belajar.
Jadi, saat ada yang bertanya apakah saya membaca setiap hari, jawabannya tetap "iya". Hanya medianya saja yang berbeda.
Yang Membuat Tulisan Berkembang Bukan Hanya Banyak Membaca
Setelah menjalani hobi menulis selama bertahun-tahun, saya menyadari bahwa kemampuan menulis juga dibentuk oleh banyak hal selain membaca.
Saya belajar dari rutinitas menulis, menerima masukan dari pembaca, mengamati kejadian di sekitar, serta terus menjaga rasa ingin tahu.
Semua pengalaman itu ikut membentuk gaya bahasa saya sedikit demi sedikit.
Oh ya, saya juga cukup sering mengikuti lomba menulis. Memang sih, saya gak selalu menang.
Mungkin hanya sekitar 30% dari total lomba yang saya ikuti berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan.
Namun, saya tetap menikmati prosesnya. Setiap lomba membuat saya belajar menyusun ide, mengatur alur tulisan, dan berani mencoba tema yang sebelumnya belum pernah saya bahas.
Rasanya selalu ada harapan setiap kali menunggu pengumuman pemenang.
***
Jadi, apakah penulis harus suka membaca? Menurut saya, membaca dan menulis memang saling melengkapi.
Namun, prosesnya gak harus dimulai dengan memaksa diri membaca buku berjam-jam. Temukan saja cara belajar yang paling nyaman.
Siapa tahu, seperti saya, kamu lebih menikmati bacaan digital, lalu perlahan mulai berani mencoba buku-buku yang sesuai minat.
Pada akhirnya, setiap penulis punya perjalanan yang berbeda. Saya masih ingin belajar, memperkaya literasi, dan sesekali menantang diri untuk lebih akrab dengan buku.
Semoga suatu hari nanti saya bisa berkata, "Ternyata membaca buku juga menyenangkan."
Sampai saat itu tiba, saya akan terus menulis, terus belajar, dan terus mencari inspirasi, bahkan saat sedang travelling sekalipun.








.png)
0 komentar:
Post a Comment