Puncak Sikunir Dieng jadi salah satu destinasi alam yang akhirnya berhasil saya datangi tahun ini.
Jujur saja, sejak lama saya penasaran dengan sunrise golden sunrise Sikunir yang katanya termasuk sunrise terbaik di Dieng.
Setelah melihat banyak foto dan video orang-orang di media sosial, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk mencoba langsung pengalaman trekking Sikunir Dieng saat subuh.
Oh ya, perjalanan ini juga jadi pengalaman pertama saya mendaki bukit sepanjang hidup. Jadi kalau nanti ceritanya agak heboh atau lebay, maklumi saja ya hihihihi....
Buat saya yang terbiasa dengan udara panas Jogja beberapa bulan terakhir, perjalanan ke wisata alam Dieng ini benar-benar terasa berbeda.
Mulai dari udara dingin Dieng, kabut pagi Dieng, sampai suasana perjalanan subuh ke Sikunir yang tenang banget, semuanya terasa seru sekaligus menantang.
Berangkat Tengah Malam dari Jogja ke Dieng
Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 23.00 malam. Jalanan malam itu cukup lancar dan udara mulai terasa makin dingin ketika memasuki area Wonosobo.
Perjalanan ke Sikunir memang lumayan panjang, tapi karena rame-rame bersama keluarga, rasanya tetap menyenangkan.
Sekitar jam 02.30 pagi, kami sampai di Titik Nol Kilometer Dieng. Area itu masih cukup ramai meski dini hari.
Banyak wisatawan lain yang juga sedang bersiap hunting golden sunrise Dieng. Beberapa terlihat duduk sambil minum kopi hangat, sementara yang lain sibuk memakai jaket berlapis.
Oh ya, kami sempat menghangatkan badan dulu dengan beli wedang ronde dan bakso tusuk. Di udara sedingin itu, makanan hangat memang terasa nikmat banget sih.
Karena jaket yang saya bawa ternyata kurang tebal, akhirnya saya memutuskan sewa jaket tambahan di sekitar area sana. Dan ternyata keputusan itu benar.
Setelah cek suhu, udara malam itu berkisar 10-12 derajat celcius. Dingin banget sampai terasa menusuk kulit.
Sekitar jam 03.30 pagi, kami lanjut naik kendaraan menuju area Bukit Sikunir Wonosobo. Perjalanan dari Titik Nol Dieng menuju area parkir Sikunir kurang lebih sekitar 30 menit.
Trekking Puncak Sikunir Dieng Saat Subuh
Sekitar jam 04.00 pagi, kami sampai di area bawah Puncak Sikunir Dieng. Di sana kami mulai siap-siap dengan “alat perang” masing-masing.
Ada yang pakai kupluk, jaket super tebal, sarung tangan, sampai membawa camilan kecil untuk tenaga.
Dan ya, kami juga membawa si bocil yang masih umur di bawah dua tahun.
Sebelumnya saya memang sudah cari info soal jalur pendakian Sikunir.
Banyak yang bilang kalau jalurnya termasuk pendakian ramah pemula, jadi masih aman untuk wisata keluarga. Karena itulah kami cukup pede membawa toddler ikut perjalanan ini.
Jalur Pendakian Sikunir yang Ramah Pemula
Kami mulai mendaki sekitar jam 04.30 pagi. Jalanan masih gelap, hanya diterangi lampu kecil milik para pendaki lain.
Meski beberapa jalur cukup menanjak dan terjal, saya merasa rutenya cukup nyaman karena sudah dibuat bertangga.
Buat yang baru pertama mencoba hiking pemula Dieng, menurut saya jalur ini masih aman diikuti. Tinggal atur napas dan jangan terlalu terburu-buru saja.
Tapi kalau soal ngos-ngosan, wah jangan ditanya. Saya benar-benar ngos-ngosan banget karena persiapan fisik kurang matang.
Kami cuma stretching sebentar sebelum naik. Jadi saat mendaki bukit Sikunir, rasanya seperti sesak napas dan kaki cepat pegal.
Oh ya, beberapa orang terlihat melambat di tengah jalur. Ada juga yang tiap beberapa langkah langsung duduk untuk menstabilkan badan.
Tapi ada pula yang melaju cepat karena ingin segera melihat golden sunrise Dieng dari atas bukit.
Pengalaman Mendaki Bukit Sikunir Bersama Bocil
Total kami berangkat bertujuh termasuk si toddler kecil. Sepanjang perjalanan, kami saling menyemangati satu sama lain. Meski capek, suasananya tetap seru.
Buat saya sih, pengalaman naik Sikunir ini terasa cukup asyik karena jadi momen langka kumpul keluarga sambil menikmati destinasi alam Dieng bersama-sama.
Sekitar jam 05.20 pagi, akhirnya kami sampai di Pos 1. Di titik itu sebenarnya masih ada jalur menuju area lebih tinggi lagi.
Namun karena mempertimbangkan kondisi fisik dan membawa bocil, kami memutuskan berhenti di sana saja.
Dan ternyata view-nya sudah bagus banget.
Udara Dingin Dieng yang Menusuk Kulit
Di Pos 1, udara dingin Dieng benar-benar terasa maksimal. Anginnya cukup kencang dan kabut pagi Dieng masih turun tipis-tipis.
Saya sampai beberapa kali menggosok tangan karena dinginnya lumayan bikin kaku. Bahkan para penjual di bawah pun terlihat memakai jaket sangat tebal.
Oh ya, di bulan Mei ini (2026), katanya suhu bahkan sempat mencapai sekitar 9 derajat celcius. Pantas saja rasanya dingin banget sampai menusuk kulit.
Menikmati Golden Sunrise dan Panorama Dieng
Momen yang paling ditunggu akhirnya datang juga.
Langit perlahan berubah warna dari gelap menjadi jingga keemasan.
Cahaya matahari mulai muncul dari balik panorama pegunungan Dieng dan perlahan memperlihatkan view Gunung Sindoro Sumbing yang megah.
Jujur, sunrise golden sunrise Sikunir memang secantik itu.
Saya benar-benar paham kenapa tempat ini disebut bukit sunrise Jawa Tengah terbaik. Suasananya tenang, udaranya segar, dan pemandangan negeri atas awan Dieng terlihat luar biasa indah.
Hahahaha... rasanya capek poll tapi puas banget. Apalagi ini pendakian pertama saya sepanjang hidup. Dan lucunya lagi, ini bahkan belum gunung, baru bukit saja sudah bikin kaki gemeteran.
Sunrise Golden Sunrise Sikunir yang Bikin Speechless
Banyak orang sibuk mengabadikan momen dengan kamera dan ponsel masing-masing. Spot foto Sikunir memang bagus dari berbagai sudut.
Bahkan tanpa filter pun hasil fotonya sudah cantik banget. Apalagi kalau kabut tipis masih muncul di sela pegunungan.
Spot Foto Sikunir dengan View Gunung Sindoro Sumbing
Salah satu hal paling memorable adalah view Gunung Sindoro Sumbing yang terlihat jelas dari atas. Buat pecinta wisata instagramable Dieng, tempat ini jelas wajib masuk wishlist.
Oh ya, saya pribadi merasa tempat ini cocok banget jadi spot healing Dieng untuk melepas penat dari rutinitas harian.
Sarapan Soto Hangat dengan View Alam Dieng
Sekitar jam 06.15 pagi, kami turun perlahan menuju area bawah. Matahari mulai terasa hangat dan suasana wisata pagi Dieng makin ramai.
Sesampainya di area kuliner, kami memutuskan sarapan soto ayam di salah satu warung dengan view alam yang cantik banget.
Di belakang warung terlihat bukit hijau penuh bunga dan embun tipis yang masih turun.
Kami sebenarnya memilih makan di sana bukan karena sudah tahu rasa makanannya, tapi karena jarang banget bisa sarapan soto dengan view wisata alam Wonosobo seperti ini. Hihihihi....
Harga makanannya juga masih masuk akal. Enam porsi soto lengkap dengan gorengan dan minuman total sekitar seratus ribuan.
Menurut saya sih, menikmati soto hangat ditemani udara dingin Dieng setelah trekking Sikunir Dieng jadi pengalaman sederhana yang terasa sangat menyenangkan.
Kenapa Puncak Sikunir Cocok untuk Wisata Keluarga
Puncak Sikunir Dieng menurut saya cocok dijadikan referensi wisata keluarga karena jalurnya termasuk pendakian singkat Jawa Tengah yang ramah pemula.
Selain itu, fasilitas di sekitar area juga cukup lengkap. Ada penginapan, area kuliner, toilet, hingga tempat camping di Sikunir untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih lama.
Oh ya, banyak juga villa dan penginapan nyaman di sekitar area Dieng. Kebetulan saya juga menginap di salah satu villa dekat sana, dan mungkin bakal saya spill di artikel berikutnya.
Selain menyenangkan, mendaki bukit juga punya manfaat untuk kesehatan tubuh dan mental.
Meski capek, aktivitas seperti ini bisa membantu tubuh lebih aktif, pikiran lebih segar, dan mempererat hubungan keluarga.
Buat yang ingin mencoba pengalaman hiking pemula Dieng dengan view cantik dan jalur yang gak terlalu ekstrem, menurut saya Puncak Sikunir Dieng layak banget masuk daftar destinasi liburan berikutnya.








.png)
0 komentar:
Post a Comment