Showing posts with label Travel Stories. Show all posts
Showing posts with label Travel Stories. Show all posts

In Travel Stories

Pahlawan Street Center Madiun: Jelajah Spot dan Fasilitasnya

Pahlawan Street Center Madiun malam hari dengan lampu gemerlap

Setelah siangnya sempat mampir sebentar, malamnya saya dan teman kembali lagi ke Pahlawan Street Center Madiun. Ternyata suasananya beda banget! 

Kalau siang terasa cukup panas, malam hari justru berubah menjadi kawasan yang lebih hidup dengan lampu gemerlap di berbagai sudut.

Tahu gak, saya malah merasa PSC Madiun malam hari seperti ruang keluarga besar di tengah kota. 

Ada anak muda yang ngobrol, keluarga yang jalan-jalan, orang yang sekadar duduk santai, sampai beberapa orang yang terlihat selonjoran bahkan tiduran di lantai salah satu spot. Wkwkwkwk....

Tempat ini memang bukan sekadar kawasan untuk foto-foto. Ada pedestrian, taman, area duduk, landmark, kuliner, sampai ruang terbuka publik yang bisa dipakai untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayang.

Oh ya, yang paling menarik buat saya adalah kita bisa menikmati banyak hal dalam satu kawasan. Jadi gak perlu berpindah-pindah tempat untuk sekadar jalan santai, foto, nongkrong, atau mencari jajanan.

PSC Madiun, Ruang Kota yang Jadi Tempat Wisata

Pahlawan Street Center Madiun berada di kawasan Jalan Pahlawan dan dikembangkan sebagai ruang publik sekaligus destinasi wisata kota. 

Konsepnya cukup menarik karena jalan perkotaan dibuat lebih ramah untuk pejalan kaki dengan berbagai fasilitas dan spot yang bisa dinikmati masyarakat.

Di kawasan ini ada pedestrian yang luas, taman, area duduk, berbagai replika landmark dunia, serta aktivitas kuliner dan UMKM. 

Patung Merlion sebagai spot foto PSC Madiun
Patung Merlion sebagai spot foto PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi, fungsi PSC sebenarnya lumayan lengkap. Mau jalan kaki boleh, mau duduk santai juga bisa, mau foto-foto apalagi.

Tahu gak, salah satu hal yang saya suka dari tempat seperti ini adalah kita gak harus punya agenda khusus. Datang saja, keliling sebentar, lalu lihat apa yang menarik.

Kalau saya sih lebih nyaman datang malam hari. Udara sudah jauh lebih sejuk dibanding siang, sehingga jalan kaki jadi terasa lebih menyenangkan. Ditambah lampu malam yang membuat berbagai bangunan dan landmark terlihat lebih hidup.

Jelajah Spot dan Fasilitas di Pahlawan Street Center

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling seru. Apa saja sih yang bisa dinikmati di Pahlawan Street Center Madiun?

1. Miniatur Ikon Dunia

Salah satu daya tarik utama PSC adalah keberadaan miniatur ikon dunia. 

Beberapa landmark yang bisa ditemukan antara lain Patung Merlion, Menara Eiffel, Big Ben, Patung Liberty, replika Ka'bah, hingga kincir angin bergaya Belanda.

Jadi, belum sempat jalan-jalan ke luar negeri? Ya minimal foto dulu di sini. Hihihihi....

Miniatur Menara Eiffel di Pahlawan Street Center Madiun
Miniatur Menara Eiffel di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Menara Eiffel misalnya. Saya beberapa kali mengambil foto dengan latar belakang Eiffel dan memang hasilnya cukup estetik. Rasanya seperti sedang berada di suatu tempat di Eropa, walaupun sebenarnya masih di Madiun.

Ada juga Big Ben yang semakin menarik ketika lampu malam mulai menyala. Sementara replika Patung Liberty dan Merlion bisa menjadi alternatif spot foto bagi pengunjung yang ingin membuat dokumentasi perjalanan.

Yang cukup unik buat saya justru replika Ka'bah. Saya sempat mengira bagian dalamnya kosong. Ternyata ketika datang sekitar waktu Maghrib, ada orang-orang yang sedang shalat di dalamnya.

Replika Ka'bah di Pahlawan Street Center Madiun
Replika Ka'bah di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Artinya, beberapa spot di PSC bukan cuma menarik secara visual, tetapi juga punya fungsi tertentu bagi pengunjung.

Tahu gak, konsep miniatur seperti ini juga membuat jalan-jalan di PSC terasa seperti city walk sambil “keliling dunia” dalam satu kawasan.

2. Pedestrian untuk Jalan Santai

Setelah puas berburu foto, tinggal lanjut jalan kaki.

Pedestrian PSC menjadi salah satu fasilitas yang membuat kawasan ini terasa berbeda dari jalan kota biasa. Area pejalan kaki cukup luas sehingga pengunjung bisa berjalan santai sambil melihat aktivitas di sekitar.

Mau ngobrol dengan teman, menikmati suasana kota, atau sekadar melihat-lihat orang yang lalu-lalang, semuanya bisa dilakukan tanpa harus punya tujuan tertentu.

Buat saya sih, bagian seperti ini justru penting. Tempat wisata gak selalu harus punya wahana besar. Trotoar yang nyaman dan ruang untuk berjalan santai juga bisa membuat orang betah.

3. Taman dan Area Duduk

Selain pedestrian, ada pula area taman seperti Taman Sumber Wangi dan Taman Sumber Umis yang menjadi bagian dari kawasan PSC.

Di beberapa titik tersedia bangku, area duduk, serta ruang terbuka yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat.

Taman untuk duduk di kawasan PSC Madiun
Taman untuk duduk di kawasan PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi setelah muter-muter dan kaki mulai pegal, gak perlu buru-buru pulang. Duduk dulu sambil menikmati suasana malam.

Oh ya, saya melihat sendiri ada pengunjung yang benar-benar memanfaatkan area tersebut untuk bersantai. Ada yang ngobrol, bermain dengan anak, sampai sekadar duduk menikmati malam.

Rasanya seperti punya ruang terbuka gratis di tengah kota yang bisa digunakan siapa saja.

4. Lampu Malam dan Spot Foto

Begitu malam datang, salah satu perubahan paling terasa adalah pencahayaan.

Lampu jalan dan lampu hias membuat suasana PSC menjadi lebih hangat dan hidup. Landmark yang pada siang hari terlihat biasa saja bisa terasa lebih menarik ketika dipadukan dengan pencahayaan malam.

Buat penggemar foto, ini tentu menjadi keuntungan tersendiri. Mau foto keluarga, foto bersama teman, atau sekadar mencari spot foto PSC Madiun untuk koleksi pribadi, pilihannya cukup banyak.

Tahu gak, menurut saya justru suasana malam inilah yang membuat PSC punya daya tarik tersendiri. Bukan cuma karena lampunya, tetapi karena pengunjung juga mulai ramai dan suasana kota terasa lebih hidup.

5. Kuliner dan UMKM

Sudah jalan kaki, sudah foto-foto, tentu perut lama-lama ikut protes.

Di sekitar Pahlawan Street Center juga terdapat aktivitas kuliner dan UMKM yang bisa menjadi pelengkap wisata. Ada makanan, minuman, jajanan, hingga street food yang bisa dinikmati setelah berkeliling.

Deretan penjual UMKM di Pahlawan Street Center Madiun
Deretan penjual UMKM di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi konsepnya cukup sederhana: jalan-jalan, menemukan sesuatu yang menarik, foto, duduk sebentar, lalu cari makanan.

Kalau saya sih suka model wisata seperti ini karena gak terlalu ribet. Gak harus membuat itinerary superpadat untuk menikmati satu kawasan.

Kenapa PSC Menarik Dinikmati Malam Hari?

Ada alasan kenapa saya merasa Pahlawan Street Center Madiun lebih seru ketika dikunjungi malam hari.

Pertama, udara tentu lebih nyaman untuk berjalan kaki. Kedua, lampu malam membuat berbagai landmark terlihat lebih menarik. Ketiga, aktivitas pengunjung juga terasa lebih ramai.

Suasana malam Pahlawan Street Center Madiun
Suasana malam Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)


Kawasan ini bisa dinikmati berbagai kalangan. Keluarga bisa mengajak anak jalan-jalan, anak muda bisa nongkrong dan berburu foto, sementara wisatawan seperti saya bisa menikmati suasana kota sambil mencari cerita baru.

Bahkan buat yang sedang mencari wisata murah Madiun, PSC bisa menjadi pilihan karena aktivitas utamanya berupa menikmati ruang publik, berjalan kaki, foto-foto, dan melihat suasana kota.

Oh ya, gak harus datang dengan rombongan besar juga. Datang berdua seperti saya pun tetap bisa menikmati kawasan ini dengan santai.

Menutup Perjalanan Madiun di PSC

Gak rugi banget saya kembali ke Pahlawan Street Center Madiun malam itu. Setelah sebelumnya cuma mampir sebentar pada siang hari, kunjungan kedua justru membuat saya lebih bisa melihat berbagai fasilitas yang tersedia.

PSC ternyata bukan cuma tempat foto dengan miniatur ikon dunia. Ada pedestrian untuk jalan santai, taman untuk duduk, area publik untuk berkumpul, pencahayaan malam yang cantik, serta kuliner yang bisa melengkapi perjalanan.

Dan akhirnya, saya menemukan cerita final dari perjalanan satu hari saya di Madiun.

Tahu gak, dari beberapa cerita yang sudah saya bagikan sejak awal perjalanan, ternyata satu hari di Madiun bisa menghasilkan beberapa part artikel. Semoga kamu gak bosen ya membaca cerita saya. Hehehe.

Saya duduk santai di area publik PSC Madiun malam hari
Saya duduk santai di area publik PSC Madiun malam hari (doc. Riana Dewie)


First impression saya terhadap kota ini juga cukup menyenangkan. Kotanya terasa tenang, gak terlalu berisik, harga makanan masih cukup terjangkau, dan ternyata banyak tempat yang bisa didatangi backpacker seperti saya.

Satu hari memang terasa singkat. Tapi dari Stasiun Madiun, tempat religi, pusat kota, kedai kopi, sampai PSC malam hari, semuanya meninggalkan cerita masing-masing.

Nah, setelah Madiun, next dolan ke mana lagi ya supaya bisa nulis banyak part seperti ini?

Hihihi.... tunggu kejutannya ya.... Bye!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Iseng Cari Tempat Ngopi, Malah Menemukan Kopi Kakak Madiun

Kopi Kakak Madiun di depan Alun-Alun Madiun

Halo, saya lanjut cerita tentang sehari backpacker-an di Madiun, ya. Ini sudah artikel keempat dan semoga kamu gak bosan mengikuti perjalanan saya. Hahaha...

Tahu gak, hari itu Madiun panas banget. Serius. Tapi saya justru happy karena mendatangi kota yang belum banyak saya jelajahi memang selalu menyenangkan. 

Ada rasa kepo setiap kali berpindah tempat: nanti destinasinya gimana, asyik gak ya, makanannya enak gak ya, dan masih banyak pertanyaan receh lainnya.

Setelah dari beberapa destinasi sebelumnya, perjalanan masih berlanjut. Badan mulai minta istirahat dan saya kepikiran mencari minuman yang seger-seger. 

Teman saya kemudian membuka Google dan mencari tempat ngopi yang masih satu arah dengan rute kami. Gak perlu yang terlalu fancy. Yang penting ada tempat duduk, bisa minum, dan sekalian mengisi tenaga.

Lalu muncullah nama Kopi Kakak Madiun.

Lokasinya pas banget karena berada di kawasan Alun-Alun Madiun. Jadi, tanpa mengubah rute perjalanan, kami bisa mampir sebentar.

Ternyata keputusan spontan itu malah membawa kami ke tempat yang cukup menarik.

Awalnya Cuma Iseng Cari Tempat Ngopi

Ketemu 'Kopi Kakak' dari Google

Plang nama Kopi Kakak Madiun
Plang nama Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)

Awalnya teman saya yang sibuk mencari warung atau tempat ngopi di area yang akan kami lewati. Saya sih gak punya ekspektasi apa-apa. Targetnya sederhana: ngadem sambil ngecas badan dan HP. Hahahah.

Tahu gak, justru tempat yang dicari tanpa persiapan seperti ini kadang malah menghasilkan cerita yang lebih seru.

Sambil membuka HP, teman saya memimpin perjalanan. Tiba-tiba dia teriak, “Eh, ini kafenya!”

Saya yang berada di belakang langsung memperhatikan bangunan di depan kami.

Lho?

Kok bentuknya seperti bangunan vintage?

Awalnya saya malah bingung karena visual bangunannya terasa seperti perpaduan gaya kolonial dan Tionghoa. Bukan model coffee shop modern yang biasanya langsung kelihatan dari luar.

Setelah melihat papan nama Kopi Kakak, barulah kami yakin. Nah, ini toh tempat yang tadi dicari!

Ternyata Lokasinya Gak Jauh dari Rute Kami

Salah satu alasan kami akhirnya mampir tentu karena lokasinya strategis. Kopi Kakak berada di Jalan Kolonel Marhadi, tepat di kawasan depan Alun-Alun Madiun.

Buat yang sedang mencari tempat ngopi di Madiun sambil jalan-jalan di pusat kota, posisi seperti ini cukup menguntungkan.

Kami bisa berhenti sebentar tanpa harus memutar jauh. Setelah selesai ngopi pun masih bisa melanjutkan perjalanan ke kawasan alun-alun.

Jadi, konsep backpacker hemat waktu tetap jalan.

Kopi Kakak Madiun dan Bangunan Vintage yang Bikin Penasaran

Suasana outdoor Kopi Kakak Madiun
Suasana outdoor Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)

Begitu masuk, perhatian saya bukan cuma tertuju pada kopi.

Bangunannya justru bikin penasaran.

Kopi Kakak memanfaatkan kawasan Rumah Kapitan Cina, sebuah bangunan bersejarah di Jalan Kolonel Marhadi. 

Bangunan tersebut dikenal sebagai kediaman Kapitan Njoo Swie Lian dan tercatat sebagai salah satu bangunan bersejarah Kota Madiun.

Pada 2019, bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya dan kemudian dimanfaatkan sebagai lokasi usaha Kopi Kakak. 

Sumber penelitian juga mencatat bahwa penggunaan sebagai coffee shop dimulai pada 2019 dengan struktur bangunan lama tetap dipertahankan.

Oh ya, ini yang membuat saya merasa ngopi di sini agak berbeda. Kita bukan cuma duduk di sebuah kafe kekinian, tetapi juga berada di lingkungan bangunan yang punya cerita panjang tentang sejarah Kota Madiun.

Bangunan Rumah Kapitan Cina Madiun
Bangunan Rumah Kapitan Cina Madiun (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Kafe di Depan Alun-Alun

Posisinya yang berada di kawasan Alun-Alun Madiun membuat suasana Kopi Kakak juga menarik untuk diamati.

Sore itu kami bisa melihat aktivitas di sekitar alun-alun mulai berubah. Pedagang kaki lima berdatangan, lalu lampu-lampu temaram perlahan menyala. Tanda bahwa siang mulai bergeser menuju senja.

Oh ya, dari tempat seperti ini saya jadi bisa menikmati dua suasana sekaligus: duduk santai di area kafe, sementara kehidupan kota tetap bergerak di luar.

Buat saya sih, ini salah satu daya tarik tempat nongkrong di Madiun. Gak perlu buru-buru pergi karena setelah ngopi masih banyak yang bisa dieksplorasi di sekitar pusat kota.

Kamu Bisa Ngapain Aja di Tempat Ngopi Ini?

Tentu saja yang utama adalah ngopi. Kopi Kakak menyediakan berbagai pilihan menu minuman dan makanan untuk menemani waktu nongkrong.

Selain itu, suasana bangunan tua dan area hijaunya juga membuat tempat ini menarik sebagai spot foto. Nuansa vintage dan classic terasa lebih kuat dibandingkan kafe modern pada umumnya.

Tahu gak, bangunan seperti ini justru bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk orang yang suka fotografi atau sekadar mencari latar foto yang berbeda.

Tempatnya juga cocok untuk ngobrol bersama teman maupun keluarga. Bahkan dari berbagai sumber, kawasan ini pernah digunakan untuk kegiatan dan acara tertentu, sehingga fungsinya gak hanya sebagai tempat minum kopi.

Jadi, kalau kamu mencari cafe vintage Madiun atau cafe unik di Madiun, Kopi Kakak bisa masuk daftar pencarian.

Duduk, Ngopi, dan Menikmati Suasana Kota Madiun

Pelanggan mengantre beli kopi di Kopi Kakak Madiun
Pelanggan mengantre beli kopi di Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)

Setelah keliling Madiun sejak siang, akhirnya kami bisa duduk santai.

Angin bergerak pelan. Area hijau di sekitar kafe membuat suasananya terasa lebih sejuk. Kebetulan saat kami datang, pengunjung gak terlalu banyak. Mungkin karena kami datang Senin siang menjelang sore, saat sebagian orang masih sibuk bekerja.

Saya memilih duduk di area outdoor. Kebetulan ada tempat untuk mengecas HP, jadi ya sudah, lengkap sudah paket istirahatnya: badan ngadem, HP ikut recovery. Hihihihi....

Untuk minuman, saya lupa persis namanya. Yang saya ingat, saya pilih menu ice lychee tea dan teman saya semacam Thai tea gitu. Kenapa gak ngopi? Kebetulan saya pribadi gak terlalu suka kopi karena takut gak bsia tidur nyenyak. Hihihi.....

Minuman Thai Tea di Kopi Kakak Madiun
Minuman Thai Tea di Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)


Harganya juga masih bersahabat. Saya membayar sekitar belasan ribu rupiah untuk minuman tersebut. Buat perjalanan backpacker, nominal seperti ini masih cukup aman di kantong.

Tapi yang paling menarik justru obrolannya.

Kami duduk cukup lama sambil saling berbagi cerita tentang kehidupan. Mulai dari pekerjaan, keluarga, keyakinan, iman, sampai hal-hal random yang biasanya muncul ketika dua orang sedang ngobrol santai.

Sih, durasi ngopi kami di sini malah menjadi salah satu yang paling panjang dibandingkan tempat lain selama perjalanan Madiun.

Mungkin karena tempatnya nyaman. Mungkin juga karena memang sedang sama-sama butuh jeda.

Justru Bangunannya yang Bikin Betah

Awalnya cuma mau mencari kopi.

Eh, malah betah.

Bangunan tua, taman, suasana outdoor, ditambah obrolan panjang membuat waktu berjalan tanpa terasa. Ada sensasi tersendiri ketika bisa menikmati minuman di tempat yang punya cerita sejarah.

Dan tentu saja, kalau sudah menemukan latar yang menarik, sesi foto biasanya gak boleh dilewatkan. Wkwkwkwk....

Kopi Kakak akhirnya bukan sekadar tempat mampir untuk mengisi tenaga, tetapi menjadi salah satu unexpected stop yang justru saya ingat dari perjalanan satu hari di Madiun.

Tempat nongkrong vintage di pusat Kota MadiunTempat nongkrong vintage di pusat Kota Madiun (doc. Riana Dewie)


Dari Kopi Kakak, Saya Melanjutkan Jalan-Jalan Madiun

Setelah puas duduk dan ngobrol, perjalanan kami belum selesai.

Kami kemudian melanjutkan jalan-jalan tipis ke Alun-Alun Madiun. Di sana mulai banyak pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai jajanan street food. Harganya cukup terjangkau dan pilihannya juga lumayan banyak.

Tahu gak, area alun-alun ternyata gak cuma menarik untuk duduk-duduk. Buat yang membawa anak-anak pun ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sekitar kawasan ini.

Dari sini saya makin merasa bahwa mencari tempat ngopi yang satu arah dengan rute perjalanan ternyata bisa menjadi strategi sederhana untuk menikmati kota tanpa membuang waktu.

Kita bisa istirahat, makan atau minum, foto-foto, lalu lanjut eksplorasi.

Sih, perjalanan sehari memang gak harus dipenuhi destinasi yang padat. Kadang jeda satu atau dua jam justru membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.

Ternyata Tempat Spontan Bisa Jadi Cerita

Perjalanan Madiun saya kali ini memang banyak diisi destinasi yang awalnya gak semuanya masuk rencana.

Kopi Kakak salah satunya.

Kami cuma mencari tempat ngopi melalui Google karena kebetulan searah. Ternyata yang ditemukan bukan cuma coffee shop, tetapi juga bangunan tua dengan cerita sejarah di tengah kawasan pusat Kota Madiun.

Dari pengalaman ini, saya jadi semakin percaya bahwa itinerary boleh dibuat rapi, tetapi tetap sisakan sedikit ruang untuk spontanitas.

Asalkan gak membuat kita ketinggalan kereta pulang, tentunya. Hahaha!

Suasana sore di Kopi Kakak Madiun
Suasana sore di Kopi Kakak Madiun (doc. Riana Dewie)


Perjalanan Madiun Belum Selesai

Dan setelah Kopi Kakak, petualangan kami masih berlanjut.

Masih ada Alun-Alun Madiun, jajanan kaki lima, Toko Oleh-oleh Mirasa, makan malam, sampai kembali lagi ke Pahlawan Street Center sebelum akhirnya menuju Stasiun Madiun.

Oh ya, bagaimana sih keseruan suasana Alun-Alun Madiun saat sore sampai malam?

Tunggu cerita saya berikutnya, ya.

Karena ternyata, satu hari di Madiun masih bisa menghasilkan banyak cerita.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Backpacker Madiun: Eksplor Kota dari Stasiun, Modal Hemat!

Backpacker Madiun mulai perjalanan dari Stasiun Madiun

Turun dari kereta sekitar pukul 10.40 di Stasiun Madiun, saya dan seorang teman langsung punya misi sederhana: jalan-jalan tanpa ribet, gak menghabiskan banyak uang, dan sebisa mungkin memilih destinasi yang masih berada di sekitar pusat kota. 

Inilah versi kami melakukan backpacker Madiun, cuma berdua dengan modal itinerary sederhana dan kaki yang siap diajak jalan.

Tahu gak, saya justru suka konsep perjalanan seperti ini. Gak perlu buru-buru menyewa kendaraan seharian atau membuat itinerary yang terlalu padat. 

Ada tempat yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sementara lokasi yang agak jauh tinggal pesan ojek online. Praktis!

Karena sebelumnya kami sudah menempuh perjalanan dari Jogja menggunakan kereta, sesampainya di Madiun kami pun langsung memulai eksplor kota. Target pertama? Cari oleh-oleh!

Turun di Stasiun Madiun, Jalan-Jalan Hemat Pun Dimulai

Tiba Sekitar Pukul 10.40

Siang itu cuaca Madiun cukup cerah dan lumayan terik. Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang saat itu justru terasa gak terlalu ramai. 

Area perkantoran dan sekolah juga terlihat cukup lengang karena kami datang di jam ketika aktivitas utama masyarakat sedang berlangsung di tempat masing-masing.

Saya sudah mengantisipasi cuaca dengan memakai baju panjang dan topi. Lumayanlah, daripada baru setengah perjalanan sudah berubah menjadi manusia gosong, wkwkwkwk....

Oh ya, saya suka banget dengan tata kota di Madiun ini karena cukup bersih dan di sepanjang jalan, tersedia bangku yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun yang melewatinya. Jadi kalau kami kecapekan, langsung deh duduk sejenak untuk beristirahat. 

Bangku untuk duduk para pejalan kaki
Bangku untuk duduk para pejalan kaki (doc. Riana Dewie)


Buat saya, suasana seperti ini justru menyenangkan. Kami bisa melihat wajah pusat Kota Madiun secara lebih santai, bukan sekadar datang untuk mengejar satu destinasi lalu pulang.

Backpacker Versi Kami: Dekat Jalan, Jauh Sedikit Naik Ojol

Konsep perjalanan kami sebenarnya sederhana. Kalau tempatnya masih memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki, ya jalan kaki. Kalau jaraknya cukup jauh atau cuaca mulai bikin lelah, tinggal mengandalkan ojek online.

Inilah salah satu cara kami menjalankan backpacker ke Madiun. Gak harus selalu identik dengan ransel besar, tidur di penginapan murah, atau berjalan puluhan kilometer. 

Menurut saya, backpacker lebih kepada cara mengatur perjalanan supaya tetap fleksibel dan sesuai kebutuhan.

Tahu gak, konsep seperti ini juga membuat kita lebih mudah menemukan tempat-tempat menarik di luar destinasi yang biasanya muncul di daftar wisata populer.

Dari Oleh-Oleh sampai Gudeg Jogja, Begini Cara Kami Eksplor Madiun

Mampir ke Roti Sandy

Roti Sandy Madiun
Roti Sandy Madiun (doc. Riana Dewie)

Karena tujuan berikutnya adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius, teman saya mengajak mampir sebentar ke Toko Oleh-oleh Roti Sandy. Katanya, toko ini termasuk toko oleh-oleh yang cukup legendaris di Madiun.

Namanya juga toko oleh-oleh Madiun, isinya tentu bikin mata gampang jelalatan. Ada berbagai makanan dan jajanan yang bisa dibawa pulang. Namun, saya dan teman justru langsung terpikat pada satu makanan: bolen pisang.

Kami akhirnya membeli satu kotak bolen. Untuk rasa cokelat harganya Rp60.000, sedangkan keju Rp65.000. Karena saya mengambil rasa mix, harganya menjadi Rp62.500.

Bolen pisang di Roti Sandy Madiun
Bolen pisang di Roti Sandy Madiun (doc. Riana Dewie)


Oh ya, kalau kamu sedang mencari oleh-oleh Madiun yang praktis dibawa, bolen seperti ini lumayan menarik karena bisa langsung masuk tas tanpa terlalu merepotkan perjalanan.

Oleh-Oleh Dulu, Makannya Belakangan

Awalnya saya sempat berpikir, “Apa gak berat ya membawa oleh-oleh dari awal perjalanan?”

Namanya juga baru turun dari stasiun, sementara itinerary Madiun sehari kami masih panjang. Tapi karena setelah itu kami gak akan melewati toko ini lagi, akhirnya saya ikut membeli.

Lagipula, suami saya di rumah ternyata suka banget bolen pisang. Jadi anggap saja sekalian menjalankan tugas sebagai istri yang pulang membawa buah tangan. Hihihihi....

Setelah urusan oleh-oleh beres, kami lanjut ke agenda berikutnya. Dan bagian ini mungkin agak berbeda dari konsep wisata kuliner pada umumnya.

Kok Malah Makan Gudeg di Madiun?

Nah, ini yang bikin saya sendiri ngakak. Setiap pergi ke luar kota, saya dan teman memang terbiasa membawa bekal dari rumah. Jadi untuk makan siang, kami justru membuka bekal nasi gudeg yang dibawa dari Jogja.

Bekal gudeg Jogja untuk perjalanan backpacker Madiun
Bekal gudeg Jogja untuk perjalanan backpacker Madiun (doc. Riana Dewie)


Tujuannya simpel: gak perlu pusing mencari makanan ketika perut sudah mulai lapar. Selain lebih praktis, tentu saja bisa menghemat budget trip.

Padahal, sepanjang perjalanan kami sempat melihat berbagai kuliner Madiun yang menggoda. Salah satunya rujak cingur. Sempat kepikiran mau beli, tetapi takut bekal gudeg malah gak dimakan.

Ya sudah, akhirnya rujak cingur cuma dilewati dengan tatapan penuh harapan. Wkwkwkwk....

Kalau saya sih, strategi membawa bekal seperti ini cocok banget buat kamu yang ingin mencoba wisata hemat Madiun. Uang yang biasanya habis untuk makan siang bisa dialihkan ke jajanan atau aktivitas lain.

Menepi Sejenak di Gua Maria, Lalu Berburu Foto di PSC

Mencari Suasana Hening di Tengah Perjalanan

Salah satu tempat yang sudah saya masukkan ke daftar sejak browsing di Google sebelum berangkat adalah Gua Maria Gereja Santo Cornelius.

Awalnya saya sempat merasa gerejanya seperti tutup. Kami pun sempat bingung harus masuk dari mana. Ternyata ada pintu lain yang terbuka dan akhirnya kami diarahkan menuju area Gua Maria.

Suasananya terasa berbeda dari perjalanan kami sebelumnya. Setelah berjalan di tengah cuaca siang yang cukup terik, berada di tempat yang lebih tenang tentu memberi kesempatan untuk berhenti sejenak.

Gereja Santo Cornelius Madiun
Gereja Santo Cornelius Madiun (doc. Riana Dewie)


Buat saya, tempat seperti Gua Maria Gereja Santo Cornelius bukan sekadar destinasi wisata religi Madiun. Ada suasana hening yang membuat perjalanan terasa lebih lengkap.

Tahu gak, saya memang suka menyisipkan tempat-tempat seperti ini ketika bepergian. Bukan hanya soal foto atau destinasi, tetapi juga memberi ruang untuk menenangkan diri di tengah perjalanan.

Informasi lebih lengkap tentang Gua Maria dan Gereja Santo Cornelius Madiun ini akan saya tulis di artikel khusus, ya.

Area dekat Pahlawan Street Center Madiun atau PSC Madiun
Area dekat Pahlawan Street Center Madiun atau PSC Madiun (doc. Riana Dewie)


Sampailah Kami di Pahlawan Street Center (PSC)

Dari sana, perjalanan berlanjut menuju Pahlawan Street Center atau PSC Madiun.

Saya baru tahu kalau kawasan ini ternyata termasuk salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi ketika eksplor Madiun. 

PSC merupakan kawasan wisata kota modern yang dikembangkan sebagai ruang publik dengan jalur pedestrian, aktivitas sosial, wisata, hingga area UMKM dan belanja. 

Pemerintah Kota Madiun juga menjadikan kawasan ini sebagai salah satu ikon wisata kota.

Jalanannya tertata, pedestrian cukup nyaman, dan ada berbagai spot yang bisa dijadikan tempat foto. Beberapa ikon tematik bahkan membuat suasana kawasan ini terasa unik.

Siang itu PSC justru relatif sepi. Maklum, matahari sedang semangat-semangatnya menyinari Madiun. Aktivitas biasanya terasa lebih hidup menjelang sore sampai malam, ketika udara mulai bersahabat.

Foto-Foto Dulu, Namanya Juga Traveling

Salah satu Spot foto di Pahlawan Street Center Madiun
Salah satu Spot foto di Pahlawan Street Center Madiun (doc. Riana Dewie)

Sebenarnya PSC ini memang masuk daftar tujuan kami untuk sore hari. Namun karena kebetulan sudah melewati kawasan tersebut, kami tentu gak mau menyia-nyiakan kesempatan.

Saya pun langsung mengambil beberapa foto dengan berbagai pose.

Namanya juga jalan-jalan, masa pulang cuma membawa oleh-oleh? Foto wajib ada dong!

Menurut saya sih, kawasan seperti PSC cocok untuk kamu yang suka mencari tempat foto di Madiun tanpa harus mengeluarkan biaya besar. 

Jalan-jalan santai, melihat suasana kota, kemudian menemukan spot foto yang menarik. Ini sudah cukup untuk membuat one day trip Madiun terasa menyenangkan.

Rute Backpacker Madiun Kami, Masih Ada Lanjutan!

Setelah PSC, perjalanan kami sebenarnya belum selesai. Justru dari sinilah agenda backpacker Madiun kami semakin panjang.

Rute yang kami susun kurang lebih seperti ini:

Stasiun Madiun → Toko Oleh-oleh Sandy → makan bekal gudeg → Gua Maria/Gereja Santo Cornelius → Pahlawan Street Center → Alun-Alun Madiun → coffee shop → Toko Oleh-oleh Mirasa → makan malam → PSC lagi → Stasiun Madiun.

Tahu gak, itinerary Madiun 1 hari seperti ini ternyata cukup memungkinkan dilakukan tanpa kendaraan pribadi, asalkan pintar mengatur jarak dan waktu. 

Beberapa lokasi bisa ditempuh dengan berjalan kaki, sedangkan destinasi yang lebih jauh tinggal menggunakan transportasi online.

Kami Jalan kaki di kawasan wisata Madiun dekat Stasiun Madiun
Kami Jalan kaki di kawasan wisata Madiun dekat Stasiun Madiun (doc. Riana Dewie)


Jadi buat kamu yang sedang mencari wisata Madiun dekat Stasiun Madiun, konsep seperti ini bisa menjadi salah satu inspirasi. Gak harus mengunjungi semua tempat wisata sekaligus. 

Yang penting rute perjalanan masuk akal, waktu gak terlalu mepet, dan badan masih sanggup diajak keliling.

Saya sendiri menikmati banget perjalanan ini. Ada rasa puas ketika satu per satu tempat berhasil didatangi dengan cara yang sederhana.

Dan ternyata, Madiun backpacker versi saya gak selalu harus mahal. Dengan perencanaan sederhana, bekal dari rumah, jalan kaki, dan sesekali naik ojol, kita tetap bisa menikmati suasana kota.

***

Perjalanan setelah PSC masih membawa kami ke beberapa tempat menarik lainnya. Ada Alun-Alun Madiun, coffee shop, berburu oleh-oleh lagi, makan malam, sampai kembali ke PSC ketika suasananya mulai berubah lebih ramai.

Jadi, cerita backpacker Madiun ini belum selesai.

Tunggu tulisan saya selanjutnya karena saya akan lanjutkan rute berikutnya dalam perjalanan sehari penuh ini. 

Buat saya, trip seperti ini cukup worth it: hemat, santai, dapat banyak cerita, dan yang paling penting, bisa menikmati Madiun dengan cara sendiri.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Trip Hemat Jogja-Madiun: Naik KRL dari Lempuyangan, Lanjut KA Bias

Suasana Stasiun Balapan Solo saat pagi hari

Ada satu jenis perjalanan yang paling saya suka: perjalanan yang awalnya cuma “coba-coba”, tetapi ternyata malah jadi cerita seru untuk dibawa pulang.

Begitulah awal mula saya melakukan Jogja ke Madiun naik kereta murah kali ini. Saya diajak teman yang memang suka traveling. Katanya, ada beberapa tempat di Madiun yang cukup asyik untuk didatangi. Kebetulan jadwal saya sedang agak longgar.

Sebenarnya masih ada pekerjaan, sih. Hahaha. Tapi beberapa pekerjaan bisa disambi dan saya juga sudah mendapat izin dari partner untuk off pada hari Senin. Ya sudah, daripada kesempatan lewat begitu saja, langsung gass!

Tahu gak, ini juga menjadi pengalaman pertama saya pergi ke Madiun. Jadi, selain ingin jalan-jalan, saya sekaligus penasaran seperti apa rasanya melakukan perjalanan dari Jogja ke Madiun dengan transportasi umum.

Rute Jogja-Madiun yang Saya Pilih

Untuk perjalanan ini, saya dan seorang teman memilih rute yang menurut kami cukup praktis dan hemat: Stasiun Lempuyangan – Stasiun Solo Balapan – Stasiun Madiun.

Dari Lempuyangan, kami naik KRL Jogja-Solo pukul 07.10 dan tiba di Solo Balapan sekitar pukul 08.16. Setelah transit sebentar, perjalanan dilanjutkan dengan KA Bias pukul 08.45 menuju Madiun.

Kalau dibuat singkat, begini rutenya:

Lempuyangan → KRL Jogja-Solo → Solo Balapan → KA Bias → Madiun

Rute ini menarik karena kami gak perlu mencari kendaraan pribadi atau bus. Cukup memanfaatkan transportasi umum dan menyesuaikan jadwal kereta.

Oh ya, perjalanan Jogja Madiun naik kereta ini juga saya pilih karena ingin mencoba pengalaman baru. Biasanya kalau bepergian, saya lebih banyak memikirkan destinasi. Kali ini perjalanan menuju destinasi justru ingin saya nikmati juga.

Berangkat dari Stasiun Lempuyangan dengan KRL

Pagi-Pagi Sudah di Lempuyangan

Kereta dijadwalkan berangkat pukul 07.10. Maka, pagi itu saya berangkat menuju Stasiun Lempuyangan dengan semangat jalan-jalan.

Masalahnya, saya sempat lupa satu hal penting: hari itu hari Senin!

Jalanan pagi cukup padat karena orang-orang sedang berangkat kerja dan anak sekolah juga mulai beraktivitas. Untungnya saya masih punya spare time, jadi gak sampai panik mengejar kereta.

Sesampainya di Stasiun Lempuyangan, saya masih sempat duduk-duduk sambil menunggu teman datang.

Buat saya, momen menunggu seperti ini justru bagian kecil yang menyenangkan. Belum sampai tujuan, tetapi rasanya sudah mulai liburan.

Naik KRL Menuju Solo Balapan

Begitu naik KRL, suasananya cukup ramai. Bahkan bisa dibilang full banget. Kursi hampir gak ada yang kosong sepanjang perjalanan.

Ya, wajar juga. Kami berangkat pada jam orang-orang menuju tempat kerja. Jadi, perjalanan KRL Commuter Line pagi itu memang cukup padat.

Saya sih santai saja. Hihihihi. Namanya juga berbagi gerbong dengan mereka yang sedang berjuang berangkat kerja naik kereta.

Menariknya, meskipun harus berdiri, saya gak merasa terlalu capek. Saya justru menikmati perjalanan sambil melihat suasana dari dalam kereta.

Ada alasan lain kenapa perjalanan ini terasa cukup berarti buat saya. Beberapa waktu terakhir, saya memang sedang membutuhkan jeda dari rutinitas. Penat pekerjaan bercampur dengan kesedihan setelah ibu saya berpulang beberapa bulan lalu.

Jadi, perjalanan sederhana menuju Madiun ini sekaligus menjadi kesempatan untuk mengambil napas sebentar. Gak perlu perjalanan mewah. Cukup duduk atau berdiri di kereta, ngobrol dengan teman, melihat pemandangan, lalu membiarkan kepala sedikit lebih tenang.

Tanpa terasa, KRL sampai di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul 08.16.

Transit Solo, Lanjut KA Bias ke Madiun

Transit di Stasiun Solo Balapan sebelum naik KA Bias
Transit di Stasiun Solo Balapan sebelum naik KA Bias (doc. Riana Dewie)

Cuma Punya Waktu Sekitar 30 Menit

Dari Solo Balapan, kami masih punya waktu sekitar 30 menit sebelum KA Bias berangkat pukul 08.45.

Waktu transit ini menurut saya cukup. Bisa turun dari KRL, mencari kereta berikutnya, sekaligus jepret-jepret suasana stasiun dan selfie sebentar.

Tahu gak, ini justru pertama kalinya saya naik kereta bandara. Lucunya, kereta bandara dari Jogja menuju YIA saja sampai sekarang belum kesampaian saya coba.

Malah perjalanan menuju Madiun yang membuat saya duluan mencoba pengalaman ini.

Oh ya, buat yang mencari cara ke Madiun dari Jogja naik kereta, bagian transit ini memang perlu diperhatikan. Jangan hanya melihat harga tiket, tetapi cek juga jadwal kereta dan waktu perpindahannya.

Suasana di dalam KA Bias Solo Madiun
Suasana di dalam KA Bias Solo Madiun (doc. Riana Dewie)


Naik KA Bias Menuju Madiun

Pukul 08.45, kami melanjutkan perjalanan dengan KA Bias Solo Madiun.

Keretanya cukup nyaman untuk menikmati perjalanan. Saya bisa duduk sambil melihat pemandangan luar dengan cukup syahdu.

Sayangnya, ada satu hal yang sedikit mengganggu: kaca jendelanya agak buram. Jadi, niat mengambil foto pemandangan dari dalam kereta harus sedikit dikurangi karena hasilnya kurang estetik.

Buat KAI, tolong dong pelapis kacanya diganti yang baru biar fotonya makin cakep. Hahahaha.

Tapi di luar urusan foto, perjalanan menggunakan kereta Bias ke Madiun ini tetap menyenangkan. Saya bisa duduk, menikmati perjalanan, dan sesekali melihat perubahan pemandangan dari Solo menuju Jawa Timur.

Masih sempet Charge HP juga saat ada di kereta Bias
Masih sempet Charge HP juga saat ada di kereta Bias (doc. Riana Dewie)


Tiba di Stasiun Madiun

Sekitar pukul 10.40, akhirnya kami tiba di Stasiun Madiun.

Rasanya cepat banget!

Perjalanan sekitar dua jam dari Solo bahkan gak sempat saya gunakan untuk tidur. Rasanya sayang kalau melewatkan suasana perjalanan begitu saja.

Tiba di Madiun sekitar pukul 10.40 juga menjadi keuntungan tersendiri. Hari masih panjang dan kami masih punya banyak waktu untuk menjelajah.

Petualangan one day trip Madiun pun resmi dimulai.

Pemandangan perjalanan kereta dari Solo menuju MadiunPemandangan perjalanan kereta dari Solo menuju Madiun (doc. Riana Dewie)


Berapa Biaya Perjalanan Jogja-Madiun?

Nah, ini bagian yang mungkin paling menarik buat pemburu kereta murah Jogja Madiun.

Untuk perjalanan berangkat, biaya yang kami keluarkan cukup terjangkau.

Dari Lempuyangan ke Solo Balapan, tarif KRL sekitar Rp8.000. Kemudian dari Solo Balapan menuju Madiun menggunakan KA Bias sekitar Rp40.000-an.

Jadi total perjalanan berangkat kurang lebih:

Rp8.000 + Rp40.000 = Rp48.000-an.

Artinya, dengan biaya sekitar Rp48 ribu, saya sudah bisa melakukan perjalanan dari Jogja sampai Madiun.

Untuk pulang-pergi, sebenarnya bisa saja menggunakan rute yang sama sehingga total biaya transportasi utama masih di bawah Rp100 ribu, tergantung tarif tiket yang didapat.

Namun, kami memilih KA Kahuripan untuk perjalanan pulang. Alasannya supaya bisa mendapatkan jadwal paling malam, sekitar pukul 20.45, dan tiba di Lempuyangan sekitar pukul 23.45.

Dengan begitu, waktu eksplorasi di Madiun bisa lebih maksimal. Gak perlu buru-buru meninggalkan kota pada sore hari.

Tahu gak, buat konsep perjalanan hemat seperti ini, selisih beberapa jam ternyata cukup berharga karena bisa membuat itinerary Madiun jauh lebih leluasa.

Saat kami tiba di stasiun Solo dan mau menuju ke area Stasiun Bandara
Saat kami tiba di stasiun Solo dan mau menuju ke area Stasiun Bandara (doc. Riana Dewie)


Apakah Rute Jogja-Madiun Ini Worth It?

Jawaban saya: worth it banget!

Buat yang ingin mencoba perjalanan hemat, rute KRL Jogja Solo lanjut KA Bias bisa menjadi pilihan menarik.

Biayanya relatif murah, perjalanan cukup nyaman, dan transit di Solo juga gak terlalu lama.

Saya sih justru menikmati bagian transitnya karena perjalanan terasa seperti punya dua babak: dari Jogja menuju Solo, kemudian Solo menuju Madiun.

Tentu saja, sebelum berangkat tetap perlu mengecek jadwal kereta, tiket, tarif terbaru, dan waktu tempuh. Jadwal perjalanan kereta bisa berubah, jadi jangan hanya mengandalkan pengalaman perjalanan saya.

Tips Naik Kereta dari Jogja ke Madiun

  • Datang lebih awal ke Stasiun Lempuyangan, terutama jika berangkat pada jam sibuk.

  • Cek jadwal KRL dan KA Bias sebelum berangkat.

  • Perhatikan waktu transit di Stasiun Solo Balapan.

  • Jangan terlalu santai saat transit meskipun punya waktu sekitar 30 menit.

  • Simpan tiket dan bukti pembayaran dengan baik.

  • Buat itinerary sebelum tiba di Madiun agar waktu one day trip lebih efektif.

  • Hitung juga biaya transportasi lokal, makan, tiket masuk, dan perjalanan pulang.

  • Untuk perjalanan hemat, manfaatkan kombinasi transportasi umum dan jalan kaki jika jaraknya memungkinkan.

Titik 0 km Madiun
Titik 0 km Madiun (doc. Riana Dewie)


Dari Madiun, Mau ke Mana Saja?

Sesampainya di Madiun, konsep kami memang sederhana: backpacker-an versi santai.

Kami sengaja memilih lokasi yang gak terlalu jauh dari Stasiun Madiun. Kalau jaraknya dekat, ya jalan kaki. Kalau agak jauh, baru deh boleh naik ojol. Hihihihi.

Beberapa tempat yang sudah masuk dalam rencana kami adalah Gereja Santo Cornelius dan Gua Maria, yang membuat saya penasaran karena katanya lokasinya menarik dan cukup dekat dengan stasiun.

Setelah itu ada toko oleh-oleh Mirasa dan Sandy yang kabarnya cukup legendaris, kemudian Pahlawan Street Center (PSC), Alun-Alun Madiun, dan tentunya mencari coffee shop di sekitar area tersebut.

Oh ya, semuanya adalah tempat baru bagi saya. Jadi, perjalanan ini benar-benar seperti membuka halaman baru tentang Madiun.

Dan ternyata, masing-masing tempat punya cerita yang cukup menarik untuk diceritakan.

Salah satu spot favorit saya saat di Madiun
Salah satu spot favorit saya saat di Madiun (doc. Riana Dewie)


Penutup

Perjalanan Lempuyangan ke Madiun naik kereta ini awalnya cuma berangkat dari ajakan teman. Gak ada persiapan yang terlalu ribet, apalagi rencana liburan mewah.

Namun, justru perjalanan spontan seperti ini yang membuat saya bisa menikmati satu hari dengan cara berbeda.

Dari KRL yang penuh pada Senin pagi, transit sebentar di Solo, mencoba KA Bias untuk pertama kalinya, sampai akhirnya tiba di Madiun dengan budget perjalanan yang cukup ramah di kantong.

Dan yang paling bikin penasaran tentu bukan cuma perjalanan keretanya.

Setelah turun di Stasiun Madiun, kami masih punya waktu sampai malam untuk berburu tempat menarik, kuliner, oleh-oleh, suasana kota, sampai tempat ngopi.

***

Jadi, seperti apa sih Gereja Santo Cornelius dan Gua Maria yang katanya menarik itu? Benarkah oleh-oleh Mirasa dan Sandy memang se-legendaris yang diceritakan? Dan apakah semua tempat tadi berhasil kami datangi dalam satu hari?

Cerita lengkapnya saya lanjutkan di part berikutnya. Jangan sampai ketinggalan, karena perjalanan Madiun ini ternyata punya lebih banyak kejutan daripada yang saya bayangkan. Wkwkwkwk....


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Gunung Purba Nglanggeran, Tempat Latihan Mendaki yang Cocok untuk Pemula

Gunung Purba Nglanggeran

Pernah kepikiran ingin naik gunung, tapi masih ragu karena belum punya pengalaman? Saya juga pernah berada di posisi itu. 

Rasanya ingin mencoba sensasi mendaki, tetapi masih mencari tempat latihan mendaki yang medannya bersahabat. 

Tahu gak, memilih gunung pertama ternyata cukup penting supaya pengalaman hiking pertama terasa menyenangkan, bukan malah bikin kapok.

Saya akan bercerita tentang pengalaman asyik mendaki Gunung Purba Nglanggeran. Siap ikutan?

Guyuran Hujan saat Perjalanan Menuju Gunung Purba Nglanggeran

Pagi itu cuaca di Yogyakarta terlihat cerah berawan. Udara terasa sejuk dan cukup nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan. 

Saya bersama tiga saudara pun sepakat berangkat menggunakan dua motor menuju kawasan Gunung Purba Nglanggeran, salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Gunungkidul.

Namun sekitar pukul 10.45, suasana berubah drastis. Langit mendadak gelap disertai hembusan angin yang cukup kencang. "Wah, jangan-jangan gagal deh rencana hari ini," pikir saya saat itu. 

Meski begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan. Benar saja, sepanjang jalan kami diguyur hujan deras hampir satu jam. 

Jas hujan memang membantu, tapi pakaian kami tetap basah kuyup. Wkwkwkwk... benar-benar pembukaan perjalanan yang gak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Sesampainya di lokasi, rasa lelah selama perjalanan perlahan terbayar. Gunung yang berdiri gagah di depan mata seolah menyambut kedatangan kami. 

Karena jalur pendakiannya membutuhkan waktu lebih lama dibanding destinasi lain di kawasan tersebut, kami memutuskan untuk memulai petualangan dari sini terlebih dahulu.

Oh ya, alasan saya memilih gunung untuk pemula di Jogja ini bukan tanpa sebab. 

Kami bersiap mendaki Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan
Kami bersiap mendaki Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan (doc. Riana Dewie)


Selain jalurnya cukup jelas, durasi pendakiannya juga relatif singkat sehingga cocok bagi siapa saja yang ingin mencoba hiking tanpa harus memiliki pengalaman mendaki gunung tinggi. 

Saya sih langsung penasaran, apakah perjuangan menuju puncaknya benar-benar akan seindah cerita banyak orang.

Pengalaman Mendaki Gunung Purba Nglanggeran, Capek tapi Menyenangkan

Tepat pukul 12.00, kami akhirnya tiba di kawasan wisata Gunung Purba Nglanggeran. Rasanya lega sekali setelah hampir satu jam berkendara sambil diguyur hujan deras. 

Sebelum memulai pendakian, kami berganti pakaian dan sandal karena semuanya sudah basah kuyup. Saya sendiri tetap memilih memakai sepatu yang masih basah. 

Agak gak nyaman memang, tetapi saya merasa sepatu akan lebih aman dibanding sandal saat melewati jalur menanjak.

Beli Tiket Masuk 

Sebelum masuk ke area pendakian, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. 

Per tahun 2026, harga tiket Gunung Purba Nglanggeran berkisar Rp25.000 per orang untuk wisatawan domestik (saya sudah agak lama kesana, jadi dulu harganya lebih murah). 

Setelah itu, kami menghangatkan badan dengan menikmati semangkuk mi goreng dan segelas teh panas di warung sekitar loket. 

Hihihihi... ternyata makanan hangat setelah kehujanan memang terasa jauh lebih nikmat.

Sekitar pukul 13.30, petualangan kami pun dimulai. Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang awalnya terlihat biasa saja perlahan berubah menjadi lebih menantang. 

Bekas hujan membuat tanah berubah menjadi lumpur yang lengket di alas kaki. Hampir setiap langkah terasa lebih berat karena sepatu maupun sandal dipenuhi tanah basah.

Sepatu penuh lumpur di jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran
Sepatu penuh lumpur di jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


Beberapa Pos untuk Pendaki

Oh ya, sepanjang perjalanan tersedia beberapa pos yang menjadi penanda sejauh mana pendaki telah berjalan. Pos demi pos kami lewati dengan hati-hati sambil sesekali berhenti mengatur napas. 

Selain jalur berbatu, terdapat pula beberapa tangga kayu yang mengharuskan pendaki bergantian saat melintas. 

Di beberapa titik bahkan kami harus memanjat batu berukuran cukup besar sebelum bisa melanjutkan perjalanan. 

Inilah bagian dari jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang menurut saya paling menantang.

Suasana jalur hiking Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan.
Suasana jalur hiking Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan (doc. Riana Dewie)


Bayangan saya sebelumnya, pengalaman mendaki Gunung Purba akan dipenuhi jalur tanah yang mudah dilewati. Nyatanya, kondisi setelah hujan membuat tingkat kesulitannya meningkat. 

Meski begitu, justru di situlah letak serunya. 

Perjalanan ini mengajarkan saya untuk melangkah lebih pelan, menjaga keseimbangan, dan saling menunggu teman agar semua bisa tiba di puncak dengan selamat.

Kenapa Saya Memilih Gunung Purba Nglanggeran untuk Latihan Mendaki?

Jujur saja, ini bukan pertama kalinya saya berwisata ke kawasan Nglanggeran. 

Namun untuk urusan mendaki Gunung Purba Nglanggeran, pengalaman ini menjadi sesuatu yang benar-benar saya nantikan. 

Trek berbatu menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran.
Trek berbatu menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


1. Ramah untuk Pemula

Tujuan saya sederhana, yaitu mencari gunung yang ramah untuk pemula, tetapi tetap memberikan sensasi petualangan yang seru.

Tahu gak, Gunung Api Purba Nglanggeran berada di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Lokasinya hanya sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta sehingga cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. 

Faktor inilah yang membuatnya sering menjadi pilihan wisatawan maupun komunitas pecinta alam.

2. Trek Pendakian Pendek

Alasan lain saya memilih tempat ini karena trek pendakiannya relatif pendek dibanding gunung-gunung lain di Yogyakarta. 

Meski begitu, jalurnya tetap menghadirkan tantangan berupa tanjakan, jalan berbatu, hingga beberapa titik sempit yang membuat perjalanan terasa lebih seru. 

Bagi saya sih, tantangan seperti ini justru pas sebagai latihan sebelum mencoba pendakian dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang ramah untuk pendaki pemula.
Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang ramah untuk pendaki pemula (doc. Riana Dewie)


3. Jalur Pendakian sudah Tertata 

Sebagai pendaki pemula, saya juga merasa lebih tenang karena jalur pendakian sudah tertata dengan cukup baik. 

Penunjuk arah tersedia di beberapa titik sehingga pengunjung gak perlu khawatir tersesat selama mengikuti rute yang telah disediakan. 

Selain itu, perjalanan menuju puncak juga gak membutuhkan perlengkapan pendakian khusus seperti carrier berukuran besar atau peralatan berkemah.

Oh ya, sebelum berangkat saya sempat membayangkan jalurnya akan didominasi tanah kering dengan tanjakan yang masih bersahabat. 

Kenyataannya nanti justru berbeda, apalagi setelah hujan deras mengguyur kawasan ini sejak siang. 

Meski begitu, rasa penasaran untuk menaklukkan gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung untuk pemula di Jogja ini sama sekali gak berkurang. 

Justru saya semakin bersemangat ingin membuktikan sendiri seperti apa pengalaman mendakinya.

Panorama dari Puncak Gunung Purba Nglanggeran yang Bikin Lelah Terbayar

Semakin mendekati puncak, suasana berubah menjadi lebih teduh. Jalur dikelilingi pepohonan tinggi yang membuat udara terasa semakin sejuk. 

Tahu gak, bagian ini menjadi favorit saya karena suasananya benar-benar seperti memasuki hutan kecil yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Kami juga melewati beberapa tanjakan alami yang cukup licin akibat hujan. Untungnya semua bisa dilewati dengan hati-hati. 

Meski membutuhkan tenaga ekstra, rasa lelah perlahan menghilang ketika cahaya dari area terbuka mulai terlihat di depan.

Begitu tiba di puncak, saya langsung terpukau. Hamparan panorama perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang. 

Panorama hijau dari puncak Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul.
Panorama hijau dari puncak Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul (doc. Riana Dewie)


Dari atas terlihat sawah, jalan raya, permukiman warga, hingga menara pemancar yang berdiri menjulang di kejauhan. 

Angin berembus cukup kencang, tetapi justru membuat suasana terasa semakin segar. 

Pemandangan dari puncak inilah yang menurut saya menjadi hadiah terbaik setelah melewati perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Saya dan sepupu pun beristirahat sambil mengabadikan momen dengan berbagai pose. Bagi saya sih, setiap sudut di atas memiliki daya tarik tersendiri untuk difoto. 

Gak heran bila banyak wisatawan menjadikan view Gunung Purba Nglanggeran sebagai salah satu spot favorit saat menikmati wisata alam Gunungkidul. 

Jika cuaca sedang cerah, kawasan ini juga menjadi lokasi yang menarik untuk menikmati matahari terbit maupun matahari terbenam.

Tips Mendaki Gunung Purba Nglanggeran untuk Pemula

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal sederhana yang bisa membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

  • Gunakan sepatu dengan sol yang mencengkeram, terutama saat musim hujan. Jalur bisa menjadi cukup licin.

  • Datanglah pada pagi atau sore hari agar cuaca lebih bersahabat dan sinar matahari gak terlalu terik.

  • Selalu membawa air minum secukupnya supaya tubuh tetap terhidrasi selama pendakian.

  • Jangan terburu-buru mencapai puncak. Nikmati saja setiap langkah dan berhentilah sejenak jika mulai merasa lelah.

  • Gunakan tas yang ringan dengan barang seperlunya agar perjalanan terasa lebih nyaman.

  • Tetap menjaga kebersihan kawasan dengan membawa kembali sampah pribadi.

  • Oh ya, siapkan kondisi fisik secukupnya sebelum berangkat. Meski termasuk hiking pemula, jalurnya tetap memiliki tanjakan dan bebatuan yang membutuhkan keseimbangan tubuh.

Bagi saya sih, tips mendaki Gunung Purba yang paling penting adalah menikmati prosesnya. Gak perlu terburu-buru atau membandingkan diri dengan pendaki lain. 

Justru di setiap langkah itulah kita bisa menikmati suasana alam yang masih asri sekaligus menjadikan pendakian sebagai salah satu aktivitas outdoor di Jogja yang menyenangkan.

Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran.Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran.
Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


Penutup

Perjalanan mendaki Gunung Purba Nglanggeran menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. 

Meski sempat diterpa hujan deras, melewati jalur berlumpur, hingga beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga, semuanya terbayar lunas ketika berhasil menikmati panorama indah dari puncaknya.

Tahu gak, sering kali rasa takut hanya muncul sebelum kita mencoba. Setelah benar-benar menjalaninya, ternyata pendakian ini masih sangat bersahabat bagi pemula. 

Itulah mengapa saya merasa Gunung Purba Nglanggeran layak menjadi gunung pertama bagi siapa saja yang ingin mulai mengenal dunia hiking.

Jadi, buat kamu yang masih ragu mencoba mendaki, gak perlu khawatir. Medannya relatif mudah diikuti, jalurnya jelas, dan hampir selalu ada pendaki lain yang berjalan bersama. 

Siapkan fisik secukupnya, gunakan perlengkapan yang nyaman, lalu nikmati setiap langkah menuju puncak. 

Siapa tahu, pengalaman pertama ini justru menjadi awal munculnya hobi baru menjelajahi keindahan alam Indonesia.

FAQ Seputar Gunung Purba Nglanggeran

Berapa lama mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Rata-rata waktu yang dibutuhkan sekitar 45–90 menit menuju puncak, tergantung kondisi fisik, cuaca, dan frekuensi beristirahat selama perjalanan.

Apakah Gunung Purba Nglanggeran cocok untuk pemula?

Ya. Jalurnya cukup jelas, durasi pendakiannya relatif singkat, dan gak membutuhkan perlengkapan khusus sehingga cocok untuk pendaki pemula.

Apakah anak-anak bisa mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Bisa, dengan pendampingan orang dewasa. Tetap perhatikan kondisi cuaca dan pilih waktu pendakian saat jalur gak licin.

Kapan waktu terbaik mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Musim kemarau atau saat cuaca cerah menjadi waktu terbaik karena jalur lebih aman. Datang pagi atau sore juga membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

Berapa harga tiket masuk Gunung Purba Nglanggeran?

Harga tiket dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola. Sebaiknya cek informasi terbaru sebelum berkunjung agar memperoleh tarif dan jam operasional yang paling akurat.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments