Belum lama ini saya traveling ke Dieng, Wonosobo. Sebagai orang Jogja yang seumur hidup lebih sering main ke pantai atau kota, ini pertama kalinya saya pergi ke area pegunungan yang udaranya super dingin.
Awalnya perjalanan biasa aja. Saya masih ngobrol santai, ketawa-ketawa kecil, bahkan sempat foto-foto di mobil.
Tapi makin masuk area Wonosobo dan jalan mulai naik, tubuh saya langsung berubah total. Kepala mulai berat, perut terasa gak nyaman, lalu muncul sensasi mual yang bikin panik sendiri.
Nah, pengalaman itu bikin saya sadar kalau tips anti mabuk di jalan gunung memang penting banget dipahami sebelum traveling ke area pegunungan.
Apalagi kalau jalurnya penuh jalan berkelok-kelok dan tanjakan tajam. Hihihihi… saya sampai bilang ke adek saya, “Ini kapan sampenya sih?”
Tahu sendiri kan rasanya orang mabuk darat itu seperti gimana? Serba salah. Posisi kepala berubah sedikit aja langsung terasa muter.
Saya bahkan mulai sering bersendawa terus-menerus. Kata beberapa orang sih, itu tanda asam lambung mulai naik karena tubuh sedang berusaha menyesuaikan kondisi perjalanan.
Oh ya, saya memang punya riwayat vertigo dan asam lambung, jadi kondisi mabuk perjalanan di jalan berliku seperti ini terasa lebih berat dibanding orang lain.
Bahkan saat melihat lampu kendaraan di malam hari, kepala rasanya makin pusing dan badan mulai dingin.
Kenapa Jalan Pegunungan Sering Bikin Mabuk Kendaraan?
Sebenarnya ada beberapa penyebab mabuk kendaraan di jalan gunung yang sering dialami banyak orang.
Jalur pegunungan memang punya karakter berbeda dibanding jalan biasa. Selain naik turun, kendaraan juga sering bermanuver cepat di tikungan.
Jalan Berkelok dan Naik Turun Memicu Pusing
Saat perjalanan naik ke Dieng tengah malam, saya benar-benar merasa tersiksa. Di luar gelap total, sementara mobil terus melewati jalan tanjakan pegunungan yang berliku tanpa henti.
Mata saya melihat kondisi gelap, tapi tubuh merasakan gerakan terus-menerus. Nah, kondisi inilah yang sering memicu mual dan pusing di perjalanan.
Tubuh sebenarnya sedang bingung menerima sinyal berbeda antara mata dan otak. Makanya gak heran kalau perjalanan naik turun gunung sering bikin orang mabuk kendaraan.
Oh ya, kalau saya sih biasanya langsung mencoba fokus melihat jalan depan supaya tubuh lebih cepat menyesuaikan arah gerakan kendaraan.
Udara Dingin dan Perjalanan Lama Bisa Memperparah Mual
Selain jalan ekstrem, udara dingin pegunungan juga bisa bikin tubuh lebih sensitif. Apalagi kalau kondisi kendaraan tertutup dan penuh aroma kendaraan yang menyengat.
Kombinasi capek, kurang tidur, dan perjalanan jauh naik mobil memang gampang bikin badan drop.
Kadang ada juga penumpang yang makan makanan terlalu berat sebelum berangkat. Akhirnya perut makin gak nyaman saat mobil mulai menikung tajam.
Hahahaha… padahal niat awalnya supaya kenyang di jalan.
Persiapan Sebelum Berangkat Agar Tidak Mabuk Perjalanan
Menurut saya, cara mencegah mabuk kendaraan paling penting justru dilakukan sebelum perjalanan dimulai. Persiapan kecil ternyata cukup membantu membuat perjalanan wisata gunung tetap nyaman.
Jangan Bepergian Saat Perut Kosong
Perut kosong saat perjalanan bisa memperparah rasa mual. Tapi terlalu kenyang juga gak bagus. Saya biasanya memilih makan ringan seperti roti atau pisang sebelum berangkat.
Selain itu, minum air putih cukup juga penting supaya tubuh gak dehidrasi selama perjalanan pegunungan.
Hindari Main HP Terlalu Lama Sebelum dan Saat Perjalanan
Ini kebiasaan yang sering disepelekan. Padahal fokus melihat layar HP saat mobil bergerak bisa bikin otak makin bingung menerima gerakan. Akibatnya mabuk perjalanan makin cepat muncul.
Oh ya, semenjak pengalaman ke Dieng kemarin, saya mulai membatasi scrolling media sosial selama road trip. Ternyata lumayan membantu mengurangi rasa pusing.
Siapkan Obat atau Minuman Anti Mabuk
Saya pribadi selalu membawa obat alami anti mabuk perjalanan seperti jahe untuk mabuk perjalanan, permen mint, dan minyak kayu putih. Aroma hangat dari minyak angin cukup bikin kepala lebih rileks.
Kemarin saya juga menempelkan salonpas di area perut supaya tubuh terasa hangat. Lalu bagian leher dan kepala saya oles minyak angin sebagai aromaterapi sederhana.
Selain untuk traveling, menurut saya pengalaman seperti ini juga bisa jadi inspirasi Ide Bisnis kecil-kecilan, misalnya menjual paket travel kit anti mabuk berisi minyak angin, jahe instan, dan permen mint.
Menarik juga sih buat penumpang bus atau wisatawan.
Tips Anti Mabuk Saat Melewati Jalan Gunung
Nah, ini bagian paling penting berdasarkan pengalaman pribadi saya selama perjalanan ke pegunungan.
Pilih Posisi Duduk yang Paling Nyaman
Posisi duduk agar tidak mabuk perjalanan ternyata cukup berpengaruh. Kalau memungkinkan, pilih kursi depan atau dekat jendela. Area depan biasanya terasa lebih stabil dibanding kursi belakang.
Selain itu, duduk dekat jendela membantu mendapatkan udara segar lebih mudah.
Fokus Melihat Jalan di Depan
Fokus melihat jalan depan membantu tubuh menyesuaikan arah kendaraan. Saya sendiri mencoba terus melihat arah jalan dibanding melihat samping kanan kiri.
Cara ini lumayan membantu mengurangi rasa muter di kepala saat melewati jalur ekstrem pegunungan.
Atur Napas dan Jangan Panik
Semakin panik, tubuh biasanya makin tegang. Saya mencoba menarik napas perlahan sambil memejamkan mata beberapa detik. Cara sederhana ini cukup membantu tubuh lebih rileks.
Oh ya, saya juga berusaha ngobrol santai dengan teman supaya pikiran gak terlalu fokus ke rasa mual.
Buka Sedikit Jendela untuk Udara Segar
Sirkulasi udara kendaraan penting banget saat perjalanan jauh. Udara segar membantu mengurangi rasa enek akibat aroma kendaraan yang terlalu kuat.
Bahkan saat perjalanan pulang, kondisi saya malah lebih parah. Saya sampai minta berhenti di SPBU karena merasa ingin muntah.
Tapi lucunya, saat masuk kamar mandi malah gak jadi muntah. Jadinya badan terasa makin gak enak karena perut gak plong sama sekali.
Istirahat Jika Perjalanan Terlalu Lama
Kalau perjalanan terlalu panjang, usahakan sesekali berhenti untuk stretching ringan. Minum air putih dan berjalan sebentar bisa membantu tubuh lebih segar.
Tips road trip ke daerah pegunungan seperti ini sering disepelekan padahal efeknya cukup terasa untuk mengurangi mabuk perjalanan.
Makanan dan Minuman yang Bisa Membantu Mengurangi Mabuk Kendaraan
Beberapa makanan sederhana ternyata membantu perjalanan pegunungan tanpa mual.
Jahe dan Permen Mint
Jahe hangat membantu meredakan rasa mual di perut. Saya biasanya minum jahe instan sebelum perjalanan dimulai.
Permen mint juga cukup membantu membuat mulut terasa segar selama perjalanan.
Air Putih dan Camilan Ringan
Air putih membantu menjaga tubuh tetap stabil selama perjalanan. Saya biasanya membawa camilan ringan seperti biskuit supaya perut gak kosong.
Kalau saya sih lebih nyaman makan sedikit tapi sering dibanding langsung makan berat.
Hindari Makanan Berminyak dan Aroma Tajam
Sebelum perjalanan, usahakan gak makan gorengan berlebihan atau makanan dengan bau terlalu menyengat. Karena aroma tajam sering memperparah rasa enek selama perjalanan gunung.
Oh ya, jangan lupa juga untuk cukup tidur sebelum berangkat. Tubuh yang capek biasanya lebih gampang mengalami anti mual saat perjalanan yang gagal total alias malah makin pusing.
Perjalanan ke Pegunungan Tetap Bisa Menyenangkan
Meski cukup menyiksa, pengalaman mabuk perjalanan kemarin tetap jadi cerita seru buat saya.
Saya jadi belajar kalau mabuk kendaraan itu hal umum dan bisa dialami siapa saja, terutama saat melewati jalan gunung yang panjang dan berliku.
Dengan persiapan yang tepat, perjalanan liburan ke gunung sebenarnya tetap bisa dinikmati. Mulai dari menjaga kondisi tubuh, memilih posisi duduk nyaman, sampai membawa perlengkapan anti mabuk sederhana.
Dan setelah semua perjuangan itu, rasa capek langsung terbayar saat melihat indahnya wisata alam pegunungan Dieng yang dingin dan tenang.
Ditambah menikmati kuliner enak khas Wonosobo yang hangat di tengah udara malam, rasanya perjalanan itu tetap worth it untuk dikenang.




.png)
0 komentar:
Post a Comment