In Personal Notes

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace: Belajar Kitab Suci

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace

Aktivitas saya belakangan ini cukup padat dengan kerjaan. Rasanya waktu untuk sekadar refreshing atau healing jadi makin tipis. 

Tahu gak, sebenarnya saya sudah cukup lama gak punya agenda nonton yang benar-benar santai tanpa memikirkan pekerjaan.

Tanggal 24 September 2026 kemarin, saya baru saja sampai Jogja setelah perjalanan pulang dari Jakarta. 

Sebelumnya saya mengantar teman-teman atlet senam mengikuti Lomba Senam Perwosi 2026. Sampai Jogja dini hari, saya memilih istirahat seharian karena badan memang butuh diajak kompromi.

Hari sebelumnya, dua teman tiba-tiba mengajak saya nonton. Saya bahkan gak tahu sinopsisnya, belum melihat trailernya, dan gak punya ekspektasi apa-apa. Saya langsung bilang, “OK.” Saya pikir, sekalian refreshing lah.

Akhirnya di Kamis Sore itu saya bergegas ke XXI Jogja City Mall. Seperti biasa, saya telat sekitar lima menit dan dua teman saya sudah duduk manis di kursi deretan B. Hahaha.

Ternyata film yang kami tonton adalah Film Daniel and the Fiery Furnace. Awalnya saya mengira ini hanya akan menjadi tontonan film rohani biasa. Eh, setelah selesai menonton, saya malah jadi penasaran lagi dengan kisah Nabi Daniel.

Tahu gak, salah satu hal yang saya rasakan justru sederhana: membaca Kitab Suci kadang membuat saya harus membayangkan sendiri bagaimana suasana, tokoh, tempat, sampai konflik yang sedang terjadi. Lewat film, semuanya terasa lebih hidup.

Film Daniel and the Fiery Furnace Bercerita tentang Apa?

Poster Film Daniel and the Fiery Furnace
Poster Film Daniel and the Fiery Furnace (20thecountdown.com)

Jadi, film Daniel and the Fiery Furnace tentang apa? Film ini merupakan drama Alkitab berlatar pembuangan bangsa Yahudi ke Babilonia. 

Daniel diperankan Mena Massoud, sementara Raja Nebukadnezar diperankan Elijah Alexander. Ceritanya membawa penonton mengikuti perjalanan Daniel dan teman-temannya ketika mereka harus mempertahankan iman di tengah kekuasaan kerajaan Babilonia.

Daniel digambarkan sebagai sosok yang tetap memegang keyakinannya kepada Tuhan meskipun berada di lingkungan yang berbeda. 

Film kemudian membawa kita pada konflik ketika Raja Nebukadnezar mengeluarkan perintah penyembahan terhadap patung emas. 

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk gak tunduk pada perintah tersebut dan akhirnya menghadapi hukuman dilempar ke dalam tungku api.

Kalau ada yang bertanya Daniel and the Fiery Furnace bercerita tentang apa, jawaban sederhananya adalah tentang iman, keberanian, kesetiaan, dan pilihan untuk tetap berpegang kepada Tuhan ketika tekanan datang dari berbagai arah.

Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace
Nonton Film Daniel and the Fiery Furnace (doc. Riana Dewie)


Film tentang Nabi Daniel ini juga menarik karena gak hanya berhenti pada satu peristiwa. Perjalanan Daniel sebagai seorang pemuda Yahudi di Babilonia ikut menjadi bagian penting dari cerita.

Oh ya, ada juga tokoh Yeremia yang menjadi salah satu highlight dalam film. Roberto Zenca memerankan Jeremiah, dan situs resmi film bahkan menyebut perjalanan Daniel dan Jeremiah sebagai bagian dari materi pendalaman cerita. 

Jadi, karakter Jeremiah dalam film ini ikut memberi warna pada perjalanan Daniel dalam memperjuangkan imannya.

Buat saya, kehadiran karakter-karakter tersebut membuat kisah yang sebelumnya hanya saya kenal sebagai cerita Alkitab terasa lebih punya wajah.

Nabi Daniel dan Iman yang Gak Gampang Goyah

Bagian yang paling mudah ditangkap dari kisah Nabi Daniel dalam film adalah soal kesetiaan kepada Tuhan.

Daniel berada di tempat asing. Ia hidup di tengah budaya dan kekuasaan yang berbeda dengan keyakinannya. Namun, keadaan tersebut gak membuatnya begitu saja meninggalkan iman kepada Tuhan.

Nabi Daniel mempertahankan iman kepada Tuhan
Nabi Daniel mempertahankan iman kepada Tuhan (IG @menamassoud)


Berani Mempertahankan Iman

Salah satu pelajaran dari kisah Nabi Daniel adalah keberanian mempertahankan iman ketika ada tekanan. 

Dalam cerita tentang tungku api, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menolak menyembah patung emas yang dibuat Raja Nebukadnezar. Mereka memilih tetap setia kepada Tuhan meskipun konsekuensinya sangat berat.

Tahu gak, justru bagian seperti ini yang menurut saya lebih gampang direnungkan setelah melihat visualisasinya. Kita bisa melihat ekspresi ketakutan, suasana kerajaan, kobaran api, sampai keputusan para tokohnya.

Iman Bukan Sekadar Kata

Dari kisah Nabi Daniel dalam Alkitab, saya menangkap bahwa iman bukan cuma soal berkata percaya kepada Tuhan. Ada saat ketika keyakinan itu harus dibuktikan lewat pilihan.

Buat saya sih, bagian ini cukup relatable. Bentuk “tungku api” dalam kehidupan sekarang mungkin berbeda. 

Bisa berupa tekanan pekerjaan, masalah keluarga, keputusan sulit, atau situasi ketika kita harus memilih antara mengikuti keadaan dan tetap memegang prinsip.

Kenapa Belajar Kitab Suci Lewat Film Terasa Lebih Mudah?

Nah, ini justru alasan utama kenapa saya merasa film Alkitab seperti Daniel and the Fiery Furnace menarik untuk dibahas.

Bukan berarti film menggantikan Kitab Suci. Justru sebaliknya, film bisa menjadi pintu masuk untuk membuat seseorang lebih penasaran dan kemudian membaca sumber aslinya.

Visual Membantu Otak Membayangkan Cerita

Ketika membaca Kitab Daniel, kita perlu membangun gambaran sendiri mengenai tokoh, tempat, pakaian, suasana kerajaan, hingga kondisi ketika para tokoh menghadapi ancaman.

Lewat film, visualisasi cerita Alkitab tersebut sudah tersedia. Kita tinggal mengikuti alurnya.

Tahu gak, buat saya cara seperti ini terasa lebih mudah untuk memahami kisah dalam Alkitab. Setelah melihat adegannya, beberapa bagian cerita jadi lebih gampang diingat.

Film Alkitab tentang Nabi Daniel dan teman-temannya
Film Alkitab tentang Nabi Daniel dan teman-temannya (doc. Riana Dewie)


Cerita Jadi Terasa Lebih Dekat

Film juga membuat cerita yang sudah sangat lama terasa lebih dekat dengan kehidupan kita. Ada karakter yang harus memilih, ada rasa takut, ada tekanan, ada persahabatan, dan tentu saja ada iman kepada Tuhan.

Kalau saya sih, pendekatan visual seperti ini cocok untuk orang yang selama ini merasa membaca Kitab Suci cukup berat. Bukan karena Kitab Sucinya kurang menarik, tetapi karena setiap orang punya cara berbeda dalam memahami sebuah cerita.

Tentu tetap ada batasnya. Film adalah karya visual yang mengadaptasi kisah Kitab Suci, sehingga kita tetap perlu membaca Kitab Suci untuk memahami konteksnya secara lebih utuh.

Setelah Nonton Film Daniel, Saya Jadi Penasaran Buka Kitab Suci

Salah satu hal yang saya suka dari film ini justru efek setelah menontonnya.

Saya jadi ingin membaca lagi Kitab Daniel. Bukan karena merasa sudah memahami semuanya setelah menonton film, tetapi justru karena muncul rasa penasaran.

Hihihihi.... ternyata cara saya belajar bisa sesederhana itu: nonton dulu, penasaran, kemudian membaca.

Buat saya, film rohani tentang Nabi Daniel ini akhirnya bukan sekadar tontonan. Ia menjadi semacam jembatan untuk kembali melihat kisah Alkitab dengan perspektif yang lebih hidup.

Tahu gak, saya malah merasa pengalaman ini mengingatkan bahwa belajar Kitab Suci gak selalu harus dimulai dengan cara yang terasa serius atau berat. 

Kadang kita bisa memulainya dari sebuah film, kemudian perlahan mencari tahu kisah aslinya.

Pada akhirnya, saya gak ingin menjadikan film ini sebagai pengganti Kitab Suci. Justru saya ingin menjadikannya sebagai pengingat untuk lebih mengenal kisah-kisah iman yang selama ini mungkin hanya saya baca sekilas.

Wkwkwkwk.... niat awalnya cuma diajak nonton dadakan untuk refreshing, pulangnya malah membawa PR baru: pengin buka Kitab Daniel lagi.

Pengalaman belajar Kitab Suci lewat Film Daniel and the Fiery Furnace
Pengalaman belajar Kitab Suci lewat Film Daniel and the Fiery Furnace (doc. Riana Dewie)


Kadang kita cuma butuh satu cerita yang divisualisasikan untuk membuat kita berkata, “Oh, ternyata kisahnya seperti ini.”

Cukup menarik dan semoga pengalaman sederhana ini juga menguatkan iman saya kepada Tuhan yang saya imani dari dulu. Thank you untuk filmnya. Saya jadi lebih mudah memahami isi Kitab Suci tentang Nabi Daniel.

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment