Showing posts with label olahraga. Show all posts
Showing posts with label olahraga. Show all posts

In olahraga Traditions

Jemparingan Langenastro: Wisata Budaya Jawa Lewat Olahraga Tradisional

Jemparingan Langenastro sebagai wisata budaya Jawa di Jogja

Tahu gak, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman Kompasianer Jogja (KJOG) mendapat kesempatan mengikuti kegiatan Jemparingan Langenastro. 

Saya awalnya membayangkan aktivitas ini seperti olahraga panahan biasa, hanya saja menggunakan perlengkapan tradisional. 

Ternyata setelah duduk bersila, memegang busur, memasang anak panah, lalu mencoba membidik sasaran, rasanya jauh lebih menarik dari yang saya bayangkan.

Oh ya, saya baru sadar bahwa Jemparingan bukan sekadar olahraga tradisional Jawa yang dilakukan untuk mencari siapa paling jago mengenai sasaran. 

Di dalamnya ada sejarah, tata cara, konsentrasi, olah rasa, sampai filosofi kehidupan yang masih relevan dengan keseharian kita.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat Jemparingan Langenastro bukan hanya sebagai aktivitas olahraga, tetapi juga sebagai pengalaman wisata budaya Jawa yang menarik. 

Apalagi bagi wisatawan yang ingin mengenal budaya lokal Yogyakarta dengan cara yang lebih interaktif.

Mengenal Jemparingan, Olahraga dan Budaya Jawa

Secara sederhana, Jemparingan adalah seni panahan tradisional yang berkembang dalam budaya Mataram dan lingkungan Kasultanan Yogyakarta. Kata jemparing sendiri berarti anak panah.

Berbeda dengan panahan modern yang umumnya dilakukan sambil berdiri dan membidik menggunakan mata, Jemparingan memiliki ciri khas berupa posisi duduk bersila. 

Penjemparing duduk bersila saat bermain Jemparingan
Penjemparing duduk bersila saat bermain Jemparingan (doc. Riana Dewie)


Busur atau gendewa juga dipegang dengan posisi khas di depan tubuh, kemudian pemanah mengandalkan rasa dan konsentrasi untuk mengarahkan anak panah menuju sasaran.

Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang. Jemparingan berkembang dari lingkungan bangsawan dan kesatria Mataram sebagai bagian dari latihan ketangkasan. 

Dalam perkembangannya, tradisi tersebut kemudian semakin dikenal masyarakat luas dan menjadi salah satu bentuk olahraga sekaligus pelestarian budaya.

Jadi, ini olahraga atau kesenian sih?

Jawabannya bisa keduanya. Dari sisi aktivitas, jelas ada unsur olah raga karena tubuh dilatih untuk mengatur posisi, tarikan busur, keseimbangan, dan ketepatan. 

Namun, Jemparingan juga mengandung unsur budaya dan seni karena tata cara, busana, perlengkapan, serta filosofi yang menyertainya merupakan bagian dari tradisi Jawa.

Jemparingan bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 21 Februari 2024.

Aktivitas panahan tradisional Yogyakarta di Langenastro
Aktivitas panahan tradisional Yogyakarta di Langenastro (doc. Riana Dewie)


Jemparingan Langenastro dan Keseruannya

Jemparingan Langenastro menjadi salah satu pengalaman budaya yang menarik karena peserta gak hanya datang untuk melihat orang memanah. 

Dalam kegiatan yang saya ikuti bersama KJOG, kami juga mendapatkan penjelasan dan diajari dasar-dasar Jemparingan.

Belajar duduk, memegang busur, hingga membidik

Hal pertama yang terasa berbeda tentu saja posisi duduk. Kami duduk bersila dan mulai mengenal perlengkapan Jemparingan, termasuk busur, anak panah, dan sasaran.

Teknik dasar Jemparingan juga gak bisa dilakukan asal tarik lalu lepaskan. Ada cara memegang jemparing, mengatur posisi tubuh, menarik busur, hingga menjaga konsentrasi sebelum anak panah dilepaskan.

Suasana kegiatan Jemparingan di Langenastro Jogja
Suasana kegiatan Jemparingan di Langenastro Jogja (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, bagian yang menurut saya paling menantang justru bukan menarik busurnya, tetapi menjaga pikiran tetap fokus. 

Baru saja merasa sudah siap membidik, tiba-tiba pikiran melayang ke mana-mana. Hihihihi.... ternyata konsentrasi saya masih perlu banyak latihan.

Dalam panahan gaya Mataram, sasaran yang digunakan dikenal sebagai bandulan atau wong-wongan

Cara membidiknya pun memiliki karakter tersendiri karena penjemparing gak mengandalkan pandangan mata seperti pada panahan modern.

Bagi saya, inilah bagian paling seru dari Jemparingan di Langenastro. Ada rasa penasaran setiap kali anak panah dilepaskan. Apakah akan mengenai sasaran? Atau malah melenceng jauh?

Kalau hasilnya belum tepat sasaran sih, jangan buru-buru kecewa. Justru di situlah keseruannya. Kita terdorong untuk mencoba lagi sambil memperbaiki posisi, tarikan, dan fokus.

Lebih dari sekadar mengenai sasaran

Jemparingan juga mengajarkan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil. Kita harus tenang sebelum melepaskan anak panah. Gak bisa terburu-buru hanya karena ingin segera mengenai sasaran.

Oh ya, menurut saya pengalaman seperti ini yang membuat Jemparingan menarik sebagai aktivitas wisata budaya Jogja. Wisatawan gak cuma melihat pertunjukan atau benda budaya dari kejauhan, tetapi bisa mendapatkan pengalaman langsung mengenal tradisi.

Di balik busur dan anak panah, Jemparingan menyimpan filosofi yang cukup dalam. 

Salah satu ungkapan yang terkenal adalah pamenthanging gandewa pamenthenging cipta, yang kurang lebih mengajarkan hubungan antara membentangkan busur dan memusatkan pikiran.

Konsep ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. 

Kita sering melakukan banyak hal sekaligus, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, bahkan belum selesai membaca satu pesan sudah membuka aplikasi lain.

Pengalaman wisata budaya Jawa bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro
Pengalaman wisata budaya Jawa bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro (doc. Riana Dewie)


Jemparingan justru mengajak kita berhenti sebentar. Duduk, mengatur tubuh, menenangkan pikiran, kemudian fokus pada satu sasaran.

Nilai seperti sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh juga dikenal dalam filosofi budaya Yogyakarta. 

Secara sederhana, sawiji berkaitan dengan konsentrasi, greget dengan semangat yang terarah, sengguh dengan percaya diri tanpa kesombongan, sedangkan ora mingkuh bermakna keteguhan dan pantang mundur.

Tahu gak, nilai-nilai tersebut justru terasa sangat modern. Di tengah kehidupan yang serba cepat, kita tetap membutuhkan fokus, semangat, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, Jemparingan Langenastro gak cuma melatih ketepatan tangan. Ada latihan mental, konsentrasi, kesabaran, pengendalian diri, dan penghayatan yang ikut terbentuk dari prosesnya.

Menikmati Wisata Budaya Jawa Lewat Jemparingan

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, saya merasa Jemparingan punya potensi besar sebagai bagian dari wisata budaya Yogyakarta. 

Apalagi Yogyakarta memang dikenal sebagai kota yang menawarkan banyak pengalaman budaya, bukan hanya destinasi berupa bangunan atau tempat bersejarah.

Jemparingan bisa menjadi bentuk wisata berbasis budaya yang mengajak wisatawan mengenal tradisi Jawa sambil melakukan aktivitas secara langsung. 

Dari mengenakan ageman Jawa, belajar posisi duduk, mengenal gendewa dan jemparing, sampai memahami filosofi di balik setiap gerakan.

Buat saya pribadi, pengalaman Jemparingan Langenastro terasa cukup memuaskan. 

Ada sensasi menyenangkan ketika akhirnya bisa mengikuti tahapan permainan, meskipun hasil bidikan belum tentu selalu sesuai harapan. Wkwkwkwk.... namanya juga baru belajar!

Lebih dari itu, saya pulang membawa pemahaman bahwa pelestarian budaya gak selalu harus dilakukan dengan cara yang serius dan kaku. 

Budaya juga bisa dikenalkan lewat aktivitas yang menyenangkan, interaktif, dan bisa dinikmati generasi muda maupun wisatawan.

Jajanan pasar tradisional saat kegiatan Jemparingan Langenastro
Jajanan pasar tradisional saat kegiatan Jemparingan Langenastro (doc. Riana Dewie)


Tahu gak, salah satu hal kecil yang membuat pengalaman bersama tim Langenastro semakin berkesan adalah suguhan jajanan pasar tradisional setelah kegiatan. 

Rasanya sederhana, tetapi justru terasa pas sebagai penutup pengalaman budaya Jawa hari itu.

Nguri-uri Budaya Jawa

Buat saya, inilah esensi nguri-uri budaya Jawa. Tradisi bukan cuma disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dijalankan, dikenalkan, dan diberi ruang untuk hidup di tengah masyarakat.

Jemparingan sebagai warisan budaya juga mengingatkan saya bahwa olahraga bisa menjadi jalan untuk mengenal karakter, sementara budaya bisa menjadi cara untuk memahami kehidupan. 

Dan mungkin, sesekali kita memang perlu duduk tenang, menarik busur, mengarahkan sasaran, lalu belajar kembali tentang arti fokus.

Tertarik Mencoba Jemparingan Langenastro?

Buat kamu yang penasaran ingin mengenal lebih jauh tentang Jemparingan Langenastro, bisa mampir ke Instagram @langenastro.jogja. 

Di sana kamu bisa belajar lebih banyak tentang Jemparingan sekaligus melihat berbagai update kegiatan mereka.

Tim jemparingan Langenastro mengajarkan olahraga tradisional Jemparingan
Tim jemparingan Langenastro mengajarkan olahraga tradisional Jemparingan (doc. Riana Dewie)


Siapa tahu setelah melihat keseruannya, kamu jadi tertarik mencoba langsung, kan? Yuk, kenalan dengan olahraga tradisional Jawa sambil ikut menjaga budaya lokal Yogyakarta tetap hidup!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments