Sebagai orang Jogja, ada satu event tahunan yang dulu selalu saya tunggu-tunggu: Pasar Malam Sekaten Jogja di Alun-Alun Utara.
Rasanya belum lengkap melewati bulan Mulud tanpa melihat kerlap-kerlip lampu, mendengar suara wahana dari kejauhan, lalu ikut hanyut dalam keramaian pasar malam.
Sejak kecil, Pasar Malam Perayaan Sekaten atau PMPS sudah mewarnai hari-hari saya. Sampai dewasa pun, event ini tetap punya daya tarik sendiri.
Gak harus punya tujuan khusus. Kadang datang cuma untuk keliling, jajan, melihat wahana, atau berburu barang yang sebenarnya gak ada di daftar belanja.
Tahu gak, bukan cuma warga Jogja yang datang ke sini. Dulu, banyak orang dari luar kota berbondong-bondong datang menggunakan mobil, bus, bahkan truk rombongan demi menikmati pasar malam di Alun-Alun Utara Yogyakarta.
Sayangnya, suasana seperti itu kini tinggal kenangan. PMPS di Alun-Alun Utara terakhir digelar pada 2018. Setelah itu, pasar malamnya ditiadakan di lokasi tersebut.
Memang sempat ada pasar malam bernuansa nostalgia di tempat lain pada 2022, tetapi rasanya tetap berbeda.
Pasar Malam Sekaten, Event Tahunan yang Selalu Saya Tunggu
Dulu, begitu mendengar kabar Pasar Malam Sekaten akan dibuka, rasanya sudah ada agenda yang harus masuk kalender. Bukan karena saya harus membeli sesuatu, melainkan karena suasananya memang selalu bikin penasaran.
PMPS berlangsung berminggu-minggu sehingga punya cukup banyak waktu untuk dikunjungi. Hari ini datang bersama keluarga, beberapa hari kemudian datang lagi dengan teman.
Bahkan bisa saja awalnya cuma ingin jalan-jalan, tetapi pulangnya membawa jajanan, mainan, atau barang yang sebelumnya gak terpikir untuk dibeli.
Oh ya, yang paling saya ingat justru bukan satu wahana atau satu makanan tertentu, melainkan suasananya secara keseluruhan.
Alun-Alun Utara Yogyakarta berubah menjadi kawasan yang penuh manusia. Ada suara musik dari wahana, teriakan pengunjung, suara pedagang menawarkan dagangan, sampai suara orang yang sedang sibuk menawar harga.
Mau naik Ombak Banyu, suara teriakannya bisa terdengar dari jauh. Masuk area Tong Setan juga gak kalah heboh. Sementara di sisi lain, orang sibuk memilih pakaian, melihat mainan, atau sekadar mencari jajanan.
Kalau saya sih, bagian keliling tanpa tujuan ini justru yang paling menyenangkan. Kita bisa berjalan pelan sambil melihat apa saja yang menarik perhatian.
Dan karena PMPS menjadi event tahunan Jogja, ada semacam perasaan, “Nanti tahun depan datang lagi.” Begitu terus dari tahun ke tahun.
Tahu gak, mungkin justru karena selalu datang setiap tahun itulah kenangan tentang Pasar Malam Sekaten dulu terasa begitu kuat sampai sekarang.
Dari Wahana, Jajanan, sampai Barang yang Bikin Kalap
Kalau membicarakan nostalgia Pasar Malam Sekaten, rasanya kurang lengkap tanpa membahas isi pasar malamnya. Sebab, daya tarik PMPS bukan cuma keramaiannya.
Wahana yang bikin deg-degan
Ada banyak wahana permainan yang menjadi magnet pengunjung. Sebut saja komidi putar, bianglala, Ombak Banyu, Tong Setan, sampai istana karet untuk permainan anak.
Masing-masing punya penggemar sendiri.
Bagi anak-anak, melihat wahana saja sudah cukup membuat mata berbinar. Bagi yang lebih dewasa, mungkin justru bagian paling seru adalah menyaksikan keberanian orang lain dari bawah. Hihihihi....
Tong Setan, misalnya, selalu punya cara sendiri untuk mengundang penonton berkumpul. Suara kendaraan yang melaju di dinding tong bercampur dengan teriakan penonton menciptakan suasana yang khas pasar malam.
Jajanan yang susah ditolak
Belum lagi urusan kuliner pasar malam. Ada bakso, siomay, sate kere, sate ayam, sempol, gula-gula, galundeng atau bolang-baling, telur gulung, cilok, jagung bakar, sampai aneka gorengan.
Oh ya, aroma makanan yang bercampur dengan bau khas wahana dan keramaian pengunjung itu entah kenapa justru menjadi bagian dari kenangan masa kecil.
Datang dengan niat cuma jalan-jalan, akhirnya tangan membawa makanan. Mau hemat, tapi melihat jajanan lain jadi ingin mencoba. Begitu terus sampai dompet ikut merasakan atmosfer PMPS. Wkwkwkwk....
Mainan dan barang dagangan
Ada pula mainan anak yang sederhana tetapi menghibur. Salah satu yang saya ingat adalah kapal otok-otok yang dimainkan di atas wadah berisi air.
Ada juga permainan memancing untuk anak dan berbagai mainan kecil yang biasanya membuat anak berhenti berkali-kali.
Untuk orang dewasa, pilihannya lebih beragam lagi. Ada pakaian, celana, boneka, aksesori, peralatan dapur, pecah belah, sampai berbagai barang kebutuhan rumah.
Namun, salah satu yang paling bikin saya kangen adalah awul-awul alias pakaian thrift.
Awul-awul di pasar malam punya sensasi berburu tersendiri. Harus sabar mengaduk-aduk tumpukan pakaian demi menemukan barang yang dirasa menarik.
Kadang dapat, kadang pulang dengan tangan kosong. Tapi justru proses berburu itulah yang seru.
Tahu gak, saya bisa saja datang tanpa rencana membeli baju, tetapi begitu melihat tumpukan awul-awul, niat belanja mendadak berubah. Hahaha.
Riuhnya yang bikin kangen
Semua elemen tadi bercampur menjadi satu: lampu warna-warni, stan pedagang, wahana permainan, kuliner, suara musik, pengunjung yang berdesakan, dan kadang panggung hiburan yang membuat suasana semakin ramai.
Itulah kenapa kenangan masa kecil dan masa muda tentang PMPS sulit hilang. Pasar malamnya memang sederhana, tetapi pengalaman yang ditinggalkan terasa lengkap.
Kenapa PMPS di Alun-Alun Utara Akhirnya Ditiadakan?
Pertanyaan “kenapa Pasar Malam Sekaten ditiadakan?” sebenarnya punya beberapa sisi. Peniadaan PMPS pada 2019 bukan berarti tradisi Sekaten ikut dihentikan.
1. Ada upaya memulihkan kondisi Alun-Alun Utara
Keraton Yogyakarta pada 2019 menyampaikan bahwa PMPS ditiadakan salah satunya untuk memulihkan kondisi Alun-Alun Utara. Setelah digunakan untuk wahana dan pedagang selama pasar malam, kondisi kawasan tersebut dinilai perlu dipulihkan, termasuk persoalan rumput dan kebersihan.
Namun, pada saat itu ada juga penjelasan dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang memberikan sudut pandang berbeda.
Pemkot menyebut PMPS 2019 memang tidak dianggarkan dan terdapat konsolidasi mengenai penyelenggaraan pasar malam. Jadi, alasan peniadaan saat itu tidak bisa disederhanakan hanya menjadi persoalan rumput.
2. Penataan kawasan menjadi pertimbangan
Alun-Alun Utara merupakan bagian penting dari kawasan Keraton Yogyakarta. Ketika sebuah area digunakan untuk pasar rakyat dengan banyak wahana dan pedagang selama berminggu-minggu, tentu ada konsekuensi terhadap kondisi kawasan.
Keraton kemudian ingin mengembalikan kondisi Alun-Alun Utara sekaligus menata kembali penyelenggaraan Sekaten.
3. PMPS dan tradisi Sekaten sebenarnya berbeda
Nah, ini bagian yang sering tertukar.
Pasar Malam Perayaan Sekaten merupakan kegiatan keramaian yang selama bertahun-tahun melekat dengan perayaan Sekaten.
Namun, menurut penjelasan Keraton pada 2019, pasar malam bukan bagian inti dari tradisi Hajad Dalem Sekaten. Keraton ingin mengembalikan Sekaten pada semangat dan makna awalnya.
Tradisi Sekaten sendiri tetap berlangsung sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada 2026 pun rangkaian Hajad Dalem Sekaten tetap dilaksanakan, termasuk Miyos Gangsa dan Kondur Gangsa.
4. Pandemi ikut memperpanjang jedanya
Setelah PMPS di Alun-Alun Utara berhenti, pandemi COVID-19 ikut membuat keramaian besar seperti pasar malam semakin sulit diselenggarakan.
Baru pada 2022 masyarakat kembali mendapat kesempatan menikmati pasar malam bernuansa Sekaten melalui Pasar Rakyat Jogja Gumregah.
Lokasinya bukan di Alun-Alun Utara, melainkan di eks kampus STIE Kerjasama, Jalan Parangtritis, Sewon, Bantul, dan berlangsung sekitar satu bulan.
Buat saya, suasananya tetap menyenangkan. Tetapi tetap ada satu hal yang terasa berbeda: lokasinya.
Sebab, yang dirindukan bukan sekadar wahana atau jajanan. Ada hubungan antara pasar malam, Alun-Alun Utara, Keraton, dan memori bertahun-tahun yang membuat PMPS dulu terasa begitu spesial.
PMPS Hilang, Kenangannya Tetap Tinggal
Mungkin yang hilang sebenarnya bukan sekadar pasar malam.
Yang hilang adalah feel-nya.
Ada rasa berbeda ketika melihat Alun-Alun Utara yang biasanya menjadi ruang terbuka berubah menjadi lautan lampu, wahana, pedagang, dan manusia.
Ada sensasi berjalan berdesakan sambil mencari jajanan. Ada rasa penasaran setiap melihat wahana baru. Ada juga awul-awul yang tiba-tiba membuat dompet menipis.
Sebagai generasi milenial, saya termasuk orang yang cukup beruntung pernah menikmati keramaian itu hampir tanpa absen setiap tahunnya. Pasar Malam Sekaten zaman dulu menjadi bagian dari kenangan masa kecil, lalu terbawa sampai masa muda.
Oh ya, setiap generasi mungkin punya versi nostalgia masing-masing. Anak-anak sekarang mungkin akan mengingat event dan tempat yang berbeda.
Begitu pula dengan generasi sebelum saya yang punya kenangan lain tentang Sekaten Alun-Alun Utara Jogja.
Jadi, menurut saya, gak perlu membandingkan mana yang lebih baik. Setiap zaman memang punya wajahnya sendiri.
Pasar Malam Sekaten dulu boleh menjadi kenangan. PMPS sekarang mungkin sudah gak lagi hadir seperti yang saya kenal. Tetapi tradisi Sekaten tetap hidup dan terus dijalankan.
Dan justru di situlah menariknya Yogyakarta. Tradisi bisa tetap dijaga, sementara bentuk perayaannya dapat berubah mengikuti zaman.
Sekaten bukan hanya soal pasar malam. Ada gamelan pusaka, prosesi Keraton, peringatan Maulid Nabi, Garebeg Mulud, serta berbagai tradisi budaya yang masih bisa dinikmati masyarakat.
***
Jadi, kalau suatu hari saya merasa rindu keramaian PMPS, mungkin jawabannya bukan terus menunggu pasar malam yang dulu kembali.
Saya bisa datang menikmati event budaya Keraton lainnya, melihat prosesi, pertunjukan seni, atau sekadar berjalan-jalan di kawasan yang menyimpan begitu banyak cerita.
Sebab, kenangan tentang Pasar Malam Sekaten memang boleh tinggal di masa lalu. Tetapi semangat untuk menikmati budaya Yogyakarta seharusnya tetap jalan terus.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti ada bentuk perayaan baru yang kembali membuat generasi berikutnya berkata, “Dulu, event ini selalu saya tunggu.”









.png)
0 komentar:
Post a Comment