Di tengah teriknya matahari Madiun, saya dan seorang teman yang sedang menjalani one day trip akhirnya memutuskan untuk menepi sejenak.
Jalanan memang gak terlalu ramai, tetapi aktivitas lalu lintas tetap berjalan seperti biasa. Kami baru saja menyelesaikan beberapa rute perjalanan, dan rasanya memang butuh jeda.
Tujuan kami kali ini bukan tempat makan, bukan pula tempat foto. Kami ingin mencari tempat untuk berdoa.
Dari hasil browsing sebelum berangkat, pilihan kami jatuh pada Gua Maria Madiun yang berada di kompleks Gereja Santo Cornelius.
Tahu gak, saya justru gak menyangka bakal menemukan tempat doa secantik ini di tengah perjalanan singkat ke Madiun.
Dari Ramainya Kota, Saya Mencari Gua Maria
Tempat yang Saya Cari Sebelum Berangkat
Sebenarnya, Gereja Santo Cornelius sudah masuk dalam daftar tujuan kami sebelum berangkat. Katanya, ada Gua Maria yang cukup cantik di dalam kompleks gereja. Penasaran dong, seperti apa tempatnya?
Awalnya kami memang sempat browsing beberapa Gua Maria di Madiun. Namun, ketika melihat jaraknya dari pusat kota, perjalanan menuju beberapa lokasi terasa cukup memakan waktu.
Sementara waktu kami terbatas karena memang ingin melakukan eksplor Madiun dalam satu hari.
Akhirnya kami mencari gereja Katolik yang lebih dekat dengan Stasiun Madiun. Dari pencarian itulah kami menemukan Gereja Santo Cornelius Madiun.
Saya sih awalnya gak punya ekspektasi terlalu tinggi. Namanya juga menemukan tempat dari pencarian Google secara spontan.
Yang penting ada tempat untuk berdoa dan lokasinya masih masuk dalam rute wisata Madiun dekat Stasiun.
Ternyata, justru di sinilah kejutan kecil perjalanan kami dimulai.
Sempat Mengira Gerejanya Tutup
Saat tiba, kami sempat bingung. Pintu gerbang yang kami kira sebagai akses utama ternyata dalam kondisi digembok.
“Wah, jangan-jangan gerejanya memang gak dibuka di luar jam misa?” pikir saya.
Kami kemudian berjalan memutari pagar dari sisi lain. Di sana terlihat seorang petugas keamanan dan bapak pengelola taman yang sedang menyiram rumput.
Setelah bertanya kepada petugas keamanan, barulah kami mendapatkan informasi bahwa ada akses menuju area Gua Maria Diberkati.
Oh ya, ternyata mencari pintu masuknya menjadi bagian kecil dari cerita perjalanan kami hari itu. Untung kami gak langsung menyerah dan pergi.
Kami pun diarahkan menuju bagian dalam kompleks. Dan begitu melihat area Gua Maria, ekspresi kami langsung berubah.
Menemukan Gua Maria Santo Cornelius yang Teduh
Gua Maria yang Cantik di Tengah Kota
Sampai di Gua Maria Santo Cornelius, saya dan teman langsung kegirangan. Rasanya senang sekali menemukan tempat seperti ini setelah sebelumnya hanya melihat informasinya dari internet.
Gua Maria ini cukup luas dan terasa nyaman bagi para pendoa maupun peziarah. Dari luar saja sudah terlihat tanaman hijau yang cukup lebat. Begitu masuk lebih dalam, suasananya terasa berbeda dari jalanan kota yang panas tadi.
Yang paling saya ingat adalah hawa sejuk dan suara percikan air.
Tahu gak, suara air kecil seperti itu ternyata bisa membuat suasana doa terasa jauh lebih tenang. Ditambah area yang dipenuhi tanaman hijau, tempat ini terasa seperti punya ruangnya sendiri, terpisah dari hiruk pikuk kota.
Saya juga suka dengan suasananya yang gak berlebihan. Ada kesan teduh yang membuat orang datang bukan sekadar untuk melihat-lihat, tetapi memang ingin duduk dan berdiam diri.
Bagi yang sedang mencari tempat doa di Madiun atau tempat ziarah Katolik di Madiun, Gua Maria ini menurut saya cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar.
Saatnya Berdoa dan Menepi Sejenak
Setelah melihat-lihat sebentar, kami pun mulai berdoa.
Saya pribadi merasa nyaman karena suasananya adem dan hening. Letak Gua Maria berada cukup jauh dari pintu gerbang sehingga suara kendaraan dari luar gak terlalu terasa.
Di tengah itinerary yang lumayan padat, momen seperti ini justru terasa penting. Bukan untuk mengejar destinasi berikutnya, melainkan benar-benar berhenti sebentar.
Saya pun merasa beruntung bisa sampai ke Gua Maria Santo Cornelius Madiun.
Tahu gak, mungkin kalau saya gak melakukan perjalanan ke Madiun hari itu, saya juga gak akan pernah tahu bahwa ada Gua Maria secantik ini di kompleks Gereja Santo Cornelius.
Dan bagi saya, pengalaman seperti inilah yang sering membuat perjalanan terasa lebih berwarna.
Gereja Santo Cornelius, Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Sedikit Mengenal Sejarah Gereja Santo Cornelius
Selain menjadi tempat ibadah, Gereja Santo Cornelius juga memiliki sejarah panjang dalam perkembangan umat Katolik di Madiun.
Menurut informasi resmi Keuskupan Surabaya, Paroki Santo Cornelius Madiun merupakan paroki tertua kedua di Keuskupan Surabaya setelah Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya.
Perjalanan sejarahnya berkaitan dengan perkembangan Gereja Ambarawa pada abad ke-19.
Pada 28 Juli 1897, Pastor Cornelis Stiphout, SJ dipindahkan ke Madiun. Setelah itu, Madiun berkembang menjadi stasi yang terpisah dari Stasi Ambarawa.
Gereja Katolik di Madiun kemudian dibangun pada 12 Maret 1899 di sebelah barat pastoran. Namun, seiring bertambahnya umat, bangunan tersebut akhirnya gak lagi mampu menampung kebutuhan jemaat.
Pembangunan gereja baru dimulai pada 1937. Setahun kemudian, tepatnya 19 Juni 1938, gereja tersebut diberkati oleh Mgr. Th. Backere, CM dengan nama pelindung Santo Cornelius. Bangunan inilah yang masih digunakan hingga sekarang.
Ada Kisah Panjang di Balik Bangunan Ini
Lokasi Gereja Santo Cornelius berada di Jl. A. Yani No. 3, Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
Kawasan ini juga berada di pusat kota dan termasuk lingkungan yang memiliki sejumlah bangunan bersejarah.
Pemerintah Kota Madiun bahkan memasukkan Gereja Santo Cornelius dalam rencana pengembangan paket wisata heritage bersama beberapa bangunan bersejarah lainnya di kawasan tersebut.
Oh ya, keberadaan gereja ini juga membuat perjalanan ke Gua Maria terasa punya cerita yang lebih lengkap.
Kita bukan cuma datang ke sebuah ruang doa, tetapi juga berada di kawasan yang menyimpan jejak sejarah panjang Kota Madiun.
Buat saya sih, ini menarik. Satu lokasi bisa punya dua sisi: menjadi tempat ibadah sekaligus bagian dari sejarah kota.
Pulang Membawa Ketenangan dari Gua Maria Madiun
Bukan Sekadar Singgah Saat Jalan-Jalan
Saya rasa, dalam setiap perjalanan kita memang membutuhkan waktu untuk berhenti.
Bukan selalu berhenti karena capek. Kadang kita perlu berhenti supaya bisa mendengar diri sendiri, mengucap syukur, atau sekadar menikmati suasana tanpa harus memikirkan destinasi berikutnya.
Di Gua Maria ini, saya gak hanya menemukan ruang yang sejuk untuk beristirahat dari panasnya Madiun. Saya juga menemukan ruang untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam suasana yang begitu khusyuk.
Buat saya, doa di Gua Maria hari itu menjadi bentuk rasa syukur karena masih diberi napas dan kesempatan menikmati begitu banyak hal dalam hidup.
Tahu gak, perjalanan yang awalnya hanya ingin jalan-jalan hemat ternyata bisa memberi pengalaman yang jauh lebih dalam dari sekadar daftar tempat yang berhasil kami datangi.
Itulah kenapa wisata religi Madiun menurut saya layak punya tempat tersendiri dalam itinerary.
Apalagi buat kamu yang sedang menjalani backpacker Madiun, perjalanan seperti ini gak harus dibuat rumit. Sisihkan saja sedikit waktu untuk menepi.
Setelah Berdoa, Perjalanan Berlanjut Lagi
Usai dari Gua Maria, kami kembali melanjutkan perjalanan. Masih ada beberapa tempat yang masuk dalam rute wisata kami hari itu.
Oh ya, kami juga sempat mampir ke sebuah coffee shop yang konsepnya vintage banget. Tempatnya punya suasana yang cukup berbeda dari kafe-kafe yang selama ini saya jelajahi.
Setelah itu masih ada beberapa kejutan lain yang menunggu. Namanya juga jalan-jalan di Madiun, masa selesai hanya karena sudah menemukan satu tempat yang tenang?
Saya sih menikmati banget perjalanan hari itu. Dari panasnya jalanan, mencari pintu masuk gereja, menemukan Gua Maria yang cantik, berdoa, lalu kembali melanjutkan petualangan.
Hihihihi.... ternyata one day trip Madiun bisa punya cerita sebanyak itu.
Tunggu tulisan saya setelah ini ya. Karena perjalanan kami belum selesai, dan masih ada tempat-tempat menarik lain yang akan saya ceritakan. :)

























.png)