Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sudah mendapat informasi dari suami bahwa kami akan mengikuti perayaan Ekaristi mingguan sekaligus Misa Penutupan Bulan Maria Sendangsono pada tanggal 31 Mei 2026.
Kebetulan hari itu juga bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, sehingga suasana perayaan terasa semakin istimewa.
Oh ya, saya memang termasuk orang yang senang mengunjungi tempat-tempat yang menawarkan suasana tenang untuk berdoa dan menenangkan pikiran.
Karena itu, saat diajak ke Sendangsono, saya langsung mengiyakan tanpa banyak berpikir.
Misa dijadwalkan berlangsung pukul 11.00 WIB. Untungnya hari Minggu pagi itu cuaca terlihat cerah.
Langit biru membentang tanpa tanda-tanda hujan sehingga perjalanan terasa lebih nyaman. Sekitar pukul 09.15 WIB, saya dan suami berangkat dari rumah menggunakan sepeda motor.
Kalau saya sih memang lebih suka menuju Gua Maria Sendangsono menggunakan motor. Selain lebih praktis, perjalanan menuju lokasi juga terasa menyenangkan karena udara sepanjang jalan cukup sejuk.
Pemandangan perbukitan dan pepohonan hijau di sepanjang rute membuat pikiran terasa lebih rileks.
Perjalanan Menuju Bulan Maria di Sendangsono
Perjalanan berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Saya menikmati setiap momen sepanjang perjalanan sambil sesekali berbincang santai dengan suami.
Hihihihi, kadang obrolan receh di atas motor justru menjadi bagian paling seru dalam sebuah perjalanan.
Sekitar pukul 10.30 WIB kami akhirnya tiba di kawasan Gua Maria Sendangsono. Saat itu sebenarnya sedang berlangsung doa rosario sebelum misa penutupan yang diikuti banyak umat.
Sayangnya, karena saya sempat merasa agak mual selama perjalanan, saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di warung yang berada di depan pintu masuk kawasan ziarah.
Di sana saya memesan segelas teh manis hangat dan beberapa potong geblek goreng.
Bagi yang belum tahu, geblek merupakan jajanan khas Kulon Progo yang memiliki tekstur kenyal dan rasa gurih. Menurut saya, makanan sederhana ini selalu cocok dinikmati setelah perjalanan jauh.
Oh ya, teh manis hangat dan geblek goreng itu benar-benar membantu memulihkan kondisi tubuh saya sebelum mengikuti misa. Setelah merasa lebih segar, saya dan suami pun berjalan menuju area utama.
Suasana Misa Penutupan Bulan Maria di Sendangsono
Ketika memasuki kawasan utama, saya langsung melihat area parkir yang sudah dipenuhi mobil, bus, dan sepeda motor dari berbagai daerah.
Banyak peziarah Gua Maria Sendangsono datang bersama keluarga, komunitas gereja, maupun rombongan paroki.
Sekitar pukul 10.50 WIB saya mulai naik menuju area altar. Pemandangan yang terlihat benar-benar mengesankan.
Ratusan bahkan ribuan umat sudah memenuhi area sekitar altar untuk mengikuti misa penutupan Bulan Maria di Sendangsono.
Sebagai salah satu tempat ziarah Katolik yang terkenal di Yogyakarta, Sendangsono memang selalu ramai saat ada perayaan besar.
Banyak umat Katolik Yogyakarta maupun peziarah dari luar kota datang untuk mengikuti perayaan penting seperti ini.
Duduk di Depan Gazebo yang Teduh
Karena area dekat altar sudah sangat penuh, saya dan suami memilih duduk di depan gazebo yang berada di sisi lain aliran sungai kecil yang memisahkan area tersebut dari gua utama.
Meskipun agak jauh dari altar, suasananya tetap nyaman. Pohon-pohon rindang membuat udara terasa sejuk. Suara gemericik air sungai juga menambah ketenangan selama mengikuti misa kudus tersebut.
Kalau saya sih justru menikmati posisi itu karena bisa mengikuti misa dengan lebih santai tanpa harus berdesakan dengan banyak orang.
Di tengah suasana yang penuh kekhusyukan, saya merasakan kembali makna devosi kepada Maria yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan iman banyak umat.
Homili yang Menghibur dan Menyentuh Hati
Selama misa berlangsung, suasana terasa sangat khidmat dan syahdu. Lagu-lagu liturgi mengalun merdu, sementara doa-doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan.
Namun ada satu bagian yang menurut saya sangat menarik, yaitu saat homili.
Celotehan Romo yang Membuat Umat Tertawa
Di tengah penyampaian homili, Romo beberapa kali menyelipkan cerita ringan dan banyolan yang mengundang tawa umat.
Hahahaha, saya bahkan melihat banyak umat yang tertawa bersama sambil tetap memperhatikan pesan yang disampaikan.
Menurut saya, cara seperti ini membuat suasana misa menjadi lebih hidup. Pesan yang disampaikan tetap mendalam, tetapi terasa lebih mudah diterima.
Oh ya, bagian homili inilah yang paling saya ingat setelah misa selesai. Selain menghibur, banyak pesan yang mengajak umat untuk semakin memperkuat iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari.
Sekitar pertengahan acara, saya sempat memperhatikan banyak umat yang khusyuk berdoa di sekitar area gua doa.
Pemandangan itu membuat saya semakin memahami mengapa ziarah saat misa penutupan Bulan Maria selalu menjadi momen yang dinantikan banyak orang.
Tak terasa, perayaan berlangsung sekitar 90 menit. Tepat sekitar pukul 12.30 WIB misa selesai dilaksanakan.
Di sela perjalanan refleksi saya hari itu, ada satu catatan kecil yang saya simpan untuk diri sendiri, yaitu bahwa perjalanan rohani sering kali memberi energi baru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ngomongin tentang energi baru, nengtantidoodle menjadi salah satu karya unik yang pernah saya temukan saat membuka blog milik mbak Tanti Melia.
Cukup memberikan semangat, sih! Ini sebagai pengingat bahwa setiap perjalanan selalu punya cerita tersendiri.
Menyalakan Lilin dan Menikmati Suasana Setelah Misa
Setelah misa selesai, saya dan suami memilih untuk leyeh-leyeh sebentar sebelum mendekati area utama Gua Maria.
Ternyata kawasan tersebut masih dipadati umat yang ingin berdoa secara pribadi.
Banyak peziarah menyalakan lilin, berdoa di depan patung Bunda Maria, atau mengambil air dari sumber air suci Sendangsono.
Saya pun ikut menyalakan lilin dan berdoa sejenak. Beruntung masih ada sedikit ruang kosong sehingga saya dan suami bisa duduk bersama menikmati suasana.
Oh ya, suasana setelah misa justru terasa lebih tenang. Banyak orang memilih berdiam diri sambil berdoa atau sekadar menikmati keteduhan kawasan ziarah yang penuh pepohonan.
Di kejauhan saya juga melihat beberapa kelompok umat melakukan foto bersama setelah mengikuti perayaan penutupan Bulan Maria. Ada pula yang masih mengikuti prosesi lilin dan doa pribadi.
Sekitar 40 menit kemudian, kami memutuskan untuk pulang. Sebelum meninggalkan lokasi, saya sempat mengabadikan beberapa momen menggunakan kamera ponsel sederhana yang saya bawa.
Berburu Oleh-Oleh Sebelum Pulang
Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan Sendangsono, saya menyempatkan diri membeli beberapa oleh-oleh khas yang dijual di sekitar area.
Saya membeli geblek mentah, gula aren, dan beberapa bahan makanan lain yang terlihat menarik untuk dibawa pulang.
Menurut saya, aktivitas sederhana seperti ini membuat pengalaman ziarah terasa semakin lengkap.
Kalau saya sih memang hampir selalu tergoda membeli oleh-oleh ketika berkunjung ke tempat wisata maupun lokasi ziarah.
Syukurlah cuaca sepanjang hari sangat mendukung.
Bagi kami yang menempuh perjalanan menggunakan motor, kondisi tersebut tentu menjadi kabar baik. Perjalanan pulang pun berlangsung aman dan nyaman.
***
Mengikuti misa penutupan Bulan Maria 2026 di Sendangsono menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya.
Selain bisa mengikuti misa penutupan di Gua Maria Sendangsono, saya juga mendapat kesempatan menikmati suasana wisata religi Kulon Progo yang begitu menenangkan.
Bagi saya, suasana misa penutupan Bulan Maria tahun ini menghadirkan kombinasi yang lengkap antara doa, refleksi, kebersamaan, dan rasa syukur.
Semua berpadu menjadi pengalaman rohani yang sulit dilupakan.
Oh ya, setelah sampai rumah dan melihat kembali foto-foto yang diambil, saya semakin bersyukur bisa ikut dalam perjalanan ini.
Beberapa foto bahkan saya edit menggunakan canva agar lebih cantik untuk disimpan sebagai kenangan.
Nah, kamu kapan terakhir kali berkunjung ke Sendangsono?





















.png)