In Culinary Journey

5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan, dari Tiwul hingga Ubi Rebus

makanan khas Jawa kaya nutrisi dari bahan lokal


Pernah kepikir gak sih kalau makanan tradisional Jawa yang menyehatkan justru sudah ada sejak dulu, jauh sebelum tren makanan sehat bermunculan di media sosial? 

Saya sendiri baru benar-benar menyadarinya saat tanpa sengaja mengenang masa kecil bersama keluarga besar di rumah simbah.

Dulu, setiap liburan sekolah, saya senang menginap di rumah simbah yang berada di desa. Suasananya sederhana, halaman luas, dan dapurnya selalu sibuk sejak pagi. 

Yang menarik, makanan yang tersaji hampir semuanya merupakan makanan tradisional Jawa sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Oh ya, saya masih ingat aroma kelapa parut yang baru diparut setiap pagi dari dapur belakang rumah simbah. Wanginya khas banget dan sampai sekarang masih melekat di ingatan saya.

Di meja makan biasanya ada apem, singkong rebus, kacang rebus, atau tiwul hangat yang baru matang. Saat itu saya tentu gak memikirkan kandungan gizi atau manfaat kesehatannya. 

Yang penting enak dan bikin kenyang. Hihihihi....

Kalau dipikir sekarang, makanan-makanan tersebut termasuk makanan kampung yang sehat dan bergizi. Bahannya sederhana, minim proses, dan banyak menggunakan hasil kebun sendiri.

Bahkan banyak di antaranya yang termasuk kuliner jadul yang masih sehat dikonsumsi hingga saat ini.

Mungkin karena itulah banyak orang tua zaman dulu tetap aktif meski usia sudah tidak muda lagi.

Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul
Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul (doc. Riana Dewie)


Kulineran Bersama Keluarga yang Selalu Membawa Kenangan

Gak cuma bersama simbah, ibu saya juga masih sering menyiapkan berbagai menu tradisional hingga saya dewasa. 

Saat masih tinggal bersama orang tua, saya sering bangun pagi dan mendapati berbagai jajanan pasar sudah tersedia di meja makan.

Ada ketan, cenil, gethuk, hingga berbagai olahan ubi yang sederhana tetapi menggugah selera. 

Saya sih selalu senang kalau menemukan makanan tradisional di meja makan karena rasanya selalu menghadirkan nostalgia.

Oh ya, kebiasaan ibu membeli jajanan pasar ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Kadang tanpa bilang apa-apa, tiba-tiba sudah ada beberapa bungkus makanan tradisional di rumah.

Saat kami kulineran sekeluarga, ibu juga lebih sering memilih menu-menu lama yang mungkin kurang populer di kalangan anak muda saat ini. 

Saya sempat berpikir, mungkin ibu sedang bernostalgia dengan masakan yang dulu sering dibuat simbah.

Tak jarang ibu bercerita, "Dulu simbah kalau bikin bothok banyak sekali karena anak-anaknya juga banyak." Dari cerita sederhana seperti itu saya jadi tahu bahwa makanan tradisional memang punya nilai emosional yang kuat.

Suatu hari kami mencoba bothok lamtoro di sebuah warung sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ada sensasi renyah dari ikan teri. 

Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai banyak orang. Emang seenak ini ya makanan jadul?

Oh ya, setelah dewasa saya baru sadar kalau banyak menu tradisional ternyata termasuk kuliner Jawa berbahan alami yang minim bahan tambahan.

Menariknya lagi, banyak menu tersebut termasuk makanan tradisional rendah minyak karena diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Beberapa waktu lalu saya bahkan sempat membaca blog seorang Travel Blogger Medan yang juga bercerita suka berburu kuliner saat bepergian. 

Menurutnya, setiap daerah punya makanan khas yang layak dilestarikan.


5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan

1. Tiwul Sambal Bawang, Karbohidrat Tradisional Selain Nasi

makanan tradisional Jawa yang menyehatkan berupa tiwul sambal bawang
Makanan tradisional Jawa yang menyehatkan, yaitu tiwul sambal bawang (doc. Riana Dewie)

Tiwul merupakan makanan tradisional dari singkong yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahan utamanya berasal dari singkong yang dikeringkan lalu diolah menjadi butiran-butiran mirip nasi.

Saya sih suka tiwul karena teksturnya unik dan rasanya sedikit manis alami. Ketika dipadukan dengan tiwul sambal bawang, sensasinya jadi lebih nikmat.

Dari sisi kesehatan, tiwul termasuk karbohidrat tradisional selain nasi yang mengandung serat cukup tinggi. Karena itulah tiwul sering dianggap sebagai salah satu makanan tradisional kaya serat yang bisa membantu rasa kenyang lebih lama.

2. Bothok Lamtoro, Lauk Kukus Kaya Rasa

Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba
Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba (doc. Riana Dewie)

Bothok lamtoro merupakan salah satu olahan lamtoro khas Jawa yang cukup populer di berbagai daerah. Bahan utamanya berupa petai cina atau lamtoro yang dicampur kelapa parut dan bumbu rempah.

Biasanya ditambahkan ikan teri agar rasanya makin gurih. Setelah dibungkus daun pisang, bothok kemudian dikukus hingga matang.

Karena proses pembuatannya dikukus, makanan ini termasuk kategori makanan kukus dan rebus yang sehat. Kandungan serat dan protein nabatinya juga cukup baik untuk tubuh.

3. Sego Gudangan, Menu Tradisional Jawa untuk Hidup Sehat

ego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan
Sego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan (doc. Riana Dewie)

Sego gudangan berasal dari Jawa Tengah dan identik dengan berbagai sayuran rebus yang disajikan bersama nasi dan urap kelapa.

Isi sayurnya biasanya berupa kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan berbagai sayuran lain. Kombinasi sayur urap dan gudangan inilah yang membuat menu ini kaya vitamin dan mineral.

Oh ya, sego gudangan termasuk menu yang paling sering saya cari ketika sedang ingin makan makanan rumahan.

Menurut saya, sego gudangan merupakan contoh sempurna dari menu tradisional Jawa untuk hidup sehat. Rasanya enak, mengenyangkan, dan penuh nutrisi.

4. Apem Panggang, Camilan Tradisional yang Menyehatkan

apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa
Apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa (doc. Riana Dewie)

Kalau mendengar apem, saya langsung teringat suasana pasar tradisional di pagi hari. Apem panggang tradisional biasanya dibuat dari tepung beras, santan, dan sedikit gula.

Berbeda dengan banyak camilan modern, apem dipanggang sehingga gak membutuhkan banyak minyak. Karena itulah apem sering dianggap sebagai salah satu camilan tradisional yang menyehatkan.

Selain itu, apem juga termasuk jajanan pasar tradisional yang lebih alami karena umumnya dibuat tanpa bahan pengawet berlebihan.

5. Ubi Rebus, Sederhana Tapi Kaya Nutrisi

Di antara semua daftar ini, mungkin ubi rebus adalah yang paling sederhana. Namun jangan salah, manfaatnya cukup banyak.

Ubi rebus untuk kesehatan sering dikaitkan dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Rasanya manis alami sehingga cocok dijadikan camilan sehari-hari.

Bagi saya, ubi rebus adalah contoh nyata makanan sederhana khas Jawa yang bergizi. Murah, mudah ditemukan, dan tetap lezat.

Oh ya, sampai sekarang saya masih sering membeli ubi rebus saat menemukan penjualnya di pinggir jalan. Rasanya selalu berhasil membawa saya kembali ke masa kecil.


Mari Kembali Mengenal Kuliner Tradisional

Dari berbagai cerita dan pengalaman tadi, saya makin yakin bahwa makanan tradisional Jawa yang menyehatkan layak mendapatkan perhatian lebih. 

Mulai dari tiwul, bothok lamtoro, sego gudangan, apem panggang, hingga ubi rebus, semuanya memiliki keunggulan masing-masing.

Selain berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan, banyak di antaranya termasuk makanan khas Jawa kaya nutrisi yang sudah diwariskan turun-temurun. 

Hahahaha.... kadang kita sibuk mencari makanan sehat modern, padahal jawabannya sudah ada sejak zaman simbah dulu.

Jadi, untuk bisa makan lebih sehat, kita bisa mulai melirik kembali berbagai kuliner tradisional Jawa yang menyehatkan ini sesuai selera masing-masing. 


Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah
Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah (doc. Riana Dewie)

Ini cerita makanan jadul versi saya. Bagaimana dengan makanan jadul favoritmu? 

Siapa tahu bisa menjadi teman seru saat menikmati waktu santai atau bahkan menemani outdoor activity bersama keluarga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Menyusuri Kota Lama Semarang di Sore Hari, Romantis dan Penuh Cerita

Sudut estetik kawasan Kota Lama Semarang dengan bangunan peninggalan Belanda

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman menyempatkan diri liburan singkat ke Semarang. 

Tujuan utamanya sebenarnya sederhana, yaitu kulineran, jalan-jalan, dan menemani teman yang sudah punya jadwal treatment wajah. 

Tapi bagi saya, bagian yang paling menarik justru ketika bisa menikmati suasana Kota Lama Semarang di sore hari.

Perjalanan dimulai sejak pukul lima pagi dari Jogja. Kami sengaja berangkat lebih awal agar perjalanan lebih nyaman dan gak terlalu terjebak kemacetan. 

Udara pagi masih terasa sejuk, jalanan pun relatif lengang sehingga perjalanan terasa santai.

Oh ya, saya memang termasuk orang yang lebih suka berangkat pagi saat bepergian karena suasananya masih tenang dan badan juga masih segar.

Sampai di daerah Ungaran, kami memutuskan berhenti untuk sarapan soto. Tempatnya sederhana banget, bahkan dari luar terlihat seperti warung biasa. 

Tapi soal rasa sih ternyata lumayan enak. Kuahnya hangat, porsinya pas, dan cocok untuk mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan kami juga sempat berhenti di sebuah rest area. Yang menarik, area belakangnya dipenuhi pepohonan yang sekilas mirip hutan pinus. 

Suasananya adem dan nyaman untuk sekadar meregangkan kaki. Sekalian juga menemani teman yang ingin salat karena kebetulan tersedia masjid yang cukup nyaman di sana.


Tujuan ke Semarang: Kuliner, Jalan-Jalan, dan Sedikit Me Time

Sesampainya di Semarang, agenda kami cukup santai. Teman saya langsung menuju tempat treatment wajah yang sudah dijadwalkan sejak jauh hari. Sementara saya kebagian menikmati bagian yang menurut saya lebih menyenangkan, yaitu jalan-jalan dan kulineran. Hihihihi....

Biasanya kalau ke Semarang, kami hampir selalu mampir ke Ayam Goreng Pak Supar. Menu favorit saya adalah ayam goreng dan sup sapinya yang gurih. 

Selain itu, saya juga suka berburu tahu gimbal legendaris yang sudah beberapa kali saya kunjungi. Sayangnya saya selalu lupa nama warungnya. 

Yang jelas, setiap ke Semarang, tempat itu hampir pasti masuk daftar kunjungan.

Oh ya, salah satu alasan saya suka kulineran di Semarang adalah karena pilihan makanannya beragam dan banyak yang sudah melegenda sejak puluhan tahun lalu.

Setelah urusan treatment selesai, barulah kami menuju destinasi yang sejak awal ingin saya kunjungi, yaitu kawasan Kota Lama Semarang.

Saya menikmati suasana di Museum Kota Lama Semarang
Saya menikmati suasana di Museum Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)


Menyusuri Kota Lama Semarang Saat Sore Hari

Sore hari memang menjadi waktu yang pas untuk menyusuri Kota Lama Semarang. Cuaca mulai bersahabat, sinar matahari gak terlalu terik, dan suasana kawasan mulai ramai oleh wisatawan.

Ketika memasuki area ini, saya langsung merasa seperti sedang berpindah ke masa lalu. 

Deretan bangunan kolonial yang berdiri kokoh membuat suasana terasa berbeda dibanding kawasan perkotaan modern pada umumnya.

Kota Lama Semarang sendiri merupakan salah satu kawasan heritage Semarang yang memiliki nilai sejarah tinggi. 

Kawasan ini berkembang sejak abad ke-17 ketika Belanda menjadikan Semarang sebagai pusat perdagangan penting di pesisir utara Jawa.

Dulu area ini bahkan sering dijuluki sebagai "Little Netherlands" karena tata kota dan arsitekturnya yang sangat kental dengan nuansa Eropa. 

Kini kawasan tersebut telah direvitalisasi sehingga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah Semarang yang paling populer.

Oh ya, saya senang melihat bagaimana kawasan bersejarah ini tetap dirawat dengan baik sehingga generasi sekarang masih bisa menikmati jejak sejarah yang ada.


Spot Ikonik dan Foto Estetik di Kota Lama Semarang

Kalau berkunjung ke sini, ada beberapa tempat yang menurut saya wajib disinggahi.

Gereja Blenduk yang Ikonik

Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang dengan kubah ikonik saat sore hari
Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang dengan kubah ikonik saat sore hari (doc. Riana Dewie)

Gereja Blenduk menjadi landmark paling terkenal di kawasan ini. Bangunannya yang megah dengan kubah besar berwarna tembaga selalu berhasil menarik perhatian wisatawan.

Saya pun gak melewatkan kesempatan untuk berfoto di area sekitar gereja. Hampir dari sudut mana pun, hasil fotonya terlihat menarik.

Taman Srigunting yang Nyaman

Tepat di depan Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting. Area terbuka ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai, duduk menikmati suasana, atau sekadar mengamati aktivitas sekitar.

Kalau saya sih paling suka duduk beberapa menit sambil memperhatikan wisatawan yang lalu-lalang membawa kamera dan berburu foto.

Gedung Marba dan Deretan Bangunan Bersejarah

Saat saya melewati Gedung Marba Kota Lama Semarang
Saat saya melewati Gedung Marba Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)

Salah satu bangunan yang selalu menarik perhatian adalah Gedung Marba. Fasad berwarna merah khas membuat bangunan ini terlihat sangat fotogenik.

Selain Gedung Marba, masih banyak bangunan tua lain yang menjadi spot foto Kota Lama Semarang. Setiap sudut memiliki karakter tersendiri sehingga rasanya gak pernah bosan untuk dijelajahi.

Kebetulan saya berasal dari Jogja. Karena itu, melihat bangunan-bangunan peninggalan Belanda di kawasan ini terasa cukup akrab. 

Beberapa desain arsitekturnya bahkan mengingatkan saya pada sejumlah bangunan tua yang ada di Jogja.


Menikmati Senja dan Pulang Membawa Cerita

Waktu favorit saya selama berada di sana adalah ketika memasuki golden hour. Cahaya matahari sore yang hangat membuat seluruh kawasan terlihat semakin cantik. Inilah momen terbaik untuk menikmati senja di Semarang.

Oh ya, kalau datang menjelang sore, jangan buru-buru pulang. Perubahan suasana dari siang menuju petang justru menjadi salah satu daya tarik utama kawasan ini.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dan menikmati suasana sore di Kota Lama Semarang. 

Salah satu bangunan heritage di Kota Lama Semarang
Salah satu bangunan heritage di Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)


Rasanya waktu berjalan begitu pelan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, pengalaman seperti ini terasa sangat menyenangkan.

Kalau saya sih selalu suka destinasi yang menawarkan cerita, bukan hanya pemandangan. Dan Kota Lama Semarang berhasil memberikan keduanya sekaligus.

Menjelang magrib, kami akhirnya meninggalkan kawasan tersebut. Tapi perjalanan belum selesai. Sebelum pulang ke Jogja, kami kembali berburu kuliner Kota Lama Semarang dan beberapa makanan favorit lainnya.

Perjalanan pulang terasa santai karena hati sudah puas. Hahahaha.... 

Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan satu hari penuh bersama teman-teman, menikmati makanan enak, melihat bangunan bersejarah, dan merasakan suasana yang berbeda dari rutinitas sehari-hari.

Oh ya, perjalanan singkat ini kembali mengingatkan saya bahwa liburan gak harus jauh atau mahal. 

Kadang satu hari yang diisi dengan wisata sore Semarang, kulineran, dan nostalgia sejarah sudah cukup untuk membuat pikiran kembali segar.

***

Pada akhirnya, kunjungan ke Kota Lama Semarang bukan sekadar perjalanan wisata biasa. 

Bagi saya, ini adalah perjalanan yang penuh cerita, penuh kenangan, dan memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana sejarah tetap hidup di tengah perkembangan kota modern. 

Sebuah perjalanan sederhana yang layak untuk diulang lagi suatu hari nanti.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal Notes

Di Balik Senyum Wisatawan, Ada Kuda Andong Malioboro yang Bekerja Seharian

Kuda andong menunggu penumpang di kawasan Malioboro Yogyakarta

Suatu sore di kawasan Malioboro, saya duduk di salah satu bangku yang menghadap jalan utama. 

Seperti biasa, suasana ramai oleh wisatawan yang berjalan santai, berburu oleh-oleh, hingga mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka. 

Di tengah keramaian itu, kuda andong Malioboro melintas perlahan sambil menarik kereta yang berisi wisatawan dari berbagai daerah.

Pemandangan tersebut sebenarnya sudah sangat akrab bagi siapa saja yang pernah berkunjung ke Yogyakarta. Andong sudah lama menjadi bagian dari identitas kota ini. 

Bahkan bagi banyak wisatawan, naik andong menjadi pengalaman yang wajib dicoba saat liburan ke Jogja.

Namun sore itu perhatian saya justru tertuju pada sang kuda. 

Saat orang-orang sibuk tersenyum menikmati perjalanan, saya memperhatikan bagaimana hewan tersebut terus berjalan di tengah cuaca yang cukup panas. 

Dari situlah muncul pertanyaan sederhana di kepala saya: bagaimana sebenarnya kehidupan kuda-kuda yang bekerja setiap hari di Malioboro?

Oh ya, saya termasuk orang yang suka memperhatikan hal-hal kecil saat bepergian. Kadang yang menarik perhatian saya bukan hanya tempat wisatanya, tetapi juga cerita yang ada di baliknya.

Belakangan ini, isu kesejahteraan hewan memang semakin sering dibahas. Ada yang menyerukan agar penggunaan kuda sebagai alat transportasi wisata dihentikan. 

Ada juga yang berpendapat bahwa andong merupakan warisan budaya yang harus tetap dilestarikan. 

Menurut saya, kedua pandangan tersebut layak didengar karena masing-masing memiliki alasan yang kuat.


Andong, Ikon Wisata yang Tak Terpisahkan dari Malioboro

Membicarakan Malioboro rasanya sulit jika melewatkan keberadaan andong. Kendaraan tradisional ini sudah menjadi bagian dari wajah Yogyakarta selama puluhan tahun. 

Bahkan sebelum transportasi modern berkembang pesat seperti sekarang, andong sudah menjadi sarana mobilitas masyarakat.

Kuda penarik andong beristirahat setelah bekerja di Malioboro
Kuda penarik andong beristirahat setelah bekerja di Malioboro (doc. Riana Dewie)


Sampai hari ini, andong tetap bertahan sebagai salah satu daya tarik wisata budaya. Banyak wisatawan memilih naik andong karena ingin menikmati suasana kota dengan cara yang lebih santai. 

Kalau saya sih, sensasi mendengar suara langkah kuda sambil melihat suasana kota memang memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan naik kendaraan bermotor.

Selain menjadi daya tarik wisata, keberadaan andong juga memberikan penghasilan bagi para kusir. 

Dari pekerjaan tersebut, mereka membiayai kebutuhan keluarga sekaligus merawat kuda yang menjadi partner kerja setiap hari.

Oh ya, sering kali kita hanya melihat andong sebagai sarana wisata. Padahal di baliknya ada banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari profesi kusir andong.

Karena itulah, isu kesejahteraan hewan dalam sektor pariwisata ini menjadi topik yang cukup kompleks. 

Ada aspek budaya, ekonomi, dan juga tanggung jawab terhadap makhluk hidup yang sama-sama penting untuk diperhatikan.


Di Balik Ramainya Wisata, Ada Kuda yang Bekerja dari Pagi hingga Malam

Di saat wisatawan menikmati perjalanan yang menyenangkan, kuda-kuda tersebut menjalani rutinitas yang cukup berat. 

Pada musim liburan, jumlah penumpang meningkat dan aktivitas andong menjadi lebih sibuk dibandingkan hari biasa.

Melihat kuda berjalan bolak-balik sepanjang hari kadang membuat saya bertanya-tanya mengenai kondisi fisik mereka. 

Hihihihi... mungkin terdengar terlalu kepikiran, tetapi memang itulah yang muncul di benak saya saat melihat mereka bekerja tanpa henti.

Andong wisata menjadi ikon transportasi tradisional Yogyakarta
Andong wisata menjadi ikon transportasi tradisional Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Cuaca Panas dan Risiko Dehidrasi

Salah satu tantangan terbesar bagi kuda pekerja adalah cuaca panas. Yogyakarta terkenal memiliki suhu yang cukup terik, terutama saat musim kemarau. Dalam kondisi seperti itu, tubuh kuda akan mengeluarkan lebih banyak keringat sehingga kebutuhan cairannya juga meningkat.

Jika kebutuhan air minum gak terpenuhi dengan baik, risiko dehidrasi tentu bisa meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh menjadi lemah, kehilangan energi, bahkan berpotensi memicu gangguan kesehatan lainnya.

Oh ya, saya pernah melihat seekor kuda yang sedang diberi minum setelah menarik andong. Saat itu saya baru sadar bahwa kebutuhan air bagi kuda pekerja ternyata sama pentingnya dengan kebutuhan bahan bakar bagi kendaraan.

Karena itu, penyediaan akses air minum yang cukup menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan kuda andong Malioboro.

Pakan dan Istirahat yang Menjadi Kebutuhan Utama

Sama seperti manusia yang bekerja seharian, kuda juga membutuhkan asupan nutrisi yang memadai. Rumput berkualitas, pakan tambahan, serta jadwal makan yang teratur sangat membantu menjaga stamina mereka.

Sayangnya, masih ada kekhawatiran dari sebagian masyarakat mengenai kemungkinan adanya kuda yang memperoleh pakan kurang optimal. Isu inilah yang sering memicu perdebatan mengenai penggunaan kuda sebagai transportasi wisata.

Selain makanan, waktu istirahat juga gak kalah penting. Tubuh kuda membutuhkan waktu untuk memulihkan energi setelah bekerja selama berjam-jam di jalanan yang ramai.

Kalau dipikir-pikir, manusia saja bisa merasa lelah setelah bekerja seharian. Jadi wajar kalau kuda juga membutuhkan perhatian yang sama terhadap kebutuhan fisiknya.


Tidak Semua Kisah Tentang Kuda Andong Berakhir Buruk

Meskipun berbagai kritik bermunculan, saya merasa penting untuk melihat persoalan ini secara lebih utuh. Gak semua cerita tentang kuda andong berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan.

Banyak Kusir yang Sangat Peduli pada Kudanya

Bagi banyak kusir, kuda bukan sekadar alat kerja. Hewan tersebut adalah aset utama yang menentukan keberlangsungan pekerjaan mereka. 

Karena itu, banyak kusir yang berusaha menjaga kesehatan kudanya dengan baik.

Saya pernah berbincang singkat dengan seorang kusir yang mengatakan bahwa biaya pakan dan perawatan kuda bisa mencapai jumlah yang gak sedikit setiap bulan. 

Dari cerita itu saya memahami bahwa sebagian besar kusir tentu ingin kudanya tetap sehat dan kuat.

Kalau saya sih, hubungan antara kusir dan kuda ini lebih mirip rekan kerja yang saling membutuhkan dibanding sekadar pemilik dan hewan peliharaan.

Transportasi tradisional andong yang masih bertahan di Yogyakarta
Transportasi tradisional andong yang masih bertahan di Yogyakarta (doc. Riana Dewie)


Pemeriksaan Kesehatan dan Upaya Pembinaan

Beberapa pihak juga mulai memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan kuda andong. 

Pemeriksaan kesehatan berkala, edukasi perawatan hewan, hingga pembinaan kepada kusir menjadi langkah yang cukup positif.

Oh ya, upaya seperti ini menurut saya penting karena dapat menjadi jalan tengah antara pelestarian budaya dan perlindungan kesejahteraan hewan.

Tentu masih ada ruang untuk perbaikan. Namun keberadaan program-program tersebut menunjukkan bahwa isu ini mulai mendapatkan perhatian yang lebih serius dibandingkan beberapa tahun lalu.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Stay & Hotels

Camping di Telaga Cebong, Tempat Camping Keluarga di Kaki Bukit Sikunir

Camping di Telaga Cebong dekat Bukit Sikunir saat pagi hari

Saat pertama kali tiba di kawasan Dieng untuk mengejar sunrise di Bukit Sikunir, fokus saya sebenarnya hanya satu: bangun pagi, naik bukit, lalu menikmati matahari terbit yang terkenal itu.

Namun siapa sangka, sebelum petualangan dimulai, saya justru menemukan sesuatu yang menarik di sekitar area parkir. 

Di sinilah saya pertama kali mengenal Camping di Telaga Cebong, sebuah tempat yang ternyata begitu menarik untuk dijadikan lokasi bermalam bersama keluarga.

Di dekat area parkir, berdiri rumah-rumah kecil yang cantik di tepi telaga. Bentuknya estetik dan fotogenik. 

Saya pun sibuk mengambil foto dari berbagai sudut. Hihihihi, namanya juga suka jalan-jalan, kalau melihat tempat bagus rasanya tangan otomatis ingin mengabadikan momen.

Oh ya, suasana pagi itu benar-benar menyenangkan karena udara sejuk pegunungan langsung terasa sejak saya turun dari kendaraan.

Kami berfoto di area berkemah Telaga Cebong
Kami berfoto di area berkemah Telaga Cebong (doc. Riana Dewie)


Saat sedang asyik berfoto, perhatian saya tiba-tiba tertuju pada deretan tenda warna-warni yang berdiri rapi di pinggir telaga. 

Beberapa di antaranya bahkan dilengkapi area api unggun yang terlihat nyaman untuk berkumpul bersama keluarga.

"Loh, ini tempat camping kah?" tanya saya dalam hati waktu itu.

Awalnya saya mengira itu hanya camp ilegal, tempat orang membawa tenda sendiri lalu mendirikan kemah secara mandiri. 

Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami
Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami (doc. Riana Dewie)


Saya pun gak terlalu memikirkannya dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Bukit Sikunir.

Barulah keesokan harinya, setelah turun dari Sikunir, saya mengetahui bahwa area tersebut ternyata merupakan salah satu tempat camping di Telaga Cebong yang cukup populer di kawasan Dieng.


Mengenal Pesona Telaga Cebong di Kaki Bukit Sikunir

Telaga Cebong berada di Desa Sembungan, sebuah desa yang terkenal sebagai salah satu desa tertinggi di Pulau Jawa. 

Lokasinya berada tepat di kaki Bukit Sikunir sehingga menjadi titik awal bagi wisatawan yang ingin menikmati golden sunrise Dieng.

Oh ya, meskipun namanya telaga, pemandangan di sini jauh dari kesan biasa saja. Justru sebaliknya, telaga alami ini dikelilingi perbukitan hijau yang membuat suasananya terasa menenangkan.

Dari area telaga, pengunjung bisa menikmati pemandangan pegunungan Dieng yang indah hampir dari semua sudut. 

Air telaga yang tenang sering memantulkan siluet bukit dan langit sehingga menjadi spot foto Dieng yang cukup diminati wisatawan.

Area camping di Telaga Cebong dengan pemandangan pegunungan Dieng
Area camping di Telaga Cebong dengan pemandangan pegunungan Dieng (doc. Riana Dewie)


Kalau saya sih langsung paham kenapa banyak orang betah berlama-lama di sini. Kombinasi telaga, pegunungan, udara segar, dan suasana pedesaan memang punya daya tarik tersendiri.

Selain menjadi bagian dari wisata alam Dieng, Telaga Cebong juga sering menjadi tujuan wisata keluarga Wonosobo karena suasananya yang relatif tenang dan cocok untuk semua usia.


Kenapa Camping di Telaga Cebong Menarik untuk Keluarga?

Setelah melihat langsung lokasinya, saya akhirnya mengerti mengapa banyak wisatawan memilih Camping ground Telaga Cebong Dieng sebagai tempat bermalam.

1. Pemandangannya Langsung Menghadap Alam

Berbeda dengan hotel yang membatasi pemandangan lewat jendela, area berkemah Telaga Cebong menawarkan panorama terbuka. 

Dari depan tenda, pengunjung bisa menikmati telaga, perbukitan, dan suasana khas kawasan Dieng Plateau.

2. Suasana Lebih Dekat dengan Alam

Bagi keluarga yang ingin merasakan liburan keluarga di alam, tempat ini bisa menjadi pilihan menarik. 

Anak-anak dapat melihat langsung lingkungan alam pegunungan, sementara orang tua bisa menikmati suasana santai yang jauh dari hiruk pikuk kota.

Panorama Telaga Cebong sebagai tempat camping keluarga di Jawa Tengah
Panorama Telaga Cebong sebagai tempat camping keluarga di Jawa Tengah (doc. Riana Dewie)


3. Bisa Menikmati Langit Malam

Salah satu daya tarik yang sering dicari wisatawan adalah kesempatan melihat langit malam yang lebih jelas. 

Bahkan banyak orang menyebut kawasan ini sebagai salah satu tempat melihat bintang di Dieng yang cukup menarik saat cuaca sedang cerah.

Oh ya, momen berkumpul di dekat api unggun bersama keluarga tentu menjadi pengalaman yang sulit ditemukan saat menginap di hotel biasa.

4. Biaya Cenderung Lebih Terjangkau

Jika dibandingkan beberapa hotel atau penginapan premium di kawasan Dieng, camping ramah keluarga seperti ini bisa menjadi alternatif yang lebih ekonomis tanpa mengurangi pengalaman berwisata.

Kalau urusan kenyamanan sih tentu setiap orang punya preferensi berbeda. Namun untuk pengalaman yang lebih dekat dengan alam, camping tepi telaga jelas menawarkan sensasi yang berbeda.


Lokasi Strategis untuk Menjelajahi Wisata Dieng

Salah satu keunggulan terbesar Camping di Telaga Cebong adalah lokasinya yang strategis.

Dari sini, wisatawan dapat dengan mudah menuju Bukit Sikunir untuk menikmati matahari terbit. 

Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami
Camping ground Telaga Cebong Dieng dengan latar telaga alami (doc. Riana Dewie)


Bahkan banyak pengunjung memilih bermalam di area ini agar gak perlu berangkat terlalu dini dari penginapan yang lokasinya jauh.

Sunrise Sikunir dari Telaga Cebong memang menjadi salah satu alasan utama banyak wisatawan datang ke sini.

Selain dekat dengan Sikunir, lokasi ini juga relatif mudah dijangkau dari berbagai destinasi populer di Dieng. 

Karena itulah kawasan ini menjadi destinasi camping populer bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi berbagai tempat dalam satu perjalanan.

Oh ya, bagi yang datang saat musim kemarau, suasana di sekitar telaga biasanya terlihat lebih cerah sehingga cocok untuk aktivitas fotografi maupun camping saat musim kemarau.

Camping dekat Bukit Sikunir juga memberi keuntungan tersendiri karena wisatawan bisa lebih santai mengatur waktu perjalanan tanpa harus terburu-buru mengejar subuh.


Masuk Daftar Tempat yang Ingin Saya Coba Berikutnya

Jujur saja, saat perjalanan kemarin saya belum sempat mencoba Camping di Telaga Cebong. Jadwal perjalanan sudah tersusun jauh-jauh hari sehingga agenda bermalam di area ini belum bisa masuk daftar kegiatan.

Meski begitu, melihat langsung suasananya membuat saya cukup tertarik untuk kembali lagi suatu saat nanti.

Area parkir depan Telaga Cebong Dieng
Area parkir depan Telaga Cebong Dieng (doc. Riana Dewie)


Kalau saya sih membayangkan seru juga menghabiskan malam di tepi telaga, menikmati udara dingin khas Dieng, lalu bangun pagi untuk melihat aktivitas sekitar sebelum melanjutkan perjalanan.

Rasanya menyenangkan jika suatu hari nanti bisa berkemah bersama keluarga di sini, menikmati suasana alam tanpa terburu-buru mengejar jadwal wisata.

Hahahaha, siapa tahu kunjungan berikutnya justru lebih santai daripada perjalanan kemarin yang penuh agenda dari pagi sampai malam.

Yang pasti, Telaga Cebong berhasil memberi kesan yang cukup kuat bagi saya. 

Bukan hanya sebagai gerbang menuju Bukit Sikunir, tetapi juga sebagai tempat camping keluarga di Jawa Tengah yang menawarkan panorama indah dan suasana yang nyaman.

***

Jika nanti kembali ke Dieng, saya ingin sekali mencoba menginap di sini. Setelah menikmati malam di tepi telaga, paginya saya bisa menjelajahi beberapa destinasi yang kemarin terlewat. 

Area berkemah Telaga Cebong dengan view perbukitan hijau
Area berkemah Telaga Cebong dengan view perbukitan hijau (doc. Riana Dewie)


Salah satunya adalah Kawah Sikidang yang harus saya skip karena bangunnya terlalu santuy dan kesiangan.

Pada akhirnya, wisata Telaga Cebong Dieng membuktikan bahwa sebuah perjalanan sering kali menghadirkan kejutan yang gak terduga. 

Awalnya saya datang hanya untuk melihat sunrise, tetapi pulang dengan daftar destinasi baru yang ingin saya coba pada kunjungan berikutnya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Tips

10 Tips Tetap Produktif Saat Jalan-Jalan, Pulang Bawa Konten dan Cerita

Travel blogger membuat blog dari pengalaman perjalanan

Banyak orang menganggap jalan-jalan sebagai waktu untuk istirahat dari rutinitas. 

Namun bagi saya, tetap produktif saat jalan-jalan juga penting dilakukan agar setiap perjalanan meninggalkan jejak yang bermanfaat. 

Entah itu berupa postingan blog, update di media sosial, foto, video, maupun catatan sederhana yang nantinya bisa dikembangkan menjadi sebuah karya.

Saya sering menemukan ide tulisan, bahan konten media sosial, hingga pengalaman menarik saat sedang bepergian. 

Bahkan perjalanan singkat ke tempat yang dekat dari rumah pun sering memberikan inspirasi baru. Jalan-jalan dan berkarya ternyata bisa berjalan beriringan.

Oh ya, saya sendiri termasuk orang yang senang menyimpan dokumentasi perjalanan sejak dulu. 

Awalnya hanya untuk koleksi pribadi, tetapi ternyata banyak yang akhirnya berguna sebagai bahan artikel maupun konten media sosial.

Produktif saat jalan-jalan bukan berarti sibuk bekerja sepanjang waktu. Justru yang saya maksud adalah memanfaatkan momen agar menghasilkan sesuatu yang bisa dibagikan kepada orang lain. 

Dengan begitu, perjalanan terasa lebih bermakna dan meninggalkan "oleh-oleh" berupa cerita.


Mengapa Tetap Produktif Saat Jalan-Jalan Itu Penting?

Perjalanan selalu menghadirkan pengalaman baru. Saat berada di tempat yang berbeda, biasanya pikiran menjadi lebih segar dan ide kreatif lebih mudah muncul. 

Karena itulah banyak orang yang menemukan inspirasi saat traveling.

Konten perjalanan juga termasuk jenis konten yang cukup diminati. 

Mulai dari konten Instagram, konten TikTok, story Instagram, hingga artikel blog sering mendapat perhatian karena memberikan referensi bagi orang lain.

Selain itu, dokumentasi perjalanan bisa menjadi kenangan berharga di masa depan. 

Sedekat apa pun travelingmu, atau hal-hal yang menurutmu sepele, ternyata bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi orang lain. 

Kalau saya sih sering menemukan ide artikel hanya dari perjalanan yang jaraknya gak sampai satu jam dari rumah.

Oh ya, banyak juga orang yang mulai membangun personal branding melalui aktivitas berbagi pengalaman wisata. Jadi, gak ada salahnya mulai mengabadikan perjalanan dari sekarang.

Saat saya mengabadikan momen perjalanan di destinasi wisata
Saat saya mengabadikan momen perjalanan di destinasi wisata (doc. Riana Dewie)


10 Tips Tetap Produktif Saat Jalan-Jalan, Pulang Bawa Konten dan Cerita

Berikut beberapa hal yang saya dapatkan dari pengalaman pribadi selama melakukan perjalanan dan membuat konten.

1. Tentukan Tujuan Dokumentasi Sebelum Berangkat

Sebelum berangkat, saya biasanya menentukan tujuan dokumentasi terlebih dahulu. Apakah untuk blog, Instagram, TikTok, atau sekadar arsip pribadi.

Dengan tujuan yang jelas, proses pengambilan konten menjadi lebih terarah. Namun kadang saya juga berjalan saja mengikuti situasi. 

Di mana pun tempatnya, saya usahakan ada konten yang bisa saya bagikan di blog maupun media sosial agar gak terasa memberatkan.

2. Selalu Siapkan Kamera atau Smartphone

Jangan sampai momen menarik terlewat begitu saja. Karena HP saya masih tergolong HP kentang dengan hasil kamera yang kurang maksimal, saya sering membawa kamera untuk dokumentasi pribadi.

Kamera Sony Alpha saya memang sudah cukup jadul, tetapi sampai sekarang masih sangat membantu. 

Bahkan beberapa hasil fotonya pernah membantu menambah pundi-pundi penghasilan. Hihihihi.... ternyata barang lama masih bisa produktif juga.

Pastikan baterai penuh sebelum berangkat. Saya sih biasanya berusaha membawa baterai cadangan lebih dari satu agar bisa langsung ganti saat baterai utama habis. 

Selain itu, sediakan ruang penyimpanan yang cukup dan bawa power bank jika diperlukan. Kebetulan power bank saya sedang rusak, jadi sekarang masih nabung buat beli yang baru.

3. Ambil Foto Lebih Banyak dari yang Dibutuhkan

Saya memang berusaha memotret sebanyak mungkin saat berada di sebuah destinasi wisata. Jepret sana, jepret sini, supaya punya banyak cadangan konten.

Mulai dari suasana lokasi, detail bangunan, kuliner, aktivitas pengunjung, hingga pemandangan sekitar. Semua bisa berguna saat menyusun artikel atau membuat travel content.

Menariknya, beberapa foto yang saya ambil sebelum tahun 2020 masih sering saya gunakan sampai sekarang. 

Inilah salah satu manfaat mengabadikan momen perjalanan dan membuat dokumentasi perjalanan yang menarik.

4. Rekam Video Pendek untuk Cadangan Konten

Selain foto, saya juga usahakan untuk merekam video pendek. Klip berdurasi 5–15 detik biasanya sudah cukup untuk kebutuhan reels perjalanan, TikTok, atau Shorts.

Video pendek sangat membantu jika suatu saat kita membutuhkan stok konten. Apalagi bagi travel content creator pemula, cara ini cukup efektif untuk menghemat ruang penyimpanan sekaligus tetap menghasilkan banyak materi.

Oh ya, video-video pendek ini gak harus langsung diedit saat itu juga. Simpan dulu, lalu olah saat ada waktu luang.

5. Catat Hal-Hal Menarik yang Ditemukan

Saya selalu berusaha mencatat fakta unik, harga tiket, jam operasional, cerita lokal, maupun pengalaman pribadi selama perjalanan. Biar simpel pake note dari HP aja. 

Produktif saat wisata dengan mencatat informasi penting
Produktif saat wisata dengan mencatat informasi penting (doc. Riana Dewie)


Pengalaman pribadi adalah bagian yang paling berharga karena gak bisa diduplikasi orang lain. Kita mungkin datang ke tempat yang sama, tetapi cerita yang dihasilkan bisa sangat berbeda.

Biasanya saya menggunakan aplikasi catatan di ponsel sebagai jurnal traveling sederhana. Cara ini sangat membantu saat nanti ingin membuat artikel atau review tempat wisata.

Catatan Harian Rani R Tyas juga menjadi salah satu inspirasi saya bahwa pengalaman sehari-hari bisa diolah menjadi tulisan yang menarik jika dicatat dengan baik.

6. Jangan Hanya Memotret, Rasakan Pengalamannya

Menikmati suasana tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan. Jangan sampai terlalu sibuk mengambil foto dan video hingga lupa menikmati momennya.

Cobalah berinteraksi dengan warga lokal, mencicipi makanan khas, atau mendengarkan cerita menarik dari orang sekitar. Pengalaman langsung seperti ini membuat tulisan menjadi lebih hidup dan otentik.

Saat berkunjung ke Kebun Binatang Gembira Loka misalnya, saya pernah berbincang dengan petugas dan mendapatkan beberapa informasi menarik yang gak akan saya dapatkan jika hanya mengandalkan perkiraan sendiri. 

Jadi komunikasi memang perlu untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam.

7. Kumpulkan Informasi Pendukung

Nama tempat, sejarah singkat, fasilitas, akses menuju lokasi, hingga informasi tiket merupakan data yang sangat berguna.

Informasi ini bisa diperoleh dari narasumber langsung maupun hasil pencarian tambahan. Dengan data yang lengkap, proses membuat blog dari pengalaman perjalanan menjadi jauh lebih mudah.

Kalau saya sih biasanya menggabungkan hasil observasi pribadi dengan informasi resmi agar artikel lebih kaya dan informatif.

8. Buat Draf Konten Singkat Saat Masih Segar

Setelah menemukan pengalaman menarik, saya langsung menuliskan poin-poin penting sebelum lupa. Bisa berupa ide caption, kesan pertama, atau hal-hal unik yang ditemukan selama perjalanan.

Langkah ini sangat membantu dalam cara mencari ide tulisan saat jalan-jalan. Nantinya saya tinggal mengembangkan catatan tersebut menjadi artikel yang lebih panjang.

Oh ya, kebiasaan kecil ini sering menyelamatkan saya dari lupa detail penting yang ternyata sangat dibutuhkan saat menulis.

9. Pilih Momen untuk Berbagi di Media Sosial

Semua konten gak harus diunggah sekaligus. Sebagian bisa disimpan sebagai stok untuk beberapa hari atau minggu ke depan.

Strategi ini membantu akun tetap aktif dan membuat proses membuat konten media sosial saat traveling menjadi lebih teratur.

Selain itu, kita juga bisa menyiapkan beberapa foto estetik wisata atau video perjalanan untuk kebutuhan mendatang.

10. Ubah Pengalaman Menjadi Cerita yang Bermanfaat

Inilah bagian yang paling saya sukai. Semua pengalaman yang sudah dikumpulkan bisa diubah menjadi artikel, rekomendasi kuliner, tips perjalanan, hingga berbagai bentuk konten lainnya.

Saya mengambil foto saat review menu Ramadhan tahun ini
Saya mengambil foto saat review menu Ramadhan tahun ini (doc. Riana Dewie)


Melalui cara ini, aktivitas jalan-jalan sambil menulis blog menjadi lebih menyenangkan. 

Kita gak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga bisa berbagi pengalaman dan memberikan inspirasi bagi orang lain.

Hahahaha.... kadang saya bahkan baru sadar bahwa perjalanan sederhana ternyata menghasilkan banyak ide tulisan setelah melihat kembali folder dokumentasi yang menumpuk.


Oleh-Oleh Terbaik dari Sebuah Perjalanan Bukan Selalu Barang

Banyak orang pulang membawa suvenir. Namun bagi saya, pengalaman, foto, video, tulisan, dan cerita juga merupakan oleh-oleh yang sangat berharga.

Konten yang dibagikan dapat membantu orang lain menemukan tempat menarik, mencari rekomendasi kuliner, atau mendapatkan referensi untuk perjalanan berikutnya.

Selain itu, semua dokumentasi tersebut akan menjadi bagian dari catatan perjalanan, kenangan liburan, dan sumber inspirasi perjalanan yang bisa dikenang di masa depan.

Oh ya, saya percaya bahwa setiap perjalanan selalu memiliki cerita yang layak dibagikan, sekecil apa pun perjalanannya.


Penutup

Jalan-jalan dan produktif bukan dua hal yang bertentangan. Kita tetap bisa menikmati liburan tanpa kehilangan kesempatan untuk berkarya.

Dengan sedikit kebiasaan mendokumentasikan dan mencatat, setiap perjalanan dapat menghasilkan konten, cerita, dan kenangan yang bermanfaat. 

Mulailah menerapkan tips di atas agar aktivitas produktif saat traveling, healing yang produktif, dan liburan sambil berkarya bisa menjadi kebiasaan baru.

Tetap produktif saat jalan-jalan dengan mengubah pengalaman wisata menjadi artikel dan cerita inspiratif
Tetap produktif saat jalan-jalan dengan mengubah pengalaman wisata menjadi cerita inspiratif (doc. Riana Dewie)


Pada akhirnya, perjalanan bukan hanya soal pergi ke suatu tempat, tetapi juga tentang bagaimana kita mengolah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. 

Siapa tahu, cerita yang kita bagikan hari ini bisa membantu pembaca menemukan inspirasi baru, sama seperti banyak artikel tips parenting modern yang sering membantu orang tua menemukan sudut pandang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Berangkat Subuh Demi Sunrise, Saya Menemukan Pagi Terindah di Kopi Alam Merapi


Suasana pagi di Kopi Alam Merapi dengan kabut tipis dan udara dingin

Suatu hari, adik saya menunjukkan sebuah konten TikTok tentang Kopi Alam Merapi

Video itu menampilkan panorama pagi yang begitu cantik dengan latar belakang Gunung Merapi yang menjulang gagah. 

Kabut tipis menyelimuti area sekitar, sementara matahari perlahan muncul dari balik cakrawala. Setelah melihat videonya, saya langsung paham kenapa tempat ini begitu viral. 

Rasanya seperti tempat yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang suka healing dan menikmati suasana alam.

Akhirnya, saat libur kerja tiba, kami sepakat untuk datang ke sana. Tujuannya sederhana, yaitu menikmati sunrise di Merapi sambil menyeruput minuman hangat di tengah udara pegunungan yang segar. 

Oh ya, saya memang termasuk orang yang gampang tergoda kalau melihat rekomendasi tempat wisata alam yang indah seperti ini.


Berawal dari TikTok hingga Rencana Berangkat Subuh

Jarak rumah kami menuju lokasi sekitar 1 jam 10 menit. Karena ingin mendapatkan tempat duduk strategis dan bisa melihat matahari terbit dengan jelas, kami harus tiba sebelum pukul 05.00 pagi. 

Kalau dihitung-hitung, kendaraan sudah harus jalan sekitar pukul 03.45 dini hari. Masalahnya, apa gak masih ngantuk ya kalau harus berangkat jam segitu? 

Apalagi sebelumnya masih harus mandi, bersiap, dan memastikan semua perlengkapan sudah dibawa. Saya sih sudah membayangkan betapa beratnya membuka mata saat alarm berbunyi nanti.

Untungnya, adik ipar saya yang tinggal di daerah Ngaglik, Sleman, memberikan ide yang sangat membantu. 

Ia menyarankan agar kami menginap di rumahnya semalam sebelumnya. Dengan begitu, perjalanan subuh ke Merapi menjadi lebih ringan dan kami gak perlu bangun terlalu dini dari rumah.

Akhirnya rencana itu terealisasi. Kami sampai di rumah adik ipar sekitar pukul 23.00 malam dan langsung beristirahat. 

Jam 03.30 pagi alarm berbunyi, lalu kami bersiap-siap. Sekitar pukul 04.30 kami mulai perjalanan menuju lokasi, dan pukul 05.10 akhirnya sampai di area Kopi Alam Merapi Kaliurang.

Ngopi di kaki Gunung Merapi sambil melihat matahari terbit
Ngopi di kaki Gunung Merapi sambil melihat matahari terbit, dijepret saat pulang (doc. Riana Dewie)


Kedinginan di Tengah Kabut Pagi Merapi

Begitu turun dari kendaraan, saya langsung merasakan udara yang luar biasa dingin. Jujur saja, suhu pagi itu jauh lebih dingin dari yang saya bayangkan sebelumnya. 

Ketika sebagian besar pengunjung memakai celana panjang dan jaket tebal, saya justru datang memakai rok dan jaket jeans biasa.

Oh ya, saat itu saya langsung menyesal karena terlalu percaya diri. Hihihihi... ternyata udara dingin kaki Merapi memang gak bisa dianggap remeh.

Konon saat musim tertentu masyarakat Jawa mengenal istilah bediding

Bediding adalah kondisi ketika suhu malam hingga pagi terasa sangat dingin dan menusuk tulang, lalu berubah menjadi panas saat siang hari. 

Harusnya sih fenomena ini lebih sering muncul sekitar bulan Juli, tetapi pagi itu saya sudah merasakan sensasi yang mirip.

Ya, ternyata tempat yang viral ini memang memiliki view Merapi yang menawan. 

Suasana subuh di Kopi Alam Merapi dengan udara segar pegunungan
Suasana subuh di Kopi Alam Merapi dengan udara segar pegunungan (doc. Riana Dewie)


Gunung Merapi terlihat menjulang tinggi di kejauhan, meski saat itu masih tampak seperti siluet karena langit belum sepenuhnya terang. 

Bahkan warung Kopi Alam Merapi sendiri masih tutup. Saya hanya melihat petugas yang sedang menyapu halaman dan menata area sekitar.

Selama menunggu, kami menikmati suasana subuh yang tenang. Kabut pagi Merapi masih terlihat menggantung tipis. Udara segar benar-benar terasa berbeda dibandingkan udara perkotaan. 

Saya dan keluarga menghabiskan waktu dengan mengambil foto, merekam video, serta menikmati pemandangan Gunung Merapi yang perlahan mulai terlihat lebih jelas.

Oh ya, saya sampai mondar-mandir mencari titik yang lebih hangat karena badan sudah mulai gemetar. 

Entah berapa derajat suhu saat itu, saya malah gak sempat mengeceknya karena terlalu fokus menahan dingin.

Wisata pagi Merapi Jogja dengan view Merapi yang menawan
Wisata pagi Merapi Jogja dengan view Merapi yang menawan (doc. Riana Dewie)


Menikmati Sunrise dan Sarapan Hangat dengan View Merapi

Hari semakin terang. Perlahan, hawa dingin pegunungan mulai terkikis oleh hangatnya sinar matahari yang muncul dari balik langit timur. Inilah momen yang paling kami tunggu sejak berangkat dini hari.

Pengalaman menikmati sunrise sambil ngopi di Kopi Alam Merapi benar-benar sesuai ekspektasi. Cahaya keemasan menyinari lereng gunung dan menciptakan panorama gunung saat pagi hari yang luar biasa indah. Saya sih langsung paham kenapa tempat ini disebut sebagai salah satu destinasi sunrise favorit Jogja.

Oh ya, setelah udara mulai bersahabat, kami langsung membuat berbagai konten lucu dan berfoto di banyak sudut. Hahahaha... rasanya sayang kalau sudah jauh-jauh datang tetapi gak mengabadikan momen sebanyak mungkin.

Tak lama kemudian warung mulai buka. Para pedagang yang menitipkan makanan juga mulai berdatangan. Aneka aroma makanan hangat langsung menggoda perut yang sejak subuh belum terisi.

Menu Minuman Favorit di Kopi Alam Merapi

Pilihan minuman di sini cukup beragam, antara lain:

- Arabika Kalmer
- Arabika Susu Kalmer
- Robusta Kalmer
- Robusta Susu Kalmer
- Wedang Uwuh Kalmer
- Wedang Secang Kalmer
- Wedang Sereh Kalmer
- Jahe Susu Gula Aren
- Es Coklat Kalmer Gula Aren
- Es Degan
- Es Teh
- Es Jeruk
- Es Milo
- Susu Coklat

Jahe Merah Gula Aren hangat di Kopi Alam Merapi
Jahe Merah Gula Aren hangat di Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saya memilih Jahe Merah Gula Aren, sementara anggota keluarga lain memesan Arabika Kalmer, teh hangat, dan beberapa minuman lainnya. Menyeruput secangkir kopi hangat atau minuman jahe di tengah udara pegunungan memang punya sensasi tersendiri.

Menu Makanan yang Mengenyangkan

- Indomie Kuah Telur
- Indomie Kuah Tante
- Indomie Goreng Telur
- Indomie Goreng Tante
- Mendoan
- Pisang Goreng
- Kentang Goreng
- Cireng
- Nugget
- Dimsum
- Aneka sate-satean

Aneka makanan yang kami pesan di Kopi Alam Merapi
Aneka makanan yang kami pesan di Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saat itu kami memesan mie rebus telur, mendoan, dan pisang goreng. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan rasa gorengannya. 

Tepungnya crispy di luar tetapi tetap empuk di dalam. Bahkan saya jarang menemukan pisang goreng dengan karakter rasa seperti ini.

Dari segi harga juga cukup masuk kantong. Menurut saya pribadi, rasanya sebanding dengan yang dibayar. 

Pantas saja antrean warung terus mengular. Untung kami datang lebih awal sehingga gak perlu menunggu terlalu lama.


Fasilitas dan Alasan Kenapa Kopi Alam Merapi Layak Dikunjungi

Oh ya, pengunjung pertama pagi itu adalah rombongan kami. 

Namun perlahan tamu mulai berdatangan. Setelah pukul 06.30 pagi, hampir seluruh kursi sudah terisi penuh oleh wisatawan yang ingin berburu sunrise di Merapi.

Fasilitas yang tersedia juga cukup memadai untuk wisata pagi Merapi Jogja, di antaranya:

- Area parkir kendaraan yang cukup luas
- Mushola
- Kamar mandi
- Tempat duduk batu dan kayu
- Spot foto dengan latar Merapi
- Area santai untuk menikmati kopi di alam terbuka
- Warung makanan dan minuman

Wisatawan jeep Merapi singgah di Kopi Alam Merapi untuk berfoto
Wisatawan jeep Merapi singgah di Kopi Alam Merapi untuk berfoto (doc. Riana Dewie)


Menariknya lagi, lokasi ini juga sering menjadi tempat singgah wisatawan yang mengikuti jeep Merapi. 

Mereka biasanya berhenti sebentar untuk berfoto dengan background Merapi, yaitu Tebing Gendol Merapi yang indah sebelum melanjutkan perjalanan.

Oh ya, di sekitar lokasi juga terdapat beberapa cafe dengan pemandangan Merapi dan warung kopi lainnya. 

Jadi kalau suatu saat area utama penuh, masih ada banyak pilihan tempat ngopi dengan view Merapi yang bisa dicoba.

***

Bagi saya, sensasi ngopi di udara dingin kaki Gunung Merapi sambil menikmati udara segar pegunungan adalah pengalaman yang sulit dilupakan. 

Tempat terbaik menikmati matahari terbit di Merapi ini cocok untuk keluarga, pasangan, maupun teman-teman yang ingin mencari tempat healing di Jogja.

Antrean Panjang dan kendaraan yang memenuhi parkiran Kopi Alam Merapi
Antrean Panjang dan kendaraan yang memenuhi parkiran Kopi Alam Merapi (doc. Riana Dewie)


Saat kami pulang, area parkir sudah jauh lebih padat dibandingkan ketika datang. Banyak wisatawan baru berdatangan untuk menikmati suasana pagi di Merapi dan mencoba berbagai kuliner yang tersedia.

Kalau kamu sedang mencari rekomendasi tempat ngopi sunrise di Jogja, Kopi Alam Merapi bisa masuk daftar tujuan berikutnya. 

Berburu sunrise di kaki Gunung Merapi Yogyakarta sambil menikmati kopi hangat di udara dingin ternyata memang memberikan pengalaman yang berbeda. Jadi, kapan kamu mau ke sini?



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments