In City Life

Wisata Sehari di Jogja: Daily Trip, Ngonten, dan Jajan

Wisata sehari di Jogja saat memulai perjalanan bersama teman

Wisata sehari di Jogja ternyata gak selalu harus diisi dengan mengunjungi tempat-tempat terkenal atau pergi jauh dari pusat kota. 

Kadang, agenda sederhana seperti menemani teman membuat konten, mampir membeli jajanan, lalu menikmati suasana sore di tengah kota justru bisa menjadi cerita perjalanan yang menyenangkan.

Itulah yang saya alami pada 20 Oktober 2026. Hari itu, saya punya agenda bersama seorang teman yang biasa saya panggil anak lanang & dia memanggil saya, mami. 

Kami sudah saling mengenal sekitar lima tahun. Selain berteman, saya juga berperan sebagai managernya dalam berbagai aktivitas, termasuk ketika dia membuat konten dance di ruang publik.

Menemani orang ngonten ternyata bisa menjadi pengalaman tersendiri. Saya perlahan memahami bahwa membuat video bukan sekadar menyalakan kamera, menari sebentar, lalu mengunggahnya ke media sosial. 

Ada proses mencari lokasi, menentukan sudut pengambilan gambar, mengulang gerakan, sampai mengedit video agar hasilnya sesuai harapan.

Konten dance publik yang dibuatnya pun cukup dikenal. Beberapa videonya bahkan berhasil masuk FYP TikTok. Saya ikut senang melihat proses panjang itu menghasilkan karya yang bisa dinikmati banyak orang.

Oh ya, agenda kami hari itu sebenarnya sederhana: mencari lokasi untuk ngonten sekaligus nongkrong santai. 

Namun, perjalanan yang awalnya berorientasi pada pekerjaan kreatif tersebut malah terasa seperti liburan kecil. Ada aktivitas membuat konten, menikmati jajanan, sampai menyempatkan diri melihat suasana kota.

Memulai Daily Trip Jogja dengan Agenda Sederhana

Cuaca Jogja hari itu cukup cerah, bahkan terasa panas karena hujan belum turun. Meski begitu, semangat kami untuk menjalankan agenda hari itu gak ikut luntur. 

Tujuan awalnya adalah Pakuwon Mall Jogja, salah satu tempat yang kami pilih untuk membuat konten dance publik.

Sebagai manager, saya berusaha mendampingi anak lanang dalam aktivitasnya. Mulai dari menemani perjalanan, membantu mempertimbangkan lokasi, sampai memberikan dukungan ketika proses pengambilan video berlangsung. 

Tentu saja, tugas saya gak selalu berkaitan dengan pekerjaan serius. Ada kalanya saya cukup menjadi teman perjalanan yang siap menemani dari satu tempat ke tempat lain.

Buat saya sendiri, kegiatan seperti ini juga menjadi kesempatan untuk menyegarkan pikiran. 

Sesekali, kami memilih lokasi terbuka yang punya suasana alam agar kegiatan ngonten terasa lebih menyenangkan. Bahkan, perjalanan semacam itu bisa sekalian menjadi agenda piknik sederhana.

Kalau saya sih, menikmati kota gak harus menunggu punya jadwal liburan panjang. Selama ada waktu luang dan kesempatan untuk keluar rumah, banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan tanpa perlu menyusun itinerary rumit.

Itulah yang membuat daily trip Jogja kali ini terasa menarik. Kami gak sedang mengejar banyak destinasi wisata, melainkan menikmati proses perjalanan sambil menyelesaikan agenda yang sudah direncanakan.

Donat susu Malaka jumbo di area Selokan Mataram Jogja
Donat susu Malaka jumbo di area Selokan Mataram Jogja (doc. Riana Dewie)


Mampir ke Selokan Mataram, Jajan Donat Susu Malaka Jumbo

Dalam perjalanan menuju Pakuwon Mall, mobil kami sempat berhenti dan berputar balik di area Selokan Mataram Jogja. Rupanya, anak lanang melihat penjual donat susu Malaka yang ingin dia datangi.

“Di sana ada donat jumbo enak, Mam. Beli yuk!”

Saya pun mengiyakan ajakannya. Kebetulan, saat kami datang, antreannya gak panjang. Jadi, kami bisa membeli donat tanpa harus menunggu terlalu lama sebelum melanjutkan perjalanan.

Donat susu Malaka jumbo ini menjadi salah satu selingan kuliner dalam perjalanan kami. Pilihan rasanya cukup beragam, dengan ukuran yang menarik perhatian. 

Tekstur donatnya terasa lembut, sementara rasa susunya menjadi salah satu hal yang membuat saya menikmati jajanan ini.

Oh ya, satu box berisi enam donat dibanderol dengan harga 40-ribuan saat kami membelinya. Menurut saya, harga tersebut cukup ramah di kantong untuk camilan yang bisa dinikmati bersama.

In this economy, menemukan jajanan enak dengan harga bersahabat rasanya memang menyenangkan. Wkwkwkwk....

Sebagai catatan, cerita ini murni berdasarkan pengalaman jajan kami hari itu, bukan konten endorsement. 

Saya hanya ingin berbagi bahwa di sela-sela agenda berburu konten, ada kesempatan menemukan jajanan yang layak dicoba.

Buat kamu yang sedang jalan-jalan di Jogja, berburu kuliner seperti ini bisa menjadi aktivitas tambahan yang menyenangkan. 

Gak harus menjadikan makanan sebagai tujuan utama perjalanan. Terkadang, berhenti sebentar untuk membeli camilan justru membuat perjalanan terasa lebih santai.

Setelah mendapatkan donat, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pakuwon Mall. Perjalanan pun terasa lebih menyenangkan karena ada camilan untuk menemani kami di jalan.

Ngonten dan Nongkrong Santai di Pakuwon Mall Jogja

Suasana Pakuwon Mall Jogja saat hunting lokasi ngonten
Suasana Pakuwon Mall Jogja saat hunting lokasi ngonten (doc. Riana Dewie)

Dari area Selokan Mataram, kami melanjutkan perjalanan ke Pakuwon Mall Jogja. Jarak tempuhnya relatif singkat dari lokasi kami saat itu, sekitar sepuluh menit jika kondisi lalu lintas lancar.

Setibanya di mal, kami menuju area yang menurut kami cukup ramai dengan aktivitas pengunjung. Untuk konten dance publik, memilih lokasi yang tepat menjadi salah satu pertimbangan penting. Ada suasana, latar belakang, dan keramaian yang bisa membuat video terlihat lebih hidup.

Tentu saja, membuat konten di ruang publik membutuhkan kesiapan mental. Ada orang yang berlalu-lalang, ada pula pengunjung yang mungkin memperhatikan aktivitas kami. 

Selama situasinya memungkinkan, kami mencoba menjalankan agenda dengan santai sambil tetap menghormati kenyamanan orang lain.

Tahu gak, proses merekam video dance bisa membutuhkan waktu lebih lama daripada durasi hasil akhirnya. 

Gerakan yang kurang pas, sudut kamera yang perlu diperbaiki, atau hasil rekaman yang belum sesuai keinginan bisa membuat pengambilan gambar diulang berkali-kali.

Karena sudah cukup terbiasa mendampingi anak lanang, saya mulai memahami ritme kegiatan tersebut. Kadang, saya ikut membantu mempertimbangkan lokasi atau menunggu sampai pengambilan video selesai. 

Di sisi lain, saya juga menikmati kesempatan melihat suasana mal yang selalu punya aktivitas menarik.

Hari itu, kami berhasil mengambil sekitar tiga konten. Setelah selesai, waktunya beristirahat sejenak. Kami mencari minuman, duduk santai, sekaligus mulai mengedit video agar bisa segera diposting ke TikTok.

Bagi saya, bagian nongkrong ini justru menjadi salah satu momen menyenangkan dalam perjalanan. 

Nongkrong santai sambil mengedit video TikTok di Pakuwon Mall
Nongkrong santai sambil mengedit video TikTok di Pakuwon Mall (doc. Riana Dewie)


Sambil menunggu proses editing, saya bisa bermain ponsel dan memperhatikan lalu-lalang pengunjung. Aktivitas sederhana seperti ini memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas.

Kalau saya sih, nongkrong di mal gak harus selalu diisi dengan belanja. Menikmati suasana, mengobrol, atau sekadar duduk sambil mengamati keramaian juga bisa menjadi cara menyegarkan pikiran. 

Dalam konteks wisata urban Jogja, ruang publik seperti mal menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi alam terbuka.

Setelah agenda di Pakuwon Mall selesai, kami memutuskan berpindah lokasi. Tujuan berikutnya adalah Tugu Jogja, salah satu ikon kota yang sering menjadi latar foto maupun video.

Menutup Hari dengan Berburu Konten di Tugu Jogja

Menikmati Suasana Sore di Ikon Kota Jogja

Perjalanan menuju Tugu Jogja menjadi bagian terakhir dari agenda ngonten kami hari itu. Suasana kota menjelang sore memberikan nuansa berbeda setelah sebelumnya menghabiskan waktu di dalam mal.

Mengambil video dengan latar Tugu Jogja terasa menarik karena ada perpaduan ikon kota dan lalu-lalang kendaraan. 

Namun, kami gak berlama-lama di sana. Setelah mendapatkan sekitar dua sampai tiga konten, kami bersiap menyudahi aktivitas.

Prosesnya berlangsung kurang dari tiga puluh menit. Bagi kami, yang penting agenda hari itu sudah berjalan dengan baik tanpa harus memaksakan diri membuat terlalu banyak video.

Jajan Jasuke Sambil Menikmati Jogja

Jasuke ukuran jumbo sebagai jajanan dalam perjalanan di Jogja
Jasuke ukuran jumbo sebagai jajanan dalam perjalanan di Jogja (doc. Riana Dewie)

Sebelum pulang, kami menemukan tenant Jasuke Mozarella di dekat area parkir mobil. 

Melihat sajian jagung, susu, dan keju yang menggugah selera, kami akhirnya memutuskan membeli satu porsi ukuran besar untuk dinikmati berdua.

Tahu gak, taburan kejunya cukup melimpah sampai membuat kami tergoda untuk segera mencicipinya. Setelah seharian berpindah lokasi, menikmati jasuke menjadi penutup perjalanan yang sederhana.

Buat pencinta jajanan, mencari jasuke enak di Jogja juga bisa menjadi selingan saat menjelajahi kota. Meski bukan tujuan wisata utama, jajanan seperti ini melengkapi pengalaman perjalanan dengan cara yang menyenangkan.

Oh ya, beberapa hasil kontennya bisa diintip di TikTok atau Youtube ya. 

Perjalanan Sederhana yang Tetap Berkesan

Oh ya, pengalaman hari itu kembali mengingatkan saya bahwa berwisata gak selalu harus pergi jauh. 

Ketika waktu atau anggaran belum memungkinkan untuk bepergian ke luar kota, menikmati hal-hal kecil di sekitar kita juga layak dilakukan.

Daily trip Jogja kali ini memang berawal dari pekerjaan, yaitu menemani teman berburu konten. 

Namun, perjalanan tersebut memberi kesempatan untuk menikmati suasana mal, mencicipi jajanan, dan melihat kembali kesibukan kota menjelang sore.

Saya percaya, setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati perjalanan. 

Ada yang senang mengejar destinasi alam, ada yang suka menjelajahi tempat bersejarah, dan ada pula yang menikmati wisata santai dengan berjalan-jalan sambil mencari suasana baru.

Hihihihi.... Ternyata, agenda ngonten yang awalnya terdengar biasa saja bisa berkembang menjadi cerita perjalanan sehari yang menyenangkan.

Menikmati aktivitas ngonten seharian
Menikmati aktivitas ngonten seharian (doc. Riana Dewie)

Bagi saya, kuncinya adalah memberi ruang untuk menikmati proses, bukan hanya berfokus pada tujuan akhir. Sebab, terkadang momen kecil yang terjadi di sela-sela aktivitas justru menjadi bagian yang paling diingat.

Nah, buat kamu yang tinggal di luar kota dan berencana ngonten di Jogja, kira-kira ingin mampir ke mana? 

Apakah kamu lebih tertarik membuat konten di tempat ramai seperti Pakuwon Mall, berburu suasana kota di sekitar Tugu Jogja, atau menjelajahi sudut-sudut lain yang belum banyak diketahui orang? 

Ceritakan pilihanmu, siapa tahu bisa menjadi inspirasi perjalanan berikutnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In City Life

Drama Musikal Hidup untuk Musik, Wisata Seni di Jogja

Romo Karl-Edmund Prier SJ tokoh musik liturgi Indonesia

Sekitar tiga minggu sebelum acara, seorang teman mengabari saya tentang pertunjukan drama musikal di Puskat, kawasan Kotabaru, Yogyakarta. Awalnya, saya membayangkan acara ini seperti konser orkestra. 

Namun, setelah membaca ulang informasi di Instagram, ternyata pertunjukan bertajuk Hidup untuk Musik ini diselenggarakan untuk mengenang Romo Karl-Edmund Prier, SJ.

Saya pun langsung memesan tiket untuk tiga orang, termasuk saya sendiri. Setelah transfer, tinggal menunggu hari pelaksanaan pada Jumat, 16 Oktober 2026. 

Rasanya seperti punya janji dengan pengalaman baru. Apalagi, saya belum pernah masuk ke Auditorium Puskat sebelumnya.

3 tiket drama musikal Hidup untuk Musik mengenang Romo Prier
Tiket drama musikal Hidup untuk Musik mengenang Romo Prier (doc. Riana Dewie)


Traveling Gak Melulu soal Keindahan Alam

Jumat pagi, seorang teman kembali mengingatkan tentang acara ini. Maklum, jeda antara pembelian tiket dan hari pelaksanaan cukup panjang. 

Jangan sampai sudah semangat merencanakan jalan-jalan, eh, malah lupa jadwalnya!

Tahu gak, pengalaman traveling bagi saya gak selalu harus dimulai dengan perjalanan menuju pantai, pegunungan, atau tempat wisata dengan pemandangan menawan. 

Sesekali, mengunjungi ruang seni dan menyaksikan pertunjukan juga bisa menjadi pengalaman perjalanan yang berkesan.

Pertunjukan drama musikal untuk mengenang perjalanan hidup Romo Prier
Pertunjukan drama musikal untuk mengenang perjalanan hidup Romo Prier (doc. Riana Dewie)


Ada cerita, gagasan, dan perasaan yang bisa kita temukan ketika menikmati seni secara langsung. Kita gak sekadar datang, melihat-lihat, lalu pulang membawa foto. 

Justru, ada pengalaman baru yang mungkin membuat kita mengenal sesuatu yang sebelumnya belum banyak diketahui.

Itulah alasan saya menganggap kunjungan ke Auditorium Puskat sebagai bagian dari traveling. Tujuannya memang masih di Kota Yogyakarta, tetapi pengalaman yang dicari berbeda dari agenda jalan-jalan biasanya.

Oh ya, wisata seni di Jogja juga bisa menjadi alternatif bagi siapa saja yang ingin mengenal kota ini dari sisi lain. 

Yogyakarta bukan cuma punya wisata alam, kuliner, dan bangunan bersejarah, tetapi juga kehidupan seni yang menarik untuk dijelajahi.

Bagi saya sih, perjalanan semacam ini terasa istimewa karena kita bisa pulang membawa cerita, bukan hanya foto. 

Drama musikal Hidup untuk Musik menjadi kesempatan untuk menikmati seni pertunjukan sekaligus mengenal sosok yang punya sumbangsih besar bagi perkembangan musik liturgi di Indonesia.

Saya berfoto di depan banner Romo Prier
Saya berfoto di depan banner Romo Prier (doc. Riana Dewie)


Drama Musikal Hidup untuk Musik, Mengenang Romo Prier

Drama musikal Hidup untuk Musik diselenggarakan pada 16 Oktober 2026 di Auditorium Puskat, Jalan Ahmad Jazuli, Kotabaru, Yogyakarta. 

Pementasan ini menjadi bagian dari peringatan 1.000 hari wafat Romo Karl-Edmund Prier, SJ.

Begitu memasuki auditorium, perhatian saya langsung tertuju pada panggungnya yang luas. Ini menjadi pengalaman pertama saya duduk di dalam Auditorium Puskat Kotabaru.

Saya sempat memperkirakan ruangan tersebut mampu menampung hampir 500 orang, meskipun saya gak mengetahui kapasitas pastinya.

Tahu gak, hal menarik dari acara ini bukan sekadar bentuk pertunjukannya, melainkan cerita kehidupan yang dibawakan. 

Pertunjukan drama musikal dengan ratusan penonton
Pertunjukan drama musikal dengan ratusan penonton (doc. Riana Dewie)


Drama musikal menjadi medium untuk mengenang perjalanan Romo Prier, mulai dari kehidupan awalnya hingga pengabdian panjangnya dalam bidang musik.

Berbeda dari seminar atau acara mengenang tokoh yang identik dengan pidato, drama musikal memadukan dialog, nyanyian, musik, gerak, dan seni panggung. 

Perpaduan tersebut memungkinkan kisah seorang tokoh disampaikan dengan cara yang lebih ekspresif.

Melalui Hidup untuk Musik, penonton diajak mengenal sosok Romo Prier dan dedikasinya terhadap musik. 

Menurut saya sih, pendekatan seperti ini menarik karena sejarah gak hanya disampaikan melalui tulisan atau dokumentasi, tetapi juga lewat seni pertunjukan yang bisa dinikmati bersama.

Mengenal Romo Karl-Edmund Prier dan Sumbangsihnya bagi Musik Indonesia

Kolase foto dinding tentang perjalanan hidup Romo Karl-Edmund Prier SJ
Kolase foto dinding tentang perjalanan hidup Romo Karl-Edmund Prier SJ (doc. Riana Dewie)

Romo Karl-Edmund Prier, SJ merupakan imam Jesuit asal Jerman yang mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan musik, terutama musik liturgi di Indonesia. 

Ia datang ke Indonesia pada 1964 dan kemudian menjalani perjalanan panjang dalam pelayanan Gereja serta pengembangan musik.

Bersama Paul Widyawan dan rekan-rekannya, Romo Prier berperan dalam mengembangkan musik liturgi yang dekat dengan kebudayaan Indonesia. 

Salah satu tonggak pentingnya adalah Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta, yang berdiri pada 11 Juli 1971.

Musik liturgi yang berakar pada budaya Nusantara

Musik liturgi merupakan musik yang digunakan dalam perayaan ibadah. Dalam perkembangannya di Indonesia, musik ini juga bisa memanfaatkan kekayaan tradisi lokal melalui proses inkulturasi.

Artinya, unsur musik Nusantara dapat diolah untuk memperkaya ekspresi doa dan nyanyian Gereja tanpa kehilangan makna liturgisnya. Upaya ini menjadi bagian penting dari perjalanan musik Gereja Katolik di Indonesia.

Oh ya, salah satu karya yang lekat dengan nama Romo Prier adalah Madah Bakti, buku nyanyian yang digunakan dalam kehidupan liturgi umat Katolik. 

Seni panggung dan musik dalam drama musikal Hidup untuk Musik
Seni panggung dan musik dalam drama musikal Hidup untuk Musik (doc. Riana Dewie)


Selain mengembangkan lagu, ia juga aktif dalam pendidikan musik, pelatihan, lokakarya, serta penerbitan buku mengenai musik.

Kontribusinya gak berhenti pada penciptaan atau pengolahan lagu. Ia turut membantu membangun ruang belajar bagi para pelatih paduan suara, pemusik, dan mereka yang ingin mendalami musik liturgi.

Pada 2023, Institut Seni Indonesia Yogyakarta menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan kepada Romo Prier atas kontribusinya di bidang musik. Penghargaan ini menjadi salah satu pengakuan atas dedikasinya yang panjang.

Tahu gak, warisan seorang seniman gak selalu berbentuk karya yang bisa dipajang di museum. 

Pengetahuan, metode pengajaran, dan inspirasi yang diteruskan kepada generasi berikutnya juga menjadi bagian dari warisan seni yang berharga.

Pusat Musik Liturgi dan Keindahan Jogja Lewat Wisata Seni

Romo Karl-Edmund Prier SJ tokoh musik liturgi IndonesiaRomo Karl-Edmund Prier SJ tokoh musik liturgi Indonesia (doc. Riana Dewie)

Pusat Musik Liturgi Yogyakarta berperan penting dalam pengembangan musik liturgi dan inkulturasi di Indonesia. Karena itu, pementasan Hidup untuk Musik terasa selaras dengan perjalanan pengabdian Romo Prier.

Melalui acara ini, penghormatan terhadap Romo Prier dapat disampaikan sekaligus melalui seni pertunjukan. Ada beberapa hal yang membuat pementasan semacam ini bermakna:

  • Mengenang perjalanan hidup dan pengabdian. Kisah Romo Prier diperkenalkan kembali kepada masyarakat melalui medium seni.

  • Mengapresiasi warisan musik. Perjuangannya mengingatkan kita pada pentingnya musik liturgi yang dekat dengan budaya Indonesia.

  • Meneruskan inspirasi. Dedikasi terhadap musik dan pendidikan dapat menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Setelah acara selesai, saya dan teman-teman segera bersiap pulang. Namun, sebelum keluar gedung, perhatian saya tertuju pada kolase foto yang dipajang dalam bingkai-bingkai portabel, seperti tempat menempel mading. 

Foto-foto tersebut menampilkan perjalanan dan dedikasi Romo Prier sepanjang hidupnya.

Saya pun menyempatkan diri berfoto di sana untuk kenang-kenangan. 

Wkwkwkwk.... namanya juga jalan-jalan, rasanya kurang lengkap kalau gak membawa pulang sedikit kenangan, meskipun kali ini bukan oleh-oleh makanan atau foto pemandangan alam.

Pengalaman traveling kami menikmati seni dan budaya Yogyakarta
Pengalaman traveling kami menikmati seni dan budaya Yogyakarta (doc. Riana Dewie)

Dari pengalaman ini, saya semakin merasa bahwa traveling gak harus selalu tentang destinasi yang jauh atau pemandangan yang memanjakan mata. 

Mengunjungi ruang seni, menikmati pertunjukan, dan mengenal cerita di baliknya juga bisa menjadi perjalanan bermakna.

Yogyakarta punya banyak cara untuk membuat orang jatuh hati. Selain wisata alam dan kuliner, ada seni pertunjukan serta wisata budaya yang layak masuk agenda perjalanan. 

Jadi, gak ada salahnya sesekali mencari pengalaman baru lewat musik, teater, atau pameran seni.

Besok ada drama musikal apa lagi, ya? Yuk, menikmati Jogja lewat wisata seni. Siapa tahu, kita bisa bertemu di pertunjukan berikutnya!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

Louis Franc Palagan Jogja: Ngopi, Menikmati Pastry & Bertukar Cerita

Louis Franc Palagan Jogja

Tahu gak, salah satu hal menyenangkan saat punya sahabat dari luar kota adalah bisa menjadi teman jalan sekaligus pemandu wisata dadakan. 

Apalagi ketika mereka datang ke Jogja dan kami punya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Kali ini, giliran dua sahabat dari Surabaya yang berkunjung, dan saya bertugas menjemput mereka di hotel kawasan Malioboro.

Mereka menginap di Summer Season Hotel, yang lokasinya dekat dengan jalan utama Malioboro. 

Gak heran jika kawasan ini menjadi pilihan menginap bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pusat kota, berjalan-jalan, atau berburu kuliner tanpa harus pergi terlalu jauh.

Setelah bertemu, rencana kami sebenarnya sederhana: mencari tempat nongkrong untuk menghabiskan malam. Namun, rencana sederhana ternyata gak selalu berarti perjalanan yang mulus. Kami malah muter-muter Jogja tanpa tujuan yang benar-benar pasti.

Oh ya, saya sendiri sering merasa bahwa mencari tempat nongkrong bersama teman justru menjadi bagian paling membingungkan dari sebuah perjalanan. 

Semua punya ide, tetapi ketika ditanya mau ke mana, jawabannya malah saling melempar pilihan.

Setelah berkeliling dan berdiskusi, akhirnya kami memutuskan menuju kawasan Palagan, Sleman. 

Kawasan ini punya sejumlah pilihan kafe dan tempat makan yang bisa dipertimbangkan untuk menghabiskan waktu bersama teman.

Louis Franc Palagan Jogja sebagai tempat nongkrong malam
Louis Franc Palagan Jogja sebagai tempat nongkrong malam (doc. Riana Dewie)


Louis Franc Palagan Jogja, Pilihan Nongkrong Malam yang Menarik

Setelah sepakat melipir ke Palagan, pilihan kami jatuh ke Louis Franc. Tempat ini menjadi tujuan untuk menikmati kopi, pastry, dan obrolan santai setelah cukup lama berkeliling tanpa arah.

Tahu gak, meskipun saya tinggal di Jogja, ternyata saya baru sempat mampir ke Louis Franc kali ini. Padahal, tempat ini sudah cukup lama beroperasi. 

Kadang, tempat yang lokasinya gak terlalu jauh dari keseharian kita justru baru dikunjungi ketika ada momen tertentu.

Bangunan Semi-Industrial dengan Tampilan Minimalis

Kesan pertama saya saat tiba di Louis Franc adalah desain bangunannya yang punya sentuhan semi-industrial. 

Bagian atas bangunan terlihat seperti konstruksi yang belum sepenuhnya selesai, tetapi justru memberikan karakter tersendiri pada tampilannya.

Konsep seperti ini terasa menyatu dengan gaya industrial modern yang sering dijumpai pada kafe-kafe masa kini. Alih-alih menampilkan banyak ornamen atau warna mencolok, Louis Franc terlihat minimalis dan relatif clean.

Bagi saya, desain seperti ini cukup menarik karena perhatian pengunjung gak hanya tertuju pada dekorasi, tetapi juga pada suasana ruang dan pengalaman saat berada di dalamnya.

Sofa outdoor Louis Franc untuk menikmati waktu bersama sahabat
Sofa outdoor Louis Franc untuk menikmati waktu bersama sahabat (doc. Riana Dewie)


Cocok untuk Nongkrong Santai di Palagan

Louis Franc bisa menjadi salah satu pilihan tempat nongkrong di Palagan Jogja bagi pengunjung yang ingin menikmati waktu bersama teman. Saat itu, kami memilih area outdoor karena ingin duduk santai sambil berbincang.

Suasana malam membuat agenda nongkrong terasa lebih rileks. Kami gak sedang mengejar banyak tempat wisata atau membuat daftar aktivitas yang harus diselesaikan. 

Cukup duduk bersama, menikmati minuman, dan membiarkan obrolan mengalir.

Buat saya sih, kenyamanan tempat nongkrong gak selalu ditentukan oleh seberapa mewah desainnya. Posisi duduk yang nyaman, suasana yang mendukung, dan teman ngobrol yang menyenangkan juga punya peran besar.

Menikmati Pastry dan Obrolan Panjang di Sofa Outdoor

Salah satu hal yang membuat pengalaman kami di Louis Franc terasa menyenangkan adalah keberuntungan mendapatkan sofa di area outdoor. 

Kami berempat bisa duduk dengan nyaman tanpa perlu terburu-buru menyelesaikan pesanan.

Karena niat awalnya hanya mencari camilan, kami gak memesan makanan berat. Pilihan kami jatuh pada beberapa pastry dan minuman yang bisa dinikmati bersama.

Croissant dan pastry cokelat untuk teman ngopi malam
Croissant dan pastry cokelat untuk teman ngopi malam (doc. Riana Dewie)


Lima Pastry untuk Empat Orang, Ternyata Kebanyakan!

Kami memesan lima macam pastry, di antaranya roti abon, croissant, donat dengan topping cokelat, dan pastry cokelat. Untuk minuman, ada kopi dan teh leci yang dipilih sesuai selera masing-masing.

Pilihan ini terasa pas untuk agenda nongkrong malam. Ada yang lebih suka kopi, ada pula yang memilih minuman dengan rasa segar. Sementara itu, pastry menjadi teman ngemil sambil berbagi cerita.

Oh ya, lima pastry untuk empat orang ternyata bukan berarti semuanya akan habis dimakan. Awalnya, kami merasa jumlah tersebut masih masuk akal untuk dinikmati bersama. 

Roti abon favorit saya di Louis Franc Palagan Jogja
Roti abon favorit saya di Louis Franc Palagan Jogja (doc. Riana Dewie)


Namun, setelah mencicipi beberapa gigitan, rasa kenyang mulai datang lebih cepat daripada perkiraan.

Wkwkwkwk.... Ternyata agenda ngemil santai bisa berakhir dengan perjuangan menghabiskan makanan!

Akhirnya, sebagian pastry kami bawa pulang. Sayang juga jika makanan yang masih layak dikonsumsi harus ditinggalkan begitu saja. Setidaknya, sisanya masih bisa dinikmati keesokan pagi sebagai teman sarapan.

Saya pribadi terbiasa berusaha menghabiskan atau menyimpan makanan yang masih layak dikonsumsi, tentu dengan memperhatikan kebersihannya. 

Menurut saya, menghargai makanan merupakan kebiasaan sederhana yang penting, terlebih ketika masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan makanan sehari-hari.

Pilihan pastry di Louis Franc Palagan Jogja
Pilihan pastry di Louis Franc Palagan Jogja (doc. Riana Dewie)


Sofa Outdoor, Tempat yang Pas untuk Bertukar Cerita

Di sela-sela menikmati pastry dan minuman, obrolan kami terus berjalan. 

Ceritanya beragam, mulai dari keseharian, pekerjaan, pengalaman hidup, sampai hal-hal kecil yang mungkin terasa biasa, tetapi menyenangkan untuk dibagikan ketika bertemu teman lama.

Dua sahabat kami datang dari Surabaya, sehingga ada banyak cerita tentang perbedaan rutinitas dan pengalaman hidup yang bisa dibahas. 

Momen seperti ini terasa menyenangkan karena kami gak harus selalu melakukan aktivitas besar untuk menciptakan kenangan.

Tahu gak, terkadang quality time bersama sahabat justru terasa paling berkesan saat semua orang bisa menjadi diri sendiri. 

Gak perlu memikirkan agenda berikutnya, gak harus sibuk berpindah tempat, dan gak perlu membuat setiap momen terlihat sempurna.

Kami juga sempat mengabadikan beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Siapa tahu, foto-foto tersebut bisa menjadi pengingat untuk merencanakan pertemuan berikutnya di Jogja.

Bagi saya sih, Louis Franc bukan hanya soal menikmati kopi dan pastry pada malam itu. Pengalaman ini juga menjadi kesempatan untuk melepas rindu dan kembali terhubung dengan sahabat yang sehari-harinya tinggal di kota berbeda.

Kalau sedang mencari cafe untuk ngobrol santai di Jogja, suasana seperti ini bisa menjadi salah satu hal yang layak dipertimbangkan. 

Namun, tentu kenyamanan setiap pengunjung bisa berbeda, tergantung waktu kunjungan, kondisi kafe, dan area tempat duduk yang tersedia.

Suasana outdoor Louis Franc Palagan pada malam hari
Suasana outdoor Louis Franc Palagan pada malam hari (doc. Riana Dewie)


Menutup Malam dengan Berburu Soto di Dekat Tugu Jogja

Setelah cukup lama nongkrong di Louis Franc, ternyata malam kami belum benar-benar selesai. Kami masih ingin jalan-jalan sebentar sebelum akhirnya kembali ke tempat masing-masing.

Kali ini, tujuan kami bukan kafe lain, melainkan mencari soto untuk kuliner penutup malam. Pilihan pun jatuh ke Soto Sampah di kawasan dekat Tugu Jogja.

Dari menikmati pastry dan minuman di kafe, kami beralih ke semangkuk soto yang terasa cocok untuk melengkapi perjalanan malam. 

Ada sensasi tersendiri saat menikmati kuliner sederhana setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjalan-jalan dan mengobrol.

Oh ya, pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa wisata kuliner Jogja malam hari gak selalu harus dimulai dengan daftar tempat yang sudah disusun rapi. Kadang, keputusan spontan justru membawa kita pada pengalaman yang menyenangkan.

Tempat nongkrong outdoor di Louis Franc Palagan
Tempat nongkrong outdoor di Louis Franc Palagan (doc. Riana Dewie)


Wkwkwkwk.... Dari awal bingung menentukan tempat nongkrong, berakhir dengan makan soto setelah ngemil lima pastry. Benar-benar perjalanan yang sederhana, tetapi penuh cerita.

***

Buat saya sih, inti dari pertemuan kali ini bukan seberapa banyak tempat yang berhasil kami datangi, melainkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama. Louis Franc menjadi salah satu persinggahan yang menyenangkan, sementara Soto Sampah menjadi penutup malam yang melengkapi cerita kami.

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, ya! Besok mau ke kafe mana lagi, ya? Semoga masih ada banyak tempat menarik di Jogja yang bisa kami datangi bersama, lengkap dengan cerita baru, camilan lezat, dan tawa yang gak ada habisnya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Berburu Senja di Geblek Pari Kulon Progo Lewat Drone

Menikmati sore di Kulon Progo dengan latar pegunungan

Ada kalanya rencana jalan-jalan justru muncul ketika kita sama sekali gak sedang merencanakannya. Begitu juga pengalaman saya berburu senja di Geblek Pari Kulon Progo. 

Berawal dari sebuah telepon dadakan, sore yang awalnya biasa saja berubah menjadi kesempatan menikmati hamparan sawah, pegunungan, kuliner lokal, dan pemandangan senja dari perspektif drone.

Tahu gak, saya memang punya kelemahan terhadap pemandangan alam, terutama saat matahari mulai turun dan cahaya keemasan menyentuh hamparan hijau. 

Rasanya ada saja alasan untuk berhenti sejenak, mengeluarkan kamera, lalu mengabadikan momen. 

Kali ini, pengalaman tersebut terasa lebih istimewa karena saya bisa menyaksikan keindahan alam dari dua sudut pandang sekaligus: langsung dari lokasi dan melalui layar drone.

1. Geblek Pari, Pilihan untuk Menikmati Sore di Kulon Progo

Singkat cerita, siang itu saya sedang berziarah ke Gua Maria di Klaten ketika sebuah telepon masuk. Ada ajakan untuk nge-drone di Kulon Progo pada sore harinya. 

Wah, tawaran yang cukup sulit ditolak, apalagi saya memang senang menikmati suasana alam terbuka.

Saat ditanya mau ke mana, ternyata ada dua pilihan tempat dengan bentangan alam yang menarik untuk dijelajahi menggunakan drone. Setelah mempertimbangkan suasana dan pemandangannya, akhirnya kami memilih Geblek Pari.

Begitu tiba, kesan pertama saya adalah, wow, tempatnya menyenangkan! Hamparan sawah dan latar pegunungan langsung mencuri perhatian. Buat saya yang menyukai wisata alam, kombinasi seperti ini punya daya tarik tersendiri. 

Suasana Geblek Pari sore hari di Kulon Progo
Suasana Geblek Pari sore hari di Kulon Progo (doc. Riana Dewie)


Gak perlu dekorasi yang berlebihan, pemandangan alami saja sudah bisa membuat suasana terasa istimewa.

Geblek Pari menjadi salah satu pilihan destinasi wisata Kulon Progo untuk menikmati suasana pedesaan sambil bersantai dan mencicipi kuliner. 

Area terbuka dengan pemandangan hijau memberikan pengalaman yang berbeda dari menghabiskan waktu di tengah keramaian kota.

Tahu gak, salah satu hal yang membuat saya betah adalah suasananya yang terasa hidup. Ada anak-anak berlarian, pengunjung bercengkerama, dan orang-orang yang duduk santai menikmati waktu bersama keluarga. 

Di beberapa area tersedia kursi dan gazebo yang bisa dimanfaatkan untuk duduk sambil menyantap makanan.

Udara sore yang terasa nyaman juga membuat saya ingin berjalan lebih lama. 

Buat pencinta pemandangan hijau, Geblek Pari sore hari bisa menjadi pilihan untuk melepas penat tanpa harus menyusun agenda liburan yang rumit.

2. Menunggu Senja Sambil Menikmati Suasana Geblek Pari

Sebelum berburu senja, tentu ada ritual kecil yang gak boleh dilewatkan: jalan-jalan sambil mengambil foto. Saya memilih berfoto di sekitar sawah dengan latar belakang pegunungan. 

Hasilnya? Sederhana, tetapi justru itu yang saya suka. Ada hamparan hijau, langit terbuka, dan suasana pedesaan yang terasa menenangkan.

Aneka penyewaan sepeda listrik di Geblek Pari Kulon Progo
Aneka penyewaan sepeda listrik di Geblek Pari Kulon Progo (doc. Riana Dewie)


Di kawasan ini, pengunjung juga bisa menjumpai sepeda listrik yang disewakan untuk berkeliling. Aktivitas tersebut bisa menjadi alternatif bagi yang ingin menikmati area sekitar tanpa terlalu banyak berjalan kaki. 

Namun, saya memilih berjalan santai saja karena tujuan utama sore itu memang menikmati suasana, bukan mengejar banyak tempat dalam satu kunjungan.

Oh ya, buat saya, pengalaman nyore gak selalu harus diisi dengan aktivitas yang padat. Kadang, cukup berjalan perlahan, memperhatikan pemandangan, dan mengambil beberapa foto sudah menyenangkan. 

Ada semacam jeda kecil dari rutinitas yang biasanya membuat kepala penuh dengan urusan pekerjaan.

Menikmati Golden Hour yang Bikin Susah Beranjak

Momen yang paling saya tunggu akhirnya datang. Cahaya matahari mulai berubah, perlahan menjadi lebih hangat dan keemasan. Inilah golden hour, waktu menjelang matahari terbenam ketika cahaya alami bisa memberikan kesan dramatis pada foto maupun video.

Cantik banget, sih! Rasanya sudah lama saya gak menikmati golden hour seindah itu. Hamparan sawah, siluet pegunungan, dan perubahan warna langit menciptakan pemandangan yang membuat saya ingin berhenti sejenak dari segala kesibukan.

Saya pun bersyukur kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan menikmati keindahan seperti ini. Hal sederhana yang terkadang kita anggap biasa ternyata bisa terasa begitu berharga ketika benar-benar diperhatikan.

Kuliner geblek khas Kulon Progo untuk teman menikmati sore
Kuliner geblek khas Kulon Progo untuk teman menikmati sore (doc. Riana Dewie)


Sambil menikmati suasana, kami memesan beberapa makanan dan minuman. Ada nasi goreng telur, pisang goreng, serta geblek, camilan khas Kulon Progo berbahan dasar pati singkong. 

Untuk minuman, pilihannya juga beragam, mulai dari wedang tape, susu jahe, kopi, hingga es dawet dan es cendol.

Nasi goreng telur cocok dinikmati saat Nyore di Geblek Pari
Nasi goreng telur cocok dinikmati saat Nyore di Geblek Pari (doc. Riana Dewie)


Menikmati makanan sambil memandangi pemandangan terbuka punya sensasi tersendiri. Apalagi setelah berjalan-jalan dan mengambil foto, duduk sejenak sambil menyantap hidangan terasa makin nikmat. Wkwkwkwk.... ternyata agenda berburu senja juga perlu didukung urusan perut!

3. Berburu Senja dari Ketinggian Lewat Drone

Salah satu alasan kunjungan kali ini terasa berbeda adalah kehadiran drone yang dibawa adik ipar saya. Kebetulan, ia memang membawa perangkat tersebut untuk membuat konten di lokasi ini. 

Saya pun berkesempatan melihat Geblek Pari dari perspektif yang selama ini jarang saya nikmati secara langsung.

Menyiapkan Drone Sebelum Matahari Terbenam

Menerbangkan drone untuk merekam pemandangan saat senja membutuhkan perencanaan waktu. Golden hour berlangsung relatif singkat, sehingga operator perlu memperhatikan kondisi cahaya, cuaca, arah angin, dan daya baterai.

Area terbuka memang menarik untuk pengambilan gambar, tetapi keselamatan tetap menjadi prioritas. Sebelum menerbangkan drone, penting untuk memastikan lokasi aman, memperhatikan keberadaan pengunjung, serta mematuhi aturan penerbangan yang berlaku. 

Hindari pula menerbangkan drone terlalu dekat dengan orang lain atau melintasi area yang berisiko.

Dalam kunjungan ini, adik ipar saya yang mengendalikan drone. Saya menikmati prosesnya sambil melihat bagaimana bentangan alam yang tampak biasa dari permukaan tanah dapat berubah menjadi komposisi visual yang menarik ketika dilihat dari atas.

Foto suasana pedesaan di Geblek Pari Kulon Progo dari lensa drone
Foto suasana pedesaan di Geblek Pari Kulon Progo dari lensa drone (doc. Riana Dewie)


Menangkap Pesona Geblek Pari dari Udara

Ternyata, menyaksikan proses perekaman foto udara dan video aerial secara langsung itu menyenangkan. Dari perspektif ketinggian, pola hamparan sawah terlihat lebih jelas. 

Bentangan lahan, garis pematang, serta latar pegunungan membentuk pemandangan yang berbeda dibandingkan ketika kita berdiri di bawahnya.

Oh ya, bagian paling seru adalah ketika hasil rekaman mulai diperlihatkan. Saya langsung girang melihatnya! 

Wkwkwkwk.... ternyata pemandangan yang sudah terasa indah dari bawah bisa menghadirkan kejutan lain saat dilihat dari udara.

Bukan berarti hasil drone selalu lebih bagus daripada foto biasa. Keduanya punya kelebihan masing-masing. 

Foto udara Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone
Foto udara Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone (doc. Riana Dewie)


Foto dari permukaan tanah bisa menangkap detail, suasana, dan ekspresi manusia, sedangkan drone memberikan gambaran lebih luas tentang lanskap.

Bagi saya, justru perpaduan dua perspektif inilah yang menarik. Kita bisa menikmati langsung udara sore dan suasana sekitar, kemudian melihat kembali keindahan tempat yang sama melalui hasil rekaman dari ketinggian.

Jika kamu gemar fotografi atau membuat konten perjalanan, pengalaman seperti ini bisa menjadi cara untuk mengeksplorasi destinasi wisata dengan pendekatan visual yang berbeda. 

Namun, tanpa drone sekalipun, menikmati senja di Geblek Pari tetap bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.

4. Geblek Pari dan Cerita Sore yang Berkesan

Ada sesuatu yang menyenangkan dari perjalanan spontan seperti ini. Gak perlu rencana panjang, tiket mahal, atau agenda yang terlalu padat. 

Terkadang, sebuah ajakan sederhana sudah cukup untuk membawa kita pada pengalaman baru yang menyegarkan pikiran.

Buat saya, nyore di Kulon Progo bukan semata-mata tentang mendapatkan foto sunset yang bagus. 

Ada kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menikmati makanan lokal, mengobrol dengan keluarga, dan menyadari bahwa hidup juga punya banyak hal kecil yang layak disyukuri.

Tahu gak, menikmati waktu luang seperti ini juga mengingatkan saya bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk bernapas. Pekerjaan, tanggung jawab, dan berbagai persoalan memang gak bisa selalu dihindari. 

Pemandangan senja di Geblek Pari yang asyik
Pemandangan senja di Geblek Pari yang asyik (doc. Riana Dewie)


Namun, sesekali mengambil jeda bisa membantu kita kembali menghadapi semuanya dengan pikiran yang lebih segar.

Di tengah rasa syukur itu, pikiran saya juga tertuju pada saudara-saudara kita di Kalimantan yang terdampak kebakaran hutan. 

Ketika saya masih bisa menikmati udara sore dan pemandangan alam dengan nyaman di kota Jogja, ada masyarakat yang harus menghadapi kondisi lingkungan yang mengganggu aktivitas dan kualitas udara mereka.

Saya berharap kebakaran hutan bisa segera tertangani, masyarakat yang terdampak mendapat perlindungan, dan alam yang rusak dapat dipulihkan. 

Semoga kita juga semakin peduli terhadap lingkungan, sebab udara bersih dan alam yang sehat bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan kebutuhan bersama.

***

Sore itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda menerbangkan drone. Ada pemandangan indah, makanan sederhana, tawa kecil, dan pengingat untuk lebih menghargai kesempatan menikmati alam. Rasanya menyenangkan bisa pulang membawa cerita, bukan hanya foto dan video.

Golden Sunrise di Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone
Foto Golden Sunrise di Geblek Pari Kulon Progo menggunakan drone (doc. Riana Dewie)


Jadi, jika suatu hari kamu ingin menikmati wisata sore hari di Kulon Progo, Geblek Pari bisa masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi. 

Kamu bisa datang untuk bersantai, mencicipi kuliner lokal, mengambil foto, atau sekadar duduk menikmati perubahan warna langit menjelang malam.

Gak harus membawa drone untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan. Terkadang, cukup hadir sepenuhnya, menikmati suasana, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat sudah menjadi hadiah kecil yang berarti.

Oh ya, semoga kita selalu punya kesempatan untuk menikmati senja, menjaga alam, dan mensyukuri hal-hal sederhana yang sering kali luput dari perhatian. 

Karena pada akhirnya, perjalanan yang menyenangkan bukan cuma soal seberapa jauh kita pergi, tetapi juga tentang apa yang kita rasakan dan pelajari selama perjalanan itu.





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten, Serasa Menyusuri Lorong Yerusalem

Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten yang diresmikan Oktober 2026.

Minggu, 11 Oktober 2026, saya bersama dua teman berangkat dari Jogja untuk mengunjungi Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten. 

Sebenarnya kami sudah janjian untuk berangkat sekitar pukul delapan pagi. Namun, karena saya mengikuti perayaan Ekaristi pukul delapan di gereja kawasan Kalasan, saya berangkat dari rumah lebih awal, sekitar pukul 07.15.

Sepulang dari gereja, kedua teman saya ternyata sudah menunggu di depan. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gua Maria Ratuning Katentreman, yang belakangan dikenal dengan singkatan GMRK.

Tahu gak, salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya begitu sampai adalah desain arsitekturnya. Ada lorong dengan tampilan yang mengingatkan saya pada gambaran lorong di Yerusalem. 

Katanya sih, suasananya mirip dengan lorong di Tanah Suci. Saya sendiri belum pernah mengunjungi Yerusalem secara langsung, jadi penilaian ini tentu berdasarkan kesan visual saja, hihihihi....

Meski begitu, kesan pertama tersebut cukup membuat saya penasaran untuk melihat lebih dekat. Tempat ziarah yang baru diresmikan pada 1 Oktober 2026 ini menawarkan pengalaman yang terasa berbeda dari beberapa Gua Maria yang pernah saya kunjungi.

Buat umat Katolik yang sedang mencari tempat untuk berdoa, atau kamu yang tertarik mengenal destinasi religi dengan arsitektur unik, GMRK bisa menjadi tempat yang menarik untuk masuk daftar kunjungan.

Gapura Gua Maria Ratuning Katentreman dengan material batu alam.
Gapura Gua Maria Ratuning Katentreman dengan material batu alam (doc. Riana Dewie)


Mengenal Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten

Gua Maria Ratuning Katentreman merupakan tempat ziarah yang berada di wilayah Klaten, Jawa Tengah. Berdasarkan informasi yang saya miliki, tempat ini diresmikan pada 1 Oktober 2026. Artinya, saat saya berkunjung sepuluh hari kemudian, usianya masih sangat muda sebagai destinasi ziarah.

Tahu gak, nama Ratuning Katentreman sendiri terasa menarik karena menggunakan bahasa Jawa. Kata ratu berarti ratu, sedangkan katentreman berkaitan dengan ketenteraman atau kedamaian. Secara harfiah, nama tersebut dapat dimaknai sebagai Ratu Kedamaian.

Dalam tradisi Katolik, Bunda Maria dihormati sebagai Bunda Yesus dan menjadi sosok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan iman umat. 

Devosi kepada Bunda Maria menjadi salah satu bentuk ungkapan iman, doa, dan penghormatan yang dijalani umat Katolik.

Nama Ratuning Katentreman pun terasa selaras dengan harapan banyak orang yang datang ke tempat ziarah: menemukan ketenangan, menyampaikan doa, dan mengambil waktu sejenak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dinding Gua Maria Ratuning Katentreman dari bagian depan
Dinding Gua Maria Ratuning Katentreman dari bagian depan (doc. Riana Dewie)


Meski demikian, saya belum menemukan keterangan resmi yang cukup untuk menjelaskan secara terperinci sejarah pembangunan GMRK, pihak yang menggagasnya, maupun filosofi lengkap di balik desain bangunannya. 

Informasi tersebut menarik untuk ditelusuri lebih lanjut agar kita bisa mengenal tempat ini bukan hanya dari tampilan fisiknya, tetapi juga dari cerita di balik pembangunannya.

Lorong GMRK yang Mengingatkan pada Yerusalem

Kalau ada satu bagian yang paling membuat saya penasaran saat mengunjungi GMRK, jawabannya tentu lorongnya.

Begitu mendekati bagian depan, saya disambut gapura bertuliskan “Gua Maria Ratuning Katentreman”. Materialnya tampak menyerupai batu alam dengan perpaduan warna krem. 

Kesan yang muncul cukup kuat, seolah-olah saya sedang memasuki kawasan dengan karakter arsitektur yang berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Tahu gak, justru bagian lorong inilah yang membuat pengalaman berkunjung ke GMRK terasa unik. Bukan hanya datang, melihat patung Bunda Maria, lalu pulang, tetapi ada perjalanan visual yang bisa dinikmati sejak memasuki area tersebut.

Mengapa lorongnya mengingatkan pada Yerusalem?

Yerusalem dikenal luas sebagai kota yang memiliki banyak situs penting dalam sejarah dan tradisi Kekristenan. Karena itu, gambaran lorong dengan nuansa batu dan suasana yang mengingatkan pada kawasan bersejarah di Tanah Suci bisa memunculkan asosiasi tersendiri bagi pengunjung.

Di GMRK, kesan tersebut muncul dari tampilan gapura dan lorong yang saya amati saat berkunjung. 

Tentu, kemiripan visual ini bukan berarti bangunannya merupakan replika persis suatu lorong di Yerusalem. Untuk memastikan sumber inspirasi arsitekturnya, masih diperlukan keterangan dari pengelola.

Namun, menurut saya, daya tarik sebuah tempat gak selalu harus berasal dari bangunan yang megah atau dekorasi yang berlebihan. Detail sederhana yang dirancang dengan karakter kuat pun bisa menciptakan pengalaman berbeda.

Lorong Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten yang mirip lorong Yerusalem.
Lorong Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten yang mirip lorong Yerusalem (doc. Riana Dewie)


Sensasi ziarah yang berbeda

Saya cukup menikmati perjalanan menyusuri lorong tersebut. Ada rasa penasaran tentang seperti apa bagian berikutnya, sekaligus keinginan untuk mengamati detail bangunannya lebih dekat.

Oh ya, pengalaman seperti ini juga membuat kunjungan terasa lebih berkesan karena kita gak hanya datang untuk melihat satu titik utama. Ada proses berjalan, mengamati, dan menikmati suasana sebelum akhirnya tiba di bagian yang menjadi tujuan.

Bagi saya, GMRK menawarkan sensasi ziarah yang berbeda dari tempat-tempat yang selama ini pernah saya kunjungi. Wajar jika desain lorongnya menjadi salah satu hal yang paling mudah diingat setelah pulang.

Detail arsitektur lorong GMRK di salah satu pemberhentian Jalan Salib
Detail arsitektur lorong GMRK di salah satu pemberhentian Jalan Salib (doc. Riana Dewie)


Bukan Sekadar Tempat Ziarah, Ini Daya Tarik GMRK

Setelah melewati lorong, perjalanan saya berlanjut hingga ke bagian belakang. Di ujung area tersebut, akhirnya saya bisa melihat patung Bunda Maria yang cantik.

Rasanya seperti menemukan tujuan dari perjalanan singkat yang dimulai sejak gapura depan. Dari luar, perhatian kita tertuju pada bentuk lorong dan material bangunan. Setelah menyusurinya, pandangan kemudian diarahkan ke sosok Bunda Maria yang menjadi pusat perhatian di area ziarah.

Tahu gak, pengalaman berkunjung ke tempat seperti ini bisa memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Kita bisa menggunakan waktu untuk berdoa, merenung, atau sekadar menenangkan pikiran sambil menghormati suasana yang ada.

Banyak peziarah yang berdoa di depan Patung Bunda Maria Gua Maria Ratuning Katentreman.
Banyak peziarah yang berdoa di depan Patung Bunda Maria Ratuning Katentreman (doc. Riana Dewie)


Tempat untuk berdoa dan refleksi diri

Bagi umat Katolik, GMRK dapat menjadi salah satu tempat untuk menjalankan devosi kepada Bunda Maria. Pengunjung bisa mengambil waktu untuk menyampaikan doa pribadi sesuai tradisi dan kebiasaan masing-masing.

Tentu, tujuan utama tempat ziarah bukan sekadar mengagumi bangunan atau mengambil foto. Ada nilai spiritual yang membuat kunjungan terasa lebih bermakna, terutama ketika kita datang dengan niat berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kalau saya sih, justru perpaduan antara pengalaman visual dan suasana doa inilah yang membuat tempat ziarah menarik untuk dikunjungi. Arsitektur menjadi bagian dari pengalaman, sedangkan makna spiritual tetap menjadi inti kunjungan.

Ramai dikunjungi sejak diresmikan

Saat saya datang pada 11 Oktober 2026, masih terlihat banyak pengunjung yang datang untuk berdoa. Antrean doa juga masih cukup ramai. Hal ini bisa dimaklumi karena GMRK baru diresmikan beberapa hari sebelumnya dan sedang menarik perhatian banyak orang.

Namun, saya gak ingin menyimpulkan bahwa semua pengunjung datang karena viral. Setiap orang tentu memiliki tujuan masing-masing, mulai dari berziarah, mengungkapkan rasa syukur, menyampaikan permohonan dalam doa, hingga mengenal tempat baru.

Bagi yang senang mengamati arsitektur, lorong dan gapura GMRK juga menawarkan detail yang menarik untuk diperhatikan. Sementara itu, bagi peziarah, keberadaan patung Bunda Maria menjadi bagian penting dari pengalaman spiritual.

Wkwkwkwk.... ternyata satu kunjungan singkat bisa meninggalkan banyak hal untuk diceritakan, ya!

Suasana ziarah saat saya berdoa Rosario di GMRK beberapa hari setelah peresmian.
Suasana ziarah saat saya berdoa Rosario di GMRK beberapa hari setelah peresmian (doc. Riana Dewie)


Tips Berkunjung ke Gua Maria Ratuning Katentreman

Tertarik mengunjungi Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten? Sebelum berangkat, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan agar perjalanan lebih nyaman.

1. Pastikan alamat dan rute perjalanan

Sebelum berangkat, cari informasi lokasi GMRK melalui kanal resmi pengelola atau gunakan tautan peta yang dibagikan oleh pihak terkait. Pastikan pin lokasi benar-benar mengarah ke Gua Maria Ratuning Katentreman yang baru diresmikan di Klaten, bukan tempat lain yang memiliki nama serupa.

Saya belum bisa memastikan alamat jalan lengkap GMRK maupun titik koordinatnya dari sumber publik yang tersedia. Karena itu, sebaiknya jangan mengandalkan nama tempat saja tanpa memeriksa kembali lokasi tujuan.

2. Periksa jam kunjungan

Jam operasional dan aturan kunjungan perlu dikonfirmasi sebelum berangkat. Terlebih, tempat ini masih tergolong baru sehingga informasi mengenai pengaturan pengunjung mungkin dapat berubah.

Oh ya, jika kamu berencana datang bersama rombongan, ada baiknya menanyakan terlebih dahulu apakah terdapat ketentuan khusus untuk kunjungan kelompok atau kegiatan doa bersama.

3. Jaga ketenangan selama berziarah

GMRK merupakan tempat ziarah, sehingga pengunjung perlu menghormati orang lain yang sedang berdoa. Hindari berbicara terlalu keras, berdesakan, atau menghalangi jalur pengunjung yang hendak menuju area doa.

Jika ingin mengambil foto, perhatikan kondisi sekitar. Jangan sampai keinginan mendapatkan gambar yang bagus justru mengganggu orang yang sedang menjalankan ibadah.

Saya selfie dengan dua teman saya di GMRK
Saya selfie dengan dua teman saya di GMRK (doc. Riana Dewie)


4. Siapkan waktu untuk menikmati suasana

Menurut saya sih, mengunjungi tempat ziarah akan terasa lebih nyaman jika kita gak terburu-buru. Berikan waktu untuk mengamati arsitektur, menyusuri lorong, dan berdoa sesuai kebutuhan.

Jika antrean sedang ramai, bersabarlah dan ikuti arahan petugas atau pengelola. Hindari memaksakan diri mengambil foto di area yang sedang digunakan untuk berdoa.

Penutup

Kunjungan saya bersama dua teman ke Gua Maria Ratuning Katentreman Klaten pada 11 Oktober 2026 meninggalkan kesan tersendiri. 

Dari gapura bernuansa batu alam, lorong yang mengingatkan pada Yerusalem, hingga patung Bunda Maria di bagian belakang, semuanya menghadirkan pengalaman ziarah yang berbeda.

Buat saya, daya tarik GMRK bukan hanya soal kemiripan arsitekturnya dengan gambaran lorong di Tanah Suci. 

***

Tempat ini juga mengingatkan bahwa perjalanan bisa menjadi kesempatan untuk mengambil jeda, menenangkan pikiran, dan memberi ruang bagi kehidupan spiritual.

Kalau kamu berencana berkunjung, pastikan informasi lokasi dan jam kunjungan sudah terkonfirmasi. Dengan begitu, perjalanan bisa dipersiapkan lebih nyaman dan waktu di tempat ziarah pun dapat dinikmati dengan baik.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments