In Traditions

Taman Memorial Delingan, Tempat Peristirahatan yang Hijau, Nyaman, dan Terawat

Taman Memorial Delingan Karanganyar dengan area hijau dan makam tertata rapi

Jujur saja, selama ini bayangan saya tentang makam selalu identik dengan suasana yang sakral, sunyi, bahkan sedikit menyeramkan. 

Karena itulah, saat pertama kali berkunjung ke Taman Memorial Delingan, pandangan saya langsung berubah. 

Tempat ini justru menghadirkan suasana yang begitu tenang, hijau, dan terasa nyaman, jauh dari kesan angker yang sering melekat pada sebuah area pemakaman.

Semua bermula sekitar tahun lalu ketika keluarga besar mengadakan doa 1.000 hari berpulangnya om saya di Solo. 

Saat prosesi pemakaman dulu saya memang gak ikut hadir. Jadi, momen doa 1.000 hari inilah yang menjadi kesempatan pertama saya mengunjungi makam Taman Memorial Delingan

Oh ya, awalnya saya mengira tempatnya akan sama seperti kompleks makam pada umumnya. Ternyata dugaan saya meleset jauh.

Begitu memasuki kawasan ini, mata saya langsung disambut area hijau, pepohonan yang tertata rapi, serta udara segar khas Karanganyar. 

Rasanya lebih mirip sedang berjalan di sebuah taman daripada berada di area peristirahatan terakhir. 

Kalau saya sih, suasana seperti ini justru membuat proses ziarah terasa lebih damai dan penuh penghormatan. 

Hihihihi... saya bahkan sempat berkata dalam hati, "Kok bisa ya ada makam seindah ini?"

Lewat tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman sekaligus memberikan sedikit edukasi. 

Siapa tahu suatu hari nanti teman-teman membutuhkan informasi mengenai pemakaman modern di Karanganyar atau sedang mencari referensi tempat pemakaman keluarga yang nyaman. 

Semoga artikel ini bisa menjadi salah satu gambaran sebelum berkunjung langsung.

Misa 1000 Hari di Gua Maria Mojosongo Solo
Misa 1000 Hari di Gua Maria Mojosongo Solo (doc. Riana Dewie)


Perjalanan Menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar

Perjalanan saya dimulai sekitar pukul 09.00 pagi dari Yogyakarta. Tujuan pertama adalah mengikuti misa doa 1.000 hari di Gua Maria Mojosongo, Solo. 

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, keluarga besar melanjutkan perjalanan menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar yang berjarak kurang lebih satu jam dari lokasi misa. 

Rutenya relatif mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus dan lalu lintas yang saat itu cukup lancar.

Sepanjang perjalanan, saya justru menikmati pemandangan khas Karanganyar yang selalu bikin rindu. Rasanya seperti sedang mini traveling karena sudah cukup lama saya gak melewati daerah ini. 

Perjalanan menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar
Perjalanan menuju Taman Memorial Delingan Karanganyar (doc. Riana Dewie)


Di beberapa titik, saya bahkan teringat kawasan wisata dan kebun teh yang dulu sempat viral. 

Oh ya, perjalanan menuju lokasi juga terasa menyenangkan karena udaranya semakin sejuk ketika mendekati kawasan Delingan.


Sesampainya di Taman Memorial Delingan, Saya Langsung Takjub

Begitu mobil memasuki kawasan Taman Memorial Delingan, kesan pertama yang muncul di benak saya adalah, "Ini benar-benar area pemakaman?" 

Soalnya, suasananya jauh berbeda dari makam-makam yang pernah saya datangi sebelumnya. 

Hamparan rumput hijau yang terawat, pepohonan rindang dan sejuk, serta lingkungan bersih membuat tempat ini terasa begitu menenangkan.

Area ziarah keluarga yang nyaman di makam Taman Memorial Delingan Solo
Area ziarah keluarga yang nyaman di makam Taman Memorial Delingan Solo (doc. Riana Dewie)


Oh ya, saya baru menyadari kalau konsep yang diusung memang pemakaman bernuansa taman. Jadi, hampir di setiap sudutnya terlihat desain lanskap yang tertata rapi. 

Alih-alih menghadirkan kesan suram, kawasan ini justru menghadirkan suasana damai yang membuat keluarga bisa berziarah dengan lebih nyaman.

Hal lain yang saya sukai adalah akses di dalam kawasan makam. 

Jalan kendaraan sudah diaspal dengan baik dan mengikuti kontur perbukitan, sehingga memudahkan pengunjung menuju blok makam tanpa harus berjalan terlalu jauh. 

Saat mencari makam om saya pun prosesnya cukup mudah. Tinggal mengikuti jalur yang tersedia, kami sudah sampai di lokasi tujuan. 

Kalau saya sih, konsep seperti ini sangat membantu, terutama bagi keluarga yang membawa orang tua atau lansia.

Saya juga melihat hampir seluruh makam tertata rapi dengan ukuran yang seragam sesuai kawasannya. 

Di sekelilingnya terdapat pepohonan yang tertata, taman-taman kecil, serta penghijauan yang membuat udara terasa lebih segar. 

Rasanya benar-benar seperti berada di sebuah taman yang nyaman untuk melakukan refleksi dan mengenang orang-orang tercinta.

Suasana pemakaman bernuansa taman di Taman Memorial Delingan yang rindang dan sejuk
Suasana pemakaman bernuansa taman di Taman Memorial Delingan yang rindang dan sejuk (doc. Riana Dewie)


Yang paling membekas bagi saya justru suasananya. Tempat ini sama sekali gak terkesan angker. Sebaliknya, saya justru merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. 

Mungkin karena lingkungan yang asri, mungkin juga karena perawatan rutin yang terlihat sangat baik di setiap sudut kawasan. 

Hahahaha... bahkan kalau hanya melihat foto-fotonya tanpa diberi tahu, mungkin banyak orang akan mengira ini adalah taman kota, bukan kompleks pemakaman.

Pengalaman itu membuat saya memahami kenapa kini semakin banyak keluarga memilih kompleks pemakaman modern seperti ini. 

Selain menjadi tempat ziarah yang nyaman, kawasan ini juga memberikan rasa tenang bagi keluarga yang datang untuk mendoakan orang yang mereka cintai.

Pemandangan pemakaman hijau dengan pepohonan tertata di Taman Memorial Delingan
Pemandangan pemakaman hijau dengan pepohonan tertata di Taman Memorial Delingan (doc. Riana Dewie)


5 Hal yang Wajib Kamu Tahu Tentang Taman Memorial Delingan

Setelah melihat langsung suasananya, saya jadi penasaran untuk mencari tahu lebih jauh mengenai Taman Memorial Delingan

Ternyata ada beberapa fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat.

1. Lokasinya Strategis dan Mudah Dijangkau

Taman Memorial Delingan berada di kawasan Delingan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. 

Lokasinya relatif dekat dari pusat Kota Solo sehingga sering disebut juga sebagai salah satu taman memorial Solo atau pemakaman dekat Solo yang cukup dikenal masyarakat. 

Akses jalannya sudah baik dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat dengan nyaman.

Oh ya, menurut saya lokasi ini menjadi salah satu nilai plus tersendiri. Saat keluarga ingin berziarah, perjalanan menuju lokasi terasa cukup nyaman dan gak melelahkan.

2. Tersedia Beberapa Grade atau Kelas Makam

Seperti halnya banyak pemakaman premium lainnya, makam Taman Memorial Delingan juga memiliki beberapa pilihan area atau grade. 

Perbedaan ini biasanya dipengaruhi oleh posisi lahan, luas kavling, pemandangan sekitar, hingga ukuran kijing atau penanda makam.

Karena itulah, harga yang ditawarkan bisa berbeda antara satu area dengan area lainnya. Kalau saya sih, hal ini cukup wajar karena kebutuhan dan kemampuan setiap keluarga memang berbeda-beda.

Kompleks pemakaman premium dengan suasana damai di Taman Memorial Delingan
Kompleks pemakaman premium dengan suasana damai di Taman Memorial Delingan (doc. Riana Dewie)


3. Perluasan Area Terus Dilakukan

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah luasnya kawasan makam ini. 

Bahkan dari beberapa informasi yang saya peroleh, pengembangan area masih terus dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kompleks pemakaman modern yang nyaman dan terawat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa cukup banyak keluarga yang memilih tempat pemakaman keluarga ini sebagai area peristirahatan terakhir orang-orang tercinta. 

Selain luas, banyak kavling yang memiliki ukuran cukup lega sehingga memberikan kesan eksklusif dan lapang.

4. Kisaran Biaya Menyesuaikan Tipe dan Lokasi

Untuk urusan biaya, nominalnya tentu bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan pengelola. 

Namun secara umum, sistem yang digunakan hampir sama dengan berbagai taman memorial di Jawa Tengah, yaitu berdasarkan tipe lahan, ukuran kavling, dan posisi lokasi makam.

Dari berbagai referensi pemakaman modern di Indonesia, harga kavling makam biasanya dimulai dari puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah untuk area yang lebih eksklusif. 

Karena itu, saya menyarankan teman-teman untuk menghubungi pihak pengelola secara langsung apabila membutuhkan informasi harga terbaru dan paling akurat.

5. Fasilitas yang Membuat Ziarah Lebih Nyaman

Inilah bagian yang menurut saya paling terasa saat berkunjung. Beberapa keunggulan yang langsung terlihat antara lain:

- Jalan internal yang sudah baik.
- Area parkir yang memadai.
- Lingkungan yang bersih dan terawat.
- Banyak area teduh dengan pepohonan rindang.
- Suasana tenang untuk berdoa dan melakukan refleksi.
- Perawatan kawasan yang dilakukan secara berkala.

Oh ya, faktor inilah yang membuat kawasan ini terasa sebagai pemakaman asri sekaligus makam keluarga yang nyaman

Bagi keluarga yang rutin berziarah, keberadaan fasilitas seperti ini tentu memberikan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dibanding area makam konvensional.

Pemakaman asri di Karanganyar dengan konsep taman dan udara segar
Pemakaman asri di Karanganyar dengan konsep taman dan udara segar (doc. Riana Dewie)


Memberikan yang Terbaik untuk Mereka yang Berpulang

Setelah berkunjung ke Taman Memorial Delingan, saya pulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. 

Saya jadi menyadari bahwa bentuk kasih sayang kepada orang-orang tercinta ternyata bisa diwujudkan dengan banyak cara, termasuk memilih area peristirahatan terakhir yang nyaman, terawat, dan penuh penghormatan.

Oh ya, tentu saja setiap keluarga memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. 

Ada yang memilih pemakaman sederhana, ada juga yang lebih nyaman dengan konsep pemakaman hijau seperti ini. 

Menurut saya, gak ada yang paling benar atau paling baik. Semuanya kembali lagi pada keyakinan, kebutuhan, dan kemampuan finansial masing-masing.

Yang perlu diingat, biaya di kompleks pemakaman modern memang relatif lebih tinggi dibanding pemakaman umum. 

Selain biaya pembelian lahan, biasanya juga ada komponen perawatan kawasan agar lingkungan alami, taman, dan fasilitas tetap terjaga dengan baik. 

Karena itu, sebaiknya sesuaikan dengan anggaran keluarga supaya gak menjadi beban di kemudian hari.

Bukan tentang Kemewahan, tapi Kedamaian

Kalau saya sih, hal yang paling berkesan dari kunjungan ini bukanlah kemewahan makamnya, melainkan suasana damai yang saya rasakan. 

Berziarah menjadi lebih nyaman, teduh, dan memberi ruang untuk mengenang orang yang sudah berpulang tanpa diselimuti kesan suram. 

Pengalaman ini benar-benar mengubah stigma saya tentang sebuah kawasan pemakaman.

Jadi, kalau suatu hari nanti kamu sedang mencari referensi lokasi pemakaman Karanganyar, atau sekadar ingin mengetahui seperti apa konsep Taman Memorial Delingan, menurut saya tempat ini layak untuk dikunjungi. 

Makam keluarga yang nyaman dengan lingkungan bersih di Taman Memorial Delingan
Makam keluarga yang nyaman dengan lingkungan bersih di Taman Memorial Delingan (doc. Riana Dewie)


Selain menambah wawasan, kamu juga bisa melihat langsung bagaimana sebuah pelayanan pemakaman dapat dipadukan dengan konsep taman yang asri dan menenangkan.

Siapa tahu, kunjungan singkat ini justru membuatmu memiliki pandangan baru, seperti yang saya alami. 

Karena pada akhirnya, menghormati mereka yang telah berpulang bukan hanya tentang doa yang kita panjatkan, tetapi juga tentang bagaimana kita terus menjaga kenangan dan memberikan penghormatan terakhir dengan cara terbaik yang kita mampu.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Sehari Berziarah ke Makam Romo Sanjoyo, Sekalian Jelajahi Wisata Magelang

Makam Romo Sanjoyo di kompleks Kerkhof Muntilan Magelang.

Kalau ditanya destinasi yang sering saya kunjungi bersama keluarga untuk mencari ketenangan, jawabannya pasti makam Romo Sanjoyo di Muntilan, Magelang. 

Tempat ini memang bukan objek wisata yang ramai seperti Candi Borobudur, tetapi justru suasananya yang tenang membuat saya selalu ingin kembali. 

Apalagi kalau pikiran lagi penuh dengan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari, rasanya menyempatkan diri berziarah ke sini selalu membawa perasaan lebih damai.

Ide untuk berziarah biasanya memang dadakan. Di tengah kesibukan masing-masing, saya dan suami kadang tiba-tiba sepakat, "Yuk, ke Muntilan." 

Kalau cuma berdua, kami lebih sering naik motor karena perjalanan terasa lebih praktis dan cepat. 

Namun kalau ada orang tua atau anggota keluarga lain yang ikut, kami memilih naik mobil supaya lebih nyaman.

Sejak kecil saya memang sudah dikenalkan orang tua dengan tempat ini. Beberapa kali kami singgah untuk berdoa sebelum atau sesudah bepergian ke Magelang. 

Yang paling saya ingat sampai sekarang adalah suasananya yang adem, rindang, dan bikin hati terasa lebih tenang. 

Oh ya, dulu saya mengira tempat ini hanya berupa kompleks makam biasa. Setelah dewasa dan beberapa kali datang lagi, saya baru sadar ternyata banyak cerita sejarah dan nilai rohani yang membuat tempat ini begitu istimewa.

Lalu, sebenarnya apa saja yang bisa ditemukan saat berziarah ke sini? Bagaimana rute menuju Makam Romo Sanjoyo dari Jogja? 

Dan kalau sudah sampai Muntilan, tempat wisata apa saja yang menarik untuk dikunjungi? Tenang, saya akan berbagi pengalaman sekaligus panduannya sampai selesai.

Jadi, baca artikel ini sampai akhir ya!


Mengenal Sosok Romo Sanjoyo

Sebelum datang, menurut saya menarik juga kalau kita mengenal sedikit sosok yang dimakamkan di sini. Dengan begitu, ziarah yang dilakukan terasa lebih bermakna daripada sekadar datang, berdoa, lalu pulang.

Romo Sanjoyo merupakan salah satu imam Katolik yang berjasa dalam perkembangan Gereja Katolik di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa. 

Nama beliau cukup dikenal oleh banyak umat Katolik karena dedikasinya dalam pelayanan dan pendampingan umat.

Romo Sanjoyo
Romo Sanjoyo (sumber: harianmerapi.com)


Makam beliau berada di kompleks Kerkhof Muntilan, sebuah kompleks pemakaman yang juga menjadi tempat peristirahatan beberapa tokoh Gereja Katolik lainnya. 

Kawasan ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi Magelang sekaligus tempat ziarah Katolik dekat Jogja yang cukup populer.

Yang membuat saya senang, area makamnya benar-benar dirawat dengan baik. Pepohonan yang rindang membuat udara terasa sejuk hampir sepanjang hari. 

Jadi meskipun datang saat siang, suasananya tetap nyaman untuk berdoa maupun duduk sejenak melakukan refleksi diri.

Banyak Didatangi Peziarah dari Berbagai Kota

Oh ya, banyak peziarah yang datang bukan hanya karena memiliki intensi doa tertentu. 

Ada juga yang sekadar ingin mencari ketenangan, bersyukur atas berkat yang diterima, atau mengambil waktu hening di tengah aktivitas yang padat.

Selain makam Romo Sanjoyo, di kompleks ini juga terdapat Makam Romo Van Lith beserta beberapa makam para romo di Muntilan yang memiliki peran penting dalam perkembangan iman Katolik di Indonesia. 

Karena itulah kawasan ini sering menjadi tujuan ziarah Katolik Jawa Tengah, baik secara pribadi maupun rombongan.

Bagi saya pribadi, mengetahui sedikit tentang sejarah Romo Sanjoyo membuat setiap kunjungan terasa berbeda. 

Saya jadi lebih menghargai perjalanan para imam yang telah mengabdikan hidupnya bagi pelayanan umat.

Suasana teduh di makam Romo Sanjoyo sebagai tempat ziarah Katolik dekat Jogja.
Suasana teduh di makam Romo Sanjoyo sebagai tempat ziarah Katolik dekat Jogja (doc. Riana Dewie)


Rute Perjalanan dari Jogja ke Makam Romo Sanjoyo

Salah satu alasan saya cukup sering datang ke sini adalah karena lokasinya relatif dekat dari Yogyakarta. 

Jadi, kalau sedang ingin melakukan perjalanan sehari dari Jogja, destinasi ini cocok sekali dimasukkan ke dalam daftar.

Naik Kendaraan Pribadi

Menurut saya, menggunakan kendaraan pribadi merupakan pilihan paling praktis. 

Dari pusat Kota Yogyakarta, perjalanan menuju lokasi Makam Romo Sanjoyo biasanya memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Rute yang biasa saya ambil adalah melewati Jalan Magelang menuju Muntilan. Jalannya lebar, mudah diikuti melalui aplikasi navigasi, dan banyak pilihan tempat makan maupun SPBU di sepanjang perjalanan.

Oh ya, kalau berangkat pagi sekitar pukul tujuh atau delapan, udara masih cukup sejuk sehingga perjalanan terasa lebih menyenangkan. 

Pemandangan sawah dan Gunung Merapi di beberapa titik juga menjadi bonus yang bikin perjalanan gak terasa membosankan.

Hahahaha... kadang niat awal cuma ziarah, pulangnya malah mampir kuliner.

Naik Bus Umum

Buat yang gak membawa kendaraan pribadi, cara ke Makam Romo Sanjoyo juga cukup mudah menggunakan bus jurusan Yogyakarta-Magelang.

Turunlah di kawasan Muntilan, kemudian perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan ojek atau layanan transportasi daring menuju kompleks Kerkhof. 

Jaraknya relatif dekat sehingga biaya tambahan juga masih cukup terjangkau.

Pilihan ini cocok untuk peziarah dari luar kota yang ingin melakukan wisata rohani Katolik Magelang tanpa harus menyewa kendaraan.

Estimasi Waktu dan Biaya

Kalau berangkat dari Jogja menggunakan kendaraan pribadi, estimasi waktu perjalanan sekitar 60–90 menit.

Untuk motor, biaya bensin pulang-pergi biasanya sekitar Rp50.000 - Rp70.000, tergantung jenis kendaraan dan kondisi jalan. 

Kalau menggunakan mobil tentu sedikit lebih besar, tetapi tetap tergolong ekonomis untuk perjalanan keluarga.

Sementara bila menggunakan bus umum, biaya perjalanan juga relatif ramah di kantong. Tinggal menambahkan ongkos ojek menuju kompleks makam.

Bagian depan makam Romo Sanjoyo Muntilan Magelang.
Bagian depan makam Romo Sanjoyo Muntilan Magelang (sumber: Google Reviews)


Apa yang Bisa Dilakukan Saat Berziarah?

Banyak orang mengira berziarah ke makam hanya sebentar, lalu selesai. Padahal menurut saya, ada banyak hal yang bisa dilakukan selama berada di kompleks Kerkhof Muntilan. 

Karena suasananya benar-benar tenang, saya biasanya memilih menikmati setiap sudutnya tanpa terburu-buru.

1. Berdoa Secara Pribadi

Tentu saja tujuan utama datang ke sini adalah berdoa. Setiap orang punya intensi yang berbeda-beda. Ada yang mendoakan keluarga, memohon kelancaran pekerjaan, mengucap syukur, hingga menyerahkan pergumulan hidup kepada Tuhan.

Oh ya, saya juga sering melihat para peziarah Katolik datang membawa buku doa atau rosario. Ada yang berdoa secara pribadi, ada pula yang datang bersama rombongan dan mengadakan doa novena sesuai intensi masing-masing.

2. Mengunjungi Makam Romo Van Lith

Kalau sudah berada di kompleks ini, jangan langsung pulang. Luangkan waktu untuk mengunjungi Makam Romo Van Lith yang lokasinya masih berada di kawasan yang sama.

Nama Romo Van Lith tentu sudah sangat dikenal dalam sejarah perkembangan Gereja Katolik di Indonesia. Beliau memiliki jasa besar dalam dunia pendidikan sekaligus penyebaran iman Katolik, khususnya di wilayah Jawa.

3. Berjalan Mengelilingi Kompleks Kerkhof

Selain berdoa, saya juga suka berjalan santai mengelilingi area Kerkhof Muntilan.

Kompleks ini bersih, rapi, dan dipenuhi pepohonan besar yang membuat suasana semakin teduh. Di beberapa sudut terdapat kapel sederhana yang sering dimanfaatkan umat untuk berdoa. Ada pula area yang biasa digunakan rombongan untuk berkumpul sebelum atau sesudah ziarah.

Yang menarik, kawasan ini juga menjadi bagian dari wisata sejarah Gereja Katolik di Indonesia. Banyak tokoh penting yang dimakamkan di sini sehingga setiap sudutnya menyimpan cerita tersendiri.

Kalau suka fotografi, tempat ini juga cukup menarik. Tentu saja tetap menjaga sikap hormat karena ini merupakan kawasan pemakaman dan tempat doa.

4. Menikmati Suasana Hening untuk Refleksi

Inilah bagian favorit saya.

Kadang saya gak langsung pulang setelah selesai berdoa. Saya memilih duduk di bawah pohon sambil menikmati udara segar beberapa menit. Rasanya seperti memberi waktu kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang padat.

Di zaman sekarang yang serba cepat, menemukan tempat hening seperti ini menurut saya cukup sulit. Karena itu saya selalu menikmati setiap kesempatan saat berada di sini.


Fasilitas yang Tersedia

Walaupun merupakan kawasan ziarah, fasilitas di sekitar lokasi Makam Romo Sanjoyo menurut saya sudah cukup memadai.

Area parkir tersedia untuk motor maupun mobil sehingga peziarah gak perlu khawatir mencari tempat parkir. Jalur menuju makam juga cukup nyaman dilalui berbagai usia.

Di sekitar kawasan Muntilan juga terdapat warung makan, minimarket, toilet umum, hingga SPBU. Jadi kalau ingin melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, semuanya sudah cukup mudah dijangkau.

Tidak jauh dari kawasan ini juga terdapat Gereja Santo Antonius Muntilan yang sering dikunjungi umat sebelum atau sesudah berziarah. 

Selain itu, kawasan Seminari Mertoyudan yang terkenal sebagai tempat pendidikan calon imam juga berada di wilayah Muntilan sehingga sering menjadi bagian dari rangkaian wisata rohani bagi banyak umat.

Kalau sudah jauh-jauh datang ke Muntilan, menurut saya sayang sekali kalau langsung pulang. 

Masih banyak destinasi menarik yang bisa dikunjungi dalam satu hari. Kamu bisa mampir ke Candi Mendut, Candi Borobudur, Gereja Ayam Bukit Rhema, Punthuk Setumbu, Svargabumi Borobudur dsb. 

Menurut saya, kombinasi ziarah di makam Romo Sanjoyo lalu dilanjutkan menjelajahi berbagai destinasi ini membuat satu hari di Magelang terasa sangat berkesan. 

Kita bisa mendapatkan ketenangan batin sekaligus menikmati keindahan alam dan kekayaan sejarah yang dimiliki daerah ini.

Tempat ziarah dan doa Romo Sanjoyo Muntilan
Tempat ziarah dan doa Romo Sanjoyo Muntilan (doc. Riana Dewie)


Tips Agar Ziarah Lebih Nyaman

Setelah beberapa kali berkunjung ke makam Romo Sanjoyo, saya punya beberapa tips sederhana yang mungkin bisa membantu, terutama kalau ini adalah pengalaman ziarah pertama. Tipsnya memang sederhana, tetapi cukup berpengaruh supaya perjalanan terasa lebih nyaman dan berkesan.

1. Datang pada Pagi Hari

Kalau memungkinkan, usahakan berangkat pagi dari Jogja. Selain udara masih segar, suasana di kompleks Kerkhof Muntilan juga relatif lebih tenang. Saya biasanya berangkat sekitar pukul 07.00 sehingga sebelum siang sudah sampai di lokasi.

Oh ya, kalau datang lebih pagi, kita juga punya waktu lebih leluasa untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi wisata di sekitar Magelang tanpa terburu-buru.

2. Gunakan Pakaian yang Sopan dan Nyaman

Karena ini merupakan tempat ziarah dan tempat berdoa, sebaiknya gunakan pakaian yang sopan serta nyaman dipakai berjalan kaki.

Saya biasanya memilih pakaian berbahan adem karena cuaca Magelang kadang cukup hangat menjelang siang. 

3. Jaga Ketenangan Selama Berada di Area Makam

Meski banyak peziarah datang bersama keluarga atau rombongan, tetap usahakan menjaga suara agar gak terlalu keras.

Menurut saya, saling menghormati sesama pengunjung merupakan bagian dari pengalaman wisata rohani itu sendiri. Dengan suasana yang tenang, semua orang bisa berdoa dan melakukan refleksi tanpa terganggu.

4. Siapkan Air Minum dan Kamera

Kalau ingin melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi wisata seperti Candi Borobudur, Punthuk Setumbu, atau Svargabumi Borobudur, sebaiknya siapkan air minum sejak awal.

Saya juga hampir selalu membawa kamera atau menggunakan kamera ponsel. 

Bukan untuk berfoto di area makam secara berlebihan, tetapi lebih untuk mengabadikan perjalanan menuju berbagai tempat menarik di Magelang. 


Penutup

Buat saya, perjalanan ke makam Romo Sanjoyo selalu lebih dari sekadar perjalanan biasa. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan setiap kali memasuki kawasan Kerkhof Muntilan. 

Dalam satu hari, saya bisa berdoa dengan lebih khusyuk, mengenang perjalanan para tokoh Gereja seperti Romo Van Lith, menikmati suasana teduh di kawasan Muntilan

Kamu juga bis amelanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi menarik seperti Candi Mendut, Candi Borobudur, Gereja Ayam, hingga Punthuk Setumbu.

Kalau saya sih, perpaduan antara perjalanan spiritual, wisata sejarah, dan wisata alam seperti ini memang sulit ditemukan di tempat lain. 

Rasanya pulang bukan hanya membawa foto-foto baru, tetapi juga hati yang jauh lebih tenang.

Selamat berziarah, semoga perjalananmu lancar, doa-doamu membawa ketenangan, dan kamu juga sempat menikmati indahnya Magelang dalam satu perjalanan yang penuh makna.




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal Notes

10 Manfaat Jalan-Jalan Bersama Anabul bagi Pemilik dan Hewan Peliharaan

Keyword: manfaat jalan-jalan bersama anabul  Meta Description: Temukan manfaat jalan-jalan bersama anabul bagi kesehatan fisik dan mental pemilik serta hewan peliharaan. Aktivitas sederhana yang bikin makin dekat!  Alt Text Gambar:  Manfaat jalan-jalan bersama anabul di taman pada pagi hari. Pemilik mengajak anjing peliharaan jalan santai di area hijau. Jalan-jalan bersama anabul sebagai aktivitas healing bersama hewan peliharaan. Quality time bersama anabul di pet friendly park. Kucing peliharaan menikmati aktivitas outdoor bersama pemilik. Bonding dengan anabul melalui jalan santai setiap pagi. Liburan bersama anabul di tempat ramah hewan peliharaan. Pet parent mengajak anabul menikmati udara segar di lapangan. Tips jalan-jalan bersama anabul agar tetap sehat dan bahagia. Manfaat jalan-jalan bersama anabul untuk kesehatan fisik dan mental. ```

Kalau ada yang bertanya kepada saya tentang manfaat jalan-jalan bersama anabul, saya pasti langsung tersenyum. 

Soalnya, kegiatan sederhana ini ternyata memberikan banyak perubahan, baik untuk saya maupun anabul kesayangan. 

Dulu saya mengira jalan-jalan bersama anjing hanya sekadar melepas penat atau menghabiskan waktu luang. 

Setelah benar-benar menjalaninya, saya baru sadar kalau aktivitas ini menjadi salah satu bentuk healing bersama anabul yang murah, menyenangkan, dan penuh makna.

Oh ya, saya termasuk orang yang percaya kalau hubungan manusia dan hewan itu bisa terjalin begitu erat ketika kita meluangkan waktu bersama mereka. 

Bahkan, hanya berjalan santai mengelilingi kampung di pagi hari sudah cukup membuat hati terasa lebih ringan.

Saya sendiri sih sekarang lebih sering mengajak anabul menikmati udara segar dibanding membiarkannya hanya bermain di rumah. 

Hasilnya? Kami sama-sama lebih bahagia. Hihihihi.... ternyata mereka juga punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa senang ketika diajak keluar rumah.


Sejak Kecil, Saya Sudah Terbiasa Memelihara Anjing

Kalau dihitung-hitung, sejak kecil saya sudah memelihara sekitar enam ekor anjing di generasi yang berbeda. 

Masing-masing punya karakter unik yang sampai sekarang masih saya ingat. Ada yang super aktif, ada yang pendiam, ada juga yang paling manja ketika saya pulang ke rumah.

Oh ya, sejak dulu saya memang senang menghabiskan waktu bermain dengan mereka. Kadang saya memberi susu, mengajak bermain lempar bola, menemani berlari kecil di halaman, sampai sekadar duduk bersama saat sore hari. 

Semua momen itu sekarang menjadi kenangan yang sangat berharga.

Dulu saya belum mengenal istilah quality time bersama anabul. Saya hanya merasa bahagia ketika melihat ekor mereka bergoyang sambil berlari menghampiri saya. 

Jalan-jalan bersama anabul sebagai aktivitas healing
Jalan-jalan bersama anabul sebagai aktivitas healing (doc. Riana Dewie)


Sekarang baru saya tahu kalau kebiasaan sederhana itu ternyata membantu membangun bonding dengan anabul yang kuat.

Kalau akhir pekan tiba, saya juga sering mengajak mereka melakukan berbagai aktivitas bersama anabul. 

Mulai dari bermain di lapangan, berjalan santai, sampai menikmati aktivitas luar ruangan yang sederhana. 

Saya baru sadar kalau kegiatan seperti ini juga termasuk olahraga ringan yang baik untuk pemilik maupun hewan peliharaan.


Belajar dari Kehilangan yang Mengubah Cara Saya Merawat Anabul

Sayangnya, perjalanan saya memelihara anabul gak selalu dipenuhi cerita bahagia. Ada beberapa periode dalam hidup ketika hati saya benar-benar patah karena harus kehilangan mereka secara mendadak. 

Yang paling membuat sedih, sebagian besar justru karena ulah manusia lain yang gak bertanggung jawab.

Oh ya, sampai sekarang saya masih merasa sesak kalau mengingat beberapa kejadian tersebut. Rasanya seperti kehilangan anggota keluarga sendiri.

Kalau dipikir-pikir lagi, saat itu saya juga masih minim edukasi tentang cara merawat hewan peliharaan dengan benar. 

Saya belum memahami pentingnya vaksin, nutrisi, vitamin, stimulasi mental, maupun menjaga keamanan mereka setiap hari. Saya juga sering membiarkan mereka keluar rumah sendirian tanpa pengawasan.

Saya sih sekarang menyesali kebiasaan itu. Ternyata membiarkan anabul berkeliaran bebas memiliki risiko yang cukup besar, mulai dari kecelakaan, keracunan, sampai menjadi korban orang yang gak menyukai hewan.

Liburan bersama anabul di tempat ramah hewan peliharaan.
Liburan bersama anabul di tempat ramah hewan peliharaan (doc. Riana Dewie)

Karena pengalaman itulah, dua anabul yang saya pelihara sekarang benar-benar saya rawat dengan lebih serius. 

Mereka rutin vaksin, mendapatkan vitamin, pelebat bulu yang aman, makanan sehat yang saya buat sendiri, hingga berbagai nutrisi sesuai kebutuhan. 

Saya juga memilih mengajak mereka menikmati aktivitas outdoor bersama anabul secara terjadwal daripada membiarkan mereka berkeliaran sendiri.

Hahahaha.... mungkin ada yang bilang saya terlalu protektif. Tapi buat saya, lebih baik sedikit repot daripada harus kehilangan mereka lagi.


10 Manfaat Jalan-Jalan Bersama Anabul yang Saya Rasakan

Sekarang saya punya kebiasaan baru. Saat jogging pagi, saya sering mengajak anabul ke lapangan. 

Kadang saya membiarkan mereka berlari di area yang aman, kadang mengajak muter kampung menggunakan tali handle, bahkan sesekali mengikuti lomba anabul supaya mereka bertemu banyak orang maupun sesama hewan peliharaan.

Oh ya, dari kebiasaan sederhana inilah saya benar-benar merasakan banyak manfaat yang mungkin dulu gak pernah saya bayangkan.

1. Tubuh Anabul Menjadi Lebih Sehat

Berjalan rutin membantu menjaga kesehatan anabul karena tubuhnya lebih aktif bergerak dan energinya tersalurkan dengan baik.

2. Membantu Mengurangi Stres

Healing bersama anabul ternyata juga berdampak pada kesehatan mental saya. Pikiran terasa lebih tenang setelah menikmati udara segar bersama mereka.

3. Membuat Anabul Lebih Percaya Diri

Bertemu lingkungan baru membuat mereka lebih berani dan terbiasa menghadapi berbagai situasi.

4. Melatih Interaksi Sosial

Ketika bertemu orang lain maupun sesama anjing peliharaan atau kucing peliharaan, kemampuan interaksi sosial mereka ikut berkembang.

Pet parent mengajak anabul menikmati udara segar di lapangan.
Pet parent mengajak anabul menikmati udara segar di lapangan (doc. Riana Dewie)

5. Memperkuat Bonding dengan Anabul

Menurut saya, inilah salah satu manfaat jalan-jalan bersama anabul yang paling terasa. Waktu yang dihabiskan berdua membuat kami semakin mengenal kebiasaan masing-masing. 

Saya jadi tahu kapan mereka merasa lelah, penasaran, atau justru ingin bermain lebih lama. Sebaliknya, mereka juga semakin percaya kepada saya sebagai pemiliknya.

6. Memberikan Stimulasi Mental

Lingkungan baru menghadirkan aroma, suara, dan pemandangan yang berbeda setiap hari. Semua itu menjadi stimulasi mental yang sangat baik bagi hewan peliharaan. Dibanding hanya berada di rumah sepanjang hari, eksplorasi lingkungan baru membuat mereka lebih aktif dan rasa ingin tahunya tetap terasah.

7. Menambah Aktivitas Fisik Pemilik

Saya sih justru ikut mendapatkan manfaatnya. Awalnya niat mengajak anabul jalan-jalan, lama-lama saya sendiri jadi lebih rajin bergerak. Aktivitas sederhana ini membuat saya lebih sering berjalan kaki, berolahraga ringan, sekaligus menerapkan gaya hidup sehat tanpa terasa seperti sedang berolahraga.

8. Membantu Anabul Lebih Mudah Bersosialisasi

Sesekali saya mengajak mereka datang ke acara komunitas atau lomba anabul. Di sana mereka bertemu banyak pet parent, anak-anak, hingga hewan lain. 

Pengalaman seperti ini membantu mereka lebih nyaman saat bertemu orang baru dan mengurangi rasa takut ketika berada di lingkungan ramai.

Oh ya, saya juga beberapa kali mengajak mereka ke pet friendly park dan pet friendly cafe

Tentunya saya tetap memastikan tempat tersebut memang ramah hewan peliharaan serta mengikuti aturan yang berlaku. Pengalaman ini membuat mereka semakin terbiasa dengan suasana baru.

9. Menjadi Ide Healing yang Murah dan Menyenangkan

Kalau sedang penat karena pekerjaan, saya gak selalu mencari liburan mahal. Jalan santai mengelilingi kampung atau duduk di lapangan sambil menemani anabul bermain sudah cukup mengembalikan semangat. 

Healing bersama anabul memang sederhana, tetapi efeknya benar-benar terasa. Saya merasa lebih rileks, meningkatkan mood, dan kembali bersemangat menjalani aktivitas.

Selain itu, kegiatan ini juga bisa menjadi alternatif me time yang menyenangkan. Kita bisa menikmati rekreasi bersama hewan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

10. Menciptakan Kenangan Indah yang Sulit Dilupakan

Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri, jawabannya adalah kenangan. 

Foto-foto saat jalan-jalan bersama anabul, video ketika mereka berlari kegirangan, sampai momen sederhana saat duduk menikmati angin sore menjadi memori yang sangat berharga.

Hihihihi.... kadang saya tertawa sendiri saat melihat kembali video mereka yang berlari ke sana kemari dengan penuh semangat. 

Momen sederhana seperti itu ternyata mampu menghadirkan kebahagiaan yang luar biasa.

Bagi saya, manfaat membawa anabul jalan-jalan bukan hanya menjaga kesehatan anabul, tetapi juga mempererat emotional bonding antara manusia dan hewan. 

Hubungan yang terbangun lewat perhatian kecil setiap hari justru menjadi fondasi kasih sayang yang kuat.

Tips jalan-jalan bersama anabul agar tetap sehat dan bahagia.
Tips jalan-jalan bersama anabul agar tetap sehat dan bahagia (doc. Riana Dewie)


Quality Time Bareng Anabul

Nah, itulah berbagai manfaat jalan-jalan bersama anabul yang saya rasakan sendiri selama beberapa tahun terakhir. 

Dari pengalaman kehilangan hingga belajar merawat mereka dengan lebih baik, saya semakin percaya kalau perhatian kecil setiap hari bisa memberikan dampak yang besar.

Kalau sekarang saya lebih sering mengajak mereka berjalan santai, bermain di lapangan, atau sekadar menikmati udara pagi, itu bukan hanya demi kesehatan mereka. 

Saya juga sedang menjaga kebahagiaan diri sendiri. Aktivitas sederhana ini membuat saya lebih tenang, lebih banyak bergerak, dan semakin menghargai waktu bersama anabul selama mereka masih ada menemani hidup saya.

Saya berharap semakin banyak pemilik anjing maupun kucing yang menyadari pentingnya quality time bersama anabul

Gak harus pergi jauh atau menghabiskan banyak uang. Bahkan berjalan santai di sekitar rumah pun sudah menjadi bentuk kasih sayang yang luar biasa bagi mereka.

Kalau suatu saat nanti kamu berencana liburan bersama anabul, jangan lupa memilih tempat ramah hewan peliharaan, membawa perlengkapan yang dibutuhkan, serta memperhatikan kondisi fisik mereka agar tetap nyaman selama perjalanan.

Nah, itulah manfaat positif saat jalan-jalan bareng anabul versi saya. 

Kalau kamu punya pengalaman seru atau manfaat lain yang pernah dirasakan saat mengajak anabul jalan-jalan, yuk cerita di kolom komentar. Siapa tahu pengalamanmu bisa menginspirasi pet parent lainnya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Destinations

Maen ke Pantai Baru Jogja? Ini 7 Aktivitas Seru yang Wajib Dicoba

Spot foto estetik dengan panorama laut selatan di Pantai Baru Jogja

Sudah berapa kali ya saya ke Pantai Baru Jogja? Wah, rasanya sudah gak bisa dihitung dengan jari lagi. 

Jika dulu saya dan keluarga paling hobi pergi ke Pantai Depok untuk wisata sekaligus berburu seafood, beberapa tahun terakhir kami mulai sering melipir ke kawasan Pantai Baru Yogyakarta.

Menurut saya, daya tarik Pantai Baru memang cukup lengkap. Ada wisata pantai Bantul yang nyaman, kuliner ikan segar Pantai Baru yang menggoda, area bermain anak, sampai spot santai untuk keluarga.

Oh ya, terakhir kali saya ke sana bersama sepupu dan para ponakan. Kami datang dari berbagai wilayah Jogja sehingga kali ini sepakat untuk langsung bertemu di lokasi. 

Cara ini ternyata lebih hemat waktu dan energi dibanding harus mampir ke rumah saudara satu per satu terlebih dahulu.

Begitu semua anggota keluarga berkumpul, suasana langsung ramai. 

Anak-anak berlarian, orang dewasa sibuk ngobrol, sementara saya sudah mulai membayangkan ikan bakar yang sebentar lagi akan disantap. Hihihihi...

Gimana keseruannya? Yuk, saya ceritakan pengalaman liburan ke Pantai Baru Jogja yang satu ini.


Perjalanan Menuju Pantai Baru Saat Cuaca Cerah

Karena kami berangkat dari rumah masing-masing, akhirnya diputuskan menggunakan motor untuk perjalanan menuju Pantai Baru Bantul. 

Selain lebih praktis, perjalanan juga terasa menyenangkan karena bisa menikmati udara segar sepanjang jalan.

Padahal ada salah satu sepupu yang membawa balita. Awalnya kami sempat khawatir si kecil bakal rewel. 

Namun kenyataannya justru sebaliknya. Ia terlihat happy banget selama perjalanan dan antusias melihat pemandangan di sepanjang jalan.

Saya dan suami pun ikut senang. Sudah cukup lama kami gak menikmati perjalanan santai seperti ini. 

Kalau saya sih memang suka perjalanan dengan motor sesekali karena suasananya terasa lebih dekat dengan alam.

Oh ya, perjalanan dari rumah kami menuju kawasan pantai selatan Yogyakarta memakan waktu sekitar 60 menit. 

Untungnya cuaca sangat bersahabat sehingga perjalanan terasa nyaman. Setelah menempuh perjalanan tersebut, akhirnya kami sampai di lokasi dengan aman dan selamat.


7 Aktivitas Seru di Pantai Baru Jogja

Berikut beberapa aktivitas di Pantai Baru Jogja yang saya dan keluarga lakukan saat berkunjung ke sana.

1. Belanja dan Makan Ikan Segar Hasil Tangkapan Nelayan

Hidangan seafood di Pantai Baru Jogja
Hidangan seafood di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)

Begitu sampai di lokasi, suami saya langsung memarkir motor. Sementara itu saya dan sepupu perempuan segera menuju pasar ikan untuk memilih berbagai hasil laut segar.

Biasanya kami membeli ikan cakalang untuk dibakar, kerang untuk dimasak asam pedas, serta cumi yang digoreng tepung. Pokoknya semua yang bikin ngiler ada di sini.

Setelah membawa beberapa plastik belanjaan, kami menuju warung makan yang berada dekat pantai. Semua bahan mentah tadi kami serahkan kepada pemilik warung untuk diolah sesuai selera.

Biasanya pas momen seperti ini rasa lapar langsung melanda sih. Apalagi aroma ikan bakar segar di pantai memang susah ditolak.

Olahan kerang & cakalang yang cukup menggoda
Olahan kerang & cakalang yang cukup menggoda (doc. Riana Dewie)

Oh ya, salah satu alasan saya suka wisata Pantai Baru Bantul adalah karena konsep kulinernya cukup unik. 

Kita bisa memilih sendiri bahan mentah lalu meminta warung mengolahnya sesuai keinginan.

2. Naik ATV Menyusuri Area Pantai

Sambil menunggu makanan matang, kami mencari aktivitas lain supaya gak bosan. Salah satu yang paling menarik tentu saja bermain ATV di Pantai Baru.

Berdasarkan tarif yang umum ditemui pada tahun 2026, harga ATV Pantai Baru berkisar antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per putaran tergantung rute dan durasi.

Keseruan naik ATV adalah sensasi melintasi area pasir sambil merasakan semilir angin laut. 

Selain itu, aktivitas ini juga cocok untuk memacu adrenalin ringan tanpa harus melakukan olahraga ekstrem.

Kalau suami saya sih paling suka bagian ketika ATV melaju di jalur yang sedikit bergelombang. Katanya lebih seru dibanding berkendara di jalan biasa.

Keseruan bermain ATV di Pantai Baru Jogja bersama keluarga
Keseruan bermain ATV di Pantai Baru Jogja bersama keluarga (doc. Riana Dewie)

3. Bermain Pasir Putih Bersama Keluarga

Pasir putih Pantai Baru Jogja juga menjadi area favorit anak-anak. Mereka bebas bermain sambil membuat berbagai bentuk unik dari pasir.

Buat kamu yang pintar membuat istana pasir, tempat ini cocok banget untuk menyalurkan kreativitas. Kamu bisa bekerja sama dengan saudara atau teman supaya hasilnya lebih megah.

Tips dari saya, jangan membuat istana pasir terlalu dekat dengan bibir laut. Takutnya ketika ombak datang, hasil karya yang sudah susah payah dibuat langsung hilang dalam sekejap. Hahahaha...

Dari sisi psikologi, aktivitas bermain pasir bersama keluarga juga bermanfaat untuk melatih kreativitas, kerja sama, kemampuan problem solving, serta membantu anak lebih rileks saat bermain di alam terbuka.

4. Berburu Konten Estetik di Berbagai Sudut Pantai

Memotret estetik di Pantai Baru Jogja
Memotret estetik di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)

Suka jeprat-jepret suasana atau selfie? Jangan lewatkan kesempatan berburu spot foto Pantai Baru yang sangat beragam.

Mulai dari panorama laut selatan, perahu nelayan, deretan warung, hingga area pasir yang luas bisa menjadi latar foto yang menarik.

Surga juga buat kamu yang hobi membuat vlog atau video media sosial. Saya melihat cukup banyak pengunjung yang sibuk membuat konten saat berada di sana.

Oh ya, saya sengaja mengambil banyak stok foto dan video sekaligus. Lumayan buat cadangan konten beberapa minggu ke depan biar gak rugi sudah jauh-jauh datang ke sini.

5. Menikmati Sunrise dan Sunset dengan Pemandangan Laut Selatan

Bagi pecinta pemandangan alam, menikmati matahari terbenam di kawasan sunset Pantai Baru Bantul adalah aktivitas yang wajib dicoba.

Langit perlahan berubah warna menjadi oranye keemasan, sementara deburan ombak terdengar semakin syahdu. Momen seperti ini selalu berhasil membuat saya berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Kalau kamu datang lebih pagi, kesempatan menikmati sunrise juga terbuka. Suasananya tenang dan cocok untuk mencari ketenangan.

6. Duduk Ngadem di Bawah Pohon Cemara Laut

Salah satu daya tarik Pantai Baru yang menurut saya sering terlupakan adalah deretan pohon cemara laut yang tumbuh di sepanjang kawasan pantai.

Pepohonan ini menciptakan suasana teduh dan nyaman untuk bersantai bersama keluarga. Banyak pengunjung yang menggelar tikar sambil menikmati bekal makanan.

Gak percaya? Coba saja duduk beberapa menit di bawah rindangnya pohon-pohon tersebut. Angin sepoi-sepoi yang berhembus membuat suasana terasa lebih santai.

7. Melihat Deretan Kincir Angin Ikonik Pantai Baru

Aktivitas terakhir yang gak boleh dilewatkan adalah melihat deretan kincir angin yang menjadi ikon Pantai Baru Yogyakarta.

Kincir Angin di area Pantai Baru Bantul
Kincir Angin di area Pantai Baru Bantul (doc. Riana Dewie)


Kawasan ini dikenal sebagai pantai dengan kincir angin karena terdapat fasilitas energi terbarukan yang memanfaatkan tenaga angin dan matahari.

Selain menjadi sarana edukasi, keberadaan kincir angin juga membuat pemandangan pantai terlihat berbeda dibanding pantai lainnya di wilayah Bantul.

Oh ya, banyak wisatawan yang sengaja datang untuk berfoto di area ini karena tampilannya cukup unik dan estetik.


Tips Maen ke Pantai Baru

Sebelum berangkat, ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu.

- Datanglah sebelum pukul 09.00 pagi atau setelah pukul 15.30 agar cuaca lebih nyaman.
- Siapkan uang untuk retribusi kawasan wisata atau TPR yang biasanya dikenakan kepada pengunjung.
- Lokasi Pantai Baru berada di Kabupaten Bantul, DIY dan masih satu jalur dengan beberapa wisata pantai Bantul lainnya.
- Di sekitar kawasan terdapat Pantai Kuwaru, Pantai Pandansimo, dan Pantai Goa Cemara. Jadi jangan sampai salah tujuan.
- Kendaraan pribadi menjadi pilihan paling direkomendasikan karena aksesnya lebih fleksibel.
- Bawa topi, sunscreen, serta air minum agar tetap nyaman selama beraktivitas seru di pantai.

Deretan warung seafood dan kuliner ikan segar di Pantai Baru Jogja
Deretan warung seafood dan kuliner ikan segar di Pantai Baru Jogja (doc. Riana Dewie)


Nah, itulah cerita saya dan sepupu yang asyik maen sekaligus kulineran di Pantai Baru Bantul, DIY.

Bagi saya, tempat ini bukan sekadar destinasi wisata alam Yogyakarta biasa. 

Ada banyak kenangan sederhana yang tercipta dari obrolan keluarga, tawa anak-anak yang bermain pasir, hingga aroma ikan bakar yang menggoda selera.

Kalau saya sih selalu percaya bahwa perjalanan terbaik bukan tentang pergi ke tempat yang paling jauh, melainkan tentang bersama siapa kita menikmati momen tersebut.

Jadi, kalau kamu sedang mencari wisata keluarga Jogja yang lengkap, ramah kantong, dan cocok untuk liburan murah di Jogja, Pantai Baru bisa menjadi pilihan menarik untuk dikunjungi saat akhir pekan.

Siapa tahu, dari perjalanan sederhana itu kamu juga pulang membawa cerita indah yang akan dikenang dalam waktu lama. 

Apa kamu pernah berkunjung ke Pantai Baru Jogja juga?




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Culinary Journey

5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan, dari Tiwul hingga Ubi Rebus

makanan khas Jawa kaya nutrisi dari bahan lokal

Pernah kepikir gak sih kalau makanan tradisional Jawa yang menyehatkan justru sudah ada sejak dulu, jauh sebelum tren makanan sehat bermunculan di media sosial? 

Saya sendiri baru benar-benar menyadarinya saat tanpa sengaja mengenang masa kecil bersama keluarga besar di rumah simbah.

Dulu, setiap liburan sekolah, saya senang menginap di rumah simbah yang berada di desa. Suasananya sederhana, halaman luas, dan dapurnya selalu sibuk sejak pagi. 

Yang menarik, makanan yang tersaji hampir semuanya merupakan makanan tradisional Jawa sehat yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Oh ya, saya masih ingat aroma kelapa parut yang baru diparut setiap pagi dari dapur belakang rumah simbah. Wanginya khas banget dan sampai sekarang masih melekat di ingatan saya.

Di meja makan biasanya ada apem, singkong rebus, kacang rebus, atau tiwul hangat yang baru matang. Saat itu saya tentu gak memikirkan kandungan gizi atau manfaat kesehatannya. 

Yang penting enak dan bikin kenyang. Hihihihi....

Kalau dipikir sekarang, makanan-makanan tersebut termasuk makanan kampung yang sehat dan bergizi. Bahannya sederhana, minim proses, dan banyak menggunakan hasil kebun sendiri.

Bahkan banyak di antaranya yang termasuk kuliner jadul yang masih sehat dikonsumsi hingga saat ini.

Mungkin karena itulah banyak orang tua zaman dulu tetap aktif meski usia sudah tidak muda lagi.

Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul
Saat saya & teman-teman menikmati Tiwul Sambel Bawang di Gunung Kidul (doc. Riana Dewie)


Kulineran Bersama Keluarga yang Selalu Membawa Kenangan

Gak cuma bersama simbah, ibu saya juga masih sering menyiapkan berbagai menu tradisional hingga saya dewasa. 

Saat masih tinggal bersama orang tua, saya sering bangun pagi dan mendapati berbagai jajanan pasar sudah tersedia di meja makan.

Ada ketan, cenil, gethuk, hingga berbagai olahan ubi yang sederhana tetapi menggugah selera. 

Saya sih selalu senang kalau menemukan makanan tradisional di meja makan karena rasanya selalu menghadirkan nostalgia.

Oh ya, kebiasaan ibu membeli jajanan pasar ternyata masih berlangsung sampai sekarang. Kadang tanpa bilang apa-apa, tiba-tiba sudah ada beberapa bungkus makanan tradisional di rumah.

Saat kami kulineran sekeluarga, ibu juga lebih sering memilih menu-menu lama yang mungkin kurang populer di kalangan anak muda saat ini. 

Saya sempat berpikir, mungkin ibu sedang bernostalgia dengan masakan yang dulu sering dibuat simbah.

Tak jarang ibu bercerita, "Dulu simbah kalau bikin bothok banyak sekali karena anak-anaknya juga banyak." Dari cerita sederhana seperti itu saya jadi tahu bahwa makanan tradisional memang punya nilai emosional yang kuat.

Suatu hari kami mencoba bothok lamtoro di sebuah warung sederhana. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan ada sensasi renyah dari ikan teri. 

Saya langsung paham kenapa makanan ini begitu disukai banyak orang. Emang seenak ini ya makanan jadul?

Oh ya, setelah dewasa saya baru sadar kalau banyak menu tradisional ternyata termasuk kuliner Jawa berbahan alami yang minim bahan tambahan.

Menariknya lagi, banyak menu tersebut termasuk makanan tradisional rendah minyak karena diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.

Beberapa waktu lalu saya bahkan sempat membaca blog seorang Travel Blogger Medan yang juga bercerita suka berburu kuliner saat bepergian. 

Menurutnya, setiap daerah punya makanan khas yang layak dilestarikan.


5 Makanan Tradisional Jawa yang Menyehatkan

1. Tiwul Sambal Bawang, Karbohidrat Tradisional Selain Nasi

makanan tradisional Jawa yang menyehatkan berupa tiwul sambal bawang
Makanan tradisional Jawa yang menyehatkan, yaitu tiwul sambal bawang (doc. Riana Dewie)

Tiwul merupakan makanan tradisional dari singkong yang banyak ditemukan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahan utamanya berasal dari singkong yang dikeringkan lalu diolah menjadi butiran-butiran mirip nasi.

Saya sih suka tiwul karena teksturnya unik dan rasanya sedikit manis alami. Ketika dipadukan dengan tiwul sambal bawang, sensasinya jadi lebih nikmat.

Dari sisi kesehatan, tiwul termasuk karbohidrat tradisional selain nasi yang mengandung serat cukup tinggi. Karena itulah tiwul sering dianggap sebagai salah satu makanan tradisional kaya serat yang bisa membantu rasa kenyang lebih lama.

2. Bothok Lamtoro, Lauk Kukus Kaya Rasa

Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba
Bothok lamtoro khas desa yang wajib kamu coba (doc. Riana Dewie)

Bothok lamtoro merupakan salah satu olahan lamtoro khas Jawa yang cukup populer di berbagai daerah. Bahan utamanya berupa petai cina atau lamtoro yang dicampur kelapa parut dan bumbu rempah.

Biasanya ditambahkan ikan teri agar rasanya makin gurih. Setelah dibungkus daun pisang, bothok kemudian dikukus hingga matang.

Karena proses pembuatannya dikukus, makanan ini termasuk kategori makanan kukus dan rebus yang sehat. Kandungan serat dan protein nabatinya juga cukup baik untuk tubuh.

3. Sego Gudangan, Menu Tradisional Jawa untuk Hidup Sehat

ego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan
Sego gudangan sebagai makanan tradisional Jawa yang menyehatkan (doc. Riana Dewie)

Sego gudangan berasal dari Jawa Tengah dan identik dengan berbagai sayuran rebus yang disajikan bersama nasi dan urap kelapa.

Isi sayurnya biasanya berupa kangkung, bayam, kacang panjang, tauge, dan berbagai sayuran lain. Kombinasi sayur urap dan gudangan inilah yang membuat menu ini kaya vitamin dan mineral.

Oh ya, sego gudangan termasuk menu yang paling sering saya cari ketika sedang ingin makan makanan rumahan.

Menurut saya, sego gudangan merupakan contoh sempurna dari menu tradisional Jawa untuk hidup sehat. Rasanya enak, mengenyangkan, dan penuh nutrisi.

4. Apem Panggang, Camilan Tradisional yang Menyehatkan

apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa
Apem panggang tradisional camilan sehat khas Jawa (doc. Riana Dewie)

Kalau mendengar apem, saya langsung teringat suasana pasar tradisional di pagi hari. Apem panggang tradisional biasanya dibuat dari tepung beras, santan, dan sedikit gula.

Berbeda dengan banyak camilan modern, apem dipanggang sehingga gak membutuhkan banyak minyak. Karena itulah apem sering dianggap sebagai salah satu camilan tradisional yang menyehatkan.

Selain itu, apem juga termasuk jajanan pasar tradisional yang lebih alami karena umumnya dibuat tanpa bahan pengawet berlebihan.

5. Ubi Rebus, Sederhana Tapi Kaya Nutrisi

Di antara semua daftar ini, mungkin ubi rebus adalah yang paling sederhana. Namun jangan salah, manfaatnya cukup banyak.

Ubi rebus untuk kesehatan sering dikaitkan dengan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik untuk tubuh. Rasanya manis alami sehingga cocok dijadikan camilan sehari-hari.

Bagi saya, ubi rebus adalah contoh nyata makanan sederhana khas Jawa yang bergizi. Murah, mudah ditemukan, dan tetap lezat.

Oh ya, sampai sekarang saya masih sering membeli ubi rebus saat menemukan penjualnya di pinggir jalan. Rasanya selalu berhasil membawa saya kembali ke masa kecil.


Mari Kembali Mengenal Kuliner Tradisional

Dari berbagai cerita dan pengalaman tadi, saya makin yakin bahwa makanan tradisional Jawa yang menyehatkan layak mendapatkan perhatian lebih. 

Mulai dari tiwul, bothok lamtoro, sego gudangan, apem panggang, hingga ubi rebus, semuanya memiliki keunggulan masing-masing.

Selain berasal dari bahan lokal yang mudah ditemukan, banyak di antaranya termasuk makanan khas Jawa kaya nutrisi yang sudah diwariskan turun-temurun. 

Hahahaha.... kadang kita sibuk mencari makanan sehat modern, padahal jawabannya sudah ada sejak zaman simbah dulu.

Jadi, untuk bisa makan lebih sehat, kita bisa mulai melirik kembali berbagai kuliner tradisional Jawa yang menyehatkan ini sesuai selera masing-masing. 


Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah
Suasana dapur jadul seperti di rumah simbah (doc. Riana Dewie)

Ini cerita makanan jadul versi saya. Bagaimana dengan makanan jadul favoritmu? 

Siapa tahu bisa menjadi teman seru saat menikmati waktu santai atau bahkan menemani outdoor activity bersama keluarga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments