Showing posts with label Travel Stories. Show all posts
Showing posts with label Travel Stories. Show all posts

In Travel Stories

Gunung Purba Nglanggeran, Tempat Latihan Mendaki yang Cocok untuk Pemula

Gunung Purba Nglanggeran

Pernah kepikiran ingin naik gunung, tapi masih ragu karena belum punya pengalaman? Saya juga pernah berada di posisi itu. 

Rasanya ingin mencoba sensasi mendaki, tetapi masih mencari tempat latihan mendaki yang medannya bersahabat. 

Tahu gak, memilih gunung pertama ternyata cukup penting supaya pengalaman hiking pertama terasa menyenangkan, bukan malah bikin kapok.

Saya akan bercerita tentang pengalaman asyik mendaki Gunung Purba Nglanggeran. Siap ikutan?

Guyuran Hujan saat Perjalanan Menuju Gunung Purba Nglanggeran

Pagi itu cuaca di Yogyakarta terlihat cerah berawan. Udara terasa sejuk dan cukup nyaman untuk beraktivitas di luar ruangan. 

Saya bersama tiga saudara pun sepakat berangkat menggunakan dua motor menuju kawasan Gunung Purba Nglanggeran, salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Gunungkidul.

Namun sekitar pukul 10.45, suasana berubah drastis. Langit mendadak gelap disertai hembusan angin yang cukup kencang. "Wah, jangan-jangan gagal deh rencana hari ini," pikir saya saat itu. 

Meski begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan. Benar saja, sepanjang jalan kami diguyur hujan deras hampir satu jam. 

Jas hujan memang membantu, tapi pakaian kami tetap basah kuyup. Wkwkwkwk... benar-benar pembukaan perjalanan yang gak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Sesampainya di lokasi, rasa lelah selama perjalanan perlahan terbayar. Gunung yang berdiri gagah di depan mata seolah menyambut kedatangan kami. 

Karena jalur pendakiannya membutuhkan waktu lebih lama dibanding destinasi lain di kawasan tersebut, kami memutuskan untuk memulai petualangan dari sini terlebih dahulu.

Oh ya, alasan saya memilih gunung untuk pemula di Jogja ini bukan tanpa sebab. 

Kami bersiap mendaki Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan
Kami bersiap mendaki Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan (doc. Riana Dewie)


Selain jalurnya cukup jelas, durasi pendakiannya juga relatif singkat sehingga cocok bagi siapa saja yang ingin mencoba hiking tanpa harus memiliki pengalaman mendaki gunung tinggi. 

Saya sih langsung penasaran, apakah perjuangan menuju puncaknya benar-benar akan seindah cerita banyak orang.

Pengalaman Mendaki Gunung Purba Nglanggeran, Capek tapi Menyenangkan

Tepat pukul 12.00, kami akhirnya tiba di kawasan wisata Gunung Purba Nglanggeran. Rasanya lega sekali setelah hampir satu jam berkendara sambil diguyur hujan deras. 

Sebelum memulai pendakian, kami berganti pakaian dan sandal karena semuanya sudah basah kuyup. Saya sendiri tetap memilih memakai sepatu yang masih basah. 

Agak gak nyaman memang, tetapi saya merasa sepatu akan lebih aman dibanding sandal saat melewati jalur menanjak.

Beli Tiket Masuk 

Sebelum masuk ke area pendakian, kami membeli tiket masuk terlebih dahulu. 

Per tahun 2026, harga tiket Gunung Purba Nglanggeran berkisar Rp25.000 per orang untuk wisatawan domestik (saya sudah agak lama kesana, jadi dulu harganya lebih murah). 

Setelah itu, kami menghangatkan badan dengan menikmati semangkuk mi goreng dan segelas teh panas di warung sekitar loket. 

Hihihihi... ternyata makanan hangat setelah kehujanan memang terasa jauh lebih nikmat.

Sekitar pukul 13.30, petualangan kami pun dimulai. Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang awalnya terlihat biasa saja perlahan berubah menjadi lebih menantang. 

Bekas hujan membuat tanah berubah menjadi lumpur yang lengket di alas kaki. Hampir setiap langkah terasa lebih berat karena sepatu maupun sandal dipenuhi tanah basah.

Sepatu penuh lumpur di jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran
Sepatu penuh lumpur di jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


Beberapa Pos untuk Pendaki

Oh ya, sepanjang perjalanan tersedia beberapa pos yang menjadi penanda sejauh mana pendaki telah berjalan. Pos demi pos kami lewati dengan hati-hati sambil sesekali berhenti mengatur napas. 

Selain jalur berbatu, terdapat pula beberapa tangga kayu yang mengharuskan pendaki bergantian saat melintas. 

Di beberapa titik bahkan kami harus memanjat batu berukuran cukup besar sebelum bisa melanjutkan perjalanan. 

Inilah bagian dari jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang menurut saya paling menantang.

Suasana jalur hiking Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan.
Suasana jalur hiking Gunung Purba Nglanggeran setelah hujan (doc. Riana Dewie)


Bayangan saya sebelumnya, pengalaman mendaki Gunung Purba akan dipenuhi jalur tanah yang mudah dilewati. Nyatanya, kondisi setelah hujan membuat tingkat kesulitannya meningkat. 

Meski begitu, justru di situlah letak serunya. 

Perjalanan ini mengajarkan saya untuk melangkah lebih pelan, menjaga keseimbangan, dan saling menunggu teman agar semua bisa tiba di puncak dengan selamat.

Kenapa Saya Memilih Gunung Purba Nglanggeran untuk Latihan Mendaki?

Jujur saja, ini bukan pertama kalinya saya berwisata ke kawasan Nglanggeran. 

Namun untuk urusan mendaki Gunung Purba Nglanggeran, pengalaman ini menjadi sesuatu yang benar-benar saya nantikan. 

Trek berbatu menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran.
Trek berbatu menuju puncak Gunung Api Purba Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


1. Ramah untuk Pemula

Tujuan saya sederhana, yaitu mencari gunung yang ramah untuk pemula, tetapi tetap memberikan sensasi petualangan yang seru.

Tahu gak, Gunung Api Purba Nglanggeran berada di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Lokasinya hanya sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta sehingga cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi. 

Faktor inilah yang membuatnya sering menjadi pilihan wisatawan maupun komunitas pecinta alam.

2. Trek Pendakian Pendek

Alasan lain saya memilih tempat ini karena trek pendakiannya relatif pendek dibanding gunung-gunung lain di Yogyakarta. 

Meski begitu, jalurnya tetap menghadirkan tantangan berupa tanjakan, jalan berbatu, hingga beberapa titik sempit yang membuat perjalanan terasa lebih seru. 

Bagi saya sih, tantangan seperti ini justru pas sebagai latihan sebelum mencoba pendakian dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang ramah untuk pendaki pemula.
Jalur pendakian Gunung Purba Nglanggeran yang ramah untuk pendaki pemula (doc. Riana Dewie)


3. Jalur Pendakian sudah Tertata 

Sebagai pendaki pemula, saya juga merasa lebih tenang karena jalur pendakian sudah tertata dengan cukup baik. 

Penunjuk arah tersedia di beberapa titik sehingga pengunjung gak perlu khawatir tersesat selama mengikuti rute yang telah disediakan. 

Selain itu, perjalanan menuju puncak juga gak membutuhkan perlengkapan pendakian khusus seperti carrier berukuran besar atau peralatan berkemah.

Oh ya, sebelum berangkat saya sempat membayangkan jalurnya akan didominasi tanah kering dengan tanjakan yang masih bersahabat. 

Kenyataannya nanti justru berbeda, apalagi setelah hujan deras mengguyur kawasan ini sejak siang. 

Meski begitu, rasa penasaran untuk menaklukkan gunung yang dikenal sebagai salah satu gunung untuk pemula di Jogja ini sama sekali gak berkurang. 

Justru saya semakin bersemangat ingin membuktikan sendiri seperti apa pengalaman mendakinya.

Panorama dari Puncak Gunung Purba Nglanggeran yang Bikin Lelah Terbayar

Semakin mendekati puncak, suasana berubah menjadi lebih teduh. Jalur dikelilingi pepohonan tinggi yang membuat udara terasa semakin sejuk. 

Tahu gak, bagian ini menjadi favorit saya karena suasananya benar-benar seperti memasuki hutan kecil yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota.

Kami juga melewati beberapa tanjakan alami yang cukup licin akibat hujan. Untungnya semua bisa dilewati dengan hati-hati. 

Meski membutuhkan tenaga ekstra, rasa lelah perlahan menghilang ketika cahaya dari area terbuka mulai terlihat di depan.

Begitu tiba di puncak, saya langsung terpukau. Hamparan panorama perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang. 

Panorama hijau dari puncak Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul.Panorama hijau dari puncak Gunung Purba Nglanggeran di Gunungkidul (doc. Riana Dewie)


Dari atas terlihat sawah, jalan raya, permukiman warga, hingga menara pemancar yang berdiri menjulang di kejauhan. 

Angin berembus cukup kencang, tetapi justru membuat suasana terasa semakin segar. 

Pemandangan dari puncak inilah yang menurut saya menjadi hadiah terbaik setelah melewati perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Saya dan sepupu pun beristirahat sambil mengabadikan momen dengan berbagai pose. Bagi saya sih, setiap sudut di atas memiliki daya tarik tersendiri untuk difoto. 

Gak heran bila banyak wisatawan menjadikan view Gunung Purba Nglanggeran sebagai salah satu spot favorit saat menikmati wisata alam Gunungkidul. 

Jika cuaca sedang cerah, kawasan ini juga menjadi lokasi yang menarik untuk menikmati matahari terbit maupun matahari terbenam.

Tips Mendaki Gunung Purba Nglanggeran untuk Pemula

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa hal sederhana yang bisa membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

  • Gunakan sepatu dengan sol yang mencengkeram, terutama saat musim hujan. Jalur bisa menjadi cukup licin.

  • Datanglah pada pagi atau sore hari agar cuaca lebih bersahabat dan sinar matahari gak terlalu terik.

  • Selalu membawa air minum secukupnya supaya tubuh tetap terhidrasi selama pendakian.

  • Jangan terburu-buru mencapai puncak. Nikmati saja setiap langkah dan berhentilah sejenak jika mulai merasa lelah.

  • Gunakan tas yang ringan dengan barang seperlunya agar perjalanan terasa lebih nyaman.

  • Tetap menjaga kebersihan kawasan dengan membawa kembali sampah pribadi.

  • Oh ya, siapkan kondisi fisik secukupnya sebelum berangkat. Meski termasuk hiking pemula, jalurnya tetap memiliki tanjakan dan bebatuan yang membutuhkan keseimbangan tubuh.

Bagi saya sih, tips mendaki Gunung Purba yang paling penting adalah menikmati prosesnya. Gak perlu terburu-buru atau membandingkan diri dengan pendaki lain. 

Justru di setiap langkah itulah kita bisa menikmati suasana alam yang masih asri sekaligus menjadikan pendakian sebagai salah satu aktivitas outdoor di Jogja yang menyenangkan.

Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran.Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran.
Spot foto favorit dengan latar panorama perbukitan Nglanggeran (doc. Riana Dewie)


Penutup

Perjalanan mendaki Gunung Purba Nglanggeran menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. 

Meski sempat diterpa hujan deras, melewati jalur berlumpur, hingga beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga, semuanya terbayar lunas ketika berhasil menikmati panorama indah dari puncaknya.

Tahu gak, sering kali rasa takut hanya muncul sebelum kita mencoba. Setelah benar-benar menjalaninya, ternyata pendakian ini masih sangat bersahabat bagi pemula. 

Itulah mengapa saya merasa Gunung Purba Nglanggeran layak menjadi gunung pertama bagi siapa saja yang ingin mulai mengenal dunia hiking.

Jadi, buat kamu yang masih ragu mencoba mendaki, gak perlu khawatir. Medannya relatif mudah diikuti, jalurnya jelas, dan hampir selalu ada pendaki lain yang berjalan bersama. 

Siapkan fisik secukupnya, gunakan perlengkapan yang nyaman, lalu nikmati setiap langkah menuju puncak. 

Siapa tahu, pengalaman pertama ini justru menjadi awal munculnya hobi baru menjelajahi keindahan alam Indonesia.

FAQ Seputar Gunung Purba Nglanggeran

Berapa lama mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Rata-rata waktu yang dibutuhkan sekitar 45–90 menit menuju puncak, tergantung kondisi fisik, cuaca, dan frekuensi beristirahat selama perjalanan.

Apakah Gunung Purba Nglanggeran cocok untuk pemula?

Ya. Jalurnya cukup jelas, durasi pendakiannya relatif singkat, dan gak membutuhkan perlengkapan khusus sehingga cocok untuk pendaki pemula.

Apakah anak-anak bisa mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Bisa, dengan pendampingan orang dewasa. Tetap perhatikan kondisi cuaca dan pilih waktu pendakian saat jalur gak licin.

Kapan waktu terbaik mendaki Gunung Purba Nglanggeran?

Musim kemarau atau saat cuaca cerah menjadi waktu terbaik karena jalur lebih aman. Datang pagi atau sore juga membuat perjalanan terasa lebih nyaman.

Berapa harga tiket masuk Gunung Purba Nglanggeran?

Harga tiket dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola. Sebaiknya cek informasi terbaru sebelum berkunjung agar memperoleh tarif dan jam operasional yang paling akurat.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Menyusuri Kota Lama Semarang di Sore Hari, Romantis dan Penuh Cerita

Sudut estetik kawasan Kota Lama Semarang dengan bangunan peninggalan Belanda

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman menyempatkan diri liburan singkat ke Semarang. 

Tujuan utamanya sebenarnya sederhana, yaitu kulineran, jalan-jalan, dan menemani teman yang sudah punya jadwal treatment wajah. 

Tapi bagi saya, bagian yang paling menarik justru ketika bisa menikmati suasana Kota Lama Semarang di sore hari.

Perjalanan dimulai sejak pukul lima pagi dari Jogja. Kami sengaja berangkat lebih awal agar perjalanan lebih nyaman dan gak terlalu terjebak kemacetan. 

Udara pagi masih terasa sejuk, jalanan pun relatif lengang sehingga perjalanan terasa santai.

Oh ya, saya memang termasuk orang yang lebih suka berangkat pagi saat bepergian karena suasananya masih tenang dan badan juga masih segar.

Sampai di daerah Ungaran, kami memutuskan berhenti untuk sarapan soto. Tempatnya sederhana banget, bahkan dari luar terlihat seperti warung biasa. 

Tapi soal rasa sih ternyata lumayan enak. Kuahnya hangat, porsinya pas, dan cocok untuk mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan kami juga sempat berhenti di sebuah rest area. Yang menarik, area belakangnya dipenuhi pepohonan yang sekilas mirip hutan pinus. 

Suasananya adem dan nyaman untuk sekadar meregangkan kaki. Sekalian juga menemani teman yang ingin salat karena kebetulan tersedia masjid yang cukup nyaman di sana.


Tujuan ke Semarang: Kuliner, Jalan-Jalan, dan Sedikit Me Time

Sesampainya di Semarang, agenda kami cukup santai. Teman saya langsung menuju tempat treatment wajah yang sudah dijadwalkan sejak jauh hari. Sementara saya kebagian menikmati bagian yang menurut saya lebih menyenangkan, yaitu jalan-jalan dan kulineran. Hihihihi....

Biasanya kalau ke Semarang, kami hampir selalu mampir ke Ayam Goreng Pak Supar. Menu favorit saya adalah ayam goreng dan sup sapinya yang gurih. 

Selain itu, saya juga suka berburu tahu gimbal legendaris yang sudah beberapa kali saya kunjungi. Sayangnya saya selalu lupa nama warungnya. 

Yang jelas, setiap ke Semarang, tempat itu hampir pasti masuk daftar kunjungan.

Oh ya, salah satu alasan saya suka kulineran di Semarang adalah karena pilihan makanannya beragam dan banyak yang sudah melegenda sejak puluhan tahun lalu.

Setelah urusan treatment selesai, barulah kami menuju destinasi yang sejak awal ingin saya kunjungi, yaitu kawasan Kota Lama Semarang.

Saya menikmati suasana di Museum Kota Lama Semarang
Saya menikmati suasana di Museum Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)


Menyusuri Kota Lama Semarang Saat Sore Hari

Sore hari memang menjadi waktu yang pas untuk menyusuri Kota Lama Semarang. Cuaca mulai bersahabat, sinar matahari gak terlalu terik, dan suasana kawasan mulai ramai oleh wisatawan.

Ketika memasuki area ini, saya langsung merasa seperti sedang berpindah ke masa lalu. 

Deretan bangunan kolonial yang berdiri kokoh membuat suasana terasa berbeda dibanding kawasan perkotaan modern pada umumnya.

Kota Lama Semarang sendiri merupakan salah satu kawasan heritage Semarang yang memiliki nilai sejarah tinggi. 

Kawasan ini berkembang sejak abad ke-17 ketika Belanda menjadikan Semarang sebagai pusat perdagangan penting di pesisir utara Jawa.

Dulu area ini bahkan sering dijuluki sebagai "Little Netherlands" karena tata kota dan arsitekturnya yang sangat kental dengan nuansa Eropa. 

Kini kawasan tersebut telah direvitalisasi sehingga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah Semarang yang paling populer.

Oh ya, saya senang melihat bagaimana kawasan bersejarah ini tetap dirawat dengan baik sehingga generasi sekarang masih bisa menikmati jejak sejarah yang ada.


Spot Ikonik dan Foto Estetik di Kota Lama Semarang

Kalau berkunjung ke sini, ada beberapa tempat yang menurut saya wajib disinggahi.

Gereja Blenduk yang Ikonik

Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang dengan kubah ikonik saat sore hari
Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang dengan kubah ikonik saat sore hari (doc. Riana Dewie)

Gereja Blenduk menjadi landmark paling terkenal di kawasan ini. Bangunannya yang megah dengan kubah besar berwarna tembaga selalu berhasil menarik perhatian wisatawan.

Saya pun gak melewatkan kesempatan untuk berfoto di area sekitar gereja. Hampir dari sudut mana pun, hasil fotonya terlihat menarik.

Taman Srigunting yang Nyaman

Tepat di depan Gereja Blenduk terdapat Taman Srigunting. Area terbuka ini menjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai, duduk menikmati suasana, atau sekadar mengamati aktivitas sekitar.

Kalau saya sih paling suka duduk beberapa menit sambil memperhatikan wisatawan yang lalu-lalang membawa kamera dan berburu foto.

Gedung Marba dan Deretan Bangunan Bersejarah

Saat saya melewati Gedung Marba Kota Lama Semarang
Saat saya melewati Gedung Marba Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)

Salah satu bangunan yang selalu menarik perhatian adalah Gedung Marba. Fasad berwarna merah khas membuat bangunan ini terlihat sangat fotogenik.

Selain Gedung Marba, masih banyak bangunan tua lain yang menjadi spot foto Kota Lama Semarang. Setiap sudut memiliki karakter tersendiri sehingga rasanya gak pernah bosan untuk dijelajahi.

Kebetulan saya berasal dari Jogja. Karena itu, melihat bangunan-bangunan peninggalan Belanda di kawasan ini terasa cukup akrab. 

Beberapa desain arsitekturnya bahkan mengingatkan saya pada sejumlah bangunan tua yang ada di Jogja.


Menikmati Senja dan Pulang Membawa Cerita

Waktu favorit saya selama berada di sana adalah ketika memasuki golden hour. Cahaya matahari sore yang hangat membuat seluruh kawasan terlihat semakin cantik. Inilah momen terbaik untuk menikmati senja di Semarang.

Oh ya, kalau datang menjelang sore, jangan buru-buru pulang. Perubahan suasana dari siang menuju petang justru menjadi salah satu daya tarik utama kawasan ini.

Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dan menikmati suasana sore di Kota Lama Semarang. 

Salah satu bangunan heritage di Kota Lama Semarang
Salah satu bangunan heritage di Kota Lama Semarang (doc. Riana Dewie)


Rasanya waktu berjalan begitu pelan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, pengalaman seperti ini terasa sangat menyenangkan.

Kalau saya sih selalu suka destinasi yang menawarkan cerita, bukan hanya pemandangan. Dan Kota Lama Semarang berhasil memberikan keduanya sekaligus.

Menjelang magrib, kami akhirnya meninggalkan kawasan tersebut. Tapi perjalanan belum selesai. Sebelum pulang ke Jogja, kami kembali berburu kuliner Kota Lama Semarang dan beberapa makanan favorit lainnya.

Perjalanan pulang terasa santai karena hati sudah puas. Hahahaha.... 

Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan satu hari penuh bersama teman-teman, menikmati makanan enak, melihat bangunan bersejarah, dan merasakan suasana yang berbeda dari rutinitas sehari-hari.

Oh ya, perjalanan singkat ini kembali mengingatkan saya bahwa liburan gak harus jauh atau mahal. 

Kadang satu hari yang diisi dengan wisata sore Semarang, kulineran, dan nostalgia sejarah sudah cukup untuk membuat pikiran kembali segar.

***

Pada akhirnya, kunjungan ke Kota Lama Semarang bukan sekadar perjalanan wisata biasa. 

Bagi saya, ini adalah perjalanan yang penuh cerita, penuh kenangan, dan memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana sejarah tetap hidup di tengah perkembangan kota modern. 

Sebuah perjalanan sederhana yang layak untuk diulang lagi suatu hari nanti.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Tips Anti Mabuk di Jalan Gunung Biar Tetap Nyaman

tips perjalanan jauh anti mabuk di jalur pegunungan

Belum lama ini saya traveling ke Dieng, Wonosobo. Sebagai orang Jogja yang seumur hidup lebih sering main ke pantai atau kota, ini pertama kalinya saya pergi ke area pegunungan yang udaranya super dingin. 

Awalnya perjalanan biasa aja. Saya masih ngobrol santai, ketawa-ketawa kecil, bahkan sempat foto-foto di mobil. 

Tapi makin masuk area Wonosobo dan jalan mulai naik, tubuh saya langsung berubah total. Kepala mulai berat, perut terasa gak nyaman, lalu muncul sensasi mual yang bikin panik sendiri.

Nah, pengalaman itu bikin saya sadar kalau tips anti mabuk di jalan gunung memang penting banget dipahami sebelum traveling ke area pegunungan. 

Apalagi kalau jalurnya penuh jalan berkelok-kelok dan tanjakan tajam. Hihihihi… saya sampai bilang ke adek saya, “Ini kapan sampenya sih?”

Tahu sendiri kan rasanya orang mabuk darat itu seperti gimana? Serba salah. Posisi kepala berubah sedikit aja langsung terasa muter. 

Saya bahkan mulai sering bersendawa terus-menerus. Kata beberapa orang sih, itu tanda asam lambung mulai naik karena tubuh sedang berusaha menyesuaikan kondisi perjalanan.

Oh ya, saya memang punya riwayat vertigo dan asam lambung, jadi kondisi mabuk perjalanan di jalan berliku seperti ini terasa lebih berat dibanding orang lain. 

Bahkan saat melihat lampu kendaraan di malam hari, kepala rasanya makin pusing dan badan mulai dingin.

suasana perjalanan pegunungan dengan jalan berkelok-kelokSuasana perjalanan pegunungan dengan jalan berkelok-kelok (doc. Riana Dewie)


Kenapa Jalan Pegunungan Sering Bikin Mabuk Kendaraan?

Sebenarnya ada beberapa penyebab mabuk kendaraan di jalan gunung yang sering dialami banyak orang. 

Jalur pegunungan memang punya karakter berbeda dibanding jalan biasa. Selain naik turun, kendaraan juga sering bermanuver cepat di tikungan.

Jalan Berkelok dan Naik Turun Memicu Pusing

Saat perjalanan naik ke Dieng tengah malam, saya benar-benar merasa tersiksa. Di luar gelap total, sementara mobil terus melewati jalan tanjakan pegunungan yang berliku tanpa henti. 

Mata saya melihat kondisi gelap, tapi tubuh merasakan gerakan terus-menerus. Nah, kondisi inilah yang sering memicu mual dan pusing di perjalanan.

Tubuh sebenarnya sedang bingung menerima sinyal berbeda antara mata dan otak. Makanya gak heran kalau perjalanan naik turun gunung sering bikin orang mabuk kendaraan.

Oh ya, kalau saya sih biasanya langsung mencoba fokus melihat jalan depan supaya tubuh lebih cepat menyesuaikan arah gerakan kendaraan.

Udara Dingin dan Perjalanan Lama Bisa Memperparah Mual

Selain jalan ekstrem, udara dingin pegunungan juga bisa bikin tubuh lebih sensitif. Apalagi kalau kondisi kendaraan tertutup dan penuh aroma kendaraan yang menyengat. 

Kombinasi capek, kurang tidur, dan perjalanan jauh naik mobil memang gampang bikin badan drop.

Kadang ada juga penumpang yang makan makanan terlalu berat sebelum berangkat. Akhirnya perut makin gak nyaman saat mobil mulai menikung tajam. 

Hahahaha… padahal niat awalnya supaya kenyang di jalan.

pemandangan jalan tanjakan pegunungan menuju wisata Dieng
Pemandangan jalan tanjakan pegunungan menuju wisata Dieng (doc. Riana Dewie)


Persiapan Sebelum Berangkat Agar Tidak Mabuk Perjalanan

Menurut saya, cara mencegah mabuk kendaraan paling penting justru dilakukan sebelum perjalanan dimulai. Persiapan kecil ternyata cukup membantu membuat perjalanan wisata gunung tetap nyaman.

Jangan Bepergian Saat Perut Kosong

Perut kosong saat perjalanan bisa memperparah rasa mual. Tapi terlalu kenyang juga gak bagus. Saya biasanya memilih makan ringan seperti roti atau pisang sebelum berangkat.

Selain itu, minum air putih cukup juga penting supaya tubuh gak dehidrasi selama perjalanan pegunungan.

Hindari Main HP Terlalu Lama Sebelum dan Saat Perjalanan

Ini kebiasaan yang sering disepelekan. Padahal fokus melihat layar HP saat mobil bergerak bisa bikin otak makin bingung menerima gerakan. Akibatnya mabuk perjalanan makin cepat muncul.

Oh ya, semenjak pengalaman ke Dieng kemarin, saya mulai membatasi scrolling media sosial selama road trip. Ternyata lumayan membantu mengurangi rasa pusing.

Siapkan Obat atau Minuman Anti Mabuk

Saya pribadi selalu membawa obat alami anti mabuk perjalanan seperti jahe untuk mabuk perjalanan, permen mint, dan minyak kayu putih. Aroma hangat dari minyak angin cukup bikin kepala lebih rileks.

Kemarin saya juga menempelkan salonpas di area perut supaya tubuh terasa hangat. Lalu bagian leher dan kepala saya oles minyak angin sebagai aromaterapi sederhana.

Selain untuk traveling, menurut saya pengalaman seperti ini juga bisa jadi inspirasi Ide Bisnis kecil-kecilan, misalnya menjual paket travel kit anti mabuk berisi minyak angin, jahe instan, dan permen mint. 

Menarik juga sih buat penumpang bus atau wisatawan.


Tips Anti Mabuk Saat Melewati Jalan Gunung

Nah, ini bagian paling penting berdasarkan pengalaman pribadi saya selama perjalanan ke pegunungan.

Pilih Posisi Duduk yang Paling Nyaman

Posisi duduk agar tidak mabuk perjalanan ternyata cukup berpengaruh. Kalau memungkinkan, pilih kursi depan atau dekat jendela. Area depan biasanya terasa lebih stabil dibanding kursi belakang.

Selain itu, duduk dekat jendela membantu mendapatkan udara segar lebih mudah.

Fokus Melihat Jalan di Depan

Fokus melihat jalan depan membantu tubuh menyesuaikan arah kendaraan. Saya sendiri mencoba terus melihat arah jalan dibanding melihat samping kanan kiri.

Cara ini lumayan membantu mengurangi rasa muter di kepala saat melewati jalur ekstrem pegunungan.

Akhirnya saya menikmati suasana DIeng walaupun harus mabuk darat dulu
Akhirnya saya menikmati suasana Dieng walaupun harus mabuk darat dulu (doc. Riana Dewie)


Atur Napas dan Jangan Panik

Semakin panik, tubuh biasanya makin tegang. Saya mencoba menarik napas perlahan sambil memejamkan mata beberapa detik. Cara sederhana ini cukup membantu tubuh lebih rileks.

Oh ya, saya juga berusaha ngobrol santai dengan teman supaya pikiran gak terlalu fokus ke rasa mual.

Buka Sedikit Jendela untuk Udara Segar

Sirkulasi udara kendaraan penting banget saat perjalanan jauh. Udara segar membantu mengurangi rasa enek akibat aroma kendaraan yang terlalu kuat.

Bahkan saat perjalanan pulang, kondisi saya malah lebih parah. Saya sampai minta berhenti di SPBU karena merasa ingin muntah. 

Tapi lucunya, saat masuk kamar mandi malah gak jadi muntah. Jadinya badan terasa makin gak enak karena perut gak plong sama sekali.

Istirahat Jika Perjalanan Terlalu Lama

Kalau perjalanan terlalu panjang, usahakan sesekali berhenti untuk stretching ringan. Minum air putih dan berjalan sebentar bisa membantu tubuh lebih segar.

Tips road trip ke daerah pegunungan seperti ini sering disepelekan padahal efeknya cukup terasa untuk mengurangi mabuk perjalanan.


Makanan dan Minuman yang Bisa Membantu Mengurangi Mabuk Kendaraan

Beberapa makanan sederhana ternyata membantu perjalanan pegunungan tanpa mual.

Jahe dan Permen Mint

Jahe hangat membantu meredakan rasa mual di perut. Saya biasanya minum jahe instan sebelum perjalanan dimulai.

Permen mint juga cukup membantu membuat mulut terasa segar selama perjalanan.

Air Putih dan Camilan Ringan

Air putih membantu menjaga tubuh tetap stabil selama perjalanan. Saya biasanya membawa camilan ringan seperti biskuit supaya perut gak kosong.

Kalau saya sih lebih nyaman makan sedikit tapi sering dibanding langsung makan berat.

Hindari Makanan Berminyak dan Aroma Tajam

Sebelum perjalanan, usahakan gak makan gorengan berlebihan atau makanan dengan bau terlalu menyengat. Karena aroma tajam sering memperparah rasa enek selama perjalanan gunung.

Oh ya, jangan lupa juga untuk cukup tidur sebelum berangkat. Tubuh yang capek biasanya lebih gampang mengalami anti mual saat perjalanan yang gagal total alias malah makin pusing.


Perjalanan ke Pegunungan Tetap Bisa Menyenangkan

Meski cukup menyiksa, pengalaman mabuk perjalanan kemarin tetap jadi cerita seru buat saya. 

Saya jadi belajar kalau mabuk kendaraan itu hal umum dan bisa dialami siapa saja, terutama saat melewati jalan gunung yang panjang dan berliku.

Pastikan posisi duduk nyaman agar tidak mabuk perjalanan saat road trip
Pastikan posisi duduk nyaman agar tidak mabuk perjalanan saat road trip (doc. Riana Dewie)


Dengan persiapan yang tepat, perjalanan liburan ke gunung sebenarnya tetap bisa dinikmati. Mulai dari menjaga kondisi tubuh, memilih posisi duduk nyaman, sampai membawa perlengkapan anti mabuk sederhana.

Dan setelah semua perjuangan itu, rasa capek langsung terbayar saat melihat indahnya wisata alam pegunungan Dieng yang dingin dan tenang. 

Ditambah menikmati kuliner enak khas Wonosobo yang hangat di tengah udara malam, rasanya perjalanan itu tetap worth it untuk dikenang.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Hunting Golden Sunrise di Puncak Sikunir Dieng, View-nya Bikin Speechless!

Sunrise di Puncak Sikunir Dieng saat pagi hari

Puncak Sikunir Dieng jadi salah satu destinasi alam yang akhirnya berhasil saya datangi tahun ini. 

Jujur saja, sejak lama saya penasaran dengan sunrise golden sunrise Sikunir yang katanya termasuk sunrise terbaik di Dieng. 

Setelah melihat banyak foto dan video orang-orang di media sosial, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk mencoba langsung pengalaman trekking Sikunir Dieng saat subuh.

Oh ya, perjalanan ini juga jadi pengalaman pertama saya mendaki bukit sepanjang hidup. Jadi kalau nanti ceritanya agak heboh atau lebay, maklumi saja ya hihihihi....

Buat saya yang terbiasa dengan udara panas Jogja beberapa bulan terakhir, perjalanan ke wisata alam Dieng ini benar-benar terasa berbeda. 

Mulai dari udara dingin Dieng, kabut pagi Dieng, sampai suasana perjalanan subuh ke Sikunir yang tenang banget, semuanya terasa seru sekaligus menantang.


Berangkat Tengah Malam dari Jogja ke Dieng

Kami berangkat dari Jogja sekitar jam 23.00 malam. Jalanan malam itu cukup lancar dan udara mulai terasa makin dingin ketika memasuki area Wonosobo. 

Perjalanan ke Sikunir memang lumayan panjang, tapi karena rame-rame bersama keluarga, rasanya tetap menyenangkan.

Kami sampai di titik nol km Dieng
Kami sampai di titik nol km Dieng (doc. Riana Dewie)


Sekitar jam 02.30 pagi, kami sampai di Titik Nol Kilometer Dieng. Area itu masih cukup ramai meski dini hari. 

Banyak wisatawan lain yang juga sedang bersiap hunting golden sunrise Dieng. Beberapa terlihat duduk sambil minum kopi hangat, sementara yang lain sibuk memakai jaket berlapis.

Oh ya, kami sempat menghangatkan badan dulu dengan beli wedang ronde dan bakso tusuk. Di udara sedingin itu, makanan hangat memang terasa nikmat banget sih.

Karena jaket yang saya bawa ternyata kurang tebal, akhirnya saya memutuskan sewa jaket tambahan di sekitar area sana. Dan ternyata keputusan itu benar. 

Setelah cek suhu, udara malam itu berkisar 10-12 derajat celcius. Dingin banget sampai terasa menusuk kulit.

Sekitar jam 03.30 pagi, kami lanjut naik kendaraan menuju area Bukit Sikunir Wonosobo. Perjalanan dari Titik Nol Dieng menuju area parkir Sikunir kurang lebih sekitar 30 menit.


Trekking Puncak Sikunir Dieng Saat Subuh

Sekitar jam 04.00 pagi, kami sampai di area bawah Puncak Sikunir Dieng. Di sana kami mulai siap-siap dengan “alat perang” masing-masing. 

Ada yang pakai kupluk, jaket super tebal, sarung tangan, sampai membawa camilan kecil untuk tenaga.

Selfie sebelum trekking di Puncak Sikunir
Selfie sebelum trekking di Puncak Sikunir (doc. Riana Dewie)


Dan ya, kami juga membawa si bocil yang masih umur di bawah dua tahun.

Sebelumnya saya memang sudah cari info soal jalur pendakian Sikunir. 

Banyak yang bilang kalau jalurnya termasuk pendakian ramah pemula, jadi masih aman untuk wisata keluarga. Karena itulah kami cukup pede membawa toddler ikut perjalanan ini.

Jalur Pendakian Sikunir yang Ramah Pemula

Kami mulai mendaki sekitar jam 04.30 pagi. Jalanan masih gelap, hanya diterangi lampu kecil milik para pendaki lain. 

Meski beberapa jalur cukup menanjak dan terjal, saya merasa rutenya cukup nyaman karena sudah dibuat bertangga.

Buat yang baru pertama mencoba hiking pemula Dieng, menurut saya jalur ini masih aman diikuti. Tinggal atur napas dan jangan terlalu terburu-buru saja.

Tapi kalau soal ngos-ngosan, wah jangan ditanya. Saya benar-benar ngos-ngosan banget karena persiapan fisik kurang matang. 

Kami cuma stretching sebentar sebelum naik. Jadi saat mendaki bukit Sikunir, rasanya seperti sesak napas dan kaki cepat pegal.

Oh ya, beberapa orang terlihat melambat di tengah jalur. Ada juga yang tiap beberapa langkah langsung duduk untuk menstabilkan badan. 

Tapi ada pula yang melaju cepat karena ingin segera melihat golden sunrise Dieng dari atas bukit.

Pengalaman Mendaki Bukit Sikunir Bersama Bocil

Total kami berangkat bertujuh termasuk si toddler kecil. Sepanjang perjalanan, kami saling menyemangati satu sama lain. Meski capek, suasananya tetap seru.

Buat saya sih, pengalaman naik Sikunir ini terasa cukup asyik karena jadi momen langka kumpul keluarga sambil menikmati destinasi alam Dieng bersama-sama.

Suasana wisata pagi di Puncak Sikunir DiengSuasana wisata pagi di Puncak Sikunir Dieng (doc. Riana Dewie)


Sekitar jam 05.20 pagi, akhirnya kami sampai di Pos 1. Di titik itu sebenarnya masih ada jalur menuju area lebih tinggi lagi. 

Namun karena mempertimbangkan kondisi fisik dan membawa bocil, kami memutuskan berhenti di sana saja.

Dan ternyata view-nya sudah bagus banget.

Udara Dingin Dieng yang Menusuk Kulit

menikmati golden sunrise Dieng di atas bukit
Kami menikmati golden sunrise Dieng di atas bukit (doc. Riana Dewie)

Di Pos 1, udara dingin Dieng benar-benar terasa maksimal. Anginnya cukup kencang dan kabut pagi Dieng masih turun tipis-tipis.

Saya sampai beberapa kali menggosok tangan karena dinginnya lumayan bikin kaku. Bahkan para penjual di bawah pun terlihat memakai jaket sangat tebal.

Oh ya, di bulan Mei ini (2026), katanya suhu bahkan sempat mencapai sekitar 9 derajat celcius. Pantas saja rasanya dingin banget sampai menusuk kulit.


Menikmati Golden Sunrise dan Panorama Dieng

Banyak pendaki yang mengabadikan momen di Puncak SikunirBanyak pendaki yang mengabadikan momen di Puncak Sikunir (doc. Riana Dewie)


Momen yang paling ditunggu akhirnya datang juga.

Langit perlahan berubah warna dari gelap menjadi jingga keemasan. 

Cahaya matahari mulai muncul dari balik panorama pegunungan Dieng dan perlahan memperlihatkan view Gunung Sindoro Sumbing yang megah.

Jujur, sunrise golden sunrise Sikunir memang secantik itu.

Saya benar-benar paham kenapa tempat ini disebut bukit sunrise Jawa Tengah terbaik. Suasananya tenang, udaranya segar, dan pemandangan negeri atas awan Dieng terlihat luar biasa indah.

Saat kami turun dari Puncak Sikunir Dieng
Saat kami turun dari Puncak Sikunir Dieng (doc. Riana Dewie)


Hahahaha... rasanya capek poll tapi puas banget. Apalagi ini pendakian pertama saya sepanjang hidup. Dan lucunya lagi, ini bahkan belum gunung, baru bukit saja sudah bikin kaki gemeteran.

Sunrise Golden Sunrise Sikunir yang Bikin Speechless

Banyak orang sibuk mengabadikan momen dengan kamera dan ponsel masing-masing. Spot foto Sikunir memang bagus dari berbagai sudut.

Bahkan tanpa filter pun hasil fotonya sudah cantik banget. Apalagi kalau kabut tipis masih muncul di sela pegunungan.

Spot Foto Sikunir dengan View Gunung Sindoro Sumbing

Salah satu hal paling memorable adalah view Gunung Sindoro Sumbing yang terlihat jelas dari atas. Buat pecinta wisata instagramable Dieng, tempat ini jelas wajib masuk wishlist.

Oh ya, saya pribadi merasa tempat ini cocok banget jadi spot healing Dieng untuk melepas penat dari rutinitas harian.

Jalur pendakian Sikunir yang ramah pemulaJalur pendakian Sikunir yang ramah pemula (doc. Riana Dewie)


Sarapan Soto Hangat dengan View Alam Dieng

Sekitar jam 06.15 pagi, kami turun perlahan menuju area bawah. Matahari mulai terasa hangat dan suasana wisata pagi Dieng makin ramai.

Sesampainya di area kuliner, kami memutuskan sarapan soto ayam di salah satu warung dengan view alam yang cantik banget. 

Warung soto dengan view alam yang cantik di area Sikunir
Warung soto dengan view alam yang cantik di area Sikunir (doc. Riana Dewie)


Di belakang warung terlihat bukit hijau penuh bunga dan embun tipis yang masih turun.

Kami sebenarnya memilih makan di sana bukan karena sudah tahu rasa makanannya, tapi karena jarang banget bisa sarapan soto dengan view wisata alam Wonosobo seperti ini. Hihihihi....

Harga makanannya juga masih masuk akal. Enam porsi soto lengkap dengan gorengan dan minuman total sekitar seratus ribuan.

Menurut saya sih, menikmati soto hangat ditemani udara dingin Dieng setelah trekking Sikunir Dieng jadi pengalaman sederhana yang terasa sangat menyenangkan.


Kenapa Puncak Sikunir Cocok untuk Wisata Keluarga

Puncak Sikunir Dieng menurut saya cocok dijadikan referensi wisata keluarga karena jalurnya termasuk pendakian singkat Jawa Tengah yang ramah pemula.

Selain itu, fasilitas di sekitar area juga cukup lengkap. Ada penginapan, area kuliner, toilet, hingga tempat camping di Sikunir untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana lebih lama.

Oh ya, banyak juga villa dan penginapan nyaman di sekitar area Dieng. Kebetulan saya juga menginap di salah satu villa dekat sana, dan mungkin bakal saya spill di artikel berikutnya.

Selain menyenangkan, mendaki bukit juga punya manfaat untuk kesehatan tubuh dan mental. 

Menikmati udara pagi di Puncak Sikunir Dieng
Menikmati udara pagi di Puncak Sikunir Dieng (doc. Riana Dewie)


Meski capek, aktivitas seperti ini bisa membantu tubuh lebih aktif, pikiran lebih segar, dan mempererat hubungan keluarga.

Buat yang ingin mencoba pengalaman hiking pemula Dieng dengan view cantik dan jalur yang gak terlalu ekstrem, menurut saya Puncak Sikunir Dieng layak banget masuk daftar destinasi liburan berikutnya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Ubur-Ubur Api Parangtritis Muncul, Wisatawan Harus Hati-Hati!

fenomena ubur ubur api Parangtritis muncul di bibir pantai setelah ombak besar

Ke pantai lagi? Jangan heran kalau saya sering menulis tentang pantai ya. Hahahaha... 

Jogja dan sekitarnya itu punya banyak pantai, tinggal pilih dan masing-masing punya keunikan sendiri saat buat healing

Nah, kali ini saya mau cerita tentang ubur-ubur api Parangtritis yang sempat bikin saya kaget sekaligus belajar banyak hal soal keselamatan wisata pantai.

Oh ya, saya sendiri memang tipe yang lebih suka liburan santai, duduk di pasir sambil lihat ombak daripada ke tempat ramai yang penuh antrean.


Jogja Itu Punya Banyak Pantai!

Beberapa waktu lalu, saya bersama sepupu dan ponakan niatin main ke Pantai Parangtritis. Pantai ini memang jadi favorit karena lokasinya gampang dijangkau dan vibes-nya selalu bikin rileks.

Kami datang pagi hari, jalan-jalan santai, foto-foto, dan menikmati suasana pantai selatan dengan ombak besar khasnya. 

Setelah capek main pasir, biasanya kami lanjut ke Pantai Depok buat kulineran. Nah, di sini surganya seafood segar.

suasana wisata pantai Jogja aman dengan tanda peringatan ubur ubur Parangtritis
Suasana wisata pantai Jogja aman dengan tanda peringatan ubur ubur Parangtritis (doc. Riana Dewie)


Saya sih biasanya langsung ke pasar ikan, pilih sendiri kerang, ikan, atau cumi, lalu dibawa ke warung langganan buat dimasak sesuai selera. Rasanya? Gak usah ditanya, selalu bikin nagih.

Masalahnya, waktu itu saya gak tahu kalau kunjungan kami bertepatan dengan musim ubur ubur Parangtritis. 

Katanya sih ubur-ubur ini bisa nyetrum. Lah, kok bisa? Nah, dari situ saya mulai penasaran.

Oh ya, awalnya saya juga mikir ubur-ubur itu cuma ada di laut dalam, ternyata bisa sampai ke pinggir pantai juga.


Fenomena Ubur-Ubur Api di Pantai Parangtritis

Saat di Parangtritis, saya belum langsung nemu ubur-uburnya. Mungkin karena lokasi saya berbeda dengan titik kemunculan mereka. Katanya sih, ubur-ubur ini sering muncul bergerombol memanjang di area tertentu. Saya sempat mikir, “Ah, mungkin lagi gak ada.”

Eh, ternyata begitu pindah ke Pantai Depok, saya malah nemu makhluk unik ini. Bentuknya kecil, transparan, agak kebiruan, seperti dilapisi plastik tipis. Jujur, lucu sih dilihat, tapi juga bikin penasaran.

ubur ubur di pasir pantai Parangtritis yang berbahaya jika disentuh wisatawan
Ubur ubur di pasir pantai Parangtritis yang berbahaya jika disentuh wisatawan (doc. Riana Dewie)


Untungnya saya gak jadi pegang. Setelah tanya warga sekitar, ternyata itu ubur-ubur api Parangtritis yang dikenal bisa menyengat. Hihihihi... kebayang gak sih kalau tadi saya pegang?

Fenomena ubur ubur di Parangtritis ini memang sering bikin wisatawan kaget. Soalnya gak muncul setiap hari. Kadang pantai bersih, tiba-tiba di hari tertentu banyak ubur-ubur di pasir pantai.

Selain itu, banyak orang gak sadar kalau ubur-ubur tetap berbahaya meski sudah terdampar. Ini yang sering jadi masalah.

Oh ya, ubur-ubur ini sering banget terlihat di pasir, bukan cuma di air. Jadi walaupun kamu gak main ke laut, tetap ada risiko kalau gak hati-hati.

Sebenarnya, apa sih ubur-ubur api itu?


Apa Itu Ubur-Ubur Api dan Kenapa Berbahaya?

Ciri-Ciri Ubur-Ubur Api

Ubur-ubur ini biasanya berukuran kecil, transparan, dan kadang berwarna biru. Sekilas memang terlihat cantik dan gak berbahaya. Tapi justru itu yang bikin banyak orang tertipu.

- Bentuknya seperti gel lembek
- Ada tentakel halus
- Terlihat seperti ubur ubur kecil transparan biru

Walaupun sudah di pasir, mereka tetap bisa menyengat. Jadi jangan pernah anggap aman.

Oh ya, saya sempat lihat anak kecil mau pegang karena penasaran. Untung langsung dilarang orang tuanya.

Keponakan saya saat main di Pantai Parangtritis
Keponakan saya saat main di Pantai Parangtritis (doc. Riana Dewie)


Kenapa Bisa Menyengat?

Ubur-ubur punya tentakel yang mengandung racun. Saat tersentuh, racun ini bisa langsung bereaksi ke kulit.

- Sengatan ubur ubur terasa panas
- Perih seperti terbakar
- Bisa merah dan gatal

Makanya, bahaya ubur ubur api di pantai ini gak boleh diremehkan.


Kapan Musim Ubur-Ubur di Parangtritis?

Banyak yang tanya, ubur ubur Parangtritis kapan muncul?

Jawabannya: musiman.

- April sampai Juni (pancaroba ke kemarau)
- Bisa berlanjut sampai Juli atau Agustus

Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh arus laut Samudra Hindia, pantai selatan ombak besar, serta kondisi cuaca dan angin.

Kadang ubur-ubur muncul tiba-tiba setelah ombak tinggi semalaman.

Oh ya, gak setiap hari ada ubur-ubur. Jadi kalau kamu datang dan gak lihat, bukan berarti aman terus ya.


Penyebab Ubur-Ubur Naik ke Pantai

Sambil nunggu pesanan seafood diolah ibu-ibu warung, saya sempat ngobrol soal penyebab ubur-ubur ini naik ke pantai.

Saya waktu itu beli kerang dara, kerang hijau, cakalang, dan cumi. Sambil nunggu, saya lihat-lihat sekitar, dan ternyata memang cukup banyak ubur-ubur.

Hidangan seafood siap disantap
Hidangan seafood siap disantap (doc. Riana Dewie)


Dan taraaaa... makanan datang! Hahaha... serius deh, makan seafood di pinggir pantai itu rasanya “surgaaa” banget.

Oh ya, setelah kenyang, saya lanjut cari tahu soal ubur-ubur ini.

- Arus laut membawa ubur-ubur ke bibir pantai
- Perubahan suhu air laut mempengaruhi pergerakan
- Angin kencang dan gelombang besar mendorong ke daratan
- Habitat alami yang terganggu

Fenomena ini umum terjadi di ubur ubur pantai selatan Jogja termasuk Parangtritis dan Depok.


Tips Aman Saat Berwisata di Parangtritis

Hal yang Harus Dihindari

- Jangan menyentuh ubur-ubur
- Jangan bermain terlalu jauh saat ada peringatan
- Jangan anggap remeh ubur-ubur kecil

Oh ya, rasa penasaran itu wajar, tapi tetap harus dikontrol ya.

Cara Menghindari Sengatan

- Gunakan alas kaki
- Perhatikan pengumuman petugas pantai
- Hindari area yang banyak ubur-ubur

Ini penting banget buat keselamatan wisata pantai dan menjaga liburan tetap nyaman.

Ubur-ubur biasanya berkelompok dan tampak memanjang
Ubur-ubur biasanya berkelompok dan tampak memanjang di beberapa titik pantai (doc. Riana Dewie)


Pertolongan Pertama Jika Tersengat Ubur-Ubur

- Jangan panik
- Bilas dengan air laut, bukan air tawar
- Gunakan cuka jika tersedia
- Jangan digosok
- Segera ke petugas jika parah

Oh ya, penanganan yang tepat bisa membantu mengurangi rasa sakit dan mencegah iritasi lebih lanjut.


Tetap Seru Liburan, Asal Lebih Waspada

Walaupun ada ubur-ubur api Parangtritis, bukan berarti kamu gak bisa liburan ke pantai.

Menurut saya sih, selama kita tahu risikonya dan tetap waspada, semuanya masih aman dan menyenangkan.

Pantai tetap jadi destinasi favorit dengan keindahan yang gak tergantikan. Yang penting, pahami kondisi alam dan ikuti aturan yang ada.

Liburan tetap bisa nyaman asal jaga diri
Liburan tetap bisa nyaman asal jaga diri (doc. Riana Dewie)


Hihihihi... pengalaman ini justru bikin saya lebih respect sama alam.

Oh ya, liburan itu tetap bisa nyaman kalau kita tahu cara jaga diri. Bahkan pengalaman seperti ini bisa jadi cerita seru. Iya kannnn..... :D 


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Travel Stories

Bangun Pagi dengan Kabut: Balkondes Ngargogondo Borobudur

Balkondes Ngargogondo Borobudur

Malam sudah turun sepenuhnya saat saya tiba di kawasan Ngargogondo, tak jauh dari Candi Borobudur. 

Jalanan mulai sepi, hanya suara angin yang sesekali menyapu pepohonan dan menciptakan suasana yang entah kenapa terasa sedikit… misterius. 

Udara dingin langsung menyambut begitu saya turun dari mobil yang membawa saya dan kawan-kawan. Bukan sekadar sejuk biasa, tapi dingin yang pelan-pelan merayap dan bikin merinding halus.

Oh ya, ini adalah pengalaman pertama saya menginap di Balkondes Ngargogondo Borobudur, jadi wajar kalau rasa penasaran bercampur sedikit deg-degan. 

Mau tahu suasana penginapan ini? Kayaknya kamu wajib baca ini sampai selesai deh!


Pengalaman Pertama Tiba di The Gade Village Balkondes Ngargogondo

Brrrrr.... dingin poll, sumpah. Kayaknya ini adalah satu-satunya tempat penginapan terdingin yang pernah saya datangi. 

Di tengah temaram lampu desa, saya mulai bertanya-tanya dalam hati: seperti apa ya kamar yang akan saya tempati nanti? Apakah hangat dan nyaman, atau justru dingin menusuk seperti udara di luar?

Pendopo saat pertama kali kami datang di The Gade Village
Pendopo saat pertama kali kami disapa ramah di The Gade Village (doc. Riana Dewie)

Saya bahkan belum tahu akan dapat kamar di bagian mana, dekat area utama atau justru agak tersembunyi. 

Semua terasa samar, penuh rasa penasaran yang bercampur dengan sedikit ketegangan, seolah malam itu sengaja menyimpan cerita yang belum siap diungkap. 

Kalau saya sih jujur agak overthinking di awal, hahahaha....

Akses Lokasi yang Mudah dari Kawasan Candi Borobudur

Untuk menuju The Gade Village Balkondes Ngargogondo, aksesnya cukup mudah dari kawasan Candi Borobudur. Perjalanan hanya sekitar 10–15 menit menggunakan kendaraan. 

Rutenya melewati jalan desa yang cukup mulus, dengan pemandangan sawah di kanan kiri. Meski malam hari terasa agak sepi, tapi arah jalannya jelas dan mudah diikuti melalui Google Maps. 

Ini jadi salah satu keunggulan sebagai penginapan dekat Candi Borobudur yang praktis dijangkau.

Proses Check-in dan Sambutan Hangat

Oh ya, meskipun suasananya dingin dan agak misterius, para staf di sini justru menyambut dengan hangat dan ramah. 

Mereka menjelaskan detail lokasi kamar, fasilitas, hingga area sekitar dengan sangat jelas. Bahkan kami diantar langsung ke kamar masing-masing. 

Pelayanannya sih menurut saya cukup memuaskan untuk ukuran homestay desa.


Suasana Menginap di Tengah Alam yang Menenangkan

Balkondes Ngargogondo “The Gade Village” merupakan salah satu balai ekonomi desa dengan konsep penginapan suasana desa Borobudur yang kental dengan nuansa alam.

Ruangan dipenuhi dengan pernak-pernik kayu
Ruangan dipenuhi dengan pernak-pernik kayu (doc. Riana Dewie)

Desain Interior Bernuansa Alam dan Kayu

Yang bikin saya kagum, ruang tidurnya benar-benar dipercantik dengan desain kayu dan anyaman bambu. Nuansanya rustic modern, hangat, natural, dan ramah lingkungan. 

Elemen kayu ini memberikan kesan nyaman sekaligus estetik. Cocok banget buat yang suka penginapan bernuansa tradisional.

Dikelilingi Sawah dan Gunung yang Menyejukkan Mata

Ini enak banget sih. Begitu bangun tidur, saya keluar dari kamar dan langsung disambut suasana pagi berkabut. 

Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin, dengan latar pegunungan yang bikin hati adem. Duduk santai di teras sambil ngobrol dengan teman di kamar sebelah jadi momen sederhana tapi berkesan. 

Rasanya seperti tinggal di desa sendiri, dikelilingi sawah hijau dan udara segar khas pedesaan.

Oh ya, momen bangun pagi dengan kabut ini jadi highlight favorit saya selama di sini.

Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin
Pemandangan kanan kiri dipenuhi kabut dingin (doc. Riana Dewie)


Malam Hari yang Tenang, Jauh dari Kebisingan Kota

Kalau ditanya senyaman apa suasana malam di sana? Sunyi banget. Gak ada suara kendaraan, hanya jangkrik yang menemani. 

Buat yang penakut mungkin agak deg-degan, apalagi satu kamar untuk satu orang. Tapi saya sih justru merasa nyaman. Mungkin karena suasana alamnya positif dan bikin hati lebih tenang.


Cerita 4 Hari Menginap: Mencari Pengalaman Baru

Selama pengalaman menginap 4 hari di sini, banyak aktivitas menarik yang kami lakukan. Mulai dari wisata kuliner, budaya, hingga eksplorasi alam. 

Kawasan Borobudur memang kaya akan sejarah dan budaya, jadi setiap hari selalu ada cerita baru.

Menjelajah Desa dan Interaksi dengan Warga Lokal

Kami sempat mengunjungi pusat gerabah dan berkeliling desa menggunakan mobil VW warna-warni yang lucu banget. Sesekali berhenti di tengah sawah untuk foto-foto, lalu lanjut ke tempat kuliner khas Jawa.

Oh ya, kami juga sempat ke tempat produksi kopi luwak dan bisa berinteraksi langsung dengan luwaknya, seru banget, hihihihi.... Pengalaman seperti ini jarang saya temui di kota.

Ini luwaknya, cakep kan?
Ini luwaknya, cakep kan? (doc. Riana Dewie)


Fasilitas dan Kenyamanan di The Gade Village Balkondes

Kamar dengan Nuansa Tradisional yang Nyaman

Kamar di sini cukup nyaman dengan fasilitas dasar seperti AC, TV, dan kamar mandi air panas. Meski sederhana, tapi bersih dan rapi.

Area Terbuka untuk Bersantai dan Healing

Area luar penginapan luas dan asri, cocok untuk duduk santai atau sekadar menikmati pemandangan gunung dari penginapan.

Area luar penginapan luas dan asri
Area luar penginapan luas dan asri (doc. Riana Dewie)


Fasilitas Pendukung yang Cukup Lengkap

Tersedia area parkir, ruang makan, dan sarapan sederhana. Untuk ukuran homestay di Borobudur view gunung, fasilitas ini sudah cukup memadai.

Harga Worth It

Oh ya, untuk harga Balkondes Ngargogondo, kisarannya sekitar Rp400.000 – Rp500.000 per malam. Dengan harga tersebut, kamu sudah mendapatkan fasilitas lengkap, suasana desa, serta view pegunungan Menoreh. 

Menurut saya sih ini termasuk Balkondes terbaik di Borobudur dengan harga yang masih terjangkau.


Kenapa Balkondes Ngargogondo Cocok untuk Healing?

Jauh dari Hiruk Pikuk Kota

Lokasinya yang berada di desa membuat suasana benar-benar tenang. Cocok untuk kamu yang ingin kabur sejenak dari rutinitas kota.

Suasana Alam yang Membantu Recharge Energi

Udara segar, kabut pagi, dan suasana alami benar-benar membantu recharge energi. Ini adalah definisi healing di alam terbuka yang sesungguhnya.

Cocok untuk Staycation atau Quality Time

Tempat ini ideal untuk staycation di desa wisata, work from anywhere, atau sekadar menikmati waktu bersama diri sendiri.

Balkondes Ngargogondo The Gade Village
Balkondes Ngargogondo The Gade Village (doc. Riana Dewie)

Pengalaman Sederhana yang Sulit Dilupakan

Refleksi dari 4 hari ini benar-benar menyenangkan. Saya merasa lebih fresh dan punya energi baru setelah menikmati suasana sejuk dan asri di sini. 

Interaksi dengan alam dan warga lokal memberikan pengalaman yang berbeda dari biasanya.

Oh ya, kalau kamu sedang mencari penginapan dengan suasana alam di Borobudur, saya sangat merekomendasikan The Gade Village Balkondes Ngargogondo. 

Tempat ini bukan hanya soal menginap, tapi juga soal merasakan hidup yang lebih sederhana dan tenang.

menikmati suasana sejuk dan asri
Menikmati suasana sejuk dan asri (doc. Riana Dewie)


Saatnya perpisahan pun tiba, meski jujur kami gak ingin pulang. 

Ada rasa ingin mengulang lagi semua momen ini. Ah, kapan ya bisa ke sini lagi? Semoga suatu saat nanti, di waktu yang tepat 😊



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments